The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tanam Paksa (atau Cultuurstelsel) adalah sebuah kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dimana rakyat Hindia Belanda harus menyerahkan seperlima hasil tanaman ekspor mereka sejak tahun 1830

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by spdwasikin, 2022-03-10 00:38:34

Tanam Paksa

Tanam Paksa (atau Cultuurstelsel) adalah sebuah kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dimana rakyat Hindia Belanda harus menyerahkan seperlima hasil tanaman ekspor mereka sejak tahun 1830

Ebook IPS
Kelas VIII

SMPN 3 SOREANG

TANAM PAKSA

Oleh : Wasikin

Kata Pengantar

Assalaamu "alaikum warohmatullaahi
wa barokatuh

Alhamdulillaah puja dan puji syukur
kita panjatkan ke hadirat Allaah SWT,
seingga saya dapat membuat tulisan

ini

Daftar Isi
Apakah tanam paksa itu?
Siapakah yang menerapkan tanam paksa?
Latar belakang sistem tanam paksa
Bagaimana tanam paksa dilaksanakan?
Dampak tanam paksa terhadap Indonesia
Penutup

Apakah tanam paksa itu?

Secara teori, Tanam Paksa (atau Cultuurstelsel) adalah sebuah
kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda
dimana rakyat Hindia Belanda harus menyerahkan seperlima hasil
tanaman ekspor mereka sejak tahun 1830.

Mungkin sekilas seperlima hasil pertanian terdengar
memungkinkan untuk dipenuhi, namun kenyataannya rakyat
sangat menderita karena pada implementasinya peraturan ini
sangat menyimpang dan memberi dampak buruk terhadap
ekonomi dan kesejahteraan sosial rakyat Indonesia saat itu.
Mekanisme pelaksanaan sistem ini akan dibahas lebih lanjut nanti.
Sekarang kita cari tahu dulu yuk, siapa sih yang punya ide buat
bikin sistem tanam paksa?

Siapakah yang menerapkan tanam paksa?

Kalo ngebicarain tokoh yang berperan besar dalam implementasi
sistem ini, tentu saja kita harus singgung pencetus sistem tanam
paksa yaitu Gubernur Johannes van den Bosch.

Johannes van den Bosch adalah orang berkebangsaan Belanda yang
menjabat sebagai Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-43 pada
tahun 1830-1834.

Latar belakang sistem tanam paksa

“Mengapa pemerintahan hindia belanda melaksanakan tanam paksa?”
Untuk mengetahui tujuan pemerintah kolonial belanda melaksanakan
sistem tanam paksa, lo harus tahu dulu kondisi keuangan pemerintah
Belanda saat itu. Kalo kita ngintip ke masa-masa sebelum
pemberlakuan sistem ini, kondisi kas pemerintah Belanda itu sedang
berada di ujung tanduk alias mau bangkrut.

Singkatnya sih beberapa dekade sebelumnya, Belanda terus
menerus merasakan kehilangan dana entah karena korupsi
maupun perang. Sebelumnya mungkin lo udah pernah dengar kalo
VOC, salah satu kompeni yang dulunya kebanggaan Belanda, harus
dibubarkan karena pegawainya pada korup banget dan
menggunakan dana yang terkumpul untuk kehidupan mewah dan
berfoya-foya. Bahkan, VOC meninggalkan utang sebesar 136,7 juta
gulden ketika dibubarkan pada 31 Desember 1799.

Selain masalah kompeni, Kerajaan Belanda juga harus
menghadapi hutang yang mereka dapatkan setelah
berperang. Contohnya dari Perang Napoleon, Perang
Belgia, dan Perang Diponegoro. Dari Perang Diponegoro,
Belanda diperkirakan harus mengeluarkan dana sebesar 25
juta gulden. Sedangkan dari kekalahan Perang Napoleon,
Belanda harus mengganti seluruh pengeluaran perang
kedua pihak. Gimana nggak bengkak utangnya?

Karena itulah Johannes van den Bosch diangkat menjadi
gubernur jenderal dengan harapan bisa mengolah daerah
jajahan Belanda agar menghasilkan pundi-pundi uang
untuk menutup utang tersebut dan mengisi kas Belanda.

Bagaimana tanam paksa dilaksanakan?

Untuk memahami teknis pelaksanaan sistem tanam paksa, kita
bisa lihat beberapa kebijakan yang tertuang di dalam Lembaran
Negara (Staatsblad) tahun 1834 no. 22. Supaya lebih gampang
membandingkan kebijakan secara teori dan praktiknya, kita
jadikan tabel saja ya seperti ini.

Kebijakan Tertulis Praktik Nyata

Penduduk (petani) diwajibkan untuk Lahan yang terpakai untuk tanaman
menyediakan 20% lahan pertanian ditanami penghasil komoditi ekspor jauh di atas 20%.

tanaman ekspor yang sudah ditentukan Kalo ada kelebihan panen pun nggak
pemerintah Hindia Belanda. dibalikin ke petani. Gara-gara ini petani jadi
nggak bisa menanam tumbuhan lokal untuk

kebutuhan pangan mereka sendiri.

Lahan pertanian yang digunakan untuk Sudah diminta hasil tanamannya, para petani
tanam paksa tidak dikenakan pajak. juga ternyata tetap harus bayar pajak.

Nilai jual hasil pertanian petani diatur dan Harga jual tanaman dimonopoli sehingga
ditentukan oleh pihak Belanda. nilainya rendah dan rakyat pun miskin.

Bila petani mengalami gagal panen maka Petani sendiri yang tanggung jawab.
pemerintah hindia belanda akan
bertanggung jawab.

