5. Riqab Riqab adalah budak atau hamba sahaya, yakni mereka yang hidupnya berada dalam kekuasaan tuannya. Pada masa sekarang budak sudah tidak ada lagi. 6. Garim Garim adalah orang yang memiliki banyak utang untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Akan tetapi, orang yang banyak berutang, tetapi untuk kemaksiatan, tidak berhak mendapatkan zakat. 7. Sabilillah Sabilillah berarti jalan Allah. Termasuk sabilillah adalah orangorang yang berjuang untuk kepentingan agama Islam. 8. Ibnu Sabil Secara bahasa ibnu sabil berarti anak jalan. Maksudnya, para musafir yang sedang melakukan perjalanan untuk kebaikan. Jika kehabisan bekal, mereka berhak mendapatkan zakat.
E. Hikmah Zakat 1. Menolong Kaum Duafa Kaum duafa dapat memanfaatkan uang dari zakat untuk membuka usaha. Dengan usaha tersebut, mereka akan mendapat penghasilan dan dapat memberikan zakat kepada yang lain. Dengan demikian, zakat dapat mengentaskan kemiskinan. 2. Membersihkan Diri dari Sifat Kikir Zakat dapat mengikis sifat kikir di dalam hati manusia. Allah sudah menjanjikan bahwa harta yang dizakatkan tidak akan berkurang, tetapi akan bertambah.
3. Menghindari Timbulnya Kejahatan di Masyarakat Melalui zakat, orang kaya mau membantu orang yang miskin, hal itu menjadikan niat untuk mencuri menjadi hilang karena tetangganya sudah mencukupi sebagian kebutuhannya. 4. Ungkapan Syukur kepada Allah Harta yang dimiliki manusia merupakan salah satu kenikmatan, sekaligus amanah dari Allah. Semua kenikmatan harus disyukuri. Berzakat salah satu cara untuk mensyukurinya. 5. Membangun Hubungan Kasih Sayang Antarsesama Dengan menerima zakat, orang miskin merasa disayangi oleh orang yang kaya sehingga mereka pun akan menghormatinya. Oleh karena itu, zakat dapat mempererat hubungan antarsesama, terutama antara yang kaya dan yang miskin.
Terima Kasih ... Semoga Ilmunya Bermanfaat, Aamiin. Editor : Bilal Inc. Sumber Bahan Ajar :
Kisah Para Nabi Semua rasul Allah memiliki tugas yang sama, yakni menyampaikan ajaran tauhid kepada umatnya, membimbing mereka ke jalan yang benar, mengajari mereka akhlak yang terpuji, agar umatnya hidup dalam kebahagiaan. Semua rasul, sejak Adam a.s. sampai Muhammad saw. mengajarkan tauhid, yaitu mengesakan Allah Swt. Hanya Dialah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah karena tiada tuhan selain Allah.
Isi Materi B. Kisah Nabi Zakariya a.s. A. Kisah Nabi Yunus a.s. C. Kisah Nabi Yahya a.s. D. Kisah Nabi Isa a.s.
A. Kisah Nabi Yunus a.s. Nama lengkap Nabi Yunus a.s. adalah Yunus bin Matta bin Abumatta bin Bunyamin bin Ya’qub alaihis salam. Beliau adalah keturunan Nabi Ya’qub a.s. yang merupakan ayah dari Nabi Yusuf a.s. Daerah asal Nabi Yunus a.s. adalah Palestina. Allah mengutus Nabi Yunus a.s. untuk berdakwah kepada penduduk Ninawa yang berada dalam kegelapan. Mereka menyembah berhala dan mengingkari Allah sebagai Tuhan. Nabi Yunus a.s. sebenarnya bukan berasal dari daerah ini sehingga beliau seperti orang asing yang datang di Ninawa. Kedatangan Nabi Yunus a.s. ke Ninawa adalah mengajarkan ketauhidan. Penduduk Ninawa diajak untuk beriman, meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan mereka dan juga alam semesta.
Mereka diperintahkan untuk meninggalkan berhala yang mereka sembah karena tidak memberikan manfaat. Menyembah berhala sama artinya dengan merendahkan diri di hadapan batu yang mereka buat sendiri. Padahal, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia dari makhluk lainnya. Nabi Yunus a.s. juga mengajak penduduk Ninawa untuk memperhatikan alam semesta. Semua itu adalah ciptaan Allah. Jika alam semesta begitu besar dan luas maka yang menciptakannya adalah Tuhan Yang Mahabesar, yaitu Allah Swt. Namun, apa yang diajarkan oleh Nabi Yunus a.s. diabaikan oleh penduduk Ninawa. Mereka menganggap bahwa ajaran Nabi Yunus a.s. adalah agama baru yang bertentangan dengan ajaran nenek moyang mereka. Apalagi, Nabi Yunus a.s. adalah orang asing sehingga mereka menganggap beliau sebagai pendusta. Nabi Yunus a.s. dituduh sebagai perusak adatistiadat dan mengubah kepercayaan nenek moyang penduduk Ninawa.
