The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku pendukung belajar Bahasa Jawa untuk umum

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by M. ANTON NUR ALFIAN, 2023-08-09 21:15:07

Sutresna Jawa

Buku pendukung belajar Bahasa Jawa untuk umum

Keywords: Sutresna Jawa

SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 47


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 48 WAYANG Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti "bayangan". Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain. Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang. Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya. Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera. Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan. Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan. Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut. Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu). Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang. Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri. Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka. Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak. Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan. Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam. Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 sampai 8 jam. Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa digunakan adalah dan jenis slendro saja. Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih. Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara "koor". Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong. Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya. Ia dibatasi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah: (1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan; (2) kepercayaan masyarakat sekitarnya; (3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut. Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut. Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau Ramayana. Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan babad Menak. Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakon-lakon (ceritera-ceritera) tertentu. Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 49 lakon tertentu untuk pertunjukan wayang. Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan. Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan. Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya. Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang. Untuk suatu upacara tertentu, lakon wayang yang dipentaskan juga tertentu. Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah "Kondure Dewi Sri" (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah Batara Kala. Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga ditentukan oleh permintaan penanggap2 atau atas kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang. Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini. Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono. Mengenai timbulnya pertunjukan wayang ini Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan Hindu datang. Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju "Hyang", dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya. Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas. Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM. Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang. Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan. Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini. Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jinising Wayang Jinising wayang miturut lakoné ‘jenis wayang menurut cerita yang disajikan’: 1. Wayang Purwa, nyritakaké lakon Ramayana lan Mahabarata (menceritakan lakon Ramayana dan Mahabarata). 2. Wayang Madya, nyritakaké lakon sawisé Parikesit dadi ratu (menceritakan lakon-lakon masa setelah Parikesit menjadi raja). 3. Wayang Gedhog, nyritakaké lakon Panji (menceritakan lakon-lakon Panji). 4. Wayang Suluh, nyritakaké lakon perjuangané rakyat Indonesia musuh penjajah Walanda (menceritakan lakon-lakon perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda). 5. Wayang Ménak, nyritakaké lakon Ménak Jayengrana utawa adaptasi babad Islam sing sumberé saka Timur Tengah (menceritakan lakon Menak Jayengrana atau adaptasi babad Islam


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 50 yang bersumber dari Timur Tengah) 6. Wayang Potèhi, nyritakaké kisah-kisah ing negara Cina kang sumberé saka ajaran agama Kong Hu Chu (menceritakan kisah-kisah di negara Cina yang bersumber dari ajaran agama Kong Hu Chu). 7. Wayang Dipanegara, nyritakaké perjuangané Pangéran Dipanegara nglawan penjajah Walanda (menceritakan perjuangan Pangeran Dipanegara melawan penjajah Belanda). 8. Wayang kang mbèbèrake agama (wayang yang menjadi sarana penyampaian ajaran agama): 9. Wayang Budha, medhar kawruh lan ajaran agama Buddha (membahas pengetahuan dan ajaran agama Buddha); 10. Wayang Prajanjian, Wayang Sabda, Wayang Sabda Ngèsthi Raharja, nyritakaké Babad Injil Prajanjian Lawas lan Anyar (menceritakan sejarah Injil Perjanian Lama dan Baru); 11. Wayang Shadhat, nyritakakaké lelakoné para wali (menceritakan kehidupan para wali); 12. Wayang Wahyu (Katholik), nyritakakaké bab Injil Prajanjian Anyar (menceritakan tentang Injil Perjanjian baru). Jinising wayang miturut pentase 1. Wayang Kulit Purwa Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit binatang (kerbau, lembu atau kambing). Wayang kulit dipakai untuk memperagakan Lakon lakon dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana, oleh karena itu disebut juga Wayang Purwa. Sampai sekarang pertunjukan wayang kulit disamping merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu bagian dari upacara-upacara adat seperti: bersih desa, ngruwat dan lainlain. Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara. Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00. Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang. Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya. Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk masuk ke pertunjukan yang sebenarnya. Sebagai pedoman dalam menyajikan pertunjukan wayang kulit biasanya seorang dalang akan menggunakan pakem pedalangan berupa buku pedalangan.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 51 Namun ada juga dalang yang menggunakan catatan dari dalang-dalang tua yang pengetahuannya diperoleh lewat keturunan. Meskipun demikian, seorang dalang diberi kesempatan pula untuk berimprovisasi, karena pakem pedalangan tersebut sebenarnya hanya berisi inti ceritera pokok saja. Untuk lebih menghidupkan suasana dan membuat pertunjukan menjadi lebih menarik, improvisasi serta kreativitas dalang ini memegang peranan yang amat penting. Warna rias wajah pada wayang kulit mempunyai arti simbolis, akan tetapi tidak ada ketentuan umum di sini. Warna rias merah untuk wajah misalnya, sebagian besar menunjukkan sifat angkara murka, akan tetapi tokoh Setyaki yang memiliki warna rias muka merah bukanlah tokoh angkara murka. Jadi karakter wayang tidaklah ditentukan oleh warna rias muka saja, tetapi juga ditentukan oleh unsur lain, seperti misalnya bentuk (patron) wayang itu sendiri. Tokoh Arjuna, baik yang mempunyai warna muka hitam maupun kuning, adalah tetap Arjuna dengan sifat-sifatnya yang telah kita kenal. Perbedaan warna muka seperti ini hanya untuk membedakan ruang dan waktu pemunculannya. Arjuna dengan warna muka kuning dipentaskan untuk adegan di dalam kraton, sedangkan Arjuna dengan warna muka hitam menunjukkan bahwa dia sedang dalam perjalanan. Demikian pula halnya dengan tokoh Gatotkaca, Kresna, Werkudara dan lain-lain. Perbedaan warna muka wayang ini tidak akan diketahui oleh penonton yang melihat pertunjukan dari belakang layar. Alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan wayang kulit dari dahulu sampai sekarang telah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi. Dalam bentuk aslinya alat penerangan yang dipakai pada pertunjukan wayang kulit adalah blencong, kemudian berkembang menjadi lampu minyak tanah (keceran), petromak, sekarang banyak yang menggunakan lampu listrik. 2. Wayang Klithik Wayang klithik terbuat dari kayu dengan dua dimensi (pipih) yang hampir mendekati bentuk wayang kulit. Terdapat persamaan antara wayang kulit dengan wayang klithik, misalnya pada gamelan, vokalis, bahasa yang digunakan dalam dialog, desain lantai, alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan dan lain-lain. Meskipun demikian, banyak juga kita jumpai perbedaan- perbedaannya. Pertunjukan wayang klithik umumnya hanya berfungsi sebagai tontonan biasa yang kadang-kadang di dalamnya diselipkan penerangan-penerangan dari pemerintah. Setting panggung sedikit agak berbeda dengan wayang kulit. Wayang klithik ini meskipun desain lantainya berupa garis lurus, tetapi tidak menggunakan layar, untuk menancapkan wayang digunakan bambu yang sudah dilubangi. Ceritera yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang klithik diambil dari ceritera babad, dan umumnya hanya diambil dari babad Majapahit, mulai dari masuknya Damarwulan menjadi abdi sampai dia menjadi raja. Dalang dalang wayang klithik umumnya memperoleh pengetahuan tentang kesenian dari orang tua mereka yang juga dalang wayang klithik. Lembaga pendidikan untuk dalang wayang klithik tidak dijumpai, sebab wayang klithik memang kurang populer dalam masyarakat. 3. Wayang Golek Seperti halnya wayang klithik wayang golek juga terbuat dari kayu, tetapi wayang golek memiliki tiga dimensi (seperti boneka).


