Tujuh tahun silam. Di dalam kamar bernuansa antariksa kini seorang gadis kecil tengah menangis dalam diam. Di lantai bawah sana acara tahlilan mengenang kepergian bundanya, Azine, tengah dimulai. Kerabat dan keluarga besar Alena berkumpul di rumahnya, watak sedih semua orang di rumah apakah ini karena dirinya? Alena menangis histeris di dalam kamar walaupun la berteriak sekencang mungkin tidak akan ada orang yang dapat mendengar suara tangis Alena karena kamarnya kedap suara. Kepergian sang bunda membuat luka dalam di hati gadis kecil itu. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan santainya masuk ke dalam kamar Alena. Menghampiri Alena yang tengah menangis tersedu-sedu. "Nggak usah nangis, bunda lo nanti sedih," ucapnya berwajah datar. "Ta-tapi Bunda pergi tinggalin aku. Kata Bang Devan itu semua gara-gara aku," isaknya dengan air mata meluruh membasahi pipi. "Siapa bilang?" Lelaki itu adalah Raiden Geordino, anak dari sahabat ayahnya, la menarik tangan Alena menuju balkon kamar. Terpampanglah luasnya hamparan langit berhiaskan bintang terlihat sangat indah di atas sana. Raiden menarik Alena ke teras kamar gadis itu berdiri di depan teropong milik Alena yang sudah ada sedari dulu. Dikarenakan gadis itu sangat menyukai hal-hal berbau antariksa, "Yang namanya kematian manusia nggak ada yang tau. Kenapa orang dewasa egois? Bahkan mereka nggak pikirin perasaan anak kecil yang nggak tau apa-apa." Raiden kecil berucap berusaha menenangkan Alena. "Lo, kan, sering lihat benda di langit, coba bayangin aja bunda lo ada di sana biar lo nggak sedih lagi." Raiden menunjuk atas ke arah langit berhamparan bintang. "Bayangin bunda lo jadi bintang. Terus ada awan, bulan, matahari, planet, sama bintang-bintang lain yang jadi teman bunda lo di atas sana. Tenang aja bunda lo nggak bakalan sedih," kata Raiden memberi sebuah ketenangan. "Bintang yang paling bersinar itu bunda lo." Raiden menunjuk bintang yang paling bersinar di antara lainnya. "Tau dari mana?" tanya Alena mengusap pipi yang basah karena menangis, menatap cowok itu cukup lama. "Anggap aja, lo mau bunda lo bintang yang tergelap?" Raiden menatap Alena kesal. "Enggak," jawab Alena cepat. "Aku bakalan sering-sering lihat bintang buat ngobrol sama bunda," ucap Alena tersenyum lirih. Raiden Geordino, sahabat kecil Alena yang selalu berhasil menenangkannya,
dan selalu berada di samping Alena. Hingga saat ini Alena berdoa pada semesta agar berada di pihaknya untuk tidak memisahkannya dari Raiden. Pria dingin yang mampu menenangkannya. Walaupun hingga sekarang mereka hanya berstatus sahabat kecil, Raiden begitu posesif pada Alena. Lelaki itu tidak mengizinkan Alena berpergian tanpa dirinya. Alena si penurut hanya iya saja. Tidak ada hubungan lebih di antara keduanya, karena Raiden hanya melaksanakan tugas yang diberi ayah Alena untuk menjaga gadis itu. Setibanya di sekolah dan menempuh waktu empat puluh lima menit perjalanan menuju sekolah sekarang keduanya menginjakkan kaki masuk ke dalam halaman sekolah. Alena turun dari motor Raiden dan membuka pengait helm lalu mengembalikan pada sang pemilik. Alena melenggang pergi begitu saja membuat Raiden murka "Alena!" teriak Raiden menahan amarah.. seketika. Alena menoleh. "Kenapa?" tanya gadis itu santai. Raiden menggeleng lalu melenggang pergi begitu saja. Alena melotot tidak terima. "Nggak