1
2
COVER ............................................................................................................................. 1
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 2
PETUNJUK PENGGUNAAN.......................................................................................... 3
PETA KONSEP ................................................................................................................ 3
KOMPETENSI DASAR................................................................................................... 4
TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................................... 4
MATERI PEMBELAJARAN........................................................................................... 5
1. Dampak Penjajahan Belanda di Indonesia dan Kaitannya dengan Situ Gede ...... 5
2. Corak Kehidupan Masyarakat di Tatar Sunda ...................................................... 7
3. Sejarah lokal Tradisi Ngubek Situ ........................................................................ 10
4. Nilai-Nilai dalam Sejarah Lokal Tradisi Ngubek Situ.......................................... 12
SOAL EVALUASI DAN KUNCI JAWABAN ............................................................... 14
PENILAIAN DIRI ............................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 17
2
3
Ikuti petunjuk kegiatan belajar yang terdapat
pada flipbook
Bacalah materi di flipbook ini hingga tuntas
dan paham
Ukur pemahamanmu melalui kegiatan
evaluasi
Kerjakan soal secara mandiri tanpa melihat
kunci jawaban terlebih dahulu
Cocokan hasil pekerjaanmu dengan kunci
jawaban yang tersedia
Berilah tanda check list pada kolom yang
tersedia
3
4
3.3 Menganalisis dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa
penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) dalam kehidupan bangsa
Indonesia masa kini.
4.3 Menalar dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan
bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) dalam kehidupan bangsa Indonesia masa
kini dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah.
Melalui kegiatan pembelajaran dengan model Discovery Learning, peserta didik dapat:
menganalisis dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan
bangsa Eropa terutama Belanda dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini, serta
menyajikan hasil penalaran dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan pada
masa penjajahan bangsa Eropa khususnya Belanda dalam kehidupan bangsa Indonesia masa
kini dalam bentuk cerita sejarah, dengan mengembangkan nilai karakter berupa religius, peduli
lingkungan, dan peduli sosial.
4
5
A. Dampak Penjajahan Belanda di Indonesia dan Kaitannya dengan Situ Gede
Kolonialisme (penjajahan) merupakan bentuk kontrol dan penguasaan asing atas suatu
wilayah dan penduduk negeri jajahan, dengan menjadikan adanya ketergantungan antara
penjajah dan yang terjajah. Belanda merupakan salah satu negara yang pernah menjajah
Indonesia sejak awal abad ke-19 hingga tahun 1942. Belanda dapat mempertahankan daerah
jajahannya dengan menjalankan watak kolonial yang otoriter, sentralistik, diskriminatif,
eksploitatif, dan paternalistik. Selama masa penjajahan Belanda yang berlangsung ratusan
tahun, Belanda meninggalkan banyak warisan yang mengakar dan langgeng di Indonesia.
Terdapat berbagai macam warisan Belanda di Indonesia, baik fisik maupun nonfisik.
Peninggalan fisik Belanda secara umum meliputi bendungan (waduk), bangunan sekolah,
bangunan gereja, gedung pemerintahan, jalan raya Pos Ayer-Panarukan, pabrik gula,
perkebunan teh, benteng, dan sebagainya.