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 52 Wayang golek ini lebih realis dibanding dengan wayang kulit dan wayang klithik, sebab selain bentuknya menyerupai bentuk badan manusia dia juga dilengkapi dengan kostum yang terbuat dari kain. Pertunjukan wayang golek selain untuk tontonan biasa, juga masih sering dipentaskan sebagai upacara bersih desa. Lakon yang diperagakan berasal dari babad Menak yaitu sejarah tanah Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Menurut keterangan, ceritera ini dikarang oleh Pujangga Ronggowarsito. Berbeda dengan wayang kulit, warna rias muka wayang golek cukup jelas penggolongan simbolisnya, yakni sebagai berikut: (1) warna merah untuk watak kemurkaan, (2) warna putih untuk watak baik dan jujur, (3) wama merah jambu untuk watak setengah-setengah, (4) warna hijau untuk watak tulus, (5) warna hitam untuk watak kelanggengan. Kostum wayang juga menunjukkan status dan peranannya. Misalnya saja, kostum topong adalah untuk peran raja, kostum jangkangan untuk peran satria, kostum jubah untuk peran pendeta, kostum rompi untuk peran cantrik, dan kostum serban untuk peran adipati. Pendidikan kesenian dalang wayang golek juga mirip wayang klithik, yaitu berasal dari pengalaman atau ajaran orang tua yang juga dalang. 4. Wayang Orang Wayang Orang merupakan bentuk perwujudan dari wayang kulit yang diperagakan oleh manusia. Jadi kesenian wayang orang ini merupakan refleksi dari wayang kulit. Bedanya, wayang orang ini bisa bergerak dan berdialog sendiri. Fungsi dan pementasan Wayang Orang, disamping sebagai tontonan biasa kadang-kadang juga digunakan untuk memenuhi nadzar. Sebagaimana dalam wayang kulit, lakon yang biasa dibawakan dalam Wayang Orang juga bersumber dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kesenian Wayang Orang yang hidup dewasa ini pada dasarnya terdiri dari dua aliran yaitu gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Perbedaan yang ada di antara dua aliran terdapat terutama pada intonasi dialog, tan, dan kostum. Dialog dalam Wayang Orang gaya Surakarta lebih bersifat realis sesuai dengan tingkatan emosi dan suasana yang terjadi, dan intonasinya agak bervariasi. Dalam Wayang Orang gaya Yogyakarta dialog distilisasinya sedemikian rupa dan mempunyai pola yang monoton. Hampir semua group Wayang Orang yang dijumpai menggunakan dialog gaya Surakarta. Jika toh ada perbedaan, perbedaan tersebut hanya terdapat pada tarian atau kadangkadang pada kostum. Untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang secara lengkap, biasanya dibutuhkan pendukung sebanyak 35 orang, yang terdiri dan: (1) 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan wanita); (2) 12 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara; (3) 2 orang sebagai waranggana; (4) 1 orang sebagai dalang. Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang juga merupakan sutradara tidak seluas seperti pada wayang kulit.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 53 Dalang wayang orang bertindak sebagai pengatur perpindahan adegan, yang ditandai dengan suara suluk atau monolog. Dalam dialog yang diucapkan oleh pemain, sedikit sekali campur tangan dalang. Dalang hanya memberikan petunjuk-petunjuk garis besar saja. Selanjutnya pemain sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialognya sesuai dengan alur ceritera yang telah diberikan oleh sang dalang. Pola kostum dan make up Wayang Orang disesuaikan dengan bentuk (patron) wayang kulit, sehingga pola tersebut tidak pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan Wayang Orang menggunakan konsep pementasan panggung yang bersifat realistis. Setiap gerak dari pemain dilakukan dengan tarian, baik ketika masuk panggung, keluar panggung, perang ataupun yang lain-lain. Gamelan yang dipergunakan seperti juga dalam wayang kulit adalah pelog dan slendro dan bila tidak lengkap biasanya dipakai yang slendro saja. Lama pertunjukan wayang orang biasanya sekitar 7 atau 8 jam untuk satu lakon, biasanya dilakukan pada malam hari. Pertunjukan pada siang hari jarang sekali dilakukan. Sebelum pertunjukan di mulai sering ditampilkan pra-tontonan berupa atraksi tari-tarian yang disebut ekstra, yang tidak ada hubungannya dengan lakon utama. 5. Kethoprak Lesung Sesuai dengan namanya, alat musik yang dipergunakan dalam Ketoprak ini terdiri dari lesung, kendang, terbang dan seruling. Ceritera yang dibawakan adalah kisah-kisah rakyat yang berkisar pada kehidupan di pademangan - pademangan, ketika para demang membicarakan masalah penanggulangan hama yang sedang melanda desa mereka atau ceritera-ceritera tentang Pak Tani dan Mbok Tani dalam mengolah sawah mereka. Oleh karena itu kostum yang dipakaipun seperti keadaan mereka sehari hari sebagai penduduk pedesaan, ditambah dengan sedikit make up yang bersifat realis. Untuk mementaskan Ketoprak Lesung dibutuhkan pendukung sebanyak ± 22 orang, yaitu 15 orang untuk pemain (pria dan wanita) dan 7 orang sebagai pemusik. Dalam pertunjukan ini tidak dikenal adanya vokalis khusus atau waranggana. Vokal untuk mengiringi musik dilakukan bersama-sama baik oleh pemusik maupun pemain. Pertunjukan Ketoprak Lesung ini menggunakan pentas berupa arena dengan desain lantai yang berbentuk lingkaran. Sampai sekarang Ketoprak Lesung yang ada masih mempertahankan alat penerangan berupa obor, tetapi ada juga pertunjukan Ketoprak Lesung yang menggunakan lampu. Salah satu perbedaan Ketoprak Lesung dengan Ketoprak Gamelan adalah adanya unsur tari. Pada waktu masuk atau keluar panggung atau kegiatan lain pemain Ketoprak Lesung melakukannya dengan tarian yang bersifat improvisasi. Lama pertunjukan Ketoprak Lesung ini tergantung pada kebutuhan.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 54 Bila diminta bermain semalam suntuk maupun setengah malam pemain ketoprak ini akan menyesuaikan diri dengan mengambil lakon yang tepat untuk itu, akan tetapi dengan catatan bahwa pertunjukan hanya dilakukan pada malam hari. photo/gambar tokoh wayang purwa Antareja Antasena A. Sasrabahu Arjuna Arimbi Aswatama Anoman Arimuka Arimba Antaboga Anila Anggrisana Anggada Amongdenta Brajadenta Buto Terong Burisrawa Bremani Bremana Brama Brajamusti Brajalamatan Bomanarakasura Bogadenta Bisma


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 55 Bilung B. Guru B. Dharma B. Asmara B. Kamajaya Batara Kala Basupati Basukarna Basudewa Barata Banuwati Balaupata Baladewa Baka Bagong Ratu Bagaspati Citraksi Citraksa Citrawati Citragada Cingkarabala Cantrik Cangik Cakil Duryudana


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 56 Dursilawati Dursasana Durna Dursala Durmagati Drupadi Dhandhunwacana Dhadhungawuk Dewi Gangga Dewaruci Dewaruci Dewabrata Destarasta Dersanala Dasarata Dasamuka Darmagosa Erawati Emban Ekalaya GagakBaka Gardapati Gatotkaca Gareng Gareng Ratu


