DISABILITAS BELAJAR : DISGRAFIA
Oleh: Nirwani Jumala (Widyaiswara BDK Aceh)
Email: [email protected]
ABSTRAK
Disabilitas belajar disgrafia merupakan salah satu jenis gangguan di dalam belajar
(learning disorder). Peserta didik dengan disgrafia bukanlah “anak bodoh, anak
malas, anak nakal”. Disgrafia adalah kesulitan khusus dimana peserta didik tidak
mampu menuliskan atau mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Mereka
tidak dapat menyusun kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya
(tangan) untuk menulis. Mereka dapat saja memiliki kemampuan luar biasa di bidang
lainnya yang tidak berhubungan dengan menulis. Guru harus yakin bahwa peserta
didik yang mengalami disgrafia bisa dibantu untuk membuat mereka mampu
menulis. Dengan mengidentifikas ciri-ciri dan gejala-gejala yang muncul pada
peserta didik yang mengalami disabilitas belajar disgrafia, penanganannya akan lebih
tepat. Oleh karena itu penting bagi guru untuk memahami hal-hal yang berhubungan
dengan disgrafia, seperti penyebabnya, cara mengindentifikasikannya dan cara
penanganan yang tepat.
Kata Kunci: Disgrafia, penyebab, karakteristik, penanganan
PENDAHULUAN
Menulis merupakan salah satu komponen sistem komunikasi untuk
menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang
bahasa grafis melalui untaian kata-kata yang bermakna. Kesulitan menulis akan
menjadi hambatan dalam proses belajar. Kesulitan menulis menyebabkan peserta
didik tidak mampu menuangkan dan mengemukakan ide dengan baik. Kemampuan
menulis pada dasarnya berhubungan dengan kemampuan motorik halus karena
menekankan pada kordinasi otot tangan dan jari atau kelenturan tangan yang bersifat
keterampilan.
Kegiatan menulis dasar sudah dapat mulai diajarkan pada saat seorang anak
menunjukkan dorongan menulis seperti mencoret-coret buku atau dinding. Kondisi
ini menunjukkan berfungsinya sel-sel otak yang perlu dirangsang supaya
berkembang secara optimal. Kemampuan menulis kadangkala tidak normal, karena
setiap anak memiliki karakteristik dan perbedaan individu, sehingga terdapat
disabilitas belajar pada ketika memasuki usia sekolah yang dikenal dengan istilah
disgrafia.
Disgrafia adalah ketidakmampuan dalam menulis, terlepas dari kemampuan
untuk membaca. Meskipun demikian disgrafia sering dikaitkan dengan kesulitan
belajar membaca atau disleksia (dyslexia), karena kedua jenis kesulitan tersebut
sesungguhnya saling terkait (Abdurrahman, 2009: 228).
Definisi tersebut dapat dipahami karena ada kaitan yang erat antara membaca
dengan menulis. Peserta didik yang mengalami kesulitan membaca umumnya juga
1
kesulitan dalam menulis. Disgrafia terjadi tidak hanya pada peserta didik yang masih
belajar di kelas rendah. Kadangkala peserta didik pada jenjang menengahpun tidak
mampu menulis dengan baik walaupun teman-teman seusianya sudah mampu untuk
menulis menulis dengan baik.
Secara umum, disgrafia menjadi salah satu masalah yang pasti dihadapi oleh
guru kelas terutama pada kelas 1 s/d kelas 5 Sekolah Dasar. Kondisi ini
menyebabkan guru kewalahan menanganinya dan cenderung memberi nilai rendah
pada peserta didik tersebut. Padahal peserta didik yang mengalami disgrafia belum
tentu dapat digolongkan sebagai anak yang bodoh. Dalam tulisan ini akan diuraikan
tentang disabilitas belajar yang dialami apeserta didik dalam bentuk disgrafia.
Rumusan Masalah
Seharusnya, setiap peserta didik mampu untuk menulis dengan benar, akan
tetapi sebagian peserta didik mengalami gangguan belajar disgrafia.. Disgrafi
terutama dialami oleh peserta didik kelas rendah, namun juga tidak menutup
kemungkinan dialami oleh peserta didik pada kelas lanjutan. Untuk merumuskan
masalah dalam penulisan ini, digunakan pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah cara mengidentifikasi peserta didik yang mengalami gangguan
belajar disgrafia.
2. Bagaimanakah cara mengajar menulis tahap permulaan?
3. Bagaimana cara penanganan peserta didik yang mengalami disgrafia bagi
guru kelas?
4. Apa saja kesalahan yang sering dilakukan dalam penanganan gangguan
belajar disgrafia?
Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk menguraikan cara mengidentifikasi, cara
mengajar dan penanganan peserta didik yang mengalami gangguan disgrafia,
terutama pada kelas menulis permulaan.
