The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BULETIN EDISI 21
Agustus - Desember 2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Setyawan Sutanto, S.Si, 2022-01-25 01:54:15

BeF@maus EDISI 21

BULETIN EDISI 21
Agustus - Desember 2021

ATUR TEMPAT UNTUK BELAJAR

1

Mood belajarmu dipengaruhi oleh tempat kamu
belajar. Cari posisi di rumah yang nyaman dan
hindari belajar di tempat yang membuatmu merasa
mengantuk, seperti dekat dengan kasur. Tetapi
semua kembali lagi pada diri kamu sendiri seperti
apa tempat yang nyaman untuk belajar.

BUAT RENCANA BELAJAR

2 Rencanakan apa yang akan kamu pelajari pada hari
itu. Buat daftar apa saja yang ingin kamu pelajari
agar kamu dapat fokus belajar dan mengikuti
kegiatan pembelajaran. Catat selalu jikalau ada
deadline tugas agar teratur.

HINDARI HAL YANG DAPAT
3 MENDISTRAKSI BELAJARMU

Selama di rumah aja, kecenderungan untuk terus
membuka media sosial dan bermain games sangat
besar. Tetap fokus dalam proses pembelajaran
dan hindari melakukan hal yang tidak
berhubungan dengan proses pembelajaran.

PERHATIKAN JADWAL Itulah lima tips agar kamu tetap
4 SEKOLAHMU efektif mengikuti pembelajaran
selama di rumah, Semoga tips dan trik
Pasang timer agar kamu tidak telat mengikuti ini dapat bermanfaat bagi kita.Pasti
kegiatan KBM secara daring. Lihatlah jadwal kita semua berharap pandemi ini
dan perencanaan belajar yang sudah kamu buat, segera berakhir dan kita dapat
sehingga kamu dapat belajar secara fokus dan sekolah secara offline dan bertemu
teratur sesuai jadwal. dengan teman- teman. Tentunya
tetap patuhi aturan pemerintah,
LUANGKAN WAKTU tetap jaga kesehatan dan fokus pada
5 UNTUK BERSANTAI belajar, ya!

Beri jeda waktu agar kamu dapat refreshing,
duduk di depan laptop secara terus menerus
bukanlah hal yang mudah. Lakukan kegiatan
yang dapat menjaga mood-mu agar tetap
stabil seperti mendengarkan musik, olahraga
dan lain sebagainya.

HAL . 49

KEGIATAN TAHUNAN

Week
End

SAMUEL CHRISTIAN.N
X MIA 1

Kegaiatan Rutin Tahunan untuk kelas X
di SMA FRANSISKUS Bandarlampung

Di kelas sepuluh ini, Fransiskus mengadakan Setelah makan siang, kami mengumpulkan tugas
salah satu event menarik yaitu WeekEnd. dan memasuki sesi berikutnya sekaligus
Acara ini diadakan untuk seluruh kelas sesi terakhir dari WeekEnd ini. Sesi kedua diawali
sepuluh. Dibagi menjadi dua hari yaitu hari dengan games menarik yang kemudian
pertama dilanjutkan dengan pembacaan tugas dari para
untuk jurusan IPA dan hari kedua untuk murid. Setelah itu dilanjutkan dengan materi
jurusan IPS. Di acara WeekEnd terdapat banyak tentang persahabatan dan kekeluargaan. Dan di
sekali kegiatan menarik. akhir sesi kedua kita diajak bermain games
Acara WeekEnd ini terdapat beberapa sesi. Sesi kembali yang bertema persahabatan.
pertama pada pagi hari yang diawali
dengan doa pagi dan dilanjutkan dengan Tetapi sebelum itu, sesi akhir ini membahas
games menarik. Setelah itu, dilanjutkan tentang jendela hati. Materi ini berisi cara kita
dengan membuka hati terhadap sesama. Baru setelah itu,
penerangan materi terhadap murid. Setelah itu sesi akhir ini membahas tentang
kami masuk ke sesi pertama. persahabatan yang kuat. Setelah persahabatan,
Sesi pertama dimulai dengan tema "Narkoba". sesi akhir ini membahas tentang
Awal-awal kami diberitahu tentang pengertian kekeluargaan yang harmonis.
narkoba dan jenis-jenisnya. Setelah itu, kami
diberitahu bahayanya dan contoh-contohnya.
Dan akhirnya kami diberitahu tentang efeknya
jika mengkonsumsinya terlalu banyak.
Setelah itu pada siang hari kita istirahat makan
siang dan diberi tugas oleh Suster.

HAL . 50

Setelah mengikuti WeekEnd ini
saya merasa perlu
mengembangkan kembali sifat
kekeluargaan saya. Dan juga
saya merasa harus bersikap
lebih baik terhadap keluarga
dan
teman. Dan dalam acara
WeekEnd masih banyak lagi
yang saya dapatkan dan tidak
bisa
saya jelaskan dengan kata-kata.
Saya ucapkan terimakasih
kepada teman dan keluarga
serta guru-guru saya karena
telah membimbing saya
sampai sejauh ini.