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 57 Genthonglodong Gorawangsa Gunadewa Indrajid Irawan Jambumangli Jarasanda Jatagimbal Jatagini Jayadrata Jayawilapa Jembawan Jembawati Kresna Kesawasidi Manumayasa Cikal-bakale Pandhawa lan Kurawa Ana sawatara versi crita bab sapa leluhure Pandhawa lan Kurawa. Ana sing ngandharake yen iku Bharata, putrane Prabu Duswanta lan Dewi Sakhuntala. Mula, Pandhawa lan Kurawa uga sinebut darah Bharata. Crita liya nyebutake yen kang nurunake iku Bambang Bremani, putrane Bathara Brama kang dhaup karo Dewi Srihunon, putrane Bathara Wisnu. Bremani banjur peputra Bambang Parikenan lan Parikenan peputra Manumayasa. Manumayasa iku satriya linuwih, kinasihan ing Bathara Guru. Nalika semana ngarcapada, nadyan wis akeh manungsane, kahanane durung tumata. Mula Bathara Guru ngersakake mranata kahananing para titah iku. Banjur miji para dewa. Sang Hyang Kanekaputra matur yen ngarcapada kudu ana kang mimpin. Nanging sapa? Miturut Bathara Kanekaputra, ora ana liya maneh kejaba ya mung Manumayasa iku. Bathara Guru sarujuk, nanging isih sumelang. Yen mung Manumayasa dhewe kang ditugasi, apa bakal bisa ngleksanakake jejibahane kanthi becik? Sawise rembugan sawatara suwene, Bathara Guru lan Kanekaputra sarujuk ngutus Sang Hyang Ismaya melu tumurun marang ngarcapada ngancani Manumayasa. Yen ana pewayangan, Bathara Ismaya kuwi jenenge sing luwih populer Semar. Maune uga salah sawijining dewa kang dedunung ing kahyangan. Wiwit dina kuwi Ismaya kadhawuhan tumurun ing ngarcapada kanthi tugas ngemong Manumayasa nganti saanak-turune besuk, amarga anakturune Manumayasa iku wis dipesthekake dening jawata bakal dadi pemimpine para manungsa, pemimpin kang kudu njejegake kautaman.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 58 Supaya anak-turune Manumayasa tansah bisa lumaku ing garis kautaman, Ismaya kudu tlaten ngemong. Kudu tansah ngelikake yen ana kang arep nalisir saka bebener. Sabanjure Semar mapan ing Karangdhempel (uga ana kang ngarani Klampis Ireng). Dene Manumayasa banjur yasa padhepokan ing Wukir Retawu. Semar kerep sowan menyang Retawu, prasasat meh saben dina. Sawise sawatara taun Manumayasa lan Ismaya manggon ana ngarcapada, Bathara Guru lan Bathara Narada bali ngrembug bab Manumayasa lan Ismaya. Pamanggihe Bathara Guru, Manumayasa kudu duwe sisihan supaya duwe keturunan kang besuk dadi pemimpine bangsa manungsa. Mula, wanita kang dadi sisihane Manumayasa iku aja mung sembarang wanita, ning kudu wanita sing duwe pribadi luhur, supaya bisa nurunake anak-anak kang uga becik pakartine. Bathara Guru lan Narada akhire sarujuk nurunake widadari kang duwe sipat ora mung darbe rupa sulistya, ning uga pribadi luhur lan pantes dadi sisihane Manumayasa lan Ismaya. Widadari kang diturunake yakuwi Dewi Kaniraras lan Dewi Kanastri. Nalika tumurun ing ngarcapada, kekarone memba rupa dadi macan. Nuju sawijining dina, Manumayasa didherekake Semar, mbebedhag sato ana ing alas. Dumadakan kepethuk macan loro kang lagi nggereng-nggereng sajak arep mangsa Manumayasa lan Semar. Manumayasa nuli ndudut jemparing loro pisan. Jemparing linepasake, ngenani macan sakloron, sanalika badhar dadi widadari. Dewi Kaniraras lan Dewi Kanastri banjur nyembah marang Manumayasa, lan matur yen kekarone kadhawuhan dening jawata tumurun ing ngarcapada. Gancaring carita, Dewi Kaniraras nuli kapundhut garwa dening Manumayasa. Dewi Kanastri dadi bojone Semar. Manumayasa apeputra loro, yakuwi Sekutrem lan Sriyati. Sekutrem nurunake para ratu Astina, kalebu Pandhawa lan Kurawa. Sriyati nurunake para raja Mandaraka. Dene Semar, tetep dadi abdi kang setya. Semar duwe anak telu: Gareng, Petruk, lan Bagong kang uga banjur melu dadi abdine para anak-turune Manumayasa. Nanging uga ana kang kandha, yen sejatine Gareng, Petruk, lan Bagong kuwi dudu anake Semar, amarga dumadine saka dipuja. DONGENG AJISAKA Duk ing nguni, ing Pulo Majethi ana satriya kang bagus rupané kang sesilih Ajisaka. Kajaba bagus lan sekti mandraguna, Ajisaka uga wicaksana. Sang Sinatriya kagungan punggawa loro cacahé, Dora lan Sembada arané. Punggawa loro mau banget setyané marang pepundhèné, babar pisan ora tau nglirwakké apa kang dadi dhawuhé bendarané. Ing sawijining dina, Ajisaka arsa tindak lelana ninggalaké Pulo Majethi. Tindaké nganthi punggawané kang aran Dora. Déné Sembada ditinggal ana Pulo Majethi, kautus njaga pusaka piyandelé. Sang Sinatriya wanti-wanti menawa Sembada ora dikeparengaké masarahaké pusaka mau marang sapa waé kajaba marang dirining pribadhi. Sembada ngèstokaké dawuh. Ganti carita, duk rikala semana ing tanah Jawa ana negara kang misuwur gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja, kang aran Medhangkamulan.Ratuné ajejuluk Prabu Déwatacengkar, sawijining ratu kang luhur bebudèné lan wicaksana. Sawijining dina, juru masak keraton ngalami kacilakan, drijiné kepapras lading nganti tugel. Ki Juru Masak ora nglegéwa menawa tugelan drijiné nyemplung ana daharan kang kacawisaké ing ngarsané Sang Prabu. Nalika ora sengaja ndhahar tugelan driji mau, Sang Prabu rumangsa ndhahar daging kang énak banget rasané, banjur ngutus patihé ndangu Ki Juru Masak. Sawisé ngerti yèn sing didhahar mau daging menungsa, Sang Prabu banjur ngutus Sang Patih supaya saben ndina ngaturaké salah siji rakyaté kanggo daharané.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 59 Wiwit kedadéyan kuwi Prabu Déwatacengkar duwé kekareman kang banget nggegirisi, yakuwi ndhahar daging menungsa. Wewatekané malik grémbyang, malih dadi wengis lan seneng tumindak deksura. Negara Medhangkamulan malih dadi wewengkon kang wingit lan sepi awit kawulané siji mbaka siji kamangsa dèning ratuné, sisané mlayu mburu slamet. Sang Patih judeg pikiré awit wis ora ana manèh kawula kang bisa kacaosaké marang ratuné. Ing wektu kuwi, Ajisaka klawan punggawané, Dora, tumeka ing Medhangkamulan. Gumun penggalihé Sang Sinatriya mirsani kahanan kang sepi lan tintrim banjur golèk sisik melik. Sawisé éntuk katrangan ngenani apa kang nembé dumadi ing Medhangkamulan, Ajisaka banjur sowan ing ngarsané Rekyana Patih, ngaturaké kasaguhané dadi dhaharané Prabu Déwatacengkar. Wiwitané Sang Patih ora nglilani awit ngéman Ajisaka kang bagus rupané tur isih mudha, nanging Ajisaka wus gilig tékadé mula banjur kelakon kairid séba ing ngarsané Sang Prabu. Sang Prabu gumun banget penggalihe merga ana wong bagus lan isih anom teka ndadak masrahké jiwa ragané nedha kamangsa. Ajisaka nuli matur yèn piyambaké lila legawa kamangsa dèning Sang Prabu sauger kaparingan tanah jembaré saukuran iket sing kaagem. Kejaba kuwi, kudu sang Prabu dhéwé kang ngukur wewengkon kang bakal kaparingaké kuwi. Sang Prabu nayogyani panuwuné. Ajisaka nuli ngaturi Sang Prabu ndudut pucuking iket. Eloking lelakon, iket mau kaya ora entèk-entèk kalukar. Sang Prabu Déwatacengkar kepeksa saya mundur saya mundur, wusanané tumekaning pinggiring segara kidul. Iket nuli kakipataké dèning Ajisaka saéngga Sang Prabu kontal nyemplung segara. Sanalika wewujudané malih dadi bajul putih. Ajisaka nuli jumeneng ratu ing Medhangkamulan. Sawisé winisuda dadi Ratu Medhangkamulan, Ajisaka utusan Dora supaya bali menyang Pulo Majethi njupuk pusaka kang kajaga dèning Sembada. Satekané ing Pulo Majethi, Dora nemoni Sembada lan mrathelakaké yèn kautus njupuk pusakané Ajisaka. Sembada ora gelem ngulungaké amarga ngugemi dhawuhé Ajisaka nalika ninggalaké Pulo Majethi. Sembada kang uga ngugemi dawuhé Sang Prabu meksa njaluk supaya pusaka kaulungaké. Pungkasané punggawa loro mau banjur pancakara. Amarga padha digdayané, paprangan lumaku ramé, silih ungkih genti kalindhih, nganti loro-loroné mati sampyuh. Kabar pralayané Dora lan Sembada kepireng dèning Sang Prabu Ajisaka. Getun banget penggalihé sang Prabu ngelingi kasetyané punggawa kinasihé. Rasa sungkawané anjalari sang Prabu ngripta aksara minangka pepéling marang paraga kinasihé, kang uniné mangkéné: ha na ca ra ka Ana utusan (ada utusan) da ta sa wa la Padha kekerengan (saling berselisih pendapat) pa dha ja ya nya Padha digdayané (sama-sama sakti) ma ga ba tha nga Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat) Terjemahan: (Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka.Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 60 menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya. Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan.Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya. Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. klawan punggawane, Dora, tumeka ing Medhangkamulan. Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan. Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas. Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, yang bunyinya adalah sebagai berikut:)seperti tertulis diatas-)


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 61 WULAN, TAUN JAWI Petangan taun Jawi punika wonten warn! kalih, inggih punika : 1. Taun Wastu, 2. Taun Wuntu. Taun Wastu punika liripun taun celak, umur 354 dinten (V^ulanipun Besar umur 29 dinten); dene taun Wuntu punika taun panjang, umuripun 355 dinten (wulanipun Besar umur 30 dinten) Namaning wulan: Sura Sapar Mulud Bakdamulud Jumadilawal Jumadilakir Rejeb Ruwah Pasa Sawal Dulkaidah Besar Pratelan Taun Jawi saumuripun Kina Enggal Alip 354 dinten 354 dinten Ehe 355 dinten 355 dinten Jimawal 354 dinten 354 dinten Je 354 dinten 355 dinten Dal 355 dinten 354 dinten Be 354 dinten 354 dinten Wawu 354 dinten 354 dinten Jimakir 355 dinten 355 dinten Sawindu 2.835 dinten 2.835 dinten PRANATA MANGSA Pranata mangsa punika petangan mangsa wawaton lampahing surya. Petangan punika dede barang enggal, wiwit kina-makina inggih sampun wonten. Ing taun Masehi 1855 petangan wau kabangun malih, kawiwitan Pranata Mangsa taun : 1. Dene taun : 1 wau kawiwitan saking mangsa : Kasa (mangsa 1, dhawah ing surya 22 Juni 1855. Menggah jangkepipun sataun wonten ing wekasaning mangsa : Sad ha (mangsa 12), dhawah ing surya 20 Juni 1856. Dados pranata mangsa taun : 1 jangkep umur 365 dinten. Petangan taun Pranata Mangsa dhawah taun Wastu (taun celak) umur 365 dinten (mangsanipun kawolu umur 26 dinten), dene yen dha¬wah taun Wuntu (taun panjang), umur 366 dinten ; dene pratelanipun kados ing ngandhap punika: Namaning Mangsa Umur Wastu Wuntu 1 Kasa 41 41 2 Karo 23 23 3 Katelu 24 24 4 Kapat 25 25


