i PENULIS : KELOMPOK 5 Dewi Anggraeni (2202016103) Ema Erviana (2202016092) Ayuni Putri Ridanti (2202016080) Muhammad Muqauqis Aqthab (2202016096)
ii KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiratnya, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas buku elektronik (E-Book) di mata kuliah Perilaku Organisasi Buku elektronik ini telah kami susun dengan maksimal dengan bantuan dari berbagai faktor seperti buku, jurnal, artikel, web, dan lainnya serta dari kontribusi aktif rekan-rekan kelompok. Untuk itu, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah aktif berkontribusi dalam pembuatan buku elektronik (E-Book) ini. Materi ini disusun dengan harapan bahwa pembaca akan mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana persepsi dan pengambilan keputusan memainkan peran sentral dalam kehidupan individu. Kami berharap bahwa pemahaman ini akan memungkinkan pembaca untuk mengambil langkah-langkah yang lebih bijak dan efektif dalam setiap aspek kehidupan mereka. Terlepas dari semua itu, kami mennyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca. Akhir kata kami berharap semoga buku elektronik ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap para pembaca. Samarinda, 12 September 2023 Kelompok 5
iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR …………………………………………………...ii DAFTAR ISI …………………………………………………………….iii LATAR BELAKANG …………………………………………………....1 BAB 1 KONSEP DASAR PERSEPSI DAN FAKTOR DIDALAMNYA A. Defenisi Persepsi ………………………………………………….2 B. Teori Persepsi ……………………………………………………..5 C. Faktor-Faktor Persepsi Menurut Walgito …………………………7 D. Teori Atribusidan Kesalahan Pengguanaannya……………………7 E. Jalan Pintas Untuk Menilai Orang Lain Dan Hubungannya Dengan Persepsi ………………………………………………………….13 BAB 2 PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU DALAM ORGANISASI A. Pengambilan Keputusan Individual (Individual Decision Making) ….17 B. Bagaimana Keputusan Dibuat Dalam Organisasi …………………….19 C. Pengembangan Masalah Dan Pembuatan Pilihan …………………….26 D. Gaya pengambilan keputusan individual …………………………….28 BAB 3 HAMBATAN BUDAYA DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN A. Hambatan dan perbedaan budaya dalam konteks persepsi dan pengambilan keputusan ………………………………………………32 B. Etika Dalam Pengambilan Keputusan ………………………………..37 PENUTUP ………………………………………………………………41 DAFTAR PUSTAKA ...…………………………………………………43
1 LATAR BELAKANG Ada banyak cara dalam proses pengambilan keputusan dan adapula orang yang lebih memilih menghindari masalah, dan ada pula yang ingin memecahlan masalah ataupun menyelesaikannya. Pada prinsipnya, cara pengambilan keputusan mengacu kepada bagaimana seseorang mengolah suatu informasi, apakah akan lebih menggunakan pikiran/logika atau lebih pada perasaan. Setelah semua informasi didapatkam melelui fungsi persepsi, maka perlunya suatu tindakan terhadap informasi yang telah diperoleh. Pengolahan informasi yang bertujuan untuk memeperoleh kesimpulan guna mengambil keputusan ataupun membuat suatu opini. Ada gambaran preferensi mengenaidua cara yang berbeda tentang bagaimana seseorang mengambil suatu keputusan ataupun memberikan suatu penilaian, yaoitu dengan adanya tahap berfikir dengan menggunakan akal fikiran dan juga menggunakan perasaan atau dengan persepsi Salah satu cara dalam pengambilan keputusan adalah dengan menggunakan perasaan dan persepsi. Persepsi ini bukan dalam bentuk emosi melainkan dengan mempertimbangkan suatu dampak yang dihasilkan dari keptusan dini sendiri maupun orang lain (tanpa syarat bahwa hal tersebut harus bersifat logis). Pengambilan keputusan atas dasar perasaan ini dilandasi oleh nilai-nilai norma dan bukan mengacu pada tindakan yang emosional. Dengan pengambilan keputusan berdasarkan perasaan kita akan bertanya-tanya seberapa jauhkah kita akan melibatkan diri kita secara langsung. Dan bagi orangyang memiliki preferensi akan menggunakan perasaanya dalam mengambil sebuah keputusan yang cenderung bersikap simpatik, bijaksana dan juga sangat menghargai sesama.
2 PERSEPSI A. Defenisi Persepsi Kata persepsi berasal dari Bahasa Inggris, perception yang artinya: persepsi, penglihatan, tanggapan. Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi diintepretasikan sebagai tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu, atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Persepsi merupakan hal yang mempengaruhi sifat, dan sikap akan menentukan perilaku. Persepsi merupakan suatu proses yang diawali oleh penginderaan. Penginderaan adalah merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera. Pada umumnya stimulus tersebut diteruskan saraf ke otak 194 Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Rofiq Faudy Akbar sebagai pusat susunan saraf dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Stimulus diterima oleh alat indera, kemudian melalui proses persepsi sesuatu yang diindera tersebut menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan (Walgito, 2002: 53). Sehingga dapat dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasikan terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu BAB 1
3 sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Walgito (2010: 53) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam bentuk. Stimulus mana yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain Sugihartono(2007) mengemukakan bahwa persepsi merupakan kemampuan panca indera dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia . Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata. Menurut Davidoff, persepsi merupakan cara kerja atau proses yang rumit dan aktif, karena tergantung pada sistem sensorik dan otak (Davidoff, 1988: 273). Bagi manusia, persepsi merupakan suatu kegiatan yang fleksibel, yang dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap masukan yang berubah-ubah. Dalam kehidupan seharihari, tampak bahwa persepsi manusia mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan dan budayanya. Dalam konteks ini, pengalaman-pengalaman pada berbagai kebudayaan yang berbeda dapat mempengaruhi bagaimana informasi penglihatan itu diproses. Persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan mereka. Riset tentang persepsi secara konsisten menunjukan bahwa individu
4 yang berbeda dapat melihat hal yang sama tetapi memahaminya secara berbeda. Kenyataannya adalah bahwa tak seorang pun dari kita melihat realitas. Yang kita lakukan adalah menginterpretasikan apa yang kita lihat dan menyebutnya sebagai realitas. Individu itu memprekdisikan suatu benda yang sama berbedaberbeda, hal ini dipengaruh oleh bebrapa faktor. Pertama, faktor yang ada pada pelaku persepsi (perceiver) yang termasuk faktor pertama adalah sikap, keutuhan atau motif, kepentingan atau minat pengalaman dan pengharapan individu. Kedua faktor yang ada pada objek atau target yang dipersepsikan yang meliputi hal-hal baru, gerakan, bunyi, ukuran latar belakang dan kedekatan. Ketiga, faktor konteks situasi di mana persepsi itu dilakukan yang meliputi waktu, keadaan / tempat kerja, dan keadaan sosial. Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungan nya baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. Pada hakikatnya persepsi juga dikatakan hampir sama dengan pengindraan dibawah ini perbedaan antara persepsi dan pengindraan menurut luthans selanjutnya dikatakan contoh- contohnya sebagai berikut.: a) Dagangan rambut wig (rambut palsu) dinilai oleh penjual mempunyai nilai kualitas yang tinggi, tetapi pembeli mengatakan mempunyai kualitas yang rendah. b) Pekerja yang sama mungkin dilihat oleh satu pengawas sebagai pekerja yang baik, dan oleh pengawas yang lain dikatakan yang terjelek. c) Seorang bawahan menjawab suatu pertanyaan berdasarkan atas apa yang ia dengar dari atasannya, bukannya apa yang senyatanya dikatakan atasannya.
