2 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g PURA KIDULING KRETEG Selayang Pandang DIHIMPUN OLEH ; Drs. I WAYAN ASTIKA, M.Si. PANITIA PELAKSANA KARYA AGUNG MELASPAS, RSIGHANA, NUBUNG PEDAGINGAN DAN NGENTEG LINGGIH PURA KIDULING KRETEG BESAKIH TAHUN 2013
3 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Pura Kiduling Kreteg Selayang Pandang Panitia Pelaksana Karya Agung Melaspas, Ngeresighana, Nubung Pedagingan dan Ngenteg Linggih Tahun 2013 Copyright@ 2013 Bagian Kesra Setda Kab. Karangasem Dihimpun Oleh : Drs. I Wayan Astika, M.Si. Tata Letak & Perwajahan : Drs. I Wayan Astika, M.Si. Diterbitkan pertama kali oleh : Bagian Kesra Setda Kabupaten Karangasem Kantor : Jalan Ngurah Rai – Amlapura 80861 Cetakan I : 2013
4 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g SAMBUTAN BUPATI KARANGASEM Om Swastyastu, Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, saya merasa sangat berbahagia dan menyambut baik atas diterbitkannya buku “Pura Kiduling Kreteg Selayang Pandang” yang berisikan tentang informasi mengenai keberadaan pura Kiduling Kreteg dan rangkaian kegiatan Karya Nubung Pedagingan Tahun 2013. Penerbitan buku “Pura Kiduling Kreteg Selayang Pandang”akan dapat memberikan sedikit gambaran tentang keberadaan pura Kiduling Kreteg Besakih yang menjadi tanggungjawab pemerintah dan masyarakat umat Hindu Kabupaten Karangasem. Melalui informasi dalam buku kecil ini akan dapat dimanfaatkan oleh umat sedharma untuk meningkatkan pencerahan bhatin, serta dapat meningkatkan keyakinan, keimanan dan rasa bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa . Akhirnya, dengan terbitnya buku ini semoga dapat menambah pengetahuan kita tentang nilai - nilai agama, serta
5 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g dapat memperkaya apresiasi kreatif para generasi muda dan dapat memperkaya wawasan berpikir masyarakat kita. Semoga buku ini bermanfaat bagi kemajuan pengetahuan dan pemahaman kita terhadap nilai- nilai luhur agama Hindu. Om, Shantih, Shantih, Shantih, Om BUPATI KARANGASEM I WAYAN GEREDEG
6 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g PENGANTAR Sebagai umat beragama, satu hal penting yang menjadi ciri adalah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai makhluk ciptaannya memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Oleh karena itu senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada kemaha kuasaan Tuhan untuk dapat mencapai kehidupan yang lebih baik serta upaya mewujudkan kesejahteraan lahir dan bhatin. Atas kertha wara nugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya buku “Pura Kiduling Kreteg Selayang Pandang”dapat diselesaikan sebagai punia dalam karya Melaspas, Ngeresighana, Nubung Pedagingan,dan Ngenteg Linnggih tahun 2013. . Buku kecil ini memberikan gambaran sekilas tentang pura Kiduling Kreteg sebagai tempat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Bhatara Brahma. Pura Kiduling Kreteg adalah tempat umat Hindu memuja kebesaran Hyang Widhi guna mendapatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan di akhirat sebagai wujud dari tujuan hidup manusia yakni jagadhita dan moksa. Akhirnya harapan saya, mudah-mudahan buku ini bermanfaat dan ikut berperan dalam meningkatkan sraddha dan bhakti menuju ajeg Bali yang santa – jagadhita.Semoga! Amlapura, Desember 2013 Penyunting,
7 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g DAFTAR ISI SAMBUTAN............................................................. i KATA PENGANTAR............................................... iii DAFTAR ISI............................................................ . v BAB I PENDAHULUAN..................................... . 1 1. Pengelompokan Pura............................... 2 2. Pura Kahyangan Jagat............................. 3 3. Pura Sad Kahyangan............................... 4 4. Fungsi Pura............................................. 5 BAB II GAMBARAN UMUM PURA KIDULING KRETEG................... 13 1. Status Pura Kiduling Kreteg................... 17 2. Fungsi Pura Kiduling Kreteg.................. 17 3. Struktur Pura Kiduling Kreteg.............. 18 4. Fungsi dan Peranan Pemaksan PuraKiduling Kreteg............................. 21 BAB III RANGKAIAN UPACARA PURA KIDULING KRETEG................... 23 1. Upacara Pujawali ( Piodalan )............... 27 2. Upacara Panyeheb Brahma.................... 28 3. Upacara Aci Nyungsung....................... 29 4. Upacara Bhatara Turun Kabeh............... 30
8 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN PANITIA PELAKSANA KARYA AGUNG MELASPAS, NGRESIGANA NUBUNG DAGING LAN NGENTEG LINGGIH PURA KIDULING KRETEG BESAKIH. DUDONAN KARYA MELASPAS, RSIGHANA, NUBUNG DAGING DAN NGENTEG LINGGIH PURA KIDULING KRETEG TAHUN 2013.
