The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Teknik Menulis Naskah Dakwah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sarkawisingkil, 2023-08-16 00:44:48

Menulis Naskah Dakwah

Teknik Menulis Naskah Dakwah

Keywords: Buku Dakwah

MENULIS NASKAH DAKWAH


UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i. Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv. Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).


MENULIS NASKAH DAKWAH Sarkawi, S.Sos.I., M.Ag.


MENULIS NASKAH DAKWAH Sarkawi Desain Cover : Rulie Gunadi Sumber : www.shutterstock.com Tata Letak : Titis Yuliyanti Proofreader : Mira Muarifah Ukuran : vi, 49 hlm, Uk: 15.5x23 cm ISBN : No ISBN Cetakan Pertama : Bulan 2022 Hak Cipta 2022, Pada Penulis Isi diluar tanggung jawab percetakan Copyright © 2022 by Deepublish Publisher All Right Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. PENERBIT DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA) Anggota IKAPI (076/DIY/2012) Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Jl.Kaliurang Km.9,3 – Yogyakarta 55581 Telp/Faks: (0274) 4533427 Website: www.deepublish.co.id www.penerbitdeepublish.com E-mail: [email protected]


v KATA PENGANTAR PENERBIT Assalamualaikum, w.r. w.b. Segala puji kami haturkan ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Tak lupa, lantunan selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. Dalam rangka mencerdaskan dan memuliakan umat manusia dengan penyediaan serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan industri processing berbasis sumber daya alam (SDA) Indonesia, Penerbit Deepublish dengan bangga menerbitkan buku dengan judul MENULIS NASKAH DAKWAH. Terima kasih dan penghargaan terbesar kami sampaikan kepada penulis, Sarkawi, S.Sos.I., M.Ag., yang telah memberikan kepercayaan, perhatian, dan kontribusi penuh demi kesempurnaan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi semua pembaca, mampu berkontribusi dalam mencerdaskan dan memuliakan umat manusia, serta mengoptimalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air. Wassalamualaikum, w.r. w.b. Hormat Kami, Penerbit Deepublish


vi DAFTAR ISI KATA PENGANTAR PENERBIT.............................................................v DAFTAR ISI ..............................................................................................vi MENULIS NASKAH DAKWAH.............................................................1 A. Pengertian Naskah................................................................................1 B. Hubungan Naskah dan Dakwah...........................................................3 MENULIS DALAM ISLAM.....................................................................6 A. Sejarah Menulis dalam Islam...............................................................6 B. Perintah Menulis dalam Islam..............................................................9 C. Manfaat Menulis................................................................................13 D. Etika Menulis.....................................................................................17 E. Kiat dalam Penulis.............................................................................19 MENYUSUN NASKAH DAKWAH ......................................................25 A. Jenis-Jenis Naskah Dakwah ...............................................................25 B. Materi Dakwah...................................................................................27 MEMBUAT TULISAN DAKWAH .......................................................32 A. Media Sosial sebagai Sarana Dakwah................................................32 B. Di antara Ciri Tulisan Baik ................................................................36 C. Berdakwah Lewat Tulisan..................................................................41 D. Menulis Adalah Ibadah ......................................................................43 DAFTAR PUSTAKA................................................................................46 BIODATA PENULIS................................................................................49


1 A. Pengertian Naskah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan dan belum diterbitkan. Namun di era modern seperti sekarang, naskah tidak ditulis manual memakai tangan, melainkan diketik di perangkat digital menggunakan aplikasi khusus, misalnya dengan Google Document atau mungkin Ms. Word dan aplikasi yang sejenis. Meskipun begitu, strukturnya masih kasar dan bisa jadi saat dikirimkan ke editor akan mengalami banyak revisi. Secara etimologi atau asal kata diambil dari bahasa arab yaitu dari kata nushkhatum. Artinya adalah potongan kertas, karena umumnya naskah ini berbentuk lembaran yang perlu dikoreksi. Sementara beberapa pakar memberikan definisi Naskah dapat dilihat sebagai berikut: 1. Imam Suryono, naskah adalah sebuah drama yang berisi aksi atau perbuatan yang menjelaskan tentang suatu masalah yang dihadapi oleh seorang tokoh. 2. Ferdinand Brunetterie, naskah adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak yang dimunculkan dalam drama yang memerankan isi naskah cerita. 3. Baried, naskah drama adalah tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau. Dalam ilmu filologi yang disebut naskah ialah hasil tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan cipta, rasa, karsa manusia yang hasilnya biasa disebut dengan karya sastra, yang semua itu merupakan


2 rekaman pengetahuan masa lampau bangsa pemilik naskah itu (Dipodjojo, 1996: 7). Dari beberapa pendapat di atas, dapat dimaknai bahwa naskah merupakan sebuah gambaran yang belum final dan masih perlu untuk dikoreksi untuk selanjutnya ditampilkan, baik dalam bentuk drama, ceramah dan juga tulisan buku, walaupun sebenarnya ada yang berpendapat bahwa naskah adalah sebuah tulisan yang sudah final, seperti Naskah Proklamasi Kemerdekaan dan lain-lain, akan tetapi intinya bahwa naskah merupakan sebuah tulisan yang mempunyai makna dan tujuan sesuai dengan keinginan sang penulis tersebut. Sementara itu di dunia penerbitan, pengertian naskah adalah hasil karya tulisan atau karangan seseorang yang belum diterbitkan. Naskahnaskah karya penulis inilah yang dicari penerbit untuk diterbitkan Sehingga tanpa naskah, penerbit tidak bisa berbuat apa-apa. Sering sekali ditemukan istilah naskah, seperti Naskah Drama, Naskah Proklamasi, Naskah Kuno, Naskah Sayembara, Naskah Kerja Sama, Naskah Buku, Naskah Novel dan lain sebagainya. Dalam penyusunan naskah sendiri, tentu diperlukan ide, pemikiran yang lebih berfokus kepada sebuah masalah yang sedang dan akan dibahas untuk disajikan sehingga sajian yang diberikan tidak akan banyak kelemahan dan kekurangannya, begitu juga bahwa naskah tersebut perlu memuat beberapa ketentuan. Ketentuan naskah sendiri tentunya harus menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan kontra dan bahkan akan menjadi persoalan baru ketika naskah tersebut dipublikasikan kepada khalayak. Dalam membaca naskah asli dapat dilakukan berulang-ulang atau lebih dari sekali. Hal itu penting agar pemahaman terhadap naskah dapat lebih tepat, walaupun prosesnya kadang-kadang lebih lambat dan merepotkan. Ada juga cara pengulangan membaca dengan tidak terlebih dahulu menunggu sampai selesai seluruh karangan; penulis atau peringkas dapat membaca ulang secara bertahap. Ukuran keseringan membaca ulang hendaknya disesuaikan dengan kemampuan pemahaman ringkas. Ada saat peringkas memusatkan perhatiannya lebih tinggi terhadap bagian karangan. Upaya itu sangat berguna untuk menemukan maksud


3 pengarangnya. Dengan cara demikian, diharapkan akan terjadi adanya kekaburan pemahaman1 . B. Hubungan Naskah dan Dakwah Secara umum dakwah diartikan untuk mengajak seseorang kepada jalan kebenaran, dan kebaikan, walaupun secara spesifik bila di ambil dari kalimatnya dakwah sendiri sesungguhnya hanya memiliki “ajakan atau seruan” sehingga ketika seseorang mengajak kepada jalan kejahatan sesungguhnya itu juga merupakan dakwah dari sisi bahasa, akan tetapi sesungguhnya bahasa dakwah tersebut telah menjadi lumrah dan alamiah yang dipahami mengajak kepada kebaikan. Kalimat dakwah sendiri banyak terdapat di dalam Al-Qur’an baik dakwah dalam pengertian ajakan kepada kebaikan begitu pula dalam mengajak kepada kejahatan, hal ini dapat dilihat sebagai sebuah contoh Firman Allah dalam Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 221 sebagai berikut: ِت ي ٰ … ٰ ا ُ ِ ن ي َ ب ُ ي َ ِ هٖۚو ن ْ ِذ ا ِ ِة ب ِفرَ ْ غ َ م ْ ال َ ِة و َّ ن َ ج ْ ى ال َ ْٓاِال ْ و ُ ع ْ د َ ي ُ ه اّٰلل َ و ِۖ ار َّ ى الن َ ِال َ ن ْ و ُ ع ْ د َ ي َ ِٕىك ٰۤ ول ُ ا ه ْ م ُ ه َّ ل َ ع َ ِس ل ا َّ ِللن ْ و رُ َّ ك َ ذ َ ت َ ي َ نࣖ Artinya: “…..Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”. Berdasarkan ayat di atas dapat dilihat bahwa secara tekstual bahwa kalimat Da’a merupakan ajakan, dengan demikian bahwa secara bahasa dakwah merupakan sebuah ajakan, walaupun dakwah yang dipahami dalam Islam merupakan ajakan dari keburukan kepada kebaikan, dari kesalahan kepada kebenaran, dan dari kesesatan kepada jalan kebenaran pula. Dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik 1 Mohammad Siddik, Dasar-Dasar Menulis dengan Penerapannya, (Malang: Tunggal Mandiri Publishing, 2016), hlm. 119


4 secara individual maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengalaman terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan2 . Abu Bakar Zakary berpendapat bahwa dakwah adalah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang agama (Islam) untuk memberi pengajaran kepada khalayak hal-hal yang dapat menyadarkan mereka tentang urusan agama dan urusan dunianya sesuai dengan kemampuannya3 . Menurut Syekh Abdullah Ba’lawy al-Haddad, yang dikutip Muhammad Qadaruddin Abdullah menjelaskan bahwa dakwah adalah mengajak, membimbing dan memimpin orang yang belum mengerti atau sesat jalannya dari agama yang benar, untuk dialihkan ke jalan ketaatan kepada Allah, beriman kepada-Nya serta mencegah dari apa yang menjadi lawan kedua hal tersebut, kemaksiatan dan kekufuran4 Quraish Shihab mengartikan dakwah sebagai ajakan atau seruang menuju keinsafan, atau upaya mengubah keadaan yang tidak baik kepada keadaan yang lebih baik serta sempurna baik terhadap pribadi ataupun masyarakat yang berada di suatu lingkungan5 . Menurut Waryono Abdul Ghafur, yang dikutip Adapun tujuan dakwah sebetulnya tidak lain dari tujuan Islam itu sendiri yaitu transformasi sikap kemanusiaan (attitude of humanity transformation) atau yang dalam terminology Al-Qur’an disebutkan al-ikhraj min al zulumati ila al nur, artinya keluarnya manusia dari kegelapan menuju cahaya atau jalan yang terang yaitu kembali kepada fitrah atau kesucian.68 Tujuan dakwah dalam hal ini dapat membawa manusia kepada kebajikan, kesucian, kesejahteraan, keadilan, kesetaraan, kebahagiaan, dan keselamatan dunia dan akhirat, karena sudah merupakan fitrah manusia sejak lahir untuk menjadi suci, sehingga manusia selalu cenderung kepada kebaikan, kebenaran, kesucian, dan segala sifat yang identik dengan itu6 . 2 M. Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hlm, 6. 3 Muhammad Qadaruddin Abdullah, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jawa Timur: CV. Penerbit Qiara Media, 2019), hlm 3 4 Ibid, hlm 4 5 Munir dan Wahyu Ilaihi, “Manajemen Dakwah”, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 20 6 Fahrurrozi, Faizah, kadri, Ilmu Dakwah, Jakarta: Prenada Media grouf, 2019), hlm. 45


5 Hubungan Naskah dan dakwah sesungguhnya sangat erat kaitannya dalam rangka membuahkan hasil yang lebih baik, ketika seseorang membuat tulisan tampa diawali dengan naskah yang sebelumnya diberikan gambaran, maka dikhawatirkan akan menghasilkan sebuah tulisan yang kurang baik. Sangat besar kemungkinan, ketika seseorang menulis sebuah naskah, baik naskah ceramah, Skripsi, Jurnal dan makalah, ketika tidak me-review ulang akan banyak menemukan kesalahan, baik dalam penyusunan kata, begitu pula dalam penulisan, dan bahkan yang paling dikhawatirkan kesalahan tersebut dapat pula memberikan arti yang berbeda dari tujuan awal.


