MEDIA DAN
KRITIK SOSIAL
Syarif Abu Bakar | B95219127
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Media dan Kritik Sosial
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah serta puji syukur atas kehadiran Allah SWT. Yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada semua dan saya, sehingga saya sebagai penulis dapat
menyusun mini book berjudul “Media dan Kritik Sosial. Sehingga buku ini dapat dinikmati dan
memberi manfaat bagi para pembaca mengenai topik media dan kritik sosial. Semoga buku ini
dapat menjadi referensi untuk tugas dan penelitian mengenai media dan kritik sosial. Amin
yarobbal alamin
Saya sebagai penulis tentunya berterimakasih ke[ada Allah SWT. Yang memberi saya
umur hingga saat ini untuk menjalankan ibadah dan tugas tugas akhirat dan duniawi. Saya juga
berterimakasih kepada kedua orang tua saya terutama mama saya yang telah mensupport saya
hingga saat ini. Selanjutnya, saya berterimakasih pada Bapak Abu Ammar Bustomi, M.Si
selaku dosen pengampu mata kuliah Media dan Kritik Sosial, terimakasih untuk ilmu yang
diberikan selama satu semester ini. Tak lupa saya berterimakasih kepada teman teman saya
khususnya teman sekelas saya kelas E4 semester 5 ilmu komunikasi uinsa yang telah bersama
sama menjalani tugas.
Saya sebagai penulis pun menyadari bahwa mini book yang saya susun masih memiliki
beberapa kekurangan. Namun saya berharap para pembaca memaafkan dan memaklumi
beberapa kekeliruan yang ada pada mini book yang saya susun dan mengambil banyak
manfaatnya. Semoga mini book yang saya buat dapat menjadi manfaat yang besar bagi saya
dan para pembaca.
Surabaya, 24 Desember 2021
Syarif Abu Bakar
2
DAFTAR ISI
JUDUL…………………......................................................................................................................
KATA PENGANTAR…………………............................................................................................2
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………..3
BAB I : MASYARAKAT DAN DEMOKRASI …………………………………………............4
BAB II : MEDIA DAN KONTROL SOSIAL……………………………………….…................7
BAB III : MEDIA DAN RUANG PUBLIK……………………………………….…...................10
BAB IV : FAKTA DAN OPINI…………………………………………......................................12
BAB V : PERS…………………………………………...............................................................15
BAB VI : MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN POLITIK.....................................20
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………........................................................
3
BAB I
MEDIA DAN MASYARAKAT
Seperti yang kita tahu, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup
sendiri tanpa adanya manusia manusia lain. Setiap orangyang hidup di duniaini pasti
membutuhkan bantuan dari orang lain. Dari sikap saling bergantung satu sama lain inilah yang
kemudian menjadikan manusia hidup secara berkelompok dan bermasyarakat. Masyarakat juga
hidup dalam beberapa sistem, salah satunya adalah sistem demokrasi.
DEFINISI MASYARAKAT
Donny Prasetyo, 2020 memaparkan, secara garis besar masyarakat merupakan
sekumpulan dari individu yang hidup dalam lingkungan yang sama, bekerja sama untuk
memperoleh kepentingan dan tujuan bersama yang telah memiliki tatanan, aturan, norma, dan
adat istiadat. Ada beberapa ahasa yang digunakan untuk menyebut masyarakat. Bahasa latin
untuk masyarakat adalah “societas” yang berarti kawan, lalu diterjemahkan kedalam Bahasa
Inggris “Society” yang berarti “Masyarakat”. Definisi masyarakat dalam arti luas adalah
kehidupan bersama tanpa adanya batas lingkungan, budaya, dan aturan aturan tertentu. Namun
dalam skala yang lebih kecil, masyarakat merupakan sekelompok individu yang dibatasi oleh
golongan, lingkungan, ras, budaya dan sebagainya. Sedangkan masyarakat secara sederhana
adalah sekumpulan individu yang saling berinteraksi dengan kepentingan yang sama.
Masyarakat dapat terbentuk karena manusia sendiri adalah makhluk sosial yang memiliki
pikiran, perasaan, serta keinginan untuk memberi dampak pada lingkungannya.
Menurut Soejono Soekanto, masyarakat memiliki beberapa karakteristik yaitu :
Hidup berkelompok
Mengalami perubahan
Adanya interaksi di dalamnya
Memiiki kebudayaan
Memiliki pemimpin
Memiliki kelas kelas sosial
4
DEFINISI DEMOKRASI
Demokrasi merupakan salah satu bentuk pemerintahan politik yang dimana rakyat
merupakan lapisan pemerintahan yang memegang kekuasaan pemerintahan itu sendiri.
Demokrasi berasal dari Bahasa Yunani “Demokratia” yang berarti kekuasaan rakyat. Kata
ini merupakan gabungan dari dua kata yaitu “Demos” yang berarti rakyat dan “Kratos”
yang berarti kekuasaan. Demokrasi terbentuk pada pertengahan zaman ke lima dan ke
empat sebelum masehi di Yunani kuno. Demokrasi untuk pertama kalinya dicetuskan oleh
Aristoteles sebagai bentuk pemerintahan yang menyatakan bahwa kekuasaan pemerintahan
ada ditangan rakyat. Dalam dunia yang lebih modern, Abraham Lincoln menjelaskan
demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dapat
disimpulkan bahwa sistem pemerintahan demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang
menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi sehingga rakyat memiliki
kesempartan, kewajiban, dan hak untuk menyampaikan pendapat yang telah diusulkan oleh
orang banyak.
