The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bunga Rampai 2017 Ragam Karakteristik Lingkungan Laut

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by danie_saepuloh, 2018-10-15 02:33:57

Bunga Rampai 2017 Ragam Karakteristik Lingkungan Laut

Bunga Rampai 2017 Ragam Karakteristik Lingkungan Laut

Keywords: ragam lingkungan laut

Gambar 4.
Kondisi klorofil-a
permukaan rata –
rata 14 tahun dari

citra satelit
SeaWiFS

Citra satelit INDESO berupa klorofil-a dari diatom (Gambar 5) dan
klorofil-a dari nanofitoplankton (Gambar 6) dianalisis sesuai kejadian
aktualnya. Hasil estimasi citra satelit INDESO menunjukkan bahwa
secara umum klorofil-a dari nanofitoplankton (Gambar 6) memiliki
nilai yang lebih tinggi dibandingkan klorofil-a dari diatom (Gambar
5). Hal ini terlihat dari sebaran klorofil-a, khususnya di wilayah
pesisir, estimasi klorofil-a pada citra satelit klorofil-a dari
nanofitoplankton (Gambar 6) mencapai 0,6 mg/m3, sedangkan
estimasi klorofil-a pada citra satelit klorofil-a dari diatom (Gambar 5)
hanya mencapai 0,5 mg/m3. Dilihat dari rata – rata klorofil-a
permukaan pada keseluruhan stasiun di Laut Sulawesi, secara umum
klorofil-a dari diatom meng-underestimate hasil observasi insitu,
sedangkan klorofil-a dari nanofitoplankton meng-overestimate hasil
observasi insitu.

Kelautan 37

Gambar 5.
Kondisi klorofil-a dari
Diatom tanggal 10 – 14

September 2016

Gambar 6.
Kondisi klorofil-a dari

Nanophytoplankton
tanggal 10 – 14 September

2016

38 K e l a u t a n

Perbandingan antara Klorofil-a Permukaan Insitu dengan
Penginderaan Jauh

Gambar 7. Selanjutnya, dilakukan perhitungan Root Mean Square Error yaitu
Perbandingan klorofil- sebesar 0,2263 mg/m3 untuk perbandingan antara pengamatan insitu
dan citra satelit SeaWiFS, 0,0302 mg/m3 untuk perbandingan antara
a insitu dengan citra pengamatan insitu dan model biogekimia INDESO berupa klorofil- a
satelit SeaWiFS dan dari diatom, serta 0,0594 mg/m3 untuk perbandingan antara
pengamatan insitu dan citra satelit INDESO klorofil-a dari
INDESO nanofitoplankton. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perbedaan
antara model biogeokimia INDESO dengan pengamatan insitu lebih
kecil daripada perbedaan antara citra SeaWiFS dengan pengamatan
insitu.

Berdasarkan perhitungan korelasi, nilai korelasi antara
hasil observasi insitu dengan citra satelit SeaWiFS menunjukkan
angka yang paling tinggi, yaitu 0,73. Korelasi antara hasil observasi
insitu dengan kedua model biogeokimia INDESO menunjukkan nilai
yang sangat kecil dan bernilai minus yaitu -0,16 dan -0,29. Hal ini
menunjukkan adanya ketidaksesuaian yang tinggi, meskipun nilai
RMSE lebih kecil dibanding nilai dari citra satelit SeaWIFS. Lebih
lanjut lagi, model biogeokimia INDESO untuk klorofil-a dari diatom
menunjukkan nilai yang lebih kecil 0,86 kali dibanding hasil observasi
insitu (paling mendekati nilai observasi insitu), sedangkan untuk
klorofil-a dari nanofitoplankton menunjukkan nilai yang lebih besar
2,5 kali dibanding hasil observasi insitu. Klorofil-a dari citra satelit
SeaWiFS menunjukkan nilai yang lebih besar 3 kali dibanding hasil
observasi insitu.

Beberapa peneliti menyatakan bahwa nilai estimasi klorofil-a
dari citra satelit memiliki nilai yang lebih tinggi (over estimate)
dibandingkan hasil observasi insitu. Data penginderaan jauh meng-

Kelautan 39

overestimate data klorofil-a wilayah pesisir sebesar 30 % - 77 %
dibandingkan nilai rata-rata klimatologinya (Conkright and Greg,
2003). Data klorofil-a dari citra satelit SeaWiFS meng- overestimate
hingga 6 kali lipat pada stasiun yang terletak di dekat front
kekeruhan dan di estuari perairan Rio de Plata, namun menyediakan
estimasi yang cukup (sekitar 10 %) di perairan subtropis Laut Brazil
(Armstrong, et al.,2004).

Berdasarkan nilai korelasi tertinggi perbandingan antara
klorofil-a dari hasil observasi insitu dan penginderaan jauh, terlihat
bahwa klorofil-a dari citra satelit SeaWiFS lebih dapat mewakili
kondisi sebenarnya, meskipun hasil estimasi citra satelit meng-over
estimate 3 kali lipat hasil observasi. Lebih lanjut lagi, adanya
perbedaan nilai antara hasil observasi insitu dengan hasil estimasi
citra satelit ini diduga terjadi karena adanya perbedaan algoritma dan
sensitivitas sensor kedua satelit tersebut dalam menduga konsentrasi
klorofil-a. Untuk itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk
mencari algoritma yang tepat untuk mengetahui kondisi klorofil-a
aktual di Laut Sulawesi berdasarkan estimasi citra satelit dengan
menggunakan rentang periode data yang lebih panjang dan lebih
baru.

PENUTUP
Kesimpulan dari penelitian ini antara lain:
- Konsentrasi klorofil-a permukaan hasil observasi insitu yang

dianalisis menggunakan metode spektrofotometri berkisar antara
0,020 – 0,085 mg/m3
- Root Mean Square Error untuk pengamatan insitu dengan citra
satelit SeaWiFS yaitu sebesar 0,2263 mg/m3, pengamatan insitu
dan citra satelit INDESO klorofil-a dari diatom sebesar 0,0302
mg/m3, serta pengamatan insitu dan citra satelit INDESO klorofil-
a dari nanofitoplankton sebesar 0,0594 mg/m3

- Nilai korelasi antara hasil observasi insitu dengan citra satelit
SeaWiFS menunjukkan angka yang paling tinggi, yaitu 0,73

- Model biogeokimia INDESO untuk klorofil-a dari diatom
menunjukkan nilai yang lebih kecil 0,86 kali, sedangkan untuk
klorofil-a dari nanofitoplankton menunjukkan nilai yang lebih
besar 2,5 kali dibanding hasil observasi insitu. Klorofil-a dari citra
satelit SeaWiFS menunjukkan nilai yang lebih besar 3 kali
dibanding hasil observasi insitu.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya

kepada BPOL KKP – INDESO Project yang telah mengundang
penulis untuk ikut serta dalam kegiatan pelayaran ilmiah Indeso
Join Expedition Program (IJEP) 2016 dengan Kapal Riset Baruna Jaya
VIII di Laut Maluku (WPP
715) dan Laut Sulawesi (WPP 716).

40 K e l a u t a n

DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Roy A, F.Gilbes, R. Guerrero, C.Lasta, H.Benavidez,

and H.Mianzan. 2004.Validation of SeaWiFS-derived
chlorophyll for the Rio de la Plata Estuary and Adjacent
Waters. Int.J.Remote Sensing Vol.25, 7-8: 1501-
1505. DOI: 10.1080/01431160310001592517
Conkright, ME and WW Greg.2003. Comparison of global chlorophyll
climatologies: In situ, CZCS, Blended in situ-CZCS and
SeaWiFS. Int.J.Remote Sensing Vol.24, 5:969-991. DOI:
10.1080/01431160110115573
Hermawan, Indra et al. 2016. INDESO Cruise Plan. Bali: Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir.
Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL).
INDESO Team. 2015. Product User Manual – biogeochemical model
outputs. France: Collecte Localosation Satellites (CLS)
Jeffrey, S.W and G.F.Humphrey. 1975. New Spectrophotometric
Equations for Determining Chlorophylls a, b, and c, in Higher
Plants, Algae, and Natural Phytoplankton. Biochem.Physiol.
Pflanzen, 167:191.
Nybakken J.W. 1982. Biologi Laut : Suatu pendekatan Ekologis.
Jakarta: Gramedia.
Pickard, G.L and W.J. EMelry. 1982. Descriptive Physical
Oceanography. 4th Edition.Pergammon Press. ISBN:
9781483278773
Prihartato, P.K. 2009. Studi variabilitas konsentrasi klorofil-a dengan
menggunakan data satelit AQUA-MODIS dan SeaWiFS serta
data in situ di Teluk Jakarta. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Semedi, B., & Hadiyanto, A. L. 2013. Forecasting the Fishing Ground
of Small Pelagic Fishes in Makassar Strait Using Moderate
Resolution Image Spectroradiometer Satellite Images.
Journal of Applied Environmental and Biological Sciences, 3
(2): 29-34.
Tubalawony, S. 2007. Kajian Klorofil-a dan Nutrien Serta
Interelasinya dengan DinamikaMassa Air di Perairan Barat
Sumatera dan Selatan Jawa – Sumbawa. Bogor: IPB.