Manfaat Penulisan
Penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi guru dalam memahami gannguan
belajar disgrafi dan cara penanganannya yang tepat. Tulisan ini juga diharapkan
dapat memberikan pencerahan bagi orang tua, agar memahami pentingnya kerjasama
orang tua dengan guru dalam mengatasi gangguan belajar disgrafia pada anaknya.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Disgrafia
Menulis adalah suatu aktivitas kompleks yang mencakup gerakan lengan,
tangan, jari dan mata secara terintergrasi. Menulis juga terkait dengan pamahaman
bahasa dan kemampuan berbicara. Menulis merupakan penggambaran visual tentang
2
pikiran, perasaan, dan ide dengan menggunakan simbol–simbol sistem bahahsa
penulisnya untuk keperluan komunikasi dan mencatat (Santrock: 2012, 248).
Disgrafia adalah kesulitan dalam menuliskan atau mengekspresikan pikiran ke
dalam bentuk tulisan. Disgrafia umumnya dialami anak ketika mulai belajar menulis
tangan. Adapun kesulitan belajar menulis yang berat disebut juga agrafia
(Abdurrahhman, 1999:227).
Disgrafia sebagai kesulitan belajar yang ditandai dengan adanya kesulitan dalam
mengungkapkan pemikiran dalam komposisi tulisan. Pada umumnya, istilah
disgrafia digunakan untuk mendiskripsikan tulisan tangan yang sangat buruk. Anak-
anak yang mengalami disgrafia mungkin menulis dengan sangat pelan, hasil tulisan
mereka bisa jadi sangat tak terbaca, dan mereka mungkin melakukan banyak
kesalahan ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk memadukan bunyi dan
huruf. Anak yang mengalami disgrafia tidak mampu menyusun kata-kata dengan
baik dan tidak mampu mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk
menulis.
Gangguan Disgrafia
Anak-anak normal dan anak disgrafia secara fisik dan psikologis pada
umumnya sama. Perbedaaannya akan terdeteksi ketika dalam proses belajar di dalam
kelas, anak disgrafia terlihat sulit atau lambat dalam menulis. Disgrafia pada
umumnya tidak terkait dengan kemampuan lainnya. Anak-anak disgrafia bisa saja
normal dalam berbicara, dan normal dalam keterampilan motorik lainnya, tetapi
mengalami hambatan dalam menulis. Anak disgrafia ditandai dengan kesulitan
dalam membuat huruf (menulis) dan simbol matematis bahkan dapat ditandai dengan
adanya gangguan atau kesulitan dalam mengikuti satu atau lebih bentuk pengajaran
menulis dan keterampilan yang terkait dengan menulis, seperti mendengarkan,
berbicara, dan membaca. Dalam kondisi tertentu anak dengan disgrafia mengalami
hambatan dalam mengeja, miskin kosakata, kesulitan menuangkan pikiran untuk
dituliskan di atas kertas. Itu sebabnya maka anak-anak disgrafia perlu mendapat
bantuan secara khusus dalam belajar menulis.
Jenis-Jenis Disgrafia
Jenis-jenis kesulitan menulis yang muncul pada anak disgrafia adalah disleksia
dysgraphia, motor dysgraphia, dysgraphia spasial dan fonology dysgraphia.
Disleksia dysgraphia adalah bentuk disgrafia yang ditandai dengan tulisan tangan
anak tak terbaca, huruf, dan tanda baca yang dibuat anak salah. Motor dysgraphia
adalah disgrafia yang disebabkan karena kekurangan keterampilan motorik halus,
tidak tangkas, otot kaku, sehingga gerakan tangannya tampak “kikuk”. Jika diminta
untuk menulis memerlukan tenaga ekstra, bentuk tulisan sering miring karena
memegang objek penulisan salah, tetapi pemahamannya tentang ejaan tidak
terganggu .
3
Dysgraphia spasial adalah apabila anak mengalami gangguan dalam
pemahaman ruang. Dalam hal ini tulisan anak terbaca, anak bisa menyalin,
pemahaman ejaan normal, tetapi tulisannya sering berada di atas garis atau di bawah
garis, jarak antarkata juga tidak konsisten. Adapun apabila anak mengalami
gangguan fonologi, jenis ini umumnya diderita pada anak yang berbahasa asing yang
didalamnya terdapat perbedaan antara ejaan dan bunyi, maka disebut dengan
fonologi dysgraphia. Sedangkan leksikal dysgraphia hampir sama dengan disgrafia
fonologi, tetapi lebih terjadi pada kata-kata yang tidak sama antara ejaan dan
lafalnya, seperti pada bahasa Inggris dan Perancis.