Pada era kolonial Belanda, Bogor
menjadi salah satu kota pedalaman yang
terpenting. Sejak masa pemerintahan
Gubernur Jenderal van Alting (1780), Bogor
yang pada waktu itu bernama Buitenzorg
memiliki fungsi sebagai ibukota pemerintahan
kolonial Hindia Belanda. Bogor pada awalnya
Ilustrasi Istana Bogor pada Masa Kolonial dibentuk dengan penguasaan dan pengolahan
Belanda lahan perkebunan yang dikelola oleh tuan
tanah. Bogor semakin berkembang setelah
Sumber: https://bogor.pikiran-rakyat.com/lokal- dibangunnya Jalan Raya Pos (Groote Postweg)
bogor/
oleh Daendels sejak tahun 1811, kemudian didukung oleh pembangunan jalur kereta api
(Batavia-Buitenzorg) pada tahun 1873. Pada masa kolonial Belanda, banyak artefak fisik yang
dibangun di Bogor, salah satunya Istana Bogor (vila Buitenzorg). Istana Bogor didirikan atas
perintah Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff. Bangunan ini pernah dijadikan sebagai
kantor resmi Gubernur Jenderal VOC dan dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Sejarah kota Bogor tidak hanya berkaitan dengan masa pemerintahan kolonial Belanda
di Indonesia. Kota Bogor memiliki sejarah panjang mulai dari sejarah kerajaan di Jawa
(Kerajaan Pajajaran) dan sejarah kolonial (Belanda, Inggris, dan Jepang) di Indonesia. Hal itu
5
6
diperkuat dengan adanya bukti sejarah seperti prasasti batu tulis, dokumentasi, dan bangunan-
bangunan peninggalan bersejarah. Apabila ditelusuri sejarahnya lebih dalam, kota Bogor pada
masa lalu bernama Pakuan yang merupakan ibukota pemerintahan Kerajaan Pajajaran. Prabu
Siliwangi yang naik takhta pada tanggal 3 Juni 1482 menjadikan daerah ini sebagai pusat
pemerintahan. Hari penobatan Prabu Siliwangi secara resmi dijadikan sebagai hari jadi kota
Bogor yang diperingati setiap tahunnya hingga sekarang. Lambang kota Bogor mengambil dari
senjata khas Kerajaan Pajajaran yaitu Kujang. Selain sebagai simbol, Kujang juga dijadikan
sebagai landmark kota dalam bentuk Monumen Kujang.
Selain istana Bogor, Belanda juga
meninggalkan berbagai peninggalan fisik di
Bogor yang masih dapat dijumpai hingga
saat ini. Dalam rangka meningkatkan
pengairan sawah di Bogor, Belanda
membangun beberapa situ atau telaga di
Bogor, di samping membangun bendungan. Situ Gede di Bogor
Terdapat beberapa situ di Kota Bogor antara Sumber: https://lovelybogor.com/situ-gede-agak-
lain Situ Panjang, Situ Burung, Situ Gede,
kotor-ya/
dan Situ Leutik. Tetapi Situ Leutik sekarang sudah hilang dari peta. Situ Gede terletak persis
di belakang Kantor Kelurahan Situ Gede yang dibatasi oleh hutan penelitian dermaga yang
dikelola oleh Balitbang Kehutanan. Situ Gede memiliki luas sekitar enam hektare yang
dijadikan sebagai tempat rekreasi oleh warga Bogor. Para warga Bogor sering melakukan
aktivitas menaiki perahu, memancing, dan berjalan-jalan di area tersebut. Air di Situ Gede
berasal dari sungai Cisindangbarang yang kemudian ditampung di Bendungan Cibanten dan
Cibenda. Air di Situ Gede dimanfaatkan sebagai pasokan air bagi pertanian di sekitarnya.
Sejak Situ Gede dibangun pada masa kolonial Belanda, tempat ini sering digunakan
untuk menjalankan tradisi khusus warga Bogor dalam menyambut datangnya bulan suci
Ramadan, di samping dimanfaatkan dalam bidang pengairan. Para warga Bogor melaksanakan
tradisi Ngubek Situ di telaga tersebut dengan cara menguras isi Situ Gede yang terletak di
kawasan Hutan CIFOR. Tradisi Ngubek Situ merupakan salah satu kearifan lokal Bogor yang
senantiasa dilestarikan. Tradisi ini biasanya berlangsung selama dua hari dan melibatkan
ratusan warga Kelurahan Situ Gede, warga di luar kelurahan, serta pengunjung dari daerah lain.
Tradisi ini juga dilaksanakan untuk memperingati hari jadi kota Bogor setiap tahunnya. Dalam
pelaksanaannya, warga Bogor menyeburkan diri ke Situ Gede untuk menangkap ikan. Ikan
6
7
yang akan ditangkap biasanya sudah disediakan oleh panitia yang disebar ke situ sebelum acara
berlangsung. Tradisi Ngubek Situ sebagai kearifan lokal setempat patut dilestarikan dengan
cara diajarkan kepada peserta didik dalam pembelajaran sejarah lokal.
B. Corak Kehidupan Masyarakat di Tatar Sunda
Wilayah Tatar Sunda berlokasi di bagian barat Pulau Jawa yang mengacu wilayah Jawa
Barat dan Banten. Tatar Sunda secara lebih luas dapat diartikan sebagai wilayah yang meliputi
seluruh Jawa bagian Barat serta wilayah Jawa Tengah bagian Barat. Pengaruh budaya Sunda
pada masa lalu memang cukup luas hingga ke daerah Jawa Tengah. Beberapa daerah seperti
Cilacap, Brebes, dan Purwokerto banyak penduduk yang menggunakan bahasa Sunda.
