The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini berisi kumpulan cerpen yang dapat dinikmati semua kalangan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by dshapsari, 2022-06-18 22:24:23

Antologi Cerpen

E-Book ini berisi kumpulan cerpen yang dapat dinikmati semua kalangan

Keywords: Cerpen

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh
jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb
ntymuqiowpearstdAyfugNihTojpkOKlaELzLsAxOdSc0Gfv3gSIbIhDCnMjk0Em0l1RzqxPwcEveNbrntymuqiowpears
dfghjklzxcvbnMmataqKuwliaheTerlatahyNuoveilopasdfghjklzx
cvbnmqwertyuiUoniveprsiat2a0s2sP2admuflagng hjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio
pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj
klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghcvbn

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya kami
segenap mahasiswa dan mahasiswi di Kelas 03SIDM001 Universitas Pamulang dapat menyelesaikan
tugas membuat “Antologi Cerpen" ini dengan tepat waktu.
Antologi Cerpen ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Telaah Novel. Selain itu, Antologi Cerpen
ini bertujuan sebagai wadah bagi kami dalam berlatih membuat cerpen .
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Washadi, S. Pd, M. M selaku Dosen Mata Kuliah Telaah
Novel, yang telah membimbing kami hingga Antologi Cerpen ini dapat terselesaikan dengan baik.
Kami menyadari Antologi Cerpen ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang
membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan kami dalam membuat cerpen di kesempatan
berikutnya.

Tangerang Selatan, 13 Juni 2022
Para Penulis

~i~

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................................... i

Daftar Isi ..................................................................................................................... ii

Para Penulis ..................................................................................................................... iii

Kumpulan Cerpen ..................................................................................................................... 1

Kumolonimbus ....... ..................................................................................................................... 1

Rey ..................................................................................................................................... 7

Penyebab Galau ..................................................................................................................... 10

Teman Dekat ..................................................................................................................... 12

Pertanyaan-Pertanyaan Konyol ................................................................................................ 15

Masyarakat Pinggir Kota ..................................................................................................... 17

Antara ..................................................................................................................... 20

Teka-Teki Mamat Asbak .......................................................................................................... 22

Liburan Ke Puncak .......................................................................................................... 26

~ ii ~

Para Penulis

1 Ade Yulia Safitri (Kumolonimbus)
2 Afsari Annisa Cahya Afthie (Rey)
3 Muhammad Fahmi Haidi (Penyebab Galau)
4 Citra Nurpadillah (Teman Dekat)
5 Gunawan (Pertanyaan-pertanyaan Konyol)
6 Anisa Fitri

(Masyarakat Pinggir Kota)
7 Dini Satya Hapsari (Antara)
8 Muhammad Ibrahim (Teka-teki Mamat Asbak)
9 Ahmad Reza (Liburan ke Puncak)

~ iii ~

1

Sebuah cerita pendek karya : Ade Yulia Safitri

"Kumolonimbus"

“Halo mentari, sudah siap untuk berpetualang?”
****

Jalanan masih lengang saat aku mengajak mentari berpetualang. Udara pun masih segar, belum
tercemar polusi-polusi brengsek kendaraan yang saling beradu kecepatan. Embun pun masih nyaman berada
dalam pucuk-pucuk rumput yang berkeliaran.
“Aku bisa menerbangkan semua bebanmu. Percaya tidak?”
“Gimana caranya?”
“Pegangan dulu yang erat. Peluk perutku juga gak masalah. Kasian dia rindu kamu katanya”
Orang yang ku sebut mentari terkekeh. Sebelum akhirnya memilih memeluk perutku yang rindu lengan-
lengannya itu.

Nama aslinya Adara Fradella, artinya bintang cerah yang membawa kedamaian. Bagiku dia lebih dari
sekadar bintang, dia adalah Adara Fradella, kekasihku, mentariku, sumber kedamaian seluruh jiwa dan
ragaku.
“Sudah siap untuk menerbangkan semua bebanmu, mentari?”
"Udah Bayuu. Cepetan. Aku udah gak sabar nih ingin nerbangin semua bebanku.”
Lalu gas di tangan kanan ku putar semakin kebawah, membawa motor merah kesayanganku bagai melesat
menembus udara pagi yang segar—100km/jam.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Setelah kurang lebih dua puluh lima detik mentari teriak dan lama-kelamaan suaranya mengecil. Motor
merahku, aku pelankan lajunya menjadi 40km/jam.
“Sudah lepas semua?” tanyaku.
“Hhhhh sudah hhh hhh terima kasih hhh sayaang hhh hahahaha” jawabmu tidak jelas karena beradu dengan
deru napas yang tak teratur akibat berteriak lalu kemudian terkekeh mengingat perbuatanmu tadi.
“Jangan bilang sayang, aku takut gak kuat ingin berhenti mengendarai motor ini dan mengacak-acak
rambutmu yang sewarna dengan jengger ayam itu.”
“Kamu tuh yaa, ini tuh warnanya burgundy. Jangan di sama-samain sama jengger ayam.”
“Sama saja, bagiku warnanya itu serupa jengger ayam milik bang Toha.”
“Dasar pak tua, rambut udah keren gini malah disamain sama jengger hewan yang suka nyuri sendal di
halaman rumah”

2

Mentari menggerutu pelan, namun aku masih mendengarnya. Aku terkekeh. Lucu membayangkan sang
mentari memonyong-monyongkan bibir sambil memanggilku pak tua.

***

Setelah sejam aku mengajak mentari berpetualang dengan motorku akhirnya kita sampai pada sebuah
tempat. Sebelum menuju ke tempat tujuan, terlebih dulu mentariku aku ajak jalan dengan sedikit tanjakan dan
menaiki kurang lebih sembilan puluh sembilan anak tangga.

Lalu, setelah mentari mengeluh capek dan istirahat yang ke sepuluh kali sampailah kita di tempat
dengan latar air yang turun dari ketinggian lima puluh dua meter dan membentuk kolam di bawahnya lalu
kemudian mengalir ke kolam-kolam yang lain dan membentuk aliran air jernih yang bisa kita lihat dasarnya.

“Abayu, kita dimana? Segeerrr bangeett yaampuun.”

“Ini di air terjun tapi belum banyak terjamah, belum punya nama. Tapi indah. Ada banyak orang yang ingin
kesini tetapi nyerah setelah melihat air terjun kecil yang sempat kamu perhatikan tadi. Mereka gak sabar dan
memilih menyerah dengan rasa lelahnya.”

“Oh kok kamu bisa tau ada air terjun ini Abayu?”

“Ayahku yang memberi tahu keberadaan air terjun ini, kebetulan ayah pernah tinggal dekat sini selama satu
tahun”

“Abayu, ayok kita namain air terjun ini!”

“Kamu mau beri nama apaa?”

“Menurutmu nama yang bagus apaa?”

“Bagaimana kalau air terjun mentari dan pak tua?”

“Itu konyol Abayu.”

“Tapi belum ada yang menamai air terjun dengan nama seperti itu, mentari.”

“Yasudah. Mulai sekarang nama air terjun ini adalah "air terjun mentari dan pak tua". Kok lucu yaa Abayu?
Hihihihihi”

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan mentari. Bahagia rasanya melihatnya tersenyum dan
sumringah seperti hari ini. Sinar matanya yang tadi pagi ia biarkan meredup. Kini cerah kembali. Seperti aku
bisa melihat cahaya-cahaya yang berkilauan pada tiap kedip matanya. Senyum yang ia biarkan membeku
untuk kesekian kini ia buat hangat lagi.

“Abayu, aku mau berenang”

“Kamu bawa pakaian ganti?”

“Sebentar, aku liat dulu”

Mentari berbalik arah. Menurunkan tas ransel dari pundaknya ke sebuah batu kali besar. Membuka
resletingnya dan memeriksa isi di dalamnya. Tak lama ia menoleh kepadaku, tersenyum sumringah. Bagiku
itu menjelaskan banyak. Ia berkata "bawa" tanpa suara.

3

Setelah itu, mentari mendekati kolam di bawah air terjun dan berenang. Ia tertawa bahagia saat air
terjun yang dingin terus menghujani tubuh dan wajahnya. Lalu, mentariku membentuk guratan bentuk hati di
udara sambil berterima kasih tanpa suara. Aku tersenyum, lebar sekali sambil menganggukan kepala
kepadanya. Ahh, senang sekali melihatmu bersinar kembali, mentari.

***

Sebuah Sabtu yang dingin, tanpa mentari yang bersinar dan awan kumulonimbus sudah bergerak ke
kumpulannya. Sedang aku duduk di teras rumahku membaca novel "Gadis Pantai" karya dari seorang
Pramoedya Ananta Toer. Tak usah ku jelaskan isinya, baca saja sendiri. Sambil membaca, ku hidangkan
secangkir kopi susu untuk sedikit menghilangkan hawa dingin akibatangin yang terus berhembus.

Sepuluh menit kemudian ketika air hujan mulai merintik suara telepon seluler yang ku taruh di meja
dekat dengan secangkir kopi tadi berbunyi. Mendengungkan lagu "Secukupnya" dari Hindia.

