The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bahan ajar elektronik bagi mahasiswa STKIP babynnajah Pandeglang.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mamanr080771, 2021-09-28 03:25:36

Pengelolaan Lingkungan Belajar

Bahan ajar elektronik bagi mahasiswa STKIP babynnajah Pandeglang.

Keywords: pengelolaan

MAMAN RUKMANA 1

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan ini Bahan Ajar atau
materi kuliah yang mengangkat Pengelolaan Lingkungan Belajar bisa selesai dan bisa
dipergunakan sebagai bahan pembelajaran untuk memudahkan mahasiswa dalam
menguasai materi perkuliahan dimaksud.

Bahan ajar ini berisi tentang hal ihwal Pengelolaan Lingkungan Belajar yang
dibahas dari mulai pengertian, ciri-ciri, proses, fungsi dan tujuan serta yang lainnya.
Tentunya secara teoretis perlu dipahami mahasiswa sebelum pada praktik nyata yang
dilakukan mahasiswa baik dalam keseharian maupun setelah menjadi guru kelak di
kemudian hari. Beberapa materi yang disajikan disertai dengan ilustrasi gambar untuk
menguatkan pemahamannya.

Dengan adanya bahan ajar ini, penyusun berharap untuk digunakan sebagai bahan
acuan utama bagi mahasiswa STKIP Babunnajah Pandeglang. Kami menyadari dalam
menyusun bahan ajar ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, diharapkan saran dan
kritik yang membangun dari semua pihak untuk dapat mengembangkan materi mata
kuliah ini di masa mendatang.

Penyusun,
Dr. H. Maman Rukmana

MAMAN RUKMANA 2

DAFTAR ISI

................................................................................................................................................................................................ 1
KATA PENGANTAR................................................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................................................... 3
PENGELOLAAN LINGKUNGAN BELAJAR ..................................................................................................................... 4
A. Pendahuluan.................................................................................................................................................................. 4
B. Pengertian Pengelolaan Lingkungan Belajar............................................................................................................. 5
C. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Belajar................................................................................................................... 6
D. Macam-Macam Lingkungan Belajar............................................................................................................................... 7

1. Lingkungan Belajar Indoor......................................................................................................................................... 7
2. Lingkungan Belajar Outdoor ...................................................................................................................................... 8
E. Tahapan Pengelolaan Lingkungan Belajar di PAUD................................................................................................ 9
F. Prinsip-prinsip Pengelolaan Lingkungan Belajar di PAUD ................................................................................... 11
G. Jenis-jenis Lingkungan Belajar ............................................................................................................................. 12
H. Model Penataan Ruangan Indoor.......................................................................................................................... 13
I. Lingkungan Belajar Outdoor ..................................................................................................................................... 14
J. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Outdoor ................................................................................................. 19
K. Indikator Pengelolaan lingkungan belajar outdoor ............................................................................................. 20
L. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif ....................................................................................... 21
M. Lingkungan Sebagai Sumber dan Media Pembelajaran..................................................................................... 24
1. Lingkungan Alam ................................................................................................................................................... 27
2. Lingkungan Sosial................................................................................................................................................... 28
3. Lingkungan Buatan ................................................................................................................................................ 30
N. Jenis-jenis Sumber Belajar yang Ada di Lingkungan ............................................................................................. 30
1. Keuntungan Memanfaatkan Media Lingkungan ................................................................................................ 31
2. Prinsip-prinsip Pembuatan Media yang Memanfaatkan Lingkungan .............................................................. 32
3. Langkah dan Prosedur Penggunaan Lingkungan sebagai Media dan Sumber Belajar .................................. 33
O. Prinsip-prinsip lingkungan Belajar di Luar Ruangan ........................................................................................ 37
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................................................... 40

MAMAN RUKMANA 3

PENGELOLAAN LINGKUNGAN BELAJAR

A. Pendahuluan
Pengelolaan kelas sangat penting untuk diimplementasikan dalam kegiatan

pembelajaran di dalam kelas. Pengelolaan kelas dalam pembentukan lingkungan belajar
yang kondusif tidak hanya dibutuhkan untuk efektivitas dan efisien proses pembelajaran
saja, namun lebih dari itu, hal ini merupakan respon terhadap semakin meningkatnya
tuntutan peningkatan kualitas pendidikan yang dimulai dari ruang kelas. Pentingnya
pengelolaan kelas ini selain bersifat ilmu pengetahuan, juga merupakan seni dan keahlian
guru dalam mengelola dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul dan dihadapi di
kelas. Pengelolaan kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Guru yang terampil adalah guru yang
mampu mengimplementasikan fungsi-fungsi manajemen atau pengelolaan kelas dalam
berbagai program dan kegiatan yang ada di kelas. Di dalam kelas, guru melakukan
sebuah proses atau tahapan kegiatan yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi, sehingga apa yang dilakukannya merupakan satu kesatuan utuh dan saling
terkait. Lingkungan yang kondusif akan sangat mendukung kenyamanan proses
pembelajaran yang dialami oleh siswa. Hal ini akan berdampak pada motivasi belajar dan
minta serta pola pikir yang positif bagi siswa, sehingga akan tumbuh kesadaran untuk
belajar yang lebih baik. Selain itu, lingkungan belajar yang kondusif juga akan
berdampak kepada guru. Guru akan lebih termotivasi untuk mengajar secara optimal,
karena merasa nyaman dengan lingkungan belajar.

Pengelolaan lingkungan belajar adalah sebagai suatu proses mengoordinasikan
dan mengintegrasikan berbagai komponen lingkungan yang dapat memengaruhi
perubahan perilaku anak TK sehingga dapat terfasilitasi dengan baik. Pada proses belajar

MAMAN RUKMANA 4

mengajar pengelolaan lingkungan belajar mempunyai tujuan secara umum yaitu
menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan siswa dalam lingkungan sosial,
emosional dan intelektual dikelas.

Lingkungan belajar memiliki pengaruh yang Gambar 1. Denah Kelas
besar pada proses pembelajaran. Sekolah harus
mempunyai lingkungan belajar yang berpengaruh
pada proses belajar dan mendorong siswa untuk belajar
dengan tenang dan berkonsentrasi. Dalam hal ini
lingkungan yang berpengaruh bukan hanya indoor
tetapi outdoor juga.

Maka dari itu sebaiknya setiap PAUD perlu memiliki denah sekolah maupun
denah ruangan yang dapat mendukung kegiatan belajar siswa sesuai dengan tingkah laku
anak usia dini. Sebaiknya setiap denah PAUD yang dibuat atau dimiliki setiap PAUD
memiliki sentra area yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran anak usia
dini nantinya, denah yang dimiliki setiap tk memiliki beberapa sentra area yang meliputi
area bahasa,area matematika,area balok,area bermain drama,area seni dan keterampilan
tangan,area musik,area pasir dan air,area sains, area komputer,area tumbuhan,area
pengembangan agama,dan area hewan.

B. Pengertian Pengelolaan Lingkungan Belajar
Pengelolaan yaitu sebagai suatu proses mengoordinasi dan mengintegrasi

kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efisien dan efektif. Istilah berikutnya
adalah lingkungan, menurut kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu
tempat yang mempengaruhi pertumbuhan manusia. Istilah terakhir adalah belajar, secara
umum belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap pada diri

MAMAN RUKMANA 5

individu, (Surya, 2002). Dari serangkaian istilah itu maka pengelolaan lingkungan belajar
adalah sebagai suatu proses mengoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai komponen
lingkungan yang dapat memengaruhi perubahan perilaku anak TK sehingga dapat
terfasilitasi dengan baik.

C. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Belajar

Secara Implisit (tersirat), pembahasan tentang tujuan pengelolaan lingkungan

belajar TK sebetulnya sudah tergambarkan pada uraian diatas. Tetapi agar lebih jelas dan

nyata serta dapat dicapai secara lebih terencana dan disadari sesuai dengan sasaran atau

yang ditargetkan, maka uraian tentang tujuan dari pengelolaan lingkungan belajar perlu

disajikan secara lebihjelas dan ekplisit(tersurat). Pada dasarnya tujuan pengelolaan

lingkungan belajar ini ada dua yaitu :1) Performance (tampilan) dan 2) Contents (isi)

Dari aspek Performance yang ditekankan lebih kearah tampilan yang dapat

menampilkan lingkungan yang mampu mengundang atau merangsang anak untuk

tertarik beraktivitas didalam lingkungan belajar yang telah disediakan. Sedangkan aspek

Contents atau isi terdapat dua hal yang mendasar yang harus dicapai dalam pengelolaan

lingkungan belajar anak TK, yaitu kemampuan lingkungan belajar tersebut dalam

memfasilitasi multisensori anak serta kemampuan lingkungan belajar dalam memberi

kesempatan pada anak untuk beraktivitas dan berkreasi secara efektif dan efisien.

