The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayanovita942, 2021-05-04 08:33:10

Maya Novita_Bahan Ajar Digital

Maya Novita_Bahan Ajar Digital

POLA KERUANGAN DESA DAN KOTA
GEOGRAFI
KELAS XII

PENYUSUN
MAYA NOVITA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page i

DAFTAR ISI
PENYUSUN .................................................................................................................................................................i
DAFTAR GAMBAR................................................................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................................................................... iii
PETA KONSEP........................................................................................................................................................ iv
PENDAHULUAN ......................................................................................................................................................1

A. Identitas Modul.........................................................................................................................................1
B. Kompetensi Dasar....................................................................................................................................1
C. Materi Pembelajaran ..............................................................................................................................1
D. Tujuan Pembelajaran .............................................................................................................................1
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 ........................................................................................................................2
STRUKTUR DAN POLA KERUANGAN DESA..............................................................................................2
A. Tujuan Pembelajaran .............................................................................................................................2
B. Uraian Materi .............................................................................................................................................2
C. Rangkuman .................................................................................................................................................5
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 ........................................................................................................................6
STRUKTUR DAN POLA KERUANGAN KOTA .............................................................................................6
A. Tujuan Pembelajaran .............................................................................................................................6
B. Uraian Materi .............................................................................................................................................6
C. Rangkuman ..............................................................................................................................................12
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 .....................................................................................................................13
INTERAKSI DESA DAN KOTA DALAM PEMERATAAN PEMBANGUNAN .................................13
A. Tujuan Pembelajaran ..........................................................................................................................13
B. Uraian Materi ..........................................................................................................................................13
C. Rangkuman ..............................................................................................................................................15
EVALUASI ...............................................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................................................18

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur Kota Menurut Teori Konsentris ...................................................................... 9
Gambar 2. Struktur Kota Menurut Teori Sektoral......................................................................... 10
Gambar 3. Struktur Kota Menurut Teori Inti Ganda ..................................................................... 12

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Dampak Interaksi Desa dan Kota bagi Desa .................................................................... 14
Tabel 2. Dampak Interaksi Desa dan Kota bagi Kota .................................................................... 14

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page iii

PETA KONSEP

POLA KERUANGAN
DESA DAN KOTA

DESA INTERAKSI KOTA

KARAKTERISTIK POLA KARAKTERISTIK

KLASIFIKASI FAKTOR KLASIFIKASI
DAMPAK
POLA POLA
KERUANGAN KERUANGAN

STRUKTUR STRUKTUR

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page iv

PENDAHULUAN

A. Identitas Modul

Mata Pelajaran : Geografi
Kelas : XII
Alokasi Waktu : 3x4 JP
Judul Modul : Pola Keruangan Desa dan Kota

B. Kompetensi Dasar

3.2 Menganalisis struktur keruangan desa dan kota, interaksi desa dan kota,
serta kaitannya dengan usaha pemerataan pembangunan
4.2 Membuat makalah tentang usaha pemerataan pembangunan di desa dan kota

C. Materi Pembelajaran

1. Pertama : Struktur dan Pola Keruangan Desa
2. Kedua : Struktur dan Pola Keruangan Kota
3. Ketiga : Interaksi Desa Dan Kota Dalam Pemerataan PembangunaN

D. Tujuan Pembelajaran

 Siswa mampu mengidentifikasi struktur keruangan serta perkembangan
desa

 Siswa mampu mengidentifikasi struktur keruangan serta perkembangan
kota

 Siswa mampu mengidentifikasi faktor-faktor interkasi desa
 Siswa mampu mengidentifikasi faktor-faktor interkasi desa
 Siswa mampu mengidentifikasi dampak interkasi desa kota bagi desa
 Siswa mampu mengidentifikasi dampak interkasi desa kota bagi desa

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 1

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

STRUKTUR DAN POLA KERUANGAN DESA

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah melakukan kegiatan pembelajaran 1 ini siswa diharapkan mampu
menjelaskan karakteristik serta struktur keruangan desa dengan benar dan
menjelaskan perkembangan pola keruangan desa dengan benar.