"Mentari " is calling.....

Tak butuh waktu lama, ikon telepon warna hijau segera ku sentuh. Setelah itu bukan suara mentari yang aku
dengar melainkan suara satu orang laki-laki dewasa dan perempuan yang sedang bertengkar.

“Kamu tunggu sebentar ya, aku segera ke sana”

Aku langsung menyentuh ikon telepon warna merah. Setelah itu, bergegas mengambil jaket dan kunci motor
dalam sekali hentakan. Mengemudi secepatnya untuk bisa menyelamatkan mentari yang saat ini sedang
duka. Seperti mentari yang diatas sana.

Perjalanan yang harusnya tiga belas menit itu ku pangkas menjadi tujuh menit. Aku tidak ingin
mentariku bersedih lebih lama, maka dari itu aku mengeluarkan telepon seluler dan men-dial nomor mentari.
Dering kedua mentari langsung mengangkatnya.

“Pak tua sudah menunggu di depan mentari” dengan logat ala kakek tua yang sedang menelepon cucunya.

Dua menit kemudian wajahnya sudah ada di depanku. Dengan rambut warna burgundy yang ia ikat satu dan
jaket rajut merah yang kebesaran di tubuhnya. Sedetik kemudian, mentari langsung menaiki motor merah
kesayanganku.

***

Aku berusaha melihatnya di spion motor dan tersenyum. Yang sayangnya tak berbalik, justru yang ku
lihat adalah guratan-guratan emosi dan sedih di wajah mentari. Aku tak berusaha menanyakan apapun
kepada mentari. Aku hanya membawa kedua pergelangan tangannya melingkar di perutku dan menepuknya
pelan.

Aku selalu tahu mentariku kenapa. Mentari yang seharusnya bersinar malah justru kebalikannya, dia di
lahirkan di tengah keluarga yang tidak menginginkannya. Sedari ia kecil orang tuanya selalu berdebat tentang
apapun. Tak pernah sekalipun mentari pernah mendengar orang tuanya berbicara baik-baik saja dan tertawa
bersama seperti pasangan yang lain. Orang tuanya menikah karena terpaksa, dijodohkan katanya. Oleh
sebab itu, mereka selalu bertengkar lahirnya mentari pun akibat kecerobohan mereka sendiri. Akhirnya, dari
kecil mentari di asuh oleh pembantu yang sudah ia anggap saudara satu-satunya. Baru tahun kemarin
pembantunya itu meninggal, dan itu sanggup membuat mentari menjadi badai selama seminggu. Mentariku
sempat kelabu sekali waktu itu.

4

Hingga akhirnya ia bangkit dan menjadi mentari yang lebih kuat sekarang ini. Namun, ia selalu minta
diajak pergi ketika orang tuanya bertengkar dirumah. Dan aku selalu menjadi manusia yang diajaknya pergi,
sama seperti saat ini. Aku bangga menjadi pak tua dari mentariku.

Selama lebih dari tiga puluh menit aku mengendarai motor membonceng mentari, sampailah kita di
hutan pinus tempat favorit mentari kala sedang sedih. Mentari turun dari motor merahku dan melangkah
menuju ujung hutan Pinus ini yang di bawahnya terletak lembah, sedang aku mengikuti setelahnya. Mentari
kemudian duduk, pandangannya terlihat jauh entah kemana. Aku menyusulnya. Kemudian, mentari melihatku
sekilas. Sebelum akhirnya menoleh— tersenyum paksa. Aku tanyakan keadaannya.

“Kamu baik-baik saja?”

“Apapun yg terjadi kita harus tetap baik-baik saja kan?”

Itu sesaat sebelum akhirnya aku merenggut pundaknya dan memenjarakannya dengan kedua
tanganku.

“Kalau dirimu sedang tidak baik-baik saja ya terima. Jangan di paksa untuk terus baik. Dia hanya
sedang menunjukkan eksistensinya sebagai manusia.”

Basahnya belakang kemejaku seiring dengan ku dengar isak tangisnya.

“Jangan di marahi perasaanmu itu, mentari. Kalau kamu mau peluk aku untuk menyampaikan rasa tidak
baikmu juga boleh. Kamu tahu aku akan selalu menjadi pak tua untuk mentariku”

Setelah itu, yang ku tahu mentariku melengkungkan sedikit senyum, sebelum aku tersenyum lebih lebar
lagi.

***

“Mentari aku punya satu lagu untukmu”

“Coba nyanyiin, tapi aku rekam yaa”. Mentari mengeluarkan telepon genggamnya dari tas kecil yang dia
bawa. Sedang aku mengambil gitar yang di gantung di tembok belakangku. Lalu mulai mencari nadanya.
Menggenjrengnya pelan dan sebelum mulai bernyanyi aku menatap mentari dan tersenyum lebar.

“Silakan di nikmati mentari”
“Mentari mentari..
Alangkah indahmu..
Merah kuning hijau
Sewarna bajumu
Pelukismu agung.. Siapa gerangan?
Mentari mentari pacarnya Bayuu...”

“Itu kan lagu pelangi yang kamu ubah liriknya Abayuu”

“Kata penciptanya tidak apa-apa di ubah asal bisa bikin mentari tersenyum”

5

“Bilang terima kasih sama penciptanya udah bolehin kamu ngubah liriknya”

“Sama-sama mentari”

Rasanya hari ini aku terlalu banyak tersenyum. Mentariku kian bersinar terang. Senyumnya, tawanya,
cerianya berefek sangat baik untuk moodku. Rasanya setiap kali mendengarnya tertawa dan melihatnya
tersenyum aku selalu di buatnya jatuh cinta beribu-ribu kali.

Kemudian aku mendekatinya, memegang kedua tangannya dan membawanya ke belakang
punggungku. Sedang ia tertawa seolah tahu apa yang aku inginkan. Ia semakin mendekatiku dan aku
mendekapnya erat, mengusap pucuk kepalanya dan menciumnya lima menit, lalu ganti dia mendekapku erat
sekali. Aku memejamkan mataku, kemudian mendengarnya berbicara padaku.

“Terima kasih pak tua, untuk selalu membuat hariku menjadi baik”.

“Sama-sama mentari, saya sayang kamu”.

***

Pertemuan terakhir kita terasa sangat baik. Kenangan yang tercipta seolah nyata sekali saat di putar.
Seperti baru kemarin kita ciptakan penggalan cerita di hidup kita masing-masing dan membaginya pada
semesta.

Seolah kini aku masih bisa mencium wangi strawberry dari rambut-rambut yang berwarna merah
keunguan milik seorang mentari. Seolah hangat tubuhnya, senyumnya, tawanya baru kemarin aku rasakan.
Padahal itu sudah lima tahun yang lalu.

Orang tua mentari akhirnya memutuskan untuk bercerai dua bulan setelah pertemuan itu. Mentari pun
hanya dua orang bersaudara. Dan ia memang di bebaskan memilih dengan siapa nanti ia akan tinggal.
Namun, gerak gerik ayahnya lebih cenderung menyukai adiknya. Akhirnya mentari terpaksa harus tinggal
dengan ibunya. Dan adiknya tinggal dengan ayahnya. Mentariku diajak ibunya pergi ke luar kota, entah apa
yang sampai sekarang masih aku cari keberadaannya.

Sejak hari itu mentariku hilang. Tak pernah sekalipun aku tahu kabarnya. Bukan berarti aku tidak
mencari keberadaannya, hanya saja semesta seolah tak pernah merestui untukku tahu kabarnya sekarang.
Selama lima tahun ini duniaku selalu ku jalani dengan rutinitas dimana setiap pagi aku selalu menunggu di
depan rumah mentari berharap ayah atau adiknya menyampaikan sedikit kabar tentang mentariku dan malam
selalu aku gunakan untuk mencari tahu sosial medianya. Namun pada akhirnya, semua itu berhasil kosong.
Aku tak pernah bisa menemukan mentariku kembali. Perih rasanya mengingat kini aku tanpa mentari.

Hari-hariku tak pernah baik sejak hari itu. Kumolonimbus dan badai tidak pernah lupa menghampiriku
setiap harinya. Ia selalu menjadi teman paling setia setiap hari selama lima tahun ini. Aku selalu merasa perih
rasanya mengingat mentariku kini hilang. Pusat semestaku, titik pusat kedamaian hidupku, bintang di hatiku,
dan sesosok Adara Fradella kini hilang. Mentari cepatlah kembali, aku butuh rumah untuk pulang. Aku selalu
menjadi lemah seperti ini bila itu menyangkut kamu, mentari.

6

And you say, "As long as I'm here
No one can hurt you
Don't wanna lie here
But you can learn to
If I could change
The way that you see yourself
You wouldn't wonder why you're here
They don't deserve you"

Ini gila, aku sebentar lagi akan gila. Aku seolah masih bisa mendengar mentariku menyanyi sebuah lagu
karya penyanyi internasional yang katanya selalu mengingatkannya pada diriku. Aku seolah masih bisa
mendengar mentari berkata “harusnya ini kamu yang nyanyiin buat aku tau” tapi setelah itu ia selalu
melanjutkan lagu itu dan melupakan amarahnya sejenak.

