The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kenang-kenangan dari acara Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81 Padang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ajokhoghant, 2023-01-10 20:35:29

BUKU KENANGAN REUNI 41 TAHUN SMANTRI 81

Kenang-kenangan dari acara Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81 Padang

81 Smantri 2022

BUKU KENANGAN 1
REUNI AKBAR 41 TAHUN

SMANTRI 81 PADANG

by: [email protected]

81 Smantri 2022

PIGURA

Di dalam keheningan, hatimu tahu akan rahasia siang dan
malam, tapi telingamu haus akan suara dari pengetahuan hatimu.
Engkau ingin memahami kata-kata, apa yang selalu kau ketahui
dalam pikiran. Engkau ingin menyentuh dengan jemarimu tubuh
telanjang dari mimpi-mimpimu.

Dan apa yang kau inginkan baik adanya. Sumber yang baik
bersembunyi dari jiwamu yang terpaksa menyembul dan
mengalirkan bisikanke laut.

Dan harta benda dari kedalamanmu yang tanpa batas akan
tersingkap pada niatanmu.

Namun janganlah timbangan untuk menimbang harta benda
yang tidak dikenal, dan jangan mencari kedalaman pengetahuanmu
dengan tongkat atau tali pengukur. Sebab diri adalah samudera
tanpa batas, tanpa ukuran.

Jiwa tidak berjalan diatas sebuah garis, dan dia tidak tumbuh
bagai ilalang. Jiwa membentangkan dirinya sendiri, bagai sekuntum
teratai dari dedaunan bunga yang tiada terbilang.

Suatu ketika engkau ingin membuat sebatang sungai, ditepinya
engkau akan melihat dan menyaksikan alirannya. Namun keabadian
didalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan yang abadi, dan
mengetahui bahwa kemaren hanyalah kenangan, hari ini dan esok
hari adalah harapan.

Dan bukankah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan
tiada kenal ruang ???

Tetapi jika dalam pikiranmu engkau harus mengukur waktu ke
dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim
yang lain.

Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan
dan masa depan dengan kerinduan. ( KAHLIL GIBRAN).

by: [email protected] 2

81 Smantri 2022

SEKAPUR SIRIH

SMA Negeri 3 atau kerennya SMANTRI, bagi kami adalah
memang sesuatu banget. Betapa tidak, karena kami adalah termasuk

yang beruntung sebagai bagian dari “generasi awal” SMANTRI, yang
kami beri nama SMANTRI POENCHAQUE (karena alamatnya yaitu

Jl. Gunung Pangilun), dan kemudian menyesuaikan jadi SMANTRI
GAMA (karena berobah jadi Jl. Gajah Mada– sampai sekarang).

Meskipun begitu, kami pun termasuk “korban” dari kebijakan
perobahan awal tahun ajaran dari Januari ke Juli. Apa boleh buat,

bertambahlah masa sekolah kami setengah tahun….dan
akhirnya Tahun 1981, masa-masa indah disekolah itu kami

kelarkan,,,,,,,dan itu telah lewat lebih dari “empat
dasawarsa”,,,,,,empat ratus sembilan puluh dua purnama…..
Hari-hari itu tentu saja terus berlalu, dan tidak satupun
diantara kami yang dapat menahan. Dan kami nampaknya sudah

sepakat bahwa didalam hari yang terus saja berjalan, tak satupun
diantara kita yang ingin kehilangan kesempatan untuk

memanfaatkan dan menikmatinya. Tentunya sesuai dengan cara kita
masing-masing.
Kesempatan sesaat, dua saat atau pun beberapa saat yang kita
peroleh itu, hendaknya dapat dikenang diwaktu besok, lusa atau

kapan saja kami mau. Bahkan mungkin barangkali kami tak sempat
lagi mengenangnya.
Namun sebagai catatan dalam perjalanan yang pernah kita
lalui, biarpun tak sempat mengenangnya, mungkin barangkali bagi

orang-orang sesudah kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami, buyut-
buyut kami, atau siapa saja yang sempat membuka dan melihatnya.

Itupun sebenarnya bagi kami sudah (cukup) puas.
Kami sadar bahwa dalam perjalanan ini amat sangat banyak

kenangan yang “taserak”. Untuk menghimpunnya ternyata

bukanlah pekerjaan gampang. Karena nampaknya pekerjaan itu
seperti “menggantang anak ayam – dicokok sikue lapeh duo,

dicokok limo lapeh tigo”…..Yaaahh !!!!! begitulah kira-kira.
Tetapi amanah sudah dibebankan ke pundak kami. Lewat
kebersamaan, kesetiakawanan dan rasa tanggungjawab yang tinggi
terhadap amanah yang ada, maka kami mencoba memberanikan diri

by:[email protected] 3

81 Smantri 2022

untuk berbuat semampunya. Dan dengan semangat itu pulalah buku
kecil ini untuk kita, atau buat siapa saja yang (sempat) membacanya.

Profil atau gambaran yang terekam dalam buku ini, adalah
kesan atau kenangan yang kami himpun dari Anda, dan itu (dengan
polesan ala kadarnya), bisa betul dan bisa pula salah. Tetapi
percayalah bahwa semua ini didasari dengan niat yang tulus, agar
kiranya “BukuKenangan” ini menjadi berarti.

Kami mohon maaf atas segala kesalahan dan kejanggalan yang
ada, karena kami memang tidak sempurna.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada semua kita
yang telah hadir dikesempatan “Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81”
dengan mengusung tema “Malapeh Taragak Basuo” serta telah
memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengelola dan
mengkoordinir acara itu. Dan juga terima kasih kepada kawan-
kawan atas kerjasama, informasi, gagasan dan kerelaan untuk ditulis
apa adanya.

Buku Kenangan ini juga kami dedikasikan untuk dan sekaligus
mengenang kawan-kawan kami yang sudah lebih dahulu dipanggil
menghadap Allah SWT. Karena bagaimanapun juga, dulu kami dan
kita pernah bersama dalam suka dan duka menyelesaikan bengkalai
pendidikan pada tempat dan waktu yang sama, di SMA 3.
Tentunya dengan iringan do‟a semoga kawan-kawan kami yang
sudah pergi mendahului kami itu, bisa tenang di “alam sana” serta
mendapatkan tempat terbaik disisiNya.

Semoga saja Allah selalu sayang kepada kita semua. Dan
kepadaNya jua kita berlindung dan berserah diri. !! Aamiin……!!

by:[email protected] 4

81 Smantri 2022

TENTANG 41 TAHUN YANG LALU

Masih segar dalam ingatan tentang kita
Murid, Guru, dengan segala asesories anak SMA
Ada yang tampil rapi, dengan model rambut kala itu
Ada juga yang tampil apa adanya, kadang kancing pun tak beraturan
Terpasang di baju…

Ada yang datang dengan kendaraan roda empat model zaman itu..
Ada yang datang dengan roda dua, mulai dari yang mengkilat sampai
bentuk kendaraan tak menentu..
Bahkan tak sedikit yang pake angkot biru dan jalan kaki tanpa
sepatu, (karena sepatu dititip di kantin biar hemat)
Semua mengikuti dan menikmati gayanya masing-masing dengan
seru…

Masih Tentang Perjuangan dan Gelak Tawa di SMA Tiga..
Beragam gaya mulai dari yang serius, lucu sampai yang cuek tak
menentu…

Namun kaki terus melangkah menjalani garis tangan…
Banyak yang diterima di Perguruan Tinggi mulai dari yang Ternama
sampai tidak ada dalam peta…
Namun tidak sedikit pula yang ditakdirkan langkah terputus sampai
SMA...
Dan lebih memilih menjadi Kepala Desa di kampungnya atau
menjadi rakyat biasa saja…

Namun,satu yang tak kan terlupa…
Para guru yang telah menorehkan mimpi dan cita-cita…
Terlepas apakah mimpi itu menjadi nyata atau tiada, yang pasti kini
kami pun sudah beranjak tua…
Satu kata untuk para guru, Jasamu yang tiada tara…

Sejauh-jauh melangkah, sehebat-hebat tapak karir direnda…
SMA Negeri 3 Padang tak kan pernah terlupa..
We love u Smantri…❤❤

Padang, 27 Agustus 2022
Imiarti – Alumni Smantri ’81.

by:[email protected] 5

81 Smantri 2022

Kenangan itu (tak kan) Berdebu

Sore merambat ke persinggahan
Menjemput malam menuju peraduan
Disini kita berhenti sejenak

Kala pagi merekah
Semburat mentari menebar senyuman
Kita buka selangkang, terus melangkah

Kehadiranku,
Kehadiranmu,
T’lah mengantar kebersamaan kita

Kemudian, ditelan waktu
Semuanya akan berlalu.

Bila kelak kenangan ini berdebu
Dan kau lupakanaku
Hanya satu harapanku.

Ingatlah kepadaNya
Tempat dimana kita akan kembali
Tanpa bisa menunggu, menuju keabadian.

Repost, Nasrul Yahya, Bandar Buat, Medio November 1998.

by:[email protected] 6

81 Smantri 2022

1. Adrian Ausri

Pengalaman pernah berenang di lunau sawah
depan sekolah, telah mengantarkan Adrian

Ausri atau biasa dipanggil si Ad di SMANTRI
(yang memang tak jauh-jauh pula dari sawah

dan jalan kereta). Menyemai dan menanam
kemudian memanen di sawah yang sama, telah

menginspirasi si Ad untuk mengamalkan dalam
kehidupan sesudahnya.
Dan itu terwujud, ketika ia memantapkan hati untuk mempersunting
gadis pilihannya dari sekolah yang sama.
Melanglang buana dari suatu tempat ke tempat lain, telah
dijalaninya dalam mengisi hari dan kehidupannya. Sukses di suatu

bagian kemudian beranjak ke bagian lain, pun dilakoninya.
Banyak berada di negeri orang tidak membuatnya lupa akan
tempat dimana dia dibesarkan. Kadang sesekali pulang kampung,

searching durian adalah kesukaannya. Ndak tau siang ndak tau

malam, ndak tau pagi ndak tau patang, kalaulah urusan cari
durian, dia bisa lupa waktu. Apa mau dikata, karena memang itu

hobbynya.
Cabut satu kelas IPA satu-4 (kalau ndak salah) untuk nonton

siang di Bioskop Raya, adalah salah satu kenakalan yang dilaluinya.

