The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by annisa47alimah, 2021-09-30 10:02:43

MODUL BESARAN DAN PENGUKURAN

MODUL BESARAN DAN PENGUKURAN

b

MODUL PEMBELAJARAN
FISIKA
BESARAN DAN PENGUKURAN

X

0

Semester 1

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..........................................................................................ii
DAFTAR TABEL .................................................................................. ii
PENDAHULUAN ...................................................................................1

A. IDENTITAS MODUL ......................................................................1
B. KOMPETENSI DASAR ..................................................................1
C. TUJUAN PEMBELAJARAN ............................................................1
D. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL .............................................1
URAIAN MATERI .................................................................................3
A. BESARAN ......................................................................................3
B. PENGUKURAN ..............................................................................5
C. NOTASI ILMIAH DAN ANGKA PENTING ....................................15
LATIHAN SOAL..................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................21

i

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Besaran Pokok ......................................................................................................... 3
Tabel 2. Besaran Turunan ...................................................................................................... 4

ii

PENDAHULUAN

A. IDENTITAS MODUL
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas : X
Semester 1
Judul Modul : Besaran dan Pengukuran

B. KOMPETENSI DASAR
3.2 Menerapkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis, ketepatan, ketelitian
dan angka penting, serta notasi Ilmiah
4.2 Menyajikan hasil pengukuran besaran fisis berikut ketelitiannya dengan
menggunakan peralatan dan teknik yang tepat serta mengikuti kaidah
angka penting untuk suatu penyelidikan ilmiah

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan kalian mampu:
1. Memahami berbagai jenis besaran fisika, dimensi, awalan satuan;
2. Menggunakan analisis dimensi untuk menguji kebenaran rumus dan
menentukan rumus;
3. Mengkonversi satuan dan menulis angka dengan notasi ilmiah;
4. Menjelaskan cara menentukan nst alat ukur;
5. Melakukan pengukuran panjang dengan jangka sorong dan mikrometer;
6. Menentukan ketidakpastian pengukuran baik pengukuran tunggal maupun
berulang; dan
7. Menerapkan aturan perhitungan angka penting.

D. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Agar modul dapat digunakan secara maksimal maka kalian diharapkan
melakukan langkah- langkah sebagai berikut:
1. Pelajari dan pahami tujuan yang tercantum pada modul
2. Pelajari uraian materi secara sistematis dan mandalam

1

3. Perhatikanlah langkah-langkah dalam setiap penyelesaian contoh soal yang
ada

4. Kerjakanlah latihan soal yang ada disetiap akhir kegiatan pembelajaran,
cocokkan jawaban kalian dengan kunci jawaban yang tersedia pada modul
dan lakukan penghitungan skor hasil belajar kalian.

5. Diskusikan dengan guru atau teman jika mengalami kesulitan dalam
pemahaman materi.

2

URAIAN MATERI

A. BESARAN

1. Besaran, Sistem Satuan, dan Dimensi

Besaran merupakan sifat-sifat atau keadaan suatu materi yang dapat
dinyatakan diukur dan dinyatakan dalam angka-angka. Besaran sendiri
terdiri dari dua jenis yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Dalam
besaran terdapat sistem satuan. Satuan yang telah disepakati bersama oleh
konferensi internasional disebut satuan SI atau mks. Adapun satuan lain
yang biasa digunakan selain SI adalah satuan cgs (centimetre, gram,
sekon).

a. Besaran Pokok
Besaran pokok merupakan besaran utama yang nilai dan dimensinya telah

didefinisikan ditetapkan dalam perjanjian internasional. Perjanjian ini
disepakati dalam forum Conference Generale des Poids et Measures
(Konferensi Umum Timbangan dan Ukuran). Besaran pokok terdiri
dari 7 besaran, berikut table yang menyajikan besaran pokok beserta
satuan dan dimensinya

No Besaran Pokok Satuan Lambang Lambang
(SI) Satuan Dimensi

1 Massa kilogram kg [M]
[L]
2 Panjang meter m [T]
[ ]
3 Waktu sekon s [I]
[J]
4 Suhu kelvin K [N]

5 Kuat arus ampere A

6 Intensitas cahaya candela Cd

7 Jumlah zat mol mol
Tabel 1. Besaran Pokok

a. Besaran Turunan
Besaran turunan merupakan besaran yang satuan dan dimensinya

diturunkan atau tersusun dari besaran pokok. Dimensi pada besaran
turunan menunjukkan besaran utama yang menyusunnya

