1 MATA KULIAH INJIL YOHANES Dosen Pengampu: Dr. Antonius Galih Arga WA,Pr Tugas: UTS Oleh : -Felix Kris Alfian (186114021) Semester IV Tahun Ajaran 2019/2020 FAKULTAS TEOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2 PENGARUH KEBUDAYAN YUNANI (HELLENISME) DALAM PROLOG YOHANES 1. PENGANTAR Dalam Prolog Injil Yohanes, kita menemukan kata “Firman” yang merupakan terjemahan dari kata “Logos”. Kata “Logos” sendiri menjadi ciri khas dalam Neo-Platonisme dan Stoisme dalam kebudayaan Yunani. Jika kata “Logos” ada dalam konteks kebudayaan Yunani, lantas apakah prolog dalam Injil Yohanes terpengaruh dari konsep kebudayaan Yunani. Berikut penjelasannya. 2. PROLOG YOHANES Ciri khas Injil Yohanes adalah tentang Yesus sebagai Logos (Firman) meskipun tidak disebutkan secara gamblang. Konsep ini menggabungkan konsep Yahudi (pewahyuan diri Allah) dan Yunani (alasan di balik alam semesta). Yesus adalah Firman, yang difirmankan Allah, yang datang ke dunia sebagai manusia1 Kata “Logos” ada dalam filsafat Yunani dan dikaitkan pula dengan pemikiran Filo. Ia meyakini bahwa Logos adalah perantara Tuhan dengan dunia. 2 Beberapa tradisi yang mempengaruhi Injil Yohanes adalah tradisi Perjanjian Lama, Yahudi, Hellenisme dan Gnostisisme. Penemuan-penemuan di sekitar Laut Mati tahun 1964 dan penemuan Nag Hamadi “Trimorphic Protennoia” menunjukkan kedekatan Injil Yohanes dengan tradisi Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi terkait dengan isi pewartaan Yohanes.3 Prolog terbangun atas dua bagian yaitu bagian yang bercerita tentang Firman (Yoh 1: 1-5, 9- 14, 16-18) dan bagian kedua berbicara tentang Yohanes (Yoh 1: 5-8.15). Ketika berbicara tentang Firman, gaya bahasa yang dipakai adalah puitis, sedangkan ketika menceritakan tentang Yohanes adalah menggunakan prosa. Yoh 1:1-5 awalnya adalah sebuah himne yang telah ada sebelum Injil ditulis.4 Ayat 1-2 mengisahkan, Firman tersebut dipersonifikasi. Ia bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah. Meskipun Logos disebut sebagai Allah, namun Logos bukanlah Bapa. Yesus digambarkan sebagai yang sama dengan Allah tetapi sekaligus yang berbeda dengan Allah.5 Pengaruh Gnostisisme juga mempengaruhi Injil Yohanes. Hal ini nampak dalam pandangan yang khas mengenai dua kelompok: “atas-bawah, terang-gelap, surga-dunia.” Injil Yohanes sangat kental akan dua kelompok tersebut.6 1 Michael Keene, Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 38 2 filsuf keturunan Yahudi dari Aleksandria yang hidup sekitar tahun 20 SM sampai 45 M 3 Nicola Frances Denzey, Genesis Tradition In Conflict? The Use of Some Exegetical Traditin in The Trimorphic Pritennoia and The Johannine Prologue, dalam “Vigiliae Christianae”, Vol. 55, No. 1 (2001), 20 4 St.Eko Riyadi, Yohanes “Firman menjadi Manusia”, (Yogyakarta, Kanisius, 2011 ), 56 5 A.S Hadiwiyata, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 24 6 St.Eko Riyadi, Yohanes “Firman menjadi Manusia”, (Yogyakarta, Kanisius, 2011 ),22
