The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook ini berisi Jenis Batik Berdasarkan Sejarah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sisindfaaz, 2021-10-09 09:48:21

Jenis Batik Berdasarkan Sejarah

Ebook ini berisi Jenis Batik Berdasarkan Sejarah

Keywords: E-Book Muatan Lokal Membatik

Jenis Batik
Berdasarkan

Seja
rah



sisi nindi fatimah X IPA 5

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan dalam
menyelesaikan E-Book ini dengan tepat waktu. Tanpa rahmat dan

pertolongan-Nya penulis tidak akan mampu menyelesaikan tugas ini dengan
baik. Tidak lupa shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad

SAW yang syafaatnya kita nantikan kelak.



penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT apa simpan nikmat sehat-Nya
sehingga ebook ini dapat diselesaikan. E-book ini disusun guna memenuhi
tugas Muatan Lokal Membatik. penulis berharap E-Book yang berisi tentang
Jenis Batik Berdasarkan Sejarah memberikan wawasan lebih ke pembaca.



Penulis menyadari E-Book bertema Jenis Batik Berdasarkan Sejarah ini masih
perlu banyak penyempurnaan karena kesalahan & kekurangan. Penulis

terbuka terhadap kritik dan saran pembaca agar E-Book ini dapat lebih baik.
Apabila terdapat banyak kesalahan pada E-Book ini, baik terkait penulisan

maupun konten penulis memohon maaf.





Demikian yang dapat penulis sampaikan, akhir kata semoga
E-Book ini dapat bermanfaat.

Bontang, 3 Oktober 2021



Sisi Nindi Fatimah

I

Daftar Isi

PENDAHULUAN
Kata Pengantar.......................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................ii

PEMBAHASAN

➫ Jenis Batik Berdasarkan Sejarah

Batik Keraton

Sejarah Batik Keraton.............................................................................iii
Jenis Jenis Batik Keraton.........................................................................VI
Motif Batik Keraton..................................................................................X

Batik Pesisir

Sejarah Batik Pesisir...............................................................................XII
Jenis Jenis Batik Pesisir..........................................................................XIV
Motif Batik Pesisir..................................................................................XVI

PENUTUP
Kesimpulan..........................................................................................XVIII
Daftar Pustaka.......................................................................................XIX

II

Sejarah Batik Keraton

Pada awalnya batik hanya dibuat dan dikenakan di lingkungan keraton,

sehingga setiap motif memiliki filosofi atau makna tertentu. Batik keraton

yaitu jenis batik yang dikembangkan dan digunakan di lingkungan keraton.

Motif dan penggunaannya diatur dengan norma-norma keraton. Setiap corak


menunjukkan status pemakainya.

Corak motif keraton disebut motif larangan, karena pada awalnya motif-

motif tertentu dilarang dikenakan masyarakat umum, kecuali oleh kerabat

keraton. Dalam tradisi masyarakat keraton (jawa) membatik dianggap sebagai


kegiatan pengabdian kepada raja.

Batik Keraton memiliki pola atau motif tradisional, karena tumbuh dan

berkembang di keraton-keraton Jawa. Motif, susunan ragam hias, maupun

pewarnaannya merupakan perpaduan antara seni, adat, filosofi, dan jatidiri

kehidupan masyarakat keraton. Batik jenis ini sangatlah eksklusif, karena


tidak sembarang orang bisa mengenakannya.

Awal tradisi membatik berlangsung di keraton, kain putih yang digunakan

merupakan hasil tenunan sendiri. Sedangkan, bahan-bahan pewarna yang


dipakai sendiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia seperti pohon

mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sementara, bahan sodanya dibuat dari soda

abu dan garamnya dibuat dari tanah lumpur. Warna dasar putih merupakan

salah satu ciri khas Batik Keraton Kasultanan Yogyakarta. Ciri khas lainnya,


pola geometri Batik Keraton Kasultanan Yogyakarta besar-besar dan

sebagiannya diperkaya dengan motif parang.


Motif batik keraton disebut dengan motif larangan karena hanya boleh dipakai

orang orang keraton, Batik larangan Keraton disebut juga Awisan Dalem, adalah

motif-motif batik yang penggunaan nya terikat dengan aturan-aturan
tertentutertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak semua orang boleh

memakainya.

