GENDIS SEWU BERKARYA
MISTERI HOTEL TUA
Antologi Cerita Pendek
Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya
Bekerja Sama dengan SDN Baratajaya Surabaya
MISTERI HOTEL TUA
Penulis : I Putu Dwi Suryananta
D.P.W., Matthew Ernesto, Nur
Aqilla, dkk.
Desain Sampul : Salsabila Anjar Firhani
Penyunting : Nesa Karina, Rr. Ika
Widiastutik, Salsabila Anjar F,
dan Sapto Wicaksono
Penyunting Akhir : Faradila Elifin Malidin, Vivi
Sulviana, Ayu Dewi A.S.N.,
Rici Alric K, dan Vegasari
Yuniati
Diterbitkan pada tahun 2022 oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Jalan Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas
partisipasi yang telah diberikan dalam melahirkan
1000 Penulis dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji selalu kami panjatkan
kepada Allah SWT atas rida-Nya sehingga mampu
menyelesaikan buku ini sebagai bentuk apresiasi
kepada para bibit penulis SDN Baratajaya
Surabaya mengikuti Gerakan Melahirkan 1000
Penulis Dan 1000 Pendongeng (Gendis Sewu)
dengan baik dan lancar.
Pada penyusunan buku ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
terkait yang ikut andil menyukseskan, membantu,
mengarahkan, dan membimbing kami.
Kami menghaturkan terima kasih kepada:
1. Mia Santi Dewi, SH, M.Si selaku Kepala
Dinas dan Perpustakaan Kota Surabaya
2. Sjam Lahardo, S.Pd, M.M.Pd selaku Kepala
SDN Baratajaya Surabaya
3. Yayuk Uswatul Chasanah, S.Pd selaku
Kepala Perpustakaan dan guru SDN
Baratajaya Surabaya
4. Para bibit penulis Gendis sewu SDN
Baratajaya Surabaya
5. Kapten Tim Penulis
6. Editor Tim Penulis
a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan
Gubeng
b. Editor Area Wilayah Timur
7. Segenap petugas Dinas Perpustakaan Kota
Surabaya
8. Siswa-siswi SDN Baratajaya Surabaya
Buku ini tidak luput dari kekurangan dan
kesalahan. Jika pembaca menemukan kesalahan
apapun, penulis mohon maaf setulusnya. Selalu
ada kesempatan untuk memperbaiki setiap
kesalahan, karena itu, dukungan berupa kritik &
saran akan selalu penulis terima dengan tangan
terbuka.
Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna dan
masih ada kekurangan maka kami mengharap kritik
dan saran yang bisa membangun dari pembaca
buku ini.
Semoga buku ini menjadi manfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya
di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia umumnya.
Surabaya, 2022
Petugas TBM se-Kecamatan Gubeng
KATA SAMBUTAN
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayat-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam
membangun Kota Surabaya yang kita cintai.
Kita patut bangga dan memberi apresiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota
Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya
tulis yang berjudul Misteri Hotel Tua.
Buku para bibit penulis Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.
Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi
untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai
kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata,
semoga buku berkarya Gendis Sewu berkarya
dengan judul Misteri Hotel Tua bermanfaat bagi
semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis
Sewu.
Surabaya, 2022
Kepala Dinas Perpustakaan dan kearsipan
Kota Surabaya,
Mia Santi Dewi, SH, M.Si
SEKAPUR SIRIH
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya
dengan kemurahan Allah SWT, kami dapat
menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis
Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah
buku antologi cerpen dengan judul Misteri Hotel
Tua.
Buku ini merupakan antologi cerpen
kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Baratajaya
Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan delapan
karya tulis cerpen pendampingan petugas se-
Kecamatan Gubeng yang diselenggarakan oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya.
Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas.
Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi
Masyarakat memberikan layanan literasi yang di
dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara
lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman
Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi.
Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas
berjenjang dari mulai kelas reguler Taman Kalimas
di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan
mendapat reward naik ke kelas khusus minat dan
bakat setelah itu karyanya akan dIbuat dan
dipublikasikan.
Saya mengapresiasi kepada para bibit
penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat
literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain
membaca juga mampu menulis.
Saya juga mengucapkan terima kasih
kepada Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis
Dispusip yang terdiri dari dari para tutor kelas
reguler di tingkat kecamatan, para editor area
(Dira), dan para penyunting akhir hingga buku ini
terselesaikan secara baik.
Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para petugas TBM se-Kecamatan Gubeng yang
berkolaborasi dengan SDN Baratajaya Surabaya.
Membangun kota maka perlu disertai
‘membangun’ manusia di dalamnya. Tentu tidaklah
mudah, karena awal membangun sering kali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus ‘membangun’ karena
‘membangun’ manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.
Surabaya, 2022
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
Dani Arijanti, SE, M.Si
DAFTAR ISI 1
5
Gua yang Aneh 10
Gadis Kecil Misterius 14
Tangisan di Rumah Kosong 18
Wanita Misterius 24
Desa Misterius 32
Misteri Harga Buku 36
Misteri Hotel Tua
Ruang Bawah Tanah
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh
GUA YANG ANEH
Oleh I Putu Dwi Suryananta D.P.W.
