MAKALAH PROYEK AKHIR LOGIKA HB “Kesesatan Berpikir Argumentum ad Hominem terhadap Perilaku Online Shaming” Disusun oleh : Michael Nathanael Christianto (6032001083) Aretha Putri (6082001197) Theresa Aurel Tanuwijaya (6092001163) Monika Lusi Larasati (6162001156) UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2021
DAFTAR ISI DAFTAR ISI................................................................................................................................................. i KATA PENGANTAR................................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................................1 A. Latar Belakang................................................................................................................................1 B. Rumusan Masalah ..........................................................................................................................3 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian..................................................................................................3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................................4 A. Online Shaming...............................................................................................................................4 1. Pengertian Online Shaming ..........................................................................................................4 2. Bentuk-bentuk Online Shaming ....................................................................................................4 3. Dampak Online Shaming ..............................................................................................................5 4. Penyebab Online Shaming ............................................................................................................7 B. Argumentum ad Hominem ............................................................................................................8 1. Pengertian Argumentum ad Hominem..........................................................................................8 BAB III HASIL SURVEI DAN ANALISIS..............................................................................................9 A. Gambaran Umum Hasil Penelitian ...............................................................................................9 B. Demografi Responden.....................................................................................................................9 C. Analisis Data..................................................................................................................................12 BAB IV PENUTUP...................................................................................................................................20 A. Kesimpulan....................................................................................................................................20 B. Saran ..............................................................................................................................................21 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................23 LAMPIRAN...............................................................................................................................................24 BIODATA PENULIS................................................................................................................................33 i
KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberi kami berkat dan rahmat sehingga kami mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan tugas akhir mata kuliah logika dengan judul “Kesesatan Berpikir Argumentum ad Hominem terhadap Perilaku Online Shaming“. Maraknya peristiwa online shaming yang terjadi di lingkungan kami, membuat kami ingin mengambil topik ini agar dapat meluruskan pandangan masyarakat terhadap penilaian mereka terhadap sesamanya. Selain itu, kami juga melakukan survey untuk mengetahui dan memahami pengalaman online shaming terhadap pria dan wanita serta dampaknya kepada korban. Tidak lupa juga, kami ingin berterima kasih kepada bapak Thomson Radesman Lingga selaku dosen mata kuliah logika kami yang telah memberikan tugas ini sehingga kami mendapatkan wawasan dan pemahaman baru yang sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Selain itu, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama proses penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna baik materi maupun cara penulisannya. Namun meskipun demikian, penulis telah berupaya dengan sebaik mungkin dalam hal kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga makalah kami dapat selesai dengan baik. Penulis juga dengan rendah hati menerima semua masukan, saran dan usul guna penyempurnaan proses makalah ini. Bandung, 29 Juni 2021 Penulis ii