B. Uraian Materi

STRUKTUR DAN POLA KERUANGAN DESA
1. Pengertian Desa

Menurut UU No 6 tahun 2014 menyebutkan bahwa Desa merupakan
kesatuan masyarakat umum yang memiliki batas wilayah yang berwenang
untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/
atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Ciri-ci Desa
Ciri-ciri desa adalah sebagai berikut.
a. Perbandingan lahan dengan penduduk. Jumlah penduduk desa bisa

dikatakan lebih sedikit apabila dibandingkan dengan penduduk yang
tinggal di kota sehingga lahan di desa lebih luas dan bisa dimanfaatkan
untuk kegiatan lain seperti pertanian, perkebunan, peternakan,
perikanan, dan lain-lain.
b. Lapangan pekerjaan dominasi di bidang pertanian. Sebagian besar
penduduk bermata pencaharian sebagia petani. Pengaruh teknologi
belum terlalu besar. Ini disebabkan karena minimnya tingkat Pendidikan,
tidak tersedianya lahan pekerjaan lain, lahan yang tersedia untuk
pertanian masih luas, dan kemampuan turun menurun di bidang
pertanian.
c. Hubungan kekerabatan masih erat. Kehidupan masyarakat desa masih
berdasar asas kekerabatan dan kekeluargaan.
d. Tradisi yang berlaku masih dianut dengan teguh. Tradisi ini dipandang
penting karena dianggap sebagai pedoman hidup dan bersikap dan
berprilaku.
3. Klasifikasi Desa
Klasifikasi Desa Menurut Perkembangannya
1. Swadaya

Desa swadaya merupakan desa yang memiliki potensi khusus yang
dikelola dengan baik sehingga bisa membantu perekonomian warga
disana. Dimana ciri desa swadaya yaitu :

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 2

 Sebagian besar hidupnya masih menggantungkan pada alam
 Masyarakat bersifat tertutup dan penduduk yang jarang
 Hubungan antarmanusia yang sangat erat
 Sarana dan prasarana sangat kurang menyebabkan desa sulit

menjangkau berbagai daerah
 Lembaga-lembaga desa belum berfungsi dengan baik
 Belum mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri
2. Swakarya
Desa swakarya adalah klasifikasi desa peralihan atau transisi antara desa
swadaya ke desa swasembada. Desa Swakarya memiliki ciri sebagai
berikut :
 Mata pencaharian mulai beragam
 Kebiasaan atau adat istiadat yang tidak mengikat penuh namun

masih digunakan sebagai panduan
 Desa swakarya sudah tidak terisolasi lagi seperti layaknya

swadaya, sehingga letak desa swakarya tidak terlalu jauh dari
pusat perekonomian kota
 Jalur lalu lintas yang sudah lancar dan jarak tempuh yang bukan
lagi menjadi penghalang
 Sudah mulai menggunakan teknologi dan juga peralatan yang
canggih
 Lembaga sosial dan Lembaga pemerintahan sudah berfungsi
 Sudah ada hubungan dengan daerah luar
 Sudah mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri
3. Swasembada
Desa swasembada adalah desa yang masyarakatnya telah mampu
memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam (Baca:
Penanggulangan Bencana Alam) dan potensinya yang sesuai dengan
kegiatan pembangunan regional. Ciri dari desa swasembada diantaranya :
 Mata pencaharian tidak bergatung ke sektor pertanian bahkan
sudah mengarah ke jasa dan industri.
 Kebanyakan berlokasi di ibukota dan kecamatan
 Penduduk padat-padat
 Tidak terikat lagi dengan adat istiadat daerah tersebut
 Pendidikan dan teknologi maju guna penunjang informasi
 Sarana dan prasarana lengkap
 Lembaga sosial dan pemerintahan sudah berfungsi dengan baik
 Sudah mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri
4. Struktur dan Pola Ruang Penggunaan Lahan Desa
a. Berdasarkan lahan desa/ letak geografis
1) Desa pedalaman

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 3

Desa-desa yang tersebar di berbagai pelosok yang jauh dari kehidupan
kota. Suasana ideal desa pedalaman pada umumnya lebih diwarnai
dengan nuansa kedamaian, yaitu kehidupan sederhana, sunyi, sepi
dalam lingkungan alam yang bersahabat.
2) Desa Pegunungan
Desa Terdapat di daerah pegunungan, Pemusatan tersebut didorong
kegotong royongan penduduknya.
3) Desa Dataran Tinggi
Desa yang berada di daerah pegunungan.
4) Desa Dataran Rendah
Desa yang letaknya berada di dataran rendah dan mata pencaharian
dari desa dataran rendah biasanya bergantung pada sektor pertanian.
5) Desa Pesisir/ Pantai
Desa yang berada di daerah pantai yang landai
b. Berdasarkan pola pemukiman
Menurut Soekandar Wiriaatmadja, pola pemukiman desa dibagi menjadi
1) Pola Permukiman Menyebar
Bentuk pemukiman tidak merata di satu titik tetapi menyebar ke
segala penjuru. Pola desa seperti ini banyak terdapat di daerah
pegunungan. Beberapa faktor yang memengaruhi pola desa ini adalah
perbedaan tingkat kesuburan tanah, ketersediaan air tanah dan
topografi.
2) Pola Permukiman Memanjang atau Linier
Bentuk pemukiman yang terlentak di sepanjang jalan raya sungai,
atau rel kereta api. Beberapa faktor yang memengaruhi pola desa ini
adalah masyarakat cenderung memilih pemukiman di dekat akses
transportasi agar memudahkan mobilitas sehari-hari.
3) Pola Permukiman Mengelompok atau Terpusat
Bentuk pemukiman cenderung berkelompok dimana sejumlah
keluarga tinggal berdekatan satu sama lain dengan area di sekitarnya
berupa lahan pertanian. Biasanya pola pemukiman memusat ada di
daerah dataran rendah dengan tanah yang subur dan sumber air yang
melimpah.
4) Pola Permukiman Melingkar
Bentuk pemukiman dimana rumah-rumah penduduk melingkar
mengikuti tepi jaln. Pemukiman dibangun mengikuti garis lingkaran
dari pusat daerah terbuka
c. Berdasarkan kegiatan ekonomi
1) Desa Pesisir/Nelayan (DNL)
Desa pesisir adalah desa/kelurahan termasuk nagari dan atau lainnya
yang memiliki wilayah berbatasan langsung dengan garis pantai/laut
(atau merupakan desa pulau) dengan corak kehidupan

