The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Kesetaraan Paket C setara SMA/MA Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Tentang Kerjaan Hindu-Buddha Di Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PENDIDIKAN MASYARAKAT, 2020-12-21 08:20:07

43_Sejarah Indonesia_Siti Syahra Niba

Modul Kesetaraan Paket C setara SMA/MA Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Tentang Kerjaan Hindu-Buddha Di Indonesia

2

Kata Pengantar

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan
sehingga saya dapat menyelesaikan Modul Sejarah Kelas XI IPS Semester Satu dengan tepat
pada waktunya.

Shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh pengetahuan seperti saat ini.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan modul ini terdapat banyak kekurangan, oleh
karena itu dengan penuh kerendahan hati, saya berharap bagi para pembaca berkenan untuk
memberikan kritik dan sarannya.

Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata, saya ucapkan terima
kasih. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua.
Aamiin

Samarinda, Desember 2020

Penyusun

i

Daftar isi

Kata pengantar ...................................................................................................i
Daftar Isi........................................................................................................... ii

Kompetensi Dasar dan Indikator .................................................................... iii

Petunjuk Penggunaan Modul ..........................................................................iv

Tujuan Pembelajaran ........................................................................................v

Pengantar Modul ..............................................................................................v

UNIT 1 KERAJAAN HINDU BUDDHA DI INDONESIA .......................................................1
A. Kerajaan Kutai ............................................................................................................ 1
B. Kerajaan Tarumanegara .............................................................................................. 4
C. Kerajaan Sriwijawa ..............................................................................................................7
D. Kerajaan Mataram Kuno ...................................................................................................10
E. Kerajaan Kediri ...................................................................................................................13
PENUGASAN ..............................................................................................................................1
Latihan Soal…………………………………………………………………………………….16

UNIT 2 KERAJAAN HINDU BUDDHA DI INDONESIA .....................................................18
A. Kerajaan Singasari ...................................................................................................................18
B. Kerajaan Majapahit ................................................................................................................ 23
C. Kerajaan Bali kuno ................................................................................................................. 29
D. Kerajaan Kalingga .................................................................................................................. 32

PENUGASAN ..........................................................................................................................34
Latihan Soal…………………………………………………………………………………...35
EVALUASI ................................................................................................................................37
GLOSARIUM..............................................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................41

ii

Kompetensi Dasar dan Indikator 3.6 Memahami perkembangan kehidupan
masyarakat, pemerintah, dan budaya pada
4.6 menyajikan informasi tentang nilai-nilai
dan unsur budaya yang berkembang pada masa kerjaan-kerajaan Hindu-Buddha
masa kerajaan Hindu-Buddha yang masih diindonesia melalui contoh bukti-bukti yang
masih berlaku pada kehidupan masyarakat
berkelanjutan dalam kehidupan bangsa
Indonesia pada masa kini. Indonesia masa kini.

4.6.1 Menyajikan laporan hasil analisis nilai-nilai 36.1. Menjelaskan perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha
budaya pada masa kerajaan Hindu-Buddha dan di Indonesia (Kutai, Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram
Kuno, Kediri, Singasari, Majapahit dan Buleleng)
pengaruhnya pada masakini

4.6. Menyajikan laporan hasil analisis unsur 36.2. Mengidentifikasi kondisi kehidupan sosial ekonomi
budaya pada masa kerajaan Hindu-Buddha dan masyarakat kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia Indonesia (Kutai,
Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, Kediri,
pengaruhnya pada masakini Singasari, Majapahit dan Buleleng)

36.3 Menjelaskan perkembangan kebudayaan pada masa kerajaan
Hindu-Buddha di Indonesia Indonesia (Kutai, Tarumanegara,
Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, Kediri, Singasari, Majapahit
dan Buleleng.

iii

SEJARAH KERAJAAN HINDU-BUDDHA
DI INDONESIA

Petunjuk Penggunaan Modul

Agar modul pembelajaran ini dapat dipergunakan secara optimal, maka ada
beberapa petunjuk yang harus dijalankan selama pembelajaran menggunakan modul
ini berlangsung, yaitu:
1. Bacalah terlebih dahulu kompetensi dasar yang terdapat pada setiap bab
pembahasan.
2. Bacalah secara seksama materi pokok yang disajikan pada bab pembahasan.
3. Baca dan pahamilah materi yang diuraikan pada setiap bab dengan seksama.
4. Bacalah rangkuman yang disajikan setelah uraian materi sebagai kesimpulan bab
pembahasan.
5. Kerjakan latihan/tugas yang diberikan dengan cermat dan seksama sebagai
evaluasi dari bab pembahasan.

iv

Tujuan Pembelajaran

1. Menjelaskan perkembangan Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
2. Mengidentifikasi kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada masa Kerjaan Hindu-Buddha di

Indonesia.
3. Menjelaskan perkembangan kebudayaan pada masa kerjaan hindu-buddha di Indonesia.

Pengantar Modul

Tujuan pembelajaran dari modul ini dibagi menjadi tujuan secara umum dan khusus. Tujuan secara
umum adalah agar siswa mampu menganalisis perkembangan Kerajaan pada masa Hindu-Buddha di
Indonesia.

v

vi

UNIT 1 Kerajaan-kerjaan Hindu Buddha di Indonesia

(Kerjaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya,
Mataram Kuno dan Kerjaan Kediri)

1. Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai Mulawarman adalah salah satu kerajaan yang tertuan di Indonesia, yang muncul pada
abad ke-5 Masehi atau ± 400 Masehi. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya
di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya
prasasti Yupa yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut.

Meskipun kutai itu tak terletak dalam sebuah jalur perdagangan internasional, akan tetapi kerajaan
tersebut telah memiliki hubungan dagang dengan india dan sudah berkembang dari sejak awal. Pada hal
tersebut kemudian, Pengaruh Hindu-Budha mulai tersebar. Salah satu yang menjadi bukti yang
menerangkan mengenai kerajaan kutai dimana Yupa diidentifikasi yang merupakan suatu peninggalan
Hindu-Buddha dan bahasa yang telah digunakan yaitu bahasa sansekerta. Bahasa sansekerta ialah bahasa
Hindu asli. Tulisan atau bentuk dari hurufnya itu dinamakan huruf pallawa, yaitu tulisan yang digunakan
pada tanah Hindu Selatan sekitar ditahun 400 masehi. Dengan melihat adanya bentuk huruf dari prasasti
yang telah ditemukan maka para ahli menyatakan bahwa Yupa itu telah dibuat sekitar abad kelima. Jadi
bisa disimpulkan bahwa kerajaan kutai adalah kerajaan hindu yang pertama ada di Indonesia.

Yupa adalah sebuah tiang batu berukuran ± 1 meter sebagian ditanam di atas tanah. Pada tiang batu
inilah terukir prasasti dari kerajaan Kutai Mulawarman yang dianggap msebagai sumber tulisan tertua,
sehingga Indonesia mulai memasuki masa sejarah dan mengakhiri masa prasejarahnya.

Kerajaan Kutai diperkirakan berdiri pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan ditemukannya 7
buah Yupa (prasasti berupa tiang batu) yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta yang
berasal dari India yang sudah mengenal Hindu. Yupa mempunyai 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti,
tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, dan lambang kebesaran raja.

Dari tulisan yang tertera pada yupa nama raja Kundungga diperkirakan merupakan nama asli Indonesia,
namun penggantinya seperti Aswawarman, Mulawarman itu menunjukan nama yang diambil dari nama
India dan upacara yang dilakukannya menujukan kegiatan upacara agama Hindu. Dari sanalah dapat kita
simpulkan bahwa kebudayaan Hindu telah masuk di Kerajaan Kutai.

Kerajan Kutai Mulawarman (Martadipura) didirikan oleh pembesar kerajaan Campa (Kamboja)
bernama Kudungga, yang selanjutnya menurunkan Raja Asmawarman, Raja Mulawarman, sampai 21 (dua
puluh satu) generasi Kerajaan Kutai Mulawarman yaitu sebagai berikut:

1. Maharaja Kudungga, bergelar Anumerta Dewawarman (pendiri)

1

2. Maharaja Aswarman (anak Kudungga)
3. Maharaja Mulawarman (raja yang terkenal)
4. Maharaja Marawijaya Warman
5. Maharaja Gajayana Warman
6. Maharaja Tungga Warman
7. Maharaja Tungga Warman
8. Maharaja Jayanaga Warman
9. Maharaja Nalasinga Warman
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia

Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia
yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman
diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal
dari bahasa Sanskerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk
India bagian Selatan.

Pada salah satu yupa tersebut, diketahui bahwa yang menjadi cikal bakal dari kerajaan kutai adalah
kundungga, yang diteruskan kepada Aswawarman. Kemudian adapun pengganti dari Aswawarman yang
memiliki putra sebanyak tiga orang yaitu Mulawarman. Nampaknya, pada zaman Mulawarman disitulah
kerajaan kutai mencapai kejayaan tersebut.

Kejayaan ini dapat dilihat dari aktivitas ekonomi. Dalam salah satu Yupa tersebut telah dikatakan
bahwa pada Raja Mulawarman telah melakukan sebuah upacara korban emas yang sangat banyak.

2

Kemajuan dari kerajaan kutai ini juga terlihat dari tanda adanya golongan terdidik. Mereka terdiri dari para
golongan ksatrian dan brahmana yang kemungkinan telah bepergian ke India atau pada pusat-pusat
penyebaran agama Hindu yang ada di Asia Tenggara. Masyarakat tersebut mendapat kedudukan yang
terhormat dalam kerajaan kutai.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan
Kutai Mulawarman, antara lain:

a. Kehidupan Politik
Kerajaan Kutai yang berlokasi di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur adalah kerajaan

bercorak Hindu pertama di Nusantara. Sumber utama Kerajaan Kutai ialah tujuh buah batu bertulis
yang disebut yupa. Yupa itu ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Yupa itu
diperkirakan ditulis pada tahun 400 M ( abad ke-5 M ). Dari yupa itu dapat diketahui bahwa raja
yang memerintah ialah Mulawarwan, anak Aswawarman, dan merupakan cucu Kudungga.
Disebutkan pula dalam yupa itu bahwa Raja Mulawarman memberikan hadiah 1.000 ekor lembu
kepada kaum brahmana. Selain itu, disebutkan pula bahwa Aswawarman adalah wangsakarta
(pendiri dinasti).

Sumber : https://id.pinterest.com/pin/599049187911075241/

Gambar 1.1 Prasasti mulawarman dari kutai

3

Dari berbagai keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa Kerajaan Kutai telah mendapat
pengaruh Hindu. Namun, pengaruh Hindu diduga setelah Kudungga selesai memerintah. Hal itu di
dasarkan pada nama Kudungga sendiri adalah nama asli Indonesia. Oleh karena itu Kudungga tidak
disebut wangsakarta. Raja Mulawarman adalah raja terbesar Kutai dan telah memeluk agama
Hindu.

b. Kehidupan Sosial-Ekonomi
Dilihat dari letak Kerajaan Kutai pada jalur perdagangan dan pelayaran antara Barat dan

Timur maka aktivitas perdagangan tampaknya menjadi mata pencaharian yang utama. Rakyat Kutai
sudah aktif terlibat dalam perdagangan internasional dan tentu saja mereka berdagang pula sampai
ke perairan Laut Jawa dan Indonesia Timur untuk mencari barang-barang dagangan yang laku di
pasaran Internasional. Dengan demikian, Kutai telah termasuk daerah persinggahan perdagangan
internasional, yaitu Selat Malaka–Laut Jawa–Selat Makasar–Kutai-Cina, atau sebaliknya.

c. Kehidupan Kebudayaan
Kehidupan kebudayaan masyarakat Kutai erat kaitannya dengan kepercayaan atau agama

yang dianut. Yupa merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kutai, yaitu tugu batu yang
merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yakni bentuk
menhir. Salah satu yupa itu menyebutkan suatu tempat suci dengan nama Waprakeswara (tempat
pemujaan Dewa Siwa). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kutai adalah
pemeluk agama Siwa.

2. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua kedua setelah kerajaan Kutai, terletak di Jawa
Barat. Seperti halnya dengan kerajaan Kutai, kerajaan Tarumanegara juga prasasti-prasastinya tidak
berangka tahun. Karena itu pula, maka penentuan (perkiraan) berdirinya kerajaan Tarumanegara
didasarkan atas analis, komparatif dengan bentuk huruf dengan di Kutai dan Campa, yakni pada abad ke-6
M. Penentuan itu serupa dengan pendapat R.C. Majumdar (India) yang menegaskan bahwa kerajaan
Tarumanegara berdiri sejak abad ke-6 M. berbeda dengan pendapat N. J. Crom yang mengatakan bahwa
kerajaan Tarumanegara berdiri pada abad ke-5 M. pendapatpendapat itu pada dasarnya menegaskan bahwa
huruf prasasti prasati Tarumanegara lebih muda dari huruf yupa-yupa di kutai.

Secara etimologi, kata Tarumanegara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan
atau negara, sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa
Barat, yaitu Citarum. Pada muara Citarum ditemukan percandian yang luas, yaitu Percandian Batujaya dan
Percandian Cibuaya. Percandian tersebut diduga merupakan peninggalan Kerajaan Taruma. Kerajaan
Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan
oleh putranya yang bernama Dharmayawarman (382- 395). Jayasingawarman dikuburkan di tepi kali
Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabhaga.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan
Tarumanegara, antara lain:

4

a. Kehidupan Politik
Kerajaan Tarumanegara diduga terletak di Bogor, Jawa Barat yang merupakan kerajaan

Hindu tertua kedua di Indonesia. Sumber-sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara dapat dibagi
menjadi dua, seperti berikut.

1) Berita dari Cina Zaman Dinasti Tang
Berita dari Cina menyebutkan adanya Kerajaan To-lo-mo (Tarumanegara )
mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 528, 538, 665, dan 666 M.

2) Prasasti-Prasasti di Jawa Barat
Prasasti yang menceritakan tentang Kerajaan Tarumanegara, misalnya sebagai berikut:
a) Prasasti Ciaruteun (Bogor)
b) Prasasti Kebon Kopi (Bogor)
c) Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Koleangkak (Bogor)
d) Prasasti Pasir Awi atau Pasir Muara (Bogor)
e) Prasasti Tugu (Cilincing, Tanjuk Priok, Jakarta)
f ) Prasasti Lebak (Banten Selatan).

Sumber : kehidupan-politik-sosial-budaya.com

Gambar 1.2 Peta lokasi prasasti Tarumanegara

Ketujuh prasasti tersebut berbahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa. Prasasti Ciaruteun selain berisi
empat baris kalimat, pada prasasti ini juga dipahatkan lukisan seperti lukisan lebah-lebah dan
sepasang telapak kaki. Empat baris kalimat itu berbunyi "ini kedua telapak kaki, yang seperti kaki
Dewa Wisnu, ialah kaki yang Mulia Purnawarwan, raja di negeri Taruma raja yang sangat gagah
berani".

5

Isi Prasasti Kebon Kop, yakni adanya bekas tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki
gajah Airawati (gajah tunggangan Dewa Wisnu). Adapun Prasasti Jambu berisi tentang kegagahan
Raja Purnawarman. Bunyi prasasti itu, antara lain "gagah, mengagumkan dan jujur trehadap tugasnya
adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashyur Sri Purawarman yang memerintah di
Taruma dan yang baju zirahnya tidak dapat ditembus oleh musuh.
Prasasti yang ditemukan semuanya tidak berangka tahun. Namun, dari huruf yang dipakai dapat
diperkirakan bahwa Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Jawa Barat pada sekitar abad ke-5 M
dengan Rajanya Purnawarman.

Sumber : jejak-sang-penguasakerajaan-tarumanegara-di-prasasti-ciaruteun-ciampea/2621

Gambar 1.3 Prasasti Ciaruteun

b. Kehidupan Sosial-Ekonomi
Kehidupan perekonomian masyarakat Tarumanegara adalah pertanian dan peternakan. Hal ini

dapat diketahui dari isi Prasasti Tugu yakni tentang pembangunan atau penggalian Saluran Gomati
yang panjangnya 6112 tombak (12 km) dan selesai dikerjakan dalam waktu 21 hari. Selesai
penggalian, Raja Purnawarman mengadakan selamatan dengan memberikan hadiah 1.000 ekor sapi
kepada para brahmana. Pembangunanitu mempunyai arti ekonomis bagi rakyat karena dapat
dipergunakan sebagai sarana pengairan dan pencegahan banjir. Dengan demikian, rakyat akan
hidup makmur, aman dan sejahtera. Di samping Saluran Gomati, dalam Prasasti Tugu juga
disebutkan adanya penggalian Saluran Candrabhaga.
c. Kehidupan Kebudayaan

Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf pada prasasti-prasasti yang ditemukan
sebagai bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara maka dapat diketahui bahwa kehidupan
kebudayaan masyarakat pada masa itu sudah tinggi.

6

Kerajaan tarumanegara dapat di katakan memiliki kebudayaan yang sudah baik, itu terbukti
dari adanya penggalian sungai untuk dapat mencegah dari banjir dan menjadi sebagai saluran irigasi
untuk dimanfaatkan dalam kepentingan pertanian. Kemudian terlihat juga dari teknik dan cara
penulisan pada huruf-huruf di prasasti yang telah di temukan dimana itu menjadi bukti dalam
menunjukkan bahwa kebudayaan masyarakat kerajaan tarumanegara sudah maju.

3. Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak
memberi pengaruh di Nusanatara. Dalam bahasa sansekerta, Sri berarti “kemenangan” atau “kejayaan”,
maka nama Sriwijaya bermakna “kemenangan yang gemilang”.

1. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
Menurut seorang pendata Tiongkok dari Dinasti Tang, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi
Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. selanjutnya pada abad ke-7, muncul sejumlah
berita tertulis yang menginformasikan adanya kerajaan Buddha yang perkasa, bernama Sriwijaya.
Dari prasasti yang ditemukan di Sumatera dan Bangka, bertarikh 682

2. Pusat Kerajaan Sriwijaya
Menurut Prasasti Kedukan Bukit, yang bertarikh 605 Saka (683 M). Kadaulatan Sriwijaya pertama
kali didirikan di sekitar Palembang, di tepian Sungai Musi.

3. Perkembangan Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya mencapai kejayaan pada abad 6-10 M dengan menguasai seluruh jalur
perdagangan maritim di Asia Tenggara. Kerajaan ini mempunyai wilayah kekuasaan yang hampir
menyeluruh sampai Asia Tengggara, diantaranya adalah Jawa, Sumatera, Semenanjung, Malay,
Thailand, Kamboja, Vietnam dan juga Filipina. Kerajaan yang berbasis di pesisir ini terkenal
dengan armada maritimnya yang kuat sampai disegani oleh lawan-lawannya. Dengan kekuatan
tersebut maka langkah untuk memperluas kekuasaan berjalan sangat pesat.

4. Masa Kejayaan Sriwijaya
Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Ia
dikenal sangat pandai dalam meramu taktik perang dan juga peduli terhadap rakyatnya. Selama
Dapunta Hyang Sri Jayanaga memerintah, kerajaan

Sriwijaya berhasil menguasai semua wilayah kerajaan yang meliputi hampir seluruh Asia Tenggara.
Kerajaan Sriwijaya saat itu bahkan terkenal dengan armada laut paling kuat dalam sejarah bangsa
Indonesia. Dalam sebuah prasasti disebutkan bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanaga melakukan ekspansi
selama 8 tahun dengan 20.000 pasukan. tujuan dari ekspansi adalah untuk memperluas daerah kerajaan dan
berhasil membuat Sriwijaya menjadi makmur.

7

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan
Sriwijaya, antara lain:

a. Kehidupan Politik
Sumber-sumber sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui kerajaan Sriwijaya, antara lain
sebagai berikut.
1) Berita-berita dari Cina, India, Malaka, Ceylon, Arab, dan Parsi.
2) Prasasti-prasasti (enam di Sumatra Selatan dan satu di Pulau Bangka).
3) Prasasti Kedukan Bukit (605 S/683 M) di Palembang. Isinya Dapunta Hyang mengadakan
perjalanan selama delapan hari dengan membawa 20.000 pasukan dan berhasil menguasai
beberapa daerah. Dengan kemenangan itu Sriwijaya menjadi makmur.
4) Prasasti Talang Tuo (606 S/684 M di sebelah barat Palembang. Isinya tentang pembuatan
Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk.
5) Prasasti Kota Kapur (608 S/686 M) di Bangka.
6) Prasasti Karang Birahi (608 S/686 M) di Jambi. Parasasti Kota Kapur dan Prasasti Karang
Birahi berisi permohonan kepada dewa untuk keselamatan rakyat dan Kerajaan Sriwijaya.
7) Prasasti Telaga Batu (tidak berangka tahun) di Palembang. Isinya berupa kutukan terhadap
mereka yang melakukan kejahatan dan melanggar perintah raja.
8) Prasasti Palas Pasemah di Pasemah, Lampung Selatan. Isinya wilayah Lampung Selatan
telah diduduki Sriwijaya.
9) Prasasti Ligor (679 S/775 M) di tanah genting Kra. Isinya Sriwijaya diperintah oleh
Darmaseta.

Menurut sumber berita Cina yang ditulis oleh I-Tsing dinyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya
berdiri pada abad ke7 M. Berdasarkan Prasasti Ligor, pusat pemerintahan Sriwijaya di Muara
Takus, yang kemudian dipindahkan ke Palembang. Kerajaan Sriwijaya kemudian muncul sebagai
kerajaan besar di Asia Tenggara.

Perluasan wilayah dilakukan dengan menguasai Tulang Bawang (Lampung), Kedah, Pulau
Bangka, Jambi, Tanah Genting Kra dan Jawa ( Kaling dan Mataram Kuno). Dengan demikian,
Kerajaan Sriwijaya bukan lagi merupakan kerajaan senusa (kerajaan yang berkuasa atas satu pulau
saja ) melainkan merupakan negara antarnusa (negara yang berkuasa atas beberapa pulau) sehingga
Sriwijaya merupakan negara nasional pertama di Indonesia.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa Balaputra Dewa. Raja ini
mengadakan hubungan persahabatan dengan Raja Dewapala Dewa dari India. Dalam Prasasti
Nalanda disebutkan bahwa Raja Dewapala Dewa menghadiahkan sebidang tanah untuk mendirikan
sebuah biara untuk para pendeta Sriwijaya yang belajar agama Buddha di India. Selain itu, dalam
Prasasti Nalanda juga disebutkan bahwa adanya silsilah Raja Balaputra Dewa dan dengan tegas
menunjukkan bahwa Raja Syailendra (Darrarindra) merupakan nenek moyangnya.

b. Kehidupan Sosial Ekonomi
Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka yang merupakan urat nadi perdagangan di Asia

Tenggara sehingga menguasai perdagangan nasional dan internasional. Hal ini didukung letaknya
yang strategis di jalur perdagangan India–Cina. Penguasaan Sriwijaya atas Selat Malaka

8

mempunyai arti penting terhadap perkembangannya sebagai kerajaan maritim sebab banyak kapal-
kapal asing yang singgah untuk menambah air minum, perbekalan makanan, dan melakukan
aktivitas perdagangan. Sriwijaya sebagai pusat perdagangan mendapatkan keuntungan yang besar
dari aktivitas itu.

