See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/264048884 PEMANFAATAN NANOTEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN PUPUK DAN PESTISIDA ORGANIK Chapter · January 2014 CITATIONS 2 READS 49,380 2 authors, including: Some of the authors of this publication are also working on these related projects: Insecticide susceptibility of Aedes aegypti in Banten View project Encapsulation of Beauveria bassiana on larvae and eggs of Aedes aegypti, Anopheles sp., and Culex sp. View project Mutiara Widawati National Research and Innovation Agency (BRIN) 46 PUBLICATIONS 263 CITATIONS SEE PROFILE All content following this page was uploaded by Mutiara Widawati on 21 July 2014. The user has requested enhancement of the downloaded file.
PEMANFAATAN NANOTEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN PUPUK DAN PESTISIDA ORGANIK Firda Yanuar dan Mutiara Widawati Loka Penelitian dan Pengembangan Penyakit Bersumber Binatang Ciamis, Litbang Kesehatan ABSTRAK Perkembangan teknologi dan pemanfaatannya tidak bisa dipungkiri terkait erat dengan peningkatan daya saing industri suatu negara. Peningkatan pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi baru sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan di era perdagangan global baik oleh pemerintah maupun industri. Salah satu contoh teknologi yang sedang hangat diperbincangkan adalah nanoteknologi. Pemanfaatan nano teknologi sudah dikenal baik diantaranya di bidang kesehatan, industri kosmetik dan pertanian. Pada dasarnya prinsip penemuan nanoteknologi adalah untuk memaksimalkan hasil atau produksi tanaman dengan meminimalkan penggunaan pupuk, pestisida dan kebutuhan lainnya dengan melakukan monitoring kondisi tanah seperti perakaran dan mengaplikasikannya langsung ke target sehingga tidak ada yang terbuang. Untuk pestisida, jika hal ini diterapkan akan dapat meminimalisir penggunaan pestisida pada tanaman karena hanya serangga target saja yang terkena dampaknya. Penggunaan teknologi nano pada pupuk akan memungkinkan pelepasan nutrisi yang terkandung pada pupuk dapat dikontrol. Jadi hanya nutrisi yang benar-benar akan diserap oleh tanaman saja yang dilepaskan, sehingga tidak terjadi kehilangan nutrisi ada target yang tidak dikehendaki seperti tanah, air dan mikroorganisme. Pada pupuk nano, nutrisi dapat berupa enkapsulasi nanomaterial, pelapisan oleh lapisan pelindung yang tipis atau dilepaskan dalam bentuk emulsi dari nanopartikel. Kata kunci : nano teknologi, pupuk, pestisida Pendahuluan Perkembangan teknologi dan pemanfaatannya tidak bisa dipungkiri terkait erat dengan peningkatan daya saing industri suatu negara. Peningkatan pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi baru sangat dibutuhkan untuk memenangkan persaingan di era perdagangan global baik oleh pemerintah maupun industri. Salah satu contoh teknologi yang sedang hangat diperbincangkan adalah nanoteknologi. Pemanfaatan nano teknologi sudah dikenal baik diantaranya di bidang kesehatan, industri kosmetik dan pertanian. Berdasarkan asal katanya , “nano” itu sendiri berasal dari bahasa latin yang berarti sesuatu yang sangat kecil (dwarf) atau satu per satu milyar (10-9 ). Teknologi nano dapat didefinisikan sebagai sebuah ilmu yang berhubungan dengan benda-benda yang berukuran 1 hingga 100 nm, memiliki sifat yang berbeda dari bahan asalnya dan memiliki kemampuan untuk mengontrol atau memanipulasi dalam skala atom (Kuzma and Verhage, 2006).
