https://tolitolikab.bps.go.idbentuk upaya untuk meningkatkan pembangunan manusia di
wilayah tersebut.
Salah satu upaya untuk mengetahui sejauh mana capaian
pembangunan manusia di suatu daerah adalah dengan
menggunakan IPM. Di Indonesia, penghitungan IPM dilakukan
hingga level kabupaten/kota. Sehingga IPM dapat digunakan
sebagai suatu ukuran perbandingan mengenai tingkat capaian
pembangunan manusia antar daerah yang dapat dilakukan hingga
level kabupaten/kota.
BPS mengklasifikasikan IPM menjadi 4 (kelompok) yaitu
sebagai berikut:
Gambar 3 . Klasifikasi Capaian IPM
IPM merupakan suatu indeks yang terdiri dari 3 (tiga)
dimensi, yaitu dimensi kesehatan, dimensi pengetahuan, dan
dimensi standar hidup layak. Pada tahun 2019, pembangunan
manusia di Kabupaten Tolitoli berada pada kategori sedang, yaitu
sebesar 65,42. Dilihat berdasarkan dimensinya, pada dimensi
kesehatan diukur dari Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) pada
tahun 2019 Kabupaten Tolitoli memiliki nilai UHH sebesar 65,3
33
https://tolitolikab.bps.go.idyang artinya setiap bayi yang baru lahir di diharapkan dapat
bertahan hidup dengan rata-rata usia mencapai 65,3 tahun.
Selanjunya dimensi pengetahuan diukur menggunakan
pendekatan capaian pendidikan yang dilihat dari dari Harapan
Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Pada tahun
2019 di Kabupaten Tolitoli memiliki nilai HLS yaitu sebesar 12,72
dimana rata-rata penduduk usia 7 tahun yang mulai bersekolah,
diharapkan bisa mendapatkan pendidikan hingga 12,72 tahun yaitu
setara dengan lulus SMA/SMK dan nilai RLS Kabupaten Tolitoli
sebesar 8,26 memiliki arti bahwa penduduk di Kabupaten Tolitoli
yang berusia 25 tahun keatas, sudah menempuh masa sekolah
dengan rata-rata 8,26 tahun atau setara dengan sedang menempuh
pendidikan kelas VIII.
Dan yang terakhir adalah dimensi standar hidup layak
dilihat dari besarnya nilai pengeluaran per kapita yang disesuaikan.
Besarnya nilai pengeluaran per kapita pada tahun 2019 di
Kabupaten Tolitoli yaitu 8,2 juta rupiah per tahun.
Gambar 4. Capaian IPM dan Dimensi Pembangunnya di Kabupaten
Tolitoli Tahun 2019
34
https://tolitolikab.bps.go.id3.1.1 Pembangunan Manusia pada Dimensi Kesehatan
Salah satu dimensi pementuk IPM adalah dimensi
kesehatan. Dimensi ini merupakan salah satu gambaran untuk
mengetahui capaian pembangunan manusia dari sisi kesehatan.
Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan merupakan salah satu
tujuan penting pembangunan, sesuai dengan salah satu tujuan
Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu kehidupan sehat dan
sejahtera. Faktor penting yang dapat memengaruhi tingkat
kesehatan seseorang diantaranya adalah faktor lingkungan. Untuk
mengetahui kondisi lingkungan diantaranya dapat dilihat dari jenis
kloset yang digunakan dan tempat pembuangan akhir tinja.
Gambar 5. Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Fasilitas Buang Air
Besar Menurut Jenis Kloset yang Digunakan dan Tempat
Pembuangan Akhir Tinja, 2019
Indikator yang menggambarkan lingkungan yang sehat
salah satunya adalah sanitasi yang layak yaitu seperti fasilitas
buang air besar yang dilengkapi dengan kloset leher angsa dan
35
https://tolitolikab.bps.go.iddengan tempat pembuangan tangki septik/SPAL (Sistem
Pembuangan Air Limbah).
