The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KD 3.4 Menghargai Nilai dan Makna Sumpah Pemuda Bagi Kehidupan Bangsa di Indonesia Pada Masa Kini

Untuk jenjang sekolah SMA kelas XI/Semester 1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jasuma damayanti, 2020-12-30 08:11:46

E-MODUL SUMPAH PEMUDA DAN NILAI MAKNA SUMPAH PEMUDA

KD 3.4 Menghargai Nilai dan Makna Sumpah Pemuda Bagi Kehidupan Bangsa di Indonesia Pada Masa Kini

Untuk jenjang sekolah SMA kelas XI/Semester 1

Keywords: latar belakang sumpah pemuda,kongres pemuda I,kongres pemuda II,nilai dan makna sumpah pemuda

E-Modul

SEJARAH
INDONESIA

(Sumpah Pemuda dan Nilai
dan Makna Sumpah Pemuda)

SMA KELAS XI
SEMESTER 1

Daftar Isi

Latar Belakang Sumpah
Pemuda.................................................... 1

A. Politik Etis: Pintu Pembuka Pendidikan
Modern............................................................... 1
B. Pers Membawa
Kemajuan.......................................................... 3
C. Bangkitnya
nasionalisme.................................................... 4

Kongres Pemuda I dan Kongres
Pemuda II................................................. 7
A. Kongres Pemuda I .................................... 7
B. Kongres Pemuda II .................................. 14
Nilai dan Makna Sumpah
Pemuda................................................. 20
A. Nilai Sumpah Pemuda .......................... 20
B. Makna Sumpah Pemuda ...................... 21

Evaluasi................................................. 22

Daftar Pustaka..................................... 25

KATA PENGANTAR

dlpaaePtdPpbmsaesaeaeePranpumtrhubmuadkdaujeltaaipiirdlsjSthiaaya-aeynjkhiadurdudyaaniskgkankaergeeaainunglp.kdenmrgPNeetasakebenleiapilnerunrymaiabuhkkuuniteiaaauMlsnidinlndnsutapiati.andibrauakEdaaimemnknd-nanrmdnaaabhnAuyElaoiSaalmaa-lfdrlummdnaasauamahopnupbkllpdyamiaeSnEnaumalaW-bpiahm.lbisajSkTlaPeauohe.urerdmtahpmsimuestieepdraiplumjkajiuasaandahpruhdianaadihna.

KOMPETENSI INTI

KI 3 (Pengetahuan):
Memahami, menerapkan, dan
menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang
ilmu pengetahuan, teknologi, seni
budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah

KOMPETENSI DASAR

KD 3.4:
Menghargai nilai dan
makna sumpah pemuda
bagi kehidupan bangsa
di Indonesia pada masa
kini

MIND
MAPPING

Latar Belakang
Sumpah Pemuda

A. Politik Etis: Pintu Pembuka Pendidikan Modern

Memasuki awal abad ke-20, kebijakan pemerintah kolonial
mendorong untuk menguasai seluruh wilayah Nusantara.
Serangkaian tindakan perjanjian Belanda telah
menimbulkan banyak perlawanan dari pihak Bangsa
Indonesia. Sayangnya perlawanan dalam menghadapi
kolonialisme dan imperalisme masih bersifat lingkup
daerah.

1

Sementara itu kebijakan kolonial juga menerapkan
kebijakan ekonomi yang bermasis pada sistem
kapitalisme barat, melalui komeralisasi, sistem moneter
dan komoditas barang. Sistem tersebut disukung
dengan kebijakan pajak tanah, sistem perkebunan,
perbankan, perundustria, perdagangan dan pelayaran.
Dampak dari semua itu, kehidupan rakyat Hindia
Belanda mengalami penurunan kesejahteraan.

Hal tersebut mendapat kritikan

dari Van Deventer sebagai

pemimpin liberal mempunyai

pengaruh besar karena

karangannya "Hutang

Kehormatan" tahun 1899. Ia

mengecam politik keuangan

Belanda yang tidak

memisahkan keuangan negeri

induk dari negeri jajahan

(Soejono, R.P, Leirissa, 2010:

22).

