A. PENDAHULUAN
Menurut Suharsimi Arikunto (2000), instrumen pengurnpulan data adalah alat bantu yang dipilih
dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi
sistematis dan dipermudah olehnya.
Ibnu Hadjar (1996) berpendapat bahwa instrumen rnerupakan alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.
Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata (2008) adalah alat yang digunakan
untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis.
Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut
non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah
pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat
bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variable
yang sedang diteliti.
Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian,
karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas instrumen
yang digunakan disamping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami
karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang
digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel maka data yang
diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan.
Sedang jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan
reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di
lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan instrumen yang
telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah
tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah dianggap baku untuk rnengumpulkan data
variabel-variabel tertentu.
Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan data variabel
penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut, dengan catatan bahwa teori
yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam
penelitian kita. Selain itu, konstruk variable yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan
konstruk variabel yang hendak kita ukur dalam penelitian kita. Akan tetapi, jika instrumen yang
baku belum tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian maka instrumen untuk
mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti.
Dalam rangka memahami tentang pengembangan instrumen, maka berikut ini akan dibahas
mengenai beberapa hal yang terkait dengan itu di antaranya langkah-langkah penyusunanan dan
pengembangan instrumen, teknik penyusunan dan penilaian butir instrumen, proses validasi
konsep melalui panel, dan proses validasi empirik melalui ujicoba.
B. PENDAHULUAN
1. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU):
Setelah mempelajari e-modul ini, peserta mampu menyusun pengumpulan data dasar.
2. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK):
Setelah mempelajari e-modul ini, mahasiswa mampu .
a. Mengetahui pengertian instrument
b. Mengetahui tujuan penyusunan instrument
c. Mengetahui manfaat penyusunan instrument
d. Mengetahui jenis-jenis instrument
e. Mengetahui tehnik penyusunan instrument
f. Mengetahui proses penyusunan dan uji coba instrument
C. URAIAN MATERI
Langkah-Langkah Pengembangan Instrumen
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti adalah mengkaji secara teoritik tentang
substansi yang akan diukur. Peneliti harus menentukan defenisi konseptual kemudian definisi
operasional. Selanjutnya definisi operasional ini dijabarkan menjadi indikator dan butir-butir.
Menurut Tim Pusisjian (1997/1998), ada enam langkah untuk mengembangkan instrumen alat ukur,
yaitu:
1. Menyusun spesifikasi alat ukur termasuk kisi-kisi dan indikator
2. Menulis pertanyaan
3. Menelaah pertanyaan
4. Melakukan ujicoba
5. Menganalisis butir instrument
6. Merakit instrument dan memberi label
Spesifikasi alat ukur ini mencakup: tujuan pengukuran, kisi-kisi instrumen, skala pengukuran,
dan panjang instrumen. Oleh karenanya dalam menentukan spesifikasi alat ukur berarti
menentukan tujuan instrumen, mengembangkan kisi-kisi instrumen, menentukan skala
pengukuran, dan menentukan panjang instrumen.
Menurut Pudji Muljono (2002), secara garis besar langkah-langkah penyusunan dan
pengembangan instrumen adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan sintesis dari teori-teori yang dikaji tentang suatu konsep dari variabel yang hendak
diukur. kemudian dirumuskan konstruk dari variable tersebut. Konstruk pada dasarnya adalah
bangun pengertian dari suatu konsep yang dirumuskan oleh peneliti.
2. Berdasarkan konstruk tersebut dikembangkan dimensi dan indikator variable yang
sesungguhnya telah tertuang secara eksplisit pada rumusan konstruk variabel pada langkah 1.
3. Membuat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi, indikator,
nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator.
4. Menetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari
suatu kutub ke kutub lain yang bedawanan, misalnya dari rendah ke tinggi, dari negatif ke
positif, dari otoriter ke demokratik, dari dependen ke independen, dan sebagainya.