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 62 5 Kalima 27 27 6 Kanem 43 43 7 Kapitu 43 43 8 Kawolu 26 27 9 Kasanga 25 25 10 Kasadasa 24 24 11 Dhesta 23 23 12 Sadha 41 41 365 366 Menggah dhumawahing taun Wuntu punika katamtokaken saben 4 taun sapisan; dene pangetangipun : manawi angkaning taun kapara 4 pinanggih ceples, dhawah taun Wuntu, kajawi yen angkaning taun wau dhawah atusan jejeg. Murih petangan taun pranata mangsa wau lestantun cocog kaliyan lampahing surya, katamtokaken saben 400 tahun sapisan, taunipun Wuntu kabucal 3, dene pambucalipun makaten : Manawi angkaning taun dhawah atusan jejeg ingkang boten ceples kapara 400, kadosta : 100, 200, 300, 500, 600, 700, 900, 1000, 1100 lan sapanunggilanipun, punika kadamel dhawah taun Wastu, dene ingkang ceples kepara 400, kadosta : 400, 800, 1200 lan sapanunggilanipun inggih lestantun, makaten sapiturutipun. WATEKE DEWA DINA Sri, wateke : welasan, akeh kang asih, apike nandura pari tirisan, kang nuju ringkel anto; amung ajapetangan nyilihake, wateke lebur. Endra, wateke : nastiti, angkuh, sirangajiyakawruh. Guru, wateke : nyeba, ganjar, lemer, sira masanga tutumbal becik. Yama, wateke : lumuh agung maklume, daganga sabarang. Rudra, wateke : murah bujakramane, deresa sumur wangan. Brama, wateke : panasbaran, babada lan garu malukuwa. Kala, wateke : candhala murka, ngamandaka, goroh agaweya pacakan. Uma, wateke : welasan, susah, nanging jail atine, gaweya pager Ian watesan. WATEKE SASI 1.Sura, hura-huru, akeh bilahi teka. 2.Sapar, becik samadya. 3.Mulud, apesan : geringan, kepaten. 4.Rabingulahir, slamet sabarang gawe. 5.Jumadilawal, antuk geringan agenti-genti. 6.Jumadilakir, antuk rahmating wong tuwa. 7.Rejeb, antuk prakara. 8.Ruwah, rahayu slamet, namung yen wis tuwa brahat. 9.Pasa, antuk salaka lan rijeki. 10.Sawal, akeh nedya ala. 11.Dulkaidah, kinasthan sadulur. 12.Besar, utama, werdi tur slamet. WATEKING DINA, WATEKING PASARAN 1.Akad, becik samudana, kalayu ila-ilu. 2.Senen, semuwa barang patrape. 3.Slasa, sujana tan antepan, butarepan. 4.Rebo, sembada barang kang patut, rada sembrana. 5.Kemis, sumbung, mada, ngalem, lumuh kaungkulan.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 63 6.Jumuah, sumuci-suci, kudu-kudu resik. 7.Setu, surakah barang karepe. WATEKE PASARAN 1.Kliwon, micara bisa nganggit basa, tur mengku, niteni ala becik, enggone ing tengah, rupane mancawarna. 2.Legi, mengku, saguh lega karepe, buja kramane pradhah, warnane putih. enggone ing wetan. 3.Paing, melikari barang, dhemen pradhah, temene murih misil, warnane abang, enggone ing kidul. 4.Pon, pamer dunyane, dhiri nguthuh, rupane kuning, enggone ing kulort. 5.Wage, kenceng wicarane, kau ing pangan, rupane ireng, enggone : lor. YEN NANANDUR ING DINA: 1.Jumuah, amrih oyod. 2.Setu, amrih dhangkel. 3.Akad, amrih wit. 4.Senen, amrih godhong 5.Slasa. amrih kembang. 6.Rebo, amrih wit. 7.Kemis, amrih woh. WINDU Windu punika petangan jangkepipun 8 taun, wiwit taun Alip dumugi taun Jimakir. indu wau cacahipun 4, gadhah nama sarta watek piyambak-piyambak; menggah pratelanipun kados ing ngandhap punika : 1.Windu Adi (Linuwih), watekipun kathah wawangunan enggal. 2.Windu Kunthara (Ulah) watekipun kathah solah bawa. 3.Windu Sengara (Banjir), watekipun kathah toya utawi lepen ageng. 4.Windu Sancaya (Sarawungan), watekipun kathah tiyang saekapraya dados pawong mitra. Lampahing windu giliran, wiwit saking windu Adi, sasampunipun jangkep saubengan (4 windu, 4X8 = 32 taun), lajeng wangsul saking wiwitan tanggal 1 wulan Sura taun Alip, Windu Adi. Makaten sapiturutipun. WUKU Wuku punika petangan kangge nyumerepi watek sarta lampahing ngagesang tumrap bayi lahir. Wuku wau lampahipun saben 7 dinten sapisan, wiwit dinten Ngahad dumugi dinten Saptu. Dene sasarenganing wuku kalihan dinten pekenan sarta paringkelan, punika kawrat ing pananggalan saben wulanipun. Cacahipun wuku wau sadaya wonten 30, sarta naminipun kados ing ngandhap punika: 1 Sinta 2 Landep 3 Kurantil 4 Tolu 5 Gumbreg 6 Warigalit 7 Warigagung 8 Julungwangi 9 Sungsang 10 Galungan 11 Kuningan 12 Langkir 13 Mandhasiya 14 Julungpujud 15 Pahang 16 Kuruwelut 17 Marakeh 18 Tambir 19 Madhangkungan 20 Maktal 21 Wuye 22 Manail 23 Prangbakat 24 Bala 25 Wugu 26 Wayang 27 Kulawu 28 Dhukut 29 Watugunung 30 Wukir


