EorbrjoerDc!t.NOotKaUvalMid eEmNbedPdEErrLorA! NKoSt aAvNalidAeAmbNedDdedEoSbIjeMct.eINd oAbjeScIt.EPrrEorN! NGotEaMvaliBd eAmNbeGddAedN
PROFESI GURU BERKELANJUTAN
HIGH ORDER THINKING SKILL
KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI
OLEH
YUDISHA FATIHATUN FITRIANI, S.Pd, M.Ak
MADRASAH ALIYAH MIFTAHUL ULUM BETTET
TAHUN PELAJARAN 2020-2021
MAKALAH HIGH ORDER THINKING SKILL (HOTS)
Disampaikan di MA Miftahul Ulum Bettet Pamekasan
Pada tanggal 26 November 2018
Latar Belakang
Seperi yang telah kita ketahui bersama bahwa kurikulum pendidikan yang saat ini
diterapkan di Indonesia adalah kurikulum 2013. Menurut Kemendikbud dalam kurikulum
2013, pola pembelajaran kurikulum 2013 menekankan kepada high order thinking
skill. Menurut Zaini dalam Julianingsih (2017) berpikir tingkat tinggi adalah keterampilan
berpikir yang mengkombinasikan anatar berpikir kritis dan berpikir kreatif. Keterampilan
berpikir tingkat tinggi atau dalam bahasa inggrisnya Higher Order Thinking Skill adalah pola
berpikir siswa dengan mengandalkan kemampuan untuk menganalisis, mencipta, dan
mengevaluasi semua aspek dan masalah. Yunistika (2016) menambahkan bahwa
keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu modal utama bagi peserta didik
dalam mempelajari sains. Peserta didik membutuhkan keterampilan berpikir tertentu untuk
memecahkan masalah/fenomena yang terdapat dalam persoalan yang ditemukan dalam
mata pelajaran sains. Hal ini dikarenakan konsep-konsep sains erat kaitannya dengan
berbagai sistem kehidupan dan lingkungan yang kompleks.
Menurut taksonomi Bloom yang telah direvisi proses kognitif terbagi menjadi
kemampuan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking) dan kemampuan berpikir tingkat
tinggi (Higher Order Thinking). Kemampuan yang termasuk LOT adalah kemampuan C1:
mengingat (remember), C2: memahami (understand), dan C3: menerapkan (apply),
sedangkan HOT meliputi kemampuan C4: menganalisis (analyze), C5: mengevaluasi
(evaluate), dan C6: menciptakan (create) (Anderson dan Krathwohl dalam Istiyono dkk).
Berdasarkan tingkat berpikir tersebut maka diperlukan teknik penilaian yang terperinci
sesuai dengan indikator keterampilan berpikir tingkat tingkat (KBTT) pada masing-masing
domain taksonomi Bloom.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirasa perlu untuk memahami tentang
keterampilan berpikir tingkat tingkat (KBTT) yang meliputi definisi, prinsip, teori dan penilaian
KBTT agar sebagai pendidik mampu menjalankan tuntutan dari kurikulum yang digunakan
khususnya kurikulum saat ini yaitu kurikulum 2013.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis menarik rumusan masalah sebagai
berikut.
1. Apakah definisi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)?
2. Apa saja faktor yang mempegaruhi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)?
3. Bagaimana peran berpikir kritis dalam Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)?
4. Bagaimana peran berpikir kreatif dalam Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)?
5. Bagaimana asesmen Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)?
Definisi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)
Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya
cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), berpikir
kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir tingkat
tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang
terjadi dalam short-term memory. Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu
jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah
berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah
proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian (Rianawati, 2011).
Kemampuan berpikir tingkat tinggi didefinisikan sebagai penggunaan pikiran secara
lebih luas untuk menemukan tantangan baru. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini
menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya
dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi baru
(Heong dkk, 2011). Berpikiir tingkat tinggi adalah berpikir pada tingkat lebih tinggi daripada
sekedar menghafalkan fakta atau mengatakan sesuatu kepada seseorangpersis seperti
sesuatu itu disampaikan kepada kita. Wardana (2010) mengatakan bahwa kemampuan
berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang melibatkan aktivitas mental dalam usaha
mengeksplorasi pengalaman yang kompleks, reflektif dan kreatif yang dilakukan secara
sadar untuk mencapai tujuan, yaitu memperoleh pengetahuan yang meliputi tingkat berpikir
analitis, evaluatif, dan mencipta.
