The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara Untuk Paket C Setara SMA/MA Kelas x

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PENDIDIKAN MASYARAKAT, 2020-12-15 00:50:27

23_Sejarah Indonesia_Ismy Nur Aziza

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara Untuk Paket C Setara SMA/MA Kelas x

1

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah. Puji syukur kehadirat Allah SWT senantiasa kita ucapkan. Atas karunia-
Nya berupa nikmat iman dan kesehatan ini akhirnya penulis bisa menyelesaikan makalah
bertema Pancasila. Tidak lupa shawalat serta salam tercurahkan bagi Baginda Agung Rasulullah
SAW yang syafaatnya akan kita nantikan kelak.
Modul berjudul “Hasil Kebudayaan pada Masa Praaksara” menyampaikan pembahasan
tentang kebudayaan yang dihasilkan pada masa praaksara serta Kehidupan masyrakat pada masa
itu.
Adapun penulisan makalah ini dibuat agar dapat digunakan sebagai referensi
pembelajaran Sejarah Indonesia pada paket C atau pendidikan yang setara. Penulis membahasn
poin-poin penting terkait kebudayaan dan Kehidupan masyarakat praaksara. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah mendukung serta membantu penyelesaian
modul. Harapannya semoga modul ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekaligus
menambah pengetahuan, kebudayaan dan juga kreatifitas pembaca.

Dengan kerendahan hati, penulis memohon maaf apabila ada ketidaksesuaian kalimat dan
kesalahan. Meskipun demikian, penulis terbuka pada kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan modul.
Wassalamualaikum wr.wb

Samarinda, 8 Desember 2020

2

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ....................................................................................... Error! Bookmark not defined.
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR...........................................................................................4
TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................................................................6
PENGANTAR MODUL .........................................................................................................................6
Unit 1 : Perkembangan Teknologi pada Masa Praaksara ................. Error! Bookmark not defined.

A. Pengertian Masa Praaksara ....................................................................................................... 7
B. Pembagian Periode serta Perkembangan Teknologi pada masa Praaksara ............................8
Penugasan Unit 1 ..............................................................................................................................17
Latihan Soal Unit 1............................................................................................................................18
Unit 2 : Pola Kehidupan Masyarakat Praaksara ................................................................................. 20
A. Pola Kehidupan Nomaden........................................................................................................21
B. Pola Kehidupan Semi Nomaden ............................................................................................. 23
C. Pola Kehidupan Menetap ........................................................................................................ 24
Penugasan Unit 2............................................................................................................................. 25
Latihan Soal Unit 2........................................................................ Error! Bookmark not defined.
Unit 3 : Sistem Kepercayaan Masyarakat Praaksara .......................................................................... 29
A. Kepercayaan Pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan .......................................... 31
B. Kepercayaan pada Masa Bercocok Tanam.............................................................................. 32
C. Kepercayaan pada Masa Perundagian .................................................................................... 38
Penugasan Unit 3........................................................................... Error! Bookmark not defined.
Latihan Soal Unit 3 .......................................................................................................................... 39
EVALUASI SOAL............................................................................... Error! Bookmark not defined.
GLOSARIUM .......................................................................................................................................49
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................................. 52

3

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

KOMPETENSI DASAR DAN
INDIKATOR

Kompetensi Dasar Materi Kegiatan Pembelajaran Indikator
Pokok/Pembelajaran
3.4.Memahami hasil - Mengamati jenis-jenis 3.4.1
dan nilai-nilai Hasil budaya peralatan dari batu dan Mengidentifikasi
budaya masyarakat masyarakat praaksara tulang yang digunakan peralatan dari batu,
praaksara Indonesia manusia praaksara pada tulang,logam, dan
Indonesia dan - Perkembangan masa Paleolithikum, gerabah yang
pengaruhnya Messolithikum, dihasilkan
dalam kehidupan teknologi Neolithikum, dan manusia pada masa
masyarakat - Pola hunian Megalithikum dengan praaksara
Indonesia masa kini melihat gambar dari 3.4.2 Menjelaskan
termasuk masyarakat berbagai sumber bacaan, pemanfaatan pantai
yang berada di Praaksara internet ataupun koleksi dan gua oleh manusia
lingkungan sekitar - Sistem museum, pada masa praaksara
kepercayaan 3.4.3 Menjelaskan
4.4 Menyajikan masyarakat - Melakukan tanya jenis-jenis
informasi tentang praaksara jawab/diskusi untuk kepercayaan
hasil-hasil budaya mengidentifi kasi jenis- masyarakat pada
masyarakat jenis peralatan logam masa praaksara
zaman praaksara dan gerabah pada masa
yang masih praaksara 4.4.1 Menyajikan
bisa ditemukan laporan hasil
pada masa - Mempelajari pola identifikasi
kini, termasuk yang hunian masyarakat masa hasil-hasil budaya
berada di praaksara berdasarkan peninggalan
lingkungan sekitar. peninggalan masyarakat
kjokkenmodinge dan masa praaksara
abris sous rouche 4.4.2 Menyajikan
laporan hasil
- Mengumpulkan identifikasi
informasi dari berbagai nilai-nilai budaya
sumber untuk peninggalan
memahami tentang
kepercayaan animism,
dinamisme, dan
totemisme peninggalan
masyarakat praaksara

- Mencari informasi
mengenai hasil-hasil dan
nilai-nilai budaya
masyarakat pada masa

4

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

praaksara yang ada masyarakat praaksara

dilingkungan sekitar

- Mengidentifi kasi hasil-

hasil dan nilai nilai

budaya masyarakat pada

masa praaksara dan

menyajikannya dalam

bentuk karya tulis

- Mempresentasikan

karya tulis dalam bentuk

diskusi

5

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mengidentifikasi peralatan dari batu, tulang,logam, dan gerabah yang dihasilkan manusia
pada masa praaksara

2. Menjelaskan pemanfaatan pantai dan gua oleh manusia pada masa praaksara
3. Menjelaskan jenis-jenis kepercayaan masyarakat pada masa praaksara
4. Menyajikan laporan hasil identifikasi hasil-hasil budaya peninggalan masyarakat masa

praaksara
5. Menyajikan laporan hasil identifikasi nilai-nilai budaya peninggalan masyarakat praaksara

PENGANTAR MODUL

Modul ini akan membahas tentang (1) Perkembangan Teknologi pada Masa Praaksara,
yaitu perkembangan teknologi pada tiap-tiap periode pada masa praaksara, (2) Pola
Kehidupan masyarakat praaksara Indonesia, meliputi perkembangan dari kebudayaan
Nomaden, semi Nomaden dan Menetap.(3) Sitem Kepercayaan masyarakat masa
praaksara yaitu animisme, dinamisme dan totoisme. Masa Praaksara ialah suatu masa
dimana mayoritas masyarakat belum mengenal tulisan, serta dalam pengungkapan nya
masih secara lisan. Ciri-ciri daripada masa ini ialah, belum mengenal tulisan,
pengungkapan sejarah dilakukan secara lisan, dan Masa Praaksara sering disebut sebagai
tradisi lisan atau masa nenek moyang yang belum mengenal tulisan.

6

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Unit 1 : Perkembangan Teknologi pada Masa
Praaksara

A. Pengertian Masa Praaksara
Zaman pra-aksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal tulisan, ditandai dengan

belum ditemukannya keterangan tertulis mengenai kehidupan manusia. Periode ini ditandai
dengan cara hidup berburu dan mengambil bahan makanan yang tersedia di alam. Pada
zaman pra-aksarapola hidup dan berpikir manusia sangat bergantung dengan alam. Tempat
tinggal mereka berpindah-pindah berdasarkan ketersediaan sumber makanan.Zaman pra-
aksara sering disebut juga dengan zaman nirleka.Nir artinya tanpa danleka artinya
tulisan.Zaman pra-aksara berakhir ketika masyarakatnya sudah mengenal tulisan.

Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fpengajar.co.id%2Fzaman-

praksara%2F&psig=AOvVaw2sjK1uILeGdku5uaDL7K9b&ust=1607109661288000&source=imag
es&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCJiAxJfEsu0CFQAAAAAdAAAAABAD

Gambar 1.1 (Kehidupan pada masa Praaksara)

7

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

B. Pembagian Periode serta Perkembangan Teknologi pada masa Praaksara
Perlu kamu ketahui bahwa sekalipun belum mengenal tulisan manusia purba sudah

mengembangkan kebudayaan2 dan teknologi. Teknologi waktu itu bermula dari teknologi
bebatuan yang digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan. Dalam praktiknya
peralatan atau teknologi bebatuan tersebut dapat berfungsi serba guna. Pada tahap paling
awal alat yang digunakan masih bersifat kebetulan dan seadanya serta bersifat trial and eror.
Mula-mula mereka hanya menggunakan benda-benda dari alam terutama batu. Teknologi
bebatuan pada zaman3 ini berkembang dalam kurun waktu yang begitu panjang. Oleh karena
itu, paraahli kemudian membagi kebudayaan zaman batu di era4 pra-aksara ini menjadi
beberapa zaman atau tahap perkembangan. Dalam buku R. Soekmono, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Indonesia dijelaskan bahwa kebudayaan zaman batu ini dibagi menjadi tiga
yaitu, Paleolitikum, Mesolitikum dan Neolitikum.
1. Antara Batu dan Tulang

Peralatan pertama yang digunakan oleh manusia purba adalah alat-alat dari batu yang
seadanya dan juga dari tulang. Peralatan ini berkembang pada zaman Paleolitikum atau
zaman batu tua. Zaman batu tua ini bertepatan dengan zaman Neozoikum terutama pada
akhir zaman Tersier dan awal zaman Quartair. Zaman ini berlangsung sekitar 600.000
tahun yang lalu. Zaman ini merupakan zaman yang sangat penting karena terkait dengan
munculnya Kehidupan baru, yakni munculnya jenis manusia purba. Zaman ini dikatakan
zaman batu tua karena hasil kebudayaan terbuat dari batu yang relatif masih sederhana
dan kasar. Kebudayaan zaman Paleolitikum ini secara umum ini terbagi menjadi
Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.
a. Kebudayaan Pacitan

Kebudayaan ini berkembang di daerah Pacitan, Jawa Timur. Beberapa alat dari
batu ditemukan di daerah ini. Seorang ahli, von Koeningwald dalam penelitiannya
pada tahun 1935 telah menemukan beberapa hasil teknologi bebatuan atau alat-alat
dari batu di Sungai Baksoka dekat Punung. Alat batu itu masih kasar, dan bentuk
ujungnya agak runcing, tergantung kegunaannya. Alat batu ini sering disebut dengan
kapak genggam atau kapak perimbas. Kapak ini digunakan untuk menusuk binatang
atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian. Di samping kapak perimbas, di

8

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Pacitan juga ditemukan alat batu yang disebut dengan chopper sebagai alat penetak.
Di Pacitan juga ditemukan alat-alat serpih.

Sumber : https://ruangguru.co/kebudayaan-pacitan/

Gambar 1.2 (Hasil Kebudayaan Pacitan)
Alat-alat itu oleh Koeningswald digolongkan sebagai alatalat “paleolitik”, yang
bercorak “Chellean”, yakni suatu tradisi yang berkembang pada tingkat awal
paleolitik di Eropa. Pendapat Koeningswald ini kemudian dianggap kurang tepat
setelah Movius berhasil menyatakan temuan di Punung itu sebagai salah satu corak
perkembangan kapak perimbas di Asia Timur. Tradisi kapak perimbas yang
ditemukan di Punung itu kemudian dikenal dengan nama “Budaya Pacitan”. Budaya
itu dikenal sebagai tingkat perkembangan budaya batu awal di Indonesia.
Kapak perimbas itu tersebar di wilayah Sumatera Selatan,Kalimantan Timur,
Sulawesi Selatan, Bali, Flores, dan Timor. Daerah Punung merupakan daerah yang
terkaya akan kapak perimbas dan hingga saat ini merupakan tempat penemuan
terpenting di Indonesia. Pendapat para ahli condong kepada jenis manusia
Pithecanthropus atau keturunan-keturunannya sebagai pencipta budaya Pacitan.
Pendapat ini sesuai dengan pendapat tentang umur budaya Pacitan yang diduga dari
tingkat akhir Plestosin Tengah atau awal permulaan Plestosin Akhir.

b. Kebudayaan Ngandong 9
Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Kebudayaan Ngandong berkembang di daerah Ngandong dan juga Sidorejo, dekat
Ngawi. Di daerah ini banyak ditemukan alat-alat dari batu dan juga alat-alat dari
tulang. Alat-alat dari tulang ini berasal dari tulang binatang dan tanduk rusa yang
diperkirakan digunakan sebagai penusuk atau belati. Selain itu, ditemukan juga alat-
alat seperti tombak yang bergerigi. Di Sangiran juga ditemukan alat-alat dari batu,
bentuknya indah seperti kalsedon. Alat alat ini sering disebut dengan flake.

Sebaran artefak dan peralatan paleolitik cukup luas sejak dari daerah-daerah di
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara
Timur (NTT), dan Halmahera.

Sumber : http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/alat-zaman-paleolitikum.html

Gambar 1.3 (Hasil Kebudayaan Ngandong yaitu Alat dari tulang dan Flake)

2. Antara Pantai dan Gua
Zaman batu terus berkembang memasuki zaman batu madya atau batu tengah

yang dikenal zaman Mesolitikum. Hasil kebudayaan batu madya ini sudah lebih maju
apabila dibandingkan hasil kebudayaan zaman Paleolitikum (batu tua). Sekalipun
demikian, bentuk dan hasil-hasil kebudayaan zaman Paleolitikum tidak serta merta punah
tetapi mengalami penyempurnaan. Bentuk flake dan alat-alat dari tulang terus mengalami
perkembangan. Secara garis besar kebudayaan Mesolitikum ini terbagi menjadi dua
kelompok besar yang ditandai lingkungan tempat tinggal, yakni di pantai dan gua.

10

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Sumber : https://gambarkitan.blogspot.com/2020/03/27-lukisan-dinding-gua-merupakan-hasil.html

Gambar 1.4 (Hasil Kebudayaan Mesolitikum di gua)

a. Kebudayaan Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger istilah dari bahasa Denmark, kjokken berarti dapur dan

modding dapat diartikan sampah (kjokkenmoddinger=sampah dapur). Dalam
kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan tumpukan
timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai
SumatramTimur antara Langsa di Aceh sampai Medan.

Dengan kjokkenmoddinger ini dapat memberi informasi bahwa manusia purba
zaman Mesolitikum umumnya bertempat tinggal di tepi pantai. Pada tahun 1925 Von
Stein Callenfals melakukan penelitian di bukit kerang itu dan menemukan jenis kapak
genggam (chopper) yang berbeda dari chopper yang ada di zaman Paleolitikum,
Kapak genggam yang ditemukan di bukit kerang di pantai Sumatra Timur ini diberi
nama pebble atau lebih dikenal dengan Kapak Sumatra. Kapak jenis pebble ini
terbuat dari batu kali yang pecah, sisi luarnya dibiarkan begitu saja dan sisi bagian
dalam dikerjakan sesuai dengan keperluannya. Di samping kapak jenis pebble juga
ditemukan jenis kapak pendek dan jenis batu pipisan (batu-batu alat penggiling). Di
Jawa batu pipisan ini umumnya untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.

11

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

b. Kebudayaan Abris Sous Roche
Kebudayaan abris sous roche merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di

gua-gua. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia purba pendukung kebudayaan ini
tinggal di gua-gua. Kebudayaan ini pertama kali dilakukan penelitian oleh Von Stein
Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo. Penelitian dilakukan tahun 1928
sampai 1931. Beberapa hasil teknologi bebatuan yang ditemukan misalnya ujung
panah, flakke, batu penggilingan. Juga ditemukan alat-alat dari tulang dan tanduk
rusa. Kebudayaan abris sous roche ini banyak ditemukan misalnya di Besuki,
Bojonegoro, juga di daerah Sulawesi Selatan seperti di Lamoncong.
3. Mengenal Api

Bagi manusia purba, proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat
penting. Berdasarkan data arkeologi, penemuan api kira-kira terjadi pada 400.000 tahun
yang lalu. Penemuan pada periode manusia Homo erectus. Api digunakan untuk
menghangatkan diri dari cuaca dingin. Dengan api Kehidupan menjadi lebih bervariasi
dan berbagai kemajuan akan dicapai. Teknologi api dapat dimanfaatkan manusia untuk
berbagai hal. Di samping itu penemuan api juga memperkenalkan manusia pada
teknologi memasak makanan, yaitu memasak dengan cara membakar dan menggunakan
bumbu dengan ramuan tertentu. Manusia juga menggunakan api sebagai senjata. Api
pada saat itu digunakan manusia untuk menghalau binatang buas yang menyerangnya.
Api dapat juga dijadikan sumber penerangan. Melalui pembakaran pula manusia dapat
menaklukkan alam, seperti membuka lahan untuk garapan dengan cara membakar hutan.
Kebiasaan bertani dengan menebang lalu bakar (slash and burn) adalah kebiasaan kuno
yang tetap berkembang sampai sekarang.

Pada awalnya pembuatan api dilakukan dengan cara membenturkan dan
menggosokkan benda halus yang mudah terbakar dengan benda padat lain. Sebuah batu
yang keras, misalnya batu api, jika dibenturkan ke batuan keras lainnya akan
menghasilkan percikan api. Percikan tersebut kemudian ditangkap dengan dedaunan
kering, lumut atau material lain yang kering hingga menimbulkan api. Pembuatan api
juga dapat dilakukan dengan menggosok suatu benda terhadap benda lainnya, baik secara
berputar, berulang, atau bolak-balik. Sepotong kayu keras misalnya, jika digosokkan pada
kayu lainnya akan menghasilkan panas karena gesekan itu kemudian menimbulkan api.