Pada suatu hari, ada empat orang yang sedang
bertualang. Mereka adalah Joni, Bagas, Andre, dan
Nia. Mereka bertualang di tengah hutan yang lebat.
Di tengah-tengah petualangan, mereka beristirahat
sejenak. Bagas pergi untuk buang air kecil. Setelah
menunggu sekian lama dia tidak kunjung kembali.
Andre berkata, “Ke mana si Bagas pergi,
kenapa lama sekali tidak kembali?”
“Kita cari saja,” jawab Nia.
Akhirnya mereka pun mencari Bagas
dengan cara mengikuti jejak kakinya. Setelah lama
mencari, mereka menemukan Bagas yang sedang
memandangi sebuah gua. Muncullah sifat iseng
Andre dan dia menjahili Bagas dengan cara
mengagetkannya.
Andre, Joni, dan Nia bertanya kepada Bagas,
“Bagaimana kamu bisa disini?”
“Aku mendengarkan suara rumput yang
bergoyang,” jawab Bagas.
1
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh
Kemudian Andre pun berkata, “Gua apa ini?
Ayo kita telusuri gua ini!”
“Jangan dulu, kita belum menyiapkan alat
untuk menelusuri gua,” jawab Bagas.
Namun, Andre ngotot untuk menelusuri gua
itu. Mereka pun bersitegang, untung saja ada Nia
yang melerai dan akhirnya mereka sepakat untuk
datang untuk menelusuri gua itu dua minggu lagi.
Kemudian mereka memberikan tanda pada gua itu
agar memudahkan mereka untuk mencarinya.
Dua minggu kemudian mereka kembali untuk
mencari gua tersebut. Namun, setelah sampai di
lokasi mereka semua kaget karena gua tersebut
sudah tidak ada lagi. Hanya tersisa tanda yang
mereka buat dahulu.
“Ke mana gua itu? Kenapa menghilang?”
tanya Bagas.
“Seharusnya dua minggu lalu kita menelusuri
gua ini,” sahut Andre.
“Tapi kita belum menyiapkan alat untuk
menelusuri gua,” jawab Bagas.
2
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh
Mereka berdua pun kembali bersitegang dan
Nia kembali melerainya. Akhirnya mereka
memutuskan untuk kembali pulang.
Satu tahun kemudian, karena masih
penasaran, Joni menghubungi ketiga temannya
untuk mencoba melihat kembali gua itu. Akhirnya
mereka kembali mencari gua yang aneh itu. Secara
mengejutkan mereka berhasil menemukan gua itu
dan bergegas untuk menelusurinya. Di dalam gua
mereka menemukan sebuah lubang kecil yang
hanya bisa dimasuki oleh satu orang saja. Mereka
memutuskan Joni yang akan masuk untuk
memeriksa lubang tersebut. Kemudian mereka
memasang tali sebagai alat untuk turun dan naik
saat kembali. Mereka membekali Joni dengan
Handy Talkie (HT) untuk berkomunikasi.
Setelah itu Joni pun perlahan-lahan
menuruni lubang tersebut. Setelah beberapa lama,
mereka mencoba menghubungi Joni melalui HT,
tetapi tidak ada jawaban. Berjam-jam mereka
menunggu kabar dari Joni sambil mendirikan tenda,
3
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh
tetapi masih tidak ada kabar dari Joni. Dua hari
berlalu Joni masih belum kembali.
“Kenapa Joni tidak kunjung kembali dan
tidak menghubungi kita?” ucap Nia
Akhirnya Nia memutuskan untuk menyusul
Joni. Nia pun turun untuk mencari Joni, tetapi sama
seperti Joni, Nia juga tidak bisa dihubungi. Bagas
dan Andre memeriksa lubang tersebut dari atas.
Andre menyuruh Bagas untuk turun memeriksa,
tetapi Bagas tidak menyadari Joni dan Nia belum
kembali sampai sekarang.
Mereka kembali bersitegang, dengan tidak
sengaja Andre mendorong Bagas hingga terjatuh
ke dalam lubang tersebut. Namun, Bagas dengan
cepat meraih tangan Andre dan menariknya hingga
mereka berdua terjatuh ke dalam lubang tersebut.
Akhirnya keempat orang petualang tersebut
menghilang dan sampai sekarang tidak ada yang
mengetahui di mana letak gua tersebut dan ada
apa di dalam lubang tersebut.
4
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius
GADIS KECIL MISTERIUS
Oleh Matthew Ernesto Utomo
Seperti biasa di bulan Desember, aku sibuk dengan
kegiatan Natal. Sore itu terdengar suara alunan
lagu Natal dari kejauhan ditemani riuhnya gerimis
hujan. Aku dan teman-teman Sekolah Minggu
sedang berlatih untuk persiapan acara Natal. Kami
semua berlatih dengan giat karena tinggal
beberapa hari lagi.
Lampu padam di saat aku dan teman-teman
sedang berlatih menari, dengan terpaksa kami
sudahi latihan hari itu. Bersamaan dengan hujan
deras, kami menunggu dijemput orang tua masing-
masing. Tibalah saatnya temanku, Yeni dijemput
adiknya yang masih kecil. Adiknya berani
menjemput kakaknya sendirian sambil membawa
payung di tengah derasnya hujan menjelang malam
itu.