Menurut Ibid dalam yunistika (2016) definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi
didapatkan dari hasil investigasi terhadap tiga area yang memberikan kontribusi dalam
memahami keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan lebih baik. Adapun ketiga area
tersebut antara lain yaitu: (a) pandangan yang berbeda dari filsuf dan psikolog terhadap
keterampilan berpikir tingkat tinggi; (b) usaha untuk membedakan antara keterampilan
berpikir tingkat rendah dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan (c) sebuah gambaran
yaitu mengenai hubungan antara berpikir kritis dan berpikir pemecahan masalah dengan
istilah keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Menurut Piaget dalam Yunistika (2016), keterampilan berpikir tingkat tinggi bersifat
abstrak dan logis. Abstrak yang dimaksud oleh Piaget adalah “terlepas dari persepsi dan
tindakan yang rata-rata dilakukan”. Berpikir yang terikat pada satu persepsi atau aksi
tertentu merupakan keterampilan berpikir tingkat rendah seperti contoh pada tahap sensori
motorik atau praoperasional. Berpikir dengan lebih sedikit terikat pada persepsi dan tindakan
merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal ini dapat dicontohkan seperti berpikir
konkrit dan operasional formal. Dengan kata lain, keterampilan berpikir tingkat tinggi yang
abstrak dan logis menuntut anak yang dalam hal ini peserta didik untuk mampu berpikir
konkret dan operasional formal.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi muncul ketika seseorang menerima informasi baru
dan informasi tersebut dimasukkan ke dalam memori dan informasi tersebut dikaitkan antara
satu dengan yang lain untuk mencapai sebuah tujuan atau menemukan jawaban yang
memungkinkan dalam menjawab sebuah situasi yang membingungkan (Lewis dan Smith,
1993). Selanjutnya Pertiwi (2014) menjelaskan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi
meliputi berpikir kritis, logis, reflektif dan kreatif. Keterampilan berpikir tingkat tinggi diaktivasi
ketika individu mendapatkan masalah. Masalah yang sangat kompleks sering membutuhkan
solusi yang kompleks dimana diperoleh dari proses berpikir tingkat tinggi.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas, dapat ditarik suatu pemahaman bahwa
kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan untuk mengolah informasi secara
berpikir kritis, logis, reflektif dan kreatif untuk memecahkan permasalahan dalam berbagai
situasi. Dalam tulisan ini, KBTT difokuskan pada keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
Faktor yang Mempegaruhi Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)
Menurut Stephen dalam Yunistika (2016) untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat
tinggi oleh peserta didik dalam sebuah pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor
sebagai berikut diantaranya adalah perbedaan pegetahuan dan keterampilan guru, serta
pengaruh lingkungan.
Guru memegang tugas yang penting sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses
pembelajaran. Oleh karenanya semakin berpendidikan tinggi dan berpengalaman seorang
guru akan memberikan pengaruh dalam mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
kepada peserta didik. Guru yang telah lebih banyak memahami isu-isu pedagogik serta
menjadi ahli dalam bidang tersebut akan memberikan proses pembelajaran dengan
menjadikan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai tujuan pengajaran serta akan
diajarkan dengan frekuensi yang lebih banyak dibandingkan dengan guru yang lebih kurang
pengetahuan dan keterampilannya dalam mengajar.
Pengaruh yang diberikan oleh lingkungan sangat beragam. Lingkungan yang dimaksud
adalah segala sesuatu yang berada di luar guru dan siswa itu sendiri. Seperti contoh aturan
birokrasi tempat guru mengajar yang bertujuan terlalu membiasakan pekerjaan yang
dilakukan oleh guru akan menurunkan semangat guru untuk mengajarkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi sebagai tujuan pengajaran kepada siswa. Sehingga, dengan kata lain
guru hanya dibiarkan menggunakan model/metode lama dalam mengajar.
Selain faktor-faktor diatas, terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami dalam
penerapan KBTT. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
- Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa.
- Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang
studi.
- Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini,
sehingga perlu adanya latihan terbimbing.
- Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat
kepada siswa (student-centered).
Prinsip-prinsip tersebut menjelaskan bahwa KBTT memerlukan proses pengolahan
informasi yang mendalam dan tidak “muncul” begitu saja. Untuk memiliki kemampuan
pengolahan informasi yang baik, maka diperlukan adanya latihan untuk melatihkan
kompetensi berpikir tingkat tinggi siswa. Menurut Adang (1985), Suastra & Kariasa (2001),
siswa hendaknya diberi kesempatan sebagai berikut.
- Mengajukan pertanyaan yang mengundang berpikir selama proses belajar mengajar
berlangsung.
- Membaca buku-buku yang mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut.
- Memodifikasi atau menolak usulan yang orisinil dari temannya, guru atau dari buku
pelajaran.
- Merasa bebas dalam mengajukan tugas pengganti yang mempunyai potensi kreatif dan
kritis.
- Menerima pengakuan yang sama untuk berpikir kreatif dan kritis seperti juga untuk hasil
belajar yang berupa mengingat.
- Memberikan jawaban yang tidak sama persis dengan yang ada dalam buku, namun
konsep atau prinsipnya benar.
Adanya pengaruh yang positif dari berbagai faktor dan latihan yang intensif
diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan KBTT.