Kelautan 41

PERLINDUNGAN PANTAI RAMAH LINGKUNGAN
BERBASIS TANAMAN VETIVER, STUDI KASUS DI

PESISIR PANTAI WONOKERTO KULON,
KABUPATEN PEKALONGAN

Agus Sufyan dan Sri Suryo Sukoraharjo

Pusat Riset Kelautan, Gedung Balitbang KP 2,
Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur

Email: [email protected] 751458

ABSTRAK
Pantai merupakan salah satu daerah yang sangat kaya akan sumber daya alam
bagi kehidupan manusia, tetapi pantai juga rentan terhadap erosi. Tanaman vetiver
atau tanaman akar wangi merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat berfungsi
sebagai pelindung daerah pantai dari ancaman erosi. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengkaji kekuatan substrat perlindungan pantai akibat pengaruh akar tanaman
vetiver. Perlu adanya usaha untuk mempercepat pertumbuhan tanaman vetiver, salah
satu caranya adalah dengan pemupukan. Penelitian ini dilakukan di Pantai Wonokerto
Kulon, Kabupaten Pekalongan dari bulan Agustus sampai Nopember 2016 dengan
perlakuan pemupukan serta dua kali pengulangan untuk mendapatkan dosis yang
efisien. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan nyata meningkatkan
tinggi tanaman dibandingkan dengan kontrol. Hasil pertumbuhan akar yang lebih
cepat, dapat mempercepat proses penguatan tanah pantai yang pada akhirnya
melindungi pantai dari ancaman erosi.
Kata kunci: Akar Vetiver, Erosi, Pekalongan

42 K e l a u t a n

“ PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Dunia dan
Potensi di daerah
pantai memiliki terdiri dari 17.508 pulau serta garis pantai sepanjang 95.180,8 km
ancaman (terpanjang ke dua di Dunia setelah Kanada), (World Resources
Institute, 2000). Daerah pantai merupakan daerah yang spesifik, karena
kerusakan, seperti berada diantara dua pengaruh yaitu pengaruh daratan dan pengaruh
erosi garis pantai lautan (Yuwono N, 1992). Potensi di daerah pantai memiliki ancaman
yang merupakan kerusakan, seperti erosi garis pantai yang merupakan proses alami
proses alami melalui aksi gelombang dan arus yang menciptakan perubahan alami
melalui aksi garis pantai karena pasokan sedimen dipindahkan sepanjang pantai.
gelombang dan Ancaman kerusakan daerah pantai dapat mengakibatkan kerugian yang
arus yang sangat besar, sehingga perlu dilakukan usaha untuk meminimalisir
menciptakan dampaknya. Sekitar 100 lokasi dari 17 provinsi dengan panjang pantai
perubahan alami kurang lebih 400 km telah mengalami erosi pantai yang
mengkhawatirkan (Diposaptono, 2011). Erosi yang terjadi dapat
garis pantai karena merusak pemukiman dan prasarananya yang di tandai dengan
pasokan sedimen mundurnya garis pantai. Kerusakan akibat erosi disebabkan oleh
dipindahkan adanya serangan gelombang atau kerusakan akibat kegiatan manusia
sepanjang pantai. seperti : penebangan hutan bakau, pengambilan karang, pembangunan
pelabuhan yang tidak berwawasan lingkungan, perluasan areal tambak
” dan lainnya (Triatmodjo, 1999).

Untuk mengatasi ancaman erosi pantai, ada dua metode
perlindungan yaitu hard solution atau soft solution. Cara hard solution
(pembangunan sruktur/fisik), penanganan dengan membuat struktur
bangunan pelindung pantai, seperti dinding pantai (seawall), groin, jetty
atau pemecah gelombang (breakwater). Cara soft solution (non
struktur), dapat berupa pemanfaatan vegetasi di pantai seperti
penanaman pohon bakau (mangrove) dan pengisian pasir pada pantai
(sand nourishment).

Untuk memastikan proteksi jangka panjang dan tangguh
terhadap garis pantai, perlu mengidentifikasi solusi berkelanjutan dan
pengurangan risiko. Usaha untuk penangulangan daerah pantai dari
ancaman erosi dengan pembangunan fisik membutuhkan biaya
pembangunan yang sangat besar dan waktu yang relatif lama serta
kontrol dan pemeliharaan yang ketat sehingga kurang sesuai untuk
diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Pembangunan fisik
juga berakibat pada berubahnya morfologi garis pantai yang secara
langsung mempengaruhi ekosistem yang ada di daerah tersebut
(Mimura N, 1999).

Salah satu usaha perlindungan pantai ramah lingkungan adalah
memanfaatkan tanaman vetiver sebagai tanaman yang dapat
mengurangi erosi di daerah pantai, khususnya pantai berpasir.
Penggunaan tanaman vetiver untuk perlindungan pantai dalah dengan
memanfaatkan kekuatan akarnya dalam memperkuat substrat di
pantai. Salah satu kelebihan tanaman vetiver adalah memiliki akar
tanaman yang sangat kuat dengan kekuatan tarik tinggi rata-rata 75
MPa atau kira-kira 1/6th kekuatan baja ringan (Hengchaovanich, 1988).

Contoh pemanfaatan tanaman vetiver untuk pengendalian
erosi adalah seperti yang dilakukan oleh Tim Reef Rangers dan
Kementerian Pertanian Fiji pada tahun 2010 yang melakukan
penanaman tanaman vetiver untuk melindungi garis pantai dari

Kelautan 43

“ kemunduran akibat erosi. Para tetua desa telah mencatat bahwa Yaro
Village pantai telah terkikis oleh lebih dari 100 m hanya dalam 30 tahun
Para tetua desa terakhir. Upaya yang dilakukan berhasil, tanaman vetiver tumbuh subur
telah mencatat serta direkomendasikan sebagai solusi berbasis masyarakat untuk erosi
pantai (Qera, 2011).
bahwa Yaro
Village pantai Tanaman vetiver atau akar wangi berfungsi sebagai tanaman
telah terkikis oleh konservasi karena dapat menurunkan tingkat erosi tanah (DAMANIK et
lebih dari 100 m al., 2005) dan mereduksi tingkat cemaran pada lahan yang tercemar
hanya dalam 30 logam berat (ROECHAN et al., 2000), Zn, Cu, dan Fe (WILDE et al.,
tahun terakhir. 2005). Daunnya dapat dijadikan kompos dan bahan baku industri kertas
dan kerajinan sedangkan akarnya untuk kerajinan anyaman dan
” pengusir serangga (EMMYZAR et al., 2006).

Vetiver merupakan tanaman yang menghendaki cahaya penuh
dan mampu tumbuh pada lahan yang mempunyai kisaran pH yang
sangat luas dari 3,5 (sangat masam) sampai dengan 11,5 (sangat basa).
Untuk dapat menghasilkan kadar dan mutu minyak yang tinggi, akar
wangi sebaiknya ditanam pada tanah berpasir dengan ketinggian lebih
dari 750 m dpl (ROSMAN, 2003).

Sebagaimana tanaman lainnya, vetiver membutuhkan hara
untuk dapat tumbuh optimal. Salah satu cara untuk mempercepat
pertumbuhan akar tanaman vetiver adalah dengan pemupukan. Setiap
tanaman memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda terhadap unsur
hara sehingga membutuhkan dosis pupuk yang berbeda pula. Dengan
mempercepat pertumbuhan akar vetiver melalui pemupukan,
diharapkan akan mempercepat penguatan substrat perlindungan
pantai dari ancaman erosi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji
kekuatan substrat perlindungan pantai akibat pengaruh akar tanaman
vetiver.

BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan selama 12 minggu yaitu pada bulan

Agustus sampai Nopember 2016. Lokasi penelitian dilaksanakan di
Pantai Wonokerto Kulon, Kabupaten Pekalongan. Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 8 perlakuan dengan 2
kali pengulangan perlakuan yang digunakan meliputi kombinasi pupuk
SP36, amonium sulfat, KCl, Kalsium sulfat, magnesium sulfat seperti
terlihat pada Tabel 1.

44 K e l a u t a n

Gambar 1.
Tata letak
percobaan tanaman
vetiver di Pantai
Wonokerto Kulon,
Kabupaten
Pekalongan.

Tabel 1. Perlakuan Pemupukan Tanaman Vetiver

Kontrol: Perlakuan 1: Perlakuan 2: Perlakuan Perlakuan 4: Perlakuan 5: Perlakuan Perlakuan
Media Media Media 3: Media Media Media A: B:
tanam tanam tanam tanam tanam tanam Sama Sama
serabut serabut serabut serabut serabut serabut dengan dengan
kelapa + kelapa + kelapa + kelapa + kelapa + kelapa + perlakuan perlakuan
pupuk pupuk pupuk pupuk pupuk pupuk 2 tanpa 4 tanpa
kandang kandang + kandang + kandang + kandang + kandang + tanah tanah
+ tanpa tanah + tanah +SP36 tanah tanah +SP36 tanah +SP36
pupuk SP36 (50 (100 kg/ha); +SP36 (150 (200 kg/ha); (250 kg/ha);
kg/ha); amonium kg/ha); amonium amonium
amonium sulfat (200 amonium sulfat (400 sulfat (500
sulfat (100 kg/ha); KCl sulfat (300 kg/ha); KCl kg/ha); KCl
kg/ha); KCl (150 kg/ha); kg/ha); KCl (300 kg/ha); (375kg/ha);
(75 kg/ha); Kalsium (225 kg/ha); Kalsium Kalsium
Kalsium sulfat (100 Kalsium sulfat (200 sulfat (250
sulfat (50 kg/ha); sulfat (150 kg/ha); kg/ha);
kg/ha); magnesium (kg/ha); magnesium magnesium
magnesium sulfat (100 magnesium sulfat (200 sulfat (250
sulfat (50 kg/ha) sulfat (150 kg/ha) kg/ha)
kg/ha) kg/ha)

Bibit tanaman vetiver asalnya dari bonggol yang disemai
selama 1 minggu. Bibit yang sudah siap dipindahkan ke lahan pantai
dan diberi tanda pada tiap lahannya. Aplikasi pupuk dilakukan dengan
dosis 50% di awal penanaman dan 50% lagi diberikan pada umur 1
bulan penanaman. Pemberian pupuk langsung diberikan setelah
tanaman di tanam dengan cara di tabur di sekitar tanaman. Parameter
yang diukur adalah tinggi tanaman dan panjang akar tanaman.
Pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan penyiraman pagi dan sore
hari serta penyiangan gulma. Pengukuran dilakukan tiap minggu pada
sampel tanaman yang sudah dipilih. Tinggi tanaman diukur dari pangkal

Kelautan 45

sampai ujung tanaman. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan
meteran.

Gambar 2.
Pengukuran tinggi

bibit

HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi penelitian yang terletak di Pantai Wonokerto Kulon,

Kabupaten Pekalongan merupakan pantai dengan topografi tergolong
landai dengan posisi geografis 6°50'34.75" lintang Selatan dan
109°37'36.78" Bujur Timur. Tinggi gelombang signifikan untuk periode
ulang 25 tahun di perairan Kabupaten Pekalongan adalah 2,19 meter
dengan arah gelombang dominan dari arah Timur dan Barat,
sedangkan tunggang pasang surut nya adalah 65,4 cm dengan tipe
pasang surut adalah campuran tunggal (Laporan Penelitian, 2016).
Dengan tinggi gelombang mencapai 2,19 meter dan topografi pantai
yang landai di daerah penelitian, menyebabkan daerah pantai rentan
terhadap erosi pantai.

Hasil pengukuran tinggi tanaman yang dibahas dalam
penelitian ini adalah minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-4, dan
minggu ke-12. Hasil pengukuran disajikan pada Gambar 3 sampai
dengan Gambar 6.

