KARATE
Oleh: Yoan Syahla Talitha X AK 2
1. Definisi Karate
Karate (空手道) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Karate terdiri dari atas
dua kanji, yaitu „Kara‟ (空) yang berarti „kosong‟, dan „te‟ (手) yang berarti „tangan'.
Kedua kanji tersebut (空手) bermakna “tangan kosong”
(pinyin: kongshou). Karate berarti sebuah seni bela diri yang memungkinkan seseorang
mempertahankan diri tanpa senjata.
Menurut Gichin Funakoshi, karate mempunyai banyak arti yang lebih condong
kepada hal yang bersifat filsafat. Istilah “kara” dalam karate bisa pula disamakan seperti
cermin bersih yang tanpa cela yang mampu menampilkan bayangan benda yang
dipantulkannya sebagaimana aslinya. Ini berarti orang yang belajar karate harus
membersihkan dirinya dari keinginan dan pikiran jahat. Selain itu, makna kata “kara”
pada kar ate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun
demikian, sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani
maju sekalipun berjuta lawan tengah menunggu.
Akhiran kata “Do” pada karate-do memiliki makna jalan atau arah. Suatu filosofi yang
diadopsi tidak hanya oleh karate tapi juga oleh kebanyakan seni bela diri Jepang dewasa
ini (Kendo, Judo, Kyudo, Aikido, dll).
Demikianlah makna yang terkandung dalam karate. Karena itulah seseorang yang
belajar karate sepantasnya tidak hanya memperhatikan sisi teknik dan fisik, melainkan
juga memperhatikan sisi mental yang sama pentingnya. Seiring usia yang terus
bertambah, kondisi fisik akan terus menurun. Namun kondisi mental seorang karateka
yang diperoleh lewat latihan yang lama akan membentuk kesempurnaan karakter.
2. Sejarah Karate
Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini
pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke
Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei
Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang
menjadi „karate‟ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang.
(Pada saat itu, Okinawa belum menjadi bagian Jepang).
Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi untuk pertama kalinya memperagakan Te atau
Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokohtokoh seperti
Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di
Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan
alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Masutatsu
Oyama kemudian secara resmi juga mendirikan aliran Karate baru yang dinamakan
Kyokushin pada tahun 1956.
Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari Cina,
sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami
perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat
upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II,
Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dun ia dan menjadi olah raga seni bela diri
paling populer di seluruh dunia.
Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga karate seluruh Jepang adalah
JKF. Adapun organisasi yang mewadahi karate seluruh dunia adalah WKF
(dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF
( International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun
fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan karate yang bersifat "tanpa
kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak
langsung".
3. Sejarah Karate di Indonesia
Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh
mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air setelah menyelesaikan
pendidikan mereka di Jepang. Pada tahun 1963, beberapa mahasiswa Indonesia, antara
lain: Baud AD Adikusumo (seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M.
Nakayama, JKA Shotokan), Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan dan Ottoman Noh,
mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mulamula memperkenalkan karate
(aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka
namakan Persatuan Olahraga Karate
Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta. Baud AD
Adikusumo kemudian tercatat sebagai pelopor seni beladiri Karate di Indonesia dan juga
pendiri Indonesia Karate-DO (INKADO).
Setelah beliau, tercatat nama putra-putra bangsa Indonesia yang ikut berjasa
mengembangkan berbagai aliran Karate di Indonesia, antara lain: Sabeth Mukhsin dari
aliran Shotokan, pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dan Federasi Karate
Tradisional Indonesia (FKTI), dan juga adalah Anton Lesiangi (sama-sama dari aliran
Shotokan), pendiri Lembaga Karate-Do Indonesia/LEMKARI.
Aliran Shotokan adalah yang paling populer di Indonesia. Selain Shotokan, Indonesia
juga memiliki perguruan-perguruan dari aliran lain yaitu Wado dibawah asuhan Wado-
ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh C.A. Taman dan Kushin-ryu
Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu. Selain itu juga
dikenal Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryu, dan Nardi
T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu
juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu (dengan tokohnya Dr.
