The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah balerina, Aukith.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by NUR ARSAD, 2024-03-04 23:36:01

BALLIZO

Kisah balerina, Aukith.

Keywords: cerita inspiratif

Ballizo Nayla


Ballizo Penulis = Nayla Aisha N. Editor = Nayla Penerbit = PT. apa aja boleh gadis cantik yang memiliki impian menjadi ballerina profesional .


Aukith adalah anak yang sedari kecil ingin sekali menjadi ballerina, namun kedua orang tuanya tidak mengizinkannya untuk menjadi ballerina. Aukith saat ini masih berusia 16 tahun. Ia masih duduk dibangku kelas 2 SMA. ia bersekolah disekolah favorite yang berada di Bandung. Ia adalah murid yang berprestasi disekolahnya. Menyedihkan bagi Aukith karena kurang mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya, karena sibuk bekerja sampai lupa dengan anaknya. Tidak seperti anak anak lain yang sering kali mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. prolog Walaupun begitu, Aukith memiliki eyang yang sangat mendukung apapun itu selagi hal yang baik untuk dilakukan. Eyang, yaitu neneknya, tidak menuntut harus menjadi suatu apapun itu. Tidak seperti orang tua Aukith yang menuntut Aukith harus menjadi dokter seperti ibunya.


Dari situ lah Aukith terinspirasi ingin menjadi seorang penari balet yang profesional. Ia sangat tertarik pada balet, karena balerina terlihat sangat menawan dan elegan. 1. Sejak berusia 5 tahun, Aukith sangat ingin belajar menari, salah satu jenisnya adalah balet. Ia sering menonton penari penari balet dalam pertunjukan seni teater. Karena itu, Aukith ingin mempelajari teknik teknik dasar ballerina. Ia berlatih sangat bersungguh sungguh dalam mempelajari teknik teknik balet. Walaupun hanya mempelajari dari handphone atau layar kaca tanpa didampingi oleh orang tua, Aukith tetap semangat dan berhati hati. Terkadang eyangnya melihat nya saat ia sedang menonton sambil berlatih teknik teknik balet. Aukith sangat bersungguh sungguh dalam mempelajari teknik teknik balet. Walaupun hanya mempelajari dari handphone atau layar kaca tanpa didampingi oleh orang tua, Aukith tetap semangat dan berhati hati. Terkadang eyangnya melihat nya saat ia sedang menonton sambil berlatih teknik teknik balet.


Pada siang hari, sekitar pukul 14.00, Aukith tidak ingin istirahat tidur siang seperti anak anak pada umumnya. Namun, ia berlatih teknil teknik balet seorang. Tak lama itu eyang masuk ke dalam kamarnya dan melihat apa yang sedang cucu nya lakukan. "Kith, kamu nggak tidur siang?" eyang masuk kedalan kamar lalu bertanya. " enggak eyang, Aukith nggak ngantuk" sambil berlatih Aukith menjawab pertanyaan sang eyang. "kalau udah capek, istirahat ya nak" perempuan paruh baya itu masuk dan duduk di kasur cucunya. "iya eyang" putri cilik yang masih berusia 5 tahun sambil mengikuti teknik teknik yang telah tertunjuk di layar kaca. Aukith masih melanjutkan latihan menari agar dapat menguasai teknik tekniknya. memang terlihatnya Aukith sangat senang berlatih balet sendiri. Tapi jauh dari dalam hatinya, ia sangat ingin sekali mengikuti kursus balet. Namun, fitri dan samudra pasti tidak mengizinkan anaknya Aukith mengikuti kursus atau les balet. ****