Gambar 3.
Tinggi tanaman
rata-rata tiap petak
pada Minggu ke-1

46 K e l a u t a n

Gambar 4.
Tinggi tanaman
rata-rata tiap petak

pada Minggu ke-2

Gambar 5.
Tinggi tanaman
rata-rata tiap petak

pada Minggu ke-4

Gambar 6.
Tinggi tanaman
rata-rata tiap petak
pada Minggu ke-12

Dari hasil pengukuran tinggi tanaman, perlakuan pupuk baru
berpengaruh nyata pada minggu ke-12. Pada minggu ke-12 dengan

Kelautan 47

perlakuan 4 memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan
perlakuan yang lain. Hasil uji lanjut dengan Tukey pada α < 0.05
disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan
pemupukan nyata meningkatkan tinggi tanaman dibandingkan dengan
kontrol. Dengan pemupukan, pertumbuhan tanaman vetiver terlihat
lebih cepat dibandingkan kontrol. Pertumbuhan tanaman
mengindikasikan tanaman vetiver lebih bagus dalam menahan laju
erosi.

Walaupun demikian, diantara perlakuan pupuk tidak berbeda
nyata secara statistik. Karena diantara perlakuan pupuk tidak berbeda
nyata, maka perlakuan pupuk untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
dibandingkan kontrol dapat menggunakan perlakuan 1.

Tabel 2. Hasil uji Tukey tinggi tanaman pada minggu ke-12

Perlakuan Rata-rata tinggi
tanaman

Kontrol 130a

1 142ab

2 144ab

3 142ab

4 150b

5 140ab

A 150b

B 134ab

Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada satu
kolom tidak berbeda nyata pada uji Tukey (α<0.05)

a

Gambar 7. b
a) Keragaan
tanaman yang
dipupuk (warna
lebih hijau dan lebih
tinggi); (b) tanaman
kontrol (warna agak
kuning dan lebih

pendek)

48 K e l a u t a n

Dari Gambar 7 terlihat perbedaan tanaman vetiver yang
berumur 12 minggu, dimana tanaman yang diberi pupuk terlihat
memiliki warna daun lebih hijau dan lebih tinggi yang mengindikasikan
tanaman lebih subur dari pada tanaman yang kontrol. Tanaman kontrol
juga diletakkan di sisi paling kiri, yang terlihat pertumbuhan tanaman
lebih lambat dari tanaman yang diberi perlakuan pupuk. Dari hasil ini
dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemupukan dapat mempercepat
pertumbuhan tanaman vetiver.

ab

Gambar 7.
(a) Akar tanaman

yang diberi
perlakuan pupuk
dan (b) tanaman

kontrol

Dari Gambar 6 terlihat pertumbuhan akar tanaman vetiver yang
diberi pupuk dan tidak, dimana tanaman yang diberi pupuk memiliki
pertumbuhan akar lebih panjang dan lebat dibandingkan dengan akar
vetiver yang kontrol.

Tanaman yang diberi pupuk dengan dosis seseuai dengan
perlakuan 1 memiliki akar yang lebih panjang dan banyak/lebat
dibandingkan dengan kontrol. Diharapakan dengan ini akar dapat
mengikat substrat lebih banyak dan padat, tidak mudah terurai akaibat
pengaruh eksternal seperti gelombang dan arus.

Hasil penelitian mengenai pengaruh akar tanaman vetiver
terhadap kekuatan geser tanah pantai memperlihatkan adanya
peningkatan sudut geser tanah setelah adanya akar tanaman vetiver.
Peningkatan kuat geser rata-rata sebesar 39,6 % dari tanah asli.
Peningkatan sudut geser tersebut bisa dijadikan indikator terhadap
meningkatnya kekuatan tanah (Indriasari, Y.V. dan Akhwady, R, 2017).

Hasil penelitian mengenai pengaruh akar tanaman terhadap
kekuatan tanah menyebutkan bahwa akar tanaman memperkuat tanah
melalui penyaluran tegangan geser tanah menjadi perlawanan tarikan
oleh akar-akar tersebut (Santiawan, 2007).

PENUTUP
Dari penelitian diperoleh beberapa kesimpulan:

1. Pemberian pupuk terhadap tananam vetiver berpengaruh
terhadap kecepatan pertumbuhan akar yang secara tidak
langsung akan mempercepat penguatan struktur substrat

Kelautan 49

perlindungan pantai dan diharapkan dapat mencegah terjadi
erosi.
2. Percepatan tinggi tanaman vetiver untuk perlindungan pantai
juga dipengaruhi oleh pemupukan. Tinggi tanaman yang cepat
dapat “menjebak” sedimen dengan harapan dapat menahan
erosi.
3. Perlindungan pantai ramah lingkungan berbasis vetiver selain
untuk penguatan struktur substrat pantai dapat dimanfaatkan
sebagai pendukung wisata pantai/pesisir.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Pusat

Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikana, Kementerian
Kelautan dan Perikanan yang telah mendanai Kegiatan Penelitian ini,
serta Saudara Tudin yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini di
lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
Damanik. S. (2005). “Kajian usaha tani akar wangi rakyat berwawasan

konservasi di Kabupaten Garut”. Jurnal Littantri 11(1): 25-31.
Diposaptono. S. (2005). “Prosiding Pelatihan Pengelolaan Wilayah

Pesisir Terpadu”, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan
Institut Pertanian Bogor, 2001
Emmyzar, Y., Ferry, dan Daswir. (2006). “Prospek pengembangan
tanaman akar wangi”. Perkembangan Teknologi Tanaman
Rempah dan Obat. XVIII (1): 1-11.
Hengchauvanich, 1988, Vetiver system for stabilization, APT Consult Co
Ltd. Bangkok, Thailand
Mimura, N. (1999). Vulnerability of Island Countries in The South Pasific
to Sea Level Rise and Climate Change. Climate Research Vol. 12
: 137-143.
Triatmodjo. B. (1999). "Teknik Pelabuhan" Beta Pers, Yogyakarta.
Qera, M. (2011). "Addressing Coastal Erosion on Kia Island", http://c-
3.org.uk/c3-fiji-addressing-coastal-erosion-on-kia-island/
Roechan, S., A.M. Kurniawansyah, dan Emmyzar. (2000).
“Pemanfaatan akar wangi (Vetiveria zizanoides L.) sebagai
tanaman sarana rehabilitasi tanah tercemar logam berat Lead
and Cadmium”. Laporan RUT Terpadu VI (1198-2000)
Rosman. R. (2003). “Peta kesesuaian lahan dan iklim tanaman industri
(rempah, obat, dan atsiri) di Propinsi Lampung”. Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. 57 hlm.
Santiawan, I. 2007. Penggunaan vegetasi (rumput gajah) dalam
menjaga kestabilan tanah terhadap kelongsoran, Jurnal Ilmiah
Teknik Sipil 11, 1.
Vivi Yovita Indriasari, V.Y. dan Akhwady, R. (2017) “Rekayasa Eco-
Hybrid Untuk Restorasi Pantai Kedungu, Bali”. Jurnal Ilmiah
Teknik Sipil. A Scientific Journal Of Civil Engineering . Vol. 21
No. 1. ISSN: 1411 – 1292. E-ISSN: 2541 – 5484

50 K e l a u t a n

Wilde, E.W., R.L. Brigmon, D.L. Dunn, M.A. Heitkamp, and D.C.
Dagnan. (2005). “Phytoextraction of lead from firing range soil
by vetiver grass”. Chemosphere. 61(10): 1451-1457.

World Resources Institute. (2000). “Marine Jurisdictions: Coast Line
Length”. http://earth.wri.org/text/coastalmarine.

Yuwono. N. (1992). “Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pantai”. Vol.
2, Laboratorium Hidraulika dan Hidrologi, PAU-IT-UGM,
Yogyakarta.

Kelautan 51

EKOSTRUKTUR IKAN TERUMBU PADA EKOSISTEM
TERUMBU BUATAN (REEF BALL) DI TELUK BENETE,

SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT

Aflaha Abdul Munib1, Dietriech G. Bengen1, Adriani Sunuddin1, Nurhaya Afifah1,
Muhammad Salamuddin Yusuf2
1Institut Pertanian Bogor

2PT. Amman Mineral Nusa Tenggara
Gedung Marine Center Lantai.3.FPIK-IPB, Bogor. 16680. Telp/Fax 0251-8623644. Email:

[email protected]

ABSTRAK
Ikan terumbu adalah kumpulan individu ikan yang hidup dan keberadaannya erat
kaitannya dengan kondisi terumbu karang. Salah satu alternatif untuk merehabilitasi
terumbu karang yang rusak adalah terumbu buatan dengan metode reef ball. Penelitian
ini bertujuan mengetahui struktur komunitas ikan terumbu di ekosistem terumbu
buatan (reef ball) dan terumbu karang alami di Teluk Benete. Survei dilakukan pada Juni
– Agustus 2016 di tiga stasiun (HA1, HA2, dan RB) menggunakan teknik underwater
visual census (UVC) pada transek 2 x 30 meter. Diperoleh 110 spesies ikan terumbu dari
26 famili dan kelimpahan ikan di terumbu buatan (RB) lebih tinggi, namun biomassanya
lebih rendah dibandingkan terumbu alami (HA1 dan HA2). Komposisi ikan mayor,
indikator, dan target secara berturut-turut mencapai 83.59%, 5.93%, dan 10.47% dari
total. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi adalah 2.50 – 3.60,
0.69 – 0.95, dan 0.06 – 0.20 yang menunjukkan komunitas ikan terumbu tergolong stabil
di seluruh stasiun pengamatan. Hasil tersebut menunjukkan keberhasilan fungsi reef ball
sebagai alternatif habitat bagi ikan di Teluk Benete.
Kata kunci: biomassa, ikan terumbu, kelimpahan, Teluk Benete, terumbu buatan

52 K e l a u t a n

“Keberadaan sumberdaya PENDAHULUAN
Terumbu karang sebagai ekosistem yang produktif berperan
ikan terumbu erat
kaitannya dengan penting baik secara ekologi maupun sosial-ekonomi. Peran ekologi
keberadaan terumbu terumbu karang diantaranya sebagai habitat hidup, tempat mencari
makan, berpijah, daerah asuhan dan tempat berlindung bagi hewan laut
karang yang lainnya (Suharsono, 2008). Namun demikian terumbu karang
memanfaatkan terumbu merupakan ekosistem yang rentan dan cenderung mengalami
perubahan akibat faktor alam dan manusia. Ikan terumbu adalah
karang baik secara kumpulan individu ikan yang hidup di dalam suatu ekosistem terumbu
langsung maupun tidak karang (Choat dan Bellwood, 1991). Keberadaan sumberdaya ikan
terumbu erat kaitannya dengan keberadaan terumbu karang yang
langsung untuk memanfaatkan terumbu karang baik secara langsung maupun tidak
kepentingan hidupnya. langsung untuk kepentingan hidupnya. Selain itu, struktur habitat
penyusun sistem terumbu karang yang kompleks dapat menyebabkan
” beragamnya relung hidup dari ikan-ikan terumbu yang ada (Adriani,
2002).

