ASESMEN
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan dan Telaah
Kurikulum Sekolah
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Sunardi, M.Pd.
Saddam Hussen, S.Pd., M.Pd.
Disusun oleh: Kelas C
Kelompok 6
Kanshi Adelya (190210101017)
Inayah Wulandari (190210101061)
Hestining Daniaty (190210101075)
Day Jelvi Nurwika Gulo (210210101147)
Rini Rufina Sembiring ( 210210101176)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, atas terselesaikannya tugas
makalah yang berjudul “Asesmen”. Terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
Pengembangan dan Telaah Kurikulum Sekolah, yaitu Prof. Dr. Sunardi, M.Pd. dan Bapak
Saddam Hussen, S.Pd., M.Pd. serta teman – teman yang sudah ikut berpartisipasi dalam
penyelesaian makalah ini. Kami mohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca,
karena makalah ini masih banyak kekurangannya. Kami berharap makalah ini dapat
menambah pengetahuan pembaca.
Jember, 6 September 2021
Kelompok 6
2
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL....................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR.................................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................................. 3
BAB 1 PENDAHULUAN...................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 4
1.3 Tujuan ................................................................................................... 5
BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................................ 6
2.1 Pengertian Asesmen .............................................................................. 6
2.2 Tujuan Asesmen.................................................................................... 8
2.3 Jenis – Jenis Asesmen ........................................................................... 9
2.4 Fungsi Asesmen .................................................................................... 10
2.5 Aspek Asesmen Kurikulum 2013 ......................................................... 11
2.6 Penerapan Asesmen Kurikulum 2013................................................... 13
BAB 3 PENUTUP.................................................................................................. 18
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 18
BAB 4 DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 19
3
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pembelajaran di kelas diawali dengan merancang kegiatan pembelajaran.
Salah satu aspek yang harus ada dalam perencanaan tersebut adalah tujuan pengajaran
sebagai target yang diharapkan dari proses belajar mengajar dan cara bagaimana tujuan
dan proses belajar mengajar tersebut dapat dicapai dengan efektif. Kemudian
berdasarkan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan dilaksanakan kegiatan
pembelajaran.
Dalam pelaksanaan pembelajaran selalu muncul pertanyaan,
apakah kegiatan pengajaran telah sesuai dengan tujuan, apakah siswa telah dapat
menguasai materi yang disampaikan, dan apakah proses pembelajaran telah mampu
membelajarkan siswa secara efektif dan efisien. Untuk menjawab pertanyaan tersebut
perlu dilakukan asesmen pembelajaran. Asesmen pembelajaran merupakan bagian
integral dari keseluruhan proses pembelajaran, sehingga kegiatan asesmen harus
dilakukan pengajar sepanjang rentang waktu berlangsungnya proses pembelajaran.
Itulah sebabnya, kemampuan untuk melakukan asesmen merupakan
kemampuan yang dipersyaratkan bagi setiap tenaga pengajar. Hal ini terbukti bahwa
dalam semua referensi yang berkaitan dengan tugas pembelajaran, selalu ditekankan
pentingnya kemampuan melakukan asesmen bagi guru dan kemampuan ini selalu
menjadi salah satu indikator kualitas kompetensi guru. Untuk menghindari kesalahan
persepsi dan agar guru dapat mempersipkan dan melakukan asesmen dengan benar
perlu dijelaskan tentang pengertian, tujuan, jenis-jenis, fungsi, aspek apa saja yang
perlu diperhatikan, dan bagaimana penerapan asesmen di masa saat ini.