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan sistem informasi. Tanpa disadari, perkembangan zaman telah membawa pengaruh kepada masyarakat, baik positif maupun negatif. Salah satu bentuk pengaruh negatifnya adalah aksi cyberbullying. Peristiwa ini sedang marak terjadi di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Cyberbullying itu sendiri sebenarnya adalah salah satu bentuk bullying. Menurut Think Before Text, cyberbullying dapat didefinisikan sebagai perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Saat ini, cyberbullying sendiri sudah tersebar luas di berbagai platform media sosial, seperti Instagram, Tiktok, Facebook, Twitter dan lainlain. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hal ini sosial media juga memegang peranan penting dalam pengaruh negatif tersebut. Cyberbullying sendiri memiliki berbagai macam jenis, salah satunya adalah online shaming. Online Shaming sendiri merupakan tindakan menjatuhkan rasa percaya diri orang lain di internet yang biasa dilakukan dengan menghina, mencemarkan nama baik, melecehkan, sampai mengancam individu lainnya. Peneliti dari Remotivi.id (lembaga pusat studi media dan komunikasi), Faris Dzaki mengatakan, “online shaming terjadi karena adanya kemungkinan pelaku
2 online shaming memerlukan pengakuan dari khalayak dengan cara mempermalukan orang lain.” Perilaku ini sudah marak terjadi di lingkungan sekitar kita terutama pada media sosial. Tidak jarang para pelaku online shaming ini melakukan hal tersebut karena mereka membutuhkan perhatian maupun pengakuan dari orang lain tanpa memikirkan dampak yang mereka timbulkan akibat melakukan hal tersebut. Pengakuan yang dibutuhkan oleh pelaku adalah pengakuan bahwa pelaku terlibat dengan orang banyak, dan pelaku mampu mengatasinya. Sebagai contoh, online shaming dapat berupa mengkritik dengan cacian yang berdampak pada psikologis seseorang. Dengan adanya berbagai aplikasi media sosial yang sekarang banyak digunakan oleh para remaja maupun orang dewasa, seperti instagram, facebook, twitter, tiktok,dll. Tindakan online shaming semakin marak terjadi. Perilaku ini seolaholah menjadi hal yang lazim untuk dilakukan oleh para pengguna media sosial. Para pelaku online shaming dengan seenaknya berkomentar kepada orang lain secara tidak layak. Mereka tidak memikirkan apa akibat yang ditimbulkan dari ucapan yang mereka sampaikan. Pada penelitian ini kami akan menggunakan metode kualitatif dengan melakukan survey singkat mengenai online shaming. Kami akan membagikan tautan google forms kepada 100 responden dengan kriteria tertentu, yaitu para mahasiswa/i yang menggunakan sosial media. Akan diberikan 10 pertanyaan terkait perilaku online shaming yang terjadi disekitar responden. Nantinya survei akan bersifat rahasia, artinya kami selaku pembuat survei tidak mengetahui identitas responden agar responden dapat mengisi survei dengan jujur.
3 B. Rumusan Masalah a. Bagaimana gambaran Online Shaming yang dialami? b. Bagaimana dampak Online Shaming yang dialami? c. Apa yang menyebabkan pelaku melakukan Online Shaming ke individu lain? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Dengan dibuatnya makalah ini sebagai ujian akhir semester dari mata kuliah logika, maka terdapat beberapa tujuan dan kegunaan dari penulisan makalah ini: 1. Untuk memberikan pengertian dari online shaming. 2. Untuk menjelaskan dampak yang dirasakan bagi korban online shaming. 3. Untuk menjelaskan faktor-faktor atau penyebab dari terjadinya online shaming.
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Online Shaming 1. Pengertian Online Shaming Online shaming adalah salah satu cara individu memperlakukan individu lainnya dengan cara menghina, menguntit maupun mengancam. Seorang peneliti dari Lembaga Pusat Studi dan Komunikasi, Faris Dzaki, mengatakan “Online Shaming terjadi karena adanya kemungkinan bahwa sang pelaku memerlukan pengakuan dari khalayak dengan cara mempermalukan orang lain”. Pengakuan yang dibutuhkan oleh pelaku adalah pengakuan bahwa pelaku terlibat dengan orang banyak, dan pelaku mampu mengatasinya. Sebagai contoh online shaming dapat berupa mengkritik dengan cacian yang berdampak pada psikologis seseorang. 2. Bentuk-bentuk Online Shaming a. Hinaan Fisik Hinaan fisik adalah hal biasanya kita temui di media sosial manapun. Kata-kata "ih kurus banget", "gendutan ya", "diet mu gagal ya", dan kata-kata hinaan lainnya, baik tersirat maupun tersurat. b. Ras Banyaknya daerah di Indonesia membuat setiap orang berbeda-beda, baik bahasa, warna kulit, maupun budayanya. Dalam kasus penghinaan ras, yang sering kita temui adalah individu yang menghina warnakulit individu lainnya.
