Praktikum Ekologi Perairan
Pengambilan Sampel
Benthos
Salwa Nurfitria 140410190014 Salsabila Laraswari 140410190072
Firda Wulandari 140410190028 M. Terry Agustian 140410190076
Muhammad Ridzqi 140410190040 Hasna Nurul Hadi 140410190088
Gagah Mulia Imani 140410190056 Velinda Athiyah 140410190106
Azka Khalishaturrahmah 140410190058
Cara Pengambilan Sampel Benthis
Pengambilan sampel benthos dengan modifikasi metode Sasekumar (1974)
dilakukan dengan metode kualitatif pada plot berukuran 5x5m2dengan tangan
(hand picking) dan menggali liang yang diduga menjadi rumah atau sarang dari
biota dengan sekop kecil. Selain itu, dilakukan juga secara kuantitatif dengan
mengambil sampel substrat dari plot sampel yang berukuran 1x1m2(pada plot
5x5m2) sedalam 10 cm (Sasekumar, 1974).
Substrat kemudian diayak dengan ayakan bermata saringan 0,5 mm bertujuan
untuk memisahkan substrat dengan biota, setelah diayak sampel kemudian
dimasukkan ke dalam plastik yang telah berisi formalin 10% dan kemudian
dibawa ke laboratorium untuk dilakukan identifikasi (Ulum et al., 2012).
Ekman Grab dengan luas bukaan Alat-Alat
²15x15cm2atau 20x20cm pipet tetes,
spuit,
jala surber (Surber Net) 30x30cm, stopwatch,
keping secidian,
kantong plastik, tongkat berskala,
lup, mikroskop, dan saringan (sieves)
kuas kecil, meteran, (Jhonatan et al., 2016).
kertas label, Ekman grab
sikat halus,
botol sampel,
bola pimpong, Jala Surber
botol winkler,
kertas pH,
termometer,
(Bowles et al., 2021) (Stancliffe-Vaughan, 2015)
Bahan-Bahan
Selain itu, juga digunakan bahan sebagai pengawet
dan indikator seperti:
formalin 4%, larutan H2SO4 pekat,
alkohol 70%, amilum,
MnSO4, larutan natrium tiosulfat 0,025 N,
KOH-KL, larutan Na2CO3
dan Indikator phenolphthalein 0,5%
(Romdon, 2003).
Benthos Berdasarkan Ukuran
Mikrobenthos
Kelompok benthos yang berukuran kurang dari 0,1 mm. Kelompok ini
merupakan organisme benthos yang terkecil. Organisme yang termasuk
di dalamnya adalah bakteri dan protozoa khususnya dari kelompok
ciliata. Contoh spesies yang termasuk mikrobenthos adalah
Globigerinoides ruber dari kelas Globothalamea (Firstyananda, 2013;
Fenchel, 1978).
Benthos Berdasarkan Ukuran
Mesobenthos
Kelompok benthos yang berukuran antara 0,1—1,0 mm. Kelompok ini
adalah hewan kecil yang dapat ditemukan di pasir atau lumpur. Hewan
yang termasuk kelompok ini adalah beberapa kelas protozoa berukuran
besar dan kelas crustacea yang sangat kecil serta cacing dan larva
invertebrata (Hutabarat dan Evans, 1985). Contoh spesies yang
termasuk mesobenthos adalah Cumacea sp., dari kelas Malacostraca,
Cyatholaimus sp. dari kelas Chromadorea filum Nematoda, dan Syllides
sp., dari kelas Polychaeta (Hanum, et al., 2017).
Benthos Berdasarkan Ukuran
Makrobenthos
Kelompok benthos yang berukuran lebih besar dari 1,0 mm. Kelompok ini
adalah hewan benthos yang terbesar. Makrobenthos akan tersaring oleh
saringan yang berukuran 1,0 x 1,0 milimeter atau 2,0 x 2,0 milimeter.