Geliat perkembangan teknologi nano banyak berkontribusi pada pengembangan material-material baru yang lebih kecil dan lebih detil. Di bidang kesehatan, teknologi ini diarahkan pada pengembangan virus yang difungsikan sebagai nanokamera untuk melihat dan mempelajari rangkaian kehidupan sel dan mekanisme kerja virus itu sendiri. Selain itu sebuah perusahaan bioteknologi sedang berupaya mengembangkan Fullerenes atau Buckyball yaitu sebuah benda berstruktur molekul dengan 60 atom karbon yang kedepannya diharapkan dapat mematikan virus HIV maupun kanker. Pengaplikasian teknologi nano di bidang pertanian diantaranya dalam rekayasa genetika untuk mendapatkan bibit unggul. Beberapa ilmuwan dunia telah melakukan riset untuk memperbaiki beberapa sifat tanaman misalkan untuk menghasilkan tanaman bebas virus. Dalam sepuluh tahun terakhir aplikasi nanoteknologi pada pertanian lebih matang lagi dengan ditemukannya sifat-sifat unik partikel yang berukuran beberapa nano atau bahkan puluhan nanometer. Nanopertikel dan nanoemulsi dapat diaplikasikan pada pestisida, pupuk, sensor untuk memantau tanah, Pakan ternak, obat hewan, Pangan, obat herbal dan kemasan antibakteri serta komposit anti persesapan gas. Nanoteknologi juga banyak dimanfaatkan dalam berbagai hal misalnya meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan bahan alami dalam tanah, mempelajari mekanisme dan dinamika unsur-unsur nutrisi di dalam tanah. Manfaat Nano Teknologi di Bidang Pertanian Pada dasarnya prinsip penemuan nanoteknologi adalah untuk memaksimalkan hasil atau produksi tanaman dengan meminimalkan penggunaan pupuk, pestisida dan kebutuhan lainnya dengan melakukan monitoring kondisi tanah seperti perakaran dan mengaplikasikannya langsung ke target sehingga tidak ada yang terbuang. Untuk pestisida, jika hal ini diterapkan akan dapat meminimalisir penggunaan pestisida pada tanaman karena hanya serangga target saja yang terkena dampaknya. Penggunaan teknologi nano pada pupuk akan memungkinkan pelepasan nutrisi yang terkandung pada pupuk dapat dikontrol. Jadi hanya nutrisi yang benar-benar akan diserap oleh tanaman saja yang dilepaskan, sehingga tidak terjadi kehilangan nutrisi ada target yang tidak dikehendaki seperti tanah, air dan mikroorganisme. Pada pupuk nano, nutrisi dapat berupa enkapsulasi nanomaterial, pelapisan oleh lapisan pelindung yang tipis atau dilepaskan dalam bentuk emulsi dari nanopartikel. Contoh aplikasi nanoteknologi dalam bidang pertanian dalam upaya peningkatan produktifitas pertanian dilaporkan antara lain nanoporous, nanonutrisi, slow-released, nanoenkapsulasi, nanosensor untuk pupuk, air, herbisida, kestabilan tanah dan lain
sebagainya. Penggunaan teknologi nano pada pestisida dilakukan oleh Dr. Micaela Buteler bekerja sama dengan Prof Weaver dari Montana State University. Kedua peneliti ini menguji penggunaan NSA (nanostructured alumina) pada dua jenis serangga pengganggu yang biasa ditemukan pada proses penggilingan, pengolahan dan penyimpanan gabah kering. Penelitian menunjukan bahwa NSA dapat menyediakan alternatif insektisida yang murah dan terjangkau. Pengembangan nanoteknologi pada pestisida baik itu pestisida kimia maupun pestisida organik akan dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida maupun insektisida. Lebih jauh lagi, penggunaan pestisida yang langsung pada target akan meminimalisir berkembangnya mekanisme resistensi pada hama dan mengurangi kematian serangga non target. Hal ini tentu akan membawa dampak positif bagi produksi pertanian, karena banyak kasus sebelumnya dimana terjadi ledakan hama tertentu akibat penggunaan pestisida yang kurang tepat. Teknologi nano pada pestisida organik dapat dilakukan dengan mengembangkan material toksik yang dikandung oleh tanaman atau bahan organik dalam ukuran nanopartikel sehingga akan lebih mudah mengenai sasaran dan jumlah pestisida yang dibutuhkan pun jauh lebih kecil. Namun seperti halnya teknologi yang lain, pemanfaatan nanoteknologi