pagi di kota Bandung, dengan cuaca yang sejuk sehabis hujan. Wanita paruh baya yang bangun tidurnya disambut dengan gerimisnya hujan. Sambil meminum teh hangat yang ia buat dan menikmati udara sejuk kota bandung yang sehabis hujan di taman belakang rumahnya. melihat sekeliling taman dan sedikit membayangkan kehidupan selanjutnya akan bagaimana, tiba tiba, cucu kesayangannya datang menghampirinya. "eyang lagi ngapain disini" anak kecil berambut panjang yang masih berusia 7 tahun baru saja datang dari kamarnya lalu menghampiri sang nenek. " nggak ngapa ngapain, cuma duduk duduk santai aja" eyang yang sambil menyeruput secangkir teh dan melihat kearah sang cucu. 2 Flashback 2015 Minggu Pembicaraan seorang nenek dan cucunya tidak hanya sampai disitu saja. Aukith yang tadinya basa basi, tiba tiba menyeletuk. "eyang, Aukith boleh ikut kursus balet nggak?" celetuk Aukith boleh dong sayang, tapi nanti kita ngomongin ini bareng sama mama dan papa mu ya". eyang sambil mengelus pucuk kepala cucu kesayangannya. "tapi nanti kalau mama papa nggak ngizinin gimana eyang?" anak kecil cantik berambut panjang yang terlalu memikirkan bagaimana jawaban dari orang tuanya nanti sambil memasangkan muka ke khawatiran. "kamu jangan khawatir kith, nanti kita bicarain bareng bareng ya sama mama papa mu". jawab perempuan yang sudah berumur sambil merangkul sang cucu agar tidak terlalu khawatir atas jawaban orang tuanya nanti. "hmm, iya eyang" anak perempuan kecil yang menghela nafas sambil mengangguk kepada neneknya.****


Biasanya setiap hari, gadis kecil berambut panjang pergi sekolah diantar oleh pak udin, supir yang bekerja dirumahnya. Fitri dan Samudra sangat jarang sekali mengantar putri bungsunya bahkan putra sulungnya pergi ke sekolah tempat kedua anaknya menuntut ilmu. Sering sekali Aukith merasakan rasa cemburu, tidak seperti anak anak lainnya. "Mereka selalu diantar dan dijemput oleh kedua orang tuanya, kok aku nggak ya" dalam hati mungil nya bersuara tentang itu. Namun, ia sudah terbiasa dengan hal itu. Tetapi memang sering terdengar seperti itu suara hatinya. Fitri dan Samudra yang lagi bersiap siap bekerja, Aukith dan Gevandra diantar oleh sang nenek ke depan gerbang menuju tempat mobil dipanaskannya mobil. " neng Kith, a' Epan ini udah siap aman dan bersih mobilnya, hayuk kita berangkat". pak udin yang memanaskan mobil sembari mengelap badan badan mobil. "iya paaakkk" gadis kecil sambil berlari pelan menuju mobil yang akan dinaiki nya. **** Malam hari, yang dimana malam lah waktu dimana keluarga bratana berkumpul untuk makan malam bersama. Memang tidak terlalu banyak bicara dan tidak menanyakan bagaimana keseharian anak anaknya. Meja makan hanya ada suara piring dan sendok yang bersentuhan, sangat sunyi. Terkadang, eyang lah yang membuka topik pembicaraan pada keluarga ini. Yang menanyakan bagaimana keseharian cucunya dan anaknya. " gimana a', kith, disekolahnya?" wanita paruh baya membuka pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada kedua cucunya. "seruuu bangeeett eyang!" adik dari anak laki laki yang tidak terlalu banyak omong menjawab pertanyaan dari sang nenek. "seru eyang, aa tadi main bola bareng temen" jawab anak laki laki yang tidak terlalu menonjolkan keseruannya disekolah. "wah cucu cucu eyang pada bahagia sekali ya keliatannya" sambil memasukkan sesuap sendok makan nasi ke dalam mulutnya.


"Gimana fit? dirumah sakit apa ada banyak pasien yang datang?" bertanya kepada anaknya sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya. "iya ma, banyak banget pasien yang dateng tadi. Ada yang kecelakaan, Demam tinggi, dan lain sebagainya, lumayan capek juga hari ini. Jawab dari seorang ibu yang memiliki 2 anak itu. "Ya ampun!, ngeri banget ya. Yaudah habis ini kamu istirahat aja" ujar nenek yang sedang melahap makanan. "kalau kamu gimana sam? perusahaan mu berjalab dengan baik kan?". Tanya nenek kepada menantunya. " Alhamdulillah, berjalan dengan baik." Jawab bapak dari dua anak. "Syukurlah". kata eyang sambil memasukkan suapan terkahir nasi. Menikmati makanan sediki demi sedikit yang lama lama maenjadi habis. Habis lah sudah makanan yang dimakan. Setelahnya, suasana kembali menjadi sunyi, dan benar saja, hanya terdapat suara piring dan sendok yang ditemukan bersama. Alih alih mencari topik lagi, nenek dari kedua cucu menanyakan kepada anaknya. "Alhamdulillah udah selesai makan, dan kenyang". ucap syukur seluruh anggota keluarga bratana. **** Sebelum waktu tidur tiba, wanita yang sudah berumur bersama kedua cucunya bersantai sejenak di ruang keluarga, sambil menonton sinema yang berada di televisi. Tak lama itu, datang seorang ibu dari dua anak tersebut duduk di dekat mereka. Pembicaraan mengenai kursus balet gadis cilik dimulai dengan pertanyaan yang dikeluarkan oleh wanita paruh baya itu.