5 Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa persepsi mempengaruhi perilaku seseorang atau perilaku merupakan cermin persepsi yang dimilikinya. Persepsi adalah tanggapan atau gambaran langsung dari suatu serapan seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca indera. Dalam pengertian ini jelas, bahwa persepsi adalah kesan gambaran atau tanggapan yang dimiliki seseorang setelah orang tersebut menyerap untuk mengetahui beberapa hal (objek), melalui panca indera. B. Teori Persepsi Ada beberapa teori yang membahas mengenai persepsi diantara nya adalah teori Gestalt dan teori Ecological perception of the environment. Teori gestalt dipengaruhi oleh pemikiran yang bersifat arsitektural dan didasarkan pada asumsi secara menyeluruh bahwa manusia membaca makna bentuk atau melodi masuk ke dalam persepsi melebihi jumlah sensasisensasi individual sehingga manusia melihat obyek sebagai suatu kesatuan dan tidak mampu membedakannya bagian per bagian. Kelemahan teori ini adalah dalam hal waktu dan pengamatan yang berulang, bila seseorang mempergunakan waktu yang agak lama dalam merekam obyek, maka semakin lama mengamati semakin mungkin seseorang melihat bagian per bagiannya dan semakin dapat membedakannya, apalagi bila pengamatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang. Ada beberapa hukum dalam teori Gestalt (Halim, 2015) yang dapat menunjukan bagaimana unit - unit dari ligkungan dapat diamati : 1. Proximity (kedekatan posisi) Hukum ini memungkinkan individu pengamat untuk melihat elemen-elemen yang secara spasial dekat satu dengan yang lainnya apabila dikaitkan dalam satu pola. Sebuah bentuk yang sama dengan posisi berjauhan akan terlihat terpancar dan tidak
6 memiliki heriarki. Namun setelah pdidekatkan, bentuk-bentuk tersebut akan terlihat menjadi satu kesatuan. 2. Kesamaan (Similarity) Similarity dalah salah satu dari hukum Gestalt yang merujuk pada Laws of Organization in Perceptual Forms yang pertama kali diperkenalkan oleh Max Wertheimer pada tahun 1923. Hukum ini menyatakan elemen-elemen yang memiliki kesamaan akan lebih mudah dipersepsikan saling berhubungan atau berada dalam satu kelompok dari pada elemen-elemen yang tidak memiliki kesamaan. Prinsip ini membuat individu pengamat untuk melihat elemen - elemen yang serupa dalam tampilan bentuk atau warnanya jika dikaitkan dalam satu pola. 3. Closure (Ketertutupan) Hukum ini memungkinkan individu pengamat dapat melihat elemen-elemen yang membentuk gap-gap kecil tertutup pada suatu kawasan dan melihatnya sebagai satu kesatuan. Penutupan bentuk terjadi karena ketika sebuah benda tidak lengkap atau terdapat bidang negatif dan kosong namun bentuk tersebut masih terlihat seperti satu keatuan dan memiliki bayangan visual yang sama dengan objek yang sebenarnya. 4. Kesinambungan (Continuity) Kesinambungan terjadi karena penglihatan menjadi bergerak mengikuti arah suatu objek dan melanjutkan ke objek yang lain. Hukum ini memungkinkan individu pengamat untuk melihat elemen-elemen yang secara spasial dekat satu dengan yang lainnya apabila dikaitkan dalam sebuah pola. Kemudian ada teori ecological perception yang dikemukakan oleh Gibson menekankan perlunya pendekatan persepsi secara menyeluruh dan terarah sehingga pola stimulasi lewat visual memberikan the perceiver ( orang yang merasakannya dan melihat ) informasi sesegera mungkin mengenai suatu lingkungan termasuk karakter dari obyek atau tempat melalui sedikit usaha atau aktifitas yang kognitif.
7 C. Faktor-Faktor Persepsi Menurut Walgito Adapun faktor-faktor yang berperan dalam persepsi menurut Walgito antara lain: 1) Objek yang dipersepsi Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. 2) Alat indera, syaraf dan susunan syaraf Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang. 196 Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Rofiq Faudy Akbar D. Teori Atribusi dan Kesalahan Pengguanaannya ➢ Teori Atribusi Menurut Fritz Heider pencetus teori atribusi, teori atribusi merupakan teori yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori atribusi menjelaskan mengenai proses bagaimana kita menentukan penyebab dan motif tentang perilaku seseorang. Teori ini mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri yang akan ditentukan apakah dari internal misalnya sifat, karakter, sikap, dll. ataupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku individu (Luthans, 2005).
8 Teori atribusi menjelaskan tentang pemahaman akan reaksi seseorang terhadap peristiwa di sekitar mereka, dengan mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian yang dialaminya. Teori atribusi dijelaskan bahwa terdapat perilaku yang berhubungan dengan sikap dan karakteristik individu, maka dapat dikatakan bahwa hanya melihat perilakunya akan dapat diketahui sikap atau karakteristik orang tersebut serta dapat juga memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu. Teori atribusi dikembangkan oleh Fritz Heider, pada tahun 1958 yang menjelaskan bahwa perilaku seseorang akan ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari diri seseorang, dan kekuatan eksternal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Temuan dan teorinya kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Harold Kelley dan Bernard Weine. Dan pada dasarnya teori atribusi menyatakan bahwa bila seseorang mengamati perilaku orang lain, mereka mencoba untuk menentukan apakah perilaku itu ditimbulkan secara internal atau eksternal. Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada dibawah kendali individu itu sendiri, sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal adalah perilaku yang dipengaruhi dari luar, artinya individu akan terpaksa berperilaku karena situasi atau lingkungan. Penentuan faktor internal atau eksternal tergantung pada tiga faktor yaitu: 1. Kekhususan Kekhususan artinya seseorang akan mempersepsikan perilaku individu lain secara berbeda-beda dalam situasi yang berlainan. Apabila perilaku seseorang dianggap suatu hal yang tidak biasa, maka individu lain yang bertindak sebagai pengamat akan memberikan atribusi eksternal terhadap perilaku tersebut, sebaliknya jika hal itu dianggap hal yang biasa, maka akan dianggap sebagai atribusi internal. 2. Konsensus
9 Konsensus artinya jika semua orang mempunyai kesamaan pdanangan dalam merespon perilaku seseorang jika dalam situasi yang sama. Apabila konsesnsusnya tinggi, maka termasuk atribusi eksternal, sebaliknya jika konsensusnya rendah, maka termasuk atribusi internal. 3. Konsistensi Konsistensi yaitu jika seseorang menilai perilaku-perilaku orang lain dengan respon sama dari waktu ke waktu. Semakin konsisten perilaku itu, orang akan menghubungkan hal tersebut dengan sebab-sebab internal dan sebaiknya. Menurut Dayakisni (2006:52) Atribusi merupakan proses dilakukan untuk mencari sebuah jawaban atau pertanyaan mengapa atau apa sebabnya atas perilaku orang lain ataupun diri sendiri. Proses atribusi ini sangat berguna untuk membantu pemahaman kita akan penyebab perilaku dan merupakan mediator penting bagi reaksi kita terhadap dunia sosial. Sarwono (2009) atribusi merupakan analisis kausal, yaitu penafsiran terhadap sebab-sebab dari mengapa sebuah fenomen menampilkan gejala-gejala tertentu. Baron (2004) atribusi bearti upaya kita untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus, juga penyebab dibalik perilaku kita sendiri. Dalam teori atribusi terdapat macam-macam model yang di kemukakan oleh para ahli, yaitu antara lain: 1. Model Heider Analisa secara sistematik tentang bagaimana orang menginter-prestasikan sebab perilaku orang lain pada awalnya dilakukan oleh Heider Heidermengemukakan bahwa masingmasingdari kita dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain akan bertingkah laku mirip seorang ilmuwan. Dalam menginterprestasi perilaku orang lain, orang menggunakan prinsip-prinsip kausal yang naluriah dan commonsense psikologi dalam emutuskan apakah perilaku orang lain diatribusikan pada faktor disposisi internal atau tidak. Menurut model Heider, perilaku seseorang dapat disimpulkan disebabkan oleh kekuatan-
10 kekuatan internal (termasuk disposisi). Kekuatan-kekuatan lingkungan terdiri dari faktor situasi yang menekan, sehingga memunculkan perilaku tertentu. Kekuatan-kekuatan internal (personal forces) dilihat sebagai hasil dari kemampuan (ability), power dan usaha yang ditunjukkan seseorang. 2. Teori inferensi korespondensi Edward jones dan koleganya mempelajari pengaruh kekuatan disposisional dan lingkungan pada atribusi kausal. Mereka menganalisa kondisi-kondisi yang memunculkan atribusi disposisional, atau apa yang mereka sebut dengan istilah inferensi korespodensi, yaitu kasus dimana pengamat memutuskan bahwa disposisi khusus dari actor (persin stimuli) adalah penjelasan yang cukup masuk akal bagi perilaku atau tindakan actor. 3. Teori Kelley atribusi kausal Atribusi kausal, memfokuskan diri pada pertanyaan apakah perilaku seseorang berasal dari faktor internal atau eksternal. Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa aspek yang mesti dipertimbangkan, yaitu consensus, konsistensi, dan distingsi. Ketika terdapat dua atau lebih kemungkinan faktor penyebab suatu perilaku, kita cenderung untuk mengabaikan peran salah satu dari antaranya hal ini dikenal sebagai suatu efek discounting. Ketika suatu penyebab yang memfasilitasi munculnya suatu perilaku dan penyebab yang mengeliminasi terjadinya suatu perilaku, keduanya sama-sama hadir namun perilaku tersebut tetap muncul, kita member nilai tambah pada faktor yang memfasilitasi lahirnya perilaku tadi, hal ini disebut augmenting. (Sears, 1985:30) Atribusi sering kali keliru. Satu dari tipe kesalahan paling sering terjadi adalah bias korespondensi, yaitu kecenderungan untuk menjelaskan perilaku seseorang sebagai cerminan dari disposisinya, padahal faktor situasionalnya juga hadir. Kecenderungan ini lebih kuat terjadi di masyarakat dengan latar budaya barat. Dua jenis dari kesalahan atribusi lainnya adalah efek actor pengamat, yaitu kecenderungan untuk mengatribusi perilaku lebih pada faktor eksternal daripada faktor internal, dan bias mengutamakan diri sendiri,
