tersebut terdiri dari Aswameda dan Asmaradana. Pada masa Kerajaan Majapahit,
upacara Aswameda dan Asmaradana biasanya bertempat di candi-candi.
Kedua, upacara Sekaten sejak pemerintahan Hayam Wuruk,
pelaksanaannya berpindah ke tengah kota dengan upacara srada (sesaji untuk
para leluhur). Pelaksanaan srada yang pada masa itu berlangsung selama tujuh
hari diperuntukan bagi mendiang Ibu Suri Baginda Sri Wishnu Wardani. Upacara
ini berlangsung hingga pada masa Prabu Brawijaya V dengan keramaian yang
jauh lebih besar. Prabu Brawijaya memiliki perangkat gamelan yang sangat
tersohor. Nama gamelannya adalah Kanjeng Kyai Sekar Delima yang alunannya
selalu ikut memeriahkan keramaian itu.
Ketiga, setelah anak dari Prabu Brawijaya V yaitu Raden Patah masuk
agama islam, Raden Patah berencana menyerbu Kerajaan Majapahit apabila Sang
Prabu Brawijaya tidak bersedia memeluk Agama Islam. Mendengar berita
tersebut, Prabu Brawijaya V menjadi sangat sedih dan melaksanakan semedi atau
bertapa selama dua belas hari. Sementara itu, untuk menghibur hati Prabu
Brawijaya V, para ahli gending di Majapahit menciptakan lagu-lagu melalui
perangkat gamelan pusaka kerajaan. Dari kejadian itu, pemukulan gamelan mulai
menggunakan irama bertingkah. Kadang keras dengan irama yang
membangkitkan jiwa. Terkadang juga lemah lembut mengalun dan menyayat
hati. Gamelan tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekati, karena membuat
Prabu Brawijaya seseg ati (sesak hati). Sekati tersebut yang menjadi awal dari
adanya gamelan pada upacara Sekaten ini.
Keempat, pada perkembangan selanjutnya, agam Islam mulai masuk dan
berkembang di tanah Jawa pada abad ke-14 dengan dibawa oleh para Walisongo.
Setiap tahun para tokoh agama Islam mengadakan pertemuan tahunan di Kota
Demak untuk mengetahui perkembangan Islam di tanah Jawa. Pertemuan
tersebut biasanya diadakan selama satu minggu di bulan Rabiul Awal dan
biasanya diadakan keramaian untuk merayakan Maulud Nabi sebagai
penutupnya. Melalui saran Sunan Kalijaga, agar perayaan Maulud Nabi bisa
menarik perhatian rakyat, maka pelaksanaannya disesuaikan dengan tradisi dan
budaya Jawa yakni upacara Sekaten ini.
48
Kelima, mirip dengan perayaan yang dilakukan agama Hindu
sebelumnya, acara Sekaten tersebut diawali dengan membunyikan perangkat
gamelan karya Sunan Giri dengan membawakan gending-gending ciptaan para
wali, terutama Sunan Kalijaga. Kemudian setelah acara tersebut selesai,
masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dibimbing untuk mengucapkan
syahadat (syahadatain). Sehingga dari kata syahadatain ini kemudian muncul
istilah Sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan.
Kemudian, acara Sekaten terselenggara secara rutin tiap tahun seiring
berkembangnya kerajaan Demak menjadi kerajaan Islam hingga bergeser ke
Mataram. Adapun ketika Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan
Kasunanan Surakarta), Sekaten tetap terselenggara sebagai warisan budaya
Islam.
Acara Sekaten pun menjadi salah satu tradisi yang selalu dilakukan rutin
setiap tahunnya di area Keraton Jogja dan Keraton Solo sebagai bentuk nguri-uri
kebudayaan atau melestarikan kebudayaan Jawa. Artinya upacara Sekaten ini
diadakan untuk melestarikan kebudayaan yang sudah ada sejak zaman Kerajaan
Islam. Masyarakat pun banyak yang berbondong-bondong ke acara Sekaten ini
bahkan tidak terbatas penduduk asli Jogja saja, wisatawan pun banyak yang
antusias menyaksikan upacara ini. Upacara Sekaten seperti menjadi sebuah
tradisi yang menggabungkan rasa cinta Islam dan rasa cinta akan budaya secara
bersamaan. Oleh karena itu, mari kita melestarikan kebudayaan Indonesia
melalui pelestarian upacara Sekaten ini.
49
L. Buruknya Kesehatan Mental Generasi Z Akibat Perkembangan
Teknologi
Nama : Hasna Nisrina
NIM : 20201244028
Kelas : PBSI P
Buruknya Kesehatan Mental Generasi Z
Akibat Perkembangan Teknologi
50
Pesatnya perkembangan teknologi, menjadikan isu-isu sosial di
masyarakat menjadi lebih cepat diperbincangkan. Salah satunya adalah isu terkait
dengan kesehatan mental di kalangan anak muda. Fenomena kesehatan mental
yang semula merupakan hal tabu bagi masyarakat, kini menjadi sesuatu yang
lumrah. Topik terkait dengan kesehatan mental tidak bosan-bosan dibahas
apalagi ketika kesehatan mental dikaitkan dengan penggunaan sosial media.
Kesehatan mental sendiri adalah komponen yang penting dalam setiap
jenjang kehidupan manusia, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga
dewasa. Bahkan, seringkali disebutkan, kondisi mental pada masa kanak-kanak
dapat memengaruhi perkembangan kejiwaan seseorang hingga dewasa nantinya.
Dalam pengertian ini, kesehatan mental adalah dasar bagi kesejahteraan individu
dan berfungsinya komunitas secara efektif. Hal ini akan memengaruhi cara
seseorang berpikir, merasa, dan bertindak. Kesehatan mental juga membantu
menentukan bagaimana seseorang tersebut menangani stres, berhubungan
dengan orang lain, dan membuat pilihan yang sehat.
Sedangkan media sosial adalah media daring yang digunakan untuk
kebutuhan komunikasi jarak jauh, proses interaksi antara user satu dengan user
lain, serta mendapatkan sebuah informasi melalui perangkat aplikasi khusus
menggunakan jaringan internet. Tujuan dari adanya sosial media sendiri adalah
sebagai sarana komunikasi untuk menghubungkan antar pengguna dengan
cakupan wilayah yang sangat luas.
Bagaimana penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko
kesehatan mental remaja? Faktanya adalah di media sosial remaja juga
mengalami perlakuan buruk. Hal yang membuat kondisi ini semakin buruk
51
adalah ketika remaja menganggap hal-hal negatif yang terjadi di media sosial
sebagai hal yang lumrah dan “risiko” dari bermain di media sosial. Jika hal ini
terus dibenarkan, maka dapat memicu masalah yang lebih serius lagi. Bukan tak
mungkin remaja yang menjadi korban penganiayaan di online justru malah
melakukan hal yang sama kepada orang lain. Menggunakan media sosial dengan
cara yang cerdas adalah salah satu upaya membentengi diri dari dampak negatif
konsumsi media sosial terhadap kesehatan mental.
