Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
Program Studi Pendidikan Kimia ISSN 2337-9995
Universitas Sebelas Maret https://jurnal.uns.ac.id/jpkim
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR MATERI KELARUTAN DAN
HASIL KALI KELARUTAN DAN UPAYA REMEDIASINYA
DENGAN MODEL PEMBELAJARAN STAD DILENGKAPI
HANDOUT UNTUK SISWA KELAS XI MIPA SMA N 3 BOYOLALI
Taufik Ihsan*, Sulistyo Saputro, dan Budi Hastuti
Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia
*Keperluan korespodensi, telp: 081931640610, email: [email protected]
ABSTRAK
Tujuan dilaksanakan penelitian ini untuk mengetahui: (1) indikator pencapaian kompetensi
yang menjadi kesulitan belajar siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, (2) kesulitan
belajar siswa pada tiap indikator pencapaian kompetensi, (3) apakah model pembelajaran STAD
dilengkapi handout dapat digunakan untuk meremediasi kesulitan belajar siswa. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sampel diambil menggunakan teknik purposive
sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA 2 SMA Negeri 3 Boyolali tahun
ajaran 2018/2019. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik tes berupa tes diagnostik
testlet dan non tes berupa wawancara. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) siswa
mengalami kesulitan pada indikator menjelaskan kesetimbangan larutan jenuh sebesar 60,29%,
menuliskan ungkapan Ksp sebesar 42,65%, menghitung kelarutan berdasarkan harga Ksp
sebesar 68,63%, menghubungkan Ksp dengan tingkat kelarutan sebesar 67,65%, menentukan
pH larutan dari harga Ksp sebesar 82,35%, menjelaskan pengaruh ion senama sebesar 85,29%,
dan memperkirakan terbentuknya endapan sebesar 88,24%, (2) kesulitan yang dialami siswa
meliputi kesulitan konsep, kesulitan menentukan rumus yang digunakan, dan kesulitan pada
operasi matematika, (3) model pembelajaran STAD dilengkapi handout dapat meremediasi
kesulitan belajar siswa. Persentase kesulitan belajar siswa berhasil diturunkan dari 75% menjadi
30,59%.
Kata Kunci : Kesulitan Belajar, Remediasi, Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, STAD, Handout
PENDAHULUAN materi serta perubahan materi dan
energi yang menyertai perubahan materi
Salah satu upaya untuk tersebut [1]. Materi kimia memuat
meningkatkan mutu pendidikan adalah konsep-konsep dasar yang abstrak [2].
melalui pembelajaran di sekolah. Dalam Apabila siswa tidak menguasai konsep
proses pembelajaran pendidik berupaya dasar ini maka dapat menyebabkan
merancang kegiatan sedemikian rupa siswa mengalami kesulitan belajar pada
agar siswa dapat mencapai kompetensi materi selanjutnya
yang ditetapkan. Segenap kegiatan
pembelajaran perlu diarahkan untuk Kesulitan belajar adalah istilah
mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang merujuk pada pencapaian hasil
yang dapat mencapai tujuan dianggap belajar yang rendah. Dalam Panduan
sebagai siswa yang berhasil. Dalam Remedial dan Pengayaan (2015)
proses pembelajaran sering ditemukan disebutkan siswa mengalami kesulitan
siswa yang belum menguasai indikator belajar aspek kognitif apabila nilai yang
yang ditargetkan. Hal tersebut me- didapat siswa tidak mencapai kriteria
nunjukkan bahwa peserta didik ketuntasan minimal (KKM). Bagi siswa
mengalami kesulitan belajar akademik tersebut diperlukan pembelajaran
yang ditandai dengan tidak tercapainya remedial sebagai upaya penanganan [3].
kriteria ketuntasan minimal.