Para petani yang menggarap lahan pertanian Para bupati dan pejabat desa yang bertugas
tanam paksa berada di pengawasan mengawasi pelaksanaan Tanam Paksa justru
penguasa pribumi.
ikut korup demi keuntungan, cape deh.

Di mana tanam paksa dilaksanakan?

Sebenarnya awalnya tanam paksa diimplementasikan di tanah
Pulau Jawa. Namun seiring berjalannya waktu, tanam paksa
juga diimplementasikan di daerah lain yang juga memiliki tanah
yang subur. Kira-kira inilah gambaran persebaran area tanam
paksa di Nusantara.

Di Pulau Jawa, daerah tanam paksa meliputi Cirebon,
Pekalongan, Tegal, Semarang Jepara, Surabaya, dan Pasuruan.
Sedangkan di Sumatera daerah tanam paksa meliputi Sumatera
Barat, Minahasa, Minangkabau, Lampung, Palembang, Ambon,
dan Banda.

Apa jenis tanaman yang menjadi fokus sistem
tanam paksa?

Tentunya jenis tanaman yang ditanam pada masa tanam paksa
ya tanaman yang laku dijual di Eropa karena memang tujuan
utamanya untuk mengekspor hasil pertanian. Oleh karena itu,
jenis tanaman yang menjadi fokus sistem tanam paksa adalah
kopi, tebu, teh, indigo (disebut juga tarum/nila), dan juga
rempah-rempah (pala, cengkih, dan lada) yang memang
merupakan komoditi favorit orang Eropa. Nah, karena jenis
tanaman yang ditanam sudah ditentukan dan memakan
sebagian besar lahan dan waktu, orang Indonesia saat itu
kesulitan menanam tumbuhan lokal seperti padi maupun
jagung untuk bahan pangan.

Dampak tanam paksa terhadap Indonesia

Diterapkannya sistem penanaman secara paksa tentu
memberikan berbagai dampak terhadap di Indonesia. Bahkan,
terdapat dampak-dampak yang mungkin mempengaruhi
keadaan Indonesia sekarang. Kira-kira apa saja ya dampak tanam
paksa terhadap kehidupan rakyat Indonesia saat itu?

Indonesia jadi kenal sama tanaman yang laku diperdagangkan
secara internasional, atau dengan kata lain jadi punya komoditas
ekspor yang laku seperti kopi, teh, tarum, dan lain sebagainya.
Tenaga buruh menjadi murah dan masyarakat pedesaan
mengenal sistem permodalan sehingga terjadi perubahan pola
transaksi dari pola transaksi tradisional ke arah pengembangan
ekonomi moneter.
Rakyat Indonesia kelaparan karena tidak bisa menanam padi
maupun jagung untuk dimakan. Korban jiwa pun tidak dapat
dihindari.
Rakyat Indonesia harus mengalami kemiskinan karena harga
diatur oleh pihak Belanda. Mereka juga masih harus membayar
pajak.
Infrastruktur Indonesia dibangun demi memperlancar distribusi
hasil tanam paksa. Contohnya jembatan, jalan raya, pelabuhan,
dan rel kereta api dikembangkan untuk mengangkut hasil tanam
paksa. Untuk bacaan lebih lanjut, coba deh cek sejarah kereta api
di Indonesia.
Penerapan sistem yang tidak manusiawi ini mendapatkan banyak
kritik dari pejuang Indonesia serta aktivis HAM di Belanda. Pada
akhirnya sistem ini dihentikan pada tahun 1970. Untuk
“membalas budi” terhadap rakyat Hindia Belanda (Indonesia),
Belanda menerapkan sistem Politik Balas Budi atau yang juga
dikenal sebagai Politik Etis.

Penutup

A. Kesimpulan

Tanam paksa adalah suatu aturan yang sengaja ditetapkan oleh
Belanda untuk mengisi kekosongan kas Negara Belanda dari
pembiayaan biaya perang melawan Belgia maupun di
Indonesia, serta Karena hutang luar negeri Belanda. Namun,
secara tidak langsung setelah diutusnya Van Den Bosch, maka
ia menetapkan aturan-aturan tanam paksa yang ternyata
adalah kebalikan dari aturan-aturan tanam paksa yang telah
dibentuk sebelumnya di Belanda.

Jadi, intinya apabila bangsa Indonesia tidak melakukan

perubahan pada aspek iptek, bangsa Indonesia akan tergilas

bangsa lain dan dapat dibodoh-bodohi dan dimanfaatkan

kelemahan Indonesia untuk keuntungan bangsa lain. Oleh

karena itu, marilah kita sebagai Bangsa Indonesia bersama-

sama mewujudkan Indonesia untuk tidak dapat lagi dibodoh-

bodohi.




B. Saran

Demikianlah pembuatan makalah ini, penulis juga menyadari

makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan maka

dari pada itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari

pembaca demi perbaikan makalah yang akan datang akan lebih

baik lagi. Kritik dan saran penulis ucapkan terima kasih.

Jelaskan Pertanyaan di bawah ini!

1. Jelaskan bagaimana penderitaan bangsa Indonesia akibat
penjajahan pada masa VOC!

2. Faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi Belanda
menerapkan sistem Tanam Paksa di Indonesia?

3. Siapakah yang menerapkan tanam paksa?

4. Di manakah tanam paksa dilaksanakan?

5. Bagaimanakah sikap kalian sebagai pemuda memaknai
kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pejuang?

"Berdoa saja tidak cukup. Belajar
dengan baik adalah bukti bahwa doa
Anda serius. Belajar adalah ibadah."


Click to View FlipBook Version