1
Kata pengantar
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat Rahmat dan
karunia- Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul ini. Modul
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi untuk
Program Pascasarjana Studi Pendidikan Biologi serta memenuhi
kebutuhan sumber belajar peserta didik. Adapun pembahasan modul
ini dimulai dengan menjelaskan pembelajaran Biologi pada materi
Keanekaragaman Algae. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan
modul ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penyusun sangat
membuka saran dan kritik yang sifatnya membangun.
Penulis
2
Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................i
Daftar isi ........................................................................................ii
Glosarium...................................................................................... iii
Peta Konsep.................................................................................... 4
Pendahuluan ................................................................................... 5
Tujuan Pembelajaran ........................................................................ 6
Materi I.......................................................................................... 8
Penugasan Mandiri.......................................................................... 10
Materi II ....................................................................................... 11
Materi III ...................................................................................... 23
Rangkuman ................................................................................... 30
Latihan Soal .................................................................................. 31
Kunci Jawaban .............................................................................. 32
Pedoman Penskoran........................................................................ 32
Penilaian Diri ................................................................................ 34
Daftar Pustaka ............................................................................... 35
3
PETA KONSEP
Keanekaragaman Tradisi mencokau ikan Tradisi
hayati Jenis-jenis ikan
keanekaragaman hayati
di Indonesia Latihan Soal
4
I.PENDAHULUAN
A. Standar Kompetensi
2. Berbagai Tingkat Keanekaragaman Hayati Indonesia
B. Deskripsi
Modul pembelajaran berbasis budaya Tari Daerah Khas Dayak Kayan/Kenyah
Kalimantan Timur ini berisi materi yang berkaitan dengan materi Keanekaragaman Hayati
serta Upaya Pelestariannya. Diharapkan setelah mempelajari modul ini siswa dapat lebih
memahami keanekaragaman hayati di Indonesia serta diharapkan menjadi salah satu agen
konservasi.
C. Waktu
Waktu yang dibutuhkan dalam modul ini ialah 2 Minggu X 4 JP.
D. Prasyarat
Dalam mempelajari modul ini dibutuhkan pemahaman awal mengenai Ruang lingkup
biologi dan tingkat organisasi kehidupan.
E. Petunjuk Penggunaan Modul
Untuk memperoleh prestasi belajar secara maksimal, maka langkah-langkah yangperlu
dilaksanakan dalam modul ini antara lain:
1. Bacalah dan pahami materi yang ada pada setiap kegiatan belajar. Bila ada materi yangbelum
jelas, siswa dapat bertanya pada guru.
2. Kerjakan setiap tugas terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.
3. Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada
kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada guru.
5
F. Tujuan Akhir
Setelah mempelajari modul ini, peserta didik diharapkan mampu:
1. Memahami berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia
khususnya keanekaragaman ikan di sungai kampar
2. Mengamati melalui literatur upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesiakhususnya
keanekaragaman ikan di sungai kampar
4. 3. Mengumpulkan data melalui literatur upaya pelestarian keanekaragaman
hayati Indonesiakhususnya keanekaragaman ikan di sungai kampar
G. Cek Penguasaan standar Kompetensi
Di bawah ini adalah instrumen untuk mengecek kemampuan peserta didik. Berilah
tanda (√) pada kolom YA jika saudara telah menguasai Kompetensi Dasar tersebut dan
berilah tanda (√) pada kolom TIDAK jika saudara tidak menguasai Kompetensi Dasar
tersebut.
6
I. PEMBELAJARAN
A. Kompetensi Dasar
3.2 Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indoneisa beserta ancaman dan
pelestariannya.
4.2 Menyajikan hasil observasi berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia dan
usulan upaya pelestariannya
B. Tujuan
Setelah mempelajari modul ini, peserta didik diharapkan mampu:
1. Memahami berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia
khususnya keanekaragaman ikan di sungai kampar
2. Mengamati melalui literatur upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesiakhususnya
keanekaragaman ikan di sungai kampar
3. Mengumpulkan data melalui literatur upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia
khususnya keanekaragaman ikan di sungai kampar.