***

“Halo Abayu Reka, siap berpetualang bersama mentari lagi?”

Setelah enam tahun kurang lima bulan kumolonimbus mau pergi juga.

Selamat tinggal kumolonimbus, mentariku sudah kembali. Iya kan mentari?

7

Sebuah cerita pendek karya :Afsari Annisa Cahya Afthie

Rey.

Sore itu Aku kembali mengunjungimu, bermodalkan ingatan yang dipaksa mekar dan kenyataan jika kau
membias memoar, Aku kembali dengan segala yang mengakar. Kota ini tetap seperti terakhir kali ku mampir
menemui, tetap riuh, tetap gemitang, tetap kokoh, tetap mengintimidasi segala sesuatu yang tidak masuk
kedalam standar kehidupan metropolitan, karena mentolerir sebuah kecacatan adalah penghinaan bagi
mereka yang menjunjung kesempurnaan. Waktu yang menyambut malam acap kali disebut sebagai
wayahnya menyelesaikan apa yang dikerjaan, namun itu tidak akan berlaku bagi orang-orang dengan
kecacatan, karena bagi orang-orang itu menjadi buruh siang-malam adalah keharusan yang diharuskan.

Masing-masing mereka menutup hari dengan nafas panjang, ada yang menepi sambil mengusap peluh
bersyukur hari ini hampir selesai, ada yang menyumpah karena apa yang dilakukan seharian menurutnya
belum menutupi, ada yang pasrah karena tau bahwa hasil merupakan mutlak punya Yang Kuasa, bahkan
ada yang tak peduli jika hari ini atau dunia yang telah usai. Namun tentu saja, kecacatan adalah kecacatan.

Empat tahun lalu, aku menemuimu sore itu, Kau pernah berkata jika senja di kota ini hanyalah milik kita,
namun kau membatu ketika Aku mengatakan jika hampir seluruh waktu ku yang tanpa ada kamu ku habiskan
dengan merindu. Membunuh kenangan itu ternyata tidak menyelesaikan masalah Tuan, lepas empat belas
purnama, aku menyerah, kataku dan kau acuh tak menentu.

Tiga puluh lima menit kita berdiam dalam bangku kafe yang sebentar lagi mungkin akan menelan pelan-
pelan. Kopi yang kau pesan mendingin tanpa berani meminta untuk menjadi hangat kembali didepan
sepasang bola mata coklat terang yang sedari tadi tenggelam dalam kopinya sendiri. Aku rela menukar
apapun yang ku punya demi menjadi kemeja lusuh yang akhir-akhir ini selalu kau kenakan itu. Kau pernah
berkata jika kau dan aku akan menjadi kita, mengikat janji dengan sumpah yang katanya lebih sakral dari
sumpah manapun. Namun kau pergi, hilang ditelan mimpi. Aku membenci kau yang tak mampu memenuhi
kata-katamu sendiri, namun aku tidak, mungkin belum, mungkin nanti, mungkin.

Kau beranjak. Ikut Aku, katamu. Aku bergegas dengan semangat yang tersisa. Mengekormu dari dulu
bukanlah hal mudah, kau tinggi dengan langkah kaki yang begitu jauh sedang Aku harus melangkah dua kali
jika ingin mengimbangimu. Dulu kau akan tertawa melihatku kesusahan tapi sekarang kau berjalan begitu
pelan. Lima belas menit kita menyusuri trotoar, bau busuk sampah menandakan kami sampai dipinggiran ibu
kota. Kau terus berjalan seolah-olah amat mengenal susur jalan ini. Aku tidak tau kau mengenal tempat
seperti ini, kataku. Ia mendadak berhenti, lupakan segala hal tantang Aku yang dulu Liz, Aku bukanlah laki-
laki yang seperti dingatanmu lagi. Dan kau melanjutkan berjalan. Rasa penasaran ku bersanggama dengan
kenyataan dan kenangan tentangmu, pertanyaan demi pertanyaan beranak-pinak dikepalaku, namun dengan
konsentrasi satu. Kenapa?

8

Kita sampai, katamu. Mataku disajikan dengan pemandangan tak biasa. Rumah-rumah yang tersekat hanya
dengan triplek-triplek kayu, memanjang dan tersusun dengan kesimetrisan yang begitu parah. Aku kagum
membayangkan bangunan ini bisa tetap berdiri ketika badai dan lebih kagum lagi dengan orang-orang yang
mampu bertahan didalamnya. Dalam remang yang jingganya menembus hingga sela-sela selokan yang
biasanya dipakai anak kecil bermain kapal-kapalan, terpantul wajah ibu-ibu mereka. Begitu jelas nasib
melarat panjang dalam proses pembelajaran berkarat yang tak sengaja ditularkan kepada anak-anaknya
kelak.
Logikaku menggelitik ingin didengar, ada sesuatu yang salah disini. Aku bertanya, apa anak-anak itu sakit?
Kau menggeleng, tidak mereka tidak sakit, bahkan sangat sehat kau akan terkesima melihat bagaimana
anak-anak itu menarik uang dengan tubuh yang sama kecilnya dengan tulang mereka Liz. Dan kau tau?
Orang-orang pergi, orang-orang kembali Liz. Orang-orang yang katanya adalah wajah ibu kota, Orang-orang
yang nyatanya dianggap aib dari kota itu sendiri.
Mereka berlalu-lalang Liz, banyak dari mereka menjajakan apa yang bisa ditukarkan dengan lembaran kertas
tak peduli harga diri yang dilepas. Menariknya, ada pantangan untuk mereka yaitu dilarang sakit. Orang-
orang seperti mereka mengenal rumah sakit hanya sampai pagar-pagar dan parkiran dimana mereka masih
diizinkan masuk. Ada beberapa yang beruntung karena mendapatkan kartu yang katanya mampu
menyembuhkan mereka ketika sakit, tetapi pada prakteknya mereka sekarat, gemetar mengacung-acungkan
kartu yang membuat orang-orang itu terikat berhari-hari dibangsal rumah sakit, demi obat-obat murah dan
tatapan jijik suster-suster yang seharusnya mengabdi kepada rakyat tapi ternyata lebih suka jadi pelacur
konglomerat.
Liz, mereka menangis, mereka mengiba dan menutuki diri sendiri, orang lain, tetangga, anjing liar, tukang
somay, rumput liar, langit dan tentu saja Tuhan. Mereka mati, lalu hidup kembali demi menyelesaikan apa
yang mereka sebut tanggungjawab. Kau bisa melihatnya hidup atau mati lagi dalam beberapa jam. Semua
jelas terlihat, terpahat dengan pahit disetiap lekuk ibu kota. Lalu saat senja tiba, orang-orang akan pulang ke
peraduannya masing-masing, menyiasati hati demi menyusun kembali apa yang mati. Liz, demi nama Tuhan
yang paling suci, Aku tidak ingin Kau merasakan itu semua.

Kau mengatakan semuanya begitu saja, bak gunung memuntahkan lava, ekspresi dan gesturemu seolah
mendukung apa yang kau ucapkan, namun Aku bergeming. Aku mengerti apa yang dikatakanmu tentang Ibu
Kota, tapi apa maksudmu kau tak ingin Aku merasakan itu semua? Kenapa? Namun sekarang ganti kau
yang bergeming.

Empat tahun lalu saat kita bertemu untuk terakhir kali. Aku masih ingin menjadi kemeja lusuhmu, ponsel yang
senantiasa dikantongmu, gitar yang dulu kerap kau bawa kemana-mana. Aku ingin jadi apapun asal terus
berada disekitarmu, namun kau tak mengerti. Kau lebih memilih jalanmu sendiri yang membuat harapku
kalap.
Bagaimana didalam sana Rey? Apa kau kedinginan? Kata orang-orang suci didalam sana sangatlah gelap
dan menyeramkan. Apa kau merasakan hal itu Rey?

Ini sudah tahun keempat kau meninggalkan ku. Lagi.
Dan hari ini ku bawakan makanan kesukaanmu, rendang daging yang dimasak dengan bumbu khas Sumatra.

9

Sepagian ini aku membuatnya, dulu kau begitu cerewet jika rendangnya tidak sesuai dengan masakan
Bundaku tapi akhir-akhir ini aku sudah berusaha lebih menyempurnakannya.

Selamat hari jadi yang ke 6, Rey.

***

Hey, bagaimana dengan tawaranku? Percayalah, Aku ingin membantumu.
Dimataku Kau tampak lebih mati bahkan dari pusara itu sendiri, kata seseorang dari dalam.
Aku akan tetap hidup, Kau saja yang mati! Bantahku dan ia tertawa.

Sayang, tau apa kau tentang kematian?
Mati tidak hanya tentang lepasnya ruh dari tubuh. Jika hati dan pikiran seseorang tidak sejalan, yang lebih
lemah akan sekarat dan saat salah satu membiarkan yang lainnya, itu adalah awal mula kematian bagi
manusia.

Apa benar kau ingin membantuku? Tanyaku
Benar, Nona manis. Kata suara tersebut lebih dalam.

