TUGAS INDIVIDU
AGENDA III
( MANAJEMEN ASN,PELAYANAN PUBLIK, & WoG)
NAMA : ADRIANI
INSTANSI : UNIVERSITAS KHAIRUN
COACH : Drs. ALI SADIKIN M, M.Pd.
1. Identifikasi Isu
a. Manajemen ASN
1) Rendahnya Minat dan Motivasi Dosen dalam melanjutkan Pendidikan ke
jenjang S3 sebagai bentuk pengembangan SDM dan karier Dosen
2) Rendahnya Motivasi Dosen dalam pengurusan kenaikan
pangkat/jabatan/angka kredit sebagai bentuk peningkatan
pengembangan karier dosen
b. Pelayanan Publik
1) Belum optimalnya penggunaan perangkat LMS yang disediakan
kampus baik oleh dosen maupun mahasiswa
2) Belum optimalnya penggunaan Media Digitalisasi oleh dosen dalam
proses perkuliahan
c. WoG
1) Kurangnya koordinasi Prodi dan Fakultas terkait SOP terbaru Pedoman
Tugas Akhir Mahasiswa
2) Kurangnya Kolaborasi Prodi Bahasa Indonesia dengan prodi Bahasa
Indonesia Pergururuan tinggi lain yang ada di Maluku Utara
2. Alasan
a. Pemilihan isu pertama yang terkait manajemen ASN di atas karena seperti
yang telah diketahui bahwa sebagai seorang ASN berdasarkan manajemen
ASN seorang ASN harus sadar akan kedudukan, peran, hak dan
kewajibannnya. Diantaranya mengembangkan karier dan penilaian kinerja
guna menghasilkan ASN yang profesional. Salah satunya adalah dengan
lanjut studi. Akan tetapi, berdasarkan fakta yang saya temui di lapangan
serta relevansinya dengan materi manajemen ASN itu masih rendahnya
motivasi dan kesadaran dosen untuk melanjutkan Pendidikan atau sekolah
ke jenjang S3. Khususnya dosen-dosen senior yang sudah lama mengabdi
yang hanya fokus pada aspek pengajaran saja. Hal tersebut disinyalir
karena adanya kesibukan dan aktivitas lain dari dosen-dosen senior di luar
jabatan sebagai seorang dosen. Sehingga menyebabkan kurangnya
motivasi dan keinginan untuk melanjutkan sekolah. Di samping itu, usia
yang sudah tidak muda lagi yang mana membuat dosen-dosen tersebut
tidak ingin lagi direpotkan dengan berbagai pengurusan administrasi yang
berbasis digital atau terintegrasi dengan telnologi. Padahal itu merupakan
salah satu bentuk peningkatan SDM dan karier dosen itu sendiri. Serta
menjadi aspek penting dalam peningkatan Mutu Dosen di Instansi
Universitas Khairun secara umum serta FKIP Khususnya Prodi PBSI itu
sendiri. Yang mana dengan hal tersebut tentunya bisa menjadi salah satu
penilaian penting juga dalam hal akreditasi prodi, fakultas, maupun
universitas. Oleh karena itu, harapannya semoga kedepannya para dosen
muda yang telah menyelesaikan Pendidikan S3 agar kiranya dapat
memberikan tips dan trik mudah melanjutkan Pendidikan kepada dosen-
dosen di Prodi baik dosen lama maupun dosen baru agar bisa termotivasi
untuk pengembangan SDM dosen. Serta sebaiknya para dosen bisa
mengubah mindset dan mulai beradaptasi dengan tuntutan saat ini yang
mengharuskan setiap pelayanan yang berbasis teknologi atau digitalisasi.
Selanjutnya alasan pemilihan isu kedua tertkait isu manajemen ASN
yaitu sama halnya dengan yang pertama tadi. Yang mana masih banyak
dosen-dosen di Prodi Bahasa Indonesia yang malas atau acuh untuk
mengurus kenaikan angka kredit, Hal tersebut disebabkan karena usia
dosen-dosen senior yang tidak muda lagi dan tidak ingin
diribetkan/direpotkan dengan berbagai pengurusan berkas administrasi
yang sudah berbasis digital. Serta kurangnya sosialiasi dan koordinasi dari
pihak kampus terkait pengurusan kenaikan pangkat/jabatan atau angka
kredit. Sehingga rata-rata dosen-dosen di Prodi PBSI masih berada
golongan III yang mana seharunsya sudah berada pada golongan IV jika
dihitung dari masa kerja dosen-dosen tersebut. Meskipun hal tersebut
sangat menunjang dalam pengembangan karier dosen itu sendiri. Dengan
demikian harapan saya semoga kedepannya pihak Lembaga baik
Univeristas maupun Fakultas bisa memberikan sosialisasi terkait dengan
pegurusan kenaikan pangkat/jabatan secara menyeluruh terhadap dosen-
dosen agar termotivasi dalam peningkatan karier dosen tersebut.
b. Seorang dosen harus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu
pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai tenaga pengajar.