Tidak hanya itu saja, penggunaan sosial media pada kesehatan mental
juga mempengaruhi cara pandang seseorang, khususnya bagi generasi Z yang
masih belum memiliki kedewasaan mental dalam mengolah dan menentukan
keputusan mana yang benar dan tidak. Hal ini terjadi karena “gengsi” yang timbul
diakibatkan oleh penggunaan sosial media. Kebanyakan remaja atau generasi Z
selalu ingin mengikuti tren yang ada dan tidak ingin kalah bersaing dengan apa
yang sedang menjadi isu hangat di masyarakat. Hal ini menambah beban mental
tersendiri bagi generasi Z itu sendiri.
Baik buruknya penggunaan sosial media didasarkan lagi kepada
bagaimana kita sebagai pengguna mampu menentukan dan membatasi apa saja
dan bagaimana menggunakan sosial media yang bijak. Penggunaan sosial media
yang bijak justru tidak membuat seseorang terkena dampak buruk berupa
kesehatan mental, tetapi bisa mendapatkan inspirasi, motivasi, atau bahkan
ladang bisnis.
M. Maraknya Kasus Cyberbullying
Nama : Fithriyah Fajar Rofidah
NIM : 20201244030
Kelas : PBSI P
Maraknya Kasus Cyberbullying
52
Cyberbullying adalah kasus bullying atau perundungan yang dilakukan
melalui teknologi digital. Cyberbullying terjadi lewat sosial media seperti
platform digital instagram, tiktok, facebook, youtube, dan lain sebagainya.
Cyberbullying ini bisa dalam wujud pelecehan, pencemaran nama baik,
memfitnah, memposting atau mengirim dan meneruskan komunikasi atau
gambar pribadi yang mengandung informasi pribadi yang ditujukan untuk
mempermalukan targetnya.
Cyberbullying kini sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Hal ini sering
terjadi pada anak-anak usia remaja. Cyberbullying tidak mengenal jenis kelamin,
laki-laki maupun perempuan semuanya sama. Ada banyak penyebab
cyberbullying. Penyebab ini bisa berasal dari faktor internal korban dan pelaku,
maupun faktor eksternal korban dan pelaku cyberbullying. Faktor internal
korban dan pelaku adalah faktor yang berasal dari dalam diri korban dan pelaku
cyberbullying. Faktor-faktor itu diantaranya yang pertama adalah kemampuan
pelaku empati, remaja yang tidak empati serta tidak mengerti tentang etika yang
baik secara online biasanya sulit untuk mengontrol perilaku mereka di dunia
online. Yang kedua adalah karakter korban, remaja dengan jiwa yang rentan
dapat menjadi pelaku atau korban dari cyberbullying. Yang ketiga koneksivitas
perilaku pelaku dan korban. Semakin tinggi intensitas perilaku bullying yang
dilakukan oleh pelaku cyberbullying, maka korban akan semakin berperilaku
reaktif. Yang keempat adalah perilaku yang seringkali dilakukan remaja dan
menjadi kebiasaan remaja saat bersosial media menjadi faktor pemicu terjadinya
cyberbullying, misalnya membuat komentar kasar, memperbarui instastory,
53
mengunggah foto, dan mengomentari foto. Sedangkan faktor eksternal adalah
faktor yang berasal dari luar korban maupun pelaku cyberbullying. Faktor-faktor
itu yakni yang pertama intensitas penggunaan media sosial. Semakin tinggi
intensitas pemakaian media sosial, maka semakin besar peluang remaja
melakukan cyberbullying ataupun menjadi korbannya.Yang kedua adalah faktor
perkembangan media sosial yang semakin pesat dikalangan remaja sebagai alat
komunikasi yang mudah digunakan dan diakses, membawa tren baru dalam
masyarakat sebagai media untuk melakukan penindasan secara online atau yang
dikenal dengan cyberbullying. Yang terakhir adalah faktor pengaruh perangkat
teknologi terhadap remaja, hal ini sering menyebabkan mereka untuk
mengatakan dan melakukan hal-hal kejam dibandingkan dengan apa yang
didapati dalam dunia nyata.
Akibat dari cyberbullying ini tidak bisa dianggap remeh. Korban
cyberbullying akan mengalami kondisi psikologis yang terganggu seperti sering
merasa cemas atau ketakutan. Cyberbullying juga menyerang kesehatan mental
dan bisa menyebabkan korban stress. Tidak sedikit pula yang pada akhirnya
karena terlalu depresi memilih untuk mengakhiri hidupnya. Akibat lainnya dari
cyberbullying yakni korban akan kehilangan rasa percaya dirinya, prestasi yang
menurun, menjadi agresif, menjadi pribadi yang rapuh dan yang lebih
mengkhawatirkan bisa jadi korban cyberbullying itu malah menjadi pelaku
cyberbullying selanjutnya sebagai wujud balas dendam dengan apa yang telah ia
alami sebelumnya.
Melihat akibat dari adanya cyberbullying yang tidak main-main, sudah
seharusnya kita memikirkan bagaimana caranya supaya cyberbullying yang
sudah marak terjadi di sosial media ini bisa segera berakhir. Bagi para korban
54
cyberbullying ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni jangan membalas atau
menulis komentar negatif untuk membalas pelaku, karena hal ini akan
memperkeruh suasana dan membuat pelaku semakin kejam, jangan terlalu
memikirkan omongan pelaku itu terlalu serius, istirahat dari sosial media untuk
sementara waktu, dan yang paling penting jangan memendam masalah ini
sendiri. Ada baiknya bercerita ke orang yang lebih dewasa, meminta nasihat
bagaimana baiknya. Adanya cyberbullying ini juga mengingatkan kita semua
untuk selalu hati-hati dalam menggunakan sosial media.
N. “Aku Punya Mentall Illness’’ Usaha Mengobati auat Glorifikasi?
Nama : Fatayati Arief Maulida
NIM : 20201244031
Kelas : PBSI P
“Aku Punya Mentall Illness’’
Usaha Mengobati atau Glorifikasi?
Kesehatan merupakan salah satu indikasi dari kesejahteraan hidup
manusia. Entah itu kesehatan fisik, maupun kesehatan psikis. Keduanya memiliki
peran penting dalam keberlangsung hidup manusia. Fisik yang tidak sehat dapat
disebabkan terjatuh, tersayat, terbentur, terserang bakteri, jamur maupun virus,
hingga terjadi malfungsi organ. Psikis juga bisa menjadi tidak sehat, stress
depresi, kecemasan, dan berbagai disorientasi yang bisa memengaruhi cara
seseorang mengambil tindakan atau keputusan. Psikis yang tidak sehat ini biasa
disebut dengan Mental Illness atau diterjemahkan sebagai gangguan jiwa.