Berpikir Kritis dalam Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)
Salah satu jenis berpikir tingkat tinggi adalah berpikir kritis (Yunistika, 2016; Pertiwi,
2014). Berpikir kritis bersifat masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan
apa yang harus dipercaya atau dilakukan (Brookhart, 2010). Yunistika (2016)
menyebutkan bahwa istilah keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan gambaran
mengenai hubungan antara berpikir kritis dan pemecahan masalah. Dengan kata lain
dalam KBTT, kemampuan berpikir kritis berfokus pada kemampuan seseorang
memecahkan masalah (Problem Solving) yang dihadapi. Brookhart (2010) merumuskan
5 langkah IDEAL memecahkan masalah dengan berpikir kritis sebagai berikut.
I Identify the problem. Identifikasi masalah
D Define and represent the problem. Mendefinisikan dan menetapkan masalah.
E Explore possible Strategies. Mengeksplorasi strategi yang mungkin dilakukan.
A Act on the strategies. Menerapkan strategi yang dipilih.
L Look back and evaluate the effects of your activities. Melihat kembali dan mengevaluasi
kegiatan yng dilakukan.
Sama seperti prinsip KBTT, kemampuan berpikir kritis tidak otomatis dimiliki siswa
dan memerlukan latihan. Membaca soal-soal berpikir kritis tidak akan membuat siswa
memiliki kemampuan berpikir kritis begitu saja. Diperlukan proses berpikir yang
mendalam dan latihan berulang-ulang. Johnson (2002) mengungkapkan 8 langkah yang
dapat digunakan untuk melatih proses berpikir kritis. Kedelapan langkah ini disusun
dalam bentuk pertanyaan yang sistematis (berurutan) untuk meneliti secara menyeluruh
setiap masalah, isu, proyek, atau keputusan yang dihadapi. Kedelapan pertanyaan
tersebut adalah sebagai berikut.
1.Apa sebenarnya isu, masalah, keputusan, atau kegiatan yang sedang dipertimbangkan?
Ungkapkan dengan jelas.
2. Apa sudut pandangnya? Sudut pandang memaksa seseorang menempatkan diri pada
posisi tertentu sehingga solusi yang diharapkan menjadi terfokus untuk satu tujuan.
3. Apa alasan yang diajukan? Tugas pemikir kritis adalah mengidentifikasi dan bertanya
alasan dibalik masalah yang ditemukan.
4. Asumsi-asumsi apa saja yang dibuat? Asumsi adalah ide-ide yang dapat diterima dalam
permasalahan dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
5. Apakah bahasanya jelas? Seorang pemikir harus mampu memahami permasalahn yang
dihadapi untuk dapat mengkritisinya. Bahasa yang tidak jelas dapat menyebabkan
miskonsepsi terhadap asumsi.
6. Apakah alasan didasarkan pada bukti-bukti yang menyakinkan?
7. Apakah kesimpulan yang dapat diambil? Kesimpulan yang diambil harus memberikan
solusi dari isu, masalah, keputusan, atau kegiatan yang sedang dipertimbangkan,
utamanya dari sudut pandang pemikir.
8. Apakah implikasi dari kesimpuan yang diambil? Pemikir kritis harus memperkirakan
segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam menerapkan suatu pemecahan terhadap
isu, masalah, keputusan, atau kegiatan yang sedang dipertimbangkan
Berikut adalah contoh permasalahan yang membutuhkan proses KBTT berpikir kritis.
Apakah persamaan hewan-hewan berikut.
(1) Gajah, (1) Jerapah, (3) Tikus, (4) Monyet, (5) Cicak, (6) Ayam?
Proses berpikir kritis dalam pemecahan masalah diawali dengan identifikasi
masalah. Masalah yang ditemukan adalah mencari persamaan berbagai jenis hewan.
Selanjutnya mendefinisikan dan menetapkan masalah. Diketahui bahwa hewan yang
disajikan dalam masalah berasal dari spesies yang berbeda, setiap spesies yang
berbeda memiliki ciri fisik yang berbeda pula, maka dapat ditetapkan bahwa masalah
dapat ditinjau dari ciri-ciri fisik hewan tersebut.
Setelah pokok permasalahan ditetapkan, selanjutnya mengeksplorasi strategi yang
mungkin dilakukan. Ditetapkan masalah ditinjau berdasarkan ciri hewan, maka strategi
yang harus ditetapkan adalah mengklasifikasi bagian-bagian tubuh yang dimiliki hewan.
Setelah diklasifikasi, dapat diketahui bahwa keenam hewan tersebut memiliki satu
bagian tubuh yang sama, yakni ekor. Langkah terakhir adalah mengevaluasi apakah
seluruh hewan yang terdapat di ambar benar-benar memiliki ekor. Setelah melakukan
evaluasi, dapat dibuktikan bahwa persamaan keena hewan tersebut adalah sama-sama
memiliki ekor.