III

Sejarah Batik Keraton

Salah satu hal yang melatarbelakangi adanya batik larangan di Yogyakarta

adalah adanya Keyakinan akan kekuatan spiritual dan makna filsafat yang


terkandung dalam motif kain batik. Motif pada batik dipercaya mampu

menciptakan suasana yang religius serta memancarkan aura magis sesuai

dengan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu beberapa motif, terutama

yang memiliki nilai falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik larangan.

Adapun yang termasuk batik larangan di Keraton Yogyakarta antara lain

Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe

Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, Parang-


parangan, Cemukiran, Kawung, dan Huk.

Setiap Sultan yang sedang bertahta memiliki kewenangan untuk menetapkan

motif batik tertentu ke dalam batik larangan. Parang Rusak adalah motif

pertama yang dicanangkan sebagai pola larangan di Kesultanan Yogyakarta


oleh Sri Sultan Hamengk
u Buwono I pada 1785.


Saat pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, batik larangan

ditekankan pada motif huk dan kawung.

Motif Huk Motif Kawung

IV

Jenis jenis Batik Keraton

Batik Keraton Cirebon

Batik Cirebon lahir lebih awal daripada batik di Mataram. Dari
sejarah pendiriannya, Keraton Cirebon telah berkembang lebih

dulu dibandingkan Keraton Mataram yang berkembang di
kemudian hari, sehingga kerajinan batik di Cirebon telah
berkembang sebelum berdirinya Kerajaan Mataram di Yogya dan
Solo. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya naskah Sunda yang
tertua tentang embrio batik di daerah Cirebon Selatan yang ditulis

pada tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi.
Corak Batik Keraton Cirebon yang ada pada saat ini berawal

tumbuh-berkembang berada di
Keraton Kasepuhan, Kanoman,

Kaprabonan dan Kacirebonan. Sejak awal perkembangan batik-
batik tersebut telah dipengaruhi oleh budaya Hindu, Islam, Cina,

dan Eropa.
Mengingat di dalam perkembangannya, Keraton Cirebon dengan

aneka produk batik (disebut dengan Batik Keraton Cirebon)
beserta ragam hias nya dewasa ini terbagi menjadi empat keraton
yang masing-masing mempunyai ciri khas, antara lain: (1) Keraton
Kasepuhan pada ragam hias Singa Barong; (2) Keraton Kanoman
pada ragam hias Paksi Naga Liman; (3) Keraton Kacirebonan pada

ragam hias Bintulu dan motif tanpa gambar hewan; serta (4)
Peguron

v

Jenis jenis Batik Keraton

Batik Keraton Jogjakarta

Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Jawa memiliki andil kuat
dalam melestarikan batik. Batik tulis yang mewakili batik klasik atau batik

murni bersumber pada arus budaya di masa kerajaan yang didirikan
Sutawijaya tersebut. Lestari dalam lingkup keraton untuk kemudian

berkembang hingga keluar keraton.
Selama mendirikan Mataram, Sutawijaya atau Panembahan Senopati (1587-

1601) sering bertapa, melakukan pengembaraan spiritual di sepanjang
pesisir selatan Jawa. Konon, lanskap ombak yang menghantam bebatuan
karang telah mengilhaminya untuk menciptakan motif parang, salah satu

motif batik khas Mataram.
Selanjutnya, dinamika kehidupan keraton melahirkan Perjanjian Giyanti
(1755 M). Perjanjian yang membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta

dan Kasultanan Yogyakarta. Tidak h
anya kekuasaan, namun juga cara

melestarikan budayanya. Batik Surakarta (Solo) dan Batik Yogyakarta
tercipta dalam nuansa seperti itu.

Meski tetap dijadikan pakaian adat keraton, dua jenis batik tersebut khas
dengan coraknya sendiri. Batik Yogya mewakili salah satu kelengkapan

busana Mataram yang seutuhnya menjadi milik Keraton Yogyakarta.
Dominasi warna tanah menjadi pembeda dari Batik Solo yang berwarna

coklat emas dengan dasar krem.
Batik awalnya berkembang terbatas sebagai bagian dari pendidikan putri
bangsawan dalam lingkup keraton. Membatik merupakan rutinitas para ratu

dan putri kerajaan yang biasanya dibantu para abdi dalem perempuan.
Karena rumit dan lama, lambat laut pengerjaannya pun boleh dilanjut di

rumah masing-masing.
Dengan diizinkannya pengerjaan batik di rumah, akhirnya tumbuh juga
keinginan abdi dalem untuk membuat batik bagi diri mereka sendiri. Dari
sini, kegiatan membatik mulai meluas, termasuk di keluarga abdi dalem dan
prajurit. Dan, semakin tersebar seiring banyak masyarakat yang melihat

mulai tertarik juga menirunya.