Saat kusapa Tia, dia diam saja tanpa
ekspresi. Dia memakai baju putih seperti baju yang
5
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius
akan dipakai saat kita tampil di acara Natal minggu
depan.
“Aneh,” gumamku.
“Mengapa Tia tidak membalas sapaanku,
ya?”
Ruthia, ya namanya Ruthia gadis cilik
berusia enam tahun yang super cerewet, periang,
dan manja, biasa aku panggil Tia.
“Tumben Tia kuajak bicara kok tidak
merespon ya, ekspresinya datar-datar saja,” aku
terus bergumam penuh keheranan.
Sampai saatnya aku dijemput kakakku.
Sesampai di rumah aku ceritakan berulang kali ke
kakak dan ibuku, tetapi sayangnya mereka anggap
ceritaku tadi sebagai angin lalu. Malam ini terpaksa
aku tidur sendiri karena kakakku memilih tidur di
kamar tamu dengan temannya yang hari ini
menginap di rumah. Menjelang pukul 23.00 aku
masih terjaga, masih memikirkan kejadian tadi di
aula gereja.
Aku terbangun tepat pukul 05.30, tak terasa
hari sudah pagi. Namun, aku harus bergegas
6
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius
mandi dan sarapan lanjut berangkat ke sekolah.
Sesampai di sekolah, aku langsung mencari Yeni.
Aku butuh jawaban untuk mengusir rasa
penasaranku kemarin malam. Kenapa adiknya
yang cerewet itu menjadi diam seribu bahasa saat
bertemu denganku di aula gereja.
“Yeni, ada yang mau kutanyakan ke kamu!”
teriakku.
“Ada apa? Kok kamu bikin penasaran saja,”
jawab Yeni.
“Yen, kemarin malam waktu kita selesai
latihan di gereja saat hujan deras, lalu lampu mati.
Kemudian kamu pulang duluan karena sudah
dijemput Tia. Waktu itu, Tia kusapa kenapa diam
saja seperti marah. Memang aku salah apa?
Memang Tia enggak cerita kamu kalau marah
sama aku?” cecarku.
“Masa? Kemarin waktu selesai latihan aku
pulang sendiri kok. Aku pinjam payung Bu Endang,”
ungkap Yeni.
7
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius
“Aku lihat sendiri kamu berjalan sama
adikmu pakai payung. Lalu kemarin kamu pulang
sama siapa?”
“Yakin? Aku jadi merinding,” jawab Yeni
sambil berlari menjauhiku.
“Yen, aku masih penasaran!” protesku.
Bel sekolah sudah berbunyi, tanda pelajaran
segera dimulai. Namun, hati ini masih berkecamuk.
Apa benar yang kemarin malam itu hantu,
ya? batinku
Hari ini pikiranku tidak fokus. Sibuk
memikirkan gadis kecil berbaju putih yang misterius
itu. Apa benar anak kecil itu hantu, aku pun tidak
terpikir melihat kaki gadis kecil itu saat berjalan
untuk membuktikan dia hantu atau manusia. Benar-
benar wajahnya mirip Tia, adiknya Yeni.
Sampai ibadah malam Natal berlangsung,
tepat tanggal 24 Desember. Tiba saatnya aku,
Yeni, dan teman-teman tampil menari di ibadah
Natal. Semua berjalan dengan lancar. Kakak
pendamping dari Sekolah Minggu juga senang
melihat penampilan adik-adiknya. Sambil
8
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius
menikmati kue, aku masih memikirkan tentang
gadis kecil misterius itu. Jika gadis kecil itu muncul
kembali, aku akan pastikan bahwa dia hantu atau
manusia. Aku masih menunggu kedatangan gadis
kecil itu untuk menjawab rasa penasaran selama
ini. Gadis kecil itu tidak pernah menemuiku.
Sejak kejadian malam itu, aku memastikan
bahwa itu bukan Tia. Aku yakin itu makhluk tak
kasat mata karena sampai saat ini tidak pernah
bertemu dengan gadis kecil itu lagi. Namun, siapa
pun itu aku tidak takut karena ada Tuhan yang
selalu menjaga dan bersamaku.
9
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong
TANGISAN DI RUMAH KOSONG
Oleh Nur Aqilla Khanza Amara
Di dekat rumah Meena terdapat sebuah rumah
kosong yang konon katanya sering terdengar suara
tangisan seorang perempuan. Meena yang kurang
percaya dengan hal seperti itu menghubungi
temannya, Marsya dan Khanza untuk membuktikan
bersama. Dia mengajak mereka berkumpul di
rumahnya pada pukul 02.00.
Marsya dan Khanza pun datang memenuhi
ajakan Meena. Setelah berkumpul, mereka mulai
berjalan menuju ke rumah kosong tersebut tanpa
sepengetahuan orang tua Meena. Saat mereka
hampir tiba, Meena mendengar suara dari dalam
rumah kosong itu. Dia pun bertanya kepada dua
temannya.
“Teman-teman, apakah kalian mendengar
suara aneh dari dalam rumah tersebut?” tanya
Meena.
“Iya, aku juga mendengarnya,” jawab
Khanza.
10
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong
“Aku juga mendengarnya, Meena,” sahut
Marsya.
“Yuk, kita masuk!” ajak Meena.
