adinda luthvianti
adinda luthvianti 1 - 10
12 - 21
Opera Matahari
The Sun Opera 22 - 33
Bulan, Pepohonan dan
Angin Yang Takbahagia 34 - 56
The Moon, Trees, and an 57 - 64
Unhappy Wind 65 - 71
Ilalang 72 - 84
The Weeds 85 - 92
Hujan Mencari Kali
Rain Seeking River
Opera Matahari
[Opera] Matahari
INI KISAH IBU GURU LENA, LENA MERLENAH, DI SAAT PANDEMI VIRUS
COVID-19 DI INDONESIA. IA MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR SWASTA DI
WILAYAH JAKARTA SELATAN. IA MEMILIKI SATU ANAK BERNAMA, RERE.
SELAMA PANDEMI, SELURUH SEKOLAH DILIBURKAN. BU GURU LENA TIDAK
BERANGKAT MENGAJAR, NAMUN IA TETAP MENGAJAR SECARA DARING
DAN TETAP BERKOMUNIKASI DENGAN SELURUH MURIDNYA. IA JUGA TETAP
MENGAJAR DAN BERMAIN BERSAMA ANAKNYA.
BU GURU LENA PERCAYA BAHWA IMAJINASI ANAK-ANAK TAK TERBATAS.
MEREKA DAPAT MENGUBAH APA SAJA YANG TERBATAS MENJADI MUNGKIN.
IA SENANG MEMANTIK KREATIVITAS ANAKNYA LEWAT IMAJINASI. IA JUGA
MEMILIKI CARA UNTUK MENGHIDUPKAN SELURUH ALAM SEMESTA RAYA INI
MENJADI BERNAMA, LENGKAP DENGAN SIFAT-SIFATNYA. KATA KUCINYA
DALAM MENGAJAR DAN MENJADI IBU HANYA SATU; KREATIVITAS.
BU LENA PANDAI BERNYANYI, MENARI, DAN BERMAIN PERAN. IA MELEWATI
MASA KANAK-KANAK DAN REMAJANYA DENGAN BERKESENIAN.
SEKARANG, MARI KITA MENGUNJUNGI BU LENA DAN ANAKNYA, RERE.
SAMBIL MENYUNGGI CUCIAN, BU LENA MASUK PANGGUNG DIIKUTI OLEH
RERE
Bu Lena: Ayooo Rere, hari ini kamu bermain bersama jemuran dan Matahari.
dua teman kita yang paling karib. Yang satu basah, yang lain mengeringkann-
ya. Yang satu kering, yang lain membuat bayangan. Tangan kita mengantar-
kannya.
RERE DAN BU LENA SIBUK MEMERAS-MERAS SEPRAI PUTIH. MENYANGKUT-
KANNYA PADA JEMURAN. MENCIUM SISA AIR PADA TANGANNYA, DAN RERE
MENGIKUTINYA.
Rere: Basah dan harum (SAMBIL MEMERAS-MERAS JEMURAN).
Bu Lena: Matahari akan membantu mengeringkannya, Re (BU LENA MEN-
COLEK PIPI RERE DAN BERLARI). Rere kena…..
Rere: (SAMBIL MEMEGANG TANGAN BU LENA) Ibu kena….
1
[Opera] Matahari
Matahari 1
Matahari berjalan pelan
Sepasang kaki yang panjang
Satu-satu dikeringkan
Dua-dua menumbuhkan
Tiga-tiga meninggikan
Empat, seribu, berjuta hal ditemukan
Matahari berjalan pelan
Surut dan pasang laut bersamanya
Angin dan pepohonan, bertamu
Membuat hidup selalu baru
Matahari berjalan pelan
Memberi nama pada warna
Biru untuk langit
Putih untuk bunga melati
Hijau untuk daun cemara
Kuning untuk hamparan padi
Tak ada warna pelangi tanpa Matahari
Matahari mengeja pelan
Sabar dalam setia
Waktu dalam janji
Bumi gelap ketika Ia pergi
Terima kasih, Matahari
Kau yang pertama
Sebelum dunia berwarna
Matahari…..
2
[Opera] Matahari
Bu Lena: (SAMBIL MEMELUK RERE) Ibu berjanji pada Matahari bahwa jam
10.30 ini ibu akan masak untukmu.
Rere: (SAMBIL MEMELUK LEHER IBUNYA) Tempe goreng, dadar telur, dan
sayur bayem. Jangan lupa pakai jagung.
Bu Lena: Siap boss! Nanti, kita makan siang di bawah Matahari, dan angin
akan datang pada sela-sela seprai, segaaaar!
Rere: Tapi sayang (MENGELUH), aku tidak bisa mengajak Gibral, Budi, Dewi,
Rani, Alle. Aku kangen mereka, Bu. Kenapa Ibu melarang aku bermain
dengan mereka? Melarang , melarang berenang, melarang semua….
Bu Lena: (SAMBIL MELEPASKAN PELUKANNYA) Karena saat ini ada wabah
virus yang bernama Corona. Virus itu tidak baik untuk tubuh kita, dia basah,
berair, jatuh di mana-mana, diam di setiap tempat, melekat, hidup, dan
bergerak (SUARANYA SEDIKIT DISERAM-SERAMKAN) di dalam tubuhmu. Lalu,
kamu batuk, demam, panas, sesak nafas. Karena virus corona adalah mahluk
asing, tubuhmu tidak mengenalnya. Maka ia melawan. Itu yang membuat kita
deman, seperti peperangan. Mereka jumlahnya banyaak, banyak sekali,
namun tidak terlihat.
Rere: (MEMELUK IBUNYA LAGI) Menakutkan sekali, Bu! Sampai kapan virus
Corona itu ada bersama kita semua? Apakah selamanya?
Bu Lena: Tidak selamanya, tapi mereka tetap akan ada bersama kita, dan
tidak saling menyakiti, sampai para jagoan vaksin menemukan anti virusnya
(BU LENA MELEPASKAN PELUKAN RERE, MENATAPNYA PENUH KASIH
SAYANG DAN MEYAKINKAN). Sekarang saat yang baik untuk kita belajar
menunggu, belajar mengenalnya, dan memberikan waktu kepada para
jagoan vaksin untuk menemukan anti virusnya.
Rere: Apakah Ibu sudah mengenalnya?
Bu Lena: Sudah kenal sedikit, dan perlu lebih kenal lagi. Kita akan sama-sa-
ma mencari tahu lebih banyak lagi. Setelah kita mengenalnya, mungkin kita
bisa berteman dengan baik, tanpa saling mengganggu.
Rere: Yang kenal sedikit itu apa misalnya?
3
[Opera] Matahari
Bu Lena: Yang sedikit itu seperti; Ibu membaca dari buku bahwa virus Corona
itu menempel dan terus hidup dan memperbanyak dirinya, makanya kita harus
sering mencuci tangan, agar virusnya tidak menempel. Lalu, ia bisa lompat
lewat cairan dari mulut, makanya kita harus memakai masker. Nah, karena
mereka tidak kelihatan, kita harus pandai menghindarinya. Jangan datang
dalam keramaian, kerumunan, bermain di halaman sekolah. Kita sekarang
seperti bermain petak umpet dengan virus corona, dan kita memilih persem-
bunyian yang aman, yaitu rumah!
Rere: Tapi aku ingin bermain, ingin sekolah, ingin cerita dengan teman-teman.
Bu Lena: (SAMBIL DUDUK DI BAWAH JEMURAN, BERDIAM SEJENAK, BERPIKIR)
Hah, ibu tahu caranya bagaimana kamu bisa bertemu teman-teman (BERLARI
MEMBAWA POT TANAMAN YANG ADA DI SEKITAR JEMURAN). Rere coba lihat
pohon ini, warnanya apa?
Rere: Hijau
Bu Lena: Bunga apa namanya?
Rere: Bunga mawar!
Bu Lena: Sekarang pejamkan matamu!
Rere: Terus…
Bu Lena: Apakah kelihatan pot, bunga mawar, dan daunnya?
Rere: Aaaaah iyaaa, kelihatan. Daunnya berwarna hijau, tangkainya ada
durinya kecil, dan bunganya merah cantik.
Bu Lena: Nah! Ibu akan bawakan tikar, kamu boleh tiduran di bawah jemuran
bersama Matahari. Lalu, pejamkan matamu. Lalu, undang semua temanmu
untuk bermain bersama di sini, saat ini. Ibu akan membawakan tikar pandan
untukmu.