Namun, pandemi Covid-19 ini menyebabkan pelaksanaan tridhrama
menjadi terdampak dan harus dilakukan berbagai adaptasi. Sesuai
dengan Surat Edaran Menteri Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan
Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus Corona
(Covid-19) salah satunya adalah arahan untuk melaksanakan proses
belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh. Hal itu tentunya
membuat setiap Lembaga/atau instansi Pendidikan dituntut untuk
menyediakan berbagai pelayanan pembelajaran jarak jauh dengan
penyedian LMS untuk membantu pelaksanaan pembelajaran selama masa
pandemic covid-19.
Alasan pemilihan isu yang pertama terkait Pelayanan publik yaitu
sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam materi pelayanan publik itu
memberikan pelayanan maksimal dan efisien sesuai peraturan undang-
undang. Pemilihan isu tersebut dikarenakan sesuai fakta di lapangan yang
selama ini saya amati sejak saya mulai bekerja hingga saat ini belum
optimalnya penggunaan layanan LMS tersebut. Faktanya masih banyak
dosen dan mahasiswa yang belum menggunakan perangkat LMS yang
telah disediakan oleh kampus secara maksimal. Yang mana pengadaan
LMS guna membantu proses pemantauan pembelajaran selam masa
pandemic Covid-19 ini. Meskipun pembelajaran saat ini sudah berbentuk
blended learning. Akan tetapi, layanan tersebut masih tersedia hingga saat
ini. Hal ini dikarenakan belum maksimalnya sosialisasi terkait penggunaan
layanan tersebut serta kurangnya pemantauan dari pihak universitas terkait
penggunaan layanan tersebut. Sehingga terkesan hanya formalitas saja.
Ditambah lagi kurangnya minat sebagian dosen dalam pemanfatan layanan
tersebut disebabkan kurangnya penguasaan teknologi berbasis digital
khususnya dosen-dosen senior.
Selanjutnya, alasan pemilihan isu kedua yaitu sebagai seorang dosen
yang profesional dalam pelaksanaan pembelajaran tentunya harus
menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.
Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan maksimal.
Salah satunya dengan penggunaan media pembelajaran yang menarik.
Apalagi di era reformasi teknologi 4.0 saat ini yang berbasis teknologi
digitalisasi. Seorang dosen dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kondisi
tersebut. Untuk itu seorang dosen harus mampu menggunakan media
pembelajaran yang berbasis digital yang inovatf. Akan tetapi, pada
kenyataanya saat ini masih banyak dosen belum memanfaatkan berbagai
media pembelajaran berbasis digital dengan maksimal. Hal ini terlihat
dengan masih banyak dosen yang masih mengajar dengan pola tradisional.
Sehingga pembelajaran terkesan monoton. Kegiatan pembelajaran
dilaksanakan hanya sekadar saja tanpa memperhatikan aspek-aspek
penting lainnya yang dapat meningkatkan hasil pembelajaran mahasiswa.
Hal ini disebabkan masih kurangnya rasa tanggung jawab sebagian dosen
dalam memberikan pelayanan maksimal kepada mahasiswa. Serta masih
kurangnya penguasaan teknologi oleh sebagian dosen. Sehingga tidak
dapat memanfaatkan dan menggunakan media yang berbasis digital
secara optimal. Oleh karena itu, semoga kedepannya setiap dosen ASN
memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan pelayanan maksimal
kepada Mahasiswa dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran
yang berbasis digital secara optimal.
c. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa
mahasiswa dan dosen serta staf prodi terkait dengan WoG yaitu salah
satunyan yaitu kurangnya koordinasi antara pihak Prodi dan Fakultas terkait
sosialisasi SOP Pedoman Tugas Akhir Mahasiswa yang terbaru. Sehingga
terjadi saling lempar tanggung jawab antara pihak prodi dan fakultas terkait
dengan kelengkapan berkas persyaratan ujian baik proposal, hasil, dan
skirpsi Mahasiswa. Hal ini disebabkan jalur koordinasi yang tidak jelas.
Dengan demikian, tentunya perlunya kolaborasi dan koordinasi antara
pihak Prodi dan Fakultas guna mewujudkan pelayanan publik yang baik.
Selanjutnya, alasan pemilihan isu kedua terkait WoG yaitu berdasarkan
informasi dari beberapa rekan dosen dan ketua prodi hingga saat ini
Kerjasama antar Prodi yang sama dengan Perguruan Tinggi lain itu masih
kurang, baik dari segi Penelitian, Pengabdian, maupun Pendidikan. Hal ini
dikarenakan kurangnya komunikasi, kolaborasi dan koordinasi dengan
rekan-rekan dosen Prodi Bahasa di Perguruan Tinggi lain.