Ekosistem terumbu karang telah banyak mengalami degradasi
di berbagai tempat, salah satunya adalah di Teluk Benete, Sumbawa
Barat. Kondisi ini, antara lain disebabkan oleh tekanan yang
ditimbulkan oleh beberapa faktor, seperti penangkapan ikan yang
merusak di ekosistem terumbu karang alami. Penurunan kondisi
ekosistem terumbu karang di teluk tersebut perlu mendapat perhatian,
sehingga upaya pemulihannya perlu dilakukan dan salah satunya
dengan menggunakan terumbu buatan.

Terumbu buatan adalah struktur yang ditenggelamkan ke dasar
perairan yang menyerupai karakteristik terumbu alami. Reef ball
(terumbu buatan) merupakan salah satu alternatif yang dapat
digunakan untuk merehabilitasi, merestorasi, atau membentuk habitat
baru bagi terumbu karang (Bachtiar dan Prayogo, 2008). Fungsi ekologi
lain terumbu buatan, yaitu menciptakan habitat baru yang dapat
meningkatkan kelimpahan beragam ikan asosiatif karena ketersediaan
tempat berlindung dan sumber makanan yang terkumpul di terumbu
buatan (Miller dan Falace, 2000).

Sejauh ini, penelitian ikan terumbu di terumbu buatan sebagian
besar memperlihatkan nilai yang positif terhadap peningkatan
kelimpahan ikan terumbu yang ada. Salah satunya hasil teknik reef ball
yang dipasang di Teluk Buyat sejak tahun 1999–2012 mampu
meningkatkan keberadaan komunitas ikan terumbu (Manembu,
Adrianto, Bengen dan Yulianda, 2012). Salah satu tempat lain
pemasangan reef ball terdapat di Teluk Benete yang dilakukan oleh PT
Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT), Sumbawa Barat.
Penempatan reef ball tersebut merupakan program konservasi terumbu
karang dan salah satu komitmen PT AMNT untuk melestarikan
lingkungan. Penggunaan metode reef ball tersebut merupakan upaya
untuk mengembalikan atau membentuk komunitas karang tanpa
melihat jenis karang yang akan tumbuh di habitat tersebut karena
mengandalkan rekruitment dari larva karang secara alami serta
memberikan habitat bagi ikan dan biota laut untuk tumbuh dan
berkembang di area reef ball serta meningkatkan perikanan di daerah
tersebut.

Kelautan 53

“ Namun hingga kini, belum ada penelitian mengenai ikan
terumbu pada terumbu buatan (reef ball) setelah dilakukan penempatan
Penggunaan metode reef ball di teluk tersebut. Oleh karena itu, untuk memperoleh informasi
reef ball tersebut terkini dalam pemanfaatan reef ball sebagai suatu sub-sistem ekologi
merupakan upaya yang baru tentunya perlu ada kajian, sehingga tingkat keberhasilan
proses rehabilitasi ditinjau dari ikan terumbu yang berasosiasi di
untuk mengembalikan dalamnya.
atau membentuk
komunitas karang Penelitian ini akan membandingkan struktur komunitas ikan
terumbu pada reef ball dan habitat alami serta menyatakan efektivitas
tanpa melihat jenis reef ball sebagai penyedia habitat bagi ikan terumbu. Struktur
karang yang akan komunitas ini dihitung berdasarkan nilai kelimpahan, biomassa, indeks
tumbuh di habitat keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi. Komunitas ini dihitung
tersebut . karena kestabilan suatu ekosistem terumbu karang dapat dilihat
berdasarkan kestabilan komunitas ikan terumbunya. Penelitian ini
” bertujuan mengetahui struktur komunitas dan biomassa ikan terumbu
di ekosistem terumbu buatan (reef ball) dan terumbu karang alami di
Teluk Benete, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2016 di

perairan Teluk Benete, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Pengamatan ikan terumbu dilakukan setiap satu bulan sekali, yaitu
tanggal 1-2 Juni 2016, 14-15 Juli 2016, serta 3 dan 8 Agustus 2016 di
Stasiun HA1, HA2, dan RB (Gambar 1). Stasiun HA1 dan HA2
merupakan terumbu karang sebagai habitat alami, sedangkan Stasiun
RB merupakan lokasi penempatan terumbu buatan (reef ball).
Penelitian terbagi menjadi tiga tahap, yaitu survei lapang, pengolahan,
dan analisis data.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah set alat
selam, pensil, roll meter, kamera bawah air, global positioning system
(GPS), buku identifikasi Reef Fishes of the East Indies (Allen, Steene,
Humann dan Deloach, 2012), Photo Guide Indonesian Reef Fishes (Kuiter
dan Tonozuka, 2001) dan perangkat lunak Microsoft Excel 2016, XLStat
versi 2016, dan SeaStar 7.24. Temperature recorder, secchi disk, dan
water checker untuk mengukur parameter fisika-kimiawi air laut. Bahan
yang digunakan adalah lembar data pencatatan ikan dan sampel air
laut.

54 K e l a u t a n

Gambar 1. Pengamatan ikan terumbu dilakukan dengan menggunakan
Lokasi dan stasiun teknik underwater visual census (UVC) berdasarkan metode transek
sabuk (belt transect) (English, Wilkinson dan Baker, 1997). Transek
penelitian sepanjang 30 meter diletakkan sejajar garis pantai di kedalaman 5
meter dengan ulangan sebanyak dua kali dan jeda antar ulangan
sebesar 5 meter. Data yang diambil berupa estimasi jumlah individu dan
ukuran panjang ikan setiap individu jenis ikan terumbu. Arah
pergerakan secara lurus di atas transek sambil melakukan pencatatan
ikan yang ditemukan pada jarak pandang ke kanan dan kiri sejauh 2,5 m
(sensus visual), sehingga luas wilayah pengamatan adalah 150 m2.

Data ikan terumbu hasil sensus visual yang diperoleh
selanjutnya akan dikelompokkan berdasarkan dua garis besar, yaitu
kebiasaan mencari makan dan berdasarkan kategori fungsional dalam
sistem terumbu karang. Pengelompokkan ikan terumbu berdasarkan
makanannya dapat diklasifikasikan sebagai ikan terumbu pemakan
plankton (planktivora), pemakan segala (omnivora), pemakan hewan
(karnivora), tumbuhan (herbivora), pemakan polip karang (koralivora),
pemakan hewan invertebrata yang menempel di dasar perairan (bentik
invertivora) dan pemakan detritus dari sedimen (detritivora) yang
mengacu pada Froese dan Pauly (2014), sedangkan pengelompokkan
kategori fungsional dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama,
yaitu ikan mayor, indikator, dan target yang mengacu pada Madduppa
(2014).

Perhitungan kelimpahan mengacu pada English et al., 1997
dihitung berdasarkan jumlah individu setiap jenis ikan terumbu yang
ditemukan pada luas area pengamatan. Biomassa ikan terumbu adalah
berat individu ikan (W) per luas area pengamatan yang dihitung

Kelautan 55

berdasarkan hubungan panjang-berat. Selanjutnya dikonversi ke dalam
berat (kg) yang mengacu pada COREMAP (2014).

Keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi jenis ikan
terumbu dalam suatu komunitas dihitung mengacu pada Odum (1993).
Keanekaragaman jenis dihitung dengan menggunakan indeks
keanekaragaman (H’) Shannon-Wiener, keseragaman dihitung
berdasarkan indeks keseragaman (E), dominasi dengan menghitung
indeks dominasinya (C). Sebaran spasio-temporal ikan terumbu yang
mengelompok di masing-masing stasiun dan waktu pengamatan
dianalisis dengan menggunakan analisis koresponden (correspondence
analysis). Analisis koresponden adalah metode statistik deskriptif yang
dimaksudkan untuk mengelompokkan unit-unit statistik ke dalam
kelompok-kelompok homogen dari sejumlah variabel atau karakter
(Bengen, 2012). Analisis koresponden dilakukan dengan menggunakan
perangkat lunak XLStat versi 2016.

PEMBAHASAN
Karakteristik Fisika-Kimiawi Perairan

Pengukuran parameter fisika-kimiawi perairan di antaranya
suhu air, kecerahan, dan salinitas yang dilakukan di Stasiun HA1 dan
HA2 secara langsung (in situ). Pengukuran parameter suhu air dilakukan
di kedalaman 3 meter pada akhir bulan Mei-Agustus 2016. Alat
perekam suhu air (temperatur recorder) tersebut diatur merekam nilai
suhu setiap sepuluh menit. Hasil pengukuran parameter kecerahan dan
salinitas yang diperoleh dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk
biota laut (KEP No.51/MENLH/2004) (Tabel 1).

Gambar 2.
Nilai rata-rata suhu

di perairan Teluk
Benete

Tabel 1. Hasil pengukuran parameter fisika-kimiawi air laut di Teluk Benete

No Parameter HA 1 HA 2 Baku
07/16 Mutu
06/16 07/16 08/16 06/16 08/16
8 7 7 >5
1 Kecerahan (meter) 6 7 7 33,60 33-34
33,60 33,40
2 Salinitas (‰) 32,80 34,07 34,07

Keterangan: Juni: 06/16, Juli: 07/16, Agustus: 08/16

56 K e l a u t a n

Kecerahan di perairan berkisar antara 6-8 m dengan kedalaman
rata-rata setiap titik pengamatan kecerahan perairan adalah 15 m,
sehingga kecerahannya tergolong tinggi. Nilai kecerahan ini sangat
dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan
padatan tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan
pengukuran (Effendi, 2003). Selain itu, nilai salinitas di perairan berkisar
antara 32,8-34,07 ‰. Nilai parameter suhu, kecerahan, dan salinitas
yang diukur di perairan Teluk Benete masih tergolong baik karena
dalam kisaran baku mutu untuk biota laut menurut KEPMEN-LH No. 51
tahun 2004, artinya perairan Teluk Benete masih menunjang
pertumbuhan ikan terumbu dengan baik.

Kelimpahan Ikan Terumbu
Nilai rata-rata kelimpahan ikan terumbu di ekosistem reef ball

menunjukkan kelimpahan yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem
terumbu karang khususnya pada bulan Juli dan Agustus. Pada bulan
Juni, kelimpahan tertinggi terdapat di Stasiun HA2 sebesar 133 ind/150
m2 dan terendah terdapat di Stasiun RB sebesar 67 ind/150 m2. Pada
bulan Juli dan Agustus, kelimpahan tertinggi berada di Stasiun RB,
masing-masing sebesar 187 ind/150 m2 dan 415 ind/150 m2 (Gambar 3).