Pembelajaran remedial diterapkan
Kimia merupakan ilmu yang melalui tiga tahap, yaitu analisis hasil
mempelajari struktur, sifat dan komposisi belajar, proses penanganan, dan
remedial test [3]. Namun sebagian besar
DOI: https://doi.org/10.20961/jpkim.v10i2.44041 159
Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
guru masih belum menerapkan N 3 Boyolali belum mencapai batas
pembelajaran remedial sesuai dengan ketuntasan pada mata pelajaran kimia.
tahapannya, yakni tidak melalui analisis Apabila sebagian besar siswa belum
hasil belajar [4] atau hanya melakukan mencapai KKM maka pembelajaran
remedial test tanpa penanganan dan remedial dilakukan secara klasikal
analisis hasil belajar [3]. Padahal, dengan menggunakan metode pem-
analisis hasil belajar merupakan tahapan belajaran dan media yang lebih tepat
penting dalam pembelajaran remedial dengan penyederhanaan materi [3].
karena melalui analisis hasil belajar
dapat diidentifikasi kompetensi yang Model pembelajaran kooperatif
belum dikuasai siswa, sekaligus dapat adalah model pembelajaran dimana
mengarahkan proses perbaikan siswa dapat bekerjasama dalam
pembelajaran kepada hal-hal yang kelompok-kelompok kecil dengan
belum dikuasai siswa. harapan mereka dapat belajar sama
baiknya [6]. Model ini unggul dalam
SMA Negeri 3 Boyolali adalah membantu siswa memahami konsep-
salah satu Sekolah Menengah Atas yang konsep yang sulit, menumbuhkan
ada di kabupaten Boyolali. Berdasarkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis,
hasil wawancara yang dilakukan dengan dan kemampuan membantu teman [7].
guru kimia SMA Negeri 3 Boyolali, di
SMA tersebut masih banyak siswa yang Salah satu model kooperatif adalah
belum mencapai KKM yaitu sebesar 70, model STAD (Student Teams
salah satunya adalah pada materi Achievement Division). Melalui model
kelarutan dan hasil kali kelarutan. Hasil pembelajaran STAD kesulitan siswa
nilai rata-rata ulangan harian siswa dalam memahami materi dapat diatasi
materi kelarutan dan hasil kali kelarutan karena siswa yang mempunyai
tahun pelajaran 2017/2018 dapat dilihat kemampuan lebih tinggi dapat menjadi
pada Tabel 1. tutor sebaya untuk teman lainnya saat
berdiskusi. Selain itu, adanya kuis
Tabel 1. Nilai Rata-rata Ulangan Harian individu mengharuskan siswa untuk aktif
dan bertanggung jawab dalam
Materi Ksp tahun 2017/2018 memahami materi jika berkeinginan
untuk mendapatkan penghargaan tim.
Kelas Nilai Rata-rata Perhargaan tim diberikan bagi kelompok
dengan rata-rata skor perkembangan
XI IPA 1 58,38 inidvidu tertinggi sehingga dapat
memotivasi siswa dalam belajar. Model
XI IPA 2 50,81 ini termasuk model pembelajaran yang
sederhana dan menekankan pada
XI IPA 3 48,51 kerjasama tim sehingga sesuai dengan
karakteristik materi yang membutuhkan
XI IPA 4 69,61 banyak latihan soal.
XI IPA 5 62,58 Lebih lanjut, pada dasarnya siswa
mempunyai kemampuan yang berbeda-
XI IPA 6 63,19 beda dalam hal kecepatan menguasai
materi. Oleh karena itu diperlukan media
(Sumber: Arsip Guru Kimia, 2018) yang mempermudah penyampaian dan
mempercepat penguasaan materi oleh
Materi kelarutan dan hasil kali siswa. Media handout merupakan bahan
kelarutan merupakan materi kimia yang ajar yang menyungguhkan materi secara
membutuhkan pemahaman konsep yang garis besar, dibuat oleh pendidik dan
baik dan kemampuan matematika yang diberikan kepada anak didiknya [8].
cukup tinggi. Pada materi ini siswa perlu Handout bertujuan untuk menyajikan
memahami prinsip, perhitungan, reaksi materi pelajaran secara ringkas, dengan
yang terjadi, menganalisis sifat-sifat harapan membuat siswa mudah
garam, memprediksi adanya endapan menguasai materi.
dan efek ion senama [5].
Pada penelitian ini remediasi
dilakukan dengan pembelajaran klasikal.