3

No Besaran Simbol Rumus Satuan Dimensi
Turunan Internasional
= × L2
1. Luas (SI) LT -1
2. Kecepatan = 2 LT -2
3. Percepatam . −1 MLT-2
4. Gaya ∆ ML2T-2
= ∆ . −2
5. Energi ML2T-3
. . −2
6 Daya
= × . ( . −1)2
= . 2. −2
1
2 . 2. −2
= 2

= . 2. −3
=

Tabel 2. Besaran Turunan

Contoh Soal:

1. Jika volume memiliki satuan 3 maka apa dimensi dari volume

a. L3 d. LM3

b. M3 e. M2

c. ML3

Jawaban:

Satuan 3 menunjukkan bahwa besaran pokok yang menyusun volume
adalaj panjang, dimana panjang memiliki dimensi L sehingga dimensi
volume adalah L3. Jawabannya A

4

B. PENGUKURAN
Mengukur adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran sejenis

dari alat ukur yang dijadikan acuan. Misalnya mengukur meja dengan mistar.
Yang dibandingkan adalah meja dengan panjang mistar. Yang dijadikan
acuan adalah mistar. Terdapat beberapa jenis pengukuran yang dapat
dilakukan, sebagai berikut:

1. Macam – Macam Pengukuran
a. Pengukuran langsung dan tidak langsung
Pengukuran langsung merupakan suatu kegiatan mengukur yang
dilakukan dalam sekali pengukuran langsung mendapatkan besaran
yang diinginkan. Sementara pengukuran tidak langsung merupakan
kegiatan pengukuran yang dilakukan dengan mengukur beberapa
besaran lain, lalu diolah untuk mendapatkan besaran yang
diinginkan. Sebagai contoh pengukuran massa dengan neraca
merupakan pengukuran langsung. Sementara ketika ingin mengukur
massa jenis, maka kita perlu mengukur massa dan volume zat,
kemudian massa jenis ( ) dihitung berdasarkan massa ( ) dan
volume ( ) terukur menggunakan rumus


=
Pengukuran massa jenis ini disebut sebagai pengukuran tidak
langsung.

b. Pengukuran tunggal dan berulang
Pengukuran tunggal merupakan kegiatan pengukuran yang

hanya dilakukan sekali. Sementara pengukuran berulang merupakan
kegiatan mengukur suatu besaran yang sama, namun dilakukan
secara berulang-ulang. Pengukuran tunggal dilakukan apabila dalam
satu kali pengukuran diyakini akan menghasilkan nilai terbaik.
Sementara pengukuran berulang dilakukan apabila terdapat
beberapa faktor dalam proses pengukuran yang dianggap dapat
mempengaruhi hasil pengukuran, sehingga diperlukan pengukuran
secara berulang-ulang.

5

Contoh: Siswa A mengukur panjang kayu menggunakan mistar,
hasil pengukuran yang didapatkan sebesar 25 cm. Siswa B
melakukan pengukuran terhadap waktu jatuhnya bola dari
ketinggian 2 m, pengukuran dilakukan secara berulang-ulang
dikarenakan waktu antara bola jatuh dan stopwatch dipencet dapat
berbeda-beda. Kegiatan pengukuran yang dilakukan siswa A
adalah pengukuran tunggal dan kegiatan yang dilakukan siswa B
adalah pengukuran berulang

2. Alat Ukur

Kriteria Kemampuan Alat Ukur:
1. Ketelitian (accuracy): kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil

ukur yang mendekati hasil sebenarnya
2. Ketepatan (precision): kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil

yang sama dari pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dengan
cara yang sama
3. Sensitivitas (sensitivity): tingkat kepekaan alat ukur terhadap
perubahan besaraan yang akan diukur
4. Kesalahan (error): penyimpangan hasil ukur terhadap nilai yang
sebenarnya Idealnya sebuah alat ukur memiliki akurasi, presisi dan
Dalasemnsmitievnitgauskyuarnsgubaatuikbseeshairnagngayatninggksaamt kaeskaitlaahdaanpnaytamreelnagtigfukneackilandan
berbdaagtaaiymanagcadmihaaslailtkuaknuark. Panemakiluihraatn. alat ukur disesuaikan dengan

ketelitian serta nilai ukur maksimum yang kita butuhkan. Berikut
merupakan beberapa contoh dari alat ukur

a. Alat ukur massa
Terdapat beberapa alat ukur yang bisa kita gunakan untuk mengukur
massa diantaranya adalah sebagai berikut

6

1) Neraca analog Timbangan analog merupakan
timbangan dengan sistem pembacaan
2) Neraca digital manual, dimana pengukur harus
membaca angka yang ditunjuk jarum
b. Alat ukur volume secara manual. Sistem kerja
1) Gelas beaker timbangan ini memanfaatkan sistem
pegas di dalamnya untuk proses

pengukuran. Timbangan analog
memiliki ketelitian serta batas ukur
maksimum yang berbeda-beda pada
setiap jenisnya.