Ada syarat syarat tertentu agar sebuah negara bisa dikatakan memiliki sistem
pemerintahan demokratis, yaitu :
Perlindungan konstitusional
Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak
Pemilu yang bebas
Kebebasan untuk menyatakan pendapat
Kebebasan berserikat
Pendidikan Kewarganegaraan
Demokrasi dibedakan menjadi dua, yaitu demokrasi langsung dan tidak langsung.
Dalam demokrasi langsung masyarakat secara langsung dilibatkan dalam pengambilan
keputusan dan berpastisipasi dalam memutuskan sesuatu dan bebas mengemukakan
pendapatnya secara langsung. Contoh dari demokrasi langsung adalah pemilihan umum,
pemilihan ketua OSIS, unjuk asa, memberikan endapat secara langsung dalam rapat, Memilih
suara terbanyak. Sedangkan demokrasi tidak langsung adalah pendapat atau keputusan
masyarakat diwakilkan oleh orang orang terpercaya untuk menyampaikan pendapat ataupun
keputusan itu. contoh dari demokrasi tidak langsung adalah Pembuatan Undang-undang, pers
menyalurkan aspirasi masyarakat, mbenulis kritik di surat kabar, berkomentar sebagai netizen
di laman internet.
5
Masyarakat dan demokrasi adalah dua hal yang saling berkesinambungan. Demokrasi
dalam masyarakat sangatlah penting. Dengan sistem demokrasi, masyarakat dapat bebas
menyampaikan pendapat yag dapat mensejahterahkan masyarakat itu sendiri sehingga
masyarakat itu bisa hidup nyaman dan tentram. Dengan demokrasi, masyarakat jadi terbiasa
melakukan musyawarah untukmendapatkan keputusan bersama. Sistem demokrasi juga
membutuhkan masyarakat agar dapat berjalan dengan baik. Maka dari itu masyarakat dan
demokrasi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan
6
BAB II
MEDIA DAN KONTROL SOSIAL
Secara etimologi, kata media adalah bentuk jamak dari medium. Medium sendiri
berasal dari Bahasa latin yaitu medius yang artinya tengah. Dalam Bahasa Indonesia, kata
medium sering diartikan sebagai sedang atau antara. Media dapat menjurus pada sesuatu yang
ditengah atau mengantarkan sebuah informasi antara komunikator (penyampai pesan) dan
komunikan (penerima pesan). Dengan kata lain, media dapat didefinisikan sebagai sebuah
saluran dan bentuk yang dapat digunakan dalam proses penyampaian informasi
Banyak sekali pengertian media menurut para ahli, diantaranya sebagai berikut:
1. Orang, material, atau kejadian yang dapat menciptakan kondisi sehingga
memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterapilan, dan sikap vii yang
baru, dalam pengertian meliputi buku, guru, dan lingkungan sekolah (Gerlach dan Ely
dalam Ibrahim, 1982:3)
2. Saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan antara sumber
(pemberi pesan) dengan penerima pesan (Blake dan Horalsen dalam Latuheru,
1988:11)
3. Komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan
kepada pembelajar bisa berupa alat, bahan, dan orang (Degeng, 1989:142)
4. Media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan
pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pildran, perasaan,
perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar
mengajar berlangsung dengan efektif dan efesien sesuai dengan yang diharapkan
(Sadiman, dkk., 2002:6)
5. Alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi, yang terdiri antara
lain buku, tape-recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide, foto, gambar,
grafik, televisi, dan komputer (Gagne dan Briggs dalam Arsyad, 2002:4)
Media massa merupakan salah satu alat dalam proses komunikasi massa dan
merupakan filter yang menyeleksi pemberitaan apa saja yang terjadi di sekitar termasuk
pemberitaan dari pemerintah yang wajib diketahui oleh masyarakat. Maka dari itu,
diharapkan mampu menyediakan informasi-informasi yang aktual dan terpecaya sehingga
dapat melakukan perannya sebagai fungsi kontrol sosial bagi masyarakat. Media massa
7
menempati fungsi informasi dan kontrol sosial dan lebih jauh lagi, media massa dapat
digunakan untuk merangsang proses pengambilan keputusan dan membantu proses
peralihan masyarakatdari tradisional menjadi modern serta menyampaikan kepada
masyarakat program program nasional.
Peran media massa dalam kehidupan sosial, terutama dalam
masyarakatmodern tidak ada yang menyangkal, menurut McQuail dalam bukunya
Mass Communication Theories (2000 : 66), ada enam perspektif dalam hal melihat peran
media, yaitu :
Pertama , melihat media massa sebagai window on event and experience Media
dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi
di luar sana.Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.
Kedua , media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in society and the
world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat
dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa
tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai
keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai
refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah dan
framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para
profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang
mereka inginkan.
Ketiga , memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi
berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih issue, informasi
atau bentukcontent yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di sini khalayak
“dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian .
Keempat , media massa acapkali pula dipandang sebagai guide , penunjuk jalan
atauinterpreter , yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian,
atau alternatif yang beragam.
Kelima , melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai
informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan
umpan balik.
8
Keenam , mediamassa sebagai interlocutor yang tidak hanya sekadar tempat
berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya
komunikasi interaktif.