4
[Opera] Matahari
(BU LENA KELUAR PANGGUNG MEMBAWA TIKAR. RERE MEMEGANG-ME-
GANG JEMURAN. BU LENA MASUK KE PANGGUNG MENGGELAR TIKAR
SELEBAR PANGGUNG / DI BAWAH JEMURAN, SEOLAH UNTUK BANYAK
ORANG. RERE TERSENYUM MENYAKSIKAN TIKAR YANG LEBAR)
Rere: Waaaah! Tikarnya bisa untuk banyak orang ya, Bu?
Bu Lena: (MENANGGAPINYA DENGAN TERSENYUM SAMBIL BERNYANYI
RIANG):
Rere
Rere sayang disayang sayang
Jangan takut sendirian
Ada matahari yang pasti
Membuat dunia jadi berseri
Rere sayang disayang sayang
Ketika matamu terpejam
Matahari akan mengantarkan
Teman-temanmu
Rere sayang disayang sayang
Pejamkan matamu
Buatlah warna baru
Dari semua warna
Menjadi dirimu.
Bu Lena: (SAMBIL MERAPIHKAN TIKAR) Nah! Siaaap, sekarang Rere bisa
mengundang seluruh temanmu. Caranya, pejamkan matamu (RERE TIDUR DI
ATAS TIKAR, BU LENA MENGUSAP MATANYA, DAN MENCIUM KENINGNYA).
Rere: Terima kasih, Ibu.
Bu Lena: (SAMBIL KELUAR PANGGUNG) Kembali kasih, kasih, kasih, kasih…
PELAN-PELAN TEMAN-TEMAN RERE MUNCUL DI BALIK JEMURAN, MENARI
DAN BERNYANYI. RERE IKUT JUGA
5
[Opera] Matahari
Matahari ll (DINYANYIKAN SECARA SOLO, OLEH 5 ANAK DALAM 5 BAIT
DAN TERAKHIR 1 BAIT KOOR)
1- Aku datang bersama Matahari
dari segala arah Bumi
agar kamu tak sendiri
2- Bumi rumah kita bersama
Matahari bercahaya untuk semua
3- Udara dari alam
harum tanah
jernih air
di bawah matahari
dalam satu bumi
4- Matahari bintang halus
energi kaya raya
memeluk planet kecil
dalam lingkaran besar
5- Matahari pulang
bersama bayangan
Matahari akan kembali
bersama suara pagi
Semua (koor):
150 juta kilometer
jarak Matahari
memutari siang
bersama angin Matahari
yang berbeda
di Bumi Khatulistiwa
Indonesia tercinta.
6
[Opera] Matahari
ANAK-ANAK TEMANNYA RERE MEMENUHI PANGGUNG, BICARA TIDAK
BERATURAN, TIDAK BERKAITAN, TERDENGAR RIUH. HANYA SATU ORANG
ANAK DENGAN MEMBAWA MAINAN (BONEKA) KELINCI YANG TERDENGAR
JELAS
Anak 1: (MENGAJAK BICARA KEPADA RERE) Aku sudah menemukan nama
bagus untuk kelinci ini, Re.
Rere: Siapa namanya?
Anak 1: Matahari.
Rere: Aneh, kok Matahari?
Anak 1: Tidak aneh! Kamu belum tahu cerita Kelinci dan Matahari? Mamaku
cerita bahwa Kelinci takut dengan Matahari, karena tidak tahan dengan panas
Matahari, kasihan kan? Agar Kelinci tidak takut dan bisa tahan dengan panas
Matahari, jadi aku kasih nama Matahari, dan Matahari aku kasih nama Kelin-
ci, damai deh!
Rere: Aneh! Aneh sekali! Kamu aneh (RERE BERLARI MENGHAMPIRI TEMAN
YANG LAIN)
Anak 1: Tidak aneh. Aaah Rere gak asik….(ANAK 1 MENGEJAR)
Rere: (BERTANYA KE ANAK 2) Kamu percaya gak kalau Kelinci takut dengan
Matahari?
Anak 2: Emmmmh, Matahari tidak menakutkan, ia baik, aku tiap hari
berjemur di bawah Matahari.
Anak 3: Aku juga! Dan mamaku cerita tentang Matahari dan bayangannya.
Aku berdiri dan bayangan mengikuti. Jika kita mendekat, bayangan membe-
sar, tubuhmu ikut besar. Semua itu karena Matahari tak ingin sendiri, dia selalu
minta ditemani. Dia baik, tahu!
7
[Opera] Matahari
Anak 4: Cerita ibuku lebih seru tentang Matahari! Gara-gara Matahari terlalu
cepat datang, pernikahan Sangkuriang dan Dayang Sumbi batal. Lalu,
Sangkuriang marah besar. Sangkuriang menendang perahu yang ia buat
untuk Dayang Sumbi, terus Matahari menjadikannya gunung Tangkuban
Perahu; perahu yang terbalik!
Anak 5: Cerita mamaku lebih keren tahu! Jaman dahulu kala, di Bumi ini ada
10 Matahari, dan semua manusia dan pepohonan kepanasan. Lalu, Raja
mengumumkan siapa yang bisa memanah Matahari akan mendapatkan 10
gunung emas. Ada seorang jagoan pemanah, namanya Papua, yang sang-
gup memanah Matahari. Ia mengambil ancang-ancang dan bisa melebarkan
kakinya menjadi panjaaaaaang, mengumpulkan tenaga yang cukup untuk
melontarkan panah dengan kuat – blassss, ia berhasil memanah 9 Matahari.
Sang pemanah hidup kaya raya dengan gunung emasnya, dan menyisakan 1
Matahari untuk kita semua. (MENIRUKAN DENGAN GAYA MEMANAH)
Anak 6: Cerita ibuku lebih asik, aku dan Matahari diam-diam saling memban-
tu. Ini rahasia kata ibuku. Matahari memanjangkan tulang- tulang di dalam
tubuhku, dan membuatnya menjadi kuat di malam hari, ketika aku tidur.
Pelan-pelan tubuhku tinggi dan besar, dulu aku adalah bayi kecil.
Anak 7: Apakah Matahari yang meninggikan badanmu itu sama dengan
Matahari yang menunjukan jalan ke sekolah? (ANAK 7 BERTANYA PADA ANAK
6)
Anak 6: Aku gak tahu, karena Matahari yang ibuku ceritakan itu rahasia.
Rere: Matahari itu hanya 1, berarti Matahari yang sama. Kan yang 9 sudah
dipanah.
Anak 5: Iya, benar! Dan Matahari kalau malam sama dengan kita; tidur! Masa
dia datang diam-diam ke tempatmu? (BERTANYA PADA ANAK 6)
Anak 6: Makanya aku punya Matahari rahasia. Dia hanya membantuku ketika
malam.
8
[Opera] Matahari
Anak 1: Kata papaku, Malam selalu membawa Hantu, dan Matahari mengu-
sirnya, sehingga Hantu tak punya tempat sembunyi. Berarti Matahari bisa
datang saat malam hari juga, tahu!
Anak 8: Kita semua punya Matahari sendiri-sendiri, biarin saja jumlahnya jadi
banyak, lebih banyak dari 10.
Anak 9: Iya, jumlah Matahari banyak, sebanyak yang kita inginkan.
Anak 10: Nanti kita kepanasan kalau Mataharinya banyak.
Anak 11: aku lebih suka siang, aku senang lihat pepohonan yang tidak bisa
diam di bawah matahari, itu menyenangkan.
Anak 12: Teman-teman, lihat! Matahari membuat jalan diantara seprai-seprai
putih itu (SEMUA ANAK MENATAP MATAHARI, NAMPAK CAHAYA PADA
SELA-SELA JEMURAN SEPRAI).
Rere: Iyaaa, lihat, Matahari mengakhiri perjalanannya selama jutaan tahun
pada jemuran.
Anak-anak serentak: Waah, keren.
Rere: Kita juga bisa membuat apa saja di bawah Matahari bersama jemuran
dengan cara memejamkan mata. Ayo teman-teman kita pejamkan mata dan
membuat apa saja!
ANAK-ANAK DUDUK BERSILA MENGHADAP JEMURAN, MEMBELAKANGI
PENONTON, BERJEJER. PADA SEPRAI-SEPRAI PUTIH (JEMURAN) NAMPAK
GAMBAR-GAMBAR INDAH, SERUPA LUKISAN. PEMANDANGAN, HEWAN,
LAUT, GUNUNG, SAWAH, DAN BANYAK HAL NAMPAK (VIDEO MAPPING
ATAU VIDEO YANG SUDAH DIISI BANYAK GAMBAR DAN BANYAK WARNA).