10

Sebuah cerita pendek karya :Muhammad Fahmi Hadi

Penyebab Galau

Ujian kemarin itu, menjadi ujian yang berarti bagiku, bagaimana tidak, aku yang tidak pernah
keluar dari 3 besar kini mendapat nilai ujian Bahasa Inggris yang sangat yummy.

Bagaimana aku menyembunyikan hasil ulanganku dari sepengetahuan keluargaku? Sementara isak tangis
terus berderai di pipiku. Belum lagi, aku harus berjalan menyusuri puluhan rumah ketika pulang sekolah.
Ya Allah… memang apa salahku ketika aku ujian kemarin? Nyontek, enggak.haduuhh…aku nggak tau
harus gimana lagi.

Air mataku menetes tanpa henti,selaput mataku semakin memerah karena isak tangis tak berhenti,
sehingga teman jalanku menepuk bahuku, dengan menghela napas aku menoleh kearahnya “gila juga ni
anak, galau itu karena cowok, putus, atau yang lain deh, pokoknya bukan karena nilai, menurut gue sih
kayak gitu, nah lu? huh… emang ya, spesies orang kayak gini udah punah, tapi kenapa gue masih
nemuin?” celotehnya sambil mentertawakanku, aku hanya tersenyum. tapi air mata masih belum terhenti.

Sampai di Rumah Kamu kenapa?” tanya kakakku dan ibuku yang sudah lama tertawa-tawa didepan TV,
setelah itu, kuceritakan semuanya. Malah mereka tertawa-tawa melihatku semakin terpuruk mengingat
cerita hari ini. “sudah, nggak papa… namanya juga sekolah, yang penting SUKSES” hibur ibuku“ Gimana
mau sukses kalo naik kelas aja enggak?” lawanku makin kecewa, lalu kutinggalkan mereka berdua
kekamar. Ketika di kamar aku merenungi sesuatu yaitu “Rasanya, baru sekarang aku nangis karena
masalah selain bertengkar sama kakak atau adikku dirumah, ternyata rasanya nangis+curhat itu
SENSASIONAL”…

Hari Remidi “Fitri Melani dan Dian Wahyu Safitri, masuk” Pak Saiful memanggil dari dalam ruangan
memanggilku dan kawan sekelasku. “Kenapa bisa sih fit? kamu kenapa? nilai 50 itu mustahil hukumnya
bagi kamu, tapi ada apa sama kamu yang sekarang?” tanya PakSaiful kepadaku, aku hanya menggeleng
dan air mata kembali menghapus semua bedak di pipiku “Baiklah,duduk!” perintah PakSaiful. “Fitri,kalo
kamu dapat nilai diatas 80, bapak akan belikan kamu ice cream, coklat, permen coklat, dan sekaligus
keripik singkong untuk kamu siang ini dikopsis” hibur PakSaiful guru kesayanganku. Bu Wiwik tiba-tiba
muncul dijendela ruangan untuk

11

melihat keadaan siswa didiknya bertarung menghadapi masa-masa remidi pertama. Dian, dia hanya
terus berdo’a karena selama ini dia tidak pernah menyukai bahasa inggris.

“Rasanya, aku ngerjain ujian ini juga sama aja kayak yang kemaren, cuma, lebih sepenuh hatiaja”
pikirku dalam hati. Kukumpulkan lembar jawabanku diatas meja Pak Saiful dan kutambahi dengan
senyum kecut ala ABG Galau dari lubuk otakku. Fiiuuhh… kuhela nafasku lalu duduk di bangku asalku,
kulanjutkan dzikirku sejak pagi tadi. Kulihat Pak Saiful dengan teliti menelaah hasil ujianku, tidak lama
kemudian Dian temanku mengikuti langkahku untuk mengumpulkan hasil kerjanya selama 30 menit ini.

“Lama sekali Pak Saiful ini, mana lembar kerja Dian diteliti duluan. rasanya mau protes aja” pikirku
dalam hati. Baru saja ingin kutinggal tiduran Pak Saiful yang matanya tidak berpaling dari lembar
kerjaku. Lalu tiba-tiba Pak Saiful berteriak “sembilan puluh empat… sembilan puluhempat… sembilan
puluh empat… selamat” ucap Pak Saiful sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku menangis senang
sekarang, rasanya ingin cepat pulang dan pamer-pamer di depan kakakku. Tapi kulihat Dian lebih
terpuruk dariku kemarin, dia melihat lembarannya yang penuh dengan coretan merah “Gimana Yan?”
tanyaku lembut Dian mengangguk-angguk lalu berkata “64” lalu dia pergi meninggalkanku begitu saja…

Sesuai janji, Pak Saiful mengajakku ke kantin untuk mentraktirku. “Wuuhhhuuuwww…” ucapku dalam
hati senang.

Rasanya ini hikmah dari semua sikapku yang selalu terlalu menyepelekan bahasa inggris ketika ujian.
Dan sekarang aku sadar tertawa dan menangis itu sepasang. Kemarin aku pulang dengan derai airmata,
sekarang aku pulang dengan gigi yang hampir kering karena kubuka terus mulutku ini untuk tersenyum-
senyum sepanjang jalan

12

Sebuah cerita pendek karya :Citra Nurpadillah

TEMAN DEKAT

Seperti perangko, mungkin inilah yang selalu orang-orang katakan tentang kita. Persahabatan yang terjalin
sepuluh tahun, membuat aku dan Ayu terlihat seperti saudara. Bahkan aku menganggap orang tuanya
sebagai orang tuaku juga.

Kami bertemu di kelas peminatan semasa SMA, memiliki selera humor dan idola yang sama, EXO sebagai
role model dalam menggapai mimpi membuat kita semakin dekat dari waktu ke waktu. Hanya bertemu
seminggu sekali dikelas Sosiologi bukan menjadi hambatan kita untuk bisa terus bercerita dan berbagi
informasi tentang info terbaru boy band kesukaan kita dari Korea. Bahkan, waktu istirahat rela aku
habiskan dengannya di kantin ketimbang dengan teman sekelasku. Terkadang aku diledek teman sekelas
seperti tidak punya teman lain karena terus nempel degan Ayu. Aku tidak menghiraukannya dan terus
melakukan hal yang sama setiap hari bersama Ayu

Dari masa SMA sampai sekarang kita yang sudah berhasil membangun perusahaan fashion bersama, Ayu
selalu bercerita tentang kisah percintaannya yang terkadang tidak masuk akal, dia bisa berkencan dengan
2 orang sekaligus dalam satu waktu tanpa ada pertengkaran diantara keduanya. Begitupun sebaliknya,
Ayu selalu ada disetiap kisah percintaanku yang berbanding terbalik dengannya, seolah-olah korban karma
atas perbuatannya, hubunganku selalu berakhir karena perselingkuhan, hingga aku akhirnya bertemu
dengan David, sahabat kecil Ayu yang sekarang sudah menjadi suamiku

David, Ayu dan Aku tidak jarang menghabiskan weekend bersama, walaupun hanya sekedar nonton film di
rumahku setiap sabtu malam atau pergi ke puncak untuk menginap di vila milik keluarga David. Tanpa
menyimpan kecurigaan, kami bertiga sering tidur sekasur, dengan posisiku yang selalu ditengah
membatasi Ayu dan David, bukan karena cemburu, tapi memang itu seharusnya

***

Hari ini terasa terlalu sepi untuk akhir minggu di Jakarta. Ayu menyetir serius melihat kedepan, dia
memakai baju gaun putih yang terlihat feminim dan elegan. Dia berbalik menatapku, “Cantikan gue, ca?”
dia bertanya sambil memalingkan kembali kearah depan. Matanya berbinar bahagia

“Pastilah, tidak ada yang bisa menandangi sahabat gue satu ini,” balasku sambil tersenyum

Aku mengecek hp membalas pesan dari David yang menanyakan posisiku. “30 menitan lagi sampai,
sayang” balasku pada pesannya

“Oh Iya, ca. Malam ini mantan gue nikah, niatnya gue mau dateng bareng David buat manas-manasin dia,
bolehkan ya?” tanya Ayu tanpa terlihat gugup sedikitpun

Aku terdiam

13

“Gue udah bilang David, tapi dia bilang gue yang harus minta izin secarang langsung ke lu,” Ayu
menambahkan

Aku tidak menjawab beberapa saat, ini kali pertamanya Ayu meminta pergi bedua dengan David setelah
setahun pernikahanku

“Ya boleh yu, tapi bukannya lu gak di undang ya?” Aku bertanya memastikan

“Ya kan lu tau, gue orangnya pendendam, mantan gue harus liat bahwa gue juga udah bahagia dengan
pasangan gue yang sekarang,” Ayu menjawabku dengan pandangan yang terus menatap jalan

“ Jadi maksud lu, David harus pura-pura jadi pasangan lu?” tubuhku mengarah ke Ayu

“Iya, santai saja kali ca, bohongan doang ko,” Ayu tertawa sambil melirikku yang terlihat cemburu

Aku mengubah posisi duduk seperti semula, ini ketakutanku. Benar yang mereka bilang, tidak ada yang
bisa menjalin hubungan pertemanan dengan lawan jenis untuk waktu yang sangat lama tanpa menyimpan
sebuah rasa. Walaupun kali ini, belum tahu pasti apa yang sedang terjadi diantara mereka, tapi aku
mempercayai David

***

Tepat 30 menit, mobil terparkir dihalaman rumah. Ayu memang jago dalam hal berkendara. Aku hendak
keluar mobil dengan cepat Ayu menahan tanganku, aku terdiam menatapnya

“Gua suka David, Cha.” Ucap Ayu dengan cepat

Suasana lenggang beberapa saat, tidak ada yang bersuara

“Sejak kapan yu?” Aku memulai pembicaraan kembali

“Sejak lu nikah sama David, saat itu gue baru sadar bahwa gue kehilangan David. Gue kesepian, Ca”
jawabnya

Aku menggaruk frustasi, bingung dengan keadaan yang sedang terjadi

“Tapi lo, gue dan David sahabatan, yu”

“Iya gue tahu, tapi perasaan ini gak bisa gue tahan, Cha.”