9 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g BAB I P E N D A H U L U A N Istilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua.Pada mulanya istilah Pura yang berasal dari kata Sanskerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi.Sebelum dipergunakannya kata Pura untuk manamai tempat suci / tempat pemujaan dipergunakanlah kata Kahyangan atau Hyang. Pada jaman Bali Kuna dan merupakan data tertua kita temui di Bali, ada disebutkan di dalam prasasti Sukawana A I tahun 882M. Kata Hyang yang berarti tempat suci atau tempat yang berbubungan dengan Ketuhanan. Dari sudut antropologi agama Hindu adalah sebuah keyakinan yang ajaran-ajarannya bersumber dari Kitab Suci Weda, yang mengalir ajaran suci yang merupakan wahyu dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Keyakinan dan dan ajaran agama Hindu dituangkan dengan bentuk pemujaan dan persembahan. Pemujaan dan persembahan tersebut dalam agama Hindu memiliki dua macam pemujaan yaitu : 1. Saguna Upasana dan Nirguna Upasana. Yang dimaksud dengan pemujaan Saguna Upasana adalah pemujaan yang masih memerlukan bantuan benda-benda nyata, misalnya :
10 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Bangunan Suci, arca, dan Nyasa-nyasa, sehingga dalam pemujaan masih membayangkan suatu wujud. Sedangkan yang dimaksud dengan Nirguna Upasana adalah pemujaan yang tingkatannya lebih tinggi, yang tidak lagi membayangkan perujudan. Tempat suci atau bangunan suci sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu, antara lain : “di India disebut Dewa Grha, Menhir, di Jawa disebut Candi, dan di Bali disebut Pura. “Pura berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu dari urat kata “pur” artinya benteng” (Goda, 2002:4). Kata pura yang berarti benteng berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Pura sebagai tempat suci agama Hindu merupakan tempat pemujaan yang berfungsi juga sebagai ikatan kemasyarakatan, seperti ikatan sosial, politik, ekonomis, geologis (garis keturunan). 1. Pengelompokan Pura Secara umum pura di Bali dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok antara lain : 1. Pura umum yaitu pura sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi beserta manifestasinya yang dipuja seluruh umat Hindu (kahyangan jagat). 2. Pura toritorial yaitu pura yang dipuja pada tempat atau wilayah tertentu (banjar/desa). 3. Pura fungsional yaitu pura yang dipuja karena ada ikatan pekerjaan atau mata pencaharian. 4. Pura kawitan yaitu pura yang oleh masing-masing warga/gotra yang dikenal juga dengan tempat pemujaan leluhur, seperti : pura pedarman, dadia, merajan dan lain-lain.
11 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Secara klasik, berdasarkan sejarah, pura Kahyangan Jagat dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda, Catur Loka Pala, Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Ada beberapa pura yang tergolong berfungsi rangkap, baik sebagai pura Rwa Bhineda, pura Catur Loka Pala maupun sebagai pura Sad Winayaka dan juga sebagai pura Padma Bhuwana. Pura Besakih dan Pura Batur di Kintamani adalah pura yang tergolong pura Rwa Bhineda. Pura Catur Loka Pala adalah Pura Lempuyang Luhur di arah timur Bali, Pura Luhur Batukaru arah barat, Pura Andakasa arah selatan dan Pura Puncak Mangu arah utara. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ini umumnya disebut Pura Sad Kahyangan. Tidak kurang dari sembilan lontar menyatakan adanya Pura Sad Kahyangan. Namun setiap lontar menyatakan pura yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena saat Bali menjadi sembilan kerajaan. Tiap-tiap kerajaan memiliki Sad Kahyangan masing-masing. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama. 2. Pura Kahyangan Jagat Sesuai arti harafiahnya, Pura Kahyangan Jagat adalah pura yang universal. Seluruh umat ciptaan Tuhan sejagat boleh bersembahyang ke sana. Pura Kahyangan Jagat tersebar di seluruh dunia. Di Bali karena berkaitan dengan sejarah yang berusia panjang, pura Kahyangan Jagat digolong-golongkan dengan beberapa kerangka (konsepsi). Misalnya kerangka Rwa Bineda, kerangka Catur Loka Pala dan sebagainya. Umumnya, yang kita
12 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g sebut dengan jagat, sesuai dengan pengertian leluhur kita adalah Bali. Padahal kini kebanyakan dari kita berpandangan jagat adalah dunia, bahkan ada yang langsung berasumsi bahwa jagat adalah kawasan semesta, lengkap dengan seluruh konstelasi bintang, nebula, komet sampai lubang hitam. Keberadaan pura dengan lingkungannya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga dapat dihadirkan sebagai fasilitas spiritual yang memadai. Dengan demikian pura dengan fasilitas spiritualnya dapat memberikan kontribusi spiritual yang lebih dalam kepada mereka yang sedang menjadikan pura sebagai media untuk mengembalikan daya spiritualnya. Karena itu, Bhisama Kesucian Pura membenarkan adanya berbagai fasilitas yang menunjang keberadaan pura sebagai media spiritual. 3. Pura Sad Kahyangan Sad Kahyangan adalah enam buah pura Kahyangan Jagat di Bali, yang menjadi tempat pemujaan seluruh Umat Hindu. Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali berlandaskan pada: Landasan filosofis yaitu konsepsi Sad Winayaka (menurut lontar Dewa Purana Bangsul), Landasan historis : Pura Sad Kahyangan itu sudah ada sebelum kedatangan Gajah Mada di Bali tahun 1343 Masehi dan Landasan Tradisi yaitu.: Masyarakat di Bali pada umumnya telah memandang bahwa, Pura- Pura itu adalah Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ini umumnya disebut Pura Sad Kahyangan. Tidak kurang
13 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g dari sembilan lontar menyatakan adanya Pura Sad Kahyangan. Namun setiap lontar menyatakan pura yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena saat Bali menjadi sembilan kerajaan. Tiap-tiap kerajaan memiliki Sad Kahyangan masing-masing. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama. Pura Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa itu adalah Sad Kahyangan saat Bali masih satu kerajaan. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura yang dinyatakan sebagai Pura Sad Kahyangan dalam Lontar Kusuma Dewa dan juga beberapa lontar lainnya. Pura Luhur Uluwatu itu juga dinyatakan sebagai pura Padma Bhuwana yang berada di arah barat daya Pulau Bali. Adapun Pura Sad Kahyangan Jagat : Pura Besakih, Pura Luhur Lempuyang, Pura Guwa Lawah, Pura Uluwatu, Pura Batukaru dan Pura Pusertasik. 4. Fungsi Pura Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi / dewa dan bhatara, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya yaitu : 1). Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi / dewa. 2). Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja bhatara yaitu roh suci leluhur.