HAL . 51

5 Kiat menjadi Pribadi 1. MELAKUKAN KEGIATAN BARU
Produktif di Masa
Pandemi Saat pandemi ini banyak orang yang hanya berdiam
diri saja tanpa melakukan suatu kegiatan di dalam
Menjadi produktif adalah salah satu hal yang sangat rumah. Kemauan adalah kuncinya, jika memang ingin
positif untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. produktif kita dapat dengan mudah mulai mencari
Setiap orang pun pasti ingin memiliki kehidupan yang kegiatan baru. Seperti bercocok tanam, memelihara
produktif ataupun teratur. Bahkan kini sudah banyak binatang dll.
kegiatan yang bisa dilakukan agar tetap produktif.
Namun pada kenyataannya saat pandemi covid-19 ini 2. MEMBUAT AGENDA KEGIATAN
justru membuat banyak orang menjadi malas. Saat sudah menentukan kegiatan apa saja yang akan
Kondisi ini tentunyamengakibatkan kekhawatiran dilakukan di hari itu, disarankan sebaiknya buatlah to
karena berdampak juga pada kebiasaan anak muda do list agar waktu yang digunakan bisa dengan efektif
zaman sekarang. Pandemi membuat mereka hanya terpakai sehingga produktivitas dapat tercapai.
bisa berdiam diri di dalam rumah saja sehingga
waktunya terbuang untuk hal yang tidak berguna. 3. MEMANFAATKAN SESUATU DENGAN BAIK
Berdasarkan analisa dan wawancara kepada teman-
teman saya, banyak dari mereka yang mengatakan Yang dimaksudkan disini tidak hanya memanfaatkan waktu saja,
bahwa selama pandemi ini mereka tidak bisa tetapi juga bisa memanfaatkan teknologi. Di masa pandemi ini
produktif. Mereka hanya menghabiskan waktu teknologi juga semakin modern, banyak platform sosial media yang
seharinya dengan bermain handphone atau sosial beredar. Seperti Instagram, Facebook dan yang paling terkenal
media. adalah Youtube. Isi dari berbagai platform tersebut juga beragam,
Padahal seharusnya di pandemi seperti ini produktif banyak hal bisa didapatkan dari itu. Maka kita bisa memanfaatkan
akan jauh lebih penting dan bermanfaat. Sudah dapat dengan baik, seperti mencari refrensi kegiatan positif, menonton
dipastikan bahwa semangat mereka mulai menghilang cuplikan video yang berbobot dan mengedukasi diri sendiri.
oleh beragam faktor. Salah satu nya karena lelah
berdiam diri di rumah. Walaupun demikian, tentunya 4. MELAKUKAN KEGIATAN YANG
masih ada beberapa cara agar bisa kembali MENYENANGKAN DIRI
melakukan produktifitas meskipun terhalang pandemi.
Setelah melakukan dan menyelesaikan kegiatan yang berat.
Selanjutnya kita bisa melakukan refreshing agar badan dan
mood kita dapat kembali. Sehingga rasa malas dan lelah bisa
terhindarkan

5. MENEKUNI HOBI

Dan cara yang terakhir ini juga bisa digunakan. Jika sebelum
pandemi ada, kita memiliki sebuah hobi. Akan ada baiknya jika
tetap meneruskan hobi itu meski terhalang pandemi. Karena
agar apa yang sudah ditekuni sebelumnya bisa tetap berjalan
dan juga pastinya akan menguntungkan.

Demikianlah beberapa cara/kiat agar tetap produktif meski di
masa pandemi yang berkepanjangan ini. Semoga beberapa
cara ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

SCOLASTIKA CHEGA S, X ISOS 1

HAL . 52

Fransiskus, Juara Pertama
pada LCT MIPA FKIP Unila

KISAHKU : SAVERO LUKIANTO CHANDRA XI MIA 2

Halo Sobat Bef@maus! Bagaimana LCT MIPA merupakan kompetisi tahunan
kabarnya? Perkenalkan kami dari tim LCT, yang diselenggarakan oleh FKIP Unila di
yang mewakili SMA Fransiskus dalam event mana salah satu tujuannya adalah untuk
LCT MIPA yang diselenggarakan oleh FKIP mencari siswa-siswi di seluruh Provinsi
Universitas Lampung, yang beranggotakan: Lampung, yang berkompeten dalam bidang
Bunga Audri, Kent Wijaya, dan Savero sains, di mana beberapa tim yang menjadi
Lukianto. Melalui tulisan ini, kami ingin juara akan diberikan beasiswa untuk
menceritakan berbagai pengalaman dan berkuliah di FKIP Unila. Lomba ini terdiri
keseruan yang telah kami jalani selama atas tiga babak, yakni penyisihan,
mengikuti LCT MIPA FKIP Unila tahun 2021. semifinal, dan final.

HAL . 53

06 | DOLAN

Para peserta yang akan mendaftarkan diri Pertama-tama kami melakukan pendaftaran
dalam lomba ini harus membentuk tim dengan mengisikan data kami melalui
beranggotakan tiga orang yang berasal dari Google Form. Setelah berhasil mendaftar,
sekolah yang sama. Pada tahun ini, lomba kami pun melakukan persiapan agar dapat
ini diselenggarakan secara hybrid, di mana memberikan performa yang baik selama
babak penyisihan dilaksanakan secara perlombaan. Untungnya, guru-guru
daring di sekolah masing-masing peserta, pembimbing yang tak lain adalah Bu Maya
sedangkan babak semifinal dan final dan Bu Irin turut membantu kami dengan
dilaksanakan secara tatap muka (on-site) di mengirimkan soal-soal Latihan melalui
FKIP Unila. grup Whatsapp yang sudah dibentuk
Tahun ini, LCT MIPA diikuti oleh 87 tim dan sebelumnya sehingga kami bisa lebih
lebih dari 50 sekolah yang terdapat di mengenal karakteristik soal-soal yang biasa
Provinsi Lampung, tak terkecuali SMA diujikan dalam LCT. Selain itu, kami juga
Fransiskus Bandar Lampung. SMA sesekali berlatih dengan melakukan
Fransiskus mengirimkan dua tim pada simulasi menggunakan platform Quizizz.
lomba kali ini. Tim pertama terdiri atas tiga Teknisnya ialah dengan cara melakukan
orang siswa kelas 12, antara lain: Shandez rapat virtual dengan guru dan seluruh
Darlene, Hartanto Luwis, dan Stephen anggota kedua tim melalui Microsoft
William. Sedangkan tim kedua adalah tim Teams dan berdiskusi dengan anggota
kami yang terdiri atas tiga orang siswa dalam satu tim melalui Voice Call
kelas 11, yaitu: Bunga Audri Stevani Silalahi, Whatsapp. Metode latihan ini menurut
Kent Wijaya, dan Savero Lukianto Chandra. kami cukup ampuh dan efektif sebagai
Guru pendamping dari sekolah untuk pemanasan untuk menghadapi LCT yang
perlombaan kali ini adalah Bu Maya. Jujur, sesungguhnya karena latihan ini turut
Bu Maya sempat berkata bahwa cukup sulit mempererat chemistry kami sebagai tim
untuk memilih komposisi anggota-anggota dan juga melatih kecepatan dan
kedua tim. Namun, setelah beberapa hari ketenangan dalam mengerjakan soal-soal.
berpikir dan berdiskusi dengan guru bidang
studi lain, akhirnya berhasil terbentuk dua
tim yang akan membawa nama baik sekolah
dalam perlombaan ini.