Karakteristik dan Gejala Anak dengan Disgrafia
Beberapa karateristik anak dengan disgrafia sebagai berikut:
1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide,
pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang
alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu
memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan
proporsional.
8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan
yang sudah ada.
Disgrafia merupakan bagian dari anak berkebutuhan khusus, namun bukan
anak bodoh, malas belajar, anak nakal dan sebagainya. Anak-anak disgrafia sama
dengan anak normal lainnya, hanya mengalami hambatan dalam mengungkapkannya
dalam bentuk tulisan. Meskipun seorang anak mengalami disgrafia, tetapi tidak
menutup kemungkinan mampu berbicara dengan normal dan memiliki kemampuan
lain yang tidak berhubungan dengan menulis.
Gejala yang sering muncul pada anak disgrafia bermacam-macam. Secara lebih
spesifik Julie kendell dan Deanna Stefanyshyn menyebutkan gejala anak yang
mengalami disgrafia adalah:
1. Kemampuan verbal kuat tapi ketrampilan menulis kurang.
2. Banyak kesalahan tanda baca atau bahkan tidak menggunakan tanda baca sama
sekali.
3. Banyak melakukan kesalahan ejaan atau bisa juga jadi tulisan terbalik.
4. Ukuran huruf tidak teratur, berubah-ubah, besar kecil, tegak, miring.
5. Terjadi unfinished ( penghilangan huruf atau kata).
4
6. Terjadi ketidakkonsistenan dalam penggunaan halaman, spasi antar kata, antara
huruf dan penggunaan margin.
7. Ada kesalahan dalam memegang alat tulis.
8. Berbicara dengan diri sendiri saat menulis.
9. Ketika menulis atau menyalin sangat lambat.
Gejala yang disebutkan di atas, dapat muncul sebagian ataupun seluruhnya.
Apabila adanya gejala yang tersebut di atas, orang tua/guru dapat mengidentifikasi
untuk mengetahui penanganan selanjutnya, karena proses belajar menulis ini
melibatkan rentang waktu yang panjang. Anak dengan disgrafia biasanya sudah
dapat dideteksi sejak belajar di Sekolah Dasar yaitu ketika belajar membaca dan
menulis permulaan. Orang tua/guru harus segera mengidentifikasi kesulitan-kesulitan
yang muncul pada diri anak sehingga dapat menetapkan strategi pembelajaran
menulis yang sesuai.
Penyebab Disgrafia
Sebelum orang tua/guru memberikan bantuan belajar menulis, perlu
mengetahui penyebab dan karakteristik disgrafia. Hal ini dimaksudkan agar bantuan
belajar menulis dapat dilakukan sesuai dengan penyebab dan karakteristik masing-
masing anak disgrafia. Pada umumnya penyebab disgrafia tidak diketahui secara
pasti, namun apabila disgrafia terjadi secara tiba-tiba pada anak maupun orang
dewasa, dapat diduga bahwa penyebab disgrafia terjadi karena trauma kepala, baik
disebabkan oleh kecelakaan, penyakit, atau lainnya. Penyebab yang paling umum
adalah neurologis, yaitu adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang
berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Hal ini sesuai dengan
pendapat Lerner yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor menyebabkan
disgrafia, yaitu:
1. Gangguan motorik anak
2. Gangguan perilaku yang dialami anak
3. Gangguan persepsi pada anak
4. Gangguan memori
5. Gangguan tangan pada anak
6. Gangguan anak pada saat memahami intruksi
7. Gangguan kemampuan melaksanakan cross modal.
Di samping kemungkinan ada faktor keturunan, disgrafia dapat disebabkan
oleh kesalahan pada pembelajaran menulis permulaan. Kesalahan yang umumnya
terjadi ketika pembelajaran menulis dengan tangan (handwriting) terkait dengan cara
memegang pensil atau alat tulis. Kesulitan belajar menulis dengan tangan
(handwriting) disebabkan oleh faktor motorik, perilaku ketika menulis, persepsi,
memori atau ingatan, kemampuan cross modal, penggunaan tangan (kidal), dan
kelemahan dalam memahami instruksi. Dan mungkin juga karena gangguan
5
neorologis, yaitu berupa kurangnya kecakapan koordinasi mata dan tangan untuk
menulis huruf balok, menulis indah dan menulis besambung, dan membuat gambar.
PEMBAHASAN
Disgrafia adalah masalah yang sangat sering ditemukan pada peserta didik,
terutama pada kelas 1 Sekolah Dasar. Keterampilan dasar yang perlu dikembangkan
sebelum peserta didik memulai belajar menulis adalah memperkenalkan huruf pada
anak. Oleh karena itu sebelum diajarkan menulis permulaan penting dilakukan
ketrampilan pengendalian otot. Keterampilan ini dikembangkan melalui aktivitas
manipulasi gerakan, seperti memotong dengan gunting, menggambar dengan ujung
jari, menelusuri dan mewarnai.