14 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Fungsi pura tersebut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti : Ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran ). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal ( teritorial ), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru) Ikatan Politik antara lain berdasarkan kepentingan Penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang , nelayan dan lain - lainnya. Ikatan Geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut. Berdasarkan atas ciri - ciri tersebut, maka terdapatlah beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat Kekhasannya adalah sebagai berikut: a). Pura Umum. Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa ).Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat . Pura pura yang tergolong mempunyai ciri - ciri tersebut adalah pura Besakih, Pura Batur, Pura Caturlokapala dan Pura Sadkahyangan, Pura Jagat Natha,
15 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Pura Kahyangan Tunggal. Pura lainnya yang juga tergolong Pura Umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang Pendeta Guru suci atau Dang Guru.Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi rna. Pura pura tersebut ini tergolong ke dalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti : Pura Rambut Siwi, Pura Purancak, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Sakenan dan lain-lainnya. Pura pura tersebut berkaitan dengan dharmayatra yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha karena peranannya sebagai Dang Guru. Selain Pura pura yang di hubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah Pura pura yang di hubungkan dengan pura tempat pemujaan dari Kerajaan yang pernah ada di Bali(Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977,10 ) seperti Pura Sakenan, Pura Taman Ayun yang merupakan Pura kerajaan Mengwi. Ada tanda - tanda bahwa masing - masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai tip jenis pura yaitu: Pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, Pura Puncak yang ter!etak di bukit atau pegunungan dan Pura Segara yang terletak di tepi pantai laut.
16 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Pura - pura kerajaan tersebut rupa - rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu : Pura Gunung, Pura pusat kerajaan dan Pura laut . Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis. b). Pura Teritorial Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah ( teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut.Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga yaitu : Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama.Dengan perkataan lain, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, Pura desa sering juga disebut Pura Bale Agung. Pura Puseh ada juga disebut Pura Segara, bahkan Pura Puseh Desa Besakih disebut Pura Banua. Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun Pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah
17 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Pura Dalem yang memiliki Setra ( Kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat Pura yang disebut Dalem juga tetapi bukan unsur Kahyangan Tiga seperti : Pura Dalem Mas Pahit, Pura Dalem Canggu, Pura Dalem Gagelang dan sebagainya (PanitiaPemugaran Tempat- tempat berseiarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan Pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan Pura Watukaru. Masih banyak ada Pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti Pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan Pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan Pura Luhur Uluwatu. c). Pura Fungsional Pura ini mempunyai karakter fungsional dimana umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti : bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pem ujaan yang disebut Pura Empelan yang sering juga disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal Pura Ulun Carik, Pura Masceti, Pura Ulun Siwi dan Pura Ulun Danu.
18 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud Pura yang disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan di dalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut. d). Pura Kawitan: Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis ). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari Pura Warga atau Pura Klen. Dengan demikian mika Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing- masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang disebut Pura Dadia sehingga mereka disebut.Tunggal Dadia. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri
19 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga (extended family) Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak- anak mereka yang belum kawin . Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut Sanggah atau Merajan yang juga disebut Kemulan Taksu, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut Sanggah Gede atau pemerajan agung. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadia) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadia. Anggota kelompok kerabat tersebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut Pura Paibon atau Pura Panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), Pura Penataran ( Penataran Klen ) dan sebagainya. Di dalam rontal Siwagama ada disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan Pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat pelinggih Pratiwi dan setiap keluarga batih membuat pelinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci .Tentang pengelompokan Pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek - aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut : Pura Kahyangan Rwa Bineda Purusa Pura Besakih
20 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Pradana Pura Ulun Danu Batur Pura Kahyangan Catur Loka Pala Utara Uttara Pura Pucak Mangu. Timur Purwa Pura Lempuyang Luhur Selatan Daksina Pura Andakasa Barat Pascima Pura Luhur Batukaru Pura Kahyangan Sad Winayaka atau Pura Sad Kahyangan Pura Besakih. Pura Lempuyang Luhur. Pura Gua Lawah. Pura Uluwatu. Pura Batukaru. Pura Pusertasik. Pura Kahyangan Padma Bhuwana Tengah: Madya Pura Pusering Jagat Utara: Uttara Pura Ulun Danu Batur Timur Laut: Ersanya Pura Besakih Timur: Purwa Pura Lempuyang Luhur Tenggara: Gneya Pura Gua Lawah Selatan: Daksina Pura Andakasa Barat Daya: Neritya Pura Uluwatu Barat: Pascima Pura Batukaru Barat Laut: Wayabya Pura Pucakmangu
21 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Pura Dang Kahyangan Pura Dasar Buana Pura Silayukti Candi Agung Gumuk Kancil Pura Gunung Raung Pura Bukit Sinunggal Pura Rambut Siwi