Pada proses belajar mengajar pengelolaan

lingkungan belajar mempunyai tujuan secara

umum yaitu menyediakan fasilitas bagi

bermacam- macam kegiatan siswa dalam

lingkungan sosial, emosional dan intelektual

dikelas. Fasilitas yang disediakan itu Gambar 2. Suasana Kelas

MAMAN RUKMANA 6

memungkinkan siswa untuk belajar, bekerja dan
mengembangkan sikap

apresiasi pada siswa.

Ada 3 pokok tujuan pengelolaan lingkungan belajar:
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun

sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik (siswa) untuk
mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang berada di lingkungan belajar yang dapat
menghalangi proses interaksi belajar mengajar.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta sarana atau alat peraga belajar yang
mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial,
emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.

D. Macam-Macam Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar merupakan sarana dan prasarana yang bisa menunjang materi

yang didapat dari gurunya. Lingkungan belajar tidak berpatok pada lingkungan sekolah
akan tetapi lingkungan belajar bisa berada di luar lingkungan sekolah. Dengan kata lain
lingkungan belajar bisa dibagi menjadi 2 macam:
1. Lingkungan Belajar Indoor

Lingkungan belajar indoor lingkungan belajar yang memang sudah disediakan
oleh manajemen sekolahan agar digunakan untuk para siswanya sebagai sumber
belajar atau lingkungan belajar yang ada didalam sekolahan tersebut.

MAMAN RUKMANA 7

Gambar 3. Contoh Ruangan Indoor

Menurut Rita Mariyana (180: 2013) dalam strategi pengelolaan lingkungan
belajar indoor di TK adalah:

1) Prinsip umum penataan ruangan.
2) Jenis ruangan.
3) Penataan ruangan dan perlengkapan belajar.
4) Pemilihan dan penggunaan perlengkapan belajar.
5) Setting Area
6) Suasana psikologis yang kondusif dalam ruang pembelajaran.
7) Denah setting area dalam kelas.
2. Lingkungan Belajar Outdoor
Pembelajaran diluar lingkungan kelas (outdoor) lebih berperan dalam
mengintegrasi sensoris dan berbagai potensi yang dimiliki anak. Hal ini termasuk
perkembangan fisik, keterampilan sosial, dan pengetahuan budaya, serta
perkembangan emosional dan intelektual. Untuk strategi pengelolaan lingkungan
belajar outdoor sama dengan strategi lingkungan belajar indoor menurut Rita
Mariyana (180: 2013)

MAMAN RUKMANA 8

Gambar 4. Contoh Mainan Outdoor

E. Tahapan Pengelolaan Lingkungan Belajar di PAUD
Pengelolaan pada area bermain outdoor perlu diperhatikan guna untuk

perkembangan anak. Ada beberapa fungsi yang dilakukan dalam kegiatan manajemen.
Masing-masing pakar manajemen memiliki pendapat yang berbeda mengenai fungsi-
fungsi dalam kegiatan manajemen. Fayol (1916) minsalnya, ia mengemukakan
bahwa ada lima fungsi dalam kegiatan manajemen, antara lain:
1. Merencanakan (planning)

Pada kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), rencana diartikan sebagai
rancangan atau rangka sesuatu yang akan dikerjakan. Sedangkan
perencanaan adalah proses, cara, atau perbuatan menentuka apa
yang akan dilaksanakan. Perencanaan dapat dirumuskan sebagai langkah
persiapan yang diarahkan kepada tujuanorganisasi sebagai landasan dalam

MAMAN RUKMANA 9

melakukan suatu tindakan. Perencanaan secara sederhana dapat diartikan
sebagai upaya merumuskan apa yang hendak dilakukan dalam rangka
mencapai tujuan organisasi.
2. Pengorganisasian (organizing)

Kata kerjanya adalah mengorganisasi yang berarti mengatur dan menyusun
bagian (orang dan sebagainya) sehingga seluruhnya menjadi suatu kesatuan
yang teratur. Sedangkan pengorganisasian adalah proses, cara, perbuatan untuk
mengorganisasi Pengorganisasian adalah proses perancangan dan pengembangan
suatu organisasi yang akan dapat membawa hal-hal tersebut kea rah tujuan.
3. Memimpin (Commanding)

Memimpin atau pergerakan dalam pengertiannya ada banyak pakar yang
memberikan beberapa pengertian istilah pergerakan sebagai berikut :
a. Pergerakan adalah upaya menggerakan orang-orang untuk mencapai tujuan

yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
b. Pergerakan merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan kegairahan,

kegiatan, dan pengertian sehingga orang lain mau mendukun dan bekerja
dengan sukarela untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan tugas yang
diberikan kepadanya.
c. Pergerakan adalah upaya pimpinan untuk menggerakan seseorang atau
kelompok yang dipimpin dengan menumbuhkan dorongan atau motif dalam
dirinya untuk melaksanakan tugas dan kegiatan yang diberikan padanya sesuai
dengan rencana dalam rangka mencapai tujuan.
4. Evaluasi (Evaluating)
Evaluasi adalah fungsi terakhir yang dilaksanakan dalam kegiatan manajemen
setelah memimpin, namun begitu bukan berarti setelah evaluasi dilakukan tidak

MAMAN RUKMANA 10

ada tindak lanjutnya. Hasil dari evaluasi nantinya akan dijadikan sebagai
data ataupun baha pertimbanga dalam menyusun perencanaan. Evaluasi secara
Bahasa sama dengan istila penilaian. Evaluasi dalam bahasa inggris yaitu
evaluation berasal dari kata value yang berarti nilai.Evaluasi dapt diartikan
sebagai proses menilai yang dilakukan untuk mengetahui hasil dari suatu proses
kerja yang dilakukan.

F. Prinsip-prinsip Pengelolaan Lingkungan Belajar di PAUD

Jika lingkungan belajar diibaratkan sebagai laboratorium tempatanak
berkembang dan belajar, maka laboratorium tersebut harus mampu mendorong,
mampu menjadi sumber inspirasi, menjadi tempat penemuan, menjadi tempat
melatih dalam memecahkan masalah, menjadi tempat mengembangkan kualitas
diri anak, menjadi tempat untuk menyalurkan segala ekspresi anak, tempat
menerjemahkan berbagai teori dan konsep, secara praktis oleh anak, dan
sebagainya. Maka konsekuensinya guru harus bekerja keras untuk menyiapkan
lingkungan belajar yang memiliki berbagai keampuhan tersebut. Untuk dapat
mewujudkan sebuah lingkungan belajar yang sesuai harapan, maka lingkungan
belajar tersebut perlu dikembangkan pada prinsip-prinsip berikut :
1. Prinsip Merefleksikan Selera Anak (Child’s Taste)

Lingkungan belajar harus menarik bagi anak, agar menarik maka dalam
penyediannya dan pengemasan lingkungan ini harus dipertimbangkan
karakteristik, perasaan, minat, dan dinamika belajar anak. Dengan kata lain,
lingkungan belajar ini diciptakan perlu penyelarasan dengan tahapan-tahapan
perkembangan dan cara-cara khas belajar anak di usia TK (developmentally

MAMAN RUKMANA 11

appopriate learning envirotment).
2. Berorientasi pada Optimalisasi Perkembangan dan Belajar Anak

Prinsip yang berorientasi pada optimalisasi perkembangan dan belajar anak,
mengandung arti bahwa perkemabangan dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai, terbaik, dan bermakna bagi kehidupan anak.
3. Berpijak pada Efisiensi Pembelajaran

Pengelolaan lingkungan belajar harus berpijak pada efisiensi pembelajaran.
Maksudnya adalah bahwa berbagai upaya yang dilakukan oleh guru dalam
menciptakan lingkungan belajar di TK ditunjukan dalam rangka mewujudkan
efisiensi atau penghematan dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, kegiatan
pembelajaran dilakukan dengan sangat produktif dan tepat guna, baik dilihat dari
segi waktu, energi, maupun upaya yang dilakukan.

