The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fachrulrozimuhammad07, 2021-11-22 09:59:38

Kumpulan Cerita-WPS Office

Kumpulan Cerita-WPS Office

Kumpulan Cerita
Pendek

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan penulisan buku Antologi Cerpen Remaja. Dalam penyusunan

Antologi Cerpen Remaja penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan

kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa.
Kami menyadari tanpa arahan dari guru pembimbing serta masukan – masukan dari
berbagai pihak tidak mungkin kami bisa menyelesaikan tugas Antologi Cerpen Remaja ini.
Antologi Cerpen Remaja ini dibuat sedemikian rupa semata-mata untuk membangkitkan
kembali minat baca siswa/i dan sebagai motivasi dalam berkarya khususnya karya tulis. Untuk
itu penulis hanya bisa menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat,

sehingga kami bisa menyelesaikan antologi cerpen remaja ini.
Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para

pembaca pada umumnya.

A Daftar Isi
BC
Persahaba D
tan Sejati Mengajar Melupaka
kan n Prioritas Indahnya
Terpentin Berbagi
Tentang dengan
Bersikap g Sahabat
Rendah

Hati

D

Jangan
Lihat dari
Belakang,
Lihatlah

dari
Depan

Persahabatan Sejati

Saat ini aku berada di kelas 3 SMP, setiap hari kujalani bersama dengan ketiga
sahabatku yaitu Aris, Andri, dan Ana. Kita berempat sudah bersahabat sejak kecil.

Suatu saat kami menulis surat perjanjian persahabatan di sobekan kertas yang
dimasukkan ke dalam sebuah botol, kemudian botol tersebut dikubur di bawah
pohon yang nantinya surat tersebut akan kami buka saat kami menerima hasil
ujian kelulusan.

Hari yang kami berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil ujian
dan hasilnya kita berempat lulus semua.
Kami serentak langsung pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami datangi
dan menggali tepat di mana botol yang dahulu dikubur berada.

Kemudian, kami berempat membuka botol tersebut dan membaca tulisan yang dulu pernah kami tulis. Kertas
tersebut bertuliskan “Kami berjanji akan selalu bersama untuk selamanya.”

Keesokan hari, aris berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat. Malamnya kami berempat pergi
bersama ke suatu tempat dan di situlah saat-saat yang tidak bisa aku lupakan karena aris berencana untuk
menyatakan perasannya kepadaku. Akhirnya aku dan anis berpacaran.
Begitu juga dengan Andri, dia pun berpacaran dengan Ana. Malam itu sungguh malam yang istimewa untuk
kami berempat. Kami pun bergegas untuk pulang.

Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak.
“Perasaanku ngga enak banget ya?” Ucapku penuh cemas.

“Udahlah ndi, santai aja, kita ngga bakalan kenapa-kenapa” jawab andri dengan santai.
Tidak lama setelah itu, hal yang dikhawatirkan Nindi terjadi.

“Arissss awasss! di depan ada juang!” Teriak Nindi.

“Aaaaaaaaaa!!!”
Bruuukkk. Mobil yang kami kendarai masuk ke dalam jurang. Aku tak kuasa menahan air mata yang terus
mengalir sampai aku tidak sadarkan diri.

Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di sampingku.

“Nindi.. kamu sudah sadar, Nak?” Tanya ibuku.

“Ibu.. aku di mana? Di mana Ana, Andri, dan Aris?” tanyaku.

“Kamu di rumah sakit Nak, kamu yang sabar ya, Andri dan aris tidak tertolong di lokasi kecelakaan”
Jawab ibu sambil menitikkan air mata.
Aku terdiam mendengar ucapan ibu dan air mataku menetes, tangisku tiada henti mendengar
pernyataan ibu.

“Aris, mengapa kamu tinggalkan aku, padahal aku sayang banget ke kamu, aku cinta kamu, tapi kamu
ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku.” batinku berkata.
Lantas, 2 hari berlalu dan aku berkunjung ke makam mereka, aku berharap kami bisa menghabiskan
waktu bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu
mengenang kalian.

Mengajarkan Tentang Bersikap
Rendah Hati

Ada seorang anak bernama Fitri, dia merupakan murid kelas 6 SD yang sangat pintar dan baik hati.
Di sekolah sangat banyak teman yang menyukainya karena sikapnya tersebut. Tidak jarang, semua
ingin berteman dengan Fitri. Ada lagi anak perempuan bernama Ita, ia berbanding terbalik dengan
Fitri. Ia pintar namun sangat sombong. Temannya hanya dua yaitu Lisa dan Lily, gadis kembar di
sekolahnya.

Suatu hari, Ibu guru mengumumkan bahwa akan ada perlombaan membaca pidato dua minggu
lagi. Bu Yati selaku wali kelas 6 membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin ikut
seleksi. Fitri dan Ita jelas ikut berpartisipasi. Setiap hari mereka selalu latihan membaca pidato agar
lolos seleksi. Sampai hari penyeleksian tiba, keduanya memberikan tampilan yang memukau lalu
dinyatakan lolos.