HAL . 54

05 | DOLAN

Akhirnya, tibalah hari yang dinanti-nanti.
Pada tanggal 17 September, babak
penyisihan LCT pun dimulai. Mengingat
babak ini diselenggarakan secara daring,
kami sudah berkumpul di sekolah sejak jam
7 pagi. Meskipun diselenggarakan secara
daring, pihak FKIP Unila tetap berusaha
untuk menjamin sportifitas dan kejujuran
dari seluruh peserta LCT sehingga mereka
mengeluarkan aturan bahwa setiap tim
harus memasang dua buah kamera
pengawas yang diletakkkan di sisi depan
dan belakang tim yang mengerjakan soal.
Sehingga setelah sampai di sekolah, kami
pun melakukan persiapan teknis dan
mengatur orientasi kamera sebaik mungkin
agar tidak panik ketika lomba berlangsung.
Pukul 8:00, seluruh peserta sudah diminta
untuk bergabung dalam rapat virtual
menggunakan aplikasi Zoom untuk
mengikuti upacara pembukaan.
Singkat cerita, sekitar pukul 10, babak
penyisihan pun dimulai. Pada babak ini kami
diwajibkan untuk mengerjakan 40 soal MIPA
(yang terdiri atas soal-soal matematika,
fisika, kimia, dan biologi) selama kurang
lebih 30 menit menggunakn aplikasi
Quizizz. Sebetulnya ada satu peraturan
yang cukup kami takutkan pada babak ini,
yaitu peserta yang mengalami kendala
jaringan dan keluar dari Quizizz akan
langsung didiskualifikasi. Namun,
untungnya tidak ada kendala yang dialami
oleh kedua tim dari SMA Fransiskus. Selama
pengerjaan, kami cukup merasa kesulitan
selama mengerjakan soal kimia dan sedikit
soal matematika karena waktu yang
tersedia cukup sedikit dan beberapa soal
membutuhkan ketelitian yang lebih dan
waktu pengerjaan yang cukup lama. Namun,
kami pun berhasil mengerjakan seluruh soal
tepat waktu.

HAL . 55

Alhasil, tim kelas 12 mendapatkan skor 12
dari 40 sedangkan tim kami mendapatkan
skor 27 dari 40. Nilai ini cukup melebihi
ekspektasi kami mengingat kami hanya
mengira-ngira jawaban yang tepat pada
beberapa soal. Beberapa menit kemudian,
hasil pun diumumkan. Dari 2 tim yang
dikirim oleh sekolah, tim kami lolos dengan
peringkat 3 dari 16 yang terpilih sedangkan
langkah tim kelas 12 harus terhenti di babak
penyisihan. Setelah itu kami pun berkemas
dan melakukan perjalanan pulang ke rumah.
Siangnya, diadakan technical meeting
secara daring untuk menjelaskan
mekanisme babak semifinal dan pengundian
peserta yang harus bertanding pada setiap
putaran. Pada pengundian tersebut, tim
kami akan berlomba pada semifinal putaran
ketiga melawan SMA Al-Kautsar, SMAN 1
Terbanggi Besar, dan SMA IT AR-RAIHAN.
Babak semifinal diselenggarakan pada hari
Minggu tanggal 17 September di FKIP Unila.
Kami bersama Bu Maya sudah sampai di
Unila untuk melakukan registrasi. Atas
alasan protokol kesehatan, hanya panitia
dan peserta yang bertandingan yang
diperbolehkan memasuki ruang lomba,
sedangkan peserta yang menunggu giliran
ditempatkan di ruang tunggu khusus
peserta dan pendamping. Di ruang tunggu
tersebut disediakan proyektor sehingga
kami juga bisa menonton pertandingan yang
berlangsung saat itu. Karena kami bermain
di putaran ketiga, sambil menunggu, kami
bisa memperhatikan mekanisme
perlombaan yang akan kami jalani nantinya.
Untuk babak semifinal, ada dua sesi, yakni
sesi angkat papan di mana setiap tim akan
menjawab soal yang sama dengan
menuliskan hasil akhir pada papan tulis
kecil yang tersedia dan sesi rebutan di
mana hanya tim yang paling cepat menekan
bel yang boleh menjawab soal. Sistem
penilaian yang berlaku meliputi +100
apabila jawaban benar pada kedua sesi,
namun terdapat pengurangan poin sebesar
-100 pada sesi rebutan. Jumlah soal yang
dilombakan sebanyak 24 soal per putaran di
mana terdapat 6 soal per bidang studi.

