PERSIAPAN PENELITIAN BAB III 1. ILMI IZZATI 2. RIFKY MAULANA
A. Faktor-Faktor Manusia Dalam Pendidikan Penelitian bahasa mengandalkan manusia sebagai alat pengumpulan data dalam berhubungan dengan manusia lain yang disebut dengan informan bahasa. Oleh karena itu, seorang peneliti harus memahami betul faktor-faktor manusia yang dapat mengganggu kelancaran penelitian yang dilakukan sehingga suatu penelitian itu dapat dilakukan dengan baik. Dari sisi si peneliti itu sendiri jelas sekali bahwa dia harus dibekali dengan pengetahuan dan latihan-latihan dalam bidang fonetik artikulatoris, metode linguistik fonologi agar dia mampu memberikan data bahasa lisan di lapangan. Di samping itu, seorang peneliti harus juga mempunyai pengetahuan tata bahasa-bahasa yang ada di dunia dan pengetahuan tentang leksikon. Semakin banyak dia mengetahui keanekaragaman struktur bahasa dan bagaimana menangani keanekaragaman struktur tersebut, akan semakin berhasil dia dalam meneliti bahasa yang ditelitinya. Sebelum terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data, akan lebih baik kalau para peneliti dibekali terlebih dahulu dengan latihan intensif wawancara untuk memperoleh data dan teknik analisis linguistik. Latihan-latihan ini perlu dilakukan agar para peneliti tidak merasa canggung dalam menghadapi informan untuk memperoleh data. Berbagai teknik wawancara untuk pengumpulan data bahasa harus mereka kuasai dengan baik. 1
Persiapan lainnya adalah bahwa para peneliti harus mencari informasi tentang penelitian-penelitian sebelumnya yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan di daerah, juga memahami kebudayaan masyarakat yang akan ditelitinya, termasuk istilah-istilah yang spesifik yang ada di daerah itu. Peneliti dapat saja membawa informan yang dipilihnya ke tempat lain. Namun, bila peneliti hendak menangani lebih dari pemerian struktural, maka peneliti harus bergaul dengan masyarakat pengguna bahasa itu sendiri. Dengan kata lain, peneliti harus melakukan penelitian di tempat penutur itu bermukim. Hal ini disebabkan karena akan memudahkan bagi peneliti mengumpulkan data yang dipakai sebagai sumber bahan penelitian. Disamping itu, peneliti juga mendapatkan fenomena kebahasaan yang penting, seperti gaya bahasa, ragam kosa kata, dan sebagainya. Dari segi masyarakat yang akan ditelitinya, peneliti harus tahu bahwa sikap masyarakat terhadap orang dari luar itu berbeda. Ada yang ramah dan ada juga yang penuh curiga. Biasanya kategori terakhir ini kurang mau diajak kerjasama. Mereka menganggap pendatang dari luar itu sebagao ancaman. Hal ini terjadi karena ketidaksanggupan masyarakat itu memahami tujuan penelitian bahasa, di mana seorang peneliti datang, mengajukan pertanyaan. Masyarakat selalu mencurigai gerak-gerik perlaku peneliti. Ada masyrakat yang bangga bahwa mereka dipelajari, namun sebaliknya ada masyarakat yang tidak karena merasa takut akan terungkapnya mentalitas yang mungkin akan dianggap udik. Ini berartu peneliti harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang berlaku dan dapat menyumbangkan sesuatu untuk kesejahteraan masyarakat. 2