pada pestisida memiliki dua sisi berbeda. Beberapa ahli berpendapat bahwa pestisida dalam ukuran nano dapat menjadi berbahaya bagi manusia karena bisa menginfeksi kulit atau terhirup dan masuk ke paru-paru kemudian sampai ke otak. Ini masih menjadi perdebatan apakah teknologi ini bisa digunakan dan dikembangkan atau lebih baik tidak sama sekali. Perkembangan pestisida organik meningkat pesat sejalan dengan meningkatnya pemahaman masyarakat menegnai bahaya zat kimia sintetis dalam pestisida yang digunakan pada saat ini. Nanoteknologi diharapkan mampu menjembatani persoalan ini. Efektivitas pestisida yang dapat meningkat berkali lipat dengan mengubahnya menjadi nanopartikel bisa dijadikan dasar untuk aplikasi pestisida organik berbahan dasar tanaman seperti rosemary, cengkeh, lavender, kemangi dan beberapa minyak atsiri lain yang berotensi menjadi pestisida nabati. Dengan pendekatan nanoteknologi, zat aktif dari bahan alam bisa menjadi senjata ampuh dalam mengendalikan hama tanaman dan dapat menggantikan pestisida kimia. Pestisida organik yang terbuat dari ekstrak beberapa tanaman seperti disebutkan sebelumnya sangat potensial sebagai bahan alami pembuatan pestisida untuk diaplikasikan pada bidang agrikultur sebagai pengendali hama tanaman. Sebuah studi yang dipresentasikan oleh beberapa ilmuwan dalam pertemuan nasional American Chemical Society’s ke 238 di Kanada menyebutkan bahwa beberapa kandungan zat alami dari beberapa tanaman yang
disebut “essential oils pesticides” atau “killer spices” merupakan pestisida alami potensial yang ramah lingkungan dan relatif lebih tidak beresiko bagi kesehatan manusia dan hewan. Hanya saja pestisida organik ini tidak tahan lama karena sifatnya yang volatil dan mudah terdegradasi oleh cahaya matahari. Peranan nanoteknologi dalam pengembangan pestisida organik diharapkan menjadi jawaban tentang bagaimana caranya agar pestisida organik ini bisa bersaing dengan pestisida yang sudah lama beredar di masyarakat baik dari sifat toksiknya maupun kemampuannya bertahan di alam dengan teknologi slow release. Nano Teknologi dan Lingkungan Nanoteknologi dapat digunakan untuk mendegradasi residu pestisida baik itu di air, udara maupun di tanah melalui mekanisme fotokatalis oksida logam dengan menggunakan materi berbahan oksida semikonduktor seperti titanium oksida (TiO2) dan Zinc oksida (ZnO). Materi ini dapat menyerap foton dan menginisiasi proses reduksi oksidasi (redoks) sehingga akan memecah molekul organik kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana. Melalui proses fotokatalisis, residu pestisida dapat diubah menjadi mineral yang bermanfaat dan tidak membahayakan lingkungan. Fotokatalisis didefinisikan sebagai suatu proses kombinasi antara fotokimia dan katalis yaitu suatu proses transformasi kimiawi dengan melibatkan cahaya sebagai katalisator yang akan mempercepat transformasi tersebut. Proses yang terjadi adalah TiO2 yang diradiasi sinar ultraviolet akan menghasilkan elektron edan H + . Rekombinasi keduanya pada permukaan akan tereduksi oleh racun atau kontaminan atau mikroorganisme. e - akan berinteraksi dengan O2 menghasilkan O2 - (reduksi) dan H+ akan berinteraksi dengan H2O menghasilkan OHdan H2O (oksidasi). Daya oksidasi tersebut terbukti dapat menghancurkan polutan dan mikroorganisme merugikan. Cara yang sama diharapkan mampu dilakukan untuk mendegradasi polutan dari residu pestisida di lingkungan. Ketersediaan ultraviolet yang terbatas di alam menjadi salah satu faktor yang menghambat penerapan teknologi ini. Upaya yang dikembangkan sebagai alternatif adalah menambahkan dopen yaitu semi konduktor yang mempunyai celah pita (bandgap) relatif lebih lebar misalnya dengan penambahan mangan, timah, sulfur dan nitrogen. Semi konduktor ini akan mampu mentransfer elektron menuju ke sistem fotokatalis. Dengan cara ini materi akan memiliki kemampuan untuk menyerap cahaya tampak akan lebih tinggi sehingga tidak terlalu tergantung pada sinar ultraviolet.
