The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

materi kelas XII SMK Semester 2

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BAHRUDIN, S.Pd, 2022-11-26 18:20:26

EVALUASI USAHA

materi kelas XII SMK Semester 2

Keywords: KWU

MATERI PKK
EVALUASI USAHA
SMK NEGERI 1 JATIROTO

KELAS XII

Disusun Oleh :
BAHRUDIN, S.Pd
NIP.19840620 20202221 1 009

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
SMKN 1 JATIROTO
2022

A. KOMPETENSI DASAR
3.11 Mengevaluasi Hasil Kegiatan Usaha
4.11 Membuat perencanaan tindak lanjut hasil evaluasi usaha

B. INDIKATOR
3.11.1 Menentukan hasil kegiatan usaha
3.11.2 Menganalisis hasil kegiatan usaha
3.11.3 Mengevaluasi hasil kegiatan usaha
4.11.1 Mengidentifikasi kekurangan hasil kegiatan usaha
4.11.2 Mengidentifikasi kelebihan hasil kegiatan usaha
4.11.3 Membuat perencanaan tindak lanjut hasil evaluasi usaha

MENGEVALUASI HASIL KEGIATAN USAHA

Setiap aktivitas keuangan usaha sudah pasti harus dibuatkan pertanggungjawaban
sebagai bentuk evaluasi kegiatan usaha dan sebagai dasar untuk pengambilan
keputusan untuk keberlangsungan usaha bisnis. Salah satu bentuk
pertanggungjawaban yang dibuat adalah dengan cara menyusun laporan kinerja
usaha. Agar lebih memahami bagaimana evaluasi hasil kegiatan usaha mari kita simak
materi berikut ini.

A. Pengertian Evaluasi Kegiatan Usaha
Evaluasi kegiatan usaha adalah suatu aktivitas untuk melakukan analisis kinerja
suatu usaha bisnis. Prinsip dasar utama evaluasi usaha yaitu membandingkan
rencana usaha yang sudah dibuat sebelum kegiatan dimulai dengan apa yang
sudah dicapai pada akhir masa produksi.

Sebuah usaha dapat dikatakan berhasil jika usaha tersebut bisa memenuhi
kewajiban membayar bunga modal, upah tenaga kerja luar, alat-alat luar yang
digunakan, serta sarana produksi yang lainnya dan juga termasuk kewajibannya
pada pihak ketiga. Melakukan evaluasi kemajuan usaha merupakan proses yang
berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.

Evaluasi berangkat dari kegiatan montoring setiap proses dalam usaha yang
dijalankan, dari hasil monitoring dapat dibuat analisis kemajuan, kemunduran dan
pencapaian apa yang sudah dilaksanakan. Evaluasi dan monitoring bagi seorang
wirausaha sekaligus menjadi sarana belajar dan proses mengupgrade diri. Dalam
proses ini bisa jadi ditemukan hal-hal baru dan strategi baru mencapai sukses
bisnis.

B. Tujuan Evaluasi Kegiatan Usaha
Tujuan evaluasi usaha adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat
keberhasilan pelaksanaan usaha, apakah usaha tersebut sudah berjalan sesuai
dengan yang direncanakan dan memberikan hasil seperti apa yang diharapkan.
Selain itu evaluasi kegiatan usaha dilakukan dengan tujuan untuk memperkecil
resiko kegagalan investasi dan dapat memperbesar peluang keberhasilan investasi
yang bersangkutan. Evaluasi kegiatan usaha juga dapat memandu pemilik dana
untuk dapat mengoptimalkan penggunaan dana yang dimiliki.

C. Tahapan Evaluasi Kegiatan Usaha
Adapun tahapan evaluasi kelayakan usaha adalah sebagai berikut.
1. Analisa Aspek Pasar
Evaluasi aspek pasar sangat penting dilakukan karena tidak ada proyek bisnis
yang berhasil tanpa adanya permintaan atas barang/jasa yang dihasilkan oleh
proyek tersebut. Tujuan analisis pasar adalah untuk mengetahui berapa besar
luas pasar, pertumbuhan permintaan dan pangsa pasar dari produk yang
bersangkutan. Adapun kegunaan dari analisa aspek pasar adalah untuk
melakukan peramalan permintaan dan penentuan pasar. Pasar merupakan
kumpulan seluruh pembeli aktual dan potensial dari suatu produk. Kriteria yang
diukur dalam penentuan pasar sasaran, yaitu:
a. Pasar potensial adalah sejumlah konsumen atau pelanggan yang
mempunyai minat terhadap suatu penawaran pasar.
b. Pasar tersedia adalah sekumpulan konsumen yang mempunyai minat,
penghasilan dan akses penawaran pasar tertentu

c. Pasar sasaran adalah bagian dari pasar yang memenuhi syarat dan juga
bersedia untuk dimasuki perusahaan kita.

