42 192 cm2 . Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, jika kita analogikan ukuran zat dengan kubus maka terbukti bahwa makin kecil ukuran zat maka luas permukaannya makin besar. Tumbukan antara reaktan makiun mudah terjadi dengan bertambahnya luas permukaan reaktan. Hal ini berlaku untuk reaksi dengan reaktan yang berupa padatan. Luas permukaan reaktan bertambah apabila reaktan berupa padatan ukurannya dijadikan lebih kecil (Syukri, 1999). Fenomena Ilmiah Level Mikroskopik Mari kita lihat video berikut! Dapat dilihat bahwa batu kapur yang memiliki bentuk serbuk, laju reaksinya lebih cepat dibandingkan dengan batu kapur lainnya. Jika ukuran partikel suatu benda semakin kecil, maka semakin banyak jumlah total permukaan tersebut. Oleh karena itu, luas permukaan semakin banyak maka kemungkinan terjadinya tumbukan antarpartikel menjadi semakin sering (Kemendikbud, 2019). Luas Permukaan Besar Luas Permukaan Kecil Gambar 4.7 Pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi Sumber: youtube.com/DiniAdelia.HK Ayo lebih paham faktor luas permukaan, klik video di bawah ini! Sumber: images.google.com Video 4.2 Faktor luas permukaan terhadap laju reaksi
43 Kegiatan 2 Fenomena Ilmiah Level Makroskopik Berikut ini adalah gambar kayu dengan ukuran yang berbeda A B C Gambar 4.8 A) Kayu balok; B) Kayu balok yang telah dipotong; C) Serpihan kayu. Pengetahuan Kimia 1. Manakah yang mudah terbakar, kayu balok utuh, kayu balok yang telah dipotong, atau serpihan kayu? 2. Menurut kamu faktor apakah yang mempengaruhinya? Sumber: images.google.com Pindai untuk menjawab!
44 C. Suhu Fenomena Ilmiah Level Makroskopik Kita tahu bahwa melarutkan gula dalam air panas, gula akan lebih cepat larut dibandingkan dengna menggunakan air dingin. Konsep ini sama pada laju reaksi, bahwa reaksi kimia akan cenderung lebih cepat terjadi pada suhu tinggi. Demikian pula sebaliknya, kita dapat memperlambat reaksi dengan menurunkan suhu, seperti saat kita menyimpan makanan dalam freezer. Hal ini bertujuan agar reaksi pembusukan pada makanan berlangsung lambat. Mari kita lihat video berikut! Dari video tersebut dapat kita lihat bahwa, apabila suhu larutan tersebut dinaikkan, reaksi kimia yang terjadi menjadi semakin cepat. Bukti Ilmiah Level Mikroskopik Suhu memiliki hubungan linear dengan gerakan molekul. Jika suhu semakin tinggi, maka gerakan molekul akan semakin cepat sehingga frekuensi terjadinya tumbukan akan semakin besar. Gerakan ini menyebabkan energi kinetik partikel-partikel bertambah, dengan demikian makin banyak Sumber: youtube.com/DiniAdelia.HK Ayo lebih paham faktor suhu, klik video di bawah ini! Gambar 4.10 Grafik pengaruh suhu terhadap laju reaksi Sumber: images.google.com Gambar 4.9 Air dingin dan air panas Video 4.3 Faktor suhu terhadap laju reaksi