Makrobenthos digolongkan ke dalam hewan moluska, echinodermata,
crustacea dan beberapa filum annelida (Vernberg, et al., 1981). Contoh
spesies yang termasuk makrobenthos adalah Anadara granosa dari kelas
Bivalvia, Penaus indicus dari kelas Crustacea, dan Turritella nivea dari
kelas Gastropoda (Izzah dan Roziaty, 2016).
Benthos Berdasarkan
Cara Makan
Menurut Odum (1971) berdasarkan kebiasaan makannya terbagi
menjadi 2, yaitu:
1. Filter feeder : hewan yang menyaring partikel-partikel detritus yang
masih melayang dalam perairan. Contohnya, Nereis (Polychaeta),
Balanus (Crustacea) Crepidula (Gastropoda)
2. Deposit feeder : hewan bentos yang memakan partikel-partikel
detritus yang telah mengendap pada dasar perairan. Contohnya,
Terella dan Amphitrile (Polychaeta), Tellina dan Arba (Bivalvia)
Benthos sebagai indikator perairan
Famili Baetidae
Spesies dari famili Baetidae yaitu Baetis sp., merupakan jenis benthos yang
paling toleran untuk pencemaran yang ringan. Biasanya hewan pada
golongan ini akan mengalami penurunan kelimpahan jika terdapat
sedimentasi serta polusi organik, hewan ini memerlukan banyak oksigen.
Ciri lingkungan tempat hidup yang memiliki parameter sebagai
berikut :
Benthos sebagai indikator perairan
Berikut adalah contoh hewan benthos dari famili Baetidae yang memiliki
kisaran toleransi yang sempit terhadap pencemaran dan tidak tahan
terhadap tekanan lingkungan
Baetis sp.
sumber gambar: (bugguide.net)
Benthos sebagai indikator perairan
Famili Naididae
Famili Naididae merupakan makrozoobenthos yang dapat dijadikan sebagai
indikator pencemaran berat pada perairan. Menurut Rudiyanti et al. (2014),
spesies pada famili Naididae yakni Chironomous sp., Tubifex sp., dan Nais
sp. merupakan bioindikator pada perairan yang mengalami pencemaran
berat. Hal ini dikarenakan mereka bersifat toleran dan memiliki kemampuan
osmoregulasi yang baik, sehingga organisme tersebut dapat menyesuaikan
diri terhadap kondisi ekstrim yang ada di sekitarnya (Kawuri, 2012)
Benthos sebagai indikator perairan
Nais sp. Chironomus sp. Tubifex sp.
Pengaruh Parameter Fisik pada
Benthos
Suhu: Selisih suhu yang kecil pun dapat mempengaruhi keadaan komunitas
benthos. Suhu perairan yang lebih tinggi cenderung mengurangi jumlah
dan keanekaragaman jenis organisme. Pada suhu di atas 30°C terjadi
penurunan keanekaragaman jenis benthos (Purnami dan Sunarto, 2010).
Intensitas Cahaya (kejernihan): intensitas cahaya (kejernihan)
menunjukkan semakin tinggi tingkat kejernihan perairan indeks
keanekaragaman semakin menurun. Hal ini karena keterkaitan antara
banyaknya intensitas cahaya yang mampu lolos jatuh di badan air dengan
material unsur muatan sedimen yang saling berbanding terbalik (Purnami
dan Sunarto, 2010).
Pengaruh Parameter Fisik pada
Benthos
Kedalaman: Kedalaman perairan mempengaruhi jumlah jenis
makrozoobenthos. Semakin dalam dasar suatu perairan, semakin sedikit
jumlah jenis makrozoobenthos. Hal ini karena beberapa jenis
makrozoobenthos yang mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan
tersebut. Semakin dalam suatu perairan maka semakin rendah penetrasi
cahaya sehingga salah satu makanan dari benthos, yaitu mikroalga bentik
akan sulit berfotosintesis karena kekurangan cahaya (Odum, 1996).
Tipe substrat: Tipe substrat berpengaruh pada struktur komunitas dari
makrozoobenthos. Apabila tipe substrat berubah, maka struktur komunitas
dari makrozoobenthos pun akan berubah.