Kehidupan Tatar Sunda mendapatkan pengaruh yang nyata dari India dalam hal politik,
agama, kebudayaan, dan lainnya. Dalam bidang agama terlihat dengan adanya agama Hindu-
Buddha di tengah masyarakat. Dari
segi politik muncul kerajaan-
kerajaan seperti Kerajaan Sunda,
Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan
Galuh, dan Kerajaan
Sumedanglarang. Begitupun di
bidang budaya terlihat dengan
Peta Wilayah Kerajaan Tarumanegara adanya peleburan kebudayaan lokal
Sumber: https://regional.kompas.com/read/ dengan kebudayaan India. Banyak
tradisi yang bermunculan di Tatar Sunda. Masyarakat Tatar Sunda telah sejak lama menganut
nilai-nilai yang disebut Kagaluhan di tengah masuknya pengaruh dari luar. Nilai tersebut
terlihat dalam tatanan masyarakat, kesenian, agama, dan lain sebagainya.
Sejarah Sunda ditelusuri melalui awal kemunculan Kerajaan Tarumanegara pada abad
ke-4 M, dengan ditemukannya prasasti-prasasti, seperti Prasasti Kebon Kopi, Pasir Jambu,
Ciaruteun, dan Prasasti Tugu. Kerajaan Tarumanegara memiliki wilayah yang meliputi daerah
Pedalaman Jawa bagian Barat seperti Bogor, Lebak, dan Jonggol. Di sebelah Timur dibatasi
oleh Sungai Citarum. Kerajaan Tarumanegara bertahan selama 3 abad lalu berakhir pada abad
ke-7. Berdirilah Kerajaan Galuh pasca Kerajaan Tarumanegara berakhir. Kerajaan Galuh
memiliki pusat yang berpindah-pindah dari Galuh ke Pakuan Pajajaran, kemudian ke Kawali,
dan berakhir di Pakuan Pajajaran. Ibukota yang berpindah bisa disebabkan oleh kondisi
7
8
geografis, wilayah yang kurang strategis, pernikahan, atau sebab lainnya. Lokasi yang dipilih
menjadi ibukota kerajaan berada di dekat sumber air, seperti sungai atau laut. Sebab sungai
maupun laut sangatlah penting untuk sumber air serta sarana transportasi. Tidak ada sumber
mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Tatar Sunda sebelum Galuh, sehingga
informasi corak kehidupan masyarakat saat itu sangatlah minim.
Kebudayaan yang dimiliki masyarakat Tatar Sunda cukup berkualitas. Besar dan
tingginya kebudayaan yang ada di sana tidak dapat terlepas dari peran dari masyarakatnya.
Masyarakat Sunda memiliki karakteristik nilai kearifan lokal yang membuat kehidupan sosial
dan budaya menjadi mapan. Menurut perspektif sejarah terdapat dinamika sosial dan budaya
yang menjadikan kebudayaan asli Sunda terdegradasi dan generasi muda tidak mengenal dan
tidak mempedulikannya.
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tatar Sunda tergambar dalam kampung adat.
Dari masyarakat adat dapat diketahui
bagaimana adat-istiadat, sistem kepercayaan,
tata pemerintahan, seni budaya, sistem
pertanian dan aspek lain dalam masyarakat.
Untuk mengetahui tatanan kehidupan
masyarakat dapat dilihat dari unsur-unsur
budayanya, contoh bahasa, sistem organisasi
kemasyarakatan, dan sistem religi. Setiap Kampung Adat Sunda
unsur dalam masyarakat Sunda hampir semua Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/
mencerminkan kebudayaan masyarakat yang egaliter. Contohnya dalam sistem religi
ditemukannya Arca Ganesha dengan pahatan yang sederhana menunjukkan pemahatnya orang
yang berpandangan sederhana dan egaliter.
Pada masa pra-aksara masyarakat Sunda telah mengenal sistem kepercayaan berupa
pemujaan terhadap roh leluhur yang bersemayam di puncak gunung. Kepercayaan ini sejalan
dengan konsep “hyang” masa periode Hindu Buddha tentang makrokosmos yang pusatnya di
Gunung Mahameru. Agama Hindu yang berkembang di Sunda hanya hidup di keraton saja.