Ketrampilan dasar dalam melakukan koordinasi mata dan tangan, juga penting
diperhatikan. Keterampilan ini dilakukan melalui kegitan menggambar lingkaran dan
bentuk geometri lainnya. Selain itu juga sangat penting mengawali pembelajaran
menulis dengan ketrampilan diskriminasi visual, yang dapat dilakukan dengan
latihan membedakan bentuk, ukuran dan warna.
Cara Mengidentifikasi Peserta Didik dengan Disgrafia
Hal yang sangat penting untuk dipahami oleh guru adalah mewaspadai bahwa
ada kemungkinan diantara peserta didik mengalami disgrafia. Sebelum guru
melakukan penanganan, memilih cara dan strategi yang tepat, perlu dilakukan
identifikasi jenis gangguan diantara ciri-ciri disgrafia yang muncul. Guru perlu
mengadakan pengamatan atau asesmen atas peserta didik tersebut untuk mengenali
gangguan yang terjadi. Guru perlu mengidentifikasi secara cermat atas semua gejala
yang muncul.
Berdasarkan hasil asesmen, selanjutnya guru dapat merencanakan strategi
belajar menulis yang tepat dengan tingkat atau jenis hambatan yang ada pada peserta
didik tersebut. Penanganan disgrafia secara dini akan lebih baik untuk menghindari
terjadinya kekecewaan, munculnya sikap pesimas dan frustasi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, secara fisik tidak terdapat perbedaan
antara peserta didik yang mengalami disgrafia dengan yang tidak mengalami
disgrafia. Guru dapat mendeteksi melalui uji kemampuan awal, diantaranya dengan
mengajukan pertanyaan “ siapa yang suka menulis?, siapa yang sudah mampu
menulis namanya sendiri?” atau membuat pernyataan “Yang suka menulis boleh
tunjuk tangan, atau yang sudah mampu menulis namanya sendiri, silakan tunjuk
tangan.”
Guru juga dapat mengidentifikasi peserta didik disgrafia dengan meminta
peserta didik menggunakan alat tulis dan menulis apa saja yang mereka inginkan.
Peserta didik yang mengalami disabilitas disgrafia secara psikologi juga dapat
ditunjukkan dengan adanya rasa cemas ketika guru memberikan pertanyaan atau
membuat pernyataan. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada peserta didik yang
mencoba berbohong dengan membuat pengakuan sudah mampu menulis. Namun
6
dalam kondisi ini, biasanya akan terlihat peserta didik tersebut salah tingkah, ketika
guru meminta untuk menunjukkan hasil tulisannya.
Tahap-tahap Belajar Menulis Permulaan
Sebelum membahas tentang tahap-tahap menulis permulaan, guru harus
memahami beberapa kesalahan yang sering dijumpai pada penulisan huruf balok dan
simbol matematika, yaitu:
1. Bentuk huruf/ simbol keliru atau bagian huruf/simbol hilang.
2. Posisi huruf/simbol terbalik.
3. Ukuran huruf/simbol tidak tepat.
4. Penulisan tidak tepat pada huruf yang berkaki (p,q,y,g,j) atau (P,Q,Y,G,J).
Kesalahan penulisan huruf adalah hal yang wajar ketika peserta didik belajar
menulis permulaan. Dalam belajar menulis permulaan peserta didik diarahkan untuk
mampu menulis huruf balok dan simbol matematika dengan tepat. Apabila terdapat
peserta didik yang menulis bersambung tidak berarti sebuah kesalahan awal.
Meskipun hal ini jarang terjadi dapat saja seorang peserta didik mengalami hal
seperti ini ketika belajar menulis permulaan. Menulis bersambung, sebaiknya
diajarkan setelah peserta didik mampu menulis huruf balok dan simbol matematika.
Dengan kata lain menulis bersambung diajarkan melalui tahap transisi, yaitu tahap
merubah tulisan balok ke tulisan bersambung.
Ada beberapa tahap yang dapat ditempuh guru dalam mengajarkan ketrampilan
menulis dasar yaitu tahap pra menulis, tahap menulis dan tahap transisi. Pada tahap
pra menulis yang harus dilakukan guru adalah:
1. Mengenalkan nama-nama alat tulis dan fungsinya.
2. Berlatih menggunakan alat tulis, misalnya dengan berlatih memegang pensil,
posisi duduk, dan jarak mata dengan buku. Pensil yang cocok digunakan
adalah pensil segitiga atau pencil grip (trigonal pencil). Posisi duduk tegak
tidak membungkuk dan tidak miring. Jarak mata dengan buku minimal 30 cm.