Habis nonton, memang langsung balik ke
sekolah……eeeee(kalera), ruponyo ado kawan nan ndak ikuik

sorang….berabe lah persoalan. Tas yang ditinggal tadi, dikumpul
dan digotong ke ruang Kepala Sekolah. Yaaa…lagi apes. Semua

kami kena strap sama Kepala Sekolah. Lanjutannya (dapat
dimaklumi), orang tua masing-masing harus buat “Surat

Pernyataan” bla bla bla….apa mau dikata, itu konsekwensi.
Setinggi-tinggi terbang bangau, surutnya ke kubangan juga.
Sejauh-jauh merantau, akhirnya kembali ke negeri juga.
Gowes - istilah kini, mangayuah kotangin – caro saisuak dan

berlari adalah hobbynya yang lain bersama keluarga. Pernah ditanya
oleh kawan-kawan tentang hobbynya ini, dengan enteng si Ad

menjawab, bahwa itu sekedar berjaga-jaga untuk tetap sehat. Entah
iya entah tidak, tidak tau pula lah kita..??? Yaaa…iya pula ya….????

by:[email protected] 7

81 Smantri 2022

2. Aidil.

“Aidil”, sepertinya “terlahir” kembali dalam
panggung perjalanan kehidupannya. Betapa
tidak, marasai dicuekin cewek-cewek anak-anak
orang kaya karena cuman naik sepeda dari
rumahnya di Parak Karakah ke sekolah di
Gunung Pangilun, tak membuatnya patah arang.
Aidil tetap tegar dengan kondisinya yang
memang sudah seperti itu, apa boleh buat,,,,,,,,,,
meski berair juga kerampang mengayuh kotangin yang penting
sekolah lanjut. Tapi masih mending, sekiranya hari hujan, tetap ada
tambahan lanjo untuk ongkos angkot walau 2x sambung.
Fisika adalah mata pelajaran yang disukai bersama Pak
Bustamar. Rupanya ini sepertinya sudah menjadi jalan hidupnya,
karena dengan bekal itu, akhirnya diatuntaskan pendidikan S1 nya di
Teknik Elektro Universitas Andalas.
Bekerja di salah satu BUMN bidang telekomunikasi dijalaninya
dengan seksama. Berbagai posisi jabatan didudukinya, sampai pada
level Manager. Ndak salah juga, kalau kawan-kawan Smantri
menyapanya dengan panggilan “Jer” (yang artinya menejer). Bagi
Aidil, sapaan itu dia enjoy aja. Berkah dari itu semua, untuk
suksesnya acara Reuni Akbar 41 tahun Smantri 81 ini, kantor tempat
Aidil pernah mengabdi, mensupport habis-habisan dengan
menggelontorkan berbagai macam hadiah untuk main KIM.
Untuk kelancaran pelaksanaan Reuni Akbar kali ini, Aidil
termasuk Panitia yang (paling) sibuk. Humas dan Dokumentasi
sebagai salah satu corong komunikasi antar Panitia dan Peserta,
dibebankan ke pundaknya bersama Hendra Gunawan dan Mulyadi.
Tiap sebentar dapat telpon, tiap sebentar dapat chat, maka sibuklah
menari-nari jari jemarinya di keypad gadgetnya. Pas lagi fresh, yaaa
lancar-lancar saja. Tapi kalau lagi sedang tidak mood, kaniangnya
karuik juga. Pernah suatu ketika dia coba kontak JoNas untuk
berbagi cerita tentang berisiknya suasana, dan nampaknya dapat
respon memadai untuk menenangkan suasana hatinya yang galau.
Yaa itulah resiko, itulah konsekwensi dari sebuah amanah, dan yang
penting tetap semangat untuk sukses …..Bravo…..Jerrrrrr!!!

by:[email protected] 8

81 Smantri 2022

3. Aldi.

Betul-betul berat perjuangan kawan kita ini
untuk menyelesaikan sekolahnya. Berasal dari
keluarga sederhana, anak Pak Mansur yang lahir
16 Mei 1961 ini, akhirnya kelar juga di
SMANTRI. Karena memang niat sudah
dipasang, tekad sudah dibulatkan, ikhtiar terus
dimaksimalkan. Nan paralu sikola tamaik.
Meski 17 Km pulang baliak tiok hari dari rumah
nya di Kuranji, tapi dengan perawakannya yang tinggi kurus kala itu,
tidak susah bagi Aldi untuk menyelesaikan rutenya, walau kadang
harus jalan kaki. Syukur juga kadang naik angkot atau boncengan jo
kotangin kawan. Bahkan pernah suatu ketika, ada acara di sekolah
yang menyebabkan pulang jadi telat. Kawan-kawan lah talonsong
bubar, jalan kaki sampai simpang Alai. Tunggu-tunggu angkot ke

Ampang ternyata tak kunjung datang, maklum sudah sore. Diangsur-
angsur juga lah perjalanan ini, Eeeeeee sampai Kampung Kalawi
hujan turun pula, angkot betul-betul sudah tidak ada, maka
berbasah-basahlah sampai di rumah, Alhamdulillah.

Murah senyum dan sedikit pemalu, adalah bawaannya.
Ketika lapangan basket sudah jadi dan dapat dimanfaatkan, maka
olah raga ini termasuk yang menjadi favoritnya. Tentu tidak salah
pula pilihannya, karena memang sesuai dengan tongkrongannya.

Perjuangan berat itu akhirnya berbuah manis. Menyelesaikan
Sarjana nya di Peternakan, kemudian bekerja sebagai abdi negara di
Riau. Bahkan tidak cukup sampai disitu, S2 Magister Manajemen
pun dituntaskannya, dan ketika cukup umur, akhirnya pensiun di

Tembilahan.
Sekarang Aldi menikmati masa-masa purna tugasnya bersama

Livia, isteri tercinta. Dan akibat perseteruannya dengan orang
rumah telah dikaruniai 3 (tiga) orang buah hati yang disayanginya.

Ndak paralu rusuah, kok jauah–jauah manah. Nan paralu
sikola tamaik.

by:[email protected] 9

81 Smantri 2022

4. Alida Hanum.

Pergi sekolah jalan kaki dari Padang Baru,
kadang naik oplet Persopak. Jalan kaki dari
Padang Baru ke Gunung Pangilun, pun
sebaliknya, lumayan juga. Dipikir-pikir, mana
ada orang sekarang yang lantas angannya
seperti itu. Tapi karena semangat untuk belajar
yang begitu tinggi, panek-panek saketek
…….jalan teruuusssss. Sesekali mampir di Pasar
Alai bareng wan kawan minum cendol. Cendolnya enak eeee………,
tapi sekarang si Lid tidak menemukan lagi cendol dengan rasa
seperti itu. Antah lidah nan marasokan ko nan lah kurang raso atau
(mungkin) resep yang kini tu nan lah batuka. Ndak jaleh bana lo dek
awak,…….guman si Lid.
Lahir di Padang pada 8 Juli 1962, kemudian menyelesaikan
Pendidikan terakhir S1 nya di Pertanian Taman Siswa.
Bekerja sebagai Abdi Negara di Dinas Pertanian Kota Padang,
dan kini suda hpensiun. Bersama keluarga tercinta, dengan suami
Guswardi, S.Pt., M.Si dan anak Rahmat Hidayat, si Lid
menikmati masa pensiunnya.
Hadir di acara Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81, bagi Alida

Hanum tampaknya banyak yang lupa juga dengan kawan-kawannya.
Yaaa…..wajar saja katanya, karena sudah hampir separuh abad tidak
bersua, sekarang berjumpa dengan tampilan yang sudah amat sangat
berbeda. Biasa lah, sudah mulai tua-tua……, tapi meskipun
demikian, keseruan pertemuan ini telah membangkitkan kembali
kenangannya pada masa-masa SMA dahulu. Keceriaan dan sumringah
kawan-kawan, telah memberikan kesan tersendiri pada perjalanan
kehidupannya. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan oleh Allah
SWT untuk bisa bertemu dan bergembira dimasa-masa berikutnya,
begitu Alida Hanum berharap…………… Semoga!!!!!!!!!!!

by:[email protected] 10

81 Smantri 2022

5. Alfinar Aziz.

Alfinar Aziz, atau biasa dipanggil Vinas, memang

lahir di Tanjung Pinang pada 14 Maret 1962, namun

semenjak usia sekolah dia sudah menjadi orang

Padang. Sekolah Dasar dia khatamkan di SD Islam

PGAI, sedangkan SMP dia tuntaskan di SMP Negeri 1

Padang, dimana masing-masing tak jauh dari
rumahnya di Komplek PGAI, Jati - Padang. Saat itu
Vinas memang enjoy aja. Sebab semasa SD, cukup

nyeberang jalan depan rumah,,,,,sampai deh di sekolah.

Hebatnya pula, kalau pas lagi ndak ada duit untuk jajan atau makan, bisa
pulang ke rumah untuk makan.

Begitu juga saat di SMP, hanya perlu waktu jalan 5 menit dari
rumah,,,,melewati 2 jalan kecil,,,,diantara dua belokan…????? (kiri dan

kanan) sampailah di sekolah. Atau kalau mau lebih cepat lagi, bisa lewat

jalan pintas belakang kantor tentara…Yaaa begitulah ???

Tapi untuk ke SMA, disinilah dibutuhkan usaha dan kesabaran yang

tinggi untuk sampai di sekolah. Vinas harus sabar menunggu Datsun

(oplet tumpangan) di depan IAIN Jl. Sudirman. Pernah suatu ketika, karena
hembusan angin sepoi-sepoi dalam Datsun tumpangan, jadi ngantuk, hingga

pusing sampai di sekolah,,,,,masuk angin….kale??????. Nampaknya

“penderitaannya” belum cukup sampai disitu. Terkadang oplet nunggunya

lamaaa….pas ada yang lewat.…eeee…penuh….Aduuuuh. Namun syukur

saja, setelah mendengar canda ria dari teman-teman, rasa itu segera saja
hilang.

Beda lagi kalau saat pulang sekolah, ada kegembiraan tersendiri.
Ramainya kawan-kawan, membuat oplet segera penuh. Nunggu ….pasti
nggak kebagian. Jadilah kami jalan ke Simpang Alai… Perjalanan yang
cukup jauh….dibawah terik matahari….penuh canda ria. Apalagi kalau
sudah berjalan “berdua dengan si dia”, sampai ke Alai. Seolah-olah
jalanan bagaikan kita yang punya (yang lain harus nyewa)… tanpa
memberi ruang untuk kendaraan lain.

Buah manis dari semua itu, akhirnya dia nikmati. Dengan bekal
sebagai Psikolog, Vinas bekerja sebagai PNS di Jakarta, dan terakhir S2

Psikologi UI pun dia rampungkan untuk memantapkan pencapaian

kinerjanya.

Meski sudah ditinggal suami, karena telah dipanggil oleh Yang Maha
Kuasa, Vinas sepertinya sabar dan ikhlas saja menikmati masa-masa
pensiunnya bersama tiga orang anaknya yaitu Luqmanul Hakim,

Muhammad Fajri dan Furqon Asshiddiqqy.……Bravo Vinas!!!!!!!

by:[email protected] 11

81 Smantri 2022

6. Amriyanti.

Bersyukur saja, ketika bersekolah di SMA 3
Padang (meski jauh dari orang tua di Muaro
Labuah), Yanti bisa tinggal bersama saudara di
Komplek Perguruan Taman Siswa. Tentu hal ini
menjadi suatu keberuntungan pula. Dari bulan
kebulan tidak perlu lagi memikirkan tambahan
uang untuk sewa rumah, bahkan untuk makan
pun tidak repot-repot amat.
Meski demikian, keseruan jalan kaki pergi sekolah dari Tepi
Bandar Bakali, lumayan melelahkan juga.
Suka bergaul dan banyak teman adalah kebiasaan Yanti
sejak dulu. Rupanya hal itu pula yang bawa berkah. Kalau kebetulan
sudah kelihatan Yanti maonjak jalan kaki oleh Neneng Mawardi
(Almarhumah), mau berangkat sekolah, segera saja mobilnya menepi
untuk beri kesempatan pada Yanti bisa bareng sampai di sekolah.
Rupanya kelelahan jalan kaki itu tidak bisa dibiarkan bertahan
lama, karena akhirnya mencari tempat dan berpindah kost yang ada
di dekat sekolah.
Tinggal di tempat kost, dirasakan sedikit melegakan…...Bisa
agak leluasa pergi kesana kemari. Dan itu dimanfaatkan Yanti untuk
bisa belajar kelompok dengan teman satu Genk, yang kadang di
rumah Lily, atau suatu ketika bisa di rumah Yanuar juga. Lebih seru
nya habis belajar kelompok, pulang-pulang di kasih Jeruk Bali
(sesuatu yang kala itu) yang jarang-jarang ketemu. Akan tetapi
sebagai konsekwensi dari anak pindahan, banyak juga ketinggalan
pelajaran. Namun karena semangat dan dukungan dari kawan-

kawan, belajar di SMA 3 ini akhirnya dituntaskan juga pada
waktunya.