Sumber : buku paket sejarah kelas XI

Gambar 1.4 Daerah pengaruh dan wawasan maritim Kerajaan Sriwijaya (Abad ke-8-11)

c. Kehidupan Keagaman
Dalam bidang agama, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha yang penting di Asia

Tenggara dan Asia Timur. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya ialah aliran Mahayana
dengan salah satu tokohnya yang terkenal ialah Dharmakirti.

Para peziarah agama Buddha sebelum ke India harus tinggal di Sriwijaya. Di antaranya ialah
I' Tsing. Sebelum menuju ke India ia mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa Sanskerta
selama enam bulan (1671). Begitu pula ketika pulang dari India, ia tinggal selama empat tahun
(681–685) untuk menerjemahkan agama Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Cina. Di samping
itu juga ada pendeta dari Tibet, yang bernama Atica yang datang dan tinggal di Sriwijaya selama 11
tahun (1011-1023) dalam rangka belajar agama Buddha dari seorang guru besar Dharmakirti.

9

4. Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah dengan intinya sering disebut Bumi Mataram.
Daerah ini dikelilingi oleh Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi–Merbabu, Gunung Lawu,
dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan
Sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.

Di Bumi Mataram diperintah oleh dua wangsa atau dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama
Hindu (di bagian utara), dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha (di bagian selatan). Dalam hal
pembuatan candi, kedua dinasti dapat bekerja sama, tetapi di bidang politik terjadi perebutan kekuasaan.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan
Tarumanegara, antara lain:

a. Kehidupan Politik
Pada mulanya yang berkuasa di Mataram adalah Dinasti Sanjaya. Bukti adanya kerajaan

Mataram Kuno di Jawa Tengah dapat diketahui dari Prasasti Canggal yang ditemukan di kaki
Gunung Wukir, Magelang. Prasasti CAnggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya dengan berangka tahun
berbentuk candrasengkala berbunyi srutiindriyarasa atau tahun 654 Saka=732 M berhuruf Pallawa
dan berbahasa Sanskerta. Isi pokok Prasasti Canggal adalah pendirian sebuah lingga di Bukit
Stirangga buat keselamatan rakyatnya.

Petunjuk lain tentang Sanjaya adalah Prasasti Mantyasih atau Prasasti Kedu yang dibuat oleh
Raja Balitung. Prasasti itu menyebutkan bahwa Sanjaya adalah raja pertama ( wangsakarta) dengan
ibu kota kerajaannya di Mdang ri Poh Pitu. Dalam prasasti itu juga disebutkan raja-raja yang pernah
memerintah, seperti berikut:

1) Sanjaya
2) Panangkaran
3) Panunggalan
4) Warak
5) Garung
6) Pikatan
7) Kayuwangi
8) Balitung

Prasasti Dinoyo di Jawa Timur tahun 706 menyebutkan adanya Raja Gajayana yang
mendirikan tempat pemujaan Dewa Agastya (perwujudan Siwa sebagai Mahaguru ) diwujudkan
pula dalam bentuk lingga. Di sampimg itu, juga didirikan Candi Badut dengan berlanggam candi
Jawa Tengah.

Prasasti Kalasan tahun 778 M menyebutkan bahwa keluarga Syailendra berhasil membujuk
Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci buat Dewi Tara (istri Buddha) dan sebuah biara
untuk para pendeta. Panangkaran juga menghadiahkan Desa Kalasan kepada sanggha.

Pada Prasasti Balitung yang berangka tahun 907 M disebutkan nama keluarga raja-raja
keturunan Sanjaya memuat nama Panangkaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada

10

waktu itu Dinasti Sanjaya dan S-ailendra sama-sama berperan di Jawa Tengah. Dinasti Sanjaya di
bagian utara dengan mendirikan candi Hindu, seperti Gedong Sanga di Ungaran, Candi Dieng di
DataranTinggi Dieng. Adapun Dinasti Syailendra dibagian selatan dengan mendirikan candi
Buddha, seperti Borobudur, Mendut, dan Kalasan.

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3630884/jumat-mendatang-candi-borobudur

Gambar 1.5 Candi Borubudur

Dalam Prasasti Kelurak (di daerah Prambanan) tahun 782 disebutkan tentang pembuatan
Arca Manjusri sebagai perwujudan Buddha, Dharma, dan Sanggha yang dapat disamakan dengan
Brahma, Wisnu, dan Siwa. Mungkin sekali bangunan sucinya ialah Candi Lumbung yang terletak di
sebelah utara Prambanan. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Indra. Pengganti Indra yang
terkenal ialah Smaratungga yang dalam pemerintahannya mendirikan Candi Borobudur tahun 824.

Di bawah pemerintahan putri Smaratungga, yakni Pramodhawardani Ddinasti Syailendra
dan Sanjaya menjadi satu karena perkawinnya dengan Rakai Pikatan yang kemudian membangun
candi-candi Buddha dan Hindu. Misalnya, Candi Plaosan yang merupakan candi Buddha banyak
disebut nama Sri Kahulunan Sri Pikatan dapat diartikan nama Sri Kahulunan adalah gelar
Pramodhawardani. Rakai Pikatan mendirikan candi Hind yakni Candi Prambanan (Loro Jonggrang)
yang sangat megah. Dengan dibangunnya candi Hindu dan Buddha yang berdekatan
menggambarkan adanya kerukunan beragama di Bumi Mataram.

Pada tahun 856 terjadi perubahan besar di Jawa Tengah, Balaputra Dewa (adik
Pramodhawardani) yang pusat -di pegunungan selatan yang terkenal dengan Istana Ratu Boko
berusaha untuk merebut kekuasaan. Namun, ia malah tersingkir dari Jawa Tengah dan akhirnya

11

melarikan diri ke Sumatra (menjadi raja di Sriwijaya). Jawa Tengah kemudian sepenuhnya
diperintah oleh Dinasti Sanjaya. Raja terakhirnya Raja Wawa dan digantikan Empu Sendok yang
kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur.

Sumber : https://kabarpriangan.com/7-fakta-menarik-dari-candi-prambanan-yang-anda-harus-tahu/

Gambar 1.6 Candi Prambanan

b. Kehidupan Sosial Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat bertumpu pada pertanian. Kondisi alam bumi Mataram yang

tertutup dari dunia luar sulit untuk mengembangkan aktivitas perekonominan dengan pesat. Pada
masa Raja Balitung aktivitas perhubungan dan perdagangan dikembangkan lewat Sungai Bengawan
Solo. Pada Prasasti Wonogiri (903) disebutkan bahwa desadesa yang terletak di kanan-kiri sungai
dibebaskan dari pajak dengan catatan harus menjamin kelancaran lalu-lintas lewat sungai tersebut.
c. Kehidupan Agama dan Kebudayaan

Bumi Mataram diperintah oleh Dinasti Sanjaya dan Dinasti Sailendra. Dinasti Sanjaya
beragama Hindu dengan pusat kekuasaannya di utara. Hasil budayanya berupa candi-candi, seperti
Gedong Sanga dan Kompleks Candi Dieng. Sebaliknya, Dinasti Sailendra beragama Bundha
dengan pusat kekuasaannya di daerah selatan. Hasil budayanya , seperti Candi Borobudur, Mendut,
dan Pawon.

Semula terjadi perebutan kekuasan, namun kemudian terjalin persatuan ketika terjadi
perkawinan antara Pikatan (Sanjaya) beragama Hindu dengan Pramodhawardhani (Sailendra)
beragama Buddha. Sejak itu agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan secara damai. Hal ini
menunjukkan betapa besar jiwa toleransi bangsa Indonesia. Toleransi ini merupakan salah sifat
kepribadian bangsa Indonesia yang wajib kita lestarikan agar tercipta kedamaian, ketenteraman dan
kesejahteraan.

12

Sumber : Buku paket kelas XI

Gambar 1.7 Peta kerajaan bercorak Hindu dan Buddha

5. Kerjaan Kediri

a. sejarah kediri

Kediri merupakan salah satu kerajaan Hindu yang terletak di tepi Sungai Brantas, Jawa
Timur.Kerajaan yang berdiri pada abad ke-12 ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram
Kuno.Raja pertamanya bernama Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabu yang menamakan dirinya
sebagai titisan Wisnu.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kediri diawali dengan perintah Raja Airlangga yang membagi
kerajaan menjadi dua bagian, yakni Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi dengan
Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Tujuannya supaya tidak ada pertikaian.Kerajaan Janggala atau
Kahuripan terdiri atas Malang dan Delta Sungai Brantas dengan pelabuhan Surabaya, Rembang, dan
Pasuruhan, Ibu Kotanya Kahuripan.Sedangkan Kerajaan Panjalu (Kediri) meliputi, Kediri, Madiun,
dan Ibu Kotanya Daha.

Kemudian pada November 1042, kedua putra Raja Airlangga memperebutkan tahta kerajaan
sehingga dengan terpaksa Airlangga membelah kerajaan menjadi dua.Hasil dari perang saudara
tersebut, Kerajaan Panjalu diberikan kepada Sri Samarawijaya yang pusatnya di Kota
Daha.Sedangkan Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Garasakan yang berpusat di
Kahuripan. Dalam Prasasti Meaenga disebutkan bahwa Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan nama
Raja Mapanji Garasakan(1042- 1052 M) diabadikan. Namun, pada peperangan selanjutnya, Kerajaan
Panjalu (Kediri) berhasil menguasai seluruh tahta Airlangga.

13

Raja-raja yang berkuasa pada Kerajaan Kediri:

1) Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabu

2) Kameshwara

3) Jayabaya

4) Prabu Sarwaswera

5). Prabu Krhoncharyadipa

6) Srengga Kertajaya

b. Masa Kejayaan Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan ketika masa pemerintahan Raja Jayabaya.Daerah

kekuasaannya semakin meluas yang berawal dari Jawa Tengah meluas hingga hampir ke seluruh
daerah Pulau Jawa.Selain itu, pengaruh Kerajaan Kediri juga sampai masuk ke Pulau Sumatera
yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Kejayaan pada saat itu semakin kuat ketika terdapat catatan dari
kronik Cina yang bernama Chou Ku-fei pada tahun 1178 M berisi tentang Negeri paling kaya di
masa kerajaan Kediri pimpinan Raja Sri Jayabaya. Bukan hanya daerah kekuasaannya saja yang
besar, melainkan seni sastra yang ada di Kediri cukup mendapat perhatian.Dengan demikian,
Kerajaan Kediri semakin disegani pada masa itu.
c. Runtuhnya Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri runtuh pada masa pemerintahaan Raja Kertajaya, dimana terjadi pertentangan
antara raja dengan Kaum Brahmana.Raja Kertajaya dianggap melanggar agama dengan
memaksakan mereka menyembah kepadanya sebagai dewa.Kaum Brahmana meminta pertolongan
kepada Ken Arok, pemimpin daerah Tumapel yang ingin memisahkan diri dari Kediri.Kemudian
terjadilah perang antara rakyat Tumapel yang dipimpin Ken Arok dengan Kerajaan Kediri.Akhirnya
pada tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dan Kerajaan Kediri menjadi
wilayah bawahan Tumapel atau Singhasari.