Mereka yang berada di luar keraton menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Sistem
kepercayaan ini menghadirkan tradisi-tradisi di tengah masyarakat. Masyarakat berpandangan
terdapat suatu tempat yang dianggap suci dan keramat untuk pusat kegiatan keagamaan yang
disebut Kabuyutan.
8
9
Dalam masyarakat Sunda ada
pemaduan antara sistem ekologis, sosial-
ekonomi, dan spiritual-budaya dalam
mengelola pertanian. Masyarakat di sana
membagi hutan sesuai fungsinya, baik untuk
Ronggeng Gunung, Salah satu Tradisi Sunda hutan larangan, hutan produksi dan lain
Sumber: https://news.okezone.com/read/ sebagainya. Di hutan larangan dilarang
melakukan pemburuan hewan dan sumber
daya di dalamnya. Mereka mempunyai filosofi “leweung lain ruksakeun tapi rumateun jeung
rawaten, yang berarti”. Masyarakat Sunda begitu menjaga keanekaragaman hayati. Mereka
menyalurkan pengetahuan untuk tempat Kabuyutan. Dalam kesehariannya masyarakat Sunda
masa lampau menggunakan bahasa Sunda masyarakat awam, dibuktikan dengan adanya
Prasasti Kawali. Hal ini bertolak belakang dengan fungsi bahasa untuk menyimbolkan
kelembagaan masyarakat. Semakin tinggi statusnya seperti bangsawan akan menggunakan
bahasa yang halus. Semakin rendah statusnya bahasa yang digunakan akan semakin kasar. Hal
ini menunjukkan adanya unsur egaliter dalam bahasa. Unsur egaliter dalam seni di Sunda bisa
digambarkan pada kesenian Ronggeng Gunung, seni musik karinding. Karakteristik egaliter
juga tergambar dalam unsur sistem peralatan hidup dan teknologi.
Mata pencaharian masyarakat Sunda bergantung terhadap alam untuk memenuhi
kebutuhannya. Kebanyakan mereka memiliki mata pencaharian seperti menjadi petani dan
peternak. Masyarakat kampung adat alam mengelola pertanian masih menggunakan cara
tradisional, dengan kerbau. Masyarakat juga melakukan tradisi-tradisi seperti saat waktunya
panen. Sedangkan masyarakat di luar kampung adat dapat mengelola lahan pertanian
menggunakan alat-alat yang modern dan panen dapat dihasilkan lebih banyak, hingga tiga kali
dalam setahun.
9
10
C. Sejarah lokal Tradisi Ngubek Situ
Sejarah merupakan mata pelajaran yang relevan untuk mengintegrasikan kearifan lokal
dalam pembelajaran, terutama mengenai kajian dan tujuan pembelajaran. Kearifan lokal
memiliki kesamaan dengan kajian ilmu sejarah sebagai bagian dari kebudayaan lokal dan
warisan budaya bangsa. Kajian ilmu sejarah memuat banyak bidang, seperti sejarah sosial,
sejarah ekonomi, sejarah politik, sejarah intelektual, sejarah mentalitas, sejarah petani, sejarah
kebudayaan, dan sebagainya. Dalam hal ini, kearifan lokal dapat pula diklasifikasikan sebagai
kajian sejarah lokal. Sejarah lokal termasuk salah satu aspek penting yang dapat diintegrasikan
dalam pembelajaran sejarah. Selain itu, kearifan lokal juga relevan dengan fungsi dan tujuan
pembelajaran sejarah, terutama kaitannya untuk meningkatkan kesadaran sejarah.
Kota Bogor merupakan suatu wilayah
yang berada di kawasan Jawa Barat, sehingga
masyarakatnya mayoritas berasal dari suku
Sunda. Hal tersebut berdampak pada
kebudayaan dan tradisi masyarakatnya yang
kental akan nuansa Sunda. Salah satu tradisi
yang tetap berjalan di masyarakat dan
dilestarikan hingga saat ini adalah Tradisi Pelaksanaan Tradisi Ngubek Situ
Ngubek Situ. Ngubek Situ sendiri terdiri dari Sumber:
dua kata yaitu Ngubek dan Situ, Ngubek
https://www.republika.co.id/berita/oqbl52354/
apabila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti mengocok, mengaduk, atau menguras dan
Situ yang memiliki arti danau atau telaga. Sehingga apabila diartikan ke dalam Bahasa
Indonesia Ngubek Situ memiliki makna menguras air telaga. Dengan kata lain, Tradisi Ngubek
Situ ini berarti kegiatan masyarakat yang berbondong-bondong turun ke situ untuk menguras
air dan memanen ikan.