G. Jenis-jenis Lingkungan Belajar
Membahas tentang ruang lingkup pengelolaan lingkungan belajar ditaman kanak-

kanak sesungguhnya menjangkau pembahasan yang cukup luas. Banyak ahli yang
menelusuri tentang jangkauan wilayah pengelolaan lingkungan belajar pada level TK
atau prasekolah ini. Diantara pembagian yang paling populer adalah pembagian
lingkungan belajar kedalam dua kelompok besar, yaitu lingkungan belajar dalam
kelas, sering disebut juga degan lingkungan Indoor; dan lingkungan diluar kelas yang
sering disebut dengan Outdoor.

Gambar 5. Model Terowongan

MAMAN RUKMANA 12

H. Model Penataan Ruangan Indoor
Berdasarkan usia Model Penataan Ruang Bermain Anak Usia 0-2 Tahun.

Model Penataan Ruang Anak pada rentang usia 0-2 tahun berada pada tahap
perkembangan sensori motorik dan imitatif, dimana aktivitas yang dominan adalah
aktivitas yang melibatkan gerak untuk mengenal lingkungan sekitar dalam jangkauan
yang terbatas (eksplorasi) dan stimulasi indrawi. Oleh karenanya model penataan
ruang bermain memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Prasarana dalam ruang bermain, seperti rak/furniture ditata secara menarik dan
menyenangkan bagi anak, multi fungsi, terbuat dari bahan yang ringan namun kuat, tahan
lama, mudah dibersihkan, memiliki desain bagus sesuai fungsi, berkualitas, aman bagi
anak, tidak tajam, tumpul/tidak runcing dan halus bagian permukaannya, sehingga tidak
menimbulkan luka kecil dan luka parah akibat terbentur serta lebih ekonomis.

b. Tersedia bantal dan karpet yang nyaman dari bahan lembut, benang tidak mudah
terlepas dan terkelupas, dan tidak berbulu.

c. Warna-warna dasar furnitur sebaiknya dipilih warna natural kayu atau satu warna,
d. Memberikan keleluasaan gerak bagi anak 1) Leluasa bagi anak untuk bergerak
(merangkak, berjalan, berlari kecil) 2) Lalu lintas untuk anak bergerak berpapasan selebar
1,5 - 2 meter. 3) Ruang gerak anak tidak terhalang oleh benda tertentu yang dapat
beresiko terhadap keamanan anak 4) Terpantau (dapat terlihat oleh pengasuh atau
pendidik), terbuka dan transparan.

MAMAN RUKMANA 13

I. Lingkungan Belajar Outdoor

Kegiatan diluar ruangan adalah hal yang tidak dapat terpisahkan program
pengembangan dan belajar anak. untuk itu agar lingkungan belajar outdoor
bermanfaat dan secara efektif dapat membantu perkembangan dan belajar anak,
maka hal tersebut harus menjadi bagian yang dikelola secara serius oleh pihak sekolah
ataupun guru.

Setiap anak memiliki pemikiran yang berbeda dengan anak usia dini lainnya.
Gagasan atau ide yang dimiliki setiap anak akan mampu membuatnya bersaing di masa
depan. Menggambar dapat menyatakan tentang apa yang sedang dirasakan seperti
yang diungkapkan oleh Vygotsky bahwa menggambar adalah satu cara manusia
mengekspresikan pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya sehingga dengan
menggambar, perasaan, gagasan, ide-ide akan terkomunikasikan kepada manusia
lainnya.

Lingkungan belajar luar kelas (outdoor playground) yang terpadu yang juga
merupakan salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk mendorong kegiatan anak

dalam keingintahuan,penyelidikan daneksplorasi, memiliki sejumlah
pengalaman sensual bagi anak-anak untukmendorong anak menggunakan semua indra
mereka, yang aman.

Pada umumnya anak usia dini memandang segala sesuatu sebagai satu kesatuan
yang utuh sehingga pembelajarannya masih bergantung pada objek konkret, lingkungan
dan pengalaman yang dialaminya. Proses pembelajaran yang dilakukan harus
memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut :

1) Mulai dari yang konkret dan sederhana

MAMAN RUKMANA 14

2) Berangkat dari hal-hal yang dimiliki anak
3) Pengenalan dan pengakuan
4) Menantang
5) Bermain dan permainan
6) Alam sebagai sumber belajar
7) Sensori
8) Belajar membekali keterampilan hidup
9) Fokus pada proses

Kemampuan menggambar anak kelompok B usia 5-6 tahun termasuk pada
tahap pra bagian yang ditandai oleh ciri-ciri obyek gambar adalah benda atau figur
yang dekat dengan lingkungan anak, tidak ada korelasi antara obyek yang satu
dengan yang lainnya, warna yang digunakan tidak sesuai dengan realita yang
nampak, penempatan obyek gambar yang subyektif, dan penguasaan ruang yang
belum dikuasai. Aktivitas seni cenderung menarik perhatian anak apabila
ditawarkan saat anak berada di luar kelas.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak- Gambar 5. Arena Bermain Bak Pasir
anak di dalam kelas cukup banyak dan cukup
beragam seperti pusat seni minsalnya banyak anak
yang jarang memilih pusat seni saat berada di
dalam kelas namun tertarik dengan aktivitas seni
outdoor. Guru bisa merancang meja piknik
bekasatau meja kartu untuk menciptakan pusat
seni dadakan.

Anak bisa menyentuh lukisan, menggambar dengan kapur warna,

MAMAN RUKMANA 15

membuat patung dengan tanah liat, dan menebar krim cukur di permukaan meja.
Saat aktivitas berakhir, pembersihan akan menjadi mudah. Cukup rebahkan meja
pada sisinya dan siram dengan air.

Kegiatan diluar ruangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program
pengembangan dan belajar anak. Untuk itu agar lingkungan belajar outdoor
bermanfaat dan secara efektif dapat membantu perkembangan dan belajar
anak, maka hal tersebut haruslah menjadi bagian yang harus dikelola secara serius
oleh pihak sekolah dan para guru. Adapun aspek-aspek yang termasuk ruang
lingkup pengelolaan lingkungan belajar outdoor secara umum adalah :

1) Penataan lokasi kegiatan dengan berbagai sarananya
2) Penanganan pagar sekolah secara tepat
3) Pengelolaan tanah lapang
4) Perawatan dan penanganan permukaan tanah
5) Pembuatannaungan atau atap agar kegiatan tetap nyaman meskipun terik atau

hujan
6) Pengelolaan gudang outdoor untuk penyimpanan berbagai barang dan alat

kegiatan

Melalui kegiatan pengelolaan outdoor semua sarana dan area belajar
diluar kelas diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif dan membantu
perkembangan dan belajar anak secara menyeluruh, baik perkembangan dan
belajar fisik-motorik, sosio-emosi dan budaya, maupun mengembangkan intelektual.
Sejumlah sarana yang cocok untuk kegiatan diharapkan dapat mencapai berbagai
tujuan pengembangan tersebut bagi anak TK/PAUD atau prasekolah antara lain :

1) Tangga yang dipasang ditanah

MAMAN RUKMANA 16

2) Luncuran
3) Ayunan
4) Terowongan mini
5) Kayu atau bangku rendah untuk dikangkangi atau dipanjat
6) Papan/board dengan pegas atau jembatan gantung yang rendah
7) Atap untuk rumah-rumahan
8) Tempat bangunan balok
9) Jalur untuk mainan yang ditarik dan didorong dan ditunggangi
10)Tempat bermain pasir dan air
11)Lingkungan alamiah, seperti pohon, semak belukar dan bunga.