Saat hari perlombaan tiba, Ita terus saja membanggakan dirinya, menyatakan bahwa pasti ia akan
juara. Sebab sebelumnya dia juga pernah menjadi juara waktu kelas 5 SD di lomba pidato. Berbeda
dengan Fitri, ia tidak henti-hentinya berdoa dan berlatih, mencoba menghafal kembali teks pidato.
Ita pun dipanggil lebih dulu, sang juara kelas 5 SD kini mendadak lupa teks pidato yang sudah
dihafalnya.

Setelah itu, Fitri maju dan memberikan penampilan yang sangat bagus. Semua
juri kagum termasuk Bu Yati yang saat itu datang untuk menemani mereka
lomba. Pengumuman pun tiba, Fitri keluar menjadi juara 1 sedangkan Ita harus
menahan air matanya karena dia tidak menang sama sekali. Cerpen
pendidikan ini mengajarkan kita bahwa harus menjadi orang yang rendah hati
dan jangan sombong.

Menjadi juara 1 sedangkan Ita harus menahan air matanya karena dia tidak
menang sama sekali. Cerpen pendidikan ini mengajarkan kita bahwa harus
menjadi orang yang rendah hati dan jangan sombong.

Melupakan Prioritas Terpenting

Suara alarm berdering begitu nyaring mengusik tidur nyenyak seorang Nathan. Dia enggan
membuka mata namun akhirnya terpaksa ia buka.

“Oh Tuhan!” Nathan kaget melihat jam ternyata sekarang sudah pukul 7 pagi. Nathan langsung
bergegas mandi dan tanpa sarapan ia berangkat ke kantor. Sesampainya Nathan di kantor, Nathan
telat mengikuti pertemuan pagi ini karena telah dimajukan lebih awal dari biasanya dengan alasan
Bapak Direktur ada keperluan di luar kota.

“Permisi, Pak. Saya Boleh masuk?” Tanya Nathan izin kepada bapak direktur yang memimpin
pertemuan.

”Silakan masuk, tapi maaf proyekmu digantikan oleh saudara Arkan.”

“Kenapa pak? Saya hanya telat 15 menit.”

“Maaf saudara Nathan ini bukan masalah lama atau tidaknya Anda terlambat, namun ini tentang ke
koensistensi Anda dalam bekerja.” Jelas Bapak direktur dengan tegas.
Langsung seketika Nathan hanya bisa terdiam dengan wajah pucatnya. Setelah pertemuan ini selesai
Nathan berjalan gontai pergi menuju meja kerja miliknya.

“Ada apa Nath? Kok telat.”

“Memang salah saya, saya semalam bergadang nonton bola, sampai melupakan project penting yang
sangat menguntungkan bagi saya.”

“Oalah harusnya kamu harus lebih mengurangi hobimu.” Sambung Meri sedikit memberi nasihat.

Indahnya Berbagi dengan
Sahabat

Pagi itu hujan turun dengan deras. Ani merasa bingung bagaimana untuk berangkat ke sekolah. Ketika
sedang memandang hujan, terdengar suara HP berdering dari kamar Ani, lantas saja Ani masuk ke
kamar dan menjawab telepon.

Ternyata yang menghubungi Ani adalah Lia sahabatnya. Dalam teleponnya Lia mengatakan bahwa ia
akan menjemput Ani, sebab Lia tahu jika Ani sedang kebingungan bagaimana untuk pergi ke sekolah.

Tak selang berapa lama, Lia sudah sampai di depan rumah Ani bersama ayahnya menggunakan mobil.
Ani pun bergegas berpamitan pada orang tuannya dan keluar untuk menemui Lia.

Setelah sampai di sekolah, yang merupakan teman sebangku tersebut pun masuk menuju kelasnya.
Istirahat pun tiba, keduanya pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa lapar. Ketika hendak membayar
ternyata Lia lupa membawa dompet. Sehingga Ani sang sahabat membayarkannya.

Jangan Lihat dari Belakang, Lihatlah dari
Depan

Siang itu Viktor dan Budi duduk di sebuah taman. Tak selang beberapa lama
lewatlah seorang berpakaian wanita dengan rambut panjang dan sepatu yang
tinggi. Sontak keduanya melihat ke arah wanita tersebut. Dan tentu saja keduanya
memiliki keniatan untuk mengikuti wanita tersebut.
Karena penasaran, keduanya pun mengikuti ke mana wanita tersebut itu berjalan.
Ternyata ia berhenti pada sebuah cafe. Keduanya pun

mengikutinya hingga masuk ke dalam. Namun sayangnya tak menemukan wanita
yang diikutinya.

Mereka pun mencari hingga ke lantai dua dalam cafe tersebut, ternyata memang
benar wanita yang diikutinya tersebut ada di lantai dua.
Namun sayangnya keduanya tak memiliki keberanian untuk menegur sang wanita.

Sehingga mereka hanya mampu mendengarnya dari belakang. Hingga sangat lama,
karena asa penasaran yang begitu besar, maka Viktor pun memiliki keberanian
untuk menyapa sang wanita.

