Wandering Witch Sejak masih anak-anak, Elaina sangat suka membaca buku petualangan. Buku-buku itu membuatnya ingin memulai perjalanannya sendiri untuk mengelilingi dunia dengan sapu terbangnya seperti yang ada di dalam buku. demi mewujudkan keinginannya itu, Elaina belajar dengan sangat giat untuk menjadi seorang penyihir. Di dalam kelas sekolah penyihir, 1902 Kriing… Kriiing… Kriiiing… Bel tanda istirahat berbunyi Siswa1: Elaina, bel istirahat sudah berbunyi ayo pergi ke taman dan bermain bersama. (Berjalan menghampiri Elaina bersama beberapa temannya yang lain) Siswa2: Benar, cuaca diluar sangat cerah. Pasti sangat menyenangkan bermain di luar. Elaina: … (Sibuk membaca buku di tempat duduknya) Siswa3: Elaina, kau dengar kami tidak? (Dengan suara lantang) Elaina: Eh? Maaf, kalian tadi bilang apa? Siswa1: Ah, kamu ini kebiasaan deh. Kamu membaca buku petualangan itu lagi? Elaina: Ini bukan buku petualangan biasa tahu. Ini buku yang ditulis oleh Nike, semua cerita perjalanannya menarik, sekali membacanya kau tidak akan bisa berhenti, setiap cerita punya nilai yang bisa kau ambil sehingga kau– Siswa2: Ingin ikut berpetualang juga, iya kan? Kami sudah hafal kata-katamu itu. (Memotong ucapan Elaina) Siswa3: Benar, kamu kan sangat menyukai karya Nike dan membacanya berulang-ulang. Jadi intinya kamu mau ikut kami bermain di luar tidak? Elaina: Maaf, sepertinya hari ini pun aku tidak bisa ikut bermain di luar bersama kalian. Aku harus belajar agar bisa cepat menjadi penyihir hebat dan lulus dari sekolah penyihir, kemudian melakukan perjalananku sendiri keliling dunia. Siswa2: Iya iya, kami sudah tahu kok kalau kau akan bilang begitu. Siswa1: Semangat deh, penyihir hebat masa depan. (Berjalan pergi keluar kelas bersama teman-temannya meninggalkan Elaina sendirian)
Dua tahun kemudian, ketika Elaina berusia 17 tahun ia menyelesaikan pendidikannya di sekolah sihir dan menjadi penyihir termuda yang lulus dari sekolah sihir karena umumnya penyihir yang lulus dari sekolah sihir berusia 20 tahun. Kota Erindle, 1904 Elaina: Akhirnya aku bisa memulai perjalanan pertamaku setelah lulus dari sekolah sihir. Ini adalah kota yang aku kunjungi pertama kali, aku tidak sabar melihat apa saja yang– (Berjalan sambil melihat pemandangan sekitar sehingga tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang) Seseorang: Aduh, sakit (Jatuh terduduk di jalan) Elaina: Maaf! Apa anda tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? (Mengulurkan tangannya) Seseorang: Tidak apa-apa, saya juga minta maaf. (Berdiri dengan bantuan Elaina) Elaina: Ah, biar saya bantu mengumpulkan barang-barang anda yang terjatuh (Jongkok untuk mengambil barang-barang yang terjatuh) Seseorang: Terima kasih. Elaina: Saya minta maaf sekali lagi. (Menyerahkan sisa barang yang terjatuh) Seseorang: Tidak apa-apa kok. (Berjalan meninggalkan Elaina) Elaina: Ahh, kota ini memang sangat indah. Aku terlalu terpaku sampai tidak sadar menabrak seseorang. Aku sudah melewati perjalanan panjang untuk sampai kesini, sepertinya lebih baik kalau aku mencari penginapan dan bermalam di kota ini. (Melanjutkan perjalanannya) Elaina: Tampaknya untuk menginap di kota ini aku perlu menunjukkan lencana penyihir. Hehehe, aku bisa tenang karena aku sudah memilikinya. Ini adalah bayaran atas kerja kerasku yang sudah belajar mati-matian untuk segera lulus dari sekolah penyihir. (Berjalan memasuki tempat penginapan) Resepsionis: Selamat sore, ada yang bisa saya bantu? Elaina: Ya, saya ingin memesan satu kamar untuk semalam. Resepsionis: …Maaf, sepertinya saya tidak bisa menyewakan kamar pada anda. Kelihatannya anda terlalu muda, apakah anda benar-benar seorang penyihir? (Dengan ragu-ragu)
