Elang menggenggam tanganku semakin erat.
“Dara, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Aku semakin lemas.
Aku mencoba bicara. “Elang, aku…” aku nggak sanggup melanjutkan kata2ku.
“Aku juga sayang sama kamu…” akhirnya aku mengatakan juga. Aku tertunduk malu.
Perlahan aku mengangkat wajahku. Senyum lebar menghiasi wajah Elang. Dia benar2 tampan.
“Makasih, Ra! Makasih!” serunya senang.
***
Dear Dara,
Gimana, Ra? Lo seneng kan dengan surprise yang gue kasih ke elo? Tapi gue yakin, yang lo
tunggu2 akhir’y terjadi juga, kan?
Tapi… sori kalo gue bikin lo kaget dan mungkin shock, hehe…
Gue mau minta maaf kalo gue penah ngecewain lo.
Gue mau berterima kasih ke lo, karena lo udah bikin gue berubah. Gue berusaha ngejauhin rokok
dan minuman keras yang selama ini jadi teman setia gue. Dan yang paling penting, gue sekarang
udah nggak pernah berantem lagi.
Gue harus ngomong sori lagi nih, Ra. Gue mau pamit ke elo. Gue harus pergi ke Amrik.
Mungkin saat lo baca surat ini, gue lagi terbang ke Amrik. Gue pergi mungkin… yah, kira2
setaunan, kalo semua’y beres.
Okay, I think that’s enough… Semoga lo bahagia sama Elang, awet sampe kakek-nenek.
Amien…
Your rebel friend,
Cakra
Aku tercengan membaca surat yang dititipkan Cakra untukku lewat Elang. Setelah kemarin aku
melewati malam yang begitu indah bersama Elang, Cakra nggak muncul lagi di hadapanku.
Kenapa dia harus pergi ke Amrik?
“Kenapa?” gumamku.
Elang merangkul pundakku dengan lembut.
“Cakra harus pergi, Ra. Tapi kita harus doain yang terbaik untuk dia. Dia udah ngelakuin sesuatu
yang berarti buat kita.” Kata Elang.
“Tapi kenapa dia harus pergi? Kenapa dia nggak ngasih tau alasannya apa?” tanyaku.
Elang diam.
“Kenapa, Lang?” tanyaku lagi.
Elang menatapku dengan lembut.
“Cakra sakit.” Katanya. “Dia harus berobat.”
“Sakit?” pekikku pelan.
“Iya… Rokok dan minuman keras berlebihan sudah merusak hati dan ginjalnya. Makanya, kita
doain biar Cakra cepat sembuh.” Kata Elang pelan. “Kita masih bisa kirim e-mail kok atau
chatting, kan ada Facebook, Twitter, YM… Jadi kamu nggak usah kuatir.”
Elang tersenyum. Manis sekali.
Hatiku memang untuk Elang. Tapi tanpa kamu, Cakra, aku nggak akan bisa mengutarakan
perasaanku ke Elang.
Thanks, Cakra… I hope you will come back…
Elang merangkulku semakin erat.
“Supaya Cakra nggak sia-sia bikinin rencana buat aku, aku nggak akan nyakitin kamu, Ra…”
katanya. “I love you, Dara.”
“I love you too, Elang…”
-END-
Sumber:
https://www.facebook.com/pages/Kumpulan-cerbungcerpen-dan-novel-
remaja/398889196838615?fref=photo