22 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g BAB II GAMBARAN UMUM PURA KIDULING KRETEG Pura Kiduling Kreteg sebagai salah satu pura di kompleks Pura Besakih berada di arah selatan dari Pura Penataran Agung Besakih. Kiduling Kreteg artinya di sebelah selatan jembatan. Memang pura ini terletak di sebelah selatan jembatan dari Pura Penataran Agung Besakih. Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat dari seluruh kompleks Pura Besakih. Pura Kiduling Kreteg ini tergolong Pura Catur Dala sebagai media memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma. Dewa Iswara adalah manifestasi Tuhan sebagai dewanya sinar yang dari atas menyinari alam semesta di bawah. Sedangkan Dewa Brahma adalah manifestasi Tuhan sebagai dewanya api yang selalu berkobar dari bawah menuju ke atas. Ini kenyataan alam ciptaan Tuhan yang memberi kekuatan daya cipta kepada umat manusia untuk terus-menerus berkreasi. Hidup yang baik adalah hidup yang terus berkreasi melakukan inovasi yang bergisi mengembangkan strategi membangun tradisi mengaplikasikan isi kitab suci. Salah satu kekuatan Citta disebut Aiswarya. Kekuatan inilah yang senantiasa mendorong manusia untuk terus-menerus berusaha meningkatkan diri menuju yang lebih baik
23 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g dengan cara-cara yang benar dan suci. Aiswarya ini mendorong manusia untuk kreatif melakukan sesuatu yang baik berdasarkan kebenaran dan kesucian. Kalau kekuatan Aiswarya ini dapat mengatasi kekuatan Klesa, maka manusia itu akan senantiasa dapat menunjukkan perilaku Dharma. Klesa itu adalah unsur yang menghalangi dorongan untuk melakukan Dharma. Klesa itu yang mengotori diri manusia karena menghalangi Atman memancarkan sinar sucinya. Klesa yang kuat menyebabkan manusia dinamika hidupnya menuju papa neraka. Menyelenggarakan kehidupan yang baik, benar dan suci membutuhkan kreasi yang terus-menerus sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk menguatkan daya kreativitas diri itu di samping dengan kekuatan daya nalar sendiri juga dibutuhkan kekuatan spiritual melalui pemujaan Tuhan. Dalam hal inilah Tuhan dipuja sebagai Batara Brahma untuk memohon tuntunan agar tetap memiliki semangat untuk terus berkreasi mewujudkan kebenaran, kesucian dan keharmonisan. Karena kehidupan yang bahagia lahir batin akan terwujud kalau dasarnya kebenaran, kesucian dan keharmonisan atau Satyam, Siwam dan Sundharam. Salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg itu adalah untuk menuntun umat Hindu agar senantiasa mengembangkan daya kreativitasnya dalam mewujudkan kebenaran Weda dalam kehidupan individual dan sosial. Di samping itu,
24 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g memuja Tuhan sebagai Dewa Brahma untuk memelihara semangat hidup agar tetap dapat hidup di jalan Dharma. Pemujaan Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg itu disimbolkan dalam Pelinggih Meru Tumpang Sebelas. Meru ini terletak paling sudut di timur laut dari areal Pura Kiduling Kreteg. Pelinggih Meru Tumpang Sebelas ini masyarakat umum menyatakan sebagai stana Ratu Cili. Sakti Dewa Brahma adalah Dewi Saraswati. Zaman dahulu di Bali ada tradisi pantang menyebut nama yang dihormati, apalagi yang dipuja seperti Dewi Saraswati. Karena itu namanya disebut Ratu Cili. Kata Cili dalam bahasa Bali simbol kecantikan atau keindahan wanita. Sebutan Ratu Cili di Meru Tumpang Sebelas di Pura Kiduling Kreteg untuk menyebutkan pemujaan Dewi Saraswati, Sakti Dewa Brahma. Memasuki areal utama mandala atau jeroan dari Pura Kiduling Kreteg ini kita akan menjumpai palinggih yang disebut Bale Pegat. Di Bale Pegat ini. Ada dua balai atau sejenis dipan beratap satu. Fungsi pelinggih yang disebut Bale Pegat ini adalah untuk memercikan Tirtha Pengelukatan. Fungsi Tirtha ini adalah untuk melepaskan berbagai kekotoran rohani yang mungkin masih melekat pada diri umat yang akan memuja di Pura Kiduling Kreteg itu. Kekotoran itu adalah kemelekatan jiwa pada nafsu keduniawian yang disebut Panca Klesa. Adanya Pelinggih Bale Pegat itu sebagai visualisasi simbolistis untuk menanamkan nilai spiritual kepada umat agar
25 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g meninggalkan kelekatan pada nafsu duniawi sebagai syarat utama menuju jalan spiritual membangun landasan hidup yang baik. Di sebelah kiri dari Meru Tumpang Sebelas stana Batara Brahma ada pelinggih yang disebut Bale Pesamuan Agung. Di Bale Pesamuan Agung inilah dilukiskan kegiatan Ida Batara baik saat tedun, nyejer maupun masineb. Di Pelinggih Bale Pesamuan Agung ini Ida Batara dipuja dengan konsep Wahya atau secara lahiriah, sedangkan di Meru Tumpang Sebelas Ida Batara dipuja secara Dyatmika atau batiniah. Dalam RgVeda ada dinyatakan bahwa Tuhan hadir memenuhi alam semesta ini hanya seperempatnya. Sebagian besar Tuhan berada di luar alam semesta ini. Artinya Tuhan berada memenuhi alam ini dan juga berada di luar alam semesta ini. Karena itu dalam Kidung Om Sembah yang diambil dari Kekawin Arjuna Wiwaha ada dinyatakan: ''wahyadyatmika sembah ingulun tan hana waneh''. Maksudnya: lahir batin sembah hamba hanya kepada-Mu ya Tuhan tiada yang lain. Para Dewa manifestasi Tuhan dilukiskan oleh umat dalam upacara yadnya bagaikan raja dengan cara petinggi kerajaan. Di Pelinggih Pesamuan Agung inilah dilukiskan para Dewa berkumpul bagaikan raja dengan petinggi kerajaan rapat menentukan anugerah kepada rakyat berupa keamanan dan kesejahteraan. Di Pelinggih Pesamuan Agung ini dilukiskan Tuhan mendunia atau merakyat memberikan anugerah kepada
26 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g umatnya yang melakukan Dharma. Bale Pesamuan ini ada di Pura-pura besar pada umumnya. Yang cukup menarik di leretan pelinggih di selatan ada dua Meru berjejer. Ada yang Tumpang Lima dan Meru Tumpang Tiga. Meru Tumpang Lima sebagai pelinggih Ida Ratu Bagus Seha dan Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Ratu Sihi. Istilah Seha dan Sihi sepertinya melukiskan keseimbangan antara Purusa dan Predana. Ini artinya idealisme pemujaan pada Dewa Brahma akan terwujud kalau dilakukan secara Sekala dan Niskala atau lahir batin. Di timur Pelinggih Ida Ratu Bagus Seha terdapat Meru Tumpang Sebelas merupakan Meru terbesar di Pura Kiduling Kreteg. Meru ini stana Ida Batara Agung Sakti sebagai manifestasi dari Batara Brahma. Pengertian Sakti menurut Wrehaspati Tattwa adalah banyak ilmu dan banyak kerja. Maksudnya tujuan memuja Batara Brahma agar diwujudkan dengan ilmu dan kerja. (Jnyana, dan Karma). 1. Status Pura Kiduling Kreteg Pura Kiduling Kreteg merupakan Pura Catur Lokapala. Sebagai Pura Catur Lokapala, Pura Kiduling Kreteg sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma. Dewa Iswara adalah manifestasi Tuhan sebagai Dewanya sinar, menyinari alam semesta dari atas. Sedangkan Dewa