6 A. Sejarah Menulis dalam Islam Al-Qur’an yang berjumlah 114 surat merupakan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw., Al-Qur’an sendiri telah memberikan konsep Islam secara utuh kepada umat manusia, tidak sedikit para sahabat kala itu menghafalkan Al-Qur’an ketika mendengarnya, karena para sahabat memiliki daya ingat yang kuat, namun tidak dapat dipungkiri, terdapat banyak tulisan-tulisan Al-Qur’an yang dilakukan para sahabat pada pelepah kurma, sehingga suatu ketika Umar memberikan masukan kepada Khalifah Abu Bakar Siddiq r.a. untuk menuliskan AlQur’an dalam lembaran karena dikhawatirkan banyak yang lupa dan akan menjadi perdebatan kemudian, walaupun pada awalnya Abu Bakar r.a. menolak masukan yang diberikan Umar Ibn Khattab r.a., karena beliau takut menjadi dosa, karena merupakan sesuatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan Nabi, akan tetapi umar tidak bosan-bosannya selalu mengingatkan agar Al-Qur’an dituliskan, sehingga pada akhirnya Abu Bakar setuju dan memerintahkan Zaid Bin Tsabit untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang di pelepah kurma dan lainnya untuk dikumpulkan dan selanjutnya dituliskan oleh Zaid bin Tsabit. Begitu pula dengan Hadis Nabi Muhammad saw. yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan juga bagi yang mendengarkannya kala itu banyak pula yang menghafalkannya, seiring perubahan masa, banyak pula yang wafat para penghafal Hadis, sehingga adanya upaya pemalsuan hadis oleh orang yang anti Islam. Kondisi itu mengundang keprihatinan Umar bin Abdul Aziz (628-720 M), Khalifah Dinasti Umayyah kedelapan yang berkuasa pada 717-720 M. Guna mencegah punahnya hadis, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pembukuan hadis-hadis yang dikuasai para penghafal.


7 Ulama yang generasi pertama yang menulis al-musnad adalah Abu Dawud Sulaiman Al-Tayasili (133-203 H). Setelah itu, ulama generasi berikutnya juga menulis al-musnad. Salah seorang ulama terkemuka yang menulis kitab hadis itu adalah Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali. Kitab hadisnya dikenal sebagai Musnad al-Imam Ahmad Ibnu Hanbal. Moh. Ali Aziz dalam bukunya Ilmu Dakwah yang dikutip oleh Rini Fitria dan Rafinia Aditia, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Tulisan ialah taman para ulama,”. Melalui seni tulisan para ulama “mengabadikan” dan menyebarluaskan pemikiran serta pandangan keislamannya. Dakwah Bil Qalam yang sudah dilakukan para ulama salaf serta cendekiawan muslim pada zaman dahulu, menciptakan sejumlah “Kitab Kuning”. Mungkin, apabila mereka tidak menuangkan dalam tulisan, pemikiran para ulama dan mujtahid akan susah untuk dipelajari serta diketahui pada zaman sekarang ini. Metode menggunakan karya tulis ialah buah dari keterampilan tangan ketika memberikan pesan dakwah7 . Para ulama hadis yang muncul di abad pembukuan hadis itu antara lain; Imam Bukhari menyusun Sahih al-Bukhari; Imam Muslim menyusun Sahih Muslim; Abu Dawud menyusun kitab Sunan Abi Dawud; Imam Abu Isa Muhammad At-Tirmizi menyusun kitab Sunan at-Tirmizi; Imam AnNasai menyusun kitab Sunan An-Nasai dan Ibnu Majah atau Muhammad bin Yazid ar-Rabai al-Qazwini. Keenam kitab hadis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Kutub as-Sittah atau kitab hadis yang enam. Dengan adanya Al-Qur’an dan hadis, maka sangat mudah bagi para Mujtahid dalam mensyarahkan Hukum apa yang dikenal dengan Akidah, Fikih, dan Tasawuf, yang kesemuanya itu merupakan sarahan dari AlQur’an dan hadis yang pada akhirnya juga di tuangkan dalam Kitab-kitab klasik terdahulu dan bahkan sampai ada sampai masa kini. Langkah dan upaya yang dilakukan para sahabat, tabi’in dan tabi’- tabi’in memberikan makna dan arti yang sangat berarti bagi umat saat ini, sulit untuk dibayangkan bila budaya menulis tidak ada dari masa dulu, maka hampir bisa dipastikan berpotensi umat saat ini akan hidup dalam kegelapan, dengan demikian, ternyata menulis dalam Islam dan merupakan sesuatu yang perlu untuk dikembangkan sehingga dapat bermanfaat bagi generasi ke depan. 7 Rina Fitria dan Rafinita Aditia, Prospek dan Tantangan Dakwah Bil Qalam sebagai Metode Komunikasi Dakwah, Jurnal Ilmiah Syiar, 19 (02) 2019, hlm. 227


8 Mengalami masa perkembangan ilmu pengetahuan mencapai kejayaan sekitar abad ke-2/8 hingga abad ke-6/12 (Asari, 2005: 229-241) tentu itu ditandai dengan tradisi ilmiah yang baik. Di mana Islam itu berada dan hadir di tengah masyarakat. Bahkan kejayaan suatu bangsa ditentukan sampai sejauh mana karya ilmiah dan ilmu pengetahuan benarbenar dapat perhatian yang layak. Begitu juga yang terjadi pada muslim di Nusantara, semenjak kehadiran Islam dan menjadi kekuatan politik mampu melahirkan kerajaan dan tradisi ilmiah 8 . Sementara sejarah peradaban manusia dipandang baru muncul setelah ditandai oleh keberhasilan manusia menciptakan lambang-lambang yang kemudian disebut huruf, yang pada mulanya dituliskan di dindingdinding gua. Huruf-huruf itu kemudian dirangkai menjadi kata-kata dan disusun menjadi kalimat-kalimat, yang memiliki fungsi untuk mengatakan pikiran-pikiran mereka dari hasil pengalaman yang telah mereka alami. Dengan demikian, jika sebelum orang mengenal tulisan suatu pengalaman atau pemikiran manusia hanya menjadi miliknya atau milik masyarakat semasa itu, setelahnya pengalaman dan pemikiran tersebut tidak hanya dinikmati oleh generasinya, tetapi juga oleh generasi sesudahnya, bahkan generasi yang jauh sesudah mereka meninggal. Dengan begitu, pemikiranpemikiran menjadi terkoleksikan dalam suatu arsip yang bernama tulisan. Sejak itu pula para sejarawan mencatat peradaban manusia mengalami perkembangan yang pesat9 . Berkat kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, bahwa antara perkataan dan tulisan sudah tidak dapat dipisahkan lagi, karena apa yang dikatakan seseorang sudah amat mudah direkam, dan rekaman itu dalam waktu hanya beberapa detik sudah dapat dibaca dan diakses, serta disebarkan ke seluruh dunia. Ucapan, rekaman dan tulisan yang tidak beretika dan tidak beradab merupakan komoditas yang bisa di-”goreng” dan di-”jual-belikan”, apalagi jika ucapan, rekaman dan tulisan itu keluar dari seseorang yang memiliki pengaruh di masyarakat. Demikian pula berbagai produk teknologi informasi, jika tidak didasarkan pada etika dan 8 Zailani, tradisi menulis ilmuwan muslim Nusantara sejak zaman kerajaan hingga masa kontemporer, tarbawy: indonesian journal of islamic education – vol. 5, no.1, (2018), hlm 101 9 Aep Kusnawan, Teknik Menulis Dakwah, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016), hlm. 22-23


9 adab dapat disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang berbahaya. Diketahui bahwa IT/Google tak ubahnya seperti gunung es. Bagian atasnya terlihat sedikit, tapi bagian bawahnya sangat besar. Bagian bawah ini menurut Radhar Panca Dahana dalam Kompas, Senin, 16 April, 2018:6) disebut Dark Web (lapisan terbawah dari Deep Web) yang dapat mengetahui rahasia pribadi seseorang atau rahasia sebuah korporasi, negara dan lainnya10 . B. Perintah Menulis dalam Islam Dalam tulisan yang dikutip Abdurahman Poteet berpendapat bahwa, menulis merupakan penggambaran visual tentang pikiran, perasaan, dan ide dengan menggunakan simbol-simbol sistem bahasa penulisannya untuk keperluan komunikasi atau mencatat11. Menulis juga merupakan hasil dari produk pikiran manusia dengan menghasilkan apa yang terkandung di dalam hatinya untuk manusia dan pribadinya melalui goresan penanya12 . Dalam memahami Al-Qur’an, tidak mudah bagi setiap orang, karena hal ini butuh keilmuan yang mumpuni, sehingga kehadiran Ulama Tafsir yang menuliskan penjelasan Al-Qur’an sangat bermakna bagi umat Islam, karena tanpa ada penjelasan maka dikhawatirkan akan terjadi banyak perbedaan pemahaman. Hasil usaha manusia dalam memahami Al-Qur’an berupa penjelasan makna serta maksud firman Allah sesuai dengan keterbatasan insaninya dan inilah yang dikenal dengan istilah tafsir. Usaha penafsiran tersebut berlangsung, tumbuh, dan berkembang sejak masamasa awal pertumbuhan dan perkembangan Islam, sejak zaman Nabi dan oleh Nabi sendiri, sahabat, tabi’in hingga ulama muta’akhhirin dengan corak yang bermacam-macam sesuai dengan masa, kecerdasan, kecenderungan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh tiap-tiap mufassir.13 10 Abuddin Nata, Etika dan Adab Karya Tulis Ilmiah dalam Membangun Budaya Intelektual, Jurnal Dirosah Islamiah, Vol. 3 No 1, 2021, hlm. 6 11 Abdurrahman, Mulyono. Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. (2012)., hlm 179 12 Widyamartaya, Kreatif Mengarang (Yogyakarta: Kanesius, 1991), 9 13 Asep Muhyidin, Agus Ahmad Safei, Metode Pengembangan Dakwah, Bandung: Pustaka Setia, 2002), hlm. 17


10 Allah Swt. memerintahkan kepada betapa pentingnya mencatatkan apabila ada di antara sesama manusia untuk terjadi hutang piutang, hal ini dapat dilihat dalam Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 282 sebagai berikut: ُ ه ْ و ُ ب ُ ت ْ اك َ ى ف مًّ سَ ُّ م ٍ ل َ ج َ ى ا ٰٓ ِال ٍ ن ْ ي َ ِد ب ْ م ُ ت ْ ن َ اي َ د َ ا ت َ ْٓاِاذ ْ و ُ ن َ م ٰ ا َ ن ْ ِذي َّ ا ال َ ه ُّ ي َ ا ٰٓ ۖ ي ِ ل ْ د َ ع ْ ال ِ ب ٌۢ ب ِ ات َ ك ْ م ُ ك َ ن ْ ي َّ ْب ب ُ ت ْ ك َ ي ْ ل َ و ِ ق َّ ت َ ي ْ ل َ و ُّ ق َ ح ْ ِه ال ْ ي َ ل َ ع ِذي ْ َّ ال ِ ِلل ْ م ُ ي ْ ل َ ْبٖۚ و ُ ت ْ ك َ ي ْ ل َ ف ُ ه اّٰلل ُ ه َ م َّ ل َ ا ع َ م َ َب ك ُ ت ْ ك َّ ي ْ ن َ ب ا ِ ات َ َب ك ْ أ َ ا ي َ ل َ و ٗ ه َّ ب َ ر َ ه اّٰلل َ ح ْ ِه ال ْ ي َ ل َ ع ِذي ْ َّ ال َ ان َ ك ْ ِن ا َ ف ًٔـا ْ ي َ ش ُ ه ْ ْسِمن َ خ ْ ب َ ا ي َ ل َ و َ و ُ ه َّ ِ ل م ُّ ي ْ ن َ ا ُ ع ْ ِطي َ ت س ْ َ ا ي َ ل ْ و َ ا ا ً ف ْ ِعي ضَ ْ و َ ا ا ً ه ْ ِفي سَ ُّ ق ُ ج رَ َ ف ِ ن ْ ي َ ل ُ ج َ ا ر َ ن ْ و ُ ك َ ي ْ م َّ ل ْ ِن ا َ ٖۚف ْ م ُ اِلك َ ج ِ ر ْ ِمن ِ ن ْ ي َ د ْ ي ِ ه َ ا ش ْ و ُ ِ د ه ْ ش َ ت اس ْ َ و ِ ل ْ د َ ع ْ ال ِ ب ٗ ه ُّ ِلي َ و ْ ِلل ْ م ُ ي ْ ل َ ف ِ ن ٰ ت َ ا رَ ْ ام َّ و ل ْ ن َ اِء ا َۤ د َ ه ُّ الش َ ِمن َ ن ْ و رْ ضَ َ ت ْ ن َّ ِِم ُ اء َۤ د َ ه ُّ َب الش ْ أ َ ا ي َ ل َ و ر ٰ ى ْ خ ُ ا ْ ا ال َ م ُ ىه ٰ د ْ ِاح ِ رَ ك َ ذ ُ ت َ ا ف َ م ُ ىه ٰ د ْ ِاح َّ ِضل َ ت َ د ْ ِعن سَ ط ُ ْ ق َ ا ْ م ُ ِلك ٰ ذ ِ ه ل َ ج َ ى ا ٰٓ اِال ً ر ْ ي ِ ب َ ك ْ و َ ا ا ً ر ْ ِغي صَ ُ ه ْ و ُ ب ُ ت ْ ك َ ت ْ ن َ ْٓا ا ْ و ُ َٔـم س ْ َ ا ت َ ل َ و ا ْ و ُ ع ُ ا د َ ا م َ ِاذ ُ م َ و ْ ق َ ا َ ِ و ه اّٰلل َ ْٓى ا ٰ ن ْ د َ ا َ ِة و َ اد َ ه َّ ِللش اح َ ن ُ ج ْ م ُ ك ْ ي َ ل َ َس ع ْ ي َ ل َ ف ْ م ُ ك َ ن ْ ي َ ا ب َ ه َ ن ْ و رُ ْ ِدي ُ ت ً ة َ ِضر ا َ ح ً ة َ ار َ ِتج َ ن ْ و ُ ك َ ت ْ ن َ ْٓا ا َّ ْٓاِال ْ و ُ اب َ ت رْ َ ا ت َّ ل ِ ا َ ا ف ْ و ُ ل َ ع ْ ف َ ت ْ ِان َ و ە د ْ ي ِ ه َ ا ش َ ل َّ ب و ِ ات َ ك َّ ۤار ضَ ُ ا ي َ ل َ و ۖ ْ م ُ ت ْ ع َ اي َ ب َ ا ت َ ْٓا ِاذ ْ و ُ ِ د ه ْ ش َ ا َ و ا َ ه ْ و ُ ب ُ ت ْ ك َ ا ت َّ ل َ ا ٌۢ ق ْ و سُ ُ ف ٗ ه َّ ن م ْ ِي ل َ ْيٍء ع َ ِ ش ل ُ ِك ب ُ ه اّٰلل َ و ُ ه اّٰلل ُ م ُ ك ُ ِ م ل َ ع ُ ي َ و َ ه وا اّٰلل ُ ق َّ ات َ و ْ م ُ ِك ب Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari


11 para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dari ayat ini dapat dipahami betapa pentingnya menulis, karena bila tidak dituliskan dapat menjadi perdebatan di kemudian, dan bila dikaitkan dalam persoalan ilmu sesungguhnya tidak mustahil banyak terjadi perbedaan bila tidak ada maksud yang jelas telah diberikan sebelumnya, sehingga terjadi multitafsir dalam sebuah persoalan, sementara di sisi lain pula bahwa Ilmu yang dimiliki seseorang bisa saja menjadi lupa bila tidak dituliskan, dalam sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan Thabrani dapat dilihat sebagai berikut: ِب ا َ ِكت ْ ال ِ ب َ م ْ ِعل ْ وا ال ُ د ِّ ِ ي َ ق Artinya: “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. at-Thabarani). Dalam hadis lain juga dapat dilihat betapa menulis tersebut juga sangat penting dilakukan: حدثنا قتيبة, اخبرنا الليث عن الخليل بن مرة, عن يحي بن ابي صالح, عن ابي هريرةۗقال:ۗ كانۗرجلۗمنۗالأنصارۗيجلسۗالىۗرسولۗاّٰللۗصلىۗاّٰللۗعليهۗوۗسلم,ۗفيسمعۗمنۗالنبيۗصلىۗ اّٰللۗعليهۗوۗسلمۗالحديثۗفيعجبهۗوۗلاۗيحفظه,ۗفشكىۗذالكۗالىۗرسولۗاّٰللۗصلىۗاّٰللۗعليهۗوۗ


12 سلم,ۗفقال:ۗياۗرسولۗاّٰللۗإنيۗلأسمعۗمنكۗالحديثۗفيعجبنيۗوۗلا ۗأحفظه.ۗفقالۗرسولۗ عليه و سلم: استه عن بيمينك و أومأ بيده الخط اّٰللۗصلىۗاّٰلل . ورواه المرمذي Artinya: “Ada seorang lelaki Anshor duduk di samping Rasulullah saw. mendengar hadis dari Rasulullah maka hadis itu membuatnya kagum, dan ia tidak menghafalnya, maka ia mengeluhkannya kepada Rasulullah dan ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar hadis darimu, maka hadis itu membuatku kagum, dan aku tidak menghafalnya. Maka Rasulullah bersabda mintalah bantuan dengan tangan kananmu. Dan lelaki itu membuat tulisan dengan tangannya.” (HR. Tirmidzi) Betapa pentingnya menulis dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa dengan tulisan akan dapat memperkuat seseorang dalam keilmuannya, Imam Syafi’i juga pernah berkata “Ilmu itu ibarat binatang buruan, ikatlah buruan-mu dengan menulis”.14 Pada masa Rasulullah para sahabat dilarang menulis sabdasabdanya, karena dikhawatirkan terjadi tumpang tindih antara ayat AlQur’an dan sabda Nabi, sehingga para sahabat hanya menulis ayat-ayat AlQur’an di berbagai benda, hal ini mereka lakukan barangkali untuk menghindari dari kealpaan mereka terhadap ingatan wahyu yang sudah diterima Rasulullah dan telah disampaikan rasul kepada mereka. Adapun pembolehan penulisan hadis adalah berdasarkan dalil hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa ada seorang lelaki Yaman yang biasa di panggil Abu Syah berkata “Wahai Rasulullah, tolong agar para sahabat anda menuliskan {Hadis yang anda sampaikan ini} untukku.” Maka beliau bersabda kepada para Sahabat, Tuliskanlah [Hadis yang saya sampaikan tadi] untuk Abu Syah.” (HR. Bukhari dan Muslim)15 . Oleh karena itu, didapati kesimpulan bahwa larangan penulisan hadis-sebagaimana termaktub dalam Hadis Abu Sa’id Al-Khudri berlaku 14 Anton Ramdan, Jurnalistik Islam (Shahara Digital Publishing, tt),hlm. 24 15 Muhammad Musa Nashr, Wasiat Rasul kepada Pembaca & Penghafal Al-Qur’an, (Cet V (Sukoharjo: Al-Qowam, 2019), hlm. 134-135


13 khusus pada masa turunnya Al-Qur’an, berlaku khusus pada masa-masa turunnya Al-Qur’an karena dikhawatirkan terjadi ketercampuran hadis dan Al-Qur’an. Dengan kata lain, larangan tersebut berlaku di awal. Kemudian izin beliau menghapuskan larangan tersebut, ketika dirasa kondisi AlQur’an sudah aman dari ketercampuran dengan selainnya16 . C. Manfaat Menulis Berbagai pelajaran yang didapatkan umat disebabkan membaca, dan menulis, begitu pula banyak sekali kisah-kisah terdahulu yang dapat dipetik hikmahnya untuk dijadikan sebagai pedoman, pelajaran dan juga pembelajaran, kisah-kisah tersebut terkadang dapat diketahui melalui ceramah-ceramah para kiai dan ustaz-ustaz, namun masih banyak yang dapat diketahui ketika membaca lembaran sejarah, para ulama terdahulu menuliskan pemahamannya dalam hal keilmuan, baik fikih, akidah dan lain sebagainya, sehingga dengan adanya tulisan tersebut memudahkan umat saat ini dalam mengetahui persoalan sesuai dengan bidangnya. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah seseorang. Rasa dongkol dan marah dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah itu berangsur-angsur menghilang dan penulis dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang17 . Dalam buku Terampil Berbahasa Indonesia Setidaknya ada lima tujuan utama dalam menulis, yaitu18: 1. Tujuan Menghibur, penulis bermaksud menghibur kepada pembaca sehingga pembaca merasa senang dan mengurangi kesedihan dari pembacanya. 2. Tujuan Meyakinkan dan Berdaya Bujuk, isi karangan atau tulisan bertujuan meyakinkan dan berdaya bujuk. 3. Tujuan Penerangan, isi karangan memberi keterangan (informasi tentang segala hal kepada pembaca dan bersifat inovatif). 16 Ibid, hlm 135 17 Achmad Syariffuddin, Strategi Komunikasi dalam Dakwah Bi Al-Kitabah: Optimalisasi Penggunaan Bahasa Komunikatif. Palembang: Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah, 2015), hlm. 46-47 18 Kusumaningsih, Dewi, dkk., Terampil Berbahasa Indonesia. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2013.), hlm. 69-70


14 4. Tujuan Pernyataan Diri, pertanyaan diri ini bertujuan untuk memperkenalkan atau menyatakan diri. 5. Tujuan Kreatif, tujuan kreatif ini berkaitan erat dengan tujuan pernyataan diri mengarah pada pencapaian nilai-nilai artistik. Dari beberapa manfaat menulis di atas, dapat diartikan merupakan manfaat menulis dari sisi ilmiah dan akademik, akan tetapi lebih jauh yang perlu dilihat manfaat menulis dalam kajian islam, yang merupakan sebuah tuntutan pengembangan ilmu dan Agama, ketika seseorang mengetahui dan mendapatkan ilmu, maka seharusnya ilmu itu untuk dikembangkan dan di ajarkan, agar keilmuan tersebut dapat secara terus-menerus berkembang dan bermanfaat. Manfaat-manfaat menulis banyak disampaikan para ahli. Berikut ini jabaran para ahli tentang manfaat menulis, yakni sebagai sarana19; 1. Untuk menghilangkan stres. Dengan menulis kita bisa mencurahkan perasaan sehingga tekanan batin yang kita rasakan berkurang sedikit demi sedikit sejalan dengan tulisan. Tulisan yang kita buat bisa tentang apa yang sedang kita rasakan ataupun menuliskan hal lain yang bisa mengalihkan kita dari rasa tertekan tersebut (stres). Dengan demikian, kesehatan fisik dan mental kita akan lebih terjaga. 2. Alat untuk menyimpan memori. Karena kapasitas ingatan kita terbatas, maka dengan menuliskannya, kita bisa menyimpan memori lebih lama. Sehingga ketika kita membutuhkannya, kita akan mudah menemukannya kembali. Misalnya, menuliskan peristiwa-peristiwa berkesan di diari, menuliskan setiap pendapatan dan pengeluaran keuangan, menulis ilmu pengetahuan atau pelajaran, menuliskan ide/gagasan, menuliskan rencana-rencana, target-target dan komitmen-komitmen. 3. Membantu memecahkan masalah. Ketika kita ingin memecahkan suatu permasalahan, maka kita bisa membuat daftar dengan menuliskan hal-hal apa saja yang menyebabkan masalah itu terjadi dan hal-hal apa saja yang bisa membantu untuk memecahkan 19 Vera Sardila, Strategi Pengembangan Linguistik Terapan Melalui Kemampuan Menulis Biografi Dan Autobiografi: Sebuah Upaya Membangun Keterampilan Menulis Kreatif Mahasiswa, An-Nida: Jurnal Pemikiran Islam, 40 No (2), 2015, hlm. 114


15 masalah tersebut. Cara seperti itu akan lebih memudahkan kita dalam melihat duduk permasalahan dengan tepat yang pada akhirnya bisa memberi pemecahan yang tepat pula dalam jangka waktu yang relatif lebih cepat. 4. Melatih berpikir tertib dan teratur. Ketika kita membuat tulisan khususnya tulisan ilmiah atau untuk dipublikasikan, maka kita dituntut untuk membuat tulisan yang sistematis sehingga pembaca bisa mengerti apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan. Dalam Al-Qur’an surat Lukman ayat 27 sebuah isyarat dalam menulis yang berbunyi sebagai berikut: ت ْ َ ِفد َ ا ن َّ م ٍ ر ُ ح ْ ب َ ا ُ ة َ ع ْ ب ِد ه سَ ْ ع َ ب ٌۢ ْ ِمن ٗ ه ُّ د ُ م َ ي رُ ْ ح َ ب ْ ال َّ و ام َ ل ْ ق َ ٍة ا رَ َ ج َ ش ْ ِض ِمن ْ ر َ ا ْ ِى ال ا ف َ م َّ ن َ ا ْ و َ ل َ و ٰ تُ ِم ل َ ك م ْ ِكي َ ح ز ْ ي ِ ز َ ع َ ه اّٰلل َّ ِ ِان ه اّٰلل Artinya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana”. Dari ayat tersebut di atas, dapat dipahami betapa besar kebesaran Allah, dan ilmu-ilmu tersebut untuk dituliskan, sehingga sangat penting menulis yang merupakan sumbangan yang dapat diberikan kepada orang lain dalam hal membagi ilmu. Berdasarkan riwayat sebab nuzul ayat ini, secara hermeneutic dapat dipahami bahwa ilmu yang sedikit diberikan Allah kepada manusia sesungguhnya sedikit dilihat dari sisi ilmu Allah. Sedangkan dari sisi manusia, ilmu yang sedikit itu bagi manusia sudah merupakan ilmu yang luar biasa banyak dan luasnya. Begitu luas dan banyaknya, ayat-ayat Allah di alam ini manakala manusia kaji dan tulis semuanya, niscaya jumlah pena sebanyak pohon di bumi dan tinta sebanyak tujuh kali air laut, tidak akan cukup untuk menulis semua ilmu itu20 . 20 Risman Bustamam, Tulis-menulis (Kitabah) sebagai Pilar Keilmuan Perspektif AlQuran: Pendekatan Tafsir Tematik, Hermeneutik, dan Linguistik, Batusangkar International Conference I, 15-16 2016, hlm. 651-609