2. Analisa Aspek Teknis

Analisis aspek teknis antara lain menentukan jenis teknologi yang paling sesuai

dengan kebutuhan usaha yang dikaji. Beberapa faktor yang dipertimbangan

dalam pemilihan jenis teknologi, antara lain:

a. Jenis teknologi yang diajukan harus memenuhi standard mutu yang sesuai

dengan keinginan pasar atau konsumen.

b. Teknologi harus sesuai dengan persyaratan yang diperlukan untuk

mencapai

skala produk yang ekonomis.

c. Pilihan jenis teknologi yang diusulkan sering dipengaruhi oleh kemungkinan

pengadaan tenaga ahli, pengadaan bahan baku, dan bahan penunjang yang

diperlukan untuk penerapannya.

d. Pemilihan teknologi hendaknya dikaitkan dengan memperhatikan jumlah

dana

yang diperlukan untuk pembelian mesin serta peralatan yang dibutuhkan.

e. Perlu juga meninjau pengalaman penerapan teknologi yang bersangkutan

oleh

pihak lain di tempat lain, sehingga dapat diketahui apakah teknologi

tersebut telah

dapat disetarakan dengan baik.

3. Analisis Aspek finansial
Analisis aspek finansial yaitu untuk mengetahui karakteristik finansial dari suatu
perusahaan melalui data-data akuntansinya. Analisis aspek finansial/ keuangan
selalu melibatkan berbagai laporan keuangan diantaranya neraca dan laporan
laba/rugi. Neraca berisikan sktiva meliputi harta lancar, harta tetap, pasiva
meliputi utang, dan kewajiban. Laporan laba rugi berisi pendapatan dan biaya
selama periode tertentu. Alat yang digunakan untuk menganalisis kondisi

keuangan dan kinerja usaha adalah rasio keuangan. Adapun jenis-jenis rasio
keuangan antara lain:
a. Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka pendeknya.
Rasio inilah yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa llikuidnya
suatu perusahaan. Jika perusahaan mampu memenuhi kewajibannya berarti
perusahaan tersebut likuid, sedangkan jika perusahaan tidak mampu.
memenuhi kewajibannya berarti perusahaan tersebut ilikuid.

Cara mengukur perusahaan itu likuid atau tidak, Anda dapat

membandingkan

komponen yang ada pada neraca, yaitu total aktiva lancar dengan total

pasiva lancar

(utang jangka pendek). Pengukuran ini dapat dilakukan untuk beberapa

periode sehingga terlihat perkembangan likuiditas perusahaan dari waktu ke

waktu. Dengan mengetahui rasio likuiditas yang dimiliki perusahaan, Anda

bisa mendapatkan beberapa manfaat seperti:

1) Mengantisipasi dana yang diperlukaan saat ada kebutuhan mendesak.

2) Memudahkan nasabah (bagi lembaga keuangan atau Bank) yang ingin

melakukan penarikan dana.

3) Poin penentu bagi suatu perusahaan untuk mendapatkan persetujuan

investasi atau bisnis lain yang menguntungkan.

Terdapat empat macam rasio likuiditas yaitu sebagai berikut.
1) Current Ratio (Rasio Lancar). Dalam rasio ini akan diketahui sejauh

mana aktiva lancar perusahaan dapat digunakan untuk menutupi
kewajiban jangka pendek atau utang lancarnya. Semakin besar
perbandingan aktiva lancer dengan utang lancar maka artinya semakin
tinggi pula kemampuan perusahaan dalam menutupi kewajiban utang
lancarnya. Tingginya Rasio lancar dapat menunjukkan adanya uang kas
berlebih yang bisa berarti dua hal yaitu besarnya keuntungan yang telah

diperoleh atau akibat tidak digunakannya keuangan perusahaan secara
efektif untuk berinvestasi.
2) Quick Ratio (Rasio Cepat). Rasio ini akan menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan
menggunakan aktiva lancar atau tanpa memperhitungkan persediaan
karena persediaan akan membutuhkan waktu yang lama untuk
diuangkan dibanding dengan aset lainnya. Quick Ratio ini terdiri dari
piutang dan surat- surat berharga. Jadi semakin besar rasio, semakin
baik juga posisi keuangan perusahaan. Jika hasilnya mencapai 1:1 atau
100%, maka ini akan berakibat baik jika terjadi likuidasi karena
perusahaan akan mudah untuk membayar kewajibannya.
3) Cash Ratio (Rasio Kas). Rasio ini digunakan untuk mengukur besarnya
uang kas yang tersedia untuk melunasi kewajiban jangka pendek yang
ditunjukan dari tersedianya dana kas atau setara kas, contohnya
rekening giro. Jika hasil rasio menunjukkan 1:1 atau 100% atau semakin
besar perbandingan kas dengan utang maka akan semakin baik.
4) Cash Turnover Ratio (Rasio Perputaran Kas). Rasio ini akan
menunjukkan nilai relatif antara nilai penjualan bersih terhadap kerja
bersih. Modal kerja bersih merupakan seluruh komponen aktiva lancar
dikurangi total utang lancar. Rasio ini dihitung dengan cara membagi
nilai penjualan bersih dengan modal kerja. Rasio ini menunjukkan
seberapa besar penjualan untuk modal kerja yang dimiliki perusahaan.

b. Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas atau sering juga disebut dengan Rasio Leverage
(Leverage Ratio) adalah suatu rasio keuangan yang mengukur kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya seperti
pembayaran bunga atas hutang, pembayaran pokok akhir atas hutang dan
kewajiban-kewajiban tetap lainnya. Hutang Jangka Panjang biasanya
didefinisikan sebagai kewajiban membayar yang jatuh temponya lebih dari
satu tahun.

c. Rasio Rentabilitas
Rasio Rentabilitas juga sering dikenal dengan istilah rasio profitabilitas
adalah rasio untuk mengukur tingkat perolehan keuntungan dibandingkan
penjualan atau aktiva. Rasio rentabilitas bisa menilai kemampuan suatu
perusahaan untuk memperoleh laba yang berkaitan erat dengan
kelangsungan perusahaan. Rasio rentabilitas berkaitan erat dengan
kelangsungan hidup perusahaan. Angka rentabilitas berupa angka laba
sebelum atau sesudah pajak, laba investasi, pendapatan per saham, dan
laba penjualan. Kondisi atau tingkat kesehatan perusahaan juga terlihat dari
rasio ini sehingga tujuan laporan keuanganbisa tercapai.

D. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Usaha
1. Hal yang perlu dievaluasi dalam sebuah bisnis :
a. Posisi Keseluruhan Usaha
Posisi keseluruhan Usaha digunakan untuk mengetahui seberapa jauh
pencapaian hasil dari keseluruhan usaha. Dapat diketahui berapa jumlah
harta (modal/ pendapatan usaha), hutang-hutang pada pihak lain, rata-rata
pengeluaran dalam sebulan, dan pendapatan bersih setiap bulannya.
Biasakan untuk melakukan pengecekan posisi keuangan usaha setiap saat.
b. Evaluasi kemajuan dan kemunduran usaha
Posisi keuangan biasanya menjadi patokan utama dalam evaluasi kemajuan
atau kemunduran sebuah usaha melakukan evaluasi terhadap kegiatan
usaha (mengalami kemajuan atau kemunduran). Cara mudahnya adalah
membandingkan pada saat awal menjalankan usaha dengan setelahnya
(biasanya dengan jangka waktu yang waktunya ditentukan sendiri, misalnya
3 bulan, 6 bulan, atau satu tahun sekali setelah usaha berjalan).
c. Lakukan langkah perbaikan atau pengembangan
Misalnya memberikan perhatian pada penjualan yang menurun, untuk
mengetahui letak kesalahannya sehingga dapat dilakukan langkah-langkah
efektif agar usaha kita kembali berjalan baik. Tetapi bila kondisi keuangan
dan penjualan telah sehat dan mengalami peningkatan, jangan cepat puas.

d. Pikirkan target usaha
Jika hasil evaluasi sebuah usaha sudah menunjukkan pertumbuhan usaha
yang mengalami kenaikan. Selanjutnya memikirkan target perbaikan atau
pengembangan usaha. Misalnya: Apakah ini saatnya melakukan promosi
lebih gencar? Apa sudah waktunya Anda melakukan ekspansi usaha ke
tempat lain yang lebih ramai?

2. Waktu Melakukan Evaluasi Usaha
Waktu yang tepat melakukan evaluasi terhadap perkembangan usaha yaitu:
a. Secara rutin/berkala. Evaluasi bulanan, triwulan, ataupun tahunan. Paling
sering dilakukan adalah evaluasi triwulan menyangkut evaluasi kegiatan
sehari-hari (seperti pendapatan dan pengeluaran), dan tahunan untuk
evaluasi secara lengkap yang mencakup laporan keuangan, persaingan
usaha, SDM, dan lain sebagainya. Evaluasi berkala sangat baik manfaatnya,
karena dengan adanya evaluasi secara rutin maka masalah-masalah yang
timbul bisa lebih cepat diatasi dan peluang untk pengembangan bisa lebih
cepat dimanfaatkan.
b. Secara Insidental Evaluasi secara insidental dilakukan setiap saat apabila
(umumnya) terjadi masalah yang dirasakan cukup signifikan pada usaha
Anda. Evaluasi seperti ini biasanya dilakukan apabila terjadi masalah atau
kemunduran pada usaha. Evaluasi Insidental kurang baik, karena
masalahnya sudah terjadi dan tindakan pencegahan pun sudah tidak bisa
dilakukan. Intinya adalah tindakan koreksi. Dengan adanya evaluasi rutin
yang baik, diharapkan masalah yang mungkin timbul bisa ditekan sehingga
evaluasi insidental ini pun bisa dikurangi.


Click to View FlipBook Version