1.2 Rumusan Makalah
1. Apa pengertian dari asesmen?
2. Apa tujuan dari asesmen?
3. Apa saja jenis – jenis dari asesmen?
4. Apa fungsi dari asesmen?
5. Apa saja aspek asesmen kurikulum 2013?
6. Bagaimana penerapan asesmen kurikulum 2013 sebelum dan sesudah pandemi?
4
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari asesmen
2. Untuk mengetahui tujuan dari asesmen
3. Untuk mengetahui jenis – jenis dari asesmen
4. Untuk mengetahui fungsi dari asesmen
5. Untuk mengetahui apa saja aspek asesmen kurikulum 2013
6. Untuk mengetahui bagaimana penerapan asesmen kurikulum 2013 sebelum dan
sesudah pandemi
5
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Asesmen
Assessment berasal dari bahasa Inggris yang diserap menjadi asesmen dalam
bahasa Indonesia. Arti assessment dalam bahasa Indonesia adalah penilaian. Secara
lengkap dijelaskan dalam KBBI bahwa asesmen merupakan kegiatan untuk
mengumpulkan dan menganalisis data kemudian diinterpretasikan. Secara umum,
asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan
informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan
keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program
pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. Keputusan
tentang siswa ini termasuk bagaimana guru mengelola pembelajaran di kelas,
bagaimana guru menempatkan siswa pada program- program pembelajaran yang
berbeda, tingkatan tugas-tugas untuk siswa yang sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhan masing-masing, bimbingan dan penyuluhan, dan saran untuk studi lanjut.
Dalam pelaksanaan asesmen pembelajaran, guru akan dihadapkan pada 3
(tiga) istilah yaitu pengukuran, evaluasi, dan test. Berikut ini perbedaan pengertian dan
hubungan di antara ketiga istilah tersebut, dan bagaimana penggunaannya dalam
asesmen pembelajaran :
Pengukuran
Pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk memberikan angka-
angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan
selalu berupa angka. Dalam proses pembelajaran guru juga melakukan pengukuran
terhadap proses dan hasil belajar yang hasilnya berupa angka-angka yang
mencerminkan capaian proses dan hasil belajar tersebut. Angka yang diperoleh tersebut
bersifat kuantitatif dan belum dapat memberikan makna, karena belum menyatakan
tingkat kualitas dari apa yang diukur. Angka hasil pengukuran ini biasa disebut dengan
skor mentah, akan mempunyai makna apabila dibandingkan dengan kriteria atau
patokan tertentu.
Evaluasi
Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil
pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan
kriteria tertentu. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran
6
tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula ditetapkan
sesudah pelaksanaan pengukuran. Kriteria ini dapat berupa proses/kemampuan
minimal yang dipersyaratkan, atau batas keberhasilan, dapat pula berupa kemampuan
rata-rata unjuk kerja kelompok dan berbagai patokan yang lain. Kriteria yang berupa
batas kriteria minimal yang telah ditetapkan sebelum pengukuran dan bersifat mutlak
disebut dengan Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acua Kriteria (PAP/PAK),
sedang kriteria yang ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan dan didasarkan
pada keadaan kelompok dan bersifat relatif disebut dengan Penialain Acuan Norma/
Penilaian Acuan Relatif (PAN/PAR).
Tes
Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan
yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan
penguasaannya terhadap cakupan materi. Pada dasarnya tes merupakan alat ukur yang
sering digunakan dalam asesmen pembelajaran, dalam melaksanakan proses asesmen
pembelajaran, guru selalu berhadapan dengan konsep-konsep evaluasi, pengukuran,
dan tes yang dalam penerapannya sering dilakukan secara simultan. Sehingga, dalam
praktik ketiganya sering tidak dirasakan pemisahannya, karena melakukan asesmen
berarti telah melakukan ketiganya. Waktu melaksanakan asesmen guru menciptakan
alat ukur berupa tes maupun non tes seperti soal-soal ujian, observasi proses
pembelajaran dan sebagainya. Kemudian membandingkan angka yang diperoleh siswa
dengan kriteria tertentu yang berupa batas penguasaan minimum ataupun berupa
kemampuan umum kelompok, sehingga munculah nilai yang mencerminkan kualitas
proses dan hasil pembelajaran. Akhirnya diambillah keputusan oleh guru tentang
kualitas proses dan hasil belajar.
Hubungan antara ketiga pengertian tersebut dalam kegiatan asesmen
pembelajaran, meskipun sering dilakukan oleh guru secara simultan. Melakukan
asesmen selalu diawali dengan menyusun tes atau nontes sebagai alat ukur, hasil
pengukuran berupa angka bersifat kuantitatif belum bermakna bila tidak dilanjutkan
dengan proses penilaian dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria
tertentu sebagai landasan pengambilan keputusan dalam pembelajaran. Sebaliknya,
penilaian (penentuan kualitas) tidak dapat dilakukan tanpa didahului dengan proses
pengukuran.