Mereka bertiga pun memberanikan diri untuk
mendekati rumah tersebut. Meena perlahan
membuka pintu dan memasuki rumah tersebut
diikuti kedua temannya.
BRAK!
Terdengar suara benda jatuh dari salah satu
ruangan. Mereka bertiga mendekati asal suara
tersebut dengan penuh keberanian. Namun,
seketika Marsya terdiam. Suara tangisan
perempuan itu terdengar cukup keras di telinganya.
“Teman-teman, aku mendengar ada suara
tangisan seorang perempuan di ruangan itu,” ucap
Marsya sambil menunjuk sebuah ruangan paling
ujung.
Tidak takut, mereka bertiga justru
menghampiri asal suara tangisan itu. Sesampai di
ruangan, mereka bingung karena hanya melihat
beberapa boneka yang berserakan di lantai. Tak
lama kemudian mereka bertiga mendengar suara
11
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong
tangisan dari ruangan lain. Suara tersebut sangat
kencang hingga mereka pun berlari ketakutan dan
bergegas meninggalkan rumah tersebut.
Setelah berhasil keluar, Meena dan kedua
temannya bertemu dengan warga yang sedang
berjaga di pos kamling. Mereka penasaran dan
bertanya kepada warga mengenai latar belakang
rumah kosong tersebut. Warga pun menceritakan
kisah dibalik tangisan suara perempuan itu.
Konon, lima tahun yang lalu telah terjadi
perampokan di rumah tersebut. Rumah itu dihuni
oleh seorang perempuan paruh baya dan seorang
anak perempuannya yang berusia empat tahun.
Pada peristiwa tersebut para perampok dengan keji
membunuh seluruh penghuni rumah. Sejak saat itu,
terdengar suara tangisan perempuan dari rumah
tersebut.
Meena dan kedua temannya akhirnya
mengetahui kisah tersebut dan bergegas pulang ke
rumah dengan hati yang lebih tenang karena tidak
penasaran lagi. Sesampai di rumah Meena,
ternyata ibu terbangun dan memarahinya.
12
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong
Kemarahan ibu ternyata lebih menakutkan daripada
tangisan perempuan di rumah kosong tadi. Meena
pun berjanji tidak akan mengulangi kejadian hari
ini.
13
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius
WANITA MISTERIUS
Oleh Quenetta Alviramadhani Adeanto
Pada tahun 2005 silam, sekelompok mahasiswa di
salah satu Universitas Negeri Surabaya mengalami
suatu kejadian yang misterius. Mereka adalah Anto,
Riski, Candra, Andri, dan Nur. Kala itu mereka
sedang menempuh ujian akhir semester, agar
mereka bisa mengerjakan dan menjawab soal
dengan baik dan benar. Anto dan Candra
mengusulkan untuk belajar bersama. Setelah
diskusi, mereka akhirnya memutuskan untuk
belajar bersama di rumah Riski daerah Rungkut,
Surabaya.
Keesokan harinya sekitar pukul 18.00, Anto
bersiap-siap untuk pergi ke rumah Riski. Pukul
19.00 Anto berangkat dari daerah Surabaya Barat
menuju rumah Riski. Sesampai di rumah Riski,
teman-teman Anto sudah datang dan mereka
langsung belajar bersama.
Waktu demi waktu telah dilalui tanpa terasa
sudah pukul 01.00. Anto memutuskan untuk pulang
14
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius
terlebih dahulu, tetapi teman-temannya
menyarankan untuk bermalam di rumah Riski saja
karena sudah larut malam. Perdebatan pun terjadi
antara Anto dan keempat temannya, tetapi dia
bersikukuh memutuskan untuk pulang dan akan
kembali esok hari.
Pada saat perjalanan pulang dan tak jauh
dari rumah Riski, Anto dikejutkan oleh sosok wanita
dengan wajah pucat yang sedang duduk di depan
rumah dengan suasana gelap tanpa ada
penerangan. Anto sempat beberapa kali
memandangi wanita tersebut yang terlihat
menggunakan pakaian panjang seperti daster. Kira-
kira usia wanita tersebut antara 55 sampai 60
tahun. Saat itu Anto tetap berfikiran positif, mungkin
wanita tua itu sedang menunggu penjual makanan
yang lewat di perumahan tersebut. Di sepanjang
perjalanan Anto bertanya-tanya dalam hatinya.
Siapakah wanita tua yang dilihatnya tadi?
Apakah memang seorang ibu-ibu yang sedang
menunggu penjual makanan keliling atau sosok
15
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius
makhluk halus yang sengaja menampakkan
wujudnya? batin Anto.
Sudahlah, besok akan aku tanyakan ke Riski
saja, ucap Anto dalam hati.
Keesokan harinya Anto berangkat ke
kampus dan segera menemui Riski untuk
menceritakan kejadian yang dialaminya tadi malam.