Disamping hal-hal diatas, hal-hal lain yang juga dianggap penting bagi anak
yang perlu jadi garapan dalam mengelola outdoor, diantaranya:

1) Jalan untuk kendaraan Gambar 6. Permainan Ayunan
2) Area bermain pasir
3) Kolam renang atau area bermain air
4) Kebun
5) Kandang binatang outdoor

Sedangkan yang paling penting adalah, perlu difikirkan dan odipastikan
bahwa lingkungan belajar luar betul-betul aman bagi anak. Tentunya untuk
menjamin dan menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan sebaiknya
dirancang pula program untuk pengawasan. Terlepas dari perbedaan keadaan dari
setiap TK dikelola, lingkungan belajar outdoor hendaklah memenuhi kriteria-
kriteria sebagai berikut :

MAMAN RUKMANA 17

1) Area outdoor harus memenuhi aturan keamanan yang memadai
2) Area outdoor harus melindungi dan meningkatkan karakteristik alamiah

Desain didasarkan pada kebutuhan anak dan dapat meningkatkan berbagai
aspek perkembangan (fisik, kognitif, sosial, dan emosi)
3) Area outdoor harus memberikan kesempatan untuk aktivitas yang mirip
dengan aktivitas–aktivitas yang dilaksanakan didalam ruangan indoor space
4) Area outdoor harus estetis harus menyenangkan. Ruangan outdoor menarik
bagi semua indra.

Pusat kegiatan di luar kelas merupakan tempat aktivitas anak untuk melakukan
kegiatan yang tidak dilakukan di dalam ruang kelas. Anak- anak dapat belajar ilmu
pengetahuan alam, matematika, keterampilan sosial dan mengembangkan kecintaan
terhadap lingkungan sekitar, juga dapat meningkatkan penggunaan otot-otot halus dan
kasar.

Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan di pusat outdoor adalah makan,
masak, menggambar, melukis dan bermain perawatan berkebun dan bermain lumpur,
main air dan sebagainya. Kegiatan di luar kelas menawarkan sejumlah kesempatan luas
bagi anak-anak untuk belajar mengenai lingkungan mereka dan membantu mereka
memahami bagaimana mereka menempatkan di dunia mereka.

Dapat dipahami bahwasanya kegiatan-kegiatan di luar kelas memberikan
banyak manfaat dan pelajaran pada anak, dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut
maka multisesori anak juga ikut berkembang. Dan untuk menyukseskan pendidikan
karakter anak usia dini perlu dilakukan identifikasi karakter.

Dalam hal ini Heritage Foundation merumuskan karakter dasar yang menjadi
tujuan pendidikan karakter, kesebilan karakter tersebut adalah cinta kepada Allah

MAMAN RUKMANA 18

dan alam semesta beserta isinya, tanggung jawab, disiplin dan mandiri, jujur,
hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja
keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati,
serta toleransi, cinta damai, dan persatuan.

J. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Outdoor
1. Kelebihan

a. Meningkatkan kekebalan tubuh
b. Mengoptimalkan Pertumbuhan Syaraf Otak
c. Mengembangkan Kemampuan Imajinasi
d. Kemampuan Mengatasi Masalah
e. Mengembangkan Kecakapan Sosial
f. Peka terhadap Lingkungan
g. Melengkapi Pengetahuan Anak
h. Meningkatkan Hasrat Belajar Anak

2. Kelemahan
a. Anak kurang focus
b. Pengelolaan anak menjadi lebih sulit
c. Waktu lebih banyak tersita
d. Munculnya minat siswa yang semu
e. Guru yang membmbing harus lebih intensif dalam membimbing
f. Pembelajaran akan terpecah jika ada kelompok lain atau siswa lain yang belajar di
lokasi tersebut.

MAMAN RUKMANA 19

K. Indikator Pengelolaan lingkungan belajar outdoor
1. Indikator-indikator Kepala Sekolah sebagai berikut :
a. Kepala sekolah membuat perencanaan tentang pengelolaan lingkungan belajar
outdoor
b. Kepala sekolah merancang penataan lokasi kegiatan dan pagar
c. Kepala sekolah merancang pembuatan naungan atau atap agar kegiatan tetap
nyaman meskipun dibawah terik
d. Kepala sekolah mengelola ruang penyimpanan agar bisa digunakan untuk
menyimpan alat permainan yang sudah rusak
e. Kepala sekolah mengatur pelaksanaan pengelolaan outdoor yang memenuhi
aturan keamanan yang memadai
f. Kepala sekolah menggerakan guru untuk pelaksanaan pengelolaan
b. lingkungan outdoor yang telah direncanakan
a. Kepala sekolah mengevaluasi pengelolaan lingkungan belajar outdoor yang
sudah dilaksanakan
2. Indikator-indikator Guru.

a. Guru mengatur pelaksanaan pengelolaan outdoor melindungi
karakteristik alamiah

b. Guru melakukan perawatan dan penanaman permukaan tanah
c. Guru melakukan pengelolaan tanah lapang
d. d. Guru mengatur pelaksanaan pengelolaan outdoor yang mampu

meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak
e. Guru mengatur pelaksanaan pengelolaan outdoor yang memberikan

kesempatan untuk aktivitas yang mirip dengan aktivitas–aktivitas yang
dilaksanakan didalam ruangan indoor space

MAMAN RUKMANA 20

f. Guru mengatur pelaksanaan pengelolaan outdoor yang secara estis harus
menyenangkan

3. Indikator guru dan kepala sekolah
a. Guru dan kepala sekolah mengawasi anak ketika beraktivitas
dilingkungan outdoor
b. Guru dan kepala sekolah melakukan inovasi-inovasi kreatif terhadap lingkungan
outdoor

L. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
Kelas yang terorganisir dengan baik adalah kelas yang siswanya dapat

mengetahui bagaimana cara menggunakan ruang kelas dan sumbernya. Tujuan
penataan lingkungan kelas bisa saja banyak, tetapi tujuan umum dari penataan
lingkungan kelas yang mendasar adalah untuk menciptakan dan menegakkan sebuah
lingkungan kelas pembelajaran yang positif dan produktif. Tujuan tersebut tidak
diartikan untuk mengontrol atau menciptakan siswa dan kelas yang sepenuhnya
tunduk, patuh, dan tidak berdaya tetapi untuk menciptakan lingkungan kelas yang
mempertahankan ketertarikan, motivasi, dan keterlibatan siswa. Jadi, fokusnya adalah
pada aktivitas-aktivitas yang membuat lingkungan pembelajaran menjadi positif,
produktif, dan fasilitatif.

Untuk mendukung dan membantu Gambar 7. Latihan Bekerjasama
perkembangan sebuah komunitas kelas yang aman
siswa diizinkan untuk membuat koneksi yang
diperlukan untuk belajar menentukan sesuatu.

MAMAN RUKMANA 21

Setiap siswa perlu mendapatkan rasa nyaman dan
aman untuk mendiskusikan pemahaman mereka
yang sebelumnya, tanpa merasa takut ditertawakan
atas kesalahpahaman di antara mereka.

Secara konsep, penataan lingkungan kelas bertujuan untuk mewujudkan
seperangkat atribut yang memberikan warna atau karakter, spirit, etos, dan suasana
batin dari setiap kelas yang ada.22 Secara operasional, sebagaimana halnya
lingkungan sekolah, lingkungan kelas juga dapat diukur dengan menggunakan rata-
rata dari persepsi komunitas kelas terhadap aspek-aspek yang menentukan lingkungan
kelas. Persepsi tersebut dapat diukur dengan cara pengamatan langsung dan
wawancara dengan anggota komunitas kelas, khususnya guru dengan cara yang lebih
praktis dan ekonomis tetapi reliable, yaitu dengan cara mengedarkan angket yang telah
divalidasi. Sebagaimana halnya dengan faktor-faktor lain seperti kurikulum, sarana
dan kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kelas pembelajaran memegang peran
penting dalam pembentukan sekolah yang efektif. Selama dua dasawarsa, lingkungan
pembelajaran di kelas ditengarai sebagai salah satu faktor penentu keefektifan suatu
sekolah.