7
2.2 Tujuan Asesmen
1. Sebagai salah satu sarana yang digunakan dalam membuat diagnosis psikologis.
Diagnosis psikologis merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana mengetahui
karakter dari kelebihan dan kelemahan seorang individu. Dengan adanya asesmen
dalam pendidikan, bekerja dalam bimbingan dan konseling yang memiliki
kedudukan strategis, dapat digunakan sebagai pondaso dalam perancangan program
bimbingan dan konseling (BK) yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya
serta sebagai dasar mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya
secara optimal. Dengan definisi dari asesmen adalah penilaian terhadap diri
individu guna pemberian pelayanan bimbingan konseling agar sesuai dengan
kebutuhan, kondisi, dan masalah konseli. Sehingga tujuan dari kegiatan asesmen
tidak lain adalah untuk mengenali dan memahami potensi dan kekuatan yang
dimiliki oleh peserta didik sebagai pertimbangan dasar pengembangan masing-
masing individu yang tentunya memiliki perbedaan dan karakteristik yang khas.
3. Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian
tujuan tersebut, Seperti berkaitan dengan tujuan sebelumnya, potensi, kekuatan, dan
tugas-tugas yang dimiliki oleh masing-masing individu akan mengarahkan peserta
didik pada tujuan dan rencana hidup selanjutnya yang seharusnya perlu untuk ditata
sejak awal. Sehingga asesmen bertujuan sebagai wadah untuk menentukan langkah
apa yang harus ditempuh peserta didik dalam mencapai tujuan hidupnya.
4. Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya.
Jika berbicara tentang proses pengembangan diri dengan berdasarkan potensi dan
kekuatan, tentunya aka ada harapan dalam proses pencapaian kata “optimal”nya.
Harapan ini bisa berbentuk potensi atau peluang yang memungkinkan peserta didik
dapat melihat sejauh mana tujuannya dapat diraih dengan segala potensi dan
kekuatan yang dimilikinya.
5. Hasil asesmen sebagai dasar untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan
dari lingkungannya.Tidak hanya harapan, asesmen yang merupakan proses
mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data atau informasi tentang
peserta didik dan lingkungannya, bertujuan agar mendapat gambaran berbagai
kondisi individu dengan proses adaptasinya terhadap lingkungan sekitarnya.
Sehingga dengan adanya asesmen pendidikan dalam Kurikulum 2013 dapat
8
menjadi patokan peserta didik hal apa yang perlu dibenahi dan dikembangkan
selanjutnya dalam kesehariannya.
6. Sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program. Asesmen yang memiliki
kedudukan sebagai pondasi dalam perancangan program bimbingan dan konseling
(BK) dapat mendorong pencapaian tujuan pelayanan bimbingan dan konseling.
Hasil apapun yang diperoleh dari kegiatan asesmen dapat dijadikan bahan evaluasi
program dan penentuan perencanaan selanjutnya.
2.3 Jenis-Jenis Asesmen
Jenis assessment atau penilaian berdasarkan cara melakukannya ada 6 jenis, meliputi:
1. Write Assessment
Salah satu assessment atau penilaian yang sering digunakan adalah write
assessment atau penilaian tertulis. Tes yang dapat digunakan untuk penilaian
tertulis ini adalah menjawab soal yang sudah disediakan. Tidak hanya menjawab,
tes tertulis juga bisa dalam bentuk menggambar dan mewarnai. Contoh tes tertulis
ini sangat mudah untuk dijumpai misalnya saja ujian akhir kenaikan kelas.
Karyawan yang akan naik pangkat juga biasanya melalui tes tertulis terlebih dahulu.
Tes tertulis untuk karyawan dan siswa tentu saja berbeda.