Yanti yang lahir pada 28 April 1963 ini, merasa cukup dengan
sekolahnya itu, akhirnya berkeluarga dengan H.Donny, suaminya,
dan menjadi Ibu Rumah Tangga. Sekarang bersama keluarga merasa
bahagia dengan 5 (lima) orang anaknya; Ikhwan Ciptadi, Heningdiah
Palupi, Regi Setiawan, Tatiana Belinda Putri dan Alina Shafira.

by:[email protected] 12

81 Smantri 2022

7. Ardi Ruslan.

Meski pergi sekolah hanya dengan mendayung
kotangin (sepeda) bareng-bareng sama Duen,
Sofreno, Dahlion, Aidil, dan lain-lain, pria yang
lahir di Batusangkar pada tanggal 11 Juli 1962
ini, tak menyurutkan semangatnya untuk
belajar. Selesai dari SMA 3, dia hajar Fakultas
Ekonomi Unand, dan dapat dia tuntaskan pula
tepat pada saatnya. Bahkan sebelumnya, ketika
Ada seleksi untuk ikut AFS (pertukaran pemuda antar bangsa), Ardi
termasuk yang lulus seleksi tertulis.
Tidak itu saja, karena saking antusiasnya praktikum Biologi
satu kelompok dengan Dahlion, Elly Asrina Lubis dan Yasmi bersama
pak Zubaidir Ayub, sempat memecahkan alat Lab. Meski agak
pendiam, namun dalam pergaulan, Ardi tetaplah supel. Dalam
rangka kumpul dengan kawan-kawan, Ardi pun ikut pula camping
satu malam di Pantai Air Manis bersama Prim, Rustam, Dahlion,
Indra Merdi, Jasman dan lain-lain.
Karena semangatnya serta disiplin dan bekerja keras sudah
menjadi bagian dari kesehariannya sejak dahulu. Itu pula yang
membawanya sukses bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP), suatu lembaga yang rada-rada “ditakuti” oleh
mitra binaannya. Dan akhirnya dia pensiun di BPKP Perwakilan
Provinsi Jawa Barat.
Buah dari semangat dan kerja keras itu, (dalam perjalanan
kehidupannya) Ardi mendapatkan “Intan” Suryani sebagai

pelabuhan hatinya. Dari polesan Ardi pada “Intan” (yang
kemilau) ini, telah diberkahi pula 3 (tiga) orang “cahaya matanya”
yaitu Fahmi Ardiansyah, Fadhillah Dwi Ardita dan Fahreza
Ardiansyah.

Hadir di acara Reuni Akbar 41 Tahun Smatri Padang ini, bagi
Ardi sepertinya telah dapat mengobati kerinduannya untuk bertemu
dan bercengkerama dengan teman-teman yang sudah sangat lama
tidak dia jumpai. Syukurlah, masih diberikan kesempatan oleh
Allah SWT untuk bersilaturrahim dengan sesama kawan lama,
yang entah kapan akan terulang…… begitu gumamnya….!!!

by:[email protected] 13

81 Smantri 2022

8. Armidar.

by:[email protected] 14

81 Smantri 2022

9. Armis.

Karena oplet dari Lapai yang masih sedikit,
akhirnya pindah dekat sekolah dan satu kost
dengan Amriyanti (Yanti) dan Rosalita Gustia
(Roza). Sesuai dengan namanya Gunung
Pangilun, dimaklumi kalau air bersih jadi
persoalan. Kemudian dicoba juga pindah masih
di Gunung Pangilun dan satu kost dengan
Niswarni, Yasdi Nurdin dan Emizar.
Belajar bersama adalah kebiasaan dan kesenangan sekaligus
bisa ngumpul dengan teman-teman. Ratifa Iriani sering nginap di
kosan agar bisa belajar bersama, sedangkan Delfahmita (yang kost di
Alai), sore-sore selalu gabung. Kebiasaan ini berlanjut sampai mau
ujian akhir. Namun menjelang ujian akhir saya jatuh sakit karena
kelelahan, dan terpaksa ikut Ujian Susulan. Alhamdulillah bisa lulus
dengan nilai yang memuaskan.
Begitulah kami berkawan. Pada liburan semester, suatu ketika
di kampung Delfahnita di Muaro Labuah, atau bersamanya juga di
kampung saya di Batusangkar. Begitu juga dengan Niswarni yang
orang Pariaman.
Suka dan “cangok” durian, memang sudah hobby sejak dulu.
Untuk itu dengan “semangat 45” biarlah berletih-letih jalan kaki ke
Lubuk Alung (kampung Sulastri) bersama Las, Del, Yanti dan
Aryunis, asal bisa makan durian sepuasnya.
Kemping di Puncak Lawang – kuali pun terbang melayang –
diterpa angin yang sangat kencang – mengejarnya pun lari tunggang
langgang – ada pula kawan yang terkongkang – sempat pula cabiak

sarawa dibalakang – adalah kenangan yang tak kan hilang.
Sekarang masih aktif ngajar Matematika di FKIP UNRI

berbekal S2 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang.
Menunggu masa-masa pensiun, senantiasa berbahagia bersama

keluarga, Martunus sang suami dan dikaruniai pula 5 (lima) orang
buah hati; Finola Marta Putri, Finoli Marta Putri, Fonisa Marta
Putri, Farestu Marta Kurniawan dan Fikriansyah Martunus.

Hadir di acara Reuni kali ini betul-betul dapat melepas rasa
kangen dengan kawan-kawan yang sudah (sangat) lama tak bersua…

by:[email protected] 15

81 Smantri 2022

10. Astalini.

Astalini atau biasa juga memanggil dirinya
“Ambo” ini lahir di Padang pada tanggal 26
Januari 1963. Perjalanan sekolahnya lancar-
lancar saja. Sampai pendidikan S1 diselesaikan
di Padang dan terakhir S2 Fisika dia tuntaskan di
ITB Bandung. Sekarang masih bekerja sebagai
dosen Pendidikan Fisika FKIP UNJA Jambi.
Dari hasil pernikahannya dengan
Syamsirwan Ali, telah dikaruniai dua orang putra yaitu; Taufik
Hidayat dan Kemal Fauzan.
Sejak bersekolah SMP di Lolong Padang, Ambo sangat
menyenangi mata pelajaran Fisika. Entah karena dan sebab apa,
yang jelas mata pelajaran ini begitu digandrungi. Akan tetapi ketika
sudah belajar di SMA, untuk yang satu ini (sepertinya) ada sedikit
rasa kecewa. Persoalannya hanya gara-gara guru yang mengajar
mata pelajaran Fisika ini kurang menarik……………ndak punya
tangan kale…..?????? Keadaan ini malah berlangsung cukup
lama, bahkan sampai 2 (dua) tahun. Tapi syukurlah, ketika sudah
naik ke Kelas III, Alhamdulillah, terjadi perubahan yang
signifikan, sehingga dapat mengembalikan minatnya pada mata
pelajaran Fisika ini. Hal itu terjadi karena Pak Bustamar sebagai
seorang guru Fisika, mengajar dengan sangat baik…. yaa
jadilah seperti saat ini.
Koq dituka lah “taragak” ko jo “rindu”, sabana lah
“menggunung” rindunyo untuak basobok jo kawan-kawan nan
lah sangaik lamo indak batamu……begitu mungkin perasan si
“Ambo” ko, sehingga ditengah kesibukannya, dia kejar juga untuk
pulang dan hadir diacara Reuni Akbar 41 tahun Smantri ini.

Terobati juga penatnya saat hadir dan bertemu dengan konco-
konco lama, dan dengan penuh kegembiraan, dia ikuti acara demi
acara. Tapi pada saat acara ice breaking, sempat pula Ambo ini
dibikin “malu-malu kuda” ketika “dikerjain” oleh Iim Imiarti sang
pemandu acara. Ini terjadi ketika Iim mendaulat Hendra Gunawan
untuk menceritakan kisah kasih nya di SMA 3 dulu. Waahh… itu
mah cerita lama, bisik Ambo pada Adek yang duduk di
sebelahnya….

by:[email protected] 16

81 Smantri 2022

11. Atmam.

Lahir di Kota Bumi pada 19 April 1960, dan
dalam perjalanan kehidupan berikutnya, sempat
melanglang-buana ke “bekas batang aie”
atau “Kali-mantan”. Ini terjadi karena setelah
menyelesaikan pendidikan S1 nya di Fakultas
Peternakan Unand, Atmam bekerja sebagai PNS
dan di tempatkan di Banjarmasin Kalimantan
Selatan. Pengabdian sebagai PNS ini dia selesai-
kan setelah pindah ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Sumatera Barat sampai pensiun.
Kalau di Jawa, manggatok “lado kutu” atau cabe rawit
matah-matah, mungkin sesuatu yang sudah biasa. Tapi di nagari
awak, ini suatu hal yang jarang dicoba. Alang kapalang, bisa-bisa
barasok bibie dek nyo. Nah…ini pula yang dilakukan oleh Atmam,
kawan kita ini, ketika diadakan lomba makan lado kutu bersama
Cahyo Hartono. Habis makan lado kutu, Atmam terpaksa
berlarian ke luar ruangan dengan mulut menganga untuk
mendapatkan angin. Sementara sang lawan (Cahyo Hartono), masih
enteng-enteng saja.
Pernah kami, (kalau nggak salah) 8 orang pergi long march dari
Padang – Padang Panjang – Solok – (dan kembali ke) – Padang,
dengan anggota yaitu saya sendiri, Cahyo Hartono, Faisal Hakim,
Joni More Simatupang, Novialdi, Dedy Purnama, dan yang lain
(sudah tidak ingat). Tetapi sesampainya di Padang, yang tinggal
cuman 5 orang. Ndak ingat pula yang 3 orang lagi, entah finish di
Padang atau bagaimana, bagi Atmam sudah tak jadi soal-soal pula.

Pai sakola jalan kaki dari Pasa Pagi ka Padang Baru dan baru
naiak oplet warna biru. Dan kadang-kadang dijemput sama
Darulsam, dan kadang-kadang pulangnya pun sama dia lagi. Kalau
tidak ada boncengan, jalan kaki samo Del Aswi, karano Del Aswi
walau ada motor, tapi labiah acok jalan kaki. Pulangnya kadang acok
mampagarahkan si Nene/Rini Dian Anggraini.

Menikah dengan Evie,dan dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu;
Ridho Atvi Aulia, Audina Atvi Amalia, dan Rizky Atvi Purnama.
Sekarang tinggal menikmati saja masa pensiun…..katanya.

by:[email protected] 17

81 Smantri 2022

12. Cahyo Hartono.

Pindah-pindah tempat bersekolah bagi Cahyo
Hartono yang lahir di Malang, Jawa Timur pada
tanggal 1 Maret 1961 ini, merupakan suatu
pengalaman dan keasyikan tersendiri. Ini semua
terjadi akibat pindah-pindah tugasnya ortu
tercinta. Sekolahnya berawal di Sidoarjo (Jawa
Timur), baru kamulai dapek raso, sudah pindah
pula ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan).
Belum selesai sampai disitu, akhirnya pindah pula ke Padang
(SumateraBarat). Di Padang (Smantri) ini lah dia selesaikan
pendidikan menengah atasnya. Dan di Padang (Smantri) itu pula
Cahyo mendapatkan banyak hal, termasuk pendamping setianya
sampai saat ini.
Selesai kuliah, Cahyo bekerja dilingkungan Kementerian
Perdagangan RI sampai pensiun. Guna menambah bekal dan
keterampilannya dalam bekerja, Cahyo tuntaskan juga S2 nya di
Jakarta. Untuk urusan tempat bekerja ini, bak kata pepatah; “buah
jatuh tak kan jauh dari pohonnya”. Yaa begitulah adanya....!!!.
Banyak hal sebenarnya yang bisa kita ambil hikmah dan
pengalaman dari berpindah-pindah tiap sebentar itu, begitu Cahyo
mengenang. Yang jelas wawasan kita jadi bertambah, disamping itu
tentunya kita bisa sangat mengerti adat istiadat suku lain dan dapat
menghargai sesama teman. Cahyo akan sangat respect jika
teman-temannya juga demikian. Sebaliknya, kalau sudah ada dusta
diantara kita, biarlah, dia mengambil sikap diam atau menghindar
saja, karena memang dia tak suka ”keributan”.
“Dima bumi dipijak, disitu langik dijujuang – dima sumue
digali, disitu rantiang dipatah”. Pepatah ini (sepertinya) begitu
melekat dalam pikiran bahkan dalam keseharian Cahyo. Kepiawaian
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana Cahyo berada,
telah melahirkan simpati dari orang-orang yang mengenalnya.
Simpati itu pula yang telah meluluhkan hati Amak dan Abak orang
rumahnya. Jadilah…seperti sekarang dengan menggandeng
Sri Indraswari teman hidupnya, yang telah dikarunia pula 3
(tiga) orang buah hati yaitu; Dimas Ovan Pratama, Damara
Kartikasari dan Arya Try Chandra, guna melengkapi kebahagian
keluarganya.!!!!!!