Sebagai pemimpin di Kerajaan Singhasari, Ken Arok mengangkat Jayasabha (putra
Kertajaya) sebagai bupati Kediri.Jayasabha digantikan oleh putranya Sastrajaya pada tahun
1258.Kemudian Sastrajaya digantikan putranya Jayakatwang (1271).Jayakatwang berusaha ingin
membangun kembali Kerajaan Kediri dengan memberontak Kerajaan Singhasari yang dipimpin
Kertanegara.Terbunuhlah Raja Kertanegara dan Kediri berhasil dibangun oleh Jayakatwang.
Namun, kerajaan Kediri tidak berdiri lama, Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) berhasil
meruntuhkan kembali Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang.Setelah itu, tidak ada lagi
Kerajaan Kediri.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di
Kerajaan Kediri antara lain:

14

a. Kehidupan politik
Dalam persaingan antara Panjalu dan Kediri, ternyata Kediri yang unggul dan menjadi

kerajaan yang besar kekuasaannya. Raja terbesar dari Kerajaan Kediri adalah Jayabaya (1135–
1157). Jayabaya ingin mengembalikan kejayaan seperti masa Airlangga dan berhasil. Panjalu
dan Jenggala dapat bersatu kembali. Lencana kerajaan memakai simbol Garuda Mukha simbol
Airlangga.

Pada masa pemerintahannya kesusastraan diperhatikan. Empu Sedah dan Empu Panuluh
menggubah karya sastra kitab Bharatayudha yang menggambarkan peperangan antara Pendawa
dan Kurawa yang untuk menggambarkan peperangan antara Jenggala dan Kediri. Empu
Panuluh juga menggubah kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya. Jayabaya juga terkenal
sebagai pujangga yang ahli meramal kejadian masa depan, terutama yang akan menimpa tanah
Jawa. Ramalannya terkenal dengan istilah “Jangka Jayabaya".

Raja Kediri yang juga memperhatikan kesusastraan ialah Kameswara. Empu Tan Akung
menulis kitab Wartasancaya dan Lubdaka, sedangkan Empu Dharmaja menulis kitab
Smaradahana. Di dalam kiitab Smaradahana ini Kameswara dipuji-puji sebagai titisan
Kamajaya, permaisurinya ialah Sri Kirana atau putri Candrakirana. Raja Kediri yang terakhir
ialah Kertajaya yang pada tahun 1222 kekuasaannya dihancurkan oleh Ken Arok sehingga
berakhirlah Kerajaan Kediri dan muncul Kerajaan Singasari.
b. Kehidupan Sosial Ekonomi

Pada masa Kejayaan Kediri, perhatian raja terhadap kehidupan sosial ekonomi rakyat juga
besar. Hal ini dapat dibuktikan dengan karya-karya sastra saat itu, yang mencerminkan
kehidupan sosial ekonomi masyarakat saat itu. Di antaranya kitab Lubdaka yang berisi ajaran
moral bahwa tinggi rendahnya martabat manusia tidak diukur berdasarkan asal dan kedudukan,
melainkan berdasarkan kelakukannya.
c. Kehidupan Kebudayaan, Khususnya Sastra

Di bidang kebudayaan, khususnya sastra, masa Kahuripan dan Kediri berkembang pesat,
antara lain sebagai berikut.

1) Pada masa Dharmawangsa berhasil disadur kitab Mahabarata ke dalam bahasa Jawa
Kuno yang disebut kitab Wirataparwa. Selain itu juga disusun kitab hukum yang
bernama Siwasasana.

2) Di zaman Airlangga disusun kitab Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa.
3) Masa Jayabaya berhasil digubah kitab Bharatayudha oleh Empu Sedah dan Empu

Panuluh. Di samping itu, Empu Panuluh juga menulis kitab Hariwangsa dan
Gatotkacasraya.
4) Masa Kameswara berhasil ditulis kitab Smaradhahana oleh Empu Dharmaja. Kitab
Lubdaka dan Wertasancaya oleh Empu Tan Akung.

PENUGASAN UNIT 1

Buatlah kelompok kecil 2 -3 orang dengan teman sekelasmu dan tuliskan aspek – aspek 15
kehidupan pada masa kerajaan Hindu Buddha beserta contohnya. Buat tulisan yang
menarik dengan melampirkan foto.

LATIHAN SOAL
UNIT 1

I. Pilihlah satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (x) pada huruf a, b, c,
d atau e!
1. Candi Borobudur merupakan akulturasi kebudayaan Buddha dengan kebudayan
Indonesia. Kebudayaan asli Indonesia tampak dalam wujud ….
a. patung-patung yang ada
b. bangunan Megalitikum
c. pundek berundak
d. stupa
e. relief
2. Upaya Raja Purnawarman dalam memperhatikan aspek pertanian dan perdagangan
rakyat kerajaan Tarumanagara dengan membuat saluran untuk mengairi sawah dapat
diketahui dari isi prasasti ...
a. Tugu
b. Lebak Munjul
c. Ciaruteun
d. Kebon Kopi
e. Muara Cianten
3. Di bawah ini merupakan bukti-bukti prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang
ditemukan di dalam negeri, kecuali ....
a. Prasasti Kedukan Bukit
b. Prasasti Palas Pasemah
c. Prasasti Talang Tuo
d. Prasasti Nalanda
e. Prasasti Kota Kapur
4. Penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak (11 km) oleh Raja Purnawarman
dinyatakan secara jelas dalam Prasasti ….
a. Kebon Kopi
b. Pasir Awi
c. Ciaruteun
d. Lebak
e. Tugu
5. Kehidupan perekonomian yang berkembang di kerajaan Tarumanegara dapat kita
analisis dari isi prasasti ....
a. Cidanghiang
b. Kebon Kopi
c. Ciaruteun
d. Tugu
e. Pasir Jambu

16

II. Jawablah peranyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!
1. Apa bukti masyarakat Tarumanegara bermata pencaharian sebagai pentani ?
2. Jelaskan bukti keberadaan Kerjaan Kutai di Indonesia!
3. Tulislah Faktor-faktor yang mendorong kemajuan Sriwijaya!
4. Bagaimana kehidupan bidang politik Kerajaan Kediri?
5. Siapakah 2 dinasti yang memerintah bumi mataram ?

17

UNIT 2 Kerajaan-kerjaan Hindu Buddha di Indonesia

(Kerjaan Singasari, Majapahit, Bali Kuno,
dan Kerjaan Kalingga)

1. Kerajaan Singasari

1) Awal Berdirinya Kerajaan
Pendiri Kerajaan Singasari adalah Ken Arok.Asal usul Ken Arok tidak jelas.Menurut kitab

Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang wanita tani dari Desa Pangkur (sebelah timur Gunung
Kawi).Para ahli sejarah menduga ayah Ken Arok seorang pejabat kerajaan, mengingat wawasan
berpikir, ambisi, dan strateginya cukup tinggi.Hal itu jarang dimiliki oleh seorang petani biasa.Pada
mulanya Ken Arok hanya merupakan seorang abdi dari Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung.
Ken Arok setelah mengabdi di Tumapel ingin menduduki jabatan akuwu dan sekaligus memperistri Ken
Dedes (istri Tunggul Ametung). Dengan menggunakan tipu muslihat yang jitu, Ken Arok dapat
membunuh Tunggul Ametung.Setelah itu, Ken Arok mengangkat dirinya menjadi akuwu di Tumapel
dan memperistri Ken Dedes yang saat itu telah mengandung. Ken Arok kemudian mengumumkan
bahwa dia adalah penjelmaan Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Hal itu dimaksudkan agar Ken Arok
dapat diterima secara sah oleh rakyat sebagai seorang pemimpin. Tumapel pada waktu itu menjadi
daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok
ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. Pada tahun 1222 datanglah beberapa pendeta dari
Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari
Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan,
menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak
Kerajaan Kediri. Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju
Kediri.Di daerah Ganter terjadilah peperangan dahsyat.Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat
dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri. Selanjutnya,
Ken Arok dinobatkan menjadi raja.Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel
yang kemudian disebut Kerajaan Singasari.Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah
Gunung Arjuna.
2) Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

Puncak kejayaan Kerajaan Singasari terjadi pada masa pemerintahan Sri Maharajadiraja Sri
Kertanegara.Kertanegara berhasil melakukan konsolidasi dengan jalan menempatkan pejabat yang
memiliki kemampuan sesuai dengan bidang tugasnya.Raja tidak segan-segan untuk mengganti pejabat
yang dipandang kurang berkualitas.Selain itu, raja juga melakukan persahabatan dengan kerajaan-
kerajaan besar, salah satunya dengan Kerajaan Campa.Berkat politik pemerintahan yang dijalankan
Kertanegara, Singasari berkembang menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara, baik dl bidang
perdagangan maupun militer.

18

3) Runtuhnya Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari mengalami keruntuhan oleh dua sebab utama, yaitu tekanan luar negeri dan

pemberontakan dalam negeri.Tekanan asing datang dari Khubilai Khan dan Dinasti Yuan di
Cina.Khubilai Khan menghendaki Singasari untuk menjadi taklukan Cina.Sebagai orang yang
mengambil gelar sebagai maharajadiraja, tentu Kertanegara menolaknya.Penolakan itu disampaikan
dengan cara menghina utusan Khubilai Khan yang bernama Meng-chi.Sejak itu konsentrasi Kertanegara
terfokus pada usaha memperkuat pertahanan lautnya.Di tengah usaha menghadapi serangan dari
Kekaisaran Mongol, tiba-tiba penguasa daerah Kediri yang bernama Jayakatwang melakukan
pemberontakan.Kediri sebagai wilayah kekuasaan terakhir Wangsa Isana, memang berpotensi untuk
melakukan pemberontakan.Sebetulnya Kertanegara telah memperhitungkannya, sehingga mengambil
menantu Ardharaja, anak Jayakatwang.Akan tetapi langkah Kertanegara ternyata tidak efektif.Pada
tahun 1292 Jayakatwang menyerbu ibukota dan berhasil membunuh Kertanegara serta menguasai istana
sehingga runtuhlan Kerajaan Singasari.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di
Kerajaan Singasari antara lain:

a. Kehidupan Politik
a. Ken Arok (1222–1227).
Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok yang menjadi Raja Singasari dengan gelar
Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama
Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa)
atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–
1227). Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken
Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa– Buddha.

b. Anusapati (1227–1248).

Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan
Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak
melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung
ayam.

Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra
Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung
ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa ( tempat kediamanan Tohjoyo)
untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan
ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya
dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang
didharmakan di Candi Kidal.

19

c. Tohjoyo (1248)
Dengan meninggalnya Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo.
Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang
bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa
Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian
menduduki singgasana.

d. Ranggawuni (1248–1268)
Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya

Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi
kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan
Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari. Pada tahun 1254,
Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja
muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada
tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago
sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.
e. Kertanegara (1268–-1292).

Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita
untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri
Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang
mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk
dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot
dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide
dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.

Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain.
Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu
1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan pengirimkan Arca
Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara. Selain menguasai Melayu,
Singasari juga menaklukan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun
(Maluku). Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa,dengan
tujuan untuk menahan perluasaan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol.

Kubilai Khan menuntut raja-raja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya
sebagai yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai nuka utusannya yang bernama
Mengki. Tidakan Kertanegara ini membuat Kubilai Khan marah besar dan bermaksud
menghukumnya dengan mengirimkan pasukannya ke Jawa.

20

Sumber : buku paket Sejarah SMA kelas XI

Gambar 2.1Peta kerajaan singasari semasa kartanegara

Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan
Mongol maka Jayakatwang (Kediri) menggunakan kesempatan untuk menyerangnya.
Serangan dilancarakan dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan
dari arah selatan merupakan pasukan inti.

Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk
istana dan menemukan Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanaga
beserta pembesar-pembesar istana tewas dalam serangan tersebut.

Ardharaja berbalik memihak kepada ayahnya (Jayakatwang), sedangkan Raden Wijaya
berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan
bantuan kepada Aria Wiraraja. Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat
pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya diberi sebidang tanah yang
bernama Tanah Tarik oleh Jayakatwang untuk ditempati.

Dengan gugurnya Kertanegara maka Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini
berarti berakhirnya kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya,
Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa––Buddha (Bairawa) di Candi Singasari.
Arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman
Simpang, Surabaya.

21

b. Kehidupan Sosial Ekonomi
Ketika Ken Arok menjadi Akuwu di Tumapel, ia berusaha meningkatkan kehidupan sosial

masyarakatnya. Terjaminnya kehidupan sosial masyarakat Tumapel mengakibatkan
bergabungnya daerah-daerah di sekitarnya. Perhatian Ken Arok bertambah besar ketika ia
menjadi raja di Singasari. Dengan demikian, rakyat hidup dengan aman dan damai untuk
mencapai kesejahteraannya.

Akan tetapi, ketika masa pemerintahan Anusapati, kehidupan sosial masyarakat Siongasari
kurang mendapatkan perhatian. Baru pada masa pemerintahan Wisnuwardana, kehidupan
sosial masyarakatnya teratur baik.Rakyat hidup dengan tentram dan damai. Begitu juga masa
pemerintahan Kertanegara. Dalam kehidupan ekonomi, rakyat Kerajaan Singasari hidup dari
pertanian, pelayaran, dan perdagangan.

c. Kehidupan Kebudayaan
Kehidupan kebudayaan masyarakat Singasari dapat diketahui dari peninggalan candi-candi

dan patung-patung yang berhasil dibangunnya. Candi hasil peninggalan Singasari, di
antaranya adalah Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari. ADapun arca atau patung
hasil peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai perwujudan dari
Prajnyaparamita lambang kesempurnaan ilmu dan Patung Kertanegara dalam wujud Patung
Joko Dolog.

Sumber : https://www.kompasiana.com.percakapan-dengan-ken-dedes

Gambar 2.2 Patung Ken Dedes

22

2. Kerajaan Majapahit
Tumbuhnya Kerajaan Majapahit dimulai dari runtuhnya Singasari dan gugurnya Kertanegara akibat

serangan dari Raja Kadiri, Jayakatwang. Serangan ini dilancarkan pada tahun 1292 M, pada waktu
bersamaan Ketika Singasari mengirimkan sebagian pasukannya untuk melawat dalam rangkaian
Ekspedisi Pamalayu. Singasari runtuh seiring wafatnya Kertanegara, dan dikuasai oleh Kadiri. Seluruh
kerabat Kertanegara melarikan diri, termasuk Raden Wijaya yang merupakan keponakan dari
Kertanegara. Raden Wijaya melarikan diri ke Madura dan diterima oleh Wiraraja, meminta bantuan agar
dapat diterima oleh Jayakatwang dengan menyatakan kesetiaan. Raden Wijaya kemudian berbalik
menyerang Jayakatwang dan mendirikan Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar Nusantara pada
masa Hindu-Buddha, berdiri pada akhir abad ke-13 sampai dengan abad ke-16 seiring dengan berjayanya
kerajaan Islam.

1) Pendiri Kerajaan Majapahit
Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya, yang merupakan menantu sekaligus

keponakan Kertanegara. Raden Wijaya memohon kepada Jayakatwang untuk membuka wilayah
pertahanan sebagai pengabdian terhadap Jayakatwang. Raden Wijaya dengan bantuan Wiraraja, yang
justru mendukungnya untuk bertahta mulai mengumpulkan kekuatan. Kesempatan ini bersambut
dengan datangnya tentara Cina yang dikirim untuk menghukum Kertanegara. Melalui ini, Raden
Wijaya menyatakan kesetiaan kepada Cina dan memohon bantuan untuk menumpas Jayakatwang yang
dianggap sebagai penerus Kertanegara. Jayakatwang menyerah di hadapan pasukan Cina, dan setelah
itu Raden Wijaya berganti menumpas ribuan tentara Cina. Raden Wijaya kemudian menobatkan diri
sebagai Raja Majapahit dengan gelar Kertarajasa pada tahun 1293 M.
2) Masa Kejayaan

Majapahit berada pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, terutama ketika Hayam Wuruk masih
dibantu oleh Gajah Mada sebagai mahapatih (1350-1357). Pada masa ini cakrawala mandala
Majapahit mencakup wilayah yang sangat luas. Menjangkau Tumasik, Semenanjung, hingga
Nusantara Timur. Pada masa Hayam Wuruk juga ditingkatkan kesejahteraan masyarakat meliputi
perbaikan irigasi, pembukaan tanah pertanian, dan pembuatan bendungan. Hayam Wuruk pada masa
kekuasaannya juga mengunjungi wilayah-wilayah di sekitar pusat kekuasaan Majapahit untuk
memastikan kehidupan masyarakat berlangsung dengan baik.
3) Runtuhnya Kerjaan Majapahit

Beberapa pendapat menyatakan bahwa Majapahit telah runtuh sejak tahun 1478, ketika
Ranawijaya menjadi raja namun tetap berkedudukan di Keling-Kahuripan (Kadiri). Sementara
Kertabhumi yang menduduki Majapahit tidak tercatat mengangkat diri sebagai raja Majapahit. N.J.
Krom berpendapat bahwa Wangsa Girindra adalah keluarga baru dari Kadiri yang merebut Majapahit
dari Wangsa Rajasa. Di sisi lain, berita Dinasti Ming masih mencatat hubungan antara Cina dan Jawa
sampai dengan tahun 1499. Rui de Brito, Gubernur Portugis di Malaka pada tahun 1514 bersurat
pada Raja Manuel bahwa ada dua raja kafir di Jawa yaitu Sunda dan Jawa. Kemudian Duarte
Barbosa, penulis Italia yang menyatakan bahwa tahun 1518 ada raja kafir yang berkuasa di Jawa.

Kedua tulisan ini menyimpulkan bahwa sampai dengan abad ke XVI kerajaan Majapahit masih
ada. Meskipun beberapa saat kemudian, beredar nama Pati Unus sebagai penguasa Jawa. Pati Unus

23

adalah penguasa kerajaan Demak (1518-1521). Hal ini dapat dipahami sebagai luluh lantaknya
kekuasaan Majapahit dalam ekspansi Demak pada tahun-tahun tersebut. Menurut pendapat lain,
berkuasanya Demak tidak lain adalah lanjutan dari sengketa antara Kertabhumi dan Ranaijaya.
Karena dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, Raden Patah menyatakan keturunan dari Prabu
Brawijaya Kertabhumi.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di
Kerajaan Majapahit antara lain:

a. Kehidupan Politik
1) Raden Wijaya (1292–1309)
Kerajaan Majapahit lahir dalam suasana perubahan besar dalam waktu yang singkat. Pada
tahun 1292 Kertanegara gugur oleh pengkhianatan Jayakatwang, Singasari hancur dan
digantikan oleh Kediri. R. Wijaya terdesak oleh serangan tentara Jayakatwang di medan
utara dan berhasil melarikan diri serta mendapat perlindungan dari Kepala Desa Kudadu.
Selanjutnya, ia berhasil menyeberang ke Madura minta perlindungan dan bantuan kepada
Bupati Sumenep, Aria Wiraraja. Atas saran dan jaminan Aria Wiraraja, R. Wijaya
mengabdikan diri kepada Jayakatwang dan memperoleh tanah di Desa Tarik yang
kemudian menjadi pusat Kerajaan Majapahit.

Tentara Kubilai Khan sebanyak 200.000 orang dibawah pimpinan Shih Pie, Ike
Mase, dan Kau Shing datang untuk menghukum Kertanegara. R. Wijaya bergabung dengan
tentara Cina dan mengadakan serangan ke Kediri karena Cina tidak mengetahui terjadinya
perubahan kekuasaan di JawaTimur. Setelah R. Wijaya dengan bantuan tentara Kubilai
Khan berhasil mengalahkan Jayakatwang, ia menghantam tentara asing tersebut. Serangan
mendadak yang tidak terkira sebelumnya, memaksa tentara Kubilai Khan meninggalkan
Jawa Timur terburu-buru dengan sejumlah besar korban. Akhirnya, R. Wijaya dinobatkan
menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1292–
1307).

Untuk menjaga ketenteraman kerajaan maka R. Wijaya mengadakan konsolidasi dan
mengatur pemerintahan. Orang-orang yang pernah berjasa dalam perjuangan diberi
kedudukan dalam pemerintahan. Misalnya, Aria Wiraraja diberi tambahan wilayah di
Lumajang sampai dengan Blambangan, Desa Kudadu dijadikan desa perdikan (bebas pajak
dan mengatur daerahnya sendiri). Demikian juga teman seperjuangannya yang lain, diberi
kedudukan, ada yang dijadikan menteri, kepala wilayah dan sebagainya.

Untuk memperkuat kedudukannya, kempat putri Kertanegara dijadikan istrinya,
yakni Dewi Tribhuanaeswari, Dewi Narendraduhita, Dewi Prajnaparamita dan Dewi
Gayatri. Tidak lama kemudian tentara Singasari yang ikut Ekspedisi Pamalayu di bawah
pimpinan Kebo Anabrang kembali membawa dua putri boyongan, yakni Dara Petak dan
Dara Jingga. Dara Petak diambil istri oleh R. Wijaya, sedangan Dara Jingga kawin dengan
keluarga raja yang mempunyai anak bernama Adiytawarman. Dialah yang kelak menjadi
raja di Kerajaan Malayu. Demikianlah usaha-usaha yang dilakukan oleh R. Wijaya dalam
upaya mengatur dan memperkuat kekuasaan pada masa awal Kerajaan Majapahit. Pada

24

tahun 1309 R. Wijaya meninggal dunia dan didharmakan di Candi Simping (Sumberjati,
Blitar) dalam perwujudan Harihara (Siwa dan Wisnu dalam satu arca).

2) Jayanegera (1309–1328).
R. Wijaya kemudian digantikan oleh putranya Kalagemet dengan gelar Jayanegara

(1309–1328), putra R. Wijaya dengan Dara Petak. Pada masa ini timbul kekacauan di
Majapahit karena pemerintahan Jayanegara yang kurang berbobot dan adanya rasa tidak
puas dari pejuang-pejuang Majapahit semasa pemerintahan R. Wijaya.