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 4

masyarakatnya, baik tergantung maupun tidak tergantung pada
potensi laut.
2) Desa Persawahan (DPS)
Desa yang bila sebagian besar penduduknya tergantung dari usaha
persawahan.
3) Desa Perladangan (DPL)
Desa yang bila bagian terbesar penduduknya hidup tergantung dari
usaha pertanian ladang (palawija/padi gogo/hortikultural)
4) Desa Perkebunan (DRS)
Desa yang bila sebagian besar penduduknya hidup tergantung kepada
usaha perkebunan (karet, kelapasawit, cengkeh, dll)
5) Desa Peternakan (DPT)
Desa yang merupakan desa dimana penduduknya mempunyai mata
pencaharian sebagai peternak.
6) Desa Perdagangan (DJP)
Desa dimana orang-orang dari berbagai jurusan dapat bertemu satu
dengan yang lain untuk menjual dan membeli barang-barang yang
dihasikan masyarakat sehingga terjadilah pasar.
7) Desa Pertambangan (DPG)
Desa yang tumbuh di dekat wilayah yang menghasilkan hasil-hasil
pertambangan.
8) Desa Industri Kecil dan kerajinan (DIK)
Desa yang mata pencaharian utama penduduknya adalah di bidang
industri kecil kerajinan.
9) Desa Industri Sedang dan Besar (DIB)
Desa yang mata pencaharian utama penduduknya adalah di bidang
industri sedang dan besar.

C. Rangkuman

 Desa merupakan kesatuan masyarakat umum yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan msayarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak
asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 Masyarakat desa umumnya lebih menjunjung asas kekeluargaan dan
kekerabatan ketimbang penduduk kota.

 Penduduk desa mayoritasnya bermata pencaharian di bidang agraris yaitu
sebagai petani. Sedangkan penduduk kota lebih beragam.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 5

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

STRUKTUR DAN POLA KERUANGAN KOTA

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini, siswa diharapkan dapat menjelaskan
karakteristik serta mengidentifikasi struktur keruangan kota dan menjelaskan
perkembangan kota dengan benar.

B. Uraian Materi

STRUKTUR DAN POLA KERUANGAN KOTA
1. Pengertian Kota

Menurut Bintarto (1983:36) dari segi geografi, kota dapat diartikan
sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan
kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen dan
coraknya ysng mterialistis. Dalam Peraturan menteri dalam Negeri Nomor 2
Tahun 1987, disebutkan bahwa kota adala pusat permukiman dan kegiatan
penduduk yang mempunyai batasan administrasi yang diatur dalam
perundang-undangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan
kehidupan perkotaan
2. Ciri-ci Kota
a. Hubungan antara sesama nyaris hanya didasarkan pada pertimbangan

untuk kepentingan pribadi.
b. Penduduk kota umumnya memiliki tingkat pendidikan tinggi karena

kesadaran untuk memenuhi kualifikasi lapangan pekerjaan yang tersedia
c. Secara individu, masyarakat bersifat egois. Tumbuhnya sikap egois

disebabkan karena adanya pengaruh individualis sehingga melahirkan
persaingan antar warga.
d. Memiliki pekerjaan yang beraneka ragam. Pekerjaan masyarakat kota
pada umumnya bergerak di bidang jasa dan perdagangan.
e. Masyarakat kota berfungsi sebagai agent of change (agen perubahan)
karena pola pikir masyarakat kota terbuka dalam menerima budaya
pengaruh dari luar.
f. Kehidupan keagamaan masyarakat kota sudah berkurang karena
kesibukan kerja, masyarakat menjadi materialistis, memiliki kontrol
sosial rendah, dan emosi keagamaan berkurang.
g. Kota memiliki kesempatan kerja yang luas. Pekerjaan di kota meliputi
pekerjaan formal dan non formal dengan berbagai bidang kehidupan yang
ada.
h. Penduduk kota tidak mengenal gotong-royong dalam menyelesaikan
permasalahan seperti halnya warga desa.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 6