“David tahu?” Tanyaku memastikan

“Enggak, gue gak mau ngebuat suasana jadi canggung dan gue gak bisa bareng David lagi”

“Gila lo yu, jadi selama ini kita spend time bareng itu..” ucapanku terputus, tanganku mengepal

Aku sangat marah saat itu, hingga aku mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak kuucapkan

“Brengsek lu yu, lebih baik kita gak temenan lagi kalau lu cuman mau suami gue doang,”

Aku keluar dan membanting pintu mobil keras, David yang ada didalam rumah seketika keluar, aku
melewatinya dan langsung pergi kekamar dan mengunci diri. Aku masih belum bisa menerima keadaan.
Aku menangis

14

“kamu pergi saja sama Ayu, temenin dia buat kondangan,” aku mengirimkan pesan WA ke David
***

Seminggu setelah kejadian

Hari ini, hari pertamaku masuk kantor kembali setelah kejadian kemarin. Rasa kesal yang sangat besar,
membuatku memutuskan untuk mengontrol pekerjaan dari rumah, rasanya tak baik aku dan Ayu berselisih
tentang kehidupan pribadi dikantor. Apa yang akan dipikirkan team kita nanti jika mereka tahu bahwa bos
mereka sedang tidak akur

Pagi ini, aku datang orang pertama yang masuk kantor. Sudah hal biasa, karena perusahaan masih starup,
maka aku rasa harus bekerja lebih untuk bisa mengembangkan perusahaan. Satu per satu 6 meja dalam
ruangan mulai terisi. Jam menunjukkan angka 07.50 pagi 10 menit sebelum jam kerja dimulai, meja
disampingku baru terisi. Ayu, dia datang degan gelas kopi yang sudah setengah, sepertinya sudah datang
lebih awal, tapi baru masuk ketika sudah dekat jam kerja, mungkin disengaja untuk menghindariku. Tak
apak, lagian akan canggung juga jika harus berhadapan dalam waktu yang lama

Semua tampak biasa, briefing dan pekerjaan selesai dengan tepat waktu. Yang berbeda hanya pada
interaksi aku dan Ayu, kita hanya berinteraksi tentang pekerjaan dan itupun terbawa emosi personal yang
tidak pernah diselesaikan sampai sekarang, tak ada yang tahu apa yang terjadi antara aku dan Ayu, kita
berhasil menyembunyikannya

6 bulan waktu berlalu, rasa penyesalan dan kehilangan campur aduk dalam perasaanku sekarang. Aku
kehilangan sosok sahabat dan keluarga secara bersamaan disisi lain Ayu sepertinya sudah enggan
berbicara dan bersahabat dengan ku lagi, respon dan gelagatnya selalu menolak, aku membiarkan dan
mencoba mengikhlaskannya. Sampai saat ini, Ayu dan aku kembali menjadi orang asing kembali

15

Sebuah cerita pendek karya :Gunawan

Pertanyaan-Pertanyaan Konyol

Mengapa manusia itu ada yang jahat dan ada yang baik ?dan mengapa tuhan tidak menciptakan
semua manusia itu baik ?. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan itu bisa datang di pikiran seorang anak
yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP seperti ku. Mungkin untuk sebagian orang atau bahkan semua
orang pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sangat konyol. Dan aku pun sebenarnya tidak memperdulikan
pertanyaan-pertanyaan konyol yang datang di kepala ku ini. Hanya saja pertanyaan-pertanyaan itu terus
datang dan menggangu pikaran ku.

Hari ini adalah hari sabtu dan aku libur sekolah. Aku ingin menghabiskan waktu libur ku hanya
dengan berbaring di tempat tidur sambil membaca komik detektif Conan yang baru saja aku beli minggu
lalu bersama ibu. Setelah sarapan aku langsung masuk ke kamar dan membawa segelas air untuk jaga-
jaga ketika nanti aku haus ditengah-tengah membaca komik. Dan aku pun langsung membaca komik
sambil berbaring di tempat tidur. Belum aku membaca separuh halaman, pertanyaan-pertanyaan itu
muncul kembali,

kenapa tuhan tidak menciptakan semua manusia itu baik ? Kenapa harus ada yang jahat ?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sangat sepele, tetapi pertanyaan itu sangat menggangu. Terlintas
dipikiran kenapa aku tidak menanyakan hal ini kepada ibu. Ibu ku adalah lulusan sarjana. Ya.... Walaupun
ibu ku lulusan akuntansi tetapi siapa tau ibu tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan konyol ini.

"Buuuu!!!" aku keluar kamar dan berlari sambil teriak memanggil ibu,

"iya apa nak, Jangan terikat-teriak !!." saut ibu,

ternyata ibu sedang di ruang tamu sambil memainkan laptop nya. "Ada apa ?" Tanya ibu ku. Aku sempat
ragu mempertanyakan hal ini kepada ibu. Karena, aku takut dibilang bodoh dan aneh karena
mempertanyakan pertanyaan konyol ini. Tetapi karena aku sangat ingin mengetahui jawaban dari
pertanyaan konyol yang terlintas di kepala ku ini, akhirnya aku bertanya kepada ibu.

16

"Bu… kenapa tuhan tidak menciptakan semua manusia itu baik ?, Kenapa harus ada orang jahat di Dunia
ini ?" Ibu hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan konyol ku ini.

"kenapa bu aku bodoh ya mempertanyakan hal konyol seperti itu ?"

"Sstttt… siapa yang kamu bilang bodoh ?, Kamu itu pintar seperti almarhum ayah mu, kamu sangat mirip
dengan ayah mu. Dulu ayah mu juga sering mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang kamu bilang
konyol itu. Seperti, apakah diluar angkasa ada kehidupan seperti di bumi ?, Apakah alien itu benar-benar
ada ?, apakah mungkin dari sekian banyak pelanet, hanya planet bumi yang memiliki kehidupan ?, apakah
ayah pernah dilahirkan sebelumnya ? dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan aneh ayah mu itu.”

Mendengar cerita ibu tentang pertanyaan-pertanyaan ayah malah membuat ku semakin pusing.
Pertanyaan ku saja belum terjawab kini ada lagi pertanyaan-pertanyaan aneh. Dan kini sekarang aku tau
mengapa pertanyaan-pertanyaan itu bisa datang ke pikiranku. Mungkin, ayah mewariskan pertanyaan-
pertanyaan konyol kepada anaknya.

"Lalu apakah ibu tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ayah itu ?"Tanya ku dengan penuh penasaran.

ibu hanya menggelengkan kepalanya seakan memberitahu bahwa dia tidak tau sama sekali jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan almarhum ayah. Suasana pun menghening beberapa detik sampai akhirnya ibu
berbicara “namun sepertinya ibu tahu kalau pertanyaan-pertanyaan yang dari kamu.”

“Apa bu ?”Tanya ku.

“Mengapa tuhan tidak menciptakan semua manusia itu baik ?sebenarnya pada dasarnya tuhan itu
menciptakan semua manusia itu baik, setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah atau suci.”

“hemmm tapi bu, kalau semua anak dilahirkan suci dan baik mengapa masih ada orang jahat di dunia ini
?”

“mungkin karena kondisi sosial yang membuat mereka menjadi jahat. Seperti kemiskinan, lingkungan.
mungkin saja mereka berbuat jahat karena terpaksa. Karena mereka sulit mencari kerja atau bisa jadi
lingkungan mereka memang seperti itu. Nah mangkanya kamu kalau bermain cari teman yang baik. Agar
kamu tidak terbawa pengaruh buruk mereka.”

“SIAP BU!!,jawab ku dengan penuh semangat. Akhinya aku pun kembali ke kamar dan melanjutkan
membaca komik tanpa harus di ganggu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol itu.