HAL . 56

06 | DOLAN Pertandingan dimulai dengan soal-soal
kimia dan pada tahap ini persaingan cukup
Singkat cerita, putaran pertama ketat di mana seluruh tim mendapatkan
dimenangkan oleh SMAN 1 Kota Gajah dan nilai keseluruhan 100 dari 4 soal kimia yang
putaran kedua dimenangkan oleh SMA YP dilombakan. Lalu, dilannjutkan dengan soal
Unila. Selanjutnya adalah giliran kami. fisika di mana kami berhasil memimpin
Kami diarahkan oleh panitia untuk masuk untuk sementara waktu.
ke ruang lomba dengan cara dipanggil satu Setelah itu dilanjutkan dengan soal biologi
persatu. Setelah itu dilanjutkan dengan hingga kami sempat tersalip oleh SMA Al-
perkenalan diri oleh masing-masing Kautsar. Lalu, ketika mengerjakan soal
peserta. Kemudian babak semifinal pun matematika, kami sempat melakukan
dimulai. Pada sesi angkat papan kami beberapa ketidaktelitian yang
cukup merasa kesulitan selama menyebabkan kami harus puas dengan skor
mengerjakan soal-soal kimia mengingat tertinggi kedua 600 pada sesi angkat
sebagian materi belum kami pelajari di papan, di bawah SMA Al-Kautsar dengan
sekolah sehingga kami sempat tertinggal skor 800. Sedangkan kedua tim lain hanya
oleh tim lain. Namun kami berhasil memperoleh skor 200. Pertandingan
menyusul ketika pengerjaan soal-soal dilanjutkan dengan sesi rebutan yang
fisika, biologi, dan matematika. Sehingga sangat menegangkan. Untungnya, ketika
setelah babak angkat papan selesai, tim sesi rebutan untuk soal kimia, SMA Al-
kami memimpin. Babak semifinal Kautsar melakukan ketidaktelitian sehingga
dilanjutkan dengan sesi rebutan. menyebabkan skor mereka berkurang
Pada sesi ini, soal-soal kimia hanya sedikit sebesar 300 poin menjadi sehingga kami
yang dijawab oleh peserta, sedangkan kami memimpin sementara. Ditambah lagi, kami
cukup mendominasi soal fisika dan berhasil menjawab 3 dari 4 soal fisika yang
matematika. Untuk soal bidang biologi ada, meskipun satu di antaranya salah
sebagian besar terjawab oleh kami dan SMA sehingga skor kami menjadi 700.
Al-Kautsar. Pada akhirnya, kami berhasil Dilanjutkan dengan soal biologi.
lolos ke final dengan nilai mencapai 1200 Pada saat ini kami sangat terkejut karena
poin, disusul oleh SMA Al-Kautsar, SMA IT SMA Al-Kautsar berhasil menjawab seluruh
Ar-Raihan, dan SMAN 1 Terbanggi Besar. soal biologi dan tiga di antaranya benar
Kami pun beristirahat sejenak dan makan sehingga nilai kami menjadi imbang di skor
siang sebelum melanjutkan babak final. 700. Pada sesi matematika, kami berhasil
Selain itu, kami juga sempat menonton menjawab soal pertama dengan benar dan
semifinal putaran keempat yang pada soal kedua berhasil dijawab oleh SMA Al-
akhirnya dimenangkan oleh SMA Al- Kautsar dengan benar. Lalu, soal ketiga
Kautsar. tidak dijawab oleh seluruh tim. Muncullah
soal terakhir yang menjadi penentuan.
Pukul 13:30, babak final pun dimulai. Empat Kami menghitung dengan sangat cepat
tim yang bertanding pada babak ini bahkan tidak yakin dengan jawaban kami
merupakan pemenang dari setiap putaran sendiri, namun bermodal rasa nekat
pada babak semifinal, yakni SMAN 1 Kota akhirnya kami pun memutuskan untuk
Gajah, SMA YP Unila, SMA Fransiskus, dan menekan bel dan ternyata jawaban kami
SMA Al-Kautsar. Mekanisme pertandingan benar! Kami pun berhasil finis di peringkat
pada babak final sama dengan babak pertama dengan skor 900, disusul oleh
semifinal, namun sekarang terdapat total SMA Al-Kautsar dengan skor 800, SMAN 1
32 soal, di mana masing-masing bidang Kota Gajah dengan skor 200, dan SMA YP
studi terdiri atas 8 soal. Seperti Unila dengan skor 100.
sebelumnya, babak final dimulai dengan
perkenalan dari seluruh peserta kemudian HAL . 57
dilanjutkan dengan sesi angkat papan.

05 | DOLAN

Akhirnya, setelah merasa deg-degan selama
kurang lebih setengah jam, kami pun
menjadi sangat lega dan puas setelah
menjadi juara pertama pada LCT MIPA FKIP
Unila. Kemudian kami pun diarahkan untuk
duduk di bangku penonton di ruang yang
sama untuk mengikuti acara penutupan dan
penyerahan hadiah. Ternyata, selain meraih
juara umum, kami juga meraih juara favorit,
penghargaan atas nilai tertinggi dari babak
semifinal. Hadiah yang kami dapat meliputi:
piala tetap sebagai juara pertama LCT MIPA
2021, piala bergilir sebagai juara pertama
LCT MIPA 2021, piala sebagai juara favorit
LCT MIPA 2021, merchandise berupa mouse
dan flashdisk, trofi sebagai juara 1 dan juara
favorit, sertifikat, piagam penghargaan,
uang pembinaan sejumlah Rp 3.250.000,-,
dan Golden Ticket FKIP Unila.
LCT MIPA FKIP Unila merupakan salah satu
pengalaman yang membuat kami belajar
menjadi lebih baik lagi. Dari lomba ini kami
belajar untuk berlomba dengan tenang dan
tidak membiarkan emosi atau rasa cemas
menguasai diri kami selama perlombaan.
Selain itu kami juga belajar bahwa segala
sesuatu bisa terjadi selama pertandingan.
Meskipun sempat tertinggal, tidak ada
gunanya apabila kami panik ataupun merasa
putus asa dan Langkah terbaik ialah
mencoba mengejar ketertinggalan dengan
memberikan yang terbaik pada tahap
selanjutnya. Kami sangat bersyukur atas
pencapaian kali ini dan mengucapkan
terima kasih kepada orang tua, sekolah, dan
guru-guru pembimbing yang sudah
memeberikan dukungan penuh sejak awal
perlombaan. Pada akhirnya, kami berharap
hasil yang kami dapat akan bermanfaat bagi
kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik
lagi ke depannya.

HAL . 58

SWASTAMITA OLEH : SHENNY HARVI
UNTUK GITA ETERNO
(PEMENANG LOMBA
MENULIS CERPEN
PERPUSDA)

Jika aku ditanya tentang sebuah
kata yang paling indah, sudah pasti
“Swastamita”-lah jawabannya.
Swastamita berasal dari Bahasa
Sansekerta. Artinya pemandangan
indah saat matahari terbenam. Jika
boleh kuucapkan, ribuan
bentangan pelangi pun tidak
mampu menandingi keindahan
swastamita.
Aku berani bertaruh, tidak ada
satu pun orang yang tidak jatuh
hati pada swastamita. Begitu pun
denganku dan Nenek. Kami pergi
ke pantai setiap sore demi melihat
keagungan dan keindahan
swastamita. Walaupun kami
merasa lelah menjalani hari,
semuanya seakan terbayarkan
dengan melihat swastamita.
Tetapi, tidak dengan hari itu,
tepatnya Senin, 1 Agustus 2011.
Khusus pada hari itu, aku
memutuskan untuk melewati
swastamita. Aku berencana untuk
pergi ke toko buku bersama
Nenek. Ya, hari itu adalah hari
ulang tahunku. Nenek pernah
berjanji untuk membelikanku buku
novel yang sejak lama kuidam-
idamkan. Karena itu, aku ingin
menagih janji Nenek.