Keistimewaan Nano Teknologi Keistimewaan sifat nanomaterial adalah bahwa dia mampu melakukan penetrasi lebih cepat dan sifatnya bisa sangat berbeda dengan sifat yang dimiliki ketika zat tersebut masih dalam ukuran lebih besar. Sebagai contoh aurum (gold) akan sangat toksik ketika berukuran nano, tembaga (Cu) memiliki sifat lebih keras dan feromagnetik akan menjadi superparamagnetik pada ukuran 20 nm. Cara ini bisa diadaptasi untuk zat kimia dari bahan organik seperti pyretrin yang dihasilkan oleh pyretrium dan banyak disintetis untuk digunakan sebagai insektisida. Pyretrin dalam ukuran nano diharapkan dapat bersifat lebih toksik dan melakukan penetrasi lebih optimal pada serangga target meskipun harus dilihat lagi efek sampingnya pada manusia dan lingkungan seperti kemungkinan terhirup oleh manusia dan sampai berapa lama dapat teregradasi di alam. Menurut hasil penelitian material ukuran nanometer memiliki sejumlah sifat kimia dan fisika yang lebih unggul dari material ukuran besar seperti mikro. Sifat tersebut dapat diubah-ubah melalui pengontrolan ukuran material, pengaturan komposisi kimiawi, modifikasi permukaan, dan pengontrolan interaksi antar partikel. Kekayaan sumber daya alam Indonesia menyimpan potensi yang sangat besar untuk pengembangan teknologi nano. Keanekaragaman sumber daya alam hayati Indonesia , alam tropis dan gunung api yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia merupakan penyedia iklim dan mineral penyubur tanah yang ideal untuk tumbuhnya berbagai tanaman baik tanaman pangan, kayu keras dan obat. Melalui rekayasa nanoteknologi, bahan alam berkhasiat obat (herbal) dapat dimanfaatkan sebagai obat (biofarmaka) . Begitu pula bahan tanaman yang berpotensi sebagai pengedali hama dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik yang efektif, efisien dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan teknologi nano. Pestisida nabati yang sudah dibuat dalam bentuk nanoparticle diantaranya yaitu pestisida nabati mimba (Azadirachta indica) (Forim, 2011). Banyaknya penggunaan pestisida mimba tidak terlepas dari kemanjuran pestisida tersebut terhadap beberapa jenis hama tanaman (Kardinan, 1999). Forim membuat nanokapsul (gambar 1) dengan diameter rata-rata mulai 150 hingga 250 nm.
Gambar 1. Nanokapsul berisi ekstrak mimba dengan berbagai perbesaran menggunakan SEM Kapsul yang sudah diisi rata-rata memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan kapsul yang belum diisi, seperti yang diperlihatkan penelitian Kalyanasundaram (gambar 2a dan b), Kalyanasundaram menggunakan emulsi PVP (Polivinilpirrolidone) sebagai bahan pembuat nanokapsul. Dapat dilihat berdasarkan gambar bahwa kapsul yang telah diisi larvasida berukuran lebih besar dibandingkan dengan kapsul kosong (Kalyanasundaram, 2013). Gambar 2. Nanokapsul PVP tanpa larvasida dan berisi temefos Beberapa Metode Untuk Menghasilkan Nanopartikel A. Metode Kopresipitasi Merupakan metode sintetis senyawa organik yang didasarkan pada pengendapan lebih dari satu substansi secara bersama-sama ketika melewati titik jenuhnya. Prosesnya menggunakan suhu rendah dan mudah untuk mengontrol ukuran partikel sehingga waktu yang dibutuhkan relatif singkat. Biasanya zat pengendap yang digunakan adalah hidroksida, karbonat, sulfat dan oksalat. Penggunaan metode ini diharapken menghasilkan partikel dengan ukuran lebih kecil dan lebih homogen dari metode solid-gel dan lebih besar dari metode sol-gel.