Gambar 3.
Kelimpahan ikan
terumbu di setiap stasiun

Kelimpahan terendah pada bulan Juni dapat disebabkan karena
keadaan jarak pandang pengamat yang kurang baik khususnya Stasiun
RB. Ketika bulan Juni, pengamatan dilakukan ketika kondisi perairan
dalam keadaan pasang tertinggi menuju surut terendah (pukul 09.00–
13.00 wita), sehingga menyebabkan arus pasang surut yang cukup kuat
dan menyebabkan kekeruhan serta kesulitan melakukan pengamatan.
Ketika bulan Agustus, kondisi arus cukup tenang sehingga jarak
pandang pengamat sangat baik sehingga jenis ikan terumbu banyak
yang terlihat. Menurut Edrus dan Setiawan (2013) dalam kondisi
perairan yang kurang baik, terutama dengan kekeruhan tinggi, tidak
banyak jenis ikan yang nampak, sebaliknya pada perairan jernih banyak
jenis ikan terumbu yang muncul.

Kelimpahan ikan terumbu di Stasiun RB yang tinggi dapat
disebabkan karena dijumpai ikan-ikan yang berenang bergerombol
(schooling), seperti spesies Pomacentrus moluccensis, Chromis viridis,
Dascyllus reticulatus dan Dascyllus aruanus. Spesies-spesies tersebut
selalu dijumpai di antara karang jenis Acropora bercabang (branching)

Kelautan 57

dan Acropora meja (tabulate) yang tumbuh di permukaan modul-modul
reef ball sebagai habitat dan tempat berlindung. Karakteristik tersebut
berbeda dengan kondisi ekosistem terumbu karang yang cenderung
didominasi dengan pertumbuhan karang membulat (massive corals),
karang mengerak (encrusting corals), dan karang lunak (soft coral). Nilai
rata-rata kelimpahan yang tinggi di ekosistem reef ball tersebut sesuai
dengan pernyataan Madduppa, Subhan, Bachtiar, Ismet, Budikartini
dan Bria (2007) bahwa kelimpahan ikan terumbu pada terumbu buatan
lebih tinggi dibandingkan dengan kelimpahan ikan terumbu alami
karena adanya jenis ikan yang dominan akibat ketertarikan pada
terumbu karang buatan.

Komposisi Famili Ikan Terumbu
Hasil pengamatan diperoleh sebanyak 110 spesies ikan terumbu

dari 26 famili yang berasosiasi baik di ekosistem habitat alami terumbu
karang (HA1 dan HA2) dan terumbu buatan (RB). Jumlah famili tertinggi
terdapat di Stasiun HA1, masing-masing sebesar 11 famili (Juni) dan 17
famili (Juli dan Agustus), sedangkan jumlah spesies tertinggi terdapat di
Stasiun HA2, masing-masing sebesar 31 spesies (Juni) dan 38 spesies
(Juli), sedangkan pada bulan Agustus terdapat di Stasiun HA1 sebesar
52 spesies (Gambar 4).

Gambar 4.
Jumlah famili dan spesies

ikan terumbu di setiap
stasiun

Famili Pomacentridae memiliki kelimpahan tertinggi diikuti
dengan Famili Acanthuridae, Chaetodontidae, dan Labridae yang selalu
ditemukan setiap pengamatan. Persentase kelimpahan Famili
Pomacentridae di Stasiun HA1 mencapai 67%, Stasiun HA2 mencapai
70%, dan Stasiun RB mencapai 81%, sedangkan persentase kelimpahan
Famili Acanthuridae di Stasiun HA1 mencapai 15%, Stasiun HA2
mencapai 14%, dan Stasiun RB mencapai 5%. Famili Chaetodontidae di
Stasiun HA1 mencapai 8%, Stasiun HA2 mencapai 9%, dan Stasiun RB
mencapai 4%. Persentase famili ikan terumbu di masing-masing stasiun
dapat dilihat pada Gambar 5.

58 K e l a u t a n

Gambar 5.
Kelimpahan famili ikan
terumbu di Stasiun (a)
HA1, (b) HA2, dan (c) RB

pada setiap bulan

Beberapa spesies ikan terumbu yang banyak dijumpai selama
pengamatan adalah Pomacentrus molucensis (Pomacentridae), Chromis
viridis (Pomacentridae), Dascyllus reticulatus (Pomacentridae), Dascyllus
aruanus (Pomacentridae), Ctenochaetus striatus (Acanthuridae),
Zebrasoma scopas (Acanthuridae), Thalassoma lunare (Labridae),
Labroides dimidiatus (Labridae), Zanclus cornutus (Zanclidae),
Chaetodon vagubundus (Chaetodontidae), dan Canthigaster valentini
(Tetraodontidae). Spesies ikan terumbu dari Famili Pomacentridae
selalu dijumpai di Stasiun RB setiap pengamatan, sedangkan di
ekosistem terumbu karang cenderung didominasi oleh Famili
Acanthuridae, Chaetodontidae, dan Zanclidae dengan nilai kelimpahan
yang lebih tinggi.

Famili Pomacentridae memang memiliki jumlah jenis terbanyak
dibandingkan dengan jenis dari kelompok famili yang lain (Allen, 2012).
Spesies Pomacentrus molucensis, Chromis viridis dan Dascyllus
reticulatus memang cenderung membentuk kelompok besar di atas
hamparan terumbu karang hidup dan berlindung di antara karang
bercabang (Madduppa, 2014). Menurut Allen (1998), Famili

Kelautan 59

“ Pomacentridae akan berkembang biak dengan baik di daerah yang
cukup menyediakan tempat untuk berlindung. Perbedaan komposisi
Salah satu faktor yang famili tersebut menunjukkan komunitas ikan terumbu cenderung
menyebabkan mempunyai hubungan yang erat dengan terumbu karang sebagai
habitatnya (Rembet, Boer, Bengen dan Fahrudin, 2011).
kelimpahan ikan
planktivora yang tinggi Kelimpahan Ikan Terumbu Berdasarkan Jenjang Trofik
adalah berkaitan dengan Jenjang trofik menunjukkan keberadaan ikan terumbu dalam

kondisi perairan. jaring makanan (Merryanto, 2000). Rata-rata jenjang trofik ikan
terumbu cukup beragam, namun ikan planktivora menunjukan
” dominasi kelimpahan yang tinggi di setiap stasiun. Kelimpahan ikan
planktivora tertinggi terdapat di Stasiun RB sebesar 297 ind/150 m2
(Agustus) dan terendah terdapat di Stasiun HA2 sebesar 14 ind/150 m2
(Juni). Nilai rata-rata kelimpahan ikan omnivora yang tinggi terdapat di
Stasiun HA2 pada bulan Juni sebesar 79 ind/150 m2 dan di Stasiun RB
sebesar 60 ind/150 m2 pada bulan Agustus. Selain itu, ikan karnivora
juga ditemukan dalam pengamatan yang mencapai 38 ind/150 m2 pada
bulan Juli di Stasiun RB, sedangkan ikan herbivora lebih dominan di
ekosistem terumbu karang sebesar 30 ind/150 m2 di Stasiun HA1
(Agustus) dan 20 ind/150 m2 di Stasiun HA2 (Agustus).

Salah satu faktor yang menyebabkan kelimpahan ikan
planktivora yang tinggi adalah berkaitan dengan kondisi perairan.
Pengamatan pada bulan Agustus dilakukan sekitar dua jam sebelum
pasang tertinggi dengan kondisi pasang surut cukup fluktuatif,
sehingga terjadi adanya arus pasang surut. Menurut Haumahu (2004),
arus pasang surut mempengaruhi distribusi fitoplankton secara
horizontal sehingga dapat mempengaruhi persebaran ikan planktivora
karena ikan planktivora memanfaatkan fenomena pergerakan massa air
sebagai pensuplai makanannya. Tingkah laku ikan terumbu memang
dapat disebabkan oleh arus, khususnya arus pasang surut yang secara
langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara
tidak langsung mempengaruhi pengelompokkan makanan (Lavastu dan
Hayes, 1981). Beberapa spesies dari kelompok planktivora yang sering
dijumpai diantaranya Amblyglyphidodon curacao, Chromis viridis,
Chromis dimidiata, Dascyllus reticulatus, dan Dascyllus trimaculatus.

Keberadaan ikan karnivora dapat disebabkan oleh keberadaan
ikan-ikan berukuran kecil di ekosistem reef ball sebagai target makanan
ikan karnivora. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa komunitas
ikan kecil yang menetap di ekosistem terumbu buatan dapat menarik
ikan besar lainnya sebagai pemangsa komunitas tersebut (Chou, 1997).
Beberapa spesies ikan karnivora yang dijumpai di Stasiun RB
diantaranya adalah Plectorhinchus chaetodontoides, Scolopsis bilineatus,
Scolopsis lineatus, dan Thalassoma hardwicke.

60 K e l a u t a n

Gambar 6.
Kelimpahan ikan
terumbu berdasarkan
jenjang trofik di
Stasiun (a) HA1, (b)
HA2, dan (c) RB

Komposisi Kategori Fungsional Ikan Terumbu
Ikan terumbu memiliki tiga kategori berdasarkan fungsinya,

yaitu ikan mayor, ikan indikator, dan ikan target. Secara umum rata-
rata persentase kategori fungsional ikan terumbu di dominasi oleh
kelompok ikan mayor sebesar 83.59%, ikan indikator sebesar 5.93%,
dan ikan target sebesar 10.47%. Komposisi kategori fungsional ikan
terumbu dijelaskan pada Gambar 7.

Gambar 7.
Komposisi kategori

fungsional ikan
terumbu

Ikan mayor merupakan ikan yang sering terlihat di suatu
ekosistem terumbu karang, berasosiasi baik sebagai penetap maupun
pelintas dan berperan secara umum dalam sistem rantai makanan di
ekosistem terumbu karang. Ikan indikator merupakan ikan yang
berfungsi sebagai parameter kesehatan terumbu karang, sedangkan
ikan target merupakan ikan yang dijadikan target penangkapan karena
memiliki nilai ekonomis dan dikonsumsi oleh masyarakat (Hartati dan
Edrus 2005; Madduppa 2014). Tipe fungsional ikan terumbu yang
ditemukan adalah kategori ikan mayor sebesar 55 spesies dari 18 famili,
ikan indikator sebesar 17 spesies dari 2 famili, dan ikan target sebesar 38
spesies dari 17 famili.