Hal ini dikarenakan berdasarkan studi
pendahuluan melalui wawancara dengan
guru, sebagian besar siswa kelas XI SMA
© 2021 Jurnal Pendidikan Kimia 160
Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
Berdasarkan uraian diatas, maka (IPK) yang meliputi menuliskan
perlu dilakukan penelitian tentang kesetimbangan dalam larutan jenuh,
diagnosis kesulitan belajar kimia pada menuliskan persamaan Ksp, menghitung
materi Ksp dan upaya remediasinya kelarutan berdasarkan Ksp atau
menggunakan model pembelajaran sebaliknya, menghubungkan Ksp
STAD dilengkapi handout di kelas XI dengan tingkat kelarutan, menentukan
MIPA SMA Negeri 3 Boyolali. pH larutan dari harga Ksp atau
sebaliknya, pengaruh ion senama, dan
METODE PENELITIAN memperkirakan terbentuknya endapan
Penelitian ini menggunakan a. Menuliskan Reaksi Kesetimbangan
metode deskriptif kualitatif. Sampel Larutan Jenuh
diambil menggunakan teknik purposive
sampling. Subjek dalam penelitian ini Pada indikator menjelaskan reaksi
adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri kesetimbangan larutan jenuh kesulitan
3 Boyolali tahun ajaran 2018/2019 belajar siswa sebesar 60,29%. Siswa
sebanyak 34 siswa. Pengumpulan data diminta untuk menuliskan reaksi kimia
dilakukan menggunakan teknik tes dan yang terjadi pada larutan jenuh perak
non tes. kromat dan barium fluorida. Siswa tidak
menguasai konsep reaksi pada larutan
Tes yang digunakan dalam jenuh apakah reaksinya berlangsung
penelitian ini menggunakan tes bolak-balik atau searah, siswa juga
diagnostik testlet yang berjumlah 10 kesulitan dalam menentukan fase zat
stem dengan 3 soal pendukung setiap yang terlibat. Konsep yang benar adalah
stem. Tes dilakukan sebanyak dua kali reaksi pada larutan jenuh merupakan
yakni, tes diagnostik I (selanjutnya reaksi kesetimbangan kelarutan antara
disebut pretest) untuk mengetahui zat padat yang tidak larut (solid) dengan
kesulitan belajar siswa dan tes diagnostik zat padat terlarut (aqueous).
II (posttest) dengan soal berbeda namun
bobot yang sama untuk mengetahui b. Menuliskan Persamaan Ksp
keberhasilan model pembelajaran STAD
dilengkapi handout untuk mengatasi Rata-rata kesulitan belajar pada
kesulitan belajar siswa. Data yang indikator ini sebesar 42,65%. Siswa
berasal dari hasil tes diagnostik dianalisis diminta untuk menuliskan persamaan
dan dihitung persentase kesulitan belajar hasil kali kelarutan perak kromat dan
dengan rumus: magnesium hidroksida. Saat menuliskan
persamaan Ksp magnesium hidroksida
% = Jumlah siswa kesulitan belajar x 100% siswa memilih opsi jawaban Ksp
Jumlah seluruh siswa Mg(OH)2=[Mg2+][2OH-]. Siswa terkecoh
dengan jumlah kelarutan yang dikali dua
Teknik non tes yaitu dilakukan dengan sehingga penulisan rumus Ksp pun
wawancara terhadap siswa yang menyertakan angka koefisien. Konsep
mengalami kesulitan belajar. Analisis yang betul adalah hasil kali kelarutan
data dilakukan dengan cara merupakan hasil kali konsentrasi ion-ion
pengumpulan data, reduksi data, dalam larutan jenuh dipangkatkan
penyajian data, serta penarikan masing-masing angka koefisiennya.
kesimpulan dan verifikasi. Selain itu siswa yang tidak mampu
menuliskan reaksi kesetimbangan
HASIL DAN PEMBAHASAN larutan jenuh dengan benar maka juga
mengalami kesulitan dalam penuliskan
1. Kesulitan Belajar Materi Kelarutan persamaan Ksp.
dan Hasil Kali Kelarutan
c. Menghitung Kelarutan dari Harga
Hasil tes diagnostik pretest dan Ksp atau sebaliknya
wawancara menunjukkan bahwa siswa
mengalami kesulitan belajar materi
kelarutan dan hasil kali kelarutan pada
setiap indikator pencapaian kompetensi
© 2021 Jurnal Pendidikan Kimia 161
Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
Indikator pencapaian kompetensi ini Konsep yang benar, jika dimisalkan
terbagi ke dalam tiga indikator soal kelarutan Ag2CrO4=s, maka [Ag+]=2s dan
seperti Tabel 2. [CrO42-]=s, dengan demikian Ksp
Ag2CrO4=4s3.
