The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini ditargetkan untuk mahasiswa kesehatan yang mempelajari tentang membangun jejaring kemitraan di bidang promosi kesehatan, konsep dasar membangun jejaring kemitraan buku ini terdiri dari 10 topik mulai dari konsep dasar, keberhasilan dan kegagalan kemitraan kesehatan, kemitraan dan contoh kemitraan dalam kesehatan, pengertian kemitraan kesehatan, dasar kemitraan, persyaratan kemitraan, langkah menggalang kemitraan, pengertian media sosial & jejaring sosial kelebihan dan kekurangan jejaring sosial, pentingnya komunikasi efektif, evaluasi kemitraan dalam konteks kesehatan, manajemen konflik, membangun jejaring mitra kesehatan, tantangan dan solusi dalam membangun jejaring mitra kesehatan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wiji utami, 2024-06-03 00:48:39

Bagaimana Membangun Jejaring Mitra di Bidang Kesehatan

Buku ini ditargetkan untuk mahasiswa kesehatan yang mempelajari tentang membangun jejaring kemitraan di bidang promosi kesehatan, konsep dasar membangun jejaring kemitraan buku ini terdiri dari 10 topik mulai dari konsep dasar, keberhasilan dan kegagalan kemitraan kesehatan, kemitraan dan contoh kemitraan dalam kesehatan, pengertian kemitraan kesehatan, dasar kemitraan, persyaratan kemitraan, langkah menggalang kemitraan, pengertian media sosial & jejaring sosial kelebihan dan kekurangan jejaring sosial, pentingnya komunikasi efektif, evaluasi kemitraan dalam konteks kesehatan, manajemen konflik, membangun jejaring mitra kesehatan, tantangan dan solusi dalam membangun jejaring mitra kesehatan.

Keywords: Membangun Jejaring Mitra di Bidang Kesehatan dalam promosi kesehatan

KEMITRAAN dalam Promosi Kesehatan Pengertian kemitraan adalah: Suatu kerja sama yang formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasiorganisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kerja sama: kesepakatan tentang komitmen dan harapan, saling berbagi dalam risiko dan keuntungan. Ada 3 kata kunci dalam kemitraan: • Kerja sama antara kelompok, organisasi dan individu • Bersama-sama mencapai tujuan • Menanggung risiko dan keuntungan Pengertian kemitraan kesehatan adalah: Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangja pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi semua pihak. Dasar kemitraan persyaratan kemitraan: a. Kesamaan perhatian (common interest) b. Saling percaya dan saling menghormati c. Harus saling menyadari pentingnya arti kemitraan d. Harus ada kesepakatan visi, misi, tujuan dan nilai yang sama e. Harus berpijak pada landasan yang samaf. Kesediaan untuk berkorban Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan tidak terlepas dari dukungan dan kerjasama pelaku pembangunan yang berasal dari lintas sector, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan institusi pendidikan. Penggalangan kemitraan di bidang kesehatan sebagaimana diisyaratkan Piagam Ottawa (WHO, 1986) dan diperkuat oleh WHO pada konferensi internasional Promosi Kesehatan ke-4 di Jakarta pada tahun 1997 yang dilakukan untuk melibatkan seliruh komponen


masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Di sisi lain, keberhasilan suatu kerjasama sangat bergantung pada komitmen yang diberikan oleh pihak yang bermitra. Kerjasama ini diarahkan untuk menghasilkan sinergi dari upaya yang berkelanjutan untuk mendukung program-program kesehatan demi mewujudkan masyarakat yeang berperilaku sehat. Pentingnya kemitraan dalam bidang kesehatan karena: 1. Pembangunan kesehatan merupakan tanggungjawab bersama 2. Kesehatan merupakan modal dasar bagi keberhasilan pembangunan sector lain 3. Peningkatan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat dalam bidang kesehatan, khususnya yang bersifat promotif dan preventif 4. Adanya peluang sumber daya dari mitra potensial Kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan merupakan prinsip-prinsip dasar dalam kemitraan. Kesetaraan diartikan bahwa setiap mitra harus menempatkan diri setara satu dengan yang lainnya sehingga tercipta perasaan sama-sama bertanggungjawab dan sama-sama menanggung risiko, termasuk menghadapi tantangan yang mungkin terjadi. Prinsip kedua dalam melakukan kemitraan adalah harus dilakukan secara terbuka, transparan, jujur dan tidak saling merahasiakan. Saling menguntungkan dan mendapatkan manfaat untuk mencapai tujuan dan kepentingan yang sama merupakan prinsip ketiga dalam menjalin kemitraan. Kunci keberhasilan dalam bermitra: 1. Adanya Cooperation (kerjasama yang harmonis sharing and vision). Semua pihak yang menjallin kemitraan tentunya memiliki visi dan misinya masing-masing. Dalam menjalin kemitraan seyogyanya dapat terjalin kerjasama yang saling menguntungkan untuk pencapaian visi dan misi tersebut. Untuk itu, visi dan misi untuk saling mendukung. 2. Adanya Coordination (koordinasi yang baik-sharing tujuan). Saat melaksanakan kegiatan yang dibangun dalam kemitraan, masing-masing pihak harus memiliki tujuan dalam pelaksanaan kegiatannya. Agar kegiatan dapat berjalan saling dukung dan saling mengisi,


maka setiap pihak harus dapat berkoordinasi termasuk apasaja yang akan dilakukan, tujuan yang akan dicapai serta teknis-teknis pelaksanaannya. 3. Adanya Collaboration (kolaborasi yang setara-sharing sumber daya). Tidak dipungkiri bahwa setiap pihak yang menjalin kemitraan memiliki kelebihan dan keterbatasan masingmasing dalam hal sumber daya. Oleh karena itu, dalam melaksanakan atau membangun kemitraan sebisanya setiap pihak dapat saling mengisi sumber daya sehingga kegiatan dapat dilaksanakan seoptimal mungkin dan mencapai apa yang diharapkan. Kolaborasi dapat tercipta bila masing-masing pihak mengetahui sejauh mana kekuatan sumber daya dan terjadi koordinasi antar pihak terkait. Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan dalam kemitraan, maka totalitas dari kunci keberhasilan ini harus diperhatikan dan dilaksanakan secara menyeluruh. 4. Adanya Creation of Dynamic Team (menciptakan tim yang dinamis). Tim yang dinamis merupakan tim yang memiliki kinerja tinggi, dapat memanfaatkan segala energy secara optimal untuk menghasilkan sesuatu. Pada tim yang dinamis, para anggotanya menyadari kekuatan dan kelemahannya untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama. 5. Adanya Commitment (komitmen-kesepakatan bersama). Tidak hanya memiliki kemampuan dan kerjasama yang baik, komitmen juga dibutuhkan untuk terus melakukan kegiatan secara berkesinambungan. Terlebih untuk suatu kemitraan yang bertujuan untuk pembangunan kesehehatan jangka panjang, komitmen untuk terus melakukan sesuai tugas dan fungsinya sangant diperlukan. Tidak jarang ditemukan suatu kegiatan yang dibangun dengan konsep kemitraan hanya berjalan di awal namun seiring waktu akan pudar secara perlahan.


Langkah-Langkah Menggalang Kemitraan Kemitraan di bidang kesehatan tidak dapat datang dengan sendirinya. Kemitraan itu harus digalang agar kerjasama yang terbentuk tidak mengabaikan prinsip-prinsip kemitraan. Dengan demikian kemitraan dan kerjasama akan berlangsung secara efektif dan bertahan lama. Agar kemitraan dan kerjasama berlangsung secara efektif dan bertahan lama, upaya menggalang kemitraan harus dilaksanakan dengan langkah-langkah yang benar dan sistematis diatas landasan yang kuat (saling hubung, struktur keterbukaan kapasitas, imbalan kedekatan, dan sinergi). Adapun langkah-langkah menggalang kemitraan dibidang kesehatan meliputi (1) menyusun gagasan kemitraan, (2) mengidentifikasi calon mitra, (3) merumuskan tujuan kemitraan dan peran calon mitra, (4) menumbuhkan kesepakatan, (5)merumuskan rencana kerjasama, (6) melaksanakan kerjasama, dan (7) menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi. a. Menyusun Gagasan Kemitraan. Langkah pertama dalam menggalang kemitraan tentu saja adalah menyusun gagasan kemitraan, yaitu program kesehatan yang akan dimintakan kontribusi positifnya dari satu atau beberapa pihak lain. misalnya saja program Promosi Asi Eksklusif program imunisasi hepatitis, program pembinaan PHBS di institusi pendidikan, dan lain-lain. Tidak mungkin kemitraan dapat digalang dengan baik, jika gagasan kemitraan belum ada atau belum disusun dengan baik dan jelas. b. Mengidentifikasi Calon Mitra. Langkah ini bertujuan untuk mengenali dan menetapkan pihak-pihak yang sesuai diajak bermitra dalam rangka melaksanakan gagasan kemitraan. Dengan demikian keluaran dari langkah ini adalah daftar pihakpihak yang akan diajak bermitra. Langkah mengidentifikasi calon mitra dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu studi kepustakaan dan studi lapangan. 1. Studi Kepustakaan


Studi kepustakaan adalah kajian terhadap dokumen-dokumen tentang berbagai lembaga yang mungkin ada (di perpustakaan atau di sumber informasi lain), termasuk proyek-proyek kemitraan yang sedang atau pernah mereka lakukan. Dengan penelusuran melalui internet biasanya dapat diperoleh daftra sejumlah lembaga berikut informasi tentang selukbeluk (profil) lembaga tersebut. Namun demikian, kerapkali informasi yang dapat diperoleh dari studi kepustakan tidak memadai karena terbatas. Oleh karena itu, identifikasi calon mitra sebaliknya dilanjutkan dengan studi lapangan. 2. Studi Lapangan Dari studi kepustakaan biasanya dapat diperoleh alamat, nomer telepon, fax, email atau bentuk kontak lain dari calon mitra, melalui saran kotak selanjutnya dibuat perjanjian untuk melakukan wawancara dengan nara sumberdari calon mitra. Wawancara sebaiknya dilakukan secara terarah, yaitu menggunakan kuesioner sebagai pemandu. Untuk membuat kuesioner ini diacu butir-butir yang tercantum dalam kriteria calon mitra tersebut diatas. Wawancara dapat dilakukan dengan tatap muka (ini yang terbaik), atau cara-cara lain seperti melalui telepon, melalui surat, atau melalui email. c. Merumuskan Tujuan dan Peran. Setelah dirumuskan nya tujuan kemitraan dan peran yang diharapkan dari para mitra, gagasan kemitraan disempurnakan dengan menambahkan usul mengenai tujuan kemitraan dan peran-peran tersebut. d. Menyiapkan Diri. Agar dapat mengawali upaya advokasi untuk menggalang kemitraan, sebaiknya pihak yang berinisiatif melakukan konsolidasi dulu. Persiapan diri yang kurang matang tidak jarang dapat menimbulkan kegagalan upaya menggalang kemitraan.