D. L. Fisher dan B. J. Fraser menyatakan bahwa peningkatan mutu lingkungan
pembelajaran di kelas dapat menjadikan sekolah lebih efektif dalam memberikan
proses pembelajaran.24 H. J. Freiberg menegaskan bahwa iklim kerja yang sehat di
suatu kelas memberikan kontribusi yang signifikan terhadap proses pembelajaran. Dia
juga memberikan argumen bahwa pembentukan lingkungan kelas pembelajaran yang
kondusif dapat menjadikan seluruh anggota kelas melakukan tugas dan perannya
secara optimal.25 N. Atwool menyatakan bahwa dalam lingkungan pembelajaran,

MAMAN RUKMANA 22

siswa mempunyai kesempatan untuk melakukan hubungan yang bermakna di dalam
lingkungan tersebut.26 Selain itu, hal ini sangat diperlukan untuk meningkatan
kemampuan belajar siswa, memfasilitasi siswa untuk bertingkah laku yang sopan, serta
berpotensi untuk membantu siswa dalam menghadapi masalah yang dibawa dari
rumah. Selanjutnya, Wold B., O. Samdal dan Bronis juga telah mengidentifikasi tiga
aspek lingkungan psikososial sekolah yang menetukan prestasi akademik siswa. Ketiga
aspek tersebut adalah (1) tingkat kepuasan siswa terhadap sekolah, (2) terhadap
keinginan guru, serta (3) hubungan yang baik dengan sesama siswa. Mereka juga
menyarankan bahwa intervensi sekolah yang meningkatan rasa kepuasan sekolah akan
dapat meningkatkan prestasi akademik siswa.27 W. K. Hoy dan J. W. Hannum
mengemukakan bahwa rasa kebersamaan yang tinggi sesama guru di lingkungan
sekolah dan dukungan sarana prasarana yang memadai dapat mendukung tercapainya
target akademik yang tinggi dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi.
Akhirnya, hal ini dapat mendukung pencapaian prestasi akademik siswa lebih baik.28
S. R. Sweetland dan W. R. Hoy menyatakan bahwa iklim kerja sekolah yang
mengutamakan pemberdayaan guru sangat membantu keefektifan sekolah dan dapat
mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan.29 Hasilhasil penelitian menunjukkan
bahwa iklim kerja sekolah dapat mempengaruhi sikap siswa terhadap mata pelajaran
yang diajarkan. Jadi, secara langsung maupun tidak langsung, lingkungan kelas
mempengaruhi efek sikap siswa terhadap mata pelajaran di sekolah menengah.

Strategi menata lingkungan kelas tidak akan berhasil
jika guru tidak mengetahui karakteristik siswanya. Jika
guru mengetahui karakter siswanya, dia tidak hanya dapat
merencanakan persoalan pengelolaan kelas yang lebih
baik, tetapi dapat juga memperkecil gangguan yang

MAMAN RUKMANA 23

terjadi. Hal ini merupakan keuntungan tambahan jika
siswa mengetahui bahwa seorang guru peduli terhadap
siswanya. Dengan demikian, ada hubungan yang
signifikan antara kepedulian guru dan kualitas
pembelajaran siswa.

M. Lingkungan Sebagai Sumber dan Media Pembelajaran
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) lingkungan diartikan sebagai

bulatan yang melingkungi (melingkari). Pengertian lainnya yaitu sekalian yang
terlingkung di suatu daerah. Dalam kamus Bahasa Inggris peristilahan lingkungan ini
cukup beragam diantaranya ada istilah circle, area, surroundings, sphere, domain, range,
dan environment, yang artinya kurang lebih berkaitan dengan keadaan atau segala sesuatu
yang ada di sekitar atau sekeliling. Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua
benda dan keadaan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya serta
makhluk hidup lainnya.

Lingkungan terdiri dari unsur-unsur biotik (makhluk hidup), abiotik (benda mati)
dan budaya manusia. Lingkungan yang ada di sekitar anak-anak kita merupakan salah
satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil
pendidikan yang berkualitas. Jumlah sumber belajar yang tersedia di lingkungan ini
tidaklah terbatas, sekalipun pada umumnya tidak dirancang secara sengaja untuk
kepentingan pendidikan. Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak. Anak pertama kali akan belajar dan memahami sesuatu dari
lingkungannya. Begitu pula halnya dalam belajar dan memahami konsep dan prinsip
dalam IPA diperlukan suatu pendekatan yang mampu mewujudkan hal-hal yang

MAMAN RUKMANA 24

diinginkan, yakni salah satunya dengan pendekatan lingkungan. Pendekatan lingkungan
berarti mengajak siswa belajar langsung di lapangan tentang topik-topik pembelajaran.

Tang (2002) mengemukakan adanya hubungan antara manusia dengan lingkungan
merupakan hubungan yang saling mempengaruhi sehingga lahir interaksi. Pendekatan
lingkungan merupakan suatu interaksi yang berpangkal kepada hubungan antara
perkembangan fisik dengan lingkungan sekitarnya. Memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar berarti siswa menampilkan contoh-contoh penerapan IPA dalam
kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain siswa datang
menghampiri sumber-sumber belajarnya. Sumber belajar lingkungan ini akan semakin
memperkaya wawasan dan pengetahuan anak karena mereka belajar tidak terbatas oleh
empat dinding kelas, Selain itu kebenarannya lebih akurat, sebab anak dapat mengalami
secara langsung dan dapat mengoptimalkan potensi panca inderanya untuk
berkomunikasi dengan lingkungan tersebut. Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih
menarik bagi anak sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam
dan banyak pilihan.

Kegemaran belajar sejak usia dini merupakan modal dasar yang sangat diperlukan
dalam rangka penyiapan masyarakat belajar (learning societes) dan sumber daya manusia
di masa mendatang. Begitu banyaknya nilai dan manfaat yang dapat diraih dari
lingkungan sebagai sumber belajar dalam pendidikan, bahkan hampir semua tema
kegiatan dapat dipelajari dari lingkungan. Namun demikian diperlukan adanya kreativitas
dan jiwa inovatif dari para guru untuk dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber
belajar. Jika pada saat belajar di kelas anak diperkenalkan oleh guru mengenai tanaman
padi, dengan memanfaatkan lingkungan persawahan, anak akan dapat memperoleh
pengalaman yang lebih banyak lagi. Dalam pemanfaatan lingkungan tersebut guru dapat

MAMAN RUKMANA 25

membawa kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan di dalam ruangan kelas ke alam
terbuka dalam hal ini lingkungan. Namun jika guru menceritakan kisah tersebut di dalam
ruangan kelas, nuansa yang terjadi di dalam kelas tidak akan sealamiah seperti halnya
jika guru mengajak anak untuk memanfaatkan lingkungan. Artinya belajar tidak hanya
terjadi di ruangan kelas namun juga di luar ruangan kelas dalam hal ini lingkungan
sebagai sumber belajar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik,
keterampilan sosial, budaya, perkembangan emosional serta intelektual. Anak-anak
belajar melalui interaksi langsung dengan benda-benda atau ide-ide.

Lingkungan menawarkan kepada guru Gambar 8. Lingkungan Belajar
kesempatan untuk menguatkan kembali
konsep-konsep seperti warna, angka, bentuk
dan ukuran. Memanfaatkan lingkungan pada
dasarnya adalah menjelaskan konsep-konsep
tertentu secara alami. Konsep warna yang
diketahui dan dipahami anak di dalam kelas
tentunya akan semakin nyata apabila guru
mengarahkan anak-anak untuk melihat
konsep warna secara nyata yang ada pada
lingkungan sekitar (Eko, 2009).

Menurut Abulraihan (2008) lingkungan bisa lingkungan sekolah dan luar sekolah,
yang terpenting bahwa aktivitas pembelajaran di luar kelas yang dilakukan siswa, guru
harus pandai-pandai memilih model atau jenis pembelajaran yang tepat sesuai situasi

MAMAN RUKMANA 26

lingkungan, memperhatikan faktor keamanan karena di alam bebas mempunyai tingkat
keriskanan yang tinggi terhadap keselamatan siswa.

Lahirnya konsep pendidikan di alam adalah manifestasi dari pendidikan di luar
ruangan. Alam sebagai media belajar merupakan solusi ketika terjadi kejenuhan atas
metodologi pendidikan di dalam kelas. Dari pemikiran inilah Walt Whitmant mencoba
memperbaharuhi metodologi itu dengan penekanan pada proses aktivitas di luar kelas.
Pendidikan dan latihan di luar kelas dapat menggantikan proses pendidikan konvensional
(kelas/ ruangan) yang selama ini dilakukan secara masif. Akibatnya model pendidikan
tersebut lebih berorientasi pada nilai-nilai kuantitatif , bukan pada proses pengenalan
lebih dalam pada sumber-sumber pengetahuan (Herry, 2008). B. Jenis Lingkungan
Belajar Pendidikan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan alam sekitar (Hamalik, 2001).