16 Menulis merupakan sarana paling ampuh untuk menyampaikan gagasan. Seorang penulis yang baik mampu menyampaikan gagasan dengan baik pula. Sedangkan menurut Ngainun Naim, syarat penting menulis adalah memiliki kemauan untuk terus menulis. Kemauan menjadi daya dorong yang sangat kokoh untuk menghasilkan karya. Orang yang memiliki kemauan yang kuat akan selalu berusaha keras untuk menulis, meskipun ada banyak hambatan dan tantangan. Hal utama yang harus dibangun saat menekuni dunia menulis adalah memompa semangat menulis, menjaga secara konsisten, tekun, rajin, dan terus berusaha menulis21 . Dalam melakukan dakwah melalui tulisan akan banyak memberikan manfaat, karena tidak semua orang mampu menjadi orator, hal ini disebabkan beberapa faktor, bisa jadi disebabkan kurangnya mental dan kurang pede, sehingga ilmu dan ide yang terkadang cemerlang tidak tersalurkan, dan tidak diketahui orang banyak, maka menulis merupakan solusi yang dapat dilakukan oleh sesorang untuk sarana dakwah. Dakwah dengan tulisan memiliki banyak kelebihan, di antaranya menurut Alex sabur yang dikutip Ngainum Naim dalam bukunya yang berjudul menulis itu mudah sebagai berikut: Pertama, menghadirkan karakter keberagamaan yang mencerahkan. Tentu kita harus kreatif agar tidak kehilangan konteks dan relevansi. Generasi milenial sesungguhnya haus akan bacaan agama yang bermutu di media sosial. Tidak sedikit generasi sekarang ini yang mengonsumsi bacaan agama yang tidak mencerahkan. Di sinilah peluang dakwah literasi. Kedua, dakwah melalui tulisan mampu menjangkau pembaca yang sangat luas. Sejalan dengan karakter media sosial, tulisan yang diunggah akan cepat tersebar melewati ruang dan waktu. Ketiga, dakwah lewat tulisan bisa menghadirkan model keberagamaan yang moderat. Media sosial itu tidak netral. Kemampuan media untuk menciptakan realitas dimulai dari kekuasaannya untuk menentukan jenis lansiran yang akan disebar kepada masyarakat. Proses penentuan berita dikenal dengan istilah framing, yaitu sebuah proses penyeleksian dan penyorotan khusus terhadap aspek-aspek realita oleh 21 Ngainun Naim, Proses Kreatif Penulisan Akademik, (Tulungagung, Akademia Pustaka, 2017), hlm. 22


17 media. Proses framing fokus pada strategi seleksi, penonjolan, dan tautan fakta ke dalam berita agar berita tersebut lebih bermakna, lebih berarti atau lebih diingat, dan untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya22 . Menulis juga merupakan sebuah kerajinan yang akan dapat mengantarkan seseorang agar lebih terampil, hal ini dapat dilihat bagaimana seorang yang masih sekolah pada jenjang sekolah Dasar, seorang guru biasanya lebih sering menekankan untuk menulis, begitu pula bila seseorang pelajar membiasakan menulis dari hasil pelajarannya, maka secara otomatis ia akan lebih mudah mengingat apa yang telah dipelajari. Dengan kegiatan menulis ini, sungguh memperluas jangkauan komunikasi antara penulis dengan pembaca yang bukan saja untuk satu masa dengan penulis, tetapi bisa berlanjut untuk lapisan pembaca yang akan datang. Artinya, dengan tulisan yang disusun oleh penulis seorang penulis, maka ia akan bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Bukankah dengan karya tulis, maka dapat terabadikan berbagai informasi dan perbendaharaan ilmu pengetahuan? Seorang yang namanya terkenal di waktu hidup, maka jika selama hidupnya tidak meninggalkan karangan atau karya tulis, maka ada kemungkinan keterkenalannya akan hilang. Melalui karya tulis tentu akan melestarikan segala khazanah ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang. Kita ambil contoh, betapa hebat dan beruntung nya Buya Hamka, sebagai ulama, budayawan, pujangga, dan sekaligus pengarang, sehingga kebesaran beliau akan terasa. Hamka banyak menulis buku yang berhubungan dengan agama, kehidupan, sastra dan budaya. Rupanya Hamka mempunyai keistimewaan khusus, beliau lancar dan menarik bila berbicara serta pandai pula mengarang23 . D. Etika Menulis Dari kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang tulis-menulis memalui term kitabah dan sejenisnya, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan dan kegiatan tulis menulis merupakan cara penting dan vital dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, juga diperoleh 22 Ngainum Naim, Menulis itu Mudah: 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya (Lamongan: Kamila Press, 2021), hlm 25. 23 Mohammad Siddik, Dasar-dasar Menulis ………, hlm. 5


18 simpulan-simpulan penting tentang kode etik dan hakikat tulis menulis dari interpretasi ayat-ayat tentang kitabah tersebut. Sumber-sumber etika Islam secara umum berhubungan dengan empat hal yaitu sebagai berikut: 1. Dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia 2. Dari segi sumbernya, etika bersumber dari akal pikiran atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutlak, absolut dan tidak universal. 3. Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yakni apakah perbuatan itu akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina. Etika merupakan konsep atau pemikiran mengenai nilai-nilai untuk digunakan dalam menentukan posisi atau status perbuatan yang dilakukan manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. 4. Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubahubah sesuai tuntunan zaman24 . Dalam jurnal Abuddin Nata, yang dikutip pendapat Achmad Faisal Afni dalam tulisannya, “Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah” (15 Oktober, 2016), menyebutkan noma-norma yang harus diperhatikan mencakup tiga hal pokok, yakni. 1. Cara pengutipan dan perujukan penulis harus jujur dalam penyebutan rujukan atau pikiran yang diambil dari sumber lain. Penulis harus menghindarkan diri dari tindakan plagiasi. Yaitu tindakan kecurangan yang berupa pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain yang diakui sebagai hasil tulisan atau hasil pemikirannya sendiri. 2. Cara perizinan, yaitu penulis wajib minta izin secara tertulis kepada pemilik bahan yang dikutip pendapatnya. Jika pemilik bahan tidak dapat dijangkau, maka penulis harus jujur menyebutkan sumbernya yang dijadikan rujukan dan menjelaskan apakah bahan tersebut diambil secara utuh, sebagian, dimodifikasi atau dikembangkan. 24 Hardiono, Sumber Etika dalam Islam, Jurnal Al-Aqidah: Jurnal Ilmu Aqidah Filsafat, Vol 12 No 2 2020, hlm 29-30


19 3. Cara penyebutan data. Yakni nama sumber data atau informan tidak boleh dicantumkan apabila pencantuman nama tersebut dapat merugikan sumber data. Guna menjamin kepatuhan kepada etika dan adab tersebut, maka penulis skripsi, tesis dan disertasi wajib membuat dan mencantumkan pernyataan dalam skripsi, tesis atau disertasinya bahwa karyanya bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain25 . Etika menulis juga masih banyak yang perlu diperhatikan, tergantung kepada motivasi sang penulis tentang materi atau masalah yang sedang ditulis, begitu pula dalam menulis tentu harus memperhatikan tulisan tersebut agar tidak mengandung hal-hal yang menimbulkan masalah, sehingga akan dapat lebih bermanfaat bagi orang lain. E. Kiat dalam Penulis Dalam pembahasan kiat menjadi penulis, sebelumnya penulis ingin membagi menjadi dua poin, di antaranya menulis dalam bentuk tulisan ilmiah dan menulis tulisan dakwah yang bukan ilmiah atau formal. Menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Dalam pembagian kemampuan berbahasa, menulis selalu diletakkan paling akhir setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca. Meskipun selalu ditulis paling akhir, bukan berarti menulis merupakan kemampuan yang tidak penting. Dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh agar mendapat hasil yang benarbenar baik26 . Sebelum menjelaskan dua jenis kiat menulis tersebut di atas, perlu juga penulis paparkan bagaimana dan apa yang harus dipahami agar dapat menjadi seorang penulis, dalam buku Ubah Dunia dengan Opinimu, Kiat sukses menulis Opini di Media Massa, yang disusun oleh Eri Haryanto, menyebutkan bahwa langkah mudah untuk menulis sebagai berikut 27: 25 Abuddin Nata, Etika dan Adab Karya Tulis Ilmiah dalam Membangun Budaya Intelektual, Jurnal Dirosah Islamiah, Vol 3 No 1, 2021, hlm. 3 26 Vera Sardila, Strategi Pengembangan Linguistik Terapan Melalui Kemampuan Menulis Biografi dan Autobiografi: Sebuah Upaya Membangun Keterampilan Menulis Kreatif Mahasiswa, An-Nida: Jurnal Pemikiran Islam, Vol 40 No 2, 2015, hlm. 113 27 Eri Haryanto, Ubah dunia dengan opinimu: Kiat Sukses Menulis Opini di Media Massa, Bogor: Tp. 2020), hlm 36-37


20 1. Tetapkan Niat dan Bulatkan Tekad Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Demikian kesimpulan yang diperoleh setelah mengikuti berbagai pelatihan menulis dan penelitian. 2. Membaca dan Menulis Setiap Hari Stephen King, seorang pengarang fiksi terkenal dari Amerika Serikat mengatakan: “If you don’t have time to read, then you will don’t have the time to write.” Membaca ibarat nutrisi bagi penulis. Menulis ibarat memanfaatkan nutrisi menjadi energi dan prestasi. Melalui membaca kita dapat mempelajari bagaimana para penulis menyusun kata, memilih kata (diksi), dan mengolah tulisan hingga memiliki rasa. Dengan membaca kita akan memperoleh ilmu dan pengalaman dari penulis lain yang lebih mumpuni. Berdasarkan pengalaman tersebut, kita ambil dan tuangkan dalam tulisan. Sempatkanlah setiap hari untuk menulis meski hanya beberapa paragraf. Kita dapat menentukan sendiri waktu yang tepat untuk menyempatkan diri menulis setiap hari. Jika itu belum cukup untuk mendorong semangat Anda, maka jadikanlah menulis seolah-olah pekerjaan Anda. Anda terpicu untuk menulis karena jika tidak menulis Anda seolah-olah tidak akan memperoleh “gaji” pada hari itu. Saat kita mulai terbiasa menganggap menulis adalah pekerjaan, bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, maka kita pun akan terpacu untuk selalu lebih baik. Kita akan rela menginvestasikan segalanya untuk bisnis atau pekerjaan yang dimiliki. Kita akan mau “menginvestasikan” waktu untuk belajar teknik menulis yang lebih baik. Selanjutnya, kita akan berkomitmen untuk menyelesaikan tulisan yang sudah dimulai. 3. Berkawan dengan pemilik hobi yang sama Bergabung dalam sebuah komunitas yang memiliki hobi yang sama dapat menjaga semangat menulis dan memunculkan ide-ide baru. Interaksi dan komunikasi yang timbul biasanya menjadi sarana berbagi pengalaman serta mendorong anggota komunitas agar lebih semangat menulis. Dalam rangka menghindari hambatan-hambatan yang dialami saat menulis, DePorter memberikan kiat-kiat, yakni: 1. Pilihlah suatu topik