"Fit , apa kamu nggak mau kursusin balet anak perempuan mu?" tuti, wanita paruh baya yang langsung menanyakan pertanyaan itu kehadapan putrinya. " Apa ma?" dengan mata yang agak mendelik karena tercengang mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya. " Anak mu, Aukith pengen banget belajar balet, makanya keinginan dia ikut kursus balet tinggi". jawab nenek dari kith dan epan. " gimana ya ma" fitri memasang muka kebingungan. Papa Aukith yang berada di ruang kerjanya mendengar pembicaraan itu dari ruang keluarga, ia langsung bergegas mendatangi tempat berkumpul istri, anak dan mertua nya itu, ruang keluarga. " Ma, maaf lancang, tapi saya nggak mengizinkan anak saya kursus balet". jawab pria yang datang tiba tiba tanpa alasan mengapa ia menjawab seperti itu. " loh kenapa sam?, bukannya bagus itu minat anak kamu dari kecil loh". sahut nenek yang bingung mengapa menantu nya menjawab seperti itu. " jangan tanyakan alasannya ma" pria yang menjawab pertanyaan mertuanya sembari meninggikan suaranya sedikit. Mendengar suara Samudra yang tidak mengizinkan dirinya mengikuti kursus balet, membuat ia tersedih dan langsung melarikan diri ke kamarnya untuk melepas tangisannya. **** Wanita paruh baya yang sangat menyemangati cucu nya yang sangat ingin mengikuti kursus balet, ia menyemangatinya dengan membelikan properti ballerina, seperti leotard, pointe shoes, soft shoes, belt, dan lain sebagainya. Dengan begitu, rasa sedih Aukith menjadi berkurang, ia menjadi semakin bersemangat mempelajari tekniknya, walaupun belajar sendiri dikamar.


Siang hari tepatnya pada pukul 11.00, gadis kecil berambut panjang siap kembali pulang kerumah, yang dijemput selalu bersama pak udin. Keluar gerbang sekolah menuju mobil yang didalamnya ada pak udin sambil berjalan bersama teman sekelasnya. Tidak bersama kakak laki lakinya, Gevandra. Anak laki laki itu sudah kelas 5 SD, pulang sekolah diwaktu yang lebih lama dibandingkan dengan adiknya. "hai pak" membuka pintu mobil lalu menyapa pak udin. "haloo neng" jawab pak udin sambil memasang seat belt. pembicaraan mereka tidak ada habisnya, pak udin yang selalu menanyakan bagaimana setiap harinya disekolah. berbicara tentang keseharian disekolah bersama pak udin ialah rutinitas setiap pulang sekolahnya. keasikan basa basi, tidak terasa sudah berada di depan gerbang rumah. Keinginan cucu perempuan nya mengikuti kursus balet sangatlah tinggi, wanita paruh baya itu berinisiatif mendaftarkan cucunya mengikuti kurus, tanpa diketahui oleh Fitri dan Samudra. Ia tahu, dampak buruk mendaftarkan cucunya mengikuti kursus tanpa sepengetahuan anak dan menantunya, pasti mereka akan kecewa. Namun dengan begitu dia bisa mengasah minat cucunya dalam bidang seni, ia percaya bahwa dibalik perjuangan ini cucunya pasti akan bisa membanggakan kedua orang tuanya. **** "Alhamdulillah, udah sampai neng" pak udin sambil menoleh kebelakang. "Oh iya pak, makasih ya pak" Aukith kembali menggendong tas nya lalu membuka pintu mobil dan keluar. "iya neng" sembari membuka kaca untuk menyahuti perkataan Aukith.