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 64 Lampahing wuku wau giliran, wiwit Sinta sarta wekasan Watugunung, sasampunipun jangkep 1 ubengan (7 x 30 = 210 dinten) lajeng wangsul saking wiwitan malih. Katranganing wuku satunggal-tunggalipun kawrat ing Serat Pawukon. Salebeting Kitab Primbon Bekti jammal Adam makna. RAMALAN JAYABAYA MUSABAR ASMARADANA 1.Kitab Musarar inganggit, Duk Sang Prabu Joyoboyo, Ing Kediri kedhatone, Ratu agagah prakosa, Tan ana kang malanga, Parang muka samya teluk, Pan sami ajrih; sedaya, 2.Milane sinungan sakti, Bathara Wisnu punika, Anitis ana ing kene, Ing Sang Prabu Jayabaya, Nalikane mangkana, Pan jumeneng Ratu Agung, Abala para Narendra, 3.Wusnya mangkana winarni, Lami-lami apeputra, Jalu apekik putrane, Apanta sampun diwasa, Ingadekaken raja, Pagedongan tanahipun, Langkung arja kang nagara. 4.Maksihe bapa anenggih, Langkung suka ingkang rama, Sang Prabu Jayabayane, Duk samana cinarita, Pan arsa katamiyan, Raja Pandhita saking Rum, Nama Sultan Maolana, 5.Ngali Samsujen kang nami, Sapraptane sinambrama, Kalawan pangabektine,. Kalangkung sinuba-suba, Rehning tamiyan raja, Lan seje jinis puniku, Wenang lamun ngurmatana, 6.Wusi lenggah atata sami, Nuli wau angandika, Jeng Sultan Ngali Samsujen, “Heh Sang Prabu Jayabaya,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 65 Tatkalane ta iya, Apitutur ing sireku, Kandhane Kitab Musarar, 7.Prakara tingkahe nenggih, Kari ping telu lan para, Nuli cupet keprabone, Dene ta nuli sinelan, Liyane teka para,” Sang Prabu lajeng andeku, Wus wikan titah Bathara. 8.Lajeng angguru sayekti, Sang-a Prabu Jayabaya, Mring Sang raja pandhitane, Rasane Kitab Musarar, Wus tunumplak sadaya, Lah enget wewangenipun, Yen kantun nitis ping tiga. 9.Benjing pinernahken nenggih, Sang-a Prabu Jayabaya Aneng sajroning tekene, Ing guru Sang-a Pandhita, Tinilar aneng Kakbah, Imam Supingi kang nggadhuh, Kinarya nginggahken kutbah. 10.Ecis wesi Udharati, Irig tembe ana Molana, Pan cucu Rasul jatine, Alunga mring Tanah Jawa, Nggawa ecis punika, Kinarya dhuwung puniku, Dadi pundhen bekel Jawa. 11.Raja Pandihta apamit, Musna saking palenggahan, Tan antara ing lamine, Pan wus jangkep ing sewulan, Kondure Sang Pandhita, Kocapa wau Sang Prabu, Animbali ingkang putra. 12.Tan adangu nulya prapti, Apan ta lajeng binekta, Mring kang rama ing lampahe, Minggah dhateng ardi Padhang, Kang putra lan keng rama, Sakpraptanira ing gunung, Minggah samdyaning arga. 13.Wonten ta ajar satunggil, Anama Ajar Subrata, Pan arsa methuk lampahe,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 66 Mring Sang Prabu Jayabaya, Ratu kang namur lampah, Tur titis Bathara Wisnu, Njalma Prabu Jayabaya 14.Dadya Sang Jayabaya ji, Waspada reh samar-samar, Kinawruhan sadurunge, Lakune jagad karana, Tindake raja-raja, Saturute laku putus, Kalawan gaib sasmita. 15.Yen Islama kadi nabi, Ri Sang aji Jayabaya, Cangkrameng ardi wus suwe, Apanggih lawan ki Ajar, Ajar ing gunung Padhang, Awindon tapane guntur, Dadi barang kang cinipta. 16.Gupuh methuk ngacarani, Wus tata dennya alenggah, Ajar angundang endhange, Siji nyunggi kang rampadan, Isine warna-warna, Sapta warna kang sesuguh, Kawolu lawan ni endang. 17.Juwadah kehe satakir, Lan bawang putih satalam, Kembang melathi saconthong, Kalawan getih sapitrah, Lawan kunir sarimpang, Lawan kajar sawit iku, Kang saconthong kembang mojar. 18.Kawolu ending nyawjji, Ki Ajar pan atur scmbah, “Punika sugataningong, Katura dhateng paduka, Sang Prabu Jayabaya, Awas denira. Andulu, Sedhet anarik curiga. 19.Ginoco ki Ajar mati, Endhange tinuweg pejah, Dhuwung sinarungken age, Cantrike sami lumajar, Ajrih dhateng.sang nata, Sang Rajaputra gegetun, Mulat solahe kang rama. 20.Arsa matur putra ajrih, Lajeng kondur sekaliyan,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 67 Sapraptanira kedhaton, Pinarak Ian ingkang putra, Sumiwi munggweng ngarsa, Angandika Sang-a Prabu, Jayabaya mring kang putra. 21.”Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ajar, Iya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman. SINOM 1.Pan iku uwis winejang, Mring guru Pandhita Ngali, Rasane kitab Musarar, Iya padha lawan mami, Nanging anggelak janji, Cupet lelakoning ratu, Iya ing tanah Jawa, Ingsun pan wus den wangeni, Kari loro kaping telune ta ingwang. 2.Yen wis anitis ping tiga, Nuli ana jaman maning, Liyane panggaweningwang, Apan uwus den wangeni, Mring pandhita ing nguni, Tan kena gingsir ing besuk, Apan talinambangan, Dene Maolana Ngali, Jaman catur semune segara asat. 3.Mapan iku ing Jenggala, Lawan iya ing Kediri, Ing Singasari Ngurawan, Patang ratu iku maksih, Bubuhan ingsun kaki, Mapan ta durung kaliru, Negarane raharja, Rahayu kang bumi-bumi, Pan wus wenang anggempur kang dora cara. 4.Ing nalika satus warsa, Rusake negara kaki, Kang ratu patang negara, Nuli salin alam malih, Ingsun nora nduweni, Nora kena milu-milu, Pan ingsun wus pinisah, Lan sedulur bapa kaki, Wus ginaib prenahc panggonan ingwang.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 68 5.Ana sajroning kekarah, Ing tekene guru mami, Kang nama raja Pandhita, Sultan Maolana Ngali, Samsujen iku kaki, Kawruhana ta ing mbesuk, Saturun turunira, Nuli ana jaman maning, Anderpati arane Kalawisesa. 6.Apan sira linambangan, Sumilir kang naga kentir, Semune liman pepeka, Pejajaran kang negari, Ilang tingkahing becik, Nagara kramane suwung, Miwah yudanegara, Nora ana anglabeti, Tanpa adil satus taun. nuli sirna. 7.Awit perang padha kadang, Dene pametune bumi, Wong cilik pajeke emas, Sawab ingsun den suguhi, Marang. Si Ajar dhingin, Kunir sarimpang ta ingsun, Nuli asalin jaman, Majapahit kang nagari, Iya iku Sang-a Prabu Brawijaya. 8.Jejuluke Sri Narendra, Peparab Sang Rajapati, Dewanata alam ira, Ingaranan Anderpati, Samana apan nenggih, Lamine sedasa windu, Pametuning nagara, Wedale arupa picis, Sawab ingsun den suguhi mring si Ajar. 9.Juwadah satakir jya, Sima galak semu nenggih, Curiga kethul kang lambang, Sirna.salin jaman maning, Tanah Gelagahwangi, Pan ing Demak kithanipun, Kono ana agama, Tetep ingkang amurwani, Ajejuluk Diyati Kalawisaya. 10.Swidak gangsal taun sirna, Pan jumeneng Ratu adil, Para wali lan pandhita, Sadaya pan samya asih, Pametune wong cilik, Ingkang katur marang Ratu,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 69 Rupa picis lan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Kembang mlathi mring ki Ajar gunung Padang. 11.Kaselak kampuhe bedhah, Kekesahan durung kongsi, Iku lambange dyan sirna, Nuli ana jaman maning, Kalajangga kang nami, Tanah Pajang kuthahipun, Kukume telad Demak, Tan tumurun marang siwi, Tigangdasa enem taun nuli sirna. 12.Semune lambang Cangkrama, Putung ingkang watang nenggih, Wong ndesa pajege sandhang, Picis ingsun den suguhi, lya kajar sauwit, Marang si Ajar karuhun, Nuli asalin jaman, Ing Mataram kang nagari, Kalasakti Prabu Anyakrakusumo. 13.Kinalulutan ing bala, Kuwat prang ratune sugih, Keringan ing nungsa Jawa, Tur iku dadi gegenti, Ajar lan para wali; . Ngulama lan para nujum, Miwah para pandhita, Kagelung dadi sawiji, Ratu dibya ambeg adil paramarta. 14.Sudibya apari krama, Alus sabaranging budi, Wong cilik wadale reyal, Sawab ingsun den suguhi, Arupa bawang putih, Mring ki Ajar iku mau, Jejuluke negara, Ratune ingkang miwiti, Surakalpa semune lintang sinipat. 15.Nuli kembang sempol tanpa, Modin sreban lambang nenggih, Panjenengan kaping papat, Ratune ingkang mekasi, Apan dipunlambangi, Kalpa sru kanaka putung, Satus taun pan sirna, Wit mungsuh sekuthu sarni, Nuli ana nakoda dhateng’merdagang. 16.Iya aneng tanah Jawa, Angempek tanah sethithik,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 70 Lawas-lawas tumut aprang, Unggul sasolahe nenggih, Kedhep neng tanah Jawi, Wus ngalih jamanireku, Maksih turun Mataram, Jejuluke kang negari, Nyakrawati kadhatone tanah Pajang. 17.Raru abala bacingah, Keringah ing nuswa Jawi, Kang miwiti dadi raja, Jejuluke Layon Keli, Semusatriya brangti, . lya nuli salin ratu, Jejuluke sang nata, Semune kenya musoni, Nora lawas nuli salin panjenengan. 18.Dene jejuluke nata, Lung gadhung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhirig bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa. 19.Dhuwit anggris lawan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Rupa getih mung sapitrah, Nuli retu kang nagari, Ilang berkating bumi, Tatane Parentah rusuh, Wong cilik kesrakatan, Tumpa-tumpa kang bilahi, Wus pinesthi nagri tan kena tinambak. 20.Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram. 21.Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih warii, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 71 Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar. 22.Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang,. Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika. 23.Dene pajege wong ndesa, Akeh warninira sami, Lawan pajeg mundhak-mundhak, Yen panen datan maregi, Wuwuh suda ing bumi, Wong dursila saya ndarung, Akeh dadi durjana, Wong gedhe atine jail, Mundhak tahun mundhak bilaining praja. 24.Kukum lan yuda nagara, Pan noja na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa. 25.Ilang kawiranganingdyah, Sawab ingsun den-suguhi, Mring ki Ajar Gunung Padang, Arupa endang sawiji, Samana den etangi, Jaman sewu pitung atus, Pitung puluh pan iya, Wiwit prang tan na ngaberi, Nuli ana lamate negara rengka. 26.Akeh ingkang gara-gara, Udan salah mangsa prapti, Akeh lindhu lan grahana, Dalajate salin-salin, Pepati tanpa aji, Anutug ing jaman sewu, Wolung atus ta iya, Tanah Jawa pothar pathir, Ratu Kara Murka Kuthila pan sima. 27.Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, Semune Pudhak kasungsang,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 72 Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku, Juluk Ratu Amisan, Sirep mus|ibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan, 28.Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki. Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih-asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad. 29.Kono ana pangapura, Ajeg kukumi lawan adil, Wong jilik pajege dinar, Sawab ingsun den suguhi, Iya kembang saruni, Mring ki Ajar iku mau, Ing nalika semana, Mulya jenenging narpati, Tur abagus eseme lir madu puspa. DANDANGGULA 1.Langkung arja jamane narpati, Nora nana pan ingkang nanggulang, Wong desa iku wadale, Kang duwe pajeg sewu, Pan sinuda dening Narpati, Mung metu satus dinar, Mangkana winuwus, Jamanira pan pinetang, Apan sewu wolungatus anenggih, Ratune nuli sirna. 2.Ilang tekan kadhatone sami, Nuli rusak iya nungsa Jawa, Nora karuwan tatane, Pra nayaka sadarum, Miwah manca negara sami, Padha sowang-sowangan, Mangkana winuwus, Mangka Allahu Tangala, Anjenengken Sang Ratu Asmarakingkin, Bagus maksih taruna.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 73 3.Iku mulih jenenge Narpati, Wadya punggawa sujud sadaya, Tur padha rena prentahe, Kadhatone winuwus, Ing, Kediri ingkang satunggil, Kang siji tanah Ngarab, Karta jamanipun, Duk semana pan pinetang, Apan sewu lwih sangang atus anenggih, Negaranira rengka, 4.Wus ndilalah kersaning Hyang Widhi, Ratu Peranggi anulya prapta, Wadya tambuh wilangane, Prawirarie kalangkung, Para ratu kalah ngajurit, Tan ana kang nanggulang, Tanah Jawa gempur, Wus jumeneng tanah Jawa, Ratu Prenggi ber budi kras anglangkungi, Tetep neng tanah Jawa. 5.Enengena Sang Nateng Parenggi, Prabu ing Rum ingkang ginupita, Lagya siniwi wadyane, Kya patih munggweng ngayun, Angandika Sri Narapati, “Heh patih ingsun myarsa, Tanah Jawa iku. Ing mangke ratune sima, lya perang klawan Ratu Parenggi, Tan ana kang nanggulang. 6.Iku patih mengkata tumuli, Anggawaa ta sabalanira, Poma tundhungen den age, Yen nora lunga iku, Nora ingsun lilani mulih”, Ki Patih sigra budhal, Saha balanipun, Ya ta prapta Tanah Jawa, Raja Prenggi tinundhung dening ki Patih, Sirna sabalanira. 7.Nuli rena manahe wong clik, Nora ana kang budi sangsaya, Sarwa murah tetukone, Tulus ingkang tinandur, Jamanira den jujuluki, Gandrung-gandrung neng marga, Andulu wong gelung, Kekendhon lukar kawratan, Keris parung dolen tukokena nuli, Campur bawur mring pasar.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 74 8.Sampun tutug kalih ewu warsi, Sunya ngegana tanpa tumingal, Ya meh tekan dalajate, Yen Kiamat puniku, Ja majuja tabatulihi, Anuli larang udan, Angin topan rawuh, Tumangkeb sabumi alam, Saking kidul wetan ingkang andhatengi, Ambedhol ponang arga. Ramalan Ronggowarsito Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi dirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keraton yang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus Burham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai murid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding. Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yang bernama Ki Tanujoyo. Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya. Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasar seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran. Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari. Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan bagi muridmurid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki Tanujoyo. (Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besari merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari). Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo. Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burham bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 75 sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanaman diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo. Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari. Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham 2 tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya. Menurut serat "CANDRA KANTHA" buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antara lain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( Pangeran Pamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo. Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujangga keraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra Tumenggung Tirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng. Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputra R. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari Bagus Burham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegoro bukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas Ngebehi Ronggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebut diketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darah bangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapa brata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaran mengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan "tapa kungkum". Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheningan malam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintang berkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya juga sudah semakin dewasa itu. Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali. Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya. Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas, perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari. Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok. Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 76 menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai. Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran Kadilangu. Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian rajanya ? Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni soal kesusastraan Jawa serta peninggalan-peninggalan nenek moyang. Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya. Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton. Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom. Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan perasaannya tampak ada karyanya " Serat Kala Tida ". Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri. Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari rontal-rontal, pengalaman/pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah dia dapat menimba pelbagai ilmu. Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 77 Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830). Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta. SERAT JOKO LODANG Gambuh 1. Jaka Lodang gumandhul Praptaning ngethengkrang sru muwus Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi Gunung mendhak jurang mbrenjul Ingusir praja prang kasor Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras. Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan (akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya. 2.Nanging awya kliru Sumurupa kanda kang tinamtu Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti Maksih katon tabetipun Beda lawan jurang gesong Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini. Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung akan tetap masih terlihat bekasnya. Lain sekali dengan jurang yang curam. 3. Nadyan bisa mbarenjul Tanpa tawing enggal jugrugipun Kalakone karsaning Hyang wus pinasti Yen ngidak sangkalanipun Sirna tata estining wong Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung, namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor. (Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi. Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan). Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan akan terjadi pada tahun Jawa 1850. 6 (Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1). Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920. Sinom 1. Sasedyane tanpa dadya Sacipta-cipta tan polih Kang reraton-raton rantas Mrih luhur asor pinanggih Bebendu gung nekani Kongas ing kanistanipun Wong agung nis gungira Sudireng wirang jrih lalis