Mendengar cerita Anto, Riski tidak begitu saja
percaya. Tanpa berpikir panjang, mereka
memutuskan untuk mendatangi rumah tersebut
setelah pulang dari kuliah. Riski ingin membuktikan
apa yang dialami oleh Anto adalah benar-benar
nyata. Sesampai di rumah tersebut, Anto
menceritakan kembali apa yang sudah dilihatnya
tadi malam kepada Riski dan menunjukkan posisi di
mana wanita tersebut duduk. Riski tetap tidak
percaya karena rumah yang dimaksud Anto sudah
bertahun-tahun kosong dan sudah sangat lama
ditinggalkan oleh pemiliknya. Setelah mendengar
cerita dari Riski, bulu tangan Anto merinding dan
kedua lututnya gemetaran. Anto menyalakan
kendaraannya dengan wajah ketakutan. Dia
16
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius
bergegas meninggalkan rumah kosong itu. Namun,
kendaraan Anto tidak mau menyala. Setelah dicoba
berulangkali akhirnya motor Anto menyala dan
mereka langsung tancap gas pergi ke rumah Riski
dengan sangat ketakutan.
Sesampai di rumah, Riski menasihati Anto.
“Anto, lain kali kalau sudah larut malam
sebaiknya kamu menginap di rumahku saja. Aku
takut terjadi apa-apa sama kamu di perjalanan,”
nasihat Riski kepada Anto.
“Baik, Riski. Aku akan mendengarkan
nasihatmu. Tadi malam aku sungguh sangat
menyesal,” jawab Anto.
Setelah itu, mereka saling bersalaman dan
berharap kejadian ini tidak terulang kembali.
17
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Desa Misterius
DESA MISTERIUS
Oleh Salsabila Azka Nacita
Pada suatu hari Aku, Quenetta, Aliyah, Callysta,
dan Zahira sedang bersepeda. Kami bersepeda di
luar area perumahan. Tidak jauh dari area
perumahan, kami menemukan lahan kosong.
Lahan tersebut sekarang dibuat satu desa, tetapi
anehnya desa itu tidak ada namanya dan terlihat
sunyi sepi. Kami merasa ketakutan dan kembali
pulang ke rumah.
“Kita pulang dulu saja dan besok kembali
lagi bersama Kakakku, Bang Jibril,” kata Quenetta.
“Setuju, Bang Jibril ‘kan lebih tua jadi lebih
berpengalaman juga,’’ jawab Zahira.
Akhirnya kami pulang ke rumah masing-
masing.
Keesokan harinya sebelum pergi ke desa
misterius, kami berkumpul di rumahku. Setelah
semua berkumpul, kami pun mulai berangkat
menuju desa tersebut. Ketika sudah sampai, kami
meletakkan sepeda di area luar desa. Saat
18
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Desa Misterius
memasuki desa misterius, langit yang cerah
berubah menjadi gelap gulita. Suasana semakin
terasa sepi dan sunyi seperti dikelilingi oleh hantu.
Namun, kami masih berani untuk terus memasuki
wilayah desa aneh ini. Di dalam desa tersebut juga
ada perumahan, sekolah, dan rumah sakit yang
terlihat angker. Kami pun masuk satu per satu ke
tempat itu.
Tempat pertama yang kami kunjungi
adalah perumahan. Terdapat nama-nama penghuni
yang tinggal di perumahan itu. Nama yang tertulis
aneh dan seram, Aliyah merasa ketakutan.
“Teman-teman, aku takut terjadi sesuatu
dengan kita,’’ kata Aliyah.
“Tidak usah takut Aliyah, ada kita yang
akan membantu kamu jika terjadi sesuatu,’’
jawabku.
Tidak lama kemudian ada orang yang
terbungkus perban seluruh tubuhnya melewati
kami. Kami pun lari karena ketakutan dan orang
yang terbungkus perban itu telah menghilang.
19
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Desa Misterius
Sesudah melihat area perumahan, kami
pergi ke bangunan sekolah yang ada di desa
tersebut. Bangunan sekolahnya sangat besar,
tetapi lantai, tembok, dan atapnya terlihat tidak
terawat. Ruangan kelas penuh dengan debu dan
banyak sarang laba-laba di pojok ruangan. Kami
juga melihat ada gudang di sekolah itu. Kemudian
kami pun pergi melihatnya karena penasaran. Saat
memasuki gudang, kami melihat ada peti mati dan
ada sebuah lemari yang membuat kami penasaran.
Setelah dibuka ternyata isinya tengkorak manusia
yang masih lengkap.
Hiiiiii …, dalam hatiku berbisik.
Saat melihat tengkorak itu, seperti ada
bayangan yang mendatangi. Kami pun melihat ke
belakang dan ternyata ada tengkorak hidup yang
sedang mendatangi kami.
“Aaaaaa …!” aku teriak ketakutan.
Bang Jibril langsung menendang tengkorak
itu. Tengkorak itu pun terjatuh dan menghilang.
Kami langsung pergi keluar dari bangunan sekolah,
tetapi Callysta jatuh terpeleset. Bang Jibril dengan
20
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Desa Misterius
sigap langsung menggandeng tangan Callysta dan
menggendongnya keluar. Saat semua sudah
berada di luar, Quenetta langsung menutup pintu
sekolah agar tengkorak tadi tidak mengikuti kami.
Kami bergegas pergi ke rumah sakit yang
ada di wilayah desa itu. Pada saat masuk di rumah
sakit, banyak sekali tetesan darah.
“Awas terpeleset teman-teman!” kataku.
“Baik, kita akan jalan dengan hati-hati,”
jawab semuanya.
Di salah satu ruangan yaitu ruang operasi,
sepertinya ada suster ngesot. Mukanya berdarah,
rambutnya menutupi separuh muka dan matanya
yang berwarna merah sangat menyeramkan.