Tibalah didepan pintu rumah, gadis kecil yang masih memakai seragam merah putih itu mengetuk dan mengucapka salam "Assalamualaikum" membuka pintu sambil melihat kearah kiri dan kanan rumah nya. Wanita paruh baya yang menyambutnya baru saja datang dari arah ruang keluarga, tempatnya berkumpul dan bersantai. "Waalaikumsalam" menjawab salam gadis cilik itu lalu menghampirinya. "Cucu eyang udah pulang, bebersih diri gih". wanita paruh baya itu mengelus pucuk kepala cucunya. "iya eyang, kith masuk ke kamar dulu ya". jawab gadis cilik yang tersenyum disambut oleh eyang. Nenek dan cucunya kembali memisah untuk melanjutkan kegiatan kegiatan mereka. Gadis cilik, Aukith, memasuki kamarnya lalu menyalakan AC, karena siang ini cuaca di Bandung yang panas terik. Wanita paruh baya yang menikmati waktu senggangnya dengan bersantai sambil menonton sinema di televisi. Berjalan menuju pintu rumah, yang lumayan jauh dari gerbang rumah, tempat ia diturunkan oleh pak udin. Menaiki satu persatu anak tangga dengan memandangi tanaman tanaman yang indah milik mama dan eyangnya. **** Pada saat memasuki jam makan siang, tepatnya jam 13.00, nenek dan cucunya makan siang bersama. Mereka hanya makan siang berdua saja, Fitri dan Samudra masih bekerja. Sementara anak laki laki, kakak Aukith, masih sekolah. Pulang kembali kerumah sekitar pukul 14.00.


Setelah makan siang, mereka berdua kembali bersantai bersama diruang keluarga. Seperti biasa, ruang keluarga lah tempat mereka bersantai. Setelah beberapa menit duduk di sofa yang berada di sana, wanita paruh baya itu menyuruh cucunya untuk bersiap siap. Ia belum memberi tahu tujuan mereka mau kemana. "Kith, siap siap gih, pakai baju yang rapian".sambil menepuk pelan paha cucunya. "untuk apa eyang?, kita mau pergi?". Aukith bertanya tujuan mengganti pakaian yang lebih rapi untuk apa. "Kita mau keluar kith" kata nenek yang sambil terkikih kecil melihat cucunya memasang muka yang kebingungan. "kemana eyang?". melihat kearah eyang dengan serius. "ada deh". menjawab dengan senyum pepsodent. "yaudah sana yang penting kamu ganti baju dulu kith" Wanita paruh baya yang bangkit dari tempat duduknya menuju kamar, untuk bersiap siap juga. "yaudah eyang, kith ganti baju dulu". beranjak menuju kamar sambil memikirkan akan kemana ia pergi bersama neneknya. Saat berada di dalam mobil, berbincang banyak bersama pak udin dan neneknya. " Eyang, masih lama ya nyampe nya?". Muka mengarah kepada neneknya dengan melontarkan pertanyaan. "enggak kok, sebentar lagi juga udah sampai". menjawab sambil merangkul cucunya. "Kita mau kemana sebenernya eyang?". Rasa penasaran gadis cilik itu yang makin meronta ronta. "Loh, emangnya neng Kith nggak tahu ini kita mau kemana?". Celetuk pak udin yang sekaligus bingung. "Enggak pak, emangnya kita mau kemana?" Aukith kebingungan sambil bertanya tanya. "Haduh pak, udah nggak surprise ini" sahut wanita paruh baya yang sambil terkikih kecil. ****