Berpikir Kreatif dalam Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)
Berpikir kreatif merupakan salah satu ciri KBTT (Wardana 2010; Pertiwi
2014). Kreatif berarti meletakkan sesuatu dalam cara yang baru (secara konseptual maupun
artistik), mengamati hal-hal lain yang mungkin terlewatkan, membangun sesuatu yang baru,
menggunakan cara yang tidak biasa namun bekerja untuk membuat poin yang
menarik (Brookhart, 2010). Jenis pemikiran kreatif dan produk yang dihasilkannya tidak
terbatas untuk dilakukan. Apabila berpiki kritis berfokus pada pemecahan masalah, maka
berpikir kreatif berfokus pada menyajikan sesuatu dengan cara yang baru. Berikut adalah
sintaks yang harus dilakukan untuk dapat menilai proses berpikir kreatif (Brookhart, 2010).
1. Mewajibkan siswa memproduksi beberapa ide baru atau produk baru, atau
meminta siswa mengatur ide-ide yang telah ada dengan cara yang baru.
Mengajarkan dua konten atau teks yang berbeda adalah salah satu cara untuk
dapat melakukan ini.
2. Biarkan siswa memilih jenis penilaian yang mereka inginkan untuk dinilai, sesuai
target pembelajaran. Misalnya untuk memahami materi energi, siswa dapat
memilih jenis penilaian kinerja, produk, atau yag lainnya yang sesuai untuk
materi pembelajaran energi.
3. Evaluasi pekerjaan siswa terhadap kriteria yang dibuat siswa sendiri serta kriteria
konvensional. Karena tidak ada batasan untuk berpikir kreatif, maka tidak
menutup kemungkinan siswa dapat membuat karya yang tidak pernah terpikirkan
sebelumnya. Tentu penilai tidak menyiapkan kriteria untuk karya yang tak diduga,
oleh karenanya penilai dapat membuat kriteria berdasarkan karya yang dibuat
siswa sendiri. Namun penilai tetap harus membandingkan hasil karya yang
dibuat siswa dengan penilaian konvensional untuk dapat mengukur seberapa
tingkak kreativitas yang ditunjukkan siswa.
Berikut adalah beberapa indikator bahwa siswa telah melakukan proses berpikir kreatif
(dalam Brookhart, 2010).
- Mengenali pengetahuan dasar yang penting dan terus bekerja untuk mengetahui hal
baru.
- Terbuka dan aktif mencari ide baru.
- Mencari sumber informasi untuk ide di media yang luas, orang, dan kegiatan.
- Mencari cara baru untuk mengorganisasikan ide menjadi katagori dan kombinasi yang
berbeda, kemudian menganalisa apakah hasil yang ditunjukkan menarik, baru, atau
berguna.
- Melakukan trial and error ketika mereka tidak yakin bagaimana memproses sesuatu,
menggunakan kegagalan menjadi kesempatan untuk belajar.
Satu sudut pandang tentang kreativitas menyatakan bahwa berpikir kreatif dan
berpikir kritis adalah satu hal yang berbeda namun saling mempengaruhi. Noris dan
Ennis (dalam Brookhart, 2010) menyebutkan bahwa kreativitas merupakan proses
kreatif untuk mengumpulkan ide-ide baru, dan kemudian berpikir kritis mengambil alih
untuk mengevaluasi seberapa sukses ide baru tersebut. Paham tersebut memandang
berpikir kreatif memiliki sifat masuk akal, produktif, dan tidak dapat dievaluasi,
sedangkan berpikir kritis memiliki sifat masuk akal, reflektive, dan dapat dievaluasi.
Pandangan lain disampaikan oleh Robinson (dalam Brookhart, 2010), menganggap
bahwa berpikir kritis (evaluasi) merupakan bagian dari berpikir kreatif. Robinson
menjelaskan bahwa setiap ilmu pasti sudah memiliki kriteria yang dapat dievaluasi.
Ketika seseorang menggunakan kreaivitas untuk menciptakan hal yang baru, maka
secara otomatis ia telah melakukan evaluasi (berpikir kritis) terhadap hal yang sudah
ada sebelumnya.
Sudut pandang lain yang disampaikan oleh The Partnership (dalam Brookhart,
2010), yang menyatakan bahwa dalam proses berpikir kreatif, evaluasi sebagai bentuk
berpikir kritis dapat disertakan dapat juga tidak. ini bergantung pada tujuan yang ingin
dicapai melalui kedua proses tersebut. Walaupun berpikir kreatif dan berpikir kritis
dipisahkan, pada akhirnya kedua proses tersebut akan berakhir bersamaan.
Contoh dari pemasalahan yang membutuhkan kemampuan berpikir kratif
disampaikan oleh Brookhart (2010) sebagai berikut.
Sebuah perusahaan baru saja menggunakan lift sebagai sarana bagi pekerjanya
untuk dapat naik-turun gedung dengan mudah tanpa menaiki tangga. Namun banyak
pegawai yang mengeluh karena laju lift yang lamban sehingga waktu mereka terbuang.
Tidak mungkin bagi perusahaan membongkar lift yang baru saja dipasang. Apa yang
harus dilakukan?