Nabi Yunus a.s. diminta untuk menghentikan dakwahnya. Penduduk Ninawa sangat teguh pada kekafiran mereka. Akan tetapi, Nabi Yunus a.s. tidak berputus asa. Beliau tetap berdakwah, mengajak masyarakat untuk beriman kepada Allah Swt. Ajaran tauhid merupakan amanah dari Allah Swt. yang harus disampaikan. Nabi Yunus a.s. mengajak mereka untuk meniti jalan yang lurus, yakni dengan menyembah Allah Swt. Nabi Yunus a.s. mengingatkan jika mereka menolak untuk beriman, Allah akan menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menurunkan azab kepada mereka. Namun, peringatan Nabi Yunus a.s. tidak menyurutkan mereka untuk meninggalkan berhala. Mereka tidak takut dengan peringatan Nabi Yunus a.s., bahkan mereka menantang Nabi Yunus a.s. untuk membuktikan ucapannya. Melihat pembangkangan penduduk Ninawa, Nabi Yunus a.s. meninggalkan wilayah ini. Beliau memohon kepada Allah agar memberikan pelajaran kepada mereka yang kafir terhadap Allah.
Sepeninggal Nabi Yunus a.s., tiba-tiba udara di sekeliling Ninawa menjadi gelap. Binatang peliharaan mereka kelihatan gelisah, wajah-wajah penduduk menjadi pucat. Angin dari segala penjuru bertiup kencang dengan suara petir yang bergemuruh menakutkan. Dalam keadaan panik dan ketakutan, mereka sadar akan kebenaran ucapan Nabi Yunus a.s. Mereka pun segera tobat dan memohon ampun kepada Allah atas kekafiran mereka. Mereka menyatakan beriman kepada Allah dan meninggalkan berhala mereka. Mereka meyakini kebenaran dakwah Nabi Yunus a.s. Melihat para penduduk Ninawa bertobat dengan sungguhsungguh, Allah menurunkan rahmat-Nya. Perlahan-lahan udara Ninawa menjadi terang, wajah penduduk menjadi berseri-seri kembali. Binatang-binatang pun kembali tenang. Penduduk Ninawa sangat bersyukur karena Allah berkenan menerima tobat mereka.
1. Nabi Yunus a.s. Ditelan Ikan Setelah meninggalkan Ninawa, Nabi Yunus a.s. terus berjalan mengembara tanpa tujuan. Tiba-tiba beliau sudah sampai di sebuah pantai. Sekelompok orang bergegas menaiki sebuah kapal yang sedang berlabuh. Nabi Yunus a.s. kemudian memohon izin agar diperbolehkan naik kapal juga. Setelah semua penumpang naik, kapal pun berlayar ke tengah laut. Belum berselang lama, tiba-tiba datang gelombang besar yang diikuti dengan angin kencang. Kapal terayun-ayun oleh gelombang, membuat para penumpangnya panik dan ketakutan. Pengemudi kapal tidak kuasa lagi mengendalikan kapalnya. Pengemudi kapal berusaha menyelamatkan kapal dari amukan gelombang. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi beban kapal. Diputuskanlah untuk mengorbankan salah satu penumpang dengan cara pengundian.
Ketika undian dibuka, keluarlah nama Yunus. Para penumpang merasa sayang kepada Yunus. Kemudian, dilakukan undian ulangan. Akan tetapi, lagi-lagi yang keluar nama Yunus sehingga diulang lagi. Mereka merasa keberatan jika Yunus yang mereka hormati dan sayangi harus dikorbankan. Namun, pada undian ketiga nama yang keluar tetap Yunus. Nabi Yunus a.s. sadar bahwa keputusan undian itu adalah kehendak Allah. Beliau menyadari kesalahannya karena meninggalkan Ninawa sebelum diperkenankan oleh Allah. Undian tersebut dianggapnya sebagai cara untuk menebus dosa yang telah dilakukan. Nabi Yunus a.s kemudian berdoa dan melompat ke laut yang penuh dengan gelombang. Allah kemudian mewahyukan kepada seekor ikan paus untuk menelan Nabi Yunus a.s. Di dalam perut ikan paus, Nabi Yunus a.s. terus memohon ampun kepada Allah. Akhirnya, pada saat yang ditentukan, ikan paus menumpahkan Nabi Yunus a.s. ke daratan.