Apabila peserta didik sudah memahami dan mampu mempraktekkan kegiatan
pra menulis dengan baik, selanjutnya pada tahap menulis peserta didik berlatih
dengan kegiatan sebagai berikut:
1. Kegiatan menulis awal berupa mencorat coret buku dengan menggunakan
pensil.
2. Selain menggunakan pinsil anak juga bisa menggunakan spidol, kapur tulis dan
lainnya untuk menggambar dan mencorat-coret dengan bentuk lainnya seperti
membuat garis, dan lingkaran.
3. Peserta didik juga dapat dilatih menulis di udara, dan menulis di atas media
yang bertekstur (fingerpainting).
4. Peserta didik belajar menjiplak huruf. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan
menarik garis, membuat bentuk-bentuk bangun datar, menyambung titik,
menelusuri garis (tracing) dan menjiplak bentuk huruf. Kegiatan ini perlu
dilakukan secara terus menurus sampai berhasil dalam menulis huruf.
7
5. Khusus bagi peserta didik yang mengalami disgrafia, dalam belajar menulis
huruf balok/simbol matematika, aktifitas pembelajaran dilakukan dengan
melatih berbagi indra (multisensori). Peserta didik didampingi untuk melihat
cara menulis, sambil mendengar penjelasan guru tantang cara menulis. Peserta
didik dibantu untuk fokus dalam menelusuri contoh huruf. Tahap mengajar
yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
a. Guru menunjukkan huruf kemudian menyebutkan nama sambil
memperagakan cara menulis.
b. Peserta didik menelusuri huruf dengan pensil dan menyalin di kertas.
c. Berikutnya secara berangsur-anggsur huruf disajikan dengan tulisan tebal
kemudian ketebalan secara berangsur dikurangi, yaitu dengan mula-mula
huruf ditulis secara tebal, kemudian ditipiskan dengan bentuk titik-titik atau
garis putus-putus, atau huruf dengan titik pada bagian sudut saja.
d. Pada pengajaran menulis dengan huruf balok, jenis huruf yang terdiri dari
garis lurus vertikal dan horisontal diajarkan terlebih dahulu (E,F,H,L,I).
Adapun kegiatan yang dilakukan oleh guru pada tahap transisi, yaitu:
1. Guru mengawali dengan mengajar peserta didik menulis huruf balok atau
simbol matematika tunggal.
2. Setelah peserta didik mampu menulis huruf balok dengan tepat, anak diajarkan
menulis bersambung. Menulis bersambung yang sebenarnya adalah menulis
tanpa bantuan garis dan titik-titik untuk kemudian ditebalkan, tetapi menulis
dengan huruf-huruf untuk membentuk kata dan kalimat secara wajar. Langkah
belajar menulis bersambung adalah:
a. Huruf balok yang sudah mampu ditulis dengan tepat oleh peserta didik
dihubungkan dengan garis putus dengan pensil warna.
b. Peserta didik dibimbing menelusuri huruf balok dan garis penghubung.
Kegiatan ini diawali dengan huruf yang sederhana.
c. Setelah lancar dengan cara ini dilanjutkan dengan menulis bersambung
yang sebenarnya.
Belajar menulis tidak dapat diselesaikan dengan instans karena tidak semua
peserta didik memiliki kemampuan dan kecepatan yang sama dalam ketrampilan
menulis. Demikian juga hasilnya tidak semua anak mampu menulis dengan sangat
baik secara keseluruhan dalam waktu yang bersamaan. Namun demikian ketrampilan
menulis harus diasah dengan latihan menulis yang terus menerus.
Penanganan Peserta didik yang Mengalami Disgrafia Bagi Guru Kelas
Sebagaimana telah disebutkan di atas, secara umum penyebab disgrafia tidak
terkait dengan masalah kemampuan intelektual, kemalasan, asal-asalan dalam
menulis, dan bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena satu atau beberapa
gangguan. Penting untuk diingat bahwa guru tidak boleh memvonis bahwa peserta
8
didik yang berkesulitan menulis adalah anak yang malas dan boboh. Sebaliknya guru
harus berusaha membantu mereka agar dapat menulis seperti peserta didik yang
normal lainnya.
Peserta didik yang mengalami disgrafia tidak dapat dibiarkan belajar menulis
sendiri, mereka memerlukan bimbingan secara khusus. Seorang guru dapat
mengatasi kesulitan belajar menulis yang berkaitan dengan pengajaran menulis
permulaan atau handwriting dengan berbagai cara. Guru yang mengabaikan peserta
didik disgrafia apapun alasannya tidaklah tepat. Hal yang umum terjadi, demi tidak
mencapai ketuntasan materi pelajaran seringkali guru mengabaikan peserta didik
yang mengalami disgrafia. Kadangkala guru langsung menvonis peserta didik
dengan disgrafia adalah anak yang tidak mendapat perhatian orang tuanya di rumah.