Elaina: Tentu saja! apa kau tidak melihat lencanaku yang ada di– (Menyadari bahwa lencananya tidak ada di tempat ia menyematkannya) Resepsionis: Lencana apa yang sedang anda bicarakan? (Terheran menatap Elaina) Elaina: A-ah, aku benar-benar sudah memiliki lencana penyihir kok, aku ingat sekali menyematkannya disini. Apa aku menjatuhkannya di suatu tempat? Ah aku harus menemukan lencana penyihirku. (Berlari keluar penginapan dengan tergesa-gesa) Resepsionis: Haah, ternyata memang bukan penyihir ya? Elaina menelusuri jalan yang ia lalui namun tak dapat juga menemukan lencananya yang hilang. Malam telah tiba dan Elaina yang merasa sedikit putus asa memutuskan untuk mencari penginapan lain. Elaina: Permisi, apa aku bisa menyewa satu kamar disini untuk semalam? (Ragu-ragu bertanya) Resepsionis: Maaf kami tidak bisa menyewakan kamar padamu, kau bahkan tak punya lencana penyihir, bagaimana kami bisa tahu apakah kamu penyihir atau bukan? Elaina pergi ke penginapan-penginapan lain namun respons yang mereka berikan kurang lebih sama. Elaina: Haah, bagaimana ini? Aku sudah mengunjungi 6 penginapan di kota ini tapi mereka semua bilang tidak bisa menyewakan kamar padaku karena tidak percaya kalau aku ini penyihir. Penginapan di ujung jalan itu adalah penginapan ke-7 sekaligus penginapan terakhir di kota ini. Apa yang harus kulakukan kalau mereka juga tidak mau menyewakan kamar padaku? (Berjalan gontai menuju penginapan ke-7) Elaina: Permisi, tolong aku, apakah aku boleh menyewa salah satu kamar disini hanya untuk semalam? (Matanya membelalak melihat resepsionis penginapan) Resepsionis: Ah! Anda adalah orang yang menabrak saya tadi siang, benar kan? Tentu saja anda boleh menginap di sini. Omong-omong namaku Saya, selamat datang di penginapanku. (tersenyum ramah) Begitulah, Elaina akhirnya bermalam di penginapan itu. Keesokan paginya Elaina kembali menyusuri jalan-jalan yang dilaluinya untuk mencari lencananya yang hilang. Elaina: Padahal penginapannya sangat nyaman, pemiliknya juga baik. Ia mengijinkan aku menginap tanpa perlu menunjukkan lencanaku. Ia bahkan sama
sekali tidak menanyakannya. Itu sedikit aneh, mungkin dia benar-benar orang yang sangat baik. Sangat disayangkan, aku terpaksa berada di luar sejak pagi-pagi buta begini untuk menemukan lencanaku yang hilang. Bisa gawat kalau aku tidak segera menemukan lencanaku, bisa-bisa ada orang lain yang menemukannya lalu disalahgunakan. (Melihat ke sekeliling) Elaina: Aku sudah putus asa mencarinya, meskipun kemungkinannya kecil, sepertinya aku harus bertanya pada orang-orang disini. Elaina: Permisi Pak, saya ingin bertanya apakah bapak pernah melihat lencana yang terjatuh di sekitar sini? Pedagang Buah: Maaf…kau bilang apa? Lencana? Apa? Elaina: Benar, benda seperti lempengan tipis berbentuk lingkaran dan terbuat dari emas. Apa bapak pernah melihatnya mungkin terjatuh di sekitar sini? Pedagang Buah: Wah wah, apa kau bilang? Emas? Aku tidak melihat ada yang seperti itu, kalau aku menemukannya mungkin aku sekarang tidak ada disini berjualan. Elaina: Mmm… baiklah kalau anda tidak melihatnya, saya pergi dulu, terima kasih. (Pergi dengan setengah berlari) Pedagang Buah: Kasihan sekali dia, pasti rugi besar kehilangan benda seperti itu. Elaina: Permisi Bu, apa pernah melihat sebuah lencana terjatuh di sekitar sini? Penjual perhiasan: Lencana? Lencana apa yang kau maksud? Jangan-jangan yang kau maksud itu lencana penyihir ya? Elaina: Benar! Benar sekali! Apa anda pernah menemukannya? Penjual perhiasan: Ya, aku menemukannya, Elaina: Wah, syukurlah— Penjual perhiasan: 20 tahun yang lalu, sayangnya pemiliknya dapat langsung menyadari dan mengambilnya kembali. Apakah kau kehilangan lencanamu, nak? Wah, kalau aku yang menemukannya, aku pasti akan langsung pergi dari kota ini agar pemiliknya tak dapat mengambilnya kembali. Kemudian aku akan memalsukan identitasku dan— Elaina: Terima kasih, sekarang saya benar-benar harus pergi mencari lencana saya yang hilang! (Pergi dengan berlari) Penjual perhiasan: Semoga cepat ketemu ya!