Nabi Yunus a.s. keluar dari perut ikan paus dalam keadaan lemah dan sakit. Allah kemudian menurunkan rahmat-Nya sehingga Nabi Yunus a.s. dapat sehat dan segar kembali. Allah memerintahkan Nabi Yunus a.s. untuk mengunjungi Ninawa kembali. Penduduk Ninawa sudah lama menunggu kedatangan Nabi Yunus a.s. untuk menjadi pemimpin mereka. Ketika memasuki Ninawa, Nabi Yunus a.s. terkejut. Beliau tidak melihat lagi satu pun berhala ada di sana. Semua penduduk sudah beriman dan menyembah Allah. Nabi Yunus a.s. pun melanjutkan dakwahnya untuk menyempurnakan keimanan penduduk Ninawa. 2. Keteladanan Nabi Yunus a.s. a. Pantang Berputus Asa Sikap yang dapat diteladani dari kisah Nabi Yunus a.s.adalah larangan bersikap putus asa. Sikap putus asa termasuk sikap tidak terpuji yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan.
Sikap putus asa adalah sikap tidak meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Penolong hamba-Nya. Keberhasilan dan kegagalan semua yang menentukan adalah Allah. Manusia wajib berusaha secara sungguh-sungguh, namun keputusan akhirnya di tangan Allah. b. Bersegera untuk Tobat Sikap untuk segera memohon ampun setelah melakukan dosa juga tercermin dari kisah penduduk Ninawa. Pertama, sikap penduduk Ninawa yang segera bertobat setelah mereka sadar atas kekafiran mereka. Sikap mereka menyembah berhala adalah perbuatan syirik, yang merupakan dosa besar. Oleh sebab itu, ketika Allah mengingatkan mereka dengan azabNya, penduduk Ninawa segera memohon ampun dan bertobat kepada Allah. Kedua, sikap Nabi Yunus a.s. setelah sadar menghindar dari perintah Allah. Ketika penduduk Ninawa menentang, Nabi Yunus meninggalkan Ninawa tanpa izin Allah.
Ketika beliau dijadikan korban yang harus dibuang ke laut, tersadarlah beliau akan kesalahannya. Beliau pun segera memohon ampun dan terus bertobat selama berada di dalam perut ikan paus. Tobat adalah berhenti melakukan dosa dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tobat adalah sikap terpuji yang dilakukan seseorang setelah melakukan dosa. Bagaimana cara bertobat? 1) Memohon ampun kepada Allah, dengan memperbanyak membaca istigfar. Memohon ampun harus disertai penyesalan yang mendalam karena telah melakukan dosa. 2) Berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tobat yang benar adalah tobat nasuha, yakni tobat yang sungguh-sungguh. Sekali bertobat maka jangan mengulangi berbuat dosa lagi. 3) Memperbanyak berbuat kebaikan sebagai bukti tobat. Di samping meninggalkan perbuatan dosa, juga harus memperbanyak kebaikan. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan, semakin membuktikan bahwa Allah menerima tobat kita.
B. Kisah Nabi Zakariya a.s. Nabi Zakariya a.s. adalah rasul Allah yang diutus kepada kaum Bani Israil. Nama lengkap beliau adalah Zakariya bin Berkhiya. Pada masa itu, kaum Bani Israil mulai meninggalkan ajaran Taurat dan Zabur yang diajarkan oleh nabi sebelumnya. Mereka membangkang terhadap perintah Allah, menyembah berhala, dan banyak melakukan kemaksiatan. Menghadapi kaumnya yang membangkang, Nabi Zakariya a.s. berdakwah dengan berani. Beliau mengajak Bani Israil untuk meninggalkan berhala dan kembali melaksanakan ajaran Taurat dan Zabur. Namun, kaum Bani Israil justru melawan dakwah Nabi Zakariya a.s. Mereka mengancam akan membunuh Nabi Zakariya a.s. jika tetap melanjutkan dakwahnya.
1. Nabi Zakariya Mendapatkan Keturunan Nabi Zakariya a.s. ingin sekali memiliki keturunan. Beliau pun berdoa kepada Allah agar diberi keturunan. Waktu itu, usia Nabi Zakariya a.s. sudah 120 tahun, sedangkan usia istrinya 100 tahun. Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya a.s. sehingga membuat pasangan suami istri ini bahagia. Ada peristiwa aneh yang menjadi tanda kehamilan istrinya, yakni Nabi Zakariya a.s. tidak dapat berbicara selama tiga hari tiga malam. Padahal, waktu itu beliau dalam keadaan sehat. Istri Nabi Zakariya a.s. melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Yahya. Nama ini merupakan pemberian dari Allah. Dengan kelahiran Yahya, Nabi Zakariya a.s. tidak khawatir lagi terhadap kaumnya karena nanti akan ada yang melanjutkan dakwahnya. Allah mengangkat Yahya menjadi seorang rasul. Bersama ayahnya, Yahya menyampaikan dakwah kepada Bani Israil. Mereka mengajak Bani israil untuk kembali kepada ajaran Taurat dan Zabur.
