GLASGOW COMA SCALE (GCS) N I L A I EYE N I L A I VERBAL 4 Buka mata 5 Bicara spontan 3 Buka mata bila dipanggil 4 Bicara jelas tp disorientasi 2 Buka mata bila dirangsang nyeri 3 Bicara tidak nyambung I Tidak ada reaksi 2 Hanya merintih I Tidak ada respon
N I L A I MOTORIK 6 Mengikuti perintah 5 Melokalisir nyeri 4 Fleksi normal 3 Fleksi abnormal 2 Ektensi menjauhi tubuh I Tidak ada respon
NILAI NORMAL AGD PH : 7,35 – 7,45 PCO2 : 35 – 45 mmhg PO2 : 75 – 100 mmhg HCO3 : 20 – 26 meq/l Total CO2 : 20 – 26 meq/l BE : (-2,5) – (+2,5) meq/l Saturasi O2 : 95% - 98% PH ꜛ : alkalosis PH ꜜ : asidosis
PENGHITUNGAN NADI NORMAL USIA RENTANG NORMAL RATA - RATA BBL 120 – 160 140 1 – 12 BL 80 – 140 120 1 – 2 TH 80 – 130 110 3 – 6 TH 75 – 120 100 7 – 12 TH 75 – 110 95 REMAJA 60 – 100 80 DEWASA 60 – 100 80 KLASIFIKASI KEKUATAN DENYUT NADI ► 0 : Tidak teraba adanya denyut ► 1 : Denyutan berkurang dan sulit diraba ► 2 : normal, teraba dengan mudah dan tidak mudah Lenyap ► 3 : Denyutan kuat dan seperti memantul terhadap ujung jari
INTUBASI Definisi : suatu tindakan pipa endotrakea ke dalam trakea TUJUAN 1. Membebaskan jalan nafas 2. Mempertahankan pernafasan yang adekuat pada gagal nafas PERSIAPAN PEMASANGAN ETT 1. Persiapan pasien : inform consent, posisi pasien diatur terlentang dengan kepala hiperektensi 2. Persiapan alat dan obat : - Laryngoscope lurus dan bengkok - Xilocain spray dan jelly - ETT sesuai ukuran - Magil forcep - Spuit - OPA - Stetoskop - Suction - BVM (ambu bag) - Handscoon steril - Plester dan gunting - Bengkok - Obat premidikasi - Ventilator - Trolly emergency YANG HARUS DIPERHATIKAN 1. Cek cuff dengan mendengar adanya kebocoran 2. Ubah letak ETT setiap pergantian fiksasi 3. Dokumentasikan tgl pemasangan ETT
4. Dokumentasikan no ETT 5. Dokumentasikan letak angka masuk pada ETT 6. Ganti ETT tiap minggu
Adalah : Memasukkan keteter CVP melalui darah tepi sehingga ujungnya berada diatrium kanan atau di muara vena cava superior / vena cava inferior. TUJUAN 1. Untuk mengetahui tekanan vena central dan menilai jumlah cairan dalam tubuh 2. Memasukkan obat – obatan 3. Mengambil sample darah 4. Memasukkan cairan hypertonis 5. Memberikan cairan yang cepat dengan jumlah yang banyak DAERAH PEMASANGAN CVP 1. Vena subclavia 2. Vena Femoral 3. Vena jugularis KOMPLIKASI PEMASANGAN CVP 1. Perdarahan 2. Pneumo thorax 3. Emboli 4. Infeksi MACAM CVP 1. Single lumen 2. Double lumen 3. Triple lumen PERSIAPAN PEMASANGAN CVP 1. Persiapan pasien : inform consent, pasien tidur terlentang tanpa bantal 2. Persiapan alat - Satu set CVP - Duk bolong steril - Kassa steril - Handscoon steril - Bethadine - Alcohol - Nacl 0.9% - Lidokin - Spuit 3c - Hypafix - Gunting - Masker, topi, baju lengan panjang - Jarum hecting, benang silkam 2/0 atau 3/0 - Set hecting - Monitor - Manometer (medifix) - Infus Set 3. Aliran infuse kepasien distop, lalu alirkan kearah manometer sampai dengan angka 34 cm (batas atas) 4. Buka aliran dari manometer kearah pasien dan cairan infuse ditutup 5. Tunggu sampai aliran itu berhenti pada angka tertentu kemudian catat 6. Bila pengukuran sudah selesai tutup arah aliran ke CVP 7. Atur tetesan infuse 8. Dokumentasikan Nilai normal CVP 8-12 mmH2O Cara penghitungan CVP Angka yang tertera pada titik berhentinya CVP X 0,78 = hasil yang diperoleh Contoh : Setelah dilakukan pengukuran aliran CVP berhenti pada titik : 12 cm Hg Maka CVP pasien adalah adalah : 12 cm Hg x 0,78 = 9,36 mm H2O PEMASANGAN CVP (Central Venous Presure)