VI

Jenis jenis Batik Keraton

Demikianlah akhirnya Batik Yogyakarta keluar dari tembok
keraton dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Kreatifitas

yang ada turut memperkaya kehadiran motif-motif baru
yang dijadikan ciri khas masing-masing kelompok. Motif-

motif ini selanjutnya turut menjadi identitas sosial
masyarakat Yogyakarta.



Sebagai misal, ada batik keraton dan batik larangan yang
hanya diperuntukkan bagi keluarga keraton. Ada juga batik
sudagaran, batik khas kaum be
rekonomi kuat namun bukan
berasal dari keluarga keraton. Sementara itu, ada juga batik

petani atau batik rakyat yang dipakai para petani dan
masyarakat umum.

VII

Jenis jenis Batik Keraton

Batik Keraton Solo

Batik Solo tak terlepas dari pengaruh keraton Kerajaan Pajang pada 4
abad yang lalu. Berawal dari perpecahan Keraton Surakarta dan

Ngayogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Giyanti tahun 1755. Seluruh
busana kebesaran Mataram dibawa ke Keraton Yogyakarta. Sementara
itu, Paku Boewono III memerintahkan kepada para abdi dalem untuk
membuat sendiri motif batik Gagrak Surakarta. Dari perintah itu
masyarakat berlomba-lomba untuk membuat corak batik dan
menghasilkan banyak motif batik yang berkembang di masyarakat.


Batik Solo mempunyai ciri khas baik dalam proses cap maupun tulisnya.

Pewarna yang digunakan pun b
erasal dari bahan alam yaitu soga

sehingga menghasilkan warna dasar kecoklatan. Motif Batik Solo juga
cenderung rumit dan tegas di setiap coraknya. Batik Solo mempunyai

keistimewaan tersendiri dibandingkan batik lain.

VIII

Motif Batik Keraton

Motif Huk

Motif huk terdiri dari motif kerang, bina
tang, tumbuhan, cakra, burung, sawat

(sayap), dan garuda. Motif kerang bermakna kelapangan hati, binatang
menggambarkan watak sentosa, tumbuhan melambangkan kemakmuran,
sedangkan sawat ketabahan hati. Motif ini dipakai sebagai simbol pemimpin
yang berbudi luhur, berwibawa, cerdas, mampu memberi kemakmuran, serta
selalu tabah dalam menjalankan pemerintahannya. Motif ini hanya boleh

dikenakan oleh raja dan putra mahkota.

IX

Jenis jenis Batik Keraton

Motif Kawung

Motif kawung merupakan pola geometris dengan empat bentuk elips
yang mengelilingi satu pusat. Bagan seperti ini dikenal dalam budaya
Jawa sebagai keblat papat lima pancer. Ini dimaknai sebagai empat

sumber tenaga alam atau e

mpat penjuru mata angin.

Pendapat lain mengatakan kawung menggambarkan bunga lotus atau
teratai yang sedang mekar. Bunga teratai sendiri digunakan sebagai

lambang kesucian. Motif kawung juga sering diartikan sebagai biji
kawung atau kolang-kaling, buah pohon enau atau aren yang sangat

bermanfaat bagi manusia. Untuk itu pemakai motif ini diharapkan
dapat bermanfaat bagi lingkungannya. Motif ini boleh dipakai oleh

para Sentana Dalem.



Budaya Jawa memandang semua yang melekat pada diri, termasuk
busana, mencerminkan kapasitas diri. Penggunaan batik larangan
merupakan salah satu contohnya. Aturan ini lebih dari sekadar simbol
status. Batik larangan juga merupakan sebuah komunikasi politik atau
pesan kepemimpinan terhadap sesama penguasa, rakyat, dan juga

terhadap lawan politik.



Aturan-aturan penggunaan batik larangan ini masih berlaku hingga
sekarang, namun hanya diterapkan secara terbatas di lingkungan
Keraton Yogyakarta, tidak untuk masyarakat umum di luar keraton.

