1
2
3
4 KATA PENGANTAR ْسِم ال ّر ْح ال ّر ِحيم َم ِن ب َّللاِ ِ Assalamu'alaikum wr. wb Alhamdulillah, segala puja dan puji marilah senantiasa kita ucapkan atas limpahan rahmat sehingga kami masih bisa merasakan kenikmatan yang Allah beri. Shalawat serta salam tidak lupa kita hancurkan untuk junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan petunjuk Allah SWT untuk kita semua. Adapun cerpen ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari beberapa teman sehingga dapat memperlancar pembuatan cerepen ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua tema teman kami yang telah membantu menyelesaikan cerpen digital ini. Terlepas dari semua itu, kami meyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki cerpen ini. Akhir kata, kami berharap semoga cerpen digital ini dapat memberikan berbagai inspirasi terhadap pembaca. Wassalamualaikum wr.wb Cilegon, 09 Agustus 2023
5 HAK CIPTA Melukis Kenangan Yang Silam Copyright © 2023 Vania Andhini Penulis: Khansa Satrianda Sha Tu Pramono, Annaya Dwi Khairani, Nadhira Dea Aqila Anlidhiya, Rizka Ramadhani, Malika Nahla Aqila, Callista Putri Kayana. Kata Pengantar: Nadhira Dea Aqila Anlidhiya Daftar Isi: Annaya Dwi Khairani Ilustrasi Isi: Khansa Satrianda Sha Tu Pramono Penulis Biodata: Vania Andhini Penata Sampul: Callista Putri Kayana Penyeleksi Naskah: Malika Nahla Aqila Penata Letak: Rizka Ramadhani Katalog Dalam Terbitan Hak cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengintip atau memperbanyak Sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Desain sampul ini menggunakan sumber daya dari intermet/freepik
6 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................... 4 DAFTAR ISI................................................................... 6 MELUKIS KENANGAN YANG SILAM........................ 7 Khansa Satrianda Sha Tu Pramono KAMPUNG HALAMAN AYAH..................................... 14 Annaya Dwi Khairani KENANGAN KOLABORASI ......................................... 21 Nadhira Dea Aqila Anlidhiya PENTAS DAN KENANGAN .......................................... 29 Rizka Ramadhani BATIK KENANGAN....................................................... 36 Vania Andhini KANVAS KOSONG PENUH ARTI................................ 41 Malika Nahla Aqila TRADISI BUDAYA DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN .......................................................................................... 47 Callista Putri Kayana BIODATA PENULIS ....................................................... 56
7 Melukis Kenangan Yang Silam Khansa Satrianda Sha Tu Pramono Tepat pukul 4 sore, jam pulang sekolah telah berbunyi keras dari arah lorong. Semua murid ingin segera pulang, mereka semua berbondong-bondong untuk keluar dari sekolah. Sore itu, seorang gadis yang berada di kelas 10 terlihat sedang duduk di atas kursi ruang seni, ia menatap sebuah kanvas di depannya. Kanvas itu terlihat baru dilukis. Gadis itu ingin mulai melanjutkan lukisannya, ia ambil sebuah kuas dan palet dengan cat akrilik di atasnya. Dia melukis perlahan dan terlihat penuh kehati-hatian. Gadis berparas cantik dengan seragam putih dan memakai hijab dengan warna putih itu, Mabella Aldeva Nasciel, akrab dipanggil Abel. Dia merupakan gadis yang gemar melukis, dia telah beberapa kali mengikuti lomba melukis tingkat Nasional bahkan sampai Internasional. Namun, ia memiliki sebuah gangguan atau kelainan pada matanya. Meski begitu, lukisannya tetap terlihat indah, dia selalu bersemangat jika itu tentang lukisan, meski ia kesulitan untuk melihat dan membedakan warna merah dan hijau disekitarnya, dia buta warna. SeorangِgadisِdatangِmenemuiِAbelِdiِruangِseni,ِ“Bel,ِsemangatِya!ِ Kamuِpastiِbisaِkok!ِKamuِkanِselaluِberhasil,”ِkatanya memberi semangat kepada Abel. “Thanks ya, Nin. Meski ini masih latihan buat lomba, aku udah ngerasa gugupِbanget!”ِUcapِAbelِdenganِrasaِgugupnya. “Abelِharusِsemangat!ِAkuِfans berat MabellaِAldevaِNasciel!”ِTeriakِ Nindy, sahabat baik Abel sejak mereka SMP. “Apaanِsih,ِNin.ِHahaha…”ِ Saat itu juga, Nindy menemani Abel hingga waktu petang tiba. Adzan maghrib dikumandangkan, mereka berdua menyegerakan menuju mushola sekolah untuk melaksanakan shalat maghrib. “Makasihِya,ِNin,ِudahِselaluِmauِtemeninِakuِtiapِlatihanِlukis,” “Gakِusahِlebay kali…ِUdahِbiasaِjugaِkan?ِGakِusahِsungkanِsamaِ sahabatِsendiri,ِkayakِsiapaِajaِsih…”ِKataِNindyِmenjelaskan. Setelah Abel sampai dirumahnya, pemandangan yang ia lihat selalu terlihat sama seperti biasanya, mobil yang di bawa ayahnya untuk bekerja tidak ada. Ayahnya yang hampir setiap hari lembur bekerja sampai malam menjadi tidak memiliki waktu untuk Abel dan kakaknya.
8 “Bang!ِAkuِpulang…”ِKataِAbelِsedangِmembukaِpintuِrumahnya. “Gimanaِhasilِlatihanِlukisِhariِini?ِTerusِmauِlatihanِgitarِlagiِgak?,”ِ tanya kakak Abel, Marvel Alderio Narendra. “Nantiِajalah,ِakuِmauِistirahatِduluِdikamar,ِlagiِcapek-capeknya, papa lembur tiap hari,”ِucap Abel dengan lemas sambil berjalan menuju kamarnya di lantai 2. Marvel hanya melihat Abel dari bawah, ia melanjutkan bermain gitarnya di ruang keluarga, seharusnya ruang keluarga terlihat ramai, namun tidak di rumahnya. Tapi ia hanya sendirian, semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. *** Alarm dari jam digital berbunyi keras di kamar Abel, jam itu menujukkan pukul 8 pagi. Abel terbangun dari kantuknya, ia membuka mata perlahan dan menuruni tempat tidur. Dia berjalan menuju kamar mandi, mencuci mukanya dan menyikat gigi. Abel keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah untuk sarapan. Biasanya, sarapan pagi dibuatkan oleh Marvel, begitu juga pagi ini. “Bang,ِjamِberapa?”ِTanyaِAbel. “Jamِ6ِpagiِtadi,” “Numpangِmakanِsamaِtidurِdoangِbiarِapaِpulang?ِSejakِmamaِgakِ ada,ِpapaِberubahِbangetِyaِbang?”ِTanyaِAbelِdenganِmemasangِwajahِyangِ gundah. “Shutt!ِGak bolehِgitu,ِudah,ِsarapanِajaِnih,ِudahِdisiapin.”ِKataِ Marvel menenangkan Abel. Abel memakan sarapan roti lapis yang dibuat oleh Marvel. Suasana meja makan terlalu hening, tak satupun dari mereka memulai percakapan. Abel santai memakan roti lapis itu. Ia berpikir ini adalah roti lapis terenak yang pernah dimakannya, tentu saja, roti lapis ini resep khusus dari ibu mereka, dibuat dengan sepenuh hati dan kerja keras. “Akuِhariِiniِmauِmampirِkeِtempatِmama,”ِsingkat Abel memulai percakapan pertama di meja makan, memang biasanya selalu seperti itu. “Abangِikut.” Abel hanya mengangguk pelan sebagai balasan, masih sambil mengunyah makanannya. ***
9 6 hari setelah itu, Abel berangkat menuju London, disana lah tempat ia akan melaksanakan lomba melukis. “Wah…”ِAbelِterpanaِmelihatِkeindahanِkotaِLondon. Abel melihat sebuah menara tinggi yang menjadi Landmark kota London, manaraِituِdisebutِdenganِ‘Tower Of London’. Disepanjang jalan pun, ia juga seharusnya melihat bus tingkat berwarna merah, namun tidak dimatanya. Abel pun biasanya hanya melihat bus tingkat itu di internet, bus itu juga biasa disebut denganِ‘Double Decker’. Ini pertama kalinya Abel berada di London, ia selalu bermimpi untuk dapat pergi ke London, kota favoritnya, kini terwujud karena kerja keras dan pretasi yang dicapainya selama bertahun-tahun.
10
11 “Ma,ِakuِsekarangِadaِdiِLondon,ِmimpikuِterwujud…”ِKataِAbelِ berbicara sendiri. Masih ada waktu 2 hari sebelum pelaksanaan lomba, Abel telah berlatih dengan sangat keras, ia berharap dapat menjadi juara, meski tidak pun, Abel tidak akan patah semangat dan akan terus melukis. Sebelum pelaksanaan lomba itu, Abel berlatih selama 4 jam sehari, sisanya ia lakukan untuk berjalan-jalan disekitar London, Abel juga mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangannya selama di London. Abel juga mengambilِfotoِdiِdepanِ‘Tower Bridge’, sebuah jembatan menara, jembatan itu membentang di atas sungai Thames di London. Abel merasa senang selama disana. Waktu terus berjalan sampai tak terasa, 2 hari sudah berlalu begitu saja. “Abel,ِkamuِharusِyangِsemangatِya,ِkamuِsudahِbekerjaِsangatِkeras.”ِ Ucap ibu guru yang menemani Abel pergi ke London. “Iyaِbu! Siap!ِBismillah…”ِKataِAbelِmengucapkanِBasmallahِsebelumِ memulai. Perlombaan akan berlangsung selama 3 jam lebih, Abel berkeringat dingin saat sedang melukis. Pengumuman juga akan dilakukan 1 jam setelah selesai. Di tengah pelaksanaan, handphone Abel berdering, sebuah panggilan datang dari handphone miliknya. Terlihat nama kontak Marvel yang disimpan olehِAbel,ِ‘Abangku’. “Bu,ِsayaِangkatِduluِsebentarِya,”ِizin Abel kepada bu guru. Bu guru membalas dengan anggukkan, Kemudian, Abel mengetuk tombol warna hijau untuk mengangkat panggilan. Suara Marvel sedikit bergetar di dalam panggilannya. “Bel, Papa kecelakaan.” Kata Marvel. Abel terkejut, jantungnya terasa berhenti sejenak, ia meminta izin kepada bu guru untuk pulang saat itu juga, jika pergi, artinya peserta lomba akan didiskualifikasi. Abel tidak masalah jika dirinya didiskualifikasi, asalkan ayahnya baik-baik saja. Kemudian, ia dibantu memesan tiket oleh bu guru dan guru lain disekolah dengan komunikasi jarak jauh, Abel dengan cepat langsung menata barang-barang miliknya di penginapan. *** Abel sampai setelah persiapan dan perjalanan yang cukup lama, ia menangis sedikit, hanya sebentar waktunya berada di London. Tak hanya itu, dia didiskualifikasi sebagai peserta yang pulang di tengah pelaksanaan lomba.