Pengaruh Parameter Fisik pada
Benthos
Tekanan Hidrodinamik Air (Arus dan Gelombang): Pergerakan massa air
membawa nutrien pada massa air yang terangkut dari suatu daerah ke
daerah yang lain. Pergerakan air yang cukup besar dapat menunjang proses
difusi dan absorpsi unsur dalam proses fotosintesis serta keluarnya hasil-hasil
metabolisme organisme (Koesoebiono, 1981). Menurut Husnayati, et al., (2015),
kecepatan arus mempengaruhi tipe substrat, dimana pada kecepatan arus
yang tinggi maka tipe substrat yang dominan adalah substrat berpasir,
karena hanya partikel besar seperti pasir yang mampu diendapkan di dasar
perairan, sedangkan partikel halus akan terbawa oleh arus yang kuat.
Sedangkan pada arus yang lemah, tipe substrat yang dominan adalah
substrat berlumpur atau lempung.
Pengaruh parameter Kimia pada
Benthos
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) yang sangat penting mendukung kelangsungan hidup
organisme akuatik karena pH dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat
dalam lingkungan perairan dan tersedianya unsur hara serta toksisitas unsur
renik. Organisme bentos menyukai nilai pH sekitar 7–8,5 pada lingkungan
hidupnya, jika pH < 7 maka telah terjadi penurunan populasi hewan-hewan
bentos. Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap
tumbuh- tumbuhan dan hewan air sehingga sering dipergunakan sebagai
petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan bagi lingkungan
hidup, walaupun baik buruknya suatu perairan tergantung pula pada faktor-
faktor lain (Narulita, 2011). a little bit of body text
Pengaruh parameter Kimia pada
Benthos
Gas Oksigen Terlarut (DO)
Perubahan kandungan oksigen terlarut di lingkungan sangat berpengaruh
terhadap hewan air karena oksigen merupakan gas yang sangat penting.
Kebutuhan oksigen bervariasi, tergantung oleh jenis, stadia, dan aktivitas.
Semakin tinggi kadar oksigen terlarut maka jumlah bentos semakin besar
(Darojah, 2005). Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk
pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Selain itu juga
dibutuhkan untuk oksidasi bahan – bahan organik dan anorganik dalam proses
aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu
proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup
dalam perairan tersebut (Salmin, 2000).
Pengaruh parameter Kimia pada
Benthos
Kadar Bahan Pencemar (Polutan)
Terkait kadar bahan pencemar, daya toleransi benthos terhadap pencemaran
bahan organik dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu jenis intoleran, jenis
fakultatif, dan jenis toleran. Jenis Intoleran merupakan organisme yang tidak
dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan kualitas. Jenis
fakultatif merupakan organisme yang dapat bertahan hidup di perairan yang
banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan.
Jenis toleran merupakan organisme yang sering dijumpai di perairan yang
berkualitas buruk (Meisaroh, dkk, 2019).
Pengaruh parameter Kimia pada
Benthos
Salinitas
Salinitas merupakan faktor penting bagi penyebaran organisme
perairan laut dan oksigen dapat merupakan faktor pembatas
dalam penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air (Patty,
2013). Pada umumnya nilai salinitas wilayah laut Indonesia
‰berkisar antara 28-33 . Menurut Wijayanti (2007), benthos
umumnya dapat mentoleransi salinitas air dengan kisaran antara
‰ ‰25
sampai 40 .