7
Materi I
Tradisi Mencokau Ikan Dilubuk
Larangan
Suaka Margasatwa Rimbang Baling merupakan kawasan hutan perbukitan yang
menyimpan sejuta pesona membentang di Kabupaten Kuantan Singingi dan Kampar,
Provinsi Riau. Di sana terdapat Sungai Subayang yang merupakan salah satu jalur
transportasi bagi masyarakat yang berada di desa-desa yang terletak di pinggiran
sungai Subayang. Selain mengaliri 13 desa, sungai ini juga berfungsi sebagai sumber
kehidupan masyarakat dan sebagai habitat flora serta fauna.
Sungai Subayang menawarkan keindahan yang luar biasa. Jernihnya air yang
meruak di sela-sela bebatuan, menambah daftar serpihan surga di bumi pertiwi.
Hutan, Sungai dan budaya serta adat istiadat masyarakat yang menghuni tepiannya
adalah peninggalan nenek moyang yang mengagumkan untuk dilihat dan dipelajari
secara dekat.
Ketergantungan masyarakat Subayang akan sungai Subayang membuat
masyarakat senantiasa menjaga dan melestarikan sungai ini, salah satunya
membentuk Lubuk Larangan. Lubuk larangan merupakan suatu kawasan di sepanjang
sungai yang telah disepakati bersama sebagai kawasan terlarang untuk mengambil
ikan baik dengan cara apapun apalagi dengan cara yang dapat merusak lingkungan
sungai. Kesepakatan ini tertuang dalam aturan adat dan hukum adat yang berlaku
untuk komunitas adat Rantau Kampar Kiri.
Kawasan ini memiliki kedalaman 3-4 meter yang merupakan tempat hidup dan
berkembangbiaknya ikan-ikan besar (dalam bahasa lokal disebut bangkagh atau
sarang ikan) seperti Ikan Tapa, Geso, Belida dan lainnya. masyarakat juga meyakini
siapapun yang mengambil ikan di wilayah ini atau melanggar aturan yang ada, akan
mendapatkan bencana. Kawasan yang menjadi lubuk larangan ditandai dengan tali
yang melintang di atas Sungai. Ikan-ikan didalamnya juga unik, mereka bisa
mengetahui batas lubuk larangan dan tidak akan keluar dari batas itu. Jika melewati
batas, ikan-ikan itu boleh diambil oleh siapapun.
Gambar.kegiatan mencokau ikan
Sumber: kompas.com
8
Peralatan yang digunakan dalam memanen ikan di lubuk larangan dapat
memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitarnya. Ikan ditangkap
menggunakan peralatan tradisional seperti jaring (net) yang berukuran tiga jari
(Fauzul, 2013). Hal ini bertujuan agar ikan-ikan berukuran kecil tidak tertangkap
sehingga memiliki kesempatan untuk tumbuh dan bertelur. Dalam memanen ikan,
sarana yang digunakan adalah Sampan. Sampan (boat) yang terbuat dari kayu,
sampan ini memiliki kapasitas mencapai 300 Kg (tiga atau empat orang). Peralatan-
peralatan yang digunakan tersebut sangat ramah terhadap lingkungan dan tidak akan
memberikan dampak negatif pada sungai ataupun ikan-ikan yang ada.
Budaya ini menjadi bukti nyata bahwa jika manusia dengan benar-benar
menjaga alam, maka alam akan menjadi sahabat terbaik bagi manusia. Masyarakat
Riau, terutama penduduk Subayang sangat berharap budaya ini terus didukung oleh
semua pihak dan pemerintah sehingga dapat terjaga sampai ke generasi mendatang.
Tabel 1. Jenis-jenis ikan yang tertangkap di lubuk larangan titik pertama
No Family Spesies Jumlah
1. Cyprinidae Barbodes 230
schwanifeldi
2. Cyclocheilichthys 130
apogan
3. Ostrochilus 75
pleurotaenia
4. Pristolepididae Pristilepis grooti 125
5. Bagridae Mystus nemurus 148
6. Oshphronemidae Oshphronemus 125
gouramy
Tabel 2. Jenis-jenis ikan yang tertangkap di lubuk larangan titik kedua
No Family Spesies Jumlah
1. Cyprinidae Oxygaster anomalura 20
2. Dangila festiva 45
3. Rasbora argyrotaenia 135
4. Luciosoma trinema 93
5. Osteochilus kelabau 33
6. Pangasidae Pangasius polyranodan 87
9
7. Thrichogaster 64
Oshphronemidae trichopterus 56
72
8. Notopteridae Notopterus bornrensis
79
9. Siluridae Kriytopterus 17
palembangensis
10. Channidae Channa striata
11. H.chrysopunctatus
Hemiramphidae
Penugasan Mandiri
Langkah Kerja:
1. Amatilah lingkungan sekitar kalian.
2. Cari 5 spesies ikan yang berbeda
3. Sebutkan ciri keseragaman dari tiap-tiap spesies, kemudian
sebutkan pula ciri keanekaragaman dari kedua spesies yang berbeda
tersebut!