Kekacauan di Majapahit itu berupa pemberontakan yang dapat membahayakan
negara, seperti berikut.

a) Pemberontakan Rangga Lawe (1309) yang berkedudukan di Tuban tidak puas
karena ia mengharapkan dapat menjadi patih di Majapahit, sedangkan yang
diangkat adalah Nambi.

b) Pemberontakan Lembu Sora (1311) karena hasutan Mahapati yang merupakan
musuh dalam selimut Jayanegara.

c) Pemberontakan Nambi (1316) karena ambisi ayahnya Aria Wiraraja agar Nambi
menjadi raja. Semua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan.

d) Pemberontakan Kuti (1319) merupakan pemberontakan yang paling
membahayakan karena Kuti dapat menduduki istana kerajaan dan Jayanegara
terpaksa menyingkir ke Bedander. Namun, pasukan Bayangkari kerajaan di bawah
pimpinan Gajah Mada berhasil merebut kembali istana. Jayanegara dapat kembali
ke istana lagi dan berkuasa hingga tahun 1328. Sebagai penghargaan atas jasa-
jasanya, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi patih di Kahuripan dan
kemudian di Daha.

3) Tribhuanatunggadewi (1328–1350)
Pada tahun 1328 Jayanegara wafat. Ia tidak mempunyai putra sehingga takhta

kerajaan diserahkan kepada Gayatri. Oleh karena Gayatri telah menjadi bhiksuni maka
yang tampil adalah putrinya, Bhre Kahuripan yang bertindak sebagai wali ibunya. Bhre
Kahuripan bergelar Tribhuanatunggadewi.

Pemerintahan Tribhuanatunggadewi masih dirongrong pemberontakan, yakni
pemberontakan Sadeng dan Keta. Namun, pemberontakan tersebut berhasil dihancurkan
oleh Gajah Mada. Sebagai tanda penghargaan, pada tahun 1333 Gajah Mada diangkat
sebagai Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua. Pada waktu
penobatannya, Gajah Mada mengucapkan "Sumpah Palapa" (Tan Amukti Palapa). Isinya,
Gajah Mada bersumpah tidak akan makan enak (palapa) sebelum seluruh Nusantara
berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Dalam usaha menyatukan seluruh Nusantara, Gajah Mada dibantu oleh Empuu
Nala dan Adiytawarman. Mula-mula mereka menaklukkan Bali (1334). Selanjutnya, satu
per satu kerajaan-kerajaan di Nusantara berhasil dipersatukan.

4) Hayam Wuruk (1350–1389)
Pada tahun 1350 Gayatri wafat sehingga Tribhuanatunggadewi turun takhta dan
digantikan oleh putranya, yakni Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Pada masa

25

pemerintahannya bersama Patih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mencapai masa
kejayaannya.

Pemerintahan terlaksana secara teratur, baik di tingkat pusat (ibu kota), tingkat
menengah (vasal), dan tingkat desa. Sistem pemerintahan daerah (tingkat menengah dan
desa) tidak berubah, sedangkan di tingkat pusat diatur sebagai berikut:

a) Dewan Saptap Prabu, merupakan penasihat raja yang terdiri atas kerabat keraton
dengan jabatan rakryan i hino, rakryan i halu, dan rakryan i sirikan.

b) Dewan Pancaring Wilwatikta, merupakan lembaga pelaksana pemerintahan
(lembaga eksekutif) semacam dewan menteri yang terdiri atas rakryan mahapatih,
rakryan tumenggung, rakryan demung, rakryan rangga, dan rakryan kanuruhan.

c) Dewan Nayapati (lembaga yudikatif) yang mengurusi peradilan.
d) Dharmadyaksa, lembaga yang mengurusi keagamaan terdiri atas Dharmadyaksa

ring Kasaiwan untuk agama Hindu dan Dharmadyaksa ring Kasogatan untuk
agama Buddha.

Dengan demikian pada masa Majapahit penganut agama Hindu dan Buddha dapat hidup
berdampingan, rukun dan damai. Bhineka tunggal ika tan hana dharmamangrawa inilah semboyan rakyat
Majapahit dalam menciptakan persatuan dan kesatuan sehingga muncul sebagai kerajaan besar di
Nusantara.

Di tingkat tengah terdapat pemerintah daerah yang dikepalai oleh seorang raja kecil atau bupati.
Mereka dapat mengatur daerahnya secara otonom, tetapi setiap tahun berkewajiban datang ke ibu kota
sebagai tanda tetap setia dan tunduk kepada pemerintah pusat Majapahit. Daerah-daerah demikian disebut
mancanegara yang berarti negara (daerah) di luar daerah inti kerajaan. Jadi, untuk mengikat hubungan
maka setiap tahun daerah taklukan harus mengirim upeti ke Majapahit. Di samping itu juga ada petugas
Majapahit yang berkeliling ke daerah-daerah untuk melihat kedaan rakyatnya. Untuk memantau ketertiban
dan keamanan dikirimlah duta nitiyasa (petugas sandi) ke seluruh Nusantara.

Di tingkat bawah, terdapat pemerintahan desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa. Pemerintahan
dilakukan menurut hukum adat desa itu sendiri. Struktur pemerintahan desa masih asli dan kepala desa
dipilih secara demokratis.

Dengan kondisi pemerintahan yang stabil dan keamanan yang mantap, Sumpah Palapa Gajah Mada
dapat diwujudkan. Satu per satu wilayah Nusantara dapat menyatu dalam wilayah kekuasaan Majapahit.
Dalam kitab Negarakrtagama secara jelas disebutkan daerah-daearah yang masuk wilayah kekuasaan
Majapahit ialah Jawa, Sumatra, Tanjungpura (Kalimantan), Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua,
Semenanjung Malaka, dan daerah-daerah pulau di sekitarnya.

26

Sumber : kompasiana.com

Gambar 2.3 Peta Daerah Kekuasaan Majapahit

Majapahit juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang jauh, seperi Siam, Champa dan
Cina. Negara-negara tersebut dianggap sebagai mitreka satata (negara sahabat yang berkedudukan sama).

Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 dan digantikan oleh putrinya Dyah Kusumawardhani yang
didampingi oleh suaminya Wikramawardhana (1389–1429). Hayam Wuruk dengan isteri selir mempunyai
anak Bhre Wirabhumi yang telah diberi kekuasaan sebagai penguasa daerah (bupati) di Blambangan. Akan
tetapi, Bhre Wirabumi menuntut takhta Majapahit sehingga menimbulkan perang saudara (Perang
Peregreg) tahun1401– 1406. Pada akhirnya Bhre Wirabhumi kalah dan perang saudara tersebut
mengakibatkan lemahnya kekuasaan Majapahit Setelah Wikramawardhana.

Meninggal (1429) takhtanya digantikan oleh Suhita yang memerintah hingga 1447. Sampai dengan
akhir abad ke-15 masih ada raja-raja yang memerintah sebagai keturunan Majapahit , namun telah suram
karena tidak ada persatuan dan kesatuan sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu melepaskan diri.
Para bupati di pantai utara Jawa, seperi Demak, Gresik, dan Tuban telah menganut agama Islam sehingga
satu per satu memisahkan diri dari Majapahit. Demikian juga daerah di luar Jawa mulai berani tidak
mengirim upeti ke Majapahit sampai dengan Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya rutuh.
Dengan demikian, faktor yang menyebabkan kemunduran Majapahit kalu disimpulkan, antara lain sebagai
berikut.

a) Tidak ada lagi tokoh-tokoh yang kuat di pusat pemerintahan yang dapat mempertahankan
kesatuan wilayah sepeninggal Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

b) Terjadinya perang saudara (Paregreg).
c) Banyak daerah-daerah jajahan yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
d) Masuk dan berkembangnya agama Islam.

Setelah mengalami kemunduran, akhirnya Majapahit runtuh. Dalam hal ini ada dua pendapat:

27

a) Tahun 1478, yakni adanya serangan Girindrawardana dari Kediri. Peristiwa tersebut diberi
candrasengkala "hilang sirnakertaning bhumi" yang berarti tahun 1400 Saka/1478 M.

b) Tahun 1526, yakni adanya serangan tentara dari Demak di bawah pimpinan Raden Patah.
Serangan Demak ini menandai berakhirnya kekuasaan Hindu di Jawa.

b. Kehidupan Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial masa Majapahit aman, damai, dan tenteram. Dalam kitab

Negarakrtagama disebutkan bahwa Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke daerah-
daerah untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Perlindungan
terhadap rakyat sangat diperhatikan. Demikian juga peradilan, dilaksanakan secara ketat;
siapa yang bersalah dihukum tanpa pandang bulu.

Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat Majapahit hidup dari pertanian dan
perdagangan. Prasarana perekonomian dibangun, seperti jalan, alu lintas sungai dan
pelabuhan. Pelabuhan yang besar, antara lain di Surabaya, Gresik, dan Tuban. Barang
dagangan yang diperjual-belikan, antara lain beras, rempah-rempah, dan kayu cendana.
c. Kehidupan Kebudayaan
Dalam kondisi kehidupan yang aman dan teratur maka suatu masyarakat akan mampu
menghasilkan karya-karya budaya yang bermutu tinggi. Hasil budaya Majapahit dapat
dibedakan sebagai berikut :
1) Candi

Banyak candi peninggalan Majapahit, seperti Candi Penataran (di Blitar), Candi Brahu,
Candi Bentar (Waringin Lawang), Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan bangunan-
bangunan kuno lainnya, seperti Segaran dan Makam Troloyo (di Trowulan).

2) Kesusanteran
Zaman Majapahit bidang sastra sangat berkembang. Hasil sastranya dapat dibagi menjadi
zaman Majapahit Awal dan Majapahit Akhir.

3) Sastra Zaman Majapahit Awal
 Kitab Negarakrtagama, karangan Empu Prapanca. Isinya tentang keadaan kota
Majapahit, daerah-daearah jajahan, dan perjalananan Hayam Wuruk keliling ke
daerah-daerah.
 Kitab Sotasoma, karangan Empu Tantular. Di dalam kitab ini terdapat ungkapan
yang berbuny "Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrawa" yang kemudian
dipakai sebagai motto negara kita.
 Kitab Arjunawijaya karangan EmpuTantular. Isinya tentang raksasa yang
dikalahkan oleh Arjuna Sasrabahu.
 Kitab Kunjarakarna, tidak diketahui pengarangnya.

4) Sastra Zaman Akhir Majapahit
 Kitab Pararaton, isinya menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit.
 Kitab Sudayana, isinya tentang Peristiwa Bubat.

28

 Kitab Sorandakan, isinya tentang pemberontakan Sora. (4) Kitab Ranggalawe,
isinya tentang pemberontakan Ranggalawe.

 Kitab Panjiwijayakrama, isinya riwayat R.Wijaya sampai dengan menjadi Raja
Majapahit.

 Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan
Aryadamar.

 Kitab Tantu Panggelaran, tentang pemindahan gunung Mahameru ke Pulau Jawa
oleh Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.