2. Performance Assessment
Jenis penilaian performa atau performance assessment ini dapat menilai lebih
dalam karena peserta tes harus tampil dan mengaplikasikan pengetahuan yang
sudah diberikan. Dalam penilaian ini peserta tes diharuskan untuk tampil di depan
penilai guna mendemonstrasikan materi yang sudah diberikan. Penilaian ini tidak
hanya dapat menilai pemahaman saja tapi juga sikap peserta tes. Dalam penilaian
performa aspek yang dinilai lebih kompleks dan banyak.
3. Portofolio Assessment
Penilaian portofolio merupakan penilaian kerja yang dilakukan dengan cara
mengumpulkan berkas selama pembelajaran. Peserta tes atau peserta didik
diwajibkan untuk menyusun tugas yang selama ini diberikan dalam sebuah map
atau wadah. Kelengkapan dan kerapian tugas juga dinilai dalam penilaian ini.
4. Project Assessment
Penilaian proyek ini berupa tugas yang diberikan dan harus diselesaikan dalam satu
waktu tertentu. Tugas ini berupa proyek investigasi yang mengharuskan siswa
9
untuk mengumpulkan, mengolah, dan mengevaluasi sebuah data. Biasanya penilain
proyek dilakukan secara berkelompok. Project assessment bisa diberikan pada
kelompok pelajaran seperti sains, IPS, dan bahasa. Salah satu contohnya yaitu
proyek untuk meneliti pertumbuhan sebuah tanaman atau hewan.
5. Product Assessment
Jenis penilian ini merupakan penilaian terhadap produk keterampilan yang dibuat
oleh siswa atau peserta tes. Dalam penilaian ini guru tidak hanya menilai produk
yang dihasilkan saja tapi juga menilai sikap selama pembuatan produk. Penilaian
produk ini bisa diterapkan pada semua jenis mata pelajaran di sekolah. Salah satu
contoh sederhananya yaitu penilaian produk kesenian atau kerajinan yang dibuat
oleh siswa.
6. Self Assessment
Penilaian mandiri atau self assessment ini merupakan penilaian yang dilakukan
oleh siswa dan guru secara khusus. Biasanya guru melakukan penilaian ini untuk
kepentingan manajemen kegiatan pembelajaran. Jenis penilaian ini berupa
pemberian kritik dan saran agar pembelajaran lebih baik.
2.4 Fungsi Asesmen
Secara garis besar fungsi assessment ada dua yaitu fungsi sumatif dan fungsi formatif,
yaitu:
a. Fungsi Sumatif
Penilaian mempunyai fungsi sumatif yaitu berfungsi untuk menentukan nilai
belajar peserta didik pada mata pelajaran tertentu. Dengan kata lain fungsi dari
penilaian adalah untuk memberikan laporan kepada orang tua atau wali murid serta
penentu kenaikan dan kelulusan.
b. Fungsi Formatif
Assessment mempunyai fungsi formatif maksudnya adalah penilaian digunakan
sebagai umpan balik untuk memperbaiki pembelajaran. Fungsi formatif ini bisa
digunakan sebagai dasar untuk melakukan remidial.
10
2.5 Aspek Asesmen Kurikulum 2013
Asesmen adalah bagian final atau akhir dalam proses pembelajaran. Asesmen
dalam pembelajaran memberikan keputusan berhasil atau tidaknya seorang peserta
didik dalam pembelajaran. Aspek-aspek assesmen k13 diantaranya :
A. Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan
Penilaian pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan secara terpisah
maupun terpadu. Pada dasarnya, pada saat penilaian keterampilan dilakukan, secara
langsung penilaian pengetahuan pun dapat dilakukan.
1. Penilaian Pengetahuan Mencakup dimensi pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural dan metakognisi dalam berbagai tingkatan proses berpikir.
2. Prosedur penilaian pengetahuan dimulai dari penyusunan perencanaan,
pengembangan instrumen penilaian, pelaksanaan penilaian, pengolahan, dan
pelaporan, serta pemanfaatan hasil penilaian
3. Dilaporkan dalam bentuk angka, predikat, dan deskripsi
4. Angka menggunakan rentang nilai 0 sampai dengan 100
5. Predikat disajikan dalam huruf A, B, C, dan D
6. Deskripsi dibuat dengan menggunakan kalimat yang bersifat memotivasi
dengan pilihan kata/frasa yang bernada positif
B. Tes tertulis
Tes tertulis adalah tes yang soal dan jawabannya secara tertulis, antara lain
berupa pilihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen tes
tertulis dikembangkan dengan mengikuti langkah-langkah berikut.