ACS (Acute Coronary Syndrom) Penanganannya 1. Marfin 2. O2 3. Natrium bicarbonat 4. Aspilet 5. Cloptdogrel Untuk pemberian pertama 300mg selanjutnya 1x75mg Pemeriksaan yang biasa di lakukan 1. Darah rutin (H2TL) 2. Ur – Cr 3. OT – PT 4. GDS 5. Elektrolit 6. Trop T 7. CKMB diulang 3x 8. Profil lipid 9. Asam urat 10. EKG /pagi 11. Biasanya menggunakan arixhra 1x0,5 SC selama 5 hari 12. Pasien diberikan obat tidur, obat memperlancar BAB 13. Pasien tidak boleh mengeden 14. Obat penurun tensi captopril 15. Jika nyeri dada cedocord 5mg SL Bila gambaran EKG menunjukkan VES Bila pasien tachicardi therapy yang diberikan digoxin 0,5 mg
STROKE Stroke ada 2 : 1. Stroke Hemoragic 2. Stroke Non Hemoragic Bedrest 1 minggu, setelah itu baru miring kiri miring kanan Gambaran HCTSC 1. Stroke Hemoragic warna putih bila perdarahan >30cc indikasi operasi 2. Stroke Non Hemoragic warna hitam Pemeriksaan lab yang sering dilakukan 1. Lab darah rutin H2R 2. Profil lipid 3. Asam urat 4. GDS 5. UR – CP 6. Elektrolit 7. OT – PT Penanganan dan Therapy 1. Bila hasil ur.cr bagus, biasanya menggunakan mannitol untuk yang pertama kali mannitol loading 500cc, 8jam kemudian 4x125cc biasanya tapering off 2. Kalau asam uratnya tinggi biasanya menggunakan simvastatin 3. Kepala biasanya head up 300 4. Bila tidak ada perdarahan menggunakan trombo aspilet 1x80 mg Gambaran HsTSc pada cidera kepala 1. SDH (Sub dural Haematom) : seperti bulan sabit 2. EDH (Epidural Haematom) : bulat cembung
DERAJAT GANGGUAN PENYAKIT JANTUNG Grade I : tidak ada gejala ketika melakukan aktivitas biasa Grade II : timbul gejala ketika melakukan aktivitas biasa Geade III: timbul gejala saat melakukan aktivitas ringan Grade IV : timbul gejala saat istirahat
PEMERIKSAAN DAN LIFE SAVING PADA TRAUMA THORAX Diagnosis Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Life saving Tension pneumothorax Jejas (+) Tidak simetris Distensi jena jugularis Deviasi trakea Suara berkurang/ menghilang pada sisi sakit Hipersonor Krepitasi (-) Needle thoracosintesis (ICS 4 atau 5 Axilla anterior) Open pneumothorax Sucking chest wound (defek/ luka besar pada dinding dada) Tidak simetris Suara berkurang/ menghilang pada sisi sakit Hipersonor Krepitasi (-) Kassa oklusif 3 sisi (oklusif dressing) Hemothorax Jejas (+) Tidak simetris Suara berkurang/ menghilang pada sisi sakit Redup/ dullness Krepitasi (-) Bila syok → resusitasi cairan Hipovolemia → pembedahan Flail chest Pergerakan napas paradoksal Tidak simetris Suara berkurang/ menghilang pada sisi sakit Tergantung penyerta Krepitasi (+) Posisi nyaman Analgetik Torakotomi Tamponade jantung Trias beck Tanda syok Distensi vena jugularis Suara nafas normal Bunyi jantung melemah/ menjauh Normal Krepitasi (-) Perikardiosintesis