Di Kabupaten Tolitoli, masih ada sebanyak 22,57 persen
rumah tangga tidak memiliki fasilitas buang air besar. Persentase
rumah tangga yang memiliki fasilitas buang air besar di Kabupaten
Tolitoli, 93,79 persen sudah dilengkapi dengan leher angsa,
sedangkan 6,21 persen lainnya belum dilengkapi dengan leher
angsa. Sementara itu dilihat berdasarkan tempat pembuangan akhir
tinja, sebanyak 86,86 persen rumah tangga sudah menggunakan
tangki septik/IPAL/SPAL, sedangkan 13,14 persen lainnya masih
menggunakan kolam/sawah/sungai/danau/laut/lubang tanah,
dan lain lain.
Selain dari fasilitas untuk buang air besar, lingkungan yang
sehat juga digambarkan dari penggunaan sumber air minum.
Tahun 2019 di Kabupaten Tolitoli masih ada sebanyak 20,43 persen
rumah tangga yang menggunakan sumber air minum yang tidak
bersih.
Untuk mendukung capaian pembangunan dalam dimensi
kesehatan selain dari lingkungan tempat tinggal, yaitu dengan
menyediakan fasilitas Kesehatan dan tenaga kesehatan yang baik di
Kabupaten Tolitoli.
36
https://tolitolikab.bps.go.idGambar 6. Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Tolitoli, 2019
Sumber: Kementrian Kesehatan
Berdasarkan gambar diatas menunjukkan jumlah fasilitas
kesehatan di Kabupaten Tolitoli pada tahun 2019, yaitu rumah sakit
umum sebanyak 2, puskesmas sebanyak 14, dan posyandu
sebanyak 258. Jumlah tersebut cenderung tidak mengalami
perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan masih
cenderung terpusat di Kecamatan Baolan yang merupakan ibukota
kabupaten dari Kabupaten Tolitoli.
Gambar 7. Jumlah Tenaga Kesehatan di Kabupaten Tolitoli, 2019
Sumber: Kementrian Kesehatan
37
Berdasarkan gambar diatas menunjukkan jumlah tenaga
kesehatan yang ada di Kabupaten Tolitoli pada tahun 2019, yaitu
jumlah dokter sebanyak 52 orang, perawat sebesar 603 orang, bidan
sebanyak 247 orang, farmasi sebanyak 61 orang dan ahli gizi
sebanyak 31 orang.
Dimensi kesehatan dalam penghitungan IPM diukur dari
besarnya capaian Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) yang
menunjukkan tingkat kesehatan di suatu wilayah baik dari sisi
sarana prasarana, akses, maupun kualitas kesehatan.
https://tolitolikab.bps.go.id
65,3
64,71
63,95 64,03 64,12
2015 2016 2017 2018 2019
Gambar 8 . Umur Harapan Hidup saat Lahir di Kabupaten Tolitoli tahun
2015-2019 (tahun)
Dilihat dari dimensi kesehatan, capaian UHH di Kabupaten
Tolitoli memiliki kecenderungan yang meningkat dari tahun 2015
sampai dengan tahun 2019. Tahun 2015 capaian UHH di Kabupaten
Tolitoli sebesar 63,95 tahun, pada tahun 2016 menjadi 64,03 tahun,
kemudian pada tahun 2017 mencapai 64,12 tahun. Peningkatan
besar terjadi pada tahun 2018 yaitu menjadi 64,71 tahun dan pada
tahun 2019 menjadi 65,3 tahun. Hal ini berarti pada tahun 2019, bayi
38
https://tolitolikab.bps.go.idyang baru dilahirkan, diharapkan mampu bertahan hidup hingga
tahun 68,23 tahun. Kecenderungan capaian UHH yang meningkat
ini menunjukkan bahwa semakin membaiknya tingkat kesehatan
penduduk di Kabupaten Tolitoli.
3.1.2 Pembangunan Manusia pada Dimensi Pengetahuan
Dimensi lainnya dalam pembentuk IPM adalah dimensi
pendidikan. Dimana dengan adanya peningkatan kualitas
Pendidikan maka diharapkan akan meningkatkan kualitas dari
sumber data manusianya.
