The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syifafirliani03, 2021-09-29 04:54:52

SEKOLAH FAVORIT

SEKOLAH FAVORIT

SEKOLAH FAVORIT

' ANTARA KEINGINAN DAN KESEMPATAN '

- SYIFA MALIKA FIRLIANI -

"Ketika harapan dan kenyataanmu tak sejalan, apa yang akan kau lakukan?"

Kicau burung terdengar merdu dari luar jendela. Namun agaknya
sang fajar masih malu-malu menunjukkan eksistensinya.

"Hooooeemmmm.... Wah ternyata sudah pukul 5. Hampir saja
aku terlambat. Sebaiknya aku segera bersiap!" seru Tasya.

Dia adalah Athilla Putri Anastasya, atau akrab disebut dengan
Tasya. Ia adalah siswi kelas IX di SMP Negeri 1 Ciracas, salah satu
SMP favorit di kotanya. Hari ini dia sangat gembira, namun di sisi
lain ia juga merasa gugup. Entah apa yang membuat ia sangat
menantikan datangnya hari ini.

Tasya mulai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia merapikan
tempat tidurnya, mandi, beribadah, hingga sarapan nasi goreng
yang dibuat ibunya.

"Tasya berangkat dulu ya. Doakan Tasya semoga hasilnya
sesuai dengan yang Tasya harapkan." ucap Tasya sembari
mengecup tangan kedua orangtuanya.

"Iya, Ayah dan Ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk
Tasya. Tapi apapun hasilnya, Tasya harus tetap semangat, ya."
jawab ayahnya.

Setelah berpamitan, Tasya pun bergegas pergi ke sekolahnya
menggunakan kendaraan umum. Tasya memang sudah terbiasa
menggunakan kendaraan umum untuk pergi ke sekolahnya. Selain
karena jarak dari rumah ke sekolahnya terbilang cukup dekat, ia
memilih untuk naik kendaraan umum karena harganya yang
terjangkau.

------------------------------------------------------------

Sesampainya di sekolah, Tasya langsung masuk ke ruangan
kelas. Ternyata teman-temannya belum sampai di sekolah. Kini
hanya ada Tasya di ruangan tersebut. Ia lantas duduk di kursi
miliknya. Ia nampak sangat gugup, hingga tak menyadari bahwa
Disya, temannya telah datang.

"Hei, kenapa, sih? Kok pagi-pagi begini melamun?" tanya Disya.
Sontak Tasya merasa terkejut. Jantungnya berdegup dengan
kencang. Ia sama sekali tak menyadari kehadiran Disya di ruangan
tersebut.

"Eh! Aduh Disya! Hampir saja jantungku copot. Siapa juga yang
melamun?" jawab Tasya sembari berusaha mengelak.

"Hehe, maaf. Tapi kamu tak pernah berubah, ya. Selalu saja
menyimpan masalah sendirian. Oh, aku tau! Kamu pasti gugup
karena hari ini pengumuman hasil Ujian Nasional, kan? Sudahlah,
jangan terlalu dipikirkan. Murid rajin dan pintar sepertimu
bukankah seharusnya tak perlu merasa khawatir? Yang
seharusnya merasa khawatir sepertinya aku, deh." goda Disya.

"Bagaimana aku bisa tenang? Kau kan tau sendiri, kalau nilai ini
seperti pertaruhan bagiku. Hanya dengan nilai inilah aku bisa
menembus 'peraturan' itu." jawab Tasya.

Rupanya hari ini adalah hari dimana akan diumumkannya hasil
Ujian Nasional. Pantas saja Tasya nampak sangat gugup, bahkan
sesaat sebelum pergi ke sekolah. Namun apa yang membuat ia
sangat khawatir dengan nilainya?

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Teman-teman
Tasya pun sudah mulai berdatangan. Tasya semakin merasa gugup,
begitu pula yang dirasakan oleh beberapa temannya. Ditengah
kegelisahan itu, terdengar pengumuman dari pengeras suara yang
berada di lorong kelas.