12 “Bang!”ِTeriakِAbelِdariِjarakِyangِcukupِjauhِmemanggilِMarvelِdiِ dalam rumah Sakit. Suaranya bergema, Marvel yang sedang duduk langsung berdiri seketika. “Papaِkabarnya gimana?”ِTanyaِAbelِkhawatir. “…”ِMarvelِterdiam,ِsuasanaِdiantaraِmerekaِmenjadiِhening,ِtakِadaِ suara sedikit pun. “Bang,ِpapaِudahِtemeninِmamaِdiِatasِsanaِya?”ِTanyaِAbel. Ada sesuatu yang perlahan-lahan keluar, sedikit demi sedikit terjatuh, itu adalah air. Tetapi bukan air terjun, bukan pula air mancur yang menjulang tinggi ke atas dan terjatuh, itu air mata. Air mata yang bisa saja keluar di saat keadaan sedih, haru, duka, gundah, bahkan di saat senang atau gembira. Air yang keluar dari mata Abel terus keluar dengan derasnya, Abel mengusap matanya yang berair, namun tetap tidak berhenti keluar. Marvel memeluk adik kesayangannya, mereka menangis bersama. Marvel berkata, ayah mereka meminta maaf atas yang ia lakukan selama ini kepada Marvel dan Abel. “Vel, Papa minta maaf atas kelakuan papa selama ini ke kamu dan Abel, Papa juga bangga banget sama Abel, bahkan dia sudah lomba keluar negeri tapi, papa bahkan tidak sempat melihat Abel di saat terakhir, Papa minta maaf sekali lagi ya, nak…“ Kata-kata terakhir dari ayah mereka, Marvel menyampaikan pesan ayahnya kepada Abel. “Innalillahi.. rest in peace, papa, I love you and also mama…”ِSingkatِ Abel. *** Seminggu setelah kejadian itu, Abel dan Marvel pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, rumah lama mereka. Abel merasa rindu dengan rumahnya, tempat lahirnya, banyak kenangan terukir di sana. Abel juga menjalani sekolah barunya di Yogyakarta, begitu pula dengan Marvel. Suasana di Yogyakarta tak pernah berubah, mereka tak lupa untuk pergi ke Malioboro, tempat favorit mereka. “Makanِgudegِlagiِyuk,ِBang?”ِAjakِAbel. “Ya,ِayo,ِgudegِyangِkayakِbiasa.” Gudeg merupakan makanan khas Yogyakarta, setiap kali mereka pergi ke Yogyakrta, mereka berdua akan memakan gudeg bersama, itu adalah makanan kesukaan mereka. Biasanya, mereka makan bersama-sama, berempat, namun tidak untuk hari ini. “Akuِadaِideِbaruِngelukisِnih!”ِSeruِAbelِsetelahِselesaiِmemakanِ gudeg.
13 “Apaِitu?”ِTanyaِMervelِpenasaran. “Lukisِgudegِgakِsih?ِAkuِbelumِpernahِngelukisِmakanan.”ِUcapِAbelِ dengan wajah yang bersemangat. *** Hari-hari mereka jalani berdua seperti biasa. Sekolah baru mereka di Yogyakarta juga terlihat menyenangkan. Mereka juga berjalan-jalan di Yogyakarta sambil mengenang rasa rindu mereka ketika di sana saat bersama ayah dan ibunya. Tamat.
14 KAMPUNG HALAMAN AYAH Annaya Dwi Khairani Sudah seminggu semenjak sekolah diliburkan, karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Mungkin Sebagian siswa merasa senang jika sekolah diliburkan, begitu juga dengan ku. Bagiku masa-masa yang paling menyenangkan itu adalah saat waktu memasuki liburan sekolah. Bagaimana tidak? Aku bisa terbebas dari buku-buku yang tebal nya tidak terkira, terlebih lagi aku dapat terbebas dari tugas-tugas yang diberikan guru ku, dan yang paling penting aku dapat bermain gadget sesuka hati ku. Perkenalkan aku Aezar Abyan, siswa yang kini duduk di bangku kelas IX. Orang biasa menyebut ku dengan Abyan, aku gemar bermain game bahkan bisa dikatakan bahwa hobiku adalah bermain game. Saat liburan tiba, tidak banyak aktivitas yang bisa aku lakukan. Aktivitas keseharian ku pasti tidak jauh dari gadget. *** Malam hari tiba. Abyan menyandarkan punggung nya pada sandaran tempat tidur dengan headphone yang menempel pada telinga nya. Tak terasa sudah 3 jam saat ia membuka aplikasi game favoritnya. “Abyan!ِUdahِmainِgameِnya!”ِseruِIbuِdariِdapur. Abyan mengacuhkan bahkan tidak memperdulikan suara tersebut. Entah kapan Ibu nya itu menghampiri Abyan, Ibu langsung mengambil handphone milik Abyan tanpa mengeluarkan satu kata pun. Mungkin ibu sudah geram pada dirinya, pikir Abyan. Abyan melangkah mengikuti arah Ibu nya, penasaran kemana handphone itu akan di bawa pergi. Sudah dipastikan bahwa mulai malam ini, ia akan berpisah dengan handphone nya.
15 Ruang makan menjadi sangat sunyi. Abyan duduk dengan Jehan. Pria berusia kepala 5 yang sedang menatap tajam ke arah Abyan, dengan handphone yang sudah di ambil alih oleh Ayah nya. Ia menunduk, jelas ia tak berani menatap orang yang berada tepat di hadapannya itu, terlebih lagi untuk membuka suara. Ayah Abyan dikenal sebagai orang yang lucu, ia suka membuat tertawa orangorang yang berada disekitarnya, tetapi saat berada di situasi seperti ini, Ayah Abyan akan memperlihatkan sisi lain dari dirinya. “Kamuِtauِapaِkesalahanِkamu?”ِAyahِAbyanِmulaiِmembukaِsuara. “Iya,ِyah.”ِUcapِAbyanِtanpaِmelihatِlawanِbicaranyaِitu.ِ “Ayahِtidakِpernahِmelarangِkamuِuntukِbermainِgame,ِasalkanِkamuِ tauِwaktu,ِituِsemuaِtidakِmasalahِbagiِAyah”ِLanjut Ayah. Seketika ruangan itu menjadi hening. Abyan merasa bersalah atas sikap nya itu, tetapi di sisi lain Abyan tidak tau ingin melakukan apa untuk mengisi hari liburnya. “Abyanِbingungِmauِngapainِyah.ِSemuaِtemanِAbyanِberadaِdiِluarِ kotaِuntukِberlibur.”ِJelas Abyan. Ayah mengangguk sambil berpikir sejenak. “Ayahِmengertiِjikaِkamuِbosan.ِBesokِAyahِakanِmengajakِkamuِkeِ kampung halaman Ayah, tidak lama. Mungkin hanya untuk seminggu kedepan, bagaimana?ِKamuِmau?”ِTanya Ayah. Abyan yang sejak tadi menunduk, mulai mengangkat kepala nya. “Beneranِyah?ِAkuِmau.ِJangankanِuntukِsemingguِke depan, selama liburanِpunِakuِmau!”ِSeru Abyan. Dan malam itu, mereka setuju untuk pergi berlibur singkat ke kampung halaman Ayah nya yang terletak di pulau Jawa, lebih tepatnya suatu desa yang berada di kota Boyolali. Hari yang ditunggu pun tiba. Abyan terbangun dengan suara kicauan burung yang berlalu lalang melewati jendela kamar nya, menyadari sinar matahari yang mulai memasuki kamarnya, Abyan segera bangun dari tempat tidur dan bergegas menuju pintu kamar mandi yang terletak persis di sebrang pintu kamar nya.
16 Dengan langkah yang terburu-buru ia mulai memasuki barang-barang yang ia rasa diperlukan untuk dibawa bersamanya. Merasa sudah lengkap, Ayah dan Abyan memasukan barang-barang kedalam mobil dan siap untuk berangkat. Perjalanan mereka cukup Panjang, membutuhkan waktu 8 jam untuk sampai di kampung halaman Ayah nya itu. Tak terasa waktu makan siang telah tiba, mereka memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat di rest area terdekat. Saat dirasa cukup, mereka melanjutkan perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 3-4 jam lagi untuk benar-benar sampai. Udara sejuk mulai menyambut kedatangan mereka, pemandangan indah yang jarang ditemukan oleh Abyan pun mulai terlihat di sisi kanan dan kiri nya. Abyan sangat terpaku dengan pemandangan yang ia lihat saat ini, tak terasa rumah yang sudah lama tak ia kunjungi berada tepat di hadapannya. Dengan perlahan ia mulai memasuki rumah tersebut. Melihat kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Tak banyak yang berubah dari rumah ini, semuanya masih sama seperti dulu.