Secara sederhana solusi atas permasalahan diatas adalah menonaktifkan lift atau
meminta kesabaran pegawai. Namun tentu ada penyelesaian yang lebih kreatif atas
permasalahan tersebut. Salah satu solusi kreatif yang dapat dilakukan adalah
memasang kaca pada dinding lift tersebut. Brookhart menjelaskan ketika kaca dipasang,
maka pegawai yang berada di dalam lift dapat teralihkan perhatiannya dengan
mengecek penampilan mereka atau memperbaiki dasi. Ketika perhatian teralih, maka
rasa bosan akan menunggu akan berkurang dan waktu didalam lift akan terasa cepat
berlalu.
Contoh lain dari berpikir kreatif adalah ketika seseorang diminta untuk menghubungkan
9 titik seperti gambar dibawah menggunakan hanya 4 garis. Mungkinkan dilakukan?
Orang yang tidak berpikir kreatih tentu akan menjawab kalau itu tidak mungkin
dilakukan. Namun orang yang berpikir kreatif akan selalu menemukan jalan untuk
memecahkan semua permasalahan yang dihadapi, seperti gambar berikut.
Asesmen Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT)
Menurut Young dalam Khoiriah (2017) bahwa asesmen merupakan instrumen yang
dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Terkait hal tersebut, asesmen
harus mampu berfungsi sebagai wahana yang dapat memberikan perbaikan kepada
siswa terhadap kesalahan yang dilakukan selama pembelajaran. Terkait dengan KBTT,
asesmen diharapkan dapat menjadi sarana untuk dapat memahami tingkat kemampuan
siswa, utamanya dalam aspek berpikir kritis dan berpikir kreatif.
Berbagai jenis asesmen dapat digunakan untuk menilai KBTT, bergantung pada
tujuan pembelajaran yang ingin dinilai. Salah satu jenis asesmen yang dapat dignakan
adalah asesmen autentik. Autentik sendiri memiliki arti asli, nyata, riil, atau sebenarnya
(KBBI, 2018). Dapat diartikan bahwa asesmen autentik adalah asesmen yang menilai
berbagai aspek kemampuan dengan sebenar-benarnya. Kemendikbud (2013)
menyatakan bahwa asesmen autentik merupakan asesmen yang dilakukan secara
komprehensif (menyeluruh) untuk menilai mulai dari masukan, proses, dan keluaran
pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Instrumen
Instrumen merupakan alat untuk mengumpulkan data atau informasi, sedangkan
asesmen merupakan proses pengumpulan informasi yang berkaitan dengan
pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru untuk
memperbaiki proses dan hasil belajar siswa (Popham dkk dalam Khoriah, 2017).
Berdasarkan dari kedua pengertian tersebut, maka instrumen asesmen dapat
didefinisikan sebagai alat asesmen atau alat penilaian.
Intrumen yang digunakan pada asesmen KBTT dapat berupa instrumen tes dan
non tes. Instrumen tes yang digunakan dapat berupa esay maupun objetif, bergantung
dari aspek yang ingin dinilai. Apabila penilai hanya ingin menilai KBTT dari segi kognitif,
maka objektif dapat digunakan. Apabila penilai ingin menilai aspek kognitif dan proses
KBTT yang dimiliki siswa, maka disarankan untuk menggunakan tes objektif diperluas
atau essai. Instrumen non tes yang digunakan contohnya adalah asesmen kinerja,
proyek, produk, maupun portofolio.
Indikator
Indikator untuk mengukur atau menilai KBTT sesuai dengan domain Taksonomi
Bloom meliputi C4-C6 (Krathwohl dan Anderson, 2010) sebagai berikut.
Tabel 1. KBTT dalam Taksonomi Bloom Revisi
Kategori Tingkatan Berpikir
Remembering (mengingat) LOTS-Lower Order
Understanding (memahami) Thingking Skill
Applying (menerapan)
Analyzing (menganalisis) HOTS-Higher Order
Evaluating (menilai) Thingking Skill
Creating (mencipta)
(Sumber: Krathworl dan Andrerson dalam Julianingsih, 2017).
Selain dimensi proses kognitif (mengingat, memahami, mengaplikasikan,
menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta), dalam taksonomi bloom yang telah direvisi
juga terdapat dimensi kognitif atau pengetahuan meliputi empat kategori pengetahuan
yakni pengetahuan faktual (K1), pengetahuan konseptual (K2), pengetahuan prosedural
(K3) dan pengetahuan metakognisi (K4) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.3.
Pengkategorian dimensi pengetahuan ini memiliki peranan penting dalam lingkup
pembelajaran maupun pendidikan. Pengkategorian ini juga menunjukkan suatu hierarki
atau tingkatan, yang berarti siswa mampu berpikir pada tahapan lebih tinggi apabila
tahapan di bawahnya telah dikuasai. Dimensi pengetahuan muncul sebagai cognitive
product atau hasil dari proses kognitif (Anderson dan Krathwohl dalam Khoiriah, 2017).