(Van Deventer) 2

Dalam laporan-laporan itu terbukti bahwa tidak lagi politik
kolonial liberal dianut sepenuhnya, tetapi tidak ada
kecenderungan untuk memberikan kesempatan kepada
negara untuk campur tangan. Negeri Belanda diharapkan
memberikan sumbangan untuk memajukan keadaan di
Indonesia. Yang utama adalah kepentingan material, tanpa
diperhitungkan apa yang sesungguhnya menjadi
keperluan rakyat (Soejono, R.P, Leirissa, 2010: 24).

Fock berpendapat bahwa pendidikan yang
lebih baik akan memperkuat kaum pribumi
dalam, administrasi, ia juga menyarankan
agar diusahakan irigasi, pembangunan jalan
rel kereta api, pembelian kembali tanah-
tanah pertikelir, untuk memajukan
kesejahteraan rakyat disarankan agar
diperbanyak bagunan irigasi, pemberian
kredit untuk pertanian, dan mendorong
industri (Soejono, R.P, Leirissa, 2010: 23).
Dalam pidatonya tahun 1901, Ratu
Wilhelmina mencanangkan dilaksanakannya
kebijakan Politik Etis (Lapian, A. B, dkk,
2012:212).

3

Ada 3 program kebijakan Politik Etis yaitu irigasi, edukasi
(pendidikan), dan transmigrasi membawa pengaruh
besar terhadap perubahan arah kebijakan politik negeri
Belanda atas negeri jajahan. Pada era itu mulai muncul
simbol baru yaitu "Kemajuan". Kemudian yang membawa
pengaruh paling besar pada saat itu adalah pada bidang
edukasi (pendidikan) yang memunculkan kaum-kaum
terpelajar.

(Irigasi) (Edukasi)

(Transmigrasi) 4

B. Pers Membawa Kemajuan

Munculnya pers di Indoneisa berkaitan erat dengan
keberadaan masyarakat Belanda, yang telah dimulai sejak
zaman VOC. Sampai dengan paruh pertama abad XIX,
sistem pers di Indonesia bersifat otoriter. Situasi otoriter di
Indonesia ketika itu tidak berada dengan kondisi di Eropa
pada abad XVII dan XVIII yang merefleksikan kekuasaan
politik otoriter yang berakibat pula ada kehidupan pers
(Lapian, A. B, dkk, 2012:297).

Pada awal abad ke XX, orang-orang

swasta Belanda ,masih bergerak juga

dalam penerbitan pers yang

berbahasa Melayu-Tionghoa/

Melayu-Cina. Di Batavia muncul

Pemberita Betawi (1884-1914), dan

Bintang Betawi (1893-1906). Pada

awal abad XX, seiring dengan

kebangkitan nasionalisme Cina di

Jawa, orang-orang Cina penarakan

juga ikut meramaikan usaha

penerbitan surat kabar (Lapian, A. B,

dkk, 2012:299).

5

R.M. Koesoemo Oetoyo dapat

disebut sebagai orang Jawa

pertama yang menerbitkan surat

kabar yakni Pertawa Prijaji (pada

pertengahan 1900). Tokoh pers

bumiputra lainnya yang dikenal

sebagai pelopor jurnalistik

Indonesia adalah raden Mas

Djokomono, yang berganti nama

(Surat Kabar menjadi Raden mas
Medan Prijaji 1910)
Tirtoadisoerjo. Tokoh ini

menerbitkan surat kabar yakni,

Medan Prijaji (1910) (Lapian, A. B,

dkk, 2012:299).

Surat kabar yang paling banyak

mendapat perhatian dari kolonial

Belanda adalah De Ekpress, yang

pelopornya adalah Douwes Dekker,

Tjipto Mangoenkoesoemo, dan

Soewardi Soejaningrat, Surat kabar

tersebut berbahasa Belanda yang

mengekspresikan cita-cita untuk

mencapai kesatuan dan

kemerdekaan Indonesia, karena

sikap politik ini, Tiga orang

Serangkai ini diasingkan ke negeri

Belanda tahun 1913 (Lapian, A. B, (Surat Kabar 6
De Ekpress)
dkk, 2012:300).

C. Bangkitnya Nasionalisme

Munculnya kelompok priyayi baru ini memunculkan pergerakan
kebudayaan yang terorganisir yang dicetuskan anata 1906-1908.
Hal ini terwujud atas berkat kegiatan pensiunan dokter Jawa,
wahidin Sudirohusodo yang berusaha meningkatkan martabat
bangsa Jawa melalui pengetahuan barat maupun warisan
budaya bangsa sendiri. Berkat dukungan dua orang siswa
STOVIA, Soetomo dan Gunawan, hasil perjuangan pemuda pada
masa awal ini akhirnya memungkinkan berdirinya Organisasi
Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 (Lapian, A. B, dkk,
2012:353).