by:[email protected] 18

81 Smantri 2022

13. Dahlion Dahlan.

Punya rambut panjang atau gondrong adalah
gaya anak muda masa itu, tapi bukan untuk anak
sekolahan. Makanya ketika gaya itu dibawa
ke sekolah, sudah pasti dapat sanksi. Pas ada
razia rambut panjang atau gondrong dari pihak
sekolah, kalang kabut lah kawan- kawan yang
ikut trend itu. Ada Erman, K. ada
Desmansyah, dan juga Dahlion Dahlan ini.
Bertiga mereka pulang ketempat kost Dahlion, yang dekat dari
sekolah, untuk bergantian potong rambut. Sampai pada giliran
Desmansyah, (karena saking semangat dan buru-buru), tau-tau
kupingnya yang kena gunting. Sontak saja kawan kita ini tapakiak.
Darah mancorek, tapaso inai pucuak parancih kaganti ubek.
Suka berkawan dan membantu kawan serta terbiasa hidup
mandiri, itulah salah satu karakter kawan kita Dahlion Dahlan (ex
Mahasiswa Bung Hatta) ini yang tak berubah sampai sekarang.
Meski sudah ditinggal pergi oleh Rosna (sang isteri) karena telah
dipanggil menghadap Sang Khalik, Dahlion (yang lahir di Sungai
Penuh pada tanggal 5Oktober 1961) ini, cukup tabah dan sabar
menjalani hari-harinya sebagai seorang petani, bersama 4 (empat)
orang anaknya yaitu; Andre Perdana Putra, Putri Dwi Andini, Pipin
Adista, dan Kiki Rama Dani.
Yang mungkin tak kan terlupakan sampai saat ini yaitu ketika
ada acara studi tour ke Medan. Saat pertandingan volley ball dengan
SMA 4 (salah satu tim terkuat) di Medan, kami pun (diantaranya
adalah Prim Haryadi, Anri Yasin dan saya) bermain dengan sangat
cemerlang. Ketika umpan cogok di smes oleh SMA 4 (yang
umumnya dengan postur yang tinggi-tinggi), dan bola mengarah ke
saya. Reflek saja, tangan terangkat ke kepala, bola berkelebat, yang
menunggu sebenarnya jidad, dan bola pun sampai keseberang
dengan selamat. Wasit tidak tau dan pemain tidak tau, bahkan
penonton pun tidak tau, bahwa waktu di smes tadi yang kena adalah

kepala saya. Pene-pene juga kepala ini, meski demikian, telah
dapat menyelamatkan “muka” Tim SMA 3 dihadapan tuan rumah.
Jadi…….terasa sayang untuk tidak dikenang…….!!!!!!!!!!

by:[email protected] 19

81 Smantri 2022

14. Dasri Rusli.

by:[email protected] 20

81 Smantri 2022

15. Delfahmita.

Perjalanan Muaro Labuah ke Padang (saat itu)
bukanlah perjalanan yang enteng dan nyaman-
nyaman saja. Dapat dimaklumi, beratnya medan
karena jalan yang berliku serta turun naik
perbukitan (bahkan kadang terlalu terjal) serta
kondisi jalan yang tidak (begitu) mulus, adalah
suatu keseruan yang dirasakan Delfahmita atau
iDel untuk dapat menyelesaikan pendidikannya
di SMA 3 Padang. Bahkan tidak sekedar itu, perjalanan panjang
Muaro Labuah Padang dia lanjutkan untuk menyelesaikan
pendidikannya di S1 IKIP Padang di Air Tawar. Syukur saja penat-
penat diperjalanan dirasakan sudah berkurang seiring dengan
membaiknya kondisi jalan.
Berkemah atau camping bersama kawan-kawan satu kelas,
adalah sesuatu yang akan terus dikenang. Lai banamo camping,
nan iDel taruih ikuik. Sebut saja camping di Puncak Lawang
(Embun Pagi), Puncak Pato, Alahan Panjang, Danau Kembar, semua
dijejal oleh iDel. Traveling dan bersahabat dengan alam,
sepertinya sudah menjadi hobby nya dari dulu. Makanya ketika ada
kegiatan jalan-jalan ke Medan maupun ke Batusangkar, iDel tak
mau pula ketinggalan. Begitulah iDel……….
Karena hobby nya itu pulalah yang (barangkali) telah
mengantarkan iDel ke tempat tugas pengabdiannya sebagai tenaga
pengajar di Palembang Sumatera Selatan. Tugas itu diselesaikannya
sampai pensiun di negeri pempek ini.
Kebahagiaan berkeluarga yang sudah dijalani, (sepertinya)

harus pupus dan terhempas mendekati masa pensiun, ketika sang
suami Inrevolzon pergi untuk selamanya dipanggil menghadap
Sang Khalik Yang Maha Kuasa. Namun kehidupan ini tentu harus
terus kami jalani, sekarang bersama 3 (tiga) orang buah hati; Fauzan
Alfadli, Fauziah Alfadhilah, dan Furqan Alfadli. Meskipun stay di
Palembang, namun masih sering juga ke kampung untuk merawat
orangtua tercinta. Dan yang terakhir ini merupakan kebahagiaan
tersendiri pula yang dirasakan, karena masih dapat merawat dan
berbakti pada orang tua tercinta. Barakallahu fiikum…..

by:[email protected] 21

81 Smantri 2022

16. Dermi Rozana.

Kaget juga iNong (yang lahir di Padang pada
tanggal 21 November 1962) ini ketika diawal
masuk SMA, karena diterima di sekolah yang
lumayan jauh dari rumah. Rumah yang ada di
Jalan Ujung Gurun tentunya lebih dekat ke SMA
2, akan tetapi rayon nya harus ke SMA 3. Dan
tambah kaget lagi pas lihat SMA nyo yang masih
baru dengan halaman yang masih bebatuan.
Namun Alhamdulillah, lamo-lamo bisa menyesuaikan diri, bahkan
syukur Alhamdulillah pula, ketika terima Rapor pertama di Kelas I3,
dapek ranking satu. Ndak ado lai, yobana sabana sanang ati ko
naiak pentas tarimo piagam. Kegembiraan dan keceriaan (masa
SMA) itu kian bertambah dengan banyaknya kawan-kawan yang
semua baik-baik dan akrabb.
Tamat SMA, umumnya yang masuak dalam pangana saat itu
adalah lanjut ke Perintis I (kuliah di Jawa). Maka kami carter lah
(bangku) pesawat bertiga bersama Rustam dan Almi Oktarina untuk
mendapatkan“bangku” pula di Perguruan Tinggi di Jawa. Dan atas
izin Allah, berkat bimbingan para guru dan restu orang tua, ambo
bisa lulus Perintis Satu (ITB) dan Perintis Tiga (FK Unand)
sekaligus, maa syaa Allah – Tabarakallah.....
Setelah musyawarah dengan orang tua, diputuskan untuk kuliah di
Fakultas Kedokteran Unand saja. Selesai di Unand, sebagai dokter tahun
1988, iNong langsung tugas di Puskesmas Padang Lua Bukittinggi. Tahun
‟90 s.d ‟94 dipercaya sebagai Kepala Puskesmas Biaro Ampek Angkek
Canduang. Dan tahun 1995 pindah ke Jakarta di Balkes Kemenkes RI, Dua
tahun disana, akhirnya pindah ke Kemenkeu RI, sambil nunggu pensiun…..

Kemudian dengan bersuamikan Suyadi, kami dikaruniai 4
(empat) orang anak yaitu; Nurul Fadhilah, Rahmat Dwi Septian,
Fathiya Khairunnisa, dan Ivan Mahmudi.

Terima kasih kepada teman-teman Smantri 81 atas
kebersamaannya selama 3 setengah tahun yang sangat berkesan dan
khususnya guru-guru yang telah membimbing dengan ikhlas. Pak
Nov dan guru-guru yang lain yang luar biasa mengantarkan kami ke
Universitas. Alhamdulillah, terima kasih dan salam hormat untuk
pak dan buk guru tercinta. Maa syaa Allah.........!!!!!!!!.

by:[email protected] 22

81 Smantri 2022

17. Desmansyah.

Ketika dicoba telusuri tempat kelahirannya yang
tertulis di Lirik –Riau, ternyata berada di

ruas Jalintim Sumatera. Persisnya di Kabupaten
Indragiri Hulu. Awalnya (rada-rada) khawatir
juga kalau-kalau tidak ditemukan dalam peta.
Disanalah pensiunan tentara ini dilahirkan, pada
8 Desember 1961. Menikmati masa pensiun,
Desmansyah atau yang lebih populer dipanggil
Momon sudah nyaman bersama Yeliana, sang isteri tercinta. Dan
dari padanya telah pula dikaruniai 2 (dua) orang anak yaitu
Mershelly Syanel dan Kevin Marshall.
Menjadi tentara (dengan berbagai macam tugas), sepertinya
sudah ada rekam jejak nya sejak di sekolah. Betapa tidak, Momon
dengan amat sangat cermat menyaksikan dan memperhatikan
(secara diam-diam) dengan detail, bagaimana gaya dan cara kawan-
kawannya melihat kertas contekan ketika ujian berlangsung, sambil
memperhatikan guru yang mengawas. Baginya itu suatu kebahagiaan
dan kenangan tersendiri, yang membekas dalam memahami tugas-
tugas yang diemban.
Namun (kadang-kadang) “nakal” dan “usil” nya muncul juga
tatkala sudah berebutan dengan kawan-kawan untuk menikmati
sarapan pagi lontong gulai buncis “ONE” di depan pintu masuk
sekolah.
Tetapi kalau dengan kawan-kawan yang perempuan, Momon
ini begitu care, meskipun katepong nya sudah terasa nyeri, karena
tajatuah tagarubuk sampai takongkang, diusili oleh si Las dkk.
ketika belajar bersama. Momon mau duduk, kursinya langsung
diambiak si Las, yaaaaa bisa dibayangkan, seperti itulah
kejadiannya.

by:[email protected] 23

81 Smantri 2022

18. Duen Marshall.

by:[email protected] 24

81 Smantri 2022

19. Edinof.

by:[email protected] 25

81 Smantri 2022

20. Eddy Martadinata.

Sebagai salah satu dari Genk KUCHAI, Eddy
Martadinata alias Edy Bajau betul-betul
memegang prinsip dan taat pada kesepakatan
(tidak pacaran dengan teman sekelas).