Karena besarnya pengaruh media massa terhadap masyarakat, maka kita sebagai
penikmat media massa harusnya dapat memilah informasi yang berguna dan tidak berguna.
Kita dapat menghindari dampak negative media massa adalah dengan cara meningkatkan
pendidikan, pencerahan masyarakat serta membumikan budaya saling menghargai serta
toleransi. Adapun langkah-langkah yang mesti ditempuh adalah menciptakan aturan nasional
yang tepat, mencatat semua langkah-langkah positif berdasarkan pengalaman, dan
memunculkan global guidelines untuk media massa.
9
BAB III
MEDIA DAN RUANG PUBLIK
Kita sering mendengar kata ruang publik dalam kehidupan kita. Namun, apa itu ruang
publik? Menurut Wikipedia, ruang publik adalah areal atau tempat dimana suatu masyarakat
atau komunitas dapat berkumpul untuk meraih tujuan yang sama, sharing permasalah baik
permasalah pribadi maupun kelompok, dapat berupa taman-taman, sekolah, gedung-gedung
bersama, gym dll. Dalam arti lain, ruang publik dapat di artikan sebagai tempat atau ruang yang
dapat diakses atau dimanfaatkan oleh warga atau masyarakat secara cuma-cuma tanpa
mengambil keuntungan dan bisa digunakan masyarakat secara bersama-sama baik secara
individu maupun berkelompok tanpa terkecuali. Karena adanya kebutuhan akan tempat untuk
bertemu, berkomunikasi, atau hanya untuk sekedar tempat refresing bersama keluarga. ruang
publik dapat berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan budaya.
Ruang publik biasanya dibangun oleh pemerintah untuk kepentingan masyarakat.
Semakin banyaknya ruang publik, maka bisa semakin menguntungkan masyarakat indonesia,
Karena bisa sebagai sarana hiburan atau bisa menarik wisatawan yang sedang mencari destinasi
wisata. Terbentuknya ruang publik masih belum sesuai dengan harapan. Karena meningkatnya
kuantitas bangunan pemukiman atau gedung-gedung tinggi yang tidak di imbangkan dengan
adanya ruang publik. Penataan kota akan lebih baik jika memiliki banyak ruang publik,
sebagai terwujudnya ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan.
Ruang public memiliki tiga jenis, yaitu :
1. Ruang Publik Privat: Ruang publik ini memiliki batas waktu tertentu untuk
mengaksesnya karena kepemilikannya bersifat pribadi, contoh ruang publik privat
diantaranya
a. halaman gedung
b. halaman rumah tinggal.
2. Ruang Publik Semi privat: Ruang publik yang kepemilikannya pribadi dan biasanya
tidak gratis alias berbayar, namun bisa diakses langsung oleh masyarakat contoh
a. Taman safari
b. Ancol
c. Dufan
d. Wisata Bahari Lamongan
10
3. Ruang Publik Umum: Ruang publik umum Kepemilikannya oleh pemerintah dan bisa
diakses langsung oleh masyarakat tanpa batas waktu tertentu dan gratis. Contohnya
yaitu
a. Taman Kota
b. Perpustakaan Kota
Ruang publik merupakan salah satu fasilitas yang harus ada di setiap kota di berbagai
belahan Indonesia. Terutama kota kota besar. Karena ruang publik dapat menjadi tempat untuk
melepaskan penat setelah seharian bekerja. Ruang public pun memiliki beberapa fungsi,
diantaranya :
1. Sebagai sarana media komunikasi antar masyarakat
2. Untuk tempat rekreasi, piknik atau destinasi wisata
3. Wadah tempat bermain.
4. Tempat bersantai
5. Meningkatkan kenyamanan warga
6. Dapat memperindah lingkungan kota
7. Menciptakan suasana serasi dan seimbang antara bangunan kota dengan ruang publik.
Penggunaan ruang kota sekarang ini, masih banyak terjadi permasalahan. Permasalahan itu
dapat berupa ketidakseimbangan dalam membangun kota, ketidaksediaan hunian layak bagi
warga miskin, kelangkaan ruang publik, anarki ruang kota (pemerintah terkait tidak
bertanggung jawab), serta masih banyak terjadinya privatisasi ruang publik. Hal ini tentunya
dapat dihindari apabila pemerintah dibantu masyarakatnya menyediakan beberapa fasilitas
penunjang. Ketersediaan fasilitas ini dapat menjadi bagian daya tarik dan meningkatkan daya
tarik suatu obyek atau sebagai faktor pendorong jika penyediaannya tidak merusak keindahan
alam dan pemandangan di ruang publik.seperti membangun sarana pejalan kaki atau jalur
pedestrian, adanya sarana komersial seperti food court (tempat makan),sarana bermain
anak,tempat parkir,WC umum,ruang terbuka hijau,sistem keamananSerta tempat ibadah.
Dengan ruang public yang memiliki fasilitas yang menunjang. Masyarakat dapat memenuhi
kebutuhannya dan menjamin kenyamanan masyarakat itu sendiri.
11
BAB IV
FAKTA DAN OPINI
Dalam kehidupan sehari hari, kita tak asing mendengar kata fakta. Singkatnya, fakta
merupakan pernyataan berupa keadaan sebenarnya dari peristiwa yang terjadi. Fakta termasuk
yang benar-benar ada, dan menetapkan fakta biasanya sulit untuk diperdebatkan oleh siapapun.