i. Kehidupan penduduk kota bersifat glamour (mewah) karena masyarakat
kota memiliki banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

j. Antar masyarakat kota terdapat kesenjangan sosial tinggi. Perbedaan
antara kaya dan miskin sangat mencolok dan memberi status sosial bagi
masyarakat

k. Aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat perkotaan
lebih berorientasi pada aturan atau hukum formal yang bersifat
kompleks..

l. Sebagian besar masyarakat kota bekerja di bidang industri. Tidak
terdapat pekerjaan bidang agraris di wilayah kota.

m. Lebih berorientasi pada masa mendatang yang didukung oleh kesadaran
bahwa masa lampau sebagai pengalaman dan masa sekarang sebagai
suatu fakta, sedangkan masa mendatang sebagai harapan yang mesti
diperjuangkan. Artinya, ketiga pengalaman waktu itu merupakan suatu
sekuen atau urutan kejadian.

3. Pola Keruangan Kota
Kota berkembang membentuk pola tertentu. Pola kota tersebut di antaranya
adalah:
a. Pola sentralisasi
Merupakan pola dimana kota pola persebaran kegiatan kota yang
cenderung mengelompok pada satu wilayah utama.
b. Pola desentralisasi
Merupakan pola persebaran yang cenderung menjauhi pusat atau inti
kota.
c. Pola nukleasi
Merupakan pola persebaran kegiatan kota yang menyerupai pola
sentralisasi, tetapi skala ukuran lebih kecil. Inti kegiatan perkotaan
berada di daerah utama
d. Pola segresi
Merupakan pola persebaran kota yang terpisah-pisah berdasarkan
keadaan sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

4. Struktur Keruangan Kota
Struktur kota adalah tatanan beberapa bagian yang menyusun suatu kota

yang menunjukkan keterkaitan antarbagian. Penjabaran struktur kota
membentuk pola kota yang menginformasikan kesesuaian lahan,
kependudukan, guna lahan, sistem transportasi, dan sebagainya, yang
kesemuanya berkaitan satu sama lain. Herbert dalam Hadi Yunus (2002: 76)
mengemukakan tiga model klasik berkaitan dengan struktur kota yang
dibedakan menjadi teori zona konsentris, teori sektoral dan konsep multiple-
nuclei.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 7

a. Teori Konsentris
Teori zona konsentris dikemukakan oleh E.W Burgess yang
menggambarkan struktur kota sebagai pola lima zona lingkaran
konsentris.
1. Zona 1: Daerah pusat kegiatan (DPK) (central business district (CBD))
Daerah ini merupakan pusat dari segala kegiatan kota, antara lain
politik, sosial-budaya, ekonomi dan teknologi. Zona ini terdiri atas dua
bagian, yaitu bagian paling inti yang disebut retail business district
(RBD) dan bagian luarnya yang disebut wholesale business district
(WBD). Pada bagian paling inti, kegiatan dominan antara lain pusat
perbelanjaan, perkantoran, pusat hiburan dan kegiatan sosial-politik.
Adapun bagian di luarnya ditempati oleh bangunan yang digunakan
untuk kegiatan ekonomi seperti pasar dan pergudangan (warehouse).
2. Zona 2: Daerah peralihan (Transition zone)
Zona ini merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas
lingkungan permukiman yang terus-menerus dan semakin lama
semakin hebat. Penyebabnya adalah adanya intrusi fungsi yang
berasal dari zona pertama sehingga perbauran permukiman dengan
bangunan bukan untuk permukiman seperti gudang kantor dan lain-
lain, sehingga sangat mempercepat terjadinya deteriorisasi
lingkungan pemukiman
3. Zona 3: Daerah tempat tinggal para pekerja (Zones of Working men”s
home)
Zona ini paling banyak ditempati oleh pekerja-pekerja, baik pekerja
pabrik ataupun industri. Di antaranya adalah pendatang baru dari
zona 2, yang menginginkan tempat tinggal yang dekat dengan tempat
kerjanya. Belum terjadi invasi dari fungsi industri dan perdagangan ke
daerah ini karena letaknya masih dihalangi oleh zona peralihan.
Kondisi permukimannya lebih baik dibandingkan dengan zona 2
walaupun sebagian besar penduduknya masih masuk dalam kategori
“low-medium status”.
4. Zona 4: Daerah tempat tinggal kelas menengah (Zone of middle class
dwellers)
Zona ini dihuni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah-
tinggi, walaupun tidak berstatus ekonomi sangat baik, mereka
kebanyakan mengusahakan sendiri bisnis kecil-kecilan, para
profesional, para pegawai, dan sebagainya. Kondisi ekonomi
umumnya stabil sehingga lingkungan permukimannya menunjukkan
tingkat keteraturan yang cukup tinggi. Fasilitas permukiman
terencana dengan baik, sehingga kenyamanan tempat tinggal dapat
dirasakan pada zona ini.
5. Zona 5: Daerah tempat tinggal penglaju (Commuter zone)

