The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah dan Ragam Batik_Tugas SBDP Argani_v2

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by danendra muhammad argani, 2023-08-14 10:27:36

Sejarah dan Ragam Batik_Tugas SBDP Argani_v2

Sejarah dan Ragam Batik_Tugas SBDP Argani_v2

Sejarah dan Ragam Batik TUGAS SBDP K.D 4.4 MEMAHAMI KARYA SENI RUPA DAERAH Danendra M. Argani | Kelas 5 B | SD IT AL Hidayah


PAGE 1 1. Sejarah dan Perkembangan Batik di Indonesia Asal-usul nama batik berasal dari Bahasa Jawa, yaitu amba yang berarti tulis, dan nitik yang berarti titik. Jika digabungkan, maka artinya adalah menulis dengan lilin. Hal ini sesuai dengan bagaimana proses pembuatan batik berlangsung, yaitu di atas sebuah kain menggunakan canting yang ujungnya berukuran kecil, sehingga memberikan kesan "orang sedang menulis titik-titik." Sejarah batik di Indonesia berkaitan dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit, Solo, dan Yogyakarta. Awalnya, batik merupakan suatu adat istiadat yang turun temurun. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan suatu motif batik dapat menandakan status atau derajat seseorang. Bahkan, hingga sekarang, beberapa motif batik tradisional hanya dapat dipakai oleh keluarga bangsawan seperti keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Pada masa lampau perempuan-perempuan suku Jawa memanfaatkan keterampilan mereka dengan cara membatik sebagai mata pencaharian. Kesenian batik di Indonesia kemudian lambat laun semakin berkembang sampai kerajaan-kerajaan berikutnya. Secara umum batik meluas di Indonesia dan secara khusus di Pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Sementara itu, teknik batik diketahui lebih dari 1.000 tahun yang kemungkinan berasal dari Mesir Kuno atau Sumeria. Setelah itu, teknik batik mengalami perluasan di beberapa negara di Afrika Barat, seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru mulai dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920. Lahirnya batik jenis cap menunjukkan dimulainya masa industrialisasi dan globalisasi. Baca juga: Mengenal Batik Indonesia, Perkembangan hingga Jenisnya Perkembangan Seiring berjalannya waktu, batik yang dulunya hanya digunakan dalam lingkungan kerajaan mulai meluas hingga ke luar kerajaan seiring dengan kebutuhan dan berkembangnya zaman. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menobatkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendari. Sejak saat itu, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.


PAGE 2 2. Ragam Batik Asli Indonesia a. Batik Kawung Motif batik ini terinspirasi buah kolang kaling. Bentuk kolang kaling yang lonjong tersebut disusun empat sisi membentuk lingkaran. Motif Kawung sering diidentikan dengan motif sepuluh sen kuno, karena bentuknya yang bulat dengan lubang ditengahnya. Motif ini berasal dan berkembang di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Biasanya motifnya sama, hanya bedanya pada hiasan atau aksennya saja. Batik ini juga termasuk motif batik Indonesia yang paling banyak dipakai. b. Batik Mega Mendung Motif batik yang pertama adalah mega mendung. Motif ini merupakan salah satu jenis batik yang paling populer di Cirebon, Jawa Barat. Motif batik mega mendung identik dengan pola yang mirip seperti bentuk awam serta memiliki makna maupun filosofi yang dalam. Arti dari motif batik mega mendung salah satunya ialah nilai kesabaran yang harus ada di dalam di setiap manusia. Mega mendung memiliki 7 gradasi warna yang menjadi pelapisnya. Nama motif ini berasal dari kata mega yang artinya adalah awan atau langit. Sementara itu, mendung merupakan langit yang meredup ketika hujan akan turun. Gradasi warna dari motif batik mega mendung inilah yang disebut sesuai dengan 7 lapisan langit. Selain itu, istilah dari mendung juga dapat diartikan