2. Keteladanan Nabi Zakariya a.s. a. Berani Menegakkan Ajaran Allah Keberanian Nabi Zakariya a.s. ditunjukkan ketika menghadapi pembangkangan dari kaum Bani Israil yang dibantu kekaisaran Romawi. Meskipun berdakwah sendirian, Nabi Zakariya a.s. tidak takut terhadap ancaman mereka. Beliau meyakini kebenaran ajaran Allah yang pasti akan menang melawan kebatilan. b. Berdoa Hanya kepada Allah Banyak terdapat keajaiban di dalam kisah Nabi Zakariya a.s. Di antaranya adalah kelahiran Maryam dan Yahya. Keduanya, lahir saat orang tua mereka sudah lanjut usia. Semua itu berkat doa yang sungguh-sungguh ditujukan hanya kepada Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus selalu berdoa. Setiap selesai salat fardu jangan lupa berdoa. Mintalah sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan.
C. Kisah Nabi Yahya a.s. Nabi Yahya a.s. adalah putra tunggal dari Nabi Zakariya a.s. yang lahir pada 7 tahun sebelum masehi. Semenjak kecil Nabi Yahya a.s. sudah terkenal kecerdasan dan kemuliaannya. Ia tumbuh menjadi anak yang saleh dan telah mendapatkan hikmah atau pengetahuan yang mendalam. Nabi Zakariya a.s. mengajarinya tentang isi kitab Taurat dan Zabur. Beliau juga terkenal dengan akhlaknya yang terpuji. Pada tahun 27 Masehi atau ketika berusia 34 tahun, Allah mengangkat Yahya menjadi seorang rasul. Tugas utamanya adalah membantu ayahnya untuk menyampaikan ajaran Allah kepada Bani Israil.
Pada saat itu, Bani Israil berada dalam penjajahan bangsa Romawi. Penguasa bangsa Romawi di Palestina pada waktu itu bernama Herodes yang menjalankan kekuasaannya dengan otoriter, bengis, dan kejam. Siapa pun yang tidak mengikuti kemauannya akan dihukum berat dan siapa pun yang menentangnya akan dihukum mati. Sementara itu, di kalangan Bani Israil terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang beriman kepada Allah dan menjalankan ajaran kitab Taurat dan Zabur. Jumlah kelompok ini kecil sekali. Kelompok kedua, mereka yang menyembah berhala, mengingkari Allah, serta meninggalkan kitab Taurat dan Zabur. Jumlah mereka mayoritas. Kelompok kedua itulah yang menjadi sasaran dakwah Nabi Yahya a.s. dan ayahnya. Kepada kaumnya yang melakukan dosa, diperintahkan untuk segera bertobat. Tobat dilakukan dengan cara dimandikan atau dibaptiskan di Sungai Yordan. Oleh karena itu, Nabi Yahya a.s. dijuluki al-Ma’madan yang berarti pembaptis.
1. Nabi Yahya a.s. Menentang Herodes Suatu ketika terdengar kabar bahwa Herodes akan melaksanakan perkawinan dengan anak tirinya yang bernama Herodia. Semua keluarga kerajaan menyetujui perkawinan tersebut. Masyarakat tidak ada yang berani menentang rencana perkawinan Herodes dengan anak tirinya karena takut dihukum berat. Mendengar rencana Herodes tersebut, Nabi Yahya a.s. mengeluarkan fatwa yang melarang perkawinan seorang ayah dengan anak tirinya. Herodes sangat murka mendengar fatwa Nabi Yahya a.s. Ia bermaksud menangkap Nabi Yahya a.s. dan menjatuhkan hukuman yang berat atas sikapnya tersebut. Nabi Yahya pun difitnah ingin menikahi Herodia. Fitnah tersebut tersebar di seluruh penjuru Palestina. Herodes pun menyuruh tentaranya untuk menangkap dan membunuh Nabi Yahya a.s. Para prajurit Romawi berhasil menemukan Nabi Yahya a.s. sedang melaksanakan salat, kemudian beliau dibunuh.