Suster itu melihat ke arah kami karena mendengar
ada suara hentakan kaki. Suster tersebut mulai
mengejar dan kami langsung berlari ke pintu keluar.
Namun, saat kami sudah dekat dengan pintu
keluar, pintu tersebut tertutup sendiri. Kami pun
panik dan dengan cepat suster itu melompat ke
arah kami. Ada batu di dekatku dan aku langsung
mengambilnya kemudian melempar tepat di bagian
21
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Desa Misterius
matanya, akhirnya mata suster itu mengeluarkan
darah dan menghilang.
Bang Jibril berusaha mendobrak pintunya,
setelah terbuka kami segera keluar dari rumah sakit
tersebut. Kami pun segera pergi keluar dari desa
yang menyeramkan itu. Kami melalui semua
kejadian di desa itu dalam waktu dua jam.
Setelah berhasil keluar dari desa itu, kami
pergi mencari kantor polisi untuk menceritakan
kejadian itu. Namun, polisi tersebut menyuruh kami
pulang, karena waktu sudah menjelang sore. Kami
pun beranjak pulang dan melihat lagi keesokan
harinya.
Keesokan harinya kami pergi ke area desa
itu. Sesampai di sana ternyata sudah tidak ada
desa yang kami kunjungi, tetapi hanya ada
kuburan. Kami heran bercampur bingung,
kemudian kami segera pergi ke kantor polisi dan
menanyakannya.
“Permisi Pak, bagaimana hasil penyelidikan
kemarin? Kenapa bisa muncul dan menghilang
desanya?” tanya Quenetta.
22
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Desa Misterius
“Maaf, Bapak tidak seberapa tahu,” jawab
Pak Polisi sambil tersenyum.
“Oh begitu, terima kasih Bapak atas
informasinya,” Quenetta berterima kasih kepadanya
dengan tersenyum.
Pak Polisi tidak menjawab, tetapi hanya
tersenyum. Kami pun pergi meninggalkan kantor
polisi sambil merasa heran.
“Kenapa saat Quenetta bertanya kepada
Pak Polisi, dia tidak menjawab dan saat Quenetta
berterima kasih dia hanya tersenyum?” tanya
Aliyah dengan muka bingung.
“Mungkin saja …,” jawab Zahira sambil
melihat ke arah kantor polisi dengan muka
ketakutan.
Kami pun melihat ke arah kantor polisi dan
ternyata sudah menjadi kuburan. Kami segera pergi
dari tempat itu dan tidak akan pernah kembali.
23
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
MISTERI HARGA BUKU
Oleh Satria Bima Narendra
Setelah liburan kenaikan usai, Arya kembali
bersekolah. Saat bel berbunyi semua murid
memasuki ruang kelas dan duduk di bangku
masing-masing dengan tertib. Ibu guru memasuki
kelas dan mulai mengumumkan buku pelajaran
kelas empat yang akan digunakan di semester ini
bisa dibeli di koperasi sekolah. Beliau
membagikan daftar harga buku untuk diberikan
kepada orang tua. Bima memperhatikan harga
buku-buku tersebut dengan teliti.
Bima menarik napas panjang sambil
menggumam, “Aduh ... mahal sekali harga buku-
buku ini ya.”
Arya yang duduk di sebelah Bima pun
menyahut, “Iya Bim, sudah mahal kita enggak
boleh fotokopi. Parahnya lagi kita enggak bisa
pinjam buku-buku itu ke kakak kelas karena
bukunya berbeda dari tahun kemarin.”
24
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
“Yang benar kamu, Arya? Padahal aku baru
saja mau pinjam ke kakak kelas yang kukenal,”
ucap Bima kecewa.
Saat perjalanan pulang dari sekolah, Bima
terus memikirkan buku pelajarannya.
Bagaimana aku harus meminta uang kepada
ayah untuk membeli buku-buku itu? Dari mana
ayah mendapatkan uang? Ah, kasihan ayah, pikir
Bima.
Tak terasa Bima sudah sampai di depan
rumahnya.
“Asalamualaikum, Bunda,” ucap Bima.
“Waalaikumsalam anakku sayang, kok
pulang sekolah lesu sih? Kamu sakit, Nak?” tanya
bunda ketika melihat raut muka Bima.
“Enggak, Bunda. Aku ganti baju dulu ya,
Bunda,” jawab Bima.
Bunda merasa ada suatu hal yang
mengganggu pikiran Bima.
Pada waktu makan siang akan kutanyakan
lagi, ada masalah apa di sekolahnya, batin
Bunda.
25
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
Di meja makan bunda kembali bertanya
kepada Bima, “Kamu ada masalah apa di sekolah,
Nak?”
“Bima sedang memikirkan harga buku
pelajaran yang mahal, Bun. Buku-buku itu harus
dibeli karena sudah beda materi dengan yang
tahun lalu. Bima tidak bisa meminjam punya kakak
kelas,” jawab Bima lesu.
“Coba Bunda lihat daftar harga buku-buku
itu,” pinta Bunda.
Bima pun masuk ke kamar untuk
mengambilnya dari dalam tas. Kemudian bunda
membaca daftar harga yang tertera di kertas itu.