17
18 “Kamuِambilِkamarِyangِdibelakangِya.” “Istirahat,ِbesokِAyahِajakِkamuِkelilingِdesa.”ِUcapِAyahِyangِdibalasِ anggukan oleh Abyan. *** Banyak suara aktivitas menyapa telinga Abyan, ia terbangun dan melihat jam yang ternyata masih menunjukan pukul 5 pagi. Ia melihat keluar jendela dan menemukan orang-orang desa yang tengah menyiapkan sesuatu. Abyan tentu saja lebih memilih untuk menghiraukan apa yang dia lihat dan kembali tidur di atas kasur yang nyaman itu. Tak terasa jam sudah memasuki pukul 8 pagi, Abyan bangun untuk menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di teras rumah sambil menghirup secangkir kopi. “Ayah,ِtadiِpagiِakuِlihatِorang-orang disini sibuk menyiapkan sesuatu. Apaِakanِadaِacara,ِyah?”ِtanyaِAbyan. “Oh,ِitu.ِKarenaِsudahِmauِmemasukiِbulanِRamadhan,ِorang-orang disini biasa melakukan Sadranan. Sadranan itu tradisi yang biasa dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan. Nanti kita akan keliling untuk makan di rumah orang-orang yang sudah menyajikan nya untuk kita. Tadi kamu lihat kan, di pagi hariِbanyakِsekaliِwargaِyangِsudahِmulaiِmenyiapkannya.”ِJawabِAyah.ِ “Jadiِpagiِtadi,ِyangِakuِlihatِituِuntukِSadrananِya,ِyah?ِAkuِkiraِakanِ adaِacara,ِmakanyaِwargaِdisiniِkelihatanِsibuk.”ِbalasِAbyan. “Ohِiya.ِKitaِjadiِkelilingِdesaِkan,ِyah?”ِsambungِAbyan.ِ “Jadiِdong.ِHabisِiniِkamuِsiap-siap, kita akan pergi ke rumah Pak Budi.”ِAyahِmembalasِdenganِmeninggalkanِAbyanِyangِtengahِdudukِdiِ sebelahnya. ***
19 “Waalaikumsalam.ِSilahkanِmasukِPakِJehan”ِSambut ramah Pak Budi, pemilik rumah yang sedari tadi sudah menunggu kehadiran mereka berdua. Saat masuk, ia melihat banyak makanan yang di sajikan oleh pemilik rumah. Ia langsung teringat apa yang tadi Ayah katakan padanya. “Oh.ِJadiِuntukِiniِmerekaِkelihatanِsangatِsibukِdiِpagiِhari?ِtradisiِ Sadranan.”ِucapِAbyanِdalamِhati. Sambil berbincang ria, mereka mulai menyantap makanan yang disajikan oleh Pak Budi. Saat sedang asik makan, Pak Budi mendapati Abyan yang tengah menatap heran ke arah luar. “KenapaِAbyan?ِkamuِlihatِapa?”ِtanyaِPakِBudi “Itu,ِPak.ِAdaِbanyakِwargaِyangِsepertinyaِmauِpergi,ِtapiِentahِakanِ pergiِkemana.”ِBalasِAbyan “Wargaِdesaِdisiniِakanِpergiِkeِsumberِmataِairِuntukِmembersihkanِ diri. Karena sudah mau memasuki bulan Ramadhan, sudah menjadi kebiasaan paraِwargaِuntukِmelakukanِkegiatanِtersebut.”ِJawabِPakِBudiِyangِdiberikanِ anggukan oleh Abyan. “Padusanِya,ِPak.ِSayaِkiraِsudahِtidakِadaِlagi,ِternyataِmasihِadaِ sampaiِsekarang.”ِUcapِAyahِAbyan Mereka melanjutkan kegiatan mereka sambil berbicara lebih banyak mengenai padusan, tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan saat mau memasuki bulan Ramadhan. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11, Abyan dan Ayahnya pamit serta mengucapkan kata terimakasih kepada Pak Budi karena sudah menyambut mereka dengan baik. *** 5 hari berlalu, yang berarti liburan Abyan harus berakhir. Sekarang pukul 10, Abyan tengah sibuk memasukan barang miliknya kedalam mobil. Dengan berat
20 hati Abyan meninggalkan desa yang menjadi kampung halaman Ayah nya itu, sekaligus menjadi tempat yang ia gunakan untuk mengisi liburannya. Selama disini Abyan belajar banyak tentang tradisi-tradisi yang masih ada hingga sekarang, dan tentu saja masih banyak yang ingin Abyan pelajari terkait tradisi orang-orang disini, tetapi liburan sudah hampir berakhir. Ia berjanji kepada Ayah akan menggunakan waktu untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, terlebih lagi saat liburan sekolah.
21 MEMORI KOLABORASI Nadhira Dea Aqila Anlidhiya Udara pagi dihirup perlahan, burung-burung yang berkicauan didengar oleh seorang gadis yang kini sedang duduk di bangku kelas 3 SMA, ia bernama Della Fanara Putri, biasa dipanggil Della. Bel berbunyi yang menandakan semua murid harus turun kebawah untuk melaksanakan upacara bendera. Saat upacara berlangsung, semua murid di SMA 2 Jakarta berdiri tegak dan berbaris sejajar menghadap ke tiang bendera. Sementara itu, dibelakang barisan para murid ada Della dan anak-anak PMR lainnya yang sedang berjaga dibelakang barisan. Saat upacara bendera hampir selesai, mic yang berada di depan para murid berbunyi yang berarti menandakan ada informasi yang ingin disampaikan oleh guru yang sedang berdiri di hadapan para murid. “Tanggalِ8ِdesember,ِakanِdiadakannyaِlombaِdemoِekskulِdanِdiadakanِdiِ SMAِ 1ِ Jakarta.”ِ Ucapِ guruِitu,ِ seketika Della yang berdiri dibelakang barisan langsung berfikir keras. Tak dirasa, upacara sudah selesai dan semua murid langsung masuk ke kelasnya masing masing untuk mengikuti pembelajaran. Setelah pembelajaran selesai, Della mengadakan rapat PMR untuk kegiatan demo ekskul ini. Saat ingin memulai rapat, Della mencari syal PMR yang berwarna biru di loker mejanya, ia mulai meraba raba barang-barang yang ada di loker mejanya tetapi nihil, syal itu tidak ditemukan. Della tahu siapa yang mengambil, pastinya si Ketua Pramuka, ia adalah orang yang paling menjengkelkan menurut Della. Della dan Rajash Bimantara Argantara, mereka sudah menjadi sahabat sejak SMP kelas 2, namun mereka kelas 3 terpisahkan oleh kelas, tetapi mereka bertemu kembali di sekolah yang sama. Della kembali mencari syal birunya di loker teman sekelas nya dan tidak ada hasilnya sama sekali. Dengan rasa terpaksa, Della menghampiri meja Ajas dengan penuh amarah dan bertanya syal miliknya.
22 “Ajas!ِKamuِngambilِsyalِakuِya?”ِTeriakِDellaِdenganِemosi. Kembali ke sifat asli Ajas yang menurut Della menjengkelkan. Ajas hanya merespon dengan tawaan sambil tersenyum. “Jass!ِAkuِnanya…ِsyalkuِadaِdimana?”ِBentakِDellaِdenganِmatanyaِyangِ mulai berkaca-kaca. Ajas yang merasa kasihan, langsung memberi syal yang ia ambil dari loker Della. Dengan matanya yang terlihat akan segera menangis, Della langsung pergi dari hadapan Ajas karena ia tidak mau Ajas tahu bahwa dirinya sedang menangis, takut dirinya di tertawakan oleh Ajas. Saat Della sedang berjalan keluar, Ajas mengeluarkan satu kalimat dari mulutnya. “Minimalِ makasihِ lah…”ِ Ujarِ Ajasِ denganِ nadaِ sarkas,ِ namunِ Dellaِ membiarkan saja perkataan Ajas. Della berlari menaiki tangga menuju ke ruangan rapat, disana sudah ada beberapa anggota PMR lainnya. Della langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Disampingnya, sudah ada Lana, wakil ketua PMR dengan Della sebagai ketuanya. Rapat pun dimulai Della berdiskusi dengan semua anggota PMR tentang kegiatan demo ekskul ini, beberapa anggota lainnya pun menyumbang ide sehingga ruang rapat dipenuhi dengan suara anak PMR yang mengutarakan pendapatnya. Namun, menurut Della semuanya kurang menarik. Kemudian, salah seorang anggota PMR memberi sebuah ide yang cukup menarik. “Kak!ِ Kalauِ gak kita buat drama gitu, nanti kita kolaborasi sama anak pramuka, jadi ceritanya nanti ada segerombolan penjahat yang menyerang para warga dan mengambil uang hasil dagang warga, terus nanti anak pramuka dateng buat melawan segerombolan penjahat itu setelah selesai melawan para segerombolan penjahat dan penjahat nya pun pergi, tetapi beberapa anak pramuka ada yang terluka terus nanti ada anak PMR yang dateng buat mempraktek kan pertolonganِpertamaِuntukِorangِyangِterluka.”ِSaranِsalahِseorangِanggota PMR. “Idenyaِbagusِtuh!ِYangِlainِgimana,ِsetujuِgak?”ِTanyaِLanaِ “Setuju.ِAkuِsetujuِkak!ِGas…”ِِUjarِparaِanggotaِPMRِdenganِsuaraِyangِ lantang.