5 c. Merendahkan Hobi Setiap orang memiliki hobinya masing-masing. Ada yang bisa melukis, bernyanyi, menari, maupun hobi lainnya. Penghinaan yang biasanya terjadi adalah ketika kamu menyanyi lalu suara kamu dibilang jelek atau bahkan dibilang "mendingan diem aja deh". d. Orientasi Seksual Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak orientasi seksual di dunia maupun di Indonesia. Meskipun secara hukum belum disahkan secara legal, namun tetap harus saling menghargai. Kata-kata "Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, bukan Adam dan Jono" secara tidak langsung menghina orientasi seksual seseorang. e. Seksisme Biasanya seksisme disebabkan karena memakai baju yang dianggap dapat mengundang adanya pelecehan seksual, baik pria maupun wanita. Contoh seksisme adalah ketika wanita memakai rok yang terlalu pendek, atau pria memakai celana yang terlalu ketat, danmasih banyak lagi. 3. Dampak Online Shaming Online shaming sendiri dapat berdampak kepada 2 pihak yaitu pihak pelaku dan pihak korban. Sebenarnya online shaming saling merugikan kedua belah pihak, namun lebih merugikan dari pihak korban adapun dampak yang ditimbulkan dari Online Shaming terhadap korban sebagai berikut : a. Korban menjadi depresi Korban yang mengalami depresi akan berubah cara pikirnya, emosi korban cenderung menjadi lebih tidak stabil, merasa putus asa, dll
6 b. Korban tidak percaya diri Pada kasus ini, korban online shaming menjadi sulit untuk berinteraksi dan menjadi pendiam. c. Korban menjadi menutup diri dan lebih senang menyendiri Korban yang mengalami dampak ini akan menarik diri dari lingkungan dan lebih suka menyendiri. d. Korban menjadi pesimis Karena hinaan yang diterima korban menjadi sulit mengembangkan diri dan menganggap bahwa dirinya gagal dan enggan untuk memperbaiki diri. e. Korban melakukan hal ekstrim untuk memperbaiki fisiknya Tak sedikit dari korban yang menerima cacian di media sosial yang berusaha mati-matian untuk melakukan perubahan ekstrim pada dirinya untuk membuktikan bahwa dia bisa merubah dirinya walaupun hal itu dapat membahayakan dirinya sendiri. f. Membuat korban melakukan self-harm (melukai diri sendiri) hingga bunuh diri. Akibat terparah yang ditimbulkan dari self harm adalah kematian. Korban yang melakukan self harm mengaku bahwa dengan melakukan self harm dirinya lebih lega walaupun ia harus mengalami sakit pada bagian tubuhnya, seperti meng-cutter tangannya. Ketika korban sudah tidak tahan lagi akan hinaan korban mungkin saja mengakhiri hidupnya karena merasa hidupnya sudah tidak berguna dan menerima banyak hinaan. Sedangkan dampak Online Shaming bagi pelakunya sendiri, pelaku online shaming dapat terjerat oleh UU ITE. UU ITE sendiri telah mengatur beberapa pelanggaran antara lain, body shaming, pencemaran nama baik, bermuatan kesusilaan, komentar hoaks dan komentar mengancam.