Wanita paruh baya: Tunggu nak, apakah kau gadis yang kemarin menginap di penginapan kecil di ujung jalan sana? Elaina: Benar, itu aku. Ada apa ya? Wanita paruh baya: Apakah kau mengenal pemilik penginapan itu? Elaina: Yah, kami pernah tidak sengaja bertemu satu kali. Tapi cuma itu saja, memangnya ada apa? Wanita paruh baya: Aku rasa kamu perlu berhati-hati terhadapnya, aku melihat dia mengambil lencanamu yang terjatuh kemarin, mungkin dia sudah merencanakan sesuatu dan mencoba menjebakmu. Elaina:... (Terkejut dan segera berlari ke arah penginapan tanpa mengatakan apa-apa) Elaina membuka pintu penginapan kecil itu dengan tergesa-gesa dan segera menghampiri pemilik penginapan Elaina: Kau! Apakah benar kau yang mengambil lencanaku? (Bersuara lantang) Saya: Apa yang kau bicarakan? Aku tidak tahu apa maksudmu. Elaina: Kebohonganmu terlihat dengan jelas, katakan saja niatmu yang sebenarnya. Saya: Baiklah, aku memang bersalah, aku mengakuinya, aku yang mengambil lencana penyihirmu dan menyembunyikannya. Elaina: Sebenarnya kenapa kau melakukan itu? Saya: Disaat kita bertabrakan kemarin aku melihat lencanamu terjatuh dan aku mengambilnya. Awalnya aku ingin mengembalikannya padamu namun, setelah aku memikirkannya, aku merasa akan lebih baik jika aku menyimpannya karena aku sudah tau kalau orang yang bukan penyihir tidak akan di terima di penginapan manapun. Aku menyimpannya agar kamu datang ke penginapan ku dan memesan kamar. biasanya tidak banyak orang yg menginap disini dan ketika aku bertemu orang hebat sepertimu, setidaknya aku ingin berteman dengan mu. (Dengan suara pelan) Elaina: Tetap saja kau tidak boleh menggunakan itu sebagai alasan atas perbuatanmu yang tidak baik. Kau tahu kalau kau salah kan? Kau bisa saja
memintaku menginap di penginapanmu dengan terus terang saat kita bertemu kemarin. Saya: Aku tahu, aku benar-benar minta maaf. Ini lencanamu, sekali lagi aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku yang telah menyulitkanmu. Elaina: Yah, yang penting kau sudah menyadari kesalahanmu dan mengembalikan lencanaku. Sejujurnya aku bersyukur kau yang menemukannya. Oiya, aku mau kok jadi temanmu. Saya: Benarkah? Elaina: Tentu saja. Begitulah perjalanan Elaina akan terus berlanjut. Peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan yang terus datang rasanya sepadan dengan pelajaran yang ia dapat dan juga seorang teman baru. Bagian awal perjalanan telah berakhir, sedangkan awal lembaran baru menuju akhir cerita yang sesungguhnya sudah terbuka. Elaina akan selalu siap menghadapi apapun yang ada di balik halaman itu.