23 Sementara itu, Della yang awalnya tidak setuju akan pendapatnya terpaksa harus setuju dengan keputusan yang telah disetujui oleh para anggota termasuk Lana. Tetapi, Della merasa sangat malas untuk berurusan dengan si ketua reginta, Ajas. Sejak SMP Ajas memang sangat suka dengan semua yang berbau kepramukaan, ia sangat rajin mengikuti lomba-lomba Pramuka. Dengan rasa terpaksa akhirnya della setuju karena itu merupakan pendapat para anggota nya yang tidak bisa tergantikan. “Okedeh, nanti aku sama Lana diskusi dulu sama ketua dan wakil ketua.”ِِ Ujarِ Della. Jam menunjukkan pukul 17.15, yang seharusnya kita semua sudah pulang, namun ada rapat mendadak yang mengharuskan mereka semua keluar dari gedung sekolah menuju ke halaman sekolah. Ketika Della sampai di halaman sekolah, ia berdiri dan memegang handphone miliknya. Ia melihat awan yang mulai gelap, sudah beberapa kali mencobamesan ojek online tetapi nihil, tidak ada satu pun yang mau menerima orderannya karena hari sudah agak gelap dan langit pun mengeluarkan rintikan air sedikit demi sedikit. Della kebingungan, sudah beberapa kali mencoba menelfon kedua orang tuanya, tetapi sama sekali tidak ada yang mengangkat panggilan dari Della. Karena orang tua Della sedang bekerja di luar kota selama 1 hari. Kini Della ditemani dengan raut wajah yang pasrah dan baju yang sedikit terbasahi dengan air hujan. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang dating menghampiri Della, mobil berwarna khaki, mobil itu berhenti tepat di depan Della. Lalu, kaca mobil itu terbuka, terlihat seorang lelaki tua bersama dengan istrinya yang terlihat tidak terlalu asing bagi Della. Setelah kaca mobil itu terbuka lebar, ternyata itu adalah orang tua Ajas. Orang tua Ajas cukup dekat dengan Della. Ayah Ajas membuka kaca mobilnya. “HaloِDela,ِ kamuِ belumِ dijemputِ nak?”ِTanyaِayahِAjasِ sambilِmenatapِ wajah Della yang bajunya terlihat basah akibat guyuran hujan. “Akuِbelumِdijemputِom,ِakuِpesenِojekِonline tapi belum ada yang nerima, semuanya di cancel samaِojeknya.”ِUjarِDella.ِِِِِِِِِِِِ
24 Mendengar itu, ayah Ajas langsung menawarkan tumpangan pada Della. Della pun menerima tumpangan yang ditawarkan ayah Ajas. “Yaudahِkamuِmasukِajaِkeِmobil,ِdiِdalamِadaِBundaِsamaِAjasِtuh”ِUcapِ ayah Ajas. Della pun masuk ke dalam mobil ayah Ajas, terlihat di dalam mobil ada bunda dan Ajas. Saat perjalanan sesekali bunda Ajas bertanya kepada Della. Saat diperjalanan Della teringat dengan ide salah satu anggota PMR untuk mengajak anak pramuka berkolaborasi drama. Setelah Della memberanikan diri ia pun mulai berbicara. “Jas,”ِPanggilِDella, “Hmm?”ِ Ucapِ Ajasِ yangِ tadinyaِ sedangِ memainkanِ handphone nya kini menoleh ke arah Della. “Kanِadaِ kegiatanِlombaِ demoِ eskul,ِ kalauِ kitaِ kolaborasiِmauِ gak, Jas? SoalnyaِiniِjugaِideِsalahِsatuِanggotaِPMR.”ِTanyaِDellaِ “Bagusِjugaِidenya.ِBolehِdeh,ِsiapaِtauِkitaِmenangِkan.”ِUcapِAjasِsambilِ memasang muka percaya dirinya. “Okeِdeh!ِKaloِmau,ِbesokِrapatِkarenaِlombanyaِsebentarِlagi,ِsekarangِajaِ udah tanggal 4, jadi harus buru-buru latihan. Nanti alur ceritanya aku jelasin pas rapatِajaِya.”ِUcapِDellaِyangِhanyaِdibalasِdenganِanggukanِolehِAjas. Tak terasa pembicaraan tadi sudah cukup lama sehingga mobil ayah Ajas sudah sampai di depan rumah Della. Della pun tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada orang tua Ajas, Della keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Sesampai Della di dalam rumah, ia langsung membersihkan diri. Setelah semua selesai, ia nyalakan handphone nya dan memberi informasi bahwa besok sepulang sekolah akan diadakan rapat bersama anggota reginta untuk membahas
25 kegiatan demo ekskul. Jika masih ada waktu, bisa langsung berlatih, karena waktu pulang sekolah lebih cepat maka bisa untuk berlatih lebih lama, pesan Della. Besoknya, Della mengikuti pelajaran seperti biasa, ia sedikit menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menghilangkan rasa suntuk. Saat ia menoleh ke arah kiri, ia melihat Ajas yang sedang mengobrol bersama teman sebangkunya dengan keadaan guru yang sedang menjelaskan dihadapan semua murid. Saat bel istirahat berbunyi, ia istirahat bersama teman temannya. Pembelajaran pun selesai, ia langsung mengambil syal kebanggaannya dan mengajak Ajas untuk rapat sebentar dan langsung latihan. Sesampainya di ruangan rapat, terlihat ada banyak murid yang sudah menunggu mulainya rapat ini, yang Della lihat semua orang terlihat jelas organisasi mereka masing-masing karena di bagian kerah baju para murid terdapat kacu yang berwarna merah putih yang sekarang sedang digunakan oleh Ajas dan ada juga yang sedang menggunakan syal berwarna biru yang sedang dipakai juga oleh Della. Rapat pun dimulai, Della menjelaskan hasil rapat yang telah disetujui oleh anak PMR kemarin. Ternyata setelah ditanya, hampir semua anak Pramuka setuju dengan idenya. Karena sudah setuju dengan hasil akhirnya, mereka semua menuju ke lapangan sekolah untuk latihan. Semuanya berlatih dengan sangat baik, walaupun ada beberapa yang kurang tepat. Selesai latihan Ajas dan Della sedikit membahas tentang latihan tadi. Tidak terasa ternyata hari sudah mengharuskan kita untuk beristirahat di rumah. Della dan Ajas meminta semua anak PMR dan anak Pramuka untuk pulang ke rumahnya masing-masing. *** Setelah berlatih selama 2 hari lamanya, hari penantian semua murid PMR dan Pramuka sudah datang. Mereka semua sekarang sedang berada di SMA 1 Jakarta untuk mengikuti lomba dan mendapatkan nomor urut ke 5. Semua orang sudah menampilkan beberapa penampilan yang menarik. Ada yang menampilkan sebuah tarian topeng asal Betawi. Penari menggunakan topeng diwajah mereka dan ada pula yang menyanyikan lagu-lagu daerah lainnya. Detik-detik penampilan pun
26 dimulai, Della sangat cemas, nervous dan takut jika dirinya salah berbicara, dan tidak memenangkan lomba. Semua menyerang pikiran Della dan membuat tangan Della mulai bergetar, Ajas menyadari bahwa Della sedang dilanda rasa cemas. Ajas yang tadinya sedang duduk bersama teman-temanya langsung menghampiri Della yang sedang duduk di kursi paling belakang bersama Lana. Ajas mengambil kursi untuk duduk di samping Della, setelah Ajas mendapatkan kursinya, ia mulai menenangkan Della. “Gakِapa-apa, menang kalah itu wajar, kalau kita gak menang berarti bukan rezekiِkita.ِYangِpentingِkitaِsudahِmelakukanِsemaksimalِmungkin,ِoke?”ِBerkatِ ucapan Ajas, Della pun terlihat sedikit tenang. Tetapi, Della sedikit bingung mengapa orang seperti Ajas bisa tiba-tiba menjadi sebaik itu, biasanya ia sangat membuat jengkel Della. Kemudian nomor urut 5 akhirnya dipanggil, mereka semua berkumpul untuk menampilkan dramanya. Mereka semua langsung masuk ke area pentas dan mulai mengatur posisi yang sama seperti saat latihan. Setelah drama demo eskul ini selesai, semua orang bertepuk tangan, kita semua diperbolehkan untuk keluar dari area panggung. Della dan Ajas mengumpulkan semua anak PMR dan reginta untuk mengucapkan terimakasih karena sudah tampil sangat bagus sehingga tidak ada kesalahan sama sekali dan membuat para juri terkesima dengan pentas yang telah ditampilkan. Saat mereka sedang berkumpul, tiba-tiba terdengar suara MC yang mulai berbicara dari atas panggung. Mereka semua yang mendengar hal tersebut langsung bergegas menuju depan panggung untuk melihat siapa pemenangnya. “Okeِ teman-teman sekalian, kami para juri sudah melihat penampilanpenampilan dari para murid SMA yang mengikuti lombanya, kami sangat mengapresiasi tampilan kalian semua. Baik, kita langsung aja ya ke pemenangnya. Apaِsudahِsiap?”ِTeriakِsangِMC dengan samnagt yang berkobar. “Siap!”ِ Ucapِ lantangِ semuaِ muridِ danِ paraِ penontonِ yangِ suaranyaِ terdengar dari barisan penonton.
27
28 “Baiklah,ِpemenangِjuaraِpertamaِdiraihِoleh…”ِMC terdiam sesaat. Della dan semuanya merasa berdebar-debar, takut akan kalah, beberapa dari merekaِ mulaiِ berdoa’.ِ Sangِ MC membuka bibirnya perlahan, bersiap untuk berucap. “SMAِ2ِJAKARTA!!….”ِUcapِsangِMC dengan nada tinggi, masih dengan semangat yang berkobar layaknya api. “Silahkanِ kepadaِ perwakilan,ِ 2ِ orangِ dariِ SMAِ 2ِ Jakartaِ untukِ majuِ kedepanِmengambilِpialanya.”ِUjarِsangِMC. Suara tepuk tangan para penonton terdengar keras dari barisan penonton untuk menunjukan rasa bangga pada pemenang. Lalu, Della dan Ajas selaku ketua PMR dan Pramuka berjalan menuju ke atas panggung untuk mengambil piala yang akan diberikan, sedikit berfoto diatas panggung itu. Selesai mengambil foto, Della dan Ajas turun dari atas panggung sambil membawa piala yang cukup besar. Mereka mengambil foto bersama para anggota, karena ini merupakan sebuah kenangan yang pastinya tidak akan bisa dilupakan dan tidak bisa diulang kembali. Setelah itu, mereka pergi ke sebuah wilayah pedagang dan membeli sebuah makanan khas Jakarta yang ada di wilayah tersebut, ada yang membeli kerak telur dan ada juga yang membeli soto Betawi. Setelah selesai makan mereka pulang kerumah masingmasing sambil membawa kenangan yang begitu indah dan juga membawa rasa bangga pada dirinya sendiri. Everything will happen as expected if we do it wholeheartedly.