27 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Brahma adalah manifestasi Tuhan sebagai Dewanya api yang berkobar dari bawah menuju atas. 2. Fungsi Pura Kiduling Kreteg Dewa Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg melalui pelinggih meru tumpang sebelas. Pemujaan Batara Brahma adalah untuk memohon tuntunan agar tetap memiliki semangat untuk terus berkreasi mewujudkan kebenaran, kesucian, dan keharmonisan. Sebab, kehidupan yang bahagia lahir-batin akan terwujud, manakala dilandasi atau didasari kebenaran, kesucian dan keharmonisan satyam, siwam, dan sundaram. Selain sebagai salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg adalah untuk menuntun umat Hindu agar senantiasa mengembangkan daya kreativitasnya dalam mewujudkan kebenaran Weda dalam kehidupan individual dan social sebagai jalan dharma agama. 3. Struktur Pura Kiduling Kreteg Sebagaimana diketahui bahwa secara umum pura di Bali memiliki tiga halaman atau palebahan yang terdiri dari : Jeroan ( halaman dalam pura ) Jaba tengah ( halaman di bawah jeroan ) Masing-masing halaman tersebut biasanya ditempatkan pada posisi berteras, yang posisinya makin ke dalam makin tinggi. Melihat konsep ini adalah
28 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g merupakan unsur asli budaya Indonesia yang dianut sejak jaman batu. Hal ini sesuai dengan keyakinan nenek moyang bangsa kita, bahwa semakin tinggi tempat tersebut maka dipercaya tempat tersebut semakin suci. Pembagian palebahan atau halaman seperti tersebut juga di dasari oleh konsep tri mandala yaitu utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Adapun bangunan-bangunan pelinggih yang terdapat di Pura Kiduling Kreteg antara lain:
29 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g 20 21 23 1. Meru Tumpang-11 Linggih Hyang Brahma Ida Batara Agung Sakti 2. Pesamuan Agung
30 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g 3. Meru Tumpang-7 Linggih Hyang Bayu Ida Ratu Bagus Bayusan 4. Bale Pasambiyangan 5. Meru Tumpang-5 Linggih Ida Ratu Bagus Swa 6. Meru Tumpang-11Linggih Ida Ratu Bagus Cili 7. Meru Tumpang-7 8. Meru Tumpang-3 9. Meru Tumpang-3 (Kehen) 10. Bale Agung 11. Bale Pegat 12. Pawedaan 13. Babaturan 14. Bale Tegeh 15. Panggungan 16. Bale Gambang 17. Bale Gong 18. Candi Bentar 19. Babaturan 20. Bale Wantilan 21. Bale Pasandekan 22. Panyengker 23. Bale Gong 4. Fungsi dan Peranan Pemaksan Pura Kiduling Kreteg Pemaksan adalah sekumpulan orang yang berasal dari satu kesatuan komunitas masyarakat yang memiliki soroh yang sama yang berbakti secara turun temurun di
31 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g satu pura yang sama walaupun berasal dari wilayah yang berbeda. Juga memiliki pengertian sebagai satu kesatuan masyarakat yang mengurusi/ngempon/mengelola satu pura kahyangan secara bersama-sama dalam satu wilayah yang sama. Oleh karena demikian maka pura Kiduling Kreteg Besakih juga memiliki pemaksan yang fungsinya adalah untuk menjalankan segala aktivitas yang berhubungan dengan pura Kiduling Kreteg, baik itu mengenai pemeliharaan pura, kegiatan upacara, maupun managemen pengelolaan pura secara umum. Sehingga apabila pemaksan pura dapat menjalankan fungsinya selaku pemaksan atau pengempon pura dengan baik maka segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas pura bersangkutan dapat berjalan sebagaimana yang menjadi harapan umat sedharma. Kemudian bila dilihat peranan pemaksan yang ngempon pura Kiduling Kreteg sebagai bagian dari pemaksan pura Besakih secara umum, maka sesungguhnya memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga stabilitas kehidupan beragama khususnya terkait masalah ritual upacara yang saling berangkai satu dengan lainnya dilingkungan pura Besakih. Betapa besar peranan dan fungsi pemaksan pura Kiduling Kreteg dalam mengemban dan menjalankan kewajibannya terkait dengan kegiatan ritual di pura Besakih.
32 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g BAB III RANGKAIAN UPACARA PURA KIDULING KRETEG Salah satu cara mengingatkan orang Hindu di Bali menyatakan rasa bhaktinya dengan etika dan moral kehadapan Hyang WIdhi adalah dengan upacara yadnya yang sakral. Upacara dalam agama Hindu merupakan kemasan susila dan tattwa agama Hindu untuk ditanamkan ke dalam lubuk hati sanubari umat dalam menuntun hidupnya menuju hari depan yang lebih baik. Salah satu upacara agama Hindu itu adalah Ngusaba. Kata Ngusaba berasal dari kata Sabha. Dalam bahasa Sansekerta kata Sabha artinya bertemu atau berkumpul. Kata Sabha inilah yang telah mewarga ke dalam bahasa Kawi dan bahasa Bali. Dengan demikian upacara Ngusaba ini adalah prosesi ritual untuk mengingatkan umat manusia agar terus- menerus mempertemukan secara sinergi berbagai unsur untuk membangun potensi membenahi sumber-sumber kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan. Ngusaba adalah proses untuk mengingatkan umat manusia secara ritual keagamaan. Kalau peringatan itu berhenti dalam wujud ritual keagamaan, maka nilai-nilai filosofi yang dipesankan dalam upacara Ngusaba itu akan tidak nampak maknanya dalam kehidupan. Yang penting Ngusaba tersebut dapat memberikan kita kekuatan spiritual untuk melakukan nilai-nilai filosofis Ngusaba
33 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g tersebut. Seperti memelihara tegaknya kelestarian dan fungsi unsur-unsur Panca Maha Bhuta. Tegaknya sistem pemerintahan sebagai sentral pelayanan kepada masyarakat dengan penuh dedikasi membangun hidup bersama yang sejahtera. Tegaknya hati nurani dalam memelihara kebenaran untuk menghindari prilaku yang penuh dosa. Pura Kiduling Kreteg, sebagai pura catur lokapala di pura Besakih memiliki rangkaian upacara termasuk Ngusaba antara lain : Aci Anggara Kliwon Prangbakat, Aci Ngebekang dilaksanakan pada purnama sasih Karo, Aci Pangerempuk dilaksanakan 3 hari setelah Ngebekang, Caru Penyaag dilaksanakan pada tilem sasih kanem, Pujawali/ Piodalan dilaksanakan setiap Anggara Wage Dungulan, Aci Panyeheb Brahma dilaksanakan pada Purnama Kanem, Aci/Ngusaba Nyungsung dilaksanakan pada tilem kepitu, dan Bhatara Turun Kabeh dilaksanakan pada purnama kedasa. Upacara ini menjadi kegiatan rutinitas yang dilaksanakan dalam setahun secara berturut turut. Namun demikian ada juga rangkaian upacara yang disebut karya yang dilaksanakan manakala telah dilakukan pemugaran, secara menyeluruh, rehab pada pelinggih dan lain lain yang sesuai dengan keyakinan umat hindu akan dilaksanakan karya Pamungkah atau Nubung Pedagingan, Melaspas, Resighana maupun ngenteg linggih. Kegiatan upacara besar ini dilakukan secara insidentil dan bukan merupakan kegiatan rutin.