Ikan terumbu berdasarkan kategori fungsional didominasi oleh
ikan mayor, seperti Famili Pomacentridae yang dijumpai sebanyak 18
spesies dan Famili Labridae sebanyak 14 spesies. Famili Pomacentridae
dan ikan mayor lainnya merupakan jenis ikan penetap (resident species)
atau memiliki tingkah laku teritorial, jarang berkeliaran jauh dari
sumber makanan dan tempat berlindungnya (Romimohtarto dan
Juwana, 2001). Hal ini menyebabkan ikan-ikan tersebut lebih mudah
dilihat sehingga kemunculannya banyak tercatat ketika pengamatan.

Kelautan 61

“Secara ekologi, Ikan indikator merupakan ikan Famili Chaetodontidae yang
beberapa diantaranya merupakan pemakan polip karang sejati (obligate
anggota kelompok ikan corralivores), sehingga keberadaan famili tersebut dapat berfungsi
target umumnya sebagai tanda kesehatan terumbu karang. Beberapa spesies ikan
berperan sebagai indikator yang termasuk obligate corralivores, diantaranya adalah
predator yang Chaetodon baronessa, Chaetodon ephippium, Chaetodon kleinii,
berfungsi untuk Chaetodon lunula, Chaetodon trifascialis, Chaetodon trifasciatus,
Chaetodon melannotus, dan Chaetodon triangulum. Spesies Chaetodon
menjaga keseimbangan vagabundus dan Chaetodon kleinii merupakan ikan indikator yang selalu
ekosistem dengan dijumpai setiap periode pengamatan. Keadaan ini menunjukkan bahwa
spesies tersebut memiliki relung ekologi yang luas dan tidak
mengontrol kelompok terpengaruh dengan perubahan-perubahan kondisi terumbu karang
ikan lain yang status (Manembu et al., 2012).

trofiknya lebih rendah. Kelompok ikan target yang diperoleh masing-masing sebanyak
16 spesies di Stasiun RB, 21 spesies di Stasiun HA1 dan Stasiun HA2.
” Beberapa jenis ikan target yang ditemukan, yaitu dari Famili
Serranidae, Mullidae, Nemipteridae, Haemulidae, Labridae, Scaridae,
dan Acanthuridae. Secara ekologi, anggota kelompok ikan target
umumnya berperan sebagai predator yang berfungsi untuk menjaga
keseimbangan ekosistem dengan mengontrol kelompok ikan lain yang
status trofiknya lebih rendah.

Biomassa Ikan Terumbu
Nilai rata-rata biomassa ikan terumbu di ekosistem terumbu

karang lebih tinggi dibandingkan terumbu buatan (Gambar 8). Rata-
rata biomassa tertinggi pada bulan Juni dan Juli terdapat di Stasiun HA2
masing-masing sebesar 2.07 kg/150 m2 dan 3.97 kg/150 m2, sedangkan
pada bulan Agustus terdapat di Stasiun HA1 sebesar 6.98 kg/150 m2.
Rata-rata biomassa ikan terumbu di Stasiun RB menunjukkan nilai yang
terendah pada setiap periode pengamatan masing-masing sebesar 0.30
kg/150 m2 (Juni), 2.28 kg/150 m2 (Juli), 3.45 kg/150 m2 (Agustus).

Gambar 8.
Biomassa ikan terumbu

di setiap stasiun

Ikan terumbu di Stasiun HA1 dan HA2 didominasi oleh jenis ikan
yang berukuran besar, sedangkan Stasiun RB didominasi dengan
ukuran ikan kecil dengan kelimpahan yang tinggi. Umumnya Famili
Acanthuridae, Balistidae, Labridae, Scaridae, dan Chaetodontidae
mendominasi dengan ukuran yang besar. Biomassa ikan terumbu yang
tinggi di Stasiun HA1 dan HA2 dapat disebabkan ketersediaan makanan
dan komunitas bentik yang lebih kompleks, indikasinya dengan
dijumpai kelompok ikan herbivora, seperti genus Scarus (Scaridae),
Zebrasoma, dan Acanthurus (Acanthuridae), kelompok coralivora yaitu
Famili Chaetodontidae, kelompok karnivora seperti genus Halichoeres
dan Thalassoma (Labridae) serta genus Hemigymnus (Labridae) dan

62 K e l a u t a n

“ Zanclus (Zanclidae) yang aktif mencari makanan berupa alga dan
invertebrata bentik yang banyak terdapat di dasar perairan. Selain itu,
Keberadaan ikan- genus Balistapus (Balistidae) memiliki tingkah laku yang menempati
ikan kecil di reef ball habitat pasir dan pecahan karang untuk menempatkan telur-telurnya
juga dapat memberikan (Adriani, 2002). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kemudahan
fungsi ekologi sebagai mencari makanan dan ketersediaan ruang menyebabkan Stasiun HA1
tempat mencari makan dan HA2 disukai oleh kelompok ikan tersebut.
(feeding ground), seperti
dijumpai ikan kelompok Ikan terumbu berukuran kecil banyak ditemukan berada di antara
bentuk pertumbuhan karang Acropora bercabang (branching) dan
karnivora yang Acropora meja (tabulate) di Stasiun RB. Menururt Nybakken (1992)
mencapai 11 jenis (RB), Acropora merupakan tempat yang disukai oleh kelimpahan ikan-ikan
sedangkan di ekosistem berukuran kecil. Berdasarkan nilai kelimpahan, komposisi famili, dan
biomassa ikan terumbu menunjukkan bahwa reef ball telah
terumbu karang memberikan peran fungsional bagi jenis ikan terumbu tertentu sebagai
mencapai 5 jenis (HA1) habitat. Hal tersebut sesuai pernyataan Madduppa et al. (2007),
terumbu buatan menyediakan tempat berlindung yang lebih baik dari
dan 4 jenis (HA2). terumbu alami, tetapi tidak untuk semua jenis dan ukuran ikan
melainkan hanya beberapa jenis ikan saja. Namun, keberadaan ikan-
” ikan kecil di reef ball juga dapat memberikan fungsi ekologi sebagai
tempat mencari makan (feeding ground), seperti dijumpai ikan
kelompok karnivora yang mencapai 11 jenis (RB), sedangkan di
ekosistem terumbu karang mencapai 5 jenis (HA1) dan 4 jenis (HA2).
Menurut Chou (1997), komunitas ikan kecil yang menetap di ekosistem
terumbu karang buatan dapat menarik ikan besar lainnya sebagai
pemangsa komunitas tersebut.

Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominasi Ikan Terumbu
Keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominasi (C) dapat

digunakan sebagai dasar untuk menduga kondisi suatu lingkungan
perairan berdasarkan komposisi biologis. Kondisi dikategorikan baik
bila diperoleh nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman yang
tinggi serta dominasi yang rendah. Hasil diperoleh indeks
keanekaragaman berkisar antara 2.50 – 3.60, indeks keseragaman
berkisar antara 0.69 – 0.95, dan nilai indeks dominasi berkisar antara
0.06 – 0.20 di setiap stasiun pengamatan (Gambar 9).

Gambar 9.
Indeks keanekaragaman,

keseragaman, dan
dominasi ikan terumbu

Kelautan 63

Hal tersebut menunjukkan keanekaragaman termasuk kategori
sedang, baik di ekosistem terumbu karang dan terumbu buatan. Suatu
komunitas memiliki keanekaragaman yang tinggi dilihat dari
banyaknya jumlah spesies yang ditemukan dalam suatu komunitas.
Semakin tinggi jumlah spesies yang ditemukan, keanekaragamannya
tinggi dan kestabilan komunitasnya baik. Selanjutnya, indeks
keseragaman termasuk kategori sedang hingga tinggi. Keseragaman
tinggi mengindikasikan komunitas yang stabil, artinya semakin merata
penyebaran individu antar spesies sehingga keseimbangan ekosistem
akan semakin meningkat. Kisaran indeks dominasi tersebut
menunjukkan dominasi yang rendah, yang artinya tidak ada indikasi
spesies tertentu yang mendominasi satu sama lain baik di ekosistem
reef ball dan terumbu karang. Setyobudiandi, Sulistiono, Yulianda,
Kusmana, Hariyadi, Damar, Sembiring dan Bahtiar (2009) menjelaskan
dengan mengacu pada nilai keseragaman dengan kategori tinggi yang
menunjukkan bahwa tidak adanya jenis ikan tertentu mendominasi
perairan tersebut.

Sebaran Spasio-Temporal Ikan Terumbu
Sebaran ikan terumbu berdasarkan stasiun dan waktu

pengamatan memperlihatkan bahwa 68.82% informasi dari ragam total
dapat dijelaskan oleh sumbu 1 (F1) sebesar 43.37% dan sumbu 2 (F2)
sebesar 25.09% (Gambar 11). Terlihat bahwa Famili Pomacentridae dan
Labridae banyak ditemukan di Stasiun HA1 dan Stasiun HA2 pada bulan
Juni dan Juli, Stasiun RB pada bulan Juni dan Agustus, sedangkan Famili
Acanthuridae, Zanclidae, Scaridae, Tetraodontidae, dan Holocentridae
lebih dominan di Stasiun HA1 pada bulan Agustus.

Hasil menunjukkan Famili Pomacentridae dan Famili Labridae
terlihat mendekati sumbu utama, artinya famili tersebut menyebar
hampir merata di semua stasiun pada setiap periode pengamatan.
Secara keseluruhan, hasil nilai kelimpahan, biomassa dan sebaran
spasio-temporal menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang
khususnya Stasiun HA1 menjadi habitat bagi ikan herbivora dan ikan
target, seperti Famili Scaridae dan Famili Acanthuridae. Famili tersebut
merupakan bagian terpenting dari kelompok herbivora karena mampu
memakan alga yang tumbuh di substrat dasar sehingga pertumbuhan
alga yang bersaing ruang hidup dengan karang dapat terkendali.
Selanjutnya, keberadaan ikan Famili Tetraodontidae dan Famili
Zanclidae menunjukkan bahwa terumbu karang menjadi habitat
kesukaan tersendiri bagi famili tersebut karena melihat sifat ikan
tersebut yang termasuk ikan teritorial. Masing-masing jenis dalam
komunitas ikan terumbu memiliki ketertarikan yang kuat pada karang
sesuai fungsinya pada tiap relung ekologi (Edrus et al., 2013).