3 Prolog Yohanes mengisyaratkan akan indentitas Firman Allah. Ia dikirim Allah ke bumi untuk suatu pekerjaan ilahi, dan kembali kepada Bapa setelah misinya selesai. Ada suatu penataan yang indah dari kedelapan belas ayat dalam prolog ini yang membentuk suatu gelombang.7 1. A (ayat 1-2) B (ayat 3) C (ayat 4-5) 2. A' (ayat 6-8) B' (ayat 9-11) C' (ayat 12-14) 3. A" (ayat 15) B" (ayat 16-17) C" (ayat 18) Dalam struktur ini ay. 14 adalah puncak dari gelombang kedua yang meurpakan ayat kunci Gambaran tentang Firman yang turun ke dunia dan kembali kepada Allah ini ingin menampilkan kembali konsep Perjanjian Lama tentang Kebijaksanaan (Sir 24; Keb 9). 8 Dalam teks-teks kebijaksanaan, kata yang digunakan bukan Logos namun Sofia. Namun, dalam teks Perjanjian Lama tersebut tidak menyebut tentang terang-gelap, tidak menyebut penciptaan melalui kebijaksanaan dan tidak menyebut janji hidup bagi mereka yang menyambut kebijaksanaan.9 Sampai abad XIX, prolog Injil Yohanes dianggap sebagai satu kesatuan sejak awal pembentukannya. Baru pada abad XX dipertanyakan mengapa pembahasan mengenai Logos tidak muncul lagi di bagian selanjutnya. Kemudian muncul pendapat bahwa prolog injil Yohanes ini merupakan puisi indipenden yang dimasukkan dan disesuaikan dengan Injil Yohanes.10 3. KEBUDAYAAN YUNANI Hellenisme berawal dari penaklukan Asia Barat oleh Alexander Agung (Murid AristotelesFilsuf Yunani). Akibatnya, Hellenisme menjadi semakin maju sehingga muncullah pusat-pusat kebudayaan Yunani.11 Masyarakat Hellenis terbentuk dari komunitas terisolasi di Semenanjung Yunani. Namun, kerajaan ini pecah menjadi tiga setelah Alexander Agung wafat (323SM). 12 Kultur Yunani dalam pemikiran filosofis berkembang cepat dan mendominasi di daerah sekitar laut tengah sejak abad III SM. Beberapa kota besar yang terhelenisasi adalah Alexandria, Antiokia, Efesus dan sekitarnya. Kekaisaran Romawi juga terkena dampak Hellenisasi ini.. 13 Tradisi Yunani mengalami kesulitan dalam menghadapi tradisi Yahudi dengan adanya orang Farisi dan Ahli Taurat. Akan tetapi, bagi kaum Yahudi yang berada di daerah diaspora juga terkena 7 Benedict T. Viviano, OP, The Structure of The Prologue of John (1:1-18), (Switzerland: Universiti of Fribourg Misericorde, 1998), 178 8 Benedict T. Viviano, OP, The Structure of The Prologue of John (1:1-18), 178 9 Benedict T. Viviano, OP, The Structure of The Prologue of John (1:1-18), 182 10 St.Eko Riyadi, Yohanes “Firman menjadi Manusia”, (Yogyakarta, Kanisius, 2011 ), 54 11 H. Jagersma, Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba: Sejarah Israel Dari ± 330 SM-135, terj. Soeparto Poerbo, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 13 12 H. Jagersma, Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba: Sejarah Israel Dari ± 330 SM-135, terj. Soeparto Poerbo, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 13-14. ” 13 Edison R. L. Tinambunan, Filsafatisasi Kristianitas Atau Kristianisasi Filsafat (Malang: STFT Widya Sasana, _), 3
4 dampak Hellenisasi14. Pada zaman para Rasul, kultur Yunani juga mendominasi. Bahasa Yunani telah menjadi bahasa komunikasi umum umat Kristiani di daerah kota luar Israel. Para Rasul dalam pewartaan mereka berhadapan dengan situasi semacam ini. Hanya saja, kultur Yunani yang dihadapi para rasul hanya terbatas pada bahasa dan belum sampai pada aspek filosofis.15 Secara umum, ruang pikir Yunani sangat berciri Monisme-Pantheistik (dalam segala sesuatu selalu dipandang bahwa segala realitas ini adalah satu). Dari zaman Plato hingga Arius, tidak dikenal paham “creatio ex nihilo” karena paham bahwa alam semesta ini memancar dari Yang Esa. Karena semuanya berasal dari Allah, maka ada persamaan “zat” antara manusia dan Allah.16 4. MENGENAL LOGOS Logos dalam istilah Yunani berarti: kata, peribahasa, pernyataan, kisah, ringkasan dan pembelaan. Ada tambahan