Sesuai dengan perawakannya yang tinggi
semampai – kalah mambali manang mamakai,

main basket adalah olah raga favoritnya. Meski
lapangan basket yang ada saat itu masih baru
dan amat sederhana, tapi lecutan semangat dan bimbingan yang
diberikan oleh pak K. Saruli alias Pak Liang menjadikan olah raga ini
jadi digemari.
Selesai ujian semester, menjelang penerimaan Rapor,
biasanya diisi dengan berbagai pertandingan olah raga antar kelas.
Pertandingan itu biasa dikelompokkan berdasarkan jurusan (IPA,
IPS dan Bahasa). Tentunya “dengan ego jurusan masing-masing”.
Ini pulalah yang kadang-kadang bikin runyam. Pernah suatu ketika
saat pertandingan basket, terjadi perkelahian antara IPA dan IPS.
Entah siapa yang memulai, entah siapa yang memancing, yang jelas
lah bapupuah kawan-kawan ko bacakak banyak. Namun itu semua
dapat berakhir damai, setelah turun tangan pihak Guru.
Ada satu hal, yang (barangkali) tak bisa dia lupakan. Entah
karena ingin tampil beda atau karena lagi tidak mood atau memang
tidak suka, pada saat pelajaran menggambar, Eddy hanya
menyerahkan kertas kosong alias putih polos. Melihat keadaan ini,
mengamuk lah Pak Syafarni sang Guru Gambar. Ketika ditanya oleh
Guru, si Eddy hanya lengah-lengah cangok se. Entah berapa nilai
yang didapat, si Eddy Bajau tidak pula ingat……, tapi yang jelas dia
bisa tamat….dengan selamat……???????

Lahir pada 5 Maret 1962 di Padang, kemudian setelah tamat
SMA, Edy Bajau melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya di
Fakultas Kedokteran Unand. Dengan prediket Dokter, dia bekerja di
BPJS dan telah melanglangbuana ke berbagai tempat, berbagai
daerah dengan jabatan mentereng sampai memasuki masa pensiun.

by:[email protected] 26

81 Smantri 2022

21. Effendi Mukhtar.

Kalaulah tidak karena sayang bapak dan ibu
guru ini kepada murid-muridnya, entah
bagaimana lah perjalanan selanjutnya itu dapat
dilewati dengan lempang. Bagaimana tidak???
Meskipun aturan harus ditegakkan, hukuman
untuk yang melakukan kesalahan harus
dijalankan, tetapi “rasa sayang” nya itu jauh
melebihi dari segalanya.
Kejadian ini berlangsung tatkala sedang ujian mata pelajaran Biologi
dengan Pak Zubaidir Ayub. Waktu pelaksanaan ujian sudah habis,
aktivitas harus dihentikan. Kertas jawaban dan alat tulis harus
diletakkan di meja. Tapi Pendi kawan kita ini masih memegang alat
tulisnya. Naik darah lah pak Zubaidir Ayub ini, sehingga kertas
jawaban Pendi ini diambil dan diremas, tapi tidak dibuang. Yang
jelas dia selamat, karena kertas jawabannya masih ada. Tidak tau lah
kita, berapa jadinya nilai ujian Biologi Pendi ini..??? Mungkin
“kremoh-kremoh” pula....???
Setamat SMA, Pendi yang lahir di Batusangkar pada 23 Mai
1962 ini melanjutkan ke Fakultas Hukum. Dan dengan gelar Sarjana
Hukum nya, kemudian Pendi bekerja sebagai Hakim. Terakhir S2
Fakultas Hukum UII di Yogyakarta dia selesaikan pula. Dan sampai
saat ini masih bekerja sebagai Hakim Tinggi.
Rupanya tidak sekedar sayang bapak dan ibu guru saja yang dia
dapatkan di SMA 3 ini. Sayang dari kawan-kawan pun dia peroleh,
bahkan lebih jauh dari itu. Gustinawati (misalnya) malah “amat

sangat berkelebihan sayangnya”, hingga terus didampingi sampai
saat ini. Tentunya sudah sebagai isteri. Dan dari padanya telah
dikaruniai pula 3 (tiga) orang anak, yaitu Muhammad Riezky
Pradana Mukhtar, Muhammad Ziekry Zulfikar Mukhtar, dan
Muhammad Fiekry Ramadhan Mukhtar.

Pada acara Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81 ini, Pendi tidak
hanya hadir, tapi berkontribusi lebih banyak, baik moril maupun
materil. Yang tak kan dilupakan itu adalah Kuliah Shubuh nya,
tentang bagaimana hidup ini dijalani dan diisi, agar bisa selamat
sampai ke akhirat. Syukran pak “datuk”-“ustadz”-“Kim”Pendi !!

by:[email protected] 27

81 Smantri 2022

22. Eldifarni.

Ketika tak tembus Perintis Satu, Eldifarni atau
yang lebih populer dengan “Een Peles” , dara
cantik– kamek– manih ini akhirnya masuk
Perintis Tiga untuk melanjutkan dan
menyelesaikan pendidikannya di Fakultas
Kedokteran Unand. Dengan menyandang
prediket Dokter, Een kemudian bekerja sebagai
Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Bandar Lampung
(atau Tanjung Karang waktu saisuak), dan sekarang sudah pensiun.
Lahir di Padang pada 11 Januari 1962. Setamat SMP
melanjutkan ke Smantri, (karena memang sesuai dengan Rayon
yang ada–berdasarkan tempat tinggal).
Berangkat ke sekolah naik sepeda dibonceng sama kakak
yang juga di SMA 3. Maklum saja, karena waktu itu kondisi jalan
masuk masih bebatuan (dan tidak mulus), boncengan di sagang
kotangin (yang jelas tidak ada busanya), taraso mandanyuik di
katepong ko, karena badan awak nan agak kurus. Ka baa lai, awak
nak sikola juo, jalan kaki jauah, kotangin lai, bisa lo
bonceng………yaaa begitulah parasaian badan….
Bersyukur dapat suami seorang “Pahlawan” Nasution, dan
dikaruniai 3 (tiga) orang anak, yaitu ; Randhi Harsuda, Fadlan
Kurnia Elwan dan Farhan Kurnia Elwan. Dan Qadarullah, rupanya
satu orang (Randhi Harsuda) telah berpulang ke rahmatullah dan
kembali kepadaNya. Meski sedih, apa mau dikata, Yang Punya telah
mengambilnya, kita hanya pasrah dan ikhlas atas semua
kehendakNya.

Bagi Pak Tino Sidin, menggambar mungkin pekerjaan yang
gampang, dengan coretan-coretan sekedarnya sudah bisa berupa
gambar, tapi tidak bagi Een. Meski telah bersitungkin, meng-oret2
buku gambarnya, hasilnya tak lebih dari pemandangan yang hampir
itu-itu saja; ada gunung, matahari, sawah, jalan, laut dengan gambar
kapal seadanya. Kadang warnanya pun tidak cocok-cocok pula……….,
Yaaa………………………………begitulah……………………….adanya……!!!!.

by:[email protected] 28

81 Smantri 2022

23. Ellyawati Syah.

by:[email protected] 29

81 Smantri 2022

24. Emi Marni.

Pernah dulu ada ungkapan atau anekdot atau
apapun lah namanya, yang jelas pernyataan itu
pernah muncul dan jadi bahan pemikiran juga.
Ungkapannya itu begini; “Kalau mau mencari
isteri, carilah yang berprofesi “guru”, dan
usahakan jangan yang berprofesi sebagai
“sekretaris”. Kenapa ????? Sebab
kebiasaan sehari-hari (dalam tugas), kadang-ka-
dang ikut terbawakan juga sampai ke rumah. Jika kita mau
menghadap “pimpinan”, maka sang sekretaris selalu berkata: “Maaf
ya, tunggu sebentar – Bapak sedang ada tamu”.
Yaaa...terpaksalah kita menunggu......dan menunggu...
Tapi bagi seorang guru, jika “anak muridnya” masih belum bisa
juga, (dengan sabar) buk gurunya akan berkata; “coba lagi –
ayoo coba lagi”- ayoooo. Begitulah kira-kira.....???????
Entah pernah dengar ungkapan itu atau tidak, tapi yang jelas
Pak Syafrizal adalah orang yang sangat beruntung mendapatkan
seorang guru, yaa (tentunya) yang sabar seperti Een Indarung
ini. Buah dari semua itu ada 4 (empat) orang permata hatinya, yaitu;
Atika Hedsya, Dwi Pratiwi Hedsya. Zikriya Fadilla Hedsya. dan
Abrar Tiozami.
Setelah selesai dari tugas-tugasnya, saat ini Een Indarung
yang lahir di Sungai Penuh pada tanggal 6 Desember 1961 ini betul-
betul menikmati masa pensiunnya bersama keluarga tercinta..
Kenapa Emi Marni ini begitu populer dengan panggilan Een
Indarung????? Ceritanya begini: Waktu SMA jarak Indarung ke
Smantri itu terasa sangat jauh (sekarang pun jaraknya yaa segitu-
segitu aja). Suatu ketika pernah ketinggalan Bus, yaa,,,, akhirnya
terlambat, dan ndak berani masuk kelas. Besok harinya, langsung
pak Pin (pak Firdaus –guru Matematika) marah-marah, karena tidak
hadir alias tanpa berita. Dan setelah dikasih tau bahwa tinggalnya
(jauh) di Indarung, baru pak Pin (mengangguk-angguk) maklum.
Besok dan (selanjutnya), aku selalu dipanggil Indarung oleh pak
Firdaus.....eeeee kawan-kawan pun akhirnya juka ikut- ikutan panggil
aku Een Indarung..... dan Aku mah enjoy aja....!!!

by:[email protected] 30

81 Smantri 2022

25. Enaldi.

by:[email protected] 31

81 Smantri 2022

26. Eni Emeri.

Eni Emeri yang dari dulu agak pendiam tapi
murah senyum (dengan tahi lalat dipipinya) ini
lahir di Padang pada tanggal 1 Juni 1962.
Matanya yang tajam tapi agak sayu ini (kadang)
seperti menembus sampai ke relung-relung
orang yang dipandangnya. Begitulah kira-kira
jebolan Fakultas Hukum Universitas Andalas ini
dahulu. Dengan berbekal Sarjana Hukum, Eni
Emeri kemudian bekerja dilingkungan Dinas Kesehatan Provinsi
Sumatera Barat, dan terakhir sudah purna tugas.
Menikah dengan Rusdi Natsir, kemudian dikaruniai 2 (dua)
orang anak (pelengkap kebahagiannya) yaitu Dini K dan Dean I.
Hadir di acara Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81 di IMELDA
Hotel & Water Park Ulu Gadut Padang, memberikan kesan dan
kenangan tersediri pula. Betapa tidak, Ia dapat bertemu dengan
kawan-kawan yang memang sudah sangat lama tidak berjumpa.
Apalagi bentuk dan tampilan kawan-kawan itupun sudah banyak
yang berubah, sehingga banyak yang lupa. Untuk mengingat
kembali, terpaksa lah Meri mengeja satu per satu, hingga connect
dengan memorynya. Maklum........faktor“U”...katanya.
Namun ada satu hal yang (mungkin) tak kan terlupakan oleh Eni
Emeri ini. Ikut camping dengan kawan-kawandi Kawasan
“Puncak Pato” Tanah Datar, ternyata udaranya dingin bana,
apalagi bagi Meri yang sehari-hari tinggal di Padang. Sahinggo
wakatu lalok di tenda pun, indak talok bukak sepatu......(talampau
kuek kabek nyo mungkin............??????????.).

Bersimpati dan ber-empati pada saudara atau dunsanak yang
ditimpa musibah galodo di Batusangkar, adalah bagian perjalanan
kehidupannya yang juga tetap dikenang. Apa yang bisa dibantu... yaa
dibantu, apa yang dapat disumbangkan...yaa disumbangkan, dalam
upaya meringankan beban orang yang tertimpa musibah, termasuk
baju-baju seken dan masih layak pakai pun dikumpulkan untuk
itu.......Itu se lah Jo.....tulisnya menutup kesan dan kenangannya
waktu SMA dahulu.....Iyo.......jadi juo lah.......????

by:[email protected] 32

81 Smantri 2022

27. Eranis.

Meskipun Eranis Asrin terlahir di Rengat

Kabupaten Indragiri Hulu Riau pada tanggal 9
Oktober 1961 yang lalu, namun semenjak kecil Era
(begitu ia biasa dipanggil), sudah menjadi “orang
Padang” bagian “mudiak” di Nanggalo. Disana pula
lah ia “khatamkan” pendidikan dasar dan menengah
pertamanya yaitu di SD No. 3 dan SMP Nanggalo
(sekarang SMP 12). Karena memang sudah Rayon
nya, Era malenggang saja masuk SMA 3. Tuntas di
Smantri, lewat Proyek Perintis IV, Era melanjutkan kuliah di IKIP Padang
Jurusan Tata Boga. Berbekal Sarjana Tata Boga itu lah tahun 1986 Era
diangkat dan menjadi guru di SKK Negeri Magelang nun jauh disana. Enam
tahun bukan waktu yang singkat bagi Era mengabdikan ilmunya di tanah
Jawa.

