The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tonya.abigail.174, 2021-12-01 04:12:14

Cerpen

Cerpen

Kesan dan Pesan dari
Pembaca

Cerita ini singkat tetapi cukup menarik. Ide
ceritanya tidak terlalu rumit namun juga unik.
Dalam cerita ini, saya mendapat pesan moral
bahwa janganlah merampok rumah orang
jahat.

Jimmy Tongam Amerson Ambarita

Pramenulis

Topik: Gelombang Bunyi (Petualangan)
Tujuan: Saya ingin mengingatkan pembaca bahwa tindakan kita memiliki
konsekuensi, dan kita harus berpikir cerdas dan di luar kotak dalam situasi
berbahaya.
Pembaca: Umur 13+
Ide: Ada tiga perampok yang ditugaskan untuk merampok suatu rumah. Rumah
ini terlihat tua, berkarat, tetapi sangat besar. Segera mereka mengetahui bahwa
pemilik rumah ini adalah seorang lelaki tua yang tampak sakit, yang mereka
anggap remeh. Ternyata orang ini sangat sakit, tapi sangat pintar, jahat juga gila.
Mereka masih bertekad untuk merampok suatu kotak/benda dari rumah tersebut,
berdasarkan apa yang diperintahkan bos mereka (karena bayarannya pun sangat
tinggi), tetapi akhirnya mereka menyerah dan lari setelah menemukan kebenaran
yang mengerikan dari pria itu. Pria itu tidak membiarkan mereka pergi begitu
saja, dia ingin mereka membayar dan mendapatkan konsekuensinya. Jadi,
dengan seluruh kekuatan dan kecerdasan mereka, mereka mencoba untuk
melarikan diri dari rumah serta pria yang mengerikan itu.

Draf (Alur Maju)

Awal: Ada tiga perampok (CJ, Bety, dan Mike) yang diperintahkan untuk pergi
merampok suatu rumah yang besar yang terlihat tua dan berkarat, serta mereka
diberikan sebuah peta rumit yang di luar dari biasa.
Permulaan Konflik: Mereka pun memasuki rumah itu dan menemukan bahwa ada
banyak ruangan yang terlihat seperti sebuah labirin atau semacamnya. Di dalam
ruangan-ruangan tersebut mereka menemui beberapa tantangan untuk menuju kepada
ruangan sasaran mereka.
Klimaks: Mereka akhirnya tertangkap oleh seorang lelaki tua yang berada di kursi
roda. Salah satu cara untuk menjaga dirinya (orang tua tersebut) aman adalah
disebabkan rumah tersebut diatur sedemikian rupa sehingga dia bisa mendengar
setiap suara dari semua bagian rumah di dalam kamarnya. Tapi, para perampok
masih sangat bertekad untuk merampok barang tertentu yang telah diperintahkan
bosnya. Kemudian, mereka menemukan kebenaran yang mengerikan tentang orang
tua ini, dan saat itulah mereka memutuskan untuk balik keluar.
Antiklimaks: Dengan beberapa keberhasilan dan kesalahan, mereka akhirnya
melarikan diri dari lelaki tua itu dengan menghasilkan suara yang sangat keras dan
nada tinggi yang dapat merusak telinganya dan membuatnya pingsan.
Penyelesaian: Pada akhirnya, semuanya mendapatkan konsekuensi yang pantas
mereka terima, dan mereka pun mendapat sebuah pelajaran dari seluruh pengalaman
ini.

Tutup Mulutmu!
Oleh : Tonya Abigail Ambarita

Kring... kring… kring...
CJ berguling dari tempat tidurnya, mengangkat telepon dan bertanya, “Halo?”
“Ini Beta. Bos telah mengirimkan informasi serta sebuah peta tentang rumah

berikutnya.” balas Beta, temannya.
“Oh baik. Apakah Mike sudah mengetahuinya?” tanya CJ.
“Yak. Besok tolong ke rumahku untuk merencanakan semua ini.”
“Siap, Bos.” kata CJ bercanda.