Tabel Identifikasi Benthos
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Trichoptera
Famili Hydropsychidae
Genus Hydropsyche
Spesies Hydropsyche sp. (Pictet, 1834)
Jumlah Individu: 120
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Odonata
Famili Gomphidae
Genus Paragomphus
Spesies Paragomphus sp. (Cowley, 1934)
Jumlah Individu: 27
Tabel Identifikasi Benthos
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Diptera
Famili Chironomidae
Genus Chironomus
Spesies Chironomus sp. (Meigen, 1803)
Jumlah Individu: 10
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Malacostraca
Ordo Amphipoda
Famili Gammaridae
Genus Gammarus
Spesies Gammarus sp. (J. C. Fabricus,
1775)
Jumlah Individu: 5
Tabel Identifikasi Benthos
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Trichoptera
Famili Philopotamidae
Genus Dolophilodes
Spesies Dolophilodes sp. (Ulmer, 1909)
Jumlah Individu: 1
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Clitellata
Ordo Hirudinea
Famili Hirudinidae
Genus Hirudo
Spesies Hirudo medicinalis
(Linnaeus, 1758)
Jumlah Individu: 6
Tabel Identifikasi Benthos
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Clitellata
Ordo Tubificida
Famili Naididae
Genus Tubifex
Spesies Tubifex tubifex (Müller, 1774)
Jumlah Individu: 18
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Insecta
Ordo Hemiptera
Famili Belostomatidae
Genus Lethocerus
Spesies Lethocerus americanus
(Leidy, 1847)
Jumlah Individu: 1
Tabel Identifikasi Benthos
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Gastropoda
Ordo Neotaenioglossa
Famili Thiaridae
Genus Melanoides
Spesies Melanoides tuberculata
(Müller, 1774)
Jumlah Individu: 3
Kingdom Animalia
Filum Arthropoda
Kelas Malacostraca
Ordo Decapoda
Famili Gecarcinidae
Genus Parathelphusa
Spesies Parathelphusa sp.
(Milne-Edwards, 1853)
Jumlah Individu: 6
Indeks Dominansi Simpson
(C)
Menurut Dhahiyat dkk. (2003), Indeks dominansi simpson dapat diketahui
menggunakan perhitungan berikut:
Keterangan:
C : indeks dominansi Simpson
s : jumlah spesies
Pi : perbandingan jumlah spesies ke-i (n,) terhadap jumlah total spesies (N)
Maka, melalui perhitungan di atas didapatkan hasil indeks
dominansi simpson (C) sebesar 0,40
Indeks Kesnrksrsgsmsn
Hayati (H')
Berdasarkan Sirait dkk. (2018), Indeks Keanekaragaman dapat dicari
menggunakan perhitungan berikut:
keterangan:
H'= indeks keanekaragaman
Pi= ni / N
Ni= jumlah individu jenis ke-i
N = jumlah total individu semua jenis
Maka, melalui perhitungan di atas didapatkan hasil indeks
keanekaragaman (H') sebesar 1,37
Indeks Kemerataan Evenness
(E')
Menurut Sari (2015), dalam mengetahui kemerataan suatu spesies
digunakan indeks evenness (E’) dengan perhitungan sebagai berikut:
Keterangan:
e’ : Indeks kemerataan
H' : Indeks Shannon and Wiener
s : Jumlah jenis (spesies)
Maka, melalui perhitungan di atas didapatkan hasil indeks kemerataan
evenness (E') sebesar 0,26.
Interpretasi
Indeks Dominansi Simpson menunjukkan ada tidaknya spesies yang
mendominasi dalam suatu ekosistem. Indeks Nilai Indeks Dominansi
Simpson yang mendekati 1 menunjukkan adanya dominasi yang tinggi
dan sebaliknya nilai indeks yang mendekati 0 menunjukkan dominansi
yang rendah atau tidak ada jenis yang mendominasi (Jannah &
Muchlisin, 2012). Didapatkan Indeks Dominansi Simpson sebesar 0,40;
menunjukkan bahwa dalam komunitas benthos yang diamati
dominansi spesies rendah
Interpretasi
Indeks Keanekaragaman Hayati dihitung untuk mengetahui komposisi jumlah
individu dalam setiap spesies yang berada pada suatu komunitas. Kriteria
dalam analisis indeks keanekaragaman jenis yaitu jika nilai H’ < 1 maka
keanekaragaman jenisnya termasuk ke dalam kategori rendah, komunitas, biota
tidak stabil dan kualitas air tercemar berat, jika nilai 1 < H’ < 3 termasuk ke
dalam kategori sedang, stabilitas komunitas biota sedang dan kualitas air
tercemar sedang dan jika nilai H’ > 3 termasuk kategori tinggi, stabilitas
komunitas biota dalam kondisi prima (stabil) dan kualitas air bersih (Agustina &
keanekaragamanPoke, 2016). Maka komunitas benthos ini tergolong memiliki
yang sedang, stabilitas komunitas biota sedang, dan kualitas air
tercemar sedang karena memiliki nilai Indeks Keanekaragaman Hayati sebesar
1,37
Interpretasi
Dihitung pula Indeks Keseragaman (E), untuk mengetahui kemerataan setiap
jenis pada komunitas yang diamati. Kriteria Indeks Keseragaman yaitu : 0,00 –
0,25 = Tidak merata; 0,26 –0,50 = Kurang merata; 0,51 –0,75 = Cukup merata;
0,76 –0,95 = Hampir merata; 0,96 –1,00 = Merata (Wirabumi et al., 2017).