21 2. Gunakan timer untuk jangka waktu tertentu. 3. Mulailah menulis secara kontinu walaupun apa yang Anda tulis adalah aku tak tahu apa yang harus kutulis. 4. Saat timer berjalan, hindari: Pengumpulan gagasan, Pangaturan kalimat, Pemeriksaan tata bahasa, Pengulangan kembali, Mencoret atau menghapus sesuatu. 5. Teruskan hingga waktu habis dan itulah saatnya berhenti28 . Dari beberapa poin tersebut di atas merupakan langkah awal agar seseorang dapat menjadi terbiasa dalam menulis, kemudian selanjutnya penulis ingin menjelaskan kiat menulis tulisan Ilmiah atau tulisan formal dan tulisan dakwah secara bebas sebagai berikut: 1. Tulisan Formal Beberapa kiat sebagai saran yang diberikan agar seseorang memiliki keberanian untuk menuangkan hasil pemikiran atau gagasan yang dimiliki dalam karya ilmiah dikemukakan Sudaryanto (2009). a. Tulis! Tulis! Dan sekali lagi tulislah. Coba ingatkan pada diri ini apa yang diucapkan pada hari ini kemudian tulis. Alangkah banyaknya waktu dan tenaga yang terpaksa hilang sia-sia tanpa ada catatan. b. Atasi hambatan psikologis. Malas, ragu, tidak percaya diri menjadi hambatan psikologis yang banyak dialami ketika mengawali menuangkan ide dan gagasan. c. Lakukanlah proaktif. Mencari dan mencari masalah aktual, faktual, serta memburu informasi terkait dengan masalah yang menjadi interest menjadi awal yang baik bagi penulis agar dapat menuangkan ide dan gagasan. d. Cintailah ilmu anda karena ilmu membutuhkan pengokohan seperti menghasilkan karya tulis. Hanya kecintaan mendalam yang mampu menumbuhkan kemauan kuat untuk melakukan sesuatu seberat apa pun. e. Menulis ilmiah memerlukan proses oleh karenanya diperlukan kesabaran, ketelatenan, ketekunan, pantang menyerah 28 Rika Ariyani, Membangun Budaya Menulis untuk Mewujudkan Dosen Professional, hlm 10


22 f. Mematuhi kaidah ilmiah dan aturan tata tulis. Menulis karya ilmiah terdapat aturan yang baku29 . 2. Tulisan Nonformal di Media Sosial Beberapa kiat yang harus dipahami sebelum menulis naskah dakwah agar tulisan dapat memberikan arti dan manfaat sesuai dengan tujuan penulisnya, harus memahami beberapa kiat-kiat tertentu. Sedangkan kiat menulis tulisan dakwah dalam media sosial umpamanya menurut Aep Kusnawan, dapat dilihat sebagai berikut30: a. Menulis dengan tulus Menulis dengan tulus dapat menyebabkan lancarnya aliran kata-kata yang akan kita tulis. Dorongan ketulusan meratakan jalan bagi hadirnya gagasan yang mungkin sebelumnya tidak terduga. Tulisan di media sosial yang bagus biasanya tercermin dari konten yang berkualitas, dan itu biasanya lahir dari pernyataan yang keluar sepenuh hati. Tulisan jauh dari kesan dipaksakan. b. Tulis yang bermanfaat Penulis yang baik biasanya mengerti apa yang dibutuhkan pembacanya. Semua pengunjung media sosial tidak berharap pergi dengan tangan hampa. Sebaliknya, mereka berharap dengan mengunjungi media sosial akan mendapatkan hal baru yang bermanfaat, serta dapat menerapkannya di tengah kehidupan nyata. Dengan demikian, penulis dakwah perlu menulis sesuatu yang berguna dan bermanfaat sehingga pengunjung tidak merasa sia-sia mengunjungi media sosial. c. Mencari solusi untuk masalah orang lain Setiap orang pasti memiliki masalah, bisa masalah yang berarti kesenjangan antara harapan dan kenyataan atau sejumlah keinginan yang belum terlaksana. Maka dari itu, agar tulisan diminati, sebaiknya menghidangkan solusi atas masalah yang dihadapi calon pembaca. Untuk menyajikan solusi yang tepat, penulis dakwah 29 Hastuti, Makalah Disampaikan pada Seminar Penulisan Karya Tulis Ilmiah di FISE tanggal 6 Juni 2009 30 Aep Kusnawan, Teknik Menulis Dakwah, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016). Hlm. 215-215


23 terlebih dahulu perlu mengidentifikasi siapa yang akan “dibidik” dari tulisannya. Setelah diidentifikasi, selanjutnya cari masalah yang sedang mereka hadapi, lalu analisis akar penyebab masalah tersebut. Dari akar masalah tersebut kemudian dibuat jalan keluarnya, lalu sajikan kepada para pembaca. d. Tidak hanya menulis tentang diri sendiri Menulis di media sosial sebaiknya tidak diperuntukkan mengekspos diri. Jika hanya itu yang dilakukan, dapat diduga penulis lebih mengutamakan pamer. Biasanya orang tidak begitu menyukai pamer. Maka dari itu, penulis dakwah sebaiknya menyadari bahwa apa yang ditampilkan sebaiknya tidak hanya menulis tentang diri sendiri, tetapi menyentuh kepentingan banyak pihak. e. Menyentuh pembaca Sebaik-baiknya komunikasi adalah yang komunikatif. Komunikasi yang komunikatif ketika menulis dakwah di media sosial adalah yang menyentuh pembaca. Untuk menyentuh pembaca, tidak hanya memberikan jawaban atas komentar mereka, tetapi bisa juga dengan memberikan penghargaan berupa hadiah, misalnya e-book bagi komentar terbaik. f. Membuat headline yang memikat Headline akan menentukan ketertarikan pengunjung untuk membaca. Pembaca biasanya berkunjung dan menyisihkan waktunya untuk membaca, antara lain karena ketertarikan judul yang disajikan. Untuk membuat judul yang menarik, penulis dakwah pemula dapat mempelajari kiat menyusun judul dari para penulis media sosial terkemuka. Pelajari apa yang membuatnya menarik. g. Fokus pada hal yang penting Fokus pada yang esensial merupakan langkah efektif untuk produktif menulis di media sosial. Terlalu asyik mendesain layout atau mencari gambar yang paling pas hanya akan menguras banyak waktu. Lebih baik memperbanyak menulis konten dan berinteraksi dengan pembaca. h. Mengungkap secara jelas yang akan dibahas Tulisan di media sosial akan cenderung membosankan bila konten yang ditulis tidak jelas pokok persoalannya. Karena itu, sebelum


24 menulis, penulis dakwah harus menyiapkan terlebih dahulu apa yang akan dibahas. i. Hindari penggunaan bahasa formal Berbeda dengan tulisan ilmiah murni yang cenderung kaku dan formal, menulis di media sosial cenderung fleksibel dan menggunakan bahasa tutur. Maka dari itu, akan lebih komunikatif jika konten tersaji seperti bercakap-cakap dengan teman. Dalam kaitannya dengan fungsi edukasi yang islami, haruslah banyak menyodorkan pemberitaan yang lebih membawa muatan ajaran Islam. Mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Memikul tugas untuk mencegah umat dari berperilaku yang menyimpang dari syariat, serta melindungi umat dari perilaku menyimpang, juga melindungi umat dari pengaruh media massa non-Islam yang anti terhadap Islam. Jurnalis muslim adalah pendidik, ia menjalankan fungsi edukasi dalam Islam. Karena ia sebagai pendidik, maka tentu saja harus lebih memahami ajaran Islam sebelum mentransformasikan ilmunya kepada masyarakat. Sebagai pendidik ia menjalankan fungsi yang mulia karena mendidik adalah pekerjaan yang membutuhkan kecermatan, kecerdasan, strategi, serta kesabaran31 . 31 Andries Kango, Jurnalistik dalam Kemasan Dakwah, Jurnal Dakwah Tabligh 15 (1) 2014, hlm. 109


25 A. Jenis-Jenis Naskah Dakwah Menulis naskah dakwah pada dasarnya hampir sama dengan dakwah bil qalam. Dakwah bil qalam selayaknya membutuhkan keseriusan bagi para dai jika dibandingkan dengan dakwah bil lisan. Alasan utamanya adalah untuk masa sekarang ini manusia cenderung memanfaatkan media (media massa) dalam mencari berbagai informasi yang dibutuhkan, di samping itu media tulisan dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga bisa menjangkau objek yang banyak. Sebagaimana digambarkan William L. Rivers, peran media cetak saat ini sangatlah penting, sulit dibayangkan sebuah negara modem jika tanpa kehadiran media ini. Selama berabad-abad media ini telah menjadi satu-satunya alat pertukaran informasi di tengah kehidupan masyarakat. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kemampuan dai dalam memanfaatkan media untuk menyampaikan materi-materi dakwah32 . Kemudian mengenai jenis naskah dakwah itu amat banyak, tergantung kepada pelaku dakwah itu sendiri, seperti naskah dakwah dalam khotbah, pidato, artikel dan tulisan lainnya, namun dari beberapa jenis tersebut, di antara jenis-jenis naskah dakwah yang penulis uraikan dalam tulisan ini di antaranya: 1. Khotbah Jumat Dalam pelaksanaan Khotbah Jumat seorang khatib bisa saja menyampaikan isi khotbahnya secara spontanitas, namun seyogianya menyampaikan khotbah tersebut, seseorang tentunya harus menyesuaikan kondisi, situasi dan waktu, sehingga apa yang disampaikan dapat sesuai dengan harapan. 32 Ibid.


26 Ketika seseorang hendak menyampaikan khotbah, naskah yang diperlukan biasanya bukan naskah yang utuh, akan tetapi setidaknya hanya pada poin-poin penting untuk disampaikan, sehingga akan lebih mudah dalam penyampaian khotbah nantinya sesuai dengan konsep atau naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya. 2. Pidato Sebagaimana dimaklumi, bahwa pidato merupakan kegiatan yang perlu dibiasakan lebih-lebih dikalangan santri, sehingga akan mudah dalam berpidato, tausiah di saat sudah usia dewasa, penggemblengan dan training penceramah dalam hal ini, setiap tahun dapat disaksikan, ketika pelaksanaan kegiatan MTQ, di mana dalam kegiatannya terdapat lomba bidang Syarhil Qur’an, Syarhil Qur’an sendiri ditampilkan oleh tiga orang satu di antaranya pensyarah, satu qari, dan satunya lagi sebagai sari tilawah. Biasanya dalam pelaksanaan MTQ, tema yang akan disampaikan, sebelumnya sudah ditentukan oleh panitia, sehingga hal ini perlu pembimbing membuat naskah untuk persiapan yang akan disampaikan, sehingga dapat sesuai dengan tema yang ada. Begitu pula umpamanya dalam pidato lainnya, dalam konteks dakwah secara bahasa, untuk mengajak seseorang kepada sesuatu yang diharapkan oleh pelaku dakwah, seperti pidato politik biasanya seseorang sebelum menyampaikan pidato politiknya juga telah membuat naskah sebelumnya agar tidak rancu ketika harus tampil dalam menyampaikannya. 3. Artikel Artikel yang terdapat dalam jurnal ilmiah memiliki banyak jenis, di antaranya adalah (1) artikel hasil penelitian, (2) artikel non-penelitian, (3) tinjauan buku (books review), dan (4) obituari (obituary), (5) laporan kasus, (6) ceramah, dan (7) editorial. Biasanya jurnal-jurnal bidang kedokteran dan kesehatan relatif memuat hampir seluruh jenis artikel yang telah disebutkan di atas. Namun umumnya jurnal ilmiah yang ada, biasanya memuat dua atau empat jenis dari tujuh artikel yang ada33 . 33 Gunawan dkk., Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah, (Jakarta: Uhamka Press, 2012), hlm 5


27 Dalam menulis artikel, para dai memiliki kesempatan untuk menuliskan buah pikirannya dalam mencermati keadaan kehidupan di sekelilingnya. Gagasan yang dapat memberi solusi ragam permasalahan umat dengan pandangan rahmatan lil alamiin. Dengan demikian, gagasan para dai yang ada di media cetak dan dibaca oleh banyak umat, dapat menjadi penawar bagi banyak pihak34 . Dalam menulis artikel, para dai memiliki kesempatan untuk menuliskan buah pikirannya dalam mencermati keadaan kehidupan di sekelilingnya. Gagasan yang dapat memberi solusi ragam permasalahan umat dengan pandangan rahmatan lil alamiin. Dengan demikian, gagasan para dai yang ada di media cetak dan dibaca oleh banyak umat, dapat menjadi penawar bagi banyak pihak35 . 4. Majalah Majalah mempunyai fungsi yaitu menyebarkan informasi atau misi yang dibawa oleh penerbitnya. Majalah biasanya mempunyai ciri tertentu, ada yang khusus wanita, remaja, pendidikan, keagamaan, teknologi, kesehatan, olahraga, dan sebagainya. Sekalipun majalah mempunyai ciri tersendiri tetapi majalah masih dapat difungsikan sebagai media dakwah, yaitu dengan jalan menyelipkan misi dakwah ke dalam isinya, bagi majalah bertema umum. Jika majalah tersebut majalah keagamaan, maka dapat dimanfaatkan sebagai majalah dakwah. Jika berdakwah melalui majalah maka seorang dai dapat memanfaatkannya dengan cara menulis rubrik atau kolom yang berhubungan dengan dakwah Islam36 . B. Materi Dakwah Toha Yahya Oemar menyatakan bahwa dakwah Islam sebagai upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat. Dakwah merupakan seruan.37 34 Aep Kusnawan, Teknik Menulis Dakwah ….,hlm,148 35 Aep Kusnawan, Teknik Menulis Dakwah ….,hlm,148 36 Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah. 2009,) hlm. 124 37 Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011) hlm. 1