Ada dua jenis kopresipitasi yang penting yaitu yang berkaitan dengan adsorpsi pada permukaan partikel yang terkena larutan dan yang kedua adalah yang berhubungan dengan oklusi zat asing sewaktu proses pertumbuhan kristal dari partikel primer. B. Metode sol-gel Merupakan proses pembentukan senyawa anorganik melalui reaksi kimia dalam larutan pada suhu rendah, dimana terjadi perubahan fase dari suspensi koloid (sol) membentuk fase cair kontinyu (gel). Keuntungan dari metode ini adalah tingkat stabilitas termal yang baik, stabilitas mekaniknya tinggi, daya tahan pelarut yang baik dan modifikasi permukaan dapat dilakukan dengan berbagai kemungkinan. Prekursor yang biasa digunakan pada umumnya adalah logam organik atau logam anorganik yang dikelillingi oleh ligan yang reaktif seperti alkosida yang banyaj digunakan karena sifatnya yang mudah bereaksi dengan air. Tahapan proses sol-gel: a. Hidrolisis: pada tahap ini prekursor dilarutkan dalam alkohol dan terhidrolisis dengan penambahan air pada kondisi asam, netral atau basa dan menghasilkan sol koloid. Proses ini dipengaruhi oleh rasio air/prekursor dan jenis katalis yang digunakan. b. Kondensasi: terjadi proses transisi dari sol menjadi gel melibatkan ligan hidroksil untuk menghasilkan polimer dengan ikatan M-O-M c. Pematangan (ageing): terjadi reaksi pembentukan jaringan gel yang lebih kuat, kaku dan menyusut didalam larutan d. Pengeringan: proses penguapan laruutan dan cairan yang tidak diinginkan untuk mendapatkan struktur sol-gel yang memiliki luas permukaan tinggi. Dibandingkan metode konvensional, metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu: kehomogenan yang lebih baik, kemurnian lebih tinggi, suhu proses relatif rendah, tidak terjadi reaksi dengan senyawa sisa, kehilangan pelarut bisa diperkecil dan pencemaran udara bisa dikurangi. Kekurangannya adalah harga bahan mentah yang mahal, terjadi penyusutan bahan yang cukup besar pada saat pengeringan, menggunakan senyawa organik yang bisa membahayakan kesehatan dan menghasilkan residu hidroksil dan karbon serta proses yang membutuhkan waktu lama.
Agar hasil yang didapatkan sesuai dengan yang diinginkan ada beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu: 1. Senyawa: prekursor harus dapat larut dalam media reaksi dan harus cukup reaktif dalam pembentukan gel 2. Katalis: biasanya digunakan katalis asam atau basa meskipun ada beberapa yang tidak menggunakan katalis 3. Pelarut: yang banyak digunakan adalah alkohol karena memiliki tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar 4. Temperatur: temperatur yang lebih tinggi dari suhu kamar akan menghasilkan laju hidrolisis lebih cepat dan gel akan lebih cepat terbentuk. C. Metode Mikroemulsi Awal tahun 1943 Hoar dan Schulman melaporkan bahwa kombinasi air, minyak, surfaktan dan alkohol atau amina yang merupakan ko-surfaktan menghasilkan larutan yang jernih dan homogen yang dinamakan mikroemulsi. Secara umum mikroemulsi dapat dibedakan atas mikroemulsi langsung (minyak dalam air) dan mikroemulsi balik (air dalam minyak). D. Metode hidrothermal/solvothermal Ahli kimia berkebangsaan Jerman Robert Whilhelm Busen (1839) menggunakan larutan encer sebagai media dan menempatkannya dalam tabung pada temperatur diatas 2000C dan tekanan di atas 100 barr. Proses solvothermal melibatkan penggunaan pelarut di atas suhu dan tekanan titik didihnya sehingga akan mengakibatkan terjadi peningkatan daya larut dari padatan dan kecepatan reaksi antar padatan. Proses ini harus terjadi dalam keadaan tertutup untuk mencegah hilangnya pelarut pada saat diuapkan. Post hidrothermal merupakan perlakuan pada amterial setelah mengalami proses sol-gel dengan tujuan meningkatkan kristalisasi dari partikel tersebut. Metode ini menggunakan pelarut superkritis dengan beberapa pertimbangan yaitu: 1. Memiliki tegangan permukaan rendah sehingga kemampuan daya larutnya tinggi 2. Viskositasnya rendah 3. Difusitas tinggi sehingga memberikan pengaruh terhadap peningkatan daya larut.