Maklum saja, dengan bekal ilmunya tentang tata boga dan masak
memasak pada khususnya, Era “nyaris” buka “kadai nasi” di tanah Jawa
tersebut. Tetapi setelah dirembukkan dengan keluarga, akhirnya cukup
memilih dan mengabdi menjadi tenaga pengajar saja.

“Walau hujan emas di negeri orang, hujan batu dinegeri sendiri”, Era
luluh juga untuk pulang. Tahun 1992, ia pindah mengajar ke SMKN 3
Payakumbuh sebagai guru Tata Boga. Namun sesuai dengan kondisi yang
ada, sejak tahun 1995, tidak lagi ngajar tata boga, tapi ngajar jurusan
Perhotelan. Dan disana pula ia tuntaskan pengabdiannya hingga pensiun
terhitung mulai tanggal 1 November 2021 ini. Meskipun demikian, karena
saking cintanya pada pekerjaan Guru, satu orang anaknya yang jurusan tata
rias kecantikan pun jadi guru honorer di SMKN 3 Payakumbuh. Hitung-
hitung.....sebagai pelanjut pengabdian Bunda tercinta......

Traveling adalah salah satu hobbynya. Namun “maota” adalah juga

kesukaannya pula. Pernah suatu ketika karena saking asyiknya “maota” dengan
kawan-kawan di kelas pada saat jam belajar, pinggang Era dapat “kunci Inggeris”
alias “kanai piriak” oleh Buk Emfimar (guru Agama kala itu). Meskipun begitu,
Era tak dendam dengan parasaiannya di SMA itu. Buktinya, anak didiknya lai tak
sempat kanai piriak pula oleh Cik Gu Era ini.

Sekarang Era menikmati masa pensiunnya bersama keluarga di
Perumahan BTI Blok M nomor 3 Payakumbuh Timur Kota Payakumbuh.
Walaupun Era domisili di Payakumbuh, tapi tetap ke Lapai Padang
mancigok gaek padusi yang masih ada di rumah. Sakali-sakali singgah
juo lah kawan-kawan ka rumah di Pikumbuah, tapi kontak awak dulu di
nomor HP 085263583163, pesannya…!!!!!

by:[email protected] 33

81 Smantri 2022

28. Eriyadi.

Namanya Eriyadi, tapi kawan-kawan suka juga
memanggilnya dengan “Eeng”. Sekarang berdomisili di
Pekan Baru. Selesai di SMA 3, lanjut ke Fakultas
Kedokteran Unand. Menikah dengan Roza Persuri,
SE. kemudian dikaruniai 4 (empat) orang anak yaitu :
Varadhita Eriyadi, Nancy Diani Eriyadi, Chyntia Resti
Eriyadi dan Muhammad Zidhani Eriyadi. Tapi
meskipun (sepertinya) ramai dengan anak-anak, namun
saat ini kami di rumah sudah “pulang pokok” saja alias
cuma berdua, karena mereka sudah dengan peruntungannya masing-masing.

Masa SMA adalah masa-masa yang “paling indah”, begitu pak dotor Eeng berkisah.
Betapa tidak, yang jelas Eeng adalah salah satu langganan tetap buk Emfimar “mancubik

puseknyo” alias kanai piriak karena baju tak pernah masuk ke dalam...yaa...paling-paling
dilipat saja, biar rapi. Tapi ketika sudah dibawa jalan, langsung lepas lagi. Bahkan
memasang lambang dan nama pun cuma di lem pakai lontong. Kemudian pulang sekolah,
keduanya lansung dicopot, biar ndak ketahuan, karena sering “keluyuran” ....acok pai
malala.

Olah raga adalah hobbynya yang bersangatan, terutama basket. Karena saking
hobbynya, maka setiap pergantian jam pelajaran, pasti cari bola basket, apalagi kalau guru

lagi tidak masuk. Akibatnya malah sampai-sampai kawan-kawan team basket memberi
prediket Eeng dengan sebutan “shoot balenggek” (yang artinya.....cuman pemain basket
yang tau). Jadilah Eeng masuk Team Basket Smantri bersama Hendra, Prim, Alfa, Andri
Yasin (alm), Charles, dan lain-lain, dan sering ikut bertanding antar SMA se Kota Padang.

Bersama Gank Basket nya pula Eeng ini pernah kena marah dari orang tua
Jasman. Persoalannya memang tidak berat-nerat amat, tapi runyam juga. Pulang main
basket di lapangan Kampus Kedokteran bersama Alfa, Edi Kempes, Jasman, Enaldi, dll
dengan mobil si Jasman dan Eeng langsung nginap di rumahnya. Dalam per jalanan,

mobil ini kesenggol sama Bemo dan lecet. Jasman ko lah cameh, disuruah sajo bali cat
Pylox, lansuang di semprot malam tu....mantap, sudah kembali seperti aslinya. Tapi
ketika pagi, rupanya warnanya tidak sama dengan yang aslinya, maka mararau lah apak si
Jasman ko. Disitulah Jasman (Alm) ko dapek panggilan “Si JALE” alias Jasman Ele.
(Semoga saja Alm, tenang di ”alam sana”).

Setelah beroleh gelar Dokter, merantau ke Jawa dan kerja di Klinik 24
Jam. Tak genap setahun disana, berbekal SK, ditempatkan di tempat yang “agak
tersuruk” di Puskesmas Palembayan, Agam. Tiga tahun pula di Palembayan,
kembali lagi ke Jawa, karena diterima di Perusahaan Minyak Lepas Pantai (off
shore). Saat bekerja disitulah bisa melanglangbuana ke Kalimantan, Laut Jawa
dan Laut China Selatan (Natuna). Setelah beberapa lama, akhirnya terdampar
pula di Tanah Melayu – Riau, dan itu bertahan sampai sekarang.
Alhamdulillah, karena badan masih sehat, masih juga beraktivitas seperti
biasa. Meski begitu, untuk Reunian ini, pak dotor Eeng, masih berharap tetap
saja ada pada waktu-waktu yang akan datang. Semoga !!!!!!

by:[email protected] 34

81 Smantri 2022

29. Erly Evita.

Ambo sabananyo murid pendiam dan patuh.
Tidak ngoyo dan neko-neko……(mangapik
daun kunik –tasumbue di balakang). Pas
katiko guru ndak ado, sontak sajo, satu kelas
kami cabut ramai-ramai untuk nonton di
bioskop. Hati ketek ambo lah mangatokan ndak
usah ikuik cabut, dan beberapa yang lain pun
juga begitu. Tapi dek karano banyak kawan-

kawan yang bilang “nyo namuah lo ikuik nonton, kalau Erly Evita
ikuik lo”,,,,,,,,tapaso lah awak ikuik. Baliak di sekolah, pak Firdaus
marah bukan main. Tapi beliau terheran-heran juga, sampai dia
bilang; “masa Erly Evita ikut juga???”..Yaaaa begitulah….!!!!!

Konsekwensi dari “kenakalan” itu hukumannya adalah bikin
“Surat Pernyataan” yang ditandatangani oleh orang tua.
Alhamdulillah, syukur juo, orang tuo ambo lai ndak berang bana
doh. Waktu minta tanda tangan surat pernyataan, malah (kami)
galak-galak se. Liau namuah tando tangan dengan syarat ambo
difoto sadang baco surat pernyataan. Sampai kini foto itu masih ado
dan tersimpan rapi.

Buah dari hasil kepatuhan, rajin dan tidak neko-neko itu,
Alhamdulillah ketika lulus SMA (semester terakhir), dapat meraih
prestasi dengan prediket sebagai juara umum. Batambah sanang
lah hati Abak jo Amak awak……

Fisika adalah mata pelajaran yang sangat disenangi oleh “Ita”
yang lahir di Padang pada tanggal 1 Juni 1962 ini. Sampai-sampai
waktu akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan mendaftar pada
Proyek Perintis II ( PP II ), sebetulnya milih jurusan Fisika. Namun
melenceng ke jurusan Farmasi itu adalah karena pertimbangan lain.

Menyelesaikan pendidikan Apoteker, pada Jurusan Farmasi ITB,
kemudian bekerja dan akhirnya pensiunan dari Procter & Gamble
International, Japan/Singapore.

Adrian Ausri adalah suami belahan jiwa, (yang mungkin dari
dulu lah maintai-intai juo), dan dari padanya dikaruniai 3 (tiga)
orang anak yaitu; Irfani Rahmi Ausri, Ichsan Rahmat Ausri, dan
Fajar Rahmat Ausri. Alhamdulillah,,,kini dinikmati sajo maso
pansiun…!!!

by:[email protected] 35

81 Smantri 2022

30. Ervan Ediar.

Lahir di Lubuk Alung pada 22 Februari 1961, dan
pendidikan terakhir S1 diselesaikan di Fakultas
Ekonomi Unand. Bekerja di swasta dan sekarang
sudah pensiun. Bahagia bersama keluarga dengan
Ariyani sang isteri serta anak-anak: Vannia Dwi
Amanda, Erdi Ramadhani, Marina Erviani Putri, M.
Alvandi dan Arie Setyawan.
Pergi sekolah dari Jl. Kamang Jati pakai sepeda (ikut
dokter yang punya rumah di Padang). Pukul setengah lima sudah harus
bangun, karena ditongkrongi terus oleh pak dokter. Sebelum berangkat,
rutin menyapu halaman, bersihkan selokan (namanya numpang).
Sementara teman yang tetangga (Cahyo dan Neneng adiknya) sudah siap
pergi ke sekolah, tapi saya masih disibukkan dengen pekerjaan-pekerjaan
rutin. Bagian terakhir adalah cuci mobil, lalu buru-buru mandi, kemudian
cabut pakai sepeda ke Gunung Pangilun.

Waktu itu lagi boomingnya film Galih dan Ratna. Pernah disuruh
keluar oleh guru Agama, karena saya tidak mau mencukur jenggot. Pernah
pula berkelahi dengan Witra, gara-gara dia mengolok-olok terus saya orang
dari Lubuk Alung, sampai celana robek nyangkut di sepeda. Besoknya
didamaikan oleh pak Net guru Bahasa Indonesia.

Setelah 4 tahun numpang, lalu ketika masuk kuliah, diam-diam saya
lari dan kost sama kawan satu kampus. Plong dan terasa bebas, tapi urusan
perut mulai sering macet...isi kantong sudah pasti jadi penyebabnya, namun
akhirnya selesai juga S1 Fakultas Ekonomi Unand.

Merantau ke Jakarta, bukan saja idaman, tapi juga ingin pergi dari
kampung mencari masa depan di tanah Jawa. 6 bulan nganggur tinggal
dengan saudara. Alhamdulillah, akhirnya diterima sebagai wartawan di
surat kabar. Dan itu dijalani selama 12 tahun di beberapa media antara lain;
Harian Umum Pelita, Merdeka, Majalah Properti, Tabloid Siaga, Tabloid
Rumah.

Sebagai wartawan pula saya kenal dengan sang Menteri, yang
merekomendasi saya bekerja di Koperasi Jasa Informasi (Kopinfo). 5 tahun
kemudian ditawarkan lagi bekerja sebagai CSR pada perkebunan kelapa
sawit di Palangkaraya Kalteng, dan saya ditarok di kantor pusat di Blok M.