Hal ini sangat keliru, karena disgrafia adalah salah satu jenis anak yang kebutuhan
khusus, meskipun tidak harus dipindahkan ke Sekolah Luar Biasa. Berikut akan
diuraikan beberapa langkah kegiatan remedial menulis untuk peserta didik yang
mengalami disgrafia.
Di awal pembelajaran guru harus menanamkan dalam dirinya sikap ikhlas,
sabar dan empati. Inilah kunci keberhasilan guru dalam mengatasi disabilitas belajar
bagi peserta didik disgrafia. Setiap peserta didik yang mengalami disgrafia,
sebenarnya mengalami tekanan dalam dirinya sendiri akibat kegagalannya tersebut.
Bahkan mereka dapat juga diliputi rasa takut, membayangkan akan diancam atau
dimarahi oleh guru, dipermalukan dihadapan teman-temannya atau membayangkan
kegagalan-kegagalan berikutnya yang justru membuat mereka semakin terpuruk.
Sangat penting bagi guru untuk memperhatikan tingkat kesulitan penulisan
huruf, maka seharusnya guru mulai mengajar menulis dari huruf yang paling mudah,
bukan dari abjad a. Dalam kegiatan bimbingan guru harus selalu menggunakan
bantuan verbal dengan kata dan kalimat yang mudah dimengerti dan memotivasi.
Guru dapat mulai membimbing dengan aktivitas menulis menggunakan papan tulis
artinya anak tidak menggunakan kertas dan pinsil untuk belajar menulis. Dalam hal
ini guru juga dapat memilih beberapa warna spidol agar lebih menarik dan memiliki
kesan khusus setelah proses belajar dialaminya. Apabila diperlukan guru dapat
menggunakan bahan lain untuk latihan gerakan menulis seperti menggunakan ranting
kecil di atas tanah. Hal ini sebaiknya dilakukan apabila guru mendeteksi perilaku
yang khas seperti peserta didik yang tidak mau duduk di dalam kelas dan tidak mau
menggunakan alat tulis.
Guru membimbing belajar menulis dengan memperhatikan dan mengatur
posisi peserta didik saat berhadapan dengan kertas. Sebaiknya, sebelum diminta
untuk menulis, guru mendemonstrasikan dan mengarahkan cara memegang pensil
yang tepat. Guru juga harus telaten dalam mengarahkan titik fokus terhadap gerakan
ujung pinsil di atas kertas. Guru benar-benar harus mengimplementasikan nilai
keikhlasan, kesabaran dan empati dalam kondisi seperti ini. Manusia kecil yang
disebut dengan anak penderita disgrafia tersebut sedang berusaha keluar dari
masalahnya. Dapat dibayangkan apabila pada saat itu peserta didik mengalami
kegagalan lalu guru meremehkannya, mengancamnya, mempermalukannya atau
9
membentaknya. Airmata kecil tergenang disudut matanya, luka perih tergores dalam
hatinya. Dia merasa gagal dan semakin kerdil dihadapan masalahnya. Satu
kesimpulan yang akan ditanamkan dalam pikirannya saat itu “ternyata aku memang
tidak bisa”.
Wahai para guru tolong berikan cintamu dan segenap kasihmu. Pada saat itu
yang harus dilakukan guru adalah sentuh hatinya, besarkan semangatnya. Wahai
guru, tidak ada salahnya jika saat itu peluk tubuh mungil itu, berikan ciuman lembut
katakan padanya “anak ibu/ bapak pasti bisa, kamu anak yang membanggakan, kamu
pasti akan hebat, tulisannmu akan menjadi tulisan yang paling indah yang ibu/bapak
pernah lihat, dsb”. Seandainya setelah itu si anak juga belum mampu menulis dengan
benar, tetapi tindakan anda wahai guru telah menjadi sesuatu yang luar biasa dalam
pembentukan karakter dan kepribadiannya. Boleh jadi dia tidak memiliki tulisan
yang indah seumur hidupnya, tetapi dia akan mewarisi keindahan kepribadianmu
seumur hidupnya, bahkan akan diwarisinya pula untuk generasi sesudahnya.