45 partikel-partikel yang bereaksi (Sudarmo & Mitayani, 2014). Gambar 4.11 Pengaruh suhu terhadap gerakan molekul secara mikroskopis Bukti Ilmiah Level Simbolik Umumnya, ketika suhu dinaikkan 10°C, laju reaksi akan meningkat dua kali hingga tiga kali lebih cepat, sehingga laju reaksi berbanding terbalik dengan waktu. Hubungan antara suhu dengan waktu reaksi dapat dilihat pada persamaan berikut: V2 = V1() ( T2−T1 ∆T ) atau tT = t0 () ( T2−T1 ∆T ) Keterangan: V2 = Laju akhir V1 = Laju awal k = Faktor kenaikan T2 = Suhu akhir T1 = Suhu awal ΔT = Kenaikan suhu tT = Waktu pada suhu tertentu t0 = Waktu awal Ayo lebih paham hubungan suhu dan energi kinetik, klik videonya disini! Sumber: youtube.com/DiniAdelia.HK Sumber: images.google.com Rumus 4.1 Video 4.4 Hubungan suhu dengan energi kinetik
46 Contoh Soal Setiap kenaikkan suhu 10°C, laju reaksi menjadi 2 kali lebih cepat. Laju reaksi suatu reaksi pada suhu 25°C adalah a M/s. Hitung laju reaksi pada suhu 65°C. Contoh Soal Setiap kenaikkan suhu 20°C, laju reaksi menjadi 2 kali lebih cepat. Jika pada suhu 30°C laju reaksi berlangsung selama 8 menit, reaksi pada suhu 70°C akan berlangsung selama berapa menit? Fenomena Ilmiah Level Makroskopik Gambar 4.12 Kebakaran hutan Pada musim kemarau, resiko terjadinya kebakaran, baik kebakaran pemukiman maupun kebakaran hutan lebih besar daripada musim hujan. Faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah faktor suhu. Suhu lingkungan saat musim kemarau lebih tinggi dibandingkan suhu pada musim hujan. Kenaikan suhu mempercepat laju reaksi pembakaran terutama pada benda-benda kering. Sumber: images.google.com Pindai untuk melihat jawaban Pindai untuk melihat jawaban
47 Kegiatan 3 Fenomena Ilmiah Level Makroskopik Cermati infografik berikut ini! Gambar 4.13 Infografik pembusukan makanan Pengetahuan Kimia 1. Bagaimana pendapat kamu tentang infografik tersebut? 2. Bagaimana kamu menyikapi keadaan tersebut, terutama kebiasaan-kebiasaan kamu dalam memperlakukan makanan saat ini? Bahan Makanan Terbuang Sia-Sia Apa yang bisa dilakukan? Fakta dan Data Laporan World Wildlife Fund dan Tesco Plc. Memperkirakan 2,5 miliar ton (40% produksi) makanan hilang sejak dari lahan pertanian sampai ke piring konsumen. Indonesia Menghasilkan 13 Juta Ton Sampah Makanan Berasal dari: ✓ Restoran ✓ Hotel ✓ Usaha ✓ Katering ✓ Perusahaan ✓ Rumah Tangga 7,3 kg sayuran Telur 1 kg 5 kg buah-buahan Daging 1,6 kg 2,8 kg tempe, tahu Seafood 1,6 kg 2,4 kg umbi, beras Kacang 0,4 kg = 300 Kg/tahun Mengapa? 1 orang Penanganan pasca panen yang kurang baik Kurang memahami cara menyimpan yang tepat akibatnya Bahan Pangan Membusuk! Pembususkan adalah suatu reaksi kimia yang melibatkan enzim sebagai katalis. Enzim dapat berperan sebagai katalis yang baik, membutuhkan kondisi lingkungan yang optimum (suhu, pH, ion-ion garam, ketersediaan air, oksigen, dan fakor lainnya). Bagaimana Mencegah Pembusukan? Memperlambat laju reaksi dengan cara: • Mencegah zat pembusuk (bakteri, oksigen) berada pada bahan makanan • Membuat enzim tidak bekerja efektif sebagai katalis.
48 3. Berdasarkan infografik tersebut, apa sebenarnya proses pembusukan makanan? 4. Apabila dikaitkan dengan faktor-faktor yang mempercepat reaksi, maka proses pembusukan dapat diperlambat dengan cara apa saja? Jelaskan! 5. Carilah informasi tentang enzim dari berbagai sumber dan jelaskan hubungannya dengan laju reaksi! Pindai untuk menjawab!