X

Sejarah Batik Pesisir

Nama batik Pesisir didapat lantaran berasal dari kota-kota di pesisir pantai,
seperti Cirebon, Indramayu, Semarang, Pekalongan, Tuban, Lasem, hingga

Madura.
Pola yang ada pada batik pesisir lebih bebas dan warnanya lebih beraneka
ragam seperti merah, biru, hijau, kuning, bahkan ada pula yang oranye, ungu,
dan warna-warna muda lainnya. Hal ini dikarenakan pengaruh budaya luar
yang begitu kuat. Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan

sebagai barang dagangan.
Di samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat mempengaruhi bentuk
ragam hias batik-nya, terutama pada saat berkembangnya kerajaan Islam di
Indonesia pada abad 16. Ragam flora non figuratif menjadi alternatif dalam

motif batik pesisir. Dikarenakan adanya larangan dikalangan ulama Islam
dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.

Dalam sejarah perkembangannya, bati
k pesisir mengalami kemajuan sekitar

abad ke-19, hal yang menyebabkan kemajuannya adalah karena adanya
kemunduran produksi tekstil dari India yang selama itu menjadi salah satu
produsen kain terbesar yang dijual ke pulau jawa dan mengakibatkan banyak

konsumen beralih ke kain batik.
Puncak perkembangan batik pesisir adalah di masa pengusaha Indo-Belanda
yang berperan pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal dengan nama

"Batik Belanda". Selain pengusaha dari belanda pengusaha Tionghoa juga
ikut dalam usaha pengembangan batik pesisir.

Ciri khas batik pesisir terlihat dari motif-motif yang menjadi simbol akulturasi
budaya Indonesia pesisir, Tiongkok dan Belanda. Maka tidak heran jika batik
pesisir lebih menerapkan motif-motif seperti burung hong, naga, kereta kuda,
kapal, kupu-kupu, burung merak dan pipit. Juga motif-motif dengan ciri khas

lingkungan yang sangat kuat.

XI

Sejarah Batik Pesisir

Nama batik Pesisir didapat lantaran berasal dari kota-kota di pesisir pantai,
seperti Cirebon, Indramayu, Semarang, Pekalongan, Tuban, Lasem, hingga

Madura.
Pola yang ada pada batik pesisir lebih bebas dan warnanya lebih beraneka
ragam seperti merah, biru, hijau, kuning, bahkan ada pula yang oranye, ungu,
dan warna-warna muda lainnya. Hal ini dikarenakan pengaruh budaya luar
yang begitu kuat. Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan

sebagai barang dagangan.
Di samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat mempengaruhi bentuk
ragam hias batik-nya, terutama pada saat berkembangnya kerajaan Islam di
Indonesia pada abad 16. Ragam flora non figuratif menjadi alternatif dalam

motif batik pesisir. Dikarenakan adanya larangan dikalangan ulama Islam
dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.

Dalam sejarah perkembangannya, bati
k pesisir mengalami kemajuan sekitar

abad ke-19, hal yang menyebabkan kemajuannya adalah karena adanya
kemunduran produksi tekstil dari India yang selama itu menjadi salah satu
produsen kain terbesar yang dijual ke pulau jawa dan mengakibatkan banyak

konsumen beralih ke kain batik.
Puncak perkembangan batik pesisir adalah di masa pengusaha Indo-Belanda
yang berperan pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal dengan nama

"Batik Belanda". Selain pengusaha dari belanda pengusaha Tionghoa juga
ikut dalam usaha pengembangan batik pesisir.

Ciri khas batik pesisir terlihat dari motif-motif yang menjadi simbol akulturasi
budaya Indonesia pesisir, Tiongkok dan Belanda. Maka tidak heran jika batik
pesisir lebih menerapkan motif-motif seperti burung hong, naga, kereta kuda,
kapal, kupu-kupu, burung merak dan pipit. Juga motif-motif dengan ciri khas

lingkungan yang sangat kuat.

XII

Jenis Jenis Batik Pesisir

Motif Megamendung

Kemunculan batik mega mendung dipengaruhi oleh datangnya bangsa Cina
di tanah Cirebon. Bangsa Cina datang membawa ilmu pengetahuan,
termasuk dalam hal seni dan budaya.


Setelah bangsa Cina tinggal di tanah Cirebon dan berbaur dengan

masyarakat setempat, akhirnya terjadilah pernikahan Sunan Gunung Jati
dengan Ratu Ong Tien. Ratu Ong Tien merupakan ratu dari bangsa Cina asli.

Pernikahan tersebut terjadi pada abad ke-16.