Markus Basuki) dan SHINDOKA (dengan tokohnya Bert Lengkong). Selain aliran-aliran
yang bersumber dari Jepang di atas, ada juga beberapa aliran Karate di Indonesia yang
dikembangkan oleh putra-putra bangsa Indonesia sendiri, sehingga menjadi independen
dan tidak terikat dengan aturan dari Hombu Dojo (Dojo Pusat) di negeri Jepang.
Disamping ex-mahasiswa-mahasiswa tersebut di atas, orang-orang Jepang yang
datang ke Indonesia dalam rangka usaha telah pula ikut memberikan warna bagi
perkembangan karate di Indonesia. Mereka-mereka ini antara lain: Matsusaki
(Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969), Hayashi (Shitoryu-1971) dan Oyama
(Kyokushinkai-1967).
Karate ternyata memperoleh banyak penggemar, yang implementasinya terlihat
muncul dari berbagai macam organisasi (Pengurus) karate, dengan berbagai aliran
seperti yang dianut oleh masing-masing pendiri perguruan. Banyaknya perguruan karate
dengan berbagai aliran menyebabkan terjadinya ketidak cocokan diantara para tokoh
tersebut, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PORKI. Namun akhirnya
dengan adanya kesepakatan dari para tokoh-tokoh karate untuk kembali bersatu dalam
upaya mengembangkan karate di tanah air sehingga pada tahun 1972 hasil Kongres ke IV
PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga
Karate-Do Indonesia (FORKI).
Sejak FORKI berdiri sampai dengan saat ini kepengurusan di tingkat Pusat yang
dikenal dengan nama Pengurus Besar/PB, organisasi ini telah dipimpin oleh 6 orang Ketua
Umum dan periodisasi kepengurusannyapun mengalami 3 kali perobahan masa
periodisasi yaitu: periode 5 tahun (ditetapkan pada Kongres tahun
1972 untuk kepengurusan periode tahun 1972 – 1977), periodisasi 3 tahun
(ditetapkan pada kongres tahun 1997 untuk kepengurusan periode tahun 1997 – 1980),
dan periodisasi 4 tahun (Berlaku sejak kongres tahun 1980 sampai sekarang).
Adapun mereka-mereka yang pernah menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal
(Umum) FORKI sejak tahun 1972 adalah sbb :
PERGURUAN KARATE ANGGOTA FORKI
1. AMURA
2. BKC (Bandung Karate Club)
3. BLACK PANTHER KARATE INDONESIA
4. FUNAKOSHI
5. GABDIKA SHITORYU INDONESIA (Gabungan Beladiri Karate-Do
Shitoryu)
6. GOJUKAI (Gojuryu Karate-Do Indonesia)
7. GOJU RYU ASS (Gojuryu Association)
8. GOKASI (Gojuryu Karate-Do Shinbukan Seluruh Indonesia)
9. INKADO (Indonesia Karate-Do)
10. INKAI (Institut Karate-Do Indonesia)
11. INKANAS (Intitut Karate-Do Nasional)
12. KALA HITAM
13. KANDAGA PRANA
14. KEI SHIN KAN
15. KKNSI (Kesatuan Karate-Do Naga Sakti Indonesia)
16. KKI (Kushin Ryu M. Karate-Do Indonesia)
17. KYOKUSHINKAI (Kyokushinkai Karate-Do Indonesia)
18. LEMKARI (Lembaga Karate-Do Indonesia)
19. PERKAINDO
20. PORBIKAWA
21. PORDIBYA
22. SHINDOKA
23. SHI ROI TE
24. TAKO INDONESIA
25. WADOKAI (Wadoryu Karate-Do Indonesia)
(Lambang Lembaga Karate-Do Indonesia)
PB FORKI beberapa kali mendapat kepercayaan menyelenggarakan even
internasional, diantaranya :
1. Menjadi tuan rumah APUKO II tahun 1976 dilaksanakan di Jakarta.
2. Menjadi tuan rumah APUKO VII tahun 1987 dilaksanakan di Jakarta.
3. Menjadi tuan rumah APUKO Junior tahun 1991 dilaksanakan di Jakarta.
Di samping even-even tersebut, PB FORKI dipercayakan juga oleh KONI Pusat sebagai
penyelenggara pertandingan karate pada even Sea Games dimana Indonesia menjadi
tuan rumah, yaitu masing-masing :
1. Sea Games XIV tahun 1987 di Jakarta. 2. Sea
Games XIX tahun 1997 di Jakarta.