11 yaitu kecenderungan untuk mengatribusi perilaku positif kita pada faktor internal, dan perilaku negatif kita pada faktor eksternal. Secara Implikatif terhadap empat fungsi komunikasi yang telah diuraikan di atas. ➢ Definisi Kesalahan Atribusi Meskipun ada beberapa orang yang mengemukakan mengenai siapa yang pertama kali menginvestigasi kesalahan-kesalahan mendasar, Ross (1977) memberikan definisi yang sangat jelas: “Kecenderungan para pengatribusi untuk meremehkan dampak faktor situasional dan melebih-lebihkan peran faktor disposisional dalam mengendalikan perilaku” (hal. 183). Menurut Baron dan Byrne (1994) kesalahan bersumber pada beberapa hal, yaitu: 1. Kesalahan atribusi yang mendasar (the fundamental attribution error) Kesalahan atribusi yang mendasar ini diakibatkan kecenderungan untuk selalu memberi internal dalam melihat perilaku seeorang. Misalnya di kantor akademik fakultas dakwah dan ilmu komunikasi, salah seorang petugasnya marah pada salah seorang mahasiswa yang ingin urusannya serba cepat, atau lebih dulu diselesaikan. Oleh karena itu mahasiswa tersebut tidak mematuhi aturan-aturan yang ada, petugas akademik tersebut marah. Orang akan mengambil kesimpulan bahwa pegawai kelurahan merupakan orang yang pemarah, tidak sabar, dan sebagainya. Dari peristiwa tersebut perilaku yang dilihat hanya factor internal saja, namun factor eksternalnya dihiraukan. Cara mengatribusi seperti diatas mungkin tidak tepat, karena ada kemungkinan bahwa orang tersebut marah karena memang didorong oleh factor situasi atau factor eksternal, jadi bukan semata-mata factor internalnya saja. 2. Efek pelaku-pengamat (the actor-observer effect). Proses persepsi dan atribusi sosial tidak hanya berlaku dalam hubungan antarpribadi, melainkan juga terjadi dalam hubungan antar kelompok, karena pada hakikatnya prinsip-prinsip yang terjadi ditingkat individu dapat digeneralisasikan ke tingkat antar kelompok. Kesesatan disini adalah orang
12 melihat prilaku orang lain hanya dari factor dalam, sedangkan kalau perilakunya sendiri hanya dilihatnya dari luar. Misalnya A melihat si B jatuh, si A beranggapan si B jatuh karena tidak hati-hati. Sedangkan apabila si A sendiri yang jatuh, si A akan mengatakan dia jatuh karena jalannya licin, sepatunya rusak, dan sebagainya. 3. Pengutamaan diri sendiri (the self-serving bias). Setiap orang cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Bila orang mengalami keberuntungan, maka orang akan mengatakan itu disebabkan faktor internal, sedangkan kegagalan dirinya disebabkan faktor eksternal. Misalnya si B berhasil mendapatkan nilai yang bagus, si A akan menunjukkan bahwa si B berhasil karena si B rajin belajar, intelegensinya tinggi, dan sebagainya. Sebaliknya jika A yang mendapatkan nilai yang buruk, si A akan menunjukkan bahwa nilainya jelek diakibatkan soalnya terlalu sulit, dosennya pelit dan sebagainya. Maka timbullah pertanyaan dibenak kita, mengapa dia melakukan demikian?. Dalam menjawab pertanyaan ini, ada beberapa pendapat, yaitu: 1) Orang mengambil sikap demikian untuk mempertahankan harga dirinya, yaitu bahwa seakan-akan sesuatu yang tidak baik itu disebabkan dari faktor luar dirinya. Dengan demikian harga dirinya tidak jatuh. 2) Orang mengambil sikap itu, orang lain akan tetap respek padanya, karena hal-hal yang tidak baik itu disebabkan oleh factor-faktor luar dirinya, sehingga dengan demikian masyarakat akan tetap menghargainya, dan ini disebut self-presentation.
13 E. Jalan Pintas Untuk Menilai Orang Lain Dan Hubungannya Dengan Persepsi Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan Indra mereka agar memberi makna kepada lingkungan. Berikut ada beberapa jalan pintas dalam menilai orang lain dan hubungannya dengan konteks persepsi : • Persepsi Selektif (Selective Perpection) Kecenderungan untuk secara selektif menginterpretasikan apa yang seseorang liat dalam basis minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi kita untuk menasimilasikan semua hal yang kita lihat, kita dapat mengambil hanya rangsangan tertentu saja. Persepsi selektif membuat kita membaca orang lain dengan cepat, tetapi bersiko menggambarkan gambaran yang tidak akurat. Kita dapat menggambarkan kesimpulan yang tidak dapat dijamin dari sebuah keadaan yang ambigu. • Efek Halo (Halo Effect) Kecenderungan untuk menggambarkan impresi umum mengenai seseorang indivdu berdasarkan karakteristik tunggal. Efek halo dikonfirmasi dalam sebuah studi klasik dimana objek diberikan sebuah daftar-daftar sifat cerdas, terampil, giat, rajin, berkemauan kuat, serta hangat. Subjek diminta untuk mengevaluasi orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Subjek menilai orang itu bijaksana, humoris, populer, dan imajinatif. Ketika daftar yang sama menggantukan “dingin” dengan “hangat”, satu gambaran yang benar-benar berbeda muncul. Subjek membuat sebuah sifat tunggal yang mempengaruhi kesan keseluruhan mereka atas orang lain yang mereka nilai. Contohnya seperti, ketika
14 seseorang kritikus diminta untuk mengatakan 10 hal baik dari orang yang dikritiknya maka hal itu akan sulit. Demikian juga ketika seorang pengagum diminta untuk mengatakan 10 hal buruk dari orang yang dikaguminya. Maka hal itu akan sangat sulit. • Efek Kontras (Contrast Effect) Evaluasi atas karakteristik seseorang dipengaruhi oleh perbandingan dengan orang lain yang baru muncul yang berperingat lebih tinggi atau lebih rendah dalam karakteristik yang sama. Contohnya, ketika seseorang dalam tahap wawancara kerja. Kemungkinan ia akan diterima akan lebih besar jika yang diwawancara sebelum ia adalah seseorang yang biasa-biasa saja. Namun sebaliknya, jika yang diwawancara sebelumnya adalah seseorang yang luar biasa dan sangat baik. Maka kemungkinan ia diterima akan lebih kecil. • Stereotip (Stereotype) Menilai seseorang berdasarkan persepsi mengenai kelompok asalnya. Kalimat-kalimat seperti : “Pria tidak tertarik dengan perawatan anak”, “Pekerja yang lebih tua tidak dapat mempelajari keahlian- keahlian baru”, Imigran Asia adalah pekerja keras dan hati-hati”, merupakan contoh dari menilai orang lain secara stereotip. Jadi stereotyping adalah menilai sesuatu secara menyeluruh atau general atau secara mayoritasnya. Contohnya, saat orang-orang yang berpenampilan rock dan punk pasti berkepribadian buruk. Padahal hal ini belum tentu benar karena sangat banyak pula orang-orang yang berpenampilan rapih dan berdasi tetapi berperilaku buruk. Riset menyatakan stereotip beroperasi secara emosional dan sering kali di bawah alam sadar, membuat sulit untuk dilawan dan diubah. Satu masalah dari stereotip adalah adanya generalisasi yang menyebar luas,
15 meskipun mungkin tidak mengandung kebenaran ketika diaplikasikan pada orang atau situasi tertentu. Kemudian, apakah hubungannya dengan persepsi dan kenapa itu penting? Jadi sebuah keputusan-keputusan dan kualitas penetapan akhir individual dalam suatu organisasi sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi perilaku individu didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan bukan pada kenyataan itu sendiri individu menilai orang lain menurut persepsi pribadi mereka. Terdapat pula beberapa aplikasi spesifik dari jalan pintas dalam organisasi : 1) Wawancara Kerja Riset membuktikan kita dapat membentuk kesan atas orang lain hanya dalam 10 detik, berdasarkan pandangan pertama. Riset baru mengindikasikan bahwa intuisi individual kita mengenai sebuah kandidat pekerjaan tidak dapat diandalkan dalam memprediksi kinerja, tetapi bahwa mengumpulkan semua masukan dari banyak elevator independen dapat menjadi lebih prediktif. Kebanyakan keputusan pewawancara berubah sangat sedikit sesudah 4 atau 5 menit pertama wawancara. Sebagai hasilnya, informasi yang diperoleh dari awal wawancara membawa bobot yang lebih besar dibandingkan informasi yang diperoleh sedudahnya. 2) Ekspetasi Kerja Istilah prediksi pemenuhan diri dan efek Pygmalion menjelaskan bagaimana perilaku seorang individu ditentukan oleh ekspektasi orang lain menjadi sebuah ekspektasi menjadi realita 3) Evaluasi Kerja Evaluasi kinerja sangat bergantung pada proses perceptual. Meskipun penilaian bisa jadi objektif, tetapi lebih banyak orang yang menilai secara subjektif. Hubungan antara persepsi dan pengambilan keputusan individu, Keputusan adalah pilihan-pilihan yang dibuat dari dua alternatif atau lebih.