7 Komentar body shaming di media sosial dapat dikatakan sebagai penghinaan ringan jika komentar tersebut berupa makian yang bersifat menghina. Sanksi yang dijatuhkan berupa pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak 750 juta (pasal 45 ayat (3) jo. Pasal 27 ayat (3) UU ITE). Sanksi yang sama pun berlaku bagi yang mengirim komentar di sosial media yang memiliki muatan pencemaran nama baik. Selain itu, jika warganet berkomentar di sosial media yang bermuatan kesusilaan, dapat dipidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak 1 milyar (pasal 45 ayat (1) jo. Pasal 27 ayat (1) UU ITE). Sedangkan bagi warganet yang menyebarkan berita bohong dengan sengaja akan dijatuhi sanksi pidana berupa penjara maksimal 10 tahun atau menyiarkan berita bohong yang akan membuat keonaran di masyarakat sedangkan ia patut menyangka bahwa berita itu yang ia sampaikan itu bohong, maka ia akan terkena sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 3 tahun (pasal 14 ayat (1) dan (2) UU 1/1946. Bagi warganet yang berkomentar di sosial media yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak 750juta (pasal 48b jo. Pasal 29 UU ITE). 4. Penyebab Online Shaming Online Shaming sendiri bisa terjadi karena adanya beberapa faktor penyebab. Penyebab dari terjadinya Online Shaming sendiri dibagi kedalam 4 faktor:
8 a. Budaya Patron Klien Sebuah kultur dimana adanya kekuasaan yang dimiliki orang dengan lebih banyak harta dan merasa bisa melakukan apa saja salah satunya online shaming. b. Budaya Patriarki Merupakan budaya dimana laki-laki dipandang lebih berharga dibandingkan wanita. Sehingga memunculkan kesenjangan antarapria dan wanita, yang menyebabkan wanita dipandang rendah. c. Kurangnya Edukasi Mengenai Online Shaming Hal ini menyebabkan orang-orang memberikan ujaran kebencian di media sosial dengan cara semena-mena dan tidak mengetahui bahwa hal tersebut dapat dipidanakan. d. Pandangan kebarat-baratan Dimana standar kecantikan yang ada didasarkan pada orang kulit putih yaitu berhidung mancung, berkulit putih, berbadan langsing dan tinggi. Oleh karena itu mereka yang tidak masuk kedalam standar kecantikan tersebut akan mendapatkan banyak ujaran kebencian. B. Argumentum ad Hominem 1. Pengertian Argumentum ad Hominem Argumentum ad Hominem adalah salah satu jenis kesalahan berpikir yang sering terjadi ketika dua pihak beradu argumen. Pada kasus ini, salah satu pihak akan menyerang pihak lain yang tidak berhubungan dengankonteks pembahasan. Pihak yang menyerang biasanya akan memilih untuk menyerang bentuk badan, keadaan hidup, dan masih banyak lagi. Apabila kesalahan berpikir Argumentum ad Hominem terus terjadi, nantinya akan menyebabkan perilaku online shaming.
9 BAB III HASIL SURVEI DAN ANALISIS A. Gambaran Umum Hasil Penelitian Metode pengumpulan data responden dilakukan dengan melakukan survei, yaitu dengan membagikan tautan google forms kepada 100 mahasiswa/i di seluruh Indonesia. Karena topik yang diangkat adalah online shaming, maka responden yang kami pilih adalah yang selama ini menggunakan sosial media. Survei ini dilakukan secara rahasia, artinya tidak meminta identitas nama maupun asal universitas, sehingga diharapkan responden dapat mengisi survey dengan jujur dan sesuai dengan keadaan yang terjadi. B. Demografi Responden Berdasarkan survei yang disebar oleh peneliti, diperoleh data yang mengungkap distribusi responden berdasarkan demografi responden. Dari survei data tersebut terungkap distribusi responden sebagai berikut : 1. Jenis Kelamin Distribusi responden penelitian ini jika ditinjau dari jenis kelamin responden adalah sebagai berikut :
10 Gambar 3.1. Jenis Kelamin Responden Berdasarkan data tersebut, tampak bahwa dari 100 orang responden, 22 orang (22%) di antaranya adalah responden pria, 77 orang (77%) responden adalah wanita, dan 1 orang lainnya (1%) memilih untuk tidak menjawab. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komposisi responden penelitian ini sebagian besar didominasi oleh responden wanita. 2. Usia Distribusi responden penelitian ini jika ditinjau dari usia responden adalah sebagai berikut : Gambar 3.2. Usia Responden