4. Gambarlah spesies ikan tersebut dan sebutkan bagian-bagiannya!
10
MATERI II
KEANEKARAGAMAAN IKAN DI
SUNGAI KAMPAR
Keanekaragaman hayati merupakan semua jenis yang mencakup flora, fauna,
mikroorganisme dan ekosistem dengan segala prosesnya. Menurut Undang-Undang
No.5 Tahun 1994, keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman diantara makhluk
hidup dari semua sumber termasuk daratan dan lautan. Keanekaragaman adalah
hubungan antara jumlah jenis dan jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu
komunitas (Kottelat et al., dalam Nurudin, 2013).
Menurut (Odum, dalam Nurudin, 2013) suatu lingkungan yang stabil dicirikan
dengan adanya kondisi yang seimbang dan mengandung kehidupan yang
beranekaragam tanpa ada suatu spesies yang dominan. Keanekaragaman jenis (H’),
keseragaman (E’), dan dominansi (C’) adalah indeks yang sering digunakan untuk
mengevaluasi keadaan suatu lingkungan perairan berdasarkan kondisi biologi.
Ekosistem yang baik mempunyai ciri-ciri keanekaragam jenis yang tinggi dan
penyebaran jenis individu yang hampir merata di setiap perairan. Perairan yang
tercemar pada umumnya kekayaan jenis realtif rendah dan di dominansi oleh jenis
tertentu (Krebs 1972).
Dominansi jenis sering terjadi karena beberapa hal seperti kompetisi pakan
alami oleh jenis tertentu yang disertai perubahan kualitas lingkungan, serta tidak
seimbangnya antara predator dan mangsa sehingga terjadi kompetisi anatar jenis.
Beberapa ikan yang berada di perairan sungai cenderung membentuk komunitas yang
berbeda-beda dan tiap jenis ikan memiliki spesialisasi tersendiri dan mampu
memanfaatkan pakan dengan seefisien mungkin, karena persaingan antara jenis
dalam memperoleh pakan alami. (Mann, dalam (Gonawi, 2009).
Keheterogenan habitat dan kualitas air juga diperhitungan sebagai penyebab
keanekaragaman ikan di sungai (Scheimer & Zalewski 1992). Secara ekologi
dinyatakan bahwa keanekaragaman spesies yang tinggi menunjukkan adanya
keseimbangan ekosistem yang lebih baik dan memiliki elastisitas terhadaap berbagai
bencana, seperti penyakit, predator, dan lainnya. Sebaliknya keanekaragaman yang
11
rendah menunjukkan adanya sistem yang mengalami kerusakan, misalnya bencana
alam, polusi, dan lain-lain.
Menurut Wooton, dalam Nurudin (2013) menyatakan bahwa kekayaan jenis
memiliki hubungan positif dengan suatu area yang ditempati tergantung pada dua
faktor. Pertama, peningkatan jumlah mikrohabitat akan meningkatkan keragaman.
Kedua, area yang lebih luas sering memiliki variasi habitat yang lebih besar
dibandingkan dengan area yang lebih sempit. Sehingga semakin panjang dan lebar
ukuran sungai semakin banyak pula jumlah jenis ikan yang menempati.
Keanekaragaman dan kelimpahan ikan juga ditentukan oleh karakteristik
habitat perairan. Karakteristik habitat di sungai sangat dipengaruhi aliran sungai.
Kecepatan tersebut dipengaruhi oleh perbedaan kemiringan sungai, keberadaan
hutan atau tumbuhan di sepanjang daerah aliran sungai yang berasosiasi dengan
keberadaan hewan-hewan penghuninya (Ros, dalam Yustina 2009).