(Organisasi Budi
Utomo)

7

Organisasi berikutnya adalah Sarekat Islam (SI). Pada
mulanya SI ini lahir karena adanya dorongan dari R.M.
Tirtoadisuryo. tahun 1909 ia mendirikan perkumpulan
dagang bersma yang bernama Sarekat Dagang Islam
(SDI). Tahun 1911, K.H Samanhudi secara resmi mendirikan
SDI dan pada tahun 1912 nama SDI berubah menjadi SI
oleh HOS. Coakroaminoto.

Tahun 1912 berdiri organisasi bercorak politik yakni,
Indische Partij. Pendiri oragnisasi tersebut dikenal
dengan sebutan "Tiga Orang Serangkai", Douwes
Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat.
Kemudian muncul organisasi Perhimpunan Indonesia
(PI). Organisasi ini berkembang cukup pesat. Dibawah
kepimpinan Moh. Hatta, PI juga menuntut kemerdekaan
Indonesia secepatnya.

("Tiga Orang Serangkai" 8
Douwes Dekker, Tijpto
Mangunkusumo, Suwardi

Suryaningrat)

(Organisasi Tri Koro
Darmo)

Tri Koro Darmo (Tiga tujuan mulia ) adalah Organisasi
Pemuda pertama yang berdiri pada 7 Maret 1915. Tri
Koro Darmo diharapkan menjadi satu yempat latihan
untuk calon pemika nasional yang cinta tanha air.
Kebanyakan angotanya berasal dari pelajar STOVIA
(Jawa Tengah dan Jawa Timur) (Lapian, A. B, dkk,
2012:354).

Pada kongres pertama di Solo tahun 1918, nama Tri Koro
Darmo berubah menjadi Jong Java dengan maksud untuk
menarik golongan dari Sunda, Bali dan Madura (Lapian, A. B,
dkk, 2012:354). Berkembangnya Jong Java ini telah
mendorong munculnya organisasi pemuda di berbagai
daerah. Misalnya 9 Desember 1917 berdiri organisasi Jong
Sumatranen Bond, tahun 1918 berdiri organisasi Jong
Minahasa, disusul oleh Jong Celebes, Jong Ambon, Jong
Borneo, dll.

9

Selain berkembangnya organisasi pemuda dari berbagai
daerah, juga muncul organisasi pemuda dari kelompok
agama, yakni Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi ini
atas ide Agus Salim, setelah usulnya untuk memasukkan
unsur islam didalam Jong Java tidak diterima. Sekalipun
berbasis Islam, JIB memperjuangkan persatuan nasional.

Selain berkembangnya organisasi pemuda dari berbagai
daerah, juga muncul organisasi pemuda dari kelompok
agama, yakni Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi ini
atas ide Agus Salim, setelah usulnya untuk memasukkan
unsur islam didalam Jong Java tidak diterima. Sekalipun
berbasis Islam, JIB memperjuangkan persatuan nasional.

Jong Sumatrenan Bond mangadakan Lustrum pertama pada
1923 di Jakarta. Masalah yang hangat dibicarakan dalam
lustrum tersebut adalah masalah bahasa. Moh. Yamin
menyampaikan pidato dengan judul De Maleische Taal in het
verleden, heden en ini de toekomst (Bahasa Melayu di Masa
Lampau, Sekarang dan Masa Datang). Pada saat itu pula Yamin
melontarkan gagasan perlunya sebuah majalah kebudayaan
yang kemudian diberinama Malaya dengan tujuan untuk
merangkul dan mengambil hati penduduk Malaya yang masih
berada dibawah penjajahan Inggris (Lapian, A. B, dkk,
2012:356).

10

Pidato Yamin mendapat tanggapan bermacam-
macam. Sebagian besar menyambut dengan
gembira karena dapat merasakan betapa besarnya
cita-cita Muh. Yamin agar bangsanya mempunyai
bahasa pengantar yang bersumber dari budayanya
sendiri (Lapian, A. B, dkk, 2012:356).