PB FORKI pernah menggelar even Internasional di luar agenda resmi dari WKF dan
AKF sebagai inisiatif sendiri dari PB FORKI yaitu “Indonesia Open Karate Tournamen“ yang
dilaksanakan di Jakarta tahun 2002.
4. Aliran Karate
Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei /Japan Karatedo Federation (JKF) dan World
Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:
a. Shotokan
Shotokan (松濤館流 Shōtōkan-ryū?) adalah sebuah aliran karate yang dikembangkan
oleh Gichin Funakoshi (1868 –1957) dan anaknya Gigo (Yoshitaka) Funakoshi (1906 –
1945). Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai
gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan
Funakoshi.
(Gichin Funakoshi, Pelopor Aliran Shotokan)
Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke
Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan
karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep
Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan
kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan
cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan
dan tangkisan dengan lawan.
b. Goju-Ryu
Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik
lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang
memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang
(setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun
Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang
sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-
ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus
bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan
SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang
dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan
tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
c. Shito-Ryu
Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya
KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari
aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya.
Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA.
Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi,
mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat
seperti Goju.
d. Wado-Ryu
Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri
Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian
persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga
mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam
pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu
tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir
(bukan tangkisan keras), dan kadang-kadang menggunakan teknik Jujutsu seperti
bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan
FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan
yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.
Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya karate yang utama karena turut serta
dalam pembentukan JKF dan WKF. Sedangkan aliran karate lain yang besar walaupun
tidak termasuk dalam "4 besar JKF" antara lain adalah:
a. Kyokushin
Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi,
aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa
mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini
didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran
tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut
untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami
arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan
(budo), aliran ini juga sering dikenal sebagai salah satu aliran karate paling keras. Aliran
ini menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana
karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri
telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk
melakukan 5-10 kumite berturut-turut.
b. Shorin-ryu
Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin
Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad
ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri
Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak persamaannya
dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorinryu juga mengajarkan
bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo.
c. Uechi-ryu
Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri
China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi
Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan
Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih).
Pada zaman sekarang, karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran
olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur
sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah
raga.
5. Latihan/Teknik Karate
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
a. Kihon
Kihon (基本:きほん, Kihon) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Kihon adalah
latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang, dan menangkis.
Praktisi karate harus menguasai kihon dengan baik sebelum mempelajari kata dan
kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan
bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah
menguasai seluruh kihon dengan baik.
b. Kata
Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata adalah latihan
jurus atau bunga karate. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau
aerobik biasa, tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung.
Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda. Dalam Kata ada yang
dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan
dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap
Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama
Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga
berbeda.
Kata yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat.
Kata memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam
karate. Gichin Funakoshi mengambil kata dari perguruan Shorei dan Shorin. Shotokan
memiliki 26 kata yang terus dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak.
Masing-masing kata mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi
tiap praktisi Shotokan untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.
c. Kumite
Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite adalah
latihan tanding atau sparring. Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk
biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat
pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas ( jiyu Kumite) praktisi
mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau
( yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau
Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah
mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga
pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan
untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk
melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi
Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk
persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam
pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, semua teknik
dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang
titik vital.
6. Pertandingan Karate
Ketentuan Umum Pertandingan Karate
Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
a. Kumite (perkelahian) putera dan puteri
Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat
badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera).
Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan
kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan
dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali
dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak
perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang
paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.
b. Kata (jurus) putera dan puteri
Pada pertandingan kata, yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik
untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan Kata pilihan atau Kata wajib dalam peraturan
pertandingan. Para peserta harus memperagakan Kata wajib. Bila lulus, peserta akan
mengikuti babak selanjutnya dan dapat memperagakan Kata pilihan.
Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu.
Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan Kata, para peserta
diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius
karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.
Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata
yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-
ryu, dengan perincian sebagai berikut:
Shotokan : Kankudai dan Jion.
Wado-ryu : Seishan dan Chinto.