Untuk dapat mengetahui capaian pembangunan di bidang
pendidikan dapat dengan melihat partisipasi sekolah dari
penduduknya. Tingkat partisipasi sekolah digunakan untuk
mengukur partisipasi penduduk dalam mengikuti berbagai
jenjang pendidikan dan kelompok umur. Beberapa ukuran tingkat
partisipasi sekolah diantaranya, Angka Partisipasi Sekolah (APS)
yaitu untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah
yang sudah memanfaatkan fasilitas Pendidikan, dan Angka
Partisipasi Murni (APM) yaitu untuk mengukur daya serap sistem
pendidikan terhadap penduduk usia sekolah.
39
https://tolitolikab.bps.go.id
Gambar 9. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Tolitoli,
2019
APS merupakan proporsi dari penduduk kelompok usia
tertentu yang sedang bersekolah (tanpa memandang jenjang
pendidikan yang ditempuh) terhadap penduduk kelompok usia
sekolah yang bersesuaian, termasuk dengan pendidikan non
formal (Paket A, Paket B, dan Paket C) yang juga turut
diperhitungkan.
Nilai APS berkisar antara 0 sampai 100, dimana semakin
tinggi nilai APS maka semakin banyak anak usia sekolah yang
bersekolah di suatu daerah. Di Kabupaten Tolitoli, APS 7-12 tahun
sebesar 98,07 persen yang artinya sekitar 98,07 persen penduduk
usia 7-12 tahun sedang bersekolah, sedangkan APS 13-15 tahun
sebesar 86,19 persen yang artinya sekitar 86,19 persen penduduk
usia 13-15 tahun sedang bersekolah, dan APS 16-18 sebesar 71,86
persen yang artinya sekitar 71,86 persen penduduk usia 16-18
tahun sedang bersekolah. Sehingga dapat dilihat bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikannya, jumlah penduduk yang sedang
bersekolah mengalami penurunan, salah satu kemungkinan yang
40
https://tolitolikab.bps.go.idmenyebabkan hal ini adalah penduduk tersebut memutuskan
untuk memasuki dunia kerja.
Gambar 10. Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Tolitoli,
2019
APM merupakan proporsi dari penduduk kelompok usia
tertentu yang sedang bersekolah tepat di jenjang pendidikan yang
seharusnya (sesuai antara umur penduduk dengan ketentuan usia
bersekolah pada jenjang tersebut) terhadap penduduk kelompok
usia sekolah yang bersesuaian, termasuk dengan pendidikan non
formal (Paket A, Paket B, Paket C) yang juga diperhitungkan.
Nilai APM berkisar antara 0-100, APM menunjukkan
seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat
memanfaatkan fasilitas Pendidikan sesuai dengan jenjang
pendidikannya. APM SD di Kabupaten Tolitoli sebesar 91,10
persen yang artinya sekitar 91,10 persen penduduk yang berusia 7-
12 tahun bersekolah tepat di jenjang waktu SD/sederajat. Lalu,
APM SMP sebesar 63,20 persen yang artinya sebanyak 63,20 persen
41
penduduk berusia 13-15 tahun bersekolah tepat di jenjang waktu
SMP/sederajat, dan APM SMA sebesar 56,48 persen yang artinya
sebanyak 56,48 persen penduduk berusia 16-18 tahun di
Kabupaten Tolitoli, bersekolah tepat di jenjang waktu
SMA/sederajat.
Dilihat dari angka APS dan APM pada masing-masing
jenjang pendidikan, nampak adanya persamaan pola dimana
angka tertinggi berada pada jenjang SD/sederajat dan mengalami
penurunan pada jenjang-jenjang selanjutnya yaitu SMP/sederajat
dan SMA/sederajat. Salah satu kemungkinan penyebab terjadinya
hal ini karena banyaknya anak yang tidak melanjutkan
pendidikannya dan masuk ke dunia kerja.