3. Kerajaan Bali Kuno

Kerajaan Bali Kuno terletak di Pulau Bali yang berada di sebelah timur Provinsi Jawa Timur.
Kerajaan Bali mempunyai hubungan sejarah yang erat dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa,
khususnya di Jawa Timur, seperti kerajaan Singasari dan Majapahit.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di
Kerajaan Bali Kuno antara lain:

a. Kehidupan Politik
Berita tertua mengenai Bali bersumber dari Bali sendiri, yakni berupa beberapa buah cap

kecil dari tanah liat yang berukuran 2,5 cm yang ditemukan di Pejeng, Bali. Cap-cap itu dibuat
pada abad ke-8 M. Adapun prasasti tertua di Bali berangka tahun 882 M, memberitakan perintah
membuat pertapaan dan pasanggrahan di Bukit Kintamani. Di dalam prasasti tersebut tidak ditulis
nama raja yang memerintah pada masa itu. Demikian juga prasasti yang berangka tahun 911 M
yang isinya memberikan izin kepada penduduk Desa Trunyaan untuk membangun tempat suci
bagi pemujaan Bhattara da Tonta.

Munculnya Kerajaan Bali dapat diketahui dari Prasasti Blanjong (Sanur) yang berangka tahun
914 M. Prasasti tersebut itulis dengan huruf Pranagari dan Kawi, sedang bahasanya ialah Bali
Kuno dan Sanskerta. Raja Bali yang pertama ialah Kesari Warmadewa. Ia bertakhta di Istana
Singhadwala dan merupakan raja yang mendirikan Dinasti Warmadewa. Dua tahun kemudian,
Kesari Warmadwa digantikan oleh Ugrasena (915–942). Raja Ugrasena bertakhta di Istana
Singhamandawa. Masa pemeritahannya sezaman dengan pemerintahan Empu Sendok dari
keluarga Isana di Jawa Timur. Raja Ugrasena meninggalkan sembilan prasasti yang umumnya
berisi tentang pembebasan pajak untuk daerah-daerah tertentu.

Raja yang memerintah setelah Ugrasena adalah Aji Tabanendra Warmadewa (955–967). Raja
ini memerintah bersama-sama permaisurinya yang bernama Sri Subadrika Dharmadewi. Pengganti
berikutnya ialah Jayasingha Warmadewa (968–975). Raja ini membangun sebuah pemandian dari
sebuah mata air yang ada di Desa Manukaya. Pemandian itu disebut Tirtha Mpul yang terletak di
dekat Tampaksiring.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa (975–983). Pada tahun 983 muncul
seorang raja wanita yang bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Pengganti Sri Wijaya
Mahadewi ialah Udayana Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, yaitu Gunapriya
Dharmapatni yang lebih dikenal sebagai Mahendradatta. Udayana memerintah bersama

29

permaisurinya sampai dengan tahun 1001 M karena pada tahun itu Mahendradatta meninggal.
Udayana meneruskan pemerintahannya sampai dengan tahun 1011 M.

Raja Udayana mempunyai tiga orang putra, yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu.
Airlangga tidak pernah memerintah di Bali sebab menjadi menantu Dharmamangsa di Jawa
Timur. Oleh karena itu, setelah Udayana meninggal, takhtanya digantikan oleh Marakata. Setelah
naik takhta, Marakarta memakai gelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana
Uttunngadewa. Masa pemerintahan Marakata sezaman dengan Airlangga (1011–1022 M). Ia
dianggap sebagai kebenaran hukum yang selalu memerhatikan dan melindungi rakyatnya. Oleh
karena itu, Marakata disegani dan ditaati oleh rakyatnya.

Pengganti Marakata ialah Anak Wungsu. Anak Wungsu merupakan Raja Bali yang paling
banyak meninggalkan prasasti, yakni ada kurang lebih 28 buah prasasti dan tersebar di Bali Utara,
Bali Tengah, dan Bali Selatan. Anak Wungsu berhasil memegang tampuk pemerintah di Bali
selama 28 tahun (1049–1077). Semasa pemerintahannya, ia berhasil mewujudkan kerajaan yang
aman, damai, dan sejahtera. Penganut agama Hindu dapat hidup berdampingan dengan agama
Buddha. Anak Wungsu berhasil membangun sebuah kompleks percandian di Gunung Kawi
(sebelah selatan Tampaksiring) yang merupakan peninggalan terbesar di Bali. Masa
pemeritahannya yang gemilang, Anak Wungsu dianggap oleh rakyatnya sebagai penjilman Dewa
Hari (Dewa Kebaikan). Setelah meninggal, Anak Wungsu didharmakan di Candi Gunung Kawi.

Anak Wungsu tidak meninggalkan putra. Permisurinya dikenal dengan nama Batari Mandul.
Raja yang memerintah setelah Anak Wungsu yang terkenal ialah Jayasakti (1133–1150). Masa
pemerintahan Jayasakti sezaman dengan Raja Jayabaya di Kediri. Pada saat itu agama Buddha,
Siwaisme, dan Waisnama berkembang dengan baik. Raja Jayasakti disebut sebagai penjilmaan
Dewa Wisnu. Sebagai seorang raja yang bijaksana, ia memerintah kerajaan berdasarkan pada
hukum keadilan dan kemanusiaan. Kitab undang-undang yang berlaku pada masa
pemerintahannya ialah Utara Widdhi Balawan dan Raja Wacana atau Rajaniti.

Raja Bali yang terkenal lainnya ialah Jayapangus (1177–1181). Raja Jayapangus dianggap
sebagai penyelamat rakyat yang terkena malapetaka karena melalaikan ibadah. Jayapangus
menerima wahyu dari Dewa untuk mengajak rakyat kembali melakukan upacara rital agama yang
sampai sekarang dikenal dan diperingati sebagai upacara Galungan. Kitab undang-undang yang
digunakan sebagai pedoman masa pemerintahannya ialah kitab Mana Wakamandaka.

Setelah Jayapangus, Bali diperintah oleh raja-raja yang lemah. Bali kemudian berhasil
ditaklukan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah kekuasaan Majapahit.

30

b. Kehidupan Sosial Ekonomi
Struktur masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan Bali Kuno, sesuai dengan

kebudayaan Hindu di India, yaitu pada awalnya diwarnai dengan sistem kasta yang disebut
caturwarna. Untuk masyarakat yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.

Selain itu, ada hal yang menarik dalam sistem keluarga di Bali yakni berkaitan dengan
pemberian nama anak. Misalnya, Wayan, Made, Nyoman dan Ktut. Untuk anak pertama dari
golongan brahmana dan kesatria disebut Putu.

Kehidupan perekonomian masyarakat dari Kerajaan Bali Kuno bertumpu pada pertanian.
Beberapa istilah yang berkaitan dengan bercocok tanam, antara lain sawah, parlak (sawah kering),
gaga (ladang), kebwan (kebun), dan kasuwakan (irigasi). Selain bercocok tanam, ada yang bekerja
sektor di kerajinan. Mereka memiliki kepandaian membuat barang-barang kerajian dari emas dan
perak, perlatan rumah tangga, dan alat-alat pertanian. Bahkan, ada memiliki kepandaian memahat
dan melukis.

Kegiatan perdagangan pun, sudah cukup maju. Di beberapa desa terdapat golongan saudagar
yang disebut wanigrama (saudagar laki-laki) dan wanigrami (saudagar perempuan). Mereka
memiliki kepala atau pejabat yang mengurus kegiatan perdagangan yang disebut banigrama atau
banigrami.

c. Kehidupan Budaya
Masuknya kebudayaan Hindu–Buddha ke Bali, berpengaruh besar pada masyarakatnya.

Sampai saat ini mayoritas penduduk Bali menganut agama Hindu. Agama Hindu di Bali te-lah
bercampur dengan adat isti-adat setempat sehingga Hindu khas Bali disebut Hindu Dharma. Agama
Buddha juga berkem-bang, meskipun tidak sepesat agama Hindu. Hal ini dapat diketahui dari
jumlah pedanda (pendeta) agama Hindu (Siwa) yang bergelar dang acarrya lebih banyak dari pada
pendeta Buddha yang bergelar dang upadhyaya. Agama Hindu dan Buddha dapat hidup
berdampingan secara damai, menunjukkan adanya tolerasi yang tinggi dalam masyarakat Bali.

Di bidang budaya berkaitan dengan kehidupan keagamaan dapat dijumpai pada bangunan
peninggalan masa kuno yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan, seperti candi dan pura.
Peninggalan bangunan candi, seperti Candi Padas di Gunung Kawi. Sebaliknya, untuk peninggalan
pura di antaranya ialah Pura Agung Besakih.

31

4. Kerjaan Kalingga

1. Sejarah kerajaan Kalingga
dimulai pada abad ke-6 dan merupakan sebuah kerajaan dengan gaya India yang terletak di pesisir

utara Jawa Tengah. Belum diketahui secara pasti dimana pusat kerajaan ini berada, tapi beberapa ahli
memprediksikan bahwa tempatnya ada di antara tempat yang sekarang menjadi Pekalongan dan Jepara.
Tidak banyak yang dapat diketahui dari kerajaan ini karena sumber sejarah yang ada juga hampir nihil
dan mayoritas catatan tentang sejarah kerajaan Kalingga didapat dari kisah-kisah Tiongkok, cerita turun-
temurun rakyat sekitar, dan Carita Parahyangan yang menceritakan tentang Ratu Shima serta kaitan ratu
tersebut dengan kerajaan Galuh. Ratu Shima juga dikenal karena peraturannya yang kejam dimana
siapapun yang tertangkap basah mencuri akan dipotong tangannya.

Kalingga berasal dari kata kalinga,nama sebuah kerajaan di india selatan, yang didirikan oleh
beberapa kelompok orang lain dari india yang berasal dari orissa, mereka melarikan diri karena daerah
orissa dihancurkan oleh Maharaga Asoka. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-6 dan dibubarkan pada
abad ke-7.

Kerajaan kalingga diperkirakan terletak di jawa tengah, di kecamatan keling sebelah utara gunung
muria, Sekarang letak nya dekat dengan kabupaten pekalongan dan kabupaten jepara. Ibu kota dari
kerajaan kalingga adalah keling(jepara), bahasa yang digunakan kerajaan kalingga yaitu, melayu kuna
sanskerta, agama yang dianut kerajaan kalingga yaitu, hindu dan buddha. Sebenarnya agama yang dianut
oleh penduduk kerajaan ini umumnya buddha, karena agama buddha berkembang pesat pada saat
itu,bahkan pendeta cina datang ke keling dan tinggal selama tiga tahun.

Ratu Sima adalah penguasa di Kerajaan Kalingga. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita
yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Ratu sima memerintah sekitar
tahun 674-732 m.
2. Awal Mula Berdirinya Kerajaan Kalingga

Awal Berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Nama
Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada tautan
antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui,
tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi
ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling
di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya
kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga mempunyai ide bahwa Pekalongan
merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kaling-an.

Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan peraturan kejamnya
terhadap pencurian, dimana hal tersebut memaksa orangorang Kalingga menjadi jujur dan selalu
memihak pada kebenaran. Menurut ceritacerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang
raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada
persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orangorang Kalingga yang
terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan
milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima, sang putra mahkota
secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera
menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima,

32

beberapa orang memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah.
Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari dari anaknya.

Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana
kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju
Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing tersebut.
Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu
bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan
oleh Jay Shima ini menyebabkan sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh
beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.

Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan
saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi bernama
candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di
Keling, tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi
dan berumur lebih tua dari Candi Borobudur. Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan sebuah candi yang
baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.