RUMUSAN BODY MASS INDEX (bmi) Rumus BB(Kg) TB2(m) Underweight : ► Kurang dari : 18.5 ► Normal : 18.5 – 24.9 ► Overweight / pre – obes : 25.0 – 29.9 ► Obes l : 30 – 34.9 ► Obes ll : 35 – 39 ► Obes lll : lebih dari atau sama dengan 40 Penilaian Kekuatan Tonus Otot
NILA I KEKUATAN 0 Tidak ada kontraksi 1 Terdapat kontraksi tapi tidak bisa bergeser 2 Hanya ada pergeseran dan pergerakan 3 Dapat mengadakan gerakan melawan gravitasi, tapi tidak bisa melawan 4 Dapat melawan gravitasi tapi tidak dapat melawan tahanan (lemah) 5 Dapat melawan tahanan pemeriksaan dengan kekuatan penuh
Identifikasi Faktor Resiko Anamnesa ALGORITMA PENATALAKSANAAN GIGITAN ULAR (SNAKE BIT) Medikamentosa : 1. Insisi luka pada 1 jam pertama setelah digigit akan mengurangi toxin 50% 2. Infus RL 16-20 tpm 3. Penisilin procain (PP) 1 juta unit, pagi dan sore 4. ATS profilaksis 1500 iu 5. ABU 2 flc dlm NaCL diberikan per drip dlm wkt 30-40 menit 6. Hepari 10.000 iu per 24 jam 7. Monitor diathese hemoragic stlh 2jam, bila tidak membaik tambah ABU 2 flc lagi, ABU diberikan maksimal 300cc (1flc = 10cc) 8. Bila tanda – tanda laringospasme, bronchospasme, urtikaria atau hipotensi diberikan adrenalin 0,5mg IM, Hidrocotisone 100mg IV 9. Kalau perlu dilakukan Hemodialise 10.Bila diathese hemoragic membaik, transfuse komponen 11.Observasi pasien minimal 1 X 24 jam Pemeriksaan Fisik Derajat Parrish : 1. 1. Derajat 0 Tdk ada gejala sistemik dalam 12 jam Pembengkakan minimal, diameter 1 cm 2. 2. Derajat I Bekas gigitan 2 taring Bengkak diameter 1-5 cm Tdk ada gejala sistemik selama 12 jam 3. Derajat II Sama dengan derajat I Petechi, Echimosis Nyeri hebat dalam 12 jam 4. Derajat III Sama dengan derajat II Syock dan distress nafas/petechi, echimosis seluruh tubuh 5. Derajat IV Sangat cepat memburuk CATATAN Pemberian ABU Deraja t 0-1 Pemberian tidak perlu 2 5-20 cc (1-2 amp) 3-4 40-100 cc (4-10 amp)
PENILAIAN APGAR SCORE Klinis 0 1 2 Warna kulit (A) Biru/ Pucat Badan merah Ekstremitas biru Seluruh badan merah Pulse (P) Tidak ada <100x/menit >100x/menit Reflek (G) Tidak ada Menyeringai Mengis kuat Tonus (A) Lunglai Fleksi Aktif Nafas (R) Tidak ada Tidak teratur Kuat, Teratur (0-3 Aspiksia berat), (4-7 Aspiksia sedang), (7-10 Normal)
GLASGOW COMA SCALE (GCS) N I L A I EYE N I L A I VERBAL N I L A I MOTORIK 4 Buka mata 5 Bicara spontan 6 Mengikuti perintah 3 Buka mata bila dipanggil 4 Bicara jelas tp disorientasi 5 Melokalisir nyeri 2 Buka mata bila dirangsang nyeri 3 Bicara tidak nyambung 4 Fleksi normal I Tidak ada reaksi 2 Hanya merintih 3 Fleksi abnormal I Tidak ada respon 2 Ektensi menjauhi tubuh I Tidak ada respon
DERAJAT KRAMER BAYI IKTERUS Sumber : International Journal of Contemporary Pediatrics Varughese PM. Int J Contemp Pediatr. 2019 Sep;6(5):1794- 1801. https://www.ijpediatrics.com/index.php/ijcp
Derajat Ikterus Daerah Ikterus 1 Kepala dan leher 2 Kepala, leher sampai badan atas (diatas umbilikus) 3 Kepala, leher, badan atas sampai badan bawah (dibawah umbilikus) hingga tungkai atas (di atas lutut) 4 Kepala, leher, badan atas sampai badan bawah, tungkai atas, dan tungkai bawah 5 Kepala, leher, badan atas sampai badan bawah, tungkai atas, tungkai bawah sampai telapak tangan dan kaki atau seluruh badan neonatus