Biasanya, kata fakta sering disangkut pautkan dengan opini, opini adalah sikap atau pendapat
seseorang tentang suatu keadaan yang terjadi atau tidak terjadi. Opini sangat dipengaruhi oleh
emosi, pikiran, perspektif, keinginan, sikap, pengalaman, pemahaman, dan keyakinan setiap
individu. Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan lebih dalam apa itu fakta dan opini.
FAKTA
Fakta menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu hal (keadaan, peristiwa)
yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi, sedangkan menurut
Isdriani fakta adalah hal, keadaan atau pe- ristiwa yang merupakan kenyataan atau sesuatu yang
benar-benar terjadi. Sesuatu dapat dinyatakan fakta apabila dapat dibuktikan kebenarannya dan
memiliki sum- ber yang jelas.
Sesuatu bisa dikatakan fakta apabila memenuhi ciri ciri dibawah ini :
1. Dapat dibuktikan kebenarannya
2. Berisi data-data yang sifatnya kuantitatif (berupa angka) dan kualitatif (berupa pernyataan)
3. Mempunyai data yang akurat baik waktu, tanggal, tempat dan peristiwanya
4. Dikumpulkan dari nara sumber yang terpercaya
5. Bersifat obyektif, yakni data yang sebenarnya, bukan dibuat-buat dan dilengkapi dengan
gambar obyek
6. Biasanya dapat menjawab rumus pertanyaan 5W + 1H
7. Menyatakan kejadian yang sedang atau telah dan pernah terjadi
8. Informasi berasal dari kejadian yang sebenarnya
12
OPINI
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), opini adalah pendapat; pikiran;
pendirian. Opini biasanya dating dari pikiran atau spekulasi seseorang berdasarkan apa yang
ada di dalam kepalanya tanpa melihat betul betul apa yang terjadi sebenarnya. Menurut Cutlip
dan center opini adalah pernyataan tentang sikap mengenai masalah tertentu yang bersifat
kontroversial Opini timbul sebagai hasil pembicaraan tentang masalah yang kontroversial yang
menimbulkan pendapat berbeda-beda. Opini tidak selamanya salah, opini hanya spekulasi dari
orang orang yang bisa saja benar benar terjadi dan menjadi fakta
Ciri ciri dari Opini antara lain :
1. Tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
2. Bersifat subyektif dan biasanya disertai dengan pendapat, saran dan uraian yang menjelaskan
3. Tidak memiliki narasumber.
4. Berisi pendapat tentang peristiwa yang terjadi
5. Menunjukkan peristiwa yang belum pasti terjadi atau terjadi dikemudian hari
6. Merupakan pikiran atau pendapat seseorang maupun kelompok
7. Informasi yang disampaikan belum ada pembuktiannya
8. Biasanya ditandai dengan penggunaan kata-kata : bisa jadi, sepertinya, mungkin, seharusnya,
sebaiknya
PERBEDAAN FAKTA DAN OPINI
Dari sini kita sudah bisa mengetahui pengertian fakta dan opini beserta ciri ciri yang
dimilikinya. Agar lebih mempermudah membedakan antara fakta dan opini, saya sudah
merangkum beberapa perbedaan yang ada.
Fakta adalah itu benar-benar terjadi. Dalam arti lain , fakta adalah potret situasi dan
peristiwa. Oleh karena itu, sulit untuk membantah, karena faktanya terlihat atau diketahui
banyak pihak.
Akan tetapi, fakta-fakta dapat berubah seiring ditemukannya fakta-fakta baru yang
lebih jelas dan lebih akurat. Padahal pendapat tersebut tidak benar. Pendapat pribadi ini bisa
benar atau salah.
13
Alasannya adalah bahwa setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Opini
adalah benar jika didukung oleh fakta yang kuat dan meyakinkan.
Berikut adalah contoh contoh kalimat fakta dan opini dalam kalimat sehari hari
Gula dapat membuat minuman menjadi manis.
Pensil itu harganya dua ribu rupiah.
Oksigen sangat dibutuhkan oleh manusia.
Negara Republik Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan bahasa resmi yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Matahari terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat.
Contoh kata diatas meruoakan kalimat fakta karena sudah mutlak keadaannya dan tidak
bisa dirubah. Sedangkan contoh kalimat opini yaitu
Mobil itu sangat cepat.
Makanan buatan ibu sangat enak.
Sepertinya nanti sore akan turun hujan deras yang disertai dengan angin kencang.
Makanan itu akan terasa lebih gurih jika ditambahkan sedikit perasan air jeruk.
Bunga mawar adalah bunga yang paling indah dibandingkan bunga yang lain.
Matematika dan Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang banyak dibenci oleh para siswa
sekolah.
Semoga dengan adanya artikel ini kita bisa tahu pengertian, ciri ciri, perbedaan dan
contoh kalimat dari fakta dan opini sehingga ilmu kita terus bertambah.
14
BAB V
PERS
Istilah pers atau press berasal dari istilah latin Pressus artinya adalah tekanan, tertekan,
terhimpit, padat. Pers dalam kosakata Indonesia berasal dari bahasa Belanda yang mempunyai
arti sama dengan bahasa inggris “press”, sebagai sebutan untuk alat cetak. Keberadaan pers dari
terjemahan istilah ini pada umumnya adalah sebagai media penghimpit atau penekan dalam
masyarakat. Makna lebih tegasnya adalah dalam fungsinya sebagai kontrol sosial.