Kongres Pemuda I

Pada tanggal 15 November 1925 dilaksanakanlah pertemuan
organisasi-organisasi pemuda. Hadir dalam pertemuan itu
antara antara lain perwakilan dari Jong Java, Jong Sumatrenan
Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Pelajar-Pelajar Minahasa,
Sekar Rukun. Dalam Pertemuan tersebut membahas mengenai
rencana kongres pemuda yang dipimpin oleh Tabrani.

(M. Tabrani) 11

Pada tanggal 30 April - 2 Mei 1926 berlangsung Kongres
Pemuda I di Jakarta, yang diketuai oleh M. Tabrani. Tujuan
Kongres ini mencapai jalan pembina perkumpulan pemuda
yang tunggal yaitu, membentuk sebuah badan sentral
dengan maskud memajukan paham persatuan
kebangsaan dan mempererat hubungan antar semua
perkumpulan -perkumpulan pemuda kebangsaan (Lapian,
A. B, dkk, 2012:359).

(Kongres Pemuda I)

Dalam kongres ini diambil suatu keputusan yang sangat

mendasar, yaitu penetapan bahasa kesatuan. untuk itu

diajukan pilihan antara bahasa Jawa dan bahasa Melayu.

Bilamana sudah ada pilihan, maka salah satu bahasa yang

telah dipilih itu harus dinamakan Bahasa Indonesia

(Lapian, A. B, dkk, 2012:360). 12

Hasil utama dalam Kongres Pemuda I ini adalah bahwa kongres
mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesia, walapun
masih samar-samar. Pada tanggal 15 Agustus 1926 diadakan lagi
pertemuan antara Jong Java, Jong Sumatrenan Bond, Jong
Minahisa, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong
Celebes, Sekar Rukun, Vereeniging Voor Ambonsche
Studeerenden dan Komite Kongres Pemuda I (Lapian, A. B, dkk,
2012:360).

Rapat tersebut membahas usulan Jong Java untuk
mengadakan federasi antar berbagai organisasi pemuda.
Dalam rapat ini belum ada rumusan yang jelas tentang
federasi organisasi pemuda pemuda yang ada. Pada tanggal
20 Februari 1927, diadakan lagi pertemuan. Dalam rapat ini
membahas masalah fusi antar organisasi yang ada (Lapian, A.
B, dkk, 2012:360).

Pada bulan September 1926 diadakan pertemuan para pelajar.

Dalam pertemuan itu berhasil dibentuk perkumpulan yang diberi

nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar di Indonesia (PPPI). PPPI

bertujuan untuk memperjuangkan Indonesia merdeka. Ketua

perkumpulan itu Soegondo Djojopoespito, tokoh-tokoh lainnya

adalah Muh. Yamin, Abdullah Sigit, Suwiryo, Sumitro

Reksodiputro, A. K. Gani, Sunarko, Amir Syarifuddin dan

Sumanang. Pada tanggal 28 Desember 1927, Jong Indonesia

menyelenggarakan kongres di Bandung. Dalam kongres ini Ir.

Soekarno memberikan ceramah yang dapat menambah

semangat para pemuda. Dalam kongres ini menetapkan nama

Jong Indonesia diganti dengan Pemuda Indonesia. 13

Kongres Pemuda II

Untuk merealisasikan gagasan fusi tersebut, PPPI segera

mengambil langkah-langkah. Diadakanlah pertemuan

membentuk panitia yang dikenal dengan Panitia Kongres

Pemuda II. Pada bulan Juni 1928, panitai kongres dibentuk.

Ketua : Soegondo Djojopoespito dari PPPI

Wakil Ketua : Djoko Marsaid dari Jong Java

Sekertaris : Muh. Yamin dari Sumatrenan Bond

Bendahara : Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond

Pembantu I : Djohan Muh. Thai dari Jong Islamieten Bond

Pembantu II : Kotjosungkono dari Pemuda Indonesia

Pembantu III : Senduk dari Jong Celebes

Pembantu IV : J. Leimena dari Jong Ambon

Pembantu V : Rohyani dari Pemuda Kaum Betawi (Lapian, A. B,

dkk, 2012:361).

(Kongres Pemuda II) 14

Kongres Pemuda II dilaksanakan pada tanggal 27-28
Oktober 1928 dan rapat dilakukan sebanyak 3 kali.