Goju-ryu : Saifa dan Seipai.
Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.
Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata
JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh
perguruan 4 besar di atas.
Luas Lapangan
Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan
ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.
Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.
Pada Kumite Shiai, yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari
WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut
dibagi ke dalam tiga warna yaitu putih, merah, dan biru. Matras yang paling luar adalah
batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas
tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai
adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi
ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling
banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.
Peralatan dalam Pertandingan Karate
Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan karate
1. Pakaian karate (karategi) untuk kontestan
2. Pelindung tangan
3. Pelindung tulang kering
4. Ikat pinggang (Obi) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao
5. Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
o Pelindung gusi (di beberapa pertandingan menjadi keharusan) o
Pelindung tubuh untuk kontestan putri o Pelindung selangkangan untuk
kontestan putera
6. Peluit untuk arbitrator/alat tulis
7. Seragam wasit/juri o Baju putih o Celana abu-abu o Dasi merah
o Sepatu karet hitam tanpa sol
8. Papan nilai
9. Administrasi pertandingan
10. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat
waktu (stop watch).
Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah pelindung
selangkangan untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak
diperkenankan.
7. Falsafah Karate
a. Rakka (Bunga yang berguguran)
Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud setiap
teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan
menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan
jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan
jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si
pengamal karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas
itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan
itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri.
b. Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air)
Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga
dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela
diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila
bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau
yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danau
itu akan kabur.
Berikut ini adalah filosofi karate dari aliran shotokan:
Shoto Niju Kun
Karate-do wa rei ni hajimari, rei ni owaru koto wo wasuruna
Karate diawali dan diakhiri dengan sopan santun
Karate ni sente nashi
Karate tidak mengenal sikap menyerang lebih dulu
Karate wa gi no tasuke
Karate adalah sebuah pertolongan untuk keadilan
Mazu jiko wo shire, shikoshite tao wo shire
Pertama-tama kenali dirimu sendiri baru orang lain
Gijutsu yori shinjutsu
Semangat lebih penting daripada teknik
Kokoro wa hanatan koto wo yosu
Bersiaplah untuk membebaskan pikiranmu
Wazawai wa getai ni shozu
Kecelakaan muncul dari kecerobohan
Dojo nomi no karate to omou na
Jangan berpikir karate hanya didalam dojo saja
Karate no jugyo wa issho de aru
Berlatih karate membutuhkan waktu seumur hidup
Arai-yuru mono wo karate kaseyo, soko ni myo-mi ari
Ubah segala hal seperti karate karena disanalah rahasianya
Karate wa yu no goto shi taezu natsudo wo ataezareba moto no mizu ni kaeru
Karate sama dengan air panas. Jika tidak kau berikan panas yang tetap maka air itu akan
dingin kembali.
Katsu kangae wa motsu na makenu kangae wa hitsuyo
Jangan berpikir harus menang namun pikirkan agar tidak kalah
Teki ni yotte tenka seyo
Berubahlah sesuai dengan gerakan lawanmu
Tatakai wa kyojutsu no soju ikan ni ari
Memenangi pertarungan bergantung dari kemampuanmu mengontrol segala taktik
Hito no te ashi wo ken to omoe
Pikirkan kedua tangan dan kaki lawan seperti pedang
Danshi mon wo izureba hyakuman no tekki ari
Jika seseorang keluar dari rumah, pikirkan ada jutaan lawan tengah menunggu
Kamae wa shoshinsha ni ato wa shizentai
Pemula pertama-tama harus menguasai kuda-kuda dan sikap badan rendah, posisi badan
yang alamiah/wajar untuk tingkat lanjut.
Kata wa tadashiku jissen wa betsu mono
Berlatih kata adalah satu hal dan menghadapi sebuah pertarungan nyata adalah hal yang
lain lagi.
Chikara no kyojaku, karada no shinshuku, waza no kankyu wo wasaruna Jangan lupa (1)
penggunaan kekuatan dengan tenaga yang benar, (2) badan yang
menyesuaikan/fleksibel, (3) penggunaan teknik dengan kecepatan yang benar
Tsune ni shinen kufu seyo
Carilah cara untuk senantiasa belajar sepanjang waktu