Menurut penelitian Suci Wulandari, 2021 terdapat 17 spesies ikan yang ada di
sungai Kampar kiri khususnya di perairan lubuk larangan, berikut adalah 17 jenis
ikan yang ada diperairan lubuk larangan sungai Kampar kiri :
1. Ikan Katung (Pristolepis grooti )
Gambar 4. Ikan Katung (Pristolepis grooti )
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan katung (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actynoperygii
Ordo : Perciformes
Family : Pristolepididae
Genus : Pristolepis
12
Spesies : Pristolepis grooti Blkr.
2. Ikan Kapiek (B. schwanenfeldii)
Gambar 5. Ikan Kapiek (B. schwanenfeldii)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan kapiek (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actynoperygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Barbonymus
Spesies : B. schwanenfeldii Blkr.
3. Ikan lelan (D. pleurotaenia)
13
Gambar 6. Ikan lelan (D. pleurotaenia)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan lelan (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actynoperygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Barbonymus
Spesies : D. pleurotaenia Blkr.
4. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Gambar 7. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan gurami
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Labirintichi
Family : Osphronemidae
Genus : Osphronemus
Spesies : Osphronemus gouramy Lac.
14
5. Ikan Baung (Mystus nemerus)
Gambar 8. Ikan Baung (Mystus nemerus)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan baung
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Family : Bagridae
Genus : Mystus
Spesies : Mystus nemerus Blkr.
6. Ikan Siban (Cyclochilichthys apogan)
Gambar 9. Ikan Siban (Cyclochilichthys apogan)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan siban (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
15
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Cyclochilichthys
Spesies
apogan V.Val. : Cyclochilichthys
7. Ikan Sepimping (Oxygaster anomalura)
Gambar 10. Ikan Sepimping (Oxygaster anomalura)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan sepimping (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Oxygaster
Spesies : Oxygaster anomalura v. Hass.
16
8. Ikan Ingau (Dangila festiva)
Gambar 11. Ikan Ingau (Dangila festiva)
Sumber : Data Primer, 2021
9. Ikan Pantau (Rasbora argyrotaenia)
Gambar 12. Ikan Pantau (Rasbora argyrotaenia)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan pantau (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Rasbora
Spesies : Rasbora argyrotaenia Blkr.
17
10. Ikan Julung-julung (H. chrysopunclatus)
Gambar 13. Ikan Julung-julung (H. chrysopunclatus)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan julung-julung (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Hemirampidae
Genus : Hemirhamphodon
Spesies : H. chrysopunclatus Blkr.
11. Ikan Juara (Pangasius polyuranodon)
Gambar 14. Ikan Juara (Pangasius polyuranodon)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan juara
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Ostariophysi
18
Family : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius polyuranodon Blkr.
12. Ikan Kelabau (Osteochilus melanopleurus)
Gambar 15. Ikan Kelabau (Osteochilus melanopleurus)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan kelabau(Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Osteochilus
Spesies : Osteochilus melanopleurus Blkr.
13. Ikan Sepat (Trichogaster trichopterius)
Gambar 16. Ikan Sepat (Trichogaster trichopterius)
Sumber : Data Primer, 2021
19
Klasifikasi ikan sepat
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Osphronemidae
Genus : Trichogaster
Spesies : Trichogaster trichopterius Pall.
14. Ikan Belida (Chitala lopis)
Gambar 17. Ikan Belida (Chitala lopis)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan belida
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Osteoglossiformes
Family : Notopteridae
Genus : Chitala
Spesies : Chitala lopis Blkr.
20
15. Ikan Selais (Krytopterus limpok)
Gambar 18. Ikan Selais (Krytopterus limpok)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan selais
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Family : Siluridae
Genus : Kryptopterus
Spesies : Krytopterus limpok Blkr.
16. Ikan Gabus (Channa striata)
Gambar 19. Ikan Gabus (Channa striata)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan gabus
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Parciformes
21
Family : Channidae
Genus : Channa
Spesies : Channa striata Bl.
17. Ikan Cangga (Luciosoma trinema)
Gambar 20. Ikan Cangga (Luciosoma trinema)
Sumber : Data Primer, 2021
Klasifikasi ikan cangga (Nama Daerah Kampar Kiri)
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Luciosoma
Spesies : Luciosoma trinema Blkr.