e. Menumbuhkan Kesepakatan. Tujuan dari langkah ini adalah dapat diperolehnya kesepakatan dan ikatan antara pihak yang berinisiatif dengan pihak-pihak yang diajak bermitra. f. Merumuskan Rencana Kerjasama. Rencana kerjasama ini sangat penting karena merupakan acuan bagaimana mencapai tujuan-tujuan kerjasama. g. Melaksanakan Kerjasama. Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, kegiatankegiatan dilaksanakan. Kerap kali sebagai tanda dimulainya kegiatan-kegiatan proyek kemitraan dilakukan semacam peresmian atau pencanangan. Acara ini tidak sekedar bersifat seremonial, tetapi yang penting adalah sebagai pengingat kembali atas kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai dan peneguhan tekad untuk memulai kerjasama (kemitraan). h. Menyelenggarakan Pemantauan dan Evaluasi. Pemantauan dilakukan selama program kemitraan berlangsung untuk mengetahui dengan segera (1) kemajuankemajuan yang dicapai, (2) penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Sedangkan evluasi dilakukan secara cross sectional pada saat-saat tertentu setelah program kemitran berjalan beberapa waktu, termasuk setelah berakhirnya program kemitraan. Jika program kemitran direncanakan selama lima tahun, evaluasi dilaksanakan setelah tahun kelima selesai. Kerap kali juga dilakukan evaluasi tengah periode, yaitu misalnya pada saat program kemitraan sudah berjalan selama 2,5 tahun. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah program kemitraan (khususnya strateginya) masih efektif dilihat dari sisi perkembangan lingkungan strategis.


https://www.google.com/search?q=pengertian+kemitraan+kesehatan+adalah&sca_esv=13134d0 5f9161faa&sxsrf=ADLYWIJQzXs5YlpRZjMlbBlhx10o0SyEjw%3A1717006918560&ei=RnJX Zp3xIfyXnesPkpuN2AM&oq=pengertian+kemitraan+keseadalah&gs_lp=Egxnd3Mtd2l6LXNlc nAiH3BlbmdlcnRpYW4ga2VtaXRyYWFuIGtlc2VhZGFsYWgqAggAMggQIRigARjDBDIIEC EYoAEYwwRI1iNQqhFYoxdwAXgBkAEAmAFroAG_AqoBAzMuMbgBAcgBAPgBAZgCBa AC4QLCAgoQABiwAxjWBBhHwgIGEAAYDRgewgIIEAAYgAQYogTCAgoQIRigARjDBB gKmAMAiAYBkAYIkgcDNC4xoAfmDw&sclient=gws-wiz-serp https://slideplayer.info/slide/2009558/ https://www.kompasiana.com/amp/emelia37263/6177f6fddfa97e75e677e272/kemitraan-sebagaistrategi-promosi-kesehatan https://catatansehat.com/kemitraan-dalam-strategi-kesehatan-masyarakat/ https://www.scribd.com/doc/268832918/langkah-langkah-kemitraan-kesehatan https://www.mitrakesmas.com/2022/10/5-kunci-keberhasilan-dalam-kemitraan.html


“Menggalang Kemitraan di Bidang Kesehatan” Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Alasan pentingnya kemitraan di bidang Kesehatan : a) Pembangunan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama b) Kesehatan merupakan modal dasar bagi keberhasilan pembangunan sektor lain c) Peningkatan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat dalam bidang kesehatan, khususnya yang bersifat promotif dan preventif d) Adanya peluang sumber daya dari mitra potensial Landasan Menggalang Kemitraan Kemitraan dapat dijalankan dengan berlandaskan pada unsur : 1. Saling memahami kedudukan, tugas, fungsi & struktur masing-masing 2. Saling memahami kemampuan 3. Saling menghubungi 4. Saling mendekati 5. Saling bersedia membantu dan dibantu 6. Saling mendorong dan mendukung 7. Sinergi 8. Saling menghargai Menggalang Kemitraan Melalu Program CSR CSR (Corporate Social Responsibility) CSR menurut World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) merupakan suatu komitmen berkelanjutan dari dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi


kepada pengembangan ekonomi pada komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup karyawan beserta seluruh keluarganya. CSR bisa membantu perusahaan untuk melakukan tanggung jawab sosial kepada dirinya sendiri, pemangku kepentingan, dan juga ke publik. Dengan melakukan CSR, perusahaan dapat menyadari dampak yang mereka timbulkan pada masyarakat, termasuk di dalamnya ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketika perusahaan menjalankan CSR, maka perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya alih-alih memberikan dampak negatif terhadap mereka. Fungsi CSR Fungsi CSR bagi perusahaan adalah sebagai berikut: 1. Menjaga Citra Baik Perusahaan Tujuan perusahaan menjalankan CSR adalah untuk menjaga citra baik perusahaan di mata masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menunjukkan bahwa perusahaan adalah pihak yang bertanggung jawab. 2. Menyelesaikan Masalah Lingkungan Pelaksanaan program CSR juga bisa membantu mengatasi masalah lingkungan di sekitar perusahaan berada. Masalah yang muncul termasuk di dalamnya lingkungan, sosial, dan ekonomi. 3. Menjaga Hubungan Baik Dengan Stakeholder Program CSR yang dilakukan dengan baik dapat menciptakan hubungan baik dengan lingkungan sekitar perusahaan dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memberdayakan dan mengembangkan mereka. 4. Social License to Operate (Ijin Beroperas Masyarakat adalah faktor penting dalam berjalannya bisnis sebuah perusahaan. Dengan adanya program CSR, masyarakat mendapatkan banyak manfaat dari adanya keberadaan perusahaan di sekitar mereka. Alhasil, masyarakat pun ikut mendapatkan keuntungan. Dengan begitu, perusahaan dapat menjalankan kegiatan bisnisnya di lingkungan tersebut. 5. Kesempatan Untum Melebarkan Market


Perusahaan akan melakukan investasi dalam program CSR dan justru dapat meningkatkan kesempatan perusahaan untuk mendapatkan market yang lebih luas. 6. Meningkatkan Produktivitas Pekerja Apabila perusahaan memiliki reputasi yang baik dan berkontribusi besar kepada stakeholder, masyarakat, dan lingkungan, maka hal tersebut dapat menambah kebanggaan tersendiri bagi pekerja mereka yang akan berdampak pada peningkatan motivasi dan produktivitas pekerja. Contoh CSR yang Dilakukan Perusahaan Ada banyak contoh Corporate Social Responsibility yang dilakukan oleh perusahaan di berbagai sektor. Tentu, ini menjadi program keberlanjutan yang dari perusahaan di lingkungan sekitar atau bagi masyarakat. Berikut beberapa contoh yang perlu diketahui: 1. Program Pendidikan Perusahaan bisa turut berkontribusi dalam bidang pendidikan dengan cara menyediakan beasiswa kepada siswa yang berprestasi. Mereka juga bisa membantu membangun sekolah sebagai investor, hingga menyumbangkan berbagai peralatan pendidikan, misalnya alat tulis. 2. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Selain bidang pendidikan, dampak CSR bagi masyarakat adalah bisa membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Untuk melakukannya bisa dengan cara menyediakan pelatihan keterampilan, mendukung pengusaha lokal, hingga memberikan akses pasar bagi produsen kecil. 3. Penghijauan Hutan Program ini juga bisa membantu pemulihan atau menghijaukan sektor kehutanan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk yang bekerja sama dengan PT Inhutani V. Mereka berkomitmen untuk mengelola hasil hutan dengan lestari. Kemudian, rehabilitasi daerah aliran sungai dan reforestasi juga menjadi komitmen untuk mewujudkannya. 4. Pengurangan Jejak Karbon


Perusahaan juga bisa membantu mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca supaya dapat meningkatkan kualitas udara. Pengurangan tersebut bisa dengan upaya menerapkan teknologi hemat energi, beralih ke sumber energi terbarukan, hingga optimasi sektor logistik dan transportasi. 5. Pengolahan Limbah Salah satu perusahaan besar di Indonesia telah melaksanakan program Corporate Social Responsibility berupa pengolahan limbah, yakni dari BRI. Mengusung tema BRI Peduli Pengolahaan Sampah Terpadu, mereka membantu memberikan alat pendukung pengolahaan sampah. Mulai dari pencacah sampah organik dan organik, rumah pengolahan sampah, dan lain sebagainya. Identifikasi Perusahaan Mitra Pada tahap penggalangan kemitraan, hal penting yang harus dipahami yaitu mengenali karakter dan kultur perusahaan yang akan di prospek atau dijadikan mitra. Hal penting tersebut meliputi: 1. Bisnis utama (core business) perusahaan 2. Program sosial yang biasa dilakukan atau didukung oleh perusahaan tersebut (isu, skala, cakupan area, dan metode) 3. Jumlah dan bentuk dukungan yang biasa diberikan perusahaan terhadap program Sosialnya 4. Organisasi atau lembaga mana saja yang pernah diajak bermitra 5. Jadwal dan mekanisme pengajuan program, seleksi, dan pelaporan (akuntabilitas) yang biasa digunakan oleh perusahaan 6. Pihak yang dapat dihubungi (contact person), baik divisi, jabatan, maupun orang yang sedang bertugas 7. Alamat jelas, nomor telepon, nomer Hand Phone, email, Facebook, dari perusahaan dan orang yang bertugas di perusahaan tersebut. Aspek Penting dalam Menggalang Kemitraan dengan Perusahaan Dalam menggalang kemitraan dengan perusahaan ada beberapa aspek penting yang harus dipersiapkan, antara lain:


1. Penyiapan program atau kegiatan kemitraan 2. Menentukan kebutuhan dan anggaran program 3. Pembentukan tim kemitraan 4. Penyiapan tools dan sarana pendukung 5. Mendesain sistem penghargaan bagi perusahaan yang melakukan kegiatan CSR terbaik (dapat disesuaikan dengan tema). Dampak Positif CSR Terdapat beberapa dampak positif dari penerapan program CSR bagi perusahaan. Tentu, ini menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka. Berikut ini beberapa dampak positif atau manfaat CSR bagi perusahaan: 1. Hubungan Baik dengan Investor Bagi perusahaan yang ingin mengungguli pasar, maka dengan menjalankan strategi CSR cenderung berdampak positif pada investor tentang suatu organisasi dan bagaimana mereka menilai perusahaan. 2. Keterlibatan Pekerja Pekerja lebih memilih bertahan di perusahaan yang mereka yakini. Hal ini dapat mengurangi turnover pekerja, pekerja yang tidak puas, dan total biaya pekerja baru. 3. Memperluas Pasar Dampak CSR bagi perusahaan adalah bisa membantu perusahaan untuk memperluas pasar. Tentu, dapat meningkatkan loyalitas konsumen, sehingga jaringan pasar dan keuntungan pun juga meningkat. Dampak Negatif CSRR Meskipun Corporate Social Responsibility cenderung memberikan dampak positif bagi perusahaan, ada pula potensi dampak negatifnya. Berikut ini beberapa dampak negatif Corporate Social Responsibility bagi perusahaan: 1. Biaya Tambahan