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 78 Ingkang cilik tan tolih ring cilikira Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud, apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela. Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati, sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya. 2. Wong alim-alim pulasan Njaba putih njero kuning Ngulama mangsah maksiat Madat madon minum main Kaji-kaji ambataning Dulban kethu putih mamprung Wadon nir wadorina Prabaweng salaka rukmi Kabeh-kabeh mung marono tingalira Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka. Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak. Banyak ulama berbuat maksiat. Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi. Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan. 3. Para sudagar ingargya Jroning jaman keneng sarik Marmane saisiningrat Sangsarane saya mencit Nir sad estining urip Iku ta sengkalanipun Pantoging nandang sudra Yen wus tobat tanpa mosik Sru nalangsa narima ngandel ing suksma Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut. Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1). Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam. Megatruh 1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu Jaka Lodang nabda malih Nanging ana marmanipun Ing waca kang wus pinesthi Estinen murih kelakon Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. Kemudian Joko Lodang berkata lagi : "Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya segera dan dapat terjadi ".


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 79 2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun Neng sajroning madya akir Wiku Sapta ngesthi Ratu Adil parimarmeng dasih Ing kono kersaning Manon Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1). Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan. 3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk Malenuk samargi-margi Marmane bungah kang nemu Marga jroning kethuk isi Kencana sesotya abyor Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil) yang berada banyak dijalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana. SERAT SABDO JATI Megatruh 1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu MarGAne suka basuki Dimen luWAR kang kinayun Kalising panggawe SIsip Ingkang TAberi prihatos Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin. 2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh Galedehan kang sayekti Talitinen awya kleru Larasen sajroning ati Tumanggap dimen tumanggon Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu. 3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu Angayomi ing tyas wening Eninging ati kang suwung Nanging sejatining isi Isine cipta sayektos Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati. 4. Lakonana klawan sabaraning kalbu Lamun obah niniwasi