34 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Sebagaimana dijelaskan bahwa semua bangunan yang baru selesai di pugar, masih berstatus dan berkedudukan sebagai tawulan sehingga patut dilaksanakan upacara, seperti tuntunan Lontar Tingkahing Mamungkah Parhyangan, agar semua unsur dan struktur palinggih kembali berfungsi dan berkedudukan seutuhnya, sebagai bangunan suci, tempat memuja dan memuliakan Hyang Widhi dalam berbagai prabhawa dan istadewata. Petikan Lontar Tingkahing mamungkah parhyangan, adalah sebagai berikut: nihan tingkahing mamungkah parhyangan sane anut sami ring rajapurana sane kagawa sira mpu kuturan, sami kapepekang pamayuhe sami maring bali, ika bau. Samangkana elingakno tuturanya sane tuturanya sane munggah ring rajapurana mwah usana bali, sami pepekang palinggihe bhatara - bhatari. terjemahannya berarti : Inilah tuntunan membangun, (termasuk memugar) Parhyangan (Pura, tempat suci palinggih widhi, dalam berbagai wujud istadewatanya), yang semuanya patut selaras dengan Rajapurana yang dibawa (ditulis) oleh Mpu Kuturan, semuanya harus dilengkapi upacaranya di Bali ini. Demikian patut selalu diingat berdasarkan tuntunan yang ditulis dalam rajapurana dan usana bali, semuanya dilengkapi palinggih (Shtana) bhetara-bhatari.
35 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Kalau kita kaji dan analisis tuntunan Lontar Tingkahing Mamungkah parhyangan yang telah dikemukakan dalam petikannya, bahwa setelah selesai membangun, (memugar) semua palinggih bhatara - bhatari, harus dilaksanakan upacara Mamungkah dengan upacara yang lengkap. Term mamungkah itu memiliki arti leksikal dan konotasi, yang berarti bahwa persembahan dan pemujaan karya dilaksanakan adalah merupakan awal atau baru pertama kalinya sejak Pura itu di bangun. Rangkaian upacara Mamungkah, yakni upacara Bhutayajna, berwujud persembahan dan pemujaan tawur, yang memiliki tujuan untuk mamarisudha atau menyucikan unsur-unsur Panca Maha Bhuta (Apah, Prthwi, Bayu, Teja, Akasa), kawasan Tri Mandala, (Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala). Palebahan pura yang baru selesai dibangun ataupun dipugar. Sedangkan untuk mamarisudha dan menyucikan, sampai memberikan makna (kekuatan) semua jajar kamiri palinggih yang baru selesai dibangun atau selesai dipugar adalah upacara Pamelaspas, dengan pangurip-uripnya, termasuk mapulang padagingan, sehingga semua bangunan palinggih setelah rangkaian upacara itu, manggeh makadi bhawa maurip. Dalam pelaksanaan karya agung Mamungkah rangkaian upacara Bhuta Yajna, pamelasapas dengan pangurip-uripnya, mapulang (mamendem) pedagingan ini adalah yang merupakan pangupahayu, mensahkan secara sepiritual
36 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g jajaran bangunan palinggih suatu Pura telah berkedudukan sebagai bhawa tidak lagi berupa tawulan, tetapi telah utuh sebagai palinggih, tempat suci, wajar sebagai sthana (parhyangan) widhi, dalam berbagai wujud prabhawa atau isthadewatannya. Rangkaian upacara selanjutnya, adalah upacara melelasti, yang tujuan filosofisnya, adalah ; " nganyudang malaning gumi, angamet amertha, ring telengin segara ". Seperti yang dikemukakan dalam Lontar Sundarigama. Rauh Ida Bhatara dari malelasti, barulah disthanakan di palinggih yang suci dan sebagai bhawa maurip, yang telah utuh dan wajar sebagai parhyangan Ida bhatara - bhatari samodaya. Setelah itu, rangkaian upacara selanjutnya adalah upacara Ngeteg Linggih, agar Ida bhatara-bhatari Samodaya, enteg malinggih di semua palinggih yang telah suci, yang secara sepiritual telah memiliki makna, kekuatan dan jiwa, setelah dilaksanakan Upacara Pamelaspas, dengan pangurip-urip dan Mapulang (Mamendem ) padagingan. Pada saat dilaksanakan Upacara Ngenteg Linggih, kemudian dibarengi dengan persembahan upakara Pujawali (Pawedalan). Karena pada umumnya, hari subhadiwasa Upacara Mamungkah itu, selalu digunakan sebagai patok rahina subhadiwasa tegak pawedalan, (pujawali, patirthan). untuk selanjutnya. Kalau baru selesai memugar, pun kemudian, pada waktu akan melaksanakan Upacara Mamungkah, Pamelasapas,
37 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Ngenteg Linggih dan seterusnya, pada umumnya selalu memilih hari subhadiwasa tegak pawedalan, (pujawali, patirthan) pura-pura yang bersangkutan. 1. Upacara Pujawali ( Piodalan ) Upacara Pujawali atau Piodalan di pura Kiduling Kreteg dilaksanakan pada Anggara Wage Dungulan setiap enam bulan sekali. Piodalan sebagai bentuk pelaksanaan salah satu kegiatan upacara dewa yadnya yaitu korban suci yang dilaksanakan oleh umat hindu kehadapan Ida Hyang Widhi wasa dan para dewa seru sekalian alam. Pujawali atau piodalan di pura Kiduling Kreteg diawali dengan prosesi nedunang Ida Bhatara atau Ngadegang, kemudian pada subhadewasa hari Anggara Wage Dungulan dilaksanakan upacara piodalan dengan segala rangkaiannya serta saat ngaturang pemendak Ida Bhatara dilengkapi dengan persembahan tari wali berupa pendet, rejang, topeng siddha karya dan wayang lemah. 2. Upacara Aci Panyeheb Brahma Upacara Aci Panyeheb Brahma di Pura Kiduling Kreteg dilangsungkan setiap Purnama Sasih Kaenem. Piodalan-nya menggunakan sistem wuku, sedangkan Aci Panyeheb Brahma menggunakan sistem sasih atau Chandra Premana. Upacara Panyeheb Brahma ini dilangsungkan, bertujuan untuk memohon agar api yang