SEKITAR 5 – 10 MENIT GAMBAR-GAMBAR/ VIDEO FILM ITU HILANG
ANAK-ANAK JUGA HILANG (BLACK OUT). SEPERTI ADEGAN AWAL, NAMPAK
RERE TERTIDUR DI BAWAH JEMURAN, PULAS. BU LENA MASUK MEMBAWA
NAMPAN BERISI MAKAN SIANG
9
[Opera] Matahari
Bu Lena: Yaaaah, Rere tertidur (BERDIALOG DENGAN PENONTON). Saya
tidak sabar menunggu ceritanya. Saya akan simpan makanannya di sini (SAM-
BIL MELETAKAN NAMPAN DI SEBELAH RERE). Sssst, jangan mengganggu
mimpinya. Jangan menukar mimpinya dengan cara berpikir kita (BERBISIK
KEPADA PENONTON). Saya tidak sabar juga mendengarkan mimpinya. Hidup
ini indah, teman-teman, karena ada mimpi anak-anak di dalamnya (BLACK
OUT).
SELESAI
Depok, 11 Maret – 24 Juni 2020
Adinda Luthvianti.
Note: Cerita ini terpantik oleh Noviyanti, yang sejak usia 7 tahun sudah
bermain teater di Studiohanafi. Novi saat ini sudah menjadi guru SDI Al-Ikhlas,
Cipete, Jakarta Selatan. Ia bercerita kepada saya suka dukanya mengajar
lewat daring pada saat pandemi Covid-19 saat ini.
Saya juga berhutang banyak pada anak-anak, sebagian dialog dalam teks di
atas datang dari anak-anak.
10
[Opera] Matahari
11
The Sun Opera
[The Sun Opera]
THIS IS A STORY ABOUT A SCHOOLTEACHER, LENA MERLENAH, WHO'S
WORKING AT A PRIVATE SCHOOL IN SOUTH JAKARTA, INDONESIA, DURING
THE COVID-19 PANDEMIC. RERE IS ONE OF HER STUDENTS. ALL SCHOOLS
ARE IN LOCKDOWN, SO MS. LENA IS TEACHING FROM HOME OVER THE
INTERNET AND MAINTAINS COMMUNICATION WITH HER STUDENTS. SHE
ALSO SPENDS TIME TEACHING AND PLAYING WITH HER DAUGHTER.
MS. LENA BELIEVES THAT CHILDREN POSSESS A BOUNDLESS IMAGINATION.
THEY COULD TURN LIMITATIONS INTO POSSIBILITIES. SHE DELIGHTS IN
SPARKING HER STUDENTS' CREATIVITY THROUGH IMAGINATION. SHE HAS A
WAY OF ENLIVENING THE UNIVERSE BY HUMANIZING ITS CONTENTS,
INCLUDING ASSIGNING TRAITS AND PERSONALITIES TO THEM. HER TEACH-
ING METHOD REVOLVES ONLY AROUND CREATIVITY.
MS. LENA IS A SKILLED SINGER, DANCER, AND ACTOR. SHE SPENT HER
YOUTH DELVING INTO THE ARTS.
NOW, LET'S GO TO MS. LENA AND HER DAUGHTER, RERE.
WHILE CARRYING LAUNDRY, MS. LENA ENTERS THE STAGE ACCOMPANIED
BY RERE.
Ms. Lena: Come on, Rere. Today you're playing with the Laundry and the Sun,
two of our very best friends. The one is wet, while the other turns things dry. As
the former dries, the other creates shadows, Our hands guide them.
RERE AND MS. LENA ARE BUSY SQUEEZING THE WET LAUNDRY IN THE FORM
OF A WHITE SHEET BEFORE FASTENING IT ONTO A CLOTHESLINE. SHE
SMELLS HER WET HANDS, RERE IMITATES.
Rere: Wet and fragrant (WHILE SQUEEZING THE LAUNDRY).
Ms. Lena: The Sun will help dry them, Re (MS. LENA TAPS RERE ON THE CHEEK
AND RUNS). You're it...
Rere: (SAMBIL MEMEGANG TANGAN BU LENA) Ibu kena….
Rere: (WHILE HOLDING MS. LENA'S ARM) You're it...
THEY CHUCKLE, THEN THEY DANCE AMONG THE SHEETS WHILE SINGING:
12
[The Sun Opera]
Sun 1
The Sun moves slow
A pair of long legs
They dry one by one
They grow two by two
They elevate three by three
Four, a thousand, a million things get discovered
The Sun moves slow
The ocean ebbs and flows with it
The wind and the trees pay a visit
Life is made eternally new
The Sun moves slow
Gives names to colors
Blue for the sky
White for jasmine
Green for pine trees
Yellow for wheat
There's no rainbow without the Sun
The Sun spells slowly
Patient and loyal
Time within a promise
The globe darkens when the Sun leaves
Thank you, Sun
You're the first
Before the world blooms in color
Sun...
13
[The Sun Opera]
Ms. Lena: (HUGGING RERE) I've promised the Sun that at 10:30 AM today I will
cook for you.
Rere: (HUGGING HER MOTHER'S NECK) Fried tempeh, omelets, and spinach
soup. Don't forget the corn.
Ms. Lena: You got it! We will have lunch underneath the Sun, and Wind will blow
among the sheets, breeeeezy!
Rere: It's a shame, though, that I can't invite Gibral, Budi, Dewi, Rani, Alle...I
miss all of them, mom. Why have you kept me from playing with them? You
don't want me to go to school, to go swimming...
Ms. Lena: (RELEASING HER EMBRACE) Because right now there's a pandemic
going on. It's sparked by the Coronavirus which is harmful to our health. This
virus is wet and it spreads everywhere. Once it enters your body, it stays there,
attached and living (PUTS ON A SCARY VOICE). Then, you become sick. You
start to cough, come down with fever, and have difficulty breathing, because the
Coronavirus doesn't belong in your body. Your body doesn't recognize it. It
comes in numbers and it grows fast, but you can't see it.
Rere: (HUGGING HER MOM AGAIN) That's terrifying. How long will the Coro-
navirus stay with us? Will they stay forever?
Ms. Lena: Not forever, but it will always be with us. It will weaken right up until
there's a vaccine for it (MS. LENA RELEASES HER EMBRACE AND GIVES RERE A
REASSURING LOOK). Now is a good time for us to learn to be patient, to get to
know this virus, and to buy time for those working on a vaccine.
Rere: Have you gotten to know it, mom?
Ms. Lena: I have, to a point. But there's still much to learn. Together, we will
figure it out. Maybe, after we do, the virus and we can coexist without bothering
each other.
Rere: What have you learned so far?
14
[The Sun Opera]
Ms. Lena: I read that the Coronavirus attaches itself to a host and then multi-
plies itself. This is why we need to wash our hands often, so that it doesn't attach
itself easily. It can also move from host to host via droplets from the mouth and
nose, so we need to wear a mask. The fact that it's invisible requires us to be
smarter in avoiding it, like by staying away from crowds, not going out to play
on school grounds, and by hiding out at a safe place, which is our home!
Rere: But I want to go out and play, I want to go to school and meet my friends.
Ms. Lena: (SAT IN THOUGHT BENEATH THE CLOTHESLINE, TAKES A PAUSE)
A-ha! I know how you can meet your friends (RUNS AND COMES BACK WITH
A POTTED PLANT FROM NEAR THE CLOTHESLINE). Rere, come take a look at
this tree. What color do you see?
Rere: Green
Ms. Lena: What kind of flower is it?
Rere: Jasmine!
Ms. Lena: Now close your eyes!
Rere: And...
Ms. Lena: Do you see the pot, the jasmine, and the leaves?
Rere: Yes, I see it! The leaves are green, there's the thorn, and beautiful red
petals
Ms. Lena: I will bring out a carpet and you can lay beneath the clothesline with
the Sun. Then, I want you to close your eyes and invite your friends over so you
guys can play together, right now.
(MS. LENA EXITS THE STAGE, RERE PLAYS WITH THE CLOTHESLINE, MS. LENA
REENTERS THE STAGE BRINGING A CARPET THE SIZE OF THE STAGE, AS IF A
GROUP OF PEOPLE ARE GOING TO USE IT. RERE SMILES AS SHE WATCHES
THE CARPET BEING LAID OUT)
Rere: Waaaah! This carpet can fit so many people!
15
[The Sun Opera]
Ms. Lena: (RESPONDS BY SMILING AND SINGING):
Rere
Rere beloved, my love
Don't be afraid of being alone
There's the constant Sun
Making the world smile
Rere beloved, my love
When your eyes are closed
The Sun will deliver
Your friends
Rere beloved, my love
Close your eyes
Make up new colors
Take all of them
And become you
Ms. Lena: (WHILE TIDYING UP THE CARPET) Ready! Now, you can invite all
your friends. Just close your eyes (RERE LAYS ON TOP OF THE CARPET, MS.