Tabel 2. Indikator Soal pada IPK 3.14.3
Selanjutnya, pada indikator
Indikator Indikator Soal 3.14.3.3 rata-rata persentase kesulitan
Pencapaian belajar siswa sebesar 70,59%. Siswa
Kompetensi 3.14.3.1 Disajikan data diminta untuk menghitung harga Ksp
3.14.3 Siswa BaF2 dan Mg(OH)2 berdasarkan nilai
dapat mengenai massa kelarutannya. Sebagaimana indikator
menghitung 3.14.3.2, pada indikator ini siswa
kelarutan senyawa, Mr senyawa, kesulitan dalam menentukan konsentrasi
berdasarkan ion-ion yang terlibat dalam reaksi.
harga Ksp atau dan volume larutan, Mayoritas siswa yang menjawab salah
sebaliknya menghitung Ksp barium fluorida Ksp
siswa dapat BaF2= s2, dan menghitung Ksp
magnesium hidroksida dengan rumus
menghitung kelarutan Ksp Mg(OH)2= 2s2, serta beberapa siswa
tidak teliti dalam menghitung.
3.14.3.2 Siswa dapat
d. Menghubungkan Ksp dengan
menghitung kelarutan Tingkat Kelarutan
garam berdasarkan Pada indikator menghubungkan
Ksp dengan tingkat kelarutan persentase
harga Ksp kesulitan belajar siswa sebesar 67,65%.
Siswa diminta untuk menentukan urutan
3.14.3.3 Siswa dapat senyawa berdasarkan kelarutannya (mol
L-1) dari yang terbesar ke terkecil. Siswa
menghitung Ksp yang menjawab salah dikarenakan tidak
teliti dalam operasi matematika yakni
berdasarkan nilai dalam mengurutkan harga Ksp yang
merupakan bilangan berpangkat negatif.
kelarutannya
e. Menghitung pH larutan
Pada indikator soal 3.14.3.1 berdasarkan Ksp atau sebaliknya
kesulitan belajar siswa sebesar 70,59%.
Berdasarkan hasil wawancara, siswa Pada indikator ini kesulitan belajar
kesulitan karena tidak mengetahui rumus siswa sebesar 82,35%. Siswa diminta
kelarutan dalam molaritas. Hal ini untuk menentukan pH larutan jenuh
menunjukkan bahwa siswa belum Al(OH)3 berdasarkan harga Ksp dan
mampu menerapkan konsep kelarutan menghitung kelarutan Ba(OH)2 berdasar-
pada soal perhitungan. Penguasaan kan pH larutan jenuhnya. Indikator ini
konsep yang belum utuh menyebabkan menggabungkan pemahaman siswa
siswa kesulitan dalam mengerjakan soal- pada materi Ksp dan pH larutan. Siswa
soal kimia. Konsep yang betul adalah kesulitan menghubungkan konsep
kelarutan merupakan jumlah maksimum kelarutan dengan pH dan kurang
zat yang dapat larut dalam sejumlah terampil dalam operasi logaritma.
pelarut pada suhu tertentu. Apabila ke
dalam suatu pelarut (air) dimasukkan f. Pengaruh Ion Senama
sejumlah zat terlarut hingga ada
sebagian zat padat yang tidak larut, Pada indikator pengaruh ion
maka larutan tersebut merupakan larutan senama rata-rata kesulitan belajar
jenuh. Oleh karena itu, kelarutan sebesar 85,29%. Siswa diminta untuk
senyawa dapat dihitung dari molaritas memilih pernyataan yang benar
larutan jenuhnya [9]. mengenai pengaruh ion senama.
Mayoritas siswa yang salah menjawab
Kemudian, pada indikator soal
3.14.3.2 kesulitan belajar siswa sebesar
59,56%. Siswa belum mampu
menghitung kelarutan garam dengan
angkabanding ion 1:2 dan 1:3 yaitu
kelarutan Ag2CrO4 dan Al(OH)3. Siswa
kesulitan untuk menentukan konsentrasi
ion-ion yang terlibat dalam reaksi,
misalnya siswa menghitung kelarutan
perak kromat dengan rumus Ksp=s3.