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 8

Zona ini tercipta akibat interaksi-interaksi dan interelasi elemen
sistem kehidupan perkotaan dan mengenai kehidupan manusia maka
sifatnya pun sangat dinamis dan tidak statis. Timbulnya penglaju
merupakan suatu akibat adanya proses desentralisasi permukiman
sebagai dampak sekunder dari aplikasi teknologi di bidang
transportasi dan komunikasi.

Gambar 1. Struktur Kota Menurut Teori Konsentris
Sumber: siswapedia.com

b. Teori Sektoral
Teori sektoral dirumuskan oleh Hommer Hoyt (1939) yang
mengemukakan bahwa perkembangan suatu kawasan tidak akan selalu
membentuk lingkaran konsentris, tetapi terdistribusi sesuai dengan
perbedaan potensi pengembangannya. Teori sektor membagi wilayah
menjadi lima, yaitu sebagai berikut.
1. Zona 1: Central business district (CBD).
Deskripsi anatomisnya sama dengan zona 1 dalam teori konsentris.
Seperti halnya teori konsentris, CBD merupakan pusat kota yang
relatif terletak di tengah kota yang berbentuk bundar.
2. Zona 2: wholesale light manufacturing.
Apabila dalam teori konsentris, zona 2 berada pada lingkaran
konsentris, berbatasan langsung dengan zona 1, pada teori sektor,
zona kedua membentuk pula seperti taji (wedge) dan menjari ke arah
luar menembus lingkaran-lingkaran konsentris, sehingga gambaran
konsentris mengabur adanya. Jelas terlihat peranan jalur transportasi
dan komunikasi yang menghubungkan CBD dengan daerah luarnya
yang mengontrol persebaran zona 2 ini.
3. Zona 3: Zona pemukiman kelas rendah.
Zona 3 adalah zona yang dihuni oleh penduduk yang mempunyai
kemampuan ekonomi lemah. Dengan hanya melihat persebaran
keruangan zona ini saja “seolah-olah” terlihat adanya kontradiksi
antarateori dan kenyataan. Sebagian zona 3 ini membentuk
persebaran yang memanjang “radial centrifugal” yang biasanya

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 9

bentuk seperti ini sangat dipengaruhi oleh rute transportasi dan
komunikasi. Dengan kata lain, menunjukkan derajat aksesibilitas yang
tinggi. Daerah-daerah dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi pada
kota akan selalu identik dengan daerah yang bernilai ekonomi tinggi,
tetapi dalam model sektor ini, zona 3 yang penghuninya berstatus
ekonomi rendah justru mempunyai pola persebaran yang seperti ini,
atau menempati daerah-daerah bernilai ekonomi tinggi
4. Zona 4: Zona pemukiman kelas menengah.
Zona 4 ini menurut Hoyt agak menyimpang, khususnya dalam
pembentukan sektornya. Tidak seperti zoana 2, 3, dan 5 yang sifat
“radiating sector” nya sangat mencolok. Kemapanan ekonomi yang
semula berasal dari zona 3 memungkinkannya tidak perlu lagi
bertempat tinggal dekat dengan tempat kerja. Golongan ini dalam
taraf kondisi kemampuan ekonomi yang menanjak dan semakin
mapan. Kelompok pemukiman baru akan membentuk sektor
tersendiri.
5. Zona 5: Zona pemukiman kelas tinggi.
Zona 5 ini merupakan tahap terakhir “residential mobility” penduduk
kota. Daerah ini menjanjikan kepuasan, kenyamanan bertempat
tinggal. Penduduk dengan penghasilan tinggi mampu membangun
tempat hunian yang sangat mahal atau mewah.