16 Masalah adalah ketidak sesuaian antara perkara saat ini dan keadaan yang diinginkan. Pembuatan keputusan muncul sebagai reaksi atas sebuah masalah. Setiap keputusan membutuhkan interpretasi dan evaluasi informasi. Persepsi setiap pengambil keputusan tentu akan berbeda.interpretasi ini bersifat individual sehingga keputusan yang dihasilkan juga akan berbeda satu dengan yang lain
17 PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU DALAM ORGANISASI A. Pengambilan Keputusan Individual (Individual Decision Making) Pada umumnya suatu keputusan adalah bentuk respon terhadap sebuah masalah, oleh karena itu dibuatlah pengambilan keputusan dalam rangka untuk memberikan solusi atas suatu persoalan (problem solving). Dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, pengambilan keputusan (Decision Making) didefinisikan sebagai pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil. Menurut seeorang ahli, pengambilan keputusan merupakan suatu strategi yang sistematis atas suatu masalah yang dihadapi. (Siagan, 2006: 203), dimana hal ini melibatkan suatu tindakan rasional dan logis dalam menetapkan suatu keputusan, dalam tahapannya pengambilan keputusan ini melalui beberapa tahap yakni, identifikasi atau perumusan masalah, menciptakan beberapa solusi, menetapkan solusi, melaksanakan dan mengevaluasi kinerja solusi. BAB 2
18 Dari penjelasan diatas, dapat diartikan bahwa pengambilan keputusan adalah proses memutuskan dan menetapkan satu alternatif yang dianggap paling tepat dari beberapa alternatif yang dinyatakan. Menurut sifatnya, sebuah keputusan harus bersifat analitis, fleksibel, dan mudah dilaksanakan dengan dukungan sarana dan prasarana serta sumber daya yang tersedia baik berupa SDM maupun material. Tujuan dari keputusan itu sendiri ialah untuk mencapai suatu aktivitas tertentu atau target yang harus dilakukan. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusan adalah kegiatan menentukan suatu tindakan atau strategi yang memenuhi syarat, model, dan variabel, yang ditunjukan untuk menyelesaikan masalah. Pengambilan keputusan juga dapat dilihat dari sudut pandang yang melaksanakannya, dimana hal ini terbagi menjadi dua, yakni keputusan yang bersifat individual dan keputusan yang bersifat kelompok (Apriliani, 2015). Pengambilan keputusan individual adalah sebuah keputusan yang hanya dilandasi oleh seorang pemimpin individu organisasi, pemimpin ini berperan untuk menyimpulkan keputusan secara individu dengan berbagai pertimbangannya sendiri yang didasarkan atas pengalaman, intuisi, dan data yang dimilikinya. Konsep ini kadang dijumpai pada semua tingkatan dan semua bidang manajemen. Dimana istilah “keputusan” memiliki makna menyelesaikan, menentukan, dan mengatasi. Pengambilan keputusan individual merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pemimpin itu sendiri tanpa melibatkan orang lain dan bertanggung jawab atas dampak serta konsekuensi keputusan tersebut. Dalam hal ini, seorang individu didorong untuk mengkarakterisasi proses pengambilan keputusan dengan cara yang cerdas, dimana ketika pemimpin merasa kesulitan untuk memahami bagaimana kemungkinan hasil yang akan terwujud dalam kenyataan atau realitas. Oleh karena itu, berbagai teknik analisis digunakan untuk membantu proses dengan mengidentifikasi solusi potensial. Prosedur atau metode yang diambil untuk menemukan jawaban atas pertanyaan
19 “apa masalah yang dihadapi, mengapa masalah itu penting untuk dipecahkan, dan bagaimana memecahkan masalah itu” ditunjukkan oleh proses pengambilan keputusan. Manfaat dari pengambilan keputusan individu juga lebih terfokus dan didasarkan atas pertimbangan rasional dibandingkan dengan metode pengambilan keputusan dalam kelompok, selain itu metode ini lebih efisien karena dapat menghemat waktu, biaya, dan energi karena menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan rasional secara umum. Dalam prosesnya, pengambilan keputusan individual melibatkan pemikiran kritis, penilaian dan evaluasi informasi, serta pertimbangan dari beragam faktor sebelum akhirnya menetapkan sebuah keputusan. Individu yang membuat keputusan wajib mempertimbangkan berbagai faktor termasuk informasi, data, risiko, dan saran dari tim atau anggota yang relavan. Pengambilan keputusan individual dalam sebuah organisasi adalah suatu bagian yang penting dari perilaku organisasi, proses ini dapat dilakukan dengan beragam cara, baik secara sederhana, kompleks, atau terencana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapai. Akan tetapi, cara individu dalam mengambil keputusan dan kualitas pilihannya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai, pengetahuan, pengalaman individu dan persepsi mereka, seringkali selama dalam proses pengambilan keputusan, kesalahan perseptual sering kali muncul sehingga dapat merubah hasil analisis dan kesimpulan. B. Bagaimana Keputusan Dibuat Dalam Organisasi a) Rational Mode Model rasionalitas dalam pengambilan keputusan didalam organisasi adalah pendekatan dimana organisasi berupaya untuk membuat keputusan berdasarkan pada analisis data yang rasional, informasi yang lengkap, dan
20 tujuan yang jelas. Dalam konteks ini, rational mode memandang pengambil keputusan sebagai individu yang selalu konsisten dalam membuat pilihan alternatif atau solusi yang memberikan nilai kepuasan tertinggi, dengan tidak lupa mempertimbangkan batasan-batasan yang ada dalam situasi tertentu. Atas dasar ini, rational mode juga selalu menempatkan penetapan masalah dengan jelas dan objektif sebagai langkah awal proses pengambilan keputusan yang komprehensif. Berikut bebrapa tahapan dalam proses pengambilan keputusan model rasional : • Menetapkan Masalah • Identifikasi Kriteria Keputusan • Memberikan Penilaian Relatif Pada Kriteria • Membuat Berbagai Alternatif sekaligus Melakukan Evaluasi • Menetapkan Keputusan Terbaik Model rasional juga cenderung menggambarkan proses ini dalam warna “Hitam Putih” karena berdasarkan pada asumsi-asumsi tertentu dan ide pokok yang yang memperkirakan bahwa pengambil keputusan selalu bertindak secara optimal dalam mencapai tujuan mereka, sehingga model ini sering mengabaikan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. b) Bounded Rationality (Rasional yang Dibatasi) Dalam sebuah organisasi, Bounded Rationality merupakan konsep yang dikenalkan oleh Hebert A.Simon, yang menyatakan bahwa dalam pengambilan keputusan organisasi, individu dan kelompok organisasi memiliki keterbatasan dalam kapasitas mereka untuk memproses suatu infomasi yang relavan secara penuh, dan memilih pilihan alternatif yang benar-benar maksimal. Pengambil keputusan dalam model ini dipengaruhi oleh tingkat preferensi dan penilaian dari pengambil keputusan. Preferensi yang dimaksud seperti keinginan pribadi, nilai-nilai, preferensi pribadi, atau pengalaman sebelumnya, sedangkan penilaian dalam hal ini merujuk
21 pada sejauh mana pengambil keputusan menilai pentingnya setiap pilihan dalam mencapai tujuan atau kebutuhan mereka. Pilihan yang dinilai memiliki nilai yang lebih tinggi akan menjadi prioritas dalam proses pengambilan keputusan. Kombinasi dari dua faktor ini akan mempengaruhi bagaimana keputusan akhir dibuat, dengan pilihan yang lebih diinginkan dan bernilai lebih tinggi cenderung menjadi prioritas utama untuk ditetapkannya sebuh keputusan. Selain itu Bounded Rationality juga menggunakan pendekatan historis atau pemecahan masalah pada kejadian di masa lalu, dimana tindakan alternatif atau solusi yang dipakai menyelesaikan suatu masalah merupakan kumulatif dari apa yang telah diterapkan pada pengambilan keputusan sebelumnnya. Walaupun model ini berpeluang kecil dalam memproses sebuah informasi secara optimal, namun mereka seringkali berhasil membuat keputusan yang proporsional atau memadai untuk mencapai tujuan-tujuan mereka dalam situasi yang kompleks dan dinamis. c) Kreativitas Kreativitas pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi adalah kemampuan untuk menciptakan suatu ide-ide yang baru, inovasi, solusi yang kreatif dan bermanfaat dalam menghadapi suatu tantangan atau masalah tertentu. Kreativitas memungkinkan pembuat keputusan untuk menilai dan memahami suatu persoalan secara lebih mendalam, ini dapat melibatkan penggabungan ide dari berbagai biding atau sumber yang berbeda untuk menghasilkan solusi yang lebih efektif. Organisasi yang memprioritaskan kreativitas dalam pengambilan keputusan akan mendorong terciptanya budaya organisasi yang mendukung eksplorasi ideide baru, pengujian konsep, dan berbagi ilmu pengetahuan. Dengan adanya kreativitas, individu dan kelompok akan terlatih secara cakap dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang rumit dan memiliki