1. Melakukan analisis KD.
2. Menyusun kisi-kisi soal sesuai dengan KD.
3. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan mengacu pada kaidah-kaidah penulisan
soal.
4. Menyusun pedoman penskoran.
5. Melakukan penskoran berdasarkan pedoman penskoran.
C. Tes lisan
Tes lisan berupa pertanyaan-pertanyaan, perintah, kuis yang diberikan
pendidik secara lisan dan peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara lisan.
Langkah-langkah pelaksanaan tes lisan sebagai berikut:
1. Melakukan analisis KD
11
2. Menyusun kisi-kisi soal sesuai dengan KD
3. Membuat pertanyaan atau perintah
4. Menyusun pedoman penilaian
5. Memberikan tindak lanjut hasil tes lisan
D. Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur
pengetahuan dan memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan
pengetahuan. Tugas dapat dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai
karakteristik tugas. Tugas tersebut dapat dilakukan di Madrasah/ Sekolah, di rumah,
atau di luar Madrasah/ Sekolah.
Sebelum melaksanakan ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan
akhir semester diperlukan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Menyusun kisi-kisi:
Untuk ulangan harian kisi-kisi bersumber dari muatan mata pelajaran pada KD dari
aspek pengetahuan (KI-3) yang terangkum dalam satu sub tema/pel. yang sesuai.
Untuk UTS kisi-kisi bersumber dari muatan mata pelajaran pada KD dari aspek
pengetahuan (KI-3) yang terangkum dalam dua tema/pel. yang sesuai. Untuk UAS
kisi-kisi bersumber dari muatan mata pelajaran pada KD dari aspek pengetahuan
(KI-3) yang terangkum dalam seluruh tema/pel. dalam satu semester.
2. Menyusun soal sesuai kisi-kisi
3. Melaksanakan ulangan
4. Menganalisis hasil ulangan yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan tiap siswa dari muatan-muatan mata pelajaran dalam satu perangkat
soal.
Hasil analisis digunakan untuk program remedial dan pengayaan. Demikian juga
untuk UTS dan UAS, dengan menggunakan langkah yang sama tetapi dengan cakupan
KD yang lebih luas. Pengisian deskripsi pada buku rapor mempertimbangkan
kecenderungan anak (kekuatan dan kelemahan tentang muatan mata pelajaran yang
terangkum dalam ulangan harian, UTS dan UAS) Penghitungan nilai capaian
kompetensi siswa secara kuantitatif dilakukan untuk mengetahui kriteria ketuntasan
minimal (KKM) sebagi pertimbangan untuk melakukan program remedial.
12
2.6 Penerapan Asesmen Kurikulum 2013 di masa Pandemi
Dalam penerapan kurikulum 2013, bahwa setiap mata pelajaran meliputi tiga
kompetensi, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hal ini tidakmudah dilakukan jika
tidak secara tatap muka. Hambatan lainnya juga ialah kurangnya infrastruktur
pendukung pembelajaran online itu sendiri. Maka ketidak tercapaiannya menjalankan
kurikulum 2013 dalam pembelajaran online/daring.
Di masa pandemi ini pembelajaran sekolah sebagian besar akan dilakukan
secara daring, sehingga membawa dampak berbeda dalam melaksanakan
aktivitas. Ada beberapa perubahan model assessmen yang dilakukan guru
maupun dosen kepada siswa maupun mahasiswa. Assessmen yang dilakukan di
masa pandemi ini dilakukan secara online. Asesmen online dapat dilakukan
dengan memanfaatkan key element of AFL, mempunyai tujuan belajar yang jelas,
perkaya percakapan dalam pembelajaran online, memberi feedback dan tanggung
jawab belajar. Meskipun task dikerjakan secara kelompok. “Ada
model assessmen personal yaitu menilai individu dari kelompok besar, menilai
individu berdasarkan pengelompokan capaian atas dasar hasil diagnostic dan
menilai personal siswa/individual,”
Dimasa pandemic ini perlu melakukan strategi “asessmen dan alternative
asessmen autentik”. Asessmen autentik di masa pandemi dilakukan dengan cara
menilai proses melalui produk, menilai personal/individu dari kelompok dan menilai
proses melalui pelacakan aktivitas. Sementara strategi assessmen for learning di
masa pandemi dijelaskannya untuk lebih fokus ke komponen yang paling utama atau
penting, materi yang digunakan esensial saja sekaligus yang dapat membangun
kompetensi serta siswa belajar dan dinilai dalam kondisi aman/tanpa resiko.”