komposisi jumlahDidapatkan nilai Indeks Keseragaman sebesar 0,26, maka
individu setiap jenis dalam komunitas kurang merata.
Referensi
Agustina, S. S., & Poke, A. A. (2016). Keanekaragaman Fitoplankton Sebagai Indikator Tingkat Pencemaran Perairan
Teluk Lalong Kota Luwuk. Jurnal Balik Diwa, 7(2). https://doi.org/10.31219/osf.io/bq37p
Bowles, D. E., M. H. Williams, H. R. Dodd, L. W. Morrison, J. A. Hinsey, J. T. Cribbs, G. A. Rowell, M. D. DeBacker, J. L.
Haack-Gaynor, and J. M. Williams. 2021. Protocol for monitoring aquatic invertebrates of small streams in the
Heartland Inventory & Monitoring Network: Version 2.1. Natural Resource Report NPS/HTLN/ NRR—2021/2229.
National Park Service, Fort Collins, Colorado.
Darojah, Y. 2005. Keanekaragaman Jenis Makrozoobentos di Ekosistem Perairan Rawapening Kabupaten
Semarang(Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang).
Dhahiyat, Y., Sinuhaji, D., & Hamdani, H. (2003). STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG DI DAERAH TRANSPLANTASI
KARANG PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU [Community Structure of Coral Reef Fish in the Coral Transplantation
Area Pulau Pari, Kepulauan Seribu]. Jurnal Iktiologi Indonesia, 3(2), 87-94.
Fenchel, T. M. (1978). The ecology of micro-and meiobenthos. Annual review of Ecology and Systematics. 9(1): 99-
121.
Firstyananda, P. (2013). Komposisi dan Keanekaragaman Makrozoobentos di Tiga Lokasi Aliran Sungai Sumber
Kuluhan Jabung, Kabupaten Magetan (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).
Referensi
Hanum, F., Sarong, M. A., & Octavina, C. (2017). Distribusi Dan Kelimpahan Meiofauna Di Perairan Kuala Jeumpa Kecamatan Jeumpa,
Kabupaten Bireuen. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 2(1): 50-57.
Husnayati, H., Arthana, I. W., & Wiryatno, J. 2015. Struktur komunitas makrozoobenthos pada tiga muara sungai sebagai bioindikator
kualitas perairan di pesisir pantai Ampenan dan pantai Tanjung Karang Kota Mataram Lombok. Ecotropic, 7(2), 116-125.
Hutabarat, S., dan Evans, S. M. 1985. Pengantar oseanografi. Jakarta: UI Press.Izzah, N. A., & Roziaty, E. (2016). Keanekaragaman
Makrozoobentos di Pesisir Pantai Desa Panggung Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi.
2(2): 140-148.
Jannah, R., & Muchlisin, Z. A. (2012). Komunitas fitoplankton di daerah estuaria Krueng Aceh , Kota Banda Aceh Phytoplankton
community in estuary area of Krueng Aceh , Banda Aceh City. Depik, 1(3), 189–195.
Jhonatan, F., Setyawati, T. R., & Linda, R. (2016). Keanekaragaman Makrozoobentos di Aliran Sungai Rombok Banangar Kabupaten
Landak Kalimantan Barat. Protobiont, 5(1): 39-45.
Kawuri, L. (2012). Kondisi Perairan Berdasarkan Bioindikator Makrobentos di Sungai Seketak Tembalang Kota Semarang.