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 80 Kasusupan setan gundhul Ambebidung nggawa kendhi Isine rupiah kethon Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan) akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak. 5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu Dadi panggonaning iblis Mlebu mring alam pakewuh Ewuh mring pananing ati Temah wuru kabesturon Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, seolah-olah mabuk kepayang. 6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu Hayuning tyas sipat kuping Kinepung panggawe rusuh Lali pasihaning Gusti Ginuntingan dening Hyang Manon Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping. 7. Parandene kabeh kang samya andulu Ulap kalilipen wedhi Akeh ingkang padha sujut Kinira yen Jabaranil Kautus dening Hyang Manon Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan. 8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh Kewuhan sajroning ati Yen tiniru ora urus Uripe kaesi-esi Yen niruwa dadi asor Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya menjadi sengsara. 9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung Anggelar sakalir-kalir Kalamun temen tinemu Kabegjane anekani Kamurahane Hyang Manon Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 81 10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun Yen temen-temen sayekti Dewa aparing pitulung Nora kurang sandhang bukti Saciptanira kelakon Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati. Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai. 11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur Saka pengunahing Widi Ambuka warananipun Aling-aling kang ngalingi Angilang satemah katon Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui. 12. Para jalma sajroning jaman pakewuh Sudranira andadi Rahurune saya ndarung Keh tyas mirong murang margi Kasekten wus nora katon Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan, cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak. 13. Katuwane winawas dahat matrenyuh Kenyaming sasmita sayekti Sanityasa tyas malatkunt Kongas welase kepati Sulaking jaman prihatos Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut, senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut. 14. Waluyane benjang lamun ana wiku Memuji ngesthi sawiji Sabuk tebu lir majenum Galibedan tudang tuding Anacahken sakehing wong Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877 (Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945). Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang. 15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu Kala Suba kang gumanti Wong cilik bisa gumuyu Nora kurang sandhang bukti Sedyane kabeh kelakon Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 82 seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai. 16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput Mulur lir benang tinarik Nanging kaseranging ngumur Andungkap kasidan jati Mulih mring jatining enggon Sayang sekali "pengelihatan" Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya. Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini. 17.Amung kurang wolung ari kang kadulu Tamating pati patitis Wus katon neng lokil makpul Angumpul ing madya ari Amerengi Sri Budha Pon Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon. 18. Tanggal kaping lima antarane luhur Selaning tahun Jimakir Taluhu marjayeng janggur Sengara winduning pati Netepi ngumpul sak enggon Tanggal 5 bulan Sela (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu, Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873) kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan sang Pujangga kembali menghadap Tuhan. 19. Cinitra ri budha kaping wolulikur Sawal ing tahun Jimakir Candraning warsa pinetung Sembah mekswa pejangga ji Ki Pujangga pamit layoti Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802. (Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873). SERAT KALATIDA Sinom 1. Mangkya darajating praja Kawuryan wus sunyaturi Rurah pangrehing ukara Karana tanpa palupi Atilar silastuti Sujana sarjana kelu Kalulun kala tida Tidhem tandhaning dumadi Ardayengrat dene karoban rubeda Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 83 keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan. 2. Ratune ratu utama Patihe patih linuwih Pra nayaka tyas raharja Panekare becik-becik Paranedene tan dadi Paliyasing Kala Bendu Mandar mangkin andadra Rubeda angrebedi Beda-beda ardaning wong saknegara Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya. 3.Katetangi tangisira Sira sang paramengkawi Kawileting tyas duhkita Katamen ing ren wirangi Dening upaya sandi Sumaruna angrawung Mangimur manuhara Met pamrih melik pakolih Temah suka ing karsa tanpa wiweka Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan, mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang. Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada. 4.Dasar karoban pawarta Bebaratun ujar lamis Pinudya dadya pangarsa Wekasan malah kawuri Yan pinikir sayekti Mundhak apa aneng ngayun Andhedher kaluputan Siniraman banyu lali Lamun tuwuh dadi kekembanging beka Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ? Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan. 5. Ujaring panitisastra Awewarah asung peling Ing jaman keneng musibat Wong ambeg jatmika kontit Mengkono yen niteni


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 84 Pedah apa amituhu Pawarta lolawara Mundhuk angreranta ati Angurbaya angiket cariteng kuna Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan. Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai. Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala. 6. Keni kinarta darsana Panglimbang ala lan becik Sayekti akeh kewala Lelakon kang dadi tamsil Masalahing ngaurip Wahaninira tinemu Temahan anarima Mupus pepesthening takdir Puluh-Puluh anglakoni kaelokan Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama, mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya "nrima" dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh. 7. Amenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Milu edan nora tahan Yen tan milu anglakoni Boya kaduman melik Kaliren wekasanipun Ndilalah karsa Allah Begja-begjane kang lali Luwih begja kang eling lawan waspada Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada. 8. Semono iku bebasan Padu-padune kepengin Enggih mekoten man Doblang Bener ingkang angarani Nanging sajroning batin Sejatine nyamut-nyamut Wis tuwa arep apa Muhung mahas ing asepi Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ? Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 85 apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan. 9.Beda lan kang wus santosa Kinarilah ing Hyang Widhi Satiba malanganeya Tan susah ngupaya kasil Saking mangunah prapti Pangeran paring pitulung Marga samaning titah Rupa sabarang pakolih Parandene maksih taberi ikhtiyar Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan. Bagaimanapun nasibnya selalu baik. Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. Namun demikian masih juga berikhtiar. 10. Sakadare linakonan Mung tumindak mara ati Angger tan dadi prakara Karana riwayat muni Ikhtiyar iku yekti Pamilihing reh rahayu Sinambi budidaya Kanthi awas lawan eling Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan. Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar, hanya harus memilih jalan yang baik. Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan waspada agar mendapat rakhmat Tuhan. 11. Ya Allah ya Rasulullah Kang sipat murah lan asih Mugi-mugi aparinga Pitulung ingkang martani Ing alam awal akhir Dumununging gesang ulun Mangkya sampun awredha Ing wekasan kadi pundi Mula mugi wontena pitulung Tuwan Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini. Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami. 12. Sageda sabar santosa Mati sajroning ngaurip Kalis ing reh aruraha Murka angkara sumingkir Tarlen meleng malat sih Sanityaseng tyas mematuh Badharing sapudhendha Antuk mayar sawetawis


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 86 BoRONG angGA saWARga meSI marTAya Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, seolah-olah dapat mati didalam hidup. Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan. Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya. Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami. SABDA TAMA Gambuh 1. Rasaning tyas kayungyun Angayomi lukitaning kalbu Gambir wanakalawan hening ing ati Kabekta kudu pitutur Sumingkiring reh tyas mirong Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal yang salah. 2. Den samya amituhu Ing sajroning Jaman Kala Bendu Yogya samyanyenyuda hardaning ati Kang anuntun mring pakewuh Uwohing panggawe awon Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada kerepotan. Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk. 3.Ngajapa tyas rahayu Nyayomana sasameng tumuwuh Wahanane ngendhakke angkara klindhih Ngendhangken pakarti dudu Dinulu luwar tibeng doh Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik. Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga. Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka, melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh. 4. Beda kang ngaji mumpung Nir waspada rubedane tutut Kakinthilan manggon anggung atut wuri Tyas riwut ruwet dahuru Korup sinerung agoroh Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung. Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai, selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta. 5. Ilang budayanipun Tanpa bayu weyane ngalumpuk Sakciptane wardaya ambebayani Ubayane nora payu Kari ketaman pakewoh Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh. Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya. Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya. Akhirnya hanyalah kerepotan saja.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 87 6. Rong asta wus katekuk Kari ura-ura kang pakantuk Dandanggula lagu palaran sayekti Ngleluri para leluhur Abot ing sih swami karo Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang. Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu kala, betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja. 7. Galak gangsuling tembung Ki Pujangga panggupitanipun Rangu-rangu pamanguning reh harjanti Tinanggap prana tumambuh Katenta nawung prihatos Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan kekurangannya. Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir, barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin. 8. Wartine para jamhur Pamawasing warsita datan wus Wahanane apan owah angowahi Yeku sansaya pakewuh Ewuh aya kang linakon Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah. Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan. 9. Sidining Kala Bendu Saya ndadra hardaning tyas limut Nora kena sinirep limpating budi Lamun durung mangsanipun Malah sumuke angradon Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka. Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik. Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa. 10. Ing antara sapangu Pangungaking kahanan wus mirud Morat-marit panguripaning sesami Sirna katentremanipun Wong udrasa sak anggon-anggon Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan, penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan disana-sini. 11. Kemang isarat lebur Bubar tanpa daya kabarubuh Paribasan tidhem tandhaning dumadi Begjane ula dahulu Cangkem silite angaplok Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan. Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya dapat makan. 12. Ndhungkari gunung-gunung


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 88 Kang geneng-geneng padha jinugrug Parandene tan ana kang nanggulangi Wedi kalamun sinembur Upase lir wedang umob Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan meskipun demikian tidak ada yang berani melawan. Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa. Bisa racun ular itu bagaikan air panas. 13. Kalonganing kaluwung Prabanira kuning abang biru Sumurupa iku mung soroting warih Wewarahe para Rasul Dudu jatining Hyang Manon Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air. Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya 14. Supaya pada emut Amawasa benjang jroning tahun Windu kuning kono ana wewe putih Gegamane tebu wulung Arsa angrebaseng wedhon Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning (Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam akan menghancurkan wedhon (pocongan setan). (Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan). 15. Rasa wes karasuk Kesuk lawan kala mangsanipun Kawises kawasanira Hyang Widhi Cahyaning wahyu tumelung Tulus tan kena tinegor Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi. 16, Karkating tyas katuju Jibar-jibur adus banyu wayu Yuwanane turun-temurun tan enting Liyan praja samyu sayuk Keringan saenggon-enggon Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati dimanapun. 17. Tatune kabeh tuntun Lelarane waluya sadarum Tyas prihatin ginantun suka mrepeki Wong ngantuk anemu kethuk Isine dinar sabokor Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang. Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria. Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil) yang berisi emas kencana sebesar bokor. 18. Amung padha tinumpuk