5. Menulis butir-butir instrumen yang dapat berbentuk pernyataan atau pertanyaan. Biasanya
butir instrumen yang dibuat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok butir positif dan
kelompok butir negatif. Butir positif adalah pernyataan mengenai ciri atau keadaan, sikap atau
persepsi yang positif atau mendekat ke kutub positif, sedang butir negative adalah pernyataan
mengenai ciri atau keadaan, persepsi atau sikap negatif atau mendekat ke kutub negatif.
6. Butir-butir yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi,
baik validasi teoretik maupun validasi empirik.
7. Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoretik, yaitu melalui pemeriksaan pakar
atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh dimensi merupakan jabaran
yang tepat dari konstruk, seberapa jauh indikator merupakan jabaran yang tepat dari dimensi,
dan seberapa jauh butir-butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator.
8. Revisi atau perbaikan berdasarkan saran dari pakar atau berdasarkan hasil panel.
9. Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoretik atau secara konseptual, dilakukanlah
penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan ujicoba.
10.Ujicoba instrumen di lapangan merupakan bagian dari proses validasi empirik. Melalui ujicoba
tersebut, instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji-coba yang
mempunyai karakteristik sama atau ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian. Jawaban
atau respon dari sampel ujicoba merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji
validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan.
11.Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan kriteria baik criteria intemal maupun kriteria
eksternal. Kriteria intemal, adalah instrumen itu sendiri sebagai suatu kesatuan yang dijadikan
kriteria sedangkan criteria ekstemal, adalah instrumen atau hasil ukur tertentu di luar
instrument yang dijadikan sebagai kriteria.
12.Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh kesimpulan mengenai valid atau tidaknya sebuah butir
atau sebuah perangkat instrumen. Jika kita menggunakan kriteria internal, yaitu Skor total
instrumen sebagai maka keputusan pengujian adalah mengenai valid atau tidaknya instrument
dan proses pengujiannya biasa disebut analisis butir. Dalam kasus lainnya, yakni jika kita
menggunakan kriteria eksternal, yaitu instrumen atau ukuran lain di luar instrumen yang dibuat
yang dijadikan kriteria maka keputusan pengujiannya adalah mengenai valid atau tidaknya
perangkat instrumen sebagai suatu kesatuan.
13.Untuk kriteria intemal atau validitas internal, berdasarkan hasil analisis butir maka butir-butir
yang tidak valid dikeluarkan atau diperbaiki untuk diujicoba ulang, sedang butir-butir yang valid
dirakit kembali menjadi sebuah perangkat instrumen untuk melihat kembali validitas kontennya
berdasarkan kisi-kisi. Jika secara konten butir-butir yang valid tersebut dianggap valid atau
memenuhi syarat, maka perangkat instrumen yang terakhir ini menjadi instrumen final yang
akan digunakan untuk mengukur variabel penelitian kita
14.Selanjutnya dihitung koefisien reliabilitas. Koefisien reliabilitas dengan rentangan nilai (0-1)
adalah besaran yang menunjukkan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen. Makin tinggi
koefisien reliabilitas makin tinggi pula kualitas instrumen tersebut. Mengenai batas nilai
koefisien reliabilitas yang dianggap layak tergantung pada presisi yang dikehendaki oleh suatu
penelitian. Untuk itu kita dapat merujuk pendapat-pendapat yang sudah ada, karena secara
eksak tidak ada tabel atau distribusi statistik mengenai angka reliabilitas yang dapat dijadikan
rujukan.
15.Perakitan butir-butir instrumen yang valid untuk dijadikan instrumen final.
Alur tahapan penyusunan dan pengembangan instrumen dapat dilihat pada Gambar 5.
Variabel Teori Konstruk Definisi
Konseptual
Menyusun Penetapan Definisi
butir jenis Konseptual
instrumen instrumen
Gambar 5. Tahapan penyusunan dan pengembangan instrument
Dari bagan tersebut terlihat bahwa untuk keperluan penyusunan dan pengembangan instrumen
pertama-tama adalah penetapan konstruk variable penelitian yang merupakan sintesis dari teori-
teori yang telah dibahas dan dianalisis yang penyajiannya diuraikan dalam pengkajian teoretik atau
tinjauan pustaka.