Tradisi ini dilakukan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan biasanya
dilaksanakan di Kawasan Situ Gede. Menurut masyarakat tidak diketahui sejak kapan tradisi
ini dimulai namun yang pasti sudah ada sejak lama tepatnya ketika masa penjajahan Belanda.
Pada masa penjajahan Belanda, di Bogor banyak dibangun situ atau telaga untuk kepentingan
pengairan pertanian. Situ Gede merupakan salah satu situ atau telaga yang dibangun pada masa
kolonial Belanda. Kemunculan tradisi ini karena pada awalnya masyarakat di sekitar Situ Gede
sering memanen ikan yang kemudian dimakan untuk makan sahur hari pertama puasa. Hal
10
11
tersebut lambat laun menjadi kebiasaan dan berubah menjadi tradisi seiring berjalannya waktu
dan bertambahnya populasi di wilayah tersebut.
Tradisi Ngubek Situ untuk Memperingati Hari Jadi Bahkan untuk saat ini Tradisi
Kota Bogor Ngubek Situ telah bertransformasi menjadi
pesta rakyat yang tidak hanya dilakukan
Sumber: https://www.liputan6.com/photo/read/ untuk Mapang Munggah atau menyambut
datangnya bulan Ramadhan namun juga
digelar untuk memperingati hari jadi kota
Bogor. Peserta yang hadir pun tidak hanya
dari masyarakat sekitaran Setu namun juga
berdatangan dari Kawasan Jabodetabek.
Situ Gede sebagai tempat pelaksanaan Tradisi Ngubek Situ terletak di kelurahan
Situgede, di tepi hutan Dramaga, Bogor Barat Kota Bogor. Dalam sejarahnya Situ Gede pada
awalnya hanya merupakan daerah rawa yang kemudian diubah menjadi sebuah danau buatan
yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan sebagai sumber pengairan bagi
lahan pertanian. Pada awalnya pemerintahan Belanda membangun empat danau, yaitu Situ
Leutik, Situ Gede, Situ Burung, dan Situ Panjang. Namun sayangnya Situ Leutik sudah hilang
dan beralih fungsi.
Sebelum hari pelaksanaan Tradisi Ngubek Situ, masyarakat biasanya akan melakukan
doa bersama serta syukuran di masjid kelurahan Situ Gede setelah salat Isya. Selain itu,
masyarakat juga melakukan pemotongan kambing yang kepalanya akan dikubur di pinggir situ,
hal tersebut bertujuan untuk menciptakan rasa aman dan dijauhkan dari bala. Akan tetapi,
akhir-akhir ini prosesi ini mulai dihilangkan karena ditakutkan menimbulkan musyrik kepada
Tuhan di samping karena adanya aturan social distancing pada masa pandemi. Meskipun
demikian, sebenarnya prosesi ini masih tetap dijalankaan oleh para sesepuh desa secara
sederhana.
Tradisi Ngubek Situ dimulai pada keesokan harinya setelah melakukan doa bersama
dan pemotongan kambing. Kegiatan ini biasanya berlangsung beberapa hari sampai hari
terakhir sebelum bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan dari pagi hingga menjelang Maghrib.
11
12
Ketika berlangsungnya tradisi ini, masyarakat
dibebaskan untuk menangkap ikan dengan cara
apapun, seperti dipancing, turun langsung ke danau,
atau menggunakan jala. Setelah berhasil
mendapatkan ikan, warga diperbolehkan membawa
pulang ikan yang didapatkan. Acara Ngubek Situ
berakhir ketika mendekati azan Maghrib saat hari
terakhir sebelum puasa. Tradisi ini ditutup dengan Cucurak Setelah Ngubek Situ
mengadakan acara seperti makan-makan dan Sumber:
berkumpul antar anggota masuarakat. Acara makan-
https://www.kompasiana.com/djadjas/
makan ini bukan menjadi bagian kegiatan dari Tradisi Ngubek Situ. Acara makan-makan ini
dilakukan warga secara dengan anggota keluarga, sanak saudara, dan teman. Acara makan-
makan ini sebenarnya merupakan salah satu tradisi di kota Bogor. Masyarakat Bogor biasanya
menyebut acara makan-makan ini dengan cucurak. Cucurak sendiri bisa diartikan sebagai
acara makan-makan sebagai wujud syukur kepada Tuhan yang telah memberikan seluruh
nikmat.