Wara wiri lah bulan Jakarta – Palangkaraya sampai pensiun. Namun
akhirnya masih dipercaya mengurus dan mengontrol Yayasan Sosial

dibidang Da’wah di Jawa Tengah meskipun masih tinggal di Palangkaraya
sampai sekarang….Cah tabang……cah tabang…itu se karajo e…..?????

by:[email protected] 36

81 Smantri 2022

31. Faisal Hakim.

Faisal Hakim yang tidak pernah jadi “Hakim”
merupakan sosok pribadi yang mandiri dan

sudah berpikir jauh ke depan. Betapa tidak,
untuk remaja seusianya masa itu, ketika ada

waktu senggang bisa kesana kemari
“keluyuran”, sembari mencari jati diri.

Sementara Faisal Hakim, mulai SMP saja
sampai tamat kuliah sudah bekerja sebagai pela-

yan toko jam di Pasar Raya Padang. Memang itu dijalaninya diluar

jam sekolah, hingga dapat dimaklumi, iCan (sapaan akrabnya) ini
jarang bisa ikut kawan-kawan untuk kegiatan exkul. Ini dilakoninya

sebagai bentuk cara berbakti sekaligus meringankan beban orang
tua. Apalagi orang tua laki-lakinya sudah tak mungkin lagi dapat

bekerja, karena hanya bisa duduk saja di kursi roda akibat stroke.
Ketulusannya berbuat serta do‟a yang tak putus-putusnya
dari orang tua, telah mengantarkan Faisal Hakim lancar-lancar saja
menyelesaikan pendidikannya sampai memperoleh gelar Dokter

tahun 1988. Setamat kuliah, sempat bekerja di sebuah Klinik Swasta
di Jakarta,dan kemudian dilanjutkan bekerja sebagai PNS. Tahun
1990 s/d 1994, dipercaya sebagai Pimpinan Puskesmas Air Haji di
Pesisir Selatan. Tak cukup hanya dengan dokter umum, maka Tahun
1994 – 2000, iCan ambil dokter bedah di FK Unand.
iCan yang lahir di Padang tanggal 27 Desember 1962 ini, pada

tahun 1991, menikahi Nengtis Evarina untuk mempererat tali
silaturrahmi dengan “Teman Sejawat” nya. Ketulusan dan do‟a

yang tak putus-putusnya dari orang tua itu pula yang menjadikan
anak- anaknya (Fajar Faisal Putra, Mentari Faisal Putri dan

Muhammad Fadhil Faisal Putri) sukses pula jadi dokter dan calon
dokter.
Sejak tahun 2001, dokter iCan bekerja sebagai dokter bedah di RSUD
H. Hanafie Muaro Bungo Jambi sampai sekarang, dan in syaa Allah sampai
Desember 2027. Untuk menambah dan pengembangan ilmu yang sudah

diperoleh, dokter iCan tiap tahun aktif ikut seminar dan pelatihan ilmu

bedah di beberapa tempat di Indonesia. Sekarang menetap di Jalan

Teuku Umar, Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Rimbo Tangah,
Muaro Bungo…! Berkesempatan, mampirlah ke rumah,,,,pesannya.!!

by:[email protected] 37

81 Smantri 2022

32. Fanelda.

by:[email protected] 38

81 Smantri 2022

33. Fariati.

Menyaksikan kapal terbang (dalam film)
melakukan aksi akrobatik serta berkonvoi di
udara, adalah sesuatu yang menakjubkan,
sesuatu yang mencengangkan. Apalagi kalau hal
itu dapat disaksikan langsung lewat pandangan
mata, dirasa sesuatu yang bikin penasaran.
Makanya ketika dapat kabar ada pameran
dirgantara di pelabuhan udara Tabing, kami
Ikut cabut ramai-ramai dengan teman sekelas. Tarago talengah di
sekolah, kami keluar lari melintas rel kereta api, terus Jalan Khatib
Sulaiman dan tembus ke Lolong. Dari sana kami lalu naik angkot ke
Tabing. Yang kami kejar cuman satu, yaitu pengen lihat pameran
dirgantara, meski itu penuh dengan resiko.
Dan ternyata dugaan itu benar. Karena ketahuan lari
Meninggalkan kelas dan pelajaran pada jam belajar, besoknya kami
semua dapat hukuman dijemur di lapangan. Disaksikan oleh kawan-
kawan yang lain, saat itu rasanya malu sekali sama teman-teman dan
guru-guru. Apa boleh buat, bialah badan bajamue, asa (kapatang)
mato dan pangana lai barubek.
Lahir di Bukittinggi pada tanggal 24 Oktober 1962, dan
Setamat SMA melanjutkan pendidikan dan terakhir S1 pun dapat
diselesaikan.
Dengan menikah dan bersuamikan Muhammad Dalil, kami
diberi amanah oleh Allah swt dengan empat orang anak, yaitu;
Mohammad Afdhal, Mohammad Reza, Mohammad Iqbal,

Mohammad Ilham.

by:[email protected] 39

81 Smantri 2022

34. Fidel Miro.

Hampir selalu datang pada waktu rapat-rapat
persiapan acara Reuni Akbar 41 Tahun Smantri
81, Fidel Miro yang lahir di Padang 13 Juni
1961 ini memperlihatkan dedikasinya untuk
suksesnya acara tersebut. Tak banyak bicara

memang, namun sekali keluar titahnya, kawan-

kawan Panitia yang lain (biasanya)
mengaminkan tanda setuju.

Pada sesi “acara resmi”, Fidel Miro didaulat oleh kawan-kawan
Panitia sebagai “Pembaca Do‟a. Tidak tau lah kita pertimbangan
kawan-kawan Panitia. Bisa saja karena tampilannya yang “semakin

sunnah” dengan jenggot yang terawat rapi, atau karena “songkok”
kepalanya yang jarang lepas. Tapi yang jelas amanah sebagai

pembaca do‟a itu dilakoninya dengan khusyuk.
Pendidikan terakhirnya adalah Master ( S2 ) Transportasi –
SAPPK, ITB tahun 1993. Sekarang Fidel Miro masih bertugas
sebagai dosen Jurusan PWK, Universitas Bung Hatta.
Menikah dengan Ir. Effi Zulfia Naros, kemudian dikaruniai
seorang anak yaitu Fadhlurrahman Isra yang saat ini sedang
kuliah di Jurusan PWK – Universitas Bung Hatta Semester 5.
Pergi ke sekolah naik angkot dari rumahnya di Ujung Gurun.
Kadang-kadang ketika hari rancak, sumangaik sadang tabokak

pulo, nyo kayuah lah kotangin ko pai sakola. Yang penting sekolah
Fidel Miro (yang jurusan IPS) ini harus tamat. Alhamdulillah....!!

by:[email protected] 40

81 Smantri 2022

35. Gustinawati.

Sebagai Angkatan Pertama di Smantri. Saat itu
saya malu sebagai siswa SMA 3, karena baru,

belajarnya masih numpang di SMA 2. Terpaksa
belajar sore, sementara saya dari SMP 1 dan

berharap dapat sekolah di SMA 1. ….Karenanya
saya belajar hanya setengah hati. Sering

ngantuk saat belajar, karena tidak terbiasa
sekolah/belajar siang. Qadarullah, karena sema-

ngat belajar yang tidak maksimal dan sering pula sakit-sakitan, saya

jadi tinggal kelas. Akhirnya saya tergabung dengan angkatan 81
(Angkatan Kedua), dimana dengan Angkatan 81 lah saya lebih

banyak berinteraksi, bergaul dan semangat belajar kembali muncul,
meski prestasi akademik saya biasa-biasa saja.
Allah pasti punya rencana baik untuk hambaNya. Meski
awalnya saya sangat tidak terima tinggal kelas, ternyata Allah

menahan saya agar tidak keluar dulu dari SMA 3, karena ada
seseorang yang akan hadir dalam kehidupan saya.
Saat naik ke kelas 3, saya masuk di Kelas 3 IPA 3. Kelas kami
kedatangan murid baru, namanya Effendi Mukhtar, orangnya

pendiam dan sedikit cuek. Waktu itu saya tidak begitu tertarik
dengan kehadiran siswa baru tersebut. Namun suatu kali saya dengar

dia punya suara bagus, terus saya ngobrol dengannya seputar nyanyi
menyanyi…… Eeeeeee lama-lama koq rasanya setiap ngobrol

nyambung dan klop. Kami sama-sama les Kimia dengan Pak M.
Khairi, pulang les selalu sama-sama. Sampai saat tiba masa

perpisahan siswa Kelas 3, kami diminta nyanyi duet…. Setelah itu
semua Kelas IPA ada acara Camping di Puncak Pato, kami semakin

dekat dan merasa cocok.
Singkat cerita…..kami berjodoh…..dan akhirnya menikah, dan
Alhamdulillah kami dikaruniai 3 (tiga) orang putra yang semuanya
sudah menikah, ….cucu kami sudah 4 (empat) orang pula….
Alhamdulillah….

by:[email protected] 41

81 Smantri 2022

36. Halimah.

Meskipun lahir di Silungkang (waktu itu masih
dalam Kabupaten Sawahlunto Sijunjung), pada

tanggal 22 Maret 1962, namun dalam riwayat
perjalanan sekolahnya, Halimah sudah

menjadi orang Padang. Tinggal bersama orang
tua di Jalan Perintis Kemerdekaan no. 33 Jati-

Padang. Karena jarak dari rumah ke sekolah
lumayan jauh juga, yaaa....... kalau langsung dari

rumah “terpaksa” harus naik oplet “PERSOPAK”. Soalnyakalau

mau naik “CITY EXPRESS”, tidak ada yang langsung dari Jati ke
Gunung Pangilun. Sebab rute city express yang ada cuma; pasar

raya - rumah sakik – jati – alai– ampang – (lewat) KBN. Sementara
yang ke Gunung Pangilun, rutenya: pasarraya - padang baru – alai–

gunuang – santeong. Makanya sering kami rame- rame (biasanya)
bersama dengan anak Angkatan 80 yaitu Murniati dan lain-lain

nungguin oplet itu di Jalan Sudirman depan Gedung Tentara (ABRI).
Pulang sekolah pun naik oplet incek ke Jati juga bersama dengan

anak Angkatan 80.
Tamat SMA melanjutkan pendidikan di FKPS IKIP Padang

mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi. Berbekal itu lah Halimah

kemudian bekerja sebagai guru di Kabupaten Pesisir Selatan, dan
sekarang sudah pensiun.

Dengan bekal pengalaman dan terlatih hidup mandiri (ketika di
SMA dulu), itu pula yang dijalani Halimah saat ini. Tatkala Azwar
sang suami yang disayanginya telah “dipanggil” menghadap Sang

Khalik. Yaaaa,,,,,begitulah ketentuanNya, kita hanya menjalani.