jelas! nyebelin banget!" Alena mengentak kaki kesal lalu berjalan dengan cepat masuk ke dalam kelas. "Halo! Alena cantik sudah datang!" sapa Alena berteriak semangat. "Harus banget, ya, lo teriak pagi buta gini?" Ghea mendengus kesal. "Hehe. Sapaan di pagi hari biar semangat," ucap Alena dengan sengiran manisnya. Alena memiliki sahabat yang selalu bersamanya mereka sudah berteman sejak dari MOS. "Ada PR, nggak, hari ini?" Alena meletakkan tas di bangku melihat sahabatnya bergantian. "Nggak ada," jawab Dira mengeluarkan buku dari dalam tas, menyiapkan buku pelajaran untuk di jam pertama. "Kalau ada mampus, deh, gue nggak ada periksa jadwal semalam," kata Rella mulai panik. "Kalau ada juga lo pasti kerjain di sekolah," cetus Ghea tahu kelakuan teman sebangkunya ini. "Diam, deh, Ghe, tapi gue nggak sering juga kerjain di sekolah, ya," bela Rella. "Iya, deh, Rel, iyain aja gue mah." Ghea kembali ketempat duduk. Posisi duduk mereka adalah Alena duduk sebangku dengan Dira, sedangkan Rella sebangku bersama Ghea, mereka tepat di belakang Alena jadi kalau mau diskusi tinggal hadap-hadapan. Tidak berselang lama bel masuk berbunyi pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Alena menginjak kaki masuk ke dalam kantin betapa berbinar mata gadis itu membayangkan semangkuk bakso dengan sambal mengguyur. Pasti sangat enak! "Kalian pesan apa?" tanya Dira seraya duduk di atas kursi kantin. "Yang pastinya aku bakso," jawab Alena tersenyum semringah. "Senang banget mbaknya." Rella menyenggol bahu gadis itu pelan. "Semua pesan bakso, kan?" tanya Dira memastikan dijawab anggukan kepala sahabatnya. Setelah menunggu sekitar lima belas menit kini pesanan bakso mereka sudah tersaji di atas meja kantin dibawakan oleh mbak-mbak penjual baksonya. "Al, serius sambal lo sebanyak itu?" Dira menaikkan alis tidak percaya, di saat Alena menuangkan sepuluh sendok sambal ke dalam mangkuk bakso. Alena menggantungkan sendok sambal dia tidak menyadari menuang sebanyak itu, Alena sedikit meringis tidak yakin akan memakannya. "Yakin bakalan enggak sakit perut?" tanya Ghea memastikan. "Kalau Raiden tau gimana, Al?" Rella menaikkan alis turun menakuti Alena. "Bismillah enggak sakit perut, kalian jangan kasih tau Raiden makanya," jawab Alena memasukkan satu suap bakso. "Hm, iyain aja. Gue nggak ikutan, ya, kalau lo dimarahi sama Raiden," ucap Dira kembali menghabiskan bakso pesanannya. "Gue juga!" sahut Rella ikutan. "Tigain, deh!" Imbuh Ghea. Alena mendengus kesal ia mengambil tisu membersihkan bibir yang merah, mungkin rasa pedas sudah mencuat membakar mulut gadis itu. Selama pelajaran di mulai Alena tidak dapat mendengar penjelasan guru di depan sana dengan baik, pasalnya perutnya terasa sakit dan pedih. "Perut aku kenapa sakit banget, ya?" tanya Alena pada Dira dengan wajah yang sudah pucat pasi dan keringat bercucuran membasahi pelipis. "Akibat kebanyakan sambal tadi pasti, deh. Lo, sih, masukin sambal enggak kira-kira." Dira memandang sahabatnya itu kasihan. Kring! Kring! Kring! Bel pulang sekolah berbunyi pertanda pelajaran telah selesai, sang guru keluar dari kelas setelah memberi salam kepada murid. Alena menelungkup wajah di atas lipatan tangan menahan rasa pedih di perutnya, bergejolak seperti ada lava panas di dalam perutnya. "Kenapa Al?" tanya Rella menggendong tas menghampiri Alena yang merintih sakit.