B. Objek Penelitian Objek penelitian bahasa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat penutur bahasa. Secara garis besar objek penelitian itu berupa bahasa lisan dan bahasa tulis. 1 .Bahasa lisan Bahasa lisan adalah objek penelitian utama dalam penelitian bahasa. Objek penelitian bahasa lisan ini merupakan objek penelitian dasar dalam penelitian bahasa. Untuk melakukan penelirian ini seorang peneliri harus mengumpulan data di lapangan. Oleh karena itu jenis penelitian ini lazim disebut sebagai penelitian lapangan (field research), yang tentu saja sikap peneliti sangat berbeda dengan penelitian di dalam kelas, umpamanya. Penelitian lapangan dapat pula dibedakan atas dua jenis, yaitu penelitian huluan dan penelitian hiliran. Penelitian huluan adalah penelitian dasar atau penelitian awal untuk bahasa yang baru pertama kali diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur bahasa yang diteliti. Penelitian jenis ini dimulai dari penelitian fonologi, sitem bunyi bahasa yang ada dalam bahasa itu; kemudian diikuti oleh penelitian morfologi, sistim pembentukan kata; dan diakhiri dengan penelitian sintaksis, sistim pembentukan kalimat. Oleh karena itu penelitian huluan ini dikenal juga dengan penelitian struktural, yaitu melihat bentuk bahasa itu sendiri dari segi tata bunyi, tata pembentukan kata, dan tata pembentukan kalimat. Penelitian hiliran merupakan kelanjutan dari penelitian huluan. Artinya, penelitian ini memanfaatkan data yang sudah ada pada penelitian huluan. Penelitian hiliran adalah upaya untuk meneliti fungsi bahasa dalam masyarakat. Penelitian sosiolinguistik dan pragmatik dapat digolongkan pada penelitian hiliran, karena peneliti harus mengetahui terlebih dahulu struktur bahasa yang diteliti untuk dapat mengumpulkan data penelitian. 3
Beberapa topik yang dapat dijadikan masalah atau objek penelitian bahasa lisan ini dapat dinyatakan sebagai berikut: A. Sistem Fonologi B. Sistem Morfologi C. Sistim Sintaksis D. Semantik E. Pragmatik F. Sosiolinguistik Penelitian tersebut harus dilakukan berurutan, artinya penelitian morfologi tidak dapat dilakukan sebelum ditemukan sistem fonologi bahasa yang diteliti dan penelitian sintaksis belum dapat dilakukan sebelum dilakukan penelitian morfologi. 2. Bahasa Tulis Bahasa tulis merupakan representasi dari bahasa lisan. Bahasa tulis muncul sebagai usaha manusia untuk memindahkan sistem bahasa lisan ke atas kertas. Oleh karena itu sistem bahasa tulis bahasa-bahasa di dunia ini berbedabeda, tergantung pendapat ahli bahasanya. Menurut Crane et al (1981), dalam sistem komunikasi manusia dikenal ada tiga sistem bahasa tulis, yaitu logografik, sillabik, dan alfabetik. a). Logografik (Logographic Writing) Logografik adalah sistem bahasa tulis di mana satu simbol memiliki satu makna. Kelemahan dari sistim ini adalah bahwa pemakai bahasa ini harus menghafalkan sejumah besar simbol agar dia mampu membaca dan menulis. b). Silabik (Syllabic Writing) Silabik adalah sistim bahasa tulis di mana satu simbol mewakili satu suku kata (Syllable). Contoh bahasa yang menggunakan sistim suku kata dalam sistim tulisnya ini adalah bahasa Jepang dengan tulisan kana. 4
5 C). Alfabet (Alphabetic Writing) Alfabet adalah sistim bahasa tulis di mana satu simbol melambangkan satu bunyi. Sistim inlah yang kita pakai dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lainnnya di dunia yang menggunakan abjad alfabet sebagai dasar tata tulisnya. Namun bahasa tertentu seperti bahasa Inggris tidak diaplikasikan sama, oleh karena itu diperlukan satu sistem lagi yaitu sistim fonetik. Sistem ini betul-betul konsisten menyatakan satu simbol menyatakan satu bunyi. Topik penelitian yang bisa dilakukan untuk bahasa tulis ini biasanya tercakup dalam kajian analisis wacana (discourse analysis). Kajian tentang alat kohesi dan koherensi, misalnya, merupakan topik yang lazim di bahas dalam penelitian bahasa tulis ini.