https://tolitolikab.bps.go.id
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00 2015 2016 2017 2018 2019
25,66 11,61 14,96 15,46 14,80
SD 12,25 10,72 12,36 13,20 11,35
SMP 11,24 10,76 19,74 17,19 16,03
SMA 7,75 10,35 12,52 12,33 9,54
SMK
Gambar 11. Rasio Murid Guru Tingkat Pendidikan SD, SMP, SMA, dan
SMK Kabupaten Tolitoli, 2015-2019
Rasio murid guru adalah rata-rata jumlah murid per guru
pada jenjang pendidikan tertentu di tahun ajaran tertentu. Rasio
murid guru merupakan indikator yang menggambarkan beban
42
https://tolitolikab.bps.go.idkerja yang diemban seorang guru dalam mengajar dan mendidik
di kelas, dimana semakin besar nilai rasio maka semakin besar
beban seorang guru dalam melakukan pengajaran dan
pengawasan terhadap murid, yang dapat mengakibatkan mutu
pengajaran menjadi semakin rendah. Namun, apabila nilai rasio
terlalu kecil, hal ini dapat menimbulkan ketidakefisienan dari sisi
anggaran. Oleh karena itu, diharapkan besarnya nilai rasio ini
mendekati rasio murid-guru yang ideal agar jumlah guru menjadi
efisien di setiap daerah. Menurut UNESCO 2014, besarnya rasio
murid guru yang ideal adalah 24:1 untuk negara berpenghasilan
menengah, sedangkan peraturan kementrian pendidikan
menyebutkan besar rasio murid-guru yang ideal adalah 20:1.
Kabupaten Tolitoli memiliki besaran nilai rasio murid-guru
yang berfluktuasi namun mengalami penurunan antara tahun 2018
ke tahun 2019. Besar rasio murid guru pada tingkat pendidikan SD
yaitu sebesar 14,80 pada tahun 2019, yang artinya seorang guru SD
di Kabupaten Tolitoli mengajar dan mendidik sebanyak 14 orang
murid. Rasio murid guru pada jenjang pendidikan SMP yaitu
sebesar 11,35 yang artinya seorang guru di Kabupaten Tolitoli
mengajar dan mendidik sebanyak 11 orang murid. Rasio murid
guru pada tingkat pendidikan SMA yaitu sebesar 16,03 yang
artinya seorang guru mengajar dan mendidik sebanyak 16 murid.
Sedangkan rasio-murid guru pada tingkat pendidikan SMA yaitu
sebesar 9,54 yang artinya seorang guru di Kabupaten Tolitoli
mengajar dan mendidik sebanyak 9 murid. Secara umum, rasio
murid guru di Kabupaten Tolitoli lebih rendah dibandingkan
dengan rasio murid guru ideal yang ditentukan oleh kementrian
43
pendidikan. Salah satu alasan yang menyebabkan rendahnya rasio
murid-guru pada tingkat pendidikan SMA adalah berkurangnya
jumlah murid pada jenjang SMA jika dibandingkan dengan pada
tingkat SMP. Hal ini dapat dilihat dari capaian APM dan APS yang
mengalami penurunan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dimensi pengetahuan dalam penghitungan IPM diukur
dari capaian Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama
Sekolah (RLS). Indikator HLS digunakan untuk menggambarkan
pendidikan yang akan ditempuh oleh penduduk berusia 7 tahun
yang mulai sekolah. Sedangkan RLS digunakan untuk
menggambarkan rata-rata lama pendidikan yang telah ditempuh
oleh penduduk berusia 25 tahun keatas.
https://tolitolikab.bps.go.id
12,67 12,68 12,70 12,71 12,72
7,72 7,73 7,85 7,96 8,26
2015 2016 2017 2018 2019
Harapan Lama Sekolah Rata-rata Lama Sekolah
Gambar 12. Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah di
Kabupaten Tolitoli tahun 2015-2019 (tahun)
Capaian HLS di Kabupaten Tolitoli sejak tahun 2015 sampai
dengan tahun 2019 memiliki kecenderungan yang meningkat
meskipun masih berada pada kisaran 12 tahun. Pada tahun 2015
44
https://tolitolikab.bps.go.idcapaian HLS di Kabupaten Tolitoli yaitu sebesar 12,67 tahun,
sedangkan pada tahun 2019 yaitu sebesar 12,72 tahun. Hal ini
menunjukkan bahwa rata-rata penduduk berusia 7 tahun yang
mulai bersekolah, diharapkan bisa mendapatkan pendidikan
hingga 12 tahun atau setara dengan lulus SMA/SMK.