Sedangkan menurut ahli Kustadi Suhandang, pengertian pers adalah seni atau
ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang
peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati
nurani khalayaknya
Dalam Ensiklopedi Nasional Inonesia Jilid 13, pengertian pers itu dibedakan dalam
dua arti. Pers dalam arti luas, adalah media tercetak atau elektronik yang menyampaikan
laporan dalam bentuk fakta, pendapat, usulan dan gambar kepada masyarakat luas secara
regular. Laporan yang dimakasud adalah setelah melalui proses mulai dari pengumpulan bahan
sampai dengan penyiarannya. Dalam pengertian sempit atau terbatas, pers adalah media
tercetak seperti surat kabar harian, surat kabar mingguan, majalah dan buletin, sedangkan media
elektronik, meliputi radio, film dan televisi.
Sejarah Pers
Sejarah lahirnya Pers di Indonesia pun memiliki peran yang cukup besar dalam
kemerdekaan Indonesia. Pada masa penjajahan Indonesia yang dilakukan oleh bangsa asing
seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang untuk menerbitkan sebuah
surat kabar seringkali dihambat dikarenakan takut membangkitkan semangat juang pribumi
dengan pemikiran kritisnya serta pemerintah yang tidak ingin menerima kritikan.
Pada masa penjajahan Belanda dan saat adanya kongsi dagang VOC yang dipimpin
oleh Gubernur Gustaaf Willem Baron van Imhoff mengeluarkan terbitan pertama yaitu
koran berbahasa Belanda terbit pada 7 Agustus 1744 di Batavia. Lembar berita tersebut digagas
oleh Gubernur Jenderal Van Imhoff. Koran tersebut bernama Bataviasche Nouvelles yang
sekaligus merupakan surat kabar modern pertama yang berhasil terbit di Hindia Belanda
(sekarang Indonesia).
15
Sejak saat itu, mulai bermunculan surat kabar di tanah air, mulai dari “Java
Government Gazzete” pada 1812 dan berubah menjadi “Bataviasche Courant” kemudian
diganti menjadi “Javasche Courant“, Pada 1851, “De Locomotief” terbit di Semarang, dan
beberapa surat kabar lainnya. Walaupun kemudian surat kabar itu mengalami pasang surut
seperti kerap kali terjadi pembredelan dan perubahan nama pada beberapa koran, namun pada
masa itu mampu membangkitkan sifat kritis kepada penjajah terhadap perbudakan di Batavia.
Pada tahun 1904 hingga tahun 1912 di Bandung terbitlah surat kabar nasional bernama
“Medan Prijaji” yang berbahasa melayu. Surat kabar ini didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo,
sebelumnya diketahui bahwa Tirto Adhi Soerjo juga pernah menerbitkan surat kabar bernama
“Soenda Berita”. Surat kabar ini berisi tentang kritikan atau kecaman pedas penjajahan di
Indonesia dan menampung suara pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan. Tak
hanya itu, Medan Prijaji pun menjadi jurnalisme advokasi yang membantu memperjuangkan
atau menyelesaikan kasus yang menjerat kaum pribumi dengan menyewa seorang ahli hukum.
Surat kabar Medan Prijaji dengan nomor terbit 3 Januari 1912 tahun VI merupakan terbitan
terakhir. Kemudian, pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup karena Tirto Adhi Surjo
dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het
Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja).
Pada masa Medan Prijaji ini pula menjadi tonggak berdirinya sejarah pers di Indonesia,
hingga beberapa tahun setelahnya para wartawan Indonesia merasakan pentingnya informasi
nasional lantas mendirikan Biro Pers Nasional pada 13 Desember 1937 dengan nama LKBN
ANTARA. Serta adanya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang didirikan pada 9 Februari
1946 yang juga sekaligus menjadi tanggal yang memperingati Hari Pers Nasional sesuai dengan
Keppres no 5 tahun 1985 tentang Hari Pers Nasional.
Semenjak itu, pers di Indonesia pun kian makin berkembang seperti lahirnya stasiun
televisi pemerintah TVRI pada 1962 dan hingga saat ini sudah banyak bermunculan media-
media pers. Seperti: Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas, Pikiran Rakyat, Tribun,
Republika, Tempo dan masih banyak lagi media pers lainnya
Asas Kode Etik pada Pers
Kode etik jurnalistik adalah acuan moral yang mengatur tata cara kerja seorang
wartawan. Kode etik jurnalistik juga menyinggung tentang etika, yaitu pengetahuan yang
membahas ukuran kebaikan atau kesusilaan perilaku manusia dalam masyarakat. Orientasi
etika adalah untuk mengetahui bagaimana harus bertindak atau melakukan sesuatu hal. Secara
16
umum, Kode Etik Jurnalistik berisi hal-hal yang bisa menjamin terpenuhinya tanggung jawab
seorang wartawan kepada publik. Media massa bekerja dengan berpedoman pada sejumlah
aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis
Teori Pers
The four theories of press merupakan teori awal mengenai pers dan jurnalistik yang
dipublikasikan secara luas pertama kali pada tahun 1956 oleh Wilburm Schraamm, Fred.S.