LENA CARESSES HER EYELIDS, AND KISSES HER FOREHEAD).
Rere: Terima kasih, Ibu.
Bu Lena: (SAMBIL KELUAR PANGGUNG) Kembali kasih, kasih, kasih, kasih…
Ms. Lena: (WHILE EXITING THE STAGE) You're welcome, welcome, welcome,
welcome...
ONE BY ONE, RERE'S FRIENDS EMERGE FROM BEHIND THE CLOTHESLINE,
SINGING AND DANCING. RERE JOINS IN.
16
[The Sun Opera]
The Sun ll (EACH OF THE FIRST FIVE PARTS IS PERFORMED BY ONE OF THE
KIDS AS A SOLO, THE LAST PART IS PERFORMED TOGETHER)
1-I came with the Sun
From all corners of the Earth
So that you're not alone
2-The Earth is all of our homes
The Sun shines for all
3-Air from nature
The smell of soil
The clear water
Underneath the Sun
On one Earth
4-The Sun is a gentle star
with boundless energy
Hugging a small planet
Within an enormous circle
5-The Sun goes home
with shadow
The Sun will return
with the sound of the morning
Altogether:
150 million kilometers
from the Sun
Circling the noon
with the solar wind
along the equatorial soil
of beloved Indonesia
17
[The Sun Opera]
RERE'S FRIENDS RUN AROUND THE STAGE CREATING A BUSY SCENE. ONLY
ONE KID HOLDING A RABBIT DOLL IS HEARD CLEARLY
Kid 1: (STARTING A CONVERSATION WITH RERE) I've found a name for this
rabbit, Re.
Rere: What is it?
Kid 1: Sun.
Rere: That's weird. Why Sun?
Kid 1: It's not weird! Have you not heard about the story of the Rabbit and the
Sun? My mom told me that the Rabbit was afraid of the Sun because she
couldn't stand its heat. So, to make her less afraid, I've named her Sun, and I
changed the Sun's name to Rabbit. Peace!
Rere: Weird! You're weird! Aneh! (RERE RUNS TOWARD THE OTHERS)
Kid 1: It's not weird. Aaah, Rere is no fun….(KID 1 RUNS AFTER RERE)
Rere: (ASKING KID 2) Do you believe that the Rabbit fears the Sun?
Kid 2: Emmmmh, the Sun is not scary. The Sun is good. I sunbathe under it every
day.
Kid 3: So do I! And my mom told me about the Sun and its shadow. I stand up
and the shadow follows. If we come closer, the shadow gets bigger, your body
also gets bigger. It's all because the Sun doesn't want to be alone. It always
wants company. The Sun is good!
Kid 4: My mom told me a better story about the Sun! Because the Sun arrived
too early, the marriage between Sangkuriang and Dayang Sumbi was
cancelled. Sangkuriang got really mad. Then, he kicked the boat he had made
for Dayang Sumbi so hard that the Sun turned it into Tangkuban Perahu: the
Upside-down Boat!
18
[The Sun Opera]
Kid 5: My mom's story is even better! Once upon a time, there were 10 suns
above the earth, and every living thing was burning up. So, the King declared
that whoever could shoot them out of the sky would receive 10 mountains of
gold. A famous archer took on the challenge, he was called Papua. He eventu-
ally gathered enough strength to shoot down 9 suns, leaving one that has
remained until today and he became rich with gold (PERFORMING AN
ARCHERY MOTION).
Kid 6: My mom told me that the Sun and I are secretly helping each other out.
It's a secret, my mom said. The Sun makes my bones grow long and strong at
night, when I'm asleep. Slowly, my body grows tall and big. I used to be a small
baby.
Kid 7: Is the Sun that helps you grow the same as the one that shines the way
to school (KID 7 ASKS KID 6)?
Kid 6: I have no idea. The Sun that my mom told me about is a secret.
Rere: There's only one sun because the other 9 ones have been shot down.
Kid 5: Yes, that's right! And the Sun does the same thing that we do at night,
sleep! How could it possibly come to your room (KID 5 ASKING KID 6)?
Kid 6: That's why I say my sun is a secret. It only helps me at night.
Kid 1: My dad told me that ghosts come out at night, and the Sun drives them
away, and the ghosts have no place to hide, which means the Sun also comes
at night!
Kid 8: We all have our own suns, we should just let there be many suns, more
than 10.
Kid 9: Yes, there are many suns, as many as we want.
Kid 10: We will burn up if there's more than one sun.
Kid 11: I love the heat. I love seeing trees move beneath the Sun, it's exciting.
19
[The Sun Opera]
Kid 12: Guys, look! The Sun has made a path in between the white sheets
(EVERY KID LOOKS UP AT THE SUN, THERE'S A LIGHT IN BETWEEN THE
SHEETS ON THE CLOTHESLINE).
Rere: You're right, look, the Sun ends it million-year journey on the clothesline.
Kids altogether: Wow, so cool!
Rere: We can make everything under the Sun in between the clothesline by
closing our eyes. Come on, guys, let's close our eyes and make anything!
THE KIDS ALL SIT CROSS-LEGGED IN FRONT OF THE CLOTHESLINE NEXT TO
EACH OTHER, BACKS TO THE AUDIENCE. ON THE SHEETS APPEAR BEAUTI-
FUL IMAGES, LIKE A SERIES OF PAINTINGS; IMAGES OF NATURE, ANIMALS,
THE OCEAN, MOUNTAINS, RICE FIELDS (MAKING USE OF VIDEO MAPPING
OR A VIDEO CONTAINING SUCH IMAGES PROJECTED ONTO THE SHEETS).
THE SERIES OF IMAGES RUNS FOR 5 TO 10 MINUTES, AND AS IT FADES OUT,
THE STAGE ALSO BLACKS OUT. THE SETTING FROM THE OPENING SCENE
RETURNS. RERE APPEARS ASLEEP UNDERNEAETH THE CLOTHESLINE. MS.
LENA ENTERS THE STAGE BRINGING A PLATE OF FOOD FOR LUNCH.
Ms. Lena: (TALKING TO THE AUDIENCE) Oh no, Rere is alseep. I can't wait to
hear her story. I will put the food right here (PUTTING THE PLATE NEXT TO
RERE). Shhh, don't disturb her dreaming. Don't replace her dreams with out
ways of thinking (WHISPERING TO THE AUDIENCE). I also can't wait to hear
about her dreams. This life is beautiful, my friends, because there are kids'
dreams in it (BLACK OUT).
20
[The Sun Opera]
THE END
Depok, March 11 – June 24 2020
Adinda Luthvianti.
Note: This story was inspited by Noviyanti, who, ever since she was 7, has
participated in Studiohanafi's theatre program. Her hair used to always smell of
the Sun. Right now, Noviyanti is an elementary schoolteacher at Al-Ikhlas
Elementary School in Cipete, South Jakarta - teaching creatively during the
pandemic.
I also owe a lot to the kids. Half of the dialogue in this text come from them.
21
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Seorang anak merasa kesal dengan orang-orang yang tidak pernah lepas dari
smartphone, termasuk kedua kakaknya. Menurut anak itu, jika kita terlalu
dekat dengan smartphone, maka kita tidak akan pernah tahu dan tidak akan
pernah mendengar suara alam, terutama suara Bulan yang merdu. Smart-
phone membuat kita bodoh, karena membuat kita tidak mengerti perubah-
an-perubahan yang terjadi di alam semesta ini, termasuk bagaimana Angin
menjadi tua dengan daun yang direbahkan di tanah, lalu anak Angin yang
mempermainkan rambut kita menggantikannya setiap lima menit.
Kedua kakaknya kesal, dan tetap lebih percaya bahwa dengan smartphone
kita dapat menemukan segalanya. “Namanya juga smartphone, pasti dia tahu
semua keinginan kita,“ begitu kata kakaknya.
Sampai suatu hari kedua kakaknya diam-diam mengikuti saran adiknya itu.
Mereka memejamkan mata dan membayangkan Bulan, pepohonan, hujan
dan Angin, lalu mendengarkan mereka.
Suatu malam, setelah anak itu bernyanyi dengan Bulan, kedua kakaknya
bermimpi bahwa memang betul semua yang ada di alam semesta ini saling
berbicara.
Ketika berjumpa dengan kawan-kawan penggila smartphone, mereka merasa
terasing. Tetapi ada satu perasaan yang aneh; mereka merasakan Angin yang
memainkan rambut seakan ia berbicara, dan tiap kali mereka memejamkan
mata lalu memanggil apa saja, mereka mendengar apa saja.