Di rumah Beta, mereka mulai merencanakan cara untuk merampok satu rumah
ini, tetapi mereka pun sangat bingung dengan peta yang telah dikirim,

“Kenapa pula dikasih peta? Emangnya besar rumahnya?” tanya Mike.
“Ya iya lah, Pintar. Punya matakah kamu?” jawab Beta.
“Sudah, tenanglah kalian. Kita selesaikan saja rencana ini, biar cepat siap
semuanya.” ujar CJ.
“Mengapa kita perlu merampok yang satu ini? Terlihat begitu besar dan rumit,
lihat jumlah kamar yang dimilikinya.” keluh Mike.
“Ucapkan selamat tinggal pada 30 miliar rupiah kalau begitu.” jawab Beta.
“Tunggu, tunggu, tunggu, apa?” Mike bertanya sambil terlihat tercengang.
“Sudahlah, semakin cepat kita menyelesaikan ini akan semakin baik.” jawab CJ
dengan kesal.

Setelah mereka menyelesaikan rencana tersebut, mereka pulang ke kehidupan
mereka yang menyedihkan dan harus menjalani kenyataan bahwa mereka memiliki
pekerjaan rahasia dan buruk yaitu menjadi seorang perampok. Tak satupun dari mereka
menginginkan pekerjaan ini, tetapi mereka berpikir bahwa mereka tidak punya pilihan
lain.

Keesokan harinya, mereka sampai di rumah tujuan mereka dan melihat rumah tua
yang mengerikan di dalam hutan yang gelap,

“Ini lebih tua dan buruk dari gambarnya, sejujurnya aku ragu jika ini rumah yang
tepat.” bisik Beta.

“Tetapi sih rumah ini sangat besar, mungkin rumahnya menyembunyikan sesuatu,
begitu juga dengan pemiliknya. Tetapi, kita hanya perlu mengambil kotak kulit besar
itu kan?” tanya CJ.

“Wah, sejujurnya mirip seperti rumah hantu di film yang kita tonton minggu lalu.
Ohh dan bukankah itu replika patung Belgia 1985? De Vaartkapoen? Biar kuberitahu
kalian bahwa orang ini punya selera humor.” kata Mike sambil mendekati patung itu.

“Apa hubungannya dengan perampokan ini? Bahkan tidak lucu pun sama sekali.”
jawab Beta dengan kesal.

“Sudah, ayolah! Semua alatnya sudah dibawakan? Coba cek sekali lagi.” perintah
CJ.

“Sudah dicek 10 kali loh, lengkapnya tuh.” Mike menghela nafasnya.
“Sekali lagi lah, nanti tiba-tiba ada yang terlupakan seperti yang beberapa bulan
lalu.”
“Ya sudah, Bosku.” kata Mike bercanda.
Beta bertanya, “Tetapi, mengapa hanya dikirimkan peta rumah ini dan bukan
informasi tentang pemiliknya? Jika Bos tahu isi dari rumah ini, kenapa Dia tidak
memberikan detail tentang pemiliknya? Itu kan akan membantu kita.”
“Aku juga heran, tetapi entahlah.” jawab CJ.

Setelah memastikan segala alat dan rencananya, mereka dengan hati-hati masuk
ke dalam rumah dengan membuat sebuah lubang. Ketika mereka sampai di rumahnya,
rumah tersebut sudah gelap, tetapi mereka masih bisa melihat keanehannya,

Mike berbisik dengan heran, “Rumah ini kok bersih dan lebih rapi dari pada
luarnya.”

“Jangan khawatir tentang itu, khawatirlah bahwa posisi kamar berbeda dari peta
itu sendiri.” balas CJ.

“Oh iya ya.”
“Apakah Bos telah mengirim peta yang salah? Oh ini tidak mungkin terjadi.” keluh
Beta.

Sebelum mereka dapat mengucapkan satu kata pun, pemilik rumah tersebut
berteriak, “Siapa itu?! Siapa lagi kalian?!”

Mendengar itu mereka semua pun sangat ketakutan, mereka telah tertangkap.
Tetapi, mereka melihat jendela kaca yang mempertunjukan kamar pemiliknya. Hal
tersebut sangat aneh tetapi ada pula di beberapa bagian dari rumah tersebut. Mereka
melihat orang tua yang sakit ini, di sampingnya pun ada sebuah kursi roda,

“Kalian tidak usah takut, pria ini terlihat sangat tua dan sakit.” bisik CJ.
“Ya, bahkan tidak terlihat seperti dia bisa menggerakkan satu otot pun.” ujar
Mike.

Beta memiliki ide yang mengkhawatirkan dan berkata, “Kita berpisah saja
supaya tidak ditangkap bersamaan dan jika ada yang mendapatkan cara yang tepat,
tinggal diberitahukan saja.”