Pasca pernikahan Sunan Gunung Jati, kebudayaan Cina dan Cirebon

mengalami akulturasi. Hal tersebut m
enular kepada masyarakat Cirebon

yang ditunjukkan dalam pembuatan motif piring, keramik, serta batik.



Awan dalam kebudayaan bangsa Cina melambangkan surga, tempat yang
suci, abadi, dan sangat luas. Sebagai lambang surga, motif awan akhirnya
diwujudkan dalam batik tulis khas Cirebon. Motif awan tersebut bernama

motif batik mega mendung.



Meski dipengaruhi oleh kebudayaan Cina, motif awan yang dibuat oleh
masyarakat Cirebon tetap memiliki perbedaan. Bangsa Cina memiliki bentuk

awan yang cenderung bulat, sedangkan masyarakat Cirebon membuat
bentuk awan yang cenderung lancip dan lonjong.



Terdapat pendapat lain mengatakan bahwa sejarah batik mega mendung
berasal dari kaum tarekat yang ada di dalam Keraton Cirebon. Kelompok
tersebut tinggal di desa bernama Trusmi yang letaknya 4 kilometer dari
keraton. Pendapat tersebut percaya bahwa masyarakat Desa Trusmi itulah

yang mengembangkan motif mega mendung hingga terkenal seperti
sekarang ini.

XIII

Jenis Jenis Batik Pesisir

Batik Pekalongan

Batik Pekalongan merupakan salah satu jenis batik yang dibuat oleh masyarakat
Pekalongan. Para perajinnya mayoritas tinggal di wilayah pesisir utara pulau Jawa.
Terdapat faktor pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah
dan saling meniru pada awalnya sehingga menimbulkan kreativitas para perajin untuk

selalu membuat motif batik pekalongan baru.



Batik pekalongan menjadi lebih berkembang setelah pengusaha batik Belanda bernama
Eliza Van Zuylen membangun workshop di wilayah itu. Berdasarkan arahannya, motif batik
Pekalongan yang baru berhasil diciptakan oleh para perajin batik Pekalongan dan langsung

dijual kepada pengusaha dari batik Belanda tersebut. Eliza Van Zuylen merupakan salah


satu orang yang memiliki peran besar atas kemunculan motif-motif baru dari batik

Pekalongan. Melalui tangan pengusaha ini juga, batik Pekalongan mampu menembus pasar
Eropa, dimana para pembeli batik Eliza Van Zuylen ialah para bangsawan Eropa.



Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan
pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun

lalu hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di
rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat

Pekalongan.



Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat
dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai,

yaitu di daerah Pekalongan kota serta daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Tiongkok, Belanda,

Arab, Asia, Melayu serta Jepang pada zaman lampau mampu mewarnai dinamika pada
desain dan pola serta tata warna seni batik di Pekalongan.



Oleh karena itu, beberapa jenis pola batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut
yang kemudian dikenal sebagai identitas batik peklaongan. Desain itu, yaitu batik
Jlamprang, diilhami dari Negeri Asia serta Arab. Lalu batik Encim serta Klengenan,

dipengaruhi oleh peranakan Tiongkok. Batik Belanda, batik Pagi Uncomfortable, serta batik
Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.

XIV

Motif Batik Pesisir

Motif Batik Buketan

Motif buketan merupakan motif dengan mengambil tumbuh-tumbuhan atau
bunga sebagai ornamen atau hiasan yang disusun memanjang selebar kain.

Kata buketan sendiri berasal dari ba
hasa Perancis bouquet yang berarti

rangkaian bunga. Motif ini mudah anda kenali karena motif dalam batik ini
bergambar bunga, kupu-kupu, burung hong, burung bangau, dan tumbuhan
yang bersulur-sulur seperti tanaman yang tumbuh di Eropa. Gambar-gambar
tersebut dirangkai dalam suatu rangkaian yang cantik, dengan warna yang
indah. Batik motif buketan ini banyak berkembang di daerah pesisir Jawa pada
abad ke-19. Bersamaan dengan adanya pengaruh Eropa di zaman kolonial,
khususnya Belanda. Selain itu motif batik buketan ini juga dipengaruhi oleh
keberadaaan pedagang dan pengusaha batik dari Tiongkok pada masa lampau.