22
MATERI III
TINGKAT KEANEKARAGAMAAN
HAYATI
1. Keanekaragaman Gen
Gen adalah substansi kimia sebagai factor penentu sifat keturunan. Gen
terdapat dalam lokus kromosom, kromosom ada dalam inti sel. Semua mahluk
hidup yang ada dipermukaan bumi ini mempunyai kearngka dasar komponen sifat
menurun yang sama Keanekaragaman gen adalah keanekargaman individu dalam
satu jenis atau spesies makhluk hidup. Keanekaragaman gen menyebabkan
bervariasinya susunan genetik sehingga berpengaruh pada genotip (sifat) dan
fenotip (penampakan luar) suatu makhluk hidup Keanekaragaman gen
menunjukkan adanya variasi susunan gen pada individu-individu sejenis. Gen-gen
tersebut mengekspresikan berbagai variasi dari satu jenis makhluk hidup, seperti
tampilan pada warna mahkota bunga, ukuran daun, tinggi pohon, dan sebagainya.
Variasi dalam spesies ini disebut varietas.
Setiap individu tersusun atas banyak gen, bila terjadi perkawinan atau
persilangan antar individu yang karakternya berbeda akan menghasilkan
keturunan yang semakin banak variasinya. Hal ini terjadi karena pada saat
persilangan akan terjadi penggabungan gen-gen dari masing-masing individu
melalui sel kelamin. Hal inilah yang menyebabkan keanekaragaman gen semakin
tinggi.
Gambar Berbagai variasi warna bunga mawar
Sumber: modulkemendikbud.2021
Perhatikan gambar tanaman mawar di atas dengan warna merah, putih dan
kuning. Tanaman mawar ini merupakan contoh keanekaragaman gen. Tanaman
mawar yang beraneka warna memiliki keanakeragaman tingkat gen dalam warna
bunga. Contoh lain adalah warna kulit manusia yang beraneka ragam sesuai
dengan sebaran mereka tinggal.
Tingkat keanekaragaman gen ternyata tidak terdapat pada gen saja,
23
melainkanada juga faktor lain yang berperan mempengaruhi keanekaragaman ini,
yaitu lingkungan. Sifat yang muncul pada setiap individu merupakan interaksi
antar gen dengan lingkungan. Dua individu yang memiliki struktur dan urutan gen
yang sama, belum tentu memiliki bentuk yang sama pula karena faktor lingkungan
mempengarruhi penampakan (fenotipe) atau bentuk. Contoh lingkungan
mempengaruhi keanekaragaman tingkat gen dapat dilihat dari jumlah sel darah
merah yang hidup di dataran tinggi dan yang hidup di pantai. Ternyata jumlah sel
darah merah orang yang hidup di pegunungan lebih banyak dibandingkan dengan
yang hidup di pantai. Mengapa hal ini terjadi? Karena jumlah oksigen di
pegunungan lebih sedikit dari pantai. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan
tubuh akan oksigen orang yang hidup di pegunungan memiliki sel darah merah
yang lebih banyak. Sel darah merah berguna untuk mengangkut oksigen ke seluruh
tubuh.
2. Keanekaragaman Jenis
Jenis (spesies) diartikan sebagai individu yang mempunyai persamaan
morfologis, anatomis, fisiologis dan memiliki kemapuan untuk melakukan
perkawinan dengan sesamanya sehingga meghasilkan keturunan yang subur
(fertile) untuk melanjutkan generasinya.
Keanekaragaman jenis menunjukkan seluruh variasi yang terdapat pada mahluk
hidup antar jenis. Perbedaan antar jenis pada mahluk hidup yang termasuk pada
satu keluarga (family) lebih mencolok sehingga lebih mudah diamati daripada
perbedaan individu dalam satu spesies
Gambar Keanekaragaman Jenis Burung
Sumber: modulkemendikbud.2021
3. Keanekaragaman Ekosistem
Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi timbal balik
antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara
makhluk hidup dengan lingkungannya. Dalam aktivitas kehidupannya makhluk
hidup selalu berinteraksi dan bergantung pada lingkungan
sekitarnya.Ketergantungan ini berkaitan dengan kebutuhan akan oksigen, cahaya
matahari, air, tanah, cuaca, dan faktor abiotik lainnya. Komponen abiotik yang
berbeda menyebabkan adanya perbedaan cara adaptasi berbagai jenis makhluk
24
hidup (komponen biotik). Hal ini menunjukkan adanya keanekragaman ekosistem.