Alam sekitar siswa merupakan lingkungan sekitar kehidupan siswa yang dapat
berupa lingkungan alam, sosial, dan buatan.

1. Lingkungan Alam

Alam, dalam hal ini, dipandang sebagai sebuah laboratorium yang sangat besar.
Laboratorium alam ini menyediakan sumber belajar yang melimpah ruah, sehingga akan
sayang kalau sumber belajar ini tersia-siakan (Amin, 2008). Pengalaman yang harus
dimiliki siswa ialah pengalaman lingkungan fisik yang menyangkut fisik secara mikro
yaitu dirinya sendiri maupun secara makro (alam semesta). Pemahaman siswa yang benar
terhadap dirinya dan alam semesta, akan menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk
senantiasa, meningkatkan serta memanfaatkan sumberdaya manusia dan sumberdaya
alam bagi kepentingan manusia pada umumnya (Suherli, 2009). Menurut Sudjana &
Rivai (2010) lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah

MAMAN RUKMANA 27

seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan),
fauna (hewan), sumber daya alam (air, hutan , tanah, batu-batuan dan lain-lain). Aspek-
aspek lingkungan alam di atas dapat dipelajari secara langsung oleh siswa. Mengingat
sifat-sifat dari gejala alam relatif tetap tidak seperti dalam lingkungan sosial, maka akan
mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat
mengamati perubahan-perubahan yang terjadi termasuk termasuk prosesnya dan
sebagainya. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan
alam termasuk faktor-faktor penyebabnya seperti erosi, penggundulan hutan, pencemaran
air tanah, udara dan sebagainya. Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para
siswa dapat lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta
alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam
menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan serta tetap menjaga kelestarian
kemampuan sumberdaya alam bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh: dalam rangka
mempelajari IPA, siswa diminta mencatat dan mempelajari lingkungan alam di
sekitarnya. Siswa diminta mencatat dan mempelajari suhu udara, jenis tumbuhan, hewan,
batu-batuan, kerusakan lingkungan, pencemaran dan lain-lain. Baik secara individual
maupun kelompok para siswa akan melakukan kegiatan belajar seperti mengamati,
bertanya kepada orang lain, membuktikan sendiri atau mencobanya. Ia akan memperoleh
sesuatu yang berharga dari kegiatan belajarnya yang mungkin tidak ditemukan dari
pengalaman belajar di sekolah sehari-hari.

2. Lingkungan Sosial

Menurut Supriatna (2011) masalah-masalah sosial sehari-hari yang dihadapi oleh
para siswa merupakan pengalaman belajar sekaligus sebagai sumber belajar. Dalam
kurikulum terdahulu, masalah-masalah sosial tersebut sangat jarang dibawa oleh guru ke

MAMAN RUKMANA 28

ruang kelas sebagai bahan pelajaran. Masalah-masalah sosial tersebut sangat erat
kaitannya dengan tuntutan kurikuler pada pelajaran serta terkait pula dengan kehidupan
siswa sehari-hari. Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi
manusia dengan kehidupan masyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan,
mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama
dan sistem nilai.

Lingkungan sosial tepat digunakan untuk Gambar 9 Lingkungan Sosial
mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Dalam
praktek pembelajaran, penggunaan lingkungan sosial
sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai
dari lingkungan yang paling dekat, seperti keluarga,
tetangga, rukun tetangga, rukun warga, kampung, desa,
kecamatanm dan seterusnya. Hal ini disesuaikan dengan
kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak
didik (Sudjana & Rivai, 2010).

Menurut Suherli (2009) lingkungan sosial dijadikan media pembelajaran agar siswa
memiliki bekal hidup dalam sosial atau dalam masyarakat. Dengan bekal pengetahuan
ini, siswa setelah lulus atau tamat sekolah siap hidup bermayarakat. Siswa akan dengan
cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya di mana ia tinggal. Selain itu siswa juga
harus dibekali dengan pengalaman budaya. Dengan bekal ini, siswa diharapkan
memahami, mencintai, menghargai, dan menikmati serta memilih budaya yang
menguntungkan dirinya sendiri maupun orang lain sehingga siswa tidak akan terjerumus
dalam budaya yang menyesatkan. Melalui kegiatan belajar seperti itu, siswa lebih aktif

MAMAN RUKMANA 29

dan lebih produktif sebab ia mengarahkan usahanya untuk memperoleh informasi
sebanyak-banyaknya dari sumbersumber yang nyata dan faktual.

3. Lingkungan Buatan

Di samping lingkungan alam dan lingkungan sosial yang sifatnya alami, ada juga
yang disebut lingkungan buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun
manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Lingkungan buatan antara lain irigasi atau pengairan, bendungan, pertamanan, kebun
binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik. Menurut Sudjana &
Rivai (2010) siswa dapat mempelajari lingkungan buata dari berbagai aspek seperti
prosesnya, pemanfaatannya, fungsinya, pemeliharaannya, daya dukungnya, serta aspek
lain yang berkenaan dengan pembangunan dan kepentingan manusia dan masyarakat
pada umumnya. Lingkungan buatan dapat dikaitkan dengan kepentingan berbagai bidang
studi yang diberikan di sekolah.

N. Jenis-jenis Sumber Belajar yang Ada di Lingkungan
Pada bagian sebelumnya, kita telah mengenal adanya dua jenis sumber belajar,

yaitu sumber belajar yang dirancang (by design resources) dan sumber belajar yang
dimanfaatkan (by utility resources). Berbagai benda yang terdapat di lingkungan kita
dapat kita kategorikan ke dalam jenis sumber belajar yang dimanfaatkan (by design
resources) ini. Dibanding dengan dengan jenis sumber belajar yang dirancang, jenis
sumber belajar yang dimanfaatkan ini jumlah dan macamnya jauh lebih banyak.

Oleh karena itu, sangat dianjurkan setiap guru mampu mendayagunakan sumber
belajar yang ada di lingkungan ini. Pengertian lingkungan dalam hal ini adalah segala

MAMAN RUKMANA 30

sesuatu baik yang berupa benda hidup maupun benda mati yang terdapat di sekitar kita
(di sekitar tempat tinggal maupun sekolah). Sebagai guru, kita dapat memilih berbagai
benda yang terdapat di lingkungan untuk kita jadikan media dan sumber belajar bagi
siswa di sekolah. Bentuk dan jenis lingkungan ini bermacam macam, misalnya: sawah,
hutan, pabrik, lahan pertanian, gunung, danau, peninggalan sejarah, musium, dan
sebagainya.

Media di lingkungan juga bisa berupa benda-benda sederhana yang dapat dibawa
ke ruang kelas, misalnya : batuan, tumbuh-tumbuhan, binatang, peralatan rumah tangga,
hasil kerajinan, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Semua benda itu dapat kita
kumpulkan dari sekitar kita dan dapat kita pergunakan sebagai media pembelajaran di
kelas. Benda-benda tersebut dapat kita perloeh dengan mudah di lingkungan kita sehari-
hari. Jika mungkin, guru dapat menugaskan para siswa untuk mengumpulkan benda-
benda tertentu sebagai sumber belajar untuk topik tertentu. Benda-benda tersebut juga
dapat kita simpan untuk dapat kita pergunakan sewaktu-waktu diperlukan.

1. Keuntungan Memanfaatkan Media Lingkungan

Memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran memiliki banyak
keuntungan. Beberapa beberapa keuntungan tersebut antara lain :

a. Menghemat biaya, karena memanfaatkan benda-benda yang telah ada di lingkungan.
b. Praktis dan mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan khusus seperti listrik.
c. Memberikan pengalaman yang riil kepada siswa, pelajaran menjadi lebih konkrit,

tidak verbalistik.
d. Karena benda-benda tersebut berasal dari lingkungan siswa, maka benda-benda

tersebut akan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Hal ini juga sesuai
dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning).