22 potensi risiko (Willam J. Gordon). Dalam pengambilan keputusan organisasi, kreativitas juga dapat menjadi sebuah alat yang sangat berharga untuk menghadapi berbagai tantangan atau hambatan, menemukan peluang baru, meningkatkan kualitas dan kuantitas keputusan dan beradaptasi dengan mudah pada perubahan yang cepat. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan di mana kreativitas diberdayakan dan dihargai agar organisasi dapat memanfaatkannya sepenuhnya dalam proses pengambilan keputusan mereka. Di era globalisasi dan modern, menuntut sebuah organisasi untuk bersaing dengan ketat, sehingga kreativitas sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan yang membantu kelangsungan hidup dan kemajuan kesejahteraan mereka. Kreativitas dalam pengambilan keputusan juga bermanfaat dalam menghasilkan sebuah inovasi atau pembaruan organisasi, teknologi baru, dan produk baru. d) Intuisi Sebuah proses pengambilan keputusan dengan pertimbangan tidak rasional, hal ini karena intuisi didasarkan pada pengalaman, insting, pengetahuan, perasaan, atau pemahaman yang muncul secara spontan, tanpa melibatkan analisis data yang rinci dan mendalam maupun pemikiran yang rasional. Dalam hal ini, intuisi berpeluang besar membuat pengambil keputusan untuk bertindak dengan cepat dalam situasi yang mudah berubah (darurat) dan membutuhkan respons cepat. Intuisi didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman yang luas yang dimilki individua tau organisasi dalam jangka waktu yang lama, dengan pengalaman tersebut, pengambil keputusan dapat mengandalkan mereka dalam membentuk suatu keputusan. Bagaimana untuk mengetahui model pengambilan keputusan kita? Masing-masing individu pasti mempunyai perbedaan terkait bagaimana
23 membuat sebuah keputusan. Covey (1989) menjelaskan berdasarkan hasil riset, salah satu sisi dari otak kita adalah tempat berkumpulnya imajinasi, kreativitas, intuisi, dan emosi sedangkan disatu sisi lainnya merupakan tempat berkumpulnya logika, analisi, dan bahasa. Hal inilah yang menjadi alasan atau pengaruh seseorang ketika bersikap. Perbandingan antara karakteristik pemikiran rasional dan intuitif sebagai berikut : TABEL PEMIKIRAN PEMIKIRAN RASIONAL DAN INTUISI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN Rasional Intusi Mengikuti proses logika. Berdasarkan perasaan Membuat keputusan melalui identifikasi dan definisi. Membuat keputusan secara lebih objektif Pilihan berkaitan dengan informasi yang relavan. Mereka bisa melakukan tes koin Alternatif keputusan dievaluasi sebelum menetapkan keputusan. Hanya berpikir tentang konsekuesi dari putusan setelah putusan itu dibuat Dalam konteks ini, intuisi juga selalu berperan dalam pengambilan keputusan yang inovatif dan kreatif. Keputusan yang revolusioner seringkali muncul dari penggunaan intuisi yang kuat. Namun kelemahannya intuisi tidak dapat selalu dijelaskan secara rasional, karena melibatkan pemahaman yang mendalam dan tidak dapat diartikulasikan secara jelas. Meskipun intuisi bisa menjadi sumber yang kuat dalam pengambilan keputusan, penting untuk menyadari bahwa intuisi tidak selamanya selalu dapat diandalkan, oleh karena itu lebih efektif kalau didukung bersama dengan pemikiran rasioanal dan analisis data, dengan menggabungkan intuisi dan informasi yang tersedia, pengambil keputusan
24 akan menghasilkan sebuah keputusan yang lebih terinformasi dan mencapai hasil yang lebih optimal. e) Identifikasi Masalah Identifikasi masalah adalah langkah pertama yang sangat penting untuk mempengaruhi hasil dari sebuah pengambilan keputusan di sebuah organisasi. Saat mengidentifikasi sebauh keputusan, kita harus menanyakan beberapa pertanyaan seperti : Apa masalah yang perlu dipecahkan? Apa tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keputusan ini? Bagaimana Anda akan mengukur kesuksesan? Semua pertanyaan ini adalah teknik penetapan tujuan umum yang akhirnya akan membantu sebuah organisasi mendapatkan solusi yang tepat. Kesalahan identifikasi masalah dapat mempengaruhi efektivitas pengambilan keputusan yang akan dibuat. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi masalah secara jelas dan tepat, termasuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi alasan yang mempengaruhi hasil keputusan. Setelah masalah sudah ditetapkan dengan jelas, sebuah organisasi akan berpeluang memiliki lebih banyak informasi untuk menghasilkan keputusan terbaik guna memecahkan masalah tersebut. Selanjutnya, kegiatan mengumpulkan informasi yang relevan, mencari solusi alternatif, dan mengevaluasi alternatif sebelum membuat keputusan akhir. Pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi dapat menghadapi berbagai masalah atau hambatan, tergantung pada situasi dan dinamika organisasi tersebut. Berikut beberapa masalah umum dalam pengambilan keputusan organisasi yang meliputi yakni: • Ketidakpastian dan Keterlambatan Dalam Pengambilan Keputusan • Bias dalam Pengambilan Keputusan yang Dapat Mengakibatkan Keputusan Menjadi Tidak Rasional atau Tidak Objektif. • Tidak Adanya Partisipasi dari Pemangku Kepentingan
25 • Ketidaksesuaian antara Keputusan dan Tujuan Organisasi sehingga Mengakibatkan Konflik • Kurangnya Data dan Analisis yang Relevan Sehingga Menjadi Kurang Efektif • Kurangnya Tanggung Jawab Sehinnga Mengakibatkan Kurangnya Akuntabilitas. • Kekurangan Sumber Daya dan Sarana Prasarana Sehingga Membuat Keputusan Kurang Maksimal. Berikut ada beberapa kategori kriteria evaluasi yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi masalah atau memutuskan rekomendasi untuk tindakan pengambilan keputusan, menurut Dunn yang telah membaginya kedalam enam kriteria seperti pada table berikut : TABEL KATEGORI KRITERIA EVALUASI Kriteria Esensi Efektivitas Apakah alternatif yang direkomendasikan memberikan hasil (dampak) yang maksimal. Efisiensi Apakah alternatif yang direkomendasikan menghasilkan hasil yang rasio efektivitas biayanya lebih tinggi dari batas tertentu (efisiensi marginal). Kecukupan (Adequacy) Seberapa jauh alternatif tersebut dapat memenuhi tingkat kebutuhan yang dipermasalahkan. Kesamaan (equity) Apakah alternatif yang direkomendasikan menghasilkan lebih banyak distribusi yang adil terhadap sumber yang ada dalam masyarakat. Responsivitas Seberapa jauh alternatif tersebut dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok masyarakat tertentu.
26 Kelayakan Apakah alternatif yang direkomendasikan merupakan pilihan yang layak. Sebagai salah satu bagian penting dari aktivitas melakukan analisis masalah adalah aktivitas melakukan penilaian dan evaluasi terhadap berbagai alternatif-alternatif kebijakan yang akan diberikan kepada pembuat keputusan. Dengan hasil identifikasi tersebut, akan menghasilkan informasi secara lebih menyeluruh terkait konsekuensi dari sertiap pilihan alternatif yang dapat dijadikan sebagai acuan dasar dalam pembuatan keputusan. Pengidentifikasian masalah dalam pengambilan keputusan adalah strategi penting untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Setelah masalah diidentifikasi, organisasi dapat mengambil tindakan untuk melakukan perbaikan pada proses pengambilan keputusan, sehingga hal ini dapat memajukan dan meningkatkan transparansi, melibatkan pemangku kepentingan, mengurangi ketidakadilan, dan memperbaiki akses terhadap data serta analisis yang responsif dan relevan. C. Pengembangan Masalah Dan Pembuatan Pilihan Pengembangan masalah adalah proses untuk menguraikan, memperjelas, atau memperluas suatu masalah atau topik tertentu agar menjadi lebih rinci dan terperinci. Hal ini dapat membantu dalam pemahaman yang lebih baik tentang masalah tersebut, mencari solusi yang lebih baik, atau menyusun rencana tindakan yang lebih efektif. Pengembangan bertujuan untuk mendapatkan data secara ilmiah, dan data ini digunakan untuk menghasilkan, mengembangkan dan memvalidasi produk. pengembangan dibangun sebagai dasar konstruksi model
27 dan teori, Masalah yang akan diselesaikan dalam pengembangan adalah masalah yang berkaitan dengan upaya inovatif atau usaha menerapkan teknologi pada kegiatan pembelajaran sebagai pertanggungjawaban profesional dan komitmen peneliti terhadap pemerolehan kualitas pembelajaran. perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan strategi yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan sumber masalah penelitian pengembangan (atau latar belakang mengapa sebuah penelitian pengembangan dilakukan) berasal dari perangkat pembelajaran yang kurang tepat. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian yang tujuannya adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian Pengembangan dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran yang akan melakukan penelitian.Yang dimaksud masalah pembelajaran dalam penelitian pengembangan yaitu masalah yang berkaitan dengan perangkat pembelajaran, seperti silabus, bahan ajar, media pembelajaran, tes untuk mengukur hasil belajar, dan sebagainya. Perangkat pembelajaran dianggap menjadi masalah karena belum ada, atau ada tetapi tidak memenuhi kebutuhan pembelajaran, atau ada tetapi perlu diperbaiki lagi. Tentunya tidak semua masalah perangkat pembelajaran akan diselesaikan sekaligus, satu masalah perangkat pembelajaran saja yang dipilih sebagai prioritas untuk diselesaikan lebih dulu. Masalah inilah yang diangkat sebagai dasar melaksanakan penelitian pengembangan. Ada beberapa langkah- dalam pengembangan masalah yaitu : 1. Identifikasi masalah : Identifikasikan masalah atau topik yang akan dikembangkan. Pastikan pemahaman yang jelas tentang masalah tersebut. 2. Penelitian : Lakukan penelitian tambahan untuk memahami lebih dalam tentang aspek-aspek yang terkait dengan masalah tersebut. Ini bisa melibatkan membaca literatur, wawancara, atau pengumpulan data.