29 PENTAS DAN KENANGAN Rizka Ramadhani Matahari yang mulai memancarkan sinarnya, menusuk mata seorang gadis akan silaunya, menandakan hari sudah pagi. Burung berkicau dan alarm terus berdering membuat tidur nyenyak sang gadis terusik, ia memutuskan untuk segera bangun. Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 6:45 pagi, ia bergegas menuju kamar mandi dengan mata yang masih mengantuk, setelah selesai mandi dan bersiap-siap, ia langsung pergi menuju sekolah. Ia segera menaiki motor kesayangannya dan langsung bergegas menuju sekolah. gadis itu bernama Nazalea Cyvanna Putri akrab dikenal sebagai Naza. Seorang siswi SMA Marviosa yang bisa dibilang begitu cerdas, ia juga sangat suka menari. Naza memiliki sahabat perempuan yang sudah akrab dengannya sedari mereka SMP, bernama Zellyn Sabina Mikallisha dan akrab dikenal sebagai Zellyn atau Lyn. *** Setibanya Naza disekolah ia langsung menuju ke kelasnya dengan tergesa gesa, saat memasuki kelas, Naza melihat bahwa sahabatnya Zellyn sudah menunggu kehadirannya, 12 IPA 1 kelas yang diisi oleh murid-murid pintar. “Buset Naz, baru datang lo jamِsegini?”ِTanya Zellyn “Aduhِiyaِnih,ِgua bangun telat,”ِujar Naza dengan nafas yang memburu “Yaِyaِgua udah tau pasti lo begadang lagi kan, kebiasaan banget lo iniِya.”ِBalasِ Zellyn. Naza yang mendengar itu hanya mengangguk sembari tersenyum menandakan bahwa yang dikatakan oleh Zellyn benar adanya. Pelajaran pun akan segera di mulai, sang guru memasuki kelas. Saat Bu Titin sedang menjelaskan
30 materi, Naza dan Zellyn malah asik mengobrol, Bu Titin yang melihat mereka berdua segera menegur mereka. “Naza dan Zellyn! Ibu sedang menjelaskan materi, kalianِsedangِngobrolinِapa?!”ِ Tegur bu Titin dengan nada tinggi “Gakِadaِapa-apa kok bu,”ِucap Naza sembari menggelengkan kepala. “Awasِsajaِkalauِkalian mengobrol lagi!” “Ohِyaِanak-anak, ibu mau menginfokan bahwa minggu depan sekolah kita akan mengadakan acara pentas seni sekolah, di mohon untuk kerja sama kalian semua ya.”ِLanjutِbu Titin Pelajaran pun sudah berakhir, Naza dan Zellyn memutuskan untuk pergi menuju kantin. Saat mereka sedang berjalan menuju kantin, mereka tak sengaja bertemu Jergas dan teman temannya. “EhِGas, janganِlupaِjanjiِkitaِhariِmingguِnanti,”ِUcapِNaza. Mereka memiliki janji pada hari minggu tepat pukul 10 di cafe, hanya untuk sekedar mengobrol-ngobrol perihal acara pensi yang akan diselenggarakan minggu depan. “Tenang aja, gua gak akan lupa sama janjinya.”ِBalasِJergas “Ok, gua samaِZellynِduluanِyaِmauِkeِkantin.”ِUjarِNaza,ِJergasِyangِ mendengar itu hanya mengangguk saja sambil melambaikan tangan. Ia Jergas Antariksa Geralldo, sering di kenal sebagai Jergas. Sahabat masa kecil Naza, saat kecil Jergas gemar sekali menjaili Naza hingga saat ini, sampai bahkan Naza menangis karena nya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi, menandakan sudah waktunya semua murid untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Naza dan Zellyn segera mempersiapkan diri untuk pulang, barang-barang mereka taruh dalam tas. Mereka berpamitan dengan teman-temannya, dengan cepat, mereka berdua langsung menuju ke parkiran untuk mengambil motor yang mereka kendarai. Mereka
31 berdua keluar sekolah bersama, mengobrol sedikit di jalan dan kemudian, langsung menuju rumah mereka masing-masing. *** Hari minggu pagi, matahari terbit dengan tenang di sambi dengan kicauan burung yang terbang perlahan. Embun pagi berjatuhan diantara daun-daun di depan halaman rumah. Suara alarm berbunyi keras membangunkan seorang gadis di pagi itu, jam menunjukkan tepat pukul 9 lewat 30 menit. Dengan mata yang masih mengantuk, ia perlahan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan bersiap siap, Naza pun segera mengeluarkan motornya serta menyalakannya. Sesampainya Naza di cafe yang sudah mereka janjikan, ia langsung masuk ke dalam cafe tersebut dan segera menghampiri Zellyn, juga Jergas yang sudah menunggunya disana, dan mulai berbincangbincang.
32
33 Setelah beberapa menit lamanya mereka berbincang-bincang, akhirnya Naza memustuskan untuk pulang terlebih dahulu karna ada suatu hal. “EhِLyn,ِGasِgua pulang duluan ya gua mau latihan nari.”ِUjarِNaza,ِiaِlangsungِ merapihkan barang barang nya dan memasuki semua barang nya ke dalam tas “YahِgakِasiknyaِNaz.”ِUcapِZellynِdenganِwajahِkecewa “Mauِgimanaِlagi,ِgua lupa kalau hari ini ada latihan nari,”ِBalasِNazaِ “HarusِbangetِNazِlatihan?ِBelakangan ini lo jugaِudahِseringِlatihan”ِTanyaِ Jergas “HarusِGas,ِdemiِtampilِbagusِnantiِpasِacara”ِUcapِNazaِdenganِterburuِburu “Yaudah,ِsemangatِlatihannya” “MakasihِGas, yaudah gua duluanِya”ِUcapِNazaِsembariِmelambaikanِtanganِ ke arah Zellyn dan juga Jergas. Setibanya dirumah, Naza langsung bersiap-siap untuk pergi latihan acara pensi yang bakal di selenggarakan di sekolah mereka tepatnya minggu depan seperti apa yang di bilang oleh Bu Titin. *** Acara pensi pun akan segera di selenggaran dalam beberapa hari lagi, Naza sudah semaksimal mungkin untuk tampil di acara pensi tersebut dengan sangat baik, ia terus berlatih setiap jam pulang sekolah untuk memaksimalkan. Beberapa hari kemudian…. Acara pensi pun telah tiba, semua murid berbondong-bondong untuk mendapatkan kursi paling depan, lain hal dengan Zellyn dan juga Jergas yang terus menyemangati Naza agar ia tidak gugup saat tampil nanti. Acara telah dibuka oleh MC, pembukaan di awali dengan nasihat kepala sekolah dan doa-doa, setelah acara pembukaan selesai MC memberitahu bahwa acara selanjutnya adalah pentas tari yang mana di wakili oleh Naza. Naza yang mendengar bahwa
34 acara selanjutnya adalah pentas tari, ia segera menaiki area panggung dan mulai menampilkan tarian yang di bawakan olehnya. Hal tidak terduga, saat di tengah acara pentas tari berlangsung tiba-tiba kaki Naza tidak sengaja menginjak gaun yang sedang di pakainya alhasil gaun itu menjadi robek. Walau begitu, Naza tetap bangkit dan semangat untuk melanjutkan acara pensi tersebut sampai tarian yang dibawakannya selesai. Saat acara sudah selesai Naza cukup bersedih hati karena telah merusak acara pentas tari tersebut, tetapi ia ditenangkan oleh sahabat nya Zellyn. Zellyn memberi apresiasi karena Naza telah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap tampil dengan sempurna. "Gapapa Naz, itu tadi udah bagus loh tampilnya" "Tapi tadi gua gak sengaja injak gaunnya alhasil jadi ancur" Ujar Naza sedikit kecewa "Udah gapapa Naz, lo udah berusaha sehebat mungkin buat tampil di acara pensi ini," Balas Zellyn sembari menenangkan Naza yang sedang menangis "You are great, you are amazing, I am proud of you Naza," Ucap Jergas yang tiba tiba datang menghampiri Naza dan zellyn "Lo tadi udah bagus banget tampilannya Naz, gua sampe tercengang sahabat gua bisa tampil sehebat itu" Jergas memberi apresiasi kepada Naza sambil bertepuk tangan "Gak usah sedih gitu Naz, liat tuh muka lo kalau udah nangis jelek banget" Ejek Jergas "Parah banget loh Naz, gua kalau jadi lo sihِgakِterimaِya”ِUcapِZellynِtidakِ terima. Naza sangat bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam pentas tersebut, dan itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Tidak sengaja Naza mendengar Jergas mengejeknya lantas ia langsung memukul Jergas tanpa ampun, Zellyn yang
35 menyaksikan peristiwa tersebut hanya bisa tertawa melihat Jergas yang sedang dikejar-kejar oleh Naza sembari meminta maaf terus menerus.
36 BATIK KENANGAN Vania Andhini Aktivitas yang baru telah di mulai setelah suara alarm selesai berdering dengan bising. Seorang perempuan manis terbangun dari lelap nya dan meregangkan otot tubuh nya yang masih terasa kaku. Setelah terasa lebih segar, gadis itu mandi dan bersiap dengan seragam sekolah. Gadis itu bernama Prateesa, Sebagian orang memanggilnya dengan panggilan yang lebih singkat, Esa. Setelah selesai membersihkan diri, Esa kini bersiap untuk menemui sang bunda di lantai bawah. Berjalan dengan tubuh yang masih terasa lemas, Esa membawa tas sekolah nya menuju meja makan keluarga. “Pagi,ِ bun.ِAkuِ sarapanِ diِmobilِaja ya,ِtakutِtelat,”ِUcapِEsaِ kepadaِ sang bunda. “Yaudah,ِSa.ِHati-hatiِya..,”ِJawabِsangِbundaِserayaِmemberikanِkotakِ bekal Esa. Esa pun menepati perkataannya kepada sang bunda. Ia menyantap sarapan yang sang bunda buat di mobil sambil menikmati pemandangan dari jendela. Esa merapihkan tempat makan nya. Gadis itu melangkahkan kaki nya memasuki gedung besar dengan banner besar bertuliskan Selamour High School. Tahun ini, Esa sudah menjadi senior. Esa mendudukkan dirinya di kursi paling belakang. Kini dia teringat akan berita tentang murid pindahan yang akan menetap di kelas nya. Ding.. dong.. tepat pukul 07.00, terdengar suara bel berbunyi pertanda pelajaran pertama akan segera di mulai. Wali kelas XII 3 berjalan masuk berdampingan dengan seorang gadis lugu. Esa mengamati seorang gadis lugu yang berdiri di samping kiri Pak Tiago. “Selamatِpagiِsemuanya.ِHariِiniِkitaِkedatanganِ temanِbaru,ِsilahkanِnak,”ِUcapِPakِTiago. “ِHaloِsemuanya,ِperkenalkanِnamaِsayaِSkayaraِAghista.ِAgarِnyamanِ panggilِYaraِsaja,ِsalamِkenalِyaِsemuanya.” “Baik,ِ silahkanِ dudukِ diِ barisanِ keduaِ dariِ belakangِ ya,”ِ Pakِ Tiagoِ memberi arahan. Yara berjalan ke arah seorang gadis yang juga sedang menatap nya. Ia menggantungkan tas sekolah nya di punggung kursi, mendudukkan tubuh nya di kursi berwarna biru itu. Kini Esa sudah duduk berdua Bersama Yara. Suasana seketika menjadi canggung sesaat, sebelum salah satu dari mereka akhirnya angkat bicara.