Implementasi program ini memerlukan investasi tambahan dari perusahaan dalam hal waktu, tenaga kerja, dan sumber daya finansial. Biaya tambahan ini nanti bisa mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Maka dari itu, perlu mempersiapkan dengan baik perihal finansial perusahaan ketika melaksanakan program ini. 2. Greenwashing Beberapa perusahaan mungkin menerapkan program Corporate Social Responsibility sebagai alat untuk memperbaiki citra atau reputasinya, tanpa melakukan perubahan substansial dalam operasi mereka. Praktik ini biasa diartikan sebagai greenwashing dan bisa menyebabkan keraguan serta ketidakpercayaan dari masyarakat. 3. Ketergantungan Masyarakat Terkadang, program ini bisa menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan atau sumbangan perusahaan. Kondisi tersebut bisa menghambat pembangunan mandiri dan memecahkan masalah struktural yang mendasari. https://promkes.kemkes.go.id/pub/files/files68278Final%20BUKU%20KEMITRAAN%202019. pdf https://www.google.com/url?q=https://solarindustri.com/blog/apa-itucsr/&usg=AOvVaw3NY8lAJXcFNcPj6GYgM8nI&hl=in_ID


KONSEP DASAR MEMBANGUN JEJARING MITRA KESEHATAN Membangun jejaring mitra yang kuat dan kolaboratif merupakan elemen penting dalam mencapai tujuan kesehatan masyarakat. Jejaring ini dapat membantu meningkatkan akses layanan kesehatan, memperluas jangkauan program kesehatan, dan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Pengertian Jejaring Mitra Kesehatan Berikut beberapa pengertian jejaring mitra kesehatan menurut para ahli: a) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jejaring mitra kesehatan adalah sekumpulan organisasi dan/atau individu yang secara sukarela bekerja sama untuk mencapai tujuan kesehatan yang sama. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023) b) Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jejaring mitra kesehatan adalah suatu sistem yang menghubungkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam bidang kesehatan untuk saling berbagi informasi, sumber daya, dan dukungan dalam rangka mencapai tujuan bersama. (Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022) c) Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Jejaring mitra kesehatan adalah suatu bentuk kolaborasi antar organisasi dan/atau individu yang memiliki tujuan bersama dalam bidang kesehatan, di mana setiap pihak saling berkontribusi dan memperoleh manfaat dari kerjasama tersebut. (Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2021) d) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Jejaring mitra kesehatan adalah suatu mekanisme yang menghubungkan berbagai aktor dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan untuk memperkuat kerjasama dan koordinasi dalam rangka mencapai tujuan kesehatan global. (WHO, 2020)


Manfaat Membangun Jejaring Mitra di Bidang Kesehatan Membangun jejaring mitra kesehatan memiliki banyak manfaat, baik bagi individu maupun organisasi. Berikut beberapa manfaatnya: a) Meningkatkan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan: • Memperluas jangkauan layanan kesehatan ke komunitas yang terpencil atau kurang terlayani. Contoh: Sebuah rumah sakit di kota besar dapat bermitra dengan klinik di daerah pedesaan untuk menyediakan layanan kesehatan dasar kepada masyarakat setempat. • Meningkatkan koordinasi dan kolaborasi antar penyedia layanan kesehatan, sehingga pasien dapat menerima perawatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi. Contoh: Seorang dokter umum dapat merujuk pasiennya ke spesialis di rumah sakit lain untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut. • Memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan keahlian antar profesional kesehatan, sehingga meningkatkan kualitas layanan yang diberikan. Contoh: Tenaga medis dari berbagai institusi dapat berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam menangani penyakit tertentu. b) Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas: • Berbagi sumber daya, seperti staf, peralatan, dan teknologi, untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi. Contoh: Beberapa rumah sakit dapat berbagi sistem rekam medis elektronik untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi. • Mengembangkan program dan layanan kesehatan yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Contoh: Sebuah organisasi nirlaba dapat bermitra dengan pemerintah untuk mengembangkan program skrining kanker yang lebih efektif. • Meningkatkan advokasi dan pengaruh untuk kebijakan kesehatan yang lebih baik. Contoh: Asosiasi profesional kesehatan dapat bekerja sama untuk melobi pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk penelitian kesehatan. c) Meningkatkan Kesehatan Masyarakat:


• Mempromosikan pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat. Contoh: Sebuah organisasi kesehatan masyarakat dapat bermitra dengan sekolah untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada anak-anak. • Meningkatkan akses ke layanan kesehatan preventif dan skrining. Contoh: Sebuah klinik swasta dapat menawarkan pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat di lingkungan sekitar. • Mendukung manajemen penyakit kronis dan rehabilitasi. Contoh: Rumah sakit dapat bermitra dengan panti asuhan untuk menyediakan layanan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas. Prinsip-Prinsip Membangun Jejaring Mitra Kesehatan yang Efektif Membangun jejaring mitra kesehatan yang efektif adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Berikut adalah beberapa prinsip penting yang perlu dipertimbangkan: a) Menetapkan Tujuan yang Jelas dan Terukur: • Apa yang ingin Anda capai dengan membangun jejaring mitra? • Bagaimana Anda akan mengukur keberhasilan? • Pastikan tujuan Anda SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, and Timebound). b) Mengidentifikasi Mitra yang Tepat: • Siapa yang dapat membantu Anda mencapai tujuan Anda? • Apa saja kekuatan dan kelemahan masing-masing mitra? • Bagaimana Anda dapat saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain? c) Membangun Hubungan yang Saling Percaya dan Menghormati: • Luangkan waktu untuk mengenal mitra Anda dan membangun hubungan yang kuat. • Berkomunikasi secara terbuka dan jujur. • Saling menghormati perbedaan dan perspektif.


d) Mengembangkan Komunikasi yang Efektif: • Tetapkan saluran komunikasi yang jelas dan konsisten. • Berkomunikasi secara teratur dan tepat waktu. • Gunakan berbagai metode komunikasi, seperti tatap muka, email, dan telepon. e) Bekerja Sama untuk Mencapai Tujuan Bersama: • Tetapkan tujuan bersama yang jelas dan terukur. • Bekerjasama untuk mengembangkan dan melaksanakan rencana kerja. • Saling mendukung dan membantu satu sama lain untuk mencapai tujuan. f) Mengevaluasi dan Menyempurnakan Kemitraan Secara Berkala: • Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengukur kemajuan dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. • Berikan umpan balik yang konstruktif kepada mitra Anda. • Beradaptasi dan ubah strategi Anda sesuai kebutuhan. Peran dan Tanggung Jawab Lengkap dalam Jejaring Mitra Kesehatan Membangun jejaring mitra kesehatan yang efektif adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Jejaring mitra ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari individu hingga organisasi, yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Peran dan tanggung jawab dalam jejaring mitra kesehatan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: 1) Peran dan Tanggung Jawab Individu: a. Anggota Tim: • Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemitraan sesuai dengan keahlian dan pengalaman mereka. • Mendukung pencapaian tujuan bersama dengan memberikan kontribusi yang maksimal.


• Berkomunikasi secara terbuka dan hormat dengan mitra lain untuk membangun hubungan yang positif dan kolaboratif. b. Pemimpin Tim: • Memimpin dan mengarahkan tim dalam mencapai tujuan kemitraan. • Membangun dan memelihara hubungan dengan mitra lain untuk memperkuat kerjasama. • Mengelola sumber daya dan memastikan akuntabilitas dalam penggunaan sumber daya tersebut. c. Fasilitator: • Memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi antar mitra untuk memastikan kelancaran proses kerjasama. • Membantu menyelesaikan konflik dan membangun konsensus untuk mencapai solusi yang win-win. • Mendukung pembelajaran dan pengembangan mitra dengan memberikan pelatihan dan bimbingan. 2) Peran dan Tanggung Jawab Organisasi a. Organisasi Pemimpin: • Menetapkan visi dan misi untuk jejaring mitra yang jelas dan terukur. • Menyediakan sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk kegiatan kemitraan. • Mengkoordinasikan dan memantau kemajuan kemitraan untuk memastikan ketercapaian tujuan. b. Organisasi Mitra: • Berkontribusi pada pengembangan tujuan dan strategi kemitraan dengan memberikan masukan dan ide. • Berbagi sumber daya dan keahlian dengan mitra lain untuk saling memperkuat kapasitas.


• Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemitraan dengan penuh tanggung jawab dan komitmen. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pembentukan dan Pengelolaan Jejaring Mitra Kesehatan. (https://kemkes.go.id/) Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pengembangan Jejaring Mitra Kesehatan untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Kesehatan. (https://www.neliti.com/balitbangkes) Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia. (2021). Peran Jejaring Mitra Kesehatan dalam Meningkatkan Akses Layanan Kesehatan Ibu dan Anak. (https://scholarhub.ui.ac.id/) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (2020). Guidance on Building and Sustaining Health Partnerships.(https://www.who.int/) Membangun Kemitraan Kesehatan - Poltekkes Kemenkes Bengkulu Repository: http://repository.poltekkesbengkulu.ac.id/2686/ Membangun Kemitraan yang Efektif - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: https://ayosehat.kemkes.go.id/kemitraan Buku Membangun Kemitraan Darwis.pdf: https://id.scribd.com/document/387064997/ManfaatJejaring-Dan-Cara-Membangunnya Kemitraan Dalam Kesehatan Bangsa indonesia merupakan negara yang sedang berkembang yang mempunyai banyak permasalahan yang membutuh penyelesaian yang melibatkan semua komponen masyarakat, salah


satu penyebab yang menyebabkan lambatnya berbagai permasalahan adalah masih sangat rendahnya pendidikan masyarakat terhadap permasalahan yang terjadi disekitar mereka, sebagai suatu perbandingan permasalah penyakit malaria sudah dilakukan pencegahan. Masalah kesehatan adalah tanggung jawab bersama setiap individu,masyarakat,pemerintah dan swasta.Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan memang merupakan sektor yang paling depan dalam bertanggung jawab(leading sector) ,namun dalam mengimplementasikan kebijakan dan program ,intervensi harus bersama-sama dengan sektor lain ,baik pemerintah maupun swasta.Dengan kata lain sektor kesehatan seyogyanya merupakan pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau kemitraan (partnership) dengan sektor-sektor terkait. (Notoadjmojo,2003) Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Sedangkan menurut Depkes (2006) dalam promosi kesehatan Online mengemukana bahwa Kemitraan adalah hubungan (kerjsama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat). Adapun unsur-unsur kemitraan adalah : 1. Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih 2. Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut 3. Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut 4. Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Menurut Ansarul Fahruda, dkk (2005), untuk membangun sebuah kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut : 1. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan, 2. Saling mempercayai dan saling menghormati 3. Tujuan yang jelas dan terukur 4. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.