12

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Penelitian-penelitian arkeologi di Indonesia sejauh ini belum menemukan sisa
pembakaran dari periode ini. Namun bukan berarti manusia purba di kala itu belum
mengenal api. Sisa api yang tertua ditemukan di Chesowanja, Tanzania, dari sekitar 1,4
juta tahun lalu, yaitu berupa tanah liat kemerahan bersama dengan sisa tulang binatang.
Akan tetapi belum dapat dipastikan apakah manusia purba membuat api atau
mengambilnya dari sumber api alam (kilat, aktivitas vulkanik, dll). Hal yang sama juga
ditemukan di China (Yuanmao, Xihoudu, Lantian), di mana sisa api berusia sekitar 1 juta
tahun lalu. Namun belum dapat dipastikan apakah itu api alam atau buatan manusia.
Teka-teki ini masih belum dapat terpecahkan, sehingga belum dipastikan apakah bekas
tungku api di Tanzania dan Cina itu merupakan hasil buatan manusia atau pengambilan
dari sumber api alam.
4. Sebuah Revolusi5

Perkembangan zaman batu yang dapat dikatakan paling penting dalam Kehidupan
manusia adalah zaman batu baru atau neolitikum. Pada zaman neolitikum yang juga
dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi “revolusi
kebudayaan”, yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering
digantikan dengan pola food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan jenis
pendukung kebudayannya. Pada zaman ini telah hidup jenis Homo sapiens sebagai
pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan
beternak sebagai proses untuk menghasilkan atau memproduksi bahan makanan. Hidup
bermasyarakat dengan bergotong royong mulai dikembangkan. Hasil kebudayaan yang
terkenal di zaman neolitikum ini secara garis besar dibagi menjadi dua tahap
perkembangan.
a. Kebudayaan Kapak Persegi

Nama kapak persegi berasal dari penyebutan oleh von Heine Geldern. Penamaan
ini dikaitkan dengan bentuk alat tersebut. Kapak persegi ini berbentuk persegi
panjang dan ada juga yang berbentuk trapesium. Ukuran alat ini juga bermacam-
macam. Kapak persegi yang besar sering disebut dengan beliung atau pacul
(cangkul), bahkan sudah ada yang diberi tangkai sehingga persis seperti cangkul
zaman sekarang. Sementara yang berukuran kecil dinamakan tarah atau tatah.
Penyebaran alat-alat ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian barat, seperti

13

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Sumatra, Jawa dan Bali. Diperkirakan sentrasentra teknologi kapak persegi ini ada di
Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya (Jawa Barat), kemudian Pacitan-
Madiun, dan di Lereng Gunung Ijen (Jawa Timur). Yang menarik, di Desa Pasirkuda
dekat Bogor juga ditemukan batu asahan. Kapak persegi ini cocok sebagai alat
pertanian.

Sumber : https://www.jurnalponsel.com/kapak-persegi/

Gambar 1.5 (Hasil Kebudayaan Kapak Persegi)

b. Kebudayaan Kapak Lonjong
Nama kapak lonjong ini disesuaikan dengan bentuk penampang alat ini yang

berbentuk lonjong. Bentuk keseluruhan alat ini lonjong seperti bulat telur. Pada ujung
yang lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah sehingga
tajam. Kapak yang ukuran besar sering disebut walzenbeil dan yang kecil dinamakan
kleinbeil. Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian
timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa.

Pada zaman Neolitikum, di samping berkembangnya jenis kapak batu juga
ditemukan barang-barang perhiasan, seperti gelang dari batu, juga alat-alat gerabah
atau tembikar.

Perlu kamu ketahui bahwa manusia purba waktu itu sudah memiliki pengetahuan
tentang kualitas bebatuan untuk peralatan. Penemuan dari berbagai situs
menunjukkan bahan yang paling sering dipergunakan adalah jenis batuan kersikan

14

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

(silicified stones), seperti gamping kersikan, tufa kersikan, kalsedon, dan jasper.
Jenis-jenis batuan ini di samping keras, sifatnya yang retas dengan pecahan yang
cenderung tajam dan tipis, sehingga memudahkan pengerjaan. Di beberapa situs yang
mengandung fosil-fosil kayu, seperti di Kali Baksoka (Jawa Timur) dan Kali Ogan
(Sumatra Selatan) tampak ada upaya pemanfaatan fosil untuk bahan peralatan. Pada
saat lingkungan tidak menyediakan bahan yang baik, ada kecenderungan untuk
memanfaatkan batuan yang tersedia di sekitar hunian, walaupun kualitasnya kurang
baik. Contoh semacam ini dapat diamati pada situs Kedunggamping di sebelah timur
Pacitan, Cibaganjing di Cilacap, dan Kali Kering di Sumba yang pada umumnya
menggunakan bahan andesit untuk peralatan.

Sumber : http://abbeart.blogspot.com/2016/08/zaman-batu-sejarah-seni-rupa.html

Gambar 1.6 (Hasil kebudayaan kapak lonjong)

c. Perkembangan Zaman Logam
Mengakhiri zaman batu masa Neolitikum maka dimulailah zaman logam. Sebagai

bentuk masa perundagian. Zaman logam di Kepulauan Indonesia ini agak berbeda
bila dibandingkan dengan yang ada di Eropa. Di Eropa zaman logam ini mengalami
tiga fase, zaman tembaga, perunggu dan besi. Di Kepulauan Indonesia hanya
mengalami zaman perunggu dan besi. Zaman perunggu merupakan fase yang sangat
penting dalam sejarah. Beberapa contoh bendabenda kebudayaan perunggu itu antara

15

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

lain: kapak corong, nekara, moko, berbagai barang perhiasan. Beberapa benda hasil
kebudayaan zaman logam ini juga terkait dengan praktik keagamaan misalnya nekara.

Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/445/

Gambar 1.7 (Hasil kebudayaan pada zaman logam yaitu nekara)
5. Konsep Ruang pada Hunian (Arsitektur)

Menurut Kostof, arsitektur telah mulai ada pada saat manusia mampu mengolah
lingkungan hidupnya. Pembuatan tanda-tanda di alam yang membentang tak terhingga itu
untuk membedakan dengan wilayah lainnya. Tindakan untuk membuat tanda pada suatu
tempat itu dapat dikatakan sebagai bentuk awal dari arsitektur. Pada saat itu manusia
sudah mulai merancang sebuat tempat.

Bentuk arsitektur pada masa pra-aksara dapat dilihat dari tempat hunian manusia
pada saat itu. Mungkin kita sulit membayangkan atau menyimpulkan bentuk rumah dan
bangunan yang berkembang pada masa pra-aksara saat itu. Dari pola mata pencaharian
manusia yang sudah mengenal berburu dan melakukan pertanian sederhana dengan
ladang berpindah memungkinkan adanya pola pemukiman yang telah menetap. Gambar-
gambar dinding goa tidak hanya mencerminkan kehidupan sehari hari, tetapi juga
kehidupan spiritual6. Cap-cap tangan dan lukisan di goa yang banyak ditemukan di
Papua, Maluku, dan Sulawesi Selatan dikaitkan dengan ritual penghormatan atau
pemujaan nenek moyang, kesuburan, dan inisiasi. Gambar dinding yang tertera pada goa-
goa mengambarkan pada jenis binatang yang diburu atau binatang yang digunakan untuk

16

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

membantu dalam perburuan. Anjing adalah binatang yang digunakan oleh manusia pra-
aksara untuk berburu binatang.
Bentuk pola hunian dengan menggunakan penadah angin, menghasilkan pola menetap
pada manusia masa itu. Pola hunian itu sampai saat ini masih digunakan oleh Suku
Bangsa Punan yang tersebar di Kalimantan. Bentuk hunian itu merupakan bagian bentuk
awal arsitektur di luar tempat hunian di goa. Secara sederhana penadah angin merupakan
suatu konsep tata ruangan yang memberikan secara implisit memberikan batas ruang.
Pada kehidupan dengan masyarakat berburu yang masih sangat tergantung pada alam,
mereka lebih mengikut ritme dan bentuk geografis alam. Dengan demikian konsep ruang
mereka masih kurang bersifat geometris teratur. Pola garis lengkung tak teratur seperti
aliran sungai, dan pola spiral seperti route yang ditempuh mungkin adalah citra pola
ruang utama mereka. Ruang demikian belum mengutamakan arah utama. Secara
sederhana dapatlah kita lihat bahwa, pada masa praaksara konsep tata ruang, atau yang
saat ini kita kenal dengan arsitektur itu sudah mereka kenal.

Penugasan Unit 1

Buatlah kelompok kecil sebnayak 4-5 orng dengan teman sekelasmu dan tuliskan
macam-macam kebudayaan pada masa praaksara beserta contohnya di sebuah
karton. Buatlah tulisan yang menraik dengan melampirkan foto serta berikan
warna-warna yang menaraik

17

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Latihan Soal Unit 1

Pilihlah jawaban di bawah ini dengan benar berikan tanda (x) pada jawaban yang
benar !