49 D. Katalis Bukti Ilmiah Level Makroskopik Apa itu katalis? Katalis atau katalisator merupakan zat yang mampu mempengaruhi laju reaksi. Katalis akan bereaksi dengan zatzat pereaksi, tetapi di akhir proses reaksi katalis tersebut akan memisah kembali. Katalis ada dua macam, yaitu katalis positif dan negatif. Katalis positif akan mempercepat suatu reaksi, sedangkan katalis negatif akan akan memperlambat laju reaksi (Chang, 2008). Bagaimana cara kerja katalis? Katalis positif akan menyebabkan energi aktivasi reaksi semakin kecil, artinya energi aktivasi yang dibutuhkan agar terjadinya suatu reaksi kimia, menjadi lebih kecil daripada biasanya. Misal, jika dalam perjalanan kamu dihadang oleh gunung, kira-kira mana yang lebih cepat sampai, mendaki gunung tersebut kemudian turun lagi, atau melewati terowongan yang menembus gunung tersebut? Tentu saja, jika ingin cepat sampai, pasti kamu memilih melewati terowongan, bukan? Begitu juga dengan konsep katalis, terowongan tadi adalah katalis, yang membantu mempercepat terjadinya suatu reaksi. Analogi lainnya adalah seperti joki kuda dalam pertandingan lompat kuda. Dalam analogi ini, lebih sedikit energi yang diperlukan oleh kuda dan pengendara untuk melewati penghalang yang lebih rendah daripada melompati rintangan yang lebih tinggi. Gambar 4.14 Kuda dan pengendara menggunakan sedikit energi untuk melompati penghalang yang rendah. Kecepatan dan energi yang lebih besar diperlukan untuk melewati rintangan yang lebih tinggi. Ayo lebih paham faktor katalis, klik video di bawah ini! Sumber: youtube.com/MsAnggun Sumber: images.google.com Video 4.5 Faktor katalis terhadap laju reaksi
50 Katalis dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu katalis heterogen dan katalis homogen (Chang, 2008). 1. Katalis Heterogen Pada katalis heterogen, reaktan dan katalis memiliki fasa yang berbeda. Biasanya, katalis memiliki bentuk dalam fasa padat (solid) sedangkan reaktan dalam bentuk fasa gas atau cair. Sejauh ini, katalis heterogen merupakan katalis yang sering digunakan dalam industri, terutama dalam sintesis bahan kimia. Contoh penggunaan katalis heterogen adalah pada sintesis amonia dengan proses Haber. Pembuatan amonia dalam skala industri, harus dapat memenuhi beberapa kriteria yaitu, produk yang dihasilkan banyak, dan waktu yang digunakan untuk proses pembuatan cepat. Penambahan kenaikan suhu pada reaksi, dapat mempercepat laju reaksi namun produk amonia yang terbentuk menjadi sedikit, karena suhu tinggi juga dapat menguraikan NH3 menjadi N2 dan H2. Hal inilah yang membuat seorang kimiawan dari Jerman, Fritzh Haber, melakukan eksperimen dengan menambahkan katalis padat berupa logam. Molekul – molekul H2 dan N2 akan terdisosiasi kepada permukaan logam dan selanjutnya membentuk NH3 pada suhu 500°C secara cepat. 2. Katalis Homogen Pada katalis homogen, reaktan dan katalis akan terdispersi pada fasa yang sama, biasanya dalam bentuk fasa cair. Katalis asam dan basa biasanya menjadi jenis katalis yang sering digunakan dalam keadaan fasa cair. Contohnya pada reaksi berikut: Jika tanpa katalis, persamaan laju reaksinya adalah: r = k[CH3COOC2H5] Sedangkan jika menggunakan katalis, persamaan laju reaksinya adalah: r = k[CH3COOC2H5][H+ ] CH3 C O O C2H5 + H2O CH3 C O O OH + C2H5 C2H5OH Etil Asetat Air Asam Asetat Etanol
51 Bukti Ilmiah Level Simbolik Coba kita perhatikan diagram berikut! Gambar 4.15 Diagram energi aktivasi dengan dan tanpa katalis 1. Jalur I Tanpa Katalis (Garis Merah) A + B → AB → C Jalur ini merupakan jalur reaksi tanpa menggunakan katalis sehingga memerlukan energi aktivasi sebesar Ea yang tinggi. Akibatnya reaksi berjalan dengan lambat. 2. Jalur II dengan Katalis (Garis Hijau) A + B → XAB → C Jalur ini menggunakan katalis. Katalis mengakibatkan energi aktivasi yang diperlukan menjadi lebih rendah, sehingga reaksi akan berjalan lebih cepat. Katalis memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Katalis tidak bereaksi secara permanen, karena terbukti tidak mengalami perubahan kimia selama reaksi. 2. Jumlah katalis yang diperlukan dalam reaksi sangat sedikit, contohnya dalam penguraian 10 liter H2O2 menjadi H2O dan O2 hanya diperlukan 1-gram Pt. 3. Katalis tidak mempengaruhi hasil akhir reaksi. 4. Katalis tidak memulai suatu reaksi tetapi hanya mempengaruhi lajunya. 5. Katalis bekerja efektif pada suhu optimum. Artinya, di atas atau di bawah suhu tersebut kerja katalis berkurang.