17

Sebuah cerita pendek karya :Anisa Fitri

Masyarakat Pinggir Kota

Perkenalkan nama ku Jihan Safira mahasiswa semester 2 disalah satu perguruan tinggi swasta yang ada
di Bogor, hari ini ada kegiatan bakti sosial yang akan aku lakukan dengan teman-temanku dari komunitas
dakwah yang ada di bogor. Minggu pagi ini sangat cerah dengan udara segar di kota bogor, aku duduk di
halte tugu kujang menunggu kopaja untuk berangkat menuju tempat baksos sambil melihat orang-orang
yang sedang lari pagi.

Tidak menunggu lama angkutan umum yang ku tunggu sudah sampai, bus tua yang terlihat berkarat, cat
yang sudah memudar, dan suaranya yang cukup keras, namun itulah yang aku sukai dari kopaja apalagi
duduk dekat jendela yang terbuka, hembusan angin yang kurasakan dan mata ku yang akan memandang
keluar melihat pemandangan selama menuju lokasi baksos.

Hari ini lokasi baksos di salah satu kampung kecil yang ada di cilebut, sesampainya di basecamp KAMMI
aku bertemu dengan temanku nurhaliza dan rekan-rekan lainnya. Acara baksos ini rutin kami lakukan
sebulan sekali selama pandemi covid-19.

Baksos kali ini dibantu oleh KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) kebetulan salah satu
temanku khoirunisa anggota dari KAMMI sehingga memudahkan kami melakukan kegiatan ini.

Selesai briefing dan berdoa bersama, kami langsung pergi menuju lokasi baksos yang kebetulan tidak jauh
dari basecamp KAMMI. Banyak sekali anak-anak yang sedang bermain dan menyambut kami dengan
gembira “kakak kakak” panggil mereka dengan suara lantang sambil berlari menghapiri kami untuk
memberi salam, senang rasanya melihat senyum dan tawa mereka.

Kami mendatangi rumah bu yani selaku sesepuh disana untuk membantu kami meyalurkan baksos untuk
warga setempat, saat perjalan ke rumah bu yani hatiku mencelos melihat pemukiman warga sini, lokasi
seberang stasiun cilebut dengan ruma-rumah yang cukup padat di pinggir sungai, atap yang sudah pada
usang, bilik-bilik yang terlihat rapuh membuat ku yang jauh dari kata syukur ini berfikir betapa baiknya allah
terhadap diriku, aku yang suka mengeluh tentang banyak hal nyatanya aku lebih beruntung dari yang lain.

“Assalamualaikum bu” ucap nisa pada bu yani

“waalaikumsalam neng”

“beras yang akan dibagikan sudah kami letakan di mushola bu, mau mulai pembagian kapan ya bu?”

“Alhamdulillah iya neng, nanti neng setelah kalian istirahat saja sekalian ibu jelaskan nanti siapa saja yang
akan kita beri.”

“baik bu, terima kasih ya bu.”

18

“iya sama-sama, mari ke rumah ibu. Neng dua ini siapa namanya?” Tanya bu yani kepada nisa tentang aku
dan liza.”

“saya nurhaliza bu” sambil tersenyum.

“saya jihan bu.” Ucap ku sambil tersenyum.

“owh iya, mari masuk dulu neng.” Ucap bu yani kepada kami.

Untuk yang laki-laki mereka duduk di mushola menjaga beras dan juga bercengkrama dengan bapak-
bapak sekitar, kami para perempuan duduk untuk istirahat di rumah bu yani.

Warga disini sangat ramah sekali, ada tetangga bu yani yaitu bu alya yang menyuguhkan kami bubur
kacang hijau yang baru saja di buatnya, bubur kacang terasa sangat pas dilidahku apalagi kami makan
sambil berbincang dengan bu yani dan bu alya.

Kata bu yani, biasanya khoirunisa dan teman-teman dari KAMMI seminggu sekali datang kekampung ini
untuk mengajar anak-anak disini. Anggota KAMMI adalah mahasiswa semua dan temanku nisa dia
mahasiswa dari universitas ibnu khaldun dan kampung ini dekat dengan kampus UIKA sehingga
mahasiswa anggota KAMMI memiliki anggeda membantu masyarakat dan salah satu program mereka
adalah mengajar anak-anak di kampung ini.

Kebanyakan anak-anak di kampung ini sekolah, namun ada beberapa dari mereka yang tidak sekolah
sehingga program ini sangat membantu anak-anak yang sekolah maupun tidak untuk menambah
pengetahuan serta pelajaran sekolah pada umumnya.

Bu yani juga sempat bercerita bahwa ada anak tetangganya yang sedang sakit karena tertabrak motor saat
sedang berjualan, lukanya tidak parah hanya luka kecil saja. Kata bu yani sebenarnya anak itu sudah
dilarang oleh orang tuanya namun karena ingin membantu orang tuanya ia bersikeras untuk berjualan.

Aku sangat bangga dengan KAMMI mereka mejadi anak muda yang berkualitas dan memberikan manfaat
untuk semua orang, dan anak-anak dikampung ini benar-benar membuat ku sangat malu, mereka memiliki
semangat yang tinggi untuk belajar serta kegigihan untuk membantu orang tuanya sedangkan aku bekerja
saja belum. Lagi-lagi diri ini benar-benar ditampar oleh keadaan mereka, allah memberiku pelajar hidup
secara langsung dengan adanya aku dikampung ini, ya allah ampunilah aku yang suka mengeluh ini.

Setelah kami istirahat sambil berbincang di rumah bu yani, kami pun segera untuk melakukan pembagian
baksos. Hati ku tidak henti-henti
nya mengucapkan syukur selama pembagian baksos, jalanan kampung yang kecil, rumah-rumah yang
terbuat dari bambu yang terlihat sudah usang, ruangan yang berisi barang-barang yang sudah lama dan
usang dengan ruangan yang tidak terlalu besar, dan sedikit sekali diantara mereka yang memiliki
kendaraan bermotor dan itu pun motor tua yang mereka miliki, posisi rumah mereka yang berada dipinggir
sungai membuat ku tidak bisa membayangkan bagaimana bila hujan deras, angin kencang, atau bahkan
air sungai yang mungkin suatu saat akan meluap dan membahayakan mereka, semoga tuhan selalu
melindungi mereka.

Selesai acara pembagian baksos kami sholat dzuhur terlebih dahulu, yang laki-laki di mushola sedangkan
kami para perempuan sholat di rumah bu yani.

19

Usai sholat kami pun pamit kepada bu yani dan warga yang membantu kami, tentunya kepada anak-anak
yang hebat dikampung ini kami berpamitan juga, kata mereka “Kaka jangan lupa main lagi yaa.” Rasanya
bahagia sekali mereka mengharapkan kami untuk bermain bersama mereka.

20

Sebuah cerita pendek karya :Dini Satya Hapsari

Antara

Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku merasakan perasaan yang tidak enak saat menatap pantulan
diriku di cermin tua yang dibeli oleh Ibuku di toko barang antik. Saat aku melihat pantulan diriku di cermin
itu, rupaku tetap rupaku tapi ekspresiku bukan ekspresiku.

Hal ini pun sudah kuceritakan pada Ibuku tapi jawaban yang kudapat hanyalah, “Kamu itu sugesti Nak,
mungkin karena kamu merasa itu barang antik, jadi kamu punya pikiran yang aneh-aneh.”

Aku mencoba untuk mempercayai perkataan Ibuku, tapi apa yang terjadi padaku saat menatap pantulan
diriku di cermin itu sungguh benar adanya, pantulan diriku kembali menatap diriku, terkadang dengan
ekspresi bahagia, terkadang dengan ekspresi kesedihan yang tak terperi.

Sampai suatu malam, aku mendapati telingaku mendengar suara wanita menangis, aku memberanikan diri
keluar dari kamar, dan benar suara itu berasal dari ruangan dimana cermin itu diletakkan.

Aku berjalan dengan pelan, namun debaran jantungku semakin kencang, dan saat aku menatap cermin itu,
sungguh benar-benar ketakutan yang kurasakan, karena raut wajah dalam cermin itu sedang menatapku
sambil menangis, ia menangis hebat penuh kesedihan, seketika badanku tidak bisa digerakkan, aku hanya
bisa terpaku menatap raut wajah dalam cermin itu, aku ingin berlari kembali ke kamar, tapi tidak bisa, aku
ingin berteriak memanggil Ibuku tapi mulut ini tak bisa kubuka, takut..sungguh aku takut, sekuat tenaga aku
mencoba bergerak, tapi tetap tidak bisa, akhirnya aku merasa kesadaranku mulai menghilang perlahan,
kepalaku terasa berat, lalu saat kegelapan menyergap indraku aku merasakan tubuhku perlahan mulai
terjatuh.

Harum sekali, aroma bunga apa ini? Benakku seperti bertanya pada diriku, lalu siapa yang mengelus
kepalaku dengan sayangnya? Rasanya nyaman, ingin aku membuka mataku, tapi tidak bisa, masih terasa
berat, aku masih ingin tertidur lebih lama lagi.

Tapi, kemudian aku mendengar suara-suara, suara-suara yang seperti memanggilku dengan perlahan
agar aku bisa sadar dan membuka mataku. Aku mengenal suara itu, suara Ibuku, betapa ingin aku
memeluknya dan menceritakan apa yang terjadi pada diriku semalam, dan memintanya untuk
menyingkirkan cermin itu dari rumah.