HAL . 59

“Buku itu harganya mahal, Git. Uang Nenek enggak cukup,” ucap Nenek pada
diriku yang saat itu masih berusia tiga belas tahun.
Kulihat Nenek membuka dompetnya yang berisi uang pecahan tujuh ribu
rupiah. Tentu saja uang itu tidak cukup. Lagi-lagi, aku hanya bisa memandang
buku-buku itu dari luar toko. Kedua tanganku memegang kaca pemisah antara
aku dan buku itu. Kulihat lebih jelas, novel “Just Be Mine” memanglah novel yang
kuimpikan sejak dulu.
“Maaf, ya, Gita cantik. Nanti kalau Nenek sudah dapat uang, Nenek janji bakal
beliin buku itu untuk Gita,” ucap Nenek dengan mengukir senyum palsu di
wajahnya.
Melihat Nenek meminta maaf, aku jadi merasa bersalah. Padahal, Nenek selalu
ada untukku walaupun orang tuaku pergi meninggalkanku. Tetapi, aku malah
bersikap egois dan memaksa Nenek untuk membelikan apapun yang aku mau.
Sejak itu, aku memutuskan untuk tidak meminta apapun lagi pada Nenek. Aku
akan berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang kumau.
Daripada meminta Nenek untuk membelikan buku novel, lebih baik aku
membaca buku di perpustakaan. Sebenarnya, para siswa diperbolehkan untuk
meminjam dan membawa pulang buku-buku itu. Tetapi, aku takut buku itu rusak
dan aku harus membayar denda. Seperti yang kalian tahu, aku tidak mungkin
punya cukup uang untuk membayar dendanya. Akhirnya, aku pun memutuskan
untuk membaca buku di perpustakaan setiap pulang sekolah.

“Gita? Kamu belum pulang? Ini sudah jam lima sore, loh,”
ucap Bu Inggit, wali kelasku yang melihatku sedang
membaca buku di perpustakaan.
“Selamat sore, Bu Inggit. Saya sedang asyik membaca, nih,
Bu. Nanti kalau sudah selesai membaca, saya akan
langsung pulang,” jawabku pada Bu Inggit.
“Biarkan saja, Bu Inggit. Gita memang selalu membaca
buku di sini sepulang sekolah,” sahut Bu Riana, guru yang
mengelola perpustakaan di sekolahku ini.
“Wah! Kamu suka membaca, ya, Git?” tanya Bu Inggit
sambil tersenyum.
“Iya, Bu. Saya sangat suka membaca buku novel,” jawabku.
“Kalau menulis, bagaimana? Kamu suka menulis cerita-
cerita fiksi juga, enggak?” tanya beliau lagi.
“Suka, Bu! Saya juga suka menulis cerita fiksi!” seruku
antusias.
“Kalau begitu, coba saja kirim naskahmu ke penerbit. Siapa
tahu, naskahmu bisa diterbitkan dan dijadikan novel,” ucap
Bu Inggit.
“Tapi, saya masih kurang percaya diri dengan tulisan saya,
Bu. Saya masih kurang berpengalaman. Saya bahkan belum
pernah mengikuti lomba menulis. Saya juga tidak punya
komputer untuk mengetik dengan rapi,” jawabku sedih.
“Tidak apa-apa, Gita. Kamu tidak boleh minder. Ingat, ya,
seribu langkah dimulai dari satu langkah pertama.
Kalaupun naskah kamu ditolak, kamu tinggal mencoba lagi,
kan? Mencoba itu tidak ada salahnya, kok. Untuk komputer,
kamu gunakan saja komputer sekolah,” ucap Bu Inggit.
“Hah? Beneran, Bu? Saya boleh pakai komputer sekolah?”

HAL . 60

“Iya, kamu pakai saja. Biar Ibu yang mengurus izinnya
dengan Pak Kepala Sekolah,” ucap Bu Inggit.
“Wah! Terima kasih banyak, Bu Inggit! Saya pasti akan
memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin!” seruku
dengan senyum mengembang.
“Sama-sama, Gita. Tapi, jangan lupa. Nilai kognitifmu
jangan sampai menurun karena hal ini, ya. Nilaimu
harus tetap dipertahankan,” ucap Bu Inggit.
“Baik, Bu!”
Keesokan harinya, aku mulai mencari-cari ide untuk
naskahku. Aku mencoba merangkum semua ideku dan
menggambarkannya lewat tulisan. Ternyata, menulis
seratus lima puluh halaman tidaklah mudah. Berkali-
kali aku menghapus dan menulis ulang naskahku. Entah
kenapa, rasanya tulisanku tidak enak dibaca dan
alurnya tidak mengalir dengan baik.
Memang, ini bukanlah kali pertamaku menulis naskah.
Aku sudah sering menuliskan naskahku di buku. Tetapi,
tetap saja aku merasa kurang percaya diri. Para calon
penulis lain pasti jauh lebih berpengalaman dariku.
Tetapi, aku mengingat ucapan Bu Inggit, yaitu seribu
langkah dimulai dari satu langkah pertama. Aku harus
berani mencoba jika ingin berhasil.
Setahun kemudian, naskah novelku pun selesai kutulis.
Aku merasa cukup bangga dengan tulisanku. Aku yakin,
naskahku ini akan diterima dan diterbitkan oleh
penerbit. Tidak lama lagi, aku akan jadi seorang penulis.
Menjadi penulis di umur tiga belas tahun tampaknya
menjadi hal yang cukup membanggakan!
Aku juga meminta Bu Inggit dan Bu Riana untuk
membaca dan memberi masukkan terhadap naskahku.
Menurut beliau, tulisanku sudah cukup bagus untuk
seorang siswa SMP sepertiku. Aku pun mengirimkan
naskahku ke salah satu penerbit yang cukup ternama.
Aku tidak takut naskahku ditolak, karena hal itu justru
akan menjadi batu pijakan pertama untukku.
Tiga bulan pun berlalu, dan aku mendapat surel dari
penerbit. Rasanya, jantungku berdetak lebih kencang
dari biasanya. Tanganku pun sedikit bergetar. Sudah
kubilang, aku tidak takut naskahku ditolak. Tetapi,
entah kenapa aku tidak berani membuka surel ini. Bu
Inggit pun menenangkanku dan meyakinkanku untuk
membuka surelnya. Aku pun membuka surel itu. Dan
ternyata, naskahku ditolak.