52 6. Suatu katalis hanya mempengaruhi laju reaksi secara spesifik. Berarti, suatu katalis mempengaruhi laju reaksi satu atau sejenis reaksi, dan tidak dapat untuk reaksi jenis lain. Contoh: C2H5OH() Al2O3 → C2H4 () + H2O() C2H5OH() Cu → CH3CHO() + H2O() 7. Keaktifan katalis dapat diperbesar oleh zat lain yang disebut promotor (pemercepat katalis) 8. Hasil suatu reaksi kadang-kadang dapat bertindak sebagai katalis, dan zat itu disebut autokatalis. Dalam menurunkan energi aktivasi, katalis dapat mengubah jalannya reaksi sehingga diperoleh zat transisi atau komplek teraktivasi (intermediate) yang keberadaannya bersifat sementara, yang selanjutnya berubah menjadi zat hasil reaksi. Contoh: Gas SO3 disintesis dari reaksi antara gas SO2 dan O2. 2SO2(g) + O2(g) → 2SO3(g) Reaksi ini dapat dipercepat dengan menambahkan katalis V2O5. Diduga adanya V2O5 menyebabkan jalannya reaksi berubah sebagai berikut. Tanpa katalis: 2SO2(g) + O2(g) → 2SO3(g) • Dengan katalis menjadi dua tahap. Tahap-1: SO2 + V2O5 → SO3 + V2O4 Tahap-2: V2O4 + ½O2 → V2O5 + Total: SO2 + ½O2 → SO3 Gambar 4.16 Diagram energi aktivasi dengan katalis dan tanpa katalis.
53 Peranan katalis dimanfaatkan dalam membantu kehidupan manusia sehari-hari, diantaranya adalah sebagai berikut. A. Enzim Enzim merupakan katalis biologis. Enzim biasanya merupakan molekul protein dengan ukuran yang sangat besar dan massa molekul lebih dari satu juta sma. Enzim mengkatalis reaksi tertentu yang terjadi pada makhluk hidup. Sebagai contoh, laktase adalah enzim yang hanya mengkatalis pemecahan laktosa atau gula susu menjadi glukosa dan galaktosa melalui reaksi hidrolisis seperti ditunjukkan pada persamaan berikut. Laktosa + Air Laktase → Glukosa + Galaktosa Pakar dalam bidang biokimia menggambarkan aktivitas katalis enzim dengan model kunci dan gembok seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.17. Gambar 4.17 Model kunci dan gembok yang dikatalis oleh enzim Substrat akan bergerak menuju ke tempat aktif (active site) pada enzim, kemudian substrat akan menempati tempat aktif pada enzim, dan akhirnya produk lepas dari tempat aktif. Reaksi enzimatik pada tubuh manusia berlangsung paling cepat pada temperature 37°C yang merupakan temperature normal pada tubuh orang yang sehat (Chang, 2005). Ayo pahami dampak food waste dan pencegahannya, klik videonya! Sumber: youtube.com/ajengmuntazalulr Sumber: images.google.com Video 4.6 Dampak food waste dan pencegahannya
54 B. Pengubah Katalitik (Catalytic Converter) Katalis memiliki peranan penting dalam mengontrol polutan yang terdapat dalam gas buangan dari mobil, motor, dan pembangkit energi. Katalis yang digunakan pada mobil disebut pengubah katalitik. Posisinya berada di antara mesin mobil dan pipa knalpot seperti ditunjukkan pada Gambar 4.18. Biasanya pengubah katalitik memiliki lapisan logam rhodium (Rh) atau platina (Pt) pada permukaannya sehingga harganya mahal. Pengubah katalitik biasanya digunakan pada mobil modern. Pengubah katalitik mempercepat terjadinya reaksi-reaksi berikut. 