Sembari menunggu sampai ketempat kursus, karena Aukith sudah mengetahui bahwa ia akan diajak pertama kalinya ke tempat kursus ballet. Ia sangat senang, hingga berterimakasih banyak kepada sang nenek tersayang. "Eyang, makasih ya udah mau dafterin Kith kursus ballet". Ujar gadis cilik itu dengan memeluk erat nenek yang berada disampingnya. "Sama-sama sayang, berlatih dengan hati hati dan giat yaa". Wanita paruh baya yang membalas pelukan cucu perempuannya itu. "Iya eyang, pasti, pasti Kith akan berlatih dengan giat supaya bisa membanggakan mama, papa, eyang, sama a' Epan". Gadis kecil yang sangat bahagia karena didaftarkan kursus ballet oleh sang nenek. "Semangat neng, neng pasti bisa". Pak udin yang memberi semangat kepada gadis kecil yang tengah bersemangat itu. "IYA PAKK, AKU PASTI BISA!!!". kith yang semangat nya bertambah karena dikelilingi oleh orang orang yang menyemangatinya. Ya memang kedua orang tuanya tidak. "Ohh neng kith jadinya nggak tahu ya buk kalau kita ini otw tempat kursusnya?, saya teh minta maaf atuh bu". Pak udin jadi merasa bersalah, karena tidak tahu dari awal kalau ini surprise untuk Aukith. "HAHAHAHAHA, iya pak, sengaja nggak saya kasih tahu. Bapak pun lupa saya bilangin dulu". Tertawa karena ingin memberi kejutan pada cucunya, namun lupa bekerja sama pekerja nya. Tak terasa, sudah sampai didepan tempat kursus ballet yang berada di kota Bandung. Tidak jauh dari rumah, juga tidak dekat. Sesampainya disana gadis kecil turun bersama neneknya, lalu mereka memasuki tempat yang nanti nya Aukith, gadis kecil itu melatih kemampuannya menjadi seorang ballerina.


Setelah bermacam macam sambutan dari pekerja yang bekerja ditempat berlatihnya orang orang untuk mengasah minat dan bakatnya, Aukith langsung ditunjuk masuk keruangannya untuk berlatih dan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Memperkenalkan diri ya seperti biasa seperti pada umumnya. Wanita paruh baya juga banyak bercerita mengenai Aukith kepada pelatihnya, agar bisa mengenal Aukith lebih dalam. Tak lama lama disitu, akhirnya wanita paruh baya itu berpamitan untuk meninggalkan tempat itu dan menitipkan cucunya agar bisa mengasah kemampuan dan minatnya. "Oh iya kalau begitu saya pamit ya kak" pamit kepada pekerja dan pelatih yang berada disitu. "Oh iya, silahkan bu" jawab pejerja dan pelatih dengan spontan. "Boleh saya izin berpamitan dengan Aukith?". meminta izin kepada pelatih dan pekerja. "Oh iya, silahkan bu" pelatih mengiyakan dan langsung mengarahkan jalan kepada wanita paruh baya itu. Perjalanan melewati ruangan ruangan berlatih, ada beberapa ruangan berlatih, dipisah melalui umur, kemampuan dan lain sebagainya. Dan tibalah diruangan Aukith berlatih. "permisi" ucap dengan suara kecil wanita paruh baya itu. "Permisi, Aukith sini, eyang kamu ingin berpamitan untuk pulang nak". pelatih memanggil dan menyebut nama Aukith dengan lembut. "Oh iya maes" menyahut panggilan dari maestra nya, pelatih balletnya. "Kith, berlatih yang bener ya, eyang pamit, nanti pulangnya dijemput pak udin, kalau eyang bisa ikut menjemput mu, eyang bakalan ikut kok" berpamitan dengan cucunya sembari memegang telapak tangan gadis kecil itu, cucunya. "Iya eyang, kalau eyang capek, nggak usah dipaksain jemput kith ya, biar pak udin aja. Hati hati ya eyang". Mengizinkan neneknya meninggalakan tempat ia berlatih, dan memberi ucapan hati hati.


"Iya nak, bye sayang, assalamualaikum" mengecup kening cucunya. "waalaikumsalam" kith menjawab salam sembari mencium tangan neneknya. Berjalan kembali menuju pintu keluar dan mendatangi parkiran mobil lalu menaikinya. "Assalamualaikum" memasuki mobil sambil nengucapkan salam. "Waalaikumsalam, udah bu?" tanya pak udin sambil mengarah kepada tuti, wanita paruh baya itu. "Udah pak, oh iya pak ini kan udah jam nya gevan pulang sekolah ya, kita sekalian jemput aja pak" ujar wanita paruh baya itu dan mengusulkan untuk langsung menjemput cucu laki lakinya. "Sekalian ya bu ini, baik bu". Pak udin yang mengiyakan lalu siap menyalakan mobil. "iya pak" jawab tuti sambil membuka ponselnya. "Bismillah" pak udin mengucap. Perjalanan menuju sekolah cucu laki lakinya dihidangkan dengan oerjalanan yang lumayan padat dan matahari yang sangat terik. Melewati pohon pohon, tempat wisata yang indah di bandung dan lain sebagainya. Tak lama, sampai lah di depan pintu gerbang sekolah cucunya. Wanita paruh baya itu turun dari mobil untuk menyambut cucunya. Banyak anak anak yang sudah pada keluar, namun dimana keberadaan cucunya. Ia melihat sekelilingnya yang ramai dengan anak anak. Dari sebelah kanan muncul batang hidung cucunya. "A' Epan, sini nak". Wanita paruh baya yang memanggil cucunya agar tidak kebingungan mencari cari entah apa yang dicari. Mendengar panggilan itu, Gevandra spontan melihat ke arah yang memanggilnya dengan panggilan seperi itu, karena yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu hanya lah orang terdekat nya saja. "Eyangg, iya eyang sebentar" menoleh ke arah yang bersumber dari suara panggilan tadi, lalu menghampirinya. Kini cucu dan nenek itu jalan berdua menuju tempat diparkirnya mobil mereka. Lalu masuk lah mereka ke dalam mobil, menikmati perjalanan bersama dan tak terasa sudah di depan rumah. ****