HAL . 61

Aku hanya bisa diam membisu. Seakan-akan, dunia “Nenek tidak marah sama Gita? Padahal Gita
ini berhenti berputar. Aku bahkan tidak mampu menghabiskan waktu Gita untuk menulis naskah itu.
menggerakan tanganku. Kakiku terasa lemas. Air Gita bahkan jadi jarang membantu Nenek mengurus
mataku berdesakkan untuk keluar. Aku merasa pekerjaan rumah,” ucapku sambil terisak.
kecewa. Padahal, aku mengerahkan segalanya untuk “Nggak, Gita. Nenek enggak marah. Malah, Nenek
menulis naskah ini. Aku menghabiskan satu tahun merasa bangga karena Gita sudah mengerahkan
penuh untuk menulisnya. Kenapa naskahku ditolak seluruh kemampuan Gita untuk menulis naskah itu.
begitu saja? Tetap semangat ya, Gita cantik. Nenek pasti akan
“Tidak apa-apa, Gita. Jadikan pengalaman saja, ya. selalu mendukung Gita,” ucap Nenek.
Tidak usah diambil pusing. Bu Inggit bangga, kok, Ucapan Nenek saat itu menjadi pemulih bagi
karena Gita sudah menyelesaikan naskahnya dengan semangatku yang hilang. Memang benar, tidak ada
sangat baik,” ucap Bu Inggit menghiburku. gunanya aku menangis meratapi kegagalanku. Lebih
Air mataku mengalir membasahi pipiku. Padahal, baik, aku kembali mencoba untuk menghasilkan
aku sudah mengatakan bahwa aku siap menerima naskah yang lebih baik lagi. Akan kubuktikan pada
apapun hasil yang kudapatkan. Akan tetapi, hatiku Nenek bahwa aku akan benar-benar menjadi penulis
rasanya sakit. Aku merasa semua usahaku sia-sia. yang sukses dan membuat Nenek bangga.
Aku merasa bahwa aku tidak ditakdirkan untuk Pengalaman itu merupakan salah satu pengalaman
menjadi seorang penulis. Ternyata, aku tidak siap terburuk dalam hidupku. Pengalaman yang
menerima kegagalan ini. membuatku putus asa. Pengalaman yang
Aku pun berjalan pulang ke rumah. Aku berjalan menjatuhkan semangatku. Ekspektasiku yang terlalu
sambil menundukkan kepalaku. Aku merasa malu tinggi membuatku terjatuh semakin dalam.
dengan diriku sendiri. Sesampainya aku dirumah, Membuat rasa sakitku menjadi semakin besar.
aku langsung menghampiri Nenek yang sedang Seharusnya, aku cukup berharap sewajarnya saja
memasak. Aku memeluk Nenek sambil menangis. supaya rasanya tidak sesakit ini.
Aku menceritakan semuanya pada Nenek, dan Tetapi, kejadian yang menyedihkan itu sudah
Nenek hanya bisa mengelus kepalaku. berlalu. Saat ini, aku sudah berumur dua puluh tiga
“Sudah, enggak usah nangis. Gagal itu hal yang tahun. Doa Nenek ternyata memang terkabul. Aku
wajar, kok, Git. Ingat ucapan Nenek. Tidak ada menjadi penulis profesional yang cukup ternama di
kesuksesan tanpa kegagalan. Nenek yakin, Gita pasti Indonesia. Aku sudah menulis puluhan judul novel,
bisa menjadi penulis yang sukses di masa depan,” yang berhasil terjual jutaan eksemplar.
ucap Nenek sambil tersenyum padaku.
HAL . 62

Tentu saja aku tidak melupakan orang-orang yang membantuku saat aku masih berjuang dari bawah. Aku
menyampaikan terima kasihku kepada Bu Inggit, Bu Riana, dan Pak Kepala Sekolah. Aku selalu menawarkan
bantuan saat mereka sedang kesusahan. Tidak hanya itu, aku juga memberi mereka tanda mata yang cukup
mahal, sebagai kenang-kenangan.
Selain kepada para guru, tentunya aku juga tidak melupakan Nenek. Aku bahkan masih menikmati swastamita
setiap sore. Sayangnya, Nenek sudah tidak ada di sini bersamaku. Nenek sudah berada di sisi Yang Mahakuasa
sejak dua tahun yang lalu. Meskipun begitu, aku yakin Nenek pasti merasa bangga melihatku berhasil
mencapai mimpiku.
Terima kasih atas seluruh dukungan Nenek untuk Gita. Tanpa Nenek, seluruh kesuksesan Gita tidaklah
berarti. Bahkan tanpa Nenek, keindahan swastamita pun tidaklah berarti.

HAL . 63

Oleh: Sri Wahyuni, S. Pd.
(Pemenang Lomba Menulis Berita Pendidikan untuk Jurnalis Warga)




SAATNYA KITA BERBENAH

“Bu, masih ada celana putih, Mas Rimba? Iko butuh celana Kugali informasi dari laman
putih, Bu. Saya belum ada dana untuk membelikannya.”
Pertanyaannya sedikit mengejutkanku. Tak biasanya Mbak https://indonesiapintar.kemdikbud.go.id/. Bagaimana jika siswa
Rukmi membicarakan masalah pakaian kepadaku. Wajahnya
tak secerah umbul-umbul merah, kuning, hijau yang berjejer miskin belum menerima KIP? Siswa dapat mendaftar dengan