Lalu, meski terasa berat, aku mencoba membuka mataku perlahan, hingga aku bisa melihat jelas keadaan
sekelilingku, aku terpana, karena tampaknya ini bukan kamarku, setiap perabotannya begitu berbeda,
begitu kuno, lalu aku melihat wajah Ibuku, yang basah dengan air mata, aku mencoba bertanya padanya,
tapi hanya lirihan yang keluar dari mulutku.

“Oalah, kamu akhirnya sadar juga, maturnuwun Gusti.” kata Ibuku.

21

“Cepat, cepat panggilkan lagi Janggan untuk memeriksa keadaan Ambar putriku.” Katanya kepada salah
satu wanita yang juga turut ada dikamarku.

Aku yang masih keheranan hanya bisa memandang berkeliling, sambil menatap wajah-wajah asing yang
ada dikamarku, pandanganku kembali tertuju pada Ibuku.

“I..b…u”sahutku lemah, Ibuku yang mendengarnya mulai menangis, “Akhirnya kamu bangun juga Cah
Ayu, anak Ibu, doa Ibu dikabulkan juga oleh Sang Pencipta, lagipula apa yang waktu itu ada di pikiranmu
mencoba berkuda seperti itu, hingga akhirnya kamu jatuh, sampai seperti ini.”

Kuda, kenapa aku naik kuda tanyaku dalam hati, sejak kapan keluargaku memelihara kuda? Aku semakin
merasa yakin ada yang salah disini, namun aku belum mampu menelaah yang terjadi, karena kondisi
badanku masih terasa lemah dan sakit disana-sini. Hingga akhirnya lelaki tua yang disebut Janggan
muncul untuk memeriksaku, ia berkata bahwa kondisiku tinggal menuju pemulihan, dan ia akan membuat
ramuan untuk aku minum nantinya. Ini lagi-lagi aneh menurutku, kenapa obat disebutnya jadi ramuan,
sebenarnya apa yang sedang terjadi pada diriku Tuhan.

Beberapa hari berlalu, aku berangsur-angsur menemukan kekuatanku kembali, aku bisa bangun dan
terduduk di tempat tidur, meski belum dapat bergerak dengan leluasa, namun perlahan aku mulai bisa
mencerna apa yang terjadi.

Ternyata aku terbangun di dunia dimana dunia tersebut bukan seperti dunia tempatku berasal, dunia
asalku seperti dunia yang bisa kalian bayangkan sendiri, modern, penuh hiruk pikuk, akses internet yang
menghubungkan kita ke berbagai belahan negara. Sementara disini semua seperti kehidupan di masa lalu,
tradisional, tidak ada kendaraan bermotor, tidak ada gedung-gedung tinggi, tidak ada jalanan rata beraspal,
disini penuh pepohonan hijau, lalu kuda dan lembu sebagai alat transportasi, seta bangunan rumah dari
kayu atau batu, dunia tempatku tersadar terasa seperti atmosfir masa lalu, apakah aku ada di masa lalu?.

Entah kenapa jiwaku bisa berpindah ke dunia ini, lalu bagaimana dengan tubuh asliku di dunia asalku?
akan jadi seperti apa tubuhku itu? Dan begitu pula dengan jiwa asli pemilik tubuh yang sekarang raganya
kudiami, apakah jiwanya juga berpindah ke tubuh asliku? Jadi jiwanya mendiami tubuhku dan jiwaku
mendiami tubuhnya. Sungguh suatu misteri luar biasa bagiku.

Di dunia masa lalu ini, yang membuatku tak percaya adalah bentuk rupaku, bentuk rupaku sama persis
dengan rupaku di dunia asalku, namakupun juga sama, aku juga bernama Ambar di dunia masa lalu ini,
tapi disini aku adalah putri dari pengusaha kain, sementara di dunia asalku, keluargaku mempunyai usaha
catering, kalau mengingat itu sungguh aku rindu sekali citarasa makanan catering yang semua resepnya
dibuat langsung oleh Ibuku.

Meski aku berusaha menerima keadaanku saat ini, tetap saja aku kalut, karena aku merasa apa yang ada
disini tidak nyata, yang nyata adalah kehidupanku yang dulu, ataukah mungkin sebaliknya? Sungguh
bingung aku dibuatnya, untuk sekarang aku hanya ingin memulihkan kondisi tubuhku, baru akan kupikirkan
lagi langkah selanjutnya.

22

Sebuah cerita pendek karya :Muhammad Ibrahim

Teka-Teki Mamat Asbak

Kota sedang dilanda kengerian, sejak sebuah virus bernama Corona menetap dan mulai
meresahkan. Selain Corona sialan itu, kota ini juga sedang dalam bayang-bayang sesosok preman yang
bernama Mamat Asbak dengan kengerian yang sama

Hari demi hari kian berlalu, tetapi di luar sana badai gelap yang menyerupai sebuah kutukan itu,
tak juga kunjung menghilang, sementara keadaan kota kian memburuk. Virus itu memang benar-benar
mematikan, bisa dengan cepat menyebar hanya dengan setetes air liur, dan lebih-lebih bisa menyerang
seseorang lewat udara. Belum lagi, ada preman bernama Mamat Asbak yang amat mengerikan, yang
memperparah penderitaan kota ini beserta orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mamat Asbak diketahui
yang membuat keadaan terlihat seperti kota tidak berpenghuni atau kota hantu di dalam film-film. Desas-
desus tentang Mamat Asbak itu kian menyebar keseleuruh penjuru kota: bahwa Mamat Asbak adalah
penyebab semua ini, Ia juga yang ‘menenteng’ virus sialan itu kemana-mana, dan dengan sengaja
menyebarkan virus sialan itu kepada setiap orang yang dijumpainya. Seseorang yang amat sial apabila
bertemu dengannya, pikir saya. Diketahui pula, bahwa Mamat Asbak bukan hanya membawa virus, tetapi
juga mempunyai badan seperti dilapisi oleh besi.

Pernah pada suatu hari, para Aparat Keamanan ingin menangkapnya. Berita itu sempat membuat
seisi kota –termasuk saya- antusias mendengarnya. Tapi saat beberapa hari tidak ada berita atau
informasi mengenai aksi penangkapan, saya berfikir bahwa para Aparat Keamanan itu tidak selamat saat
mencoba menangkap sosok Mamat Asbak. Saya pun menjadi cemas atas pikiran buruk saya, dan cepat-
cepat menepisnya. Setelah tiga hari tidak ada kabar dari Aparat Keamanan, setelah hari keempat -
akhirnya-muncul berita mengenai nasib para Aparat Keamanan, dan berita itu amat membuat saya bergidik
setelah membacanya. Dalam berita itu memperlihatkan keadaan para Aparat Keamanan yang harus
segera dirawat akibat virus yang ditularkan oleh Mamat Abak. Pasca kejadian itu, tidak ada satupun Aparat
Keamanan yang berani mencoba menangkapnya kembali. Karena memang tidak akan ada yang mungkin
bisa menangkapnya, Aparat Keamanan sekali pun dibuat tak berdaya, pikir saya.

23

Keadaan kota makin mencekam, tidak ada penduduk yang berani keluar jauh dari rumah. Saya
pun mengalami hal yang sama, sama sekali tidak berani keluar kecuali hanya sekadar kewarung, yang
hanya berjarak lima puluh meter dari rumah, melebihi itu, saya sama sekali tidak berani. Betapa sialnya
apabila saya tidak sengaja bertemu oleh Mamat Asbak di tengah jalan. Mendengar namanya saja sudah
membuat saya bergidik, apalagi sampai bertemu olehnya, mampuslah saya. Pasalnya sudah banyak orang
yang diculik oleh Mamat Asbak, dan ketika dilepaskan, orang-orang itu pulang dengan membawa virus
Corona, yang sengaja ditularkan olehnya.

Sudah hampir dua bulan kota dalam bayang kengerian Mamat Asbak. Semua orang di kota ini
seperti sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk terbebas dari cengkraman Mamat Asbak. Semua orang
di kota ini hampir sepakat bahwa sosok Mamat Asbak merupakan kutukan bagi mereka semua. Ya,
mereka semua, termasuk saya. Tapi, tidak dengan kedua orang ini, yang justru malah ingin menemui
Mamat Asbak dan mencoba bertanya baik-baik apa yang sebenarnya Mamat Asbak inginkan dari kami
semua, para penduduk kota. Orang itu ialah: Ayah dan Paman.

Pada suatu hari, hari kedua di bulan ketiga –teritung sejak awal kemunculan mamat asbak yang
terjadi dua bulan lalu-, tepatnya pada hari rabu pagi. Di hari itu ibu hanya diam, tidak mau berbicara satu
kata pun. Suasana rumah jadi tampak hening oleh keheningan yang Ibu ciptakan itu. Saya sudah mencoba
menghibur Ibu agar mau kembali bicara, tapi tetap saja tidak membuahkan hasil. Ini semua pasti ulah Ayah
dan Paman. Memang mereka berdualah, yang satu hari sebelum hari dimana Ibu tidak mau membuka
mulut, terjadi sedikit kegaduhan antara Ayah dan Ibu, mereka berselisih, dan Ayah ngotot ingin sekali
menemui Mamat Asbak karena ajakan Paman. Akan tetapi, dengan ke-ngototan yang sama, Ibu
melarangnya.