© 2021 Jurnal Pendidikan Kimia 162
Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
bahwa kelarutan AgI tetap. Berdasarkan Materi kelarutan dan hasil kali
kelarutan merupakan materi yang
hasil wawancara, siswa tidak memahami berjenjang dan berurutan. Apabila siswa
kesulitan dalam materi sebelumnya
maksud pengaruh ion senama. misalnya dalam menghitung kelarutan
berdasarkan Ksp maka siswa akan
Pengaruh ion senama merujuk pada kesulitan pada indikator selanjutnya.
proses pelarutan garam dalam suatu Hasil pretest menunjukkan hampir
semua siswa mengalami kesulitan
larutan yang memiliki ion yang sama. belajar di semua indikator dan semakin
meningkat pada indikator hubungan pH
Apabila suatu aksi diberikan kepada dan Ksp, pengaruh ion senama dan
pengendapan.
suatu sistem maka sistem tersebut akan
memberikan reaksi agar pengaruh aksi
tersebut sekecil mungkin [9]. Dengan
demikian, adanya ion senama
menyebabkan konsentrasi ion
meningkat. Akibatnya kesetimbangan
bergeser ke kiri dan kelarutan garam 2. Remediasi Kesulitan Belajar
dengan Pembelajaran Model STAD
berkurang. dilengkapi Handout
Selanjutnya, siswa diberi
pertanyaan mengenai konsep perhitung-
an pada materi ion senama. Pada Setelah kesulitan siswa
perhitungan kelarutan AgI dalam KI 0,02 teridentifikasi, maka dilakukan upaya
M, siswa mengganggap konsentrasi total penanganan dengan pembelajaran
ion I- berasal dari larutan KI saja. model STAD dilengkapi handout. Model
Meskipun dalam perhitungan akan STAD dipilih karena menekankan pada
memberikan hasil yang sama, namun hal struktur tugas, tujuan dan penghargaan
tersebut merupakan suatu miskonsepsi. [6]. Semua siswa dituntut untuk aktif dan
Konsep yang betul adalah konsentrasi saling membantu teman satu
total ion I- berasal dari larutan KI maupun kelompoknya agar dapat memahami
larutan jenuh AgI namun I- dari AgI tugas yang diberikan. Kelompok dibentuk
diabaikan. Dengan demikian, siswa secara heterogen agar siswa yang
kurang memahami konsep secara utuh. mempunyai kemampuan tinggi dapat
Kemudian siswa diminta membantu siswa yang mempunyai
menghitung kelarutan garam akibat kemampuan rendah. Adanya interaksi
pengaruh ion senama. Siswa yang antarsiswa dalam kelompoknya dan
menjawab salah menghitung dengan siswa dengan guru dapat meningkatkan
rumus kelarutan garam dalam air. Materi pemahaman siswa. Di akhir
ion senama merupakan materi dengan pembelajaran diberikan penghargaan
tingkat kesulitan yang tinggi bagi kelompok berdasarkan rata-rata
sebagaimana dalam penelitian Sudiana, skor perkembangan individu.
dkk (2019) dimana persentase kesulitan Pembelajaran remedial dilakukan
belajar pada materi ion senama dengan 2JP pertemuan dan 2JP
mencapai 96% [10]. penilaian. Pada saat pembelajaran siswa
g. Memprediksikan Terjadinya Pengen- terlebih dahulu diajak untuk
dapan
menghubungkan materi dengan
kehidupan sehari-hari, yakni pada proses
Pada indikator memprediksikan pelarutan garam dalam air. Berdasarkan
terjadinya pengendapan rata-rata
persentase kesulitan belajarnya adalah ilustrasi tersebut, siswa diminta untuk
sebesar 88,24%. Siswa diminta untuk
menghitung Qsp larutan, memperkirakan menjelaskan mengapa terbentuk
endapan yang terjadi, dan mengurutkan
garam yang terlebih dahulu mengendap. endapan, mendefinisikan kelarutan dan
Pada indikator ini sebagian besar siswa
kesulitan karena belum memahami menyatakan rumus kelarutan dalam
konsep pengendapan serta rumus yang
digunakan. molaritas. Kemudian untuk menentukan
fokus pembelajaran guru menyampaikan
tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai serta menyampaikan model
pembelajaran yang digunakan berupa
© 2021 Jurnal Pendidikan Kimia 163
Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
model pembelajaran STAD dilengkapi Setelah dilaksanakan pembelajar-
handout. an remedial semua siswa dapat
menuliskan reaksi dengan benar, dimana
Pada tahap penyajian informasi sebelumnya sebanyak 60,29% siswa
guru meminta siswa untuk mempelajari mengalami kesulitan. Pada soal posttest
peta konsep yang ada pada handout. siswa diminta untuk menuliskan reaksi
Peta konsep berguna untuk yang terjadi pada larutan jenuh Ag2CO3
mengkonstruksi pemahaman siswa dan PbCl2.