Siebert dan Theodore Peterson. Teori pers ini menggambarkan bahwa pers menggambarkan
keadaan sosial politik dalam suatu masyarakat. Hal ini dikarenakan pers merefleksikan sistem
dan control sosial mengenai hubungan antara individu dan institusi. Keempat teori ini
sesungguhnya hanyalah perkembangan dari dua teori terdahulunya, seperti Totalitarian yang
merupakan perkembangan dari Authotarian, sedangkan Social Responsibility Theory (SRT)
merupakan perkembangan dari teori pers libertarian. The four theories of press dikategorikan
sebagai teori normative dikarenakan teori-teori ini mendeskripsikan norma, sesuatu yang
seharusnya, kondisi idealnya.
Yang pertama adalah teori otoriter. Teori otoriter adalah pers yang mendukung dan
menjadi kepanjangan tangan kebijakanpemerintah yang sedang berkuasa dan melayani negara.
Teori ini muncul setelah mesin cetakditemukan dan menjadi dasar perkembangan pers komunis
soviet. Dikenal sebagai sistem tertuayang lahir sekitar abad 15-16 pada masa pemerintahan
absolut. Pers lebih digunakan untuk memberi informasi kepadarakyat mengenai apa yang
penguasa pikirkan, apa yang mereka inginkan, dan apa yang harusdidukung oleh rakyat.
Berbagai kejadian yang akan diberitakan dikontrol oleh pemerintah karenakekuasaan raja
sangat mutlak. Negara dengan raja sebagai kekuatan adalah pusat segala kegiatan.Oleh karena
itu, individu tidak penting, yang lebih penting adalah negara sebagai tujuan akhirindividu.
Kedua adalah teori liberal. Teori liberal (libertarian) berkembang pada abad ke 17-18
sebagai akibat munculnya revolusi industri, dan adanya tuntutan kebebasan pemikiran di negara
barat yang disebut aufklarung (pencerahan). pers harus mendukung fungsimembantu
menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintah sekaligus sebagai media yangmemberikan
informasi, menghibur, dan mencari keuntungan, pers bersifat swasta, dan siapaun yang
mempunyai uang yang cukup dapat menerbitkan media
Yang ketiga adalah teori tangggung jawab sosial. Teori tanggung jawab sosial
mengatakan bahwa, setiap orang yang memiliki suatu yangpenting untuk dikemukakan harus
diberikan hak dalam forum, dan jika media tidak dianggapmemenuhi kewajibannya, maka ada
17
pihak yang harus memaksanya. Dasar pemikiran sistem iniadalah sebebas-bebasnya pers harus
bisa bertanggung jawab kepada masyarakat tentang apa yangdiaktualisasikan.
Dan yang terakhir yaitu teori pers komunis sosial. Teori pers komunis social Pers
dalam sistem ini merupakan alat pemerintah atau partai dan menjadi bagian integral negara.
Pers menjadi alat atau organ partai yang berkuasa (partai komunis Uni Soviet).Dengan
demikian, segala sesuatu ditentukan oleh negara (partai). Kritik diijinkan sejauh
tidakbertentangan dengan ideologi partai.
Sistem Pers
Pers di Indonesia telah diatur oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang
Pers. Dalam ketentuan itu disebutkan bahwa Pers adalah lembaga sosial dan wahana
komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan,
suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan
menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis uraian yang tersedia.
Sistem pers di Indonesia dewaasa ini telah menciptakan pluralisme yang pada
hakekatnya merupakan kelanjutan Tata Komunikasi Dan Informasi Dunia Baru dimana sejak
paruh tahun 1980an tidak lagi mencerminkan upaya media untuk mcmbangun public sphere
(sehagai hagian tanggungiawab sosial) yang benar-benar membebaskan masyarakat dari
cengkraman kekuasaan: politik maupun ekonomi.
Perlu disimak Pula bahwa kondisi sistem pers yang terbentuk saat ini dalam ranah
media di Indonesia tidaklah terlepas dari pengaruh dan campur tangan pihak asing, langsung
maupun tidak langsung, dimana dominasi segelintir pemilik modal dalarn industri pers
Indonesia adalah juga hagian dan penetrasi dan ekspansi kapitalisme dan kekuatan politik
secara global.
Kebebasan dan konflik dalam Pers
Alasan normatif atas signifikansi kebebasan pers dalam kehidupan masyarakat pada
dasarnya berhubungan dengan kehidupan warga masyarakat di ruang publik. Disini kebebasan
pers dapat diartikan di satu pihak sebagai hak warga negara untuk mengetahui masalah-masalah
publik, dan di pihak lainnya hak warga dalam mengutarakan pikiran dan pendapatnya.
Karenanya kebebasan pers dilihat bukan semata-mata menyangkut keberadaan media
jurnalisme (secara berganti digunakan istilah media pers untuk pengertian yang sama) yang
18
bebas, tetapi mencakup suatu mata rantai yang tidak boleh terputus dalam proses demokrasi.
Inilah yang mendasari pemikiran mengapa warga harus dijamin haknya untuk mengetahui
permasalahan di ruang publik, dan mengapa pula warga harus dijaminhaknya untuk
menyatakan pendapat, kesemuanya perlu ditempatkan dalam prinsip demokrasi dan civil
society.
Kebebasan dan Pers adalah sesuatu yang diberikan oleh penegak hukum yang berkaitan
tentang produksi media massa pada Pers. Dengan adanya kebebasan, maka pers maka khalayak
dapat tahu berbagai informasi termasuk kerja pemerintahannya. Semakin ditegakkannya hak
pers, maka meminimalisir konflik juga.
19
BAB VI
MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN POLITIK
Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari
komunikator kepada khalayak. Bisa seperti media massa, media cetak, bahkan media social,
yang mana terdiri dari televisi, koran, radio, Instagram, facebook, whatsapp, dll.