XV

Motif Batik Pesisir

Motif Batik Jlamprang

Motif Batik Jlamprang adalah suatu motif yang berbentuk

semacam nitik dari Yogyakarta yang disebut juga dengan motif

MboatitfikBagteiokmJleatmrisprbainasgaPneykaabloenrug
paan lingkaran maupun segitiga.
mendapatkan inspirasi motif

batik yang berasal dari para pedagang asal Gujarat, India.

Motif tersebut berasal dari kain tenun yang berbahan sutra khas

Gujarat yang dibuat dengan teknik ikat dobel atau patola.

Kemudian oleh masyarakat Pekalongan diadopsi ke dalam motif

batik yang serupa motif tenun tersebut.

Jadilah Motif Jlamprang berupa ceplok yang terdiri dari bentuk

bujur sangkar dan persegi panjang yang disusun menyerupai

anyaman pada kain tenun patola.

Ditambah dengan warna-warna khas Batik Pesisir Pekalongan,

terciptalah motif jlamprang yang indah.

XVI

Kesimpulan

Batik kraton adalah jenis batik yang dikembangkan dan digunakan di
lingkungan keraton. Motif dan penggunaannya diatur dengan norma-norma
kraton. Karena setiap corak menunjukkan status pemakainya, corak motif
batik keraton disebut motif larangan. Hal ini disebabkan pada awalnya motif-

motif tertentu dilarang dikenakan oleh masyarakat umum, kecuali oleh
kerabat kraton. Dalam masyarakat kraton jawa, membatik dianggap sebagai

kegiatan pengabdian kepada raja.
Batik pesisir yaitu batik yang berkembang diluar keraton. Pertumbuhan pesisir

jawa bagian timur dimulai sejak masa pra islam abad ke 15 M dan 16 M.
Orientasi pengembangan seni batik pesisiran juga dipengaruhi oleh budaya

keraton yang saat itu menjadi pusat pemerintahan.
Dalam sejarah batik pesisir, seperti batik pekalongan, batik tegal, batik
indramayu, dan batik ceribon penyebarannya ke selatan, seperti kerawang,

ciamis, tasikmalaya dan garut. Hamp
ir secara keseluruhan, pola batiknya

mengambil pola hias pada keraton ceribon.
Pilihan warna yang mencolok pada batik pesisiran tampaknya dipengaruhi
warna keramik pada masa dinasti Ming yang hanya diproduksi pada abad ke –
17 M sampai abad ke-18. Warna yang dominan selain warna biru dan putih juga

berbagai warna.
Berikut adalah ciri batik pesisir :
- Berkembang di daerah selain Keraton (Cirebon, Pekalongan, dll)
- Dipengaruhi oleh kebudayaan Islam dan China
- Memiliki motif dengan bentuk non geometris

- Motifnya bersifat natural
- Komposisi warna yang digunakan beragam.

XVII

Daftar Pustaka

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/09/27/yuk-cari-tahu-sepenggal-
cerita-tentang-batik-pekalongan-yang-menjadi-ikon-bagi-perkembangan-batik-

di-nusantara
http://batikdan.blogspot.com/2011/09/pola-batik-buketan.html?m=1
https://www.tribunnewswiki.com/2021/04/08/batik-jlamprang-pekalongan
https://jateng.inews.id/berita/khusus-untuk-raja-ini-motif-batik-larangan-
keraton-yogyakarta https://www.kratonjogja.id/kagungan-dalem/12/motif-

batik-larangan-keraton-yogyakarta
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4076605/ketahui-arti-5-motif-utama-

batik-keraton-dari-ceplokan-hingga-semen
https://gpswisataindonesia.info/batik-keraton/

dhatntp-kse:/i/swtimwwew.saeamnanryaan/ghptotsp.:c/o/mww/?wp.=in1f0o4b
4at2ik4.5cohmtt/psse:/ja/realhsa-bmaatrika-.ikde/rbaattoink--sjaowloa-/

https://fitinline.com/article/read/7-motif-batik-larangan-keraton-yogyakarta-
dan-makna-yang-terkandung-didalamnya/

https://www.pinterest.com/amp/pin/41236152813483192/
https://blogkulo.com/sejarah-ciri-khas-batik-yogyakarta/
https://mbatikyuuuk.com/mbatikyuuuk-e-newshttpwww-thejakartapost-
comnews20091219salihara-host-batik-workshop-html/iyaa-com-filosofi-rujak-

senthe-udan-liris-5012013/

XVIII

thank you !


Click to View FlipBook Version