MAMAN RUKMANA 31

e. Pelajaran lebih aplikatif, maksudnya materi belajar yang diperoleh siswa melalui
media lingkungan kemungkinan besar akan dapat diaplikasikan langsung, karena
siswa akan sering menemui benda-benda atau peristiwa serupa dalam kehidupannya
sehari-hari.

f. Media lingkungan memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Dengan media
lingkungan, siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan benda, lokasi atau
peristiwa sesungguhnya secara alamiah.

g. Lebih komunikatif, sebab benda dan peristiwa yang ada di lingkungan siswa biasanya
mudah dicerna oleh siswa, dibandingkan dengan media yang dikemas (didesain).

Dengan memahami berbagai keuntungan tersebut, seharusnya kita dapat tergugah
untuk memanfaatkan semaksimal mungkin lingkungan di sekitar kita untuk menunjang
kegiatan pembelajaran kita. Lingkungan kita menyimpan berbagai jenis sumber dan
media belajar yang hampir tak terbatas. Lingkungan dapat kita manfaatkan sebagai
sumber belajar untuk berbagai mata pelajaran. Kita tinggal memilihnya berdasarkan
prinsip-prinsip atau kriteria pemilihan media dan menyesuaikannya dengan tujuan,
karakteristik siswa dan topik pelajaran yang akan kita ajarkan. Kriteria pemilihan media
itu telah kita bahas pada bagian sebelumnya.

2. Prinsip-prinsip Pembuatan Media yang Memanfaatkan Lingkungan

Media-media yang terdapat di lingkungan sekitar, ada yang berupa benda-benda
atau peristiwa yang langsung dapat kita pergunakan sebagai sumber belajar. Selain itu,
ada pula benda-benda tertentu yang harus kita buat terlebih dulu sebelum dapat kita
pergunakan dalam pembelajaran. Media yang perlu kita buat itu biasanya berupa alat
peraga sederhana dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan kita.

MAMAN RUKMANA 32

Jika kita harus membuat media belajar semacam itu, maka ada beberapa prinsip
pembuatan yang perlu kita perhatikan, yaitu :

a. Media yang dibuat harus sesuai dengan tujuan dan fungsi penggunaannya.
b. Dapat membantu memberikan pemahaman terhadap suatu konsep tertentu, terutama

konsep yang abstrak.
c. Dapat mendorong kreatifitas siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk

bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri)
d. Media yang dibuat harus mempertimbangkan faktor keamanan, tidak mengandung

unsur yang membahayakan siswa.
e. Dapat digunakan secara individual, kelompok dan klasikal
f. Usahakan memenuhi unsur kebenaran substansial dan kemenarikan
g. Media belajar hendaknya mudah dipergunakan baik oleh guru maupun siswa
h. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat hendaknya dipilih agar mudah

diperoleh di lingkungan sekitar dengan biaya yang relatif murah
i. Jenis media yang dibuat harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan sasaran

didik

3. Langkah dan Prosedur Penggunaan Lingkungan sebagai Media dan Sumber
Belajar

Menurut Sudjana & Rivai (2010) menggunakan lingkungan sebagai media dan
sumber belajar dalam proses pembelajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang
seksama dari para guru. Tanpa perencanaan yang matang kegiatan belajar siswa bisa
tidak terkendali, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dan siswa tidak melakukan
kegiatan belajar yang diharapkan. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam

MAMAN RUKMANA 33

menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yakni langkah persiapan,
pelaksanaan, dan tindak lanjut.

Gambar 10 Penataan ruang Bermain

a. Langkah Persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah persiapan ini, antara

lain:
1) Dalam hubungannya dengan pembahasan bidang studi tertentu, guru dan siswa

menentukan tujuan belajar yang diharapkan diperoleh para siswa berkaitan dengan
penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar. Misalnya siswa dapat
menjelaskan proses kerja pembangkit listrik tenaga air atau siswa dapat menjelaskan
struktur pemerintahan tingkat kecamatan. Siswa dapat mengidentifikasi berbagai jenis
tumbuhan dan hewan di daerahnya.

2) Tentukan objek yang harus dipelajari atau dikunjungi. Dalam menetapkan objek
kunjungan tersebut hendaknya diperhatikan relevansi dengan tujuan belajar, kemudahan

MAMAN RUKMANA 34

menjangkaunya misalnya cukup dekat dan murah perjalanannya, tidak memerlukan
waktu yang lama, tersedianya sumbersumber belajar, keamanan bagi siswa dalam
mempelajarinya serta memungkinkan untuk dikunjungi dan dipelajari siswa.

3) Menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan. Misalnya,
mencatat apa yang terjadi, mengamati suatu proses, bertanya atau wawancara dengan
petugas dan apa yang harus ditanyakannya, melukiskan atau menggambarkan situasi baik
berupa peta, sketsa dan lain-lain, kalau mungkin mencobanya dan kegiatan lain yang
diangap perlu. Di samping itu, ada baiknya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan
setiap kelompok diberi tugas khusus dalam kegiatan belajarnya.

4) Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika diperlukan. Misalnya membuat
dan mengirimkan surat permohonan untuk mengunjungi objek tersebut agar mereka dapat
mempersiapkannya. Dalam surat tersebut dapat dijelaskan kegiatab belajar dan tujuan
yag diharapkan dari kunjungan tersebut. Hal ini penting agar petugas di sana
mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan.

5) Persiapan teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar, seperti tata tertib
diperjalanan dan ditempat tujuan, perlengkapan belajar yang harus dibawa, menyusun
pertanyaan yang akan diajukan, kalau ada kamera untuk mengambil foto, handycam,
transportasi yang digunakan, biaya, makanan atau perbekalan, dan perlengkapan P3K.
Persiapan tersebut dibuat guru bersama siswa pada waktu belajar bidang studi yang
bersangkutan, atau dalam program akhir semester.

b. Langkah Pelaksanaan

Pada langkah ini adalah melakukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai dengan
rencana yang telah dipersiapkan. Biasanya kegiatan belajar diawali dengan penjelasan

MAMAN RUKMANA 35

petugas mengenai objek yang dikunjungi sesuai dengan permintaan yang telah
disampaikan sebelumnya. Dalam penjelasan tersebut, para siswa bisa mengajukan
beberapa pertanyaan melalui kelompoknya masing-masing supaya waktunya bisa lebih
cermat. Catatlah semua informasi yang diperoleh dari penjelasan tersebut. Setelah
informasi diberikan oleh petugas, para siswa dengan bimbingan petugas melihat dan
mengamati objek yang dipelajari. Siswa bisa bertanya atau juga mempraktekkan jika
dimungkinkan serta mencatatnya. Berikutnya para siswa dalam kelompoknya
mendiskusikan hasil-hasil belajarnya, untuk lebih melengkapi dan memahami materi
yang dipelajarinya. Akhir kunjungan dengan ucapan terima kasih kepada petugas dan
pimpinan objek/wahana yang dikunjungi. Hal yang perlu menjadi catatan, apabila objek
kunjungan sifatnya bebas dan tak perlu ada petugas yang mendampinginya, seperti
kemah, mempelajari lingkungan sosial, belajar di kebun dan taman, belajar di halaman
sekolah, atau belajar di alam terbuka lainnya, maka para siswa langsung mempelajari
objek studi atau melakukan aktivitas sesuai yang diarahkan oleh guru (yang sudah pula
tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran/RPP).

c. Langkah Tindak Lanjut

Tindak lanjut dari kegiatan belajar di atas adalah kegiatan belajar di kelas untuk
membahas dan mendiskukusikan hasil belajar dari lingkungan. Setiap kelompok diminta
melaporkan hasil-hasilnya untuk dibahas bersama. Guru dapat meminta kesan-kesan yang
diperoleh siswa dari kegiatan belajar tersebut, di samping menyimpulkan materi yang
diperoleh dan dihubungkan dengan bahan pengajaran bidang studinya. Di lain pihak guru
juga memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil-hasil yang
dicapainya. Tugas lanjutan dari kegiatan belajar tersebut dapat diberikan sebagai
pekerjaan rumah, misalnya menyusun laporan yang lebih lengkap, membuat pertanyaan-

MAMAN RUKMANA 36

pertanyaan berkenaan dengan hasil kunjungan, atau membuat karangan berkenaan
dengan kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan belajarnya.