28 3. Perinci Masalah : Deskripsikan masalah dengan lebih rinci, termasuk penyebab, dampak, dan konsekuensinya. Identifikasi faktor-faktor yang berperan dalam masalah tersebut. 4. Pertimbangkan Alternatif : memikirkan tentang berbagai alternatif dan solusi yang mungkin untuk mengatasi masalah tersebut. 5. Evaluasi Dampak : Pertimbangkan dampak yang mungkin dari berbagai alternatif yang telah diidentifikasi. Robbins mengemukakan bahwa pengambilan keputusan merupakan usaha membuat pilihan-pilihan.Setelah mengembangkan dan mengevaluasi paling sedikitnya dua alternatif, pengambil keputusan memilih alternatif yang disukai. Dilihat dari pandangan organisasi pembuatan pilihan hanya merupakan salah satu langkah dari proses yang lebih luas. D. Gaya pengambilan keputusan individual Pengambilan keputusan yaitu tindakan pilihan alernatif yang berkaitan dengan fungsi manajemen, misalnya merencanakan, mengelola. pembuat keputusan cenderung mempunyai lebih dari satu gaya dominan. Pada umumnya, manajer mengandalkan dua atau tiga gaya keputusan, dan hal ini akan bervariasi menurut pekerjaan, tingkat kerja, dan budaya. Gaya tersebut dapat digunakan untuk menentukan kekuatan dlan kelemahan pembuat keputusan. Misalnya, pembuat keputusan analitis membuat keputusan yang cepat, tetapi mereka juga cenderung otokrat dalam cara melakukan sesuatu. Sama halnya, pembuat keputusan konseptual bersifat inovatif dan berani mengambil risiko, tetapi mereka sering tidak tegas. Gaya ini membantu menjelaskan mengapa manajer yang berbeda membuat keputusan yang berbeda setelah mengevaluasi informasi yang sama. Secara keseluruhan, analisis gaya pembuat keputusan berguna dalam
29 memberikan pemikiran mengenai bagaimana menghadapi berbagai gaya pengambilan keputusan. Keputusan individual merupakan keputusan yang diambil untuk kepentingan diri sendiri dan dilakukan secara perorangan. pengambilan keputusan individu membantu pengambilan keputusan dalam organisasi saat ini, maka pemahaman dinamika kelompok dan tim, menjadi relevan dengan pengambilan keputusan, sebagai contoh, pembahasan masalah dan fenomena kesesuaian nilai dan etika kelompok seperti perubahan risiko (bahwa kelompok mungkin membuat keputusan lebih berisiko daripada anggota individu) membantu seseorang memahami kompleksitas pengambilan keputusan kelompok dengan lebih baik, Seseorang akan membutuhkan kemampuannya dalam berpikir, menggunakan gaya pemecahan masalah, serta gaya pengambilan keputusan untuk menghadapi tuntutan yang dihadapi saat bekerja. Selain itu, terdapat aspek psikologis yang dapat membantu individu dalam menunjang pekerjaannya. Salah satu aspek psikologis yang dapat mendukung seseorang dalam menjalankan karirnya adalah aspek kepribadian. Kepribadian adalah organisasi dinamik dari sistem-sistem psikologis dalam individu yang menentukan kemampuan seseorang untuk beradaptasi secara unik dengan lingkungannya (Robbins & Judge, 2013). Gaya berpikir merupakan pilihan cara berpikir, bagaimana individu menggunakan potensi yang ia miliki dan ara-cara yang dipilih individu untuk memproses informasi dan mengurus tugas- tugasnya. Dan Setelah individu dapat menghasilkan alternatif solusi untuk menangani masalah, strategi selanjutnya yaitu menentukan pilihan atas alternatif solusi tersebut lalu kemudian melakukan tindakan. Dengan demikian, pemecahan masalah berkaitan juga dengan pengambilan keputusan. Sejalan dengan hasil dari penelitian yang dilakukan Galloti dkk (2006) yang menyatakan perbedaan gaya berpikir pada individu mempengaruhi cara individu melakukan proses pengambilan keputusan. Sehingga seseorang dengan tipe gaya berpikir tertentu cenderung memilki tipe gaya pengambilan keputusan sesuai gaya berpikirnya. Tipe gaya berpikir yang
30 memberikan kontribusi terbesar pada penelitian ini adalah Abstract Sequential (AS) terhadap tipe gaya pengambilan keputusan Rasional (Ras). Ada beberapa gaya dalam pengambilan keputusan yaitu : a) Langsung Pengambil keputusan yang cepat,orang yang memiliki karakter ini tidak ingin membuang waktu dalam melakukan analisis pilihan yang ada dan segera mengambil tindakan yang runtut. Pengambilan keputusan didasarkan kepada pengalaman, sehingga akan sangat mudah menghadapi situasi yang berulang, tetapi cenderung mengalami kesulitan dalam menentukan keputusan untuk situasi baru yang belum pernah dihadapi. b) Analitis Pengambil keputusan yang sangat berhati-hati, dan khawatir membuat keputusan yang salah karena tergesa-gesa dan merasa tidak nyaman apabila harus mengambil keputusan segera. Data dan informasi adalah hal yang penting sebagai pertimbangan pengambilan keputusan. Karena harus mempertimbangkan dan menganalisis semua informasi untuk setiap pilihan sebelum memutuskan c) Konseptual Pengambil keputusan yang terbuka dengan cara-cara baru dan berani menghadapi risiko, memiliki visi untuk mengambil keputusan jangka panjang, tetapi kurang cepat dalam menentukan rencana tindakan jangka pendek yang harus segera diterapkan. Orang dengan gaya ini memiliki ideide yang original dan berbeda. d) Perilaku Pengambil keputusan yang mempedulikan dampaknya terhadap orang lain, seseorang dengan gaya ini memperhatikan kepentingan kelompok yang dianggap lebih utama daripada kepentingan pribadi, sehingga berusaha keras untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan semua pihak. Oleh
31 karena itu, mereka merasa selalu membutuhkan masukan dan saran dari orang lain terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
32 HAMBATAN BUDAYA DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN A. Hambatan dan perbedaan budaya dalam konteks persepsi dan pengambilan keputusan a. Hambatan dan persepsi dalam proses pengambilan keputusan Persepsi diri dan pengambilan keputusan, adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Persepsi merupakan sebuah pemahaman individu dalam menentukan, menilai maupun mengartikan sesuatu berdasar informasi yang diterima, sedangkan keputusan adalah sebuah akhir dari proses berpikir. Sesuai peran masing-masing, persepsi diri sebagai satu-satunya faktor penting dalam penilaian, pemahaman serta penyeleksian untuk membentuk sebuah konsep pikir positif maupun negatif, guna memperoleh hasil atau efek yang akan berpengaruh bagi seseorang dalam mempertimbangkan tujuan studi. Sedangkan pengambilan keputusan, merupakan tahap akhir untuk menentukan apa yang menjadi prioritas penting yang harus dilakukan, atau tidak boleh dilakukan. Hambatan persepsi dapat menimbulkan perselisihan yang signifikan bagi individu minoritas baik di dalam maupun di luar tempat kerja. Individu yang berurusan dengan disabilitas, misalnya, sering kali dihadapkan pada tantangan BAB 3
33 ketika memutuskan apakah akan memanfaatkan peluang yang lebih tersedia bagi masyarakat. Bentuk-bentuk aksesibilitas dasar dapat diakses di sebagian besar organisasi jika diperlukan (seperti jalur landai, interpretasi bahasa isyarat, kamar mandi yang ramah kursi roda), hal ini berupaya untuk menentukan apakah organisasi-organisasi ini menyadari hambatan sikap dan kebutuhan sosial dari pendukung penyandang disabilitas mereka. Hambatan ini adalah akibat dari jenis bias kognitif tertentu, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola respons kita yang sistematis namun tidak konsisten terhadap masalah penilaian dan pengambilan keputusan, gagal memahami orang lain secara kompeten berdasarkan prasangka tersebut, menciptakan filter terhadap cara untuk menafsirkan informasi dan menyampaikannya dalam percakapan. Mencari kejelasan adalah salah satu taktik bermanfaat yang dapat meminimalkan dampak buruk dari hambatan persepsi. Jika Anda tidak memahami ekspektasi atau preferensi orang lain dalam suatu interaksi, kebingungan dapat muncul dan memicu bias persepsi kita. Kunci untuk mengatasi ketidakjelasan adalah mengajukan pertanyaan untuk memastikan bahwa Anda dan orang lain mempunyai pemikiran yang sama. Gagasan tentang bias kognitif diperkenalkan oleh psikolog Amos Tversky dan Daniel Kahneman pada tahun 1970an, dan sejak itu berkembang secara eksponensial untuk merangkum lusinan bentuk bias yang lebih spesifik. Lima bias kognitif yang paling berkontribusi terhadap hambatan persepsi meliputi: 1. Stereotip Stereotip ini dapat menimbulkan hambatan dalam persepsiGeneralisasi yang tersebar luas tentang orang dapat memengaruhi kita untuk memberikan atribut pada seseorang hanya berdasarkan kategori yang kita anggap. Kemungkinan besar terjadi ketika kita bertemu orang baru, stereotip dapat mengubah kesan pertama kita terhadap karakter seseorang berdasarkan atribut yang tidak terkait seperti jenis kelamin, ras, atau usia. Terhadap karyawan yang lebih tua dalam suatu organisasi