37 “Hai!ِAkuِPrateesa,ِpanggilِEsaِaja ya.ِSalamِkenal,”ِSapaِEsaِsambilِ tersenyum manis. “AkuِSkayara,ِpanggilِYaraِaja biar lebihِnyaman.ِSalamِkenalِjugaِyaa.”ِ Sahut Yara dengan senyuman miliknya. Setelah beberapa jam telah mereka lalui, pada akhir jam sekolah ini, seluruh Kelas XII membicarakan tentang pertunjukan akhir tahun yang lebih di kenal dengan sebutan Fabilous Decelis. Dimana kelas XII akan menampilkan sebuh pertunjukan saat hari kelulusan nanti. Esa dan teman-temannya mulai berunding, membicarakan pertunjukan apa yang akan mereka tampilkan nanti. Beberapa teman kelas Esa sepakat untuk menampilkan tarian tradisional juga menyanyikan lagu luar negeri. Setelah di sepakati oleh semua murid XII 2 dan mendapat izin dari wali kelas, mereka membagi kelompok. Setelahnya, mereka mulai berlatih masingmasing. Esa teringat dengan Yara, Esa mencoba untuk mengajak Yara berbicara, selagi Yara sendiri sedang berkutik dengan pensil dan imajinasinya. “Yara!ِ Ayoِ kitaِ berlarihِ bersama.ِ Kamuِ sukaِ bernyanyiِ atauِmenari?”ِ Tanya Esa dengan suara bersemangat. “Esa,ِakuِtidakِpandaiِdiِbidangِmenariِataupunِmenyanyi,”ِJawabِYaraِ sambil menundukan kepala. Esa menyadari bahwa teman baru nya ini merasa tidak percaya diri. Esa mengembangkan senyuman nya. Ia mengusap kedua sisi bahu Yara dan coba memberikan semangat. Jika tidak dengan sedikit rayuan, Yara sepertinya tidak akan ingin mencoba. Esa, Yara, serta murid yang lain bersiap dengan posisi nya. Dengan iringan musik tradisional Sajojo, mereka mulai menampilkan dan menepati ketukan setiap Gerakan inti dari tarian tersebut. Esa tersenyum karena kelas nya yang begitu suportif satu sama lain. Selesai sudah Latihan yang di lakukan oleh tim Tari Tradisional. Esa dan Yara mengambil posisi duduk dan beristirahat sejenak. Mereka kini duduk sambil menikmati alunan musik dari tim band kelas mereka. Selagi mengobrol, Esa juga sempat memperkenalkan anggota tim band kelas mereka. Anggota band kelas XII 2 memiliki badan yang tinggi dan tegas. Mereka Bernama Alkairo Malik, Kanaga Arkatama, dan Nakula Arga Sanjaya. Mereka di gemari oleh banyak adik kelas. Selagi kelas XII 2 berlatih, Esa mengambil beberapa foto suasana kelas yang hangat itu menggunakan ponsel genggam nya.
38 Ding.. dong.. terdengar bel terakhir sudah berbunyi pertanda sekolah hari ini telah usai. Akibat terlalu asik mengobrol Esa dan Yara hampir tidak mendengar bel tersebut. Murid kelas XII 2 mulai mengemasi buku dan alat tulis mereka masing-masing. Sebelum berpisah dengan teman nya itu, Esa tidak lupa memberikan semangat untuknya. “Apaِ akuِ bilang?ِ Kamuِ ituِ bisaِ Yar,ِ semangatِ Latihanِ lagiِ ya!”ِ Esaِ mengacungkan jempol nya pada yara. Ucapan semangat yang di lontarkan hanya di balas dengan kekehan ringan dari lawan bicara. Yara yang mendapat semangat dan respon yang baik dari temannya pun seketika membuka hati nya sendiri. Yara bertekad untuk berusaha menumbuhkan sikap percaya diri nya, demi kesuksesan Bersama. ••• Bulan demi bulan, waktu demi waktu telah di lalui kelas XII dengan tidak sedikit masalah. Mulai dari Kairo yang terus mengganti lagu karena merasa tidak cocok, juga Nakula yang kadang tidak serius saat Latihan. Kelas XII 2 juga sempat berunding Kembali, membicarakan tentang pertunjukan yang akan di tampilkan. “KitaِCuma nampilin satuِlagu?ِTambahِlagiِlah,”ِTegasِKairoِmembuatِ suasana sedikit mencekam. “Yaِemangِmasalah?ِLo mau nyanyiin satuِalbumِfull?,”ِSahutِNakulaِ dari duduk nya di pojok kelas. “Santaiِkali.ِKokِemosi?ِKitaِiniِlagiِberdiskusi,ِterimaِsemuaِmasukanِ nyaِdong.”ِTimpalِEsaِtakِkalahِtegasِdariِKairoِdanِNakula.ِ Diskusi penampilan kelas XII 2 terus di lakukan. Mana kala mereka harus tersulut rasa emosi, egois dan tidak mau mengalah. Kanaga sebagai ketua kelas yang sabar, ia selalu mencoba agar teman kelas nya tidak tersulut emosi. Setelah beberapa kali melakukan diskusi, kini keputusan terakhir sudah di ketuk palu. “Iniِudahِfiks ya? Jadi dengan keputusan Bersama, kita akan menampilkan tarian daerah Sajojo, Manuk dadali dan Bungong jempa.”ِKanagaِ berbicara dengan suara lantang. “Buatِlaguِyangِdiِtampilin ada I Want It That Way dan Old Town Road. Setujuِyaِsemua?’’ِTambahِKairoِselakuِketuaِbandِkelasِnya. Setelah melihat respon dari anak yang lain, Kanaga mengukir senyuman kecil dari bibir nya. Persiapan kelas XII sudah hampir selesai, hanya butuh beberapa Latihan lebih untuk tim tari tradisional. Berbulan-bulan sudah terlewati, semua kelas XII benar-benar mematangkan Latihan mereka sebelum hari yang di nantikan tiba.
39…
40 Hari ini adalah hari yang di tunggu oleh semua murid kelas XII. Kelas XII 2 mendapatkan urutan tampilan ke tiga dan mereka sepakat untuk memakai batik di hari Special ini.. Kini mereka semua bersiap, memberi semangat satu sama lain dan berdoa bersama. Esa, Yara, serta murid yang lain sudah siap dengan posisi nya di atas panggung. Mereka menampilkan tari tradisional dengan rapih, Band kelas dengan anggota yang lengkap sudah siap, mereka pun mulai menampilkan lagu utama nya Old Town Road. Perpaduan bass dan suara drum yang menyatu membuat suara tepuk tangan terdengar dari tribun penonton. Mereka sangat Bahagia juga terharu. Bahagia karena mereka berhasil dengan lancar, tanpa ada hambatan lain yang mengusik mereka. Haru juga terasa karena mereka harus berpisah di sini. Tidak ingin merasa rugi, mereka bersiap dengan model batik yang berbeda dan terlihat sangat indah itu Bersiap untuk mengabadikan momen tersebut. Cerita mereka ditutup dengan tawa serta tangis haru yang tidak dapat terbendungkan lagi.