Konstruk tersebut dijelaskan dalam definisi konseptual variabel, yang di dalamnya tercakup
dimensi dan indikator dari variabel yang hendak diukur. Berdasarkan konstruk tersebut ditetapkan
indikator-indikator yang akan diukur dari variable tersebut.
Selanjutnya item-item instrumen dibuat untuk mengukur indikator-indikator yang telah
ditetapkan dengan cara seperti telah dikemukakan pada proses penyusunan dan pengembangan
instrumen point 4 dan 5. Karena bentuk item-item instrumen yang akan dibuat harus sesuai dengan
instrument yang dipilih, maka sebelum menulis item-item instrumen terlebih dahulu peneliti harus
memilih jenis instrumen apa yang sesuai untuk mengukur indikator dari variabel yang akan diteliti.
Jenis-jenis Instrumen Penelitian
Ada beberapa jenis instrumen yang biasa digunakan dalam penelitian, yaitu:
1. Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat Iain yang digunakan untuk
mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok Beberapa alat Iain yang biasa di gunakan dalam kegiatan pengumpulan
data dasar gizi ialah dacin atau weighing scale untuk memperoleh data berat badan,
penggunaan microtoice untuk data tinggi badan, alat Haemocue untuk mengetahui kadar Hb
pada responden, dll.
2. Angket atau kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh
informasi dari responden dalam arti Iaporan tentang pribadinya, atu hal-hal yang ia ketahui.
3. Interviu (interview).
Interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk
mencari data tentang variabel Iatar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap
terhadap sesuatu.
4. Observasi.
Di dalam artian penelitian observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung,
observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman
observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati.
5. Skala bertingkat (ratings).
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif yang dibuat
berskala.WaIaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan
informasi tertentu tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah
memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas,
yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat. Di dalam menyusun skala, yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana menentukan variable skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang
dapat diamati responden.
6. Dokumentasi.
Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam
melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-
buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan sebagainya.
Kuesioner merupakan instrument yang paling umum digunakan dalam kegiatan pengumpulan
data dasar gizi. Sebuah kuesioner paling tidak memiliki 4 (empat) syarat, antara Iain :
1. Sesual dongan tujuan penelitian
Kuesioner sebagai alat untuk menjawab tujuan penelitian. Oleh karena itu kuesioner yang
disusun tidak berdasarkan tujuan penelitian akan menghasilkan data yang tidak valid dan pada
akhirnya sulit untuk diolah, dianalisis serta pengambilan kesimpulan.
2. Mudah ditanyakan kepada responden
Setiap pertanyaan yang terdapat pada kuesioner harus pilihan kata yang tepat dan tidak
bermakna ganda, agar enumerator atau petugas pengumpul data memiliki pemahaman yang
sama terhadap setiap pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner.
3. Mudah dijawab oleh responden
Pertanyaan yang terdapat pada kuesioner harus mudah difahami oleh responden agar mereka
dapat memberikan respons yang düngtlkan dari pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang
sulit difahami oleh responden akan menyebabkan kesalahan penafsiran yang berujung kepada
tidak validnya data yang diperoleh.
4. Mudah diolah dan dianalisis
Pada akhirnya sebuah set data harus diolah dan dianalisis, oleh karena itu ketiga poin di atas
sangat penting diperhatikan dalam penyusunan kuesioner agar kuesioner mudah diolah dan
dianalisis.
Sebelum kita membahasa tentang hal-hal yang periu diperhatikan dalam penyusunan
kuesioner, maka terdapat beberapa hal yang pertu diketahui sehubungan dengan karakteristik
responden saat menjawab pertanyaan yang diajukan, yaitu :
1. Responden tidak atau kurang memahami pertanyaan yang diajukan, sehingga respons mereka
biasanya tidak sesuai dengan jawaban diinginkan.