Sebenarnya apa itu ekonomi?? Pengertian ekonomi sendiri yaitu ilmu mengenai asas-
asas produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa atau pemakaian barang-barang
serta kekayaan seperti hal keuangan, perindustrian, dan perdagangan. Ada juga yang
menyebutkan definisi ekonomi adalah semua yang berhubungan dengan upaya dan daya
manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk mencapai suatu tingkatan kemakmuran.
Sedangkan politik merupakan suatu fenomena yang sangat berhubungan dengan
kehidupan manusia yang merupakan mahluk social, politik juga suatu proses pembentukan dan
pembagian kekuasaan dalam masyarakat di mana wujudnya adalah proses pembuatan
keputusan
Politik Indonesia saat ini berada dalam pusaran globalisasi, di mana eksistensi media
tak luput dari apa yang ada dalam kaum hegemonian, akan tetapi media menempatkan dalam
kebudayaan global sehingga media tidak merepresentasikan realitas sosial politik, namun lebih
dari itu. Berbeda pada zaman Soeharto, media dijadikan sebagai alat untuk meminggirkan dan
mengapolitisasi warga untuk menjauh dari arena politik formal. Dengan kata lain, warga
dilarang ikut campur dalam politik Indonesia saat itu, demi menunjang dan melestarikan kuasa
dari elit politik (pemegang kuasa).
Dalam dunia politik, media dapat menjadi institusi dan menjadi aktor politik yang
memiliki hak-hak. Selain itu, media juga dapat memainkan berbagai peran politik, seperti
mendukung proses transisi demokrasi, dan melakukan oposisi. Ada beberapa contoh kasus yang
menjadikan media sebagai alat perang untuk melawan pemerintahan, antara lain :
1. Gerakan perlawanan rakyat di Filipina tahun 1986. Gerakan ini dikenal dengan
julukan People Power yang berhasil mengusir Marcos dari kursi kuasa kepresidenan.
2. Gerakan perlawanan rakyat di Thailand pada tahun 1992 yang dikenal dengan
Peristiwa Mei. Perlawanan rakyat ini berhasil mendepak pemerintah Suchinda
Kraprayoon dari kekuasaan negara.
20
3. Gerakan mahasiswa dan rakyat yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 demi
melengserkan jabatan Presiden Soeharto hingga sempat mengalami krisis moneter pada
saat itu.
Perlawanan rakyat tersebut tidak lepas dari peran penting media sebagai agent of
change dalam transisi politik negara tersebut. Semakin independent suatu pers, maka akan
semakin besar kebebasan yang dimiliki maka akan memberi kontribusi positif pada perubahan
politik dan mendukung adanya demokrasi serta menurunkan rezim pemerintahan yang otoriter.
Maka dari itu, pentingnya sebuah media dalam memantau perkembangan politik di suatu
negara, khususnya Indonesia. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai sebuah
media dijadikan sebuah tunggangan oleh penguasa elit politik, hal ini media khususnya pers
tidak akan bisa menjadi media yang independent sebagaimana seharusnya.
Media dalam prespektif ekonomi dan politik ini saling berkesinambungan dan saling
berhubungan, sebuah membeberakan bagaimana peran media dalam proses kehidupan seperti
transaksi mulai dari produksi , distribusi hingga sampai konsumsi yang mana media memiliki
peran penting dalam system ekonomi yang ada di masyarakat dalam menghasilkan uang
melalui jasa, dan media bukan hanya sebuah wadah atau pengantar informasi namun media
menjadi sebuh instusi yang menghasilkan pundi-pundi uang melalui proses pengiklanan yang
diberikan oleh sponsor. Sehingga terbentuklah sebuah industri media yang bisa membuka
lapangan pekerjaan untuk masyarakat sehingga terjadi perputaran ekonomi dalam industri
media tersebut, hal itu berhubungan dengan prespektif politik yang mana para pelaku politik
ataupun seperti anggota dewan dari legislatif, eksekutif, hingga yudikatif pun memanfaatkan
media untuk kepentingan, dalam hal ini juga akan berkesinambungan dengan system ekonomi
yang mana dalam politik bisa menjadi pihak sponsor atau donaturnya, media dimaanfaatkan
juga untuk kepentingan masyarakat dalam ketransparantan politik yang ada di Indonesia
sehingga masyarakat juga teredukasi mengenai isu atau ilmu-ilmu politik yang ada dengan
bantuan media.
21
DAFTAR PUSTAKA
https://dinastirev.org/JMPIS/article/view/253
https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat
http://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Demokrasi_27738_p2k-unkris.html
http://eprints.uad.ac.id/9437/1/DEMOKRASI%20dwi.pdf
Haliim, Wimmy. “DEMOKRASI DELIBERATIF INDONESIA: KONSP
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBENTUK DEMOKRASI DAN
HUKUM YANG RESPONSIF.” Masyarakat Indonesia 42, no. 1 (June 30, 2016): 19–
30.
https://repository.dinamika.ac.id/id/eprint/1017/5/BAB_III.pdf
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/31031/6%29%20BAB%20II.
pdf?sequence=6&isAllowed=y
https://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/06/perlu-solusi-bersama-atas-ekses-
negatif-media-massa
https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/fisip/article/view/2284
http://e-journal.uajy.ac.id/11311/4/3MTA02155.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Ruang_publik
https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/ruang-publik-untuk-kehidupan
https://www.bola.com/ragam/read/4428974/pengertian-fakta-dan-opini-ciri-
perbedaan-dan-contohnya
https://kbbi.kemdikbud.go.id/Beranda
http://repository.uir.ac.id/786/2/bab2.pdf
http://repository.unpas.ac.id/12318/5/BAB%20II.pdf
https://www.gramedia.com/literasi/kalimat-fakta/
Indonesia. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Ln.No.52 Tln.3387.