"Perut aku sakit banget," jawab Alena hampir tidak terdengar. "Kan, kan! Udah pasti sakit perutiah, lo aja masukin sambal gila banget." "Kalian cari Raiden sana kasihan Alena udah kesakitan banget, biar nanti pulang bisa langsung dikompres air hangat," usul Dira. Rella dan Ghea mengangguk bersamaan lalu melangkah keluar dari kelas mencari seorang cowok bernama Raiden Geordino. "Alena mana?" Baru saja kaki mereka melangkah keluar dari kelas suara berat seseorang menghentikan langkah keduanya. "Baru mau cari lo. Alena sakit tadi-" Belum sempat Rella menyelesaikan ucapan Raiden melenggang masuk ke dalam kelas. Ghea mengusap bahu Rella. "Sabar, Rel, kayak enggak tau si tembok aja." "SABAR GUE MAH!" teriaknya mengundang tatapan aneh murid sekitar yang berlalu-lalang, mana lagi waktu pulang sekolah ramai orang pastinya. "Sabar gue punya teman hobi bikin malu!" kata Ghea kesal masuk ke dalam kelas. Masih diam berdiri di samping bangku Alena, Raiden memasukkan tangan ke dalam saku mengeluarkan ekspresi datar memperhatikan gadis itu yang masih menelungkup kan wajah di atas lipatan tangan. "Sakit perut katanya," ucap Dira memberi tahu. Raiden mendekat cowok itu mencondongkan tubuh melihat Alena yang menangis kecil tidak tahan menahan rasa sakit di perut yang seperti haid hari pertama. Tanpa memberi instruksi Raiden menggendong Alena ala brydal, gadis itu terlonjak, merasa tubuhnya melayang. Tahu Raiden yang mengangkat tubuhnya Alena mengalungkan tangan di leher Raiden. Menutup kedua mata tidak mau melihat ekspresi menyeramkan cowok itu. Dira Rella dan Ghea melihat semua pertunjukan perilaku tiba-tiba Raiden yang seperti sebuah scene drama. Sudah biasa bagi mereka melihat tingkah laku dua sejoli berstatus sahabat itu membuat geger sekolah. Raiden mendudukkan Alena di atas motor lalu mengambil jaket miliknya menutup paha Alena yang sedikit tersingkap, rok gadis itu cukup panjang entah kenapa Raiden selalu melakukan itu.
Beralih mengambil helm dan memakaikan Raiden membenarkan rambut yang menutupi mata gadis itu, dan Alena hanya diam menerima semua perilaku Raiden. Mau membuka suara Alena sudah dulu membungkam karena tatapan datar Raiden. Setelah memastikan gadis itu aman la naik ke atas motor keluar dari halaman sekolah. Melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah gadis itu. Sesampainya Raiden kembali menggendong Alena langsung membawa gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Alena sudah berbaring di atas ranjang bermotif angkasa miliknya, masih menggunakan seragam sekolah Alena hanya terdiam menahan pedih di perut. "Raiden!" panggil Alena saat cowok itu keluar dari kamarnya. "Mau ke mana lagi, sih?" kesalnya. "Selamat sore, Non, ini Bibi bawa air hangat buat kompres perut non Alena. Den Raiden ada di bawah, kok, dia yang suruh Bibi," ucap Bi Marti masuk ke dalam kamar Alena. "Raiden enggak pulang, kan, Bi?" Bi Marti menyingkap baju Alena mulai mengompres perut gadis itu. "Enggak, Non, masih ada di bawah, kok." "Makan apa?" Sepertinya Raiden akan memulai menginterograsi Alena. Cowok itu duduk di pinggir ranjang menatap datar gadis yang terbaring lemah, Alena tampak bingung menjawab ia memilin lengan baju bermotif panda miliknya. "Aku makan bakso, terus sambalnya kebanyakan. Tapi itu aku enggak sadar tuang sambalnya, tetap aku makan sayang kalau dibuang," jawab Alena memasang wajah sedih sekali. datar. "Sambalnya berapa sendok?" Cowok itu menaik alls dengan wajah "Sepuluh." Cicit Alena. "Seratus sekalian blar putus usus lo," ketus Raiden sadis. Alena mendengus kesal sadis sekall cowok ini kalau sudah ngomong. "Jahat banget, sih." Alena mendongak menatap Raiden dari bawah. "Sakit, Raiden!" Alena mengusap dahi yang sakit akibat sentilan keras Raiden. Raiden menyentil sekali lagi dahi Alena. "Kalau dibilangin nurut bisa, nggak? Jangan makan pedas udah tau lemah sok kuat."