Keberhasilan fungsi terumbu buatan sebagai alternatif
rehabilitasi terumbu karang dapat dikatakan cukup efektif di perairan
Teluk Benete. Hal ini dapat dilihat dari sebaran ikan mayor yang
menetap karena tutupan terumbu karang yang tinggi di Stasiun RB
memberikan ruang bagi ikan mayor, seperti Famili Pomacentridae,
Labridae dan Blenniidae. Menurut Sale (1991), keeratan antara ikan
mayor dengan persentase tutupan terumbu karang sangat tinggi
karena menyangkut keberlangsungan hidupnya. Selain itu, famili ikan

64 K e l a u t a n

yang memiliki keeratan dengan Stasiun RB pada bulan Agustus, seperti
Famili Haemulidae, Nemipteridae, Lutjanidae, dan Ephippidae
menunjukkan terumbu buatan dapat menjadi potensi berkumpulnya
ikan target atau ikan bernilai ekonomis.

Gambar 10. PENUTUP
Hasil analisis Kelimpahan ikan terumbu di terumbu buatan (reef ball) lebih
koresponden (CA)
hubungan sebaran tinggi dibandingkan di terumbu karang. Terdapat hubungan langsung
antara famili ikan antara ikan terumbu yang berukuran kecil, seperti Famili
terumbu berdasarkan Pomacentridae dengan terumbu buatan yang memanfaatkan karang
lokasi dan waktu bercabang yang tumbuh di struktur reef ball sebagai tempat berlindung.
pengamatan pada Nilai rata-rata biomassa ikan terumbu di ekosistem terumbu karang
sumbu 1 (F1) dan sebagai habitat alami lebih tinggi dibandingkan ekosistem terumbu
sumbu 2 (F2) buatan, namun memperlihatkan bahwa area reef ball dapat menarik
ikan besar lainnya sebagai pemangsa komunitas tersebut. Famili ikan
terumbu yang paling banyak ditemukan di reef ball dan terumbu karang
adalah Famili Pomacentridae dan Labridae. Habitat terumbu karang
dan reef ball yang memiliki struktur fisik yang berbeda berdampak
terhadap kelimpahan yang tinggi untuk famili ikan terumbu tertentu.

Perlu dilakukan penelitian mengenai kelimpahan pada juvenil
beberapa jenis ikan yang berada di ekosistem terumbu karang dan
terumbu buatan (reef ball) agar dapat melihat perbandingan terhadap
peran fungsional terumbu buatan.

DAFTAR PUSTAKA
Adriani. (2002). Hubungan antara Keanekaragaman Bentang Terumbu

(Reefscape Diversity) dengan Keanekaragaman Ikan (Fish Diversity)
di Ekosistem Terumbu Karang Nusa Penida, Bali. Skripsi. FPIK:
Institut Pertanian Bogor.
Allen, G., Steene, R., Humann, P. & Deloach, N. (2012). Reef Fishes of
the East Indies. Florida, USA: New World Publication, Inc.
Allen, G., Steene, R., & Allen, M. (1998). A Guide to Angelfishes &
Buterflyfishes. USA: Odyssey Publishing/Tropical Reef Research.

Kelautan 65

Bachtiar, I. & Prayogo, W. (2008). Rekruitmen karang batu pada reef ball
setelah 3 tahun di Teluk Benete, Sumbawa Barat. Prosiding
Munas Terumbu Karang 1, 77-85. Jakarta: 10-11 September 2007.

Bengen, D. G. (2012). Analisis Kuantitatif Biofisik Kelautan. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Chabanet, P., Ralambondrainy, H., Amanieu, M., Faure, G. dan Galzin R.

(1997). Relationships between coral reef substrata and fish. 16: 93-
102.
Choat, J. H. dan Bellwood, D. R. (1991). Reef Fishes: Their History and
Evolution. Academic California: The Ecology of Fishes on Coral
Reef.
Chou, L. M. (1997). Artificial reefs of Southest Asia – Do they enhance or
degrade the marine environment. Environment Monitoring and
Assessment, 44, 45– 52.
[CRITC COREMAP LIPI] Coral Reef Information and Training Center
Coral Reef Rehabilitation and Management Program Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia. (2014). Panduan monitoring
kesehatan terumbu karang. Jakarta (ID): Sarana Komunikasi
Utama.
Edrus, I. N. dan Setyawan, I. E. (2013). Pengaruh Kecerahan Air Laut
Terhadap Struktur Komunitas Ikan Karang di Perairan Pulau
Belitung. Journal. Lit. Perikanan Ind, 19 (2), 55-64.
Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumberdaya
dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta (ID): Kanisius. 258 hlm.
English, S., Wilkinson, C. & Baker, V. (1997). Survey Manual for Tropical
Marine Resources. Townsville (AU): Australian Institute of Marine
Science.
Froese, R. & Pauly, D. (2014). Fish Base: World Wide Web electronic
publication. www.fishbase.org, version (04/2014).
Haumahu, S. (2004). Distribusi spasial fitoplankton di Teluk Ambon
bagian dalam. Ichtyos, 3(2), 91 98.
Hutomo, M. (1986). Methods of Samplings Coral Reef Fish Training
Course In Coral Reef Research Method and Management. Bogor
(ID): SEAMEO-BIOTROP.
[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. (2004). Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang baku mutu
air laut. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.
Kuiter, R. H. (1992). Tropical Reef fishes of the western Pacific Indonesia
and adjacent water. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama.
Kuiter, R. H. & Tonozuka, T. (2001). Photo guide Indonesian reef fishes.
Australia (AU): Zoonetics
Kulbicki, M., Guillemot, N. & Amand, M. (2005). A general aproach to
lenght-weight relationships for New Caledonian lagoon fishes. J.
Cybium, 29(3), 235-252.
Laevastu, T. dan Hayes, M. L. (1981). Fisheries Oceanography and
Ecology. New York: Fishering News Book Ltd
Madduppa, H. H., Subhan, B., Bachtiar, R., Ismet, M. S., Budikartini, Y.
& Bria, D. (2007). Prospek terumbu buatan biorock dalam
peningkatan sumberdaya ikan di Kepulauan Seribu. Prosiding
Munas Terumbu Karang II, 68-80. Jakarta: Departemen Kelautan
dan Perikanan RI. Jakarta.

66 K e l a u t a n

Manembu, I., Adrianto, L., Bengen, D. G. dan Yulianda, F. (2012).
Distribusi karang dan ikan terumbu di kawasan reef ball Teluk
Buyat, Minahasa Tenggara. J. Perikanan dan Kelautan Tropis, 8(1),
28-32.

Merryanto, Y. (2000). Struktur komunitas ikan dan asosiasinya dengan
padang lamun di perairan Teluk Awur Jepara. Tesis. FPIK: Institut
Pertanian Bogor.

Miller, M. & Falace, A. (2000). Evolution method for trophic resource
nutrients, primary production and associated assemblages.
Washington: CRC press LLC.

Nybakken, J. W. (1992). Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis.
Terjemahan oleh Eidman, M., Bengen, D. G., Koesoebiono,
Hutomo, M. dan Sukristijono. Jakarta (ID): PT. Gramedia.

Odum, E. P. (1983). Basic Ecology. New York: Saunders College
Publishing.
Pulumahuny, F. S. & Edward. (2004). Kualitas Air Laut di Perairan

Seram Timur, Maluku dalam Kaitannya untuk Kepentingan
Budidaya Perikanan. Prosiding Pengendalian Penyakit pada Ikan
dan Udang Berbasis Imunisasi dan Biosecurity, 14-20.
Rembet, U. N., Boer, M., Bengen, D. G. & Fahrudin, A. (2011). Struktur
komunitas ikan target di terumbu karang P. Hogwow dan Putus-
Putus Sulawesi Utara. Jurnal Perikanan Kelautan Tropis, 7(2), 60-
65.
Romimohtarto, K. dan Juwana, S. (2001). Ilmu pengetahuan tentang
Biota Laut. Jakarta: Djambatan.
Setyobudiandi, I., Sulistiono, Yulianda, F., Kusmana, C., Hariyadi, S.,
Damar, A., Sembiring, A., dan Bahtiar. (2009). Sampling dan
Analisis Data Perikanan dan Kelautan. Bogor (ID): IPB
Suharsono. (2008). Jenis-Jenis Karang di Indonesia. Jakarta (ID): LIPI
Press

Kelautan 67

“Selat Pagai termasuk tipe Sri Suryo Sukoraharjo

pantai pasir berlumpur Selat Pagai merupakan perairan yang terletak diantara
dengan jenis batuan Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan
gamping numulit. Mentawai. Kawasan ini dikelilingi oleh Samudera Indonesia dan
berada di jalur subduksi lempeng tektonik yang cukup aktif
Kedalaman selat antara sehingga rawan gempa dan Tsunami. Ragam aktivitas dan
3 hingga 50. dampak Tsunami 7,7 Mw tahun 2010 menyebabkan memiliki
karakteristik sedimen tertentu dibanding kawasan lainnya
Morfologi dasar selat Geomorfologi pesisir Pagai Utara tersusun oleh batuan yang
adalah landai dengan bervariasi mulai dari batuan yang sangat lunak seperti endapan
kemiringan hingga 10% aluvial. Selat Pagai termasuk tipe pantai pasir berlumpur dengan
dan pantai berupa pasir jenis batuan gamping numulit. Kedalaman selat antara 3 hingga
50 m. Morfologi dasar selat adalah landai dengan kemiringan
berlumpur hingga 10% dan pantai berupa pasir berlumpur. Karakteristik
perairan yang dipengaruhi oleh bahan pencemar seperti Timbal
” (Pb) dan Tembaga (Cu) dapat menyebabkan perubahan
ekosistem perairan semisal ekosistem di Kuala Langsa yang
terletak di Timur Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-
rata substrat di perairan Selat Pagai adalah D35 berukuran
0,155mm; D50 berukuran 0,273mm; dan D90 berukuran 1,574 mm
dengan berat jenis rata-rata 2,665 gr/cm3 yang didominasi oleh
pasir sebesar 66,88%. TDS berkisar antara 51,6 hingga 55,0 mg/L,
memenuhi baku mutu air laut untuk pelabuhan dan mangrove.
Skala sedimen A = 0,119 dengan kecepatan partikel sedimen
0,002 m/det. Transpor sedimen sebesar 14.205,47 m3 /tahun

Selain Kabupaten Kepulauan Mentawai yang memiliki
Selat Pagai dengan permasalahannya, daerah lain seperti Kuala
Langsa juga memiliki permasalahan lingkungan. Kegiatan
ekowisata di Kuala Langsa didukung oleh ekosistem mangrove
yang luasnya 20,8 Ha. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan, kuantitas Pb pada air
di stasiun III (TPI) sudah di atas baku mutu, sedangkan Cu pada air
di ketiga stasiun masih di bawah baku mutu air laut menurut
KEPMEN KLH No.51 tahun 2004. Kuantitas Pb pada sedimen
pada stasiun II dan III dikategorikan sedang, sedangkan Cu pada
sedimen pada stasiun I dan II dikategorikan tinggi dan Cu di
stasiun III dikategorikan rendah menurut baku mutu CCME Tahun
1999. Akar dan daun Rhizophora stylosa diketahui mampu
menyerap Cu dari sedimen sebanyak 0,30 kali dan 0,11 kali.