Mereka semua segera setuju dan pergi sendiri ke pintu yang berbeda. Tetapi,
mereka dengan cepat menemukan sesuatu yang aneh bahwa beberapa pintu tidak
mengarah ke mana

pun, seperti labirin. Beberapa juga memiliki jebakan seperti sesuatu yang membuat
mereka terpeleset dan jatuh. Beberapa kamar juga memiliki pintu yang memiliki
kunci yang tersembunyi.

Suatu kali ketika CJ sedang mencari kunci pintu, dia menemukan sesuatu
yang membawanya pada kebingungan dan teror. Dia menemukan surat dan berita
tentang lelaki tua yang dia lihat, pemilik rumah tersebut. Dia melihat beberapa surat
yang saling berkiriman antara pria itu dan bosnya, yang terjadi bertahun-tahun lalu
bahkan sebelum dia lahir. Hal ini tentu saja membangkitkan minat dan rasa ingin
tahunya. Ternyata saat itu, mereka adalah rekan kerja di suatu laboratorium gila.
Laboratorium ini menciptakan hal yang berada di luar apa yang dapat dipikirkan
oleh otak manusia, dan penemuan tersebut digunakan untuk melakukan perbuatan
jahat, seperti mencuri, membom, membunuh, dan hal buruk lainnya. Tetapi, pemilik
rumah ini bernama Yudi Reno Aris telah mengkhianati mereka dan mencuri
penemuan tersebut yang dibuat bersama oleh semua ilmuwan laboratoriumnya.
Yudi menggunakan benda itu untuk membunuh orang tak bersalah, anak-anak,
bayi, binatang apapun dengan cara memanipulasi mereka. Dalam berita,
penghilangan dan pembunuhan itu sama sekali tidak diketahui, tidak ada satu
kalimat pun dalam surat yang menjelaskan bagaimana dia melakukan semua itu.
Tapi, bos CJ ingin hal ini untuk berhenti, jadi dia berusaha sekuat mungkin untuk
menangkap Yudi, tetapi tetap tidak berhasil. Namun, menyebabkan Yudi terluka
dan sakit parah. Tidak semua informasi diceritakan dalam file-file tersebut, tetapi
cukup untuk membuat CJ dalam ketakutan.

“Aaaah!” jeritan keras yang bernada tinggi datang dari ruangan lain.
“A- ada- ada kerangka-kerangka manusia di dalam ruang- ruangan tanah!” jerit
Beta dengan teror.
“Hah? Ada apa?” tanya CJ sambil menenangkannya.

“Aku menemukan pintu ini yang mengarah ke ruang bawah tanah dan
menemukan kamar yang menjijikkan penuh dengan kerangka manusia.” jawab
Beta, mencoba bersikap lebih tenang.

“Wahh aku juga menemukan beberapa file tentang pria ini dan juga Bos kita.”
“Hah? Bos kita?” tanya Mike dengan heran.

CJ pula menjelaskan semuanya kepada mereka, tentang apa yang dia temukan
dan informasinya dengan sangat singkat.

“Ya ampun, sebenarnya itu menjelaskan banyak hal. Lebih baik kita segera
pergi dari sini!” teriak Mike.

Tiba-tiba, teriakan keras datang dari ruang utama, "Oh tidak secepat itu,
Anak-anak! Aku sudah mendengar semua perkataan dan temuan kalian, dan kalian
tidak akan pergi kemana-mana. Bukankah orang tua kalian pernah memberitahu
bahwa tindakan-tindakan kalian selalu mempunyai suatu konsekuensi?"

“Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku, Bapak tua!” teriak Mike, sekuat-
kuatnya.

“Ah! Si Beno, Bos kalian tidak pernah menyerah, ya? Aku telah melihat ini
terjadi terlalu sering.” kata Yudi dengan senyuman di wajahnya.

Mereka semua mencoba keluar dari kamar itu, tetapi kemudian menyadari
bahwa semua bagian dari rumah kecuali kamar Yudi itu terkunci. Senjata apa pun
yang mereka gunakan untuk membukanya atau melubanginya tidak berhasil.

Mereka pun mendengar pria itu perlahan-lahan mengambil sebuah senjata
dengan santai seperti dia telah melakukan ini seribu kali. Ketiganya mereka mulai
panik, berpikir bahwa mereka akan mati seperti ini. Tapi, kemudian Mike, dari
semua orang, mempunyai sebuah ide.