Alena memukul tangan Raiden yang dengan ringan menyentil dahinya berulang kali. "Sakit! Aku laporin ke bunda kamu, ya, karena suka kasar sama aku." "Enggak takut. Gue tanya bisa nurut, nggak? Kalau dikasih tau jangan keras kepala." "Iya, iya!" pasrah Alena mengalah. No Absen 38 Nama : Ni Putu Keyza Putri Negara
Kelas : VII F Secret Princesses : Starlight Sleepover Ringkasan hari Kamis, 30 Maret 2023 Charlotte dan Mia adalah sepasang sahabat yang sedang berlatih menjadi Secret Princesses. Mereka bisa mengabulkan harapan dengan sihirnya. Kali ini, mampukah mereka membantu Laura menikmati acara kemah musim panasnya? Atau rencana mereka berhasil digagalkan oleh Princesses Poison yang jahat? Bab I : Pohon Pohon Raksasa Sinar matahari menembus pepohonan yang rindang. Cahayanya membentuk garis-garis putih berkilauan di lantai hutan. Charlotte tidak menyangka betapa besar pohon redwood raksasa itu. Mereka menjulang tinggi ke angkasa, dengan daun pakis hijau lebat yang tumbuh di sekelilingnya. Di sini terasa sangat mistis, pikirnya sambil melihat sekeliling hutan. Mungkin, seekor unicorn sedang mengamatiku, atau mungkin seekor naga! Di depannya, Liam, adik laki-lakinya, berteriak dan membuyarkan lamunannya. “Ibu! Ayah! Lihat pohon ini, deh!” katanya dengan accent America. Adik laki-lakinya itu sudah mahir berbicara seperti orang America. Padahal mereka baru saja pindah ke sana beberapa bulan lalu. “Wah, pohon ini besar sekali,” ujar Charlotte. la berlari dan bergabung bersama adiknya. “Kalau kita berlima mengitari pohon ini sambil berpegangan tangan, belum tentu kita bisa mencapainya!” tambahnya. Tapi, kita coba, yuk!”. Ibu, ayah, dan kedua adik kembarnya, Liam dan Harvey, bergandengan sambil merentangkan tangan mereka. Namun benar kata Charlotte. Tangan mereka tidak bisa mengitari pohon yang tebal itu. “Wah, kita sedang diawasi, lho!” kata ayah Charlotte, menunjuk tupai yang mengintip mereka dari dahan pohon. "Aih, lucunya," kata Charlotte. Tupai itu kaget dan berlari pergi. "Aku malah ingin bertemu dengan beruang," ujar Harvey. "Aku akan lari kalau bertemu dengan beruang!" sahut Liam. "Jangan! Justru kamu tidak boleh lari." sanggah Charlotte. "Kalau lari, beruang itu akan mengejarmu. Kamu harus membuat dirimu tampak besar dan membuat suara kencang agar ia pergi ketakutan," lanjutnya. "Wah, kamu tahu dari mana?" tanya kagum. "Tentu saja dari Mia," jawab Charlotte sambil tersenyum lebar. Mia adalah sahabatnya dulu saat tinggal di Inggris sebelum Charlotte pindah.