Salah satu problematika di Indonesia, semua jenis gangguan jiwa akan
disamakan dengan gila. Banyak kasus gangguan jiwa tidak tertangani karena rasa
malu mengakui gangguan jiwa. Untuk mengubah stigma tersebut, banyak
influencer di media sosial yang membagikan kisah hidup mereka sebagai seorang
penyintas maupun penderita mental illness. Hal ini dapat berakibat baik, yaitu
bentuk penerimaan yang dilanjutkan pada usaha penyembuhan. Namun yang saat
55
ini marak terjadi, justru adalah glorifikasi terhadap mental illness tersebut.
Bagaimana usaha pengobatan diri ini justru melahirkan permasalahan baru di
masyarakat?
Pada mulanya, seseorang yang mengalami gejala gangguan jiwa akan
mencari wadah atau informasi terkait permasalahan yang ia alami. Jika disikapi
dengan bijak, seseorang akan langsung mencari cara untuk keluar dari
permasalahan yang diderita. Salah satunya adalah dengan menceritakan masalah
ke orang terdekat, atau langsung menghubungi spesialis di bidang ini. Namun
dikarenakan stigma di masyarakat, banyak orang yang enggan menceritakan
masalahya untuk mendapat penangan profesional. Dampaknya, orang justu akan
melakukan self diagnosis terkait penyakitnya.
Jika menghubungi spesialis, seseorang biasanya akan mendapatkan hasil
diagnosis serta saran penanganan. Apa saja hal yang perlu dilakukan jika keadaan
sedang tidak stabil, apa saja bahan makanan yang bisa memicu stres, atau
56
kegiatan apa yang perlu dihentikan selama pengobatan. Sedangkan jika
melakukan self-diagnosis, usaha penanganan yang seharusnya dilakukan justru
bisa menyebabkan gangguan yang dialami semakin ekstrim. Namun demikian,
kedua hal ini tetap bisa melahirkan tindakan glorifikasi.
Orang yang sedang dalam proses penyembuhan tentu memiliki banyak
tantangannya sendiri. Untuk menghadapi tantangan ini, biasanya mereka akan
diberitahu bahwa gangguan kejiwaan ini bukan hal yang aneh dan dapat
disembuhkan, sehingga tidak merasa sendirian dan terkucilkan dari stigma sosial.
Dari sini orang-orang biasanya mulain mencari informasi untuk membantu
penyembuhan, seperti mencari teman pengidap penyakit yang sama, menuliskan
catatan-catatan, hingga mencari teladan untuk memotivasi diri. Teladan di sini
seringkali merupakan influencer yang membagikan kisah mereka tentang
gangguan kejiwaan. Tidak sedikit, bahkan para influencer ini menaruh status
gangguan kejiwaan mereka dalam keterangan profil diri di media sosial.
Tujuannya awalnya tentu adalah agar masyarakat bisa melihat bagaimana
keseharian seseorang dengan gangguan jiwa, maupun untuk memahamkan
bahwa gangguan jiwa adalah bagian dari dirinya.
57
Akhirnya, muncul romantisasi mental illness yang seakan menjadi suatu
objek estetik, dan ikon diri. Sifatnya tidak umum membuat mental illness
dianggap sebagai suatu ciri khas yang akan menentukan tindakan dalam
kehidupan seseorang. Mental illness diglorifikasi sebagai suatu bentuk identitas
diri dan dipertahankan, sehingga tidak segera diakhiri untuk memiliki kehidupan
yang normal kembali. Sampai-sampai, bukannya menghapuskan stigma terhadap
pengidap gangguan kejiwaan, justru menormalisasi tindakan negatif dari
gangguan jiwa itu. Contohnya, orang yang memiliki depresi seperti dilegalkan
untuk menyayat dirinya sendiri dengan mengatasnamakan “sedang depresi”, atau
seseorang dengan borderline disorder dilegalkan untuk memanipulasi orang lain
dengan dalih ia sedang tidak dapat mengontrol dirinya.
Memiliki mental illness tentu bukanlah suatu hal yang diinginkan.
Memiliki trauma, permasalahan yang tidak tuntas di masa lalu, atau tekanan
kehidupan yang berlebih sehingga memantik gangguan kejiwaan merupakan hal
yang ingin dihindari oleh semua orang. Namun demikian, fenomena glorifikasi
mental illness ini tidak bisa dijadikan alasan sedang mengobati diri. Karena
glorifikasi ini, orang-orang justru melupakan tujuan dari proses untuk menerima
keadaan kejiwaannya. Lewat glorifikasi, bukannya berusaha mengobati, justru
merupakan bentuk justifikasi terhadap hal-hal menyimpang yang dilakukan
dalam hidupnya. Padahal sudah jelas hal-hal tersebut merugikan kualitas hidup
mereka.
58
Penyembuhan dan terapi gangguan jiwa akan memakan waktu yang lama,
atau bahkan seumur hidup. Hal ini tidak membuat seseorang menjadi lebih
rendah daripada orang lain, namun di waktu yang sama juga bukanlah hal spesial
yang patut dibanggakan. Usaha untuk menghentikan stigma terhadap gangguan
kejiwaan tidaklah salah, pun melakukan proses penerimaan diri sebagai pengidap
gangguan kejiwaan bukan hal yang memalukan. Satu hal yang pasti, tindak
glorifikasi terhadap mental illness tidak membawa titik terang dalam
penyembuhannya.
O. Fenomena Doxing
Nama : Dyah Ayu Noor Afifah
NIM : 20201244032
Kelas : PBSI P
Fenomena Doxing
Berkembangnya IPTEK membuat dunia semakin menggila dengan yang
namanya teknologi, terutama dalam bidang digitalisasi. Pada era serba digital ini,
hampir seluruh masyarakat memiliki sosial media. Pengguna sosial media berasal
dari berbagai kalangan baik dari yang muda hingga mereka yang lanjut usia.
Sosial media yang digunakan sebagai sarana menyalurkan ekspresi menimbulkan
59
fenomena baru di kalangan masyarakat. Fenomena ini disebut dengan doxing.
Lalu apa sebenarnya doxing itu?
Doxing merupakan fenomena yang muncul akibat dari proses digitalisasi
yang semakin canggih. Doxing atau doxxing ini adalah kegiatan membongkar
atau menyebarkan informasi pribadi seseorang oleh pihak-pihak tidak
bertanggung jawab tanpa adanya izin dari orang yang bersangkutan. Penyebaran
informasi pribadi pada kasus ini biasanya dilakukan lebih dari satu orang dan
dilakukan lewat platform media sosial. Korban doxing tidak hanya dari kalangan
influencer atau pejabat saja, tapi bisa juga dari kalangan masyarakat biasa.