2. Kisah Keteladanan Nabi Yahya a.s. a. Berani Memberantas Kemungkaran Kemungkaran adalah suatu perbuatan yang melanggar ajaran agama, seperti tidak melaksanakan ibadah atau melakukan sesuatu yang terlarang. Hal itulah yang juga dilakukan oleh Bani Israil. Oleh sebab itu, Nabi Yahya a.s. mengecam tindakan tersebut dengan tegas. Nabi Yahya a.s. berani menyatakan bahwa tindakan kaumnya adalah kemungkaran yang harus segera ditinggalkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus meneladani sikap tersebut. Jika melihat perbuatan yang melanggar agama, kita harus berusaha mencegahnya. Kita tidak boleh membiarkan teman kita melakukan pelanggaran, padahal kita mengetahuinya. Kita tidak boleh takut terhadap kemungkaran. Kewajiban kita adalah mencegah agar saudara atau teman kita tidak melaksanakan perbuatan yang melanggar agama. Cara kita mencegah kemungkaran harus dengan santun.
b. Tidak Takut terhadap Ancaman Keberanian Nabi Yahya a.s. juga disertai dengan tidak takut terhadap ancaman. Nabi Yahya a.s. hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada manusia. Kepada penguasa Romawi yang kejam pun, Nabi Yahya a.s. tidak takut. Demikian halnya, ketika Herodes mengancam akan membunuhnya jika Nabi Yahya a.s. tidak mengikuti kemauannya, beliau pun tidak takut sedikit pun. Sikap Nabi Yahya a.s. ini harus menguatkan keimanan kita kepada Allah. Hanya Allahlah yang wajib disembah dan hanya kepada Allahlah, kita merasa takut. Kita harus takut jika Allah tidak melindungi kita dan tidak meridai kita. Oleh karena itu, kita harus rajin beribadah, agar Allah menjaga dan menyayangi kita. Kepada siapa pun yang melakukan kemungkaran, kita tidak boleh takut. Semua manusia sama derajatnya di sisi Allah, hanya orang yang bertakwalah yang memiliki derajat yang tinggi.
D. Kisah Nabi Isa a.s. Nabi Isa a.s. lahir dari seorang ibu bernama Maryam binti Imran. Sejak kecil, Maryam diasuh oleh pamannya, Nabi Zakariya a.s. Sesudah dewasa, Maryam mengabdikan hidupnya di rumah ibadah, yakni Baitul Maqdis. Pada suatu hari, Maryam kedatangan malaikat dan mengatakan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang rasul Allah. Mendengar hal tersebut Maryam heran. Malaikat pun mengatakan bahwa apabila Allah menghendaki sesuatu cukuplah dengan berkata ”jadilah” maka kehendak-Nya pun jadi.
1. Nabi Isa a.s. Diangkat Menjadi Rasul Pada usia 30 tahun, Nabi Isa a.s. diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Allah telah mengajarkan kepadanya kitab Taurat dan Injil. Nabi Isa a.s. mengajak Bani Israil untuk kembali ke jalan Allah. Beliau juga mengajarkan kasih sayang kepada umatnya. Nabi Isa a.s. mengabarkan bahwa akan ada seorang nabi sesudahnya yang bernama Ahmad atau Muhammad. Ketika berdakwah kepada kaumnya, Nabi Isa a.s. dibekali dengan mukjizat oleh Allah. Nabi Isa a.s. dapat menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang yang sudah mati. Beliau juga dapat menurunkan makanan dari surga untuk menuruti permintaan kaumnya. Semua mukjizat tersebut adalah bukti kebenaran bahwa Nabi Isa a.s. adalah utusan Allah Swt.
Dakwah yang disampaikan Nabi Isa a.s. tidak disukai oleh pemerintah Romawi saat itu. Nabi Isa a.s. dianggap berbahaya bagi kerajaan. Raja kemudian memerintahkan pengawalnya untuk menangkap dan menghukum Nabi Isa a.s. Seorang murid Nabi Isa a.s. berkhianat, yaitu Yudas. Ia menunjukkan persembunyian Nabi Isa a.s. Namun, Allah melindungi Nabi Isa a.s. dengan menyerupakan wajah Yudas dengan Nabi Isa a.s. sehingga Yudaslah yang ditangkap dan dihukum mati di tiang salib. 2. Meneladani Akhlak Nabi Isa a.s. a. Memiliki Iman yang Kuat Kekuatan iman Nabi Isa a.s. terlihat ketika mendapat ancaman dari kerajaan Romawi. Nabi Isa a.s. tetap menjalankan tugasnya sebagai rasul, meskipun diancam akan dibunuh. Kekuatan imannya mengalahkan setiap ancaman yang ditujukan kepadanya.