Rapat Pertama

Rapat pertama dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27
Oktober 1928 malam bertempat di gedung Katholik
Jongelingen Bond, Waterloopen. Dalam sidang ini Muh.
Yamin memberikan ceramah tentang persatuan dan
kebangsaan Indonesia. Dalam ceramahnya, Yamin
menegaskan ada 5 faktor yang dapat memperkuat
persatuan bangsa yakni, sejarah, bahasa, hukum adat,
pendidikan, dan kemauan.

Rapat Kedua

Rapat kedua dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 28
Oktober 1928, berlangsung pukul 08:00-12:00. Sidang ini
dilaksanakan di Oost Java Bioscoop Koningsplein. Rapat ini
membahas tentang pendidikan.

15

Rapat Ketiga
Rapat ketiga pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928,
pada pikul 17:30-20:00. Rapat ini dilaksanakan di gedung
Indonesische Clubgebouw. Rapat ini direncanakan semeriah
mungkin dengan acara pawai atau arak-arakan, akan tetapi
hal ini digagalkan oleh pihak Belanda. Walaupun demikian,
hal ini tidak menyurutkan semangat para pemuda. Rapat
ketiga ini di isi dengan ceramah-ceramah. Misalnya Sunario
menyampaikan materi tentang "Pergerakan Pemuda fdan
Persatuan Bangsa" dalam ceramah ini ditekankan
pentingnya persatuan dan kehidupan yang demokratis dan
patriotis.

16

Rapat diistirahatkan. Pada saat itu tampillah W.R.
Supratman untuk memainkan lagu yang diber judul
"Indonesia Raya". Namun untuk menyiasati agar tidak
dilarang oleh pihak Belanda, W.R. Supratman
memainkan lagu tersebut secara instrumental dengan
biola. Lagu inilah yang dikenal dengan lagu kebangsaan
Indonesia dan Bendera Merah Putih diakui sebagai
bendera kebangsaan.

17

Setelah istirahat rapat dilanjutkan. Puncak Kongres Pemuda
II ini diikrarkan sebuah sumpah yang dikenal dengan
Sumpah Pemuda. Naskah Sumpah Pemuda dirumuskan
oleh Muh. Yamin.

18

Pada waktu Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, sebenarnya

belum seluruh organisasi pemuda siap untuk bergabung

dalam satu organisasi pemuda. Maka organisasi pemuda

mengadakan persiapan untuk mengadakan fusi. Sebagai

persiapan untuk pembentukan perkumpulan pemuda yang

telah mengadakan fusi, pada tanggal 23 April dan 25 Mei

1929 di Gedung Indonesia Clubgebouw diadakan rapat. Hasil

dari pertemuan antara perwakilan Jong Java, Pemuda

Sumatera, dan Pemuda Indonesia adalah akan berganti

nama dan menjadi perserikatan baru berdasar kebangsaan

Indonesia. Untuk itu didirikan komisi besar, yang anggotanya

diambil dari perkumpulan tersebut. (Lapian, A. B, dkk,

2012:363).

Jong Java sebagi organisasi tertua dan terbesar,

menyetujui ide fusi dalam kongres ke XI tanggal 25-29

Desember 1928 di Yogyakarta. Sebagai tindak lanjut dari

hasil kongres tersebut, Jong Java dalam kongresnya di

Semarang 23-29 Desember 1929, membubarkan diri dan

bergabung dengan perkumpulan Indonesia Muda (Lapian,

A. B, dkk, 2012:363).

Tujuan Indonesia Muda adalah membangunkan dan

mempertahankan keinsyafan antara anak bangsa

yang bertanah air satu agar tercapai Indonesia Raya.

Indonesia Muda memajukan rasa saling menghargai

dan memelihara rasa persatuan semua anak

Indonesia, bekerjasama dengan perumpulan

pemuda, mengadakan kursus-kursus untuk

memberantas buta huruf, memajukan olrahrga, dll

(Lapian, A. B, dkk, 2012:365). 19

Nilai dan Makna
Sumpah Pemuda

A. Nilai Sumpah Pemuda

Nilai utama Peristiwa Sumpah Pemuda adalah persatuan.
Persatuan yang diilhami oleh asas perjuangan Perhimpunan
Indonesia ini sudah lama diperjuangkan oleh para pemuda.
Banyaknya organisasi yang berdiri pada saat itu adalah adalah
masih bersifat kedaerahan dan setiap organisasi masih
cenderung berjuang dengan organisasinya masing-masing.