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 1(1), 1-5.
Kinanti, T. E., Rudiyanti, S., & Purwanti, F. (2014). Kualitas Perairan Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan ditinjau dari faktor Fisika-
Kimia sedimen dan kelimpahan hewan Makrobentos. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 3(1), 160-167.
Referensi
Koesoebiono. 1981. Biologi Laut. Bogor: Fakultas Perikanan, IPB.
Lobo, H., Méndez-Fernández, L., Martínez-Madrid, M., Daam, M. A., & Espíndola, E. L. (2016). Acute toxicity of zinc and arsenic
to the warmwater aquatic oligochaete Branchiura sowerbyi as compared to its coldwater counterpart Tubifex tubifex
(Annelida, Clitellata). Journal of Soils and Sediments, 16(12), 2766-2774
Meisaroh, Y., Restu, I. W., & Pebriani, D. A. A. 2019. Struktur Komunitas Makrozoobenthos sebagai Indikator Kualitas Perairan
di Pantai Serangan Provinsi Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences. 5(1), 36-43.
Narulita, D. S. 2011. Analisis Tingkat Pencemaran Bakteri Coliform Dan Kaitannya Dengan Parameter Oseanografi Pada
Perairan Pantai Kabupaten Maros [Skripsi]. Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Odum, E. P. (1996). Dasar-Dasar Ekologi (Trans. T. Samingan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Patty, S. I. (2013). Distribusi suhu, salinitas dan oksigen terlarut di Perairan Kema, Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 1(3).
Purnami, A. T., & Sunarto, S. P. (2010). Study of bentos community based on diversity and similarity index in Cengklik DAM
Boyolali. Ekosains, 2(2), 50-65.
Romdon, S. (2003). Teknik Sampling Makrozoobenthos di Perairan Waduk dan Danau. Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya
dan Penangkapan, 1(1): 1-3.
Referensi
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera
Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari
dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 - 46.
Sari, M. (2015). Identifikasi Serangga Dekomposer di Permukaan Tanah Hutan Tropis Dataran Rendah (Studi Kasus di
Arboretum dan Komplek Kampus UNILAK dengan Luas 9, 2 Ha). Bio-Lectura: Jurnal Pendidikan Biologi, 2(2), 140-149.
Sasekumar, A. (1974). Distribution of Macrofauna on Malaya Mangrove Shore. The Journal of Animal Ecology, 43: 51-69.
Setyaningthias, Sari. 2007. Kualitas Air Citarum Hulu Dengan Menggunakan Biomonitoring Makrozoobentos. Skripsi. Bandung
:Institut Teknologi Bandung
Sirait, M., Rahmatia, F., & Pattulloh, P. (2018). KOMPARASI INDEKS KEANEKARAGAMAN DAN INDEKS DOMINANSI
FITOPLANKTON DI SUNGAI CILIWUNG JAKARTA (Comparison Of Diversity Index And Dominant Index of Phytoplankton At
Ciliwung River Jakarta). Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 11(1), 75-79.
Stancliffe-Vaughan, A. E. (2015). Sampling UK Pacifastacus leniusculus (Dana, 1852): the effect of trapping on population
structure (Doctoral dissertation, Anglia Ruskin University).
Ulum, M. M., Widianingsih, & Hartati, R. (2012). Komposisi dan Kelimpahan Makrozoobenthos Krustasea di Kawasan Vegetasi
Mangrove Kel. Tugurejo, Kec. Tugu, Kota Semarang. Journal Of Marine Research, 1(2): 243-251.
Referensi
Vernberg, W. B., Thurberg, F. P., Calabrese, A., dan Vernberg, F. J. 1981. Marine. Pollution: Functional
Responses. London: Academic Press.
Wijayanti, H. 2007. Kajian Kualitas Perairan Di Pantai Kota Bandar Lampung Berdasarkan Komunitas
Hewan Makrobenthos. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang.
Wirabumi, P., Sudarsono, & Suhartini. (2017). Struktur Komunitas Plankton Di Perairan Waduk. Jurnal
Prodi Biologi, 6(3), 174–184.