Penyebab dari fenomena doxing bisa bermacam-macam namun, pada intinya
ditujukan untuk menjatuhkan mental lawan.
Pertama, doxing biasa dilakukan karena adanya rasa ketidaksukaan pada
seseorang baik karena masalah perilaku maupun penampilan. Mungkin terdapat
kata-kata dan tindakan dari korban doxing yang menyakiti para pelaku
sehinggamenimbulkan kemarahan dan dendam pada pelaku. Hal ini membuat
pihak-pihak tertentu ingin mengekspos kehidupan dan data pribadi seseorang
yang ia benci agar dilihat oleh orang banyak. Biasanyanya yang mereka ekspos
awalnya hanya berupa perilaku si orang yang bersangkutan terlebih dahulu.
Kedua, biasanya kegiatan menyebar informasi pribadi ini dilakukan
secara besar-besaran dan melibatkan banyak orang. Doxing yang dilakukan di
sosial media biasanya akan mendapat atensi dari para pengguna yang
membacanya. Mereka akan penasaran penyebabnya lalu muncullah pihak baru
yang membawa informasi pribadi yang lain. Pada taraf ini biasanya mereka sudah
berani menunjuk nama dan identitas orang yang didoxing. Apalagi jika korban
doxing juga menggunakan platform media sosial dan menggunakan nama
samaran, maka akan banyak orang-orang yang membongkar identitas di balik
akun tersebut. Dalam media sosial biasanya terdapat informasi dan postingan
yang berhubungan dengan kehidupan korban sehingga ini akan memudahkan
untuk melakukan proses doxing.
Ketiga, setelah terbongkar nama korban dan kejadian itu mendapat atensi
lebih dari public maka skala doxing akan semakin meluas. Tidak hanya mereka
60
yang mengenal korban tapi bahkan orang awam akan berlomba mencari identitas
korban. Setelah mendapat informasinya mereka akan menyebar luaskan di media
sosial. Dari mulai media sosial yang dipakai hingga data keluarga akan tersebar
dengan cepat. Bahkan, kasus ini bisa merambat pada pembongkaran identitas dan
kehidupan pribadi keluarga dan teman-teman korban. Akibatnya tidak hanya
penyebaran data informasi tapi juga pada ujaran kebencian dan berita hoax akan
bermunculan.
Keempat, biasanya korban doxing akan menutup semua media sosialnya
dan begitu pula dengan orang-orang yang berkaitan dengan si korban. Akan
tetapi kegiatan doxing masih dapat terus berlanjut, seperti mencari info nomor
telepon korban atau para pelaku doxing akan mengganggu teman dan kerabat
korban. Hal seperti ini akan terus berlanjut sampai mereka merasa bosan atau
adanya tindakan hukum. Bagi korban doxing kejadian itu akan meninggalkan
bekas trauma dan ketakutan yang mendalam, sedangkan untuk pihak teman dan
kerabat akan merasa terganggu dan dirugikan. Korban yang dibawah umur
biasanya akan terserang anxiety dan trauma akibat komentar kebencian dan
doxing besar-besaran yang dialaminya. Sedangkan pada mereka yang dewasa
akan menimbulkan trauma dan bisa juga kerugian dalam bidang material.
Dampak yang ditimbulkan dari doxing ini tidak main-main, dari
tersebarnya data pribadi di media sosial hingga masalah kesehatan mental
pascakejadian. Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya perstiwa
ini, seperti menjaga perkataan dan perbuatan di sosial media, memilah informasi
pribadi yang dibagikan dan tidak, mengurangi memposting yang berkaitan
dengan kehidupan pribadi di sosial media, dan yang terakhir apabila sudah
terlanjur dalam tahap doxing lebih baik segera menyelesaikan permasalahan
dengan si pelaku utama atau meminta bantuan pada pihak berwajib.
Jejak digital memang sangat sulit dihapus sehingga perlu kehati-hatian
dalam menggunakannya. Fenomena doxing yang baru terjadi di era digital ini
perlu lebih diperhatikan. Mewaspadai agar tidak menjadi korbanya bukan
merupakan sesuatu yang salah. Menggunakan media sosial secara bijak dapat
menjadi upaya pencegahan yang bisa dilakukan. Doxing juga bukan sesuatu yang
61
boleh dimaklumi atau didukung karena ini merupakan kegiatan yang melanggar
privasi seseorang dan dapat meninggalkan luka bagi korbannya.
P. Tradisi Sekaten
Nama : Aziza Ula Fallahi
NIM : 20201244033
Kelas : PBSI P
TRADISI SEKATEN
Bagi warga Jogja, upacara tradisional sekaten merupakan salah satu acara
yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Karena selain dalam rangka
memeriahkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad, sekaten juga
menghadirkan berbagai rangkaian acara budaya yang menarik.
Acara sekaten di Jogja diawali dengan adanya permainan gamelan Kyai
Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo yang dimainkan beberapa hari sebelum 12
Rabiul Awal tepatnya sekitar tanggal 6 Rabiul Awal (Maulud). Selain itu,
terdapat pula acara Pasar Malam Perayaan Sekaten sejak sebulan sebelum acara
inti yang bisa dihadiri seluruh masyarakat maupun wisatawan. Menariknya lagi,
terdapat dua tradisi penting yang menjadi rangkaian acara sekaten ini yaitu
Tumplak Wajik dan Tradisi Grebeg Maulud. Sebelum Tradisi Grebeg dimulai,
diadakan upacara pembuatan wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan
dan gula jawa) sebagai awal dari pembuatan pareden.
Setelah upcacara Tumplak Wajib selesai, barulah diadakan puncak
peringatan Sekaten yang disebut sebagai Tradisi Grebeg Muludan pada tanggal
12 Rabiul Awal sejak pukul 08.00 pagi. Acara budaya yang diadakan sejak abad
ke- 16 ini menjadi tradisi setiap tahun yang dilakukan Keraton Ngayogyakarto
Hadiningrat dan Keraton Surakarta Hadiningra (Solo).
Di balik meriahnya upacara tradisi sekaten, tentu tidak terlepas dari asal-
usul yang melatarbelakanginya. Menurut pendapat yang paling populer, istilah
sekaten berasal dari bahasa arab Syahadataini yang mewakili dua kalimat
62
Syahadat yang merupakan kalimat wajib sebagai syarat masuk agama Islam.
Upacara Sekaten sudah dimulai sejak zaman Kerajaan Demak, yaitu ketika
Kerajaan Islam Muncul setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478
Masehi. Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya Islam di Tanah Jawa
yang dilaksanakan turun-temurun oleh nenek moyang sebagai salah satu bentuk
budaya hasil akulturasi.