2CO() + O2() → 2CO2() 2NO() → N2() + O2() 2C8H18() + 25O2() → 16CO2() + 18H2O() Reaksi tersebut hanya dapat berlangsung pada suhu yang sangat tinggi. Akan tetapi pada suhu yang sangat tinggi, mesin bekerja tidak efektif. Oleh karena itu, diperlukan suatu katalis agar reaksi dapat berlangsung pada suhu rendah. Katalis mampu bekerja dengan baik pada suhu 400°C. Reaksi-reaksi tersebut mengubah polutan yang berbahaya seperti CO, yang dapat meracuni darah, NO, yang dapat menyebabkan lubang pada ozon dan hujan asam, dan C8H18 menjadi zat-zat yang tidak berbahaya seperti CO2, N2, dan H2O, sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara. C8H18 merupakan sisa bahan bakar yang tidak terbakar yang sebagian besar terdiri dari isooktana (Chang, 2008). Sumber: images.google.com Gambar 4.18 Pengubah katalitik
55 Kegiatan 4 Fenomena Ilmiah Level Makroskopik Lakukanlah kegiatan pratikum berikut secara berkelompok untuk membuktikan faktor-faktor yang memperngaruhi laju reaksi menggunakan bahan sederhana di sekitar kalian! Pindai untuk memulai praktikum!
56 Rangkuman Penerapan Profil Pancasila Akhlak Mulia Tahukah kamu? Penggunaan karbit atau kalsium karbida untuk mematangkan buahbuahan sangat berbahaya bagi tubuh manusia, di mana kalsium karbida juga mengandung efek arsenik dan fosfor. Kalsium karbida memiliki sifat yang menyebabkan kanker dan mampu menyebabkan gangguan neurologis. Hal ini dapat mengakibatkan kesemutan, mati rasa dna neuropati perifer. Jika ibu hamil mengkonsumsi buah yang dimatangkan dengan karbit, anak-anak yang lahir dapat berkembang secara abnormal. Praktek pematangan buah dengan karbit dilarang di banyak negara lain, tetapi masih bebas digunakan di negara-negara berkembang di Asia seperti Malaysia dan Indonesia. Dalam survei yang dilakukan CAP, ditemukan petani buah dan grosir yang merajalela menggunakan gas karbit untuk mematangkan berbagai buah-buahan. Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: a. Konsentrasi b. Luas permukaan c. Suhu d. Katalis Sumber: intisari.grid.id/Techno/Science/Amankah-PisangKarbitan Gambar 4.19 Mempercepat pematangan buah dengan karbit
57 Tugas Kemandirian Tes Sumatif Umpan Balik dan Tindak Lanjut Hitunglah jawabanmu yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan kamu terhadap materi kegiatan pembelajaran 4. Tingkat Penguasaan = Jumlah Jawaban Benar 5 × 100% Arti tingkat penguasaan yang kamu capai adalah sebagai berikut: 1. 90% - 100% = Baik Sekali 2. 80% - 89% = Baik 3. 70% - 79% = Cukup 4. <70% = Kurang Apabila tingkat penguasaan kamu telah mencapai 80% atau lebih, kamu dapat meneruskan kegiatan pembelajaran selanjutnya. Tetapi, apabila nilai tingkat penguasaan kamu masih di bawah 80% kamu harus mengulangi Kegiatan Pembelajaran 4 ini terutama bagian yang belum kamu kuasai dengan baik. Kerjakan tugas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dengan mengklik tombol Tugas di bawah ini! Kerjakan tes sumatif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dengan mengklik tombol Tes Sumatif di bawah ini! Pindai untuk menjawab! Pindai untuk menjawab!