1. Zaman praaksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal….
a. Tulisan
b. Batu
c. Binatang
d. Arsitektur

2. Peralatan yang pertama kali digunakan oleh manusia untuk menjalankan Kehidupan adalah
alat-alat yang terbuat dari…
a. Tanah
b. Batu
c. Kayu
d. Tulang

3. Zaman batu di Indonesia terbagi menjadi 3 periode di bawah ini, kecuali…
a. Zaman Ngandong
b. Zaman Megalitikum
c. Zaman Neolitikum
d. Zaman Paleolitikum

4. Kebudayaan yang hasil nya ditemukan di gua-gua adalah kebudayaan…
a. Kebudayaan Kapak Lonjong
b. Kebudayaan Kapak Persegi
c. Kebudayaan Abris Sous Roche
d. Kebudayaan Pacitan

5. Sebuah kapak yang nama penyebutan nya berasal dari von Heine Geldern adalah kapak …
a. Persegi
b. Lonjong
c. Bulat
d. Pipih

6. Di bawah ini yang termasuk hasil kebudayaan pada zaman logam adalah…
a. Kapak lonjong
b. Kapak persegi
c. Nekara
d. Kerang

18

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

7. Kjjoken berarti dapur dan modding berarti sampah, dengan istilah kjokkenmoddinger berasal
dari bahasa ….
a. Jepang
b. Latin
c. Jepang
d. Denmark

8. Berdasarkan data aerkologi, penemuan api kira-kir terjdi pada ….. tahun yang lalu
a. 200.000
b. 1.000.000
c. 350.000
d. 400.000

9. Kebudayaan ngandong berkembang di daerah ngandong dan juga daerah ….
a. Solo
b. Aceh
c. Kalimantan
d. Sidorejo

10. Zaman batu terus berkembang memasuki zaman madya atau zaman batu tengah yang dikenal
dengan zaman…
a. Zaman Ngandong
b. Zaman Mesolitikum
c. Zaman Neolitikum
d. Zaman Paleolitikum

Kerjakan soal-soal di bawah ini, dan berikan jawaban yang benar
1. Apa yang dimaksud dengan zaman praaksara? Serta berikan penjelasan nya!
2. Pada zaman batu terdapat masa antara batu dan tulang, terdapat dua kebudayaan pada masa

ini, sebutkan serta jelaskan dua kebudayaan ini !
3. Berikan penjelasan mengenai kebudayaan abris sous roche beserta contoh nya !
4. Bagaimana perkembangan manusia pada awal mengenal api ? berikan penjelasan nya !
5. Berikan penjelasan mengenai konsep hunian pada masa praaksara !

19

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Unit 2 : Pola Kehidupan Masyarakat Praaksara

Masyarakat pra aksara adalah gambaran tentang Kehidupan manusia-manusia pada masa

lampau, di mana mereka belum mengenal tulisan sebagai cirinya. Kehidupan masyarakat

praaksara dapat dibagi dalam beberapa tahap, yaitu: (1) Kehidupan nomaden, (2) kehidupan semi

nomaden, dan (3) kehidupan menetap.Meskipun demikian, pola kehidupan masyarakat pra

aksara tidakdapat dijadikan dasar pembagian zaman. Oleh karena itu, apabila dikaitkan dengan

pembagian zaman, maka masyarakat pra aksara hidup pada zaman batu dan zaman logam.

Secara garis besar, pembagian zaman pra aksara dapat dibedakansebagai berikut :

Tabel 2.1 Pembagian zaman pada masa praaksara

No Zaman Waktu Manusia/Kebudayaan

1 Paleolitikum 450 000 – 350 000 Pitecanthropus Mojokertensis

Bawah 80.000 – 35.000 Meganthropus Paleojavanicus

Tengah 3.500 – 1.500 Pitecanthropus Erectus/

Atas Homo Erectus

Homo Wajakensis

Homo Soloensis

Hasil kebudayaan dari batu yang

masih kasar

2 Mesolitikum 8.000 – 4.500 Austronesia, Melanesia
6.500 – 2.000 Pabble, Bascon Hoabins

Wedda, Negrito

3 Neolitikum 4.500 – 2.500 Blade, Toale
Proto Melayu

Kapak persegi, Kapak lonjong

4 Megalitikum Austronesia, Melanesia, Proto

Melayu, Deutro Melayu.

Menhir, Bangunan Berundak, Tugu

20

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

5 Logam 2.500 – 2.000 Deutro Melayu
Kapak corong, Nekara, dan Bejana
Perunggu - perunggu

Tembaga -

Besi -

Pembagian zaman praaksara di atas, dapat dijadikan dasar dalam menentukan asal-usul
nenek moyang bangsa Indonesia.Dengan demikian, kalian dapat belajar berpikir kritis.
Misalnya,untuk mendukung pendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesiaadalah bangsa
Melayu, kalian harus memiliki argumen yang kuat,logis, dan objektif.Terlepas dari mana asal-
usul nenek moyang bangsa Indonesiadan kapan mereka mulai tinggal di wilayah Indonesia, kita
haruspercaya bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah ribuan tahunsebelum masehi telah
hidup di wilayah Indonesia. Kehidupanmereka mengalami perkembangan yang teratur seperti
bangsa bangsa di belahan dunia lain. Tahapan perkembangan Kehidupan masyarakat praaksara
di Indonesia adalah sebagai berikut :

A. Pola Kehidupan Nomaden
Nomaden artinya berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Kehidupan

masyarakat pra aksara sangatbergantung kepada alam. Bahkan, kehidupan mereka tak
ubahnya seperti kelompok hewan karena bergantung pada apa yang disediakan alam. Apa
yang mereka makan adalah bahan makanan apa yang disediakan alam. Buah-buahan, umbi-
umbian, atau dedaunan yang mereka makan tinggal memetikdari pepohonan atau menggali
dari tanah. Mereka tidak pernahmenanam atau mengolah pertanian.

Apabila mereka ingin makan ikan, maka mereka tinggalmenangkap ikan di sungai,
waduk, atau tempat-tempat lain, dimana ikan dapat hidup. Apabila mereka ingin makan
daging,maka mereka tinggal berburu untuk menangkap binatangburuannya. Adapun cara
menangkap ikan atau binatangburuannya, tentu berbeda dengan yang kita lakukan
sekarang.Mereka tidak pernah memelihara ikan atau binatang ternaklainnya.

Berdasarkan pola kehidupan nomaden tersebut, makamasa kehidupan masyarakat pra
aksara sering disebut sebagai„masa mengumpulkan bahan makanan dan berburu‟. Jika
bahanmakanan yang akan dikumpulkan telah habis, mereka kemudianberpindah ke tempat
lain yang banyak menyediakan bahanmakanan. Di samping itu, tujuan perpindahan mereka
adalahuntuk menangkap binatang buruannya. Kehidupan semacam ituberlangsung dalam

21

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

waktu yang lama dan berlangsung secaraterus menerus. Oleh karena itu, mereka tidak pernah
memikirkanrumah sebagai tempat tinggal yang tetap.

Mereka tinggal di alam terbuka seperti hutan, di bawahpohon, di tepi sungai, di gunung,
di gua, dan di lembah-lembah.Pada waktu itu, lingkungan alam belum stabil dan masih liar
atauganas. Oleh karena itu, setiap orang harus berhati-hati terhadapsetiap ancaman yang
dapat muncul secara tiba-tiba. Ancamanyang paling membahayakan adalah binatang buas.
merupakanmusuh utama manusia dalam hidup dan kehidupannya.

Berkaitan dengan kehidupan yang kurang aman, maka untukmenuju ke suatu tempat,
mereka biasanya mereka mem memilih jalan dengan menelusuri sungai. Perjalanan melalui
sungaidipandang lebih mudah dan aman dari pada melalui daratan(hutan) yang sangat
berbahaya. Sesuai dengan kebutuhan dantantangan yang dihadapi, akhirnya timbul pemikiran
untukmembuat rakit-rakit sebagai alat transportasi. Bahkan dalamperkembangannya,
masyarakat pra aksara mampu membuatperahu sebagai sarana transportasi melalui sungai.

Pada masa nomaden, masyarakat pra aksara telah mengenalkehidupan berkelompok.
Jumlah anggota dari setiap kelompoksekitar 10-15 orang. Bahkan, untuk mempermudah
hidup dan kehidupannya, mereka telah mampu membuat alat-alatperlengkapan dari batu dan
kayu, meskipun bentuknya masihsangat kasar dan sederhana. Ciri-ciri kehidupan
masyarakatnomaden adalah sebagai berikut:
a. selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain,
b. sangat bergantung pada alam,
c. hidup dari hasil mengumpulkan bahan makanan danberburu,
d. belum memiliki tempat tinggal yang tetap,
e. peralatan hidup masih sangat sederhana dan terbuat daribatu atau kayu.

Lama kelamaan, masyarakat pra aksara menyadari bahwa makanan yang disediakan oleh
alam sangat terbatas dan akhirnya akan habis. Oleh karena itu, cara hidup yang
sangatbergantung pada alam harus diperbaiki. Caranya adalah denganmenanami lahan-lahan
yang akan ditinggalkan agar dapat menyediakan bahan makanan yang lebih banyak pada
waktu yang akan datang. Di samping itu, para wanita dan anak kecil tidak harus selalu ikut
berpindah untuk mengumpulkan bahan makanan atau berburu binatang.