Diadakannya upacara sekaten ini berawal ketika pada masa Kerajaan
Hindu raja- rajanya mengadakan upacara serupa yang berwujud sesaji atau
selamatan untuk arwah para leluhur. Upacara tersebut terdiri dari Aswameda dan
Asmaradana.
Pada perkembangan selanjutnya, agam Islam mulai masuk dan
berkembang di tanah Jawa pada abad ke-14 dengan dibawa oleh para Walisongo.
Setiap tahun para tokoh agama Islam mengadakan pertemuan tahunan di Kota
Demak untuk mengetahui perkembangan Islam di tanah Jawa. Pertemuan
tersebut biasanya diadakan selama satu minggu di bulan Rabiul Awal dan
biasanya diadakan keramaian untuk merayakan Maulud Nabi sebagai
penutupnya. Melalui saran Sunan Kalijaga, agar perayaan Maulud Nabi bisa
menarik perhatian rakyat, maka pelaksanaannya disesuaikan dengan tradisi dan
budaya Jawa.
Mirip dengan perayaan yang dilakukan agama Hindu sebelumnya, acara
tersebut diawali dengan membunyikan prangkat gamelan karya Sunan Giri.
Kemudian setelah acara tersebut selesai, masyarakat yang ingin memeluk agama
Islam dibimbing untuk mengucapkan syahadat. Sehingga dari kata syahadatain
ini kemudian muncul istilah sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan.
Acara sekaten pun menjadi salah satu tradisi yang selalu dilakukan rutin
setiap tahunnya di area Keraton Jogja dan Keraton Solo sebagai bentuk nguri-uri
kabudayan. Artinya upacara sekaten ini diadakan untuk melestarikan kebudayaan
yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Islam. Masyarakat pun banyak yang
berbondong-bondong ke acara sekaten ini bahkan tidak terbatas penduduk asli
Jogja saja, wisatawan pun banyak yang antusias menyaksikan upacara ini.
63
Upacara sekaten seperti menjadi sebuah tradisi yang menggabungkan rasa cinta
Islam dan rasa cinta akan budaya secara bersamaan.
Q. Rasulan
Nama : Siti Khadijah
NIM : 20201244034
Kelas : PBSI P
64
Rasulan
Semakin hari budaya Indonesia semakin luntur, hal tersebut dilatar
belakangi oleh kurangnya pembelajaran mengenai kebudayaan di Indonesia.
Selain kurangnya pembelajaran budaya, lunturnya budaya di Indonesia juga
disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan minat masyarakat dalam melestarikan
budaya. Tidak sedikit dari masyarakat di luaran sana yang bahkan acuh terhadap
lunturnya budaya di Indonesia ini. Hal ini jika dibiarkan secara terus menerus,
bukan tidak mungkin jika Indonesia akan kehilangan beberapa budaya yang kini
sudah mulai luntur dan terabaikan dengan seiring berjalannya waktu dan
perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern.
Kurangnya kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap budaya di
Indonesia dan budaya di daerah mereka masing masing ini menjadi sebuah faktor
yang sangat berperan dalam semakin lunturnya budaya lokal. Ditambah lagi,
sekarang ini zaman semakin maju dan modern, budaya budaya luar dengan
bebasnya dapat masuk dan dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Jika masyarakat
tidak melek akan betapa pentingnya melestarikan budaya Indonesia agar tetap
lestari, bukan tidak mungkin jika dalam waktu dekat ini Indonesia akan
kehilangan banyak budaya yang seharusnya dilestarikan namun pada
kenyataanya budaya tersebut malah diabaikan dan tidak dilestarikan. Kesadaran
masyarakat akan budaya agaknya harus selalu dipupuk dan dikuatkan, agar
budaya budaya di Indonesia ini tidak hilang begitu saja. Budaya yang turun-
temurun dari dahulu hingga sekarang akan hilang jika tidak kita lestarikan.
Mengenalkan budaya lokal kepada anak sejak usia dini, memberikan sosialisasi
atau penyuluhan dan praktik nyata pelestarian budaya kepada masyarakat dapat
65
dilakukan sebagai upaya melestarikan dan menjaga agar budaya lokal tidak
hilang seberjalannya waktu. Jika bukan masyarakat Indonesia sendiri, lalu siapa
yang akan melestarikan dan menjaga budaya di Indonesia ini. Beberapa budaya
atau tradisi yang dahulu sering dilakukan, kini mulai luntur dan jarang dilakukan
bahkan mungkin dilupakan.
Namun tidak semua budaya mengalami kelunturan dan terabaikan. Salah
satunya adalah budaya atau tradisi Rasulan yang sampai saat ini masih
dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Gunungkidul. Rasulan merupakan
salah satu bentuk tradisi perayaan pasca-panen yang dilakukan oleh masyarakat
di Kabupaten Gunungkidul. Tradisi rasulan ini diselenggarakan sebagai bentuk
dari rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang melimpah. Selain sebagai
bentuk ungkapan rasa syukur, rasulan juga dilakukan dalam rangka merti desa
atau bersih desa untuk menolak mara bahaya. Tradisi rasulan ini dapat ditemui
hampir di seluruh daerah di Gunungkidul. Meskipun semua daerah di
Gunungkidul hingga saat ini masih melakukan dan melestarikan budaya atau
tradisi ini, namun waktu dalam pelaksanaan rasulan sendiri tidak selalu sama
antara daerah satu dengan daerah lainnya. Hal tersebut tak lain karena rasulan
dilakukan atas hasil musyawarah dan kesepakatan bersama antara warga desa dan
atas rekomendasi waktu pelaksanaan rasulan dari tetua adat setempat. Rasulan
biasanya diselenggarakan setelah panen raya atau saat menjelang musim
kemarau.
Tradisi rasulan ini diselenggarakan sekali dalam setiap tahunnya dengan
serangkaian acara yang terkadang rangkaian acaranya dapat berlangsung selama
beberapa hari. Inti dari tradisi rasulan ini adalah kenduri dengan menyajikan
masakan khas dengan ingkung ayam, nasi putih dan lauk pauknya, serta beberapa
jajanan pasar. Biasanya sajian tadi berupa Gunungan yang kemudian di arak
keliling desa yang dipikul oleh beberapa orang yang mengenakan baju adat dan
diiringi rombongan yang mengenakan kostum kostum unik untuk memeriahkan
acara rasulan ini.Setelah diarak, kemudian dilantunkan doa yang isinya adalah
rasa syukur karena telah diberikan hasil panen yang melimpah, memohon untuk
diberikan kelancaran dalam bertani di musim musim yang akan datang, dan tidak
66
lupa meminta keselamatan bagi seluruh masyarakat. Setelah didoakan, biasanya
Gunungan-gunungan ini akan diperebutkan oleh orang-orang yang mengikuti
serangkaian acara rasulan ini, biasanya mereka mengambil beberapa makanan
dari gunungan tersebut.