Sampaisaat ini, Aukith masih mengikuti kursus ballet. Kedua orang tuanya pun sampai saat ini masih belum mengetahui nya kalau anaknya ini masih mengikuti kursus. Dulu, disaat gadis ini, Aukith, masih duduk di bangku SMP, ia ketahuan mengikuti ajang perlombaan seni tari ballet. Fitri dan Samudra yang saat itu mengetahui anaknya mengikuti kursus, bahkan sampai perlombaan, ia marah besar. Hingga Samudra akhirnya menyuruh orang memantau keseharian anaknya dengan menunggu di depan gerbang rumah. Kalau Aukith pergi kursus, pasti akan ketahuan oleh orang yang disuruh papanya, Samudra. Dan akan langsung dilaporkan kepada Samudra. Pada saat itu, sekitar satu bulanan Gadis yang bernama Aukith itu istirahat mengikuti latihan ballet dikarenakan ada orang suruhan papanya itu, Samudra. Namun, saat ini udah enggak, karena Samudra hanya tahu anak perempuannya ini sudah tidak mengikuti kursus ballet lagi. 3 Oktober,2023 **** Aukith sampai sekarang pun masih mengikuti kursus ballet, namun, ia hanya mengambil jadwal latihan 2 kali saja dalam seminggunya. Dikarenakan ia sudah SMA, semakin banyak kewajiban dan aktivitas yang harus ia jalani. Sekolah nya memiliki jadwal pulang sekolah sekitar pukul 15.00. Ia biasanya datang untuk berlatih ballet di hari senin dan jumat, karena pulang sekolah lebih awal. Agar orang tuanya tidak mengetahui akan hal itu. ****


4 Bangunan yang besar ini, ialah rumah. Sekarang hanya terdapat 4 orang didalamnya. Bibi dan pak Udin tidak termasuk kedalamnya, karena mereka hanya bekerja dari pagi hingga sore saja. Tidak untuk tidur di tempat teduh ini. Gevandra, kakak laki laki Aukith, saat ini sedang menempuh pendidikan di kota Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada. Sama seperti Fitri, ibu dari kedua anak tersebut. Tidak adanya Gevan membuat semakin sepi rasanya rumah ini. Ia hanya pulang sebulan sekali, karena aktif mengikuti kegiatan di kampusnya. Wanita paruh baya yang semakin tua itu, sekarang juga sedang mengurus toko roti nya. Memang tidak sering, hanya 3 kali seminggu saja. Aukith pun sekarang tidak terlalu sering berada dirumah, ia biasa mengikuti kegiatan sekolah. Dan sepulang sekolahnya ia pergi bersama teman dekatnya, Alya. Mereka sama sama menyukai seni. Seni tari dan seni lukis. Alya sangat menyukai lukis. Ia sangat ingin menjadi penulis ternama. Sama halnya dengan Aukith. Mereka sama sama suka membaca buku, juga sering belajar bersama. Belajar dengan giat adalah kewajiban mereka setiap harinya. Agar bertujuan masuk ke PTN yang mereka ingin kan. Mereka memiliki keinginan memasuki universitas yang sama dan jurusan yang sama. Jurusannya ialah Kedokeran Universitas Indonesia. Alya dan Aukith sangat ingin membanggakan kedua orang tuanya. Mereka rela belajar hingga larut malam. Tidak hanya mereka berdua saja, ada juga laki laki yang bernama Regan yang sangat ambis demi memasuki PTN yang ia inginkan. Sama-sama di UI, hanya beda di jurusan saja. Regan ingin mengambil jurusan Hukum. Regan ini ialah teman masa kecil Aukith yang masih berteman hingga sekarang. 2024~