Tabel 2 Dimensi revisi Taksonomi Bloom dan contoh kata kerja operasional
untuk Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi.
Dimensi Dimensi Proses Kognisi (The Cognitive Process Dimension)
Pengetahuan (Kno
wledge Dimension) C4 Analisis C5 Penilaian C6 Penciptaan
(analyze) (evaluate) (create)
Pengetahuan Faktual C4 PF C5 PF C6 PF
(PF) Mengelompokkan Membandingkan, Menggabungkan
menghubungkan
Pengetahuan C4 PK C5 PK C6 PK
Konseptual (PK) Menjelaskan, Mengkaji, Merencanakan
Menganalisis Menafsirkan
Pengetahuan C4 PP C5 PP C6 PP
Prosedural (PP) Membedakan Menyimpulkan, Mengobinasikan,
Memformulasikan
Meringkas
Pengetahuan C4 PM C5 PM C6 PM
Metakognisi (PM) Mewujudkan, Membuat urutan, Merealisasikan
Menemukan
Menilai
(Sumber: Anderson dan Krathwohl dalam Khoiriah, 2017).
Menganalisis, melibatkan proses memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian
kecil dan menentukan bagaimana hubungan antar bagian-bagian dan antara setiap
bagian dan struktur keseluruhannya. Menganalisis meliputi proses kognitif membedakan,
mengorganisasi, dan mengatribusikan. Mengevaluasi, didefinisikan sebagai membuat
keputusan berdasarkan kriteria dan standar. Kriteria-kriteria yang paling sering
digunakan adalah kualitas, efektivitas, efisiensi dan konsistensi. Mengkreasi/ mencipta,
melibatkan proses menyusun elemen-elemen menjadi sebuah keseluruhan yang
koheren atau fungsional.
Contoh Instrumen Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi
Tabel 3. Insrumen P
No KI KD Materi Ind
1 3. Memahami pengetahuan (faktual, 3.5 Mememahami Sifat asam 1. Peserta
konseptual, dan procedural) berdasarkan karakteristik zat, serta
rasa ingin tahunya tentang ilmu perubahan fisika dan basa larutan menge
larutan
pengetahuan, teknologi, seni, budaya kimia pada zat yang sifat as
terkait fenomena dan kejadian tampak dapat dimanfaatkan 2. Peserta
mata. untuk kehidupan sehari- membu
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam hari indikato
ranah konkret (menggunakan, mengurai, 4.7 Melakukan penyelidikan basa
merangkai, memodifikasi, dan membuat) untuk menentukan sifat
dan ranah abstrak (menulis, membaca, larutan yang ada di
menghitung, menggambar, dan lingkungan sekitar
mengarang) sesuai dengan yang menggunakan indikator
dipelajari di sekolah dan sumber lain buatan maupun alami
yang sama dalam sudut pandang/teori
Penilaian Tingat Tinggi
dikator Soal 0 Skor
a didik mampu Seorang pembuat jamu memesan 1 botol air 2 Peserta didik tidak menemukan
elompokkan mineral untuk membuat jamu kunyit manis, 3 cara untuk membedakan
n berdasarkan kencur, dan beras yang dipesan langganannya. larutan
sam dan basa Ketika kurir pengantar air datang, penjual jamu 4 Peserta didik membedakan
a didik mampu dan kurir tersebut kebingungan karena terdapat 3 dengan menebak tanpa alasan
uat produk botol yang sama berisi larutan yang tampak sama
or alami asam dalam kotak yang dibawa oleh kurir. Ternyata Peserta didik membedakan
selain membawa 1 botol air mineral, kurir tersebut larutan menggunakan indera
juga membawa 1 botol larutan asam dan 1 botol tanpa menghasilkan produk
larutan basa yang dipesan apotek disebelah (mencium aroma, menyentuh,
rumah penjual jamu. Karena tidak terdapat atau merasakan)
pengenal, bagaimana cara penjual jamu dan kurir
untuk membedakan air mineral, larutan asam, Peserta didik membedakan
dan larutan basa tersebut? larutan dengan membuat
produk indikator alami asam
basa dari kunyit
PENUTUP
Simpulan
1. Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan untuk mengolah
informasi secara berpikir kritis, logis, reflektif dan kreatif untuk memecahkan
permasalahan dalam berbagai situasi
2. Terdapat 2 pengaruh yang terdapat dalam KBTT yakni kemampuan guru dan
lingkungan. Selain itu terdapat pula 4 prinsip dan 6 latihan yang harus
dipahami untuk dapat meningkatkan KBTT.