38 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g berada di perut bumi agar benar-benar memberi energi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup penghuni bumi. Aci Penyeeb Brahma sebagai permohonan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma agar panas yang ada di perut bumi yang disebut Kurma Agni itu bereksistensi secara teratur sesuai dengan kebutuhan hidup tumbuh-tumbuhan. Kurma Agni atau Bedawang Nala adalah api magma yang memiliki berbagai kekuatan energi. Dengan adanya keseimbangan atau keteraturan kuatan energi api dan air, diharapkan dapat menjadikan bumi ini sebagai Ananta Bhoga yakni sumber makanan yang tak habis-habisnya. Demikian pula Aci Panyeeb Brahma, umat memohon agar panas bumi yang berada di perut bumi dapat terserap secara terukur sesuai dengan hukum alam (rta). Dengan demikian maka tanah bumi pun menjadi subur. Di balik ritual ini, ada suatu dorongan spiritual, memotivasi umat untuk selalu menjaga alam agar tetap lestari. 3. Upacara Aci Nyungsung Kegiatan upacara Pangusabhan khusus yang dilaksanakan di Pura Agung Besakih, banyak sekali jenis upacara Ngusabha, dalam kurun waktu setahun, yang rahina subhadiwasanya bedasarkan hari Purnama - Tilem, yang diakhiri dengan Karya Bhatara Turun Kabeh, yang populer disebutkan Ngusabha Kadasa di Pura Panataran Agung.
39 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Rangkaian upacara Ngusabha di beberapa palebahan kompleks Pura Agung Besakih, berdasarkan hari Purnama - Tilem dalam kurun waktu setahun, adalah sebagai berikut: Ngusabha Kapat, yang dilaksanakan pada waktu sasih kapat, (Usabha Karttika ), di Pura penataran Agung. Ngusabha Siram, dilaksanakan pada waktu Sasih kalima, (Usabha Margasirsa ) di Pura Batumadeg. Ngusabha Paneman, dilaksanakan pada waktu Sasih Kaenem, (Usabha Posya), di Pura Bangun Shakti. Ngusabha Gede, dilaksanakan pada waktu Sasih Kapitu, (Usabha Magha), di Pura Dalem Puri. Ngusabha Nyungsung, dilaksanakan pada Sasih Kapitu, (Usabha Magah), (dilaksanakan tiga hari kemudian, setelah persembahan dan pemujaan Ngusabha Gede, di Pura Dalem Puri), di Pura Kiduling Kreteg. Ngusabha Buluh, dilaksanakan pada waktu Sasih Kapitu, atau hampir mendekati sasih kawulu, tiga hari kemudian setelah pelaksanaan persembahan dan pemujaan Ngusabha Nyungsung, di Pura Kidulung Kreteg. Sehingga Ngusabha Buluh ini yang persembahan dan pemujaannya di laksanakan di Pura Banua, juga tergolong diantara Ushaba Magha dan Usabha Phalguna. Ngusabha Ngeed, dilaksanakan pada waktu Hari Purnamaning Kapitu di Pura Banua lagi. Sehingga juga sasih ini tergolong persembahan dan pemujaan Usabha Magha. Upacara Aci Nyungsung adalah upacara khusus yang dilakukan di pura Kiduling Kreteg untuk memohon
40 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g kehadapan Ida Bhatara Brahma agar beliau berkenan menganugrahkan kesejahteraan bagi umat manusia. 4. Upacara Bhatara Turun Kabeh. Upacara Bhatara turun kabeh, sesuai dengan namanya adalah upacara untuk semua Ida Bhatara yang ada dalam komplek pura Besakih yang dipusatkan di Penataran Agung. Upacara ini sama dengan Ngusabha Kadasa, yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Purnamaning Kadasa, (Usabha Wesaka), di Pura Penataran Agung. Usabha Kadasa atau Karya Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih inilah yang merupakan ending pelaksanaan persembahan dan pemujaan pengusabhan di seluruh kompleks Pura Agung Besakih. Kalau kita kaji dan analisis, dari persembahan pangusabhan pada umumnya, berasal dari kata; utsava (sansekerta ), yang berarti: pesta. Kalau kita meniti kembali arti kata utsawa atau usabha itu dalam kontekstual pelaksanaan pangusabhan, tampaknya memiliki titik temu. Seperti halnya Ngusabha Kadasa di pura penataran Agung Besakih, pada akhirnya (ending) pelaksanaan persembahan dan pemujaan seluruh pangusabhan di kompleks pura - pura Besakih, pada dasarnya adalah merupakan pesta juga, karena seluruh Dewa dan Dewi yang berparhyangan di kompleks pura - pura di pura Agung Besakih, pada saat dipersembahkan
41 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Karya Ngusabha Kadasa, disthanakan di Bale pasamuhan pura penataran Agung Besakih, untuk amukti bhakti pangusabhan. Karena kenyataan seperti inilah sehingga upacara usabha kadasa di pura penataran Agung Besakih, Dewa dan Dewi Samodaya yang berparhyangan di seluruh kompleks pura Agung Besakih, semua di isthanakan di bale pasamuhan pura penataran Agung untuk amukti bhakti pangusabhan. Demikian pula Ida Bhatara di pura Kiduling Kreteg katuran pangusabhan di pura penataran Agung Besakih.