Suhandang, Kustadi. 2004. Pengantar Jurnalistik : Seputar Organisasi, Produk, Dan
Kode Etik. Bandung: Nuansa.
M. Syam, Hamdani Ulfa Yuniati, Nora Meilinda Hardi, Roni Tabroni. 2021. “Etika
Dan Bisnis Dalam Jurnalisme”. Banda Aceh : Syiah Kuala University Press.
22
Chaniago, Danil Mahmud, and Umi Rusmiani Umairah. “SEJARAH PERS
KOLONIAL DI INDONESIA.” Khazanah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam,
December 20, 2018. https://doi.org/10.15548/khazanah.v0i0.72.
Hutagalung, Inge. “Dinamika Sistem Pers di Indonesia,” 2013, 8.
Lekir, Jl Hang. “Implementasi Teori Pers dalam Pemberitaan Harian Republika” 03
(2020): 11.
Mauliansyah, Fiandy. “Studi Perbandingan Konflik Pers Indonesia dan Pers Malaysia
dalam Konteks Nationality of Press dan Neighbor’s Press.” SOURCE : Jurnal Ilmu
Komunikasi 3, no. 1 (October 30, 2018). https://doi.org/10.35308/source.v3i1.626.
Widjaya, Satria Loka. “PERS, KASUS UDIN DAN WACANA KEBEBASAN PERS
DI INDONESIA,” n.d., 169.
The Four Press Media Theories: Authoritarianism Media Theory, Libertarianism
Media Theory, Social Responsibility Media Theory, and Totalitarian Media Theory
oleh Didit Agus Triyono Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas
Diponegoro Semarang
Buku Perkembangan pers di Indonesia oleh Akhmad Efendi
https://www.merdeka.com/sumut/fungsi-pers-di-indonesia-yang-penting-diketahui-
kln.html
Hajad, Vellayati. “Media Dan Politik (Mencari Independensi Media Dalam
Pemberitaan Politik).” Source : Jurnal Ilmu Komunikasi 2, No. 2 (October 26, 2018).
Https://Doi.Org/10.35308/Source.V2i2.295.
Yusuf, Muhamad Fahrudin. “Komodifikasi: Cermin Retak Agama Di Televisi:
Perspektif Ekonomi Politik Media,” N.D., 18.
Rahardian, Tsalis Fahmi “MANAJEMEN MEDIA TELEVISI TV9 NUSANTARA:
ANTARA BISNIS DAN DAKWAH DALAM PERSPEKTIF EKONOMI MEDIA”
: Jurnal Ilmu Komunikasi (Januari 25, 2015
Muis, 1996, Kontroversi Sekitar Keberadaan Pers : Bunga Rampai Masalah
Komunikasi, Jurnalistik, Etika dan Hukum Pers, Mario Grafika, Cet.1,
Jakarta, hal, 11-12
Dahlan Surbakti, “Peran dan Fungsi Pers Menurut Undang-undang Pers
tahun 1999 serta Perkembangannya,” Jurnal Hukum PRIORIS 5, no. 1 (May
18, 2016): 77–86. Hal 77-78
23
Kaban, Ramon. “KEMERDEKAAN PERS, SEBUAH PONDASI HAK
ASASI MANUSIA DITINJAU DARI UU NO. 40 TAHUN
1999.” Perspektif 9.3 (2004): 261-271.
https://kbbi.web.id/politik
http://eprints.umm.ac.id/35920/3/jiptummpp-gdl-yudikurnia-48898-3-
babii.pdf
http://repository.uin-suska.ac.id/6723/4/BAB%20III.pdf
https://media.neliti.com/media/publications/154709-ID-memahami-tentang-
beberapa-konsep-politik.pdf
file:///C:/Users/ASUS/Downloads/1279-2536-1-PB.pdf
24
25
MEDIA DAN KRITIK SOSIAL
Perkenalkan saya Saya Syarif Abu Bakar Mahasiswa Ilmu Komunikasi semester v
UIN Sunan Ampel Surabaya. Mini book ini adalah buku yang saya susun sendiri dari artikel
artikel yang pernah saya buat mengenai Media dan Kritik Sosial. ini memiliki enam bab
dengan topik yang berbeda yaitu Media dan Demokrasi, Media dan Kontrol Sosial, Media dan
Ruang Publik, Fakta dan Opini, Pers, dan Media Dalam Perspektif Ekonomi Dan Politik.
Mini book ini diterbitkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Media dan Kritik Sosial
yang diampu oleh Bapak Abu Ammar M.Si. Saya sebagai penulis pun menyadari bahwa mini
book yang saya susun masih memiliki beberapa kekurangan. Namun saya berharap para
pembaca memaafkan dan memaklumi beberapa kekeliruan yang ada pada mini book yang saya
susun dan mengambil banyak manfaatnya. Semoga mini book yang saya buat dapat menjadi
manfaat yang besar bagi saya dan para pembaca. Selamat membaca.
26