pengertian lagi dari kalangan Yahudi yaitu kebijaksanaan. Menurut aliran Stoa, Logos adalah prinsip rasional dari kehidupan manusia dan alam. Stoa berpendapat bahwa Logos adalah emanasi pertama dari Allah. Dalam pemikiran Plotinos, Logosini sama dengan Nous (akal budi). Filo mengistilahkan Logos sebagai “Theos Deutros” (Ilah kedua). Plato membahasakannya sebagai Demiurgos yang merupakan “an intermediary being” (makluk pengantara) antara Tuhan dan manusia.17 Gagasan Logos oleh Heraklius (penulis Yunani) adalah sebagai “suatu prinsip”. Logos adalah prinsip yang mempersatukan, hukum atau akal yang adalah pola yang stabil dalam dunia yang selalu berubah ini. Heraklius sendiri tidak memiliki konsep tentang “yang transenden.” Oleh karena itu, Logos baginya berada di dalam segala sesuatu. Berbeda dari pandangan Heraklius, Anaxagoras berpendapat bahwa Allah dianggap sebagai yang transenden dan bukan yang imanen. Baginya, Logos adalah pengantara Allah dan manusia. Dari sini, kita mengetahui bahwa setiap filsuf memiliki pandangan yang berbeda tentang Logos. 18 Kurang lebih abad kedua sebelum era kekristenan, terdapat adanya perpaduan antara unsur Yunani dan unsur Timur yang menghasilkan Gnostisisme. Kekristenan juga terpengaruh oleh Gnostisisme tentang Trinitas karena dalam ajaran Gnostisisme, Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus ada di antara “aeon-aeon” (kekekalan) mereka. Pengakuan iman Rasuli tentang Yesus yang adalah 14 Edison R. L. Tinambunan, Filsafatisasi Kristianitas Atau Kristianisasi Filsafat (Malang: STFT Widya Sasana), 3 15 Edison R. L. Tinambunan, Filsafatisasi Kristianitas Atau Kristianisasi Filsafat (Malang: STFT Widya Sasana), 4-5 16 Barda Kurniawan Herlambang, Berdialog Dengan Filsafat Yunani : Logos Dalam Injil Yohanes, Tantangan Atau Jawaban !!! hlm. 6 dalam Irwin Edman, The Philosophy of Plato (New York: The Modern Library, 1856) xxiii-xxxviii 17 Barda Kurniawan Herlambang, Berdialog Dengan Filsafat Yunani : Logos Dalam Injil Yohanes, Tantangan Atau Jawaban !!! hlm. 6 dalam Irwin Edman, The Philosophy of Plato (New York: The Modern Library, 1856) xxiii-xxxviii 18 Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula, terj. Conny Corputty-Item, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 150
5 Logos itu dianggap sebagai aeon perantara yang mampu menjembatani keilahian dan kemanusiawian merupakan bukti atas pengaruh Gnostik.19 5. MENGENAL FILO Filo (20-50 SM) adalah seorang Yahudi diaspora di Alexandria. Ia mendapat pendidikan Yunani. Selain belajar Yudaisme, ia juga belajar Yunani melalui gramatika, retorika, astronomi dan filsafat. Ia mereformasi tradisi Yahudi secara besar-besaran melalui metode penafsiran teks puisi dan filsafat. Ia memberikan metode baru dalam eksegese dan hermeutika dengan penafsiran Kitab Suci metode Alegori. Metode ini diperkenalkan kepada orang-orang Yahudi Diaspora.20 Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Plato, Stoa dan Monoteisme Yahudi dan filsafat Neo Platonis yang dikembangkan oleh Plotinus tentang dua dunia.21 Pemikiran Filo tentang Logos dipandangnya sebagai instrument untuk menciptakan dunia dan perantara antara Allah yang transenden dan ideal dengan manusia yang berada dalam dunia materi “Fenomenal”. Baginya, Logos adalah ilmu, pikiran dan sabda Allah. Pemikirannya tentang Logos berbeda dengan Logos dalam Kitab Suci. Ia mengatakan bahwa “Logos adalah Anak Sulung Allah, yang sulung dari antara para malaikat.” Ia juga mengatakan, Logos adalah “sang Firman yang melaluinya,Ia menciptakan alam semesta.” Ia juga menyebut Logossebagai hakim dan perantara. 