O. Prinsip-prinsip lingkungan Belajar di Luar Ruangan
Prinsip-prinsip lingkungan belajar di luar ruangan meliputi:
1. Keamanan Lokasi

Ketika merencanakan sebuah tempat bermain, perlu untuk mempertimbangkan
bahaya atau rintangan yang akan dihadapi anak ketika anak berjalan, berlari, atau
bermain, seperti :

• Tempat bermain dengan pembatas atau pagar yang tinggi direkomendasikan jika tempat
bermain dekat dengan jalan raya. Pembuatan pagar sebaiknya mempertimbangkan
beberapa hal berikut ini: (a) Pagar pembatas area outdoor dengan tempat umum di luar
lembaga diperlukan untuk memastikan bahwa anak-anak tidak bisa terdorong ke dalam
situasi berbahaya. (b). Desain dan ketinggian pagar harus sedemikian rupa untuk
mencegah anak dapat keluar dengan cara merangkak di bawah (c). Tinggi pagar kurang
lebih 150 cm, tidak dapat dipanjat dan tidak runcing. Pagar dapat dipakai untuk
membatasi area yang berbahaya seperti tempat parkir, jalan, dan kolam. Pagar dapat
berupa dinding bata, tanaman, kayu, bambu, atau besi. (d). Mekanisme penguncian harus
disediakan untuk meng atasi potensi berbahaya ketika gerbang tidak ditutup. (e). Pagar
dapat menjadi sentra berkebun anak.

• Kontur tanah sebaiknya tidak dalam posisi terlalu miring apalagi jika tempat bermain
akan diisi pasir sebab jika hujan deras, pasirnya bisa hanyut dan habis sehingga tidak ada
lagi pengaman bagi anak ketika bermain. Pilihlah daerah yang datar dan tidak dekat
dengan lereng bukit, apalagi jurang.

MAMAN RUKMANA 37

• Kestabilan tanah, terlebih jika akan dibangun playground yang besar untuk menghindari
amblas ketika dimainkan oleh anak. Sebaiknya melibatkan ahli untuk menilai kondisi
tanah.

2. Kemudahan Mengakses
Sejauh mana alat main mudah dicapai/dijangkau oleh anak dengan aman sehingga

anak tidak mudah lelah karena jarak tempuhnya.

3. Pengelompokkan usia

Jika diperuntukkan untuk semua kelompok usia,

maka penataannya harus menunjukkan pemisahan

tempat berdasarkan kelompok usia anak atau dibedakan

dengan pemberlakuan jam main anak jika tempat

bermain terbatas. Setiap tempat bermain diberi batas

pemisah untuk meminimalisasi kecelakaan yang

mungkin disebabkan oleh anak yang lebih tua usianya. Gambar 11. Pengelompokkan Usia
Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan.

4. Peletakan Mainan

Perhatikan aktivitas bermain anak, apakah bermain fisik dan aktif atau bermain

pasif dan tenang. Hal ini menjadi pertimbangan penting untuk memperkirakan

keleluasaan anak dalam bergerak agartidak terbentur. Dengan demikian, penataan

ayunan, karosel, jungkat-jungkit, sebaiknya diletakkan di sudut, sisi, atau pinggir tempat

bermain jika lahan bermain luar terbatas. Alat main yang sering digunakan anak harus

MAMAN RUKMANA 38

diletakkan berpencar, untuk mengurangi penumpukan proses bermain di satu tempat.
Selain itu, perhatikan juga posisi jalan keluar dari area bermain, hendaknya diletakkan
pada lokasi yang lapang (tidak ada penghalang di depan dan sampingnya). Jika sarana
bermain outdoor yang digunakan alat mainnya berupa gabungan atau dirangkai menjadi
satu, maka disainnya sebaiknya memperhatikan susunan, fungsi, dan keamanannya.
5. Jarak Pandang

Pengawasan Penataan alat main harus dalam jarak pandang guru untuk mengamati
dan mengikuti kegiatan bermain anak karena setiap penggunaan alat main luar harus bisa
dilihat dari tempat dimana guru biasanya mengawasi. Selain itu, penataan antar alat main
sebaiknya juga memperhatikan ruang yang cukup untuk orang dewasa dengan
pertimbangan jika terjadi sesuatu yang membahayakan anak, maka guru dapat dengan
mudah menyelamatkan anak tanpa terhalang mainan lain.
6. Tanda Usia dan/atau pelabelan

Sebaiknya setiap tempat bermain diberikan tulisan mengenai peruntukan usia,
peringatan, dan kemungkinan bahaya yang dapat ditimbulkan dari mainan tersebut
dengan tulisan yang mudah terbaca dan terlihat.
7. Pengawasan

Pengawasan lingkungan bermain di luar ruangan seharusnya adalah tenaga teknis
yang benar-benar paham dan terlatih terkait dengan keamanan mainan dan penyelamatan
pertama jika terjadi kecelakaan di tempat bermain. Apabila tidak tersedia tenaga teknis
dimaksud maka tugas pengawasan ini dapat juga dilakukan oleh guru yang telah terlatih.
Pengawas sebaiknya memahami konsep bermain dan perawatan dari mainan tersebut.
Selain hal itu, pengawas juga harus mampu melakukan pengecekan terhadap mainan
yang rusak dan memastikan anak tidak memainkannya.

MAMAN RUKMANA 39

DAFTAR PUSTAKA

Al-Tabany, Triatno, Ibnu Badar (Ed). (2011). Desain Pengembangan Pembelajaran
Tematik. Jakarta: Prenadamedia Group.

Fadliillah, M. (2017). Buku Ajar Bermain & Permainan Anak Usia Dini. Jakarta:
Prenadamedia Group.

Lailatu Rohmah. (2016). Komparasi Manajemen Desain Lingkungan Pendidikan Anak
Usia Dini di TK Ceria Timoho dan RA Sahabat Berbah. Al-athfal: Jurnal Pendidikan
Islam, 2 (2): 2-15. Lalompoh, Cyrus T, Lalompoh,

Kartini, Ester. (2017). Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Keagamaan Bagi
Anak Usia Dini. Jakarta: PT Grasindo.

Mariyana, Rita., Nugraha, Ali, dan Rachmawati, Yeni. (2010). Pengelolaan Lingkungan
Belajar. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Meriyanti. Rita. 2013. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jogjakarta: Depdikbud.

Mushlih, Ahmad, dkk. (2018). Analisis Kebijakan PAUD Mengungkap Isu-Isu Menarik
Seputar AUD. Semarang: Mangku Bumi.

Samal, Sharon E., Dino dkk., Teknologi Pembelajaran dan Media Untuk Belajar
(Jakarta: Kencana, 2011).

MAMAN RUKMANA 40

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Maman Rukmana, lahir di Karawang pada tanggal 8 Juli
1971 dari orang tua bernama alm. Bapak H. Iyom dan
almh. Ibu Hj. Arsah. Menghabiskan masa kecil sampai
menjelang dewasa di tanah kelahirannya termasuk
menempuh pendidikan dari SD sampai SPG.

Pada tahun 2000 menamatkan pendidikan sarjananya
di Untirta Banten pada jurusan Pendidikan Bahasa
Indonesia. Tahun 2004 s.d 2006 mengikuti pendidikan
Magister di Sekolah Pascasarjana UPI dengan jurusan
yang sama dengan S1. Pendidikan terakhirnya tercatat
sebagai lulusan program doktoral pada UNJ dengan
jurusan Pendidikan Bahasa yang ditempuhnya selama
kurun waktu 2011 s.d 2013.
Saat ini penyusun menjadi Dosen Yayasan pada STKIP Babunnajah Pandegalang
program studi PG PAUD. Sebelumnya sejak tahun 2000 s.d 2020, tercatat sebagai dosen
pengajar pada salah satu PTS di daerah Rangkasbitung, Lebak.

MAMAN RUKMANA 41

ingkungan belajar memiliki pengaruh yang besar pada
proses pembelajaran ekolah harus mempunyai
lingkungan belajar yang berpengaruh pada proses belajar
dan mendorong sis a untuk belajar dengan tenang dan
berkonsentrasi alam hal ini lingkungan yang
berpengaruh bukan hanya indoor tetapi outdoor juga

MAMAN RUKMANA 42


Click to View FlipBook Version