Neraca digital merupakan timbangan

dengan sistem pembacaan otomatis,

dimana pengukur massa benda yang

diukur akan langsung ditampilkan di

layar neraca. Dengan ketelitian dan

batas ukur maksimum yang sama,

timbangan digital dapat

menampilkan hasil lebih spesifik

dari neraca analog. Neraca digital

memiliki ketelitian serta batas ukur

maksimum yang berbeda-beda pada

setiap jenisnya. Pada neraca digital di

samping nilai skala terkecilnya

adalah 0,01 gr

Gelas beaker merupakan salah satu alat
ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur volume zat cair. Gelas beaker
memiliki ukuran yang berbeda-beda
dengan ketelitian yang berbeda.

7

2) Labu erlenmeyer

Labu Erlenmeyer merupakan salah satu
alat ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur volume zat cair dengan
bentuk mengecil pada bagian atas. Labu
Erlenmeyer memiliki ukuran yang
berbeda-beda dengan ketelitian yang
berbeda.

c. Alat ukur panjang
1) Mistar
Mistar adalah ala ukur panjang dengan nilai skala terkecil
sebesar 0,1 cm atau 1 mm. Pada pembacaan skala, kedudukan
mata pengamat harus tegak lurus dengan skala mistar yang di
baca.

Hasil pengukurannya = 3,1 – 0,3 = 2,8 cm

2) Jangka sorong
Jangka sorong merupakan alat ukur panjang dengan nilai skala
terkecil 0,01 cm

6
7

5

3 4
12 8

Keterangan:
1. Rahang tetap
2. Rahang geser
3. Skala nonius
4. Skala utama dalam cm
5. Pengukur kedalaman
6. Skala utama dalam inci
7. Rahang untuk mengukur diameter dalam

Cara membaca Jangka sorong
1. Letakkan benda yang ingin diukur diantara rahang tetap

dan rahang geser. Apabila ingin mengukur diameter dalam
suatau benda, maka gunakan rahang yang bagian atas
2. Geserlah rahang geser, hingga tepat menjepit benda yang
akan diukur.
3. Lihatlah skala utama yang berada paling dekat dengan
skala nonius.

Pada contoh di atas, skala utama yang berada paling dekat
dengan skala nonius adalah 2,1cm.
4. Lihatlah skala nonius yang sat ugaris lurus dengan skala
utama.

Pada contoh di atas titik skala nonius yang terbaca adalah
(0 x 0, 01) cm
5. Pembacaan hasil pengukuran menggunakan jangka sorong
adalah skala utama + (skala nonius. Sehingga pada contoh
di atas hasil pengukurannya sebesar (2,1 + ( 0 x 0, 01))cm
= 2,1 cm

9

3) Mikrometer sekrup

Mikrometer sekrup merup4akan alat ukur panjang dengan nilai
skala terkecil 0,01 mm

1 23 5 6

Keterangan:

1. Poros tetap :Poros yang tidak bergerak untuk menahan benda yang akan
diukur

2. Poros geser: Poros yang dapat digeser untuk menyesuaikan ukuran
benda

3. Skala utama
4. Skala nonius
5. Thimble: Bagian untuk memutar poros geser
6. Ratchet: Bagian untuk memutar poros geser dengan kecepatan yang

lebih lambat dari pada thimble

CARA MENGGUNAKAN MIKROMETER SEKRUP

1. Letakkan benda yang akan diukur diantara poros geser dan poros tetap.
2. Aturlah poros geser hingga sesuai dengan ukuran benda yang akan

diukur. Jika jaraknya masih jauh dari benda putar dengan thimble,
namun jika jaraknya sudah semakin dekat putarlah dengan ratchet
3. Bacalah skala yang ditunjuk

Skala utama = 14, 5 mm
Skala nonius = (11 x 0,01 mm) = 0,11 mm

10

Hasil pengukuran = skala utama + skala nonius = 14,61 mm

Untuk mengetahui lebih banyak jenis alat ukur jangan lupa
berselancar di internet!