Konsentrasi klorogfil-a diperairan Laut Sulawesi
berdasarkan hasil observasi insitu dengan data penginderaan
jauh diperoleh dengan menggunakan metode spektrofotometri
berkisar antara 0,020 – 0,085 mg/m3, Root Mean Square Error
untuk pengamatan insitu dengan citra satelit SeaWiFS yaitu

68 K e l a u t a n

“Untuk mengatasi sebesar 0,2263 mg/m3, pengamatan insitu dan citra satelit
INDESO klorofil-a dari diatom sebesar 0,0302mg/m3, serta
ancaman erosi pantai, ada pengamatan insitu dan citra satelit INDESO klorofil-a dari nano
dua metode perlindungan fitoplankton sebesar 0,0594 mg/m3. Nilai korelasi antara hasil
observasi insitu dengan citra satelit, SeaWiFS menunjukkan
yaitu hard solution atau angka yang paling tinggi, yaitu 0,73. Model biogeokimia INDESO
soft solution. Cara hard untuk klorofil-a dari diatom menunjukkan nilai yang lebih kecil
solution (pembangunan 0,86 kali, sedangkan untuk klorofil-a dari nanofitoplankton
sruktur/fisik), penanganan menunjukkan nilai yang lebih besar 2,5 kali dibanding hasil
dengan membuat struktur observasi insitu. Klorofil-a dari citra satelit SeaWiFS menunjukkan
nilai yang lebih besar 3 kali dibanding hasil observasi insitu.
bangunan pelindung
pantai, seperti dinding Permasalahan lingkungan tidak hanya ada di kolom air
pantai (seawall), groin, tapi juga ada di daerah pesisir misalnya erosi pantai. Erosi pantai
yang terjadi dapat merusak pemukiman dan prasarananya yang
jetty atau pemecah di tandai dengan mundurnya garis pantai. Kegiatan manusia yang
gelombang (breakwater). dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan diantaranya;
penebangan hutan bakau, pengambilan karang, pembangunan
Cara soft solution (non pelabuhan yang tidak berwawasan lingkungan, perluasan areal
struktur), dapat berupa tambak dan lainnya. Untuk mengatasi ancaman erosi pantai, ada
pemanfaatan vegetasi di dua metode perlindungan yaitu hard solution atau soft solution.
pantai seperti penanaman Cara hard solution (pembangunan sruktur/fisik), penanganan
pohon bakau (mangrove) dengan membuat struktur bangunan pelindung pantai, seperti
dan pengisian pasir pada dinding pantai (seawall), groin, jetty atau pemecah gelombang
(breakwater). Cara soft solution (non struktur), dapat berupa
pantai (sand pemanfaatan vegetasi di pantai seperti penanaman pohon bakau
nourishment). (mangrove) dan pengisian pasir pada pantai (sand nourishment).
Usaha perlindungan pantai ramah lingkungan dengan
” memanfaatkan tanaman vetiver telah dilaksanakan di Pantai
Wonokerto Kulon Kabupaten Pekalongan. Penggunaan tanaman
vetiver untuk perlindungan pantai dengan memanfaatkan
kekuatan akarnya dalam memperkuat substrat di pantai. Dari
penelitian yang ada dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk
terhadap tananam vetiver berpengaruh terhadap kecepatan
pertumbuhan akar yang secara tidak langsung akan
mempercepat penguatan struktur substrat perlindungan pantai
dan diharapkan dapat mencegah terjadi erosi. Percepatan tinggi
tanaman vetiver untuk perlindungan pantai juga dipengaruhi oleh
pemupukan. Tinggi tanaman yang cepat dapat “menjebak”
sedimen dengan harapan dapat menahan erosi. Perlindungan
pantai ramah lingkungan berbasis vetiver selain untuk penguatan
struktur substrat pantai dapat dimanfaatkan sebagai pendukung
wisata pantai/pesisir.

Permasalahan lingkungan perairan selain yang telah
disebutkan di atas adapula permasalahan di ekosistem terumbu
karang. Ekosistem terumbu karang telah banyak mengalami
degradasi di berbagai tempat, salah satunya adalah di Teluk
Benete, Sumbawa Barat. Kondisi ini, antara lain disebabkan oleh

Kelautan 69

tekanan yang ditimbulkan oleh beberapa faktor, seperti
penangkapan ikan yang merusak di ekosistem terumbu karang
alami. Penurunan kondisi ekosistem terumbu karang di teluk
tersebut perlu mendapat perhatian, sehingga upaya
pemulihannya perlu dilakukan dan salah satunya dengan
menggunakan terumbu buatan. Terumbu buatan adalah struktur
yang ditenggelamkan ke dasar perairan yang menyerupai
karakteristik terumbu alami. Kesimpulan penelitian terumbu
karang buatan di Teluk Benete, Sumbawa Barat didapatkan
kelimpahan ikan terumbu di terumbu buatan (reef ball) lebih
tinggi dibandingkan di terumbu karang. Terdapat hubungan
langsung antara ikan terumbu yang berukuran kecil, seperti
Famili Pomacentridae dengan terumbu buatan yang
memanfaatkan karang bercabang yang tumbuh di struktur reef
ball sebagai tempat berlindung. Nilai rata-rata biomassa ikan
terumbu di ekosistem terumbu karang sebagai habitat alami lebih
tinggi dibandingkan ekosistem terumbu buatan, namun
memperlihatkan bahwa area reef ball dapat menarik ikan besar
lainnya sebagai pemangsa komunitas tersebut. Famili ikan
terumbu yang paling banyak ditemukan di reef ball dan terumbu
karang adalah Famili Pomacentridae dan Labridae. Habitat
terumbu karang dan reef ball yang memiliki struktur fisik yang
berbeda berdampak terhadap kelimpahan yang tinggi untuk
famili ikan terumbu tertentu.

Pengelolaan wilayah laut dan pesisir harus dilaksanakan
dengan terpadu untuk mengurangi dampak buruk yang terjadi.
Pengelolaan wilayah ini diharapkan bersifat berkelanjutan yang
memperhatikan aspek ekonomis, ekologis dan sosial politik.
Suatu pengelolaan wilayah laut dan pesisir harus dapat
membuahkan pertumbuhan ekonomi, dan penggunaan
sumberdaya serta investasi secara efisien. Integritas ekosistem,
memelihara daya dukung lingkungan, dan konservasi sumber
daya alam, suatu hal yang harus dilakukan untuk mendukung
keberlanjutan secara ekologis. Berkelanjutan secara sosial politik
mensyaratkan bahwa suatu pengelolaan wilayah laut dan pesisir
diharapkan mampu mobilitas dan kohesi sosial, partisipasi
masyarakat, melakukan pemberdayaan masyarakat, dan
pengembangan masyarakat. Pengelolaan wilayah laut dan pesisir
terpadu harus didukung dengan data-data yang baik dan
memadai.

70 K e l a u t a n

A H
Acanthuridae, 58, 59, 62, 64
Acoustic Doppler Current hard solution, 43
herbivora, 55, 60, 62, 64
Profiler, 24
ADCP, 3, 24 I
Atomic Absorption
ikan indikator, 61, 62
specthrophotometer, 15 ikan mayor, 52, 55, 61, 64
Automatic Water Station, 24 ikan target, 61, 62, 64, 65, 67
AWS, 24 ikan terumbu, 52, 53, 54, 55,

B 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62,
BCF, 14, 15, 18, 19 63, 64, 65, 67
biomassa, 52, 54, 62, 63, 64, invertivora, 55

65 K

C Kabupaten Pekalongan, 42,
44, 46
Chaetodontidae, 58, 59, 62
Cu, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, karnivora, 55, 60, 63
kelimpahan, 52, 53, 54, 55,
21, 44
57, 58, 59, 60, 62, 63, 64, 65
D klorofil-a, 31, 32, 33, 34, 35,
detritivora, 55
36, 37, 39, 40, 41
E koralivora, 55
ekosistem, 14, 15, 18, 43, 52, Kuala Langsa, 14, 15, 17, 18,

53, 54, 57, 58, 59, 60, 61, 20
62, 63, 64, 65
L
F
Labridae, 58, 59, 61, 62, 64,
Faktor biokonsentrasi, 18 65

G Laut Sulawesi, 31, 32, 33, 35,
global positioning system, 54 37, 40
GPS, 24, 54
Logam, 16, 17, 18

M

Mangrove, 16, 21

Kelautan 71

O T

omnivora, 55, 60 Teluk Benete, 52, 53, 54, 56,
57, 64, 66
P
Tembaga, 15, 17, 18
Pantai Wonokerto Kulon, 42, terumbu karang, 2, 52, 53,
44, 46
54, 55, 57, 58, 59, 60, 61,
Pb, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 62, 63, 64, 65, 66, 67
21 Tidal Model Driver, 27
Timbal, 15, 17, 18
planktivora, 55, 60 TMD, 27
Pomacentridae, 58, 59, 61, Transpor Sedimen, 3, 11

64, 65 U
Pulau Pagai Utara, 1, 2, 12,
underwater visual census, 52,
23, 24, 26, 29, 30 55
pupuk, 44, 45, 48, 49, 50
upwelling, 36
R
V
R. mucronata, 19
R. stylosa, 14, 18, 19 vetiver, 42, 43, 44, 45, 48, 49,
reef ball, 52, 53, 54, 57, 58, 50, 51

60, 63, 64, 65, 66, 67 Z

S Zanclidae, 59, 63, 64
Zanclus, 59, 63
Sea-viewing Wide Field-of- Zn, 20, 21, 44
view Sensor, 32

SeaWiFS, 31, 32, 34, 36, 39,
40, 41

Sedimen, 1, 2, 3, 9, 12, 16, 19
Selat Pagai, 1, 2, 3, 6, 7, 8, 9,

11, 23, 24, 26
soft solution, 43

72 K e l a u t a n

Diterbitkan oleh p-ISBN 978-602-5791-10-9 (50)
Agency for Marine Affairs and Fisheries e-ISBN 978-602-5791-11-6 (50)

Research and Development
(AMAFRAD) Press


Click to View FlipBook Version