Pada kondisi tertentu, dimana peserta didik merasa jenuh dan bosan dengan
kegagalannya, guru dapat membimbing menulis dengan cara menjiplak,
menggunakan kertas stensil atau karbon. Hal ini dilakukan sebaiknya dipilih sebagai
strategi mengajar menulis, apabila peserta didik terlihat sulit dalam mengikuti
gerakan tangan yang diajarkan oleh guru. Apabila tindakan ini yang dipilih, guru
sebaiknya duduk disebelah kiri si anak, menyentuh badannya dan menginstruksikan
gerakan tangannya. Guru memuji setiap keberhasilannya dan memberi motivasi
untuk setiap kegagalannya dalam menulis. Tindakan yang keliru apabila kemudian
guru mengabaikan atau meninggalkannya. Apabila si anak tersebut sudah
menunjukkan perkembangan dalam kemampuan menulis, kegiatan menjiplak
sebaiknya mulai dikurangi.
Guru juga dapat memilih strategi membimbing dengan cara menggambar huruf
di antara dua garis atau menghubungkan titik-titik menjadi satu huruf. Alternatif lain,
guru dapat menggunakan buku bergaris tiga atau kertas dengan garis pembatas.
Dalam hal ini guru sebaiknya membimbing peserta didik dengan disgrafia secara
individu atau dalam kelompok kecil.
Strategi mengatasi gangguan disgrafia seperti di atas dapat dilakukan secara
bersamaan. Guru dengan penuh keikhlasan mempersiapkan alat-alat dan media
seperti papan tulis, pensil, kertas stensil, karbon, atau kertas buku biasa, dan buku
bergaris. Aktivitas belajar juga dapat dilakukan secara bersamaan, misalnya ketika
anak dilatih untuk menjiplak, guru telah menyediakan tulisan balok untuk dijiplak,
posisi duduk, cara memegang pensil dan cara menggores ketika menjiplak atau
menggambar tulisan dapat dilakukan dalam satu kegiatan. Kesabaran, ketelitian, dan
ketepatan dalam membimbing menjadi usaha yang sangat penting yang harus
dilakukan oleh guru.
Beberapa Kesalahan Penanganan Anak dengan Disabilitas Belajar Disgrafia
Guru dan orang tua sering dibuat frustasi oleh anak disgrafia. Hal ini terjadi
karena guru dan orang tua tidak memahami cara bersikap dan penanganan terhadap
10
anak disgrafia. Ketidakpahaman ini dapat membuat guru dan orang tua salah dalam
penanganan, bahkan kadangkala justru menambah masalah baru. Guru dan orang tua
seharusnya menyadari bahwa pada saat yang bersamaan bukan hanya mereka yang
mengalami frustasi, anakpun mengalami hal yang sama bahkan sangat tertekan
dengan kondisinya.
Ketika si anak mengalami disgrafia, kesalahan umum orang tua adalah
memberikan ultimatum dan ancaman. Tidak jarang orang tua memaksa anaknya
belajar ekstra dengan memanggil guru privat atau mengantarkannya ke tempat les
khusus menulis. Pada dasarnya tindakan mengadakan guru privat dan memberikan
les tidaklah salah, karena itulah langkah yang harus dilakukan apabila orang tua tidak
mampu melakukannya sendiri. Yang menjadi masalah adalah ambisi orang tua yang
melebihi kapasitas kemampuan anaknya. Berapa banyak anak yang berangkat les
dengan jeritan dan tangisan, atau dengan air mata tergenang di pelupuk mata. Ketika
ditinggalkan di tempat les mereka terus menatap langkah orang tua yang
meninggalkannya ditempat les. Bahkan sampai orang tua sudah tidak terlihat mereka
masih berdiri di tempat yang sama mengharapkan orang tuanya kembali ke tempat
les. Sebenarnya dalam kondisi sulit seperti ini yang mereka harapkan bukan guru les
yang hebat, tetapi orang tua yang memahami apa yang sedang mereka rasakan.
Orang tua hebat akan duduk menemani anaknya belajar pada guru les dengan ekpresi
harapan dan kebanggaan, bukan malah meremehkan, mengancam dan membanding-
bandingkannya dengan saudara atau teman-temannya.
Orang tua dan guru harus memahami bahwa bukan hanya mereka yang stres, si
anak juga mengalami frustasi dan tekanan. Oleh karena itu beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam penanganan anak dengan disgrafia adalah:
1. Pahami keadaan anak, bahwa mereka sebenarnya tidak menginginkan
disabilitas belajar disgrafia tersebut menjadi masalah dalam hidup mereka.
Mereka ingin seperti teman-teman lain yang hebat dan selalu mendapat pujian.
2. Anak disgrafia memang memiliki kesulitan dalam menulis. Guru dan orang tua
sebaiknya tidak membandingkan anak disgrafia dengan anak-anak lainnya.
Sikap suka membandingkan anak disgrafia dengan anak lain yang normal
hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak
merasa frustrasi dan stres.