D. Nilai-Nilai dalam Sejarah Lokal Tradisi Ngubek Situ
1. Nilai religius
Tradisi Ngubek Setu yang ada di Bogor merupakan kegiatan tahunan yang selalu
dilaksanakan untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan bagi umat Islam. Di
Bogor sendiri yang merupakan suku Sunda mayoritas masyarakatnya adalah umat
Muslim. Ngubek Setu juga diartikan sebagai bersih bersih danau dengan cara menguras
airnya dan mengambil ikan yang ada di dalamnya. Ikan-ikan yang diambil akan
digunakan untuk lauk makan sahur pada hari pertama puasa Ramadhan. Selain itu,
tradisi ngubek Setu juga sebagai bentuk rasa syukur karena dapat bertemu lagi dengan
bulan Ramadhan.
2. Nilai budaya
Tradisi Ngubek Setu sudah ada sejak zaman dahulu hingga masa kini yang masih
dilestarikan. Masyarakat Sunda masih mempercayai bahwa Ngubek Setu adalah salah
satu bentuk rasa syukur akan datangnya Bulan Ramadhan. Sehingga tradisi Ngubek
Setu masih terus dijalankan dan mendapat antusias dari masyarakat sekitar. Sebelum
12
13
melaksanakan tradisi ngubek Setu, terdapat serangkaian tradisi lain yaitu doa bersama
dan dilanjutkan dengan menyembelih seekor kambing, dan kepalanya dikubur di dekat
Setu. Barulah esok harinya diadakan tradidi Ngubek Setu oleh warga dari pagi hingga
sore.
3. Nilai sosial
Tradisi Ngubek Setu yang diadakan setiap tahun selalu mendapatkan antusiasme yang
besar dari warga sekitar. Banyak warga
yang bergabung mulai dari anak anak
hingga orang tua berkumpul dan
melakukan tradisi tangkap ikan ini.
Dari adanya tradisi ini akan terjadi
proses interaksi antar warga. Banyak
Ngubek Situ sebagai Sarana Berkumpul bagi warga yang merasa senang mengikuti
Warga dari Segala Usia tradisi ini.
Sumber: https://www.liputan6.com/photo/
13
14
Soal
1. Belanda meninggalkan berbagai peninggalan fisik di Bogor yang masih dapat dijumpai
hingga saat ini. Dalam rangka meningkatkan pengairan sawah di Bogor, Belanda
membangun beberapa situ atau telaga di Bogor, salah satunya adalah Situ Gede. Situ
Gede di masa kini menjadi lokasi dilaksanakannya Tradisi Ngubek Situ. Pembuatan
Situ Gede oleh Belanda yang meningkatkan pengairan sawah warga menunjukkan
dampak positif penjajahan Belanda di Indonesia dalam bidang ekonomi, analisislah
mengapa demikian!
2. Dampak penjajahan Belanda di Indonesia di bidang budaya pada umumnya ditandai
dengan perubahan cara pergaulan, gaya hidup, bahasa, serta cara berpakaian
masyarakat. Pada masyarakat Sunda yang tinggal di sekitar Situ Gede, masuknya
budaya Belanda tidak membuat budaya mereka luntur. Pembangunan Situ Gede oleh
Belanda justru membuat masyarakat memperkuat nilai religius mereka menjelang
bulan Ramadhan dengan melakukan Tradisi Ngubek Situ yaitu tradisi menguras situ
dan memanen ikan untuk lauk sahur pertama. Analisis mengapa nilai religius penting
untuk dimiliki oleh generasi muda saat ini!
14
15
Kunci Jawaban
1. Keberadaan Situ Gede memiliki dampak yang positif bagi perekonomian warga sekitar
Situ Gede. Situ Gede yang dibangun oleh Belanda digunakan untuk mengairi sawah
warga. Dampaknya hasil pertanian warga semakin meningkat dengan pengairan yang
cukup. Dengan meningkatnya hasil pertanian, perekonomian warga turut meningkat.