"Pengumuman! Bagi seluruh siswa dan siswi kelas IX SMP
Negeri 1 Ciracas diharapkan untuk berkumpul di mushola sekolah.
Sekali lagi, bagi seluruh siswa dan siswi kelas IX SMP Negeri 1
Ciracas diharapkan untuk berkumpul di mushola sekolah. Terima
kasih."

Mendengar pengumuman tersebut, para siswa dan siswi pun
berhamburan keluar dari kelas. Mereka segera menuju ke
mushola sekolah. Begitu pula dengan Tasya dan Disya. Mereka
pergi ke tempat tersebut bersama-sama. Tasya menggenggam
erat tangan sahabatnya. Disya yang tau bahwa Tasya merasa
gelisah, kemudian menenangkannya dengan mengusap punggung
tangan Tasya.

Ruangan mushola yang awalnya nampak lapang, kini terasa
cukup sesak karena dipenuhi oleh para murid. Tak berselang
lama, datanglah Guru Kesiswaan. Beliau langsung berdiri di mimbar
mushola dan mengumumkan hasil Ujian Nasional.

Peringkat pertama sampai ketiga paralel sudah diumuman oleh
Guru Kesiswaan. Tasya semakin merasa gugup. Ia sudah pasrah
dengan apapun hasil yang akan diterimanya nanti. Namun, tiba-tiba
saja...

"Baik, untuk hasil Ujian Nasional peringkat keempat dengan
perolehan nilai 337 diraih oleh.... Athilla Putri Anastasya! Selamat
dan semoga sukses!"

Betapa terkejutnya Tasya. Ia tak menyangka bahwa hasil
yang ia peroleh melampaui ekspektasinya.

Ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah dan memberi
tahu orangtuanya tentang kabar baik ini

------------------------------------------------------------

Setelah pengumuman tersebut, Tasya bergegas pulang ke
rumahnya. Hatinya berbunga-bunga, ia merasa bangga pada dirinya
sendiri. Rasaya seperti usahanya salama ini terbayar dengan hasil
yang memuaskan

Ia tak sabar lagi untuk melihat wajah orangtuanya yang
gembira dengan pencapaiannya tersebut. Walaupun belum bisa
membalas jasa-jasa kedua orangtuanya, setidaknya ia berharap
hasil Ujian Nasional ini mampu membanggakan kedua orangtuanya.

Sesampainya di rumah, Tasya langsung memberi tahu kedua
orangtuanya bahwa hasil Ujian Nasionalnya sangat memuaskan.
Kedua orangtuanya yang mendengar berita baik tersebut merasa
sangat bahagia dan bangga. Mereka bahagia karena dengan nilai
yang cukup tinggi tersebut Tasya berkesempatan untuk
bersekolah di SMA Negeri 2 Kertanegara, salah satu sekolah
favorit di kotanya.

Namun, tiba-tiba saja kerabat Tasya memberi tahu bahwa
pemerintah pusat menerapkan aturan sistem zonasi sekolah 90%
yang mengatur siswa dan siswi untuk masuk ke sekolah terdekat
dari rumahnya. Adapun jalur lain untuk mendaftar ke sekolah
yang berada di luar zona, hanya 5% jalur prestasi akademik dari
keseluruhan kuota siswa yang dimiliki sekolah tersebut.

Bagaikan petir di siang bolong, berita tersebut membuat
Tasya terpuruk. Terlebih jarak dari rumahnya ke SMA Negeri 2
Kertanegara cukup jauh.

Nyalinya untuk mendaftar ke SMA Negeri 2 Kertanegara
semakin menciut ketika mengetahui bahwa SMA Negeri 1 Ciracas,
sekolah terdekat dari rumahnya telah lama membuka
pendaftaran PPDB untuk siswa dan siswi baru. Bahkan Tasya
mendapatkan informasi dari temannya bahwa telah banyak siswa
yang mendaftar ke sekolah tersebut dan sudah melebihi kuota
yang dimiliki oleh SMA Negeri 1 Ciracas.