Dari belakang, Viktor pun menepuk pundak snag wanita sambil mengatakan “Hai”. Sang wanita pun
menoleh ke arah Viktor. Sontak Viktor pun kaget dengan wajah yang aman sangat menyesal dan
malu. Sebab wanita yang diikuti bersama Budi bukanlah wanita, namun pria yang menyamar sebagai
wanita.

Suatu hari Ali dan Indra sedang berbincang-bincang di pinggir lapangan saat istirahat sedang
berlangsung. Ali dan Indra berada di satu kelas yang sama yaitu kelas 12. Sudah satu minggu teman
mereka Andi tidak kunjung masuk.

Kabarnya Andi sedang sakit dan dirawat. Indra yang merupakan tetangga sebelah rumah Andi pun
sering ditanyakan bagaimana kabar Andi. Ali pun ikut menanyakan pada Indra,
“Ndra, keadaan Andi bagaimana? Sudah kembali dari rumah sakit belum?” Indra yang sudah sering
mendapatkan pertanyaan ini pun menjawab dengan nada lemas dan malas.

“Indra sudah meninggal, Li” kira-kira seperti itulah bunyi jawaban yang didengar oleh Ali.
Karena suara di pinggir lapangan terlalu kencang ternyata Ali salah mendengar.
“Apa Andi sudah meninggal Ndra?”

Lalu Indra menjawab dengan suara yang lebih kencang, “Sembarang kamu Ali. Maksud aku Andi sudah
mendingan bukan meninggal.”

“Oh.” Jawab Ali sambil tertawa karena terkejut setelah salah mendengar kabar kondisi Andi.
Si Gareng dan si Semar pergi ke pasar baru, senang membeli sepatu futsal dipasar tersebut. si Gareng
senang beli sepatu membuat dia sekalian senang bayarin sepatu termasuk membuat si Semar. Setelah
keliling2 di seputar pasar tersebut selanjutnya mereka berhenti di suatu toko yang menjajakan sepatu futsal
dan mereka mendapatkan sepatu yang diinginkan di toko tersebut.
Mereka pun telah sepakat dan deal tentang harga bersama si penjajal sepatu tersebut, untuk 2 gunakan
sepatu dihargai Rp300.000. Namun sesudah senang membayar, ternyata duit cash yang Gareng bawa hanya
Rp 100 ribu. Kemudian si Gareng menyita inisiatif menyuruh Semar ke ATM untuk ambil uangnya di atm.
maka dikasihlah dompet si Gareng ke si Semar.

Gareng: “Mar!”

Semar: “Iya Reng, jadi gimana nih?”

Gareng: “Lo ke atm, terus ambilin duit 200 ribu aja di mesin itu pake kartu atm gue, lo
tau kan cara ambil duit di atm?”

Semar: “Ya bisalah, lo kira gue orang cupu, ngambil duit di atm aja gak tau huh! Jangan
ngeremehin gitulah.”

Gareng: “Yaudah nih bawa dompet gue, nanti ambil duitnya pake kartu gue. Terus kalo
ada apa-apa lo telpon gue. Buruan sana, gue enggak enak mirip abang penjualnya kalo
kelamaan, nanti dikira lagi pura-pura beli tapi enggak punya duit.”

Semar: “Oke gue berangkat, lo standby hp aja. Nanti gue telepon lo kalo duitnya udah
gue ambil ok boss?”

Gareng: “Yaudah sana berangkat, gue tungguin cepet!”
(Setelah 15 menit menunggu, tiba2 si Semar nelpon ke hp si Gareng).

Semar: “Reng, waduh celaka kita.”

Gareng: “Celaka gimana maksud lo?”

Semar: “Duit lo gak bisa diambil, kartu lo di tolak terus sama atm, gue udah nanya ke satpam, katanya kartu lo tuh
enggak bisa, bakalan keluar terus kalo masukin ke atm.

Gareng: “Ah masa sih, padahal kan gue baru aja ganti itu kartu. Masa gak bisa?”

Semar: “Duh gimana nih? Mending batalin aja beli sepatunya dan lo kabur diem-diem dari si abang itu. Besok lo tanyain
ke banknya kenapa kartunya ga bisa dipake.”

Gareng: “Emang kartunya yang mana yang lo masukin?”

Semar: “Itu tadi gue masukin kartu yang ada nama, tanggal lahir, alamat sama agama lo ke mesin itu.”

Gareng: “Sampe taun jebot dan gajah bisa ngelahirin onta pun kagak bakal bisa, ktp kok buat ambil duit di ATM.”

Biodata Diri

Nama : Muhammad Fachrul Rozi Gunawan
Tempat Tanggal/Lahir : Jakarta, 07 Februari 2006
Alamat : Jl. Pitara Raya Gg. Sepakat 1 RT 002/016
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Pendidikan : SMK Al Muhtadin
No. Telefon : 0895 3472 82109

THANK YOU


Click to View FlipBook Version