Keanekaragaman ekosistem merupakan keanekaragaman suatu komunitas yang
terdiri dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme di suatu habitat.
Keanekaragaman ekosistem ini terjadi karena adanya keanekaragaman gen dan
keanekaragaman jenis (spesies).contoh keanekargaman ekosistem : sawah, hutan,
pantai.
Tipe-Tipe ekosistem
a. Ekositem Perairan (Akuatik)
Ekosistem perairan adalah komponen abiotiknya sebagian besar terdiri atas air.
Makhluk hidup (komponen biotik) dalam ekosistem perairan dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut.
• Plaknton terdiri atas fitoplanktoon dan zooplankton. Organisme ini dapat
berpindah tempat secara pasif karena pengaruh arus arus air, misalnya
ganggang uniseluler dan protozoa
• Nekton merupakan organisme yang bergerak aktif (berenang) misalnya ikan
dan katak
• Neuston merupakan organisme yang mengapung dipermukaan air misalnya
serangga, air, teratai, eceng gondok dan ganggang.
• Bentos merupakan organisme yang berada didasar perairan misalnya,
udang, kepiting, cacing, dan ganggang.
• Perifiton merupakan organisme yang melekat pada organisme lain misalnya
ganggang dan siput
Ekosistem perairan dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekosistem air
tawar dan ekosistem air laut.
1. Ekosistem air tawar
Ekosistem air tawar memiliki ciri sebagai berikut:
• Memiliki kadar garam(salinitas) yang rendah, bahkan lebih rendah
daripada cairan sel yang makhluk hidup.
• Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
• Penetrasi atau masuknya cahaya matahari dibagi menjadi beberapa zona
yaitu :
a. Zona litoral, merupakan daerah dangkal yang dapat ditembus cahaya
matahari hingga kedasar perairan.
b. Zona limnetik, merupakan daerah terbuka yang jauh dari tepian sampai
kedalaman yang masih dapat di tembus cahaya matahari.
c. Zona profundal, merupakan daerah yang dalam dan tidak dapat ditembus
cahaya matahari. Di daerah ini tidak ditemukan organisme fotosintetik
(produsen), tetapi dihuni oleh hewan pemangsa dan organisme pengurai.
2. Ekosistem Air laut
Ekosistem air laut memiliki ciri sebagai berikut :
• Memiliki kadar garam (salinitas) yang tinggi.
• Tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
• Habitat air laut saling berhubungan antara laut yang satu dengan laut yang
lain.
• Memiliki variasi perbedaan suhu dibagian permukaan dengan di kedalaman.
• Terdapat arus air laut yang pergerakannya dapat dipengaruhi oleh arah
25
angin, perbedaan densitas (masa jenis) air, suhu, tekanan air, gaya
gravitasi, dan gaya tektonik batuan bumi.
b. Ekosistem Daratan
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan.
Ekosistem darat meliputi area yang sangat luas yang disebut bioma. Tipe bioma
sangat dipengaruhi oleh iklim sedangkan iklim dipengaruhi oleh letak geografis
garis lintang dan ketinggian tempat dari permukaan air laut. Berdasarkan letak
geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa
bioma, yaitu sebagai berikut:
1. Hutan Hujan tropis
Hutan hujan tropis terdapat dalam wilayah Khatulistiwa, misalnya dalam
lembah sungai Amazon, Amerika selatan, Asia tenggara (Malaysia, Indonesia,
Thailand), dan lembah sungai kongo. Hutan hujan tropik mempunyai spesifikasi
abiotik seperti di bawah ini. Memiliki siraman hujan yang sangat deras antara 200-
450 cm/tahun. Setiap tahun Matahari bercahaya dengan temperatur lingkungan
antara 21-30 derajat Celsius.
Gambar 4. Hutan Hujan Tropis
Sumber : diction.id
2. Bioma Gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang
berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah
hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu siang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga
penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai
0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim
yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula
tumbuhanmenahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan
memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan
yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.
26
Gambar. Bioma Gurun
Sumber: ilmugeografi.com
3. Bioma Padang Rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-
cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak
teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan
yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herba) dan rumput yang keduanya
tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing
liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.
Gambar. Padang Rumput
Sumber : german.fansshare.com
4. Bioma Hutan Gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang. Ciri-cirinya adalah
curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat
musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak
terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk,
dan rakoon (sebangsa luwak).