Selanjutnya, capaian RLS di Kabupaten Tolitoli juga
memiliki kecenderungan yang meningkat seperti HLS. Namun
capaian RLS sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 masih
cenderung rendah yaitu berada pada kisaran 7 (tujuh) sampai 8
(delapan) tahun atau setara dengan menempuh pendidikan
setingkat SMP/MTS kelas VII atau VIII.
3.1.3 Pembangunan Manusia pada Dimensi Standar Hidup Layak
Upaya pembangunan manusia berkaitan dengan upaya
pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di suatu wilayah. Hal
ini dikarenakan kemiskinan merupakan suatu hal yang kompleks
dan memiliki keterkaitan dengan banyak aspek kehidupan
penduduk, dimana semakin besarnya kemiskinan dapat menjadi
salah satu gambaran akibat dari rendahnya kualitas hidup
penduduk di wilayah tersebut.
Dalam melakukan penghitungan kemiskinan, BPS
menggunakan konsep kemampuan dalam memenuhi kebutuhan
dasar (basic needs approach). Dimana kemiskinan dipandang sebagai
ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi
pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki
45
rata-rata pengeluaran per kapita perbulan dibawah garis
kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan penjumlahan dari garis
kemiskinan makanan dan garis kemiskinan non makanan yang
didapatkan dari Survei Sosial Ekonomi (SUSENAS) Modul
Konsumsi dan Pengeluaran. Garis kemiskinan makanan (GKM)
adalah penjumlahan dari nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar
makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian
disetarakan dengan 2100 kilokalori per kapita per hari. Sedangkan
garis kemiskinan non makanan adalah penjumlahan nilai
kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non makanan terpilih
yaitu perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
https://tolitolikab.bps.go.id
13,80 13,64 13,66
13,60
13,40 13,47
13,30
13,20 13,09
13,00
12,80
2015 2016 2017 2018 2019
Gambar 13. Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten Tolitoli,
2015-2019
Berdasarkan gambar 13, persentase penduduk miskin di
Kabupaten Tolitoli sejak tahun 2015-2019 memiliki kecenderungan
yang fluktuatif. Pada tahun 2015 persentase penduduk miskin di
Kabupaten Tolitoli sebesar 13,64 persen, tahun 2016 mengalami
penurunan menjadi 13,47 persen, dan menurun menjadi 13,30
46
https://tolitolikab.bps.go.idpersen pada tahun 2017. Selanjutnya pada tahun 2018 terjadi
peningkatan persentase penduduk miskin menjadi 13,66 persen
dan kembali menurun pada tahun 2019 menjadi 13,09 persen.
Menurut Dowling dan Valenzuela (2010:252-253), penyebab
penduduk menjadi miskin dapat dikarenakan rendahnya modal
manusia, contohnya seperti pendidikan, pelatihan, atau
kemampuan membangun. Sedangkan menurut Haughton dan
Khandker (2012: 157), penyebab-penyebab utama, atau paling tidak
berhubungan dengan kemiskinan mencakup tiga karakteristik
diantaranya karakteristik wilayah, penduduk, serta rumah tangga dan
individu. Karakteristik wilayah, mencakup kerentanan terhadap
banjir atau topan, keterpencilan, kualitas pemerintah, serta hak miliki
dan pelaksanaannya. Sementara karakteristik penduduk, mencakup
ketersediaan infrastruktur (jalan, air, listrik) dan layanan (kesehatan,
pendidikan), kedekatan dengan pasar, dan hubungan sosial. Lebih
lanjut, karakteristik rumah tangga dan individu dilihat dari aspek
demografi (seperti, jumlah anggota rumah tangga, struktur usia, rasio
ketergantungan, dan gender kepala rumah tangga), aspek ekonomi
(seperti, status pekerjaan, jam kerja, dan harta benda yang dimiliki),
serta aspek sosial (seperti, status kesehatan dan nutrisi, pendidikan,
dan tempat tinggal).