3. Berpikir kritis bersifat masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk
memutuskan apa yang harus dipercaya atau dilakukan
4. Berfikir kreatif berarti meletakkan sesuatu dalam cara yang baru (secara
konseptual maupun artistik), mengamati hal-hal lain yang mungkin
terlewatkan, membangun sesuatu yang baru, menggunakan cara yang tidak
biasa namun bekerja untuk membuat poin yang menarik
5. Kemampan berfikir tingkat tinggi dapat diasesmen menggunakan berbagai
jenis asesmen, salah satunya adalah asesmen autentik. Instrumen yang
digunakan dapat berupa instrumen tes maupun non tes dengan mengacu
pada indikator menganailis (C4), menilai (C5), dan mencipta (C6) dalam
Taksonomi Bloom.
DAFTAR PUSTAKA
Arthur lewis and David Smith. 1993. Defining High Order Thinking, Theory Into
Practice, Collage of Education: The Ohio State University, 32, h.
136.
Heong, Y.M., Othman, W.D., Md Yunos, J., Kiong, T.T., Hassan, R., & Mohamad,
M.M. 2011. The Level Of Marzano Higher Order Thinking Skills
Among Technical Education Student.International Journal Of Social
And Humanity, Vol. 1(2).
Istiyono, E., Mardapi, D., dan Suparno. Pengembangan Tes Kemanpuan Berpikir
Tingkat Tinggi Fisika (physTHOTS) Peserta Didik SMA. Jurnal
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta.
Julianingsih, S. 2017. Pengembangan Instrumen Asesmen High Order Thinking
Skill (HOTS) Untuk Mengukur Dimensi Pengetahuan IPA Siswa Di
SMP. Skripsi. FIKP : Universitas Lampung.
Khoiriah. 2017. Pengembangan Instrumen High Order Thinking Skills Untuk
Menumbuhkan Self Regulated Learning Siswa SMP. Tesis. FIKP :
Universitas Lampung.
Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl. 2010. Kerangka Landasan Untuk:
Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, h. 120-130.
Pertiwi, R.D. 2014. Penerapan Constructive Controversy dan Modified Free
Inquiry terhadap HOTS Mahasiswa Pendidikan Biologi. Jurnal
Formatif, Vol. 2, h. 102.
Wardana, N. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dan
Ketahanmalangan Terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Dan Pemahaman Konsep Fisika.
Brookhart, S. M. 2010. How to Asses Highe-Order Thinkung Skill in Your
Classroom. USA: ASCD
Johnson, W. B. 2002. Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan
Belajar-Mengajar Mengasyikan dan Bermakna. Bandung: MLC
DESIMINASI PROGRA
BERKELAN
Penilaian Berorientasi
Keterampilan Berpikir Tingkat
Tinggi (Higher Order Thinking
YUDISYA FATHATUN
MA MIFTAHUL
NOVEMB
AM PROFESI GURU
NJUTAN
t
Skills)
N FITRIANI, S.Pd
L ULUM BETTET
BER 2018
Penilaian Berorientasi
Keterampilan Berpikir Tingka
Tinggi (Higher Order Thinking
at
Skills)
TUJUAN
• Mengembangakan Penilaian Berorien
Tujuan utama dari HOTS adal
kemampuan berpikir peserta
tinggi, terutama yang berkaita
berpikir secara kritis dalam
informasi, berpikir kreatif dalam
menggunakan pengetahuan
dengan baik dan mampu men
membuat keputusan dalam s
ntasi HOTS
lah bagaimana meningkatkan
a didik pada level yang lebih
an dengan kemampuan untuk
m menerima berbagai jenis
m memecahkan suatu masalah
n yang dimiliki, berargumen
ngkonstruksi penjelasan, serta
situasi-situasi yang kompleks.
SKENARIO Papa
Pembagia
Pengantar(5’)
(
Reviu dan Prese
Penguatan (45
(25’)
aran dan Pengembangan Kisi-kisi
an Kelompok dan Penyusunan Soal
(15’) HOTS secara individu
(165’)
entasi Telaah Butir
5’) Soal (45’)
LANGKAH KEGIATA
1. Tentukan satu KD Pengetahuan untu
penyusunan soal HOTS
2. Menyusun kisi-kisi soal untuk dituru
3. Merumuskan soal pilihan ganda
4. Merumuskan soal uraian
AN:
uk digunakan sebagai dasar
unkan ke soal PG dan Uraian
PENGERTIAN BERFIK
Berfikir tingkat tinggi m
berpikir yang tidak seka
menyatakan kembali (r
tanpa melakukan p
KIR TINGKAT TINGGI
merupakan kemampuan
adar mengingat (recall),
restate), atau merujuk
pengolahan (recite)
Mengkreasi Penalaran • Mengk
(Level Kognitif 3) • Kata k
HOTS Mengevaluasi
Aplikasi menge
Menganalisis (Level Kognitif 2) • Menga
• Kata k
Mengaplikasi Pengetahuan &
MOTS Pemahaman (Level memu
Kognitif 1) • Mensp
Memahami • Kata k
LOTS Mengingat mengk
• Mengg
• Kata k
mengi
• Menje
• Kata k
mener
• Mengi
• Kata k
meniru
Su
kreasi ide/gagasan sendiri.
kerja: mengkonstruksi, desain, kreasi,
embangkan, menulis, memformulasikan, dll.