Iman adalah pondasi bagi kehidupan kita yang harus ditanamkan sejak kecil. Iman adalah keyakinan, yakni keyakinan terhadap Allah Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Allah. Semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Bukan manusia yang berkuasa di dunia ini, namun Allahlah Yang Mahakuasa. b. Penuh Kasih Sayang Di antara ajaran yang dibawa Nabi Isa a.s. adalah pentingnya saling mengasihi dan menyayangi sesama manusia. Hal itu dicontohkan sendiri oleh Nabi Isa a.s. kepada umatnya. Dengan mukjizat dari Allah Swt., Nabi Isa a.s. membantu orang-orang yang sedang sakit, seperti menyembuhkan orang yang buta, berpenyakit kusta, dan lain sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu mencontoh apa yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s. Dengan teman, saudara, maupun tetangga, kita harus hidup rukun dan saling menyayangi. Tidak boleh bermusuhan walaupun kita berbeda pendapat.
Terima Kasih ... Semoga Ilmunya Bermanfaat, Aamiin. Editor : Bilal Inc. Sumber Bahan Ajar :
Meneladani Nabi Muhammad saw. Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah Swt. Nabi Muhammad saw. adalah rasul terakhir yang diutus Allah Swt. Ajarannya dimaksudkan untuk menciptakan rahmat bagi alam semesta. Setiap muslim dituntut untuk menjadi teladan bagi manusia. Umat muslim dituntut menciptakan kehidupan yang penuh dengan kasih sayang. Mewujudkan kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Meneladani perilaku hidup Nabi Muhammad saw. merupakan bentuk ketaatan kita kepada ajarannya.
Isi Materi B. Keteladanan Nabi Muhammad saw. A . Kisah Nabi Muhammad saw.
A. Kisah Nabi Muhammad saw. 1. Kelahiran Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. lahir di Kota Mekah, sebuah wilayah di kawasan Jazirah Arab. Masyarakat Arab pada masa itu dikenal dengan sebutan masyarakat jahiliah. Jahiliah yang berarti kebodohan atau kegelapan. Mereka sebenarnya orang-orang kaya dan pintar, tetapi akhlak mereka sangat buruk. Kebanyakan dari mereka adalah penyembah berhala. Berhala-berhala itu berupa patung yang diletakkan di rumahrumah atau digantung di dinding Ka’bah. Pada masa menjelang kelahiran Muhammad atau tepatnya tahun 571 Masehi terjadi peristiwa penting. Peristiwa itu adalah penyerbuan Kerajaan Abyssinia ke Kota Mekah. Pasukan Abyssinia dipimpin langsung oleh rajanya yang bernama Abrahah.
Tujuan mereka menghancurkan Ka’bah. Pasukan Abrahah mengendarai gajah yang jumlahnya ribuan. Penduduk Mekah ketakutan dan bersembunyi di rumah masing-masing. Ketika pasukan Abrahah memasuki Kota Mekah, tiba-tiba muncul kerumunan burung Ababil yang cukup banyak. Mereka membawa batu-batu kecil yang panas dan melemparkannya ke pasukan Abrahah. Pasukan Abrahah pun pontang-panting dan lari menyelamatkan diri. Mereka gagal menghancurkan Ka’bah. Tahun itu kemudian disebut dengan Tahun Gajah atau ‘qmul Frl. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an Surah al-Frl. Pada tahun itulah Muhammad lahir, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabiulawal Tahun Gajah atau tanggal 20 April tahun 571 Masehi. Muhammad berasal dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Mutalib, sedangkan ibunya bernama Aminah.
Muhammad lahir sudah menjadi anak yatim karena ayahnya, Abdullah, meninggal ketika beliau masih dalam kandungan. Kebiasaan penduduk Arab waktu itu jika ada bayi yang baru lahir, disusukan kepada perempuan Suku Badui di padang pasir. Tujuannya adalah agar bayi tumbuh sehat di tempat yang udaranya bersih dan segar. Setelah Muhammad lahir, beliau disusukan kepada seorang perempuan Badui. Pada awalnya Muhammad disusui oleh Suwaibah Aslamiyah, kemudian digantikan oleh Halimah As-Sa’diyah. Dalam pengasuhan Halimah As-Sa’diyah, Muhammad menghabiskan masa kanak-kanaknya selama empat tahun. Pada masa pengasuhan Halimah, Muhammad mengalami peristiwa aneh. Ketika sedang asyik bermain dengan temantemannya, tiba-tiba Muhammad didatangi oleh dua orang berpakain putih. Keduanya adalah malaikat Allah yang bertugas untuk membersihkan hati Muhammad dari kotoran dan kejahatan.