2. Responden tidak ingat terhadap peristiwa atau pertanyaan yang diajukan.
3. Pertanyaan-pertanyaan pribadi umumnya sulit respons yang baik dari responden, contoh :
pendapatan. pengeluaran, berat badan, dll
4. Responden tidak mampu menguraikan jawabannya meskipun ia sesungguhnya mengerti
pertanyaan yang diajukan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di dalam
kuesioner harus didesain sedemikian rupa dengan menganut beberapa prinsip dasar, antara
lain:
1. Kuesioner harus diawali dengan sebuah kata pengantar atau perkenalan singkat yang
menjelaskan siapa anda (pewawancara) sesungguhnya dan apa tujuan dari kegiatan wawancara
ini.
2. Pertanyaan harus disusun dari pertanyaan yang sifatnya mudah hingga pertanyaan yang
membutuhkan jawaban yang sulit dijawab oleh responden
3. Maksud pertanyaan harus jelas untuk menghindari bias
4. Pertanyaan dibuat sedemikian rupa agar responden dapat mengingat sebuah peristiwa yang
ditanyakan
5. Jangan menempatkan dua pertanyaan dalam satu poin pertanyaan, buat pertanyaan se-spesifik
mungkin.
6. Jawaban sebaiknya tidak dibatasi, tetap member ruang bagi responden untuk memiliki jawaban
sendiri, jawaban tersebut biasanya digolongkan dalam kategori jawaban lainnya.
7. Jangan membacakan pilihan jawaban kepada responden, hal tersebut bertujuan untuk
menghindari jawaban yang tidak sesuai dengan kondisi yang dialami oleh responden
8. Konsisten menggunakan kode jawaban
Secara umum, terdapat 3 (tiga) komponen penting dalam sebuah kuesioner, antara Iain :
1. Pengantar
Umumnya sebuah kuesioner dimulai dengan sebuah judul penelitian pengumpulan data,
dilanjutkan dengan sebah penjelasan tentang maksud dan tujuan pengumpulan data
2. Pertanyaan pembuka
Biasanya pertanyaan dalam bentuk informasi sosio-demografi dari respondem seperti : Narre,
umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, dll.
3. Pertanyaan Pokok
Bagian ini berisi pertanyaan sesuai dengan variable yang akan diukur atau sesuai dengan tujuan
pengumpulan data.
Instrumen Iain yang sering digunakan dalam kegiatan pengumpulan data dasar ialah alat
ukur antropometri yang terdiri atas timbangan berat badan. alat ukur tinggi dan panjang badan, alat
ukur lingkar lengan atas, alat ukur tebal lemak, alat ukur kadar Hb, dan Iain-lain. Berikut prosedur
beberapa alat ukur antropometri tersebut :
Alat Ukur Berat Badan
1. Persiapan alat
a. Tempatkan alat pada permukaan yang rata dan datar, perhatikan keseimbangan timbangan
sebelum melakukan pengukuran
b. Lakukan kalibrasi dengan menimbang minuman mineral ukuran 1.5 liter sebanyak 2 buah,
jika angka timbangan menunjukkan angka 3.0 kg, maka timbangan berada dalam kondisi
yang baik.
2. Cara Menimbang Berat Badan
a. Minta kepada subjek untuk menanggalkan sementara pemak-pemik yang bisa mengganggu
hasil penimbangan, seperti sepatu, kaos kaki, dompet, handphone, topi, dll.
b. Jelaskan kepada subjek prosedur penimbangan sebagai berikut subjek harus berdiri tanpa
bantuan ditengah alat ukur, tatapan lurus ke depan, berdiri rileks dan tidak banyak
bergerak.
c. Minta kepada subjek untuk menjalankan prosedur penimbangan dengan baik dan benar
sesuai dengan penjelasan sebelumnya.