OLEH MARIO LINTANGdi pinggir jalan sisa tujuh belasan kemarin. Sementara, terik membawa Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) orang tuanya ke
sang surya tak lagi menampakkan sisanya. Hanya semilir
angin senja menghembus mengelus sukma. lembaga pendidikan terdekat.Jika siswa tersebut tidak memiliki
“Maaf ya, Bu, saya jadi merepotkan,” katanya.
“Iya, enggak apa-apa, kok, Mbak,” jawabku menenangkannya. KKS, orang tuanya dapat meminta Surat Keterangan Tidak
“Bapaknya terdampak pandemi, Bu. Jadi kerja hanya dua hari
seminggu. Jadi gajinya tidak mencukupi. Jangankan untuk Mampu (SKTM) dari RT/RW dan Kelurahan/Desa terlebih dahulu 33 |MAJALAHWISATA.CO.ID
biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja berat, Bu,”
curhatnya. Tatapan matanya sendu. Jingga langit senja agar dapat melengkapi syarat pendaftaran.
berbanding terbalik dengan kisah hidupnya.
“Lo, bukannya ada KIP, Mbak? Sekolah sudah gratiskan? Setelah mendapatkan informasi tentang PIP aku mengajak
Segala keperluan sudah ditanggung oleh pemerintah melalui
program bermanfaat itu. Program yang saya yakin bisa bicara Mbak Rukmi kembali. Aku ingin dia mendapat bantuan
membantu apalagi di masa pandemi seperti ini,” ujarku.
“Entahlah, Bu. Kami belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Aku tahu dia sangat membutuhkan. Tapi
dari pemerintah,” katanya sedih.
“Lo, kok bisa begitu, Mbak?” tanyaku penasaran. Bagaimana kekurangtahuan tentang informasi ini membuat dia berpasrah
mungkin, Mbak Rukmi belum pernah mendapatkannya.Dia
belum memiliki rumah sendiri. Suaminya terdampak pandemi. diri.
“Apakah Mbak Rukmi sudah mengurus syarat-syaratnya?”
tanyaku penasaran. “Mbak, coba diurus kembali, supaya Iko mendapat KIP. Mbak
“Saya sudah mengumpulkan KK dan KTP kepada ketua RT,
Bu. Tapi nama Iko belum keluar sebagai penerima PIP. sudah memiliki KKS belum?” tanyaku.
Padahal beberapa warga yang secara ekonomi kuat justru
mendapatkannya, Bu. Tuhan belum memberi kesempatan “Wah, belum punya, Bu,” HAL . 64
kepada kami untuk menikmati program dari pemerintah ini,”
katanya pasrah.

“Kalau begitu, Mbak minta Surat Keterangan Tidak Mampu 19
(SKTM) dari RT/RW dan Kelurahan/Desa terlebih dahulu agar
dapat melengkapi syarat pendaftaran. Lalu mendaftar melalui
sekolah,” kataku.Kujelaskan tentang PIP hasil pencarianku
dengan bertanya kepada Mbah google kepada Mbak Rukmi.

“Baik, Bu, Besok, saya akan mendaftarkan diri menjadi peserta
penerima KIP tahun 2021,” katanya bersemangat.
“Sip! Harus berani berjuang, Mbak. Saya yakin Tuhan akan buka
jalan bagi mereka yang mau berusaha. Semoga usaha Mbak
besok membuahkan hasil,” ujarku.
“Iya, Bu. Terima kasih banyak, ya, Bu atas informasi dan
motivasinya. Saya akan berjuang demi Iko. Doakan saya supaya
berhasil, ya, Bu,” katanya.
“Pasti, Mbak,” ujarku. Kuacungkan jempol padanya. Langit senja
berwana jingga mewakili perasaannya. Sebentar lagi senja
berganti gelap malam. Mbak Rukmi berpamitan dengan
perasaan lega.
Keesokkan harinya, aku sengaja berkunjung ke rumah Mbak Ros,
seorang penjual makanan kecil di sudut rumahku.Matahari mulai
condong ke barat.

“Mbak pernah bercerita bahwa menerima bantuan dari
pemerintah, ya. Sejak kapan Mbak menerima KIP?”
“Sejak Rere masih kelas 2 SD, Bu,” jawabnya.
“Apakah selama ini lancar?”
“Lancar, kok, Bu. Setiap tahun Rere mendapat bantuan itu.
Lumayan sangat membantu kami. Setiap tahun kami mendapat
Rp450.000,-.” Lalu, dia bangkit dari duduknya dan menuju ke
kamar. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan membawa
rekening salah satu bank, lalu menunjukkan kepadaku.

“Ini rekeningnya,” katanya.
“Saat kelas satu, kami diminta mengumpulkan KK, KTP. Lalu
sekolah meminta kami untuk mengurus surat keterangan tidak
mampu dari RT dan kelurahan. Kami pun mengurusnya. Setelah
selesai kami kumpulkan ke sekolah. Sudah begitu saja. Setahun
kemudian kami dapat informasi bahwa kami mendapat bantuan
KIP ini. Lalu, kami membuat rekening. Setelah itu, kami selalu
mendapat bantuan setiap tahun, Bu. Dana ini sangat membantu
kami untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak,” jawabnya
antusias. Aku pun ikut senang mendengarnya.
Lantas, aku teringat beberapa bulan yang lalu, aku mendapat
kiriman pesan dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
Pesan berisi daftar anak penerima KIP dari pemerintah. Dua
orang siswa kelas XI MIA 2 tertera namanya sebagai siswa yang
mendapat bantuan KIP. Mery dan Laksmi. Aku kaget nama Mery
terdapat dalam daftar tersebut. Aku mengenal Mery sebagai
siswa yang berasal dari keluarga berada. Aku hanya membatin,
PIP ini salah sasaran. Banyak anak lain yang sangat
membutuhkan dibandingkan dengan Mery. Segera kuhubungi
Mas Yoga, TU sekolah kami.
“Mas, Mery ini anak orang berada, bagaimana dia mendapat KIP
ini?” tanyaku setelah berbasa basi sejenak via telefon, kugali
informasi.