58 Glosarium Laju reaksi Berubahnya konsentrasi reaktan atau produk per satuan waktu Konsentrasi Larutan Besaran yang menunjukkan kepekatan suatu larutan melalui perbandingan antara pelarut dan zat terlarut Molaritas Perbandingan antara jumlah mol zat terlarut setiap satuan volume larutan Tetapan laju reaksi Suatu tetapan yang mempengaruhi laju reaksi, dimana besarnya tetapan laju reaksi bergantung pada kondisi reaksi tersebut Orde reaksi Faktor konsentrasi reaktan yang mempengaruhi laju reaksi Tumbukan Ketika suatu benda dibuat saling bertabrakan Energi Kinetik Energi yang dimiliki oleh suatu benda yang bergerak Energi Potensial Energi yang tersimpan pada suatu benda Energi Aktivasi Energi kinetik minimum yang harus dimiliki molekul pereaksi agar menghasilkan reaksi ketika saling bertumbukan Suhu Besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda Katalis Suatu zat yang dapat mempercepat atau memperlambat suatu reaksi kimia tanpa zat sendirinya tersebut berubah
59 Penerapan Profil Pancasila Beriman Kepada Tuhan Yang Maha Esa Kita telah mempelajari materi laju reaksi mulai dari level makroskopik, simbolik bahkan hingga level mikroskopik. Namun, tahukah kamu bahwa laju reaksi juga dapat dipelajari dalam ayat-ayat Al-Qur’an? Sebagai seorang musllim, seharusnya kita tidak hanya mempelajari konsep-konsep kimia saja, melainkan juga mempelajari kimia yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Berikut ini akan dikaji beberapa ayat AlQur’an mengenai laju reaksi: Allah SWT berfirman: ٱ ِذى ل َق َّ َسَّو ى َخلَ فَ “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)”. (QS. Al-A’laa:2) ٱ ِذى َو َّ َر ل َهدَ ى قَدَّ فَ “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. (QS. AlA’laa:3) ُّنَا َر قَا َل ب ى ٱ ِذ َّ ى ل ْع َط ْى ء ُك أ َّل َ َش قَهُ ْ َّم َخل ۥ َهدَ ى ثُ “Musa berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiaptiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”. (QS. Thaha:50) Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah menciptakan sesuatu sesuai dengan kadarnya dan dalam bentuk sebaik-baiknya serta memberikan petunjuknya kepada manusia bagaimana cara mengeluarkan manfaat dari ciptaannya (Tafsir Al-Baghowi 8/400).
60 TOKOH KIMIA Abu Musa Jabir bin Hayyan, seorang kimiawan kelahiran Kuffah, Irak pada tahun 750. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dibilang beliau merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. Gambar 5.1 a) Jabir bin Hayyan; b) Ar-Razi; c) Al-Majriti. Abu Bakr Muhammad bin Zakariya Ar-Razi, seorang kimiawan yang lahir di Ray, Iran pada 864 M. Salah satu kitabnya berjudul Sirr Al-Asrar, mampu membuat klasifikasi zat alam yang bermanfaat. Ar-Razi membagi zat yang ada di alam menjadi tiga, yaitu keduniawian, tumbuhan serta binatang. Ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri Selain itu, Ar-Razi tercatat mampu membangun serta mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern Abul Qasim Maslamah bin Ahmad Al-Majriti, seorang alkimiawan kelahiran Madrid, tercatat berhasil menulis buku kimia berjudul Rutbat AlHakim. Pada buku tersebut, ia memaparkan rumus serta tata cara pemurnian logam mulia. Ia juga tercatat sebagai imuwan pertama yang membuktikan prinsip kekekalan massa, yang pada delapan abad berikutnya dikembangkan oleh kimiawan Barat, Antonio Lavoisier. a b c
61 Penerapan Profil Pancasila Belajar Mandiri Motivasi bisa ditemukan ketika kamu bertanya pada diri sendiri, seperti: apa tujuan kamu belajar, apa yang ingin kamu capai, dan mengapa harus mencapai hal tersebut. Buatlah list targettarget yang ingin kamu capai. Dengan menetapkan target, kamu akan menjadi fokus pada hal-hal untuk mencapai target, sehingga tidak membuang-buang waktu. Atur waktumu dengan membuat list kegiatan yang akan dilakukan setiap hari untuk membentuk pola belajarmu menjadi lebih disiplin. Hal ini penting Membaca adalah kemampuan yang harus dimiliki ketika kamu belajar mandiri, karena mayoritas materi pelajaran disajikan dalam bentuk teks. Kamu akan memiliki wawasan lebih dan mempermudah kamu untuk belajar.