34 menjelaskan bahwa mereka dianggap lebih menantang terhadap perubahan organisasi, kurang kreatif atau cenderung mengambil risiko yang sudah diperhitungkan, memiliki peringkat kapasitas fisik yang lebih buruk, dan kurang tertarik serta kurang mampu mempelajari teknik-teknik baru. 2. Efek halo Efek halo adalah pendorong umum lainnya terhadap hambatan persepsi, ini pertama kali diamati oleh psikolog Amerika Edward Thorndike dan dijelaskan dalam artikelnya tahun 1920, A Constant Error in Psychological Ratings . Dalam studinya tentang sistem peringkat militer AS, para perwira diminta untuk memberi peringkat pada bawahannya berdasarkan karakter. Thorndike menemukan bahwa penampilan fisik bawahan sangat berkorelasi pentingdengan evaluasi sifat-sifat seperti kecerdasan, kompetensi, dan keterampilan. Efek halo disebut suatu bentuk bias kognitif yang terjadi ketika kita memindahkan perasaan kita tentang satu sifat karakter seseorang ke sifat lain, yang seringkali tidak berhubungan. 3. Partisipasi selektif Partisipasi selektif yaitu memberikan perhatian pada informasi yang mendukung ide-ide dan mengabaikan informasi lainnya. Jika seseorang memiliki masalah dengan atasannya,, partisipasi selektif mungkin hanya melibatkan penilaian terhadap ciri-ciri kepribadian negatifnya dan mengabaikan kualitas baik apa pun yang tidak sesuai dengan keyakinan sebelumnya tentang orang tersebut. Partisipasi selektif juga tercermin dalam pertahanan persepsi, mekanisme pertahanan kita terhadap gagasan dan konsepsi yang mengancam sistem kepercayaan kita. contoh dari kecenderungan ini sepertiseorang perokok yang mengalihkan atau mengabaikanperhatiannya dari peringatan efek berbahaya pada kemasan rokok. 4. Proyeksi
35 Bias Proyeksi inimenganggap dirinya sangat tipikal dan normal, dan berasumsi bahwa sebuah konsensus hanya ada pada hal-hal di mana mungkin tidak terdapat konsensus. Lebih dari itu, bias ini juga bisa menciptakan efek di mana para anggota sebuah kelompok radikal atau kelompok pinggiran berasumsi bahwa ada lebih banyak orang di luar kelompok mereka yang setuju dengan mereka dalam hal tersebut. Atau adanya kepercayaan diri yang berlebihan yang dimiliki seseorang contohnya ketika dia memprediksi pemenang pemilu atau pertandingan olahraga. Sebagai individual yang setiap saat terjebak di dalam pikiran sendiri, sering kali sulit bagi untuk memproyeksikan diri di luar lingkungan kesadaran dan preferensi dirinya sendiri. Dancenderung berasumsi bahwa kebanyakan orang berpikir sama dengan kita meski tidak ada justifikasi tentang itu. 5. Ekspektasi Bias ekspektasi adalah fenomena di mana ekspektasi masyarakat terhadap hasil suatu peristiwa atau eksperimen dapat memengaruhi hasil peristiwa atau eksperimen tersebut. Hal ini dapat terjadi ketika ekspektasi masyarakat terhadap hasil mempengaruhi cara mereka memandang atau menafsirkan informasi yang disajikan kepada mereka. Bias ekspektasi adalah jenis bias kognitif yang terjadi ketika perekrut atau manajer perekrutan memiliki prasangka atau ekspektasi terhadap kandidat atau kelompok kandidat tertentu, yang dapat memengaruhi proses evaluasi dan seleksi mereka, Bias ekspektasi dapat terjadi dalam berbagai konteks, termasuk studi penelitian, penilaian klinis, dan interaksi antarpribadi. Hal ini dapat menyebabkan penafsiran informasi, penilaian yang tidak akurat, dan pelestarian stereotip dan prasangka. Untuk mengurangi dampak bias ekspektasi, penting untuk tetap berpikiran terbuka, tidak memihak, dan obyektif, serta mendasarkan evaluasi dan penilaian pada kriteria dan bukti yang obyektif, bukan prasangka atau bias.
36 Salah satu bagian dari menyadari hambatan persepsi adalah dengan merefleksikan perilaku kita sendiri. Teori Persepsi Diri menjelaskan bagaimana kita menjadi sadar akan kecenderungan dan sikap tertentu dengan mengamati perilaku kita sendiri b. Perbedaan budaya dalam persepsi pengambilan keputusan Budaya organisasi dibentuk oleh sejarah panjang, sejak didirikan, mengalami transisi, hingga menjadi organisasi stabil dan berkembang pesat. Perjalanan tersebut menyebabkan anggota organisasi menyadari faktor-faktor penting yang menopang keberlangsungan lembaga mereka. Nilai-nilai dasar dianggap sesuatu yang sangat prinsip karena menyangkut keyakinan, asumsiasumsi dasar yang telah mereka hayati selama bergelut di organisasi. Misalnya nilai tentang "kerja keras" dan "keunggulan" menyebabkan sebuah organisasi mengarahkan seluruh fokusnya pada kerja keras untuk meraih keunggulan. Pada akhirnya melahirkan jejak-jejak dalam bentuk prestasi, produk, dan layanan berkualitas. Pengambilan keputusan merupakan salah satu aspek yang dipengaruhi oleh budaya organisasi. Mengambil keputusan berarti memilih yang terbaik dari deretan alternatif yang tersedia. Fungsi budaya organisasi dalam pengambilan keputusan adalah sebagai pedoman dan pemberi arah. Setiap alternatif dianalisis dengan menggunakan cara pandang budaya organisasi yang dianut masing- masing organisasi. Dapat dibayangkan jika pengambilan keputusan tidak sejalan dengan semangat organisasi, maka keputusan tersebut mengarah kepada pembangkrutan organisasi tersebut. Perbedaan lintas budaya yang mendasari pengambilan keputusan dapat menjadi faktor yang berkontribusi besar terhadap efisiensi komunikasi lintas budaya, negosiasi, dan penyelesaian konflik. Di dalam pengambilan keputusan, budaya organisasi dapat mempengaruhi hasil dari pengambilan keputusan tersebut, dikarenakan nilai, cara bertindak dan berpikir dari pengambil keputusan
37 mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Dengan adanya budaya organisasi yang baik maka persepsi terhadap suatu persoalan dari anggota organisasi yang berpartisipasi dalam pengambilan keputusan akan tidak bertentangan (quasi searah), sehingga proses pengambilan keputusan akan lebih lancar, tanpa konflik dan perbedaan pendapat yang besar dan rumit. Persepsi pengambilan keputusan dapat dipengaruhi secara signifikan oleh perbedaan budaya. perbedaan utama dalam persepsi pengambilan keputusan antara budaya-budaya yang berbeda seperti : 1. Pengaruh individualisme dengan kollektivisme 2. Tingkat kepentingan hierarki 3. Sikap terhadap resiko 4. Gaya komunikasi 5. Pengaruh budaya tradisional Perbedaan ini hanyalah contoh umum, setiap individu dalam budaya tertentu memiliki preferensi dan pendekatan yang unik terhadap pengambilan keputusan. Penting untuk memahami perbedaan budaya ini dalam konteks bisnis internasional, diplomasi, dan interaksi lintas budaya agar pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan menghormati nilai-nilai budaya yang berbeda. B. Etika Dalam Pengambilan Keputusan Pada pengertian yang paling dasar, etika adalah sistem nilai pribadi yang digunakan memutuskan apa yang benar atau apa yang paling tepat dalam suatu situasi tertentu untuk memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang ada dalam organisasi dan diri pribadi. Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos atau taetha yang berarti tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan atau adat istiadat. Seorang filsuf Yunani Aristoteles menjelaskan bahwa etika digunakan
38 untuk menunjukkan filsafat moral yang menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan kebajikan dan suara hati. Etika juga diartikan pula sebagai filsafat moral yang berkaitan dengan studi tentang tindakan-tindakan baik ataupun buruk manusia di dalam mencapai kebahagiaannya. Apa yang dibicarakan di dalam etika adalah tindakan manusia, yaitu tentang kualitas baik (suatu tindakan yang harus dilakukan) atau buruk (suatu tindakan yang harus dihindari) atau nilai-nilai tindakan manusia untuk mencapai kebahagiaan serta tentang kearifannya dalam bertindak. a) Pertimbangan Etika dan Perilaku Organisasi Pertimbangan yang dilakuakn seorang manajer dalam membuat keputusan internal. Keputusan tidak lengkap tanpa membahas etika dalam ruang lingkupnya Perilaku pengorganisasian. Disiplin perilaku organisasi adalah “panduan” Cara yang baik untuk memahami dan meningkatkan peran etika dalam Organisasi, dalam pengambilan keputusan. Jika pemahamannya benar Dicapai melalui disiplin ini, maka perilaku tidak etis dalam diri Pengambilan keputusan dapat dihindari. b) Etika atau nilai. Etika adalah suatu sistem standar yang juga merupakan suatu cara memandang sesuatu standar dan nilai moral tertentu. Etika adalah sebuah mata pelajaran yang melibatkan diskusi tentang etika dan pilihan. Diskusi penelitian melibatkan dua sisi dikotomi yang berkaitan dengan baik, buruk, sejumlah hitam dan putih. Penelitian tentang moralitas ini mempunyai batasan yang tegas terhadap klasifikasi suatu tindakan. Implikasi moral akan selalu ada timbul dari setiap keputusan yang diambil. Berdasarkan argumen rasional atau rasionalitas terbatas, jenis keputusan dan semua pertanyaan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, memberikan tujuan akhir untuk menciptakan pandangan yang stabil mengenai pentingnya hal tersebut.