Model Asesmen Alternatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh di masa Pandemi
Dalam pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi seperti sekarang selain memberikan
dampak pada pengelolaan pembelajaran konvensional dan menggantinya dengan
pembelajaran jarak jauh (Sari et al., 2020). Juga memberikan dampak pada proses penilaian
yang dilakukan oleh peserta didik. Sebagai pendidik harus menggunakan model asesmen
atau penilaian alternatif yang berbeda dengan penilaian pada pembelajaran konvensional
(Ahmad, 2020). Terdapat beberapa model penilaian yang dapat dilakukan oleh pendidik
untuk melakukan penilaian pada masa pembelajaran jarak jauh, yang merujuk pada
kebijakan pemerintah Indonesia, diantaranya:
Tes Secara Daring Dalam pelaksanaan tes daring dilaksanakan secara daring dengan
menggunakan alat bantu media seperti gawai, computer, laptop dan internet.
Tes daring dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang ada, jadi peserta didik dan
pendidik berada pada tempat yang berbeda tetapi teknologi lah yang membantu proses
13
berlangsungnya tes daring. Pada dasarnya, tes daring sama dengan tes yang dilakukan
secara konvensional di dalam kelas, akan tetapi yang membedakan hanyalah tepat
pelaksanaannya yang berbeda dan media yang digunakan. Tes konvensional di lakukan di
satu tempat tetapi tes daring dapat dilakukan di berbagai tempat antara pendidik dan peserta
didik. Menurut Fadlilah et al. (2021) tes merupakan perangkat yang digunakan oleh
pendidik untuk mengidentifikasi kemampuan peserta didik dengan cara-cara atau ketentuan
yang telah ditentukan. Sebuat tes yang baik yang dapat mengukur kemampuan peserta didik
harus mencakup beberapa komponen diantaranya validitas (kesalahan), reliabilitas
(keterandalan), Usebilitas (kepraktisan) dan Objektifitas (objektif) (Rachmawati &
Widayani, 2021).
Penilaian Diri (Self-Assessment)
Penilaian diri sendiri atau Self-Assessment adalah salah satu penilaian yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penilaian atau
tanggung jawab pada diri mereka sendiri tentang proses belajar oleh sebab itu,
sebagai pendidik harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
memberikan penilaian pada diri mereka sendiri sebagai validasi atas pemikiran
mereka. Penilaian diri sendiri self-assessment adalah salah satu teknik penilaian
yang memberikan tanggung jawab kepada peserta didik untuk menilai kemajuan
belajar mereka sendiri terkait dengan proses, kompetensi, dan capaian berdasarkan
pada tolok ukur atau ketentuan yang telah di tentukan (Azzahra, 2020). Dengan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penilaian diri
sendiri atau self-assessment berarti pendidik telah melatih peserta didik untuk
menjadi peserta didik yang mandiri serta dapat meningkatkan otonomi belajar atau
kemandirian belajar (belajar mandiri) pada peserta didik (Panadero, Jonsson, &
Botella, 2017) Selain itu, dengan melakukan penilaian diri sendiri atau self-
assessment peserta didik dilatih untuk mengatur dan mengevaluasi pemikiran serta
penampilan diri mereka sendiri serta mampu mengidentifikasi kelemahan dan
kelebihan di yang dimiliki sehingga mampu memperbaikinya pada pertemuan
selanjutnya dan mampu mencapai hasil belajar yang diinginkan (Borg & Edmett,
2019). Penilaian diri sendiri atau self-assessment bertujuan untuk mendukung dan
memperbaiki proses belajar dan hasil belajar dari peserta didik, karenanya penilaian
ini mampu mendukung penilaian yang biasa dipakai sebelumnya (Andrade, 2019).