27
Gambar. Bioma Hutan Gugur
Sumber : docplayer.info
5. Bioma Taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan
daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga
merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan
sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain
moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada
musim gugur.
Gambar. Bioma Taiga
Sumber: pinterest.com
6. Bioma Tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran
kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan
tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah
Sphagnum sp, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan
rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan
yang dingin. Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang
datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap
memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub,
beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
28
Gambar. Bioma Tundra
Sumber : andimanwno.wordpress.com
7. Sabana/Savana
Sabana merupakan padang rumput yang diselingi pohon-pohon. Sabana
terdapat didaerah tropis, dengan curah hujan 90- 150cm/tahun, misalnya di
Kenya (Afrika) dan Australia Utara. Sabana dibedakan menjadi 2 macam yaitu
sabana murni (satu jenis pohon) dan sabana campuran (beberapa jenis pohon)
Gambar. Bioma Sabana/Savana
Sumber: pak.pakdani.we,id
Indonesia memiliki keragaman flora dan fauna (keanekaragaman hayati)
yang sangat besar. Bahkan, keanekaragaman hayati Indonesia termasuk tiga
besar di dunia bersama-sama dengan Brazil di Amerika Selatan dan Zaire di
Afrika. Besarnya keanekaragaman hayati di Indonesia berkaitan erat dengan
kondisi iklim dan kondisi fisik wilayah. Suhu dan curah hujan yang besar
memungkinkan tumbuhnya beragam jenis tumbuhan.
29
XA RANGKUMAN
1. Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman pada makhluk hidup yang
menunjukkanadanya variasi bentuk, penampilan, ukuran, serta ciri-ciri
lainnya. Secara garis besar keanekaragaman hayati dibagi menjadi 3 tingkat
yaitu keanekaragaman tingkat gen, tingkatjenis, dan tingkat ekosistem.
2. Keanekaragaman gen adalah keanekargaman individu dalam satu jenis
atau spesies makhluk hidup. Keanekaragaman gen menyebabkan
bervariasinya susunan genetik sehingga berpengaruh pada genotip (sifat)
dan fenotip (penampakan luar) suatu makhluk hidup.
3. Keanekaragaman jenis menunjukkan seluruh variasi yang terdapat pada
mahluk hidup antar jenis.
4. Keanekaragaman ekosistem merupakan keanekaragaman suatu komunitas
yang terdiri dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme di suatu
habitat
30
Latihan Soal
I. Pilihlah salah satu jawaban yang benar!
1.Berikut ini yang merupakan contoh keanekaragaman hayati tingkat jenis yaitu ...
a. pohon kelapa – aren
b. kucing angora – kucing Persia
c. harimau sumatera – harimau jawa
d. ayam kampung – ayam negri
e. mawar putih – mawar merah
2.keanekaragaman hayati tingkat gen dapat ditunjukkan pada tumbuhan berikut…..
a. mawar berbatang tinggi-melati berbatang tinggi
b. pohon kelapa hijau-pohon aren
c. mawar merah-mawar putih
d. tanaman sirih-nenas
e. buah manga-buah belimbing
3.Ekosistem air laut dibagi menjadi beberapa macam zona mulai dari pantai hingga
ke tengah laut. Zona dengan kedalaman kurang dari 200 m dan merupakan daerah
dangkal, dapat ditembus cahaya matahari, dihuni oleh ganggang laut dan juga ikan,
termasuk zona ...
a. litoral
b. neritik
c. batial
d. abisal
e. afotik
4.berikut adalah ciri-ciri ekosistem darat:
• terdapat di daerah antara subtropics dan kutub
• jenis tumbuhan didominasi oleh tumbuhan jarum (konifer yang tampak hijau)
• jenis hewannya antara lain moose, ajak, beruang hitam, serangga dan
burung.
Ciri-ciri yang dimaksud adalah ...
a. sabana
b. gurun
c. hutan gugur
d. taiga
e. tundra
5. Dibawah ini merupakan penyebab hilang atau menurunnya keanekaragaman
hayati, kecuali ...
a. perubahan iklim global
b. pencemaran tanah dan air
c. keseimbangan lingkungan
d. introduksi spesies
e. fragmentasi dan hilangnya habitat
31
Kunci Jawaban Dan Pembahasan
No Kunci Jawaban Pembahasan
1. A Pohon kelapa dan aren termasuk keanekaragaman
2. C jenis, karena pohon kelapa dan aren terdapat
3. B perbedaan yang sangat jelas, namun keduanya
tergolong dalam kelompok yang sama. Kucing angora-
4. D kucing Persia, haimau sumatera-harimau jawa, ayam
kampung-ayam negri termasuk kedalam
keanekaragaman tingkat gen. Keanekaragaman gen
disebabkan adanya faktor gen.