Pada usia enam tahun, Aminah mengajak Muhammad untuk berziarah ke makam ayahnya, sekaligus mengunjungi keluarga ibunya. Dalam perjalanan pulang ke Mekah, di perkampungan Abwa, ibunya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Muhammad kemudian pulang ditemani seorang budak bernama Ummu Aiman. Sejak saat itu, Muhammad menjadi anak yatim piatu. Setelah ibunya meninggal, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Mutalib. Kakek ini sangat sayang kepada Muhammad. Nama Muhammad adalah pemberian kakeknya. Arti Muhammad adalah orang yang terpuji. Dinamakan demikian karena kakek ingin cucunya menjadi orang yang terpuji. Namun, kasih sayang sang kakek tidak bertahan lama. Pada usia delapan tahun, kakeknya meninggal dunia. Akhirnya, Muhammad diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Talib.
Masa-masa sedih Muhammad dilalui dengan tabah. Meskipun yatim piatu, Muhammad tetap menjalankan hidupnya dengan penuh kesabaran. Setiap hari, beliau menggembalakan domba milik pamannya. Beliau ingin meringankan beban hidup pamannya yang kurang mampu. Muhammad dikenal sebagai anak yang disiplin, rajin bekerja, dan penuh tanggung jawab. Di samping itu, Muhammad juga dikenal sebagai anak yang jujur sehingga disebut al-Amin, yang artinya dapat dipercaya. Perilaku Muhammad itu menyebabkan beliau banyak disayang orang dan memiliki banyak sahabat. Saat berusia 12 tahun, Abu Talib mengajak Muhammad berdagang ke negeri Syam atau Syria. Di tengah perjalanan, Abu Talib bertemu seorang pendeta bernama Bukhaira. Pendeta itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sehingga ia menyarankan kepada Abu Talib untuk kembali ke Mekah. Mengapa? Karena pendeta itu takut jika orang-orang Yahudi mengetahui kenabian Muhammad, mereka akan menganiaya, bahkan membunuhnya.
2. Muhammad Diangkat Menjadi Rasul Pada usia 25 tahun Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang saudagar kaya di Mekah. Dari hasil pernikahan itu, mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu dua laki laki dan empat perempuan. Dua putra tersebut bernama Qasim dan Abdullah, sedangkan keempat putrinya, yaitu Zainab, Ruqayyah, Fathimah, dan Ummu Kulsum. Pada tanggal 17 Ramadan tahun 13 sebelum hijrah atau tanggal 6 Agustus 610 M, Allah mengangkat Muhammad menjadi rasul. Pengangkatan itu ditandai dengan diterimanya wahyu pertama, yakni Surah al-‘Alaq Ayat 1–5. Pada saat itu, Muhammad sedang bertahanus atau menyepi di Gua Hira. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril yang membawa wahyu Allah. Peristiwa itu kemudian diperingati umat Islam sebagai Nuzulul Qur’an, yakni waktu turunnya wahyu Al-Qur’an yang pertama kali.
Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad saw. memulai menyebarkan dakwah kepada penduduk Mekah. Sasaran dakwah pertamanya adalah keluarganya sendiri, kemudian meluas kepada Bani Hasyim, dan akhirnya kepada penduduk Mekah. Cara dakwah yang dilakukan Nabi pada awalnya sembunyi-sembunyi, kemudian semi terbuka, dan akhirnya dakwah secara terbuka. Hal itu dilakukan karena suku Quraisy menentang dakwah Nabi yang dianggapnya menentang keyakinan nenek moyang mereka. Pada masa itu masyarakat Mekah menjadi penyembah berhala. Setiap suku memiliki berhala sendiri. Berhala yang terkenal dimiliki oleh suku Quraisy adalah latta, manath, dan uzza. Rasulullah saw. menentang penyembahan berhala dan mengajak masyarakat untuk menyembah Allah. Ajaran yang dibawanya adalah tauhid, yakni mengakui keesaan Allah. Ajaran lain yang disampaikan Nabi Muhammad saw. adalah tentang hari kiamat. Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia.
Oleh karena itu, Nabi mengajak orang-orang Quraisy untuk berakhlakul karimah. Perbuatan yang baik akan mendapat balasan surga di hari kiamat, sedangkan perbuatan jelek akan mendapatkan siksa di neraka. Ajaran yang dibawa Nabi menjelaskan antara orang merdeka, budak, laki-laki, dan perempuan di hadapan Allah sama. Hal yang membedakan di antara mereka adalah ketakwaannya. Siapa saja yang taat dan patuh kepada Allah, itulah orang yang tinggi derajatnya. Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ini ditentang para pemuka suku Quraisy, terutama Abu Lahab dan Abu Jahal. Keduanya adalah paman Nabi sendiri. Paman Nabi ini bahkan menyiksa para pengikut Nabi dan melarang mereka mengikuti dakwah Nabi. Bahkan, Abu Jahal membuat sayembara, siapa pun yang dapat membunuh Nabi akan diberi hadiah 100 ekor unta.