“Memang mahal sekali, berbeda dengan
tahun kemarin. Nanti kita bicarakan dengan Ayah
sepulang dari kantor, ya?” ucap Bunda.
Bima pun mengangguk tanda menyetujui
pendapat Bunda. Sepulang ayah dari kantor, Bima
pun menyampaikan tentang hal tersebut. mahal,
“Harga buku pelajarannya
bagaimana kalau beli di pasar buku murah saja
Bim? Kamu bisa lihat sampul depan buku-buku itu
26
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
di koperasi sekolah, kemudian kita membelinya di
luar saja,” ayah menyampaikan pendapatnya.
“Baik, Ayah,” kata Bima.
Besoknya Bima pergi ke koperasi sekolah
untuk melihat sampul buku kelas empat dan
mencatat nama penulis serta penerbitnya. Malam
harinya, Bima dan ayah pergi ke pasar buku murah.
Bima mulai mencari buku-buku yang diperlukan
dan akhirnya ia berhasil menemukan yang sama
dengan yang dijual di koperasi sekolah.
“Bagaimana harga buku di pasar ini jauh
lebih murah daripada di koperasi sekolah ya?”
tanya Bima heran.
“Apa kamu yakin buku-bukunya sama?”
tanya ayah.
“Iya, yakin Yah,” jawab Bima.
“Dik, karena buku-buku yang dibeli banyak
maka kami memberikan diskon sebesar 25%,”
kata penjual buku.
“Terima kasih, Mas,” Bima pun lega bisa
membeli semua buku yang dibutuhkannya.
27
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
Keesokan harinya, Bima berangkat sekolah
dengan penuh semangat. Di gerbang sekolah,
Bima bertemu dengan Nando.
“Halo, Bima. Kamu sudah beli buku di
koperasi sekolah?” tanya Nando.
“Tidak Ndo, aku beli di pasar buku murah.
Buku yang kubeli harganya jauh lebih murah
daripada di koperasi sekolah,” jawab Bima.
“Kamu yang benar Bim? Kenapa bisa
begitu?” tanya Nando heran.
“Itu dia yang bikin aku heran, Ndo. Coba
nanti aku mau menanyakan masalah ini ke
koperasi sekolah,” ucap Bima.
Saat istirahat tiba, Bima segera pergi ke
koperasi ditemani Arya dan Nando untuk
menanyakan masalah harga buku yang jauh lebih
mahal dibandingkan dengan buku yang dijual di
pasar buku murah.
“Selamat siang Bu, bisa kami minta
waktunya sebentar?” sapa Bima.
“Siang, ada apa ini Bim?” jawab Bu Dina
penjaga koperasi sekolah.
28
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
“Begini Bu, kemarin saya membeli buku-
buku pelajaran di pasar buku murah, tetapi
harganya kenapa berbeda jauh ya, Bu?”
“Bisa Ibu lihat buku-buku apa saja yang
kamu beli di luar?”
“Ini Bu, silakan!” Bima menyerahkan buku-
buku itu ke Bu Dina untuk dicek harganya.
“Benar Bim, buku-buku ini sama persis
dengan yang dijual di koperasi sekolah. Nanti Ibu
cek lagi, siapa tahu ada kesalahan kami sebagai
petugas koperasi dalam menghitung harga,” kata
Bu Dina.
Akhirnya Bima, Arya, dan Nando kembali
ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
KRIIING!
Bel sekolah berbunyi, Bima segera
mengemasi buku-bukunya.
“Bim, kamu dipanggil ke ruang kepala
sekolah,” ucap salah seorang temannya.
Bima kaget mendengarnya. Bima takut
jangan-jangan ia melakukan kesalahan. Dia pun
bergegas menuju ruang kepala sekolah.
29
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
“Permisi, Pak,” ucap Bima sembari
mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
“Ayo, Bima silakan masuk, di sini ada
perwakilan dari penerbit buku kelas empat, bisa
kamu ceritakan bagaimana kronologinya?” pinta
Bapak Kepala Sekolah.
Bima pun menjelaskan kejadian yang dia
alami.
“Kami perwakilan dari penerbit buku ingin
meminta maaf kepada sekolah karena harga buku
menjadi lebih mahal daripada yang ada di pasar.
Hal ini disebabkan karena ada salah satu
distributor buku kami yang berbuat curang. Dia
sudah mengubah harga buku yang telah
ditetapkan. Terima kasih kami ucapkan karena
Bima sudah membuat kami tahu akan kecurangan
yang terjadi. Untuk itu kami akan memberikan
hadiah paket buku cerita khusus untuk Bima,”
jelas perwakilan penerbit buku.
“Wah, terima kasih banyak. Saya tidak
menyangka akan mendapatkan perhatian seperti
ini,” ucap Bima.
30
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku
Bima pun lega bisa mengetahui kenapa
harga buku itu bisa jauh berbeda. Akhirnya misteri
harga buku bisa terpecahkan juga dan tidak
membuat Bima, Arya, dan Nando penasaran lagi.
31
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua
MISTERI HOTEL TUA
Oleh Sulthan Nazhirul Asrofi
Namaku Ari, aku anak kedua dari dua bersaudara.
Hari ini adalah hari terakhir aku duduk di kelas
empat. Besok pagi aku ikut orang tuaku mengambil
rapor di sekolah.