28 Dakwah dengan bijaksana sesungguhnya tentu memiliki banyak ragam, boleh jadi seorang dai harus bergelut dengan masyarakat yang ingin didakwahi, begitu pula dengan cara menitipkan pesan yang baik, Rasulullah dalam menyampaikan dakwah kepada beberapa pembesar Arab saat itu, sebelumnya mengirimkan surat ditandai dengan stempel Rasul sendiri, beliau mengajak melalui pesan surat untuk memeluk agama Islam, dan beliau tidak mengutus menyampaikan pesan secara lisan, langkah yang dilakukan tersebut bisa jadi untuk menjaga perasaan sang pembesar, dan atau lainnya, hal ini merupakan sikap yang bijaksana dilakukan Rasulullah. Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat di era milenial saat ini, seorang pelaku dakwah juga dituntut untuk lebih bijaksana menyampaikan dakwahnya, baik melalui video dan tulisan, karena akan banyak menimbulkan pro dan kontra bila tidak mengisinya dengan baik, pun demikian hal yang perlu digaris bawahi bahwa dai tentu saja harus siap menghadapi segala model tantangan dan rintangan, karena tidak ada perjuangan yang mulus dan harus menghadapi berbagai tantangan gelombang untuk sampai ke tepian yang menguntungkan. Banyak ragam dan model tulisan, baik tulisan ilmiah dan tulisan lainnya, dengan ragam model tulisan tersebut tentu ada perbedaan dalam menentukan teknik agar sesuai dengan harapan, seperti menulis Sejarah, tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan, begitu pula dengan tulisan lainnya, dalam menulis tulisan dakwah, diharapkan tentu tidak lari dari temanya, tulisan dakwah sendiri sesungguhnya amat banyak, agar tulisan tersebut mudah dipahami dan dikategorikan menjadi tulisan dakwah, tentu juga harus berkaitan dengan dakwah. Beberapa materi tulisan dakwah yang dapat menjadi acuan dan hal yang sangat dianjurkan adalah sebagai berikut: 1. Akidah Banyak persoalan isu pendangkalan akidah merupakan sebuah peristiwa yang harus disikapi dengan saksama oleh semua pihak, baik pemerintah, masyarakat lebih-lebih seorang pelaku dakwah, karena persoalan tersebut akan berdampak terjadinya sekularisme generasi mendatang.


29 Tulisan dakwah yang menyangkut akidah merupakan sebuah keharusan untuk disampaikan saat ini, dan hal ini merupakan upaya yang perlu terus dilakukan, agar akidah umat tetap terjaga. Dalam Islam akidah merupakan masalah asasi yang merupakan misi pokok yang diemban para Nabi, baik-tidaknya seseorang dapat ditentukan dari akidahnya, mengingat amal saleh hanyalah pancaran dari akidah yang sempurna. Karena akidah merupakan masalah asasi maka dalam kehidupan manusia perlu ditetapkan prinsip-prinsip dasar akidah islamiah agar dapat menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Prinsip akidah yang dimaksud adalah sebagai berikut38: a. Akidah didasarkan atas At-Tauhid yakni mengesankan Allah dari segala dominasi yang lain. b. Akidah harus dipelajari secara terus-menerus dan diamalkan sampai akhir hayat kemudian selanjutnya diturunkan (didakwahkan) kepada yang lain. c. Scope pembahasan akidah tentang Tuhan dibatasi dengan larangan memperbincangkan atau memperdebatkan tentang eksistensi Dzat Tuhan sebab dalam satu hal ini manusia tidak akan pernah mampu menguasai. d. Akal dipergunakan manusia untuk memperkuat akidah, bukan untuk mencari akidah. 2. Syariah Dalam buku Syamsul Munir yang dikutip Fahrurrozi dkk., menjelaskan syariah adalah keseluruhan hukum dan perundang-undangan yang terdapat dalam Islam baik hubungan antara manusia dengan Tuhan maupun antara manusia dengan manusia. Dalam Islam, syariat berhubungan erat dengan amal lahir atau nyata dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah guna mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan mengatur antara sesama manusia39 . Begitu pula yang dikutip dari Manajemen Dakwah yang ditulis M. Munir menjelaskan bahwa syariat bersifat universal, yang menjelaskan 38 A. R. Idham Khalid, AKAR-AKAR DAKWAH ISLAMIYAH: (AKIDAH, IBADAH, DAN SYARIAH) Orasi Jurnal Dakwah dan komunikasi, 8 (1) 2017, hlm 74-75 39 Fahrurrozi, Ilmu Dakwah…, hlm. 96


30 hak-hak umat Islam dan nonmuslim bahkan hak seluruh umat Islam. Dengan adanya materi syariah ini maka tatanan sistem dunia akan teratur dan sempurna. Syariah Islam mengembangkan hukum bersifat komprehensif yang meliputi segenap kehidupan manusia. Materi dakwah yang menyajikan unsur syariah harus dapat menggambarkan atau memberikan informasi yang jelas di bidang hukum dalam bentuk status hukum yang bersifat wajib, mubah (dibolehkan), dianjurkan (mandub), makruh (dianjurkan supaya tidak dikerjakan), dan haram (dilarang)40 . Manusia diciptakan Allah untuk menyembah kepadanya, hal ini dapat dilihat dalam Qur’an surat Az-zariat ayat 56 sebagai berikut: ِن ْ و ُ د ُ ب ْ ع َ ِي ا ل َّ َسِال ْ ِان ْ ال َ و َّ ِ ن ج ْ ال تُ ْ ق َ ل َ ا خ َ م َ و Artinya: “tidak kami ciptakan jin dan Manusia melainkan untuk menyembah kepada kami.” Di samping akidah yang merupakan misi utama Rasul di utus ke permukaan bumi, ibadah juga tidak boleh dikesampingkan, tidak bisa dikatakan seseorang berakidah kuat bila tidak dibarengi dengan ibadah, terkadang ada orang yang mau berkata “walaupun saya tidak salat, insyaallah iman saya masih ada” statement ini merupakan sebuah pembelaan diri yang dilakukan seseorang, namun hakikatnya tidak dapat dikatakan seseorang beriman di saat tidak melakukan ibadah. Konsep Rukun Iman yang enam telah jelas dan secara gamblang dapat dipahami, sebuah contoh, ketika seseorang mengatakan beriman kepada Allah, maka seharusnya tidak ada tempat bergantung selain kepada Allah, akan tetapi realitanya masih banyak yang lalai dengan persoalan tersebut. 3. Akhlak Nabi Muhammad saw. diutus ke permukaan bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia “Tidak ada arti seseorang berilmu di kala tidak memiliki adab dan akhlak, sebuah pepatah Arab mengatakan “Al-Adabu Fauqal Ilmi” (Adab lebih tinggi dari pada Ilmu). 40 Ibid


31 Islam sangat mementingkan akhlak karena dengannya manusia dapat melakukan sesuatu tanpa menyakiti atau menzalimi orang lain dalam setiap tindakan kita selama bergaul dengan manusia dan makhluk Allah yang lain. Ar-Rafi’i dalam karya monumentalnya, Wahyu al-Qalam, mengatakan: Seandainya aku diminta untuk menghimpun kandungan filsafat Islam, maka dua kata cukup mewakilinya, yaitu: “keteguhan akhlak”. Andaikata filsuf paling terkemuka di dunia diminta untuk rumusan terapi bagi (jiwa) manusia, pasti hanya ada pada dua kata: “keteguhan akhlak” tersebut41 . Islam mengajarkan agar manusia berbuat baik dengan ukuran yang bersumber kepada Allah. Sebagaimana telah diaktualisasi oleh Rasulullah. apa yang menjadi sifat dan digariskan baik oleh-Nya dapat dipastikan baik secara esensial oleh akal pikiran manusia. Dalam konteks ini ketentuan Allah menjadi standar penentuan kriteria baik yang rumusannya dapat dibuktikan dan dikembangkan oleh akal manusia. Dalam Al-Qur’an dikemukakan bahwa kriteria baik itu antara lain bertumpu pada sifat Allah sendiri yang terpuji (al asmaul husna), karena itu Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berperilaku baik sebagaimana perilaku Allah. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi sifat Allah pasti dinilai baik oleh manusia sehingga harus dipraktikkan dalam perilaku sehari-hari. dalam mewujudkan sifat itu manusia harus konsisten dengan esensi kebaikannya sehingga dapat diterapkan secara proporsional42 . 41 Muhammad Abdurrahman, AKHLAK: Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Baik, Depok Raja Grafindo Persada, 2016, hlm 8-9 42 Fahrurrozi, Faizah, Kadri, Ilmu Dakwah….,hlm. 97


32 A. Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Menurut Hamzah Ya’qub membagi media dakwah itu menjadi lima: Pertama, Lisan, kedua tulisan, ketiga, lukisan atau gambar, audio visual, akhlak. Sedangkan jika dilihat dari sisi penyampaiannya pesan dakwah dapat dibagi tiga, pertama, the spoken words, kedua the printed writing, ketiga, the audio visual43 . Dalam berdakwah diperlukan media agar dakwah yang disampaikan dapat efektif dan efisien, misalnya kalau anda ditanya, yang mana menarik antara berdakwah dengan menggunakan media atau berdakwah tanpa media, mubalig berdakwah tanpa menggunakan mic atau menggunakan mic, tanpa menggunakan LCD atau menggunakan LCD, jawabannya adalah lebih menarik jika seseorang berdakwah menggunakan media. Seiring Perkembangan zaman, media terus menunjukkan eksistensinya untuk menjadi fasilitas bagi para penggunanya, akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa dalam penggunaan media sering sekali dapat disaksikan banyak hal-hal yang berbau kurang baik, sehingga banyak pengaruh negatif yang terjadi bagi kalangan remaja, perlunya tindakan dari para pelaku dakwah, untuk menyelamatkan anak bangsa untuk juga dapat bersaing memanfaatkan media yang ada, seperti media sosial Facebook, Instagram, YouTube dan lainnya, walaupun tidak begitu berpengaruh kepada orang lain, setidaknya ada usaha yang dilakukan untuk penyelamatan. Orang yang telah cukup matang dalam kemampuan berpikirnya pun bisa dipengaruhi oleh media. Ia bisa berubah dalam pikiran, pemahaman, dan tindakannya karena kekuatan tulisan di media. Jika orang yang telah 43 Muhammad Qadaruddin Abdullah, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jawa Timur: CV. PENERBIT QIARA MEDIA, 2019), hlm 40


33 matang berpikir saja bisa berubah maka perubahan lebih mungkin terjadi pada anak-anak dan pemuda. Salah satu langkah yang penting untuk dilakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis merupakan modal penting untuk menghadapi era disrupsi yang sedemikian dinamis. Tulisan yang kita buat akan membawa implikasi berlipat, baik atau buruk. Justru karena itulah membuat tulisan yang baik menjadi kebutuhan yang sangat mendasar44 . Seseorang tidak diharuskan mencapai keberhasilan, walaupun keberhasilan menjadi target untuk dicapai, namun dalam hal melakukan kebaikan, bukan dari sisi output-nya saja, namun lebih penting masukan yang harus diberikan setidaknya merupakan hal yang terbaik, karena manusia hanya sifatnya sekadar usaha, sementara hasilnya ada Allah sebagai penentu. Dalam sejarah Nabi Ibrahim ketika dibakar oleh Namrud dalam kobaran api yang besar mengundang reaksi dari makhluk lainnya, seperti Semut umpamanya yang selalu berusaha membawa air setetes untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim yang membuat Burung merasa nyinyir dan berkata “Wahai Semut, tidak mungkin api yang besar dapat kaupadamkan dengan air setetes yang kamu bawa” sang Semut memberikan jawaban setidaknya saya berusaha memberikan yang terbaik, sementara Cicak dengan rasa memperolok-olokkan Semut bahkan meniup api tersebut, dari tiga makhluk tersebut setidaknya menjadi pelajaran bagi umat bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah, akan tetapi niat baik seseorang tetap menjadi catatan amal yang baik pula. Media sosial yang bersaing antara ungkapan buruk, fitnah dan tontonan yang tidak mencerminkan tuntunan harus diiringi dengan sajian yang baik, walaupun sesungguhnya terkadang tidak memberikan dampak yang begitu berarti bagi para pengguna karena karakter seseorang sulit diubah ketika seleranya sudah telanjur kepada yang buruk begitu pula sebaliknya, namun setidaknya sebuah hidangan yang diberikan dengan cara itu akan dapat memberikan jeda bagi para pengguna. Karena masih ada hal-hal yang baik dilakukan. 44 Ngainum Naim, Menulis Itu Mudah: 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya (Lamongan “ kamila Press, 2021), hlm. 23-24