Oleh karena itu, berbagai organisasi pemuda berusaha sekuat
tenaga untuk mewujudkan persatuan diantara anak bangsa.
minimal dikalangan pemuda. Lahirnya Indonesia Muda
diharapkan dapat menggerakkan seluruh komponen bangsa
untuk menciptakan Indonesia Raya, membebaskan diri dari
penjajahan, dan akhirnya tercapai kemerdekaan.

Nilai berikutnya adalah kemandirian, jati diri, dan
penguatan nasionalisme. Hal ini tercermin dalam suatu
ikrar satu tanah air, satu bangsa dan keikhlasan
menjunjung satu bahasa Indonesia. Nilai lainnya adalah
nilai demokrasi. Mereka pada saat berjuang tidak lagi
dengan fisik dan kekerasan, tetapi mereka berjuang
dengan musyawarah, berdemokrasi misalnya melalui
Volksraad.

20

B. Makna Sumpah Pemuda

Isi dari ikrar Sumpah Pemuda dipatuhi oleh semua
perkumpulan kebangsaan Indonesia. Keyakinan
persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan
dasar persatuan, yaitu Kemauan, Sejarah, Bahasa,
Hukum adat dan Pendidikan.

Adapun makna Sumpah Pemuda menjadi tonggak
penegas yang sangat penting dalam sejarah atau lebih
jelasnya, bahwa kita wajib menjujung tinggi persatuan
Indonesia berdasarkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
Kita bangga bertanah air, berbangsa dan berbahasa
Indonesia; Karena itu kita wajib mencintai tanah air,bangsa
dan bahasa Indonesia (Karyanti, Tri, 2010:99)

21

EVALUASI

01 Perhatikan gambar berikut.
Coba jelaskan masing-masing bidang
Politik Etis sebagai pintu pembuka dalam
membangun kesadaran persatuan
bangsa!

Bidang Bidang Bidang
Edukasi irigasi transmigrasi

Bagaimana peran pers dalam memajukan

02 pola pikir para pelajar pada saat itu?
Seperti halnya muncul surat kabar Medan
Prijaji, De Ekspres untuk mendapatkan
kemerdekaan Indonesia.

22

03 Mengapa para pemuda berusaha keras
untuk mewujudkan cita-cita persatuan
Indonesia?

04 Mengapa pada saat itu banyaknya
organisasi yang berdiri, tetapi tidak
tidak berhasil dalam mewujudkan
persatuan dan kemerdekaan
Indonesia?

05 Menurut pendapat kalian, hasil apa
yang terpenting dalam Kongres
Pemuda I tahun 1926?

06 Coba bandingkan dan analisislah hasil
dari Kongres Pemuda I dan Kongres
Pemuda II!
23

07 Jelaskan nilai-nilai sumpah pemuda dan
mengapa nilai tersebut dianggap
penting?

08 Bagaimana keterkaitan antara
kebangkitan rasa nasional dengan
munculnya Sumpah Pemuda?

09 Mengapa dalam ikrar Sumpah Pemuda
terikat dengan Bahasa Indonesia dan
tanah air dan bangsa?

10 Bagaimana kaitan antara Sumpah
Pemuda dengan penguatan jati diri
keindonesiaan?
24

DAFTAR
PUSTAKA

AM. Sadirman dan Amurwani D.L. 2017.
Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK
Kelas XI Semester 1: Edisi Revisi 2017.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan 2017: Pusat Kurikulum ,
dan perbukuan, Balitbang,
Kemendikbud.

Karyanti, Tri. 2010. Sumpah Pemuda
dan Nasionalisme Indonesia. Jurnal
Majalah Ilmiah Informatika, Vol. 1, No. 3

Lapian, A.B, dkk, 2012.
Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 5:
Masa Pergerakann Kebangsaan. Jakarta:
PT.Ichtiar Baru Van Hoeve.

Leirissa, R.Z dan Soejono, R.P. 2010.
Sejarah Nasional Indonesia Jilid V: Zaman
Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia
Belanda (1900-1942). Jakarta: Balai
Pustaka.

25

PROFIL

Nama : Jasuma Damayanti
NIM : 190210302005
Pendidikan :
S1 Program Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember

jasuma_damay
[email protected]

Prodi Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Jember


Click to View FlipBook Version