3. Guru tidak memperlakukan anak-anak normal sama dengan anak disgrafia.
Anak-anak normal dapat diberikan tugas-tugas menulis, demikian juga dalam
hal tes kognitif, sebaiknya untuk anak disgrafia diberikan tugas secara lisan,
bukan secara tertulis. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan guru salah
memberikan penilaian. Guru harus ingat bahwa seorang anak yang mengalami
disgrafia belum tentu bodoh secara kognitif. Seringkali guru salah dalam hal
ini, anak yang mengalami disgrafia berimbas pada penilaian kognitif yang
buruk. Kondisi ini dapat memperparah kondisi kejiwaan anak, dan tentunya ini
bukan pendidikan humanis.
4. Berikan anak disgrafia motivasi untuk membangun rasa percaya diri, berikan
pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak, jangan sekali-kali
11
menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa
rendah diri dan frustrasi.
5. Kesabaran guru dan orang tua akan membuat anak tenang dan sabar terhadap
dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.
6. Berikan latihan menulis secara rutin, libatkan anak secara bertahap untuk
menyelesaikan masalahnya, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat
kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis.
7. Berikan kesempatan mereka untuk refresing, tidak memaksanya menulis huruf
balok dan simbol metematika terus menerus. Adakalanya anak tersebut
menyukai hal lain seperti membuat kerajinan tangan, menggambar dan
mewarnai.
8. Berikanlah tugas yang menarik dan yang diminatinya, seperti menulis surat
untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua,
dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis dan
membantu menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk
tulisan konkret.
9. Bagi peserta didik yang mengalami digrafia pada kelas yang lebih tinggi,
sebaiknya guru memberikan kesempatan kepada mereka menulis dalam bentuk
tulisan cetak. Izinkan mereka menggunakan komputer dalam belajar
menuangkan ide dan konsepnya. Jangan bersikap kaku dan arogan, ingat
mereka cerdas, jangan halangi kecerdasan mereka dengan kebuntuan cara
berfikir anda!.
Sikap dan cara penanganan yang ditawarkan di atas lebih mengarah pada
penciptaan suasana hati agar peserta didik tidak merasa rendah diri. Guru harus terus
berupaya membuat mereka termotivasi untuk belajar menulis. Bantu mereka agar
tidak frustasi. Jika orang tua dan guru sudah memahami hal ini, maka celaan
terhadap mereka sebagai “anak bodoh, anak malas, dan anak nakal”, apapun
alasannya tidak berlaku. Berilah jalan agar mereka belajar menulis secara
menyenangkan. Didiklah mereka menemukan kecerdasan dalam segala tindak tanduk
dan perilaku bijak pendidiknya yaitu orang tua di rumah dan guru di sekolah.
KESIMPULAN
Memberikan label “anak yang bodoh, anak yang malas belajar, anak yang
nakal” bagi peserta didik yang mengalami disgrafia adalah sebuah tindakan yang sangat
keliru. Sebenarnya peserta didik dengan gangguan belajar disgrafia sama dengan
peserta didik lain yang normal. Mereka memiliki ide, pikiran dan perasaan yang ingin
ditransfer ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja mereka mengalami hambatan dalam
mengungkapkannya ke dalam bentuk tulisan. Umumnya disgrafia disebabkan oleh
gangguan neurologis atau mengalami disharmonisasi antara kemampuan mengingat
dan menguasai gerakan otot dalam menulis huruf dan angka. Mereka merupakan
anak yang mengalami kesulitan dalam belajar (learning disorder). Guru harus yakin
12
bahwa mereka disgrafia dapat dibantu dalam hal menulis, dengan syarat guru
memiliki pengetahuan yang cukup tentang ciri-ciri dan gejala-gejala disgrafia. Guru
juga harus paham strategi pembelajaran menulis yang tepat, terutama ketrampilan
dasar menulis. Orang tua dan guru harus memahami dan bekerjasama dalam
penanganan disabilitas belajar disgrafia, agar kondisi si anak tidak semakin terpuruk.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, M. 1998. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta.
Azwandi, Y. 2007. Media Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus: Anak
dengan Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar.
Kendell, J dan Stefanyshyn, D. 2012. Supporting Written Output Challenges
with Learning Disabilities: Laporan Penelitian Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta:
Tidak Dipublikasikan
Lerner, Janet.W, 2000. Learning Disabilities. Edisi 9, Boston: Houghton
Mifflin Company.
Mangunsong, F. 2009. Psikologi & Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
(Jilid 1).
Santrock, John W. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humaika.
Suhartono, Pembelajaran Menulis Untuk Anak Disgrafia di Sekolah Dasar.
Jurnal Transformatika, Volume 12 , No. 1, Maret 2016 ISSN 0854-8412.
Tri Gunadi. 2009. 24 Gerakan Senam Otak Untuk Menciptakan Kecerdasan
Anak. Jakarta: Penebar Plus.
13