Ada beberapa aspek kehidupan yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan
Kalingga antara lain:

a. Kehidupan politik kerajaan kalingga
Pada abad ketujuh masehi kerajaan kalingga dipimpin oleh ratu sima, hukum di

kalingga ditegakkan dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman di kalingga berjalan
dengan baik. Menurut naskah parahhayang, Ratu sima memiliki cucu bernama sanaha yang
menikah dengan Raja Brantasenawa dari kerajaan galuh. Sanaha memiliki anak bernama
sanjaya yang kelas akan menjadi raja mataram kuno. Sepeninggalan Ratu sima, kerajaan
Kalingga ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya.
b. Kehidupan ekonomi kerajaan Kalingga

Perekonomian kerajaan kalingga bertumpu pada sector perdagangan dan pertanian.
Letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara jawa tengah menyebabkan kalingga mudah
di akses oleh pedagang luar negeri.kalingga merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas,
perak, culabadak,dan gading gajah untuk dijual. Penduduk kalingga dikenal pandai membuat
minuman yang berasal dari bunga kelapa dan bunga aren.

33

c. Kehidupan sosial kerajaan kalingga
Kerajaan kalingga hidup dengan teratur,berkat kepemimpinan ratu sima ketentraman

dan ketertiban di kerajaan kalingga berlangsung dengan baik. Dalam menegakkan hukum,
ratu sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan kerabatnya sendiri.

Berita tentang ketegasan hukum ratu sima, raja yang bernama T-shih ia adalah kaum
muslim arad dan persia, ia menguji kebenaran berita yang ia dengar.beliau memerintahkan
anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di jalan wilayah kerajaan kalingga.
Selama tiga tahun kantong tersebut tidak ada yang menyentuh, jika ada yang melihat kantong
itu ia berusaha menyingkir.

Tetapi pada suatu hari, putra mahkota tidak sengaja menginjak kantong tersebut
hingga isinya berceceran. Mendengar kejadian tersebut ratu sima marah, dan memerintahkan
agar putra mahkota dihukum mati. Tetapi karena para menteri memohon agar putra mahkota
mendapat pengampunan. Akhirnya ratu sima hanya memerintahkan agar jari putra mahkota
yang menyentuh kantong emas tersebut di potong,hal ini menjadi bukti ketegasan ratu sima.

PENUGASAN UNIT 2

Buatlah kelompok kecil 2 – 4 orang, dan buatlah rangkuman tentang kehidupan Ken
Arok dan upaya – upaya yang dilakukan sehingga berhasil menjadi Kerajaan Singasari.
Buatlah semenarik mungkin dan kumpulkan hasilnya kepada gurumu.

34

LATIHAN SOAL UNIT 2

I. Pilihlah satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a,
b, c, d, atau e!

1. Salah satu wujud akulturasi budaya pra-Hindu-Budha dengan budaya Hindu-Budha
di bidang pemerintahan adalah…
a. Lahirnya bentuk kerajaan di Nusantara
b. Kepala suku sebagai pimpinan kelompok
c. Berkembangnya sistem musyawarah di dalam istana
d. Terjadinya pemilihan untuk menentukan seseorang menjadi raja
e. Terjalinnya hubungan diplomatik antara kerajaan di India-Nusantara

2. Yang bukan isi sarkofagus hasil budaya Megalitikum yang terdapat di Bali adalah…
a. Barang-barang besi
b. Manik-manik
c. Anting-anting dari batu
d. Barang-barang perunggu
e. Tulang belulang manusia

3. Majapahit pernah menjadi kerajaan yang kuat. Faktor yang bukan pendorong
berkembangnya adalah…
a. Tanahnya subur hasil pertanian dapat diekspor
b. Letaknya strategis di tengah-tengah jalur perdagangan
c. Tidak memiliki saingan di Sumatera, Sriwijaya sudah lemah
d. Memiliki tentara/ militer yang kuat dan berpengalaman
e. Memiliki tokoh negarawan yang cakap (R. Wijaya)

4. Masa kerutuhan kerajaan Majapahit terjadi setalah wafatnya
a. Gajah Mada dan Hayam Wuruk
b. Punawarman
c. Mulawarman
d. Mpu Tantular
e. Rakai Pikatan

5. Berikut ini adalah kehidupan sosial budaya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-
Budha di Indonesia…
a. Kehidupan bercorak feodal
b. Masyarakat agraris
c. Berlakunya sistem kerja rodi
d. Kehidupan kolektif
e. kehidupan ekonomi

35

II. Jawablah peranyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!
1. Bagaimana kegiatan ekonomi yang di jalankan oleh masyarakat dan pemerintah
Kerjaan Majapahit di Pulau Jawa?
2. Jelaskan kronologi berdirinya Kerjaan Singasari!
3. Bagaimna kehidupan kebudayaan pada masa kerajaan kuno bali?
4. Pada tahun berapa ratu sima memerintah kerjaan Kalingga?
5. Jelaskan bukti-bukti peninggalan sejarah Kerajaan Kalingga!

36

Evaluasi

I. Pilihlah satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (x) pada huruf a,
b, c, d atau e!

1. Candi Borobudur merupakan akulturasi kebudayaan Buddha dengan kebudayan
Indonesia. Kebudayaan asli Indonesia tampak dalam wujud ….
a. patung-patung yang ada
b. bangunan Megalitikum
c. pundek berundak
d. stupa
e. relief

2. Upaya Raja Purnawarman dalam memperhatikan aspek pertanian dan perdagangan
rakyat kerajaan Tarumanagara dengan membuat saluran untuk mengairi sawah dapat
diketahui dari isi prasasti ...
a. Tugu
b. Lebak Munjul
c. Ciaruteun
d. Kebon Kopi
e. Muara Cianten

3. Di bawah ini merupakan bukti-bukti prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang
ditemukan di dalam negeri, kecuali ....
a. Prasasti Kedukan Bukit
b. Prasasti Palas Pasemah
c. Prasasti Talang Tuo
d. Prasasti Nalanda
e. Prasasti Kota Kapur

4. Penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak (11 km) oleh Raja Purnawarman
dinyatakan secara jelas dalam Prasasti ….
a. Kebon Kopi
b. Pasir Awi
c. Ciaruteun
d. Lebak
e. Tugu

5. Kehidupan perekonomian yang berkembang di kerajaan Tarumanegara dapat kita
analisis dari isi prasasti ....
a. Cidanghiang
b. Kebon Kopi
c. Ciaruteun
d. Tugu
e. Pasir Jambu

37

6. Salah satu wujud akulturasi budaya pra-Hindu-Budha dengan budaya Hindu-Budha di
bidang pemerintahan adalah…
a. Lahirnya bentuk kerajaan di Nusantara
b. Kepala suku sebagai pimpinan kelompok
c. Berkembangnya sistem musyawarah di dalam istana
d. Terjadinya pemilihan untuk menentukan seseorang menjadi raja
e. Terjalinnya hubungan diplomatik antara kerajaan di India-Nusantara

7. Yang bukan isi sarkofagus hasil budaya Megalitikum yang terdapat di Bali adalah…
a. Barang-barang besi
b. Manik-manik
c. Anting-anting dari batu
d. Barang-barang perunggu
e. Tulang belulang manusia

8. Majapahit pernah menjadi kerajaan yang kuat. Faktor yang bukan pendorong
berkembangnya adalah…
a. Tanahnya subur hasil pertanian dapat diekspor
b. Letaknya strategis di tengah-tengah jalur perdagangan
c. Tidak memiliki saingan di Sumatera, Sriwijaya sudah lemah
d. Memiliki tentara/ militer yang kuat dan berpengalaman
e. Memiliki tokoh negarawan yang cakap (R. Wijaya)

9. Masa kerutuhan kerajaan Majapahit terjadi setalah wafatnya
a. Gajah Mada dan Hayam Wuruk
b. Punawarman
c. Mulawarman
d. Mpu Tantular
e. Rakai Pikatan

10. Berikut ini adalah kehidupan sosial budaya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha
di Indonesia…
a. Kehidupan bercorak feodal
b. Masyarakat agraris
c. Berlakunya sistem kerja rodi
d. Kehidupan kolektif
e. kehidupan ekonomi

38

II. Jawablah peranyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!
1. Apa bukti masyarakat Tarumanegara bermata pencaharian sebagai pentani ?
2. Jelaskan bukti keberadaan Kerjaan Kutai di Indonesia!
3. Tulislah Faktor-faktor yang mendorong kemajuan Sriwijaya!
4. Bagaimana kehidupan bidang politik Kerajaan Kediri?
5. Siapakah 2 dinasti yang memerintah bumi mataram ?
6. Bagaimana kegiatan ekonomi yang di jalankan oleh masyarakat dan pemerintah Kerjaan
Majapahit di Pulau Jawa?
7. Jelaskan kronologi berdirinya Kerjaan Singasari?
8. Bagaimna kehidupan kebudayaan pada masa kerajaan kuno bali?
9. Pada tahun berapa ratu sima memerintah kerjaan Kalingga?
10. Jelaskan bukti-bukti peninggalan sejarah Kerajaan Kalingga!

39

Glosarium tiang batu untuk menambatkan hewan korban
yang akan dipersembahkan kepada dewa
Yupa tulisan pada batu, tembaga, dan sebagainya
Prasasti yang memberitakan tentang sesuatu hal.
Candi bangunan kuno yang dibuat dari batu atau
bata (sebagai tempat pemujaan, penyimpanan
Kebudayaan abu jenazah raja-raja, pendeta-pendeta
Kerajaan Hindu–Buddha (pada zaman dahulu).
Peta hasil cipta, rasa, karsa, yang dijadikan milik
Konsolidasi pribadi seseorang melalui proses belajar.
bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh
Demokrasi seorang raja.
gambar yang menunjukkan letak tanah, laut,
Kompleks sungai yang menyatakan sifat.
Internasional Sebuah usaha untuk menyatukan dan
Megalitikum memperkuat hubungan antara dua kelompok
Menhir atau lebih sehingga berbentuk entitas yang
Strategis lebih kuat.
sanskerta gagasan atau pandangan hidup yang
mengutamakan persamaan hak dan kewajiban
serta perlakuan yang sama bagi semua warga
negara.
Gabungan beberapa bangunan dalam suatu
wilayah.
Menyangkut bangsa atau negeri seluruh dunia
antar bangsa
Zaman batu besar, yaitu salah satu babak
zaman prasejarah.
Batu tunggal.
Letak suatu wilayah , daerah atau tempat
yang sangat dengat dan mudah di jangkau.
Sebuah bahasa klasik india, bahasa yang di
pergunakan di dalam kitab suci.

40

Daftar Pustaka

http://documents.tips/documents/makalah-sejarah-kerajaan-kutai-martadipura.html. (di Akses
pada tanggal 2)
http://widiyatmiko.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/51866/kerajaan+tarumanegara.pdf. (di
akses pada tanggal 2 desember)
Dwi, Ari Listiyani 2009. Sejarah
https://bsd.pendidikan.id/data/SMA_11/Sejarah_2_Program_IPS_Kelas_11_Dwi_Ari_Listiyani_
2009.pdf ( di Akses pada tanggal 2 desember)
http://widiyatmiko.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/51873/Kerajaan+Sriwijaya.pdf. ( di
akses pada tanggal 2 desember)


Click to View FlipBook Version