Adapun prinsip-prinsip kemitraan adalah: 1. Persamaan atau equality, 2. Keterrbukaan atau transparancy dan 3. Saling menguntungkan atau mutual benefit. Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri 3 tahap yaitu tahap pertama adalah kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri, tahap kedua kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah dan yang tahap ketiga adalah membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor. lintas bidang dan lintas organisasi yang mencakup : 1. Unsur pemerintah, 2. Unsur swasta atau dunia usaha, 3. Unsur lsm dan organisasi masa 4. Unsur organisasi profesi. Hal ini sejalan seperti di kemukakan oleh WHO (2000) untuk membangun kemitraan kesehatan perlu diidentifikasi lima prinsip kemitraan yaitu 1. Policy-makers (pengambil kebijakan) 2. Health managers 3. Health professionals 4. Academic institutions 5. Communities institutions Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi semua pihak.


Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan masalah lain, seperti masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan, dll. Karenanya masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut, khususnya kalangan swasta. Dengan peduli pada masalah kesehatan tersebut, berbagai pihak khususnya pihak swasta diharapkan juga memperoleh manfaat, karena kesehatan meningkatan kualitas SDM dan meningkatkan produktivitas. Pentingnya kemitraan (partnership) ini mulai digencarkan oleh WHO pada konfrensi internasional promosi kesehatan yang keempat di Jakarta pada tahun 1997. Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjsama yang saling memberikan manfaat. Hubungan kerjasama tersebut akan lebih efektif dan efisien apabila juga didasari dengan kesetaraan. Tujuan Kemitraan dan Hasil yang Diharapkan Tujuan umum :Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya. Tujuan khusus : 1. Meningkatkan saling pengertian 2. Meningkatkan saling percaya 3. Meningkatkan saling memerlukan 4. Meningkatkan rasa kedekatan 5. Membuka peluang untuk saling membantu 6. Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan 7. Meningkatkan rasa saling menghargai


Hasil yang diharapkan : Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan. Perilaku Kemitraan : Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain-lain, khususnya swasta. Prinsip, Landasan dan Langkah Dalam Pengembangan Kemitraan 3 prinsip, yaitu : kesetaraan, dalam arti tidak ada atas bawah (hubungan vertikal), tetapi sama tingkatnya (horizontal); keterbukaan dan saling menguntungkan. 7 saling, yaitu : saling memahami kedudukan, tugas dan fungsi (kaitan dengan struktur); saling memahami kemampuan masing-masing (kapasitas unit/organisasi); saling menghubungi secara proaktif (linkage); saling mendekati, bukan hanya secara fisik tetapi juga pikiran dan perasaan (empati, proximity); saling terbuka, dalam arti kesediaan untuk dibantu dan membantu (opennes); saling mendorong/mendukung kegiatan (synergy); dan saling menghargai kenyataan masingmasing (reward). 6 langkah : penjajagan/persiapan, penyamaan persepsi, pengaturan peran, komunikasi intensif, melakukan kegiatan, dan melakukan pemantauan & penilaian. Peran Dinas Kesehatan dalam Pengembangan Kemitraan di Bidang Kesehatan Beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat adalah : 1. Initiator : memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan operasionalisasi Indonesia Sehat. 2. Motor/dinamisator : sebagai penggerak kemitraan, melalui pertemuan, kegiatan bersama, dll.


3. Fasilitator : memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan kemitraan dapat berjalan lancar. 4. Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif. 5. Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif. 6. Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program kesehatan). 7. Dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada. Indikator Keberhasilan 1. Indikator input : Jumlah mitra yang menjadi anggota. 2. Indikator proses :Kontribusi mitra dalam jaringan kemitraan, jumlah pertemuan yang diselenggarakan, jumlah dan jenis kegiatan bersama yang dilakukan, keberlangsungan kemitraan yang dijalankan. 3. Indikator output : Jumlah produk yang dihasilkan, percepatan upaya yang dilakukan, efektivitas dan efisiensi upaya yang diselenggarakan. Contoh Kemitraan Dalam Kesehatan Paguyuban Penderita Tuberkulosis Kec. Sumberjambe Salah satu pendekatan kemitraan yang berbasis komunitas dalam program penanggulangan tuberkulosis telah dilaksanakan di Propinsi Jawa Timur yaitu dengan adanya peran serta masyarakat melalui Paguyuban Penderita Tubekulosis Kec. Sumberjamber. Kecamatan Sumberjambe adalah salah satu kecamatan di Kab. Jember dan terletak di sebelah utara Kota Jember dengan jarak tempuh + 35 km yang berada di dataran tinggi di kaki Gunung Raung. Jumlah penduduknya sekitar 53.806 jiwa, dengan sebagian bekerja sebagai petani maupun buruh perkebunan. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan, penduduk lebih banyak berobat ke


Puskesmas Sumberjambe. Penyakit menular yang sering ditemukan adalah diantaranya penyakit Campak dan tuberkulosis (TB) Untuk pelayanan pengobatan tuberkulosis, Puskesmas Sumberjambe secara khusus mengumpulkan hari pemberian obat anti tuberkulosisi (OAT) pada hari yang sama sehingga sesama penderita sering bertemu dan saling tukar menukar informasi terutama tentang penyakit yang diderita dan pengalaman berobatnya. Adanya pemahaman bahwa penyakit tuberkulosis yang dideritanya merupakan penyakit menular sehingga dapat menularkan kepada orang lain dan dulunya dirinya sendiri secara tidak sengaja tertulari. Selain itu adanya rasa senasib diantara sesama penderita TB yang berobat secara teratur di Puskesmas Sumberjambe Kec. Sumberjambe Kab. Jember. Setelah dinyatakan sembuh, para mantan penderita ini merasa ikut bertanggung jawab karena sebagai sumber penularan sehingga ikut membantu mencari penderita yang dicurigai tertular TB dan ikut membantu sebagai pengawas minum obat. Tujuan pembentukan paguyuban Tujuan dari paguyuban penderita tubekulosis ini adalah membantu menurunan angka kesakitan TB sehingga TB tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kec. Sumber-jambe Kab. Jember. Adapun tujuan secara khusus yaitu : Sebagai wadah komunikasi diantara mantan penderita maupun penderita TB untuk tetap berobat sampai sembuh Secara perorangan membantu penemuan suspek penderita TB Secara perorangan membantu sebagai pengawas minum obat. Sebagai langkah awal wadah pengembangan usaha untuk peningkatan penghasilan dari penderita atau mantan penderita TB yang berasal dari tingkat sosial ekonomi rendah. Kegiatan dan peran dalam program penanggulangan tuberkulosis Kegiatan utama dari paguyuban ini adalah:


• Pertemuan rutin 3 bulanan • Penemuan suspek di masyarakat dan • Sebagai pengawas minum obat Setelah melalui pertemuan telah diadakan pemilihan yang secara sepakat dipilih Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan wakil sekretaris. Jumlah seluruhnya pengurus dan anggota yang terdaftar sebanyak 80 orang dimana semuanya adalah penderita yang masih berobat dan yang sudah sembuh setelah menjalani pengobatan tuberkuloisis. Pengurus dan anggota paguyuban relatif berasal dari tingkat sosial ekonomi rendah. Pada awalnya dana kegiatan pertemuan dibantu sepenuhnya oleh Puskesmas Sumbejambe yang berasal dari dana PKS BBM. Bila selanjutnya tidak ada dana PKS BBM ini, maka akan mempengaruhi pelaksanaan program dari paguyuban ini terutama dalam membantu program penanggulangan tuberkulosis khususnya di Kec. Sumbejambe. Dengan demikian perlu disarankan untuk mencari donator lain atau dana operasional ke Dinas terkait sampai paguyuban ini bisa secara mandiri dapat memenuhi kebutuhan dana operasionalnya. Sebagai upaya untuk mandiri tersebut, masing-masing anggota dapat berkontribusi dana secara sukarela sesuai kesepakatan Sebelum secara resmi terwadahi dalam paguyuban ini yaitu mulai tahun 2004, para anggota sudah banyak membantu pelaksanaan program penang-gulangan Tuberkuloisis. Peran aktifnya terutama dalam sosialisasi program, pengawasan pengobatan dan penemuan suspek. Pada gambar 1 terlihat adanya peningkatan penemuan yang berarti serta turunnya penderita yang drop out. Pada tahun 2005 ini dilaporkan bahwa suatu ketika paguyuban ini pernah membawa 5 (lima) orang yang dicurigai sebagai penderita TB ke Puskesmas Sumbejambe dan setelah dilakukan pemeriksaan, ke lima orang tersebut penderita TB BTA positif. Adanya paguyuban ini telah membantu UPK (Unit Pelaksana Teknis) Puskesmas Sumberjambe dalam program penanggulangan Tuberkulosis, dimana pencapaian program sangat baik. Penemuan penderita baru TB BTA (+) pada tahun 2004 telah mencapai 80% dan angka kesembuhan pada tahun 2003 > 85%. Hasil ini jauh lebih baik dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2003 dimana penemuan penderita baru TB BTA positif hanya mencapai 28%.


Pencapaian yang telah baik ini, jika dipertahankan selama 5 tahun berturut-turut akan memberikan dampak pada penurunan angka kesakitan TB di Kec. Sumberjambe pada khususnya. Model kemitraan berbasis masyarakat atau paguyuban penderita penyakit tuberkulosis ini perlu dikembangkan ke daerah lainnya terutama daerah dengan resiko tinggi penularan, dengan mempertimbangkan budaya, tingkat sosial yang ada tentunya. Untuk melanggengkan keberadaan paguyuban ini perlu dijaga komitmen yang tinggi dari para anggota yaitu kesepakatan melaksanakan kegiatan utama untuk terus membantu penemuan penderita suspek TB dan sebagai pengawas minum obat. Selanjutnya dibuat kesepakatan usaha peningkatan penghasilan pengurus dan anggota melalui usaha kecil dan menengah (UKM) disamping mengajak pihak swasta atau donator yang tidak terikat. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI, 2006, Kemitraan Dan Peran Serta, promosi kesehatan online, mailto: webmaster@ promokes.qo.id. Fahrudda, Ansarul,dkk, 2005, Paguyuban Penderita TB Paru Kec. Sumberjambe Kab. Jember (Suatu Model Peningkatan Penemuan Penderita TB dan Pengawas Minum Obat Berbasis Masyarakat), Laporan supervise PTO-East Java, Surabaya. Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta. WHO, 2000, Chalenges And Opportunities For Partnership In Health Development, Geneva TANTANGAN DAN SOLUSI DALAM MEMBANGUN JEJARING KEMITRAAN DALAM KESEHATAN Membangun jejaring mitra kesehatan yang kuat dan efektif merupakan kunci untuk mencapai berbagai tujuan strategis dalam bidang kesehatan. Jejaring mitra dapat membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat, mendorong inovasi dan efisiensi dalam sistem kesehatan, serta memperluas jangkauan program dan kegiatan kesehatan.