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 89 Nora ana rusuh colong jupuk Raja kaya cinancangan angeng nyawi Tan ana nganggo tinunggu Parandene tan cinolong Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang dicuri. 19. Diraning durta katut Anglakoni ing panggawe runtut Tyase katrem kayoman hayuning budi Budyarja marjayeng limut Amawas pangesthi awon Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik. Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang jelek. 20. Ninggal pakarti dudu Pradapaning parentah ginugu Mring pakaryan saregep tetep nastiti Ngisor dhuwur tyase jumbuh Tan ana wahon winahon Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak ada yang saling mencela. 21.Ngratani sapraja agung Keh sarjana sujana ing kewuh Nora kewran mring caraka agal alit Pulih duk jaman runuhun Tyase teteg teguh tanggon Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala. Semuanya berhati baja. RAMALAN JOYOBOYO Rawa dadi pada dadi bera Iblis jalma manungsa Iblis menjelis manungsa sara Wong salah bungah-bungah Wong bener thenger-thenger. Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI. Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik utawa kang kasebut SAPTA MALOKO. Trikali kabagi dadi telu yaiku : 1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya. 2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya. 3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya .Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang pungkasan. Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku :


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 90 1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung) 2. Kalasekti (Jaman Kuasa) 3. Kalajaya (Jaman Hunggul) 4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka) 5. Kalisuba (Jaman Kamulyan) 6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor) 7. Kalisurata (Jaman Alus) PUJANGGA R. Ng. Ronggowarsito Serat-Kalatida Salah satu cuplikan karya sastra tembang "Sinom" dalam "Serat Kalatido" bab.8, seperti di bawah ini : · Amenangi jaman edan ,ewuh aya ing pambudi · melu edan ora tahan · yen tan melu anglakoni,boya kaduman melik · kaliren wekasanipun · Ndilallah karsa Allah · Sakbeja-bejane kang lali · luwih beja kang eling lawan waspada.. Apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi : · Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak, · ikut gila tidak tahan · jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik, · akhirnya menjadi ketaparan. · Namun dari kehendak Allah, · seuntung untungnya orang yang lupa diri, · masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada. Kemudian gubahan ini diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma, berbunyi "boRONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya". Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam surga, tempat yang meuju kehidupan langgeng sejati. Masyarakat Jawa tidak akan gampang melupakan sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito. Tokoh yang hidup pada masa ke-emasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan ‘warisan piwulang yang sangat berharga’ berupa puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya, teologi serta ditunjang bakat, mendudukkan ia sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta. R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari. Sebagai putra bangsawan Burham mempunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko. Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan khayalannya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang, bahkan pada Serat Sabda Jati terdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri. Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 91 meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara., adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta.. Semasa kecil beliau diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, watak Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana. Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta. Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan 'klitikan' (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham berjumpa dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi isterinya. Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo/Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya. Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari. Ketika kembali ke Pondok, kenakalan Bagus Burham tidak mereda. Karena kejengkelannya, maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya. Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi kawan-kawannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara. Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang amat berguna baginya. Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu perbuatan jahat atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani.Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu : Pertama : Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 92 pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Kedua : Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa. Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa. Ketiga : Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman diperoleh dari Gusti Pangeran Harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jayakawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom. Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta. Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas ngabehi Sarataka, pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi. Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur.Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani. Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga,


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 93 Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24. Inalilahi waina ilahi rojiun.* Sastra Jawa Klasik Berumur Panjang Karena Didukung Oleh Masyarakat. Kenapa sastra Jawa klasik berumur panjang lebih dari seribu tahun ? karena selain indah isi dan bentuknya, memang dicintai dan didukung oleh masyarakat penggemarnya. Demikian tanggapan Dra. Wahyati D. Pradipta dalam Saresehan Javanologi , digedung Pewayangan Kautaman, akhir April 2002. Memiliki Pamor. Demikian agung sastra klasik Jawa sehingga memiliki pamor, terkena radiasi berupa pencerahan karena Ketuhannan Yang Maha Esa, dengan faktor intrinsik. Bentuk indah dengan bahasa bertingkat undha usuk, bagus sekali dimainkan dalam sastra, penyajiannya sangat sangit, menimbulkan pesona kuat bagi penggemarnya. Isinya mendalam memberikan kepuasan. Nilainya bermanfaat, idiologinya menawarkan hidup kokoh, luas dan luwes. Energinya menawarkan falsafah hidup yang bersumber kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Segi positif tersebut didukung oleh faktor ekstrinsik, yaitu kemampuannya mengaitkan tembang, kerawitan dan tari yang membuat tegar dan bernilai tumbuh. Jelas kiranya popularitas dan keagungan didukung oleh seni pertunjukan yang hidup dan digemari. Misalnya pada jaman Airlangga, Kakawin Arjuna Wiwaha di senangi dalam wayang kulit, sedangkan untuk wayang wong, yang terkenal diambil dari kitab Hari Wangsa. Jangan Terputus Dari Tradisi Dunia Jawa tanpa sastra bukan Jawa, sastra Jawa tanpa seni pertunjukan belum sastra Jawa. Seni pertunjukan merupakan sarana penting untuk dialog antara dalang dengan penontonnya, baik wayang kulit maupun wayang wong. Keberhasilan sastra klasik merakyat karena didukung oleh tradisi dan dipelajari secara ngeblak atau terbuka. Ibu Wahyati Pradipta memberi contoh dengan melantumkan tembang " Jaman Edannya " Ronggowarsito. Betapa kondangnya tembang itu, bahkan sampai kini masih merasuk dihati masyarakat jawa. SERAT SABDO JATI Megatruh 1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu MarGAne suka basuki Dimen luWAR kang kinayun Kalising panggawe SIsip Ingkang TAberi prihatos Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin. 2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh Galedehan kang sayekti Talitinen awya kleru Larasen sajroning ati Tumanggap dimen tumanggon Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu. 3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu Angayomi ing tyas wening Eninging ati kang suwung Nanging sejatining isi Isine cipta sayektos Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 94 namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati. 4. Lakonana klawan sabaraning kalbu Lamun obah niniwasi Kasusupan setan gundhul Ambebidung nggawa kendhi Isine rupiah kethon Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan) akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak. 5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu Dadi panggonaning iblis Mlebu mring alam pakewuh Ewuh mring pananing ati Temah wuru kabesturon Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, seolah-olah mabuk kepayang. 6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu Hayuning tyas sipat kuping Kinepung panggawe rusuh Lali pasihaning Gusti Ginuntingan dening Hyang Manon Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping. 7. Parandene kabeh kang samya andulu Ulap kalilipen wedhi Akeh ingkang padha sujut Kinira yen Jabaranil Kautus dening Hyang Manon Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan. 8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh Kewuhan sajroning ati Yen tiniru ora urus Uripe kaesi-esi Yen niruwa dadi asor Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya menjadi sengsara. 9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung Anggelar sakalir-kalir Kalamun temen tinemu Kabegjane anekani Kamurahane Hyang Manon Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 95 langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya. 10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun Yen temen-temen sayekti Dewa aparing pitulung Nora kurang sandhang bukti Saciptanira kelakon Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati. Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai. 11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur Saka pengunahing Widi Ambuka warananipun Aling-aling kang ngalingi Angilang satemah katon Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui. 12. Para jalma sajroning jaman pakewuh Sudranira andadi Rahurune saya ndarung Keh tyas mirong murang margi Kasekten wus nora katon Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan, cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak. 13. Katuwane winawas dahat matrenyuh Kenyaming sasmita sayekti Sanityasa tyas malatkunt Kongas welase kepati Sulaking jaman prihatos Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut, senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut. 14. Waluyane benjang lamun ana wiku Memuji ngesthi sawiji Sabuk tebu lir majenum Galibedan tudang tuding Anacahken sakehing wong Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877 (Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945). Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang. 15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu Kala Suba kang gumanti Wong cilik bisa gumuyu Nora kurang sandhang bukti Sedyane kabeh kelakon Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.


SUTRESNA SASTRA JAWA M. ANTON NUR ALFIAN, S.S 96 16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput Mulur lir benang tinarik Nanging kaseranging ngumur Andungkap kasidan jati Mulih mring jatining enggon Sayang sekali "pengelihatan" Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya. Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini. 17.Amung kurang wolung ari kang kadulu Tamating pati patitis Wus katon neng lokil makpul Angumpul ing madya ari Amerengi Sri Budha Pon Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon. 18. Tanggal kaping lima antarane luhur Selaning tahun Jimakir Taluhu marjayeng janggur Sengara winduning pati Netepi ngumpul sak enggon Tanggal 5 bulan Sela (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu, Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873) kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan sang Pujangga kembali menghadap Tuhan. 19. Cinitra ri budha kaping wolulikur Sawal ing tahun Jimakir Candraning warsa pinetung Sembah mekswa pejangga ji Ki Pujangga pamit layoti Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802. (Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873). SERAT KALATIDA Sinom 1. Mangkya darajating praja Kawuryan wus sunyaturi Rurah pangrehing ukara Karana tanpa palupi Atilar silastuti Sujana sarjana kelu Kalulun kala tida Tidhem tandhaning dumadi Ardayengrat dene karoban rubeda Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan. 2. Ratune ratu utama Patihe patih linuwih


Click to View FlipBook Version