41 Kanvas Kosong Penuh Arti Malika Nahla Aqila Sinar mentari saat siang begitu terik, sekaligus semilir angin masuk dan menghembuskan tirai jendela yang dibuka lebar, memperlihatkan lelaki paras rupawan sedang termenung sambil melihat langit yang terang kala itu. Ia adalah Sagantara, atau Sagara. Siswa SMA Mandala yang hobinya suka menggambar maupun melukis, mulai dari yang abstrak sampai realistis. Sagara menghela nafasnya pelan. “Hahh...ِHarus nyari inspirasiِdarimanaِlagi,”ِSagaraِberjalanِkearahِnakasnya,ِ mengambil handphone miliknya. Menyalakannya dan memencet ikon WhatsApp, mencari kontak seseorang disana. “Cobaِkirimِchat ke diaِduluِdeh”ِSagaraِmulaiِmengetikِpesanِkepadaِ temannya. Ajiksar, akrab disapa Aji. Teman yang sudah dekat dan akrab dengannya sedari kecil. “Ji,ِgua kehilangan inspirasi lagi... Lo mau temenin gua ke kafe sekitaran sini nantiِsore?”ِSelesaiِmengirimِpesan,ِbelumِterlihatِadanyaِresponِdariِAji.ِ Sagara menyenderkan kepalanya ke tembok, memijat pelipisnya pelan. Beberapa menit kemudian, terdengar suara notifikasi yang Sagara tunggu. “Ohِok, siap.”ِSagara mengirim stiker sebagai respon dan langsung mematikan handphone nya. Menaruhnya di atas nakas dan langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur dengan nyaman, perlahan Sagara menutup matanya dan mulai tertidur dengan lelap. *** Siang berganti sore, Sagara yang baru selesai memakai pakaiannya langsung turun ke bawah. Sagara memakai turtleneck polos dengan paduan celana jeans hitam serta kacamata bulat miliknya, ia pergi ke arah kamar apartemen milik Aji yang
42 ada di lantai bawah. Kamar mereka hanya terpisah satu lantai, Sagara dengan segera
43
44 mengetuk pintunya. Dan akhirnya setelah beberapa ketukan, pintu dibuka perlahan, memperlihatkan Aji disana. “Jadi,ِmauِberangkatِsekarang?” Tanya Aji, Sagara menganggukan kepalanya “Berangkatِmasing-masing ya,”ِSpontan Aji mengernyitkan dahinya dan terkekeh geli. “Padahalِtadinyaِmauِnebeng lo haha, tapi yaudah.ِAyoِpergi,”ِMerekaِberduaِ turun ke tempat bagian parkiran motor. Setelah itu mereka menyalakan mesin motor masing-masing dan berangkat pergi ke kafe yang sudah ditentukan. 20 menit kemudian, akhirnya mereka sampai. Melangkahkan kaki mereka ke dalam kafe, dan mencari tempat yang kosong. Sebelum duduk, Aji sempat memesan dua frappuccino untuk mereka minum sembari mengobrol. “Jadi,ِkaliِiniِkamuِsusahِdapat inspirasiِlagi?”ِTanyaِAji. “Iya,ِkaliِiniِgua niatnya mau lukis sesuatu yang lebih menarik dari sebelumnya. Lo adaِide?”ِAjiِmenggelengkanِkepalanya. “Gak,” “Tapiِmungkin,ِaku bakal ajak kamu buat jalan-jalan keliling Bandung besok. Kamuِgaadaِkegiatanِkan?”ِSagaraِmenaikkanِsalahِsatuِalisnya. “Maksudِlo, gua coba buat cari inspirasi dari jalan-jalan sekitaran Bandung? Boleh sih, untung juga besok gaada kegiatan.ِAman,”ِJawab Sagara. Aji hanya menganggukan kepalanya. Lalu kasir di kafe itu menyeru nama Aji, mengatakan bahwa frappuccino yang mereka pesan sudah jadi. Aji langsung mengambil minuman itu dan lanjut berbincang dengan Sagara hingga larut malam. *** Besoknya, saat sore hari lagi. Sagara dan Aji sedang mengelilingi kota romansa, alias kota Bandung. Berbarengan dengan hembusan angin sejuk dan langit yang terlihat mulai menggelap menemani para masyarakat yang tengah sibuk dengan
45 kesibukan masing-masing. Mereka berangkat menggunakan motor milik Aji, segera memulai petualangan kecil yang mereka buat. Dimulai dari mengelilingi pasar dan toko-toko yang ada disana, sebenarnya Sagara menemukan banyak objek menarik untuk dilukis, tapi sayang sekali Sagara harus mencari objek yang lain, dia ingin mencoba sesuatu yang baru. Dan sebelum akhirnya dia melewati satu gedung yang menarik, dengan spontan, Sagara meminta Aji untuk berhenti. Aji yang sadar, memberhentikan motornya di pinggir jalan gedung itu. “KenapaِGar?ِTiba-tibaِbanget,”ِSeruِAji,ِiaِsempatِpanikِkarenaِulahِSagaraِ tadi. Sagara terdiam, sibuk mengamati gedung itu. Menurutnya gedung itu unik, dan akhirnya dia menengok ke arah Aji. Menanyakan apa nama gedung itu, dan dibalas oleh Aji. Ia menjelaskan bahwa Gedung itu adalah Museum Gedung Sate, Aji menjelaskan bahwa gedung itu dulu adalah tempat kantor departemen milik Belanda saat masa penjajahan. Aji menjelaskan secara detail apa saja yang ada di dalam museum itu, seperti bagaimana awal gedung itu dibangun hingga peninggalan yang ditinggalkan Belanda jaman dahulu. Seperti menceritakan sejarah tentang para masyarakat Indonesia yang pernah berada di gedung itu, dan sekarang gedung itu menjadi kantor milik walikota. Mengapa Aji bisa tahu? Karena saat masa SMP dirinya dan teman-teman satu angkatannya pernah pergi ke museum ini. Sagara sedari tadi mendengarkan dengan seksama, seperti tidak mau tertinggal apapun sama sekali. Selesai menjelaskan, ia hanya menganggukkan kepala dengan mata yang berbinar. “Gua baru tau sejarah ini. Thanks udah kasih tau,”ِSeruِSagara. “Ya...ِJadiِkamuِudahِnemu inspirasiِdariِceritaِakuِtadi?”ِSagaraِmengganggukِ kepalanya cepat, Aji hanya tersenyum tipis. “Yaudah, ayo pulang. Anggep ajaِmisinyaِsukses,”ِMerekaِakhirnyaِpulangِ setelah melakukan beberapa jam perjalanan mengelilingi kota bak romansa dengan keadaan damai. *** Malamnya, Sagara mengambil kanvas, cat air dan sebuah palet warna. Ia berniat untuk menggambar museum gedung sate yang tadi ia lihat, dengan sedikit bantuan dari internet, Sagara dengan lihai menggerakkan pensil mekanik ke arah
46 kesana dan kemari di kanvas itu, membuat sketsa acak sebelum ia tebalkan nanti. Setelah selesai, ia mulai memberi warna dasar dan menebalkannya sedikit. Sagara sangat serius malam itu, ia ditemani oleh suara rintik hujan sekaligus suara angin yang terdengar sedikit kasar karena terbawa arus hujan malam itu. Terlihat peluh keringat dan tangan yang sedikit menggigil karena cuaca malam tak menghentikan usahanya. Beberapa jam kemudian, lukisan yang dibuat sudah jadi. Tangan yang penuh dengan coretan cat dan otot-otot lengan yang sedikit kaku, menunjukkan usaha keras Sagara ke dalam lukisan itu. Dengan senyum lebarnya, Sagara mengambil kanvas itu secara perlahan dan menggantungkannya ke tembok kamarnya. Sagara benar-benar bangga, ia tidak menyerah walaupun kehilangan inspirasi. Satu lagi, ia benar-benar beruntung memiliki teman seperti Aji. “If you lost an precious things, never give up. You’ll never know until you give it a try.”
47 Tradisi Budaya Di Perdesaan dan Perkotaan Callista putri kayana Diِ sebuahِ desaِ yangِ dikelilingiِ olehِ sawah,ِ hiduplahِ seorangِ gadisِ bernama AmiraِPutriِAmanda.ِIaِadalahِgadisِdesaِyangِceriaِdanِpenuhِsemangat.ِ Meskipunِ hidupِ dalamِ keterbatasan,ِ Amiraِ memilikiِ cita-citaِ tinggiِ untukِ berkuliahِdiِJakartaِdanِmenjadiِseorangِdokterِyangِdapatِmembantuِmasyarakat.ِ Amiraِmemilikiِsahabatِbernama BulanِMaharani.ِSetiapِpagi,ِAmiraِberangkatِkeِ sekolahِ bersamaِ sahabatnya,ِ Bulan.ِ Merekaِ berduaِ mengayuhِ sepedaِ denganِ semangat,ِmenyelusuriِjalanِdesaِyangِtenang. "Pagi,ِayoِkeِsekolahِbarengِMir"ِucapِBulanِkepadaِAmira "AyoِBulan"ِjawabِAmira Sesampainyaِ diِ sekolahِmerekaِ berduaِ dudukِ diِ bangkuِ depan.ِ Hariِituِ adalahِ hariِ yangِ dinantikanِ olehِ semuaِ siswa.ِ Merekaِ dudukِ denganِ rapi,ِ menungguِ belِ berbunyi.ِ Ketikaِ belِ berbunyi,ِ menandakanِ bahwaِ jamِ pembelajaranِtelahِdimulai.ِGuruِmerekaِbernamaِbuِDesiِmasukِkeِdalamِkelas.ِ HariِiniِadalahِpembelajaranِBahasaِIndonesiaِyaituِmataِpembelajaranِkesukaaanِ Amira. "SelamatِPagiِanak-anak.ِHariِiniِkitaِakanِmemulaiِmateriِbaruِtentangِ teksِeksplanasi"ِJelasِbuِDesi. IbuِDesiِmemulaiِpelajarannyaِdenganِpenuhِsemangat,ِmenjelaskanِdenganِjelasِ danِmenggunakanِcontoh-contohِyangِdapatِdipahamiِsemuaِsiswa. "Baiklah,ِ sekarangِ mariِ kitaِ lihatِ beberapaِ soalِ tentangِ strukturِ teksِ eksplanasi."ِUcapِBuِDesi Buِ Desiِ mulaiِmenuliskanِ beberapaِ soalِ diِ papanِtulisِ danِmemberikanِ kesempatanِkepadaِsiswaِuntukِmenjawab. "Siapaِyangِbisaِmenjawabِpertanyaanِnoِ1,"ِucapِbuِDesi ِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ"Sayaِbisaِmenjawabnyaِbu"ِAmiraِlangsungِmengacungkanِtanganِnya ِِِِِِِِ "Iyaِ silahkanِ nak."ِ Buِ desiِ mempersilahkanِ amiraِ untukِ menjawabِ pertanyaanِnyaِِ Amiraِ punِmenuliskanِjawabanِ nyaِ diِ papanِtulis.ِ JawabanِAmiraِtepatِ sekaliِ akhirnyaِ iaِ mendapatkanِ 2ِ pointِ tambahanِ dariِ Buِ Desi.ِ Danِ jamِ pembelajaranِ punِ telahِ selesai.ِAmiraِ danِ Bulanِ pergiِ keِ kantinِ untukِ makanِ siang.ِ Sesampainyaِ diِ kantinِAmiraِmencariِtempatِ dudukِ danِBulanِmemesanِ makananِuntukِmerekaِberdua.ِSetelahِmakananِdatang,ِmerekaِmakanِbersama.