39 Berikut konsep kriteria etika dalam penelitian pengambilan keputusan yang etis berdasarkan pandangan disiplin manajemen dan perilaku organisasi : a) Pendekatan bermanfaat Pendekatan bermanfaat (utilitarian approach), yang dudukung oleh filsafat abad kesembilan belas ,pendekatan bermanfaat itu sendiri adalah konsep tentang etika bahwa perilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar. b) Pendekatan individualisme Pendekatan individualisme adalah konsep tentang etika bahwa suatu tindakan dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang seorang indivudu. c) Konsep tentang etika bahwa keputusan yang dengan sangat baik menjaga hak-hak yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. • hak persetujuan bebas. Individu akan diperlakukan hanya jika individu tersebut secara sadar dan tidak terpaksa setuju untuk diperlakukan. • hak atas privasi. Individu dapat memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan di luar pekerjaanya. • hak kebebasan hati nurani. Individu dapat menahan diri dari memberikan perintah yang melanggar moral dan norma agamanya. • hak untuk bebas berpendapat. Individu dapat secara benar mengkritik etika atau legalitas tindakan yang dilakukan orang lain. • hak atas proses hak. Individu berhak untuk berbicara tanpa berat sebelah dan berhak atas perlakuan yang adil. • hak atas hidup dan keamanan. Individu berhak untuk hidup tanpa bahaya dan ancaman terhadap kesehatan dan keamananya. Pertimbangan etika dari pengambil keputusan dari “mazhab pemikiran” membuat keputusan pola pikir yang benar didasarkan pada kesadaran akan nilai
40 yang selalu menghasilkan keuntungan. Dan hal ini masih berlaku hingga saat ini untuk banyak praktik bisnis. Kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi pemegang saham. Pengambil keputusan dan masukan ide etika terhadap proses pengambilan keputusan, dan berdasarkan konsep akal sehat dan bentuk terstruktur maupun tidak terstruktur, tergantung evaluasi etis yang didasarkan pada sejumlah kriteria berikut : • Tidak mungkin hanya menentukan nilai-nilai moral tertentu Jika diartikan secara harfiah, tidak ada satupun yang terbaik yang dapat digunakan karena pengambilan keputusan etis akan terpengaruh pada lingkungan eksternal organisasi. • Adaptasi dan perubahan lingkungan Dengan cepat mempengaruhi penerapan kriteria apa pun, pengambil keputusan dapat menggabungkan prinsip-prinsip etika untuk mengambil keputusan keputusan. Semua proses ini membantu para pengambil keputusan dalam menganalisis solusi alternatif, tindakan dan hasilnya. Sejak proses tersebut pengambilan keputusan didukung dengan penggunaan beberapa metode kriteria penting. Pengambil keputusan harus mempertimbangkan standar etika yang sesuai yang digunakan dalam situasi tertentu. Strategi etis yang tidak menguntungkan secara rata-rata, namun akan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang dihadapi.
41 Penutup KESIMPULAN Persepsi menjelaskan cara kita menginterpretasikan dan memahami informasi yang diterima melalui panca indera. Sedangkan pengambilan keputusan individual proses di mana individu memilih tindakan atau pilihan tertentu berdasarkan persepsi dan penilaian mereka terhadap situasi. Pengambilan keputusan individual juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pengalaman pribadi, budaya, nilai-nilai dan emosi., individu juga dapat menggunakan pendekatan rasional atau emosional dalam mengambil keputusan, seperti keputusan rasional yang didasarkan pada analisis dan pemikiran logis, sedangkan keputusan emosional didasarkan pada perasaan dan emosi. Persepsi dan pengambilan keputusan individual dapat saling mempengaruhi. Sebagai contohnya seperti persepsi individu tentang situasi atau masalah tertentu dapat mempengaruhi pengambilan keputusan mereka. Begitu pula, keputusan individu dapat mempengaruhi persepsi mereka di masa depan. pemahaman tentang persepsi dan pengambilan keputusan individual sangat penting, Pemasar dapat menggunakan pengetahuan ini untuk mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk atau merek tertentu, sehingga mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli atau tidak membeli produk tersebut. Selain itu, pemimpin organisasi juga harus memahami bagaimana individu dalam organisasi mereka menginterpretasikan informasi dan mengambil keputusan, sehingga mereka dapat mempengaruhi dan memotivasi individu tersebut.
42 SARAN Harus Mempertimbangkan emosi karna emosi juga dapat mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan. Maka dari itu, penting untuk mempertimbangkan emosi yang mungkin muncul dan bagaimana emosi tersebut dapat mempengaruhi keputusan. Pengenalan emosi diri dan pengelolaan emosi yang efektif akan membantu dalam membuat keputusan yang lebih bijak. Persepsidan pengambilan keputusan individual ini dapat bervariasi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Maka penting untuk memahami bahwa setiap individu memiliki persepsi, nilai-nilai, dan keputusan yang unik.
43 DAFTAR PUSTAKA Astuti, E. D. (2021). Berpikir Kritis Mahasiswa dalam Mata Kuliah Teknik Pengambilan Keputusan. Seminar Nasional Ilmu Sosial dan Ilmu Teknologi, 40– 44. Hayati, F., Zulvira, R., & Gistituati, N. (2021). Hayati, F., Zulvira, R., & Gistituati, N. (2021). Lembaga pendidikan: kebijakan dan pengambilan keputusan. JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), 6(1), 100. Kusnadi, D. (2015). Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.15 No.2 Tahun 2015 PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERILAKU ORGANISASI Dedek Kusnadi 1. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 15(2), 52–62. Mahanum. (2021). Pengambilan Keputusan Dan Perencanaan Kebijakan. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pendidikan , Vol 6(Vol 6, No 1 (2021)), 154–163. Mukrimaa, S. S., Nurdyansyah, Fahyuni, E. F., YULIA CITRA, A., Schulz, N. D., د, غسان ,.Taniredja, T., Faridli, E. Miftah., & Harmianto, S. (2016). Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 6(August), 128. Rohmatul Fitri. (2014). Pengambilan keputusan aborsi. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 6(1), 32–42. Saverus. (2019). Dalam Jurnal Kajian Pendidikan Ekonomi dan Ilmu Ekonomi (Vol. 2, Nomor 1). WUlandari, U., & Afriansyah, H. (2019). Teknik Pengambilan Keputusan. Universitah Negeri Padang. Yuli, L. (2019). Konsep Pengambilan Keputusan. Research Gate, 1(1), 172–186. Akbar, R. F. (2015). Analisis Persepsi Pelajar Tingkat Menengah Pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10(1), 189–210.
44 Akhmad, A. D., Satibi, & Puspandari, D. A. (2015). Analisis Persepsi Dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap Penerapan Sistem Pembiayaan JKN Pada Fasilitas Analisis of PA PERCEPTION AND FACTORS AFFECTING THE PERCEPTION ON IMPLEMENTATION OF JKN PAYMENT SYSTEM IN HEALTH FACILITIES FUNDING. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi, 5(4), 267–274. Fuady, I., Arifin, H., & Kuswarno, E. (2017). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Mahasiswa Untirta Terhadap Keberadaan Perda Syariah Di Kota SerangFactor Analysis That Effect University Student Perception in Untirta About Existence of Region Regulation in Serang City. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik, 21(1), 88–101. Sumarandak, M. E. N., Tungka, A. E., Egam, P. P., Arsitektur, J., Ratulangi, U. S., Arsitektur, J., & Ratulangi, U. S. (2021). God bless park. 8(2). Supartha, W. gede, & Sintaasih, D. K. (2017). Pengantar perilaku Organisasi; Teori, kasus dan Aplikasi penelitian. Dalam Universitaa Udayana. Tarigan, M., Luluatnul, L., Maulida, T., & Wulandari, A. (2019). Kepribadian, Gaya Berpikir, Gaya Pemecahan Masalah, Dan Gaya Pengambilan Keputusan. Proyeksi: Jurnal Psikologi, 14(2), 126-138. Kusnadi, D. (2017). Pengambilan keputusan dalam perilaku organisasi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 15(2), 52-62. Rossallina, L., & Salim, R. A. (2019). Perilaku eksplorasi karier, dukungan sosial dan keyakinan dalam pengambilan keputusan. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 8 (2), 224-239 Giantara, M. S., & Santoso, J. (2014). Pengaruh Budaya, Sub Budaya, Kelas Sosial, Dan Persepsi Kualitas Terhadap Perilaku Keputusan Pembelian Kue Tradisional
45 Oleh Mahasiswa Di Surabaya. Jurnal Hospitality dan manajemen jasa, 2 (1), 111-126. Hayati, F., Zulvira, R., & Gistituati, N. (2021). Lembaga pendidikan: kebijakan dan pengambilan keputusan. Khomsiatun, S., & Retnawati, H. (2015). Pengembangan perangkat pembelajaran dengan penemuan terbimbing untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 2(1), 92-106. Adriana, P. 2013. Faktor Individu dan Faktor Situasional: Determinan Pembuatan Keputusan Etis Konsultan Pajak. El Muhasaba Jurnal Akuntansi, 4(2), 1–24. Ajzen, icek. 1991. The Theory Of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes Arrazaqu Arestanti, M., Herawati, N., & Rahmawati, E. 2016. Faktor-Faktor Internal Individual dalam Pembuatan Keputusan Etis: Studi pada Konsultan Pajak di Kota Surabaya. Jurnal Akuntansi Dan Investasi, 17(2), 104–117. Ajzen, icek. 2005. Attitudes, Personality, and Behavior.