42 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g BAB IV P E N U T U P Ajaran agama Hindu memiliki kerangka yang kuat, karena menampilkan ajaran Tatwa, susila dan yadnya.Tatwa mengisi kecerdasan otak.Melatih memandang rahasia-rahasia yang dimiliki Tuhan, dan rahasia dalam diri, serta rahasia-rahasia dalam alam lingkungannya.Dengan demikian manusia atau umat Hindu wajar berpikir sedalam-dalamnya tentang hal tersebut.Susila adalah menyuguhkan ajaran untuk melatih tingkah laku yang berperan menumbuhkan peningkatan rasa pada setiap pemeluk.Disinilah kemantapan dari humanisme yang kekal.Masyarakat Bali yang mayoritas adalah penganut agama Hindu, mempunyai suatu kepercayaan yang tidak lepas dari kebudayaan Bali. Dalam ajaran Hindu menyebutkan bahwa mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang diperlukan adanya persembahan suci yang tulus ikhlas yang dikenal dengan nama Yadnya. Pura Kiduling Kreteg yang merupakan pura tempat memuliakan dewa Brahma telah disepakati menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten Karangasem. Sehingga dalam pelaksaan pemeliharaan bangunan pura termasuk pelaksanaan kegiatan upacara / upakaranya menjadi tanggung jawab masyarakat umat Hindu Kabupaten Karangasem. Dengan demikian sudah sewajarnya dan menjadi kewajiban kita umat sedharma di
43 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Kabupaten Karangasem untuk melakukan swadharma dengan rasa ikhlas sebagai wujud sradha dan bhakti kita kehadapan yang Maha kuasa. Mencermati sistem dan managemen pengelolaan pura secara universal, maka masih perlu untuk mengadakan penataan pengelolaan dalam segala aspek yang menyangkut kegiatan di pura bersangkutan. Sehingga bila hal ini dapat dimaksimalkan maka kenyamanan, kekhusukan umat dalam melakukan kegiatan ritual akan dapat berjalan dengan baik. Semoga upaya pembenahan managemen pengelolaan dengan segala kebutuhannya dapat disikapi dan diapresiasi secara positif dalam upaya mewujudkan kebahagian spiritual umat sedharma.
44 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g DAFTAR PUSTAKA Astra, Semadi, I Gde, 1977. Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII-XIII : Sebuah Kajian Epigraphis. Disertasi, Yogyakarta : Universitas Gajah Mada. Ardana, I Gusti Gde, dkk. 1983. Inventarisasi AspekAspek Nilai Budaya Bali, Denpasar : Proyek Bantuan Sosial. Ginarsa, Ketut, 1985. Adanya Tempat-Tempat Suci di Bali. Bali Post, hal. IV, Tanggal 4 September. Soma, Dewa Ketut, 1999. Pura Gelap, Catur Dala Pura Agung Besakih. Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kab. Klungkung. Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, 2001. Kajian Alih Aksara Dan Alih Bahasa Lontar Panugrahan Dalem. Setiawan, I Ketut, Maret 2002. Menelusuri Asal-Usul Tempat Suci Di Bali Dalam Rangka Pengelolaan Sumberdaya Budaya. Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana.
45 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g BUPATI KARANGASEM KEPUTUSAN BUPATI KARANGASEM NOMOR: 616 /HK/2013 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN PANITIA PELAKSANA KARYA AGUNG MELASPAS, NGRESIGANA NUBUNG DAGING LAN NGENTEG LINGGIH PURA KIDULING KRETEG BESAKIH TAHUN ANGGARAN 2013 BUPATI KARANGASEM, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan keseimbangan semesta serta tata kehidupan masyarakat Bali sesuai dengan Ajaran Agama Hindu maka akan dilaksanakan Upacara/Karya Agung Melaspas, Ngresigana Nubung Daging Lan Ngenteg Linggih Pura Kiduling Kreteg Besakih tahun 2013;
46 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, serta untuk menjamin kelancaran dan tepat sasaran pelaksanaannya, perlu menetapkan Keputusan Bupati tentang Pembentukan Panitia pelaksana kegiatan upacara/Karya Agung Melaspas, Ngresigana Nubung Daging Lan Ngenteg Linggih Pura Kiduling Kreteg Besakih dengan keputusan Bupati Karangasem Tahun Anggaran 2013; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah- daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
47 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310); 7. Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2008 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 4); 8. Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Karangasem (Lembaran Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2008 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 6); 9. Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 22 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013
48 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g (Lembaran Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2012 Nomor 22); 10. Peraturan Bupati Karangasem Nomor 37 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Karangasem (Berita Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2008 Nomor 37) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Karangasem Nomor 54 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Karangasem Nomor 37 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Karangasem (Berita Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2012 Nomor 54); 11. Peraturan Bupati Karangasem Nomor 60 Tahun 2012 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013 (Berita Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2012 Nomor 60) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Karangasem Nomor 7 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Karangasem Nomor 60 Tahun 2012 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013 (Berita Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2013 Nomor 7); MEMUTUSKAN : Menetapkan : KESATU : Membentuk Panitian Pelaksanaan Karya Agung Melaspas, Ngresigana Nubung Daging Lan Ngenteg Linggihpura Kiduling Kreteg Besakih
49 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g Tahun Anggaran 2013, dengan Susunan Keanggotaannya Sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini. KEDUA : Panitia pelaksana Upacara/ Karya sebagaimana dimaksudpada Diktum Kesatu mempunyai tugas sebagai berikut : 1. Mempersiapkan, dan melaksanakan segala sesuatunya yang terkait dengan pelaksanaan Karya Agung Melaspas, Ngresigana Nubung Daging Lan Ngenteg Linggih di pura Kiduling Kreteg Besakih kabupaten Karangasem; 2. Menghoordinasikan pelaksanaan karya tersebut dengan lembaga-lembaga formal kemasyarakatan untuk sukseskannya Karya Agung Melaspas, Ngresigana Nubung Daging Lan Ngenteg Linggih di pura Kiduling Kreteg Besakih tahun 2013; 3. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan kepada Bupati Karangasem. KETIGA : Segala biaya yang timbul sebagai akibat ditetapkannya Keputusan ini, dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Karangasem Tahun Anggaran 2013.
50 | P u r a K i d u l i n g K r e t e g S e l a y a n g P a n d a n g KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Amlapura pada tanggal, 6 Nopember 2013 BUPATI KARANGASEM I WAYAN GEREDEG Keputusan ini disampaikan kepada : 1. Gubernur Bali di Denpasar. 2. Ketua DPRD Kabupaten Karangasem di Amlapura. 3. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Karangasem. 4. Ketua Pengadilan Negeri Amlapura. 5. Sekretaris Daerah dan Para Kepala SKPD di Jajaran Pemerintah Kabupaten Karangasem 6. Pertinggal.