48 Jam istirahat telah berakhir, seluruh siswa memasuki kelas nya masingmasing. Jam pembelajaran kedua seluruh siswa dipulangkan dikarenakan seluruh guru akan rapat. Amira dan Bulan melajukan sepedanya untukِpulangِbersama.ِAkanِtetapi,ِdiِpertengahanِjalanِBulanِpamitِkepadaِAmiraِ untukِmennjemputِadiknya,ِBintang. "Akuِduluanِyaِmir,ِmauِjemputِBintang,"ِucapِBulan ِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ "Iyaِhati-hatiِbulanِsalamِuntukِadikmu."ِAmiraِpunِmenjawabِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ ِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ Laluِ Amiraِ melanjutkanِ melajukanِ sepedanyaِ untukِ sampaiِ keِ pasar,ِ sesampainyaِdisanaِtanpaِrasaِlelahِamiraِlangsungِmelayaniِparaِpembeli.ِِِِ "Ibuِistirahatِsaja,ِbiarِAmiraِsajaِyangِmelanjutkan,"ِucapِAmiraِ ِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ"Tidakِusahِnakِibuِkuatِkok"ِjawabِIbuِAmira ِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ "Tidakِ apa-apaِ bu,ِ biarِAmiraِ sajaِ yangِ melanjutkanِ ibuِ istirahatِ saja,"ِِ ucapِAmira ِِِِِِِِِِِِِ"Terimaِkasihِbanyakِnak,ِmaafِtidakِseharusnyaِkamuِmelakukanِhalِitu."ِ JawabِIbuِAmira Soreِ punِ tibaِ pekerjaanِ merekaِ punِ selesai,ِ sebelumِ pulangِ merekaِ menyempatkanِmembeliِnasiِdanِtahu,ِkarenaِuangِyangِmerekaِmilikiِtidakِcukupِ untukِmembeliِayam.ِSesampainyaِdiِrumah,ِAmiِmembantuِibunyaِmenyiapkanِ makanِ malam.ِAkanِ tetapi,ِAmiraِ danِ Ibuِ menungguِAyahِ pulangِ dariِ sawah.ِ Akhirnyaِ sebelumِ maghribِ ayahِAmiraِ sampaiِ diِ rumah.ِAyah,ِ Ibu danِAmiraِ melaksanakanِ sholatِ maghribِ berjamaah.ِ Setelahِ melaksanakanِ sholatِ maghribِ berjamaah,ِmerekaِmenikmatiِmakanِmalamِbersamaِsambilِberbincang-bincang,ِ mungkinِmenurutِkalianِsederhanaِkarenaِmerekaِhanyaِmenikmatiِ3ِbuahِtahuِ danِsepiringِnasi.ِ ِِِِِِِAkanِtetapi,ِbagiِAmiraِiniِadalahِmomenِyangِakanِsangatِdiِkenang,ِAmiraِ sangatِberuntungِmemiliki AyahِdanِIbuِyangِsangatِpengertianِkepadanya, meskiِ ekonomiِkeluargaِmerekaِtidakِtercukupiِakanِtetapiِsamaِsekaliِtidakِmengurangiِ kasihِsayangِAyahِdanِIbuِnyaِkepadaِAmira.ِِِِِِِِِِِِِِ ِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِِ Setelahِ berbincang-bincangِ hangatِ ituِ selesai, Amiraِ memutuskanِ untukِ beristirahat,ِtidakِlupaِ sebelumِ beristirahatِAmiraِmelaksanakanِ shalatِisyaِ danِ berdoaِuntukِkeduaِorangِtuanya ***
49 Pagiِpunِtiba,ِAmiraِtelahِsiapِuntukِberangkatِkeِsekolahِtidakِlupaِAmiraِ berpamitanِsertaِmenciumِtanganِkeduaِorangِtuaِnya. "AyahِibuِAmiraِpergiِke sekolahِduluِya,ِdoakanِsupayaِAmiraِsuksesِdanِbisaِ membahagiakanِayahِdanِibu,”ِucapِAmira "Iyaِnakِhatiِhatiِya,ِayahِadaِsedikitِuangِsakuِuntukِkamuِjajanِdisekolahِ nak."ِJawabِayahِAmira "Semangatِuntukِmeraihِcitaِcitaِyaِanakِibu,ِkamuِpastiِbisaِnak."ِUcapِ IbuِAmira "Terimaِkasihِbanyakِayahِdanِibu,ِamiraِsayangِkalian."ِKataِAmira SepertiِbiasaِAmiraِmenaikiِsepedaِkesayanganِnya,ِsepedaِyangِayahِnyaِ berikanِ padaِ saatِAmiraِ mendapatkanِ juaraِ kelasِ ketikaِAmiraِ kelasِ 2ِ SMA,ِ sepedaِituِmerupakanِ hasilِ kerjaِayahِ nyaِmeskipunِ hanyaِ sepedaِ bekas, tetapiِ Amiraِselaluِmenjagaِdanِmembersihkannya.ِِ SesampainyaِdiِsekolahِAmiraِlangsungِdiِsambut olehِsahabatnya,ِBulan.ِ Merekaِ akhirnyaِ masukِ ke dalamِ kelasِ bersama,ِ sambilِ menungguِ belِ masukِ AmiraِdanِBulanِmenghabiskanِwaktuِmerekaِdenganِcerita,ِdiِmulaiِdariِBulanِ yangِbertanyaِkepadaِAmira. "Mirِnantiِsetelahِkitaِlulusِkamuِmauِkuliahِdimana?"ِtanyaِBulan "InsyaِAllahِakuِakanِkuliahِdiِJakartaِlan,ِdoakanِsajaِya..."ِucapِAmira "Wahِbagusِitu juga impianِkuِmir,ِtapi..ِakuِtidakِmauِmembebankanِibuِ danِayah"ِkataِBulan "Akuِjugaِtidakِmauِmembebankanِkeduaِorangِtuaku,ِmakaِdariِituِakuِ menabungِmeskiِjumlahِ nya sedikit,ِ denganِ harapanِlama-lamaِjadiِ bukit.ِAkuِ yakinِkalauِusahaِdiِiringkanِdenganِdoa,ِmakaِakanِberhasil,"ِjawabِAmira "Kamuِ hebatِMir,ِ aku banggaِ samaِ kamu, semangatِterusِ yaِmirِ untukِ meraihِapaِyangِkamuِinginkan."ِUcap Bulan "TerimaِkasihِbanyakِBulan...ِKamuِjugaِya,ِjanganِpatahِsemangat.ِAkuِ disiniِselaluِdoaِyangِterbaikِbuatِkamu,”ِbalasِAmiraِkepadaِBulan Percakapanِituِ diِtutupِ denganِ pelukanِ hangatِAmiraِ danِBulan,ِ sampaiِ merekaِtidakِsadarِbahwaِbelِmasukِtelahِberbunyi.ِMerekaِmelepasِpelukanِituِ laluِmengambilِ bukuِPelajaran.ِHariِiniِ kelasِAmiraِ olahraga,ِ seluruhِ siswaِ diِ kelasِAmiraِbergegasِuntukِpergiِkeِlapangan.ِ
50 *** Sesampainyaِ diِ lapangan,ِ seluruhِ siswaِ melakukanِ pemanasanِ danِ berlariِ mengelilingiِ lapangan.ِ Setelahِ ituِ pakِ Jidan,ِ guruِ olahragaِ diِ sekolahِ Amiraِ menjelaskanِdanِmempraktekkanِolahragaِbuluِtangkisِdanِmemintaِseluruhِsiswaِ untukِ membentukِ 2ِ orangِ kelompok danِ akanِ dipanggilِ olehِ pakِ Jidanِ untukِ melakukanِpraktek.ِSelesaiِolahraga,ِseluruhِsiswaِdiِkelasِAmiraِbergegasِuntukِ menggantiِ pakaianِ olahraga.ِ Setelahِ selesaiِ menggantiِ pakaianِ olahraga,ِAmiraِ danِBulanِpergiِkeِkantinِuntukِmakanِbersamaِdanِberdiskusiِmengenaiِperayaanِ Maulidِ Nabiِ Muhammadِ SAWِ yangِ akanِ dirayakanِ diِ desaِ mereka.ِ Diِ desaِ merekaِyangِkayaِakanِwarisanِbudaya,ِterdapatِduaِtradisiِyangِsangatِdihormatiِ danِdirayakanِsetiapِtahunِnya.ِ *** Belِ berbunyiِ menandakanِ jamِ istirahatِ telahِ selesai.ِ Jamِ pelajaranِ selanjutnyaِadalahِmatematika. Seusai pelajaran, AmiraِdanِBulanِpulangِkerumahِ masing-masingِdanِmenggantiِpakaianِmereka.ِSetelahnya,ِAmiraِpergiِkeِrumahِ BulanِuntukِmengajakِBulanِberangkatِbersamaِkeِmasjid.ِ “Bulan,ِ maukahِ kamuِ pergiِ keِ Masjidِ untukِ membuatِ Panjangِ Muludِ untukِdesaِkita,? TanyaِAmiraِkepadaِBulan “Tentuِ sajaِakuِmauِMir.ِTungguِ sebentar,ِakuِinginِ berpamitanِ kepadaِ ayahِdanِibukuِterlebihِdahulu.”ِJawabِAmira AmiraِmembalasِucapanِBulanِdenganِanggukanِkepala. Keesokanِharinya,ِdesaِmerekaِdipenuhiِdenganِsemangatِdanِkebahagiaanِ saatِperayaanِPanjangِMuludِdimulai.ِDenganِusahaِdanِkerjaِkerasِAmira,ِBulanِ danِ wargaِ desaِ acaraِ tersebutِ menjadiِ suksesِ danِ membawaِ kebahagiaanِ bagiِ seluruhِwargaِdesa.ِ *** Hariِkelulusanِpunِtiba,ِAmiraِsangatِsenangِkarenaِAmiraِmenjadiِlulusanِ terbaikِ diِ angkatanِ nya.ِSetelahِ acaraِ wisudaِ selesai. Dirumah,ِAmiraِmemintaِ izinِkepadaِayahِdanِibunyaِuntukِmelanjutkanِkuliahِdiِJakarta. "Ayahِ danِ Ibu,ِ ِ Amiraِ mauِ mintaِ izinِ kepadaِ ayahِ danِ ibuِ untukِ melanjutkanِkuliahِdiِJakarta.ِAyahِdanِibuِgausahِkhawatirِakanِbiayaِnyaِkarenaِ AmiraِsudahِmenabungِsebelumnyaِdanِAmiraِjugaِjanjiِakanِmenjagaِdiriِAmiraِ ketikaِdiِJakartaِnanti."ِJelasِAmiraِkepadaِayahِdanِibunya "Baiklahِnak,ِayahِdanِibuِizinkanِAmiraِuntukِberkuliahِdiِJakarta.ِKapanِ AmiraِakanِpergiِkeِJakartaِuntukِdaftarِkuliah?."ِTanyaِayahِdanِibuِ