d. Catat berat badan subjek pada formulir yang sudah disediakan. Berat badan harus dicatat
mendekati angka 0.1 kg
Khusus untuk anak balita, jika alat ukur berat badan menggunakan dacin, maka berikut
langkah-langkah penimbangan dengan menggunakan dacin:
Langkah 1 : Gantungkan dacin pada dahan pohon, palang rumah atau penyanggah khusus
yang sudah dibuat sebelumnya, serta pasang tali pengaman pada ujung batangan dacin. Pastikan
posisi batang dacin harus sejajar dengan mata orang yang akan membaca hasll penimbangan
Langkah 2 : Periksa apakah dacin sudah tergantung kuat. Cara untuk memeriksa ialah
dengan cara menarik dacin kuat-kuat ke bawah. Hal tersebut sangat penting karena berhubungan
dengan keselamatan balita yang akan ditimbang. Jika dacin tidak tergantung kuat dan terjadi
insiden dlmana dacin terlepas dan menimpa balita yang ditimbang, maka hal tersebut akan
berhubungan dengan hukum dan pihak yang berwajib.
Langkah 3 : Geser bandul dacin pada angka nol. Langkah 4 : Pasang sarung timbang.
Langkah 5 : Seimbangkan dacin dengan cara menggantung kantong (bisa terbuat dari kantong
plastic atau kain yang dibuat khusus) yang berisi pasir pada Ujung batang dacin. Penggunaan pasir
dlmaksudkan agar proses penyeimbangan dapat dilakukan dengan mudah, kalau tidak ada pasir,
beras atau jagung juga boleh.
Langkah 6 : Masukkan balita ke dalam sarung timbang dan seimbangkan dacin. Hal-hal yang
perlu di perhatikan sebelum anda memasukan balita ke dalam sarung timbang ialah pastikan
pakaian yang digunakan anak seminimal mungkin, Iepaskan topi (jika menggunakan topi), sepatu,
kaos kaki, pempers. dll. Tindakan tersebut bertujuan agar barang-barang tersebut tidak
mempengaruhi berat badan balita yang sesungguhnya. Pada bagian ini dibutuhkan keterampilan
dan kesabaran seorang Kader Posyandu untuk membaca hasil penimbangan, karena umumnya
balita akan meronta dan membuat dacin sulit untuk diseimbangkan.
Langkah 7 : Tentukan berat badan balita dengan mernbaca angka yang terdapat pada ujung
bandul geser. Langkah 8 : Catat hasil penimbangan. Langkah 9 : Geser kembali bandul geser ke
angka nol, letakkan batang dacin pada tali pengaman, selanjutnya keluarkan anak pada sarung
timbang.
Alat Ukur Tinggi Badan
1. Persiapan alat
a. Letakkan microtoise di lantai yang rata dan menempel pada dinding yang rata dan tegak
lurus
b. Tarik pita meteran tegak lurus ke atas sampai angka pada jendela baca menunjukan angka
nol
c. Paku/tempelkan ujung pita meteran pada dinding
d. Geser kepala microtoise ke atas
2. Cara mengukur tinggi badan
a. Pastikan sepatu/alas kaki, kaos kaki dan hiasan rambut sudah dilepaskan.
b. Posisikan subjek berdiri tegak lurus di bawah microtoise membelakangi dinding
c. Posisikan kepala subjek berada di bawah alat geser microtoise, pandangan lurus ke depan
d. Posisikan subjek tegak bebas, bagian belakang kepala, tulang belikat, pantat dan tumit
menempel ke dinding. Karena posisi ini sulit dilakukan pada anak obesitas, maka tidak perlu
keempat titik tersebut menempel ke dinding, asalkan tulang belakang dan pinggang dalam
posisi seimbang (tidak membungkuk ataupun tengadah)
e. Posisikan kedua lutut dan tumit rapat
f. Pastikan posisi kepala sudah benar dengan mengecek garis Frankfort.