Biasanya, rangkaian acara rasulan ini diakhiri dengan pertunjukan dari
kelompok seni daerah setempat, penampilan jathilan atau reog, tari-tarian yang
biasanya tari ledek, dan ketika malam harinya digelar pertunjukan ketoprak atau
terkadang juga pertunjukan wayang kulit dan masyarakat biasanya akan “lek-
lekan” atau tidak tidur semalaman hingga pagi saat pertunjukan wayang kulit
selesai. Namun, tidak jarang juga digelar pengajian di awal acara rasulan ataupun
di akhir acara sebagai penutup.
Kita sebagai masyarakat hendaknya melek terhadap budaya dan ikut
berupaya dalam melestarikan budaya budaya yang ada di Indonesia, dimulai dari
budaya di daerah kita masing-masing. Jika budaya budaya semakin luntur dan
menghilang, lalu anak cucu kita nantinya tidak akan mengenal dan merasakan
betapa indahnya tradisi dan budaya budaya di Indonesia secara langsung dan
mungkin hanya bisa menyaksikan melalui media sosial seperti Youtube atau
Instagram. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai masyarakat
Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian budaya di Indoensia
agar tidak hilang ditelan waktu dan zaman.
R. Generasi Milenial dengan Second Account
67
Nama : Maria Novena Elsandika
NIM : 20201244035
Kelas : PBSI P
Generasi Milenial dengan Second Account
Perkembangan teknologi era sekarang semakin mendukung para milenial
lebih menyukai aktivitas yang sifatnya instan. Aktivitas tersebut lebih sering
dilakukan di sosial media. Instagram, salah satu aplikasi yang pastinya tidak
asing lagi dan mayoritas masyarakat pasti mempunyainya apalagi kalangan
remaja di zaman milenial ini. Secara tidak langsung, semakin hari, Instagram
membentuk standar tersendiri penggunanya tentang bagaimana seseorang
menampilkan dirinya sendiri. Instagram terkesan menuntut penggunanya
mempunyai kepribadian yang “sempurna” melalui foto atau video yang
diunggahnya. Maka dari itu, para remaja kebanyakan tidak memiliki satu akun
saja. Tersebut memudahkan para remaja memiliki dua akun berbeda atau kerap
disebut second account.
Fenomena second account memang tidak jarang kita jumpai di dunia
maya. Para remaja membuat akun Instagram lebih dari satu dengan fungsi yang
68
berbeda. Bagi mereka yang memiliki dua akun dalam satu sosial media dirasa
tidak merepotkan. Biasanya satu akun digunakan untuk umum dan satu akun
lainnya diperuntukkan untuk orang yang benar-benar dekat, jadi tidak sembarang
orang bisa berteman. Banyak alasan dibalik terbentuknya second account, salah
satu alasan terkuatnya adalah kebebasan. Pengguna second account tidak perlu
khawatir tentang komentar negatif karena salah satu syarat utama second account
adalah akun yang di privasi serta menggunakan nama samaran agar orang tidak
mudah mengenali siapa pemiliknya. Anonim, sebutannya.
Instagram terkesan menuntut penggunanya untuk punya kepribadian
yang “sempurna” melalui foto atau video yang ditampilkan. Tanpa disadari,
seluruh postingan pada Instagram yang akan diunggah harus benar-benar tampak
“sempurna” serta hanya menunjukkan baik-baiknya saja. Hal tersebut
menciptakan standarisasi kepada pengguna Instagram, sehingga menjadikan para
remaja tidak percaya diri dengan apa yang mereka memiliki. Oleh sebab itu,
adanya standarisasi tersebutlah tanpa disadari yang membuat para remaja
membuat akun kedua.
Pada akun pertama atau first account hanya digunakan untuk formalitas
yang sudah dikemas dan direncakan sebaik mungkin agar orang lain melihat
mereka sesuai apa yang mereka inginkan. Sehingga fungsi utama dari first
account sendiri hanya sebagai simbol diri yang dikemas baik, dengan kata lain
mendekati kesempurnaan dan keindahan untuk dilihat. Dunia maya khususnya
Instagram selalu meminta penggunanya untuk menampilkan sisi sempurna dari
kehidupannya, dimana hal tersebut tentunya menimbulkan tekanan besar. Sisi
sempurna tersebut adalah baik dari sisi fisik, maupun sisi mental yang tersirat di
setiap unggahan penggunanya.
Akun kedua atau second account adalah akun dimana penggunanya
merasakan kebebasan, dapat sesuka hati mengekspresikan dirinya. Fungsi
tersebut berbaning terbalik dengan first account, tidak ada standarisasi sama
sekali yang memberatkan seseorang. Pengguna second account seperti
mempunyai dua sisi berbeda di kehidupannya. Selain itu, di akun kedua tersebut
mereka tidak perlu memberatkan pikirannya untuk menerima komentar negatif
69
dari roang lain, karena orang yang ada di dalamnya merupakan orang terdekatnya
saja.
Second account biasanya bukan merupakan nama asli penggunanya atau
bahkan menggunakan nama yang tidak umum dijumpai. Hal tersebut bertujuan
agar tidak mudah dikenali oleh orang lain. Selain itu, second account biasanya
tidak memiliki jumlah pengikut yang banyak dan orang-orang tersebut
merupakan teman atau orang terdekat dari penggunanya. Menggunakan nama
samaran, pengikut tidak banyak, dan satu lagi memprivasi akunnya. Ketika
sebuah akun tersebut di privasi, pemilik akun dapat menentukan siapa saja yang
diterimanya untuk mejadi pengikut di second accountnya. Karena telah diseleksi
oleh pemilik akun, maka yang dapat melihat isi akun tersebut otomatis telah
diberi kepercayaan dan tidak akan merespon negatif terhadap kebebasan tersebut.
Dengan demikian, adanya second account di Instagram, para remaja
dapat mengekspresikan dirinya dengan baik serta efektif. Adanya second account
dapat menanamkan rasa kepercayaan diri kepada mereka dalam hal apapun yang
ingin dibagikan tanpa harus merasa tiadak percaya diri. Tidak sedikit, para remaja
menjadi lebih asli atau real di second account dibanding di akun pertamanya.
Sebenarnya tidak ada salahnya memiliki second account, selama
digunakan untuk tujuan positif. Semua kembali kepada kebijakan penggunaya.
Selama mereka dapat menggunakannya dengan bijak untuk menebarkan energi
positif atau lainnya dan bukan malah menggunakannya sebagai tameng untuk
berlindung saat menebakan kebencian.
70
S. Fast Fashion
Nama : Desy Alisia Andriyani
NIM : 20201244036
Kelas : PBSI P
71
Fast Fashion
Apakah kalian tahu apa itu fast fashion? Apakah kalian tahu dampak
buruk yang timbul akibat fast fashion? Apa kalian mengetahui jenama-jenama
besar seperti Zara, Uniqlo, HnM, Bershka, dan Forever 21? Agar kita sedikit
mengenal mengenai fast fashion, kita perlu mengetahui pengertian fast fashion
atau fesyen cepat, ciri-ciri, dan sejarahnya.