22 6. PENGARUH HELLENISME BAGI PROLOG YOHANES Unsur filosofis yang paling berpengaruh dalam Kekristenan awal adalah Platonisme, Aristotelianisme dan Stoa. Stoisme membahas tentang Logos (akal budi) 23. Kaum Stoa berpendapat bahwa Tuhan adalah yang menciptakan alam semesta ini yang kemudian disebut sebagai Logos. Selain menciptakan, Logos juga dianggap sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.24 Platonisme yang ditinjau kembali (Neo-Platonisme) menekankan tentang Sifat Allah yang transenden. Plotinus menyebut ketiga realitas sebagai “The One, The Mind, dan The Soul. 25 Pemikiran Logos dalam Kekristenan dan dalam prolog Injil Yohanes tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Filo. Keyakinan tentang Logos terdapat dalam Yoh 1: 1-4. Logos dalam Injil 19 Bambang Subandrijo, Yesus Sang titik Temu Dan Titik Tengkar: Sebuah Studi Tentang Pandangan Kristen dan Muslim Di Indonesia Mengenai Yesus, (Jakarta: Unit Publikasi dan Informasi STT Jakarta dan BPK Gunung Mulia, 2016), 26. 20 Edison R. L. Tinambunan, Filsafatisasi Kristianitas Atau Kristianisasi Filsafat (Malang: STFT Widya Sasana), 3 21 Maksud dari dua dunia itu adalah “dunia ideal” (di sana dan akan datang) dengan “dunia fenomenal” (di sini dan kini). Dari kedua dunia itu, ada jurang yang tak terselami yang memisahkan antara Tuhan yang berada dalam “Dunia Ideal” dengan manusia yang berada dalam “Dunia Fenomenal”. 22 Barda Kurniawan Herlambang, Berdialog Dengan Filsafat Yunani : Logos Dalam Injil Yohanes, Tantangan Atau Jawaban !!! hlm. 4-5 23 Logos ini sama dengan Zeus (dewa yang disembah masyarakat Yunani pada masa itu) 24 S. Tano Simamora, Bibel: Warisan Iman, Sejarah dan Budaya, (Jakarta: Obor, 2014), 240 25 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), 68-69.
6 Yohanes mengimplikasikan adanya pra-eksistensi dan keilhaian Yesus yang nampak dalam ayat tersebut. Hal ini menampakkan bahwa Yesus bersama-sama dengan Bapa menciptakan dunia.26 Sebenarnya, Prolog Injil Yohanes tidak menyebutkan secara gamblang bahwa yang dimaksud dengan Logos adalah Yesus (baru pada ayat 14 nampak agak jelas). Namun, Kekristenan meyakini bahwa yang dimaksud dengan Logos adalah Yesus. Logos, oleh orang Kristiani diimani sebagai Anak Allah yang berinkarnasi. Logos pada mulanya bersama-sama dengan Allah, menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Yohanes 1:1-18 adalah penggambaran dari pra-eksistensi dari Yesus. Dalam Konsili Nicea Konstantinopel (381M) terumus suatu rumusan iman tentang Yesus. Memang rumusan tersebut menyebutkan Yesus sebagai Logos atau Firman tetapi Anak. Meskipun demikian, Logos atau Firman, oleh orang Kristen disebut sebagai pribadi Trinitas.27 Meskipun prolog Injil Yohanes menggunakan istilah “Logos”, namun “Logos di sana bukanlah kerangka berpikirnya Neo Platonisme tetapi milik pemikiran Yahudi yang dalam bahasa Ibrani disebut “davar” yang berarti “Firman Allah”. Perlu diketahui bahwa Kitab Suci Perjanjian Lama itu telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani oleh komunitas Yahudi di Alexandria Mesir sekitar abad 3 SM (Septuaginta-LXX). Dalam terjemahan itu, kata “Davar” yang berarti “Firman Allah” diterjemahkan menjadi “Logos”. Pemahaman tentang alam semesta yang diciptakan oleh Allah melalui Firman-Nya (Davar) berasal dari teologi Yudaisme sendiri. Dalam Injil Yohanes, “Logos” bukanlah “suatu pengantara” antara Allah dan manusia. Logos itu adalah Allah sendiri. Inilah perbedaan antara filsafat Yunani dan iman Kristiani. Allah dalam iman Kristiani adalah Allah yang aktif. Allah sangat mencintai manusia. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Ia mengutus Firman-Nya ke dunia dan menjadi manusia. Allah yang awalnya tidak bisa dilihat, yang tidak mungkin dilihat secara fisik, kini bisa dekat dengan ciptaan-Nya. 7. KESIMPULAN DAN PENUTUP Melihat dari Prolog Injil Yohanes ini, kita dapat melihat bahwa budaya Yunani juga berpengaruh dalam Kekristenan. Hal ini karena dalam Hellenisme mewarnai dalam sejarah kekristenan awal. Pemikiran tentang Logos dari Platonisme dan Filo dan juga filosof lainnya diserap dan dijadikan sumber ajaran kristiani. Yang perlu digarisbawahi tentunya adalah, walaupun budaya Yunani memiliki pengaruh dalam kekristinan, tetapi dari Kristen sendiri bukan mencuplik secara sama persis namun menyerap saja dan mengkontekstualkan ajaran-ajaran itu ke dalam konteks kristiani. Begitu pula yang terjadi dalam prolog Injil Yohanes. Logos dalam Injil 26 D.A. Carson dkk, Tafsiran Alkitab Abad Ke-21: Jilid 3 Injil Matius Wahyu, terj. A. Munthe dkk, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2017), 201. 27 D.A. Carson dkk, Tafsiran Alkitab Abad Ke-21: Jilid 3 Injil Matius Wahyu, terj. A. Munthe dkk, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2017), 201
7 Yohanes tidak sepenuhnya sama dengan konsep Yunani. Logos menurut iman Kristiani adalah Sabda yang berinkarnasi menjadi manusia. Demikian pemaparan pengaruh budaya Yunani dalam prolog Yohanes, Terimakasih. 8. DAFTAR PUSTAKA Edison R. L. Tinambunan. _.Filsafatisasi Kristianitas Atau Kristianisasi Filsafat .Malang: STFT Widya Sasana. Michael Keene, 2007, Yesus , Yogyakarta: Kanisius. H. Jagersma. 2016. Dari Aleksander Agung Sampai Bar Kokhba: Sejarah Israel Dari ± 330 SM-135. terj. Soeparto Poerbo. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Barda Kurniawan Herlambang, Berdialog Dengan Filsafat Yunani : Logos Dalam Injil Yohanes, Tantangan Atau Jawaban !!! Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula, terj. Conny Corputty-Item, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994 Bambang Subandrijo. 2016. Yesus Sang titik Temu Dan Titik Tengkar: Sebuah Studi Tentang Pandangan Kristen dan Muslim Di Indonesia Mengenai Yesus,.Jakarta: Unit Publikasi dan Informasi STT Jakarta dan BPK Gunung Mulia. S. Tano Simamora. 2014.Bibel: Warisan Iman, Sejarah dan Budaya. Jakarta: Obor. Ahmad Tafsir. 2016. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya. D.A. Carson dkk. 2017. Tafsiran Alkitab Abad Ke-21: Jilid 3 Injil Matius Wahyu, terj. A. Munthe dkk. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih. Nicola Frances Denzey.2001. Genesis Tradition In Conflict? The Use of Some Exegetical Traditin in The Trimorphic Pritennoia and The Johannine Prologue. dalam “Vigiliae Christianae”. Vol. 55. No. 1 20. St.Eko Riyadi. 2011. Yohanes “Firman menjadi Manusia”. Yogyakarta, Kanisius. A.S Hadiwiyata. 2008. Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius. Benedict T. Viviano, OP. 1998. The Structure of The Prologue of John (1:1-18). Switzerland: Universiti of Fribourg Misericorde.