Dimensi yang terakhir adalah dimensi standar hidup layak
dengan indikator yang digunakan yaitu pengeluaran per kapita
yang disesuaikan. Pengeluaran per kapita yang disesuaikan
merupakan pengeluaran per kapita yang menggunakan dengan
tahun dasar 2012 yang sudah disesuaikan antar daerah.
47
8017 8156
7916
7493
7156
2015 2016 2017 2018 2019
https://tolitolikab.bps.go.id
Gambar 14. Pengeluaran per Kapita yang Disesuaikan di Kabupaten
Tolitoli Tahun 2015-2019 (ribu rupiah)
Berdasarkan gambar menunjukkan bahwa pengeluaran per
kapita di Kabupaten Tolitoli sejak tahun 2015 sampai tahu 2019
memiliki kecenderungan meningkat. Pada tahun 2015 besarnya
pengeluaran per kapita sebesar 7,16 juta rupiah, pada tahun 2016
sebesar 7,49 juta rupiah, pada tahun 2017 sebesar 7,92 juta rupiah,
tahun 2018 sebesar 8,01 juta rupiah dan meningkat menjadi 8,15 juta
rupiah pada tahun 2019. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan
tingkat kualitas hidup dari sisi pengeluaran per kapita di
Kabupaten Tolitoli.
3.2 Capaian IPM
Capaian IPM di Kabupaten Tolitoli tahun 2019 meningkat
sebesar 0,82 dibandingkan tahun 2018. Berikut adalah grafik
capaian IPM sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.
48
65,42
64,60
64,05
63,27
62,72
2015 2016 2017 2018 2019
Gambar 15. IPM Kabupaten Tolitoli, 2015-2019
https://tolitolikab.bps.go.id
Besarnya nilai IPM di Kabupaten Tolitoli memiliki
kecenderungan yang meningkat sejak tahun 2015 sampai dengan
tahun 2019. Pada tahun 2015 capaian IPM Kabupaten Tolitoli yaitu
sebesar 62,72, kemudian mengalami peningkatan menjadi 63,27
pada tahun 2016, 64,05 pada tahun 2017, 64,6 pada tahun 2018 dan
menjadi 65.42 pada tahun 2019. Perkembangan ini menunjukkan
bahwa pembangunan manusia di Kabupaten Tolitoli cenderung
mengalami peningkatan setiap tahunnya.
1,30 1,23 1,27
0,88 0,86
2015 2016 2017 2018 2019
Gambar 16 . Pertumbuhan Capaian IPM di Kabupaten Tolitoli Tahun 2015-
2019
49
https://tolitolikab.bps.go.idGambar 16 menunjukkan laju pertumbuhan capaian IPM di
Kabupaten Tolitoli dari tahun ke tahun dalam kurun waktu 5 (lima)
tahun terakhir. Sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019
pertumbuhan capaian IPM di Kabupaten Tolitoli cenderung
mengalami fluktuasi, yaitu pada tahun 2015 sebesar 1,20 persen
kemudian melambat menjadi 0,88 persen pada tahun 2016. Pada
tahun 2017 kembali mengalami peningkatan menjadi 1,23 persen,
selanjutnya Kembali melambat menjadi 0,86 persen. Lalu pada
tahun 2019 kembali mengalami peningkatan menjadi 1,27 persen.
Hal ini menunjukan bahwa pada tahun 2019 terjadi perkembangan
capaian IPM yang baik.
50
https://tolitolikab.bps.go.id
51
https://tolitolikab.bps.go.id
52
https://tolitolikab.bps.go.id BAB IV
KESIMPULAN
1. Pembangunan manusia di Kabupaten Tolitoli memiliki
kecenderungan yang meningkat selama lima tahun terakhir.
Capaian IPM yaitu pada tahun 2015 sebesar 62,72 dan pada tahun
2019 sebesar 65,42.
2. Capaian IPM Kabupaten Tolitoli merupakan peringkat ke empat
terendah dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di
Provinsi Sulawesi Tengah.
3. Capaian IPM di Kabupaten Tolitoli pada tahun 2019 terbentuk
dari beberapa dimensi yaitu Angka Harapan Hidup (AHH) yaitu
sebesar 65,20, Harapan Lama Sekolah (HLS) yaitu sebesar 12,72
tahun, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yaitu sebesar 8,26 tahun, dan
Pengeluaran per kapita sebesar Rp. 8.156.000 per tahun.