ambil keputusan sendiri.
kerja: evaluasi, menilai, menyanggah,
utuskan, memilih, mendukung, dll.
pesifikasi aspek-aspek/elemen.
kerja: membandingkan, memeriksa, ,
kritisi, menguji, dll.
gunakan informasi pada domain berbeda
kerja: menggunakan, mendemonstrasikan,
ilustrasikan, mengoperasikan, dll.
elaskan ide/konsep.
kerja: menjelaskan, mengklasifikasi,
rima, melaporkan, dll.
ingat kembali.
kerja: mengingat, mendaftar, mengulang,
ukan, menentukan, dll.
umber: Anderson&Krathwohl (2001) & Puspendik
NO. LEVEL KOGNITIF Mengukur penge
1. Pengetahuan dan Menggunaka
2. Pemahaman tertentu pada
lainnya;
3. Aplikasi
Menggunaka
Penalaran tertentu untuk
lain).
Menggunakan p
Mengambil ke
Memprediksi
Menyusun str
KARAKTERISTIK SOAL
etahuan faktual, konsep, dan prosedural.
an pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural
a konsep lain dalam mapel yang sama atau mapel
an pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural
k menyelesaikan masalah kontekstual (situasi
penalaran dan logika untuk:
eputusan (evaluasi)
& Refleksi
rategi baru untuk memecahkan masalah
Sumber: Puspendik
• Mengukur kemampuan berpikir tingkat tin
• Berbasis permasalahan kontekstual
nggi
LANGKAH-LANGKAH
SOAL HOTS
1. Menyusun kisi-kisi soal.
2. Menentukan indikator kunci yang a
indikator kunci belum berada di lev
tambahan soal dari indikator peng
3. Memilih stimulus yang menarik da
4. Menulis butir pertanyaan pada kar
5. Membuat pedoman penskoran ata
H PENYUSUNAN
akan dibuatkan soal. Apabila
vel kognitif 3 (penalaran), buatlah
gayaan.
an kontekstual.
rtu soal sesuai dengan kisi-kisi soal.
au kunci jawaban.
CONTOH KISI-KISI P
Kompetensi/KKO (setara dengan
tingkat kompetensi KD dan IPK Kunci)
No Kompetensi dasar IPK Materi
pokok
12 3
4
1 3.5 Menganalisis sistem 3.5.1 Menganalisis
Sistem
pencernaan pada manusia proses yang terjadi pencern
aan
dan memahami gangguan pada salah satu
yang berhubungan dengan organ
pencernaan
sistem
pencernaan, serta yaitu mulut
upaya menjaga kesehatan
sistem pencernaan
Materi yang terga
KD, IPK dan Materi
PENULISAN SOAL
Stimulus Level Kognitif dan Bukan Dimensi
Proses Kognitif
Indikator Soal Level Bentuk Nomor
Soal
5 6 Soal
8
Disajikan data peserta didik L3 7 1
Pilihan
dapat menganalisis data Ganda
yang berkaitan dengan proses
pencernaan pada
rongga mulut
ambar pada
Pokok sama
Contoh Soal
KARTU SOAL NOMO
(PILIHAN GANDA
Mata Pelajaran : IPA
Kelas/Semester : VIII/1
Kompetensi Dasar Menganalisis sistem pencernaan pada
dengan sistem pencernaan, serta upay
Materi Sistem pencernaan
Indikator Soal Disajikan datapeserta didik dapat
pencernaan pada rongga mulut
Level Kognitif L3
Berikut ini data komposisi zat makanan sebelum dikunyah dan ketika su
No Zat Makanan Sebelum dikunyah Di dalam lambung (mg) Stimulus
(mg)
berupa data
1P 50 45
2Q 80 15
3R 35 32 Berda
4S 10 12 adalah
5T 15 78 A. kim
6U 0.5 0.75 B. me
C. kim
D. me
OR 1
A)
manusia dan memahami gangguan yang berhubungan
ya menjaga kesehatan sistem pencernaan
menganalisis data yang berkaitan dengan proses
udah di dalam lambung. Materi
Kompetensi/
KKO
asarkan data, proses pencernaan makanan yang tepat Pemilihan
h .... options juga
miawi pada zat makanan Q menjadi zat makanan T terjadi proses
ekanik pada zat makanan P menjadi zat makanan U analisis
miawi pada zat makanan R menjadi zat makanan S berdasarkan
ekanik pada zat makanan S menjadi zat makanan U materi
FORMAT KISI-KISI P
• Jenis sekolah :……………………….
• Jumlah soal :……………………….
• Mata pelajaran :……………………….
• Bentuk soal/tes :..........................
• Penyusun : ......…………………
• Alokasi waktu :……………………….
PENULISAN SOAL
KISI-KISI PENULISA
No. Kompetensi IPK Materi
Dasar
AN SOAL Bentuk Nomor
Soal Soal
Indikator Level
Soal kognitif