Namun, proses membangun jejaring mitra tidak selalu mudah dan tanpa hambatan. Berikut adalah beberapa tantangan umum yang dihadapi: 1. Tantangan Komunikasi dan Kolaborasi dalam Strategi Membangun Mitra Kesehatan Membangun jejaring mitra kesehatan yang kuat dan efektif merupakan kunci untuk mencapai berbagai tujuan strategis dalam bidang kesehatan. Mitra potensial dapat membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat, mendorong inovasi dan efisiensi dalam sistem kesehatan, serta memperluas jangkauan program dan kegiatan kesehatan. Namun, proses membangun jejaring mitra tidak selalu mudah dan tanpa hambatan. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah komunikasi dan kolaborasi. Berikut adalah beberapa tantangan umum dalam komunikasi dan kolaborasi dalam strategi membangun mitra kesehatan: A. Perbedaan Budaya dan Bahasa: • Mitra dari berbagai organisasi dan budaya mungkin memiliki gaya komunikasi, norma, dan nilai yang berbeda. • Perbedaan bahasa dapat menjadi hambatan dalam komunikasi dan kolaborasi. • Kurangnya pemahaman terhadap budaya dan bahasa mitra dapat menyebabkan kesalahpahaman dan konflik. B. Kurangnya Kejelasan Peran dan Tanggung Jawab: • Kurangnya kejelasan dalam peran dan tanggung jawab masing-masing mitra dapat menyebabkan kebingungan dan frustrasi. • Kurangnya koordinasi dan akuntabilitas dapat menghambat efektivitas kemitraan. • Ketidakjelasan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan dapat menyebabkan tumpang tindih dan inefisiensi. • Kurangnya Komunikasi yang Terbuka dan Efektif: • Kurangnya komunikasi yang terbuka dan transparan dapat menyebabkan kecurigaan dan ketidakpercayaan. • Kurangnya komunikasi yang efektif dapat menghambat pertukaran informasi dan ide. • Kurangnya umpan balik dan evaluasi dapat menyebabkan stagnasi dan kurangnya kemajuan. C. Kurangnya Kepercayaan dan Rasa Saling Menghormati: • Kepercayaan dan rasa saling menghormati merupakan dasar untuk kolaborasi yang sukses.


• Kurangnya kepercayaan dapat menyebabkan keengganan untuk berbagi informasi dan berkolaborasi. • Kurangnya rasa saling menghormati dapat menyebabkan konflik dan perselisihan. D. Kurangnya Sumber Daya dan Dukungan: • Keterbatasan sumber daya, seperti waktu, staf, dan dana, dapat menghambat komunikasi dan kolaborasi yang efektif. • Kurangnya dukungan dari manajemen dapat menyebabkan kurangnya komitmen dan motivasi mitra. • Kurangnya pelatihan dan pengembangan kapasitas dapat menyebabkan kurangnya keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang efektif. 2. Tantangan Koordinasi dan Manajemen Membangun Jejaring Mitra Kesehatan. Namun, proses membangun dan memelihara jejaring mitra kesehatan yang sukses membutuhkan koordinasi dan manajemen yang efektif. Berikut adalah beberapa tantangan umum yang dihadapi dalam koordinasi dan manajemen membangun jejaring mitra kesehatan: 1. Kompleksitas dan Keragaman Mitra: • Jejaring mitra kesehatan sering kali terdiri dari berbagai organisasi dengan budaya, struktur, dan tujuan yang berbeda. • Hal ini dapat mempersulit koordinasi dan pengambilan keputusan yang efektif. • Kurangnya kesamaan visi dan misi antar mitra dapat menyebabkan konflik dan ketidakefisienan. 2. Perbedaan Prioritas dan Kebutuhan: • Mitra dalam jejaring kesehatan mungkin memiliki prioritas dan kebutuhan yang berbeda. • Hal ini dapat menyebabkan persaingan untuk sumber daya dan pendanaan. • Kurangnya keselarasan prioritas dapat menghambat pencapaian tujuan bersama. 3. Kurangnya Komunikasi dan Kolaborasi: • Kurangnya komunikasi yang terbuka dan transparan antar mitra dapat menyebabkan kesalahpahaman dan frustrasi. • Kurangnya kolaborasi dan kerja sama tim dapat menghambat kemajuan dan pencapaian tujuan.


• Kurangnya koordinasi dalam kegiatan dan program dapat menyebabkan duplikasi dan pemborosan sumber daya. 4. Kurangnya Kemampuan dan Kapasitas: • Mitra dalam jejaring kesehatan mungkin memiliki tingkat kemampuan dan kapasitas yang berbeda. • Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam pembagian tugas dan tanggung jawab. • Kurangnya pelatihan dan pengembangan kapasitas dapat menghambat efektivitas mitra dalam kemitraan. 5. Kurangnya Akuntabilitas dan Transparansi: • Kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya dan program dapat menyebabkan penyalahgunaan dan korupsi. • Kurangnya pemantauan dan evaluasi dapat menghambat identifikasi dan penyelesaian masalah. • Kurangnya sistem pelaporan dan akuntabilitas yang jelas dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan antar mitra. 3. Tantangan Sumber Daya dalam Membangun Jejaring Mitra Kesehatan Namun, proses membangun dan memelihara jejaring mitra kesehatan yang sukses membutuhkan sumber daya yang memadai, seperti waktu, staf, dan dana. Berikut adalah beberapa tantangan umum yang dihadapi dalam hal sumber daya dalam membangun jejaring mitra kesehatan: 1. Keterbatasan Waktu: • Staf organisasi yang terlibat dalam membangun dan mengelola jejaring mitra sering kali memiliki banyak tugas dan tanggung jawab lain. • Hal ini dapat menyebabkan kurangnya waktu untuk fokus pada pengembangan dan pemeliharaan hubungan mitra. • Kurangnya waktu untuk komunikasi dan kolaborasi antar mitra dapat menghambat kemajuan dan pencapaian tujuan. 2. Keterbatasan Staf:


• Organisasi mungkin tidak memiliki staf yang cukup dengan keterampilan dan pengalaman yang diperlukan untuk membangun dan mengelola jejaring mitra yang efektif. • Kurangnya keahlian dalam manajemen kemitraan, komunikasi, dan koordinasi dapat menyebabkan inefisiensi dan ketidakefektifan. • Kurangnya staf yang berdedikasi untuk kemitraan dapat menyebabkan kurangnya fokus dan perhatian terhadap hubungan mitra. 3. Keterbatasan Dana: • Membangun dan memelihara jejaring mitra kesehatan membutuhkan pendanaan untuk berbagai kegiatan, seperti perjalanan, pelatihan, dan acara. • Keterbatasan dana dapat membatasi kemampuan organisasi untuk menjangkau mitra potensial, membangun hubungan, dan melaksanakan kegiatan kolaboratif. • Kurangnya pendanaan yang stabil dapat menyebabkan ketidakpastian dan kesulitan dalam perencanaan jangka panjang. 4. Ketidakpastian Pendanaan: • Pendanaan untuk kemitraan kesehatan sering kali berasal dari berbagai sumber, seperti hibah, sumbangan, dan anggaran pemerintah. • Ketidakpastian pendanaan dapat membuat perencanaan dan pelaksanaan program kemitraan menjadi sulit. • Perubahan dalam pendanaan dapat menyebabkan terhentinya program atau kegiatan kemitraan. 5. Persaingan untuk Sumber Daya: • Ada banyak organisasi yang bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang sama, seperti dana, staf, dan mitra. • Hal ini dapat mempersulit organisasi untuk mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan untuk membangun dan memelihara jejaring mitra kesehatan yang efektif. • Persaingan dapat menyebabkan ketegangan dan konflik antar organisasi. 6. Solusi untuk Mengatasi Tantangan Sumber Daya: ➢ Memaksimalkan Sumber Daya yang Ada: • Gunakan staf dan sumber daya yang ada secara efisien dan efektif. • Libatkan relawan dan mitra dalam kegiatan kemitraan.


• Cari peluang untuk berkolaborasi dengan organisasi lain untuk berbagi sumber daya. ➢ Mencari Pendanaan Alternatif: • Jelajahi berbagai sumber pendanaan, seperti hibah, sumbangan, dan crowdfunding. • Kembangkan strategi penggalangan dana yang efektif. • Tunjukkan dampak positif dari jejaring mitra kesehatan terhadap organisasi dan komunitas. ➢ Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas: • Gunakan teknologi untuk mengotomatiskan tugas dan meningkatkan efisiensi. • Kembangkan proses dan prosedur yang jelas untuk manajemen kemitraan. • Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi area yang dapat ditingkatkan. ➢ Membangun Kemitraan Strategis: • Bangun kemitraan dengan organisasi yang memiliki sumber daya dan keahlian yang saling melengkapi. • Berkolaborasi dengan organisasi lain untuk mencapai tujuan bersama. • Bagikan sumber daya dan keahlian dengan mitra lain. ➢ Meningkatkan Komunikasi dan Advokasi: • Tingkatkan kesadaran tentang pentingnya jejaring mitra kesehatan bagi organisasi dan komunitas. • Advokasi untuk pendanaan yang lebih besar untuk program kemitraan kesehatan. • Bangun hubungan yang kuat dengan pembuat kebijakan dan pemimpin komunitas. Solusi untuk Mengatasi Tantangan: 1. Mengembangkan Strategi Kemitraan yang Jelas: • Kembangkan strategi kemitraan yang jelas dengan tujuan, target, dan rencana aksi yang terdefinisi dengan baik. • Pastikan visi misi dan nilai-nilai mitra selaras dengan strategi kemitraan. • Libatkan semua mitra dalam pengembangan dan pelaksanaan strategi kemitraan. 2. Membangun Komunikasi dan Kolaborasi yang Efektif: • Jaga komunikasi yang terbuka, transparan, dan konsisten antar mitra. • Gunakan berbagai saluran komunikasi untuk menjangkau semua mitra. • Adakan pertemuan dan lokakarya secara berkala untuk membahas kemajuan, tantangan, dan peluang.