g. Tarik kepala microtoise sampai puncak kepala anak
h. Baca angka pada jendela baca dan mata pembaca harus sejajar dengan garis merah
i. Angka yang dibaca adalah yang berada pada garis merah dari angka kecil ke arah angka
besar dan
j. Catat hasil pengukuran tinggi badan
Alat Ukur Panjang Badan
1. Persiapan alat
a. Pilih meja atau tempat yang datar dan rata. Siapkan alat ukur panjang badan
b. Lepaskan kunci pengait yang berada di samping papan pengukur
c. Tarik meteran sampai menempel rapat pada dinding tempat menempelnya kepala dan
pastikan meteran menunjuk angka nol dengan mengatur skrup skala yang ada di bagian kaki
balita
d. Buka papan hingga posisinya memanjang dan datar
e. Tarik meteran sampai menempel rapat pada dinding ternpat menempelnya kepala dan
pastikan meteran angka nol
f. Geser kembali papan penggeser pada tempatnya
2. Cara mengukur tinggi badan
a. Telentangkan anak di atas papan pengukur dengan posisi kepala menempel pada bagian
papan yang datar dan tegak lurus (papan yang tidak dapat bergerak)
b. Pastikan bagian puncak kepala menempel pada bagian papan yang statis
c. Pastikan posisi kepala sudah benar dengan mengecek garis Frankfort tegak lurus terhadap
papan pengukur
d. Posisikan bagian belakang kepala, punggung, pantat dan tumit menempel secara tepat pada
papan pengukur
e. Geser bagian papan yang bergerak sampai seluruh bagian kedua telapak kaki menempel
pada bagian papan yang dapat digeser (dengan cara menekan bagian lutut dan mata kaki).
Bila sulit dilakukan, dibenarkan hanya satu telapak kaki yang menempel di papan geser.
f. Baca panjang badan anak dari angka kecil ke angka besar dan catat.
Prosedur Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
Menurut Ibnu Hadjar (1996), kualitas instrumen ditentukan oleh dua kriteria utama: validitas
dan reliabilitas. Validitas suatu instrumen menurutnya menunjukkan seberapa jauh ia dapat
mengukur apa yang hendak diukur. Sedangkan reliabilitas menunjukkan tingkat konsistensi dan
akurasi hasil pengukuran.
Sumadi Suryabrata (2008) mengemukakan bahwa validitas instrument didefinisikan sebagai
sejauh mana instrumen itu merekam/mengukur apa yang dimaksudkan untuk direkam/diukur.
Sedangkan reliabilitas instrumen merujuk kepada konsistensi hasil perekaman data
(pengukuran) kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok orang yang sama dalam
waktu berlainan, atau kalau instrumen itu digunakan oleh orang atau kelompok orang yang berbeda
dalam waktu yang sama atau dalam waktu yang berlainan.
Menurut Burhan Bungin (2005) Validitas alat ukur adalah akurasi alat ukur terhadap yang diukur
walaupun dilakukan berkali-kali dan di mana-mana. Sedangkan reliabilitas alat ukur menurutnya
adalah kesesuaian alat ukut dengan yang diukur. sehingga alat ukur itu dapat dipercaya atau dapat
diandalkan, Misalnya, menimbang beras dengan timbangan beras. Mengukur panjang kain dengan
meter, dan sebagainya.
Ada tiga lenis pengujian Validitas Instrumen
1. Pengujian Validitas konstruk
Instrumen yang mempunyai validitas konstruk jika instrument tersebut dapat digunakan
untuk mengukur gejala sesuai dengan dengan yang didefinisikan. Misalnya akan mengukur pola
makan anak balita. maka pedu didefinisikan terlebih dahulu apa itu pola makan. Setelah itu
disiapkan instrumen yang digunakan untuk mengukur pola makan sesuai dengan definisi.
Untuk menguji validitas konstruk. maka dapat digunakan pendapat ahli. Setelah
instrument dikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur, dengan berlandaskan teori
tertentu, maka selanjutnya dikonsuttasikan dengan ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang
instrumen yang telah disusun itu. Jumlah tenaga ahli yang digunakan minimal tiga orang, dan
umumnya mereka telah bergelar doktor sesuai dengan lingkup yang diteliti.
Setelah pengujian konstruk dengan ahli, maka diteruskan dengan uji coba instrumen-
Setelah data ditabulasi, maka pengujian validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor, yaitu
dengan mengkorelasikan antar Skor item instrumen.