Berbagai informasi yang datang silih berganti hanya membuat
Tasya semakin terpuruk. Ia sangat bingung, ia tak tau apa yang
harus ia pilih. Haruskah ia memaksakan diri untuk mendaftar ke
SMA Negeri 2 Kertanegara atau ia harus memilih untuk
merelakan mimpinya dan mendaftar ke SMA Negeri 1 Ciracas?

Tasya kemudian merenung dan menenangkan dirinya di teras
rumah. Ditemani oleh bintang-bintang dan cahaya rembulan, tak
terasa bulir-bulir air mata pun mulai membasahi mata dan pipinya.

Mengetahui bahwa putrinya sedang bersedih, sang Ibu pun
mendekati anaknya.

"Tasya, boleh Ibu duduk di sini?" tanya sang Ibu..

Sembari mengusap air mata, Tasya pun menjawab dengan
suara gemetar,

"Bo-boleh, Bu."

"Anak Ibu yang cantik ini kenapa, sih? Kok murung begitu?
Coba sini cerita sama ibu." ucap ibu sembari mengusap kepala
Tasya.

"Tasya bingung, Bu. Tasya harus pilih yang mana? Ibu kan' tahu
kalau Tasya sudah lama ingin masuk ke SMA Negeri 2
Kertanegara. Sesak sekali, Bu. Rasanya seperti semua perjuangan
Tasya, semua pengorbanan Tasya selama ini sia-sia. Percuma saja
Tasya pulang-pergi dari sekolah ke tempat bimbingan belajar
hingga malam hari kalau akhirnya seperti ini."

Sang Ibu terdiam untuk beberapa saat.

"Hei, tidak ada yang percuma, tidak ada yang sia-sia. Kalaupun
nanti Tasya tidak masuk ke SMA Negeri 2 Kertanegara,
setidaknya Tasya sudah berusaha, kan'? Tasya tetap dapat ilmu
dan dapat pengalaman dari kejadian ini. Kalau Tasya masih bingung
dengan pilihan Tasya, coba Tasya tenangkan diri dulu. Coba Tasya
sesekali berbincang dengan diri Tasya sendiri. Berdamai dulu sama
diri sendiri, baru Tasya tentukan pilihan yang terbaik untuk Tasya.
Lagipula, SMA Negeri 1 Ciracas juga bagus, kok." jawab Ibu
sembari mengelus rambut Tasya.

Tasya terdiam seribu bahasa. Harus ia akui bahwa perkataan
ibunya memang benar. Hanya saja hatinya masih tak terima dengan
semua ini.

Hari ini sangat berat untuh Tasya.

------------------------------------------------------------

" Jika kau merasa terjebak dalam dua pilihan, tutuplah matamu dan ikutilah
intuisi. "

Setelah berpikir semalam suntuk, Tasya akhirnya telah
mengambil suatu keputusan. Pada keesokan harinya, ia pun
memanggil Ayahnya untuk membicarakan keputusannya itu.

"Ayah, Tasya mau membicarakan sesuatu." ucap Tasya
sembari duduk di sebelah ayahnya yang sedang menonton televisi.

"Boleh, ada apa memangnya? Apa Tasya sudah mengambil
keputusan?" tanya sang Ayah.

"Iya, Tasya sudah mengambil keputusan untuk mendaftar ke
SMA Negeri 1 Ciracas saja. Tasya tidak mau mengambil resiko.
Tasya takut kalau Tasya tetap nekat untuk mendaftar ke SMA
Negeri 2 Kertanegara, Tasya tidak lolos seleksi jalur prestasi.
Tasya juga takut kalau kuota di SMA Negeri 1 Ciracas sudah
penuh. Pada akhirnya Tasya tidak punya pilihan sekolah." ucap
Tasya dengan yakin, meski ia sendiri masih merasa sakit hati.