11 Berdasarkan distribusi usia responden yang disajikan dalam tabel di atas, tampak bahwa dari 100 orang responden 46 orang (46%) di antaranya berusia sekitar 16-18 tahun dan 54 orang sisanya (54%) berusia di antara 19-22 tahun. Mengacu pada distribusi usia responden di atas, maka dapat disimpulkan bahwa responden penelitian ini didominasi oleh responden yang berusia diantara 19-22 tahun. 3. Media Sosial Distribusi responden penelitian ini jika ditinjau dari media sosial yang sering digunakan oleh responden adalah sebagai berikut : Gambar 3.3. Media Sosial yang Digunakan Responden Berdasarkan distribusi penggunaan media sosial responden yang disajikan dalam tabel di atas, tampak bahwa dari 100 orang responden terdapat 98 orang (98%) di antaranya menggunakan Instagram, 64 orang (64%) menggunakan Tiktok, dan 47 orang (47%) menggunakan Twitter. Selain pilihan media sosial yang dicantumkan peneliti, beberapa responden juga
12 menambahkan media sosial lain yang mereka miliki, yaitu Line, Whatsapp, Facebook, Youtube, Telegram, dll. Karena media sosial yang dimaksud peneliti adalah selain aplikasi chatting, maka beberapa media sosial yang ditambahkan responden tidak termasuk dalam media sosial yang dijadikan acuan distribusi. Sehingga dapat dilihat pada gambar 3.3, media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden adalah Instagram, diikuti dengan Tiktok dan Twitter. C. Analisis Data Gambar 3.4. Pengetahuan Responden tentang Pengertian Online Shaming Berdasarkan data dari 100 responden, terdapat 90 orang(90%) mengetahui tentang online shaming, dan 10 orang (10%) lainnya tidak mengetahui artidari online shaming itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya arti Online Shaming sendiri sudah banyak diketahui oleh masyarakat.
13 Gambar 3.5. Jawaban Responden mengenai Pengalaman Online Shaming Berdasarkan data dari 100 responden diatas sebanyak 88 orang(88%) telah mengalami maupun melihat seseorang melakukan online shaming, sisanya sebanyak 12 orang (12%) tidak pernah melihat ataupun mengalami perilaku online shaming. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan online shaming marak terjadi pada saat sekarang ini, melihat dari jumlah data yang mengalami maupun melihat perilaku online shaming. Gambar 3.6. Pengalaman Responden melakukan Online Shaming
14 Berdasarkan gambar 3.6 diatas, dapat dilihat bahwa terdapat 8 (8%)responden yang pernah melakukan online shaming kepada individu lainnya, sedangkan 92 orang lainnya (92%) menjawab belum pernah melakukan online shaming. Untuk mengetahui alasan mengapa 8 orang responden tersebut melakukan online shaming, maka peneliti menambahkan pertanyaan “Mengapa kamu melakukan hal tersebut?”, dan 8 orang tersebut menjawab : Gambar 3.7. Jawaban Responden mengenai alasan mereka melakukan online shaming Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa 5 dari 8 jawaban respondenmenjawab bahwa mereka melakukan online shaming atas dasar bercanda. Sedangkan untuk 3 jawaban lainnya, ada yang menjawab bahwa ia iri dengan orang lain, sehingga ia melakukan online shaming. Ada pula yang menjawab bahwa ia hanya terbawa suasana atau khilaf ketika melakukannya. Selain itu, ada yang menjawab bahwa sebenarnya ia tidak melakukan online shaming tetapi hanya