• Dorong kolaborasi dan kerja sama tim antar mitra. 3. Meningkatkan Koordinasi dan Manajemen: • Tetapkan struktur tata kelola yang jelas untuk kemitraan, dengan peran dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. • Kembangkan rencana kerja yang jelas dengan timeline dan milestone. • Gunakan alat dan teknologi untuk melacak kemajuan dan akuntabilitas. • Lakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. 4. Membangun Kapasitas dan Akuntabilitas: • Sediakan pelatihan dan pengembangan kapasitas untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mitra. • Kembangkan sistem akuntabilitas dan transparansi yang jelas dalam pengelolaan sumber daya dan program. • Lakukan audit dan evaluasi secara berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan standar. • Terapkan sistem pelaporan dan akuntabilitas yang jelas untuk meningkatkan kepercayaan antar mitra 4.Tantangan Budaya dan Politik dalam Membangun Jejaring Mitra Kesehatan Namun, proses membangun dan memelihara jejaring mitra kesehatan yang sukses tidak hanya membutuhkan koordinasi dan manajemen yang efektif, tetapi juga perlu mempertimbangkan faktor budaya dan politik. Berikut adalah beberapa tantangan umum yang dihadapi dalam membangun jejaring mitra kesehatan terkait budaya dan politik: 1. Perbedaan Budaya: • Mitra dalam jejaring kesehatan mungkin berasal dari berbagai budaya dengan nilai, norma, dan tradisi yang berbeda. • Perbedaan budaya dapat menyebabkan kesalahpahaman, komunikasi yang tidak efektif, dan konflik. • Kurangnya sensitivitas budaya dapat menghambat kolaborasi dan kerja sama tim. 2. Perbedaan Politik: • Mitra dalam jejaring kesehatan mungkin memiliki afiliasi politik yang berbeda.


• Perbedaan politik dapat menyebabkan ketegangan dan konflik dalam kemitraan. • Intervensi politik dapat menghambat kemajuan dan pencapaian tujuan kemitraan. 3. Kurangnya Kepercayaan dan Rasa Saling Menghormati: • Kepercayaan dan rasa saling menghormati merupakan dasar untuk kolaborasi yang sukses. • Kurangnya kepercayaan antar mitra dapat menyebabkan keengganan untuk berbagi informasi dan berkolaborasi. • Kurangnya rasa saling menghormati dapat menyebabkan perselisihan dan konflik. 4. Ketidakseimbangan Kekuatan: • Mitra dalam jejaring kesehatan mungkin memiliki tingkat kekuatan dan pengaruh yang berbeda. • Ketidakseimbangan kekuatan dapat menyebabkan dominasi oleh mitra yang lebih kuat dan marginalisasi mitra yang lebih lemah. • Mitra yang lebih lemah mungkin merasa tidak memiliki suara atau kontrol dalam kemitraan. 5. Kurangnya Akuntabilitas dan Transparansi: • Kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya dan program dapat menyebabkan penyalahgunaan dan korupsi. • Kurangnya pemantauan dan evaluasi dapat menghambat identifikasi dan penyelesaian masalah. • Kurangnya sistem pelaporan dan akuntabilitas yang jelas dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan antar mitra. Solusi untuk Mengatasi Tantangan Budaya dan Politik: 1. Meningkatkan Pemahaman Budaya: • Sediakan pelatihan dan pengembangan kapasitas untuk meningkatkan pemahaman tentang budaya yang berbeda. • Dorong dialog dan pertukaran budaya antar mitra. • Ciptakan lingkungan yang inklusif dan menghargai keragaman budaya. 2. Membangun Kepercayaan dan Rasa Saling Menghormati: • Luangkan waktu untuk mengenal mitra Anda dan membangun hubungan yang kuat. • Berkomunikasi secara terbuka, transparan, dan jujur dengan mitra Anda.


• Hargai perbedaan budaya dan politik mitra Anda. 3. Mempromosikan Keadilan dan Kesetaraan: • Ciptakan struktur tata kelola yang adil dan transparan untuk kemitraan. • Pastikan semua mitra memiliki suara dan kesempatan yang sama dalam pengambilan keputusan. • Gunakan pendekatan yang inklusif dan partisipatif dalam pengembangan dan pelaksanaan program. 4. Meningkatkan Akuntabilitas dan Transparansi: • Kembangkan sistem akuntabilitas dan transparansi yang jelas dalam pengelolaan sumber daya dan program. • Lakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. • Terapkan sistem pelaporan dan akuntabilitas yang jelas untuk meningkatkan kepercayaan antar mitra. 5. Melibatkan Pemangku Kepentingan Politik: • Libatkan pemangku kepentingan politik dalam proses pengembangan dan pelaksanaan kemitraan. • Bangun hubungan yang kuat dengan pembuat kebijakan dan pemimpin politik. • Advokasi untuk kebijakan dan peraturan yang mendukung kemitraan kesehatan. 6. Solusi untuk Mengatasi Tantangan: 1. Membangun Kepercayaan dan Rasa Saling Menghormati: • Luangkan waktu untuk mengenal mitra Anda dan membangun hubungan yang kuat. • Berkomunikasi secara terbuka dan transparan dengan mitra Anda. • Hargai perbedaan budaya dan bahasa mitra Anda. • Berikan umpan balik yang konstruktif dan positif kepada mitra Anda. 2. Menetapkan Peran dan Tanggung Jawab yang Jelas: • Kembangkan perjanjian kemitraan yang jelas dengan peran dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. • Tetapkan tujuan dan target yang terukur untuk kemitraan. • Buatlah rencana kerja yang jelas dengan timeline dan milestone.


• Gunakan alat dan teknologi untuk melacak kemajuan dan akuntabilitas. 3. Meningkatkan Komunikasi yang Terbuka dan Efektif: • Jaga komunikasi yang terbuka dan transparan dengan mitra Anda secara berkala. • Gunakan berbagai saluran komunikasi untuk menjangkau mitra Anda, seperti email, telepon, pertemuan tatap muka, dan media sosial. • Adakan pertemuan dan lokakarya secara berkala untuk membahas kemajuan, tantangan, dan peluang. • Berikan umpan balik dan evaluasi secara teratur untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi. 4. Membangun Budaya Kolaborasi: • Dorong kolaborasi dan kerja tim antar mitra. • Ciptakan lingkungan yang aman dan terbuka untuk berbagi ide dan pengalaman. • Rayakan keberhasilan dan pencapaian kemitraan. • Belajar dari pengalaman dan kesalahan untuk meningkatkan kerjasama di masa depan. 5. Meningkatkan Sumber Daya dan Dukungan: • Alokasikan sumber daya yang memadai untuk mendukung komunikasi dan kolaborasi. • Dapatkan dukungan dari manajemen untuk kemitraan. • Sediakan pelatihan dan pengembangan kapasitas untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi mitra. • Gunakan teknologi untuk memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi, seperti platform konferensi video, alat berbagi file, dan platform media sosial. 5. Solusi Mengatasi Tantangan Membangun Jejaring Mitra Kesehatan dan Daftar Pustaka Membangun jejaring mitra kesehatan yang kuat dan efektif merupakan kunci untuk mencapai berbagai tujuan strategis dalam bidang kesehatan. Mitra potensial dapat membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat, mendorong inovasi dan efisiensi dalam sistem kesehatan, serta memperluas jangkauan program dan kegiatan kesehatan. Namun, proses membangun dan memelihara jejaring mitra kesehatan yang sukses membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan manajemen yang matang. Tantangan umum yang dihadapi dalam membangun jejaring mitra kesehatan dapat dikategorikan menjadi beberapa aspek, yaitu:


1. Tantangan Komunikasi dan Kolaborasi: • Solusi: o Membangun strategi komunikasi yang jelas dan efektif. o Menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk menjangkau semua mitra. o Adakan pertemuan dan lokakarya secara berkala untuk membahas kemajuan, tantangan, dan peluang. o Dorong kolaborasi dan kerja sama tim antar mitra. 2. Tantangan Koordinasi dan Manajemen: • Solusi: o Mengembangkan strategi kemitraan yang jelas dengan tujuan, target, dan rencana aksi yang terdefinisi dengan baik. o Menetapkan struktur tata kelola yang jelas untuk kemitraan, dengan peran dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. o Meningkatkan koordinasi dan manajemen dengan menggunakan alat dan teknologi yang tepat. o Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. 3. Tantangan Sumber Daya: • Solusi: o Memaksimalkan sumber daya yang ada dengan menggunakan staf dan sumber daya secara efisien dan efektif. o Mencari pendanaan alternatif dari berbagai sumber, seperti hibah, sumbangan, dan crowdfunding. o Meningkatkan efisiensi dan efektivitas dengan menggunakan teknologi dan mengembangkan proses yang jelas. o Membangun kemitraan strategis dengan organisasi yang memiliki sumber daya dan keahlian yang saling melengkapi. 4. Tantangan Budaya dan Politik: • Solusi: o Meningkatkan pemahaman budaya dengan menyediakan pelatihan dan pengembangan kapasitas, mendorong dialog antar mitra, dan menciptakan lingkungan yang inklusif.


o Membangun kepercayaan dan rasa saling menghormati dengan meluangkan waktu untuk mengenal mitra, berkomunikasi secara terbuka dan transparan, serta menghargai perbedaan budaya dan politik. o Mempromosikan keadilan dan kesetaraan dengan menciptakan struktur tata kelola yang adil dan transparan, memastikan semua mitra memiliki suara dan kesempatan yang sama, serta menggunakan pendekatan yang inklusif dan partisipatif. o Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dengan mengembangkan sistem akuntabilitas dan transparansi yang jelas, melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala, serta menerapkan sistem pelaporan dan akuntabilitas yang jelas. o Melibatkan pemangku kepentingan politik dengan melibatkan mereka dalam proses pengembangan dan pelaksanaan kemitraan, membangun hubungan dengan pembuat kebijakan dan pemimpin politik, serta mengadvokasi kebijakan dan peraturan yang mendukung kemitraan kesehatan. Sumber Pustaka: Health Resources and Services Administration (HRSA): https://www.hrsa.gov/ American Hospital Association (AHA): https://www.aha.org/ National Association of Counties (NACo): https://www.naco.org/ • World Health Organization (WHO): https://www.emro.who.int/about-who/country-cooperationstrategy/ • The Commonwealth Fund: https://www.commonwealthfund.org/ • World Bank: https://www.worldbank.org/en/home • United Nations Development Programme (UNDP): https://www.undp.org/ • The Health Foundation: https://nationalhealthfoundation.org/about/ • Health Resources and Services Administration (HRSA): https://www.hrsa.gov/


Materi Membangun Jejaring Mitra Kesehatan Pendahuluan Kemitraan secara umum akan terjalin bilamana terdapat pihak yang merasakan adanya kelemahan implementasi bila sebuah pembangunan hanya menjadi focus of interest satu pihak saja. Dengan kata lain bahwa kemitraan sejatinya merupakan solusi yang tepat bagi pihak yang mencita-citakan adanya percepatan progres. Membangun jejaring mitra kesehatan yang kuat dan efektif adalah kunci untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat. Jejaring mitra dapat membantu organisasi kesehatan untuk: 1. Memperluas jangkauan layanan 2. Meningkatkan kualitas layanan 3. Memperoleh sumber daya baru 4. Meningkatkan advokasi dan pengaruh 5. Berbagi pengetahuan dan pengalaman 6. Manfaat Membangun Jejaring Mitra Kesehatan