3. Ketidakpastian
Dalam suatu kegiatan pengukuran terdapat berbagai faktor yang dapat

menyebabkan hasil pengukuran tidak tepat akibat terjadinya beberapa
beberapa kesalahan. Untuk hal itu di dalam pengukuran terdapat
ketidakpastian dari suatu hasil pengukuran. Berikut merupakan
kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam pengukuran, serta macam-
macam ketidakpastian
a. Kesalahan dalam pengukuran

1) Kesalahan umum
Kesalahan umum merupakan kesalahan yang disebabkan oleh
manusia, seperti kesalahan dalam menggunakan alat ukur,
kesalahan dalam membaca skala, serta kesalahan dalam
menggunakan instrument.

2) Kesalahan Sistematis
Kesalahan sistematis bersumber dari alat ukur yang digunakan
atau kondisi yang menyertai saat pengukuran. Yang termasuk
ketidakpastian sistematik antara lain:

a) Kesalahan kalibrasi alat
Kesalahan yang terjadi karena cara memberi nilai skala

pada saat pembuatan alat tidak tepat, sehingga berakibat
setiap kali alat digunakan suatu kesalahan melekat pada hasil
pengukuran. Kesalahan ini dapat diatasi dengan
mengkalibrasi ulang alat terhadap alat standar.

11

b) Kesalahan nol
Saat ingin memulai proses pengukuran titik nol

pengukuran tidak berada tepat pada titik nol sebenarnya.

c) Waktu respon yang tidak tepat
Akibat dari waktu pengukuran (pengambilan data) tidak

bersamaan dengan saat munculnya data yang seharusnya
diukur. Misalnya, saat mengukur waktuu bola jatuh dari
ketinggian menggunakan stopwatch, terlalu cepat atau
terlambat menekan tombol stopwatch saat kejadian
berlangsung.

d) Kondisi yang tidak sesuai
Kondisi alat ukur dipengaruhi oleh kejadian yang hendak

diukur. Misal, mengukur ketebalan logam sesaat setelah
dipanaskan. Tentu hasil pengukuran yang didapat bukan hasil
sesungguhnya, karena setelah dipanaskan logam akan memuai
dan terjadi pertambahan panjang.

e) Kesalahan pandangan/paralak
Kesalahan ini timbul apabila pada waktu membaca skala,

mata pengamat tidak tegak lurus di atas jarum penunjuk/skala.

3) Kesalahan acak
Kesalahan acak merupakan kesahalan yang terjadi,

namun penyebab kesalahan tersebut tidak bisa dikendalikan.
Seperti saat kita hendak mengukur kecepatan sebuah kelapa
jatuh dari pohon, maka ada gesekan udara yang mempengaruhi
kecepatan kelapa. Gesekan udara tersebut tidak dapat kita
kendalikan.

b. Macam-macam ketidakpastian dalam pengukuran
1) Ketidakpastian mutlak
a) Ketdakpastian mutlak dalam pengukuran tunggal
Dalam pengukuran tunggal, ketidakpastiaan dari
pengukuran akan bergantung pada nilai skala terkecil dari

12

alat (nst). Dimana ketidakpastian adalah ½ dari nilai skala

terkecil, atau dapat dituliskan dalam bentuk matematis

sebagai berikut,


∆ =

Sehingga hasil pengukurannya adalah

̅ ± ∆
Keterangan:
̅ = hasil pengukuran yang terbaca pada alat ukur
∆ = ketidakpastian mutlak

b) Ketidakpastian mutlak dalam pengukuran berulang
Dalam pengukuran berulang, ketidakpastian hasil

pengukuran dihitung menggunakan standar deviasi
sebagai berikut,

∆ = √ ∑ − (∑ )


Keterangan:
= banyaknya jumlah pengukuran
= nilai pengukuran ke i

2) Ketidakpastian Relatif

Ketidakpastian relatif merupakan persentase

perbandingan ketidakpastian mutlak dengan hasil pengukuran

terbaik.

a) Ketidakpastian relatif untuk pengukuran tunggal

∆ × 100 %

ditentukan dengan

b) Ketidakpastian relatif untuk pengukuran berulang

∆ × 100 %

ditentukan dengan ̅

Hasil pengukuran ketidakpastian relatif akan mempengaruhi
jumlah angka penting yang boleh dicantumkan dalam
penulisan hasil pengukuran. Adapun ketentuannya sebagai
berikut,