Gambar 2. Struktur Kota Menurut Teori Sektoral
Sumber : siswapedia.com

c. Teori Inti Ganda
Teori ini dirumuskan oleh C. Harris dan E. Ullman yang dikenal dengan
teori “multiple nuclei”. Pola ini pada dasarnya merupakan modifikasi dan
kombinasi dari dua pendekatan sebelumnya, yaitu bahwa kota tidak
selalu terbentuk dari satu pusat, tetapi dari beberapa pusat lainnya dalam
satu kawasan. Zona-zona keruangan pada teori inti ganda ini dapat
dijelaskan sebagai berikut.
1. Zona 1: central business district (CBD).
Seperti halnya dengan teori konsentris dan sektor, zona ini berupa
pusat kota yang menampung sebagian besar kegiatan kota. Zona ini
berupa pusat fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 10

spesialisasi pelayanan, seperti “retailing” distrik khusus perbankan,
pusat hiburan, dan lain-lain.
2. Zona 2: wholesale light manufacturing
Karena keberadaan fungsi sangat membutuhkan jasa angkutan besar,
fungsi ini banyak mengelompok sepanjang jalan kereta api dan dekat
dengan CBD. Zona ini tidak berada di sekeliling zona 1, tetapi hanya
berdekatan. Sebagaimana “wholesaling”, “light manufacturing” juga
membutuhkan persyaratan yang sama, yaitu transportasi yang baik,
ruang yang memadai, dekat dengan pasar dan tenaga kerja
3. Zona 3: Pemukiman kelas rendah.
Pemukiman membutuhkan persyaratan khusus. Dalam hal ini ada
persaingan mendapatkan lokasi yang nyaman antaragolongan
berpenghasilan tinggi dan golongan berpenghasilan rendah. Zona ini
mencerminkan daerah yang kurang baik untuk pemukiman sehingga
penghuninya umumnya dari golongan rendah dan pemukimannya
juga relatif kurang baik dibandingkan zona 4. Zona ini dekat dengan
pabrik-pabrik dan jalan kereta api.
4. Zona 4: Pemukiman kelas menengah.
Zona ini tergolong lebih baik daripada zona 3, baik dari segi fisik
maupun penyediaan fasilitas kehidupannya. Penduduk yang tinggal di
sini pada umumnya mempunyai penghasilan yang lebih tinggi dari
penduduk zona 3
5. Zona 5: Pemukiman kelas tinggi.
Zona ini mempunyai kondisi paling baik untuk pemukiman dalam arti
fisik maupun penyediaan fasilitas. Lingkungan alamnya juga
menjanjikan kehidupan yang tenteram, aman, sehat, dan
menyenangkan. Hanya golongan penduduk yang berpenghasilan
tinggi yang mampu memiliki lahan dan rumah di zona ini. Lokasinya
relatif jauh dari CBD dan daerah industri, dan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari di dekatnya dibangun “business district” baru
yang tidak kalah dengan CBD. Pusat-pusat baru seperti kampus, pusat
rekreasi dan taman-taman sangat menarik perkembangan
pemukiman menengah dan tinggi.
6. Zona 6: heavy manufacturing.
Zona ini merupakan konsentrasi pabrik-pabrik besar. Pemukiman
yang berdekatan dengan zona ini biasanya mengalami berbagai
permasalahan lingkungan, seperti pencemaran, kebisingan,
kesemerawutan lalu-lintas dan sebagainya, sehingga untuk
kenyamanan tempat tinggal tidak baik. Sekalipun demikina, di daerah
ini terdapat berbagai lapangan kerja yang banyak. Wajar apabila
kelompok penduduk berpenghasilan rendah bertempat tinggal dekat
dengan zona ini.
7. Zona 7: business district.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 11

Zona ini muncul untuk memenuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan 5
dan sekaligus menarik fungsi-fungsi lain untuk berada di dekatnya.
Sebagai salah satu pusat, zona ini akan menciptakan pola tata ruang
yang berbeda pula, sehingga tidak mungkin terciptanya pola
konsentris, tetapi membentuk persebaran lagi sesuai dengan
karakteristiknya masing-masing
8. Zona 8: tempat tinggal daerah pinggiran (suburban).
Zona ini membentuk komunitas tersendiri dalam arti lokasinya.
Penduduk di sini sebagian besar bekerja di pusat-pusat kota dan zona
ini digunakan untuk tempat tinggal semata. Proses perkembangannya
serupa dengan kota lama
9. Zona 9: industri daerah pinggiran (suburban).
Sebagaimana perkembangan industri-industri lainnya, unsur
transportasi selalu menjadi persyaratan untuk hidupnya fungsi ini.
Walaupun terletak di daerah pinggiran, zona ini dijangkau oleh jalur
transportasi yang memadai. Sebagai salah satu pusat, pada
perkembangan, selanjutnya zona ini dapat menciptakan pola-pola
persebaran keruangan tersendiri dengan proses yang serupa

Gambar 3. Struktur Kota Menurut Teori Inti Ganda
Sumber : zenius.net

C. Rangkuman

 Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai
batasan administrasi yang diatur dalam perundang-undangan, serta
permukiman yang telah memperlihatkan kehidupan perkotaan