Mia sangat menyukai hewan. Ia suka menceritakan fakta unik seputar hewan. “Seandainya saja, Mia bisa melihat semua hewan di California,” ujar Charlotte. "Rasanya sudah lama sekali kalian berdua tidak bertemu, ya," kata ibunya sambil meremas bahunya dengan lembut. Charlotte menyembunyikan senyumnya. Andai saja ibunya tahu! Sebenarnya, ia dan Mia sudah bertemu dua kali semenjak pindah ke Amerika. Tapi tidak ada yang tahu, karena itu rahasia mereka. Rahasia yang ajaib, tentunya! Charlotte merasakan getaran saat menyentuh liontin emas berbentuk belahan hati yang terlihat melingkar di lehernya. Liontin itu berhiaskan dua batu berlian di permukaannya. Pasangan liontin itu dimiliki oleh sahabat baiknya, Mia. Sewaktu-waktu liontin itu akan bersinar. Artinya, Charlotte dan Mia akan dibawa ke tempat yang luar biasa dan memesona yaitu Istana Wishing Star, rumah bagi para Secret Princesses. Saat sedang melamun, liontin miliknya tiba-tiba dipenuhi cahaya yang berpendar dan berkelap-kelip. Charlotte mengerutkan dahinya. Apakah ini hanya imajinasi? Tapi, ternyata tidak. Cahaya itu muncul, dan muncul lagi! Charlotte segera bersembunyi dibalik pohon yang sangat besar ketika adiknya sibuk memanjat batang pohon yang tumbang. Cahaya liontin nya semakin terang. Ia sangat bersemangat hingga perutnya terasa seperti terkocok-kocok. Charlotte menggengam liontin nya erat-erat. Ia tahu, keluarhanua tidak akan mencarinya saat pergi, karna waktu akan berhenti selama ia tidak ada di sana. “Aku harap dapat bertemu Mia!” bisiknya. WHOOSH! Charlotte merasa dirinya ditarik dan berputar- putar didalam terowongan yang dipenuhi cahaya emas. Tak lama, kakinya mulai menyentuh lantai. Ia membuka matanya. Di hadapannya, tampak aula Istana Wishing Star yang megah. Meski sudah datang dua kali, ia selalu merasa kagum. “Yaaay!” gumamnya sambil berputar-putar. Charlotte memandang ke seluruh ruangan mencari sosok Mia. Namun, yang ia lihat adalah ruangan yang lusuh dan tua. Cat dindingnya sudah mengelupas dan kaca jendelanya retak. Charlotte merasa ngeri melihat pemandangan itu. Ia tahu persis siapa penyebabnya. Dulu, Princess Poisom yang jahat pernah menjadi Secret Princesses. Namun, kekejaman dan ketamakannya mengubahnya menjadi jahat. Ia memakai kekuatan sihirnya untuk merusak harapan orang lain. Setiap kali ia berhasil melancarkan aksinya, Istana Wishing Star akan semakin hancur. “Charlotte!” teriak sebuah suara. Charlotte segera berbalik dan melihat Mia berlari menuruni tangga yang lebar dengan gaun emae berkilauan dan mahkota emas. Rambut pirangnya digelung ke atas membentuk sanggul yang sangat cantik. “Mia!” seru Charlotte. Mereka langsung berpelukan di dasar anak tangga.
No Absen 39 Nama : Ni Putu Nathania Manda Sari A Kelas : VII F Malin Kundang Ringkasan Hari Rabu, 29 Maret 2023 Dahulu kala hiduplah suatu keluarga nelayan tinggal di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut sangatlah miskin, hingga pada suatu waktu karena kondisi ekonomi keluarga sudah sangat memprihatinkan maka sang ayah memutuskan untuk pergi mencari nafkah dengan mengarungi lautan.
Ringkasan Hari Kamis, 30 Maret 2023 Waktu demi waktu berlalu, Sang ayah Malin Kundang tidak juga kembali ke kampung halamannya. Malin Kundang dikenal sebagai anak yang rajin dan baik hati. Pada suatu hari Malin Kundang melihat sebuah kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis. Terbesit dalam hatinya untuk pergi merantau. Awalnya ibu Malin Kundang tidaklah setuju, karena mengingat sang suami yang tidak pernah kembali setelah pergi merantau. Malin berjanji akan kembali ke desanya jika sudah menjadi saudagar kaya yang dapat membahagiakan ibunya. Malin Kundang pun berangkat dengan menumpang kapal seorang saudagar kaya raya. Beberapa tahun kemudian, Malin berhasil menjadi saudagar yang kaya raya dan ia pun mempersunting seorang gadis bangsawan. Berita kekayaan Malin Kundang dan pernikahannya tersebut sampai ke telinga ibunya. Suatu hari Malin dan istrinya berlayar ke desa asal malin karena urusan dagangnya, ibunya pun merasa sangat gembira dan berlari menghampiri Malin. Namun sayang, Malin yang telah bergelimang harta dan tahta malah malu mengakui ibu kandungnya. Sang ibu pun menangis dan akhirnya murka, kemudian dia meminta kepada Allah SWT untuk memberikan hukuman pada anaknya. Tidak lama setelah itu, Malin Kundang, Istri, para awak kapal hingga fisik kapal dan seluruh properti didalamnya berubah menjadi Batu. Tamat.