Mereka bertiga berteman sangat dekat. Tidaj ada yang melibatkan perasaan. Alya dan Regan kenal dari masa mpls tahun 2022. Dan berteman baik hingga sekarang. Mereka sama sama ambis. Belajar bareng, agar bisa mendapatkan ptn yang mereka inginkan. Sepulang sekolah pasti selalu ada salah satu dari mereka yang mengajak ke caffe untuk belajar bareng. "Weh, hayyu atuh ke coffe shop mang bara" ajakan Regan sepulang sekolah di tengah tengah lapangan. "Hah sekarang banget ini gan?" Alya sedikit kaget, sebenarnya sudab tidak heran sih. "Ya iya, masa besok al" jawab Regan dengan sedikit muka melasnya. "boleh boleeehhh". Aukith menjawab meski sedikit terlambat. Pergi ke caffe menaiki sepeda motor sepulang sekolah bersama temannya itu dengan cuaca yang tidak terlalu terik. Melihat kiri kanan yang dipenuhi kendaraan roda 2 dan roda 4. Sangat menikmati perjalanan menuju caffe. Sesampainya di caffe mereka belajar dan sharing cerita. tanya jawab, dan banyak hal yang mereka lakukan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan puku 19.00. Mereka sudah harus waktunya pulang. Karena arah rumah Aukith dan Regan searah, jadi Aukith pulang bareng Regan. Alya pulang sendiri tidak masalah, ia tidak berkenan untuk di temanin. Katanya dia pemberani. Kembali ke parkiran motor dan pulang kerumah masing masing. Menikmati dara malam yang sejuk, mengelewati jalan yang ada di kota Bandung ialah rutinitasnya. Regan mengerem motornya yang udah didepan gerbang rumah Aukith. "nyittt, sampe deh" regan mengarah kan pandangan kebelakang menghadap Aukith. "Loh iya udah nyampe aja, cepet banget" Aukith terheran, merasa cepat sekali sudah sampau dirumah. "Yoai, siapa dulu yang bawa" Regan menjawab sambil senyum ke pdan. "Pret, oh iya makasih ya udah anterin pulang"


bergumam ni anak sok iya banget dah, dan mengucapkan terimakasih. "sama sama, masuk gih udah malem, aku balik" memasang kembali helm ke kepala dan menyalakan motor. "iya hati hati" tersambil senyum Aukith. Tetetet. dibalas dengan klakson yang berisiknya itu. Lalu Aukith masuk kembali kedalam rumahnya. **** Seperti biasa rutinitas keluarga nya kalau dimalam hari adalah makan malam bersama. Fitri dan Samudra telah mengetahui bahwa Aukith masih mengikuti kursus dan pertunjukan ,perlombaan ballet. Mereka tidak marah, bahkan bangga. Karena mereka sadar capek anaknya itu pasti akan menjadi hasil yang memuaskan. Ditambah Fitri dan Samudra yang mengetahui anaknya, Aukith ingin memasuk PTN yang mereka ingin putrinya masuk disitu. Kedokteran, jurusan kedokteran yang sangat mereka idam idamkan dari anaknya. **** Memasuki tahun terkahir bersekolah memakai seragam abu putih. Mereka semakin giat dalam belajar. setiap minggunya bisa 3 sampai 4 kali belajar bersama. Semester satu sudah dilalui, sekarang berada di semester dua. Semakin dekat dengan kelulusan, dan mengukuti ptn. Waktu dimana seleksi masuk PTN 2025 sudah dimulai. Mereka masuk melalui jalur SNBP. Menunggu hasil seleksi keluar, mereka tidak hanya belajar saja, juga selalu beribadah kepada sang pencipta. Menunggu hasil yang semoga keterima sambil menyiapkan hal hal yang perlu dilakukan untuk kelulusan. ****