22

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

B. Pola Kehidupan Semi Nomaden
Terbatasnya, kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhanhidup masyarakat menuntut

setiap manusia untuk merubahpola kehidupannya. Oleh karena itu, masyarakat pra
aksaramulai merubah pola hidup secara nomaden menjadi seminomaden. Kehidupan semi
nomaden adalah pola kehidupanyang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang
lain,tetapi sudah disertai dengan kehidupan menetap sementara.Hal ini berkaitan dengan
kenyataan bahwa mereka sudah mulaimengenal cara-cara mengolah bahan makanan.

Pola kehidupan semi nomaden ditandai dengan ciri-cirisebagai berikut:
a. mereka masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempatlain
b. mereka masih bergantung pada alam
c. mereka mulai mengenal cara-cara mengolah bahanmakanan
d. mereka telah memiliki tempat tinggal sementara
e. di samping mengumpulkan bahan makanan dan berburu,mereka mulai menanam berbagai

jenis tanaman
f. sebelum meninggalkan suatu tempat untuk berpindah ketempat lain, mereka terlebih

dahulu menanam berbagai jenistanaman dan mereka akan kembali ke tempat itu,
ketikamusin panen tiba
g. peralatan hidup mereka sudah lebih baik dibandingkandengan peralatan hidup
masyarakat nomaden
h. di samping terbuat dari batu dan kayu, peralatan itu jugaterbuat dari tulang sehingga lebih
tajam.
Kehidupan sosial, masyarakat semi nomaden setingkat lebih baik dari pada masyarakat
nomaden. Jumlah anggota kelompok semakin bertambah besar dan tidak hanya terbatas pada
keluarga tertentu. Kenyataan ini menunjukkan bahwarasa kebersamaan di antara mereka
mulai dikembangkan.Rasa kebersamaan ini sangat penting dalam mengembangkan
kehidupan yang harmonis, tenang, aman, tentram, dan damai.Nilai-nilai kehidupan, seperti
gotong royong, saling membantu,saling mencintai sesama manusia, saling menghargai dan
mengjormati telah berkembang pada masyarakat pra aksara.
Pada zaman ini, masyarakat diperkirakan telah memelihara anjing. Pada waktu itu, anjing
merupakan binatang yang dapatmembantu manusia dalam berburu binatang. Di Sulawesi
Selatan, di dalam sebuah goa ditemukan sisa-sisa gigi anjing oleh Sarasin bersaudara.

23

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

C. Pola Kehidupan Menetap
Kehidupan masyarakat pra aksara terus berkembang sesuaidengan kebutuhan dan

tuntutan masyarakatnya. Ternyata, polakehidupan semi nomaden tidak menguntungkan
karena setiapmanusia masih harus berpindah dari satu tempat ke tempat yanglain. Di
samping itu, setiap orang harus membangun tempat tinggal, meskipun hanya untuk
sementara waktu. Dengan demikian, pola kehidupan semi nomaden dapat dikatakan kurang
efektif dan efsien. Oleh karena itu, muncul gagasan untuk mengembangkan pola kehidupan
yang menetap. Itulah,konsep dasar yang mendasari perkembangan Kehidupan masyarakat
praaksara.

Pola kehidupan menetap memiliki beberapa keuntungan atau kelebihan, di antaranya :
a. setiap keluarga dapat membangunan tempat tinggal yanglebih baik untuk waktu yang

lebih lama
b. setiap orang dapat menghemat tenaga karena tidak harusmembawa peralatan hidup dari

satu tempat ke tempatlain
c. para wanita dan anak-anak dapat tinggal lebih lama di rumahdan tidak akan merepotkan
d. wanita dan anak-anak sangat merepotkan, apabila merekaharus berpindah dari satu

tempat ke tempat lain
e. mereka dapat menyimpan sisa-sisa makanan dengan lebihbaik dan aman
f. mereka dapat memelihara ternak sehingga mempermudahpemenuhan kebutuhan,

terutama apabila cuaca sedang tidakbaik
g. mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk berkumpuldengan keluarga, sekaligus

menghasilkan kebudayaan yangbermanfaat bagi hidup dan kehidupannya
h. mereka mulai mengenal sistem astronomi untuk kepentinganbercocok tanam
i. mereka mulai mengenal sistem kepercayaan.

Dilihat dari aspek geografis, masyarakat pra aksara cenderung untuk hidup di daerah
lembah atau sekitar sungaidari pada di daerah pegunungan. Kecenderungan itu
didasarkanpada beberapa kenyataan, seperti:
a. memiliki struktur tanah yang lebih subur dan sangatmenguntungkan bagi kepentingan

bercocok tanam
b. memiliki sumber air yang baik sebagai salah satu kebutuhanhidup manusia
c. lebih mudah dijangkau dan memiliki akses ke daerah lainyang lebih mudah;

24

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Penugasan Unit 2

Buatlah kelompok bersama temanmu2 sebanyak 2 orang lalu lakukan diskusi

bersama untuk membahas Pembagian zaman pada masa praaksara, lalu
tuliskan di kertas terait pembagian zaman pada masa praaksara beserta hasil
kebudayaan dan jenis manusia yang ada pada zaman tersebut, lalu kumpulkan
tugas tersebut kepada gurumu.

25

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Latihan Soal Unit 2

Pilihlah jawaban di bawah ini dengan benar berikan tanda (x) pada jawaban yang
benar !

1. Pola Kehidupan yang berpindah –pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dinamakan pola
Kehidupan ….
a. Nomaden
b. Semi nomaden
c. Ngandong
d. Neolitikum

2. Jumlah anggota kelompok pada pola Kehidupan nomaden berkisar antara ….
a. 10-15 orang
b. 5-10 orang
c. 15-20 orang
d. 20-30 orang

3. Di bawah ini termasuk dalam ciri-ciri Kehidupan semi nomaden, kecuali….
a. Merasa masih bergantung pada alam
b. Mereka mulai mengenal cara-cara mengolah makanan
c. Mereka telah memiliki tempat tinggal sementara
d. Belum memiliki tempat tinggal yang tetap

4. Di bawah ini yang termasuk jenis manusia pada zaman mesolitikum adalah…..
a. Wedda
b. Pitechanthropus
c. Homo erectus
d. Homo soloensis

5. Di bawah ini yang termasuk jenis manusia pada zaman neolithikum adalah…..
a. Wedda

26

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

b. Pitechanthropus
c. Proto Melayu
d. Homo soloensis
6. Di bawah ini yang termasuk jenis manusia pada zaman logam adalah…..
a. Homo Sapiens
b. Pitechanthropus
c. Proto Melayu
d. Deutro Melayu

7. Dibawah ini merupakan tahapan pola kehidupan masyrakat praaksara, kecuali….
a. Menetap
b. Nomaden
c. Semi Nomaden
d. Megalithikum

8. Di bawah ini merupakan peralatan yang dihasilkan pada zaman logam, kecuali ….
a. Toale
b. Kapak corong
c. Perunggu
d. Nekara

9. Ancaman yang paling berbahaya pada masa Kehidupan nomaden adalah ….
a. Bencana alam
b. Teman kelompok
c. Binatang buas
d. Lingkungan

27

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

10. Kehidupan menetap terjadi karena adnya konsep bahwa pola Kehidupan sebelumnya kurang
menguntungkan. Pola Kehidupan yang dimaksud adalah …
a. Nomaden
b. Semi nomaden
c. Neolithikum
d. Logam

Kerjakan soal-soal di bawah ini, dan berikan jawaban yang benar
1. Sebutkan ciri-ciri dari pola Kehidupan masyarakat nomaden!
2. Sebutkan ciri-ciri dari pola Kehidupan semi nomaden !
3. Sebutkan ciri-ciri dari pola Kehidupan menetap !
4. Dilihat dari aspek geografis, masyarkat praaksara cenderung untuk hidup di daerah lembah

atau sekitar sungai dari pada pegunungan. Kecenderungan tersebut disebabkan oleh bebrapa
hal. Sebutkan serta jelaskan kecenderungan tersebut !
5. Kehidupan masyarakat praaksara dibagi dalam bebrapa tahapan. Sebutkan serta jelaskan
tahapan-tahapan tersebut !

28

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Unit 3 : Sistem Kepercayaan Masyarakat
Praaksara

Untuk menyebut suatu agama yang sering dianut oleh suku-suku bangsa, seperti di
Indonesia biasanya menggunakan istilah kepercayaan asli. Dalam kehidupan keagamaan di
Indonesia, kepercayaan asli sering disebut “agama asli”, “agama suku”, atau “religi”. Pada
tiap-tiap suku bangsa, kepercayaan asli itu berkembang bebas dan berdiri sendiri.