Fesyen cepat adalah konsep yang digunakan oleh industri tekstil yang
menghasilkan berbagai model fesyen siap pakai yang silih berganti dalam waktu
relatif singkat. Sesuai dengan namanya ‘fast’ model pakaian dapat berganti
hingga 42 kali dalam setahun. Industri fast fashion terkadang mengabaikan
dampak buruk terhadap lingkungan dan keselamatan buruh dalam proses
produksinya. Biasanya industri fast fashion mempekerjakan buruh wanita muda
yang berpendidikan rendah dalam jam kerja yang lama, namun dengan upah
rendah.
Ada beberapa ciri fast fashion yang dapat kita perhatikan. Ciri-ciri
tersebut antara lain, memiliki banyak model dan mengikuti tren terbaru. Model
selalu berganti dalam kurun waktu singkat. Diproduksi di negara-negara
berkembang seperti India, Bangladesh, bahkan Indonesia. Diproduksi
menggunakan bahan baku berkualitas rendah sehingga tidak tahan lama.
72
Pada mulanya, pada masa pra-Revolusi Industri fashion atau mode adalah
produk mewah. Fesyen diproduksi dengan detail dan dijahit manual dengan
tangan. Pada masa itu pakaian diproduksi secara terbatas karena belum ada mesin
jahit. Dengan begitu fashion menjadi barang mahal kala itu. Hanya orang-orang
golongan tertentu yang dapat menjangkaunya.
Kemudian sekitar abad 17-18, munculah Revolusi Industri yang
mengubah cara memproduksi barang-barang dari yang awalnya mengandalkan
tenaga manusia dan hewan beralih ke tenaga mesin. Pada ranah fesyen, yang
pertama kali muncul adalah mesin tekstil kemudian ditemukan mesin jahit yang
menjadi kontibutor besar dalam perkembangan fesyen dunia. Fesyen dapat
diproduksi secara masal dengan ongkos produksi jauh lebih rendah.
Yang ketiga, perkembangan industri fesyen terus terjadi hingga pada
pasca-Perang Dunia II, abad 19-20, para pengusaha retail melebarkan sayapnya
hingga antarbenua. Industri fesyen memproduksi lebih banyak pakaian dengan
begitu pakaian dapat dijual dengan harga yang lebih murah. Sehingga fesyen
cepat dapat dijangkau oleh lebih banyak orang. Misal, pada masa pra-Revolusi
Industri sebuah baju senilai 5 juta rupiah, baju tersebut dapat digunakan dua
hingga tiga tahun lamanya. Sedangkan baju dari fast fashion dengan nilai tiga
ratus ribu misalnya hanya dapat bertahan hingga enam bulan karena kualitasnya
rendah.
Yang keempat pengusaha retail menyediakan pergantian model atau
mode pakaian yang silih berganti dalam waktu singkat. Belum lagi mereka kerap
memberikan potongan harga fantastis untuk menarik minat konsumen. Dengan
demikian, industri fast fashion memiliki pasar yang sangat besar di masyarakat
dunia. Ditambah lagi perkembangan teknologi yang mempermudah kita dalam
berbelanja. Kini, kita tak perlu pergi toko atau mall untuk berbelanja pakaian,
cukup dengan aplikasi dan sistem pembayaran daring pakaian yang kita inginkan
akan datang dengan sendirinya.
Yang kelima, masyarakat meyukai konsep fesyen ini. Maka dalam
produksi fesyen cepat membutuhkan frekuensi yang konsisten dengan kuantitas
produksi yang besar. Sayangnya untuk memenuhi kebutuhan mode ini terdapat
73
sisi gelap dalam prosesnya. Antara lain, kerusakan ekologis, dan kesejahteraan
serta keselamatan buruh garmen yang tidak terjamin. Tidak berhenti di proses
produksi fesyen cepat juga menjadi penyumbang utama untuk limbah tekstil.
Yang terakhir, fesyen cepat secara tidak langsung menggiring masyarakat
pada kepercayaan bahwa, berbelaja lebih sering dengan jumlah banyak adalah
suatu keharusan untuk tetap berada dalam arus tren. Fesyen cepat juga
menumbuhkan rasa ketidakpuasan yang akan terus ada karena tren tidak akan
berhenti. Masyarakat yang menggilai fesyen cepat juga akan berperilaku
konsumtif dan boros.
Fesyen dunia akan terus berkembang tanpa henti, begitu pula dengan efek
buruk yang menyertainya. Industri fast fashion akan terus menjamur, bila
masyarakat terus mengaminkan tujuan mereka untuk memproduksi pakaian
dengan cara kotor. Sebagai konsumen, masyarakat, sebisa mungkin untuk bijak
dalam mengkonsumsi fesyen. Bukan berarti kita harus berhenti untuk membeli
pakaian. Akan tetapi, menanamkan keyakinan bahwa tidak setiap tren harus
diikuti hingga memutuskan untuk memilih fesyen yang berkelanjutan adalah
tindakan yang tepat.
T. Catcalling
Nama : Nada Aghinia Fisabilla
NIM : 20201244037
Kelas : PBSI P
Catcalling
Catcalling merupakan fenomena yang sangat sering kita dijumpai di
lingkungan masyarakat. Definisi dari Catcall menurut Oxford Dictionary adalah
suara atau teriakan yang mengekspresikan kemarahan atau ketidaksetujuan
terhadap seseorang yang sedang berbicara atau melakukan sesuatu di ruang
publik. Meskipun sebenarnya bentuk Catcall adalah seperti yang dijelaskan
dalam Oxford University, kata Catcall sekarang telah beralih makna menjadi
salah satu bentuk dari kekerasan seksual meskipun hanya secara verbal. Catcall
74
atau Catcalling pada dewasa ini mempunyai makna sebagai bentuk pelecehan
yang ditujukan terhadap kaum wanita dalam bentuk siulan, sindiran, atau suara-
suara yang secara tidak langsung menyinggung kaum wanita tersebut. Lantas,
bagaimana Catcalling ini bisa terjadi?
Pelaku Catcalling tidak selamanya terbatas pada jenis kelamin, baik
lelaki maupun perempuan bisa mengalami Catcalling. Namun, dalam teks ini
bentuk Catcalling akan dikhususkan kepada kejadian yang terjadi kepada
perempuan. Faktor yang menyebabkan Catcalling ini pada dasarnya adalah
pikiran pelaku itu sendiri. Namun, karena pikiran pelaku adalah sesuatu yang
tidak dapat kita kendalikan, maka satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah
diri kita sendiri. Tidak ada cara yang khusus untuk menghindari kita dari Catcall.