PAGE 3 sebagai sifat yang sabar atau tidak mudah marah dalam kehidupan seorang manusia c. Batik Parang Batik Parang banyak ditemukan di daerah Solo dan Yogyakarta sebab menurut sejarahnya, batik parang diciptakan pada zaman Keraton Mataram. Melansir dari Wikipedia, batik parang merupakan salah satu motif tertua di Indonesia. Nama parang berasal dari kata ‘Pereng’ yang artinya lereng. Pereng tersebut menggambarkan sebuah garis menurus dari tinggi ke rendang secara diagonal. Bentuk motifnya berbentuk seperti huruf “S” miring berombak memanjang. Motif Parang ini tersebar di seluruh Jawa, mulai dari Jawa Tengah, Jogjakarta dan Jawa Barat. Biasanya, perbedaannya hanya terletak pada aksen dari batik Motif parang tersebut. Misalkan, di Jogja ada motif Parang Rusak dan Parang Barong, di Jawa Tengah ada Parang Slobog, serta di Jawa Barat ada Parang Klisik. d. Batik Sogan (Solo) Batik Sogan merupakan salah satu jenis batik bernuansa klasik. Dinamakan batik sogan karena pada awal mulanya, proses pewarnaan batik ini menggunakan pewarna alami yang diambil dari batang kayu pohon soga. Batik Sogan klasik merupakan jenis batik yang identik dengan daerah keraton Jawa


PAGE 4 yaitu Yogyakarta dan Solo, motifnya pun biasanya mengikuti pakem motif-motif klasik keraton. Sogan Yogya dan Solo juga dapat dibedakan dari warnanya. Biasanya sogan Yogya dominan berwarna coklat tua-kehitaman dan putih, sedangkan sogan Solo berwarna cokelat-oranye dan cokelat. e. Batik Tujuh Rupa (Pekalongan) Salah satu daerah di Indonesia cukup terkenal sebagai daerah pengrajin dan pusat batik yaitu Pekalongan, Jawa Tengah. Jadi, tidak heran apabila kota Pekalongan saat ini dikenal sebagai kota pengrajin batik terutama motif batik pesisir yang memiliki beragam warna. Batik Pekalongan memiliki ciri khas yaitu didominasi oleh motif tumbuhtumbuhan serta hewan. Bukan hanya memiliki motif bunga yang cerah saja, tetapi motif batik Pekalongan juga memiliki motif garis serta titik-titik yang cukup mempesona. Motif batik Pekalongan menggambarkan ciri kehidupan dari masyarakat pesisir yang mudah beradaptasi dengan pengaruh dari budaya luar, sehingga motif-motif serta warnanya terlihat sangat variatif.


PAGE 5 f. Batik Pring Sedapur (Magetan) Motif batik Pring Sedapur memiliki ciri khas yang simpel namun elegan. Motif yang dipakai adalah motif bambu, sehingga sering juga disebut sebagai batik Pring. Batik ini tidak hanya indah dalam kesederhanaan motifnya, tetapi memiliki filosofi yang sederhana pula. Dimana bambu memberikan makna ketentraman, keteduhan dan kerukunan. Selain itu, bambu/pring juga mempunyai filosofi mendalam bagi orang Jawa, yakni apa saja dalam diri kita haruslah memberikan manfaat bagi orang lain, sejak lahir sampai mati. g. Batik Pring Simbut (Banten) Motif batik Simbut berbentuk daun yang menyeruai daun talas. Motif tersebut merupakan motif yang paling sederhana, hanya menyusun dan merapikan satu jenis motif saja. Motif Simbut berasal dari suku Badui pedalaman di Sunda yang kental dengan peradaban lama. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, para penduduk badui yang menerima modernitas mengembangkan batik ini di daerah pesisir Banten. Sehngga batik motif Simbut dikenal juga dengan batik Banten.


PAGE 6 Penutup Demikian sejarah dan ragam Batik di Indonesia Semoga menambah pengetahuan dan kecintaan kita akan budaya di Indonesia Terima kasih


Click to View FlipBook Version