62 Penilaian Diri Silahkan klik tombol di bawah ini dan isi hasil pencapaian diri kamu setelah mempelajari materi pada modul elektronik multiple representatif Pindai untuk mengisi penilaian diri!
63 DAFTAR PUSTAKA Brady, J.E & Humiston, G. E. 1986. General chemistry, principles and structures. John Willey and Sons. Chang, R. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep inti. Edisi ke-3. Erlangga. Chang, R., & Overby, J. 2008. General chemistry: the essential concepts (6th ed.). The McGraw Hill Companies, Inc. Kemendikbud. 2019. E-modul kimia kelas XI. Kemendikbud Mon, I., Yerimadesi, Y., & Hardeli, H. 2012. Kimia Fisika (Kinetika Kimia). UNP Press. Pakesa, C. M., & Yusmaita, E. 2019. Perancangan assesmen literasi kimia pada materi laju reaksi kelas XI SMA/MA. Edukimia, 1(3), 84-89. Petrucci, R. H. 1987. Kimia dasar: prinsip dan terapan modern. Erlangga Rastogi, S. C., & Goyal, M. 2020. Chemistry Class XII For Madhya Pradesh Board. SBPD Publications. S, Syukri. 1999. Kimia dasar 2. Penerbit ITB. Sudarmo, Unggul & Mitayani, Nanik. 2014. Kimia untuk SMA/MA kelas XI. Airlangga. Sunarya. 2012. Kimia dasar 2. CV Yrama Widya.
TENTANG PENULIS Dini Adelia, kelahiran Duri, 02 September 1994. Pada tahun 2013 penulis diterima sebagai mahasiswi program studi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Lulus S1 (S. Pd) dengan judul penelitian “Pengembangan Penuntun Praktikum Materi Titrasi Asam Basa Menggunakan Indikator Alami di Sekolah Menengah Atas,” pada tanggal 31 Agustus 2017. Mengajajar sebagai guru kimia di SMAN 1 Kampar Timur sejak tahun 2018 dan kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Pendidikan kimia Pasca Sarjana Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Riau pada tahun 2021. Dr. Roza Linda, M.Si. Kelahiran Pekanbaru, 16 Januari 1974 merupakan dosen FKIP Universitas Riau, menamatkan jenjang pendidikan S1 (S.Si) pada tahun 1996 di Universitas Andalas. Menamatkan jenjang pendidikan S2 (M. Si) pada tahun 1999 di Universitas Andalas dan menanatkan S3 (Dr.) pada tahun 2013 di Gifu University Jepang. Prof. Dr. Maria Erna, M.Si. Kelahiran Dalu-dalu, 24 April 1972 merupakan dosen FKIP di Universitas Riau. Menamatkan pendidikan jenjang S1 (S.Si) pada tahun 1997 di Universitas Riau. Menamatkan jenjang pendidikan S2 (M.Si) di Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000. Menamatkan jenjang pendidikan S3 (Dr.) di Universitas Andalas pada tahun 2012 dan kemudian dikukuhkan di aula gedung rektorat Siak Sri Indrapura UNRI menjadi Profesor di Universitas Riau pada tahun 2022.