Dan mereka berjanji tidak akan lagi membuat Bulan, Pepohonan, dan Angin
tidak bahagia.
Begitulah kisah Bulan, Pepohonan, dan Angin yang Tak Bahagia. Untuk bisa
memahaminya dari segala sisi, kamu harus menontonnya. Karena cerita ini
akan terasa indah jika unsur cahaya, musik, dan tata panggung ditonton
secara langsung.
Selamat menyaksikan……
22
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
CAHAYA TEMARAM. DI PANGGUNG PULUHAN ANAK-ANAK DAN REMAJA
SIBUK MENEKAN-NEKAN TOMBOL SMARTPHONE, BERJALAN BOLAK-BALIK
SESUAI KOREOGRAFI. NAMPAK SEORANG ANAK MEMAINKAN BONEKA
YANG TERBUAT DARI ILALANG DAN RERUMPUTAN DAN BERBICARA KEPADA
BONEKA ITU.)
Anak Kecil: (berbicara kepada boneka, sesekali kepada penonton) Kau lihat,
mereka sibuk dengan smartphone-nya, kasihaan!!! Mereka tidak tahu suara
Bulan yang merdu, mereka tidak tahu pepohonan yang pandai menari, dan
mereka tidak tahu apa-apa tentang Angin. Angin yang sungguh jenaka! Angin
bisa menjatuhkan jemuran ibu, lalu ia meniupnya lebih keras lagi dan
menyembunyikan jemuran ibu di balik pohon.
(SELURUH PEMAIN YANG SIBUK DENGAN SMARTPHONE KELUAR PANGGU-
NG, MENYISAKAN DUA ANAK DAN ANAK KECIL. DUA ANAK TERSEBUT
(KEDUA KAKAK DARI ANAK KECIL) MENGGELAR KAIN (BERUPA SEPRAI) DAN
MEMASANG FOTO PRIBADI (SEOLAH SEDANG DI KAMARNYA). MEREKA
SIBUK BERMAIN DENGAN SMARTPHONE.)
Anak Kecil: (SUARA KETUKA PINTU) Kakak, kakak, kakak, boleh masuk gak?
Kakak 1 dan Kakak 2: Gaaak boleh!
Anak Kecil: Maksa ah! (MENDEKATI KAKAK 1)
Kakak 1: Pasti mau bilang kakak gak pernah mendengar Bulan bernyanyi
merdu, kan?
Kakak 2: “Kakak, gak tahu kan pepohonan dan Angin suka menari? (NYINYIR)
Kakak 1: (SOK MENASEHATI) Makanya, dik. Kamu jangan kebanyakan
berkhayal, jadi aneh sendiri di dunia ini.
Anak Kecil: Aku gak mengkhayal (DENGAN NADA SERIUS!). Aku tahu kalau
Angin menjadi tua bersama daun kering, lalu merebahkan dirinya di atas
tanah
23
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
lalu anak Angin menggantikan posisinya. Dia mengajak kita bermain dengan
memainkan rambut kita setiap 5 menit di musim kemarau.
Kakak 1: (TERIAK) ibuuuuuu….Fasha, gila niih !
Anak Kecil: Kakak yang gila. Masa tertawa dengan smartphone, terus marah,
dan tidak tahu Angin menari bersama pohon. Tidak tahu, tidak tahu sama
sekali.
Kakak 2: (MARAH-MARAH KEPADA SMARTPHONE) Iiiiih sebel..apaan sih,
status alay, sok pamer, sebeel aku. Dia memang norak, masa ngeledek aku di
fb (meletakkan smartphone)?!
Anak Kecil: (MENGHAMPIRI KAKAK 2) Tuuuh kan, kakak kesel! Makanya lebih
baik bermain dengan Angin dan pepohonan. Kita bisa berlari, melompat,
memanjat, dan Angin bisa mengipasi tubuh kita jika kepanasan. Mereka baik
semua.
Kakak 1: Aduuuh, berisik. Sudah seribu kali kamu bilang begitu, bosan aku.
Kamu nampak bodoh! Udah keluar-keluar (TETAP BERMAIN SMARTPHONE)
Anak Kecil: Kakak yang bodoh, tidak mengerti suara-suara alam! Smartphone
itu membuat kakak bodoh kan (MARAH SAMBIL MERENGEK)
Kakak 2: Smartphone ini dinamakan demikian karena pintar. Ia tahu semua
keinginan kita! Dan aku tidak percaya Bulan, pepohonan, dan Angin bisa
bicara, titik!
Anak Kecil: Memang mereka bisa bicara! Kita tinggal memejamkan mata
sebentar, membayangkan pepohonan dan Angin, terus dengarkan deh,
mudah kan? Makanya, ayo kakak coba di luar…
Kakak 2: Aduuuh, aku gak percaya. Udah ah, kamu main di luar saja (MEN-
DORONG ANAK KECIL ITU KELUAR PANGGUNG)
(DENGAN SEDIH ANAK KECIL ITU KELUAR RUMAH, TIDAK LAMA KEMUDIAN
TERDENGAR SUARA TAWA YANG RENYAH. KAKAK 2 MENGINTIP KE SAYAP
KIRI PANGGUNG LALU MEMANGGIL KAKAK 1 UNTUK MENGINTIP JUGA.)
24
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Kakak 2: Kak, lihat! Adik ngomong sendiri.
(KAKAK 1 MENGHAMPIRI DAN MENGINTIP.)
Kakak 1: Kenapa adik seperti ngobrol? Benarkah dia mengerti bahasa pepo-
honan? Dan, lihat, sepertinya dia bicara dengan Angin…aaah, aku harus
laporkan pada ibu, pasti adik kesambet setan pepohonan.
(KAKAK 1 DAN KAKAK 2 BERGEGAS MEMBERESKAN DAN MELIPAT SEPRAI,
MEMBALIKKAN FIGURA FOTO, DAN PANGGUNG KEMBALI KOSONG. SEKA-
RANG PANGGUNG MEREPRESENTASIKAN HALAMAN RUMAH. NAMPAK ADIK
TENGAH MENARI-NARI DENGAN PEPOHONAN DAN BERCAKAP DENGAN
RIANG.)
Pepohonan 1: (SAMBIL MENARI) Aku suka musim kemarau, karena Angin
selalu datang dengan senyum.
Pepohonan 2: (MELOMPAT-LOMPAT) Aku lebih senang musim hujan, karena
Angin datang dengan air. Tubuhmu menjadi segar dan nafasku menjadi
panjaaang!
Pepohonan 3: (SAMBIL MENARI) Aku lebih suka musim pancaroba. Sebelum
musim hujan, langit berubah-ubah warnanya, Angin terbang memutar, dan
burung-burung jumlahnya lebih banyak. Aku suka melihat burung terbang,
sayapnya seperti kipas.
Pepohonan 4: (SAMBIL MELIHAT LANGIT) Aku lebih suka jika setiap hari selalu
subuh, tetap subuh, pokonya pagi yang subuh!
Pepohonan 5: Jangan selalu subuh, kasihan Matahari. Ia juga ingin bermain
bersama kita. Matahari ketika datang selalu seperti datang untuk yang pertama
kali, karena ia selalu membawa senyum yang berbeda-beda.
Pepohonan 6: Dan Matahari pandai menolong kita. Bukankah Matahari yang
membuat kita bertambah tinggi?
Pepohonan 7: (SAMBIL BERPELUKAN, DALAM PELUKAN BESAR) Matahari juga
membuat kita berbuah, lalu orang-orang memuji kita dengan senyum bangga,
“Kamu manis, kamu segar, kamu sehat.” (tertawa-tawa kecil)
25
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Pepohonan 8: Tetapi Bulan lebih asyik! Suaranya merdu dan kita bisa terlelap
karenanya. Saat kita tertidur, Bulan membuatkan mimpi untuk kita semua agar
esok hari kita tidak mengantuk…
Pepohonan 9: Aku rasa Bintang yang lebih asyik. Ia tidak sombong dan sedikit
pemalu, selalu menutupi badannya dengan biru langit. Kita hanya bisa melihat
kedip matanya yang cemerlang, dan ia kalau bicara pelaaan dan lembuuut
sekali, sehingga kita perlu menajamkan telinga untuk mendengarnya.
Pepohonan 10: Aku suka sekali pada gunung ketika Matahari akan pulang!
Sore seperti terbuat dari teh buatan ibu, manis dan tenang.