13

• ketidakpastian relatif 10% berhak atas dua angka berarti
• ketidakpastian relatif 1% berhak atas tiga angka berati
• ketidakpastian relatif 0,1% berhak atas empat angka berarti

Catatan: Semakin kecil ketidakpastian mutlaknya maka data hasil
pengukuran akan semakin presisi dan semakin kecil ketidakpastian

relatifnya maka data tersebut akan semakin akurat

CONTOH SOAL:
1. Tentukanlah berapa hasil pengukuran yang terbaca pada

jangka sorong berikut

a. (2,37 ± 0,005) cm
b. (2, 27 ± 0,01) cm
c. (2, 27± 0,005) cm
d. (2, 51 ± 0,01) cm
e. (3, 2 ± 0,005) cm
JAWABAN:
Diket :
Skala utama = 2, 2 cm
Skala nonius = 0,07 cm
Nst = 0,01 cm
Ditanya: Hasil pengukuran
Jawab:
Hasil pengukuran = (skala utama + skala nonius) ±
ketidakpastian
Hasil pengukuran = 2,2 cm + 0,07 cm + ½ (0,01) cm

14

Hasil pengukuran = (2, 27± 0,005) cm

C. NOTASI ILMIAH DAN ANGKA PENTING
1. Notasi Ilmiah
Pengukuran dalam fisika terbentang mulai dari ukuran partikel yang
sangat sampai ukuran yang sangat besar Contohnya kecepatan cahaya
kurang lebih sebesar:

c = 300.000.000 m/s

muatan elektron kurang lebih sebesar:

e = 0,00000000000000000016 Coulomb.

Jika ditulis seperti diatas tidak efisien. Untuk mengatasi masalah
tersebut kita dapat menggunakan notasi ilmiah atau notasi baku. Dalam
notasi ilmiah, hasil pengukuran dapat dinyatakan: a x 10n , n = bilangan
bulat. Jika ditulis dengan notasi ilmiah, kedua contoh di atas menjadi :
c = 3.108 m/s, dan e = 1,6.10-19 Coulomb.

2. Angka Penting
Angka adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran,

meliputi angka pasti dan angka taksiran. Penulisan angka penting
menunjukkan ketelitian suatu hasil pengukuran.
a. Aturan Angka Penting

Dalam menulis angka penting, terdapat beberapa aturan yang perlu
dierhatikan, yaitu sebagai berikut.
1. Semua angka bukan nol adalah angka penting.

Contoh :
47,5 cm memiliki 3 angka penting
41,27 gram memiliki 4 angka penting.

2. Angka nol yang diapit angka bukan nol termasuk angka penting.

Contoh:
1,023 gram memiliki 4 angka penting
205 km memiliki 3 angka penting

15

3. Angka nol yang terletak disebelah kiri angka bukan nol tidak termasuk
angka penting.
Contoh:
0,022 gram memiliki 2 angka penting
0,105 gram memiliki 3 angka penting

4. Angka nol disebelah kanan angka bukan nol bukan angka penting
kecuali angka nol disebelah kanan angka yang diberi tanda khusus
(biasanya garis bawah) termasuk angka penting.
Contoh:
1000 kg memiliki 1 angka penting
1000 km memiliki 2 angka penting

b. Operasi Angka Penting
1. Operasi Penjumlahan dan Penguragan
a) Hanya boleh ada 1 angka taksiran. Contohnya adalah
sebagai berikut.

1,23 + 6,5 = 7,73 ≈ 7,7

b) Jika angka terakhir lebih besar dari lima, bulatkan ke atas. Jika
angka terakhir lebih kecil dari lima, bulatkan ke bawah. Jika tepat
lima, lihat angka sebelumnya, misal angka sebelumnya ganjil
bulatkan ke atas dan sebaliknya.

Contoh:
6,766 ≈ 6,77
6,743 ≈ 6,74
6,765 ≈ 6,76
6,735 ≈ 6,74

16

2. Operasi Perkalian dan Pembagian
Hasil perkalian dan pembagian antara dua bilangan atau lebih

menghasilkan bilangan yang jumlah angka pentingnya sama dengan
angka penting paling sedikit.