Ayahnya yang mendengar hal tersebut merasa terkejut
sekaligus lega. Ia merasa bangga pada putrinya yang kini sudah
dapat mengambil keputusan sendiri.

"Wah, anak Ayah sudah besar,ya. Sudah bisa mengambil
keputusan sendiri. Kalau Tasya memang maunya seperti itu, Ayah
sih tidak masalah. Ayah akan selalu mendukung kamu. Ambil saja
pelajaran dari semua ini bahwa tidak semua hal akan selalu sejalan
dengan apa yang kita harapkan." jawab Ayah sembari memeluk
putrinya.

"Kalau begitu, Tasya harus cepat mengurus berkas-berkas
untuk mendaftar,ya" tambah Ayah.

"Iya, Ayah. Besok Tasya mau daftar ke sana dengan Disya.
Karena Disya Juga mau daftar ke SMA Negeri 1 Ciracas." jawab
Tasya sembari membalas pelukan ayahnya.

------------------------------------------------------------

Hari di mana diumumkannya hasil PPDB SMA pun tiba. Tasya
dipastikan masuk ke SMA Negeri 1 Ciracas. Tasya bersykur akan
hal tersebut. Namun ketika ia membuka website tempat PPDB
online, ia melihat bahwa nilai rata-rata siswa yang mendaftar ke
SMA Negeri 2 Kertanegara menggunakan jalur prestasi akademik
itu berada jauh di bawah nilainya. Ia merasa sakit hati lagi. Karena
jika saja ia tidak bersikap pengecut, mungkin ia bisa bersekolah di
SMA Negeri 2 Kertanegara.

Semakin Tasya mencari tahu tentang hasil PPDB di SMA
Negeri 2 Kertanegara, hatinya semakin sakit. Rasanya seperti
menaburkan garam di atas luka. Memang semua ini juga salah
Tasya. Ia tidak mungkin tidak tahu bahwa semakin ia mencari tahu,
semakin pula ia akan terluka. Mungkin ia lupa bahwa belati yang
sama mampu mengangakan luka untuk kedua kalinya.

Selama lebih kurang satu semester, Tasya menjalani
kehidupan sekolah menengahnya dengan kesedihan dan rasa
penyesalan. Meski ia sudah menerima bahwa ia kini telah menjadi
siswi di SMA Negeri 1 Ciracas, dalam hati kecilnya masih tersimpan
setitik penyesalan.

Setelah melalui banyak jalan terjal dan berbatu, akhirnya
Tasya dapat sepenuhnya menerima kenyataan ini. Ia tak lagi
mempermasalahkan hal tersebut. Kini ia justru merasa nyaman
dengan lingkungannya di SMA Negeri 1 Ciracas. Ia merasa bahagia
dan bersyukur sebab dikelilingi oleh teman-teman yang
menyayanginya. Seperti Puthri, Tri, dan Bima.

Tak terasa 2 tahun sudah berlalu semenjak kejadian
tersebut. Kini Tasya duduk di bangku kelas XII yang mana tak
lama lagi ia akan meninggalkan sekolah tersebut. Ia juga
sedang fokus menyusun masa depannya. Meski terkadang
tugas sekolah dan jadwal bimbingan belajar membuatnya jenuh,
tetapi ia tetap bertekad dan bersemangat agar ia dapat
masuk universitas impiannya

Dari kiasah Tasya ini, kita dapat belajar untuk merelakan
sesuatu meskipun terasa berat. Selain itu kita bisa belajar
bahwa tak semua yang kita anggap baik itu terbaik bagi kita
sendiri.

------------------------------------------------------------

Sekolah Favorit

Kita tak pernah bisa mengetahui apa
yang akan terjadi di masa depan.



Kita tak pernah bisa mengubah apa
yang sudah terjadi di masa lalu.


Yang bisa kita lakukan hanyalah

mensyukuri dan menjalani hari ini
dengan sebaik mungkin.

Syifa Malika Firliani


Click to View FlipBook Version