 Masyaraat kota cenderung individualis berbeda dengan msyarakat desa
 Struktur kota membentuk pola kota yang menginformasikan kesesuaian lahan,

kependudukan, guna lahan, sistem transportasi, dan sebagainya, yang
kesemuanya berkaitan satu sama lain.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 12

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3

INTERAKSI DESA DAN KOTA DALAM PEMERATAAN PEMBANGUNAN

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah melakukan kegiatan pembelajaran 3 ini, siswa diharapkan dapat
mengidentifikasi interaksi desa dan kota, menjabarkan faktor-faktor interaksi
desa dan kota, mengemukakan usaha pemerataan pembangunan di desa dan
kota, dan membandingkan dampak perkembangan kota terhadap masyarakat
desa dan kota dengan benar.

B. Uraian Materi

INTERAKSI DESA DAN KOTA DALAM PEMERATAAN PEMBANGUNAN
Interaksi adalah terjadinya kontak antara dua wilayah atau lebih dan
menimbulkan suatu kenyataan yang baru dalam wujud tertentu. Interaksi
wilayah dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi antara dua wilayah atau lebih, yang dapat menimbulkan gejala,
kenampakan atau permasalahan baru baik secara langsung maupun tidak
langsung
1. Faktor yang mempengaruhi interaksi desa kota

Edward Ullman mengemukakan bahwa ada tiga faktor utama yang
memengaruhi timbulnya interaksi antar wilayah, yaitu :
1) Regional Complementary

Adanya hubungan yang saling melengkapi dimungkinkan karena adanya
perbedaan wilayah dalam hal ketersediaan dan kemampuan sumberdaya.
Di satu pihak ada wilayah yang surplus, dan ada wilayah lainnya yang
kekurangan sumberdaya. Keadaan ini akan mendorong terjadinya
interaksi, karena didorong rasa saling membutuhkan.
2) Intervening Opportunity
Artinya ke dua wilayah mempunyai kesempatan melakukan hubungan
timbal balik, serta tidak ada pihak ke tiga yang membatasi kesempatan
itu. Adanya intervensi pihak ke tiga dapat menjadi penghambat atau
melemahkan interaksi antara dua wilayah.
3) Spatial transfer ability
Spatial transfer abilityyaitu kemudahan transfer atau pemindahan dalam
ruang, baik manusia, informasi atau barang, sangat tergantung pada
faktor jarak, biaya angkut atau transportasi, dan kelancaran transportasi.
Jadi semakin mudah transfer, semakin besar pemindahan arus komoditas.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 13

2. Dampak Interaksi Desa dan Kota

Dampak Interaksi Desa dan Kota bagi Desa

Tabel 1. Dampak Interaksi Desa dan Kota bagi Desa

No Dampak Positif Dampak Negatif

1 Meningkatnya taraf Pendidikan Modernisasi pengaruh kota dapat

melunturkan orientasi petani
sebagai mata pencaharian

2 Informasi dan komunikasi dapat Dapat mempengaruhi sikap

mudah diterima masyarakat masyarakat desa untuk hidup
konsumeisme dan kriminalitas

3 Pembangunan infrastruktur di Tenaga muda di desa lebih tertarik

desa sehingga memudahkan bekeja di kota daripada menjadi
aksesibilitas petani

4 Meningkatnya produktivitas Alih fungsi lahan akibat adanya
penduduk desa dengan pertumbuhan kota yang mengarah di

teknologi tepat guna perbatasan desa-kota

5 Meningkatnya kesejahteraan Tata cara dan pola hidup masyarakat
penduduk dengan meratanya kota cenderung mengubah

pembangunan masyarakat

desa

6 Berkembangnya organisasi di Pecemaran lingkungan,

desa yang bertujuan untuk meningkatnya pengangguran,

mengembangkan dan pembangunan tidak terkendali,
meningkatkan kesejahteraan berkurangnya bahan pangan, dsb.

penduduk

Dampak Interaksi Desa dan Kota bagi Kota

Tabel 2. Dampak Interaksi Desa dan Kota bagi Kota

No Dampak Positif Dampak Negatif

1 Tercukupinya kebutuhan Penduduk desa yang datang ke kota
pangan bagi penduduk kota tanpa keahlian menimbulkan

yang berasal permasalahan
dari desa

2 Jumlah tenaga kerja di kota Penduduk berpendapatan rendah

yang melimpah sulit memenuhi kebutuhan hidup

3 Produk-produk kota dapat Nilai lahan di kota mahal, warga

dipasarkan di desa yang tidak mampu terpaksa

menggunakan
lahan yang tidak layak huni

4 Peluang untuk berwirausaha Terjadinya degradasi lingkungan

yang luas. karena pembangunan yang tidak
terkendali

Perkembangan dan pertumbuhan suatu daerah berkaitan erat dengan
interaksi dua wilayah atau lebih. Interaksi tersebut akan menimbulkan suatu
tatanan baru yang dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan di bidang