Contoh:
2,1 × 2,25 = 4,725 ≈ 4,7

CONTOH SOAL: d. 4,8
1. Bulatkanlah hasil perkalian 2,2 x 2, 23 = e. 5,1

a. 4,9
b. 5
c. 4

JAWABAN:
Hasil perkalian 2,2 x 2, 23 =4, 906, karena setelah angka 9 merupakan
angka nol maka hasil perkalian dibulatkan kebawah menjadi 4,9 (A)

2. Dalam angka 1, 003 terdapat berapa angka penting….
a. 2 d. 1
b. 3 e. 5
c. 4
JAWABAN: Dalam angka 1, 003 terdapat empat angka penting,
karena semua angka selain nol adalah angka penting, serta angka nol
yang diapit dua angka selain nol juga merupakan angka penting

17

LATIHAN SOAL

1. Jika suatu besaran memiliki satuan kgm/s2, maka dimensi dari besaran
tersebut adalah……
a. ML/T2
b. KM/T2
c. LM/T2
d. ML/T
e. KM/S2

2. Jika suatu besaran turunan memiliki dimensi M/L3 maka besaran pokok
apa yang menyusun besaran tersebut…..
a. Massa dan volume
b. Massa dan suhu
c. Massa dan panjang
d. Panjang dan volume
e. Panjang dan waktu

3. Hasil pengukuran diameter sebuah koin dengan jangka sorong sebesar 1,
24 cm. Jika nilai skala terkecil jangka sorong sebesar 0, 01 cm, maka
berapakah ketidakpasitan pengukuran tersebut dan termasuk
ketidakpastian jenis apa….
a. 0,05 cm (ketidakpastian mutlak)
b. 0,005 (ketidakpastian mutlak)
c. 1 (ketidakpastian relatif)
d. 0,1 (ketidakpastian mutlak)
e. 70 % (ketidakpastian relatif)

4. Jika dalam suatu kegiatan pengukuran, seseorang yang melakukan
pengukuran tidak mengkalibrasi alat sebelum proses pengukuran
dilakukan, maka kesalahan jenis apa yang telah dilakukan…..
a. Kesalahan acak
b. Kesalahan alat

18

c. Kesalahan sistematik
d. Kesalahan tak terduga
e. Kesalahan umum

5. Jika melakukan pengukuran kecepatan jatuh suatu benda, maka sebaiknya
pengukuran jenis apaa yang dilakukan…
a. Pengukuran relatif
b. Pengukuran mutlak
c. Pengukuran acak
d. Pengukuran berulang
e. Pengukuran tunggal

6. Sekelompok peserta didik melakukan pengukuran tinggi pantulan bola
yang dijatuhkan ke lantai. Pengukuran dilakukan pengulangan dan
didapatkan data ketinggian 68,70 cm, 68,90 cm, 68,80 cm, 68,90 cm, 68,70
cm, 68,90 cm, 68,80 cm, 68,90 cm, 68,80 cm, 68,70 cm. Berapakah
ketidakpastian mutlak pengukuran tersebut……
a. 0, 1 cm
b. 0, 03 cm
c. 0, 006 cm
d. 0, 5 cm
e. 0, 05 cm

7. Berapakah hasil pengukuran diameter logam tersebut

a. 0,9 cm
b. 1 cm
c. 0, 89 cm
d. 0, 1 cm

19

e. 0, 98 cm

8. Seseorang hendak mengukur ketebalan sebuah uang koin. Ia hendak
mengukur ketebalannya dengan ketelitian 0, 005 mm, maka alat ukur
apakah yang dapat digunakan orang tersebut….
a. Mistar
b. Jangka sorong
c. Milimeter blok
d. Mikrometer sekrup
e. Vernier Calipers

9. Dalam bilangan 1, 000456 terdapat berapa angka penting……
a. Tujuh
b. Satu
c. Empat
d. Tiga
e. Nol

10. Kesalahan yang timbul dari faktor alam seperti angin saat pengukuran
kecepatan benda jatuh termasuk kesalahan…..
a. Bebas
b. Sistematik
c. Acak
d. Tunggal
e. Urut

KUNCI JAWABAN: CARA PENILAIAN
NILAI = JUMLAH BENAR x 10
1. A Jika nilai anda dibawah 80, silahkan
2. C pelajari kembali modul dan tanyakan pada
3. B suru jika ada hal yang belum dipahami
4. C
5. D 20
6. B
7. E
8. D
9. A
10.C

DAFTAR PUSTAKA

Saroji. 2020. Modul Pembelajaran SMA FISIKA. Direktorat SMA, Direktorat
Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN
Tipler. D. Paul. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga

21


Click to View FlipBook Version