Munculnya suatu kepercayaan biasanya dilatarbelakangi oleh kesadaran adanya jiwa
yang bersifat abstrak. Di dalam pikiran manusia jiwa itu ditransformasikan menjadi makhluk-
makhluk halus atau roh halus. Mereka percaya bahwa makhluk-makhluk itu berada di
sekeliling tempat tinggal manusia. Dalam kehidupan manusia, makhluk halus itu mendapat
perlakuan istimewa dan tempat yang sangat penting yang kemudian dijadikan objek-objek
pemujaan. Sementara itu, suatu kepercayaan dapat juga muncul karena getaran jiwa atau
emosi, yang muncul karena kekaguman manusia terhadap hal-hal yang luar biasa. Kekuatan
itu tidak dapat diterangkan oleh akal, dan berada di atas kekuatan manusia. Kekuatan itu
dikenal dengan kekuatan adikodrati.

Dengan adanya jiwa dan kekuatan adikodrati itu, manusia perlu melakukan tindakan-
tindakan berupa upacara-upacara atau ritus. Tindakan-tindakan itu dimaksudkan sebagai
upaya untuk mengatasi hal-hal yang tidak dapat diselesaikan oleh naluri atau akalnya.

Kepercayaan manusia tidak terbatas pada dirinya saja. Akan tetapi juga pada benda-
benda dan tumbuh tumbuhan yang berada di sekelilingnya. Dari keyakinan itu kemudian
menyadari bahwa makhluk halusatau roh itu memiliki wujud nyata dan sifat yang mendua,
yakni sifat baik dan sifat jahat. Dalam perkembangan berikutnya, keyakinan itu mendasari
munculnya tokoh-tokoh dewa yang mempunyai sifat mendua, sifat yang membawa kebaikan
dan sifat yang mendatangkan kejahatan.

Kalau kita perhatikan lukisan-lukisan yang terdapat pada dinding-dinding goa pada masa
ketika manusia mulai bertempat tinggal di goa-goa, ternyata lukisan-lukisan itu tidak hanya
mempunyai nilai estetika, tetapi juga mengandung makna etika dan magis. Beberapa ahli

29

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

menyimpulkan bahwa cap-cap tangan dengan latar belakang cat merah memiliki arti

kekuatan atau simbol kekuatan pelindung dari roh-roh jahat. Beberapa lukisan yang terdapat

di Irian Jaya mempunyai kaitan dengan upacara penghormatan nenek moyang, meminta

hujan dan kesuburan, serta untuk memperingati suatu peristiwa yang teramat penting.

Kepercayaan dalam masyarakat purba sudah tumbuh dan berkembang sejak

dahulu. Salah satu aspek yang dapat dikaitkan dengan kepercayaan adalah berupa

peninggalan-peninggalan megalitik. Kepercayaan pada masyarakat purba

dibedakan menjadi animisme, dinamisme dan totemisme, seperti terlihat pada

tabel di bawah ini:

Tabel 3.1 Jenis-jenis kepercayaan pada masa praaksara

No Jenis Kepercayaan Penjelasan

1 Animisme Kepercayaan manusia purba terhadap roh nenek moyang yang

telah meninggal dunia. Menurut mereka, arwah nenek

moyang selalu memperhatikan mereka dan melindungi, tetapi

akan menghukum mereka juga kalau melakukan hal-hal yang

melanggar adat.

Dengan demikian, orang tua yang mengetahui dan menguasai

adat nenek moyang akan menjadi pemimpin masyarakat.

Penghormatan kepada nenek moyang dilakukan dengan

pimpinan orang tua tersebut, yang diterima oleh masyarakat

sebagai ketua adat.

2 Dinamisme Kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib,

sepertigunung batu, dan api. Bahkan benda-benda buatan

manusia diyakini juga mempunyai kekuatan gaib seperti

patung, keris, tombak, dan jimat.

Sesungguhnya proses pembuatan benda-benda megalitik,

seperti menhir, arca, dolmen, punden berundak, kubur peti

batu, dolmen semu atau pandhusa, dan sarkofagus dilandasi

dengan kayakinan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan

lain. Dilandasi anggapan bahwa menhir atau arca, sebagai

lambing dan takhta persemayaman roh leluhur, kedua jenis

30

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

3 Totenisme peninggalan itu digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap
roh nenek moyang.
Dolmen dan punden berundak digunakan untuk tempat
upacara. Pendirian punden berundak juga berdasarkan atas
arah mata angin yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau
tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya
roh nenek moyang.
Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang
tertentu merupakan nenek moyang suatu masyarakat atau
orang-orang tertentu.
Binatang-binatang yang dianggap sebagai nenek moyang
antara orang yang satu dengan orang atau masyarakat yang
satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Biasanya binatang-
binatang yang dianggap nenek moyang itu, tidak boleh diburu
dan dimakan, kecuali untuk keperluan upacara tertentu.

A. Kepercayaan Pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah percaya

adanya kekuatan-kekuatan gaib, seperti animisme, dinamisme, dan totemisme. Keyakinan
akan adanya dunia arwah terlihat dari arah penempatan kepala mayat yang diarahkan ke
tempat asal atau tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Tempat yang biasanya
diyakini sebagai tempat roh nenek moyang adalah arah matahari terbit atau terbenam dan
tempat-tempat yang tinggi misalnya, gunung dan bukit. Bukti-bukti mengenai hal itu
terlihat dari hasil penggalian kuburan-kuburan kuna di beberapa tempat, seperti Bali dan
Kematian, menunjukkan arah kepala mayat selalu ke arah timur atau barat atau
kepuncak-puncak gunung dan bukit.

Praktik-praktik kepercayaan animisme terlihat dalam upacara penyelenggaraan
upacara-upacara yang berhubungan dengan kematian. Penyelenggaraan upacara kematian
dilandasi dengan kepercayaan bahwa suatu kematian itu pada dasarnya tidak membawa
perubahan dalam kedudukan, keadaan, dan sifat seseorang. Dengan landasan itu,
penguburan mayat selalu disertai dengan bekal-bekal kubur dan wadah mayat yang

31

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

disesuaikan kedudukannya, agar kedudukan si mati dalam alam arwah sama seperti
ketika masih hidup.

Temuan peninggalan sejarah dari masa berburu yang berupa kuburan menurut
pendapat para ahli membuktikan bahwa pada masa itu sudah mempunyai anggapan
tentunya mengenai kematian. Orang menganggap bahwa orang yang telah meninggal itu
pindah ke tempat lain dan masih dapat berhubungan dengan orang masih hidup. Inti
kepercayaan tersebut adalah pemujaan dan perhormatan kepada roh orang yang telah
meninggal, terutama penghormatan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Di dalam gua-gua ditemukan kerangka manusia yang telah dikuburkan. Temuan
semacam ini sangat penting untuk meneliti adat mengubur mayat dengan kepercayaan
yang mereka anut. Para sejarawan berkesimpulan bahwa pada masa itu orang sudah
mempunyai kepercayaan tertentu mengenai kematian.

B. Kepercayaan pada Masa Bercocok Tanam
Pada masa bercocok tanam, kepercayaan manusia purba masih bersifat animisme,

dinamisme, dan totemisme. Namun, sudah lebih meningkat dibandingkan masa
sebelumnya. Pada masa ini dilakukan upacara-upacara penghormatan terhadap roh nenek
moyang. Upacara yang paling mencolok adalah upacara pada waktu penguburan terutama
bagi meraka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat. Orang yang mati biasanya
dibekali dengan bermacam-macam barang yang dipakai sehari-hari seperti periuk,
perhiasan, dan sebagainya yang dikubur bersama-sama. Maksudnya adalah agar roh
orang yang meninggal tidak akan tersesat dalam perjalanan menuju ke tempat arwah
nenek moyang atau asal-usul mereka. Jika tempat yang dianggap sebagai tempat arwah
terlalu jauh atau sukar dicapai, maka orang yang mati cukup dikuburkan di suatu tempat
dengan meletakkan badannya terarah ke sebuah tempat yang dimaksud, yaitu tempat roh.

Pada masa bercocok tanam, orang yang meninggal dunia mendapat penghormatan
khusus. Ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya bendabenda berupa susunan batu
besar dalam berbagai bentuk dan biasanya disebut bangunan megalithikum. Bangunan
megalitik tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Bentuk bangunan yang
bermacam-macam itu mempunyai maksud utama yaitu pemujaan terhadap arwah nenek
moyang. Bangunan yang paling tua mungkin berfungsi sebagai kuburan. Bentuk-bentuk
tempat penguburan dapat berupa: dolmen, peti batu, bilik batu, sarkofagus, kalamba atau

32

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

bejana batu, waruga, batu kandang dan temu gelang. Di tempat-tempat kuburan semacam
itu kadang-kadang ditemukan bangunan batu besar lainnya sebagai pelengkap pemujaan

terhadap roh nenek moyang seperti menhir, patung nenek moyang, batu saji, batu lesung
atau lumpang, batu dakon, punden berundak, pelinggih batu atau jalanan batu. Di

Bondowoso ditemukan dolmen, sarkofagus, menhir, arca megalitik, dan batu kenong. Di
Besuki juga ditemukan dolmen semu dan sarkofagus. Di Bojonegoro dan Tuban

ditemukan peti kubur batu yang oleh penduduk setempat dinamakan kubur kalang. Di
tempat lain di Jawa Tengah juga ditemukan benda-benda megalitik, seperti di Rembang

ditemukan kursi-kursi batu, di Banyumas dan Purbalingga ditemukan punden berundak.