15 membahasnya dengan temannya, tidak sampai konteks membully, bahkan tidak sampai menyampaikan ke orangnya langsung. Gambar 3.8. Jawaban mengenai bentuk online shaming yang diketahui oleh responden Sebelum memberikan pertanyaan diatas, peneliti memberikan penjelasan mengenai bentuk-bentuk online shaming yang biasa terjadi di internet. Setelah itu responden diminta untuk memberikan jawaban mengenai apa saja bentuk online shaming yang sering mereka alami/temui. Berdasarkan gambar diatas, 90 dari 100 orang memilih mereka paling banyak melihat online shaming dalam bentuk hinaan fisik. Selain itu, penghinaan ras dipilih oleh 62 orang (62%) responden, sehingga menyebabkan bentuk online shaming ras adalah yang paling banyak kedua setelah hinaan fisik. Lalu ada pula sebanyak 52 responden (52%) memilih bahwa bentuk yang sering dilihat adalah seksisme, 42 responden (42%) memilih merendahkan hobi, dan 35 responden (35%) memilih bentuk orientasi seksual. Selain 5 bentuk-bentuk yang diberikan oleh peneliti, ada pula responden yang memberikan bentuk lain yaitu meremehkan
16 argumentasi seseorang, mengomentari kehidupan orang lain, serta menghina perekonomian orang lain yang kurang mampu. Gambar 3.9. Jawaban responden tentang apa yang mereka lakukan ketika mendapat online shaming Dari 100 jawaban responden, peneliti mengambil 9 sampel jawaban diatas untuk dimasukan dalam makalah. Dari 9 jawaban diatas, 3 diantaranya menjawab bahwa mereka akan diam saja dan tidak melakukan apa-apa (jawaban responden no 2, 3, dan 9) serta 2 orang lainnya menjawab akan membalas perlakuan online shaming tersebut (jawaban responden no 4 dan 5). Selain itu, ada pula yang menjawab bahwa ia akan menjauhi orang tersebut (jawaban responden no 7); cerita kepada teman untuk menenangkan diri (jawaban responden no 8); menghapus komentar online shaming tersebut (jawaban responden no 1). Namun ada pula yang menjawab dari sisi pengamat, yaitu tidak ikut campur dengan masalah orang lain (jawaban responden no 6).
17 Gambar 3.10. Jawaban responden mengenai dampak yang dirasakan oleh korban perakuan online shaming Sama seperti pertanyaan sebelumnya, peneliti hanya mengambil 9 sampel jawaban dari 100 jawaban responden. Dari 9 sampel diatas, 6 orang menjawab bahwa mereka merasa terkucilkan, sedih, tertekan, down, sakit hati, maupun insecure (jawaban responden no 2, 3, 4, 5, 7, dan 8). Lalu, 2 orang lainnya menjawab mereka tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi,sehingga merasa biasa saja (jawaban responden no 1 dan 6). Selain itu, ada pula yang menempatkan dirinya di posisi pengamat mengatakan bahwa ia akan merasa simpati kepada korban (jawaban responden no 9).
18 Gambar 3.11. Jawaban responden tentang pengalaman online shaming yang dialami atau dilihat Dari 100 jawaban responden mengenai cara menghentikan perilaku online shaming, diambil 9 sampel jawaban yang diharap dapat mewakili 100jawaban responden lainnya. Terdapat responden yang menceritakan tentang bentuk online shaming berupa hinaan fisik (jawaban responden no 9), seksisme (jawaban responden no 4 dan 8), serta ras (jawaban responden no 3). Selain jawaban-jawaban responden yang menjelaskan dengan rinci, ada pula responden yang menceritakan secara garis besar, seperti jawaban responden di nomor 1 dan 5. Tidak hanya jawaban responden yang menceritakan jawabannya, terdapat 1 orang yang menjawab tidak pernah melihat ataupun mengalami perlakuan online shaming, sehingga ia tidak menceritakan pengalamannya.
19 Gambar 3.12. Jawaban responden mengenai cara menghentikan perilaku online shaming Pada pertanyaan terakhir, peneliti mengambil 7 sampel jawaban dari 100 jawaban responden. Jawaban pada pertanyaan ini lebih beragam dibandingkan jawaban singkat pada pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Jawaban yang sering peneliti jumpai pada pertanyaan ini adalah memberikan pemahaman tentang perilaku online shaming. Selain itu, banyak dari responden juga yang mengatakan untuk berpikir kembali sebelum menulis apakah kata-kata yang akan kita sampaikan akan menyakiti perasaan orang lain atau tidak.Responden juga menjawab untuk mengintrospeksi diri dahulu sebelum memberikan katakata yang negatif kepada orang lain. Terdapat 1 orang dari responden yang mengatakan bahwa perilaku online shaming tidak akan bisa dihentikan.
