TRAVEL NOTES
atas ketangguhan yang tidak mengenal lelah dalam
melestarikan songket Palembang. Pelanggannya
pun kebanyakan dari kalangan atas, mulai dari
pejabat, artis, dan publik figur lainnya, baik yang
berasal dari Indonesia maupun mancanegara.
Tidak dipungkiri, begitu menyebut songket
Palembang tidaklah lepas dari nama Zainal
Songket. Kalangan kolektor kain tenun pun banyak
yang bergurau bahwa songket Palembang itu tidak
lain Songket Zainal sendiri. Apa keunikan Songket
Zainal? Zainal tidak hanya sekadar merancang diimpor. Benang lokal dapat digunakan namun
motif, melainkan membuatnya hingga menjadi agak susah untuk ditenun. Selain itu, motif Songket
busana anggun dan modern, tanpa menghilangkan Palembang juga mempengaruhi harga dari kain
esensi tradisional maupun songket itu sendiri. Hal songket tersebut.
itu bisa dilihat dari koleksi-koleksi yang kami lihat Tampak di ruangan tempat menenun songket
saat mengunjungi galerinya di Jalan Jalan Ki Gede beberapa pekerja sedang menggunakan alat
Ing Surc No.173, 32 Ilir, Ilir Bar. II, Kota Palembang, tradisional tenun songket, terdiri dari alat tenun,
Sumatera Selatan. Koleksi yang dimiliki galeri ini rungsen, benang emas, benang merah, baliro, lidi,
cantik-cantik dengan kilauan warna emas berpadu buluh, pleting, dan lain sebagainya. Mereka terlihat
merah, biru tua, ungu, dan ada juga merah muda. bekerja dengan tekun, sabar penuh keuletan,
Benang emas yang dipakai berasal dari benang karena jika dikerjakan dengan tergesa-gesa maka
yang dicelup dengan emas 24 karat. Maka tak hasil yang didapat biasanya tidak bagus. Menurut
heran jika harganya dibanderol mulai dari yang Zainal, kain songket harganya terbilang mahal,
termurah Rp2-5 juta, hingga mencapai Rp35 Juta. maka kain songket Palembang harus dirawat
Memang tergolong mahal, karena karena selain dengan hati-hati. Kain Songket khas Palembang
pengerjaannya dengan ketekunan tinggi, juga tidak bisa terkena panas atau disimpan di ruangan
menggunakan bahan baku yang sebagian besar yang sembarangan. (Ariessuryantini)
Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai | 49
GALERI FOTO
“Kamera analog
mengajarkan saya akan
berharganya momen
berharga di hidup ini
karena terbatasnya foto
yang dapat saya ambil
dalam sebuah roll film”
50 | Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai
GALERI FOTO
Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai | 51
GALERI FOTO
52 | Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai
GALERI FOTO
Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai | 53
GALERI FOTO
Fauziah Nur Ramadhan
Subdirektorat Komunikasi Dan Publikasi DJBC
Nikon F2
54 | Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai
GALERI FOTO
Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai | 55
RAGAM
Sang Pemimpi
Karya : Novita Sari Damanik
Negeriku bukan karya sembarang
Negeriku bukan dongeng malam
Empunya sang pemimpi
Manusia manusia penuh ambisi
Pagi tenang, kantuk merayu
Semangat terpatri, elok mendekap
Ambil bagian disana
Saksikan langkah menerjang
Fajar mencuri pandangmu
Lantas kau halau bersama angin laut
Siluet terpancar menantang
Mengikuti langkah kokohmu
Rindu dibalut mimpi
Jemputmu dalam sendu
Riak ombak tumpah ruah
Panas terik mengulitimu, legam
Di atas kapal itu
Lagi lagi mimpi
Ini hampIr belum petang
Pandangan nanar menerkam
Senja hampir tiba
Riuh burung mencari peraduan
Sosokmu membatasi ruang
Petang ganti malam kau temani
Terima kasih
Sang pemimpi negeriku
Baktimu untuk ibu pertiwi
Demi Bea Cukai makin baik
56 | Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai
Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai | 57
58 | Volume 50, Nomor 2, Februari 2018 - Warta Bea Cukai