4. Besarnya capaian nilai IPM pada tahun 2019 yaitu sebesar 65,42
yang masuk dalam klasifikasi sedang.
53
https://tolitolikab.bps.go.id
54
https://tolitolikab.bps.go.id
55
https://tolitolikab.bps.go.id
56
BAB V
LAMPIRAN
Lampiran 1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah,
2015-2019
Kabupaten/Kotahttps://tolitolikab.bps.go.id2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
62,97 63,45 64,07 64,68 65,13
Banggai Kepulauan 67,44 68,17 69,00 69,85 70,36
Banggai 69,12 69,69 70,41 71,14 72,02
Morowali 68,13 68,83 69,78 70,68 71,40
Poso 63,82 64,42 64,66 65,14 65,49
Donggala 62,72 63,27 64,05 64,60 65,42
Toli-Toli 65,61 66,37 66,69 67,30 67,69
Buol 62,79 63,60 64,09 64,85 65,47
Parigi 61,33 62,27 62,61 63,38 64,52
Tojo 65,35 65,95 66,72 67,66 68,16
Sigi 62,90 63,49 64,08 64,80 65,27
Banggai Laut 66,00 66,57 67,35 67,95 68,45
Morowali Utara 79,63 79,73 80,24 80,91 81,50
Kota Palu 66,76 67,47 68,11 68,88 69,50
SULAWESI TENGAH
57
Lampiran 2. Umur Harapan Hidup (UHH) Menurut
Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah, 2015-2019
Kabupaten/Kotahttps://tolitolikab.bps.go.id2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
64,35 64,44 64,53 65,12 65,71
Banggai Kepulauan 69,93 69,97 70,02 70,32 70,61
Banggai 68,06 68,06 68,07 68,45 68,82
Morowali 70,09 70,13 70,16 70,51 70,85
Poso 65,79 65,84 65,89 66,37 66,85
Donggala 63,95 64,03 64,12 64,71
Toli-Toli 66,86 66,93 67,00 67,59 65,3
Buol 63,17 63,18 63,19 63,57 68,17
Parigi 63,95 64,01 64,07 64,61 63,94
Tojo 68,66 68,69 68,72 69,15 65,14
Sigi 63,48 63,55 63,62 64,21 69,57
Banggai Laut 68,29 68,32 68,34 68,77 64,79
Morowali Utara 69,93 69,93 69,93 70,31 69,19
Kota Palu 67,26 67,31 67,32 67,78 70,68
SULAWESI TENGAH 68,23
58
Lampiran 3. Harapan Lama Sekolah (HLS) Menurut
Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah, 2015-2019
Kabupaten/Kotahttps://tolitolikab.bps.go.id2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
12,71 12,72 13,03 13,04 13,05
Banggai Kepulauan 12,33 12,73 12,89 13,22 13,23
Banggai 12,63 12,75 12,77 12,89 13,33
Morowali 13,15 13,16 13,38 13,68 13,69
Poso 12,42 12,43 12,46 12,47 12,48
Donggala 12,67 12,68 12,71 12,72
Toli-Toli 13,04 13,05 12,7 13,07 13,08
Buol 11,84 12,23 13,06 12,45 12,46
Parigi 11,31 11,68 12,44 11,82 12,25
Tojo 12,31 11,81 12,85 12,86
Sigi 12,3 12,85 12,51 12,88 12,89
Banggai Laut 12,58 12,02 12,87 12,22 12,23
Morowali Utara 11,69 15,53 12,21 16,2 16,22
Kota Palu 15,52 12,92 15,92 13,13 13,14
SULAWESI TENGAH 12,72 13,04
59
Lampiran 4. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Menurut
Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah, 2015-2019
Kabupaten/Kotahttps://tolitolikab.bps.go.id2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Banggai Kepulauan 7,73 7,94 7,99 8,14 8,19
Banggai 7,72 7,73 7,92 8,06 8,24
Morowali 8,38 8,49 8,73 8,98 9,11