20 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini menggunakan survei sebagai instrumen pengumpulan data dan sampel yang dibutuhkan sebanyak 100 responden dari mahasiswa pengguna media sosial. Penelitian ini ingin membuktikan hubungan antara kesesatan berpikir Argumentum ad Hominem dengan perilaku Online Shaming di media sosial. Peneliti menggunakan metode pengumpulan data kualitatif, serta telah melakukan pengumpulan data dan menemukan hasil analisis atas beberapa pertanyaan di google forms. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat dilihat bahwa perkembangan teknologi dan informasi sangat berpengaruh terhadap perilaku online shaming. Online shaming sendiri tentunya dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang. Bila hal seperti perkembangan teknologi disalahgunakan, maka keberadaan seperti sosial media akan memiliki dampak negatif dan berakibat fatal pada penggunanya. Berdasarkan hasil penelitian kami, 6 dari 9 sampel responden menjawab bahwa dampak negatif dari online shaming adalah mereka merasa terkucilkan, sedih, tertekan, down, sakit hati, maupun insecure. Dari sini dapat dilihat bahwa perilaku online shaming menyebabkan korban merasakan hal yang tidak diinginkan. Ketika kami tanyakan pula apa alasan pelaku melakukan online shaming, mayoritas menjawab bahwa itu hanyalah bercanda. Tentu kita semua tahu bahwa tidak semua hal dapat dibercandakan dan tidak semua orang mau dibercandai. Hal ini sejalan dengan arti dari Argumentum ad hominem itu sendiri, yaitu kesalahan berpikir antara dua orang
21 yang saling berargumen. Pihak pelaku merasa bahwa itu hanya bercanda, namun pihak kedua merasa sakit hati. Maka dari itu, dapat kami simpulkan bahwa kerancuan berpikir Argumentun ad Hominem mempunyai hubungan dengan perilaku online shaming. Kesimpulan kami ini didukung pula dengan pendapat dari salah satu narasumber kami, yaitu seorang mahasiswa sarjana Psikologi Universitas Tarumanegara (terlampir pada halaman 28). Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa terdapat beberapa hal yang memicu terjadinya online shaming diantaranya adalah rasa iri hati kepada seseorang, bermaksud bercanda namun menyakiti hati yang dibercandain, ketidaksukaan terhadap orang lain dan lain-lain. Ada pula kecenderungan yang besar bagi korban untuk membalas balik perilaku online shaming yang ia terima. Maka dari itu, pengetahuan mengenai online shaming perlu dibagikan kepada publik agar meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perilaku ini dan juga bersama-sama melawan perilaku online shaming. B. Saran Dari makalah ini kita perlu memahami bahwa dalam menyampaikan opini di media sosial, kita sebaiknya berusaha untuk tidak mengatakan kata-kata yang menyakitkan siapapun. Kita perlu mengingat bahwa ada hal yang tidak bisa kita kontrol yaitu perasaan orang lain. Mungkin saja buat kita opini tersebut merupakan hal yang biasa-biasa saja tetapi belum tentu untuk orang lain. Sebagai pengguna media sosial kita sebaiknya perlu memikirkan kembali segala bentuk tindakan kita, karena terdapat hukum yang berlaku untuk pelaku online shaming yaitu UU ITE. Oleh karena itu, mari kita sebagai pengguna media sosial mulai menyadari bahwa online shaming merupakan tindakan yang salah dan harus kita hilangkan. Hal ini dapat kita mulai dari diri kita sendiri, dengan cara
22 menghindari segala bentuk kesesatan berpikir Argumentum Ad Hominem. Sehingga segala bentuk argumen atau opini yang kita sampaikan tidak menyakiti siapapun di media sosial. Perlu kita ingat juga bahwa setiap orang diciptakan berbeda-beda dengan ciri khasnya masing-masing, maka dari itu kita harus bisa menerima segala bentuk perbedaan yang ada.