Keesokan hari setelah mengambil rapor, aku
langsung masuk kamar sambil membayangkan
liburan bersama keluarga pasti sangat seru. Tak
lama kemudian, aku dipanggil oleh orang tuaku.
Mereka mau mengajak liburan bersama ke wisata
Air Terjun Dlundung di Trawas. Kami berencana
berangkat besok pagi. Ibu menyuruhku
mempersiapkan barang yang akan dibawa besok.
Esok hari sebelum berangkat kami sarapan
terlebih dahulu. Pukul 08.00 kami memutuskan
berangkat menuju wisata Air Terjun Dlundung.
Sesampai di sana, aku melihat pemandangan yang
sangat indah dan udaranya yang sejuk.
Hatiku sangat senang, di sana aku dapat
bermain dan merasakan segarnya air. Aku juga
32
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua
berendam di bawah curahan air terjun. Tak terasa
hari menginjak sore, kami pun bergegas pulang.
Saat perjalanan pulang, turun hujan yang sangat
deras sehingga membuat kami sekeluarga tidak
bisa melanjutkan perjalanan. Orang tuaku
memutuskan untuk menginap di hotel.
Saat perjalanan mencari hotel, ternyata
semua penuh. Hanya ada satu hotel tua yang
tersisa.
Kami sekeluarga turun dari mobil, lalu ibu
bertanya pada petugas, “Pak, apakah ada kamar
kosong?”
“Ada, tinggal satu kamar,” jawab petugas
hotel.
Kemudian kami berjalan menuju kamar.
Suasananya terasa sunyi dan sepi.
Apa orang-orang sudah tidur? batinku.
Kami menempati kamar paling ujung yang
sepi dan suram. Kami masuk, kamarnya bagus
dan bersih. Kemudian aku membuka jendela
belakang. Pemandangan dari jendela belakang
terlihat gelap membuatku takut sehingga
33
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua
jendelanya kututup kembali. Akhirnya kami
beristirahat.
Tak lama kemudian terdengar suara berisik
orang berbicara. Aku membuka pintu depan, tetapi
tidak ada siapa pun di luar.
Aku bertanya kepada kakak, “Apakah Kakak
mendengar suara?”
Kakakku menjawab, “Ya, aku juga
mendengar.”
Aku bertanya kembali, “Dari mana asal
suara tadi?”
Lalu kakakku hanya menggelengkan kepala
dan berkata, “Tidak tahu dari mana asal suara
tersebut.”
Malam semakin larut semua orang tertidur
pulas. Kemudian terdengar suara orang
membanting pintu. Aku terkejut hingga membuatku
terbangun dari tidur. Kucoba memejamkan mataku
sambil bersembunyi di balik selimut.
Keesokan paginya, kami memutuskan untuk
segera pulang. Suasana di sekitar hotel masih
34
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua
terasa sunyi dan sepi seperti tidak terawat. Dalam
perjalanan pulang aku masih penasaran.
Hotelnya seram dan misterius, batinku.
35
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Ruang Bawah Tanah
RUANG BAWAH TANAH
Oleh Zhafirah Sakhi Cahya Anwari
KRIIING!
Bel sekolah berbunyi, pertanda saatnya
pulang sekolah. Rani masih asyik menatap
handphone-nya.
"Teman-teman, aku membaca berita di
handphone bahwa ada ruang bawah tanah di
belakang sekolah kita," ucap Rani.
Namun, Vina tidak percaya bahwa ada
ruang bawah tanah di sekolahnya.
"Itu hanya berita bohong!" kata Vina dengan
keras.
"Mari kita buktikan saja!" Rani bersikeras.
"Baiklah!" ucap Vina dengan sombongnya.
Rani mengajak Aliya dan Tika untuk ikut, dia
pun mengunjungi rumah mereka berdua.
Kemudian, Aliya dan Tika setuju untuk bertualang
menyusuri ruang bawah tanah bersama Rani.
Mereka pun sepakat untuk berangkat pada hari
libur.
36
Gendis Sewu Berkarya:
Misteri Hotel Tua – Ruang Bawah Tanah
Hari Minggu pun tiba, Rani, Aliya, dan Tika
berkumpul di taman. Mereka berdiskusi untuk
membawa barang apa saja saat di ruang bawah
tanah nanti. Mereka pun memutuskan untuk
berangkat pada malam hari.
Menjelang malam, saatnya Rani dan teman-
teman menuju lokasi. Sesampai di sana, mereka
mengeluarkan alat masing-masing. Mereka masuk
dengan perlahan dan hati-hati. Aliya mulai
menyalakan senter yang dia bawa, Rani mulai
merekam area sekitar, sedangkan Tika hanya
mengawasi.
Mereka bertiga mulai berjalan lebih dalam
lagi. Sesaat kemudian, salah satu dari mereka
mulai mendengar suara aneh. Seperti ada orang
yang meletakkan barang. Rani bergegas merekam
ke arah suara itu dan berjalan mengendap-endap
agar orang di sana tidak curiga.
Keesokan harinya saat masuk sekolah, Rani
menceritakan semuanya kepada Vina. Namun,
Vina tetap tidak mau percaya. Rani pun
menunjukkan video rekamannya kemarin, dan Vina
37