Pepohonan 11: Aku kira laut yang paling pemberani, selalu membuat ombak
mmulai dari yang kecil sampai yang besar, menantang kapal-kapal! Dan
waktu malam dia tetap terjaga ketika pohon kelapa, gunung, bahkan pasir
yang dekat dengan tubuhnya tertidur. Laut tidak pernah berhenti membuat
ombak.
Anak Kecil: (sambil menari bersama Pepohonan dan Angin) Semua benar,
semua tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang lebih
buruk. Kehadiran musim, Bulan, bintang, laut, gunung, semua sesuai dengan
apa yang kita butuhkan! Ayo, Angin, tiupkan lagi mulutmu. Ayo, Pepohonan,
kita menari….!
(DI PANGGUNG NAMPAK KAKAK 1 DAN KAKAK 2 MENDEKAT PELAN-PELAN,
ANAK KECIL DAN PEPOHONAN TETAP MENARI. DARI LUAR PANGGUNG
TERDENGAR SUARA LANGKAH KAKI YANG MENDEKAT, LALU NAMPAK ROM-
BONGAN PENGGILA SMARTPHONE SEPERTI ADEGAN PERTAMA. MUSIK
CEPAT, CAHAYA DINAMIS. ADEGAN INI MENJADI PUNCAK CERITA DI MANA
SUASANA TERKESAN TIDAK BERATURAN DAN BERISIK. MANUSIA DAN PEPO-
HONAN SALING BERTUBRUKAN. LALU PANGGUNG KEMBALI TEMARAM
DAN MENYISAKAN KAKAK 1, KAKAK2, DAN ANAK KECIL DI KAMAR TIDUR.
KAKAK 1 DAN 2 SIBUK DENGAN SMARTPHONE SEMENTARA ANAK KECIL
GELISAH MENUNGGU BULAN.)
26
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Anak Kecil: (BOLAK BALIK, GELISAH) Kok lama ya Bulan datangnya.
(KAKAK 1 DAN 2 TIDAK MEMPERHATIKANNYA DAN TETAP BERMAIN SMART-
PHONE.)
Anak Kecil: (ANAK KECIL BERLARI, MENGGESER KURSI DEKAT JENDELA, MEM-
BUKA TIRAI, CAHAYA PERLAHAN MASUK, BERTERIAK) Haiiiii, Bulaaaaan!
Bulan: (BERDIRI DI ATAS INSTALASI BULAN SABIT) Haiiiii, Fasha.
Anak Kecil: Bulan, tahukah kau bahwa semua orang tak percaya padaku?
Mereka tidak percaya apa yang aku tahu tentang kamu, Angin, bintang, Pepo-
honan, hujan, Matahari, dan semuanya, semuanya yang berada di alam
semesta ini. Mereka tidak percaya bahwa kalian semua tumbuh dan bisa
bicara, bisa bergerak, seperti aku.
Bulan: Karena mata mereka sudah diserahkan kepada smartphone, televisi,
dan games online. Mereka tak sempat memikirkan kami, alam semesta ini,
dan tidak membaca tentang kami. Oleh karena itu, mata mereka buta terha-
dap kami, telinga mereka juga tuli, jadinya mereka lebih suka yang maya,
yang tiada, yang pura-pura.
Anak Kecil: Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?
Bulan: Seperti yang telah aku ajarkan padamu; mintalah mereka memejam-
kan mata, bayangkanlah apa saja yang tidak mungkin, bayangkanlah apa
saja yang kamu inginkan, lalu, mintalah dalam do”a, agar mereka mendengar
suara hatinya, agar telinganya mendengar suara alam semesta, mintalah
mereka untuk mendengar Angin yang bergerak menyuarakan sesuatu, juga
suara hujan. Semuanya bersuara.
Anak Kecil: Aku pernah mengatakan itu semua, dan mereka tetap tidak
percaya. Bahkan mereka bilang aku terlalu banyak berkhayal…
Bulan: Karena mereka tidak pernah ingin mencobanya. Mintalah mereka
meletakan smartphone-nya, pejamkan mata, lalu letakkan laut, gunung,
Matahari, hujan, hutan, kupu-kupu, dan diriku di kepala, seperti meletakkan
angka atau meletakkan huruf, seperti meletakkan sebuah kenangan yang ada
27
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Anak Kecil: Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?
Bulan: Seperti yang telah aku ajarkan padamu; mintalah mereka memejam-
kan mata, bayangkanlah apa saja yang tidak mungkin, bayangkanlah apa
saja yang kamu inginkan, lalu, mintalah dalam do”a, agar mereka mendengar
suara hatinya, agar telinganya mendengar suara alam semesta, mintalah
mereka untuk mendengar Angin yang bergerak menyuarakan sesuatu, juga
suara hujan. Semuanya bersuara.
Anak Kecil: Aku pernah mengatakan itu semua, dan mereka tetap tidak
percaya. Bahkan mereka bilang aku terlalu banyak berkhayal…
Bulan: Karena mereka tidak pernah ingin mencobanya. Mintalah mereka
meletakan smartphone-nya, pejamkan mata, lalu letakkan laut, gunung,
Matahari, hujan, hutan, kupu-kupu, dan diriku di kepala, seperti meletakkan
angka atau meletakkan huruf, seperti meletakkan sebuah kenangan yang ada
di dunia ini…
Anak Kecil: Terus?
Cahaya Bulan 2: Jika sudah diletakkan di kepala dan mata sudah terpejam,
semua itu akan tampak jelas. Maka mulailah berbicara dengan semua yang
tampak. Apabila masih gagal, diulang, diulang, dan diulang lagi, sampai
alam semesta raya menjawabnya, sampai mereka bisa mendengar nyany-
ianku…
Anak Kecil: Menyanyilah, aku ingin mendengar suaramu lagi sebelum tidur.
Dan ketika aku tidur, kamu harus tetap bernyanyi. Aku yakin suaramu akan
terdengar oleh seluruh anak yang membuka telinganya kepada alam semesta
ini. Kau tahu, Bulan, karena nyanyianmu hantu tak berani menggangguku,
bahkan masuk lewat mimpi pun tak berani…
Kakak 1: Udah, jangan ngomong sendiri, tidur…tutup lagi tirainya,
Adik kecil: Aku ingin tidur dengan tirai terbuka, agar Bulan bisa melihatku dan
28
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
(KAKAK I DAN 2 MASIH ASIK BERMAIN SMARTPHONE, ANAK KECIL MULAI
TERTIDUR. SEBELUM MEMEJAMKAN MATA, ANAK KECIL BERBICARA SEKALI
LAGI.)
Anak Kecil: Kakak, dengarlah, Bulan akan bernyanyi menemani tidur kita.
Kakak tinggal buka telinga dan pejamkan mata (adik kecil mulai tertidur
memejamkan mata).
Bulan: (bernyanyi)
Nyanyian Bulan
Sebelum malam membuat mimpi
Aku bernyanyi untukmu
Tentang sisa hujan pada daun
Tentang Angin yang mendorong sayap burung
Tentang kedip bintang cemerlang
Reff: Tidurlah dengan senyum
Agar tangan malam memelukmu
Sampai pagi menunggumu
Matahari pertama, hari pertama
Setiap hari selalu pertama kali
Nanti malam aku datang lagi
Dengan dua ikat kasih sayang
Satu untukmu, satu untukku
Sebelum malam membuat mimpi aku menjagamu selalu…selalu…selalu
(KAKAK 1 DAN 2 TERTIDUR DENGAN SMARTPHONE DI GENGGAMAN, LALU
BERMIMPI TENTANG POHON, ANGIN, DAN BULAN. MIMPI MEREKA
DITAMPILKAN DI PANGGUNG. TERDENGAR SUARA ANGIN YANG BESAR.)
Pohon Sukun: Angin, aku sedih, banyak anak-anak manusia tergoda smart-
phone. Teman mereka satu-satunya hanya smartphone. Mereka tak suka lagi
bermain di luar rumah, bahkan melirik aku saja mereka tidak pernah.
Angin: Pohon Sukun, sedihmu sedihku juga. Ketika aku menari pada rambut
29
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Bulan: Ya, kalian benar. Aku melihatnya! Mereka juga tak pernah mendengar
nyanyianku lagi, padahal setiap saat aku melatih suaraku agar merdu, agar
mereka tertarik padaku.
Pohon Sukun: Kau tahu? Aku setiap saat membuat warna baru dengan bantu-
an Matahari, dari hijau muda yang tipis menjadi hijau tua yang tebal. Lalu aku
berbuah, lalu ibu mereka menggoreng buahku untuk cemilan. Namun mereka
tidak bertanya tentang asal usul cemilan itu.