E. Metode cetakan (templated synthesis) Cetakan yang digunakan disebut nanoreaktor. Ukuran pori yang halus dan seragam akan membantu nano partikel terbentuk sesuai dengan ukurannya dan mengontrol distribusi ukuran pada produk akhir. Ada dua macam metode yang digunakan untuk memasukan nanopartikel semikonduktor kedalam pori dari material mesopori yaitu: 1. Proses in situ/ post treatment yaitu mencampurkan prekursor nanopartikel dengan misel sebelum terbentuknya material mesopori. 2. Grafting/penempelan secara langsung nanopartikel ke dalam permukaan pori. F. Nanopartikel semi konduktor organik Merupakan semikonduktor yang menggunakan material organik sebagai material aktifnya. Semikonduktor organik lebih mudah untuk disintesis dan lebih fleksibel secara mekanik. Mekanisme utama semikonduktor ini adalah melibatkan hantaran melalui elektron pi atau elektron yang tidak berpasangan. Metode yang dipakai untuk membuat nanopartikel organik adalah metode represipitasi dengan mekanisme larutan zat terlarut dari starting material di dalam air diinfeksikan ke dalam air yang distirer sehingga kelarutan zat akan berubah secara endadak dan mengakibatkan terbentuk nanokristal dari zat terlarut. Referensi Anonim. 2014. Potensi Riset Nano Kimia Bahan Alam. http://nanotechindonesia.blogspot.com/2012/08/potensi-riset-nano-kimia-bahan-alam-di.html diakses tanggal 3 maret 2014. Fernandez, B. R. 2011. Sintesis Nanopartikel. Makalah. Pasca sarjana Universitas Andalas. Padang. Forim M.R., da Silva M.F.G.F, Fernandes J.B. 2011. Secondary Metabolism as a Measure of Efficacy of Botanical Extracts: The use of Azadirachta indica (Neem) as a Model. In: Perveen F. (ed.) Insecticides - Advances in Integrated Pest Management. Rijeka: In‐ Tech. p367-390. Jones, Angela. Jeane Nye and Andrew Greenberg. Nanotechnology in Agriculture and Food Technology. http://www.ice.chem.wisc.edu. Diakses tanggal 3 maret 2014. Kardinan, A. 1999. Mimba (Azadirachta indica) pestisida nabati yang sangat menjanjikan. Perkembangan Teknologi Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 11(2): 5-13 Kuzma, J. and Peter Verhage. 2006. Nanotechnology In Agriculture and Food Production. Anticipated Application. Woodrow Wilson International Center For Scholar. M. Kalyanasundaram, dan K. Gunasekaran. 2013. Synthesis, characterization and evaluation of nanoparticles of public health larvicides for mosquito control. Journal of Vector Borne Diseases(50): 225-228.
Purnobasuki, H. 2005. Teknologi Nano untuk Kenali Virus. Tohoku University. http://www.nano.lipi.go.id. Diakses tanggal 3 maret 2014. Suwarda, R. Dan M. S. Maarif. 2012. Pengembangan Inovasi Teknologi Nanopartikel Berbasis Pat Untuk Menciptakan Produk Yang Berdaya Saing. Jurnal Teknik Industri: 1411-6340: 104-120. Rohimatun. 2012. Penerapan Teknologi Nano Fotokatalis untuk Degradasi Pestisida. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri Vol 18(1): 15-20. Widowati, R.L. 2011. Pengembangan Teknologi Nano dengan Memanfaatkan Bahan Batuan Alami dan Bahan Organik. Laporan Riset Teknologi Terapan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yanto. 2005. Nanoteknologi. MIPA UGM. http://www.nano.lipi.go.id. Diakses tanggal 3 maret 2014. View publication stats