Poso 8,52 8,67 8,81 9,04 9,36
Donggala 7,81 7,82 7,84 7,85 7,86
Toli-Toli 7,72 7,73 7,85 7,96 8,26
Buol 8,32 8,62 8,63 8,74 8,75
Parigi 6,72 6,87 6,98 7,18 7,47
Tojo 7,65 7,87 7,9 8,16 8,38
Sigi 8,13 8,21 8,22 8,43 8,53
Banggai Laut 7,82 7,94 8,21 8,44 8,51
Morowali Utara 8,15 8,16 8,39 8,58 8,7
Kota Palu 11,24 11,25 11,26 11,33 11,6
SULAWESI TENGAH 7,97 8,12 8,29 8,52 8,75
60
Lampiran 5. Pengeluaran per Kapita per Tahun Menurut
Kabupaten/Kota di Sulawesi Tengah, 2015-2019
(Ribu Rupiah per Tahun)
Kabupaten/Kotahttps://tolitolikab.bps.go.id2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
7161 7286 7440 7545 7619
Banggai Kepulauan 8895 9144 9516 9712 9842
Banggai 10245 10575 11012 11159 11277
Morowali 7971 8345 8781 8936 9084
Poso 7407 7802 7924 8106 8189
Donggala 7156 7493 7916 8017 8156
Toli-Toli 7475 7740 7934 8079 8151
Buol 9150 9351 9488 9808 9878
Parigi 7171 7361 7465 7608 7765
Tojo 7376 7714 8113 8236 8375
Sigi 7406 7529 7693 7810 7888
Banggai Laut 8422 8594 8842 8985 9109
Morowali Utara 14545 14663 14871 15074 15205
Kota Palu 8768 9034 9311 9488 9604
SULAWESI TENGAH
61
Lampiran 6. Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Tengah, 2015-2019
Kabupaten/Kotahttps://tolitolikab.bps.go.id2015 2016 2017 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Banggai Kepulauan 1,02 0,76 0,98 0,95 0,7
Banggai 0,48 1,09 1,22 1,23 0,73
Morowali 1,78 0,83 1,03 1,04 1,24
Poso 0,71 1,03 1,38 1,29 1,02
Donggala 0,42 0,94 0,37 0,74 0,54
Toli-Toli 1,3 0,88 1,23 0,86 1,27
Buol 0,3 1,16 0,48 0,91 0,58
Parigi 0,94 1,3 0,77 1,19 0,96
Tojo 0,29 1,53 0,55 1,23 1,8
Sigi 1,1 0,92 1,17 1,41 0,74
Banggai 1,25 0,94 0,93 1,12 0,73
Morowali 0,29 0,86 1,17 0,89 0,74
Kota Palu 0,64 0,13 0,64 0,83 0,73
SULAWESI TENGAH 0,49 1,07 0,95 1,13 0,9
62
https://tolitolikab.bps.go.id DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2014. Indeks Pembangunan Manusia Metode Baru.
BPS:Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2019. Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sulawesi
Tengah Tahun 2019. BPS: Sulawesi Tengah
Badan Pusat Statistik. 2020. Kabupaten Tolitoli Dalam Angka 2020.
BPS:Kabupaten Tolitoli.
Badan Pusat Statistik. 2019. Kabupaten Tolitoli Dalam Angka 2019.
BPS:Kabupaten Tolitoli.
Badan Pusat Statistik. 2018. Kabupaten Tolitoli Dalam Angka 2018.
BPS:Kabupaten Tolitoli.
Badan Pusat Statistik. 2017. Kabupaten Tolitoli Dalam Angka 2017.
BPS:Kabupaten Tolitoli.
Badan Pusat Statistik. 2016. Kabupaten Tolitoli Dalam Angka 2019.
BPS:Kabupaten Tolitoli.
Kementrian PPN/Bappenas. 2020. Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional 2020-2024: Indonesia Berpenghasilan Menengah-Tinggi yang
Sejahtera, Adil, dan Berkesinambungan. Jakarta
UNDP. 2019. Development, G., & Inequality, G. Technical notes. 1–16. UNDP
63
https://tolitolikab.bps.go.id
64