Namun, ada beberapa penyebab yang mungkin saja menjadi pemicu Catcall
tersebut.
Salah satu pemicu seorang perempuan menerima Catcall adalah karena
orang tersebut berjalan sendirian di malam hari. Pada saat tersebut, biasanya akan
ada kaum pria yang berkumpul di suatu titik dan ketika perempuan tersebut
berjalan melewati mereka, maka perempuan tersebut akan menerima entah siulan
atau katakata yang membuat perempuan tersebut takut atau tidak nyaman.
Hal lain yang menjadi pemicu terjadinya Catcalling adalah pemakaian
pakaian. Memang memakai pakaian tertutup tidak akan menjamin perempuan
terhindar dari Catcall, namun pakaian terbuka akan lebih meningkatkan
terjadinya Catcalling tersebut. Ketika perempuan memakai pakaian terbuka,
lelaki yang melihat juga akan tergoda untuk mengatakan sesuatu tentang bagian
tubuh wanita tersebut, jadi alangkah lebih baiknya jika hal ini dihindari dengan
memakai pakaian yang lebih tertutup.
Hal selanjutnya yang menjadi pemicu terjadinya Catcall adalah berjalan
sendirian di tempat sepi. Tiga hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya
Catcalling. Selain tiga hal tersebut, mungkin masih banyak lagi hal lain yang
memicu Catcalling karena kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran
manusia.
75
Dari penjelasan di atas mengenai ketiga penyebab tersebut, akan
mengakibatkan berbagai dampak. Adapun dampak Catcalling secara psikologis
yang ditemukan Holly Kearl yaitu merasa kurang aman ketika berada di tempat
umum, membatasi waktu, dan menyebabkan kerusakan emosional. Selain itu,
menurut Louise F Fitzgerald, seorang peneliti yang berfokus pada kajian
kekeresan seksual asal Universitas Illinois di Urbana Champaign juga
menemukan bahwa dampak pelecehan seksual pada perempuan yang sedang
menjalani kehidupan akademik atau sedang bekerja yaitu perasaan direndahkan
sebagai perempuan yang menyebabkan ketidakpercayaan diri, perasaan takut dan
perasaan tidak berdaya sebagai perempuan.
Solusi untuk menghindari Catcalling adalah ketika berjalan di daerah
yang sepi usahakan ada teman lelaki bersama kita. Apabila hanya mempunyai
teman perempuan, maka usahakan jumlahnya lebih dari satu. Seperti yang telah
disebutkan dipembahasan pertama, ketika kita berjalan sendiri, usahakan
mengajak teman. Namun, jika memang berjalan sendiri dan tidak ada teman yang
bisa menemani adalah pilihan terakhir, maka usahakan pilih rute yang ramai.
Rute yang sepi memang cenderung lebih tinggi tingkat probabilitas untuk terjadi
Catcall ini karena banyak lelaki berkumpul di satu titik sepi. Memilih rute yang
terbuka dan ramai akan meningkatkan rasa aman serta mengurangi kemungkinan
terkena Catcall.
Menerapkan solusi yang telah dijabarkan di atas juga bukan merupakan
suatu jaminan untuk terhindar dari Catcalling. Namun, menerapkan solusi-solusi
tersebut mungkin saja akan mengurangi kemungkinan terjadinya Catcalling.
Solusi lain selain yang telah dijabarkan di atas adalah dengan mengabaikan,
memakai earphone, atau memakai masker. Dengan menerapkan solusi tersebut,
kita telah mengusahakan dengan mengontrol apa yang bisa kita kontrol yaitu diri
kita sendiri.
Pelaku Catcalling memang tidak bisa kita prediksi dan kontrol. Dengan
memahami hal-hal yang berpotensi menimbulkan Catcalling, kita bisa
mengambil langkah dan mengatasi Catcalling dari diri kita sendiri. Satu langkah
kecil yang mungkin akan sangat membantu ketika kejadian tersebut benar-benar
76
terjadi. Dari pemaparan di atas, kita sebagai perempuan harus berhati-hati dan
menerapkan solusi dalam mencegah Catcalling tersebut.
77
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, I Ketut Suar. 2020. Mencermati Pembelajaran Daring di Tengah
Merebaknya Covid 19. Diakses dari, https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQWcGtmKSDttW2BSJEHy
aYYEqbOJ_TCeSl1WdbaWLsdMWoJz0gHAiPuuEloHtpLffh4HU
M&usqp=CAU, pada tanggal 06 Desember 2021.
Isnatun, Siti dan Umi Farida. 2013. Mahir Berbahasa Indonesia. Bogor:
Yudhistira.
Kemendikbud. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan
Akademik/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
______ 2013. Buku Guru Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan. Jakarta:
Kemendikbud.
______ 2017. Bahasa Indonesia untuk SMA /MA/SMK/MAK Kelas XI. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kristiyani, Ary. 2018. Menulis Faktual dalam Perspektif Multiliterasi.
Yogyakarta: UNY Press.
Kosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks. Bandung: Yrama Widya.
______ 2013. Cerdas Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta:
Erlangga.
______ 2016. Jenis-jenis Teks: Analisis Fungsi, Struktur, dan Kaidah serta
Langkah Penulisannya. Bandung: Yrama Widya.
Pardiyono. 2007. Pasti Bisa! Teaching Genre-Based Writing. Yogyakarta: Andi
Offset.
Ruswanti. 2021. Jenis Paragraf Eksplanasi Lengkap dengan Contohnya.
Diakses dari, https://www.harianhaluan.com/pendidikan/pr-
10973337/jenis-paragraf-eksplanasi-lengkap-dengan-
contohnya?page=all, pada tanggal 14 Desember 2021.
Sony. 2017. Simak Penjelasan Proses Terjadinya Hujan Beserta Gambarnya.
Diakses dari, https://www.infokekinian.com/wp-
content/uploads/2017/10/proses-terjadinya-hujan.jpg, pada tanggal
06 Desember 2021.
Tarigan, Robert. 2020. Kantor Hukum JLS Kecam Aksi Koboi Oleh
Sekelompok OTK di IGD RSU Kabanjahe. Diakses dari,
https://karosatuklik.com/wp-content/uploads/2020/11/Ilustrasi-aksi-
koboi-oleh-sekelompok-OTK-ke-ruang-IGD-RSU-Kabanjahe.jpg,
pada tanggal 06 Desember 2021.
Wella, Lazarus Sandya. 2021. Gerhana Bulan Sebagaian Terlama Akan
Menyambangi Indonesia Pada 19 November Mendatang. Diakses
dari, https://assets.pikiran-
rakyat.com/crop/0x0:0x0/x/photo/2021/11/17/3675511262.jpg, pada
tanggal 06 Desember 2021.
78