Di Banten dan Bogor (Jawa Barat) juga ditemukan punden berundak sementara di

kuningan ditemukan menhir. Di Pasemah, Sumatera Selatan dan di Sulawesi Tengah juga

ditemukan menhir dan patung nenek moyang. Di Keliki dan Tegalang, Bali, ditemukan

sarkofagus.

Beberapa jenis bentuk kuburan mengalami perkembangan pada fungsinya,

misalnya dolmen mengalami berbagai variasi bentuk, yaitu dibuat untuk pelinggih

roh atau tempat sesaji. Dolmen yang berkembang menjadi pelinggih di antara

masyarakat megalitik yang telah maju digunakan sebagai tempat duduk oleh

kepala-kepala suku atau raja-raja yang masih hidup.
Table 3.1 Jenis –jenis bangunan pada zaman megalitikum

Jenis Bangunan Kegunaan Tempat
No Penemuan

Megalit

1 Dolmen Bangunan ini oleh penduduk setempat disebut Bodowoso,
“makam Cina”. Dolmen dipergunakan Jawa Timur.

sebagai peti mayat. Kecuali sebagai peti

mayat, dolmen juga dipergunakan semacam

meja, tempat untuk meletekkan sesaji.

2 Menhir Menhir adalah tugu dari batu tunggal atau Pasemah,

batu tegak yang didirikan untuk upacara Sumatera
menghormati roh nenek moyang. Menhir ada Selatan

yang berdiri dalam satu kelompok.

3 Kubur peti batu Kubur batu yang berupa peti batu yang terdiri Kuningan,

33

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

dari papanpapan batu yang lepas, yaitu dua Jawa Barat,

sisi panjang, dua sisi lebar, lantai batu, dan Sulawesi tengah

diberi penutup dari batu pula. dan Sulawesi

Berbeda dengan sarkofagus yang terbuat dari Utara

batu utuh menyerupai lesung batu yang diberi

tutup. Sedang kubur batu ini dibuat dari papan

batu yang disusun berbentuk

peti.

4 Sarkofagus Sarkofagus seperti juga dolmen adalah Bali

5 Punden sebagai peti mayat dari batu. Di dalamnya
Berundak
ditemukan tulang-tulang manusia bersama
6 Arca Megalit
dengan bekal kuburnya periuk-periuk, beliung

persegi, perhiasan dari perunggu dan besi.

Di Bali sarkofagus dianggap sebagai benda

keramat. Sarkofagus adalah peti mayat dari

batu (batu padas) berbentuk seperti lesung

yang tertutup. Sarkofagus di Bali pada

umumnya berukuran kecil (antara 80-140 cm)

dan ada pula beberapa yang berukuran besar

yaitu lebih dari 2 meter.

Punden berundak merupakan tempat Lebak, Sibedug,

pemujaan. Biasanya pada punden berundak Dan Banten

ini didirikan menhir. Selatan.

Bangunan megalitik ini merupakan susunan

batu yang berundak undak.

Arca-arca megalitik menggambarkan manusia Sumatera

dan binatang. Binatang-binatang yang Selatan,

digambarkan adalah berupa gajah, kerbau, Lampung,

harimau, dan monyet. Arca-Arca di daerah Jawa Tengah

Sumatera Selatan menurut anggapan Von dan
Heine Geldern bersifat “dinamik” dan Jawa Timur.

34

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

“statik”.
Bahan batu untuk membuat arca dipilih
menurut bentuk-bentuk patung yang akan
dipahat, kemudian bentuk patung yang akan
dipahat disesuaikan dengan bentuk asli
batunya.
Sebagian besar patung yang menggambarkan
manusia berbentuk orang laki-laki dan
kepalanya memakai tutup kepala yang
menyerupai topi baja, matanya bulat,
menonjol dengan dahi yang menjorok, seperti
tampang orang negroid, memakai hiasan
gelang pada tangan dan kalung, serta
membawa pedang pendek yang tampak
menyerupai golok lurus atau belati runcing
dan tergantung pada pinggangnya. Bagian
kaki tertutup oleh pembalut kaki.

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Dolmen

Gambar 3.1 (Dolmen )

35

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Sumber : https://m.lampost.co/berita-teka-teki-pengerjaan-menhir.html

Gambar 3.2 (Menhir)

Sumber : https://www.volimaniak.com/2016/11/pengertian-menhir-dolmen-peti-kubur.html

Gambar 3.3 (Peti Kubur Batu)

36

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Sumber : https://www.volimaniak.com/2016/11/pengertian-menhir-dolmen-peti-kubur.html

Gambar 3.4. (Sarkofagus)

Sumber : https://www.volimaniak.com/2016/11/pengertian-menhir-dolmen-peti-kubur.html

Gambar 3.5 (Punden Berundaak)

37

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Sumber : https://www.volimaniak.com/2016/11/pengertian-menhir-dolmen-peti-kubur.html

Gambar 3.6 (Arca Megalit)
Tradisi mendirikan bagunan-bangunan megalithikum selalu berhubungan dengan
kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang telah mati (mega
berarti besar, lithos berarti batu). Terutama kepercayaan kepada adanya pengaruh yang
kuat dari orang yang telah meninggal terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan
tanaman. Bangunan-bangunan batubesar yang didirikan menjadi medium penghormatan,
tahta kedatangan sekaligus menjadi lambang orang yang meninggal. Bangunan-bangunan
megalithikum tersebar di daerah-daerah Asia Tenggara yang sisa-sisanya dapat
ditemukan di daerah-daerah Laos, Tonkin, Indonesia, Pasifik sampai Polinesia. Tradisi
megalitik yang masih hidup hingga sekarang antara lain terdapat di Assam, Birma (suku
Naga, Khasi dan Ischim) dan beberapa daerah di Indonesia (Nias, Toraja, Flores, dan
Sumba).

C. Kepercayaan pada Masa Perundagian
Kepercayaan pada masa perundagian merupakan kelanjutan kepercayaan pada

masa bercocok tanam. Pada masa perundagian, terdapat kepercayaan bahwa arwah nenek
moyang mempunyai pengaruh besar terhadap perjalanan hidup manusia dan
masyarakatnya. Karena itu, arwah nenek moyang harus selalu diperhatikan dan dipuaskan
melalui upaara-upacara. Benda upacara terbuat dari perunggu. Upacara-upacara
dilakukan sesuai dengan tempat tinggalnya dan intinya sama, yaitu penghormatan atau
pemujaan pada leluhur. Orang memuja ruh nenek moyang untuk meminta perlindungan.

38

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Upacara-upacara tersebut sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat.
Banyaknya peninggalan bangunan untuk pemujaan masa perundagian menunjukkan
bahwa kedudukan kepercayaan masa itu sangat penting.

Pada masa perundagian, manusia purba untuk dapat berhadapan langsung dengan
ruh nenek moyang dibuatkan patung-patung nenek moyang. Pada patung-patung itulah
ruh nenek moyang diam. Cara lain untuk berhadapan dengan ruh nenek moyang ialah
dengan jalan memanggilnya. Orang yang dapat memanggil ruh adalah pada dukun
(saman). Praktek itu disebut samanisme. Ruh nenek moyang disebut juga hyang (eyang).
Hyang-hyang itu bersemayam di tempat-tempat tinggi yang bergunung-gunung.

Penugasan Unit 3

Buatlah kelompok kecil sebanyak 3-4 orang untuk melakukan diskusi terkait
jenis-jenis bangunan pada masa megalitikhum lalu tuliskan penjelasan terkait
bangunan-bangunan tersebut. Kemudian kumpulkan tugas tersebut kepada
gurumu.

39

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

Latihan Soal Unit 3

Pilihlah jawaban di bawah ini dengan benar berikan tanda (x) pada jawaban yang benar !
1. Dalam Kehidupan keagamaan di Indonesia, kepercayaan asli sering disebut dengan istilah

dibwah ini, kecuali….
a. Agama asli
b. Agama suku
c. Religi
d. Agama nenek moyang

2. Di bawah ini merupakan system kepercayaan pada masa praaksara, kecuali …
a. Animisme
b. Dinamisme
c. Totoisme
d. Punden Berundak

3. Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang tertentu merupakan nenek
moyang suatu masyarakat atau orang-orang tertentu adalah kepercayaan….
a. Animisme
b. Dinamisme
c. Totoisme
d. Hindu Budha

4. Kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib, sepertigunung batu, dan
api.Penjelasan tersebut merupakan penjekasan dari kepercayaan …
a. Animisme
b. Dinamisme
c. Totoisme
d. Hindu Budha

40

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

5. Di bawah ini merupakan jenis-jenis bangunan pada masa megalitikhum, kecuali…
a. Sarkofagus
b. Punden Berundak
c. Dolmen
d. Kapak Lonjong

6. Upacara-upacara penghormatan kepada roh nenek moyang, mulai dilakukan pada masa…
a. Bercocok tanam
b. Berburu
c. Mengumpulkan makanan
d. Perundagian

7. Hasil peninggalan pada masa praaksara yaitu peti kubur batu ditemukan di daerah….
a. Bondowoso
b. Kuningan
c. Pasemah
d. Bali

8. Kepercayaan bahwa arwah nenk moyang mempunyai pengaruh besar terhadap perjalanan
hidup manusia dan masyarakat merupakan kepercayaan pada masa …
a. Bercocok tanam
b. Berburu
c. Mengumpulkan makanan
d. Perundagian

41

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

9. Tugu dari batu tunggal atau batu tegak yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek
moyang adalah bangunan ….
a. Menhir
b. Dolmen
c. Punden Berundak
d. Sarkofagus

10. Tradisi megalitikum saat ini masih ada dan berkembang, dan di Indonesia sendiri terdapat di
daerah…
a. Toraja
b. Bali
c. Yogyakarta
d. Solo

Kerjakan soal-soal di bawah ini, dan berikan jawaban yang benar
1. Jelaskan bagaimana sistem kepercayaan pada masa praaksara!
2. Jelaskan bagaimana praktik-praktik kepercayaan pada masaberburu dan mengumpulkan

makanan !
3. Jelaskan bagaimana system kepercayaan pada masa perundagian !
4. Jelaskan bagaimana kegunaan dari bangunan megalitikhum !
5. Terdapat beberapa jenis bangunan megalitikhum, sebutkan serta tuliskan dimana bangunan

tersebut ditemkan !