Meskipun demikian, keceriaan Halimah tak berkurang ketika

telah berkumpul dengan konco-konco lamanya di SMA 3 dulu, di
Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81 Padang. Ketawanya begitu

“sumringah” saat sudah bersama kawan-kawannya yang “serasa”
masih SMA juga. Walaupun jauh perjalanan yang ditempuh dari

rumahnya di kawasan Pasar Kambang Kecamatan Lengayang
Pesisir Selatan, akan tetapi baginya enjoy aja, karena Halimah

masih bisa istirahat melepas penat di rumah orang tua di Jalan
Perintis Kemerdekaan no. 33 Padang. Alhamdulillah.......!!!!!!!!!!

by:[email protected] 42

81 Smantri 2022

37. Hendra Gunawan.

Selesai SMP di Batusangkar, Hendra atau Hen
(terserah mana yang suka aja), yang lahir di
Yogyakarta pada 5 Januari 1963 ini bertekad
melanjutkan sekolahnya ke kota….(eeeh…

Batusangkar itu juga kota yaa). Pengennya ke
SMA 2, karena saat itu lagi top-topnya. Akan
tetapi angannya kesandung dan tidak bisa
diterima akibat berlakunya sistim rayon.
Resah juga. Tapi akhirnya bisa masuk ke SMA 3, berkat ada yang
kenal dengan salah seorang guru SMA 3. (Pikir-pikir, yang ini
termasuk kategori KKN ngga kyaa…..???).
Yang paling asyik itu adalah ketika ikut sebagai Tim Basket
SMA 3, bersama antara lain Prim “Dodi” Hariyadi, Eriyadi “Eng
ing eng”, Sudirmanto “Charles”, Faizal Abidin, Alfa Irinanda,
Andri Yasin (Alm) dan lain-lain. Meski dengan semangat menggebu,
pada beberapa kejuaraan tingkat Kota Padang, Tim asuhan Pak
Liang (K.Saruli) ini selalu mentok di 4 Besar, karena susah
mengalahkan SMA Don Bosco, SMA 1 dan SGO (Sekolah Guru
Olahraga).
Mendapat tugas bikin Paper pada mata pelajaran
Matematika (itu nan tinggi nilainyo di rapor), sepertinya tidak
sulit-sulit amat. Dengan topik “rumus-rumus praktis dalam
persamaan kuadrat”, dapat dikerjakan dengan lancar. Ini berkat
sering mengerjakan soal-soal ujian SKALU/Perintis 1 tahun-tahun
sebelumnya, (biasa lah, orientasi kuliah saat itu, tentunya
ke Perintis 1/ kuliah di Jawa).
Penambahan waktu belajar ½ tahun, akibat pergeseran awal
tahun ajaran, dirasakan bisa agak santai, karena target sudah
terpenuhi di dua semester sebelumnya.
Saat acara Reuni 41 Tahun kemaren, suami dari Yenni
Ruslinda, dan ayah dari Ghalda Khairunnisa, Nayla Haura
Raihanna, dan Thurfa Huriya Aqila, ini agak malu-malu kucing
ketika didaulat menceritakan kisah - (kasihnya yang tak sampai)
saat sekolah dahulu. Yaaa…apa boleh buat, itulah suratan

nasib???.

by:[email protected] 43

81 Smantri 2022

38. Herman.

“Ke – kalah – annya” ketika adu argument serta
berdebat dengan pak Guru Bachtiar Haskal untuk
persoalan penegakan disiplin dan mematuhi
peraturan, betul-betul menjadi kenangan yang
tidak dapat dilupakan serta menjadi pengalaman
yang sangat berharga bagi Herman (anak pak)
Amir ini ketika di SMA dahulu. Karena untuk
berdebat dan adu argument tanpa didukung oleh

fakta yang kuat dan meyakinkan, akan menjadi sesuatu yang absurd.

Kesan itu begitu membekas, ketika disekolah bahwa ada peraturan
bagi siswa laki-laki harus pakai singlet. Padahal waktu zaman itu,
belum biasa laki-laki pakai singlet, cukup dengan baju seragam putih
abu-abu saja. Apalagi kota Padang dengan cuacanya yang panas,
sepertinya mendukung argumen itu. Itulah mazhab nya, dan Herman
termasuk salah satu yang mengikuti mazhab itu. Meskipun sudah
beberapa kali diingatkan untuk taat aturan itu, namun kadang sering
diabaikan.

Pada suatu pagi hari ketika sudah di dalam kelas, Herman ditegur
oleh pak Guru Bachtiar Haskal ( BH ) ini, kenapa tidak pakai singlet
juga. Spontan saja dan dengan penuh keyakinan Herman berdalih
bahwa rata-rata kawan laki-laki yang lain di kelas ini juga tidak pakai
singlet. Akan tetapi….”sialnya”,,, ketika diperiksa satu per satu oleh pak
BH , ternyata cuman Herman yang tidak pakai singlet
,,,,,,wadduuuhhhh….ampuuuuunnn…..malunya ?????Malu-maluin…

Setelah selesai SMA, lanjutlah Herman ini ke Fakultas Hukum, dan
bahkan gelar Master Hukum pun telah dia kantongi. Ini semua adalah
dalam rangka memperkuat kapasitasnya sebagai seorang Advokat atau
Pengacara, dibawah bendera Kantor Hukum Normativ yang
beralamat di Jalan Raya Tabing – Lubuk Minturun No. 27 Padang.

Ke – kalah – annya dahulu, betul-betul jadi cemeti baginya.
Bahwa untuk bisa sukses dalam sebuah debat atau adu argument,
haruslah didukung dengan data dan fakta yang valid. Dan itu akan jadi
modal besar baginya dalam menjalankan profesi nya sebagai seorang
Lawyer. Bahkan untuk selalu merefresh dan mengupgrade ilmunya,
Herman mengajar pula sebagai Dosen Hukum di STIE Pariaman.

by:[email protected] 44

81 Smantri 2022

39. Herman Kausar.

by:[email protected] 45

81 Smantri 2022

40. Imiarti.

Terlahir 60 tahun yang lalu dari orangtua yang
pensiunan Polisi. Menyelesaikan SD di kampung

halaman dan SMP di kampung bako (SMPN
Tiku). Selesai SMP ingin keluar dari kampung

untuk mencoba nasib di kota yang lebih besar
(Kota Padang). Dari beberapa Sekolah Tingkat

Menengah Atas yang menerima kala itu, pilihan
jatuh ke SMA Negeri 3 Padang dan hidup Nge-
kost tidak berapa jauh dari sekolah sambil sore hari ikut less Bahasa
Inggeris.
Perjuangan selama sekolah di SMA 3 Padang, tinggal terpisah
dari orang tua dan 2 minggu sekali harus pulang kampung untuk
menjemput bekal dan biaya sekolah.
Setelah menamatkan di SMA 3 Padang mengambil kesempatan

kerja di TVRI Padang sambil kuliah sore (dengan melepas kuliah
Semester 1 di Fakultas Ekonomi Unand kala itu). Setelah 20 tahun

berkarir dan berkarya di TVRI, akhirnya pindah ke Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di

Jakarta. Alhamdulillah, setelah pensiun dikelilingi satu anak( putri)

dan 4 cucu…❤ ❤

Pada hajatan Reuni Akbar 41 Tahun Smantri 81 Padang yang

mengusung tema “malapeh taragak basuo”, Imiarti hadir

“begitu total”. Pada acara “ice breaking” maupun acara “game”, dia
keluarkan segala kepandaiannya. Marasai lah kawan-kawan

karena makan tangannya. Tapi, bak iklan salah satu
produk......”nggak ada lo, nggak rame”, Yaaaa.......rame lah

jadinya acara yang memang sudah ditunggu-tunggu begitu lama oleh
kawan-kawan. Bravo.......Iim........!!!!!

by:[email protected] 46

81 Smantri 2022

41. Indra Cakra.

Memakai lambang atau logo pada seragam anak
sekolah (yang dipasang permanen), adalah
salah satu aturan sekolah yang harus diikuti dan
dipatuhi. Tapi bagi sebagian kawan-kawan,
aturan ini sepertinya memberatkan. Entah
karena gengsi, atau karena malu, atau oleh
sebab-sebab lain, tidak (terlalu) jelas pula
alasannya. Bagi Indra Cakra atau “Icak” aturan
ini mungkin “icak-icak” (tidak sebenarnya), sehingga harus pasang
”permanen” ini diakali jadi “semi permanen”. Lambang yang harus
dijahitkan di baju, cukup ditempel sajo pakai lem dari lontong.
Suatu kali ketemu buk Emfimar (dan nampaknya beliau sudah
curiga), nyo egang lambang ko…..lansuang lapeh. Dapek lah kanai
piriak lamak pinggang tu dari beliau ha ha haha ha .......
Ada-ada saja “perangai” kawan kita ini, entah darimana “ide” itu
muncul, yang akhirnya jadi “persoalan” serius. Dihidupkan radio dengan
Volume keras-keras, ditarok di keranjang sarok, sehingga manggaduah
urang balajar. Usut punya usut, tidak ada yang mengaku, dan yang jadi
“tumbal” adalah Tarmizi, sampai dia tinggal kelas.

Beda lagi kalau sudah masuk dalam “ego jurusan” (IPA, IPS, dan
Bahasa). Gara-gara main basket, terjadi cakak lego pagai jo IPS, dan
akhirnya diimbau ka kantue dan didamaikan dek pak guru Kempes,
guru PMP.

Selesai SMA, Icak yang lahir di Padang pada tanggal 9 Maret
1963 ini, lanjut ke Fakultas Kedokteran sampai akhirnya
menyelesaikan Dokter Spesialis Anak. Dengan karakternya yang
suka bergaul dan banyak teman, sampai saat ini Icak dipercaya oleh
“teman sejawat” nya menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak
Cabang Jawa Barat Perwakilan Bekasi.

Tidak sekedar itu saja, Icak yang dulunya “suka icak-icak”, oleh
kawan-kawan Smantri 81 didaulat agar dapat dan tetap menjabat
sebagai Ketua Alumni Angkatan 81 untuk seumur hidup, dan
memang sudah dijalaninya beberapa tahun sebelum ini. Mendengar
itu, Icak cuman galah manih sajo. Urang Padang jalan barampek–
Nan surang dari Pilakuik. Pintak kawan-kawan kok lai ka dapek–
Icak jadi Ketua Alumni 81 saumue iduik........Bravo “Ket” Icak.!!

by:[email protected] 47

81 Smantri 2022

42. Indra Merdi.

by:[email protected] 48

81 Smantri 2022

43. Iriani Rhoza.

Dialah Iriani Rhoza atau (terakhir) populer
dengan sapaan “Tek Oja”. Bekerja sepenuh

hati dan semampu tenaga untuk menyukseskan
terlaksananya hajatan besar Reuni Akbar 41

Tahun Smantri 81 Padang di IMELDA Hotel &
Water Park – Ulu Gadut Padang ini. Dia sudah

duluan datang dan dia “tongkrongi” meja
Recepcionist (lengkap dengan segala pernak

pernik acara Reuni) menunggu kehadiran kawan-kawannya
(yang jelas memang tidak mungkin bisa serentak hadir).
Sebentar-sebentar bolak balik ke kamar, entah apa yang dia

cari atau masih ada yang kurang, pokoknya,,,,,,,,,sibuklah.....!!!!
Padahal itu dia lakukan semata-mata untuk suksesnya acara saja, dan

tidak terkait pula dengan kepanitiaan.

Begitulah “Tek Oja” mendedikasikan semuanya untuk kawan-
kawan Smantri 81. Walaupun kadang-kadang ada juga kawan-kawan

ini yang “melihat sebelah mata” terhadap apa yang dilaksanakannya.
Barangkali yang ini, akan jadi catatan pengalaman tersendiri
pula bagi “Tek Oja”. Peristiwa ini terjadi ketika acara “makan duren”

sore itu di SIKUAI RESTO. Entah saking semangatnya, atau

mungkin khawatir keduluan teman-teman, yang jelas duren yang
selesai dibuka bersama Zulkifli, langsung disantap. Entah dari mana

pula pangkal sebabnya, tau-tau rontok gigi Tek Oja ini 2 buah.
Rontoknya ini entah sampai ketelan atau melompat keluar, ndak

terlalu diingat lagi oleh Tek Oja. Pokoknya sudah ompong aja......!!!!
Yang jelas saat ini “Tek Oja” yang lahir di Payakumbuh pada

tanggal 16 Januari 1962 menikmati hari-harinya bersama anak-
anaknya (Friska Prima Setiani, Rizky Dwi Setiawan dan Keshia

Smarta Setiani), setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai Guru,
dengan bekal S1 di IKIP Padang.

Pergi acara pesta pak Syafarni Budaya Putra dengan pak

Novezar Mukhtar, Elly Taci, Rosmaniar ke Payakumbuh, adalah
kenangan yang tak bisa pula dia lupakan.
Rindunya akan kebersamaan, telah dia korbankan lelahnya demi
kawan-kawan. Mudah-mudahan itu semua jadi amal kebajikan!!!!!!!

by:[email protected] 49


Click to View FlipBook Version