No Absen 40 Nama : Putu Eka Dwi Putri Satyawati Kelas : VII F Kakek Bangau yang Baik Hati Ringkasan hari Selasa, 28 Maret 2023 Suatu hari di musim kemarau, kakek Bangau berjalan - jalan di pematang sawah. Kakek Bangau bertemu dengan ketam - ketam dan katak -katak. Mereka meminta bantuan kakek Bangau untuk mencarikan tempat tinggal baru. Kemarau panjang membuat tempat tinggal mereka kering. Kakek Bangau kasihan melihat nasib ketam - ketam dan katak - katak. Untuk menolong ketam - ketam dan katak - katak kakek Bangau terbang berkeliling untuk mencarikan mereka telaga yang memiliki banyak air. Setelah begitu lama terbang berkeliling
akhirnya kakek Bangau pun melihat telaga. Kakek Bangau turun mendekat terlihat banyak ikan berenang di telaga itu,kemudian kakek Bangau bertanya " selamat siang ikan - ikan " kata kakek Bangau " selamat siang, kakek Bangau. Ada keperluan apa, kek? " Jawab ikan Ringkasan hari Rabu, 29 Maret 2023 setelah bertemu dengan ikan kakek Bangau pun menceritakan maksud dan tujuannya datang, setelahnya kakek Bangau menemui kelinci dan rusa berniat untuk meminta bantuan untuk membantu teman yang lain untuk pindah ke telaga. Keesokannya kakek Bangau menemui ketam dan katak untuk mengajaknya pindah ke telaga dengan menggunakan saputangan yang biasanya digunakan untuk menutup kepalanya dari terik matahari. Kakek Bangau pun membuka sapu tangannya menjadi bentuk kantong agar bisa membawa para katak ke tempat tinggalnya yang baru, saat sudah sampai para katak pun dengan senang meloncat ke dalam telaga, “ horee, kita sudah sampai. Terimakasih kakek Bangau. “ Ringkasan hari Kamis, 30 Maret 2023 Setelah selesai mengantarkan para katak kakek Bangau segera pergi untuk menjemput ketam - ketam, karena terlalu lama menunggu ketam - ketam itu tampak lemas bahkan ada yang menangis tak berapa lama akhirnya kakek Bangau datang, ketam - ketam bingung bagaimana cara kakek Bangau membawa mereka? lalu kakek Bangau menyuruh mereka untuk naik ke atas sayapnya. Saat sudah sampai para ketam turun dengan senang dan segera pergi ke tepi telaga untuk membuat lubang - lubang untuk tempat tinggal yang baru, setelahnya katak dan ketam berkenalan dengan ikan, kelinci, dan rusa yang ada di sana. Kakek Bangau senang ketam dan katak sudah mendapatkan tempat tinggal baru “ baiklah, cucu - cucuku sekarang kakek akan pergi. Kalian harus rukun ya. “ kata kakek Bangau kemudian yang lainnya pun menjawab “ terima kasih, kek “ kata mereka. Setelahnya katak dan ketam hidup bahagia di telaga, mereka hidup rukun dengan binatang - binatang lainnya.
Contoh : JUDUL BUKU YANG DIBACA (TAMBAHKAN GAMBAR COVER BUKUNYA) Tambahkan Nama dan No Absen Ringkasan Hari Selasa, 28 Maret 2023 Ringkasan Hari Rabu, 29 Maret 2023 Ringkasan Hari Kamis, 30 Maret 2023 Nama anggota Tim VII F : 1. Kadek Marsya Dewi Hardiyanti 2. Ni Kadek Vanisa Ayu Supraja 3. Go Jessica Evelyn 4. Ni Putu Dyah Artayani