23 DAFTAR PUSTAKA Fadillah, N. A. (2018, november 21). "Online Shaming" dan Hukumannya. "Online Shaming" dan Hukumannya. Retrieved juni 9, 2021, from http://disdik.jabarprov.go.id/news/678/%26quot%3Bonlineshaming%26quot%3B-dan-hukumannya Kirnandita, p. (2017, maret 28). Ramai-Ramai Memperolok Orang di Media Sosial. Ramai-Ramai Memperolok Orang di Media Sosial Baca selengkapnya di artikel "Ramai-Ramai Memperolok Orang di Media Sosial", https://tirto.id/clEJ. Diakses pada 13 Juni 2021, dari https://tirto.id/ramairamai-memperolok-orang-di-media-sosial-clEJ Lutfiyah, N.U. Logical Fallacy Pada Media Sosial Facebook. (Sarjana, Universitas Islam Negeri Maulana Ibrahim Malang, 2018) Diakses dari http://etheses.uinmalang.ac.id/13553/1/14410110.pdf Pradewo, Bintang. (2018, November 25) 4 Penyebab Body Shaming. Diakses pada 19 Juni 2021, dari https://www.jawapos.com/nasional/hukumkriminal/25/11/2018/4-penyebab-body-shaming/ Reza, Novalendra. (2020, Juni 02). 8 Jenis Logical Fallacy yang Harus Diketahui, Biar Obrolanmu Fokus!. Diakses pada 17 Juni 2021, dari https://www.idntimes.com/science/discovery/novalendra-reza/logical-fallacyc1c2/3 Y.P. Hayon (2000). Logika: Prinsip Prinsip bernalar, Tepat, Lurus, Dan Teratur. Jakarta: ISTN, halaman 78
24 LAMPIRAN Berikut kami lampirkan tautan google forms yang kami bagikan kepada para responden : https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfbQydLZvWgLxzW4oH07i7GHsvd4BBZp7heX znAbVc069Fwrw/viewform Selain itu, untuk mengakses jawaban responden, kami lampirkan pula tautan google forms sebagai editor : https://docs.google.com/forms/d/1bPbkUwZbhc8HpRW_USG1dEAGXZXM1s4SGAfMMU_ DO38/edit?usp=sharing Data Jenis Kelamin Responden Data Usia Responden
25 Data Media Sosial yang Digunakan Responden Pengetahuan Responden Mengenai Online Shaming Pengalaman Responden Melihat/Menjadi Korban Online Shaming
26 Data Apakah Responden Pernah Melakukan Online Shaming Data Alasan Mengapa Responden Melakukan Online Shaming
27 Data Bentuk Online Shaming yang Pernah Dilihat/Dialami oleh Responden Data Apa yang Dilakukan oleh Responden Setelah Mengalami Online Shaming
28 Data Dampak yang Dirasakan oleh Responden Setalah Mengalami Online Shaming Cerita Responden Tentang Pengalaman Online Shaming
29 Cata Menghentikan Perilaku Online Shaming Menurut Responden
30 Wawancara terhadap Salah Satu Korban Perilaku Online Shaming
31 Wawancara terhadap Salah Satu Sarjana Psikologi
32 BIODATA PENULIS Nama : Michael Nathanael Christianto Tempat,tanggal lahir : Bandung, 3 Januari 2002 Asal : Bandung, Jawa Barat Status : Mahasiswa Email : [email protected] Nama : Monika Lusi Larasati Tempat,tanggal lahir : Jakarta, 23 Agustus 2002 Asal : Bekasi, Jawa Barat Status : Mahasiswa Email : [email protected] Nama : Theresa Aurel Tanuwijaya Tondosaputro Tempat,tanggal lahir : Semarang, 10 Oktober 2002 Asal : Semarang, Jawa Tengah Status : Mahasiswa Email : [email protected] Nama : Aretha Putri Tempat,tanggal lahir : Jakarta, 14 Mei 2002 Asal : Bandung, Jawa Barat Status : Mahasiswa Email : [email protected]