34 Sebuah kisah pernah terjadi pada masa Sultan Murad II. Suatu malam, Sultan Murad II dan dua penasihatnya melakukan kebiasaannya menyusuri perkampungan untuk melihat langsung kondisi kaum muslimin. Dalam perjalanannya tiba-tiba ia melihat seorang pria yang membawa minuman khamar terpeleset dan ketika itu pula wafat, namun masyarakat melihatnya tidak peduli, bahkan sempat beberapa kali seruan sang sultan diabaikan masyarakat yang sedang lewat, dan bahkan ada yang mencibir sang mayit tersebut. Tiba-tiba ada seseorang memberi tahu kepada Sultan, “Orang ini, setiap hari kerjaannya membeli minuman haram dan ke tempat pelacuran, sehingga karena itulah orang-orang tidak mau mengurusnya,” kata dia. Kemudian, datanglah beberapa orang mendekati Sultan dan para penasihatnya. Mereka berinisiatif mengantarkan ketiganya ke rumah almarhum dan membawa jasad mayit tersebut, sehingga dapat mengurus jasadnya. Sultan pun mengetuk pintu. Dari dalam rumah, muncul seorang perempuan yang tidak lain istri almarhum. “Wahai perempuan, saya mengabarkan bahwa kami menemukan pria ini meninggal dunia saat sedang berjalan,” kata Sultan. Begitu mengetahui keadaan suaminya, perempuan itu menangis. Dia sangat sedih melihat suaminya yang kini tidak lagi bernyawa. Setelah agak tenang, perempuan itu kemudian ditanya. “Apakah boleh kami bertanya kepadamu?” kata Sultan. Sang wanita pun mengizinkannya. “Kami mendapati orang-orang enggan mendekati suamimu. Sebab, mereka mengatakan, almarhum ini seorang yang gemar membeli minuman keras dan mengunjungi tempat pelacuran. Apakah benar suaminya demikian?” sambung Sultan lagi. “Sungguh, suamiku termasuk orang-orang yang saleh. Mereka yang mengatakan itu hanya tidak mengetahui,” jawab si perempuan. “Mengapa demikian?” tanya Sultan lagi. “Tiap malam, suamiku selalu pergi ke tempat penjualan minuman keras. Suamiku membeli minuman haram itu dan membawanya ke rumah, tetapi bukan untuk diminum. Dia lantas membuang seluruh


35 isi botol ke lantai kamar mandi. Sesudah itu, dia selalu berkata, ‘Alhamdulillah, malam ini ada anak-anak muda muslimin yang tidak jadi minum minuman keras. Aku sudah membelinya (minuman keras), sehingga tidak bisa sampai ke mereka,’” tutur perempuan itu. “Selain ke kedai minuman, suamiku juga selalu tiap malam ke tempat pelacuran. Namun, dia tidak mendatangi si pelacur. Kepada penjaga rumah pelacuran, dia berkata, ‘Wahai fulan, ada berapa perempuan yang tersedia?’ Ketika si pemilik prostitusi itu menyebutkan jumlah mereka, maka suamiku membayar sejumlah banyak uang senilai biaya sewa para pelacur itu. Kemudian, dia pulang ke rumah dan berkata kepadaku, ‘Alhamdulillah, malam ini ada para pemuda muslimin yang tidak jadi berzina, lantaran kebutuhan ekonomi para pelacur itu malam ini terpenuhi,’” cerita si perempuan. Bahkan, lanjut dia, “suami saya selama hidupnya selalu membagi tiga penghasilan sehari-hari. Satu bagian untuk keperluan diri dan keluarganya. Satu bagian untuk membeli khamar tadi. Satu bagian sisanya untuk membiayai kebutuhan para pelacur tiap malam. Aku pernah mengeluh kepadanya, ‘Wahai suamiku, jika terusmenerus engkau lakukan ini, orang-orang akan mengecapmu sebagai fasik. Kelak ketika engkau meninggal, tidak ada yang mau mengunjungimu.’ Tapi jawabnya, ‘Tidak, demi Allah, aku berdoa semoga Allah membuat jasadku diurus Sultan Turki dan para penasihatnya serta seluruh alim ulama kesultanan,’” papar wanita tersebut. Mendengar itu, Sultan Murad II menitikkan air mata. “Sungguh mulia suamimu. Ketahuilah, aku ini Sultan. Dan dua orang di sisiku ini adalah para penasihatku,” ungkap penguasa Turki Ustmaniyah itu. “Demi Allah, aku akan imbau para penasihatku dan seluruh ulama Turki untuk datang mensalati jasad almarhum,” sambung dia. Perempuan itu pun terkejut, tetapi sejurus kemudian mengucapkan alhamdulillah karena terharu. Dari kisah tersebut dapat dipetik hikmah ternyata berbagai cara dan upaya yang dapat dilakukan seseorang untuk kebaikan, ketika ia tidak mampu mengubah seseorang dengan melarang, menasihati, ia hanya berbuat dan mencari cara agar pelaku maksiat dapat berhenti dengan caranya sendiri, begitu pula dengan menggunakan media sosial, ketika banyak pengguna melihat, membaca isi konten yang kurang baik,


36 setidaknya ada selingan dengan konten dan pesan yang bernilai dakwah disajikan. Metode karya tulis merupakan buah dari keterampilan tangan dalam menyampaikan pesan dakwah. Keterampilan tangan tidak hanya melahirkan tulisan, tapi juga gambar atau lukisan yang mengandung misi dakwah45 . Media sosial sendiri juga telah banyak memberikan perubahan bagi bangsa, baik perubahan ke arah positif begitu pula ke arah negatif, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial dapat memberikan informasi yang begitu cepat kepada seluruh pengguna sehingga tergantung motivasi pengguna dalam memanfaatkannya. Perubahan ke arah positif media sosial yang mungkin sering dapat disaksikan adanya kegiatan dakwah, baik melalui Live Streaming, begitu pula melalui YouTube, tidak terkecuali bahwa perkembangan media sosial juga banyak yang menggunakannya ke arah yang positif seperti kegiatan keagamaan lainnya, kegiatan kemanusiaan, kegiatan amal, edukasi dan lainnya. B. Di antara Ciri Tulisan Baik Sebuah tulisan akan dinilai baik bila memenuhi ketentuan penulisan, dalam penulisan karya ilmiah umpamanya, tentu memiliki konsep tersendiri, seperti penulisan makalah, skripsi, tesis dan disertasi biasanya setiap Perguruan Tinggi mempunyai panduan masing-masing, sekalipun pada hakikatnya hanya ketentuan teknis yang berbeda, sedangkan dalam hal ciri dan metode penelitiannya tidak jauh berbeda, dalam tulisan ini penulis hanya menjelaskan bagaimana ciri tulisan dakwah yang baik yang terlepas dari metode penelitian karya ilmiah sebagai berikut: 1. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis mempergunakan nada yang serasi. 2. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis menyusun bahan-bahan yang tersedia menjadi keseluruhan yang utuh. 3. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis dengan jelas dan tidak samar-samar. Penulis harus 45 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm 374


37 memanfaatkan struktur kalimat, bahasa, dan contoh-contoh sehingga maknanya sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis. Dengan demikian, para pembaca tidak usah payah-payah memahami makna yang tersurat dan tersirat. 4. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis secara meyakinkan. Meyakinkan berarti menarik minat para pembaca terhadap pokok pembicaraan serta mendemonstrasikan suatu pengertian yang masuk akal, cermat, dan teliti. Dalam hal ini, haruslah dihindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu. Setiap kata haruslah menunjang pengertian yang serasi, sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis. 5. Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan penulis untuk mengkritik naskah tulisannya yang pertama serta memperbaikinya. Mampu merevisi naskah pertama merupakan kunci bagi penulisan yang tepat guna atau penulisan efektif. 6. Tulisan yang baik mencerminkan kebanggaan penulis dalam naskah, kesudian mempergunakan ejan dan tanda baca secara saksama, memeriksa makna kata dan hubungan ketatabahasaan dalam kalimat-kalimat sebelum menyajikannya kepada para pembaca. Penulis yang baik menyadari benar-benar bahwa hal-hal seperti itu dapat memberi akibat yang kurang baik terhadap karyanya46 . Semua orang yang berbakat menulis, tentu ingin menjadi seorang penulis yang baik. Menurut Susetyo (2009: 95) agar menjadi penulis yang baik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut47: 1. Menguasai pengetahuan tentang ilmu yang akan ditulis. 2. Menguasai tata cara/teknik menulis. 3. Terampil mengarang. 4. Memiliki kosakata yang memadai. 5. Menguasai tata bahasa. 6. Menguasai penulisan ejaan dan tanda baca. 7. Terampil menulis kalimat efektif. 46 Tarigan, Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008), hlm. 6-7 47 Musrini, Upaya Menumbuhkan Keterampilan Menulis bagi Anak dan Penulis Pemula, Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa Unib2015, Hlm. 246


38 8. Terampil menyusun bahasa tulisan. 9. Menguasai makna, bentuk dan golongan kata. 10. Mengenal calon pembaca. Kemudian agar tulisan tersebut juga mudah dan lebih disukai oleh pembaca, tentu ada hal yang perlu diperhatikan, sebelum melakukan penulisan naskah dakwah, di antara hal-hal perlu diperhatikan, agar lebih disukai oleh pembaca dan lebih menyentuh dikalangan masyarakat sebagai berikut: 1. Aktual Sebuah tulisan akan banyak disukai bila berkaitan dengan hal-hal yang baru, sehingga tulisan yang aktual sangat dapat menarik perhatian pembaca, sebuah contoh, ketika terjadi sebuah fenomena di sebuah daerah, kemudian ada tulisan di media cetak, koran, dll., akan banyak orang yang berminat untuk membacanya. Untuk itu, tulisan yang aktual perlu diperhatikan seorang penulis dakwah sehingga dapat meningkatkan semangat orang lain dalam membacanya. 2. Memperhatikan Kondisi Sasaran Kemudian jika dikaitkan dengan era kekinian, maka para dai harus memahami perubahan transisional dan transaksional pada kekuatan magis dan ritual ke arah ketergantungan pada sain dan kepercayaan serta transisi dari suatu masyarakat yang tertutup, sakral, kolot, ke arah keterbukaan, plural dan berkemajuan. Jadi, suatu strategi tidak bersifat universal, ia sangat tergantung pada realitas hidup yang dihadapi. Karena itu, strategi harus bersifat terbuka terhadap segala kemungkinan perubahan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah48 . 3. Memberikan Pemahaman tentang Keagamaan Di samping tulisan yang dibuat menyangkut dengan hal yang aktual dan relevan dengan kondisi masyarakat, perlu juga dikaitkan dengan kajian keagamaan, sehingga akan dapat lebih bermanfaat bagi pembaca. 48 Rahmat Ramdhani, Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Agama, Syi’ar 18 (2) 2018, hlm. 16