Bulan: Aku juga bersama langit berusaha keras untuk membuat lingkaran
indah. Dari segaris tumbuh membesar menjadi setengah lingkaran. Bahkan
ketika aku menjadi bundar dan cahayaku jatuh pada baju tidur mereka lewat
celah jendela kamar, mereka tetap tak merasakannya….
Angin: Aku sebenarnya bisa menciptakan tiupan besar yang mampu meng-
hempaskan smartphone mereka dan meniadakannya, agar mereka bisa
merasakan kehadiran kita.
Cahaya Bulan: Aku juga bisa bekerja sama dengan malam agar ia tetap mem-
bentangkan tirai gelap dan aku bisa meminta Matahari untuk sembunyi agar
mereka menyadari bahwa, tanpa kita, kehidupan akan berhenti. Tak ada
sinyal yang akan bisa diterima oleh smartphone mereka.
Angin: Sebenarnya bukan tidak boleh menggunakan smartphone, tapi ini
bukan saat yang baik untuk menggunakannya. Saat ini, mereka seharusnya
membuatku menjadi puisi, membuatku menjadi tarian, dan membuatku
menjadi lagu. Sementara smartphone tidak bisa menjadi apa-apa selain
menjadi jebakan bagimu.
Pohon Sukun: Duuuh, nadanya seperti pidato! Ketika mereka terlelap, aku
ingin memberikan puisi untuk mereka, sebagai do’a, sebagai harapan, dan
juga sebagai ungkapan perasaan.
30
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Puisi Pohon Sukun
Kelak nanti jika kau besar
Ingatlah aku, meskipun hanya sebagai kenang-kenangan
Bahwa aku pernah membuat tarian siang agar kau tenang
Namun kau tetap memandang yang lain, bukan aku
Bahkan, ketika kau tidur, aku diamkan seluruh tubuhku
Aku simpan Angin di tempat yang jauh
Agar tak membangunkanmu
Aku selalu membuat oksigen terbaik untukmu
Agar kau tumbuh sehat dan bahagia
Pada saat aku tidak bahagia
(CAHAYA REDUP, POHON SUKUN, ANGIN, DAN BULAN PERGI PERLAHAN.
KEDUA KAKAK TERJAGA, SALING PANDANG DENGAN SEDIH, MEMBAN-
GUNKAN ADIK KECILNYA.)
Kakak 1: Adik, dik, bangun…aku percaya, bahwa Pepohonan, Angin, dan
Bulan saling berbicara. Mereka semua datang kepadaku lewat mimpi.
Kakak 2: Kamu bermimpi tentang mereka? Aku sepertinya juga bermimpi
tentang mereka, tapi aku hanya ingat pohon Sukun yang ada di depan rumah
kita membacakkan puisi untukku…aku merasa kasihan padanya. Aku ingin
menemuinya sekarang dan meminta maaf (berlari keluar panggung).
(KAKAK 2 LARI KELUAR PANGGUNG UNTUK MENEMUI POHON SUKUN.
KAKAK 1 MEMBERESKAN TEMPAT TIDUR, MELIPAT SEPRAI, MEMBALIKKAN
FIGURA FOTO, DAN MEMBANGUNKAN ANAK KECIL. CAHAYA REDUP
MENUJU GELAP, PANGGUNG TAMPAK SEPERTI ADEGAN PERTAMA YANG
RIUH OLEH PENGGILA SMARTPHONE. TAMPAK KEDUA KAKAK DAN ANAK
KECIL DENGAN SERAGAM SEKOLAH MERASA TERASING DI ANTARA
MEREKA).
31
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
Anak Kecil: Kakak tidak menunduk lagi dan memainkan smartphone seperti
mereka?
Kakak 1: Tidak, dik! Kamu benar…tidak perlu terbawa arus mereka. Mari kita
pejamkan mata, membayangkan pepohonan, Angin, laut, hujan, Matahari,
Bulan, gunung, dan seluruh alam semesta ini, agar mereka hadir di sini
(menarik Kakak 2 dan Anak Kecil, berpegangan di tengah arus para penggila
smartphone).
Kakak 2: Aku mulai merasakan Angin bermain di ujung rambutku, aaah
senangnya.
Kakak 1: Aku mulai mendengar nyanyian Bulan tadi malam
Kakak 2: Aku berjanji tidak akan membuat mereka bersedih lagi!
Anak Kecil: Alhamdulillaaaah
(LAMPU PERLAHAN PADAM, TIGA KAKAK BERADIK MASIH BERPEGANGAN
TANGAN, LALU BLACK OUT)
SELESAI.
BANDUNG - DEPOK
MARET - APRIL 2015
ADINDA LUTHVIANTI
32
BULAN, PEPOHONAN, dan ANGIN YANG TAK BAHAGIA
33
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
34
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
A little girl was upset with grownups who were inseparable from their smart-
phones; her two older siblings included. She believed that if we grew too close
to our smartphones, we would never know and hear the sounds of nature,
especially those of the Moon, who sang sweetly and beautifully. Smartphones
made us ignorant, because they distracted us from nature’s changes, including
the maturation of the wind during which it grew old with the leaves that fell to
the ground and was replaced every five minutes by a younger wind that played
with our hair.
Now both her siblings were upset. They were adamant in their belief that smart-
phones were a gateway to everything, “They’re called smartphones for a
reason. They’re made to understand our every command,” said the sisters.
Until one day, the older sisters decided, in secret, to try living the way their
younger sister did. They closed their eyes and then imagined the Moon, trees,
rain, and wind. They tried to listen.
One night, after the little girl sang with the Moon, her sisters dreamt that every-
thing in nature was, indeed, communicating with each other.
And so when they met up with their smartphone-crazed friends, they felt alienat-
ed. But a new sense also emerged. They could feel the wind in their hair as if it
could speak, and every time they closed their eyes and called out to nature,
there was always a response.
And they promised never to disappoint the Moon, trees, and win again.
Thus is the story of the Moon, trees, and an unhappy wind. In order to fully
understand it from every angle, you need to experience it firsthand, because the
full extent of this story can only be experienced via the stage.
We hope you enjoy…
35
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
THE INTENDED MESSAGE
It’s difficult to educate children on how to properly use advanced technology,
especially to instill caution against the dangers that come with it. Smartphone
usage is an oft-cited example. It’s getting easier for children to abandon their
natural surroundings.
Introducing the concept of nature to children is best done through imagination,
because children possess an infinite amount of it. Children are the truest surre-
alists. But these wielders of infinite imagination are increasingly bound by
virtual things. The virtual world of social media that grows at an exponential
rate only weakens their imaginative capability as it relates to nature and life.
Through this story, the writer wants to remind children how to dream about
everything. Only those with the strongest dreams will grow up to become vision-
ary adults.
It is, of course, a far-reaching ideal. But if we have a go at it layer by layer, we
will discover a sense of responsibility to return this infinite imagination to its
rightful owner.
Through the world of performance art and by play-acting, children can learn
how to not be afraid to become anything they want.
That is all.
Depok, April 4 2015
Adinda Luthvianti
36
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
t(ON STAGE, TENS OF CHILDREN AND ADULTS ARE BUSILY CLICKING AWAY
AT THEIR SMARTPHONES, CHOREOGRAPHICALLY WALKING TO AND FRO
(UNDER DIM LIGHTS). A LITTLE GIRL IS SEEN PLAYING WITH AND TALKING TO
A DOLL MADE OF WEEDS AND GRASS)
Little girl: (at the direction of the doll, occasionally the audience) Don’t you see?
They’re all busy with their smartphones. What a pity!!! They’re ignorant to the
sweet sounds of the Moon, the dance of the trees, and the wind’s jests. Wind
who could topple mom’s hanged clothes to the ground or hide them behind a
tree if it blows hard enough.
(EVERYONE WHO IS BUSY WITH THEIR SMARTPHONES EXITS THE STAGE,
LEAVING TWO CHILDREN WHO PROCEED TO ROLL OUT A TARP RESEM-
BLING A BED COVER AND PUT UP PERSONAL PICTURES (AS IF IT’S THEIR
OWN ROOM). THE LITTLE GIRL AND HER TWO OLDER SISTERS ARE ALSO ON
STAGE, THE LATTER STILL FOCUSED ON THEIR SMARTPHONES)
Little girl: (knocking on the stage as if knocking on a door) Dear sisters, can I
come in?
Older sister 1 and Older sister 2: (in unison) No wayyy!
Little girl: I’m coming in! (Little girl approaches Older sister 1)
Older sister 1: You’re going to tell me that I never want to hear the Moon sing,
aren’t you?