Sampai pada akhirnya, Ayah memeluk sambil meyakinkan ibu, “Tenangsaja, aku dan kakakmu
akan kembali ketika fajar muncul dari permukaan esok pagi,” ucap ayah dengan halus.

Setelahnya, Ibu hanya menangis dan pasrah melihat kepergian Ayah dan kakak kandungnya
(biasa saya panggil: Paman) itu. Dan ketika tahu Ayah dan Paman belum juga memberikan kabar
semenjak hari kepergiannya sampai saat ini, atau satu hari setelah kepergiannya, membuat Ibu hanya
mematung, dan terus menunggu kedatangan suami dan kakaknya itu, sedari pagi sejak fajar muncul
sampai saat ini, ketika fajar mulai berangsur tenggelam. Ibu hanya bisa terdiam dari pagi, dan saya dibuat
bingung dan tak tau harus berbuat apa oleh sikap diam Ibu.

24

Tepat jam delapan malam, di mana langit sudah gelap, ponsel Ibu berdering, ada yang
menelepon, tetapi Ibu tetap tidak merespon sedikit pun. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil
ponsel itu, dan coba melihat siapa yang menelepon, ternyata Ayah yang menelpon!

“Bu, ini ada telepon dari Ayah,” saya berkata pada Ibu sambil memberikan ponselnya.

Dan akhirnya Ibu bergerak, melihat kearah saya, dan dengan cepat mengambil ponsel itu sambil
berkata, “keparat yang satu ini, akhirnya dia memberiku kabar juga.”

Ketika Ibu sibuk dengan telepon dari Ayah itu, saya pergi kedapur dengan niat mengambilkan Ibu
air hangat. Dan ketika saya kembali saya melihat Ibu sudah dengan keaadan menangis, dan ponsel itu
sudah ada di meja kembali.

“Ibu kenapa menangis, apa yang dikatan oleh Ayah, Bu?” tanya saya dengan nada sedikit panik.

“Ayah bilang, sibrengsek Mamat Asbak itu mempunyai sebuah pertanyaan, dan apabila ada yang dapat
menjawab pertanyaannya itu, Ia berjanji akan memulangkan ayah dan pamanmu beserta seluruh orang
yang diculiknya.” Ibu melanjutkan, “bahkan ketika si brengsek MamatAsbak, sudah berhasil menemukan
jawaban, atas pertanyaannya, Mamat Asbak berjanji akan menghentikan semua kutukan kota ini.”

“Pertanyaan. Pertanyaan seperti yang Ibu maksud itu?” sahut saya.

“Ibu tak yakin kamu dapat memahami pertnyaaan ini, sebab ayahmu sendiri sama sekali tidak tahu apa
maksud dari pertanyaan sialan ini.”

Seketika saya terdiam, kepala saya pusing mendengar ucapan Ibu barusan. Dalam hati saya
merasa jengkel atas sikap Ibu yang meremehkan saya itu. Tetapi saya juga tidak dapat meluapkan
kekesalan saya itu, di kondisi mencekam dan mendesak seperti ini.

“Bu, apa salahnya hanya memberitahu aku perihal pertanyaan itu, siapa tahu aku bisa mencari
jawabannya, dan siapa tahu Ibu dan aku bisa mencari jawaban itu bersama,” saya mencoba bertanya
sekali lagi dengan nada merayu.

“Perkataan kamu kadang ada benarnya juga,ya?”

“Jelas dong! Aku kan anak Ibu, hehe.” Jawab saya mencoba mencairkan suasana.

25

Setelah itu, Ibu memberitahu saya pertanyaannya, pertanyaannya singkat, yang saya pikir itu lebih
tepat disebut sebuah teka- teki ketimbang hanya disebut sebagai pertanyaan saja. Seperti ini bunyinya
:Apa yang berjalan dengan empat kaki di pagi, dua kaki di siang dan tiga kaki di sore hari?

Benar apa yang Ibu bilang, selain Mamat Asbak itu brengsek, pertanyaan yang berasal dari dirinya
juga sama brengseknya. Pertanyaan ini sulit, sampai-sampai Ayah saya sendiri, yang saya pikir
mengetahui segala hal, tetapi tidak dapat menjawabnya. Dan mungkin yang membaca tulisan ini, belum
tentu bisa menjawabnya.

Sejak malam itu, ketika saya tahu jawaban atas teka-tekinya, saya menghampiri Mamat Asbak,
dan Mamat Asbak menempati janjinya, Ia pun pergi entah kemana, dan tak pernah kembali lagi, dan
benar-benar menghilangkan kutukan yang Ia ciptakan sendiri untuk kota ini.

26

Sebuah cerita pendek karya :Ahmad Reza

Liburan Ke Puncak

Usai acara wisuda di sekolah, akhirnya aku bisa menikmati liburan panjang, meskipun aku tidak termasuk
sebagai nominasi siswa terbaik, tetapi aku tetap mendapatkan nilai yang lumayan sangat baik, aku tetap
bahagia karena bisa pergi liburan bersama keluargaku.

Ayah dan Ibuku mengajakku pergi liburan ke suatu tempat wisata yaitu liburan ke Puncak. Aku sangat tidak
sabar untuk pergi menikmati liburan, bahkan aku sampai bingung memilih pakaian yang aku gunakan saat
liburan nanti "Aku pakai baju yang mana ya?" tanyaku dalam hati.

"Ah, baju yang merah sangat bagus, tetapi yang hijau juga cocok dengan suasana Puncak yang identik
dengan warna pepohonan hijau !".

Aku pun pergi menemui Ayah dan Ibuku yang sedang asyik menonton televisi. Lalu aku mulai melakukan
perbincangan dengan mereka, "Ayah, Ibu besok kita jadi kan pergi liburan ke Puncak? Aku sangat ingin
pergi kesana " lalu Ayah dan Ibu berkata " Iya, Nak kita minggu depan akan liburan ke Puncak" aku sangat
senang sekali mendengarnya, Ayah dan Ibu akan mengajakku liburan ke Puncak minggu depan.

Hari demi hari sudah aku lalui dan tibalah waktunya hari dimana aku akan pergi liburan ke Puncak
bersama keluargaku. Aku mulai mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa saat pergi liburan, "Nak
tolong nanti periksa kembali barang-barangnya agar tidak ada yang tertinggal" Ibu berkata padaku Aku pun
menjawab, "Iya Bu, sudah aku periksa barang-barangnya, aku kira sudah lengkap barang bawaan kita" lalu
aku bergegas membawa barang-barang untuk di masukkan ke dalam mobil.

Tepat jam 08.00 WIB aku dan keluarga berangkat ke Puncak. Selama perjalanan ayah dan ibuku sedang
berbincang apa rencana keluarga kita nanti kalau sudah sampai di Puncak, dan aku pun sangat menikmati
perjalanan tersebut aku sangat senang bisa pergi liburan bersama keluargaku.

Hari sudah menjelang siang dan perjalanan kami sebentar lagi akan sampai ditempat tujuan. Di
penghujung perjalanan kami sangat menikmati pemandangan yang indah, bukit-bukit yang hijau dan di
selimuti sedikit awan menyambut kami.

Tibalah aku dan keluargaku di tempat tujuan, sesampainya di Puncak, aku dan Ibuku langsung bergegas
mengeluarkan barang bawaan untuk di pindahkan ke villa yang sudah ayahku sewa sejak seminggu yang
lalu untuk keluargaku bermalam selama di Puncak.

Hari semakin larut, malam pun tiba lalu aku melihat Ayah dan Ibuku berbincang di ruang tamu villa, aku
pun mendekati mereka dan bertanya "Ayah berapa lama kita liburan di sini?" Ayah pun menjawab " kita
liburan 3 hari sudah cukup Nak" aku pun berkata "tidak apa- apa Yah, aku cukup senang kok walau hanya
sebentar aku sangat menikmatinya karena aku bisa liburan bersama Ayah dan Ibu, malam sudah semakin
larut aku pun bergegas untuk tidur.

27

Keesokan paginya aku dan keluargaku pun berniat untuk berkeliling melihat-lihat kebun teh yang ada di
sekitar villa tempat kami menginap, lalu kami pun melakukan foto bersama.

Aku dan keluargaku sangat menikmati liburan di Puncak, banyak sekali kegiatan yang sudah aku dan
keluargaku lakukan selama berada di villa tempat penginapanku

Tiga hari sudah kita lalui, di penghujung liburan kami pun bergegas berkemas barang untuk pulang ke
rumah, lalu di perjalanan Ayah pun mengajakku untuk singgah di tempat oleh-oleh untuk berbelanja,
setelah berbelanja aku dan keluargaku pun melanjutkan perjalanan menuju rumah.

Sesampainya di rumah aku dan keluargaku pun melakukan aktivitas seperti biasanya.


Click to View FlipBook Version