Pengertian jaringan kemitraan atau partnership adalah bentuk persekutuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk ikatan kerjasama di bidang usaha tertentu atau dengan tujuan tertentu untuk mendapatkan manfaat hasil yang lebih baik. Networking atau jaringan adalah proses kebersamaan dan hubungan yang bermanfaat serta saling menguntungkan. Dalam praktiknya, membangun jejaring kerja dan kemitraan memiliki perbedaan, dimana jejaring kerja masih belum konkret dan peran para pihak belum dimainkan, sedangkan kemitraan merupakan bentuk kerjasama konkret dimana semua pihak memainkan peran sesuai aturan yang disepakati. Jaringan kemitraan merupakan awal dari jalinan kemitraan. Fasilitator dan jaringan kemitraan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Meningkatkan akses layanan kesehatan: Mitra dapat membantu menjangkau populasi yang terpinggirkan atau yang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan tradisional. Meningkatkan kualitas layanan kesehatan: Mitra dapat berbagi keahlian dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Meningkatkan efisiensi: Mitra dapat membantu organisasi kesehatan untuk menghemat waktu dan uang dengan berbagi tugas dan sumber daya. Meningkatkan inovasi: Mitra dapat membantu organisasi kesehatan untuk mengembangkan ideide baru dan inovatif untuk meningkatkan layanan kesehatan. Meningkatkan advokasi: Mitra dapat bekerja sama untuk mengadvokasi kebijakan dan program yang mendukung kesehatan masyarakat. Langkah-langkah Membangun Jejaring Mitra Kesehatan Identifikasi mitra potensial:


Mitra potensial dapat mencakup organisasi kesehatan lain, lembaga pemerintah, organisasi nirlaba, perusahaan swasta, dan individu. Saat mengidentifikasi mitra potensial, pertimbangkan tujuan, nilai, dan sumber daya organisasi Anda. Prioritaskan mitra: Setelah Anda mengidentifikasi mitra potensial, Anda perlu memprioritaskan mereka berdasarkan keselarasan tujuan, sumber daya, dan lokasi. Bangun hubungan: Luangkan waktu untuk membangun hubungan dengan mitra potensial. Ini dapat dilakukan melalui pertemuan tatap muka, panggilan telepon, email, dan media sosial. Kembangkan kesepakatan kolaborasi: Setelah Anda memiliki hubungan yang kuat dengan mitra, Anda dapat mengembangkan kesepakatan kolaborasi yang menguraikan tujuan, peran, dan tanggung jawab masing-masing pihak. Komunikasi dan koordinasi terbuka: Pastikan komunikasi dan koordinasi yang terbuka dan berkelanjutan dengan mitra Anda. Ini akan membantu memastikan bahwa Anda semua berada di halaman yang sama dan bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama. Evaluasi dan adaptasi: Secara berkala evaluasi kemitraan Anda untuk memastikan bahwa mereka efektif dan mencapai tujuan yang diinginkan. Lakukan penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan kemitraan Anda.


Tips Tambahan Hadiri konferensi dan acara industri kesehatan untuk bertemu dengan mitra potensial. Bergabunglah dengan asosiasi dan organisasi terkait kesehatan untuk membangun jaringan dan peluang kolaborasi. Gunakan media sosial untuk mempromosikan organisasi Anda dan terhubung dengan mitra potensial. Manfaatkan teknologi untuk memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi dengan mitra. Contoh Mitra Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Badan Pusat Statistik Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumber Daya https://facilitatortrainingpf.wordpress.com/2015/04/22/membangun-jaaringan-kemitraan/


Studi kasus tentang keberhasilan dan kegagalan kemitraan kesehatan Jalinan Kemitraan Program Posyandu Dalam Upaya Memberdayakan Masyarakat Pada Bidang Kesehatan Manusia dapat hidup produktif ketika mereka memiliki kesehatan baik badan, jiwa dan sosial. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan. Pendidikan kesehatan yang tercantum dalam tujuan strategi sehat 2020 yang diumumkan secara publik pimpinan daerah masing-masing yang merupakan suatu proses membantu sesorang dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kelompok. Membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal- hal yang memengaruhi kesehatan pribadi dan kelompok orang lain. Pendidikan Kesehatan adalah suatu kondisi mengkombinasikan pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah manusia dalam perilaku yang kondusif untuk kesehatan. Salah satu unsur kesejahteraan masyarakat adalah kesehatan, sesuai dengan misi dan strategi Indonesia sehat 2020 tersebut. Prioritas utama dalam program pemerintah ini adalah upaya pencegahan, peningkatan pelayan kesehatan yang dapat juga dilaksanakan pada program posyandu. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan berupa Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat. Memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi adalah tujuan dari program ini. Bersumber daya dari UKBM memberikan bimbingan dan wahana pemberdayaan masyarakat yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat. Pengelolaan program Posyandu dapat berupa tenaga kerja beberapa orang yang disebut Kader. Anggota kader yaitu masyarakat yang dipilih, bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk mengelola kegiatan posyandu. Dalam menjalankan program kesehatan di posyandu yang efektif dan efisien, perlu adanya dukungan baik dari Puskesmas selaku provider maupun dari masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar istilah kerja sama dan gotong royong yang memiliki arti sama yaitu kemitraan. Kemitraan merupakan suatu upaya yang dapat meleburkan dan


melibatkan berbagai komponen. Perlibatan kerja sama ini mulai dari masyarakat, lembaga pemerintah sampai lembaga non- pemerintah. Tujuan terjalinnya kemitraan ini tidak lain untuk kepentingan bersama. Pencapaian ini berupa kesepakatan, prinsip, serta peran dari masingmasing pihak dalam mencapai tujuan suatu kegiatan yang saling menguntungkan. Kemitraan dalam program posyandu merupakan bentuk peran serta masyarakat di bidang kesehatan. Kader sebagai pengelola dengan sasarannya seluruh masyarakat. Peran kader disamping melaksanakan tugas- tugas pokoknya di posyandu, juga mengembangkan tugasnya untuk memfokuskan pada deteksi dini tumbuh kembang balita. Kader sebagai pelaksana kegiatan di posyandu perlu terlebih dulu memahami tentang petunjuk teknis di posyandu dan meningkatkan pengetahuan, keahlian serta kemampuannya. Peningkatan pengetahuan kader diwujudkan dalam kinerjanya berupa pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang balita. Selain itu peran kader sebagai pendamping juga mampu memotivasi masyarakat dalam peningkatan dan pengembangan posyandu. Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa banyak potensi masyarakat setempat yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan seperti pengembangan kegiatan posyandu. Kegiatan ini meningkatkan kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan disisi lain adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang tinggi. Peningkatan derajat kesehatan yang tinggi dengan memanfaatkan potensi yang mereka miliki oleh masyarakat. Menurut Pranata (2011) Potensi tersebut antara lain dapat berupa kemampuan masyarakat dalam pengambil keputusan misalnya mengambil alih sebagai pimpinan masyarakatnya. Masyarakat belum sempurna dan sadar bahwa banyak potensi yang dimilki dan dapat dikembangkan. Ketidaksadaran ini membuat mereka tidak pernah melakukan identifikasi sumber daya potensi yang ada di lingkungan sekitarnya, sehingga masyarkat tidak pernah tau kelebihan dan kekurangannya. Kenyataan ini harus diterima oleh masyarakat yang mengalami keterbatasan. Kategori masyarakat ini masih mengalami keterbatasan dalam memperoleh pelayanan kesehatan sehingga tidak mengherankan jika kondisi kesehatan masyarakat kurang baik, tidak sesuai dengan yang di harapkan oleh pemerintah. Sehingga perlu pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan untuk masyarakat kategori tersebut.


Pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan merupakan upaya peningkatan dan pengembangan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat agar lebih berdaya dan memiliki kemampuan menangani persoalan kesehatan yang dihadapi. Pengkajian pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada saat ini. Secara nyata pemberdayaan masyarakat telah diketahui oleh seluruh puskesmas dan posyandu di Indonesia, namun berdasarkan kenyataan masih belum banyak diketahui. Kondisi ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam penilaian dan pembuatan program untuk meningkatkan kualitas upaya pemberdayaan masyarakat. Menurut Farha (2018) kemitraan merupakan bisnis yang dilakukan oleh sekelompok pihak dengan prinsip saling membutuhkan dan membesarkan dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan Bersama. Kepatuhan di antara pihak yang bermitra merupakan suatu strategi bisnis. Kemitraan atau Jejaring kerja atau partnership secara etimologis berasal dari akar kata partner. Partner dapat diartikan sebagai teman atau pasangan atau jodoh atau sekutu atau kompanyon serta sekelompok. Adapula partnership diterjemahkan sebagai kesepakatan persekutuan atau perkongsian. Sedangkan KBBI mengartikan mitra sebagai teman atau sahabat. Selanjutnya Aqsha (2015) mengungkapkan bahwa kemitraan dipandang sebagai suatu konsep dari kesisteman yang meliputi management input menjadi process dan menghasilkan output. Berdasarkan teori tersebut, maka dilaksanakanlah pengindentifikasian berupa input berupa perangkat masyarakat, bidan desa, kader. Selanjutnya process berupa pelaksanaan kegiatan tersebut misalnya kegiatan imunisasi. Terakhir adanya output berupa hasil dan produk dari kegiatan yang telah berjalan di wilayah kerja Posyandu. Pendapat senada disampaikan Sudjatmoko (2011) bahwa kemitraan dalam kategori bisnis tertentu secara terpadu dilaksanakan beberapa pihak. Pelaksanaan mitra secara serasi, seimbang, sinergis dan sitematis. Penyatuan potensi dalam menghasilkan keuntungan yang maksimal yang dijadikan juga sebagai tujuan utama. Membangun kemitraan pada dasarnya merupakan suatu proses menjalin komunikasi atau hubungan, interaksi, pembagian berbagi ide, informasi dan sumber daya atas dasar saling percaya, saling jujur dan saling menguntungkan diantara pihak-pihak yang bermitra. Hal ini dapat dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau kesepakatan. Tujuan kesepakatan ini guna mencapai kesuksesan dan kesejahteraan bisnis bersama yang lebih besar.


Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa membangun kemitraan dapat dilakukan jika pihak-pihak yang bersangkutan memenuhi persyaratan berikut: Ada dua pihak atau lebih dari suatu organisasi atau lembaga tertentu. Kemudian memiliki kesamaan visi dan misi dalam mencapai tujuan organisasi atau lembaga tersebut. Selanjutnya ada kesepakatan atau kesepahaman di antara kedua belah pihak atau sekelompok pihak jika bermitra sekumpulan lembaga. Selanjutnya tentunya saling ada kepercayaan dan saling membutuhkan. Kemudian akan memiliki dan terjalinnya komitmen bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar secara bersama. Pada dasarnya kemitraan adalah kerjasama sekelompok atau tim atau grup dengan satu tujuan tertentu secara bersama. Penilaian keberhasilan kemitraan dapat dilihat berdasarkan partisipasi aktifnya peran pihak yang terlibat, dan masyarakat serta provider secara keseluruhan. Proses kemitraan telah lama dijalankan oleh masyarakat kita Indonesia dengan istilah kerja bakti dan gotong royong. Bentuk kemitraan berupa kerjasama ini dilaksanakan baik antar individu, antar kelompok atau individu dengan kelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan menanggung segala kerugian atau resiko maupun keuntungan secara bersama. Menurut Notoatmodjo (2012) dan penelitian sebelumnya dari Pramudho (2009) bahwa kemitraan dipandang sebagai suatu kesisteman terstruktur yang harus dijalankan secara harmonis dan koordinasi yang baik antar individu ataupun kelompok yang bermitra. Tiga prinsip dasar yang perlu dipahami oleh pihak yang akan bermitra adalah saling adanya persamaan, saling adanya keterbukaan dan saling adanya keuntungan. Tiga prinsip ini harus dijalankan untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi dalam menjalankan proses kemitraan. Dapat disimpulkan bahwa kemitraan dimaknai sebagai suatu bentuk persekutuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk satu ikatan kerjasama di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Pada kesempatan diklat kepemimpinan aparatur pemerintah tingkat III lembaga administrasi negara republic Indonesia 2014 mengemukakan beberapa konsep dari kemitraan mulai dari tujuan, prinsip, langkahlangkah, manfaat serta strategi dalam bermitra. Proses kemitraan memiliki beberapa tujuan. Salah satu tujuannya meningkatkan partisipasi masyarakat.


Melalui pembangunan kemitraan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap eksistensi organisasi. Menumbuhkan minat dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan organisasi. Masyarakat disini memiliki arti luas tidak hanya sebagai pelanggan tetapi termasuk juga pengguna, organisasi kemasyarakatan, dinas atau departemen terkait, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat dan stakeholder, provider lainnya. Partisipasi masyarakat tersebut dapat meningkatkan mutu, kualitas dan relevansi dinamika perubahan atau perkembangan masyarakat sangat tinggi di era digital saat sekarang. Pencapaian tujuan-tujuan tertentu harusnya memperhatikan prinsip kesamaan visi dan misi dalam kemitraan. Prinsip ini hendaknya dibangun atas dasar kesamaan visi dan misi dan tujuan organisasi. Kesamaan dalam visi dan misi menjadi semangat dan motivasi dan perekat pola kemitraan. Pola ini menggabungkan dua atau lebih lembaga dapat bersinergi untuk mencapai tujuan yang sama. Selanjutnya tentang kepercayaan (trust), membahas tentang kepercayaan sangat erat kaitan nya dengan kejujuran. Menumbuhkan saling kepercayaan setelah adanya kesamaan visi dan misi. Oleh karena itu kepercayaan adalah merupakan modal awal untuk mendasari terbangunnya jejaring kerja sama dan kemitraan. Saling jujur menghasilkan kepercayaan diantara pihak bermitra, maka ada trik komunikasi yang dibangun berlandaskan niat yang baik. Kelengkapan point ini akan memunculkan suatu asas saling menguntungkan. Asas ini merupakan fondasi yang kuat dalam membangun kemitraan. Apabila dalam bermitra ada suatu masalah yang mengakibatkan salah satu pihak merasa dirugikan, merasa tidak mendapat manfaat lebih, atau merasa tidak mendapat keadilan maka akan menggangu keseimbangan dan keharmonisan dalam bekerja sama. Antara pihak yang bermitra harus saling memberi kontribusi sesuai peran masing-masing. Melalui pemaksimalan kesenergian beberapa sumber diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari segi waktu, tempat, biaya dan tanaga. Efisiensi tersebut tentu saja tidak mengurangi kualitas bahkan sebaliknya dapat meningkatkan kualitas proses dan produk yang ingin dicapai. Tingkat efektifitas pencapaian tujuan menjadi lebih tinggi jika proses kerja melibatkan beberapa pihak mitra kerja. Dengan kemitraan ini dapat menghasilkan kesepakatankesepakatan dari pihak yang bermitra, sehingga pencapaian tujuan menjadi lebih efektif.


Kesepakatan ini justru perlu adanya komunikasi. Komunikasi ini merupakan fondasi dalam membangun kerjasama. Tanpa komunikasi timbal balik maka akan terjadi dominasi satu pihak terhadap yang lainnya yang dapat merusak hubungan kerjasama. Setelah terjalinya komunikasi yang baik maka terjadilah saling komitmen yang kuat. Menurut Jadid (2017) bahwa kerja sama atau kemitraan dilaksankan oleh setiap lembaga atau organisasi sosial. Kerjasama ini dengan memanfaatkan sumber daya yang ada guna mencapai tujuan tertentu dalam organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Membangun strategi dalam bermitra kita perlu menjalin komunikasi yang baik antara teman kerja sama kita. Penelitian Wiryawan (2004) mengungkapkan tingginya kualitas strategi aliansi antara perusahaan dengan pemasok kegiatan karena tingginya komunikasi dan komitmen yang terjalin. Strategi dalam kemitraan bukan sekedar bertukar kontak, kartu nama, berbagi nomor telfon atau whats up atau bahkan berkenalan secara singkat. Melainkan membangun kekuatan networking yang lebih dari itu yang bisa dikerjakan dengan cara terorganisasi dan berkelanjutan. Kemitraan bisa dilkukan dengan beberapa metode. Handoko dalam Aminah (2007) mengemukakan bahwa PERT adalah suatu metode analisis yang dirancang membantu dalam penjadwalkan dan pengendalian proyek-proyek yang kompleks, yang menuntut bahwa masalah utama yang dibahas yaitu masalah teknik untuk menentukan jadwal kegiatan beserta anggaran biayanya sehingga dapat diselesaikan secara cepat dan tepat dari segi waktu dan biaya. Yang kedua CPM adalah suatu metode yang dirancang untuk mengoptimalkan biaya proyek dimana memenuhi jadwal penyelesaian proyek dengan biaya seminimal mungkin. Kegiatan ini pengutamaan dalam pembinaan, mengontrol, mengelola, serta memasarkan produk pengunkapan pendapat Kamil (2006). Supaya hasil betul-betul berkualitas, kegiatan kemitraan mampu mengembangkan usahanya dan dapat diterima sesuai standar serta dipasarkan secara baik skala yang lebih luas. Kemitraan ini membantu kepentingan dalam pengembangan usaha masyarakat pengusaha kecil dan menengah. Pemberdayaan didefinisikan sebagai suatu proses membuat orang mampu dan berdaya dalam meningkatkan kemampuan diri. Peningkatan ini membawa kemandirian bagi sasaran masyarakat tersebut. Tujuannya memperkuat keterampilan dasar hidup dan meningkatkan pengaruh pada hal-hal yang mendasari kondisi social dan ekonomi serta


kesehatan masyarakat Restuastuti (2017) mengungkapkan dalam promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat merupakan lini terdepan dan wajib dilaksanakan. Sementara itu, menurut pemerintah RI dan United Nations International Children’s Emergency Funds mengungkapkan pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat noninstruktif untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan, dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sector maupun LSM dan tokoh masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah proses pemberian dan pentransferan informasi berupa pengetahuan tambahan. Pemberdayaan ini dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Sejalan dengan kegiatan dengan mengikuti perkembangan sasaran serta proses membantu sasaran, agar berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar dari tahu menjadi mau atau ingin dan dari mau atau ingin menjadi mampu melaksanakan perilaku. Secara garis besar dapat diambil kesimpulan dari tidak tahu pada aspek pengetahuannya menjadi mau dan ingin berubah menjadi aspek sikap hingga mampu melaksankan kegiatan tersebut. Menurut Adisamito (2007) mengungkapkan pemberdayaan masyarakat merupakan proses yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan, seperti sanitasi dan aspek lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh dalam kesehatannya. Adisamito juga menekankan perlu diperhatikan empat (4) unsur pokok utama dalam pemberdayaan kesehatan, yaitu aksesibilitas informasi, keterlibatan dan partisipasi, akuntabilitas dan kapasitas organisasi lokal agar tercapai tujuan pemberdayaan masyarakat. Sasaran utama pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta kelompok masyarakat. Dalam mengupayakan agar seseorang tahu dan sadar, kuncinya terletak pada keberhasilan membuat orang tersebut memahami bahwa sesuatu adalah masalah baginya dan bagi masyarakat. Sepanjang orang tersebut belum mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah, maka orang tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apapun lebih lanjut, manakala ia telah menyadari masalah yang dihadapinya maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan ke-7 di Nairobi, Kenya, menegaskan kembali pentingnya pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan dengan menyepakati perlunya membangun kapasitas promosi kesehatan, penguatan.


Menurut Sulaeman (2012) ada sepuluh model pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan diformulasikan sebagai berikut. Pertama, partisipasi masyarakat dengan pengembangan potensi dan sumber daya lokal. Pengembangan ini dijadikan sebagai upaya pemecahan masalah masyarakat melalui model sumber daya lokal. Selanjutnya model promosi Kesehatan dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu persuasi kesehatan berupa bujukan, bimbingan dan konseling individu dalam kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, model promosi kesehatan perspektif multidisiplin mempertimbangkan lima pendekatan meliputi medis, perilaku, pendidikan, pemberdayaan, dan perubahan sosial. Keempat, model pelayanan kesehatan primer berbasis layanan masyarakat harus bertanggung jawab dalam mengidentifikasi kebutuhan dan menetapkan prioritas, merencanakan dan memberikan layanan kesehatan, serta memantau dan mengevaluasi layanan kesehatan. Kelima, model pemberdayaan masyarakat meliputi partisipasi, kepemimpinan, keterampilan, sumber daya, nilai-nilai, sejarah, jaringan, dan pengetahuan masyarakat. Keenam, model pengorganisasian masyarakat yaitu hubungan antara pemberdayaan, kemitraan, partisipasi, responsitas budaya, dan kompetensi komunitas dan sebagainya. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan banyak juga diperhatikan oleh kalangan dunia internasional semenjak dideklarasikannya Piagam Ottawa. Kesepakatan dalam Piagam Ottawa penegasan bahwa partisipasi masyarakat merupakan elemen utama dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan. (PDF) Jalinan Kemitraan Program Posyandu dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan (researchgate.net) Membangun jejaring mitra kesehatan merupakan salah satu strategi yang penting dalam promosi kesehatan karena dapat memperluas jangkauan dan efektivitas program-program kesehatan. Jejaring mitra kesehatan terdiri dari berbagai pihak seperti lembaga pemerintah, organisasi nirlaba, lembaga pendidikan, praktisi kesehatan, dan komunitas lokal yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan kesehatan yang sama. Pentingnya komunikasi yang efektif dalam kemitraan promosi kesehatan antara lain terletak pada: 1. Pencapaian Tujuan Bersama: Komunikasi yang efektif memungkinkan berbagai mitra kesehatan untuk memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan-tujuan kesehatan yang ingin dicapai.


Click to View FlipBook Version