Penilaian diri sendiri atau self-assessment dapat berfungsi sebagai salah satu
perangkat yang digunakan untuk melakukan penilaian pada kompetensi sikap.
Seperti yang tertulis di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
No. 66 Tahun 2013 tentang standar penilai pendidikan. Penilaian diri sendiri atau
self-assessment ini berfungsi sebagai salah satu perangkat yang dapat
meningkatkan karakter peserta didik menjadi lebih baik (Thawabieh, 2017).
Terdapat banyak sekali manfaat dari menerapkan penilaian diri sendiri atau self-
assessment pada peserta didik diantaranya memberikan reinforcement terhadap
kemajuan belajar yang dimiliki oleh peserta didik, membangun rasa percaya diri
pada peserta didik, menanamkan karakter jujur, meningkatkan otonomi belajar atau
kemandirian belajar (belajar mandiri) pada peserta didik, dan meningkatkan rasa
tanggung jawab peserta didik terhadap pelajarannya .
Portofolio
portofolio merupakan kumpulan dokumen seseorang, kelompok, lembaga,
organisasi, perusahaan atau sejenisnya yang bertujuan untuk mendokumentasikan
perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
14
(Setiamiharja, 2011).Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil
kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran
berlangsung, dalam hal ini adalah saat melaksanakan pembelajaran secara daring.
Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) Catatan pendidik/guru, (2) Hasil
pekerjaan peserta didik, dan (3) Profil perkembangan peserta didik. Hasil catatan
pendidik/guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam
melakukan kegiatan portofolio. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor
berdasarkan kriteria; (1) Rangkumanisi portofolio. (2) Dokumentasi/data dalam
folder. (3) Perkembangan dokumen. (4)Ringkasan setiap dokumen (5) Presentasi (6)
(6)Penampilan.
15
BAB 3. PENUTUP
3.1 kesimpulan
Asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan
informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan
keputusan tentang hasil pembelajaran siswa. Asesmen diawali dengan menyusun
tes atau nontes sebagai alat ukur, dilanjutkan dengan proses penilaian dengan
membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria tertentu sebagai landasan
pengambilan keputusan dalam pembelajaran.
Tujuan dari asesmen sebagai salah satu sarana yang digunakan dalam
membuat diagnosis psikologis, mengenal dan memahami potensi, menentukan
tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut, hasil dari
asesmen dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program.
Terdapat 6 jenis asesmen, diantaranya adalah Write Assessment, Performance
Assessment, Portofolio Assessment, Project Assessment, Product Assessment, Self
Assessment. Asesmen juga berfungsi sebagai penentuan nilai belajar peserta didik
pada mata pelajaran tertentu atau disebut dengan fungsi sumatif, dan sebagai
umpan balik untuk memperbaiki pembelajaran atau disebut dengan fungsi
formatif. Dalam melakukan asesmen, guru harus memperhatikan aspek – aspek
penting asesmen.
16
DAFTAR PUSTAKA
Helmi, Jon. 2014. Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013. Jurnal Al-Ishlab.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014. Materi pelatihan Implementasi
Kurikulum 2013. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Poerwanti, Endang. 2015. Konsep Dasar Asesmen Pembelajaran.
http://storage.kopertis6.or.id/kelembagaan/Applied%20Approach/MATERI/
Drs.%20Suwarno,%20M.Si/1-Konsep-Dasar-Asesmen-Pembelajaran.pdf,
diakses pada 06 September 2021 pukul 17.00.
Roro. 2021. “Assessment Adalah”, https://voi.co.id/assessment-adalah/, diakses pada
31 Agustus 2021 pukul 21.33.
Sahaja, Irwan, 2018. Penilaian Aspek Pengetahuan K13,
https://irwansahaja.blogspot.com/2018/09/penilaian-aspek-pengetahuan-
k13.html, diakses pada 06 September 2021 pukul 09.41.
17