3. Nabi Muhammad saw. Hijrah ke Madinah Melihat penyiksaan yang dialami oleh pengikutnya, Nabi Muhammad saw. menyuruh mereka untuk hijrah atau pindah dari Mekah. Hijrah pertama dilakukan pada tahun 615 M menuju ke Habasyah. Pada hijrah yang pertama itu hanya pengikut Nabi yang mengungsi, sedangkan Nabi tetap berada di Mekah. Tekanan dan ancaman orang Quraisy semakin menjadi. Pada tahun 619 M Nabi ditinggal wafat oleh dua orang yang dicintainya, yaitu Khadijah istrinya dan Abu Talib, paman sekaligus pelindungnya. Tahun itu disebut dengan Amul Huzni atau tahun berkabung. Beratnya tekanan yang dilakukan orang kafir Mekah membuat Nabi Muhammad saw. memerintahkan umat Islam melakukan hijrah ke Yatsrib pada bulan September 622 M. Para pengikut Nabi saw. berangkat dahulu ke Yasrib tanpa sepengetahuan orang-orang kafir. Disusul kemudian Nabi saw. didampingi Abu Bakar menyusul hijrah secara diam-diam.
Tugas pertama Nabi saw. di Madinah adalah mempersatukan para pengikutnya yang dari Mekah, yang disebut kaum Muhajirin dengan pengikutnya di Madinah, yang disebut kaum Ansar. Mereka diikat oleh persaudaraan Islam atau ukhuwah islamiah. Di samping itu, di Madinah juga terdapat suku-suku Yahudi. Nabi kemudian menyusun Piagam Madinah, yaitu diakuinya hak tiap-tiap golongan untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing. Nabi mengajarkan sikap toleransi beragama, antara orang Islam dan orang Yahudi, agar mereka hidup rukun di Madinah. Kepindahan Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya ke Madinah menimbulkan kemarahan orang-orang kafir Mekah. Mereka berusaha menyerangnya. Nabi Muhammad saw. terus melakukan dakwah secara gigih. Pengikut beliau semakin banyak dan kuat. Pada 20 Ramadan 8 H/630 M, Nabi dan umat Islam menuju Mekah untuk membebaskannya dari kaum kafir. Peristiwa ini disebut Fathu Makkah, dan diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu Surah an-Nasr.
B. Keteladanan Nabi Muhammad saw. 1. Sikap Sabar dan Tabah Sabar dan tabah adalah dua sifat yang saling melengkapi. Sabar adalah sikap menerima dengan lapang dada segala sesuatu yang sedang terjadi, seperti kesedihan, kesusahan, kemiskinan, kehilangan, dan lain sebagainya. Sabar juga bisa berarti tidak mudah tergoda oleh hawa nafsu, dapat menahan emosi, dan tetap tegar menghadapi segala hal yang memancing untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Tabah artinya tidak larut dalam kesedihan. Orang yang tabah berarti menerima dengan ikhlas apa yang terjadi dan menganggap hal itu sebagai cobaan dari Allah. Orang yang tabah selalu berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk menghadapi segala cobaan yang terjadi.
2. Jujur, Bertanggung Jawab, dan Dapat Dipercaya Sikap jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya merupakan akhlak yang terpuji. Jujur berarti berkata apa adanya, mengatakan sesuatu sesuai kenyataan. Lawannya adalah bohong atau mengatakan sesuatu yang tidak senyatanya. Bertanggung jawab berarti melakukan sesuatu sesuai tugas yang telah diterimanya. Ketika seseorang bersikap jujur dan bertanggung jawab, ia akan memiliki sifat dapat dipercaya. Dalam kehidupan di masyarakat, bergaul dengan teman, berhadapan dengan orang tua dan guru, kita harus membiasakan sifat jujur dan bertanggung jawab. Di rumah, di sekolah, di mana saja, kita harus tetap jujur dan bertanggung jawab. Jujur dan bertanggung jawab kita wujudkan dalam perkataan maupun perbuatan. Berkatalah yang jujur dan bertanggung jawablah terhadap apa yang sudah kita katakan. Untuk itu, jangan sampai kita mengatakan sesuatu yang tidak dapat kita tunjukkan kebenarannya. Itu artinya kita bohong dan tidak bertanggung jawab.
Terima Kasih ... Semoga Ilmunya Bermanfaat, Aamiin. Editor : Bilal Inc. Sumber Bahan Ajar :