Hasil pertanian yang banyak membuat warga memiliki stok beras yang cukup,
meskipun sebagian lainnya harus diserahkan kepada Belanda sebagai penyerahan
wajib.
2. Nilai ini sebagai cermin beriman pada Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan melalui
berbagai perilaku seperti melaksanakan ajaran agama yang dianut, menghargai
perbedaan agama, toleransi terhadap agama lain, serta hidup rukun dan damai dengan
pemeluk agama lain. Nilai religius penting untuk dimiliki oleh generasi muda saat ini
karena karakter generasi muda semakin menurun di tengah pesatnya perkembangan
teknologi dan pengaruh globalisasi. Generasi muda memerlukan nilai religius sebagai
wujud melaksanakan ajaran agama yang dianut untuk membentengi diri mereka dari
pengaruh buruk globalisasi.
15
16
Berikan tanda check list pada kolom yang tersedia sesuai dengan pemahaman kamu!
No. Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak
1. Apakah kamu telah memahami
tentang dampak penjajahan Belanda
di Indonesia dalam bidang ekonomi?
2. Apakah kamu telah memahami
tentang dampak penjajahan Belanda
di Indonesia dalam bidang sosial-
budaya?
3. Apakah kamu telah memahami corak
kehidupan masyarakat di Tatar Sunda
sebagai bagian dari sejarah bangsa
Indonesia?
4. Apakah kamu telah memahami
sejarah lokal Tradisi Ngubek Situ
yang sudah dilaksanakan sejak masa
kolonial Belanda?
5. Apakah kamu telah memahami nilai-
nilai yang dapat diambil dari Sejarah
Lokal Tradisi Ngubek Situ?
16
17
Brata Y.R., & Wijayanti Y. 2020. Dinamika Budaya Dan Sosial Dalam Peradaban Masyarakat
Sunda Dilihat Dari Perspektif Sejarah. Jurnal Artefak, 7(1) :1-12.
Hermawan, B. (2017, Mei 22). "Ngubek Situ" Tradisi Warga Bogor Sambut Ramadhan.
Retrieved from REPUBLIKA.co.id: https://republika.co.id/berita/oqbl52354/ngubek-
situ-tradisi-
Jumadi. (2020, Desember 10). Tradisi Ubek Setu pada Masyarakat di Situ Gede Kota Bogor.
(R. Nuralam, Interviewer)
Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana
Mulyana, B. (2012). Pengembangan Kota Bogor sebagai Destinasi Pariwisata Internasional.
Jurnal Ilmiah Pariwisata, 2(1), 109-222.
Munandar, A. A., 2010. Tatar Sunda Masa Silam. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Rahmawati, L. (2017, Mei 22). 'Ngubek Situ' Tradisi Warga Bogor Sambut Ramadhan.
Retrieved from Antara Megapolitan: https://megapolitan.antaranews.com
Richardson, M. (2017, Mei 26). Ngubek Setu Gede, Tradisi Warga Bogor Sambut Bulan
Ramadhan. Retrieved from heibogor.com:
https://www.heibogor.com/post/detail/41870/ngubek-setu-gede-tradisi-warga-
Semprit. (2014, Juni 1). Legenda Tiga Situ di Cikarawang. Retrieved from LAWALATA IPB:
http://lawalataipb.or.id/index.php/2014/06/01/legenda-tiga-situ-di-cikarawang-
Syaputra, E. (2019). Pandangan Guru terhadap Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran
Sejarah: Studi Deskriptif di Beberapa SMA di Bengkulu Selatan dan Kaur. IJSSE:
Indonesian Journal of Social Science Education, 1(1), 1-10.
Tohjiwa, A. D., Soetomo, S., Sjahbana, J. A., & Purwanto, E. (2010). Kota Bogor dalam Tarik
Menarik Kekuatan Lokal dan Regional. Seminar Nasional Riset Arsitektur dan
Perencanaan , -.
Wiradimadja, A., 2018. Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Naga sebagai Konservasi Alam
Menjaga Budaya Sunda. Sosiologi Pendidikan Humanis, 3(1), pp. 1-8.
Zed, M. (2017). Warisan Penjajahan Belanda di Indonesia Pasca-Kolonial (Perspektif
Perubahan dan Kesinambungan). Diakronika, 17(1), 90-103.
17