Mawar merah dan mawar putih tergolong
keanekaragaman tingkat gen. mawar merah dan
mawar putih walaupun sama-sama mawar, tetapi
keduanya memiliki warna bunga yang berbeda, yakni
merah dan putih.
Ciri zona neritik adalah:
(1) merupakan daerah laut dangkal
(2) kedalaman kurang dari 200 m
(3) dapat ditembus cahaya matahari dan banyak dihuni
ganggang laut dan ikan
Adapun ciri zona litoral adalah:
(1) merupakan daerah yang terendam pasang surut
(2) berbatasan dengan daratan dan banyak dihuni
kelompok hewan seperti bintang laut, bulu babi,
udang, kepiting, dan cacing laut.
Ciri zona batial yaitu:
(1) kedalaman 200 – 2000 m dan keadaan remang-
remang
(2) tidak terdapat produsen
(3) dihuni oleh nekton (organise aktif berenang)
misalnya ikan.
Ciri zona abisal yaitu:
(1) merupakan daerah palung laut yang keadaannya
gelap
(2) kedalaman mencapai lebih dari 2.000 m
(3) dihuni oleh hewan predator, detritivor, dan
pengurai
Taiga atau disebut hutan boreal terdapat di
pegunungan beriklim dingin. Tumbuhan dominan
berdaun jarum (konifer) yang tampak hijau sepanjang
tahun, seperti spruce, birch, alder, juniper, dan
cemara. Jenis hewannya antara lain moose, ajak,
beruang hitam, lynx, serigala, serangga, dan burung.
32
5. C Kesimbangan bukan merupakan penyebab hilangnya
keanekaragaman hayati, justru keseimbangan
lingkungan diperlukan agar tetap stabil
Pedoman Penskoran
Pedoman Penskoran
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat di bagian akhir
modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk
mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar .
Nilai = ℎ ℎ x 100
Jumlah Skor Maksimum
Konversi tingkat penguasaan:
90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan
dengan Kegiatan Belajar 2. Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi
materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.
33
Penilaian Diri
Lakukan penilaian diri untuk mengetahui seberapa jauh Anda memahami materi
pada kegiatan pembelajaran 1. Berilah tanda centang (v) pada kolom jika sesuai
atau tidak sesuai dengan yang dirasakan.
Jika menjawab “Tidak” pada salah satu pertanyaan di atas maka pelajari kembali
modul kegiatan pembelajaran 1. “Jangan putus asa”. Jika menajwab “Ya “ pada
semua pertanyaan, maka lanjutkan ke kegiatan pembelajaran 2.
34
Daftar Pustaka
• Syah, F., & Yustina, Y. (2021). Developing biology enrichment book of fish
diversity of aquatic ecosystems in Kampar District. JPBI (Jurnal Pendidikan
Biologi Indonesia), 7(2), 188-197.
• Fithra, R. Y., & Siregar, Y. I. (2010). Keanekaragaman ikan sungai kampar
inventarisasi dari Sungai Kampar Kanan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 4(2), 139-
147.
• Wulandari, D. (2022). Kearifan Masyarakat Lokal Dalam Pengelolaan Lubuk
Larangan Sungai Kaiti Di Desa Sialang Jaya Kecamatan Rambah Kabupaten
Rokan Hulu Dan Pengembangannya Sebagai Modul Untuk SMA/MA Kelas X
(Doctoral dissertation, Universitas Islam Riau).
• Campbell, Neil A, & Reece, Jane B. 2008. Biologi Ed. 9. Jakarta: Erlangga.
• Faidah Rahmawati, Nurul Urifah, Ari Wijayati. 2009. "Biologi untuk SMA/MA
Kelas XIProgram MIPA. Jakarta .CV.Ricardo.
• Irningtyas, 2018, Biologi SMA kelas X, Jakarta: Erlangga.
35
36