Older sister 2: (sarcastically) “My dear sister, don’t you know that the trees and
wind like to dance?”
Older sister 1: (patronizingly) This is why you shouldn’t let that imagination run
too freely, you’ll be the odd one out.
37
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
Little girl: (sternly) I’m not imagining it. I know that the wind grows old with
dried leaves, then lays itself down on the ground, at which point a newborn
wind takes its place and entices us to play with it by breezing past our hair every
five minutes during the dry season.
Older sister 1: (screaming) Moooooom…Fasha (Little girl’s name) is acting
crazy!
Little girl: You’re the one who’s crazy; laughing at your phone, completely
oblivious to the dance between the wind and the trees. You’re completely
unaware.
Older sister 2: (being angry at her phone) Ughhh I hate this. So many trashy
status updates, so many people humble-bragging. This girl is so tacky, how
dare she throw shade at me? (puts down phone angrily)
Little girl: (approaching Older sister 2) See? You’re so easily affected by it! It
would be so much better if we played with the wind and trees; we would run,
jump, climb, and the wind would soothe us if it got hot. They’re all good.
Older sister 1: I don’t want to hear it. You’ve said that a thousand times already,
I’ve had enough of it. You sound dumb! Get out! (continues playing with phone)
Little girl: You’re the one who’s dumb, completely ignorant to the sounds of
nature! Your phone make you stupid, doesn’t it? (pleading)
Older sister 2: This phone is a smartphone, get it? Because it’s smart, it under-
stands our every command! And I still don’t believe that the Moon, trees, and
wind could speak, period!
Little girl: They definitely can! All we have to do is close our eyes, picture them
in our heads, and listen. Easy, right? Go outside and try it for yourself…
Older sister 2: I don’t believe you! Get out now! (pushes Little girl outside)
38
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
Anak Kecil: (BOLAK BALIK, GELISAH) Kok lama ya Bulan datangnya.
(KAKAK 1 DAN 2 TIDAK MEMPERHATIKANNYA DAN TETAP BERMAIN SMART-
PHONE.)
Anak Kecil: (ANAK KECIL BERLARI, MENGGESER KURSI DEKAT JENDELA, MEM-
BUKA TIRAI, CAHAYA PERLAHAN MASUK, BERTERIAK) Haiiiii, Bulaaaaan!
Bulan: (BERDIRI DI ATAS INSTALASI BULAN SABIT) Haiiiii, Fasha.
Anak Kecil: Bulan, tahukah kau bahwa semua orang tak percaya padaku?
Mereka tidak percaya apa yang aku tahu tentang kamu, Angin, bintang, Pepo-
honan, hujan, Matahari, dan semuanya, semuanya yang berada di alam
semesta ini. Mereka tidak percaya bahwa kalian semua tumbuh dan bisa
bicara, bisa bergerak, seperti aku.
Bulan: Karena mata mereka sudah diserahkan kepada smartphone, televisi,
dan games online. Mereka tak sempat memikirkan kami, alam semesta ini,
dan tidak membaca tentang kami. Oleh karena itu, mata mereka buta terha-
dap kami, telinga mereka juga tuli, jadinya mereka lebih suka yang maya,
yang tiada, yang pura-pura.
Anak Kecil: Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?
Bulan: Seperti yang telah aku ajarkan padamu; mintalah mereka memejam-
kan mata, bayangkanlah apa saja yang tidak mungkin, bayangkanlah apa
saja yang kamu inginkan, lalu, mintalah dalam do”a, agar mereka mendengar
suara hatinya, agar telinganya mendengar suara alam semesta, mintalah
mereka untuk mendengar Angin yang bergerak menyuarakan sesuatu, juga
suara hujan. Semuanya bersuara.
Anak Kecil: Aku pernah mengatakan itu semua, dan mereka tetap tidak
percaya. Bahkan mereka bilang aku terlalu banyak berkhayal…
Bulan: Karena mereka tidak pernah ingin mencobanya. Mintalah mereka
meletakan smartphone-nya, pejamkan mata, lalu letakkan laut, gunung,
Matahari, hujan, hutan, kupu-kupu, dan diriku di kepala, seperti meletakkan
angka atau meletakkan huruf, seperti meletakkan sebuah kenangan yang ada
39t
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
(IN SADNESS THE LITTLE GIRL EXITS THE HOUSE. NOT LONG AFTERWARDS,
A CRISP LAUGHTER IS HEARD. OLDER SISTER 2 TAKES A PEEK AT THE LEFT
HAND SIDE OF THE STAGE AND TELLS OLDER SISTER 1 TO DO THE SAME)
Older sister 2: Sis, look (pointing at the outside of the stage), our little sister is
talking to herself.
(OLDER SISTER 1 APPROACHES AND TAKES A PEEK)
Older sister 1: What is she doing? Is it possible that she really understands the
language of the trees? And she seems to be talking with the wind…I have to tell
mom, our little sister must be possessed or something.
(OLDER SISTER 1 AND 2 HURRIEDLY TIDY UP THE BED COVER AND FLIP THE
PICTURES SO THAT THEY FACE AWAY. THE STAGE IS NOW SEEMINGLY
EMPTY, REPRESENTING THE EXTERIOR. LITTLE GIRL IS SEEN DANCING
AMONG THE TREES AND TALKING CHEERFULLY)
Trees 1: (dancing) I love the dry season, for Wind always arrives with a smile.
Trees 2: (jumping up and down) I love the rainy season even more, for Wind
arrives with water. Your body becomes fresher and I could breathe longer!
Trees 3: (dancing) I love the in between even more. Before the rainy season, the
sky changes colors, Wind flies in circles, and birds flock in multitudes. I love
watching them fly. Their wings resemble fans.
Trees 4: (looking at the sky) I would really love it if the dawn never left, so it
would always be the early morning!
Trees 5: (hugging Trees 4) That’s not very nice. I pity the Sun, for she also wants
to play with us. Whenever she arrives it’s always like the first time, because she
smiles differently every single time.
Trees 6: (also hugging) And the Sun helps us a lot. Isn’t she the one who makes
us grow tall?
50
THE MOON, TREES, and an UNHAPPY WIND
Trees 7: (joining the hug, forming a large hugging circle) The Sun also makes
us bear fruits which humans admire with a proud smile. They say “You’re sweet,
you’re fresh, you’re healthy.” (chuckling)
Trees 8: But the Moon is even more fun! Her voice is beautiful and it helps us fall
asleep. Then, she gives us sweet dreams so we may remain alert the next day.
Trees 9: I feel like the stars are even more fun. They are humble and shy
creatures, always concealing themselves behind the blue sky. We can only see
them blinking brilliantly. When they speak, they speak softly and slowly and
we’re forced to sharpen our ears.
Trees 10: I love how the mountain looks when Sun returns home! The evening
looks like it’s made out of mother’s sweet tea; calming and nourishing.
Trees 11: I think the sea is the bravest of them all, always creating big waves out
of smaller ones, challenging all the ships! And at night it stands alone, even
while the palm trees, mountain, and sand that surround it are asleep. Only the
sea stays awake and keeps on making waves.
Little girl: (dancing with the trees and Wind) You’re all correct, not one opinion
is wrong, not one is more right than the other. The presence of the seasons, the
moon, stars, sea, mountain, and everything else is there for a reason! Go on,
Wind, blow us away! And trees, let’s dance…!
(ON STAGE, OLDER SISTER 1 AND 2 ARE SEEN APPROACHING THE SCENE
SLOWLY WHILE LITTLE GIRL IS DANCING WITH THE TREES. THE SOUND OF
APPROACHING FOOTSTEPS BECOMES LOUDER AND LOUDER, AND THEN
EMERGES A GROUP OF SMARTPHONE-CRAZED PEOPLE NOT UNLIKE THOSE
FROM THE FIRST SCENE, BUSILY CLICKING AWAY WHILE FRANTIC MUSIC IS
PLAYING IN THE BACKGROUND AND BRIGHT, DYNAMIC LIGHTS ILLUMINATE
THE STAGE. THIS SCENE CLIMAXES AS EVERTYHING BECOMES CHAOTIC
AND UNPREDICTABLE. THEN THE STAGE FADES TO BLACK AND ALL PLAYERS
EXIT THE STAGE, LEAVING THE THREE SISTERS WHO ARE NOW BACK IN THE
BEDROOM. FRAMED PICTURES ARE SEEN ON THE WALL, THE BED COVER IS
SET, AND THE TWO OLDER SISTERS ARE SEEN PLAYING WITH THEIR SMART-
PHONES WHILE LITTLE GIRL ANXIOUSLY AWAITS THE MOON).
51