secara garis besar. Selanjutnya guru
mempresentasikan materi secara garis b. Menuliskan Persamaan Ksp
besar dan memberi kesempatan siswa
untuk bertanya terkait materi yang belum Pada indikator ini semua siswa
dipahami. Selanjutnya siswa dibagi juga telah dapat menuliskan persamaan
menjadi beberapa kelompok secara Ksp dengan benar, yakni persamaan Ksp
heterogen. Kemudian guru membimbing Ag2CO3 dan Ca(OH)2, dimana
siswa untuk mendiskusikan soal yang sebelumnya terdapat 42,65% siswa yang
telah disesuaikan dengan kesulitan mengalami kesulitan.
belajar siswa pada tiap indikator. Siswa
dapat menggunakan handout sebagai c. Menghitung Kelarutan dari Harga
media pembelajaran yang ringkas Ksp atau sebaliknya
sehingga mempermudah siswa dalam
memahami materi pembelajaran. Metode Setelah dilakukan penanganan
pembelajaran STAD menekankan pada siswa telah mampu menghitung
tujuan kelompok dengan asumsi bahwa kelarutan dari harga Ksp dimana hanya
tujuan hanya dapat dicapai jika setiap 1,96%, dimana sebelumnya terdapat
anggota tim dapat memahami. Jika para 70,59% siswa yang kesulitan. Kemudian
siswa ingin timnya mendapat pada indikator menyatakan kelarutan
penghargaan maka mereka harus saling dalam molaritas, kesulitan belajar
membantu teman satu timnya untuk menurun dari 59,56% menjadi 19,85.
mempelajari materi [6]. Selanjutnya pada indikator soal
menentukan harga Ksp berdasarkan nilai
Pada tahap evaluasi, guru meminta kelarutan masih terdapat 30,88% siswa
siswa untuk menunjukkan hasil mengalami kesulitan dimana sebelum-
diskusinya di depan kelas, kemudian nya terdapat 70,59% siswa.
guru bersama siswa memberikan
tanggapan atas jawaban siswa. d. Menghubungkan Ksp dengan
Kemudian, guru bersama siswa Tingkat Kelarutan
menyimpulkan materi yang dipelajari hari
ini. Setelah itu, dilakukan posttest untuk Pada indikator menghubungkan
mengetahui kesulitan belajar siswa Ksp dengan tingkat kelarutan kesulitan
setelah penanganan. Selain itu, hasil siswa juga berkurang, yang mana
posttest akan diakumulasi dengan hasil sebelum penanganan ditemukan adanya
pretest sebagai nilai kuis pembelajaran kesulitan sebesar 67,65%, lalu setelah
STAD. Bagi kelompok dengan rata-rata penanganan menjadi 27,94%.
skor perkembangan individu tertinggi
mendapat penghargaan sebagai wujud e. Menghitung pH Larutan
apresiasi keberhasilan siswa dalam berdasarkan Harga Ksp
mengikuti pembelajaran.