42

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

EVALUASI SOAL

Pilihlah jawaban di bawah ini dengan benar berikan tanda (x) pada jawaban yang
benar !

1. Zaman praaksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal….
a. Tulisan
b. Batu
c. Binatang
d. Arsitektur

2. Peralatan yang pertama kali digunakan oleh manusia untuk menjalankan Kehidupan adalah
alat-alat yang terbuat dari…
a. Tanah
b. Batu
c. Kayu
d. Tulang

3. Zaman batu di Indonesia terbagi menjadi 3 periode di bawah ini, kecuali…
a. Zaman Ngandong
b. Zaman Megalitikum
c. Zaman Neolitikum
d. Zaman Paleolitikum

4. Kebudayaan yang hasil nya ditemukan di gua-gua adalah kebudayaan…
a. Kebudayaan Kapak Lonjong
b. Kebudayaan Kapak Persegi
c. Kebudayaan Abris Sous Roche
d. Kebudayaan Pacitan

43

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

5. Sebuah kapak yang nama penyebutan nya berasal dari von Heine Geldern adalah kapak …
a. Persegi
b. Lonjong
c. Bulat
d. Pipih

6. Di bawah ini yang termasuk hasil kebudayaan pada zaman logam adalah…
a. Kapak lonjong
b. Kapak persegi
c. Nekara
d. Kerang

7. Kjjoken berarti dapur dan modding berarti sampah, dengan istilah kjokkenmoddinger berasal
dari bahasa ….
a. Jepang
b. Latin
c. Jepang
d. Denmark

8. Berdasarkan data aerkologi, penemuan api kira-kir terjdi pada ….. tahun yang lalu
a. 200.000
b. 1.000.000
c. 350.000
d. 400.000

9. Kebudayaan ngandong berkembang di daerah ngandong dan juga daerah ….
a. Solo
b. Aceh
c. Kalimantan
d. Sidorejo

44

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

10. Zaman batu terus berkembang memasuki zaman madya atau zaman batu tengah yang dikenal
dengan zaman…
a. Zaman Ngandong
b. Zaman Mesolitikum
c. Zaman Neolitikum
d. Zaman Paleolitikum

11. Pola Kehidupan yang berpindah –pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dinamakan pola
Kehidupan ….
a. Nomaden
b. Semi nomaden
c. Ngandong
d. Neolitikum

12. Jumlah anggota kelompok pada pola Kehidupan nomaden berkisar antara ….
a. 10-15 orang
b. 5-10 orang
c. 15-20 orang
d. 20-30 orang

13. Di bawah ini termasuk dalam ciri-ciri Kehidupan semi nomaden, kecuali….
a. Merasa masih bergantung pada alam
b. Mereka mulai mengenal cara-cara mengolah makanan
c. Mereka telah memiliki tempat tinggal sementara
d. Belum memiliki tempat tinggal yang tetap

14. Di bawah ini yang termasuk jenis manusia pada zaman mesolitikum adalah…..
a. Wedda
b. Pitechanthropus
c. Homo erectus

45

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

d. Homo soloensis

15. Di bawah ini yang termasuk jenis manusia pada zaman neolithikum adalah…..
a. Wedda
b. Pitechanthropus
c. Proto Melayu
d. Homo soloensis

16. Di bawah ini yang termasuk jenis manusia pada zaman logam adalah…..
a. Homo Sapiens
b. Pitechanthropus
c. Proto Melayu
d. Deutro Melayu

17. Dibawah ini merupakan tahapan pola kehidupan masyrakat praaksara, kecuali….
a. Menetap
b. Nomaden
c. Semi Nomaden
d. Megalithikum

18. Di bawah ini merupakan peralatan yang dihasilkan pada zaman logam, kecuali ….
a. Toale
b. Kapak corong
c. Perunggu
d. Nekara

19. Ancaman yang paling berbahaya pada masa Kehidupan nomaden adalah ….
a. Bencana alam
b. Teman kelompok
c. Binatang buas
d. Lingkungan

46

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

20. Kehidupan menetap terjadi karena adnya konsep bahwa pola Kehidupan sebelumnya kurang
menguntungkan. Pola Kehidupan yang dimaksud adalah …
a. Nomaden
b. Semi nomaden
c. Neolithikum
d. Logam

21. Dalam Kehidupan keagamaan di Indonesia, kepercayaan asli sering disebut dengan istilah
dibwah ini, kecuali….
a. Agama asli
b. Agama suku
c. Religi
d. Agama nenek moyang

22. Di bawah ini merupakan system kepercayaan pada masa praaksara, kecuali …
a. Animisme
b. Dinamisme
c. Totoisme
d. Punden Berundak

23. Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang tertentu merupakan nenek
moyang suatu masyarakat atau orang-orang tertentu adalah kepercayaan….
a. Animisme
b. Dinamisme
c. Totoisme
d. Hindu Budha

24. Kepercayaan bahwa semua benda mempunyai kekuatan gaib, sepertigunung batu, dan api.
Penjelasan tersebut merupakan penjekasan dari kepercayaan …
a. Animisme
b. Dinamisme

47

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

c. Totoisme
d. Hindu Budha

25. Di bawah ini merupakan jenis-jenis bangunan pada masa megalitikhum, kecuali…
a. Sarkofagus
b. Punden Berundak
c. Dolmen
d. Kapak Lonjong

26. Upacara-upacara penghormatan kepada roh nenek moyang, mulai dilakukan pada masa…
a. Bercocok tanam
b. Berburu
c. Mengumpulkan makanan
d. Perundagian

27. Hasil peninggalan pada masa praaksara yaitu peti kubur batu ditemukan di daerah….
a. Bondowoso
b. Kuningan
c. Pasemah
d. Bali

28. Kepercayaan bahwa arwah nenk moyang mempunyai pengaruh besar terhadap perjalanan
hidup manusia dan masyarakat merupakan kepercayaan pada masa …
a. Bercocok tanam
b. Berburu
c. Mengumpulkan makanan
d. Perundagian

48

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara

29. Tugu dari batu tunggal atau batu tegak yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek
moyang adalah bangunan ….
a. Menhir
b. Dolmen
c. Punden Berundak
d. Sarkofagus

30. Tradisi megalitikum saat ini masih ada dan berkembang, dan di Indonesia sendiri terdapat di
daerah…
a. Toraja
b. Bali
c. Yogyakarta
d. Solo

Kerjakan soal-soal di bawah ini, dan berikan jawaban yang benar
1. Apa yang dimaksud dengan zaman praaksara? Serta berikan penjelasan nya!
2. Pada zaman batu terdapat masa antara batu dan tulang, terdapat dua kebudayaan pada masa

ini, sebutkan serta jelaskan dua kebudayaan ini !
3. Berikan penjelasan mengenai kebudayaan abris sous roche beserta contoh nya !
4. Bagaimana perkembangan manusia pada awal mengenal api ? berikan penjelasan nya !
5. Berikan penjelasan mengenai konsep hunian pada masa praaksara !
6. Sebutkan ciri-ciri dari pola Kehidupan masyarakat nomaden!
7. Sebutkan ciri-ciri dari pola Kehidupan semi nomaden !
8. Sebutkan ciri-ciri dari pola Kehidupan menetap
9. Dilihat dari aspek geografis, masyarkat praaksara cenderung untuk hidup di daerah lembah

atau sekitar sungai dari pada pegunungan. Kecenderungan tersebut disebabkan oleh bebrapa
hal. Sebutkan serta jelaskan kecenderungan tersebut !
10. Kehidupan masyarakat praaksara dibagi dalam bebrapa tahapan. Sebutkan serta jelaskan
tahapan-tahapan tersebut !
11. Jelaskan bagaimana sistem kepercayaan pada masa praaksara!

49

Hasil Kebudayaan Pada Masa Praaksara


Click to View FlipBook Version