33 |MAJALAHWISATA.CO.ID

HAL . 65

“Wah, kalau enggak salah dari data Dapodik lama, Ibu. Saya tidak tahu persisnya
karena bukan saya yang menginput data. Mungkin saat menginput data di
sekolah terdahulu, Mery masih terdata sebagai siswa yang mendapatkan
bantuan itu,” jelas Mas Yoga, “jadi pemerintah langsung menarik data dari data
yang ada, Bu. Sekolah tidak menentukan siapa-siapa yang mendapatkan. Itu
dipilih oleh pemerintah,” demikian penjelasan yang kuterima.
Salah satu guru di SMA swasta dalam kesempatan berbeda menjelaskan bahwa
saat sekolah meminta anak-anak mendaftarkan diri sebagai penerima KIP,
mereka tidak mau mendaftar mungkin karena gengsi. Oleh karena itu, sekolah
tidak mendaftarkan mereka secara khusus. Data yang dipakai adalah data yang
dimiliki siswa yang diinput di data Dapodik.
Senada dengan hal tersebut, Siti Rofiah, S. Ag. guru agama salah satu SMP N di
lereng Gunung Kelud pun menjelaskan bahwa banyak anak SMA yang gengsi
saat ditawari untuk mendaftarkan diri sebagai penerima KIP, termasuk putrinya.
Sementara, banyak orang tua yang sangat menginginkan bantuan dari
pemerintah tersebut.
Pada kesempatan berbeda ibu Laksmi menyampaikan bahwa program ini
sangat membantu sekali bagi keluarga mereka. Namun, sampai saat ini Laksmi
belum menerimanya. Bank di wilayahnya tidak mengurus PIP. Dia harus ke
Bandar Lampung untuk mengurusnya.

Sementara itu, Mas Yoga, pria yang baru berapa tahun
bertugas di TU ini menjelaskan bahwa untuk mencairkan
itu, butuh surat keterangan dari sekolah. Lalu, si penerima
ke bank yang ditunjuk untuk proses pencairan dengan
membawa syarat yang telah ditentukan. Sebelumnya,
sekolah sudah menginformasikan supaya anak-anak
mengumpulkan berkas persyaratan pencairan supaya bisa
diurus secara kolektif. Akan tetapi, banyak diantara mereka
yang tidak proaktif sehingga menghambat pencairan dana
ini.
Lantas, bagaimana dengan Mery? “Iya, Bu. Saya juga tidak
menyangka bahwa saya masih mendapat bantuan ini. Saat
SMP saya mendapat bantuan ini, Bu. Secara ekonomi
keluarga saya berkekurangan, sehingga kami mengurus
KIP. Jika saya masih mendapat uang bantuan ini, saya akan
menyumbangkannya kepada yang membutuhkan, Bu,” jelas
Mery saat kuhubungi.
Program Indonesia Pintar pada hakekatnya merupakan
upaya pemerintah yang bertujuan untuk memastikan
terlaksanakannya program pemerataan pendidikan dan
perluasan akses pelayanan pendidikan yang bermutu,
khususnya untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah,
peluang keberlanjutan sekolah, pengurangan angka putus
sekolah, dan peningkatan prestasi. Sejalan dengan
pendapat Herlinawati, Dr., dkk (2017) Kebijakan pemberian
subsidi kepada siswa miskin ini strategis, mengingat siswa
yang berasal dari keluarga miskin ditenggarai rawan
terhadap terjadinya putus sekolah dan mengulang kelas.

HAL . 66

Di balik pentingnya program ini, disadari Jika hal ini dilakukan PIP diharapkan dapat
bahwa dalam pelaksanaannya PIP terkadang menghantarkan siswa penerima dana PIP
masih belum sesuai dengan rencana, baik menyelesaikan pendidikan pada jenjang
disimak dari sasaran, mekanisme penyaluran, pendidikan yang telah ditetapkan oleh
besaran dana dan pemanfaatannya, serta pemerintah yaitu sampai dengan jenjang
bentuk penyimpangan lainnya. Melihat lima pendidikan menengah.
peristiwa tersebut, kita sudah saatnya Semoga kelak anak-anak mampu menjadi
berbenah. PIP bukan hanya tentang siapa yang pribadi unggul yang akan membawa Indonesia
butuh atau tidak, atau tentang siapa yang menjadi bangsa besar. Bangsa yang adil dan
miskin atau tidak, melainkan tentang gengsi, sejahtera, mampu bersaing di dunia
malu atau tidak malu (untuk taraf SMA) internasional.
Lima solusi yang bisa dilakukan untuk Bahan Bacaan:
mengatasi hal ini. Pertama. Bagi Pemerintah. Herlinawati, Dr, dkk. Kajian Implementasi
Saatnya untuk melakukan pemutakhiran data Program Indonesia Pintar. Jakarta: Pusat
Dapodik. Saatnya menyusun strategi pemberian Penelitian Kebijakan Pendidikan dan
subsidi yang efektif kepada siswa miskin yang Kebudayaan, Balitbang,Kemendikbud, 2017, V,
dapat mendukung siswa menyelesaikan 105h
pendidikan dengan prestasi yang baik. https://indonesiapintar.kemdikbud.go.id/.
Sependapat dengan Herlinawati Dr, dkk (2017), diakses 13 September 2021
solusi manajerial yang sepenuhnya berada
dalam kendali Kemdikbud. Bandar Lampung, 13 September 2021

Kedua.Lembaga Pendidikan. Lembaga
pendidikan secara intensif melakukan
pembinaan dan pemantauan terhadap
pelaksanaan dan penggunaan dana PIP. Sekolah
saling bekerja sama antara kepala sekolah, guru
bimbingan konseling, dan wali kelas untuk
mendata peserta didik yang membutuhkan
bantuan.
Ketiga.Bank Rekanan. Bank harus menyiapkan
segala sesuatunya berkaitan dengan penyaluran
dana PIP kepada penerimanya. Jangan sampai
saat dana sudah dikucurkan bank yang ditunjuk
belum siap secara administrasi.
Keempat. Bagi Masyarakat. Masyarakat secara
proaktif menyampaikan kepada pihak terkait
jika merasa membutuhkan bantuan pemerintah
atau mengetahui keberadaan orang lain yang
membutuhkan. Butuh saling peduli satu sama
lain, sehingga program ini tepat sasaran.
Kelima.Bagi Peserta Didik. Peserta didik harus
proaktif dalam menanggapi informasi yang
disampaikan oleh sekolah. Ketidakproaktifan
akan membuat proses pencairan dana
terhambat. Peserta didik pun harus
menghilangkan rasa gengsi untuk menerima
KIP. Gengsi bukan solusi.Keberlangsungan
pendidikan merupakan hal utama yang harus
dipikirkan.

HAL . 67


Click to View FlipBook Version