Waktu yang ditunggu tunggu, hasil seleksi SNBP keluar, walau memang sangat menegangkan. 3 remaja SMA ini sedang mengakses link pengumuman SNBP nya. Mereka melihat hasilnya dirumah masing masing. Hanya saja dapat nerkomunikasi lewat video call. Saat nya yang menegang kan sudah bisa dibuka. Untuk membukanya saja sudah takut. Apalagi melihatnya. "deg..deg..deg..deg.." suara hati Aukith berdebar begitu kencang. Tuti, wanita paruh baya, Samudra dan Fitri yang berada dibelakangnya tidak sabar melihat hasil ptn anaknya. "Ayo dibuka Kith" ujar Fitri. "iya ma" Aukith menatap layar laptop. 1..2..3... "SELAMAT ANDA DINYATAKAN LULUS SNBP 2025". "Alhamdulillah anak papa lulus seleksi snbp 2025" Samudra terharu atas pencapaian anak bungsunya itu. Pecah tangisan haru keluarga bratana. Wanita paruh baya yang langsung memeluk anak dan cucunya karena terharu. Disusuli pelukan dari Samudra, ayah Gadis berambut panjang. Tidak menyangka Aukith dapat masuk SNBP 2025. keluarga mereka sangat terharu dan sangat merasakan bangga pada gadis berambut panjang tersebut. Kedua teman Aukith, Alya dan Regan juga dinyatakan lulus seleksi SNBP 2025. Sama sama mendapatkan universitas pilihan pertama dan jurusan impian. Tiba di bulan 5, bulan dimana mereka dinyatakan lulus dari SMA. tak terasa sebentar lagi mereka sudah memasuki dunia perkuliahan. Acara perpisahan kelas 12 sudah terlaksana. Aukith mendapat nilai rapor yang sangat memuaskan. Perjalanan yang ia jalanin 2 tahun kebelakang tidak sia sia. Ia sangat puas pada hasilnya. 5 **** ****


Epilog Sudah dua bulan Aukith menjadi maba, di Universitas Indonesia. Rumah yang berada di Dago, kota Bandung sekarang menjadi sepi. Hanya ada bibi, pak udin, Tuti, Fitri dan Samudra. Aukith pulang ke Bandung hanya 1-2 minggu sekali. Sementara sang kakak, Gevandra yang pulang ke Bandung hanya1-2 bulan sekali karena aktif mengikuti kegiatan dikampusnya. Wanita paruh baya yang semakin lama umurnya juga semakin tua, merasa bosan kalau dirumah saja. Ia sekarang menjadi lebih sering mendatangi toko roti miliknya. Kini Fitri dan Samudra, orang tus Aukith menjadi lebih perhatian kepadanya. Mungkin ini karena keberhasilannya yang membuat Fitri dan Samudra bangga kepadanya. Mereka sekarang sangat sering berkomunikasi lewat video call bersama Gevandra juga. Sekarang Aukith tetapu masih aktif dalam ballet. Bukan hanya menjadi murid lagi, tetapi sekarang juga sudah menjadi pelatih. Pesan moral atau kisah inspiratif yang dapat diambil dari kisah Aukith ini ialah jangan putus asa karena orang tuamu tidak mendukung minat mu ,juga jangan putus terhadap tuntutan orang tua yang ingin anaknya menjadi apa yang ia mau.Jadi lah diri sendiri yang tidak mengikuti apa kata orang lain. Patuh boleh, terlalu terpaksa dalam menjalankannya jangan. Masa depan mu, kamu sendiri yang menentukannya, apa yang ingin kamu raih raih lah.


Profil Penulis NAMA:NAYLAAISHANOVANDI KELAS: 9. 5 /IX.V TANGGAL LAHIR: 25 SEPTEMBER 2008 HOBBY: SCROLL TIKTOK, MEMBACAAU GENREANGST SERTANGEHALU MENJADI CEWEKHEESEUNGDANJAKE :D aku ngebuat cerita ini sesuai yang ada diimajinasi ku aja gaizzZz, gatau mau cerita apa selain ini. maaf yeah kalo nggak nyambung atau agak aneh dikit eheheheheheh. OH IYA INI AKU ENGGAK COPAS YEAH. sekian perkenalan dari diriku. makasih yeah buat yang udah baca, dan teman teman ku yang udah memberikan ide kepada ku.


BAL IZO Aukith Tsahara Perjuangan.. Keberhasilan.. Keharmonisan.. dan impiannya yang telah terwujud


Click to View FlipBook Version