39 4. Tidak Serta-merta Memvonis Orang Lain Salah Dalam membuat tulisan dakwah, dai dianjurkan untuk menjadi figur dan panutan, sikap yang ditunjukkan di lapangan dan dalam tulisan menjadi sebuah penilaian bagi orang lain, untuk itu dalam menulis sebuah naskah dakwah, penulis hendaknya tidak serta-merta menyalahkan orang lain. Sekalipun tulisan yang dibuat dengan tujuan meluruskan tulisan orang lain sebelumnya. Apalagi persoalan yang menyangkut dengan furu’iah, namun dalam meluruskan tersebut penulis perlu memberikan tulisan yang dapat memberikan pandangan kepada orang lain dalam membacanya, sehingga diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan menambah pemahaman para pembaca. 5. Memberikan Solusi dalam Tulisan Sebagai suatu sistem usaha untuk mewujudkan nilai-nilai Islam, dakwah merupakan suatu kebulatan dari sejumlah unsur, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan berinteraksi dalam rangka mencapai tujuan, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, material dan spiritual yang diridai Allah Swt. Sistem dakwah memiliki fungsi mengubah lingkungan secara terperinci, yaitu meletakkan dasar filsafat eksistensi masyarakat Islam, menanamkan nilai-nilai keadilan, persamaan, persatuan, perdamaian, kebenaran, kebaikan sebagai inti penggerak perkembangan dari sistem kehidupan yang zalim menuju sistem kehidupan yang adil (demokratis), memberi kritik sosial atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat dalam rangka mengemban nahi-munkar, memberikan alternatif konsepsi atas kemacetan sistem dalam rangka melaksanakan amar makruf, memberikan dasar orientasi keislaman kegiatan ilmiah dan teknologi, merealisir sistem budaya yang berakar pada dimensi spiritual yang merupakan ekspresi akidah (teologis), meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menegakkan hukum, mengintegrasikan kelompok-kelompok kecil menjadi kesatuan umat merealisir keadilan dalam bidang ekonomi dengan membela kelas masyarakat


40 yang ekonominya lemah, dan memberi kerangka dasar keselarasan hubungan manusia dengan alam lingkungannya49 . Beberapa ciri tulisan tersebut di atas, lebih utamanya adalah untuk tulisan dakwah, beda halnya dengan tulisan Ilmiah, dan bila melihat ciri tulisan ilmiah yang baik tergantung dari jenis tulisan yang disajikan, namun secara umum bahwa tulisan ilmiah yang baik menurut Abdul Munif yang disampaikan pada acara pelatihan karya ilmiah untuk mahasiswa S-2 PGMI FITK tanggal 6 September 2016 menyebutkan bahwa ciri karya ilmiah yang baik antara lain: 1. Mendalam/Tuntas. Artinya, topik pembahasan yang diangkat dalam karya ilmiah dikupas secara mendalam, mendetail sampai ke akarakarnya. Agar sebuah topik dapat dibahas dengan tuntas, maka seorang penulis hendaknya tidak mengangkat topik yang terlalu luas. Contoh “Pemberantasan Korupsi di Indonesia” 2. Objektif. Segala keterangan yang dikemukakan dalam tulisan itu adalah benar dan apa adanya sesuai dengan data dan fakta yang diperoleh. Keobjektifan karya ilmiah dapat dicapai dengan tersedianya data literatur dan data lapangan yang memadai (datanya harus representatif), dan jangan sekali-kali seorang penulis memanipulasi data. 3. Sistematis. Artinya, uraian disusun menurut pola tertentu sehingga jelas urutan dan kaitan antara unsur-unsur tulisan (berkesinambungan, berurutan, berkaitan). 4. Cermat. Seorang penulis harus berupaya menghindari kesalahan/kekeliruan baik dalam pengutipan, penyajian data, dan penulisan huruf. 5. Lugas. Artinya pembicaraan langsung pada persoalan yang dikaji tanpa basa-basi. 6. Tidak emosional, artinya tanpa melibatkan perasaan. 7. Logis, maksudnya segala keterangan yang disajikan memiliki dasar dan alasan yang masuk akal. 8. Bernas, artinya meskipun uraian itu singkat, isinya padat. 49 Nawawi, Strategi Dakwah Studi Pemecahan Masalah, Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 2 (2) 2008, hlm. 268


41 9. Jelas, keterangan yang dikemukakan dapat mengungkap makna secara jernih sehingga mudah dipahami pembaca. 10. Terbuka, tidak menutup kemungkinan adanya pendapat baru yang tidak sesuai dengan apa yang ditulis dalam karya ilmiah tersebut. 11. Menggunakan bahasa baku, tepat, ringkas, dan jelas Dari beberapa ciri tulisan dalam penulisan karya ilmiah tersebut di atas tentunya dijelaskan secara umum, namun bukan menjadi referensi seutuhnya, karena dalam penulisan karya ilmiah biasanya terdapat panduan yang khusus, akan tetapi setidaknya beberapa poin yang telah disebutkan, merupakan bagian terpenting untuk dapat dipahami. C. Berdakwah Lewat Tulisan Dakwah bukan hanya melalui mimbar, dakwah pula bukan hanya harus dengan cara memberikan contoh, namun seyogianya dakwah dengan mimbar dan dakwah bil hal merupakan sebuah aktivitas yang harus tetap dipertahankan, karena kemudahan dan keberhasilan dakwah lebih cepat dipahami bila sesuai dengan yang diaplikasikan dalam kehidupan seharihari. Ketika perintah dakwah banyak ditemukan dalam Al-Qur’an begitu pula hadis Rasul untuk memerintahkan manusia untuk mengajak kepada kebaikan, maka perlu kesiapan dan kepedulian untuk perkembangan dakwah itu sendiri, namun tidak dapat dipungkiri, keahlian dalam menyampaikan dakwah di mimbar merupakan sebuah nilai-nilai seni yang terdapat dalam pribadi seseorang, untuk itu bukan semata-mata melalui lisan harus dilakukan. Rasulullah saw. dalam berdakwah banyak melalui tulisan, setidaknya ada beberapa kerajaan yang diajak oleh Rasulullah memeluk agama Islam melalui tulisannya, di antaranya surat yang dikirimkan Rasulullah kepada Raja Herkules Kaisar Romawi., Penguasa Ethiopia Raja Najasy, Pemimpin Bahrain Al Mundzir bin Sawa dan Penguasa Mesir AlMuqawqis. Nabi sulaiman juga dalam memberikan teguran nasihat kepada Ratu Balqis mengirimkan sebuah tulisan, hal ini tertuang dalam surat An Naml ayat 29 yang berbunyi:


42 ِ الرَّ ه اّٰلل ِ م ِس ْ ب ٗ ه َّ ِان َ و َ ن ٰ م ْ ي َ ل سُ ْ ِمن ٗ ه َّ ِان م ْ ي ِ ر َ بك ٰ َّي ِكت َ ِال ِ يَ ق ْ ل ُ ْيْٓ ا ِ اِان ُ ؤ َ ل َ م ْ ا ال َ ه ُّ ي َ ا ٰٓ ي ت ْ َ ال َ ق ا َّ ل َ ا ا ِ م ْ ِحي الرَّ ِ ن ٰ ن ْ مْح َ ن ْ ِِمي ل س ْ ُ ْي م ِ ن ْ و ُ ت ْ أ َ َّي و َ ل َ ا ع ْ و ُ ل ْ ع َ ت ࣖۗ Artinya: “Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Dapat juga dipahami, bahwa dakwah melalui tulisan banyak memiliki keistimewaan di antaranya seseorang dapat lebih leluasa dalam memberikan nasihat kepada orang yang ditujunya, begitu pula bahwa dakwah melalui tulisan dapat bersifat umum, sehingga lebih mudah dijangkau orang banyak, di samping itu dakwah melalui tulisan akan lebih cepat tersampaikan kepada khalayak dan dapat lebih abadi. Perkembangan dunia teknologi yang terus semakin pesat memberikan kesempatan dan sarana bagi para pelaku dakwah, ketika umat saat ini banyak dan lebih suka di depan gadget seharian menunjukkan bahwa bangsa indonesia mempunyai minat baca yang tinggi, walaupun daya yang rendah, tentu menjadi peluang besar bagi pelaksanaan dakwah untuk menyampaikan misinya melalui tulisan. Apalagi kemajuan teknologi internet yang saat ini jumlah penggunanya mencapai miliaran orang, dan internet ini pula merupakan media yang banyak membantu seseorang atau lembaga dalam menyampaikan iklan dan lain-lain begitu pula dalam mengampanyekan kepentingannya. Dalam internet sendiri ada beberapa metode dakwah yang dapat dilakukan. Menurut Bambang S. Ma’arif (2010: 173) setidaknya ada tiga metode dakwah yang dapat dilakukan melalui internet50: 1. Menggunakan fasilitas website. Berdakwah dengan menggunakan fasilitas ini telah dilakukan oleh banyak organisasi Islam dan tokohtokoh ulama dan dianggap lebih fleksibel dan luas. Contohnya, 50 Ahmad Zaini, Dakwah Melalui Internet, At-Tabsyir, Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 1(1) 2013, hlm. 104


43 moslemworld.co.id, ukhuwah.or.id, indohalal.com, myquran.com, muhammadiyah.or.id, nu.or.id, dan sebagainya. 2. Menggunakan fasilitas mailing list dengan mengajak diskusi keagamaan atau mengirim pesan-pesan moral kepada seluruh anggotanya. Contohnya, [email protected], [email protected], [email protected], dan sebagainya. 3. Menggunakan fasilitas chatting yang memungkinkan untuk berinteraksi secara langsung. Jika dibandingkan dengan dua fasilitas yang telah disebutkan sebelumnya, sebenarnya fasilitas chatting lingkupnya lebih sempit sebab kegiatan dakwah melalui fasilitas ini hanya berlangsung pada saat pelaku dakwah sedang online di internet saja. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada pengguna dalam memanfaatkan internet dalam hal menyampaikan, aspirasi, ekspresi, ide dan hal lainnya. Sehingga pengguna bebas dan mudah untuk mengakses apa yang diinginkan, sehingga dalam waktu yang bersamaan para pengguna dapat mengakses baik informasi berbentuk tulisan, foto, video dan lainnya sangat mudah untuk didapatkan. Perkembangan teknologi tersebut hampir secara umum mengubah pola hidup masyarakat indonesia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan keagamaan, perubahan tersebut tergantung kepada yang menggunakannya, bisa jadi perubahan lebih baik, sebagai contoh bahwa lembaga pendidikan, para pecinta ilmu lebih mudah dan cepat mendapatkan referensi yang relevan dengan yang dibutuhkan, namun pada sisi lain banyak remaja bangsa saat ini terpengaruh dan terpedaya dengan kemajuan internet tersebut sehingga mengantarkan kepada kelalaian. Untuk itu, maka tulisan dakwah perlu lebih digalakkan agar dapat mengimbangi tulisan lainnya. D. Menulis Adalah Ibadah Kepedulian tokoh Islam sebelumnya dalam menulis berbagai keilmuan memberi arti yang sangat besar terhadap peradaban umat, motivasi menulis para ulama bukan untuk menyombongkan diri, bukan


44 pula untuk meraih kemewahan, tetapi mereka berupaya memberikan manfaat kepada orang lain, agar dapat menjadi manusia yang baik. Dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari bahwa rasul pernah bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain”. dan mungkin salah satu kalimat itu merupakan sebuah motivasi yang luar biasa bagi para cendekiawan muslim terdahulu. Di samping itu tulisan juga merupakan sebuah karya yang dapat abadi dan diabadikan, dengan tulisan pula orang banyak mengenal kepedulian seseorang pada masanya, para ulama di Indonesia terdahulu banyak menulis kitab-kitab klasik yang juga merupakan panduan para santri di zaman sekarang ini, maka dengan tulisan itu pulalah mereka dapat memahami Islam lebih luas. Tulisan yang baik dan bermanfaat akan terus diburu oleh orang yang cinta dengan ilmu pengetahuan, betapa banyak buku-buku karya para ilmuwan terus utuh dan abadi dari masa kemasa, karena karyanya sangat berharga dan bermanfaat bagi orang lain, dengan demikian menulis ilmu yang baik tentu mendatangkan pahala bagi para penulisnya. Dalam Situs Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia, Erlan Naofal dalam tulisannya yang berjudul Menulis Adalah Ibadah ia mengutip beberapa pernyataan sang ulama penulis, di antaranya pernyataan Imam al-Ghzali menyebutkan: “Setetes tinta ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada ribuan darah syuhada’ yang meninggal di medan perang”. Dalam kesempatan lainnya, Al-Ghazali mengatakan: “Kalau Engkau bukan anak raja, dan engkau bukan anak ulama’ besar, maka jadilah penulis.” Sedangkan Qatadah mengatakan: “Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah...” As-Syahid Sayyid Qutb sang penulis kitab Tafsir Fi Dzilal alQur’an menegaskan: “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala,” Oleh karena itu, para ulama menjadikan menulis sebagai sebuah tradisi yang istimewa dan mulia. Dengan tradisi ini, ilmu-ilmu Islam bisa lestari dan terjaga sehingga bisa diwariskan pada generasi setelahnya. Ratusan bahkan ribuan ulama yang telah meninggal dunia puluhan, ratusan


Click to View FlipBook Version