“Sebenarnya aku tahu bagaimana ini bekerja.” dia berbisik sangat pelan
sehingga mereka hampir tidak bisa mendengarnya.

“Maksudmu apa, Mike?” tanya CJ.
“Dindingnya memperkuat suara dari ruangan tersebut dan suara itu secara
khusus memantul ke kamar Yudi ini. Aku sih pernah membaca tentang bagaimana
Richard Sean membangunnya. Aku yakin itu adalah hal yang sama dengan ini.”
jawab Mike.
“Bagaimana kamu tahu hal-hal atau fakta aneh seperti ini ketika kamu bahkan
tidak tahu akar kuadrat dasar?” tanya Beta dengan kesal.
“Kenapa kamu marah? Mari kita gunakan informasi ini untuk mengeluarkan
diri kita dari sini dari pada membuang waktu kita.” bisik CJ.
“Ya, tapi bagaimana?”

Segera mereka pun mendengar lebih banyak gerakan dari kamar tidur utama,
mereka mulai berpikir lebih keras.

Dengan suara paling samar, Beta berbisik kepada mereka, “Aku punya ide.
Karena tembok ini bisa memperkuat suara, mari kita berteriak sekeras mungkin,
melebihi kemampuan manusia. Pukul tembok, gunakan senjata kalian, buat suara
yang paling keras sehingga suara tersebut mungkin bisa membunuhnya.”

Saran itu bertentangan dengan suara volumenya, dan tanpa pertanyaan, mereka
berteriak. Mereka berteriak sangat keras bahkan tidak terdengar seperti manusia.
Ratapan mereka bahkan selaras, seperti paduan suara teriakan. Semua teriakan itu
bahkan merusak telinga satu sama lain, tetapi mereka tidak peduli, ini semua untuk
keluar hidup-hidup. Berteriak sambil memukul dinding, menggesek pisau, dan
menembak kemana-mana.

Hanya beberapa detik kemudian, teriakan keras yang selaras dengan yang lain
datang dari kamar tidur, “AAAHHH!”

“Hentikan itu, tolong! Aaaahh!” Dia terus berteriak dan berteriak sampai
thump teriakan itu berhenti.

Setelah mereka melanjutkan teriakannya, lalu mengakhirinya, mereka pun
menyadari bahwa pria itu mungkin pingsan ataupun mati. Tetapi mereka tidak
berbicara sepatah kata pun, mereka sangat lelah sehingga mereka hampir tidak
bisa bernapas. Kemudian, mereka pingsan.

“Aduh, di mana saya?” CJ membuka matanya, melihat ruangan putih di
sekelilingnya.

“Oh, Bapak sudah bangun. Anda sekarang sedang berada di rumah sakit.
Kami menemukan Anda dengan tiga orang lain di dalam rumah ini,” pria
berpenampilan formal itu menunjukkan foto rumahnya.

“Apakah Anda mengingatnya?”
“Iya, Pak.” balas CJ.

“Baik. Sebentar lagi saya ingin Anda menjawab beberapa pertanyaan,
apakah itu baik-baik saja?

“Ya, Pak.”

Ternyata Yudi hanya saja pingsan, tetapi telinganya rusak total yang
berujung pada gangguan pendengaran permanen. Dia juga dikirim ke hukuman
mati dari semua perbuatan yang telah dia lakukan. CJ, Beta, dan Mike juga
tidak pergi tanpa hukuman. Mereka masing-masing mendapatkan beberapa
tahun di dalam penjara untuk semua perampokan yang telah mereka lakukan.
Tetapi adapun satu hal yang pasti, yaitu adalah bahwa mereka telah
mendapatkan sebuah pelajaran besar dari kejadian ini.

Tiga perampok ditugaskan untuk merampok sebuah
rumah aneh dan luar dari biasa. Tanpa meriset lebih
dalam, mereka pergi ke rumah tersebut dan
menghadapi hal yang tak terduga. Segera, mereka
mengetahui pemilik rumah seputar kebenaran
mengejutkannya. Akhirnya mereka pula menyerah,
tetapi pria itu tidak membiarkan mereka pergi begitu
saja, dia ingin mereka membayar dan mendapatkan
konsekuensinya. Akankah mereka mendapatkan
rencana yang tepat pada waktu yang tepat? Atau semua
itu hanya akan menempatkan mereka dalam nasib
mereka?


Click to View FlipBook Version