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 14

ekonomi, sosial, budaya, politik, pemusatan pebanguan di wilayah perkotaan,
juga jaringan transportasi. Interaksi ini terjadi karena adanya perbedaan potensi
yang dimiliki desa dan kota. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis dan cara
pengelolaannya.
Peran desa dalam pembangunan adalah sebagai berikut:
1) sebagai penghasil bahan baku untuk kegiatan di kota
2) sebagai penyedia tenaga kerja yang dibutuhkan di kota
3) menjadi destinasi tujuan pemasaran hasil produksi industri di kota
4) sebagai tempat tujuan untuk wisata yang dimanfaatkan oleh masyarakat kota
Peran kota dalam pembangunan adalah
1) sebagai pusat pendidikan yang dibutuhkan masyarakat desa
2) sebagai pemasok barang-barang industri yang dibutuhkan di desa
3) sebagai pusat pemerintahan, berbagai kebijakan yang diambil dapat

mempengaruhi pembangunan desa
4) sebagai pusat informasi dan perkembangan teknologi yang hasilnya

dibutuhkan oleh desa.
C. Rangkuman

 Interaksi adalah terjadinya kontak antara dua wilayah atau lebih dan
menimbulkan suatu kenyataan yang baru dalam wujud tertentu. Interaksi
wilayah dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan timbal balik yang
saling mempengaruhi antara dua wilayah atau lebih, yang dapat
menimbulkan gejala, kenampakan atau permasalahan baru baik secara
langsung maupun tidak langsung

 Antara desa dan kota keduanya memiliki peranan penting dalam
pembangunan baik di bidang tenaga kerja, sumber daya alam, bahan
pangan, dan komoditas keduanya saling berinteraksi untuk saling dukung

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 15

EVALUASI

Pilihlah satu jawaban yang paling benar !

1. Penyebab utama penduduk desa sebagian besar bekerja di sektor pertanian
adalah ….
A. sumber daya manusia yang ada di desa masih rendah
B. tingkat pendidikan yang ada di desa tergolong rendah
C. rendahnya tingkat pendapatan penduduk
D. belum masuknya pengaruh industri di desa
E. penduduk desa masih meneruskan tradisi dalam pengolahan lahan pertanian

2. Salah satu ciri Desa Swadaya adalah ...
A. Sarana dan prasarana lengkap
B. Sudah ada hubungan dengan daerah sekitar
C. Lembaga-lembaga desa belum berfungsi dengan baik
D. Lembaga sosial dan pemerintahan sudah berfungsi dengan baik
E. Sudah mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri

3. Perhatikan pernyataan berikut.
1) sumber air melimpah;
2) wilayahnya merupakan dataran rendah yang subur;
3) sebagian besar penduduk bekerja di bidang pertanian.
Pola desa sesuai pernyataan tersebut adalah ….
A. menyebar
B. mengelompok
C. radial
D. linier
E. Tersebar

4. Pada teori konsentris terdapat Central Business District, yaitu ...
A. Merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik kota,
sehingga pada zone ini terdapat bangunan utama untuk kegiatan sosial,
ekonomi, politik dan budaya
B. Daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan permukimamn
terdapat permukiman kumuh dan kriminalitas yang tinggi
C. Zona yang banyak ditempati oleh pekerja yang bekerja di pusat kegiatan
maupun pada zona dua dan permukimam lebih baik
D. Zona yang dihuni oleh penduduk yang status ekonominya menegah ke atas,
dengan kondisi ekonomi pada zona ini lebih stabil bila dibanding dengan
zona lainnya
E. Daerah ini merupakan pusat dari semua kegiatan manusia di kota dan
sebagian penduduknya merupakan penglaju.

5. Intensitas penggunaan lahan di kota dapat dilihat berdasarkan .....
A. Kepadatan bangunan tinggi
B. Kepemilikan lahan luas

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 16

C. Kepemilikan lahan sempit namun banyak
D. Perkembanagan kota mengarah horisontal
E. Pembangunan di pinggiran kota rendah

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 17

DAFTAR PUSTAKA

Bintarto, R 1983, Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya, Ghalia Indonesia
Yogyakarta

Hadi Yunus. 2002. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sugiyanto. 2020. Geografi: Mengkaji Ilmu Geografi untuk Kelas XII, Platinum, PT Tiga

Serangkai Pustaka Mandiri, Solo.

B a h a n A j a r / K e l a s X I I I P S Page 18


Click to View FlipBook Version