2. Pengujian Validitas Isi
Instrumen yang harus memiliki validitas isi adalah instrumen yang digunakan untuk
mengukur prestasi belajar dan mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan. Untuk
menyusun instrurnen prestasi belajar yang mempunyai validitas isi, maka instrumen harus
disusun berdasarkan materi pelajaran yang telah diajarkan. Sedangkan instrument yang
digunakan untuk mengetahui pelaksanaan program, maka instrumen disusun berdasarkan
program yang telah direncanakan.
Untuk instrurnen yang berbentuk tes, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan
dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Jika
dosen memberikan ujian di luar pelajaran yang telah ditetapkan, berarti instrumen ujian
tersebut tidak mempunyai validitas isi.
Secara teknis, pengujian validitas konstruksi dan validitas isi dapat dibantu dengan
menggunakan kisi-kisi instrument, dalam kisi-kisi tersebut terdapat variabel yang diteliti,
indikator sebagai tolak ukur, dan nomor butir (item) pertanyaan atau pernyataan yang telah
dijabarkan dari indikator. Dengan kisi-kisi instrumen itu, maka pengujian validitas dapat
dilakukan dengan mudah dan sistematis.
3. Pengujian Validitas Ekstemal
Validitas ekstemal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari
kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di
lapangan.
Misalnya instrumen untuk mengukur kinerja kader posyandu. Maka kriteria kinerja pada
instrumen tersebut dibandingkan dengan catatan-catatan di lapangan (empiris) tentang kinerja
yang baik. Bila telah terdapat kesamaan antara kriteria dalam instrumen dengan fakta di
lapangan, maka dapat dinyatakan instrumen tersebut mempunyai Validitas ekstemal yang
tinggi.
Pengujian reliabilitas instrumen menurut Sugiyono (2010) dapat dilakukan secara ekstemal
dan intemal. Secara eksternal, pengujian dilakukan dengan test—retest (stability), equivalent, dan
gabungan keduanya. Secara internal pengujian dilakukan dengan menganalisis konsistensi butir-
butir yang ada pada instrumen dengan teknik-teknik tertentu.
1. Test retest
Instrumen penelitian dicobakan beberapa kali pada responden yang sama dengan
instrumen yang sama dengan waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi
antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan,
maka instrument tersebut sudah dinyatakan reliabel.
2. Ekuivalen
Instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi
maksudnya sama misalnya, berapa tahun pengalaman Anda bekerja di lembaga ini? Pertanyaan
tersebut ekuivalen dengan tahun berapa Anda mulai bekerja di lembaga ini? Pengujian dengan
cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua dan berbeda, pada responden yang
sama. Reliabilitas diukur dengan cara mengkorelasikan antara data instrument yang satu dengan
instrumen yang dijadikan ekuivalennya. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrument
dapat dinyatakan reliabel.
3. Gabungan
Pengujian dilakukan dengan cara mencobakan dua instrument yang ekuivalen beberapa
kali ke responden yang sama cara ini merupakan gabungan dari test-retest (stability) dan
ekuivalen.
Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen, setelah itu
dikorelasikan pada pengujian kedua dan selanjutnya dikorelasikan secara silang. Jika dengan dua
kali pengujian dalam waktu yang berbeda, maka akan dapat dianalisis keenam koefisien
reliabilitas. Bila keenam koefisien korelasi itu semuanya positf dan signifikan, maka dapat
dinyatakan bahwa instrurnen itu reliabel.
4. Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan
instrument sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik-teknik tertentu.
Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen. Pengujan reliabilitas
instrumen dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (Split half), KR20,
KR21 dan Anova Hoyt.
D. SOAL LATIHAN
Berdasarkan uraian materi di atas, jawablah pertanyaan yang ada di bawah ini:
1. Mengetahui pengertian dan tujuan penyusunan instrument !
2. Mengetahui manfaat penyusunan instrument !
3. Mengetahui jenis-jenis instrument !
4. Mengetahui tehnik penyusunan instrument !
5. Mengetahui proses penyusunan dan uji coba instrument !