Pada indikator menghitung pH
Berdasarkan hasil posttest larutan berdasarkan harga Ksp rata-rata
diketahui bahwa kesulitaan belajar siswa persentase kesulitan belajar siswa
pada tiap indikator dapat direduksi mengalami penurunan dari 82,35%
sebagaimana berikut: menjadi 22,06%. Pada indikator ini siswa
diminta untuk menghitung pH Fe(OH)3
a. Menuliskan Reaksi Kesetim- berdasarkan Ksp dan menghitung
bangan Larutan Jenuh kelarutan Ca(OH)2 yang diketahui pH-
nya. Kesulitan belajar siswa masih
© 2021 Jurnal Pendidikan Kimia 164
Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 10 No. 2 Tahun 2021 Hal. 159-165
dijumpai karena siswa kurang izin yang diberikan untuk melakukan
memahami konsep pH. penelitian di kelas XI MIPA 2 beserta
guru kimia kelas XI Bapak Paerah, S.Pd
f. Pengaruh Ion Senama atas bantuan dan bimbingannya selama
penelitian ini dilakukan.
Pada indikator pengaruh ion
senama persentase kesulitan belajar DAFTAR RUJUKAN
siswa mengalami penurunan dari
85,29% menjadi 48,97%. [1] C.W. Keenan, D.C. Kleinfelter, and
J.S Wood, 2013, Kimia Untuk
g. Memprediksikan Terjadinya Peng- Universitas Terj. A.H Pudjaatmaka,
endapan Erlangga, Jakarta.
Pada indikator ini kesulitan belajar [2] G. Sirhan, 2007, J. Turkish Sci.
siswa menurun dari 88,24% menjadi Educ., vol. 4, no. 2, pp. 2–20.
55,39%. Pada indikator pengaruh ion
senama dan memprediksikan terjadinya [3] Tim Direktorat Pembinaan SMA,
endapan masih terdapat kesulitan belajar 2015, Panduan Remedial dan
pada siswa, hal ini dikarenakan pada Pengayaan Sekolah Menengah
materi ini siswa perlu menghubungkan Atas, Jakarta.
beberapa konsep sekaligus seperti
konsep kelarutan, pergeseran ke- [4] Tim Direktorat Pembinaan SMA,
setimbangan kimia, dan menghitung 2010, Juknis Pembelajaran
harga Ksp. Tuntas, Remedial, dan Pengayaan
di SMA, Jakarta.
KESIMPULAN
[5] N. I. Firdausi, 2014, J. Pendidik.
Berdasarkan penelitian yang telah Sains, vol. 2, no. 4, pp. 193–199.
dilakukan dapat disimpulan bahwa: (1)
kesulitan belajar siswa pada materi [6] R.E. Slavin, 1995, Cooperative
kelarutan dan hasil kali kelarutan meliputi Learning, Theory, Research and
semua indikator pencapaian kompetensi, Practice, Allyn and Bacon, Boston.
berawal pada indikator menuliskan
reaksi kesetimbangan larutan jenuh, [7] D. Gasong, 2018, Belajar dan
menuliskan persamaan Ksp, menghitung
kelarutan dari Ksp atau sebaliknya, dan Pembelajaran, Deepublish,
persentase kesulitan belajar meningkat
pada indikator hubungan pH dengan Yogyakarta.
Ksp, pengaruh ion senama, dan
memprediksikan terjadinya peng- [8] A. Prastowo, 2011, Panduan
endapan, (2) kesulitan yang dialami Kreatif Membuat Bahan Ajar
siswa meliputi kesulitan konsep, Inovatif, Diva Press, Yogyakarta.
kesulitan menentukan rumus yang
digunakan, dan kesulitan pada operasi [9] J.E. Brady, 2010, Kimia Universitas
matematika, (3) secara keseluruhan Asas dan Struktur Jilid Dua Terj. M.
kesulitan belajar siswa dapat dikurangi, Sukmariah, A. Kamianti, S. Tilda,
yakni dari 75% menjadi 30,59%. Hal ini Erlangga, Jakarta.
menunjukkan pembelajaran STAD
dilengkapi handout dapat digunakan [10] I. K. S. Sudiana, I. W. Suja, and I.
untuk meremediasi kesulitan belajar Mulyani, 2019, J. Pendidik. Kim.
siswa. Indones., vol. 3, no. 1, pp. 7-16,
doi: 10.23887/jpk.v3i1.20943.
UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti mengucapkan terimakasih
kepada kepala SMAN 3 Boyolali, Bapak
Bambang Prihantoro, S.Pd., M.M atas
© 2021 Jurnal Pendidikan Kimia 165